Social Items

KUI SIANG sudah bergaul dengan dia selama sepuluh tahun lebih dan dia sudah mengenal benar watak yang baik dari sumoi-nya ini. Kui Siang cantik, gagah perkasa, berbudi serta lembut, pasti akan menjadi seorang isteri dan seorang ibu yang baik.

Lili juga sama cantiknya, sama gagah perkasanya, akan tetapi gadis itu terlampau liar dan ganas, berhati keras bahkan bisa menjadi kejam. Karena itu mudah saja memilih di antara keduanya.

Tentu saja dia memilih Kui Siang! Jauh sebelum dia berjumpa dengan Lili, memang dia sudah merasa amat sayang kepada sumoi-nya, rasa sayang merupakan tunas cinta. Kini sumoi-nya berterus terang menyatakan cinta kepadanya!

"Sumoi, aku pun cinta kepadamu," bisiknya sambil merangkul dan sejenak mereka saling peluk dengan ketatnya seolah tidak ingin melepaskan lagi.

Suara batuk-batuk di luar kamar membuat mereka berdua terkejut dan cepat-cepat saling melepaskan rangkulan. Setelah daun pintu terbuka, muncullah kakek itu dan nampak dia tersenyum lebar.

"Wah, engkau sudah tersenyum lagi, Kui Siang? Ha-ha-ha, peristiwa ini patut dirayakan dengan makan enak. Mari keluarlah kalian, kita makan pagi yang istimewa, heh-heh-heh!"

Wajah Kui Siang menjadi merah sekali. Hatinya penuh kebahagiaan karena bukankah di telinganya tadi suara Sin Wan berbisik menyatakan cinta? la telah menyatakan perasaan cintanya dan ternyata dibalas oleh suheng-nya! Peristiwa tadi malam dengan Lili seketika sudah lenyap dari ingatannya.

"Nanti dulu, locianpwe, saya ingin mandi dan bertukar pakaian lebih dulu."

"Heh-heh, baiklah. Kita tunggu di luar, Sin Wan."

Dua orang pria itu keluar dan Kui Siang segera mandi dan bertukar pakaian. Sekali ini dia berdandan dan menyisir rambutnya agak lebih teliti dari pada biasanya. Dia harus selalu nampak rapi dan cantik di depan kekasihnya!

Sementara itu, ketika mereka duduk menanti Kui Siang, kakek Bu Lee Ki berkata kepada pemuda itu. "Sin Wan, engkau dan Kui Siang memang cocok sekali menjadi suami isteri. Kalian berjodoh, kenapa setelah saling mencinta tidak segera menikah saja? Kulihat usia kalian sudah cukup dewasa."

Wajah Sin Wan berubah kemerahan dan dia pun tersenyum. “Aihh, locianpwe, bagaimana mungkin kami menikah! Saya hanya seorang yatim piatu yang miskin dan tidak ada yang mewakili saya, sedangkan Kui Siang, biar pun yatim piatu pula, dia bangsawan dan kaya raya, juga masih mempunyai banyak keluarga di kota raja."

"Hemmm, apa salahnya itu? Yang penting kalian saling mencinta. Tentang wakilmu, biar aku yang mewakilimu, mengajukan pinangan kepada keluarga Kui Siang di kota raja kelak setelah urusan pemilihan pemimpin kai-pang di sini selesai. Bagaimana pendapatmu?"

"Terima kasih atas kebaikan hati locianpwe. Biarlah nanti saja hal itu kita bicarakan sebab selain urusan di sini belum beres, saya sendiri juga masih ragu untuk membangun rumah tangga. Keadaan saya masih begini, locianpwe, kehidupan diri sendiri saja masih belum menentu, tiada pekerjaan dan tidak memiliki rumah tinggal, bagaimana dapat memikirkan pernikahan?"

"Heh-heh, justru pernikahan yang akan memaksamu untuk mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian yang tetap. Tanpa adanya kebutuhan itu, tentu akan selalu hidup bebas seperti seekor burung di udara." Kakek itu terkekeh, lalu melanjutkan. "Bila kalian sudah saling mencinta, hal itu menunjukkan bahwa kalian sudah siap untuk membangun keluarga, hidup bersama sebagai suami isteri. Cinta asmara merupakan tali pengikat yang paling kuat dalam hubungan itu dan kalian sudah saling mencinta. Mau tunggu apa lagi? Cinta berarti hidup bersama dalam keadaan apa pun juga, dalam suka dan duka, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

"Tapi... tapi saya sendiri masih belum mengerti benar mengenai cinta, locianpwe. Mohon petunjuk, apakah cinta itu harus disertai dengan cemburu? Apakah cinta itu bisa berubah menjadi benci?"

Kakek itu tersenyum. "Cinta adalah suatu keadaan yang mulia dan suci, Sin Wan. Cinta adalah sifat dari Tuhan Yang Maha Kasih. Akan tetapi kita manusia merupakan makhluk yang lemah terhadap nafsu-nafsu kita sendiri. Cinta kita selalu diboncengi oleh nafsu, dan nafsu inilah yang mendatangkan perasaan cemburu, benci dan sebagainya. Nafsu bersifat selalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri. Karena cinta kita diboncengi nafsu, maka cinta bisa saja berubah menjadi benci dan dapat pula menimbulkan cemburu bila orang yang kita cinta melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau merugikan kita. Nafsu membuat kita ingin memiliki dan menguasai orang yang kita cinta seluruhnya, sehingga sekali saja terdapat kecenderungan kekasih kita kepada orang lain, timbullah cemburu. Nafsu membuat kita ingin memperalat orang yang kita cinta itu sebagai sumber kesenangan bagi diri kita sendiri."

"Kalau begitu, locianpwe, nafsu merupakan biang keladi sehingga cinta menjadi kotor dan buruk, dapat mendatangkan kejahatan dan mala petaka. Kalau begitu, antara suami isteri seharusnya ada cinta tanpa nafsu...”

"Ha-ha-ha, tidak mungkin, Sin Wan. Nafsu memang berbahaya kalau dia menguasai kita, kalau dia menjadi majikan yang kejam, kalau dia memperalat kita. Akan tetapi sebaliknya tanpa nafsu kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsu yang membonceng dalam cinta antara pria dan wanita merupakan suatu keharusan, karena nafsu yang menimbulkan daya tarik antar kelamin, nafsu pula yang memungkinkan manusia berkembang biak. Kalau sebuah pernikahan dilakukan tanpa adanya nafsu birahi, suami isteri akan hidup bersama seperti kakak beradik sehingga tidak akan ada anak terlahir, dan perkembangan biakan manusia akan terhenti."

Sin Wan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Dia sudah banyak membaca kitab tentang kehidupan, tapi baru sekarang dia mendengar tentang hubungan antara pria dan wanita, tentang bekerjanya nafsu birahi dalam cinta kasih!

"Lalu bagaimana baiknya, locianpwe? Nafsu sangat berbahaya bagi kehidupan batin kita, akan tetapi sebaliknya juga teramat penting bagi kehidupan bahkan tak mungkin bisa kita lenyapkan."

"Segala macam nafsu yang ada pada kita merupakan anugerah pula dari Tuhan kepada kita, Sin Wan. Nafsu-nafsu itulah peserta jiwa dalam badan, untuk kepentingan kehidupan di dunia. Nafsu merupakan alat, merupakan pelengkap, merupakan pembantu yang amat penting. Dalam hal perjodohan, nafsu bekerja sebagai birahi yang menimbulkan perasaan saling suka dan saling tertarik. mungkin melalui keindahan bentuk wajah dan tubuh yang menyenangkan dan cocok, mungkin lewat sikap dan peri laku yang sesuai dengan selera. Pendeknya nafsu birahi selalu ada di dalam cinta antara pria dan wanita yang ingin hidup bersama. Namun karena nafsu mendatangkan pula cemburu yang mungkin menimbulkan kebencian, maka kita harus ingat bahwa sekali nafsu birahi yang menjadi majikan, yang menguasai kita, maka keutuhan perjodohan dapat saja terancam retak. Nafsu birahi juga mendatangkan bosan."

"Lalu bagaimana kita dapat menguasai nafsu kita sendiri, locianpwe? Dapatkah dikuasai dengan semedhi, dengan latihan pernapasan, atau dengan bertapa?"

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. "Semua usaha itu juga masih berada dalam lingkungan atau ruang pekerjaan akal budi, padahal akal budi kita telah dicengkeram oleh nafsu. Karena itu usaha ini juga terbimbing oleh nafsu. Karena kita melihat kerugian yang diakibatkan oleh pengaruh nafsu, maka kita ingin menguasai nafsu. Siapa yang rugi? Kita si akal budi! Dan siapa yang ingin menguasai nafsu? Juga kita sendiri, si akal budi yang sudah bergelimang nafsu. Jadi nafsu menguasai nafsu, maka hasilnya tentu masih nafsu pula, hanya namanya yang berbeda, akan tetapi pada hakekatnya sama, yaitu nafsu yang ingin menyenangkan diri sendiri, ingin menjauhkan diri dari kesusahan, ingin ini dan ingin itu yang pamrihnya pementingan diri. Usaha itu hanya akan mendatangkan hal-hal yang nampaknya berhasil, namun pada luarnya saja. Kalau sekali waktu kebutuhan mendesak, nafsu yang nampaknya dapat ‘ditidurkan’ melalui semua usaha itu akan bangun kembali, malah lebih kuat dari pada yang sebelumnya! Satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengatur nafsu dan mendudukkan kembali nafsu pada tempat yang sebenarnya sebagai abdi-abdi jiwa dalam kehidupan manusia hanyalah kekuasaan Sang Pencipta yang sudah menciptakan nafsu itu. Oleh karena itu kita hanya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan yang Maha Kasih, penyerahan total yang penuh kesabaran, ketawakalan dan keikhlasan. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja dalam diri kita. Nafsu-nafsu, termasuk nafsu birahi, akan tetap bekerja, namun sebagai pembantu yang setia, bukan sebagai majikan yang kejam."

Sin Wan mengangguk-angguk. "Kalau sudah begitu maka perjodohan akan menjadi indah dan penuh kebahagiaan, locianpwe?"

"Ho-ho-heh-heh, nanti dulu, orang muda! Perjodohan adalah suatu segi kehidupan yang paling rumit! Bercampurnya dua orang manusia yang berbeda watak dan selera, berbeda keturunan, untuk hidup bersama selamanya, di dalam sebuah pernikahan, dimaksudkan untuk bersama-sama membangun keluarga, terutama sekali bersama-sama merawat dan mendidik anak-anak yang lahir dari pernikahan itu. Dan mempertahankan kebersamaan selama puluhan tahun antara kedua orang manusia ini membutuhkan kepribadian yang luhur dan kesadaran serta kebijaksanaan yang tinggi. Apakah cukup dengan cinta kasih saja? Memang itulah dasarnya, akan tetapi tidak cukup dengan itu, Sin Wan. Di samping kasih sayang harus terdapat kebijaksanaan pula, kesetiaan, bertanggung jawab dan harus memenuhi kewajiban masing-masing, baik kewajiban sebagai seorang suami atau isteri, kemudian kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu. Semua itu baru akan berjalan mulus kalau didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga kekuasaan Tuhan yang akan menjadi penuntun dan pembimbing."

Percakapan terhenti karena munculnya Kui Siang. Gadis itu kelihatan segar sungguh pun kedua matanya masih kemerahan. Wajahnya tidak pucat lagi dan kini bibirnya tersenyum manis, wajahnya cerah. Gadis itu membelalakkan mata karena terkejut gembira melihat meja penuh hidangan yang masih panas.

"Aihhh, locianpwe benar-benar mengadakan pesta!" serunya sambil duduk di sebelah Sin Wan seperti biasanya menghadapi meja makan.

"Tentu saja! Peristiwa menggembirakan harus disambut dan dirayakan!"

"Peristiwa menggembirakan yang manakah locianpwe?"

"Heh-heh, Kui Siang, masih pura-purakah engkau? Tentu saja peristiwa menggembirakan antara kalian, pertunangan kalian!"

Wajah gadis itu berubah merah sekali dan dia menundukkan muka sambil mengerling ke arah Sin Wan.

"Sumoi, locianpwe sudah mengetahui apa yang terjadi antara kita. Beliau seperti guru kita sendiri, tidak perlu lagi kita bersungkan kepadanya."

"Heh-heh, benar sekali, Kui Siang. Bahkan kelak aku ingin mewakili Sin Wan mengajukan pinangan atas dirimu kepada keluargamu di kota raja."

Kui Siang bangkit lantas memberi hormat kepada kakek itu. "Terima kasih atas kebaikan budimu, locianpwe. Akan tetapi, sebaiknya hal itu tidak usah kita bicarakan sekarang."

Gadis yang bijaksana, pikir Sin Wan bangga. "Ha, engkau benar. Mari kita makan minum dan bergembira."

Mereka makan minum dan saling memberi selamat melalui cawan arak. Sesudah selesai makan, mereka bercakap-cakap dan Sin Wan berkata, "Locianpwe, saya kira pertemuan yang hendak diadakan untuk memilih pimpinan kai-pang ini akan menjadi ramai. Apakah locianpwe telah mendapatkan keterangan tentang tempat dan waktunya?” tanya Sin Wan.

"Sudah, akan diadakan lewat tengah hari nanti. Tempatnya di gedung milik pemerintah, yaitu di gedung pertemuan bagian dari bangunan gedung kepala daerah Lok-yang."

Sin Wan memandang heran. "Di gedung pemerintah?"

"Tentu saja, dan aku girang sekali dengan itu, Sin Wan. Agaknya pemerintah mencampuri dan pemerintah betul-betul ingin melihat para kai-pang menggalang persatuan. Tentu hal ini membangkitkan semangatku, karena dengan adanya bantuan dan kerja sama dengan pemerintah, maka persatuan itu akan lebih mudah dipulihkan seperti di jaman perjuangan melawan penjajah Mongol."

"Akan tetapi saya kira tidak akan semudah itu, locianpwe," kata Sin Wan. "Saya kira Bi-coa Sian-li akan ikut hadir, dan saya melihat pula seorang muda, mungkin berkebangsaan Jepang, yang mempunyai kepandaian amat lihai. Anak buahnya pandai menggunakan jala sebagai senjata."

"Ahh? Bi-coa Sian-li muncul, mungkin dia mewakili ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong, dan kalau muncul pemuda Jepang lihai dan orang-orang yang pandai menggunakan jala, tentu mereka itu mewakli golongan bajak yang dikepalai oleh datuk timur Tung-hai-liong! Wah, akan ramai kalau datuk barat dan datuk timur itu muncul. Kita harus bersiap-siap dan mari engkau matangkan latihan ilmu-ilmu yang sudah kuajarkan kepadamu, Sin Wan."

Selama ini memang hampir setiap kesempatan dipergunakan oleh kakek Bu Lee Ki untuk mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya kepada pemuda yang sudah lihai itu.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Ruangan yang luas itu telah penuh orang yang pakaiannya aneh-aneh. Begitu banyaknya orang yang hadir, tidak kurang dari lima puluh orang, dan mereka semua mengenakan pakaian yang pasti ada tambalannya! Ada pakaian kembang-kembang, juga ada pakaian warna-warni yang kainnya masih baru, akan tetapi tetap saja ada tambalan pada pakaian itu. Inilah tandanya bahwa mereka adalah orang-orang kai-pang (perkumpulan pengemis).

Tentu saja yang hadir hanyalah para pimpinan, maka mereka yang berada di ruangan itu adalah orang-orang yang lihai. Di antara semua kai-pang yang diwakili pimpinan masing-masing, yang menonjol penampilannya hanya empat rombongan, yaitu rombongan Ang-kin Kai-pang yang menjadi pimpinan seluruh kai-pang di daerah utara dan dipimpin oleh Thio Sam Ki dan Ciok An, Lam-kiang Kai-pang perkumpulan terbesar dari selatan yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Kwee Cin.

Lalu perkumpulan terbesar di timur Hwa I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Siok Cu dan diikuti beberapa orang, di antaranya seorang pemuda Jepang yang pakaiannya menyolok karena berbeda dengan pakaian para pimpinan kai-pang, kemudian dari barat Hek I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya, Souw Kiat yang ditemani oleh dua orang wanita yang tentu saja amat menarik perhatian semua orang karena selain cantik jelita, juga pakaian kedua orang wanita itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka berasal dari golongan pengemis!

Selain para pimpinan empat kai-pang itu, semuanya adalah pimpinan para kai-pang yang lebih kecil dan yang dalam banyak hal selalu mengekor saja kepada empat kai-pang besar itu. Karena rapat besar itu diadakan di kota Lok-yang, di mana yang berkuasa adalah Hwa I Kai-pang, maka perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah, bahkan kepala daerah Lok-yang sudah berkenan meminjamkan gedung pertemuan itu kepada Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Siok-Pangcu (Ketua Siok) yang bertubuh pendek gemuk, yaitu Siok Cu ketua Hwa I Kai-pang, duduk pada bagian tuan rumah, ditemani lima orang pembantu ketua dan pemuda Jepang yang menjadi tamu kehormatan. Pemuda itu bukan lain adalah Maniyoko, murid Tung-hai-liong yang mewakili gurunya untuk merebut pimpinan para kai-pang agar kelak dalam pemilihan Bengcu (pemimpin rakyat) Tung-hai-liong Ouwyang Cin bisa memperoleh dukungan dari para kai-pang.

Menghadapi datuk timur itu, Siok Cu beserta para pimpinan Hwa I Kai-pang tidak mampu melawan sehingga terpaksa dia pun menyerah, walau dalam hati para pimpinan kai-pang tentu saja tidak senang melihat para kai-pang dipimpin oleh seorang yang bukan berasal dari golongan pengemis, apa lagi seorang Jepang!

Mereka setuju sesudah mendengar bahwa Tung-hai-liong dan muridnya sama sekali tidak menginginkan pimpinan kai-pang, melainkan hanya memerlukan dukungan kai-pang agar kelak dapat menjadi calon bengcu yang memimpin seluruh dunia persilatan seperti yang dikehendaki pemerintah. Kalau kedudukan bengcu sudah diperoleh, tentu saja Tung-hai-liong dan muridnya tidak suka menjadi pemimpin para pengemis!

Sebagai tuan rumah Siok Cu bangkit berdiri, lantas dia memperkenalkan dua orang yang berpakaian perwira tinggi dan yang duduk di tempat kehormatan di dekat rombongannya. "Kedua orang ciang-kun ini adalah wakil dari pemerintah, dikirim oleh kepala daerah untuk menyaksikan pemilihan pimpinan para kai-pang supaya berjalan dengan tertib. Sekarang kami harap saudara sekalian suka mengajukan calon masing-masing, dan setelah semua calon diajukan, baru kita akan mengadakan pemilihan dan pemungutan suara."

Souw Kiat, ketua Hek I Kai-pang yang mewakili para kai-pang dari daerah barat, bangkit berdiri. "Kami mengajukan usul supaya pemilihan pemimpin besar kai-pang bukan hanya berdasarkan banyaknya suara pemilih karena hal itu dapat saja diatur lebih dulu. Seorang pemimpin baru dapat kita hormati dan taati kalau dia berwibawa dan memiliki kepandaian tinggi, oleh karena itu dia harus lebih lihai dari para calon lainnya. Jadi harus diadakan adu kepandaian untuk menentukan pemenangnya!"

Siok Cu yang sudah mendapat perintah dari Maniyoko, langsung bangkit dan menyatakan persetujuan. "Kami dari Hwa I Kai-pang dan para kai-pang di daerah timur setuju dengan usul dari Hek I Kai-pang. Bagaimana dengan para saudara dari selatan dan utara?"

Kwee Cin, ketua Lam-kiang Kai-pang dari selatan, bangkit. "Sebelum dilakukan pemilihan kami ingin bertanya lebih dahulu. Mengapa diadakan pemilihan lagi kalau dulu kita sudah mempunyai seorang pimpinan? Bukankah semua kai-pang sudah memiliki pimpinan, yaitu locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki? Bukankah beliau yang dahulu memimpin kita semua membantu perjuangan mengenyahkan penjajah Mongol? Meski pun sudah bertahun-tahun beliau tidak aktip, akan tetapi beliau belum berhenti atau diberhentikan sebagai pimpinan, kenapa sekarang kita melakukan pemilihan pimpinan baru?"

Mendengar ini Thio Sam Ki bangkit berdiri pula dan mengacungkan tangan. "Kami dari utara juga setuju dengan pendapat ketua Lam-kiang Kai-pang tadi. Kami tetap mempertahankan locianpwe Pek-sim Lo-kai sebagal pimpinan para kai-pang!"

Ucapan kedua orang ketua itu disambut meriah dan ternyata sebagian besar para pangcu yang hadir dapat menyetujui pendapat itu. Souw Kiat yang telah ditekan oleh Bi-coa Sian-li cepat membantah.

"Sudah bertahun-tahun sejak penjajah kalah, Pek-sim Lo-kai menghilang. Sampai saat ini tidak ada yang tahu apakah beliau masih hidup ataukah sudah mati. Bagaimana kita bisa bersatu tanpa pimpinan? Kita harus mengadakan pemilihan pimpinan baru."

"Kami setuju! Andai kata Pek-sim Lo-kai masih hidup pun, jelas dia sudah meninggalkan kewajibannya, telah mengacuhkan kita semua. Tidak pantas dia dipertahankan," kata Siok Cu dari Hwa I Kai-pang yang sudah terpengaruh oleh Maniyoko.

Diam-diam Thio Sam Ki dan wakilnya, Ciok An, memandang ke sekeliling dengan gelisah. Mengapa orang yang mereka tunggu-tunggu belum muncul? Bagaimana mungkin mereka dapat mempertahankan dan menjagoi Pek-sim Lo-kai kalau orangnya tidak hadir?

Akan tetapi, ketika semua pangcu dipersilakan mengajukan nama calon masing-masing, Ang-kin Kai-pang tetap mengajukan nama Pek-sim Lo-kai sebagai calon. Juga Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang berkeras menjagoi dan mempertahankan Pek-sim Lo-kai.

Sebagai tuan rumah dan penyelenggara rapat, Siok Cu lalu mengumumkan dengan suara lantang bahwa yang diajukan oleh para peserta rapat ada enam calon. Pertama adalah Pek-sim Lo-kai yang tidak hadir akan tetapi ketika nama ini diumumkan, lebih dari separuh jumlah yang hadir menyambut dengan tepuk tangan. Calon kedua adalah Maniyoko murid dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, datuk timur yang namanya telah dikenal semua orang.

"Kami tidak setuju!" seru Thio Sam Ki. "Bukan kami hendak memandang remeh terhadap locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin, akan tetapi beliau dan muridnya bukan golongan pengemis, bagaimana mungkin menjadi pemimpin kita?"

"Thio-pangcu, pengemis atau bukan hanya ditandai oleh pakaiannya, apa sukarnya bagi calon kami untuk mengenakan pakaian pengemis? Yang penting bukan pakaiannya, akan tetapi kepandaiannya dan kemampuannya! Sekarang kami lanjutkan dengan calon-calon yang lain," kata Siok Cu dengan suara lantang, "Calon ke tiga adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In puteri dari locianpwe See-thian Coa-ong Cu Kiat."

"Wah, kami keberatan!” kata Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, "Bagaimana mungkin kita akan dipimpin oleh seorang wanita? Kami semua telah mengenal nama Bi-coa Sian-li, apa lagi See-thian Coa-ong, akan tetapi mereka adalah golongan lain, tidak ada sangkut-pautnya dengan para kai-pang!"

Souw Kiat cepat bangkit dan membela calonnya, tentu saja karena dia ditekan oleh Sui In. “Seperti juga calon yang kedua tadi, calon ketiga pun pantas menjadi pemimpin karena kemampuannya. Untuk apa dipimpin seorang berpakaian pengemis jika dia tidak mampu? Siok Pangcu, lanjutkan dengan nama para calon lainnya!"

Ada tiga orang calon lainnya yang diajukan oleh para kai-pang. Mereka adalah tiga orang pengemis yang berusia enam puluhan tahun dan merupakan tokoh-tokoh di dalam dunia pengemis, dihormati karena mereka adalah orang-orang yang gagah walau pun mereka tidak pernah mau menjabat kedudukan ketua.

Mereka adalah orang-orang yang hanya dikenal julukannya saja di dunia para pengemis, yakni Koai-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Aneh), Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan Hek-bin Lo-kai (Pengemis Tua Muka Hitam). Ketiga orang ini adalah pengemis-pengemis petualang yang tidak tergabung di dalam salah satu kai-pang, namun nama mereka sudah dikenal dan amat dihormati oleh semua pengemis.

Seluruh calon dipersilakan naik ke panggung yang sudah dipersiapkan di ruangan itu dan begitu mereka berdiri berjajar, segera nampaklah perbedaan yang menyolok. Tiga orang calon yang berpakaian butut adalah kakek-kakek tua yang nampak buruk sekali diapit dua orang muda yang elok.

Walau pun agak pendek, Maniyoko yang berdiri di ujung kiri kelihatan tampan dan gagah dengan cambang tebal sampai ke dagunya serta pedang samurai tergantung di belakang punggung. Sedangkan di ujung kanan berdiri seorang gadis yang amat cantik, yang bukan lain adalah Lili! Begitu maju, dia lantas berkata dengan suara lantang kepada semua yang hadir.

"Aku Tang Bwe Li yang mewakili suci (kakak seperguruan) Cu Sui In untuk mengalahkan semua calon!"

Sambil berkata demikian dia memandang kepada Maniyoko dengan sinar mata mencorong penuh kebencian, dan sinar mata itu jelas menyatakan betapa Lili ingin membalas dendam karena dia pernah dicurangi, dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda Jepang itu! Pemuda itu tersenyum saja, senyum tenang mengejek karena dia sama sekali tidak gentar menghadapi gadis cantik itu.

Melihat ini Thio Sam Ki langsung bangkit dan berteriak, "Ini sudah menyalahi peraturan! Calonnya sendiri yang harus maju, tidak boleh diwakili orang lain!"

Lili memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang itu sambil tersenyum manis, lalu berkata lantang. "Pangcu, engkau sendiri mengajukan Pek-sim Lo-kai sebagai calon, tetapi mana orangnya? Suci terlampau tangguh untuk dihadapi calon-calon ini. Aku pun sudah cukup. Nanti kalau Pek-sim Lo-kai sendiri muncul, barulah ada harganya untuk menandingi suci-ku!"

Siok-Pangcu segera menengahi dan mengijinkan Lili mewakill suci-nya, dengan catatan bahwa kalau Lili kalah, berarti suci-nya dinyatakan gagal. Kemudian dia membuat undian dan seperti yang telah diaturnya, yang keluar sebagai orang-orang yang harus bertanding pertama kali adalah Maniyoko melawan Koai-tung Lo-kai.

Sebelum pertandingan pertama dimulai, dia mengumumkan. "Karena seorang calon tidak hadir, maka namanya dicoret dari daftar calon terpilih!"

"Nanti dulu, kami tidak setuju!” teriak Thio Sam Ki. “Kami yang menanggung bahwa Pek-sim Lo-kal pasti akan hadir. Kalau pertandingan ini selesai dan beliau belum hadir, maka boleh saja beliau dinyatakan gagal!"

Para pendukung Pek-sim Lo-kai memberikan suara setuju mereka dan terpaksa Siok Cu mengalah dan menerima usul itu. Pertandingan antara Maniyoko dan Koai-tung Lo-kai segera dimulai dan para calon lain kembali ke tempat duduk masing-masing. Maniyoko bertangan kosong saja menghadapi Koai-tung Lo-kai yang menggunakan tongkatnya.

Seperti juga dua orang kakek pengemis lainnya, sesungguhnya Koai-tung Lo-kai tidak berambisi untuk menjadi pimpinan kai-pang. Namun Pek-sim Lo-kai yang mereka pandang dan harapkan tidak hadir. Maka terpaksa mereka maju, bukan saja untuk memenuhi pilihan para kai-pang, akan tetapi juga untuk mencegah agar dua orang muda itu tidak sampai merebut kedudukan pemimpin kai-pang!

Tapi Koai-tung Lo-kai yang tingkat kepandaiannya hanya lebih unggul sedikit dibandingkan tingkat para ketua kai-pang ternyata bukan lawan Maniyoko yang lihai itu. Dalam waktu kurang dari dua puluh jurus saja, tongkat di tangan Koai-tung Lo-kai telah dapat dirampas oleh Maniyoko, kemudian sebuah tendangan kilat membuat kakek itu terlempar turun dari panggung! Maniyoko tertawa dan melemparkan tongkat itu ke bawah panggung, di mana Koai-tung Lo-kai dibantu bangkit oleh para pengemis yang mencalonkannya.

"Ha-ha-ha, hanya sebegitu saja kepandaian seorang calon yang hendak memimpin para kai-pang di seluruh negeri? Sungguh lucu! Orang begitu lemah bagaimana akan mampu memimpin seluruh kai-pang? Hayo, silakan calon lain maju karena pertandingan yang tadi sama sekali tidak membuat aku berkeringat!” Maniyoko berkata dengan nada dan lagak sombong.

Mendengar ucapan Maniyoko, Hek-bin Lo-kai yang menjadi sahabat baik Koai-tung Lo-kai dan yang memiliki watak keras, menjadi marah dan dia pun meloncat ke atas panggung. “Engkau ini orang Jepang berani mencampuri urusan kai-pang dan berlagak sombong! Aku yang akan menghadapimu, keparat!"

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ hadir dua orang panglima dari pemerintah dan di situ berkumpul pula seluruh pimpinan kai-pang, tentu Maniyoko telah menjadi marah dan akan membunuh kakek bermuka hitam di hadapannya. Akan tetapi dia sudah mendapat pesan gurunya agar tidak menimbulkan kekacauan, maka dia pun tersenyum menghadapi kakek bermuka hitam itu.

"Hek-bin Lo-kai, orang lain boleh merasa gentar melihat mukamu yang hitam menakutkan, akan tetapi aku tidak. Majulah dan perlihatkan kepandaianmu!" Maniyoko menantang.

Hek-bin Lo-kai mengeluarkan bentakan nyaring, dan dia pun langsung menyerang dengan tangan kosong. Dia terkenal sebagai seorang kakek yang memiliki tenaga besar. Namun Maniyoko menyambut dengan gerakannya yang sangat ringan dan gesit sehingga semua terkaman, hantaman serta tendangan kakek bermuka hitam itu tidak pernah dapat menyentuh tubuhnya.

Kembali belasan jurus lewat dan ketika Hek-bin Lo-kai kembali memukul ke arah kepala lawan, Maniyoko merendahkan tubuhnya dan begitu tangan kakek itu meluncur lewat di atas kepalanya, dia cepat menangkap pergelangan tangan kanan kakek itu dan sekali dia membuat gerakan merendah, membalik dan membanting, tubuh kakek itu telah terlempar keluar panggung dan jatuh terbanting ke atas lantai di bawah panggung! Terdengar sorak sorai dari para pimpinan Hwa I Kai-pang dan para kai-pang pengikutnya di daerah timur yang menjagoi Maniyoko.

Maniyoko tertawa, "Masih ada lagikah?" teriaknya dengan lagak semakin sombong.

"Orang Jepang, akulah lawanmu!" terdengar bentakan nyaring dari Ta-kau Sin-kai, kakek pengemis ketiga yang meloncat naik ke atas panggung sambil memutar tongkatnya. Akan tetapi dari lain jurusan nampak bayangan lain berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Lili!

"Nona, biarkan aku menghajar orang Jepang sombong ini!" teriak Ta-kau Sin-kai.

Lili tersenyum. "Kakek pengemis, sungguh pun engkau berjuluk Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan dia ini memang seperti anjing yang layak dipukul, akan tetapi engkau tidak akan menang dan engkau bahkan akan digigit olehnya. Dia ini anjing gila, kalau menggigit amat berbahaya. Biarlah aku yang akan menghajarnya!"

"Tidak, nona!” kata Ta-kau Sin-kai yang merasa penasaran melihat dua orang rekannya tadi dikalahkan, dan dia sudah memutar tongkatnya menyerang Maniyoko.

Akan tetapi Lili menghadangnya sehingga kini di atas panggung terdapat tiga orang dan suasana menjadi agak kacau. Kakek itu ingin menyerang Maniyoko, akan tetapi gadis itu selalu menghalanginya. Tiba-tiba terdengar seruan lantang dari seorang panglima yang hadir di situ.

"Tidak boleh seperti itu! Calon dari daerah timur harap segera turun karena sudah dua kali bertanding dan biarkan calon dari barat, nona itu bertanding melawan Ta-kau Sin-kai!"

Mendengar ini Maniyoko tertawa kemudian dia pun kembali ke tempat duduknya sehingga Lili berhadapan dengan Ta-kau Sin-kai. Gadis itu cemberut memandang kepada kakek pengemis itu.

"Kek, engkau hanya menghalangi aku untuk menghajar manusia sombong tadi. Mengapa engkau tidak cepat kembali saja ke tempatmu semula dan mengaku kalah!"

Apa bila tadi Ta-kau Sin-kai marah kepada Maniyoko, kini menghadapi Lili dia tersenyum. "Nona, meski pun tua aku telah dipilih oleh beberapa pimpinan kai-pang, jadi bagaimana pun juga aku harus menghargai mereka dan berusaha untuk memenangkan pemilihan ini. Nah, marilah kita menguji kepandaian masing-masing nona."

“Hemm, engkau hanya mencari penyakit. Lihat seranganku!" kata Lili dan tubuhnya sudah bergerak cepat, bagai seekor ular saja tangan kirinya telah meluncur ke depan, tangannya membentuk kepala ular dan tangan itu menyambar ke arah muka Ta-kau Sin-kai...

Si Pedang Tumpul Jilid 23

KUI SIANG sudah bergaul dengan dia selama sepuluh tahun lebih dan dia sudah mengenal benar watak yang baik dari sumoi-nya ini. Kui Siang cantik, gagah perkasa, berbudi serta lembut, pasti akan menjadi seorang isteri dan seorang ibu yang baik.

Lili juga sama cantiknya, sama gagah perkasanya, akan tetapi gadis itu terlampau liar dan ganas, berhati keras bahkan bisa menjadi kejam. Karena itu mudah saja memilih di antara keduanya.

Tentu saja dia memilih Kui Siang! Jauh sebelum dia berjumpa dengan Lili, memang dia sudah merasa amat sayang kepada sumoi-nya, rasa sayang merupakan tunas cinta. Kini sumoi-nya berterus terang menyatakan cinta kepadanya!

"Sumoi, aku pun cinta kepadamu," bisiknya sambil merangkul dan sejenak mereka saling peluk dengan ketatnya seolah tidak ingin melepaskan lagi.

Suara batuk-batuk di luar kamar membuat mereka berdua terkejut dan cepat-cepat saling melepaskan rangkulan. Setelah daun pintu terbuka, muncullah kakek itu dan nampak dia tersenyum lebar.

"Wah, engkau sudah tersenyum lagi, Kui Siang? Ha-ha-ha, peristiwa ini patut dirayakan dengan makan enak. Mari keluarlah kalian, kita makan pagi yang istimewa, heh-heh-heh!"

Wajah Kui Siang menjadi merah sekali. Hatinya penuh kebahagiaan karena bukankah di telinganya tadi suara Sin Wan berbisik menyatakan cinta? la telah menyatakan perasaan cintanya dan ternyata dibalas oleh suheng-nya! Peristiwa tadi malam dengan Lili seketika sudah lenyap dari ingatannya.

"Nanti dulu, locianpwe, saya ingin mandi dan bertukar pakaian lebih dulu."

"Heh-heh, baiklah. Kita tunggu di luar, Sin Wan."

Dua orang pria itu keluar dan Kui Siang segera mandi dan bertukar pakaian. Sekali ini dia berdandan dan menyisir rambutnya agak lebih teliti dari pada biasanya. Dia harus selalu nampak rapi dan cantik di depan kekasihnya!

Sementara itu, ketika mereka duduk menanti Kui Siang, kakek Bu Lee Ki berkata kepada pemuda itu. "Sin Wan, engkau dan Kui Siang memang cocok sekali menjadi suami isteri. Kalian berjodoh, kenapa setelah saling mencinta tidak segera menikah saja? Kulihat usia kalian sudah cukup dewasa."

Wajah Sin Wan berubah kemerahan dan dia pun tersenyum. “Aihh, locianpwe, bagaimana mungkin kami menikah! Saya hanya seorang yatim piatu yang miskin dan tidak ada yang mewakili saya, sedangkan Kui Siang, biar pun yatim piatu pula, dia bangsawan dan kaya raya, juga masih mempunyai banyak keluarga di kota raja."

"Hemmm, apa salahnya itu? Yang penting kalian saling mencinta. Tentang wakilmu, biar aku yang mewakilimu, mengajukan pinangan kepada keluarga Kui Siang di kota raja kelak setelah urusan pemilihan pemimpin kai-pang di sini selesai. Bagaimana pendapatmu?"

"Terima kasih atas kebaikan hati locianpwe. Biarlah nanti saja hal itu kita bicarakan sebab selain urusan di sini belum beres, saya sendiri juga masih ragu untuk membangun rumah tangga. Keadaan saya masih begini, locianpwe, kehidupan diri sendiri saja masih belum menentu, tiada pekerjaan dan tidak memiliki rumah tinggal, bagaimana dapat memikirkan pernikahan?"

"Heh-heh, justru pernikahan yang akan memaksamu untuk mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian yang tetap. Tanpa adanya kebutuhan itu, tentu akan selalu hidup bebas seperti seekor burung di udara." Kakek itu terkekeh, lalu melanjutkan. "Bila kalian sudah saling mencinta, hal itu menunjukkan bahwa kalian sudah siap untuk membangun keluarga, hidup bersama sebagai suami isteri. Cinta asmara merupakan tali pengikat yang paling kuat dalam hubungan itu dan kalian sudah saling mencinta. Mau tunggu apa lagi? Cinta berarti hidup bersama dalam keadaan apa pun juga, dalam suka dan duka, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

"Tapi... tapi saya sendiri masih belum mengerti benar mengenai cinta, locianpwe. Mohon petunjuk, apakah cinta itu harus disertai dengan cemburu? Apakah cinta itu bisa berubah menjadi benci?"

Kakek itu tersenyum. "Cinta adalah suatu keadaan yang mulia dan suci, Sin Wan. Cinta adalah sifat dari Tuhan Yang Maha Kasih. Akan tetapi kita manusia merupakan makhluk yang lemah terhadap nafsu-nafsu kita sendiri. Cinta kita selalu diboncengi oleh nafsu, dan nafsu inilah yang mendatangkan perasaan cemburu, benci dan sebagainya. Nafsu bersifat selalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri. Karena cinta kita diboncengi nafsu, maka cinta bisa saja berubah menjadi benci dan dapat pula menimbulkan cemburu bila orang yang kita cinta melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau merugikan kita. Nafsu membuat kita ingin memiliki dan menguasai orang yang kita cinta seluruhnya, sehingga sekali saja terdapat kecenderungan kekasih kita kepada orang lain, timbullah cemburu. Nafsu membuat kita ingin memperalat orang yang kita cinta itu sebagai sumber kesenangan bagi diri kita sendiri."

"Kalau begitu, locianpwe, nafsu merupakan biang keladi sehingga cinta menjadi kotor dan buruk, dapat mendatangkan kejahatan dan mala petaka. Kalau begitu, antara suami isteri seharusnya ada cinta tanpa nafsu...”

"Ha-ha-ha, tidak mungkin, Sin Wan. Nafsu memang berbahaya kalau dia menguasai kita, kalau dia menjadi majikan yang kejam, kalau dia memperalat kita. Akan tetapi sebaliknya tanpa nafsu kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsu yang membonceng dalam cinta antara pria dan wanita merupakan suatu keharusan, karena nafsu yang menimbulkan daya tarik antar kelamin, nafsu pula yang memungkinkan manusia berkembang biak. Kalau sebuah pernikahan dilakukan tanpa adanya nafsu birahi, suami isteri akan hidup bersama seperti kakak beradik sehingga tidak akan ada anak terlahir, dan perkembangan biakan manusia akan terhenti."

Sin Wan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Dia sudah banyak membaca kitab tentang kehidupan, tapi baru sekarang dia mendengar tentang hubungan antara pria dan wanita, tentang bekerjanya nafsu birahi dalam cinta kasih!

"Lalu bagaimana baiknya, locianpwe? Nafsu sangat berbahaya bagi kehidupan batin kita, akan tetapi sebaliknya juga teramat penting bagi kehidupan bahkan tak mungkin bisa kita lenyapkan."

"Segala macam nafsu yang ada pada kita merupakan anugerah pula dari Tuhan kepada kita, Sin Wan. Nafsu-nafsu itulah peserta jiwa dalam badan, untuk kepentingan kehidupan di dunia. Nafsu merupakan alat, merupakan pelengkap, merupakan pembantu yang amat penting. Dalam hal perjodohan, nafsu bekerja sebagai birahi yang menimbulkan perasaan saling suka dan saling tertarik. mungkin melalui keindahan bentuk wajah dan tubuh yang menyenangkan dan cocok, mungkin lewat sikap dan peri laku yang sesuai dengan selera. Pendeknya nafsu birahi selalu ada di dalam cinta antara pria dan wanita yang ingin hidup bersama. Namun karena nafsu mendatangkan pula cemburu yang mungkin menimbulkan kebencian, maka kita harus ingat bahwa sekali nafsu birahi yang menjadi majikan, yang menguasai kita, maka keutuhan perjodohan dapat saja terancam retak. Nafsu birahi juga mendatangkan bosan."

"Lalu bagaimana kita dapat menguasai nafsu kita sendiri, locianpwe? Dapatkah dikuasai dengan semedhi, dengan latihan pernapasan, atau dengan bertapa?"

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. "Semua usaha itu juga masih berada dalam lingkungan atau ruang pekerjaan akal budi, padahal akal budi kita telah dicengkeram oleh nafsu. Karena itu usaha ini juga terbimbing oleh nafsu. Karena kita melihat kerugian yang diakibatkan oleh pengaruh nafsu, maka kita ingin menguasai nafsu. Siapa yang rugi? Kita si akal budi! Dan siapa yang ingin menguasai nafsu? Juga kita sendiri, si akal budi yang sudah bergelimang nafsu. Jadi nafsu menguasai nafsu, maka hasilnya tentu masih nafsu pula, hanya namanya yang berbeda, akan tetapi pada hakekatnya sama, yaitu nafsu yang ingin menyenangkan diri sendiri, ingin menjauhkan diri dari kesusahan, ingin ini dan ingin itu yang pamrihnya pementingan diri. Usaha itu hanya akan mendatangkan hal-hal yang nampaknya berhasil, namun pada luarnya saja. Kalau sekali waktu kebutuhan mendesak, nafsu yang nampaknya dapat ‘ditidurkan’ melalui semua usaha itu akan bangun kembali, malah lebih kuat dari pada yang sebelumnya! Satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengatur nafsu dan mendudukkan kembali nafsu pada tempat yang sebenarnya sebagai abdi-abdi jiwa dalam kehidupan manusia hanyalah kekuasaan Sang Pencipta yang sudah menciptakan nafsu itu. Oleh karena itu kita hanya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan yang Maha Kasih, penyerahan total yang penuh kesabaran, ketawakalan dan keikhlasan. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja dalam diri kita. Nafsu-nafsu, termasuk nafsu birahi, akan tetap bekerja, namun sebagai pembantu yang setia, bukan sebagai majikan yang kejam."

Sin Wan mengangguk-angguk. "Kalau sudah begitu maka perjodohan akan menjadi indah dan penuh kebahagiaan, locianpwe?"

"Ho-ho-heh-heh, nanti dulu, orang muda! Perjodohan adalah suatu segi kehidupan yang paling rumit! Bercampurnya dua orang manusia yang berbeda watak dan selera, berbeda keturunan, untuk hidup bersama selamanya, di dalam sebuah pernikahan, dimaksudkan untuk bersama-sama membangun keluarga, terutama sekali bersama-sama merawat dan mendidik anak-anak yang lahir dari pernikahan itu. Dan mempertahankan kebersamaan selama puluhan tahun antara kedua orang manusia ini membutuhkan kepribadian yang luhur dan kesadaran serta kebijaksanaan yang tinggi. Apakah cukup dengan cinta kasih saja? Memang itulah dasarnya, akan tetapi tidak cukup dengan itu, Sin Wan. Di samping kasih sayang harus terdapat kebijaksanaan pula, kesetiaan, bertanggung jawab dan harus memenuhi kewajiban masing-masing, baik kewajiban sebagai seorang suami atau isteri, kemudian kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu. Semua itu baru akan berjalan mulus kalau didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga kekuasaan Tuhan yang akan menjadi penuntun dan pembimbing."

Percakapan terhenti karena munculnya Kui Siang. Gadis itu kelihatan segar sungguh pun kedua matanya masih kemerahan. Wajahnya tidak pucat lagi dan kini bibirnya tersenyum manis, wajahnya cerah. Gadis itu membelalakkan mata karena terkejut gembira melihat meja penuh hidangan yang masih panas.

"Aihhh, locianpwe benar-benar mengadakan pesta!" serunya sambil duduk di sebelah Sin Wan seperti biasanya menghadapi meja makan.

"Tentu saja! Peristiwa menggembirakan harus disambut dan dirayakan!"

"Peristiwa menggembirakan yang manakah locianpwe?"

"Heh-heh, Kui Siang, masih pura-purakah engkau? Tentu saja peristiwa menggembirakan antara kalian, pertunangan kalian!"

Wajah gadis itu berubah merah sekali dan dia menundukkan muka sambil mengerling ke arah Sin Wan.

"Sumoi, locianpwe sudah mengetahui apa yang terjadi antara kita. Beliau seperti guru kita sendiri, tidak perlu lagi kita bersungkan kepadanya."

"Heh-heh, benar sekali, Kui Siang. Bahkan kelak aku ingin mewakili Sin Wan mengajukan pinangan atas dirimu kepada keluargamu di kota raja."

Kui Siang bangkit lantas memberi hormat kepada kakek itu. "Terima kasih atas kebaikan budimu, locianpwe. Akan tetapi, sebaiknya hal itu tidak usah kita bicarakan sekarang."

Gadis yang bijaksana, pikir Sin Wan bangga. "Ha, engkau benar. Mari kita makan minum dan bergembira."

Mereka makan minum dan saling memberi selamat melalui cawan arak. Sesudah selesai makan, mereka bercakap-cakap dan Sin Wan berkata, "Locianpwe, saya kira pertemuan yang hendak diadakan untuk memilih pimpinan kai-pang ini akan menjadi ramai. Apakah locianpwe telah mendapatkan keterangan tentang tempat dan waktunya?” tanya Sin Wan.

"Sudah, akan diadakan lewat tengah hari nanti. Tempatnya di gedung milik pemerintah, yaitu di gedung pertemuan bagian dari bangunan gedung kepala daerah Lok-yang."

Sin Wan memandang heran. "Di gedung pemerintah?"

"Tentu saja, dan aku girang sekali dengan itu, Sin Wan. Agaknya pemerintah mencampuri dan pemerintah betul-betul ingin melihat para kai-pang menggalang persatuan. Tentu hal ini membangkitkan semangatku, karena dengan adanya bantuan dan kerja sama dengan pemerintah, maka persatuan itu akan lebih mudah dipulihkan seperti di jaman perjuangan melawan penjajah Mongol."

"Akan tetapi saya kira tidak akan semudah itu, locianpwe," kata Sin Wan. "Saya kira Bi-coa Sian-li akan ikut hadir, dan saya melihat pula seorang muda, mungkin berkebangsaan Jepang, yang mempunyai kepandaian amat lihai. Anak buahnya pandai menggunakan jala sebagai senjata."

"Ahh? Bi-coa Sian-li muncul, mungkin dia mewakili ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong, dan kalau muncul pemuda Jepang lihai dan orang-orang yang pandai menggunakan jala, tentu mereka itu mewakli golongan bajak yang dikepalai oleh datuk timur Tung-hai-liong! Wah, akan ramai kalau datuk barat dan datuk timur itu muncul. Kita harus bersiap-siap dan mari engkau matangkan latihan ilmu-ilmu yang sudah kuajarkan kepadamu, Sin Wan."

Selama ini memang hampir setiap kesempatan dipergunakan oleh kakek Bu Lee Ki untuk mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya kepada pemuda yang sudah lihai itu.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Ruangan yang luas itu telah penuh orang yang pakaiannya aneh-aneh. Begitu banyaknya orang yang hadir, tidak kurang dari lima puluh orang, dan mereka semua mengenakan pakaian yang pasti ada tambalannya! Ada pakaian kembang-kembang, juga ada pakaian warna-warni yang kainnya masih baru, akan tetapi tetap saja ada tambalan pada pakaian itu. Inilah tandanya bahwa mereka adalah orang-orang kai-pang (perkumpulan pengemis).

Tentu saja yang hadir hanyalah para pimpinan, maka mereka yang berada di ruangan itu adalah orang-orang yang lihai. Di antara semua kai-pang yang diwakili pimpinan masing-masing, yang menonjol penampilannya hanya empat rombongan, yaitu rombongan Ang-kin Kai-pang yang menjadi pimpinan seluruh kai-pang di daerah utara dan dipimpin oleh Thio Sam Ki dan Ciok An, Lam-kiang Kai-pang perkumpulan terbesar dari selatan yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Kwee Cin.

Lalu perkumpulan terbesar di timur Hwa I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Siok Cu dan diikuti beberapa orang, di antaranya seorang pemuda Jepang yang pakaiannya menyolok karena berbeda dengan pakaian para pimpinan kai-pang, kemudian dari barat Hek I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya, Souw Kiat yang ditemani oleh dua orang wanita yang tentu saja amat menarik perhatian semua orang karena selain cantik jelita, juga pakaian kedua orang wanita itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka berasal dari golongan pengemis!

Selain para pimpinan empat kai-pang itu, semuanya adalah pimpinan para kai-pang yang lebih kecil dan yang dalam banyak hal selalu mengekor saja kepada empat kai-pang besar itu. Karena rapat besar itu diadakan di kota Lok-yang, di mana yang berkuasa adalah Hwa I Kai-pang, maka perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah, bahkan kepala daerah Lok-yang sudah berkenan meminjamkan gedung pertemuan itu kepada Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Siok-Pangcu (Ketua Siok) yang bertubuh pendek gemuk, yaitu Siok Cu ketua Hwa I Kai-pang, duduk pada bagian tuan rumah, ditemani lima orang pembantu ketua dan pemuda Jepang yang menjadi tamu kehormatan. Pemuda itu bukan lain adalah Maniyoko, murid Tung-hai-liong yang mewakili gurunya untuk merebut pimpinan para kai-pang agar kelak dalam pemilihan Bengcu (pemimpin rakyat) Tung-hai-liong Ouwyang Cin bisa memperoleh dukungan dari para kai-pang.

Menghadapi datuk timur itu, Siok Cu beserta para pimpinan Hwa I Kai-pang tidak mampu melawan sehingga terpaksa dia pun menyerah, walau dalam hati para pimpinan kai-pang tentu saja tidak senang melihat para kai-pang dipimpin oleh seorang yang bukan berasal dari golongan pengemis, apa lagi seorang Jepang!

Mereka setuju sesudah mendengar bahwa Tung-hai-liong dan muridnya sama sekali tidak menginginkan pimpinan kai-pang, melainkan hanya memerlukan dukungan kai-pang agar kelak dapat menjadi calon bengcu yang memimpin seluruh dunia persilatan seperti yang dikehendaki pemerintah. Kalau kedudukan bengcu sudah diperoleh, tentu saja Tung-hai-liong dan muridnya tidak suka menjadi pemimpin para pengemis!

Sebagai tuan rumah Siok Cu bangkit berdiri, lantas dia memperkenalkan dua orang yang berpakaian perwira tinggi dan yang duduk di tempat kehormatan di dekat rombongannya. "Kedua orang ciang-kun ini adalah wakil dari pemerintah, dikirim oleh kepala daerah untuk menyaksikan pemilihan pimpinan para kai-pang supaya berjalan dengan tertib. Sekarang kami harap saudara sekalian suka mengajukan calon masing-masing, dan setelah semua calon diajukan, baru kita akan mengadakan pemilihan dan pemungutan suara."

Souw Kiat, ketua Hek I Kai-pang yang mewakili para kai-pang dari daerah barat, bangkit berdiri. "Kami mengajukan usul supaya pemilihan pemimpin besar kai-pang bukan hanya berdasarkan banyaknya suara pemilih karena hal itu dapat saja diatur lebih dulu. Seorang pemimpin baru dapat kita hormati dan taati kalau dia berwibawa dan memiliki kepandaian tinggi, oleh karena itu dia harus lebih lihai dari para calon lainnya. Jadi harus diadakan adu kepandaian untuk menentukan pemenangnya!"

Siok Cu yang sudah mendapat perintah dari Maniyoko, langsung bangkit dan menyatakan persetujuan. "Kami dari Hwa I Kai-pang dan para kai-pang di daerah timur setuju dengan usul dari Hek I Kai-pang. Bagaimana dengan para saudara dari selatan dan utara?"

Kwee Cin, ketua Lam-kiang Kai-pang dari selatan, bangkit. "Sebelum dilakukan pemilihan kami ingin bertanya lebih dahulu. Mengapa diadakan pemilihan lagi kalau dulu kita sudah mempunyai seorang pimpinan? Bukankah semua kai-pang sudah memiliki pimpinan, yaitu locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki? Bukankah beliau yang dahulu memimpin kita semua membantu perjuangan mengenyahkan penjajah Mongol? Meski pun sudah bertahun-tahun beliau tidak aktip, akan tetapi beliau belum berhenti atau diberhentikan sebagai pimpinan, kenapa sekarang kita melakukan pemilihan pimpinan baru?"

Mendengar ini Thio Sam Ki bangkit berdiri pula dan mengacungkan tangan. "Kami dari utara juga setuju dengan pendapat ketua Lam-kiang Kai-pang tadi. Kami tetap mempertahankan locianpwe Pek-sim Lo-kai sebagal pimpinan para kai-pang!"

Ucapan kedua orang ketua itu disambut meriah dan ternyata sebagian besar para pangcu yang hadir dapat menyetujui pendapat itu. Souw Kiat yang telah ditekan oleh Bi-coa Sian-li cepat membantah.

"Sudah bertahun-tahun sejak penjajah kalah, Pek-sim Lo-kai menghilang. Sampai saat ini tidak ada yang tahu apakah beliau masih hidup ataukah sudah mati. Bagaimana kita bisa bersatu tanpa pimpinan? Kita harus mengadakan pemilihan pimpinan baru."

"Kami setuju! Andai kata Pek-sim Lo-kai masih hidup pun, jelas dia sudah meninggalkan kewajibannya, telah mengacuhkan kita semua. Tidak pantas dia dipertahankan," kata Siok Cu dari Hwa I Kai-pang yang sudah terpengaruh oleh Maniyoko.

Diam-diam Thio Sam Ki dan wakilnya, Ciok An, memandang ke sekeliling dengan gelisah. Mengapa orang yang mereka tunggu-tunggu belum muncul? Bagaimana mungkin mereka dapat mempertahankan dan menjagoi Pek-sim Lo-kai kalau orangnya tidak hadir?

Akan tetapi, ketika semua pangcu dipersilakan mengajukan nama calon masing-masing, Ang-kin Kai-pang tetap mengajukan nama Pek-sim Lo-kai sebagai calon. Juga Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang berkeras menjagoi dan mempertahankan Pek-sim Lo-kai.

Sebagai tuan rumah dan penyelenggara rapat, Siok Cu lalu mengumumkan dengan suara lantang bahwa yang diajukan oleh para peserta rapat ada enam calon. Pertama adalah Pek-sim Lo-kai yang tidak hadir akan tetapi ketika nama ini diumumkan, lebih dari separuh jumlah yang hadir menyambut dengan tepuk tangan. Calon kedua adalah Maniyoko murid dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, datuk timur yang namanya telah dikenal semua orang.

"Kami tidak setuju!" seru Thio Sam Ki. "Bukan kami hendak memandang remeh terhadap locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin, akan tetapi beliau dan muridnya bukan golongan pengemis, bagaimana mungkin menjadi pemimpin kita?"

"Thio-pangcu, pengemis atau bukan hanya ditandai oleh pakaiannya, apa sukarnya bagi calon kami untuk mengenakan pakaian pengemis? Yang penting bukan pakaiannya, akan tetapi kepandaiannya dan kemampuannya! Sekarang kami lanjutkan dengan calon-calon yang lain," kata Siok Cu dengan suara lantang, "Calon ke tiga adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In puteri dari locianpwe See-thian Coa-ong Cu Kiat."

"Wah, kami keberatan!” kata Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, "Bagaimana mungkin kita akan dipimpin oleh seorang wanita? Kami semua telah mengenal nama Bi-coa Sian-li, apa lagi See-thian Coa-ong, akan tetapi mereka adalah golongan lain, tidak ada sangkut-pautnya dengan para kai-pang!"

Souw Kiat cepat bangkit dan membela calonnya, tentu saja karena dia ditekan oleh Sui In. “Seperti juga calon yang kedua tadi, calon ketiga pun pantas menjadi pemimpin karena kemampuannya. Untuk apa dipimpin seorang berpakaian pengemis jika dia tidak mampu? Siok Pangcu, lanjutkan dengan nama para calon lainnya!"

Ada tiga orang calon lainnya yang diajukan oleh para kai-pang. Mereka adalah tiga orang pengemis yang berusia enam puluhan tahun dan merupakan tokoh-tokoh di dalam dunia pengemis, dihormati karena mereka adalah orang-orang yang gagah walau pun mereka tidak pernah mau menjabat kedudukan ketua.

Mereka adalah orang-orang yang hanya dikenal julukannya saja di dunia para pengemis, yakni Koai-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Aneh), Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan Hek-bin Lo-kai (Pengemis Tua Muka Hitam). Ketiga orang ini adalah pengemis-pengemis petualang yang tidak tergabung di dalam salah satu kai-pang, namun nama mereka sudah dikenal dan amat dihormati oleh semua pengemis.

Seluruh calon dipersilakan naik ke panggung yang sudah dipersiapkan di ruangan itu dan begitu mereka berdiri berjajar, segera nampaklah perbedaan yang menyolok. Tiga orang calon yang berpakaian butut adalah kakek-kakek tua yang nampak buruk sekali diapit dua orang muda yang elok.

Walau pun agak pendek, Maniyoko yang berdiri di ujung kiri kelihatan tampan dan gagah dengan cambang tebal sampai ke dagunya serta pedang samurai tergantung di belakang punggung. Sedangkan di ujung kanan berdiri seorang gadis yang amat cantik, yang bukan lain adalah Lili! Begitu maju, dia lantas berkata dengan suara lantang kepada semua yang hadir.

"Aku Tang Bwe Li yang mewakili suci (kakak seperguruan) Cu Sui In untuk mengalahkan semua calon!"

Sambil berkata demikian dia memandang kepada Maniyoko dengan sinar mata mencorong penuh kebencian, dan sinar mata itu jelas menyatakan betapa Lili ingin membalas dendam karena dia pernah dicurangi, dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda Jepang itu! Pemuda itu tersenyum saja, senyum tenang mengejek karena dia sama sekali tidak gentar menghadapi gadis cantik itu.

Melihat ini Thio Sam Ki langsung bangkit dan berteriak, "Ini sudah menyalahi peraturan! Calonnya sendiri yang harus maju, tidak boleh diwakili orang lain!"

Lili memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang itu sambil tersenyum manis, lalu berkata lantang. "Pangcu, engkau sendiri mengajukan Pek-sim Lo-kai sebagai calon, tetapi mana orangnya? Suci terlampau tangguh untuk dihadapi calon-calon ini. Aku pun sudah cukup. Nanti kalau Pek-sim Lo-kai sendiri muncul, barulah ada harganya untuk menandingi suci-ku!"

Siok-Pangcu segera menengahi dan mengijinkan Lili mewakill suci-nya, dengan catatan bahwa kalau Lili kalah, berarti suci-nya dinyatakan gagal. Kemudian dia membuat undian dan seperti yang telah diaturnya, yang keluar sebagai orang-orang yang harus bertanding pertama kali adalah Maniyoko melawan Koai-tung Lo-kai.

Sebelum pertandingan pertama dimulai, dia mengumumkan. "Karena seorang calon tidak hadir, maka namanya dicoret dari daftar calon terpilih!"

"Nanti dulu, kami tidak setuju!” teriak Thio Sam Ki. “Kami yang menanggung bahwa Pek-sim Lo-kal pasti akan hadir. Kalau pertandingan ini selesai dan beliau belum hadir, maka boleh saja beliau dinyatakan gagal!"

Para pendukung Pek-sim Lo-kai memberikan suara setuju mereka dan terpaksa Siok Cu mengalah dan menerima usul itu. Pertandingan antara Maniyoko dan Koai-tung Lo-kai segera dimulai dan para calon lain kembali ke tempat duduk masing-masing. Maniyoko bertangan kosong saja menghadapi Koai-tung Lo-kai yang menggunakan tongkatnya.

Seperti juga dua orang kakek pengemis lainnya, sesungguhnya Koai-tung Lo-kai tidak berambisi untuk menjadi pimpinan kai-pang. Namun Pek-sim Lo-kai yang mereka pandang dan harapkan tidak hadir. Maka terpaksa mereka maju, bukan saja untuk memenuhi pilihan para kai-pang, akan tetapi juga untuk mencegah agar dua orang muda itu tidak sampai merebut kedudukan pemimpin kai-pang!

Tapi Koai-tung Lo-kai yang tingkat kepandaiannya hanya lebih unggul sedikit dibandingkan tingkat para ketua kai-pang ternyata bukan lawan Maniyoko yang lihai itu. Dalam waktu kurang dari dua puluh jurus saja, tongkat di tangan Koai-tung Lo-kai telah dapat dirampas oleh Maniyoko, kemudian sebuah tendangan kilat membuat kakek itu terlempar turun dari panggung! Maniyoko tertawa dan melemparkan tongkat itu ke bawah panggung, di mana Koai-tung Lo-kai dibantu bangkit oleh para pengemis yang mencalonkannya.

"Ha-ha-ha, hanya sebegitu saja kepandaian seorang calon yang hendak memimpin para kai-pang di seluruh negeri? Sungguh lucu! Orang begitu lemah bagaimana akan mampu memimpin seluruh kai-pang? Hayo, silakan calon lain maju karena pertandingan yang tadi sama sekali tidak membuat aku berkeringat!” Maniyoko berkata dengan nada dan lagak sombong.

Mendengar ucapan Maniyoko, Hek-bin Lo-kai yang menjadi sahabat baik Koai-tung Lo-kai dan yang memiliki watak keras, menjadi marah dan dia pun meloncat ke atas panggung. “Engkau ini orang Jepang berani mencampuri urusan kai-pang dan berlagak sombong! Aku yang akan menghadapimu, keparat!"

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ hadir dua orang panglima dari pemerintah dan di situ berkumpul pula seluruh pimpinan kai-pang, tentu Maniyoko telah menjadi marah dan akan membunuh kakek bermuka hitam di hadapannya. Akan tetapi dia sudah mendapat pesan gurunya agar tidak menimbulkan kekacauan, maka dia pun tersenyum menghadapi kakek bermuka hitam itu.

"Hek-bin Lo-kai, orang lain boleh merasa gentar melihat mukamu yang hitam menakutkan, akan tetapi aku tidak. Majulah dan perlihatkan kepandaianmu!" Maniyoko menantang.

Hek-bin Lo-kai mengeluarkan bentakan nyaring, dan dia pun langsung menyerang dengan tangan kosong. Dia terkenal sebagai seorang kakek yang memiliki tenaga besar. Namun Maniyoko menyambut dengan gerakannya yang sangat ringan dan gesit sehingga semua terkaman, hantaman serta tendangan kakek bermuka hitam itu tidak pernah dapat menyentuh tubuhnya.

Kembali belasan jurus lewat dan ketika Hek-bin Lo-kai kembali memukul ke arah kepala lawan, Maniyoko merendahkan tubuhnya dan begitu tangan kakek itu meluncur lewat di atas kepalanya, dia cepat menangkap pergelangan tangan kanan kakek itu dan sekali dia membuat gerakan merendah, membalik dan membanting, tubuh kakek itu telah terlempar keluar panggung dan jatuh terbanting ke atas lantai di bawah panggung! Terdengar sorak sorai dari para pimpinan Hwa I Kai-pang dan para kai-pang pengikutnya di daerah timur yang menjagoi Maniyoko.

Maniyoko tertawa, "Masih ada lagikah?" teriaknya dengan lagak semakin sombong.

"Orang Jepang, akulah lawanmu!" terdengar bentakan nyaring dari Ta-kau Sin-kai, kakek pengemis ketiga yang meloncat naik ke atas panggung sambil memutar tongkatnya. Akan tetapi dari lain jurusan nampak bayangan lain berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Lili!

"Nona, biarkan aku menghajar orang Jepang sombong ini!" teriak Ta-kau Sin-kai.

Lili tersenyum. "Kakek pengemis, sungguh pun engkau berjuluk Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan dia ini memang seperti anjing yang layak dipukul, akan tetapi engkau tidak akan menang dan engkau bahkan akan digigit olehnya. Dia ini anjing gila, kalau menggigit amat berbahaya. Biarlah aku yang akan menghajarnya!"

"Tidak, nona!” kata Ta-kau Sin-kai yang merasa penasaran melihat dua orang rekannya tadi dikalahkan, dan dia sudah memutar tongkatnya menyerang Maniyoko.

Akan tetapi Lili menghadangnya sehingga kini di atas panggung terdapat tiga orang dan suasana menjadi agak kacau. Kakek itu ingin menyerang Maniyoko, akan tetapi gadis itu selalu menghalanginya. Tiba-tiba terdengar seruan lantang dari seorang panglima yang hadir di situ.

"Tidak boleh seperti itu! Calon dari daerah timur harap segera turun karena sudah dua kali bertanding dan biarkan calon dari barat, nona itu bertanding melawan Ta-kau Sin-kai!"

Mendengar ini Maniyoko tertawa kemudian dia pun kembali ke tempat duduknya sehingga Lili berhadapan dengan Ta-kau Sin-kai. Gadis itu cemberut memandang kepada kakek pengemis itu.

"Kek, engkau hanya menghalangi aku untuk menghajar manusia sombong tadi. Mengapa engkau tidak cepat kembali saja ke tempatmu semula dan mengaku kalah!"

Apa bila tadi Ta-kau Sin-kai marah kepada Maniyoko, kini menghadapi Lili dia tersenyum. "Nona, meski pun tua aku telah dipilih oleh beberapa pimpinan kai-pang, jadi bagaimana pun juga aku harus menghargai mereka dan berusaha untuk memenangkan pemilihan ini. Nah, marilah kita menguji kepandaian masing-masing nona."

“Hemm, engkau hanya mencari penyakit. Lihat seranganku!" kata Lili dan tubuhnya sudah bergerak cepat, bagai seekor ular saja tangan kirinya telah meluncur ke depan, tangannya membentuk kepala ular dan tangan itu menyambar ke arah muka Ta-kau Sin-kai...