Social Items

MENGERTILAH Bhok-ciangkun, dan dia tertawa. "Ha-ha-ha, jangan khawatir. Kalau ada berita yang bagaimana penting pun, katakan saja. Sin Wan Taihiap adalah orang kepercayaan Sribaginda Kaisar sendiri, mewakili gurunya, maka tidak ada rahasia baginya. Katakanlah, apa yang sudah terjadi? Tidak seperti biasa, malam ini kalian kelihatan begini tegang. Ada apa?"

"Ayah, ketika latihan sore tadi kami kedatangan seorang tamu. Tadinya dia ingin bertemu denganmu, akan tetapi ketika diberi tahu bahwa ayah tidak berada di rumah, ia memaksa hendak bertemu dengan keluarga ayah. Bahkan dia memaksa masuk ke pekarangan dan lima orang penjaga yang hendak mencegahnya, dipukulnya roboh. Lalu tamu itu menemui kami berdua yang sedang berlatih silat di taman."

Bhok-ciangkun mengerutkan alisnya. "Begitu beraninya? Siapakah tamu itu?"

"Dia seorang gadis cantik, usianya sekitar dua puluh tiga tahun...”

"Lalu bagaimana? Teruskan!" Bhok-ciangkun merasa tertarik dan juga heran sekali. Ada seorang gadis cantik yang memaksa memasuki tempat tinggalnya! Benar-benar aneh dan alangkah beraninya.

"Sesudah bertemu kami, kami bertanya apa maksudnya mencari ayah dan dia menjawab bahwa sia... dia...” Ci Han tergagap.

"Dia ingin membunuhmu ayah," Ci Hwa melanjutkan.

Bhok-ciangkun membelalakkan matanya. Kalau dia mendengar ada orang-orang hendak membunuhnya, hal itu memang tidak aneh karena tentu banyak orang memusuhinya, baik sebagai seorang pendekar Butong-pai yang sudah banyak membasmi kawanan penjahat, mau pun sebagai seorang panglima yang sering kali memimpin pasukan bertempur. Akan tetapi seorang gadis muda mencarinya dan hendak membunuhnya? Luar biasa!

"Ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi. Sin Wan mari silakan duduk," kata panglima itu dengan sikap serius, dan mereka lalu duduk mengelilingi meja di serambi depan.

"Tentu saja kami marah ketika mendengar dia hendak membunuhmu, ayah. Kami minta penjelasan kenapa dia hendak melakukan hal itu, akan tetapi dia tidak mau mengaku dan akhirnya kami berkelahi, maksudku... kami berdua mengeroyoknya."

"Hemm..." Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. Putera dan puterinya yang sejak kecil telah digembleng sehingga telah memiliki ilmu silat tinggi dan jarang menemui lawan yang dapat menandinginya, kini tidak malu bercerita bahwa mereka mengeroyok seorang gadis?

Dua orang muda itu agaknya mengerti apa yang membuat ayah mereka kelihatan tidak senang. "Ayah, tadinya hanya Hwa-moi yang menandinginya, akan tetapi begitu melihat Hwa-moi terancam, aku pun maju dan kami mengeroyoknya. Dia lihai bukan main, ayah. Biar pun kami mengeroyok dua, kami... kami sempat roboh. Hwa-moi hendak melanjutkan dengan pedang, akan tetapi aku melarangnya. Kemudian gadis itu meninggalkan pesan, menantang ayah agar besok ayah dan dia mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu Naga di luar kota."

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya dan meraba-raba jenggotnya yang pendek, mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah dia bermusuhan dengan seorang gadis muda!

"Apakah dia sama sekali tidak menceritakan mengapa dia memusuhiku?"

"Tidak, ayah," kata Ci Hwa. "Dia hanya menunjukkan sebatang pedang ular kepada kami dan mengatakan bahwa dia membawa pedang ular putih itu untuk membunuh ayah."

"Sebatang pedang ular? Putih? Bukan hitam?" Tiba-tiba saja wajah panglima itu berubah. "Yakinkah engkau bahwa itu adalah pedang ular putih, bukan pedang ular hitam?"

"Pedang ular putih, ayah," kata Ci Hwa. "Ia mencabutnya dan kami berdua melihatnya."

"Dan namanya? Dia menyebutkan namanya?"

"Dia hanya bilang bahwa kami boleh menyebut namanya Lili dan..." Ci Hwa tidak sempat melanjutkan ucapannya karena mereka bertiga mendengar seruan kaget dari Sin Wan. Bhok Cun Ki memandang wajah Sin Wan penuh selidik.

"Kenapa, taihiap? Engkau mengenal gadis itu?"

Sin Wan mengangguk. "Kalau tidak salah aku pernah bertemu dengan gadis bernama Lili, dan kalau tidak salah memang pedangnya berupa pedang ular putih, ada pun pedang ular hitam adalah senjata gurunya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In.”

"Ahh... ahhh... benar dia..., Ci Han, Ci Hwa, ingat baik-baik, apakah gerakan silat gadis itu seperti gerakan seekor ular?"

"Benar sekali, ayah!" kata dua orang muda itu hampir berbareng dan mereka memandang ayah mereka dengan gelisah karena wajah ayahnya kini menjadi pucat sekali.

“Ilmu silat dari See-thian Coa-ong," kata pula Sin Wan dan Bhok-ciangkun yang sedang memandang kepadanya mengangguk-angguk, wajah yang pucat itu nampak muram.

“Ayah, kita akan menghadapi gadis itu bersama-sama jika memang dia terlalu berbahaya untuk ayah!" kata Ci Hwa penasaran.

"Tidak!" tiba-tiba suara Bhok-ciangkun menggelegar, mengejutkan kedua orang anaknya dan mengherankan hati Sin Wan. "Urusanku dengan gadis itu adalah urusan pribadi dan tidak ada seorang pun yang boleh mencampurinya, biar dia anakku sendiri sekali pun."

"Tapi, kenapa, ayah?" tanya Ci Han penasaran.

"Kami adalah anak-anakmu, ayah, karena itu kami berhak mengetahui. Kami juga berhak mencampuri dan melindungi ayah!" kata pula Ci Hwa yang lebih berani karena gadis ini lebih dimanja ayahnya.

Panglima itu menggelengkan kepala. “Sekali ini tidak. Urusan ini adalah urusanku dahulu sebelum kalian lahir, jadi kalian tidak boleh turut mencampuri. Biar aku sendiri yang akan menyelesaikannya besok," kata panglima itu, akan tetapi dia tidak nampak bersemangat bahkan kelihatan lesu dan murung.

“Maaf, ciangkun. Bukan aku bermaksud lancang mencampuri, akan tetapi aku mengenal gadis itu. Maka, kalau ciangkun suka memberi tahu persoalannya, kukira aku akan dapat membujuknya agar dia tidak melanjutkan tantangannya."

Bhok-ciangkun menarik napas panjang, memandang kepada Sin Wan, lalu kepada kedua orang anaknya, dan dia menggeleng kepala. “Tidak, engkau pun tidak boleh mencampuri, taihiap. Ketahuilah oleh kalian bertiga, aku sama sekali bukannya takut menghadapi lawan yang mana pun juga, akan tetapi ini... ini urusan pribadi. Taihiap, aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, nah, mengertikah engkau?"

Sin Wan mengangguk-angguk. Biar pun tidak tahu urusannya, namun dia dapat menduga bahwa munculnya Lili yang ingin membunuh panglima itu, tentu masih ada hubungannya dengan masa lalunya pada waktu mana panglima itu agaknya sudah melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal dan kini dia siap mempertanggung jawabkan! Maka dia pun diam saja.

"Nah, sekali lagi, besok sore kalian bertiga sama sekali tidak boleh menemaniku ke sana, juga tidak boleh mengikuti dan membayangiku. Mengerti? Aku akan marah sekali dan tak akan dapat memaafkan siapa saja yang membayangiku dan mencampuri urusan pribadi ini."

Dengan alis berkerut kedua orang muda itu mengangguk, dan Sin Wan segera memberi hormat. "Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu, ciangkun."

"Terima kasih dan maafkan aku, taihiap. Nah, urusan ini tidak boleh kalian beri tahukan ibu kalian, mengerti? Ci Han, antarkan Sin Wan taihiap ke kamar tamu dan suruh pelayan melayaninya baik-baik. Selamat malam, taihiap. Besok pagi-pagi saja kita bertemu lagi di ruang makan pagi dan kita lanjutkan perundingan kita tentang tugas kita berdua. Selamat malam. Oh ya, malam ini biar kedua anakku yang menemanimu makan malam." Panglima itu lalu meninggalkan mereka, masuk ke dalam.

Tiga orang muda itu lantas duduk kembali di serambi depan, masih merasa tegang. "Aneh sekali, kenapa ayah tidak membiarkan kita membantu? Apakah ayah sudah tidak percaya lagi kepada kita?" Ci Hwa mengomel kepada kakaknya.

"Ada orang mengancam hendak membunuh ayah, tetapi kita tidak boleh mencampurinya. Bagaimana mungkin ini? Setidaknya, kalau kita melihat pertand√≠ngan itu, kita tidak akan segelisah kalau ditinggal di sini dan menanti-nanti ayah pulang,” kata pula Ci Han kepada adiknya.

"Sebaiknya kalau ji-wi (anda berdua) tidak gelisah. Aku yakin bahwa Bhok-ciangkun dapat melindungi dan membela diri. Dia pasti akan dapat menyelesaikan urusan itu dan dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan."

Kakak beradik itu seperti baru teringat bahwa di situ ada orang lain. Mereka cepat-cepat memandang kepada Sin Wan.

"Ayah menyebutmu taihiap (pendekar besar), tentu engkau lihai bukan main dan memiliki banyak pengalaman. Bahkan engkau juga mengenal gadis jahat itu! Ceritakanlah kepada kami, siapa dan orang macam apa sebenarnya Lili itu? Siapa pula itu Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan siapa pula See-thian Coa-ong?" tanya Ci Hwa sambil memandang wajah Sin Wan penuh selidik.

Mereka duduk saling berhadapan, terhalang meja dan secara diam-diam Sin Wan harus mengakui di dalam hatinya bahwa gadis ini cantik sekali, cantik jelita dan mempunyai sifat lembut yang mengingatkan dia kepada sumoi-nya, yaitu Lim Kui Siang yang kini tinggal di Peking menjadi kepala pengawal wanita untuk keluarga Raja Muda Yung Lo. Diam-diam dia merasa heran sekali kenapa setiap kali bertemu seorang gadis cantik, otomatis wajah Kui Siang terbayang di depan matanya?

Melihat Sin Wan seperti melamun dan hanya memandang wajah adiknya, Ci Han segera mendesak, "Adikku benar, taihiap. Kami pun ingin sekali mengetahui siapakah mereka itu, orang-orang yang agaknya hendak memusuhi ayah. Atau taihiap tidak sudi menceritakan dan ingin kuantar sekarang juga ke kamar tamu?"

Sin Wan baru tersadar dari lamunannya dan dia pun tersenyum. “Kuharap ji-wi tidak lagi menyebutku taihiap. Sebutan itu terlampau besar dan tinggi bagiku. Bagaimana kalau kita saling sebut seperti saudara saja? Kalau ji-wi tidak merasa direndahkan tentu saja. Atau lebih suka kalau aku menyebut kongcu (tuan muda) dan siocia (nona muda) kepada ji-wi?”

“Memang kita tidak perlu berbasa-basi. Sesudah engkau menjadi pembantu kepercayaan ayah, tentu akan banyak bergaul dengan kami. Nah, engkau akan kusebut twako (kakak besar), bagaimana? Dan engkau menyebut aku siauwmoi (adik kecil).”

"Dan engkau boleh menyebut aku siauwte (adik kecil), Wan-twako (kakak Wan)!" kata Ci Han pula. "Nah, setelah kita saling menjadi sahabat akrab, bolehkah kami mendengarkan penjelasanmu?"

Sin Wan tersenyum girang. Dua orang putera panglima ini seperti ayah mereka. Demikian sederhana, tidak berlagak seperti biasanya anak-anak bangsawan. "Baiklah, Han-te dan Hwa-moi. Aku mengenal gadis liar yang bernama Lili itu. Memang dia liar dan galak, akan tetapi dia bukan orang jahat,"

Sin Wan teringat akan pertemuannya dengan Lili, betapa dia disiksa dan diikat, dijadikan umpan bagi harimau. Dan betapa Lili kemudian menyelamatkannya, lalu betapa gadis itu mengaku cinta, akan tetapi juga mengaku benci. Gadis liar memang! Akan tetapi dia tidak mungkin dapat menganggap Lili sebagai gadis jahat.

"Hemm, dia hendak membunuh ayahku dan dia tidak jahat?" Ci Hwa mencela.

"Teruskan, twako. Siapa itu Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In dan siapa pula itu See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat)?" tanya Ci Han.

"Huh, serba ular! Sungguh mengerikan!" kata Ci Hwa bergidik. "Dan gerakan Lili itu pun seperti ular, tentu dia siluman ular!"

"Setahuku, Bi-coa Sianli Cu Sui In adalah guru dari Lili, dan Dewi Ular Cantik itu puteri dari See-thian Coa-ong, datuk yang amat lihai dan yang tinggal di Bukit Ular. Keluarga itu memang lihai sekali."

"Seorang datuk sesat, tokoh golongan hitam?" tanya Ci Han.

Sin Wan menggeleng kepalanya. "Hal itu aku tidak tahu jelas, karena datuk-datuk seperti See-thian Coa-ong itu tidak dapat digolongkan hitam atau putih. Dia hanya mementingkan diri sendiri. Baik golongan hitam mau pun putih akan ditentang kalau dianggap merugikan, tetapi sebaliknya akan dibela mati-matian tanpa mempedulikan golongan kalau dianggap sahabat."

"Ihh! Kalau begitu lebih berbahaya dari pada golongan hitam yang sesat!" kata Ci Hwa.

"Kenapa begitu, Hwa-moi?" tanya Ci Han.

"Kalau datuk sesat sudah jelas kedudukannya ditentang para pendekar. Akan tetapi kalau hitam tidak putih pun bukan, sungguh merepotkan. Dianggap kawan, tapi tiba-tiba menjadi lawan, dianggap lawan, tetapi bisa menjadi kawan. Orang yang bukan hitam bukan putih ini yang sangat berbahaya, seperti bunglon, suka plin-plan! Huh, aku tidak suka terhadap mereka! Gadis bernama Lili itu sepantasnya siluman ular!"

"Sudahlah, Hwa-moi. Mari kita antar Wan-toako ke kamarnya. Biarkan dia mengaso dan mandi. Nanti kita makan bersama di ruangan samping dekat kamarnya."

Kakak beradik itu kemudian mengantar Sin Wan ke kamar tamu yang berada di samping. Kamar itu berukuran cukup luas dan nyaman, lengkap dengan kamar mandi. Mereka lalu meninggalkan Sin Wan dan berjanji akan makan malam bersama setelah Sin Wan mandi. Setelah ditinggal seorang diri, Sin Wan segera mandi dan bertukar pakaian.

Sin Wan merasa suka dan kagum pada keluarga ini. Bhok-ciangkun begitu gagah perkasa dan bijaksana, anak-anaknya pun ramah dan sama sekali tidak angkuh. Akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir. Dia tahu bahwa Lili amat lihai dan merupakan lawan yang amat berbahaya.

Walau pun dia sudah mendengar bahwa Bhok Cun Ki juga bukan orang lemah, melainkan seorang pendekar Butong-pai, tetapi dia belum tahu hingga di mana kepandaian panglima itu. Dan orang seperti Lili itu tidak akan segan untuk membunuh lawannya!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, sesudah sarapan pagi bersama Sin Wan, dengan sikap tenang seperti biasa Bhok Cun Ki berunding dengan pemuda itu tentang tugas mereka.

"Beberapa bulan lagi pemilihan bengcu akan berlangsung di puncak Thai-san," panglima itu berkata. "Menurut pendapatmu, siapa-siapa sajakah kiranya yang akan menjadi calon bengcu, taihiap?"

Dalam perundingan pagi hari itu hadir pula Ci Han dan Ci Hwa yang diperkenankan ayah mereka untuk ikut mendengarkan dan siapa tahu mereka mempunyai usul-usul yang baik, dan perundingan itu pun akan dapat menambah pengalaman mereka.

"Aihh, ayah! Han-ko dan aku sendiri sudah sepakat untuk menyebut twako kepada Wan-twako, dan dia menyebut kami adik. Kenapa ayah masih menggunakan sebutan sungkan itu? Biar pun dia diam saja, namun aku tahu bahwa Wan-twako tidak suka disebut taihiap. Dia benar-benar rendah hati, ayah!" kata Ci Hwa yang lincah dan sudah biasa berbicara sejujurnya kepada ayahnya.

Panglima itu menoleh kepada Sin Wan sambil tersenyum, hanya pandang matanya yang bertanya. Sin Wan juga tersenyum dan mengangguk. "Memang benar apa yang dikatakan Hwa-moi tadi, ciangkun. Aku lebih suka kalau disebut Sin Wan saja, tanpa embel-embel taihiap."

"Ha-ha-ha, engkau semakin menarik, orang muda. Tinggal satu lagi yang ingin kuketahui, kekuatan apa yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan kerendahan hatimu. Baiklah, aku akan menyebutmu Sin Wan saja, tapi engkau pun tidak boleh menyebutku ciangkun. Aku lebih pantas menjadi pamanmu, bukan? Nah, kita hanya saling menyebut ciangkun dan taihiap ketika dalam pertemuan resmi di depan orang-orang lain. Setuju?"

Sin Wan memandang kagum. Bukan main keluarga ini! "Baik, paman, dan terima kasih!"

"Nah, Sin Wan. Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Siapa saja kiranya yang akan menjadi calon bengcu?"

"Paman Bhok, seperti yang pernah kuceritakan kepada Jenderal Shu Ta, ketika diadakan pemilihan pemimpin besar para kai-pang (perkumpulan pengemis) yang diadakan di Lok-yang kurang lebih setahun yang lalu, banyak tokoh memperebutkan kedudukan pemimpin besar itu, semata-mata karena kedudukan itu akan membuat pemegangnya memperoleh kesempatan untuk menjadi calon bengcu, dan juga banyak harapan akan menang karena mendapat dukungan suara seluruh kai-pang. Selain Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang sejak dahulu memang menjadi pemimpin besar kai-pang, ada beberapa orang yang mewakili guru-guru atau pemimpin mereka. Ketika itu See-thian Coa-ong diwakili oleh puterinya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In dan Lili. Lalu Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin diwakili oleh muridnya yang bernama Maniyoko...”

"Bukankah Tung-hai-liong Ouwyang Cin ini adalah seorang peranakan Jepang, merupakan datuk para bajak laut di lautan timur?" Bhok-ciangkun memotong.

"Benar, paman. Kalau See-thian Coa-ong merupakan datuk di barat, maka Tung-hai-liong adalah datuk di timur. Mereka berdua sama kuat, lihai dan liciknya."

"Hemm, lalu siapa datuk dari selatan dan utara?" tanya pula panglima itu.

"Setahuku, tokoh besar selatan tidak ada yang melebihi locianpwe (orang tua gagah) Bu Lee Ki yang berjuluk Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih), dan beliau yang didukung oleh Raja Muda Yung Lo agar kelak menjadi bengcu. Apa bila dia yang menjadi bengcu, kurasa dunia kang-ouw akan aman dan tak akan ada yang berani memberontak terhadap pemerintah, paman. Ada pun datuk besar dari wilayah utara, aku belum mendengar siapa orangnya. Banyak tokoh besar kang-ouw di utara sekarang cerai berai dan meninggalkan daerah yang menjadi tempat peperangan dan amat berbahaya itu.”

"Aihh, jika sudah disebut datuk besar dunia kang-ouw, kenapa takut menghadapi bahaya perang? Siapa akan berani mengganggunya?" Ci Hwa mencela.

Ayahnya tertawa. "Ci Hwa, engkau terlalu mengangkat tinggi datuk besar dunia persilatan. Jika menghadapi lawan pribadi, boleh jadi seorang datuk besar tidak mengenal takut dan sulit dikalahkan. Akan tetapi dalam perang antara pasukan pemerintah melawan para sisa pasukan Mongol, yang berperang adalah ratusan ribu orang. Betapa pun lihainya seorang datuk besar, bagaimana dia akan dapat melindungi diri dari ratusan ribu orang? Kelihaian seseorang tak akan lebih dari seratus orang. Kalau dikeroyok ribuan orang, apa lagi bila dikeroyok prajurit yang bersenjata lengkap, meski dia pandai terbang seperti burung sekali pun, tentu akhirnya akan mati ditembus anak panah atau senjata lain."

"Kalau begitu bahaya hanya datang dari See-thian Coa-ong dan Tung-hai-liong saja, tentu berikut anak buah dan para pembantu mereka?"

"Yang saya ketahui memang dari kedua pihak itu, paman. Akan tetapi, mengingat bahwa jabatan bengcu merupakan kedudukan yang penting dan amat berharga, maka aku yakin bahwa dari utara tentu akan muncul pula seorang datuk baru."

"Menurut pendapatmu, di antara tiga orang sakti yang sudah kita ketahui itu siapa yang paling lihai dan akan dapat memenangkan kedudukan bengcu?"

"Kurasa locianpwe Bu Lee Ki! Tentu saja kalau tidak terjadi kecurangan dan kalau seluruh kai-pang setia kepada pemimpin besarnya. Kita tak akan dapat menentukan dengan pasti sikap para ketua kai-pang itu. Mereka orang-orang berwatak aneh yang mudah berubah, mudah dipengaruhi dari luar."

"Memang ke sanalah kita harus melakukan pengamatan, mengirim penyelidik-penyelidik yang pandai untuk mengawasi para kai-pang. Mereka itu dapat dimanfaatkan pihak yang kuanggap paling berbahaya!"

"See-thian Coa-ong, ayah?" tanya Ci Hwa.

"Bukan."

"Kalau begitu, Tung-hai-liong?" tanya pula Ci Han.

"Juga bukan. Yang paling berbahaya dari semuanya adalah orang-orang Mongol! Mereka tiba-tiba mengubah siasat, tak lagi melakukan penyerangan dengan pengerahan pasukan dari utara dan barat. Hal ini mencurigakan sekali, maka sangat boleh jadi mereka sedang mempergunakan siasat halus untuk menyusup ke dalam negeri melalui pemilihan bengcu. Karena itulah kita harus berhati-hati. Siapa tahu sekarang juga mereka telah menyusup ke kota-kota besar, bahkan ke kota raja."

"Kalau begitu, siluman ular Lili itu mungkin juga dipergunakan oleh orang Mongol" Ci Hwa berseru. Bagaimana pendapatmu, Wan-ko?"

Sin Wan mengerutkan alisnya yang tebal, lantas dia menggeleng kepala perlahan. "Kukira orang seperti See-thian Coa-ong, puterinya serta para muridnya merupakan orang-orang yang sulit untuk diperalat orang lain. Mereka tak akan mau tunduk kepada siapa pun dan dengan pengaruh apa pun juga."

"Kurasa Sin Wan benar, Ci Hwa. Aku pun yakin bahwa gadis itu tidak diperalat, melainkan datang atas kemauan sendiri. Sudahlah, kita tidak perlu bicara tentang gadis itu. Sin Wan, selama beberapa hari ini, harap kau bersama para mata-mata yang menjadi anak buahku suka membantu melakukan penyelidikan di kota raja, di rumah-rumah penginapan, di kuil-kuil kosong, di tempat-tempat yang sekiranya patut dicurigai menjadi tempat pemondokan mata-mata Mongol. Ingat, mereka sudah hafal benar mengenai keadaan di sini, juga akan kebudayaan pribumi, apa lagi mereka licik dan cerdik sehingga akan sia-sia kalau engkau mencari-cari seseorang yang kelihatan seperti orang Mongol di antara mereka. Mungkin mereka itu malah terlihat lebih pribumi dari pada pribuminya sendiri."

"Baik, paman. Akan tetapi untuk keperluan itu sebaiknya jika aku bekerja bebas dan tidak disiarkan berita bahwa aku menjadi pembantu paman. Dengan begitu rasanya akan lebih leluasa aku melakukan penyelidikan."

"Aku mengerti, Sin Wan. Dan sekarang, supaya kita bisa lebih saling mengenal, mari kita pererat melalui ilmu silat."

Sin Wan maklum apa yang dimaksudkan, namun dalam hatinya dia tidak setuju. "Apakah itu perlu, paman?"

"Tentu saja perlu sekali. Bukankah kita harus bekerja sama? Untuk itu kita harus saling mengetahui kemampuan masing-masing."

Sin Wan ingin membantah, akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa sore nanti Bhok Cun Ki akan bertanding melawan Lili, bukan pertandingan yang main-main tapi mempertahankan nyawa dari ancaman gadis liar itu. Ah, dia dapat memberi petunjuk secara tidak langsung, tanpa menyinggung perasaan pendekar Butong ini, pikirnya.

"Baiklah, paman, kalau paman berpendapat demikian."

Ci Han dan Ci Hwa gembira sekali mendengar itu. Mereka juga ingin sekali menyaksikan kelihaian tamu yang kini sudah akrab dengan mereka, yang hanya mereka kenal sebagai murid dari Sam-sian (Tiga Dewa) yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan karena Sam-sian adalah tokoh-tokoh besar yang berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana kaisar!

Sam-sian merupakan tokoh-tokoh besar persilatan yang sudah banyak jasanya dan amat dihargai oleh Kaisar sendiri. Kini di antara ketiga Sam-sian hanya tinggal satu orang saja, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) yang mendapat tugas baru dari Kaisar, tetapi karena merasa sudah tua dan dua orang rekannya sudah tidak ada, lalu mewakilkannya kepada murid ini.

Mereka segera pergi ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang berada di bagian belakang bangunan itu. Ruangan ini luas sehingga memang enak sekali untuk bermain silat, penuh dengan alat-alat untuk berolah raga dan berlatih silat.

Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah saling berhadapan. Melihat tuan rumah yang telah melepas baju luar itu menghadapinya dengan tangan kosong, Sin Wan yang berniat untuk mengukur ilmu pedang dan kalau mungkin memberi petunjuk, cepat-cepat memberi hormat sambil berkata,

"Paman Bhok, aku mendengar bahwa paman adalah seorang pendekar Butong-pai, dan Butong-pai terkenal sekali dengan ilmu pedangnya. Oleh karena itu, apa bila paman tidak berkeberatan, aku ingin sekali merasakan kelihaian ilmu pedang paman dan mengagumi keindahannya."

Tentu saja Sin Wan bermaksud lain. Dia tahu bahwa orang seperti Lili pasti tak akan mau bertanding dengan tangan kosong saja melawan orang yang akan dibunuhnya, dan tentu menggunakan pedang ular putih. Bukankah dia sudah memperlihatkan pedang itu kepada putera puteri panglima itu dan mengancam akan membunuhnya dengan pedang itu? Lili pasti mempergunakan pedang dan Bhok-ciangkun pasti terpaksa akan melayani dengan pedangnya pula...

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 10

MENGERTILAH Bhok-ciangkun, dan dia tertawa. "Ha-ha-ha, jangan khawatir. Kalau ada berita yang bagaimana penting pun, katakan saja. Sin Wan Taihiap adalah orang kepercayaan Sribaginda Kaisar sendiri, mewakili gurunya, maka tidak ada rahasia baginya. Katakanlah, apa yang sudah terjadi? Tidak seperti biasa, malam ini kalian kelihatan begini tegang. Ada apa?"

"Ayah, ketika latihan sore tadi kami kedatangan seorang tamu. Tadinya dia ingin bertemu denganmu, akan tetapi ketika diberi tahu bahwa ayah tidak berada di rumah, ia memaksa hendak bertemu dengan keluarga ayah. Bahkan dia memaksa masuk ke pekarangan dan lima orang penjaga yang hendak mencegahnya, dipukulnya roboh. Lalu tamu itu menemui kami berdua yang sedang berlatih silat di taman."

Bhok-ciangkun mengerutkan alisnya. "Begitu beraninya? Siapakah tamu itu?"

"Dia seorang gadis cantik, usianya sekitar dua puluh tiga tahun...”

"Lalu bagaimana? Teruskan!" Bhok-ciangkun merasa tertarik dan juga heran sekali. Ada seorang gadis cantik yang memaksa memasuki tempat tinggalnya! Benar-benar aneh dan alangkah beraninya.

"Sesudah bertemu kami, kami bertanya apa maksudnya mencari ayah dan dia menjawab bahwa sia... dia...” Ci Han tergagap.

"Dia ingin membunuhmu ayah," Ci Hwa melanjutkan.

Bhok-ciangkun membelalakkan matanya. Kalau dia mendengar ada orang-orang hendak membunuhnya, hal itu memang tidak aneh karena tentu banyak orang memusuhinya, baik sebagai seorang pendekar Butong-pai yang sudah banyak membasmi kawanan penjahat, mau pun sebagai seorang panglima yang sering kali memimpin pasukan bertempur. Akan tetapi seorang gadis muda mencarinya dan hendak membunuhnya? Luar biasa!

"Ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi. Sin Wan mari silakan duduk," kata panglima itu dengan sikap serius, dan mereka lalu duduk mengelilingi meja di serambi depan.

"Tentu saja kami marah ketika mendengar dia hendak membunuhmu, ayah. Kami minta penjelasan kenapa dia hendak melakukan hal itu, akan tetapi dia tidak mau mengaku dan akhirnya kami berkelahi, maksudku... kami berdua mengeroyoknya."

"Hemm..." Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. Putera dan puterinya yang sejak kecil telah digembleng sehingga telah memiliki ilmu silat tinggi dan jarang menemui lawan yang dapat menandinginya, kini tidak malu bercerita bahwa mereka mengeroyok seorang gadis?

Dua orang muda itu agaknya mengerti apa yang membuat ayah mereka kelihatan tidak senang. "Ayah, tadinya hanya Hwa-moi yang menandinginya, akan tetapi begitu melihat Hwa-moi terancam, aku pun maju dan kami mengeroyoknya. Dia lihai bukan main, ayah. Biar pun kami mengeroyok dua, kami... kami sempat roboh. Hwa-moi hendak melanjutkan dengan pedang, akan tetapi aku melarangnya. Kemudian gadis itu meninggalkan pesan, menantang ayah agar besok ayah dan dia mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu Naga di luar kota."

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya dan meraba-raba jenggotnya yang pendek, mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah dia bermusuhan dengan seorang gadis muda!

"Apakah dia sama sekali tidak menceritakan mengapa dia memusuhiku?"

"Tidak, ayah," kata Ci Hwa. "Dia hanya menunjukkan sebatang pedang ular kepada kami dan mengatakan bahwa dia membawa pedang ular putih itu untuk membunuh ayah."

"Sebatang pedang ular? Putih? Bukan hitam?" Tiba-tiba saja wajah panglima itu berubah. "Yakinkah engkau bahwa itu adalah pedang ular putih, bukan pedang ular hitam?"

"Pedang ular putih, ayah," kata Ci Hwa. "Ia mencabutnya dan kami berdua melihatnya."

"Dan namanya? Dia menyebutkan namanya?"

"Dia hanya bilang bahwa kami boleh menyebut namanya Lili dan..." Ci Hwa tidak sempat melanjutkan ucapannya karena mereka bertiga mendengar seruan kaget dari Sin Wan. Bhok Cun Ki memandang wajah Sin Wan penuh selidik.

"Kenapa, taihiap? Engkau mengenal gadis itu?"

Sin Wan mengangguk. "Kalau tidak salah aku pernah bertemu dengan gadis bernama Lili, dan kalau tidak salah memang pedangnya berupa pedang ular putih, ada pun pedang ular hitam adalah senjata gurunya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In.”

"Ahh... ahhh... benar dia..., Ci Han, Ci Hwa, ingat baik-baik, apakah gerakan silat gadis itu seperti gerakan seekor ular?"

"Benar sekali, ayah!" kata dua orang muda itu hampir berbareng dan mereka memandang ayah mereka dengan gelisah karena wajah ayahnya kini menjadi pucat sekali.

“Ilmu silat dari See-thian Coa-ong," kata pula Sin Wan dan Bhok-ciangkun yang sedang memandang kepadanya mengangguk-angguk, wajah yang pucat itu nampak muram.

“Ayah, kita akan menghadapi gadis itu bersama-sama jika memang dia terlalu berbahaya untuk ayah!" kata Ci Hwa penasaran.

"Tidak!" tiba-tiba suara Bhok-ciangkun menggelegar, mengejutkan kedua orang anaknya dan mengherankan hati Sin Wan. "Urusanku dengan gadis itu adalah urusan pribadi dan tidak ada seorang pun yang boleh mencampurinya, biar dia anakku sendiri sekali pun."

"Tapi, kenapa, ayah?" tanya Ci Han penasaran.

"Kami adalah anak-anakmu, ayah, karena itu kami berhak mengetahui. Kami juga berhak mencampuri dan melindungi ayah!" kata pula Ci Hwa yang lebih berani karena gadis ini lebih dimanja ayahnya.

Panglima itu menggelengkan kepala. “Sekali ini tidak. Urusan ini adalah urusanku dahulu sebelum kalian lahir, jadi kalian tidak boleh turut mencampuri. Biar aku sendiri yang akan menyelesaikannya besok," kata panglima itu, akan tetapi dia tidak nampak bersemangat bahkan kelihatan lesu dan murung.

“Maaf, ciangkun. Bukan aku bermaksud lancang mencampuri, akan tetapi aku mengenal gadis itu. Maka, kalau ciangkun suka memberi tahu persoalannya, kukira aku akan dapat membujuknya agar dia tidak melanjutkan tantangannya."

Bhok-ciangkun menarik napas panjang, memandang kepada Sin Wan, lalu kepada kedua orang anaknya, dan dia menggeleng kepala. “Tidak, engkau pun tidak boleh mencampuri, taihiap. Ketahuilah oleh kalian bertiga, aku sama sekali bukannya takut menghadapi lawan yang mana pun juga, akan tetapi ini... ini urusan pribadi. Taihiap, aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, nah, mengertikah engkau?"

Sin Wan mengangguk-angguk. Biar pun tidak tahu urusannya, namun dia dapat menduga bahwa munculnya Lili yang ingin membunuh panglima itu, tentu masih ada hubungannya dengan masa lalunya pada waktu mana panglima itu agaknya sudah melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal dan kini dia siap mempertanggung jawabkan! Maka dia pun diam saja.

"Nah, sekali lagi, besok sore kalian bertiga sama sekali tidak boleh menemaniku ke sana, juga tidak boleh mengikuti dan membayangiku. Mengerti? Aku akan marah sekali dan tak akan dapat memaafkan siapa saja yang membayangiku dan mencampuri urusan pribadi ini."

Dengan alis berkerut kedua orang muda itu mengangguk, dan Sin Wan segera memberi hormat. "Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu, ciangkun."

"Terima kasih dan maafkan aku, taihiap. Nah, urusan ini tidak boleh kalian beri tahukan ibu kalian, mengerti? Ci Han, antarkan Sin Wan taihiap ke kamar tamu dan suruh pelayan melayaninya baik-baik. Selamat malam, taihiap. Besok pagi-pagi saja kita bertemu lagi di ruang makan pagi dan kita lanjutkan perundingan kita tentang tugas kita berdua. Selamat malam. Oh ya, malam ini biar kedua anakku yang menemanimu makan malam." Panglima itu lalu meninggalkan mereka, masuk ke dalam.

Tiga orang muda itu lantas duduk kembali di serambi depan, masih merasa tegang. "Aneh sekali, kenapa ayah tidak membiarkan kita membantu? Apakah ayah sudah tidak percaya lagi kepada kita?" Ci Hwa mengomel kepada kakaknya.

"Ada orang mengancam hendak membunuh ayah, tetapi kita tidak boleh mencampurinya. Bagaimana mungkin ini? Setidaknya, kalau kita melihat pertand√≠ngan itu, kita tidak akan segelisah kalau ditinggal di sini dan menanti-nanti ayah pulang,” kata pula Ci Han kepada adiknya.

"Sebaiknya kalau ji-wi (anda berdua) tidak gelisah. Aku yakin bahwa Bhok-ciangkun dapat melindungi dan membela diri. Dia pasti akan dapat menyelesaikan urusan itu dan dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan."

Kakak beradik itu seperti baru teringat bahwa di situ ada orang lain. Mereka cepat-cepat memandang kepada Sin Wan.

"Ayah menyebutmu taihiap (pendekar besar), tentu engkau lihai bukan main dan memiliki banyak pengalaman. Bahkan engkau juga mengenal gadis jahat itu! Ceritakanlah kepada kami, siapa dan orang macam apa sebenarnya Lili itu? Siapa pula itu Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan siapa pula See-thian Coa-ong?" tanya Ci Hwa sambil memandang wajah Sin Wan penuh selidik.

Mereka duduk saling berhadapan, terhalang meja dan secara diam-diam Sin Wan harus mengakui di dalam hatinya bahwa gadis ini cantik sekali, cantik jelita dan mempunyai sifat lembut yang mengingatkan dia kepada sumoi-nya, yaitu Lim Kui Siang yang kini tinggal di Peking menjadi kepala pengawal wanita untuk keluarga Raja Muda Yung Lo. Diam-diam dia merasa heran sekali kenapa setiap kali bertemu seorang gadis cantik, otomatis wajah Kui Siang terbayang di depan matanya?

Melihat Sin Wan seperti melamun dan hanya memandang wajah adiknya, Ci Han segera mendesak, "Adikku benar, taihiap. Kami pun ingin sekali mengetahui siapakah mereka itu, orang-orang yang agaknya hendak memusuhi ayah. Atau taihiap tidak sudi menceritakan dan ingin kuantar sekarang juga ke kamar tamu?"

Sin Wan baru tersadar dari lamunannya dan dia pun tersenyum. “Kuharap ji-wi tidak lagi menyebutku taihiap. Sebutan itu terlampau besar dan tinggi bagiku. Bagaimana kalau kita saling sebut seperti saudara saja? Kalau ji-wi tidak merasa direndahkan tentu saja. Atau lebih suka kalau aku menyebut kongcu (tuan muda) dan siocia (nona muda) kepada ji-wi?”

“Memang kita tidak perlu berbasa-basi. Sesudah engkau menjadi pembantu kepercayaan ayah, tentu akan banyak bergaul dengan kami. Nah, engkau akan kusebut twako (kakak besar), bagaimana? Dan engkau menyebut aku siauwmoi (adik kecil).”

"Dan engkau boleh menyebut aku siauwte (adik kecil), Wan-twako (kakak Wan)!" kata Ci Han pula. "Nah, setelah kita saling menjadi sahabat akrab, bolehkah kami mendengarkan penjelasanmu?"

Sin Wan tersenyum girang. Dua orang putera panglima ini seperti ayah mereka. Demikian sederhana, tidak berlagak seperti biasanya anak-anak bangsawan. "Baiklah, Han-te dan Hwa-moi. Aku mengenal gadis liar yang bernama Lili itu. Memang dia liar dan galak, akan tetapi dia bukan orang jahat,"

Sin Wan teringat akan pertemuannya dengan Lili, betapa dia disiksa dan diikat, dijadikan umpan bagi harimau. Dan betapa Lili kemudian menyelamatkannya, lalu betapa gadis itu mengaku cinta, akan tetapi juga mengaku benci. Gadis liar memang! Akan tetapi dia tidak mungkin dapat menganggap Lili sebagai gadis jahat.

"Hemm, dia hendak membunuh ayahku dan dia tidak jahat?" Ci Hwa mencela.

"Teruskan, twako. Siapa itu Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In dan siapa pula itu See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat)?" tanya Ci Han.

"Huh, serba ular! Sungguh mengerikan!" kata Ci Hwa bergidik. "Dan gerakan Lili itu pun seperti ular, tentu dia siluman ular!"

"Setahuku, Bi-coa Sianli Cu Sui In adalah guru dari Lili, dan Dewi Ular Cantik itu puteri dari See-thian Coa-ong, datuk yang amat lihai dan yang tinggal di Bukit Ular. Keluarga itu memang lihai sekali."

"Seorang datuk sesat, tokoh golongan hitam?" tanya Ci Han.

Sin Wan menggeleng kepalanya. "Hal itu aku tidak tahu jelas, karena datuk-datuk seperti See-thian Coa-ong itu tidak dapat digolongkan hitam atau putih. Dia hanya mementingkan diri sendiri. Baik golongan hitam mau pun putih akan ditentang kalau dianggap merugikan, tetapi sebaliknya akan dibela mati-matian tanpa mempedulikan golongan kalau dianggap sahabat."

"Ihh! Kalau begitu lebih berbahaya dari pada golongan hitam yang sesat!" kata Ci Hwa.

"Kenapa begitu, Hwa-moi?" tanya Ci Han.

"Kalau datuk sesat sudah jelas kedudukannya ditentang para pendekar. Akan tetapi kalau hitam tidak putih pun bukan, sungguh merepotkan. Dianggap kawan, tapi tiba-tiba menjadi lawan, dianggap lawan, tetapi bisa menjadi kawan. Orang yang bukan hitam bukan putih ini yang sangat berbahaya, seperti bunglon, suka plin-plan! Huh, aku tidak suka terhadap mereka! Gadis bernama Lili itu sepantasnya siluman ular!"

"Sudahlah, Hwa-moi. Mari kita antar Wan-toako ke kamarnya. Biarkan dia mengaso dan mandi. Nanti kita makan bersama di ruangan samping dekat kamarnya."

Kakak beradik itu kemudian mengantar Sin Wan ke kamar tamu yang berada di samping. Kamar itu berukuran cukup luas dan nyaman, lengkap dengan kamar mandi. Mereka lalu meninggalkan Sin Wan dan berjanji akan makan malam bersama setelah Sin Wan mandi. Setelah ditinggal seorang diri, Sin Wan segera mandi dan bertukar pakaian.

Sin Wan merasa suka dan kagum pada keluarga ini. Bhok-ciangkun begitu gagah perkasa dan bijaksana, anak-anaknya pun ramah dan sama sekali tidak angkuh. Akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir. Dia tahu bahwa Lili amat lihai dan merupakan lawan yang amat berbahaya.

Walau pun dia sudah mendengar bahwa Bhok Cun Ki juga bukan orang lemah, melainkan seorang pendekar Butong-pai, tetapi dia belum tahu hingga di mana kepandaian panglima itu. Dan orang seperti Lili itu tidak akan segan untuk membunuh lawannya!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, sesudah sarapan pagi bersama Sin Wan, dengan sikap tenang seperti biasa Bhok Cun Ki berunding dengan pemuda itu tentang tugas mereka.

"Beberapa bulan lagi pemilihan bengcu akan berlangsung di puncak Thai-san," panglima itu berkata. "Menurut pendapatmu, siapa-siapa sajakah kiranya yang akan menjadi calon bengcu, taihiap?"

Dalam perundingan pagi hari itu hadir pula Ci Han dan Ci Hwa yang diperkenankan ayah mereka untuk ikut mendengarkan dan siapa tahu mereka mempunyai usul-usul yang baik, dan perundingan itu pun akan dapat menambah pengalaman mereka.

"Aihh, ayah! Han-ko dan aku sendiri sudah sepakat untuk menyebut twako kepada Wan-twako, dan dia menyebut kami adik. Kenapa ayah masih menggunakan sebutan sungkan itu? Biar pun dia diam saja, namun aku tahu bahwa Wan-twako tidak suka disebut taihiap. Dia benar-benar rendah hati, ayah!" kata Ci Hwa yang lincah dan sudah biasa berbicara sejujurnya kepada ayahnya.

Panglima itu menoleh kepada Sin Wan sambil tersenyum, hanya pandang matanya yang bertanya. Sin Wan juga tersenyum dan mengangguk. "Memang benar apa yang dikatakan Hwa-moi tadi, ciangkun. Aku lebih suka kalau disebut Sin Wan saja, tanpa embel-embel taihiap."

"Ha-ha-ha, engkau semakin menarik, orang muda. Tinggal satu lagi yang ingin kuketahui, kekuatan apa yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan kerendahan hatimu. Baiklah, aku akan menyebutmu Sin Wan saja, tapi engkau pun tidak boleh menyebutku ciangkun. Aku lebih pantas menjadi pamanmu, bukan? Nah, kita hanya saling menyebut ciangkun dan taihiap ketika dalam pertemuan resmi di depan orang-orang lain. Setuju?"

Sin Wan memandang kagum. Bukan main keluarga ini! "Baik, paman, dan terima kasih!"

"Nah, Sin Wan. Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Siapa saja kiranya yang akan menjadi calon bengcu?"

"Paman Bhok, seperti yang pernah kuceritakan kepada Jenderal Shu Ta, ketika diadakan pemilihan pemimpin besar para kai-pang (perkumpulan pengemis) yang diadakan di Lok-yang kurang lebih setahun yang lalu, banyak tokoh memperebutkan kedudukan pemimpin besar itu, semata-mata karena kedudukan itu akan membuat pemegangnya memperoleh kesempatan untuk menjadi calon bengcu, dan juga banyak harapan akan menang karena mendapat dukungan suara seluruh kai-pang. Selain Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang sejak dahulu memang menjadi pemimpin besar kai-pang, ada beberapa orang yang mewakili guru-guru atau pemimpin mereka. Ketika itu See-thian Coa-ong diwakili oleh puterinya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In dan Lili. Lalu Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin diwakili oleh muridnya yang bernama Maniyoko...”

"Bukankah Tung-hai-liong Ouwyang Cin ini adalah seorang peranakan Jepang, merupakan datuk para bajak laut di lautan timur?" Bhok-ciangkun memotong.

"Benar, paman. Kalau See-thian Coa-ong merupakan datuk di barat, maka Tung-hai-liong adalah datuk di timur. Mereka berdua sama kuat, lihai dan liciknya."

"Hemm, lalu siapa datuk dari selatan dan utara?" tanya pula panglima itu.

"Setahuku, tokoh besar selatan tidak ada yang melebihi locianpwe (orang tua gagah) Bu Lee Ki yang berjuluk Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih), dan beliau yang didukung oleh Raja Muda Yung Lo agar kelak menjadi bengcu. Apa bila dia yang menjadi bengcu, kurasa dunia kang-ouw akan aman dan tak akan ada yang berani memberontak terhadap pemerintah, paman. Ada pun datuk besar dari wilayah utara, aku belum mendengar siapa orangnya. Banyak tokoh besar kang-ouw di utara sekarang cerai berai dan meninggalkan daerah yang menjadi tempat peperangan dan amat berbahaya itu.”

"Aihh, jika sudah disebut datuk besar dunia kang-ouw, kenapa takut menghadapi bahaya perang? Siapa akan berani mengganggunya?" Ci Hwa mencela.

Ayahnya tertawa. "Ci Hwa, engkau terlalu mengangkat tinggi datuk besar dunia persilatan. Jika menghadapi lawan pribadi, boleh jadi seorang datuk besar tidak mengenal takut dan sulit dikalahkan. Akan tetapi dalam perang antara pasukan pemerintah melawan para sisa pasukan Mongol, yang berperang adalah ratusan ribu orang. Betapa pun lihainya seorang datuk besar, bagaimana dia akan dapat melindungi diri dari ratusan ribu orang? Kelihaian seseorang tak akan lebih dari seratus orang. Kalau dikeroyok ribuan orang, apa lagi bila dikeroyok prajurit yang bersenjata lengkap, meski dia pandai terbang seperti burung sekali pun, tentu akhirnya akan mati ditembus anak panah atau senjata lain."

"Kalau begitu bahaya hanya datang dari See-thian Coa-ong dan Tung-hai-liong saja, tentu berikut anak buah dan para pembantu mereka?"

"Yang saya ketahui memang dari kedua pihak itu, paman. Akan tetapi, mengingat bahwa jabatan bengcu merupakan kedudukan yang penting dan amat berharga, maka aku yakin bahwa dari utara tentu akan muncul pula seorang datuk baru."

"Menurut pendapatmu, di antara tiga orang sakti yang sudah kita ketahui itu siapa yang paling lihai dan akan dapat memenangkan kedudukan bengcu?"

"Kurasa locianpwe Bu Lee Ki! Tentu saja kalau tidak terjadi kecurangan dan kalau seluruh kai-pang setia kepada pemimpin besarnya. Kita tak akan dapat menentukan dengan pasti sikap para ketua kai-pang itu. Mereka orang-orang berwatak aneh yang mudah berubah, mudah dipengaruhi dari luar."

"Memang ke sanalah kita harus melakukan pengamatan, mengirim penyelidik-penyelidik yang pandai untuk mengawasi para kai-pang. Mereka itu dapat dimanfaatkan pihak yang kuanggap paling berbahaya!"

"See-thian Coa-ong, ayah?" tanya Ci Hwa.

"Bukan."

"Kalau begitu, Tung-hai-liong?" tanya pula Ci Han.

"Juga bukan. Yang paling berbahaya dari semuanya adalah orang-orang Mongol! Mereka tiba-tiba mengubah siasat, tak lagi melakukan penyerangan dengan pengerahan pasukan dari utara dan barat. Hal ini mencurigakan sekali, maka sangat boleh jadi mereka sedang mempergunakan siasat halus untuk menyusup ke dalam negeri melalui pemilihan bengcu. Karena itulah kita harus berhati-hati. Siapa tahu sekarang juga mereka telah menyusup ke kota-kota besar, bahkan ke kota raja."

"Kalau begitu, siluman ular Lili itu mungkin juga dipergunakan oleh orang Mongol" Ci Hwa berseru. Bagaimana pendapatmu, Wan-ko?"

Sin Wan mengerutkan alisnya yang tebal, lantas dia menggeleng kepala perlahan. "Kukira orang seperti See-thian Coa-ong, puterinya serta para muridnya merupakan orang-orang yang sulit untuk diperalat orang lain. Mereka tak akan mau tunduk kepada siapa pun dan dengan pengaruh apa pun juga."

"Kurasa Sin Wan benar, Ci Hwa. Aku pun yakin bahwa gadis itu tidak diperalat, melainkan datang atas kemauan sendiri. Sudahlah, kita tidak perlu bicara tentang gadis itu. Sin Wan, selama beberapa hari ini, harap kau bersama para mata-mata yang menjadi anak buahku suka membantu melakukan penyelidikan di kota raja, di rumah-rumah penginapan, di kuil-kuil kosong, di tempat-tempat yang sekiranya patut dicurigai menjadi tempat pemondokan mata-mata Mongol. Ingat, mereka sudah hafal benar mengenai keadaan di sini, juga akan kebudayaan pribumi, apa lagi mereka licik dan cerdik sehingga akan sia-sia kalau engkau mencari-cari seseorang yang kelihatan seperti orang Mongol di antara mereka. Mungkin mereka itu malah terlihat lebih pribumi dari pada pribuminya sendiri."

"Baik, paman. Akan tetapi untuk keperluan itu sebaiknya jika aku bekerja bebas dan tidak disiarkan berita bahwa aku menjadi pembantu paman. Dengan begitu rasanya akan lebih leluasa aku melakukan penyelidikan."

"Aku mengerti, Sin Wan. Dan sekarang, supaya kita bisa lebih saling mengenal, mari kita pererat melalui ilmu silat."

Sin Wan maklum apa yang dimaksudkan, namun dalam hatinya dia tidak setuju. "Apakah itu perlu, paman?"

"Tentu saja perlu sekali. Bukankah kita harus bekerja sama? Untuk itu kita harus saling mengetahui kemampuan masing-masing."

Sin Wan ingin membantah, akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa sore nanti Bhok Cun Ki akan bertanding melawan Lili, bukan pertandingan yang main-main tapi mempertahankan nyawa dari ancaman gadis liar itu. Ah, dia dapat memberi petunjuk secara tidak langsung, tanpa menyinggung perasaan pendekar Butong ini, pikirnya.

"Baiklah, paman, kalau paman berpendapat demikian."

Ci Han dan Ci Hwa gembira sekali mendengar itu. Mereka juga ingin sekali menyaksikan kelihaian tamu yang kini sudah akrab dengan mereka, yang hanya mereka kenal sebagai murid dari Sam-sian (Tiga Dewa) yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan karena Sam-sian adalah tokoh-tokoh besar yang berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana kaisar!

Sam-sian merupakan tokoh-tokoh besar persilatan yang sudah banyak jasanya dan amat dihargai oleh Kaisar sendiri. Kini di antara ketiga Sam-sian hanya tinggal satu orang saja, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) yang mendapat tugas baru dari Kaisar, tetapi karena merasa sudah tua dan dua orang rekannya sudah tidak ada, lalu mewakilkannya kepada murid ini.

Mereka segera pergi ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang berada di bagian belakang bangunan itu. Ruangan ini luas sehingga memang enak sekali untuk bermain silat, penuh dengan alat-alat untuk berolah raga dan berlatih silat.

Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah saling berhadapan. Melihat tuan rumah yang telah melepas baju luar itu menghadapinya dengan tangan kosong, Sin Wan yang berniat untuk mengukur ilmu pedang dan kalau mungkin memberi petunjuk, cepat-cepat memberi hormat sambil berkata,

"Paman Bhok, aku mendengar bahwa paman adalah seorang pendekar Butong-pai, dan Butong-pai terkenal sekali dengan ilmu pedangnya. Oleh karena itu, apa bila paman tidak berkeberatan, aku ingin sekali merasakan kelihaian ilmu pedang paman dan mengagumi keindahannya."

Tentu saja Sin Wan bermaksud lain. Dia tahu bahwa orang seperti Lili pasti tak akan mau bertanding dengan tangan kosong saja melawan orang yang akan dibunuhnya, dan tentu menggunakan pedang ular putih. Bukankah dia sudah memperlihatkan pedang itu kepada putera puteri panglima itu dan mengancam akan membunuhnya dengan pedang itu? Lili pasti mempergunakan pedang dan Bhok-ciangkun pasti terpaksa akan melayani dengan pedangnya pula...