Social Items

KAKEK itu mengelak dengan kaget, akan tetapi tangan kanan gadis itu segera menyusul dan serangannya bertubi-tubi, bagaikan dua ekor ular yang menyerang bergantian, semua serangan ditujukan ke arah jalan darah dan merupakan totokan yang amat cepat. Saking cepatnya gerakan kedua tangan Lili, kakek itu sama sekali tak mampu membalas, hanya mengelak dan akhirnya terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya.

Tak mungkin dia menggunakan ilmunya memukul anjing karena yang dihadapinya adalah lawan yang memiliki gerakan seperti ular! Dan ketika dia menangkis, itulah kesalahannya karena memang Lili menghendaki lawan menangkis.

“Plakkk!" Tongkat bertemu tangan yang membentuk kepala ular, lalu bagai seekor ular pergelangan tangan gadis itu memutar dan tahu-tahu tongkat itu telah terbelit pergelangan dan tangan, lalu tangan kiri gadis itu menotok ke depan.

Ta-kau Sin-kai terkejut karena tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku tak mampu digerakkan, sedangkan tongkatnya sudah berpindah tangan! Mukanya menjadi pucat, maklum bahwa dia akan menderita malu, akan tetapi gadis itu berseru,

"Terimalah kembali tongkatmu!" dan tongkat itu bergerak cepat memulihkan totokannya dan telah berada di tangannya kembali!

Tentu saja dia menjadi kagum dan maklum bahwa tingkat kepandaian gadis ini luar biasa tingginya, dan sama sekali bukan tandingannya. Dengan muka merah dia cepat memberi hormat. "Aku mengaku kalah!"

Dia pun melompat turun dari panggung dengan hati bersyukur karena dara muda itu telah menghindarkan dia dari malu. Jika bukan orang yang berniat baik, tentu dia telah dibunuh atau setidaknya dilukai, demikian pikir Ta-kau Sin-kai.

Pada saat Lili hendak menantang Maniyoko sebagai lawan tunggal, tiba-tiba saja suasana menjadi kacau dan semua orang berdiri memandang ke arah tiga orang yang baru masuk.

“Pek-sim Lo-kai telah tiba!"

"Hidup Thai-pangcu ( Ketua Besar)!"

"Pimpinan kita telah kembali!"

Teriakan-teriakan penuh kegembiraan menyambut munculnya Bu Lee Ki yang diiringkan Sin Wan dan Kui Siang. Wajah Lili berubah merah ketika melihat munculnya Sin Wan. Tadi dia sudah menyatakan bahwa dia mewakili suci-nya yang hanya pantas keluar turun tangan sendiri kalau Pek-sim Lo-kai muncul, maka kini dia menjadi bingung dan cepat dia meloncat mendekati suci-nya yang juga menatap tajam ke arah kakek yang memasuki ruangan itu sambil tersenyum-senyum penuh keharuan. Memang hati Bu Lee Ki terharu melihat penyambutan itu, tanda bahwa dia masih dihargai dan diharapkan kepimpinannya.

Sementara itu, melihat kemunculan orang yang tidak diduga-duganya itu, Maniyoko sudah meloncat ke tengah panggung. "Tadi Pek-sim Lo-kai dicalonkan menjadi pemimpin baru, sekarang aku menantangnya untuk tampil ke depan mengadu kepandaian!"

Teriakan ini disambut oleh para pendukungnya. Para pendukung ini adalah mereka yang merasa telah melakukan penyelewengan sehingga mereka khawatir bahwa kalau Pek-sim Lo-kai yang terkenal keras berdisiplin menduduki jabatannya kembali, tentu mereka akan dihukum atau setidaknya tidak akan bebas melakukan apa yang mereka suka.

Melihat pemuda Jepang yang pernah dihadapinya untuk menolong Lili yang tertawan, Sin Wan berbisik kepada Bu Lee Ki. Kakek itu mengangkat muka memandang, kemudian dia mengangguk. Dengan tenang Sin Wan menghampiri panggung dan melompat ke atasnya untuk berhadapan dengan Maniyoko.

Sin Wan menghadap ke arah rombongan tuan rumah, lalu memberi hormat ke sekeliling. Sejak tadi dia bersama sumoi-nya dan kakek Bu Lee Ki mengintai, dan sudah mendengar serta melihat apa yang terjadi, dan baru muncul setelah kakek itu memberi isyarat.

"Cu-wi (anda sekalian) hendaknya mengenal saya sebagai wakil locianpwe Pek-sim Lo-kai menghadapi pemuda Jepang ini! Kedudukan beliau terlalu tinggi untuk melayani segala macam pengacau seperti ini."

Mendengar ini, Maniyoko menjadi marah sekali. "Singggg...!" nampak sinar menyilaukan mata pada saat pedang samurai di punggung itu dicabutnya.

"Keparat sombong, cepat keluarkan senjatamu!" bentak Maniyoko sambil mengelebatkan pedangnya yang amat tajam menyeramkan itu.

Sin Wan yang sudah tahu akan kedahsyatan ilmu pedang lawan, mencabut pedangnya dan semua orang tertegun. Sebatang pedang yang buruk dan tumpul! Melihat ini para pendukung Maniyoko tertawa dan ada yang berteriak mengejek.

"Pedang Tumpul! Pedang Tumpul yang buruk!"

Kakek Bu Lee Ki yang sudah disambut dengan hormat oleh Thio Sam Ki dan Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, juga dipersilakan duduk, kini berseru dari tempat duduknya, "Ha-ha-ha, memang dia adalah Pendekar Pedang Tumpul, tetapi jangan pandang rendah pedangnya itu, heh-heh-heh!"

Akan tetapi Maniyoko segera menggunakan kesempatan yang menguntungkan itu. Selagi para pendukungnya mengejek dan mentertawakan lawan, dengan cepat dia berteriak, "Sambut pedangku!" dan dia pun menyerang dengan dahsyatnya.

Sin Wan cukup waspada dan dia pun mengelak dengan geseran kakinya. Maniyoko sudah pernah menyerang Sin Wan dan tahu akan kecepatan gerakan pemuda ini, maka dia tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Samurainya menyambar-nyambar, sambung menyambung dan begitu samurainya luput menyambar lawan, pedang itu langsung membalik dengan serangan yang lebih hebat. Dia mempergunakan sepasang tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga terdengar bunyi berdesing-desing ketika samurai itu berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Karena dia belum mengenal ilmu pedang lawan yang aneh, Sin Wan lalu mempergunakan ilmu langkah ajaib yang baru-baru ini dipelajarinya dari kakek Bu Lee Ki, yaitu Langkah Angin Puyuh sehingga membuat tubuhnya berputar-putar dengan cepat akan tetapi selalu dapat menghindar dari sambaran pedang samurai itu.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Wan dapat melihat jalannya ilmu pedang lawan, bahkan mengetahui bagian-bagiannya yang lemah. Sesudah yakin bahwa dia dapat mengetahui ilmu pedang lawan, barulah pedang tumpul di tangannya menyambar dari samping.

"Tangggg...!"

Nampak bunga api berpijar dan nampak pula betapa tubuh Maniyoko hampir terpelanting. Dia terhuyung, akan tetapi dengan cekatan dia dapat berjungkir balik tiga kali sehingga dia tidak sampai terbanting roboh.

Cepat dia memeriksa samurainya dan matanya langsung terbelalak melihat betapa ujung samurainya patah beberapa sentimeter! Samurainya bisa dipatahkan! Hanya oleh pedang tumpul dan buruk saja! Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti dia tidak akan percaya. Tetapi di samping kekagetan dan keheranan ini, Maniyoko menjadi marah bukan main.

“Hyaattttttt...!" Ia mengeluarkan pekik melengking panjang dan tubuhnya telah menerjang dengan cepat, menyerang dengan samurainya yang menyambar ke arah leher Sin Wan.

"Singgg...! Singgg...! Singgg....!"

Pedang samurai itu menyambar-nyambar, dan biar pun ujungnya sudah patah akan tetapi senjata itu masih berbahaya sekali. Jangankan tubuh seorang manusia, meski sebatang pohon yang kokoh pun, sekali terkena sambaran samurai ini tentu akan tumbang!

Namun Sin Wan yang sudah waspada, mempergunakan kecepatan gerakannya mengelak dan ketika dia berhasil berkelebat ke samping kiri Maniyoko, pedang tumpulnya menusuk dan karena pedang itu tumpul, maka dapat dia gunakan untuk menotok punggung lawan.

"Dukkk!" Maniyoko merasa betapa tubuhnya menjadi kejang-kejang. Dia berusaha membuyarkan pengaruh totokan itu dengan bergulingan. Tubuhnya bergulingan hingga akhirnya dia jatuh ke bawah panggung. Samurainya terlepas ketika dia terjatuh, dan tubuhnya masih lemas sehingga dia perlu dibantu oleh para anak buahnya, dipapah kembali ke tempat duduknya.

Matanya melotot dan mukanya berubah merah, apa lagi ketika terdengar suara sorak dan tepuk tangan meledak, menyambut kemenangan pemuda yang mewakili Pek-sim Lo-kai itu.

"Hidup Pendekar Pedang Tumpul...!” teriak mereka.

Pada saat itu pula nampak bayangan berkelebat dan Lili sudah berdiri di depan Sin Wan. Semua orang memandang dengan hati berdebar penuh ketegangan. Tadi mereka sudah melihat kelihaian gadis cantik itu yang dengan amat mudahnya dapat mengalahkan kakek pengemis Ta-kau Sin-kai yang sudah terkenal.

Sementara itu, Sin-Wan menghadapi Lili dengan alis berkerut pula. Sama sekaii dia tidak menyangka bahwa gadis ini terlibat pula dalam urusan pemilihan pimpinan kai-pang, dan dia pun melihat Bi-coa Sian-li hadir di sana.

"Hemm, ternyata engkau adalah Pendekar Pedang Tumpul yang ingin menjadi pemimpin kaum jembel, ya?" Lili berkata mengejek.

"Lili, mungkin kehadiranku sama saja dengan kehadiranmu, hanya menjadi wakil. Kuharap engkau tidak menentangku karena kiranya kurang pantaslah kalau seorang gadis seperti engkau ikut terlibat dalam pemilihan pemimpin kai-pang seperti ini."

"Sin Wan, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata Lili dengan muka merah. "Ada tiga perkara yang mengharuskan aku menentangmu, dan di sinilah kita akan menentukan siapa yang lebih unggul. Pertama, tadi engkau sudah lancang maju melawan si Jepang itu sehingga aku kehilangan kesempatan menghajarnya. Ke dua, engkau dan aku sama-sama mewakili calon pemimpin kai-pang, dan ke tiga, karena aku... aku benci kepadamu! Nah, cabutlah pedangmu!" Dara itu telah mencabut sebatang pedang dan tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata.

Tadi Sin Wan sudah menyarungkan kembali pedangnya setelah mengalahkan Maniyoko, sekarang dia ragu-ragu untuk mencabut pedang melawan Lili, gadis yang mendatangkan kesan mendalam di hatinya itu. Melihat keraguan Sin Wan sedangkan gadis itu sudah mencabut pedang dan siap siaga, Kui Siang yang semenjak tadi memandang penuh perhatian karena dia mengenal gadis itu sebagai gadis yang pernah dilihatnya tertidur di pangkuan Sin Wan, langsung berseru dari tempat duduknya.

"Suheng, kalau engkau lelah, biar aku yang mewakilimu menghadapinya!"

Sin Wan terkejut sekali. Dia teringat betapa sumoi-nya pernah melihat Lili, bahkan sampai cemburu, maka kalau sumoi-nya yang maju, tentu akan terjadi pertandingan mati-matian. Tidak, dia tidak boleh membiarkan dua orang gadis itu berhadapan sebagai lawan, maka cepat dia mencabut pedangnya dan menoleh ke arah Kui Siang.

"Sumoi, tidak perlu engkau turun tangan. Biar aku yang mewakili Bu-locianpwe,” katanya sambil menghadapi Lili dengan sikap tenang. "Kalau engkau mendesak, apa boleh buat. Majulah, aku sudah siap."

"Sin Wan, sekali ini engkau akan mati ditanganku!" gadis itu berseru penuh kemarahan, akan tetapi aneh, suaranya lirih dan mengandung suara serak seperti isak tertahan! Akan tetapi pada saat itu pula sinar putih menyambar-nyambar dan sinar itu bergulung-gulung dengan dahsyat sekali.

Sin Wan bersikap waspada. Dia cepat berloncatan ke belakang sambil mengatur langkah untuk menghindarkan diri. Dia merasa kagum dan terkejut. Pedang putih yang dimainkan gadis itu memang hebat bukan main, seperti gerakan seekor ular yang amat ganas!

Itulah Pek-coa-Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Putih) yang meski pun pada dasarnya sama dengan Ilmu pedang Hek-coa Kiam-sut (Iimu Pedang Ular Hitam) yang dikuasai Cu Sui In, akan tetapi ilmu pedang ciptaan See-thian Coa-ong ini dapat berkembang sesuai dengan watak orang yang menguasainya. Dasarnya adalah gerakan ular cobra, karena itu setelah dikuasai oleh Lili maka gerakan itu mengandung keganasan yang terbuka, sebaliknya Sui In mempunyai gerakan yang penuh tipu muslihat. Bagaimana pun juga, karena diciptakan seorang ahli yang amat lihai, maka ilmu pedang itu dahsyat sekali dan mengejutkan hati Sin Wan.

Namun pemuda ini sudah menerima gemblengan yang matang dari Sam-sian, apa lagi setelah mengusai Sam-sian Sin-kun, maka kini Sin Wan seakan-akan sudah menguasai kepandaian ketiga orang gurunya digabung menjadi satu! Ini semua masih disempurnakan oleh gemblengan kakek Bu Lee Ki yang walau pun hanya mengajarnya selama beberapa hari saja, namun jurus-jurus simpanan yang ampuh telah diajarkan kepada Sin Wan.

Dengan bekal kepandaian yang hebat itu, ditambah lagi sebatang pedang mustika seperti Pedang Tumpul, maka tentu saja tingkat kepandaian Sin Wan sudah mencapai ketinggian yang tidak mampu ditandingi oleh Lili. Akan tetapi hati Sin Wan menjadi gelisah juga. Dia harus memenangkan pertandingan ini demi kakek Bu Lee Ki. Dia harus dapat menangkan Lili, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung perasan gadis itu, apa lagi melukainya!

Dia merasa kasihan kepada gadis ini, dan dia dapat merasakan bahwa pada dasarnya Lili bukanlah seorang gadis yang berhati jahat. Dia gagah dan baik, tapi sikapnya ganas dan hal ini mudah dimengerti kalau gadis itu sejak kecil bergaul dengan seorang datuk sesat seperti Bi-coa Sian-li! Dia harus memenangkan pertandingan ini tanpa melukai badan dan perasaan hati Lili, dan inilah yang sukar!

Maka dia lalu memutar pedangnya untuk membuat pertahanan sekuatnya sehingga sinar pedang putih bergulung-gulung itu tidak akan mampu mengenai dirinya sambil diam-diam dia memutar otak menunggu kesempatan dan mencari cara yang sebaiknya agar dapat menang tanpa melukai.

Semua orang menonton dengan hati kagum. Yang nampak hanyalah dua gulungan sinar, yaitu sinar putih yang gerakannya amat lincah, menyambar-nyambar, dan gulungan sinar kehijauan yang membentuk lingkaran. Indah sekali, akan tetapi juga menegangkan hati.

Akan tetapi Lili merasa gemas sehingga hampir menangis! Dia telah memainkan Pek-coa-kiam dengan pengerahan tenaga sekuatnya, akan tetapi dia merasa seperti menghadapi benteng baja yang amat kuat. Ke mana pun sinar pedangnya menyambar selalu bertemu dengan benteng itu, lalu pedangnya membalik setelah terdengar suara berdencing dan dia merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat!

Tahulah dia bahwa pemuda itu hanya bertahan diri, tidak membalas serangannya, namun dia kehabisan akal karena pedangnya tidak mampu menembus gulungan sinar kehijauan yang membentuk benteng itu. Dia tidak akan merasa begitu gemas hingga ingin menangis kalau saja Sin Wan mau membalas serangannya.

Memang dia sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, dan dia takkan merasa penasaran kalau kalah. Namun sikap Sin Wan yang hanya bertahan dan membuat dia tidak berdaya itu sungguh dianggapnya terlalu merendahkannya! Sudah hampir lima puluh jurus berlalu tetapi belum juga ujung pedang Lili mampu menyentuh ujung baju Sin Wan!

"Keparat, balaslah!" Lili menghardik dengan suara berbisik, merasa dongkol bukan main. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan napasnya agak memburu karena semenjak tadi dia terus menerus melakukan penyerangan dengan nafsu menggelora, penuh kemarahan.

Sejak tadi Sin Wan sudah mempelajari gerakan yang seperti ular itu, dan dia tahu bahwa hanya dengan gerakan seperti seekor burung dari udara sajalah serangan gadis itu dapat dipatahkannya, kemudian membalas dengan serangan yang akan mengalahkannya tanpa melukainya. Maka, ketika pedang bersinar putih itu menyambar lagi, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah dan dia menyerang dengan dahsyat. Pedang Tumpul di tangannya itu mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Lili terkejut sekali dan cepat dia memutar pedangnya ke atas, bagaikan seekor ular cobra yang mengangkat tubuh atas untuk melawan musuh dari atas.

“Trakkkk!" Pedang di tangan Lili bertemu dengan Pedang Tumpul dan dia tidak dapat menggerakkan pedangnya yang seolah menempel dan tersedot oleh pedang buruk itu. Pada saat itu pula tangan kiri Sin Wan bergerak cepat ke arah kepalanya, dan rambut gadis yang hitam dan panjang itu segera terlepas dari sanggul dan ikatannya, terurai riap-riapan menutupi kedua pundak dan punggung!

Lili menjerit dan melompat ke belakang, meraba kepalanya. Ternyata tusuk sanggul batu kemala berikut tali suteranya sudah lenyap dan berada di tangan kiri Sin Wan yang sudah meloncat turun dan kini berdiri tegak di hadapannya. Demikian cepat gerakan pemuda itu sehingga jarang ada yang dapat melihat bahwa pemuda ltu telah mencabut tusuk sanggul dan pita. Mereka yang menonton pertandingan itu hanya melihat betapa rambut gadis itu tiba-tiba saja terurai lepas sehingga pertandingan terhenti.

"Maafkan aku, Lili..." kata Sin Wan lirih.

Mula-mula wajah gadis itu berubah pucat karena dia tahu apa yang terjadi, dan kini wajah itu merah sekali. Dia telah memutar pedangnya hendak menyerang lagi. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang, seperti seekor burung saja bayangan itu melayang ke atas panggung.

"Sumoi, mundurlah...!" Dan tahu-tahu di situ telah berdiri Bi-coa Sian-li Cu Sui In.

Lili memandang suci-nya, tahu bahwa suci-nya memaklumi apa yang sudah terjadi, maka dengan alis berkerut dia menatap wajah Sin Wan, lalu terdengar suaranya yang lirih tetapi ketus.

"Kelak pasti akan kutebus semua ini!" dan dia pun meloncat turun lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram.

"Sin Wan, engkau turunlah!" Kakek Bu Lee Ki berjalan perlahan menuju ke panggung itu.

Sin Wan mengangguk, lalu mengundurkan diri. Kini kakek Bu Lee Ki berdiri berhadapan dengan Sui In. Akan tetapi pada saat itu pula dua orang panglima tadi bangkit berdiri dan seorang di antara mereka berseru nyaring.

“Hentikan semua pertandingan!"

Tentu saja Sui In merasa penasaran dan ia memandang kepada mereka itu. Juga kakek Bu Lee Ki memandang kepada mereka. Panglima yang bertubuh tinggi kurus lalu berkata dengan suara lantang.

"Baru saja kami menerima berita. Menurut keputusan yang merupakan perintah dari Raja Muda Yung Lo di Peking, kedudukan pemimpin kai-pang diserahkan kembali kepada Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Hal itu mengingat bahwa dialah yang dahulu menjadi pemimpin kai-pang, bahkan dia pula yang memimpin seluruh kai-pang membantu perjuangan mengusir penjajahan Mongol. Terlebih lagi bila melihat hasil pertandingan adu kepandaian, ternyata wakil dari Bu-Locianpwe yang menang. Oleh karena itu, sebagai wakil pemerintah kami memutuskan dan menganjurkan supaya pertandingan dihentikan dan locianpwe Bu Lee Ki diangkat kembali menjadi pemimpin para kai-pang!"

Terdengar sorak sorai menyambut ucapan ini. Panglima itu mengangkat kedua tangan ke atas dan semua orang segera berdiam diri.

"Agar pemilihan ini adil, maka kami minta pendapat empat buah kai-pang yang terbesar, yang mewakili seluruh kai-pang di empat penjuru. Pertama Ang-kin Kai-pang wakil utara, bagaimana pendapat kalian?"

Thio Sam Ki bangkit berdiri lalu mengangkat tangan kanannya. “Kami setuju sepenuhnya kalau locianpwe Bu Lee Ki menjadi pemimpin kai-pang!"

"Sekarang Lam-kiang Kai-pang wakil selatan, bagaimana pendapat kalian?"

Kwee Cin bangkit dan dengan wajah berseri berkata, "Kami setuju!"

"Bagaimana dengan Hek I Kai-pang wakil barat?"

Souw Kiat bangkit, lalu dengan suara lantang yang mengejutkan Sui In dan Lili, ketua Hek I Kai-pang ini berkata, "Kami juga setujui" Ketua Hek I Kai-pang ini bangkit semangatnya dan tidak takut lagi kepada Sui In setelah melihat munculnya Pek-sim Lo-kai dan Sin Wan yang lihai itu.

"Dan bagaimana dengan Hwa I Kai-pang wakil timur?"

Biar pun dengan terpaksa, Siok Cu juga berseru, "Kami setuju!"

Dia tadi telah melihat kekalahan Maniyoko, maka biar pun dia jeri terhadap guru pemuda itu, akan tetapi sekarang di situ telah ada Pek-sim Lo-kai yang tentu akan melindungi Hwa I Kai-pang kalau diganggu oleh Tung-hai-liong dan anak buahnya.

"Bagus, kalau begitu dengan suara bulat locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki ditetapkan menjadi pemimpin besar para kai-pang kembali!" kata panglima itu.

Semua orang bersorak. Wajah Sui In menjadi merah sekali karena marahnya. Akan tetapi dia maklum bahwa jika sekarang dia menyatakan tidak setuju, maka bukan saja dia akan dimusuhi oleh seluruh kai-pang, bahkan pihak pemerintah juga akan mencapnya sebagai pengacau. Hal ini tentu saja tidak dikehendaki gurunya. Maka dia pun berkata kepada Bu Lee Ki dengan suara lirih namun penuh tantangan,

"Pek-sim Lo-kai, lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu!" Sesudah berkata demikian dia pun melompat turun sambil memberi isyarat kepada Lili untuk meninggalkan tempat itu.

Semua kai-pang menyambut pengangkatan kembali Bu Lee Ki sebagai pemimpin mereka dengan gembira dan Hwa I Kai-pang yang kini sepenuhnya mendukungnya, mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa ini. Baru sekarang semua ketua kai-pang berkumpul dan makan minum bersama dalam suasana yang akrab.

Dua hari kemudian kakek Bu Lee Ki menemani Sin Wan mengantar Kui Siang ke kota Nan-king, di mana gadis itu akan menemui keluarganya sebelum kembali ke Peking untuk memenuhi permintaan Raja Muda Yung Lo, yaitu menjadi pengawal keluarga raja muda itu.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Mereka semua berkumpul di gedung yang dahulu menjadi tempat tinggal pembesar Lim Cun. Tiga orang paman dan dua orang bibi dari ayah dan ibu Kui Siang datang bersama isteri dan suami mereka, bahkan juga anak-anak mereka sehingga di situ berkumpul tidak kurang dari dua puluh lima orang anggota keluarga Kui Siang!

Ketika Kui Siang menghadap Ciang-Ciangkun dan memperkenalkan diri, Ciang-Ciangkun yang sebelas tahun silam diserahi oleh Dewa Arak untuk menjaga serta mengurus rumah dan harta peninggalan Lim-Taijin (pembesar Lim) untuk Kui Siang, menyambut gadis itu dengan gembira bukan main.

Dia seorang perwira yang jujur dan amat menghormati Dewa Arak, maka selama sebelas tahun ini dia menjaga rumah keluarga Lim dengan baik, malah mempertahankan pelayan-pelayan lama di rumah itu serta menyimpan semua harta peninggalan keluarga itu untuk Kui Siang. Ciang-Ciangkun pula yang memberi kabar kepada keluarga Kui Siang tentang pulangnya gadis itu sehingga pada malam hari itu, mereka semua datang berkunjung dan berkumpul di rumah gedung yang kini menjadi milik Kui Siang.

Selain para anggota keluarga, di situ hadir pula Ciang-Ciangkun yang menerima undangan Kui Siang sebagai tamu kehormatan yang sudah berjasa besar, dan hadir pula Sin Wan serta kakek Bu Lee Ki. Kui Siang lalu menyuruh para pelayan yang juga menyambutnya dengan gembira untuk mengatur sebuah pesta untuk merayakan perjumpaan kembali ini.

Gadis yang kini menjadi dewasa dan cantik itu dihujani pertanyaan oleh para paman dan bibinya yang di dalam pandangan Sin Wan jelas menunjukkan sikap kebangsawanannya! Rata-rata mereka bersikap angkuh, penuh sopan santun dan semua gerak gerik mereka terkendali dan teratur, membuat dia merasa sungkan dan rikuh. Tidak demikian dengan Bu Lee Ki yang bersikap biasa saja, minum sesenangnya sambil tersenyum-senyum dan mengacuhkan mereka.

Kui Siang yang mulai merasa kewalahan menghadapi hujan pertanyaan, akhirnya berkata dengan suara lantang kepada mereka semua. "Para paman dan bibi, juga saudara sepupu dan saudara misan, aku sampai lupa untuk memperkenalkan dua orang tamu yang datang bersamaku, bahkan yang mengantar aku sampai ke rumah. Perkenalkan, locianpwe ini adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Beliau seperti guruku sendiri dan beliau ini adalah pemimpin besar seluruh perkumpulan pengemis di empat penjuru!"

Bu Lee Ki yang diperkenalkan tersenyum-senyum saja, mengangkat cawan arak kepada mereka semua lalu minum tanpa mempedulikan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang menyambutnya.

"Pengemis...?!" terdengar seruan-seruan tertahan, kemudian semua anggota keluarga itu memandang ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut. Mereka kelihatan jijik kepada kakek yang berpakaian tambal-tambalan itu.

Diam-diam Sin Wan memperhatikan mereka dan dia merasa perutnya panas. Alangkah sombongnya keluarga ini, pikirnya. Kakek Bu Lee Ki bahkan pernah menjadi tamu yang dijamu makan minum oleh Raja Muda Yung Lo, pangeran dan putera kaisar! Akan tetapi orang-orang ini, yang mungkin hanya merupakan bangsawan-bangsawan kecil, bersikap demikian angkuh dan tinggi hati!

Apakah selalu demikian sikap orang yang tanggung-tanggung? Yang mempunyai sedikit kedudukan menjadi besar kepala, yang mempunyai sedikit kepandaian menjadi sombong dan merasa diri paling pintar, dan seterusnya?

Tentu saja Kui Siang juga melihat dan mendengar sikap dan ucapan para keluarganya itu, akan tetapi dia tak peduli. "Dan ini adalah suheng-ku bernama Sin Wan. Dialah yang telah banyak membantuku selama ini."

Berbeda dengan Bu Lee Ki yang pada saat diperkenalkan tadi tetap duduk saja dan hanya mengangkat cawan ke arah mereka semua, Sin Wan bangkit berdiri, mengangkat ke dua tangan memberi hormat kepada mereka semua. Hal ini dia lakukan terutama sekali untuk menghargai Kui Siang yang memperkenalkan dia kepada keluarga gadis itu...

Si Pedang Tumpul Jilid 24

KAKEK itu mengelak dengan kaget, akan tetapi tangan kanan gadis itu segera menyusul dan serangannya bertubi-tubi, bagaikan dua ekor ular yang menyerang bergantian, semua serangan ditujukan ke arah jalan darah dan merupakan totokan yang amat cepat. Saking cepatnya gerakan kedua tangan Lili, kakek itu sama sekali tak mampu membalas, hanya mengelak dan akhirnya terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya.

Tak mungkin dia menggunakan ilmunya memukul anjing karena yang dihadapinya adalah lawan yang memiliki gerakan seperti ular! Dan ketika dia menangkis, itulah kesalahannya karena memang Lili menghendaki lawan menangkis.

“Plakkk!" Tongkat bertemu tangan yang membentuk kepala ular, lalu bagai seekor ular pergelangan tangan gadis itu memutar dan tahu-tahu tongkat itu telah terbelit pergelangan dan tangan, lalu tangan kiri gadis itu menotok ke depan.

Ta-kau Sin-kai terkejut karena tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku tak mampu digerakkan, sedangkan tongkatnya sudah berpindah tangan! Mukanya menjadi pucat, maklum bahwa dia akan menderita malu, akan tetapi gadis itu berseru,

"Terimalah kembali tongkatmu!" dan tongkat itu bergerak cepat memulihkan totokannya dan telah berada di tangannya kembali!

Tentu saja dia menjadi kagum dan maklum bahwa tingkat kepandaian gadis ini luar biasa tingginya, dan sama sekali bukan tandingannya. Dengan muka merah dia cepat memberi hormat. "Aku mengaku kalah!"

Dia pun melompat turun dari panggung dengan hati bersyukur karena dara muda itu telah menghindarkan dia dari malu. Jika bukan orang yang berniat baik, tentu dia telah dibunuh atau setidaknya dilukai, demikian pikir Ta-kau Sin-kai.

Pada saat Lili hendak menantang Maniyoko sebagai lawan tunggal, tiba-tiba saja suasana menjadi kacau dan semua orang berdiri memandang ke arah tiga orang yang baru masuk.

“Pek-sim Lo-kai telah tiba!"

"Hidup Thai-pangcu ( Ketua Besar)!"

"Pimpinan kita telah kembali!"

Teriakan-teriakan penuh kegembiraan menyambut munculnya Bu Lee Ki yang diiringkan Sin Wan dan Kui Siang. Wajah Lili berubah merah ketika melihat munculnya Sin Wan. Tadi dia sudah menyatakan bahwa dia mewakili suci-nya yang hanya pantas keluar turun tangan sendiri kalau Pek-sim Lo-kai muncul, maka kini dia menjadi bingung dan cepat dia meloncat mendekati suci-nya yang juga menatap tajam ke arah kakek yang memasuki ruangan itu sambil tersenyum-senyum penuh keharuan. Memang hati Bu Lee Ki terharu melihat penyambutan itu, tanda bahwa dia masih dihargai dan diharapkan kepimpinannya.

Sementara itu, melihat kemunculan orang yang tidak diduga-duganya itu, Maniyoko sudah meloncat ke tengah panggung. "Tadi Pek-sim Lo-kai dicalonkan menjadi pemimpin baru, sekarang aku menantangnya untuk tampil ke depan mengadu kepandaian!"

Teriakan ini disambut oleh para pendukungnya. Para pendukung ini adalah mereka yang merasa telah melakukan penyelewengan sehingga mereka khawatir bahwa kalau Pek-sim Lo-kai yang terkenal keras berdisiplin menduduki jabatannya kembali, tentu mereka akan dihukum atau setidaknya tidak akan bebas melakukan apa yang mereka suka.

Melihat pemuda Jepang yang pernah dihadapinya untuk menolong Lili yang tertawan, Sin Wan berbisik kepada Bu Lee Ki. Kakek itu mengangkat muka memandang, kemudian dia mengangguk. Dengan tenang Sin Wan menghampiri panggung dan melompat ke atasnya untuk berhadapan dengan Maniyoko.

Sin Wan menghadap ke arah rombongan tuan rumah, lalu memberi hormat ke sekeliling. Sejak tadi dia bersama sumoi-nya dan kakek Bu Lee Ki mengintai, dan sudah mendengar serta melihat apa yang terjadi, dan baru muncul setelah kakek itu memberi isyarat.

"Cu-wi (anda sekalian) hendaknya mengenal saya sebagai wakil locianpwe Pek-sim Lo-kai menghadapi pemuda Jepang ini! Kedudukan beliau terlalu tinggi untuk melayani segala macam pengacau seperti ini."

Mendengar ini, Maniyoko menjadi marah sekali. "Singggg...!" nampak sinar menyilaukan mata pada saat pedang samurai di punggung itu dicabutnya.

"Keparat sombong, cepat keluarkan senjatamu!" bentak Maniyoko sambil mengelebatkan pedangnya yang amat tajam menyeramkan itu.

Sin Wan yang sudah tahu akan kedahsyatan ilmu pedang lawan, mencabut pedangnya dan semua orang tertegun. Sebatang pedang yang buruk dan tumpul! Melihat ini para pendukung Maniyoko tertawa dan ada yang berteriak mengejek.

"Pedang Tumpul! Pedang Tumpul yang buruk!"

Kakek Bu Lee Ki yang sudah disambut dengan hormat oleh Thio Sam Ki dan Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, juga dipersilakan duduk, kini berseru dari tempat duduknya, "Ha-ha-ha, memang dia adalah Pendekar Pedang Tumpul, tetapi jangan pandang rendah pedangnya itu, heh-heh-heh!"

Akan tetapi Maniyoko segera menggunakan kesempatan yang menguntungkan itu. Selagi para pendukungnya mengejek dan mentertawakan lawan, dengan cepat dia berteriak, "Sambut pedangku!" dan dia pun menyerang dengan dahsyatnya.

Sin Wan cukup waspada dan dia pun mengelak dengan geseran kakinya. Maniyoko sudah pernah menyerang Sin Wan dan tahu akan kecepatan gerakan pemuda ini, maka dia tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Samurainya menyambar-nyambar, sambung menyambung dan begitu samurainya luput menyambar lawan, pedang itu langsung membalik dengan serangan yang lebih hebat. Dia mempergunakan sepasang tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga terdengar bunyi berdesing-desing ketika samurai itu berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Karena dia belum mengenal ilmu pedang lawan yang aneh, Sin Wan lalu mempergunakan ilmu langkah ajaib yang baru-baru ini dipelajarinya dari kakek Bu Lee Ki, yaitu Langkah Angin Puyuh sehingga membuat tubuhnya berputar-putar dengan cepat akan tetapi selalu dapat menghindar dari sambaran pedang samurai itu.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Wan dapat melihat jalannya ilmu pedang lawan, bahkan mengetahui bagian-bagiannya yang lemah. Sesudah yakin bahwa dia dapat mengetahui ilmu pedang lawan, barulah pedang tumpul di tangannya menyambar dari samping.

"Tangggg...!"

Nampak bunga api berpijar dan nampak pula betapa tubuh Maniyoko hampir terpelanting. Dia terhuyung, akan tetapi dengan cekatan dia dapat berjungkir balik tiga kali sehingga dia tidak sampai terbanting roboh.

Cepat dia memeriksa samurainya dan matanya langsung terbelalak melihat betapa ujung samurainya patah beberapa sentimeter! Samurainya bisa dipatahkan! Hanya oleh pedang tumpul dan buruk saja! Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti dia tidak akan percaya. Tetapi di samping kekagetan dan keheranan ini, Maniyoko menjadi marah bukan main.

“Hyaattttttt...!" Ia mengeluarkan pekik melengking panjang dan tubuhnya telah menerjang dengan cepat, menyerang dengan samurainya yang menyambar ke arah leher Sin Wan.

"Singgg...! Singgg...! Singgg....!"

Pedang samurai itu menyambar-nyambar, dan biar pun ujungnya sudah patah akan tetapi senjata itu masih berbahaya sekali. Jangankan tubuh seorang manusia, meski sebatang pohon yang kokoh pun, sekali terkena sambaran samurai ini tentu akan tumbang!

Namun Sin Wan yang sudah waspada, mempergunakan kecepatan gerakannya mengelak dan ketika dia berhasil berkelebat ke samping kiri Maniyoko, pedang tumpulnya menusuk dan karena pedang itu tumpul, maka dapat dia gunakan untuk menotok punggung lawan.

"Dukkk!" Maniyoko merasa betapa tubuhnya menjadi kejang-kejang. Dia berusaha membuyarkan pengaruh totokan itu dengan bergulingan. Tubuhnya bergulingan hingga akhirnya dia jatuh ke bawah panggung. Samurainya terlepas ketika dia terjatuh, dan tubuhnya masih lemas sehingga dia perlu dibantu oleh para anak buahnya, dipapah kembali ke tempat duduknya.

Matanya melotot dan mukanya berubah merah, apa lagi ketika terdengar suara sorak dan tepuk tangan meledak, menyambut kemenangan pemuda yang mewakili Pek-sim Lo-kai itu.

"Hidup Pendekar Pedang Tumpul...!” teriak mereka.

Pada saat itu pula nampak bayangan berkelebat dan Lili sudah berdiri di depan Sin Wan. Semua orang memandang dengan hati berdebar penuh ketegangan. Tadi mereka sudah melihat kelihaian gadis cantik itu yang dengan amat mudahnya dapat mengalahkan kakek pengemis Ta-kau Sin-kai yang sudah terkenal.

Sementara itu, Sin-Wan menghadapi Lili dengan alis berkerut pula. Sama sekaii dia tidak menyangka bahwa gadis ini terlibat pula dalam urusan pemilihan pimpinan kai-pang, dan dia pun melihat Bi-coa Sian-li hadir di sana.

"Hemm, ternyata engkau adalah Pendekar Pedang Tumpul yang ingin menjadi pemimpin kaum jembel, ya?" Lili berkata mengejek.

"Lili, mungkin kehadiranku sama saja dengan kehadiranmu, hanya menjadi wakil. Kuharap engkau tidak menentangku karena kiranya kurang pantaslah kalau seorang gadis seperti engkau ikut terlibat dalam pemilihan pemimpin kai-pang seperti ini."

"Sin Wan, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata Lili dengan muka merah. "Ada tiga perkara yang mengharuskan aku menentangmu, dan di sinilah kita akan menentukan siapa yang lebih unggul. Pertama, tadi engkau sudah lancang maju melawan si Jepang itu sehingga aku kehilangan kesempatan menghajarnya. Ke dua, engkau dan aku sama-sama mewakili calon pemimpin kai-pang, dan ke tiga, karena aku... aku benci kepadamu! Nah, cabutlah pedangmu!" Dara itu telah mencabut sebatang pedang dan tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata.

Tadi Sin Wan sudah menyarungkan kembali pedangnya setelah mengalahkan Maniyoko, sekarang dia ragu-ragu untuk mencabut pedang melawan Lili, gadis yang mendatangkan kesan mendalam di hatinya itu. Melihat keraguan Sin Wan sedangkan gadis itu sudah mencabut pedang dan siap siaga, Kui Siang yang semenjak tadi memandang penuh perhatian karena dia mengenal gadis itu sebagai gadis yang pernah dilihatnya tertidur di pangkuan Sin Wan, langsung berseru dari tempat duduknya.

"Suheng, kalau engkau lelah, biar aku yang mewakilimu menghadapinya!"

Sin Wan terkejut sekali. Dia teringat betapa sumoi-nya pernah melihat Lili, bahkan sampai cemburu, maka kalau sumoi-nya yang maju, tentu akan terjadi pertandingan mati-matian. Tidak, dia tidak boleh membiarkan dua orang gadis itu berhadapan sebagai lawan, maka cepat dia mencabut pedangnya dan menoleh ke arah Kui Siang.

"Sumoi, tidak perlu engkau turun tangan. Biar aku yang mewakili Bu-locianpwe,” katanya sambil menghadapi Lili dengan sikap tenang. "Kalau engkau mendesak, apa boleh buat. Majulah, aku sudah siap."

"Sin Wan, sekali ini engkau akan mati ditanganku!" gadis itu berseru penuh kemarahan, akan tetapi aneh, suaranya lirih dan mengandung suara serak seperti isak tertahan! Akan tetapi pada saat itu pula sinar putih menyambar-nyambar dan sinar itu bergulung-gulung dengan dahsyat sekali.

Sin Wan bersikap waspada. Dia cepat berloncatan ke belakang sambil mengatur langkah untuk menghindarkan diri. Dia merasa kagum dan terkejut. Pedang putih yang dimainkan gadis itu memang hebat bukan main, seperti gerakan seekor ular yang amat ganas!

Itulah Pek-coa-Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Putih) yang meski pun pada dasarnya sama dengan Ilmu pedang Hek-coa Kiam-sut (Iimu Pedang Ular Hitam) yang dikuasai Cu Sui In, akan tetapi ilmu pedang ciptaan See-thian Coa-ong ini dapat berkembang sesuai dengan watak orang yang menguasainya. Dasarnya adalah gerakan ular cobra, karena itu setelah dikuasai oleh Lili maka gerakan itu mengandung keganasan yang terbuka, sebaliknya Sui In mempunyai gerakan yang penuh tipu muslihat. Bagaimana pun juga, karena diciptakan seorang ahli yang amat lihai, maka ilmu pedang itu dahsyat sekali dan mengejutkan hati Sin Wan.

Namun pemuda ini sudah menerima gemblengan yang matang dari Sam-sian, apa lagi setelah mengusai Sam-sian Sin-kun, maka kini Sin Wan seakan-akan sudah menguasai kepandaian ketiga orang gurunya digabung menjadi satu! Ini semua masih disempurnakan oleh gemblengan kakek Bu Lee Ki yang walau pun hanya mengajarnya selama beberapa hari saja, namun jurus-jurus simpanan yang ampuh telah diajarkan kepada Sin Wan.

Dengan bekal kepandaian yang hebat itu, ditambah lagi sebatang pedang mustika seperti Pedang Tumpul, maka tentu saja tingkat kepandaian Sin Wan sudah mencapai ketinggian yang tidak mampu ditandingi oleh Lili. Akan tetapi hati Sin Wan menjadi gelisah juga. Dia harus memenangkan pertandingan ini demi kakek Bu Lee Ki. Dia harus dapat menangkan Lili, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung perasan gadis itu, apa lagi melukainya!

Dia merasa kasihan kepada gadis ini, dan dia dapat merasakan bahwa pada dasarnya Lili bukanlah seorang gadis yang berhati jahat. Dia gagah dan baik, tapi sikapnya ganas dan hal ini mudah dimengerti kalau gadis itu sejak kecil bergaul dengan seorang datuk sesat seperti Bi-coa Sian-li! Dia harus memenangkan pertandingan ini tanpa melukai badan dan perasaan hati Lili, dan inilah yang sukar!

Maka dia lalu memutar pedangnya untuk membuat pertahanan sekuatnya sehingga sinar pedang putih bergulung-gulung itu tidak akan mampu mengenai dirinya sambil diam-diam dia memutar otak menunggu kesempatan dan mencari cara yang sebaiknya agar dapat menang tanpa melukai.

Semua orang menonton dengan hati kagum. Yang nampak hanyalah dua gulungan sinar, yaitu sinar putih yang gerakannya amat lincah, menyambar-nyambar, dan gulungan sinar kehijauan yang membentuk lingkaran. Indah sekali, akan tetapi juga menegangkan hati.

Akan tetapi Lili merasa gemas sehingga hampir menangis! Dia telah memainkan Pek-coa-kiam dengan pengerahan tenaga sekuatnya, akan tetapi dia merasa seperti menghadapi benteng baja yang amat kuat. Ke mana pun sinar pedangnya menyambar selalu bertemu dengan benteng itu, lalu pedangnya membalik setelah terdengar suara berdencing dan dia merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat!

Tahulah dia bahwa pemuda itu hanya bertahan diri, tidak membalas serangannya, namun dia kehabisan akal karena pedangnya tidak mampu menembus gulungan sinar kehijauan yang membentuk benteng itu. Dia tidak akan merasa begitu gemas hingga ingin menangis kalau saja Sin Wan mau membalas serangannya.

Memang dia sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, dan dia takkan merasa penasaran kalau kalah. Namun sikap Sin Wan yang hanya bertahan dan membuat dia tidak berdaya itu sungguh dianggapnya terlalu merendahkannya! Sudah hampir lima puluh jurus berlalu tetapi belum juga ujung pedang Lili mampu menyentuh ujung baju Sin Wan!

"Keparat, balaslah!" Lili menghardik dengan suara berbisik, merasa dongkol bukan main. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan napasnya agak memburu karena semenjak tadi dia terus menerus melakukan penyerangan dengan nafsu menggelora, penuh kemarahan.

Sejak tadi Sin Wan sudah mempelajari gerakan yang seperti ular itu, dan dia tahu bahwa hanya dengan gerakan seperti seekor burung dari udara sajalah serangan gadis itu dapat dipatahkannya, kemudian membalas dengan serangan yang akan mengalahkannya tanpa melukainya. Maka, ketika pedang bersinar putih itu menyambar lagi, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah dan dia menyerang dengan dahsyat. Pedang Tumpul di tangannya itu mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Lili terkejut sekali dan cepat dia memutar pedangnya ke atas, bagaikan seekor ular cobra yang mengangkat tubuh atas untuk melawan musuh dari atas.

“Trakkkk!" Pedang di tangan Lili bertemu dengan Pedang Tumpul dan dia tidak dapat menggerakkan pedangnya yang seolah menempel dan tersedot oleh pedang buruk itu. Pada saat itu pula tangan kiri Sin Wan bergerak cepat ke arah kepalanya, dan rambut gadis yang hitam dan panjang itu segera terlepas dari sanggul dan ikatannya, terurai riap-riapan menutupi kedua pundak dan punggung!

Lili menjerit dan melompat ke belakang, meraba kepalanya. Ternyata tusuk sanggul batu kemala berikut tali suteranya sudah lenyap dan berada di tangan kiri Sin Wan yang sudah meloncat turun dan kini berdiri tegak di hadapannya. Demikian cepat gerakan pemuda itu sehingga jarang ada yang dapat melihat bahwa pemuda ltu telah mencabut tusuk sanggul dan pita. Mereka yang menonton pertandingan itu hanya melihat betapa rambut gadis itu tiba-tiba saja terurai lepas sehingga pertandingan terhenti.

"Maafkan aku, Lili..." kata Sin Wan lirih.

Mula-mula wajah gadis itu berubah pucat karena dia tahu apa yang terjadi, dan kini wajah itu merah sekali. Dia telah memutar pedangnya hendak menyerang lagi. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang, seperti seekor burung saja bayangan itu melayang ke atas panggung.

"Sumoi, mundurlah...!" Dan tahu-tahu di situ telah berdiri Bi-coa Sian-li Cu Sui In.

Lili memandang suci-nya, tahu bahwa suci-nya memaklumi apa yang sudah terjadi, maka dengan alis berkerut dia menatap wajah Sin Wan, lalu terdengar suaranya yang lirih tetapi ketus.

"Kelak pasti akan kutebus semua ini!" dan dia pun meloncat turun lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram.

"Sin Wan, engkau turunlah!" Kakek Bu Lee Ki berjalan perlahan menuju ke panggung itu.

Sin Wan mengangguk, lalu mengundurkan diri. Kini kakek Bu Lee Ki berdiri berhadapan dengan Sui In. Akan tetapi pada saat itu pula dua orang panglima tadi bangkit berdiri dan seorang di antara mereka berseru nyaring.

“Hentikan semua pertandingan!"

Tentu saja Sui In merasa penasaran dan ia memandang kepada mereka itu. Juga kakek Bu Lee Ki memandang kepada mereka. Panglima yang bertubuh tinggi kurus lalu berkata dengan suara lantang.

"Baru saja kami menerima berita. Menurut keputusan yang merupakan perintah dari Raja Muda Yung Lo di Peking, kedudukan pemimpin kai-pang diserahkan kembali kepada Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Hal itu mengingat bahwa dialah yang dahulu menjadi pemimpin kai-pang, bahkan dia pula yang memimpin seluruh kai-pang membantu perjuangan mengusir penjajahan Mongol. Terlebih lagi bila melihat hasil pertandingan adu kepandaian, ternyata wakil dari Bu-Locianpwe yang menang. Oleh karena itu, sebagai wakil pemerintah kami memutuskan dan menganjurkan supaya pertandingan dihentikan dan locianpwe Bu Lee Ki diangkat kembali menjadi pemimpin para kai-pang!"

Terdengar sorak sorai menyambut ucapan ini. Panglima itu mengangkat kedua tangan ke atas dan semua orang segera berdiam diri.

"Agar pemilihan ini adil, maka kami minta pendapat empat buah kai-pang yang terbesar, yang mewakili seluruh kai-pang di empat penjuru. Pertama Ang-kin Kai-pang wakil utara, bagaimana pendapat kalian?"

Thio Sam Ki bangkit berdiri lalu mengangkat tangan kanannya. “Kami setuju sepenuhnya kalau locianpwe Bu Lee Ki menjadi pemimpin kai-pang!"

"Sekarang Lam-kiang Kai-pang wakil selatan, bagaimana pendapat kalian?"

Kwee Cin bangkit dan dengan wajah berseri berkata, "Kami setuju!"

"Bagaimana dengan Hek I Kai-pang wakil barat?"

Souw Kiat bangkit, lalu dengan suara lantang yang mengejutkan Sui In dan Lili, ketua Hek I Kai-pang ini berkata, "Kami juga setujui" Ketua Hek I Kai-pang ini bangkit semangatnya dan tidak takut lagi kepada Sui In setelah melihat munculnya Pek-sim Lo-kai dan Sin Wan yang lihai itu.

"Dan bagaimana dengan Hwa I Kai-pang wakil timur?"

Biar pun dengan terpaksa, Siok Cu juga berseru, "Kami setuju!"

Dia tadi telah melihat kekalahan Maniyoko, maka biar pun dia jeri terhadap guru pemuda itu, akan tetapi sekarang di situ telah ada Pek-sim Lo-kai yang tentu akan melindungi Hwa I Kai-pang kalau diganggu oleh Tung-hai-liong dan anak buahnya.

"Bagus, kalau begitu dengan suara bulat locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki ditetapkan menjadi pemimpin besar para kai-pang kembali!" kata panglima itu.

Semua orang bersorak. Wajah Sui In menjadi merah sekali karena marahnya. Akan tetapi dia maklum bahwa jika sekarang dia menyatakan tidak setuju, maka bukan saja dia akan dimusuhi oleh seluruh kai-pang, bahkan pihak pemerintah juga akan mencapnya sebagai pengacau. Hal ini tentu saja tidak dikehendaki gurunya. Maka dia pun berkata kepada Bu Lee Ki dengan suara lirih namun penuh tantangan,

"Pek-sim Lo-kai, lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu!" Sesudah berkata demikian dia pun melompat turun sambil memberi isyarat kepada Lili untuk meninggalkan tempat itu.

Semua kai-pang menyambut pengangkatan kembali Bu Lee Ki sebagai pemimpin mereka dengan gembira dan Hwa I Kai-pang yang kini sepenuhnya mendukungnya, mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa ini. Baru sekarang semua ketua kai-pang berkumpul dan makan minum bersama dalam suasana yang akrab.

Dua hari kemudian kakek Bu Lee Ki menemani Sin Wan mengantar Kui Siang ke kota Nan-king, di mana gadis itu akan menemui keluarganya sebelum kembali ke Peking untuk memenuhi permintaan Raja Muda Yung Lo, yaitu menjadi pengawal keluarga raja muda itu.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Mereka semua berkumpul di gedung yang dahulu menjadi tempat tinggal pembesar Lim Cun. Tiga orang paman dan dua orang bibi dari ayah dan ibu Kui Siang datang bersama isteri dan suami mereka, bahkan juga anak-anak mereka sehingga di situ berkumpul tidak kurang dari dua puluh lima orang anggota keluarga Kui Siang!

Ketika Kui Siang menghadap Ciang-Ciangkun dan memperkenalkan diri, Ciang-Ciangkun yang sebelas tahun silam diserahi oleh Dewa Arak untuk menjaga serta mengurus rumah dan harta peninggalan Lim-Taijin (pembesar Lim) untuk Kui Siang, menyambut gadis itu dengan gembira bukan main.

Dia seorang perwira yang jujur dan amat menghormati Dewa Arak, maka selama sebelas tahun ini dia menjaga rumah keluarga Lim dengan baik, malah mempertahankan pelayan-pelayan lama di rumah itu serta menyimpan semua harta peninggalan keluarga itu untuk Kui Siang. Ciang-Ciangkun pula yang memberi kabar kepada keluarga Kui Siang tentang pulangnya gadis itu sehingga pada malam hari itu, mereka semua datang berkunjung dan berkumpul di rumah gedung yang kini menjadi milik Kui Siang.

Selain para anggota keluarga, di situ hadir pula Ciang-Ciangkun yang menerima undangan Kui Siang sebagai tamu kehormatan yang sudah berjasa besar, dan hadir pula Sin Wan serta kakek Bu Lee Ki. Kui Siang lalu menyuruh para pelayan yang juga menyambutnya dengan gembira untuk mengatur sebuah pesta untuk merayakan perjumpaan kembali ini.

Gadis yang kini menjadi dewasa dan cantik itu dihujani pertanyaan oleh para paman dan bibinya yang di dalam pandangan Sin Wan jelas menunjukkan sikap kebangsawanannya! Rata-rata mereka bersikap angkuh, penuh sopan santun dan semua gerak gerik mereka terkendali dan teratur, membuat dia merasa sungkan dan rikuh. Tidak demikian dengan Bu Lee Ki yang bersikap biasa saja, minum sesenangnya sambil tersenyum-senyum dan mengacuhkan mereka.

Kui Siang yang mulai merasa kewalahan menghadapi hujan pertanyaan, akhirnya berkata dengan suara lantang kepada mereka semua. "Para paman dan bibi, juga saudara sepupu dan saudara misan, aku sampai lupa untuk memperkenalkan dua orang tamu yang datang bersamaku, bahkan yang mengantar aku sampai ke rumah. Perkenalkan, locianpwe ini adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Beliau seperti guruku sendiri dan beliau ini adalah pemimpin besar seluruh perkumpulan pengemis di empat penjuru!"

Bu Lee Ki yang diperkenalkan tersenyum-senyum saja, mengangkat cawan arak kepada mereka semua lalu minum tanpa mempedulikan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang menyambutnya.

"Pengemis...?!" terdengar seruan-seruan tertahan, kemudian semua anggota keluarga itu memandang ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut. Mereka kelihatan jijik kepada kakek yang berpakaian tambal-tambalan itu.

Diam-diam Sin Wan memperhatikan mereka dan dia merasa perutnya panas. Alangkah sombongnya keluarga ini, pikirnya. Kakek Bu Lee Ki bahkan pernah menjadi tamu yang dijamu makan minum oleh Raja Muda Yung Lo, pangeran dan putera kaisar! Akan tetapi orang-orang ini, yang mungkin hanya merupakan bangsawan-bangsawan kecil, bersikap demikian angkuh dan tinggi hati!

Apakah selalu demikian sikap orang yang tanggung-tanggung? Yang mempunyai sedikit kedudukan menjadi besar kepala, yang mempunyai sedikit kepandaian menjadi sombong dan merasa diri paling pintar, dan seterusnya?

Tentu saja Kui Siang juga melihat dan mendengar sikap dan ucapan para keluarganya itu, akan tetapi dia tak peduli. "Dan ini adalah suheng-ku bernama Sin Wan. Dialah yang telah banyak membantuku selama ini."

Berbeda dengan Bu Lee Ki yang pada saat diperkenalkan tadi tetap duduk saja dan hanya mengangkat cawan ke arah mereka semua, Sin Wan bangkit berdiri, mengangkat ke dua tangan memberi hormat kepada mereka semua. Hal ini dia lakukan terutama sekali untuk menghargai Kui Siang yang memperkenalkan dia kepada keluarga gadis itu...