Social Items

"Lili, engkau kenapa? Tubuhmu panas sekali...!" Sin Wan yang merangkul sangat terkejut karena gadis itu nampak pucat dan menderita nyeri, dan tubuhnya panas seperti terbakar. Dan Sin Wan merasa betapa tangan dan lengannya yang merangkul menjadi basah oleh keringat gadis itu.

"Sin Wan, aku... aku... ahhhh...!" Gadis itu lalu terkulai dan pingsan dalam rangkulan Sin Wan!

"Lili, ahh, kenapa kau?"

Sin Wan cepat memondong tubuh itu dan membawanya ke tempat yang kering, di mana tanahnya tertutup daun-daun yang kering dan dengan hati-hati dia lalu merebahkan gadis itu di atas tanah. Setelah itu dia melepaskan kancing di dekat leher untuk melonggarkan dada gadis itu karena dia melihat napasnya terengah.

Setelah itu mulailah dia memeriksa denyut jantung melalui nadi dan pernapasan gadis itu. Pemuda ini sudah mewarisi ilmu pengobatan mendiang Pek-mau-sian Thio Ki, seorang di antara Sam-sian. Setelah melakukan pemeriksaan sejenak, dia terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis itu sudah keracunan! Tahulah dia bahwa racun itu tentu masuk melalui tiga buah luka pada punggung dan pundaknya tadi. Ternyata obatnya tidak cukup kuat untuk melawan racun itu dan kini ada hawa beracun menguasai gadis itu.

Terpaksa dia mendorong tubuh gadis itu agar miring, lalu merobek baju di punggung untuk memeriksa luka-lukanya. Dan benar saja, luka-luka itu nampak telah membiru, baik yang di pundak kiri mau pun yang di punggung. Nampak betapa dua luka kecil di punggung itu terlihat buruk sekali di permukaan punggung yang berkulit halus dan putih mulus. Dia tahu bahwa akan sukarlah mengobati Lili tanpa mengeluarkan racun itu dari luka-lukanya.

Dia mendorong tubuh itu menelungkup dengan muka miring, merobek baju di punggung itu semakin lebar sehingga nampak semua permukaan punggung dan pundak, kemudian tanpa ragu-ragu lagi dia pun membungkuk kemudian menempelkan mulutnya pada luka pertama!

Dia lalu mengerahkan sinkang dan mulai mengisap, perlahan-lahan dan mengatur tenaga isapannya hingga mulutnya merasakan darah. Dia meludahkan darah yang diisapnya, dan seperti dugaannya, darah itu berwarna kehitaman!

Setelah tiga kali mengisap barulah yang terisap ke mulutnya berupa darah merah dan dia menghentikannya, lalu menaburkan bubuk putih lagi kepada luka yang sudah bersih dari racun. Dia kembali melakukan isapan pada luka ke dua seperti tadi, kemudian pada luka di pundak sampai ke tiga luka itu bebas dari racun.

Pernapasan gadis itu tidak seperti tadi meski pun tubuhnya masih terasa panas. Baru saja dia selesai mengisap luka di pundak, mendadak gadis itu merintih dan bergerak. Sin Wan cepat melepaskan mulutnya dan pada saat itu pula Lili sudah bangkit duduk. Mata gadis itu mencorong, lalu kedua tangannya meraba punggung dan pundak yang terbuka karena baju di bagian punggung terbuka lebar.

"Jahanam kau, Sin Wan! Kau... kau... berani..."

Tangan kiri Lili sudah menyambar ke arah kepala Sin Wan dengan cengkeraman maut. Akan tetapi Sin Wan menangkap pergelangan tangan itu, lalu meludahkan darah terakhir tadi baru berkata,

"Tenanglah, Lili. Tadi aku mengobatimu, aku menyedot racun dari luka-luka dan untuk itu terpaksa aku harus membuka bajumu di bagian punggung. Maaf, tak ada jalan lain untuk menyelamatkan nyawamu. Lihat itu..." Sin Wan menunjuk ke tanah di mana tampak darah hitam yang diludahkannya tadi.

Lili terbelalak dan kebingungan. "Jadi aku... aku keracunan...?"

Sin Wan mengangguk. "Benar. Racun itu sangat jahat sehingga pengobatanku pertama tadi gagal. Akan tetapi aku telah mengisap keluar semua racun dari tiga luka itu, dan kini hanya hawa beracun di tubuhmu yang harus kita bersihkan. Percayalah padaku, Lili. Aku hanya ingin menolongmu, bukan berniat kotor dan tidak sopan. Nah, duduklah bersila, aku akan membantumu mengusir hawa beracun dari tubuhmu."

Lili mengangguk. Tanpa bicara lagi gadis ini segera duduk bersila, bahkan membiarkan saja punggung dan pundaknya yang terbuka. Sin Wan dengan hati-hati menaburkan obat bubuk putih di luka terakhir, yaitu di pundak, kemudian dia menutup kembali punggung dan pundak yang terbuka dengan mengikatkan ujung kedua baju yang tadi dia robek.

Sekarang dia pun duduk bersila di belakang gadis itu sambil menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang kini telah tertutup kembali, perlahan-lahan dia mengerahkan tenaganya, disalurkan dari pusar melalui kedua lengannya, membuat telapak tangan yang menampung tenaga itu tergetar.

Lili duduk bersila dengan hati yang tidak karuan rasanya. Ada marah, ada malu, ada pula rasa girang, ada terharu sehingga kedua matanya menjadi basah! Sejak menjadi murid Bi-coa Sian-li sampai sekarang, dia tak pernah menangis. Tangis adalah pantangan baginya.

Namun saat ini ingin dia menjerit-jerit menangis. Ketika perasaan itu ditahannya, matanya menjadi panas dan basah, kemudian perlahan-lahan beberapa tetes air mata jatuh ke atas kedua pipinya. Dia merasa betapa dari kedua telapak tangan pemuda yang menempel di punggungnya itu keluar hawa hangat yang bergelombang memasuki dirinya.

Dia tidak melawan dan pasrah saja, tetapi perlahan-lahan dia merasa betapa hawa panas yang membakar di dalam dadanya berangsur mengurang. Uap mengepul dari kepalanya dan tidak sampai satu jam kemudian, kesehatannya sudah pulih kembali, hawa panas itu menghilang dan dia merasa tubuhnya demikian nyaman, akan tetapi juga amat lemah.

"Nah, sekarang engkau sudah sembuh, Lili," kata Sin Wan lirih sambil melepaskan kedua tangan yang menempel di punggung gadis itu.

Akan tetapi karena lemah, dengan lemas Lili terkulai dan jatuh bersandar pada dada Sin Wan yang cepat merangkulnya. "Ehh, kenapa, Lili?"

"Lemas sekali... Sin Wan, biarkan aku bersandar begini... biarkan..." Lili berkata dengan suara yang lemah dan lirih.

Tentu saja Sin Wan membiarkan gadis itu duduk bersandar pada dadanya, dan dia pun merangkul dengan kedua lengan supaya gadis itu tidak sampai terguling ke samping. Dia tahu bahwa akibat racun tadi, Lili yang sudah sembuh itu tinggal merasa lemas saja.

Dan sekarang, setelah bahaya yang mengancam gadis itu lewat, baru dia merasa betapa lembut dan hangat tubuh yang bersandar di dadanya itu. Betapa halus dan harum rambut di kepala itu, dan betapa cantik raut wajah yang kini bersandar miring di dadanya. Betapa indah dan lembut lengan yang dipeluknya.

Sin Wan adalah seorang pemuda dewasa yang normal, maka wajarlah kalau dia merasa jantungnya berdebar penuh gairah. Akan tetapi dengan kekuatan batinnya yang kokoh dia menekan perasaan yang timbul ini, perasaan alami seorang pria dengan keyakinan bahwa amatlah berbahaya dan tidak baik jika menuruti dorongan perasaan mesra itu, yang dapat membuatnya lupa dan melakukan hal-hal yang tak sepatutnya dia lakukan. Dia pun cepat memejamkan kedua matanya.

Dia baru sadar dengan kaget ketika merasa betapa tubuh yang bersandar di dadanya itu terguncang perlahan. Sesudah dia membuka mata dan menundukkan muka memandang, dia melihat betapa gadis itu menangis lirih! Tangis tanpa bunyi, akan tetapi jelas bahwa gadis itu menangis karena kedua pipinya basah dan pundaknya terguncang perlahan.

"Lili, kau... kau... menangis...?” tanyanya khawatir dengan suara lirih seperti berbisik saja di dekat telinga gadis itu.

"Siapa menangis?" jawaban itu sangat cepat dan mengandung bantahan, namun segera disusul ucapan lirih dan lemas, "Biarkan aku... Sin Wan, biarkan aku begini sebentar..."

Sin Wan diam saja dan gadis itu bersandar miring. Semakin lama pernapasan gadis itu semakin halus dan panjang, dan akhirnya tahulah Sin Wan bahwa Lili telah tertidur di atas dadanya! Dia pun merasa kasihan dan tidak ingin mengganggu, hanya merangkul supaya gadis itu tidak terguling jatuh. Diam-diam dia merasa iba sekali.

Gadis ini pasti mengalami kepahitan hidup, agaknya haus akan kelembutan, haus dengan kasih sayang. Kasihan sekali gadis secantik ini, pikirnya dan dia pun duduk bersila dengan kokoh seperti dalam keadaan semedhi, membiarkan dirinya kokoh kuat sebagai sandaran gadis yang pulas itu, sambil mendengarkan pernapasan yang panjang dan lembut.

Sementara itu matahari sudah mulai condong ke barat, senja menjelang datang. Sesosok bayangan yang gerakannya sangat ringan memasuki hutan itu dan menyelinap di antara pohon dan semak. Akhirnya bayangan itu berhenti di belakang pohon, mengintai ke arah Sin Wan yang duduk diam disandari gadis yang tidur pulas di dadanya. Ikatan rambut Lili terlepas dan rambutnya yang hitam panjang itu menyelimuti dada dan perut Sin Wan.

Bayangan itu adalah Lim Kui Siang! Karena sampai lama Sin Wan tidak muncul di kota Lok-yang, dia menyatakan kekhawatirannya dan memberi tahu kakek Bu Lee Ki bahwa dia hendak mencari dan menjemput suheng-nya itu melalui pintu gerbang barat. Bu Lee Ki yang maklum akan perasaan gadis itu terhadap Sin Wan, menyetujui dan memesan agar gadis itu pulang sebelum malam tiba.

Kui Siang keluar dari pintu gerbang barat, namun tidak bertemu dengan Sin Wan. Hatinya merasa khawatir, apa lagi matahari mulai condong ke barat dan jalan raya itu amat sunyi. Dia mengerutkan alisnya ketika melihat sebuah hutan di kiri jalan.

Apakah yang telah terjadi dengan suheng-nya? Dia merasa khawatir dan dia pun berjalan memasuki hutan. Siapa tahu suheng-nya sedang menyelidiki sesuatu dan kini dia berada di dalam hutan ini. Akhirnya, sesudah tiba di tengah hutan, dia melihat Sin Wan duduk bersila di atas tanah yang ditilami daun-daun kering, dan di depan pemuda itu nampak seorang gadis cantik sedang tidur pulas di atas pangkuan Sin Wan, dengan kepala miring bersandar di dada suheng-nya. Mesra bukan main!

Seketika Kui Siang merasa betapa seluruh tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil dan dadanya seperti akan meledak! Benarkah itu suheng-nya? Akan tetapi kenapa? Siapa gadis itu? Bagaimana mungkin suheng-nya melakukan hal semacam itu, bermesraan dan berpacaran dengan seorang gadis asing di tengah hutan?

Setahunya suheng-nya bukanlah pria macam itu! Bahkan terhadap dirinya sendiri sebagai sumoi pun, suheng-nya tak pernah bersikap terlalu mesra, tak pernah menyentuh sedikit pun, selalu menjaga jarak dan kesopanan. Akan tetapi sekarang, di tempat sepi ini, tahu-tahu suheng-nya merangkul seorang gadis yang tidur pulas di atas pangkuannya, dengan kepala bersandar mesra di dadanya!

Entah mengapa Kui Siang ingin menjerit, ingin mengamuk, ingin membunuh gadis itu dan memaki suheng-nya, ingin menangis! Sebelum tidak kuat lagi menahan semua dorongan amarah itu, dia cepat pergi dari situ, setelah sekali lagi memperhatikan dan yakin bahwa pemuda itu adalah Sin Wan, suheng-nya!

Kui Siang berlari cepat meninggalkan tengah hutan itu, namun sesudah tiba di tepi hutan, tak jauh dari jalan raya akan tetapi tidak nampak dari sana, dia tidak dapat menahan lagi guncangan hatinya dan dia pun menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon lalu menangis sejadi-jadinya! Sesudah banyak air mata mengalir keluar, baru agak ringan rasa hatinya, seolah semua beban yang menyesak dada tadi mendapatkan jalan keluar.

Dengan mata masih merah serta muka basah Kui Siang lantas termenung. Kesadarannya menimbulkan pertanyaan yang membuat dia sendiri merasa sungkan dan heran. Kenapa dia menangis? Kenapa dia harus marah-marah dan merasa bersedih seperti itu?

Sin Wan bermesraan dengan seorang gadis! Walau pun itu adalah hal yang baru baginya dan terasa aneh, akan tetapi wajar sekali. Sin Wan seorang pemuda dewasa dan gadis itu cantik! Mengapa dia harus marah-marah dan bersedih?

Kui Siang termangu-mangu. Meski pikirannya merasa heran dan penasaran kenapa ulah dirinya seperti ini, namun hatinya berbisik jelas sekali, "Aku cinta padanya... aku mencinta suheng, aku tidak ingin dia dimiliki wanita lain!"

Menyadari kenyataan yang dibisikkan hatinya ini, Kui Siang bangkit dan mukanya menjadi kemerahan. Kini tampak jelas bahwa semenjak dahulu dia jatuh cinta kepada suheng-nya. Bukan cinta seorang sumoi terhadap suheng-nya, bukan cinta kanak-kanak karena sejak berusia sembilan tahun dia bergaul dengan Sin Wan, bukan pula cinta saudara, melainkan cinta seorang gadis dewasa terhadap seorang pemuda. Cinta seorang wanita terhadap seorang pria. Dan dia dilanda cemburu!

"Ihhh...!" Dia mencela diri sendiri. Cemburu? Sin Wan hanya suheng-nya, bukan apa-apanya, bukan pula kekasihnya. Inilah salahnya! Kalau saja mereka saling mengaku bahwa mereka saling mencinta, apa bila Sin Wan tahu bahwa ia mencintainya, kiranya belum tentu Sin Wan mau bermesraan dengan gadis lain.

Ada pendapat dan perbantahan dalam hati dan kepalanya. Ini membuat Kui Siang merasa pening dan dia pun perlahan-lahan melangkah keluar menuju ke jalan raya. Kemudian, seperti orang yang kehilangan semangat, dia pun kembali ke rumah penginapan di mana dia dan Bu Lee Ki menyewa dua buah kamar.

Dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh Bu Lee Ki, dia memasuki kamarnya, kemudian melempar tubuh ke atas pembaringan, menelungkup dan membenamkan mukanya pada bantal agar isaknya tidak sampai terdengar orang!

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Cuaca sudah mulai remang-remang. Sekarang Sin Wan merasa khawatir. Tidak mungkin dia mendiamkan saja Lili pulas di atas dadanya sampai cuaca menjadi gelap. Dia harus melanjutkan perjalanan memasuki kota Lok-yang untuk mencari kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang.

Sudah cukup lama Lili tertidur, lebih dari satu jam. Perlahan dan lembut dia memegang pundak kanan gadis itu, pundak yang tidak terluka, mengguncangnya dan berbisik lirih.

“Lili...! Lili...! Bangunlah...”

Pernapasan yang lembut itu berubah, kemudian tubuh yang lembut hangat itu menggeliat perlahan. Lili membuka matanya dan agaknya dia terheran melihat dirinya duduk tertidur di dalam hutan yang cuacanya mulai remang. Dia melihat ke atas.

Ketika dia melihat wajah Sin Wan yang menunduk dan memandang kepadanya, dia lalu teringat akan semua yang sudah terjadi dan dia pun tersenyum! Dia tidak segera bangkit, bahkan membalikkan mukanya, dibenamkan pada dada yang bidang itu. Selama hidupnya belum pernah dia merasa begitu tenang tenteram penuh damai seperti seekor anak ayam berilndung di bawah selimutan sayap induknya!

"Aihh..., Sin Wan... aku... sudah lamakah aku tertidur?" bisiknya.

"Ada sejam lebih. Sekarang malam hampir tiba dan kita harus segera keluar dari hutan ini, aku harus melanjutkan perjalanan..." kata Sin Wan tanpa nada mengusir.

"Sin Wan, aku tidak mau pergi..." kini Lili malah merangkul leher. "Sin Wan, aku tidak sudi berpisah darimu, aku ingin kita terus berdampingan, tak terpisah lagi... seperti ini..."

Sin Wan mengerutkan alisnya. Ini sudah keterlaluan namanya. Dia merasa kasihan sekali kepada Lili, akan tetapi kemanjaan yang berlebihan ini juga amat mengganggunya. Rasa iba membuat dia mengelus rambut kepala yang hitam panjang itu, seperti seorang kakak menghibur adiknya.

"Lili, tidak mungkin begitu. Mengapa engkau seaneh ini?" Suaranya lembut tidak bernada teguran.

Lili bangkit duduk, lalu membalik sehingga sekarang mereka duduk berhadapan. Gadis itu memandang dengan sinar mata tajam dan nampak penasaran. "Kenapa aneh? Aku cinta padamu, Sin Wan! Ya, aku jatuh cinta padamu dan aku tidak ingin berpisah darimu!"

Sin Wan kaget bukan kepalang, matanya membelalak. Bukan main gadis ini! Begitu saja menyatakan cinta, begitu terbuka, begitu jujur dan begitu berani! Dia sendiri menjadi salah tingkah, mukanya menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar.

Lili menjulurkan kedua tangannya lantas menangkap tangan pemuda itu. Jari-jari tangan mereka saling genggam. "Sin Wan, aku cinta kepadamu dan engkau pun cinta kepadaku, bukan? Engkau sudah menyelamatkan aku, engkau sudah begitu baik kepadaku, engkau telah melihat punggung dan pundakku yang telanjang. Bahkan engkau telah mengalahkan aku dalam latihan tadi..."

"Aku yang kalah, Lili...," kata Sin Wan karena tidak tahu harus berkata apa.

"Tidak, engkau sudah mengalah, kau kira aku tidak tahu? Engkau amat baik kepadaku, itu tandanya engkau pun cinta padaku!" Kedua tangan Lili menggenggam kuat-kuat.

Sin Wan menghela napas panjang, tidak berusaha melepaskan kedua tangannya walau pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia memang amat kagum kepada gadis ini, juga merasa kasihan, akan tetapi dua macam perasaan itu belum menjadi tanda bahwa dia jatuh cinta! Bagaimana mungkin cinta dapat ditentukan sedemikian cepatnya?

"Lili, kita tidak boleh begini. Kita baru saja bertemu dan berkenalan, bagaimana mungkin kita bicara soal cinta? Lagi pula aku harus menyelesaikan tugasku lebih dulu. Aku sedang melakukan perjalanan bersama locianpwe Pek-sim Lo-kai, dan sekarang dia menantiku di dalam kota, aku harus cepat pergi ke sana.”

Sepasang mata yang indah itu melebar, penuh kagum. "Ahh…, jadi engkau adalah murid Pek-sim Lo-kai yang kabarnya amat lihai itu, Sin Wan? Pantas saja kepandaianmu hebat. Aku makin cinta padamu!"

"Bukan, Lili. Locianpwe itu bukan guruku!" jawab Sin Wan cepat, semakin bingung karena gadis itu tiada hentinya mengaku cinta.

"Bukan muridnya? Lalu siapa gurumu, Sin Wan?"

Kalau saja Sin Wan tidak menjadi panik dan bingung, merasa disudutkan oleh pengakuan cinta yang bertubi-tubi dari gadis itu, tentu dia akan berhati-hati dan takkan sembarangan saja memperkenalkan nama guru-gurunya. Akan tetapi dia sedang panik, apa lagi kedua tangan gadis itu terasa demikian hangat dan penuh getaran aneh, membuat jantungnya berdebar semakin kencang.

"Guruku adalah Sam Sian..." jawaban ini keluar begitu saja.

Dia merasa betapa jari-jari tangan itu semakin kuat menggenggam kedua tangannya, dan karena salah tingkah dia tidak berani menatap wajah Lili sehingga tidak melihat perubahan yang terjadi pada wajah gadis itu.

"Tiga Dewa? Engkau adalah murid Tiga Dewa...?"

Dan kini teringatlah Lili akan anak laki-laki yang pernah menghinanya sebelas tahun yang lalu! Bahkan setahun yang lalu, ketika ia dan suci-nya menyerbu Pek-In-kok dan suci-nya berhasil menewaskan dua di antara Tiga Dewa walau pun suci-nya sendiri terluka, dia tak berhasil mencari anak laki-laki yang dulu menghinanya itu. Dan kini teringatlah dia bahwa Dewa Arak pernah menyebutkan nama muridnya. Sin Wan? Mungkin, dia sudah lupa lagi.

“Kau... kau murid Sam Sian...?” Bibirnya komat-kamit dan suaranya terdengar tidak jelas. Perasaannya terguncang, penuh kebimbangan, penuh penasaran dan kemarahan.

"Lili, kau kenapa...?" dengan khawatir Sin Wan memegang kedua pundak gadis itu karena tubuh itu menggigil.

Akan tetapi pada saat itu pula kedua tangan Lili bergerak dan sebelum Sin Wan tahu apa yang terjadi, tahu-tahu dia sudah tertotok kemudian roboh terkulai, tidak mampu bergerak lagi karena tubuhnya menjadi lemas!

"Lili, kau...?” Sin Wan berkata lemah, lebih merasa heran dari pada penasaran. Dara yang tadi mati-matian mengaku cinta, yang begitu lembut dan hangat membenamkan wajah di dadanya, tiba-tiba menyerang dan merobohkannya dengan totokan!

"Sin Wan, katakan, sejak kapan engkau menjadi murid Sam-sian?" Lili bertanya dan kini suaranya terdengar galak, lenyap semua kemanisan dan kemesraan dalam suaranya itu.

"Kenapa? Sejak kecil..."

"Sebelas tahun yang lalu?"

"Ya begitulah, kurang lebih."

"Ketika Sam-sian mengantarkan pusaka-pusaka istana yang hilang menggunakan sebuah kereta, engkau juga berada di kereta itu?"

"Ya... ya..." Sin Wan semakin heran. Bagaimana gadis ini mengetahui soal itu?

"Bagus! Kiranya engkaulah kuda-sapi-kerbau-anjing itu?"

Sin Wan terbelalak. Kata-kata dan sikap yang galak ini menggugah ingatannya. Teringat dia akan seorang anak perempuan yang amat galak, seperti setan! Anak perempuan yang mengambil pakaian dan merobek-robek pakaiannya ketika dia sedang mandi. Kemudian anak perempuan yang bersama gurunya hendak merampas pusaka istana itu berkelahi dengan dia, dan akhirnya dia berhasil menangkapnya lantas memukuli pinggulnya seperti seorang ayah menghajar anaknya yang nakal.

"Lili, kau... kau..."

"Engkau adalah seorang manusia yang kejam, jahat dan kurang ajar sekali!" Sekarang Lili memaki-maki dengan marah sekali. "Engkau pernah menghinaku habis-habisan, tahukah engkau? Dulu aku pernah bersumpah untuk membalas penghinaan itu, ingatkah? Engkau memukuli pinggulku! Sampai sekarang pun masih terasa olehku! Hemmm, engkau harus membayar berikut bunganya!"

Sin Wan tidak mau bicara lagi. Dia tahu bahwa dia telah terjatuh ke tangan seorang gadis yang seperti iblis. Murid Bi-coa Sian-li yang sudah menewaskan dua di antara tiga orang gurunya. Dia sudah tidak berdaya. Kematian di depan mata tanpa dia mampu melakukan perlawanan. Dan dia tidak mau membuka mulut karena dia tak ingin mendengar suaranya sendiri minta dikasihani dan diampuni.

Tidak, dia bukan seorang pengecut. Kalau memang Tuhan menghendaki dia harus mati di tangan gadis ini, tiada kekuatan atau kekuasaan di dunia ini mampu menyelamatkannya. Sebaliknya, kalau memang Tuhan tidak menghendaki dia mati sekarang, meski dia sudah berada di ambang maut sekali pun, pasti akan terdapat jalan baginya untuk terhindar dari maut. Kalau pun dia harus mati, dia harus mati sebagai seekor harimau yang tidak pernah memperlihatkan kelemahan sedikit pun juga sampai mati, bukan seperti matinya seekor babi yang akan disembelih dan merengek-rengek minta hidup. Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa, dia hanya menyerahkan jiwa raganya kepada kekuasaan Tuhan.

Kaki gadis itu mendorong dan tubuh Sin Wan terguling menelungkup. Kemudian terdengar gadis itu menghardik, "Engkau pernah memukuli pinggulku sampai sepuluh kali! Sekarang rasakan pembalasanku dengan pukulan seratus kali!" Sesudah berkata demikian, tangan kiri Lili terayun dan sambil berjongkok dia menamparkan tangan kirinya ke arah pinggul Sin Wan bertubi-tubi.

“Plak…! Plak…! Plak…! Plak...!"

Dia menampari sambil menghitung dengan tangan kirinya. Tetapi karena dia tidak berniat membunuh, hanya untuk menghajar dan membalas penghinaan melalui pemukulan pada pinggul, dia mengatur tenaga, tidak mempergunakan tenaga sakti, melainkan tenaga otot biasa. Oleh karena itu Sin Wan tidak menderita luka dalam, tulangnya tidak patah bahkan kulitnya pun tidak pecah. Akan tetapi karena dia sendiri tertotok sehingga tidak mampu mengerahkan tenaga, maka tamparan-tamparan itu terasa nyeri, panas dan perih.

“Plak…! Plak…! Plak...!"

Belum sampai lima puluh kali tangan kiri Lili telah terasa panas dan lelah sekali sehingga pukulannya makin lama semakin lemah. Dia menggantikannya dengan tangan kanan dan kembali tamparannya menjadi kuat.

Tentu saja Sin Wan menderita nyeri. Kedua pinggulnya terasa panas dan pedih, namun dia menerimanya dengan bibir terkatup kuat, tidak pernah dia mengeluh atau merintih.

Hal inilah yang membuat Lili merasa amat penasaran. Kalau pemuda itu mengeluh, tentu hatinya akan terasa puas sekali. Akan tetapi Sin Wan sama sekali tidak merintih seolah-olah semua pukulannya itu tak terasa sama sekali. Padahal kedua tangannya sudah lelah dan panas karena dia hanya menggunakan tenaga otot. Belum sampai seratus kali, paling banyak baru tujuh puluh kali, dia sudah menghentikan tamparannya!

"Hemm, engkau bandel, ya? Engkau tidak minta ampun, tidak mengeluh, engkau merasa gagah, ya? Pembalasanku belum lunas, pukulanku belum ada seratus kali, sisanya akan kulakukan dengan cara lain!"

Dia melolos sabuknya yang panjang, membikin putus sebagian, kemudian dia menyeret tubuh Sin Wan ke sebatang pohon, memaksanya bangkit berdiri dengan menariknya, lalu dia mengikat Sin Wan pada batang pohon itu. Diikatnya kaki dan tangan pemuda itu ke belakang, bersandar pohon.

Setelah selesai, dia memandang kepada Sin Wan dengan senyumnya yang khas, senyum sinis mengejek. Kemarahannya memuncak ketika dia melihat wajah pemuda itu tenang-tenang saja, bahkan pemuda itu pun tersenyum, seperti orang dewasa yang merasa geli melihat ulah nakal seorang kanak-kanak!

"Aku akan meninggalkanmu di sini, biar engkau dimakan binatang buas di hutan ini! Nah, apa yang akan kau katakan...?”

Si Pedang Tumpul Jilid 21

"Lili, engkau kenapa? Tubuhmu panas sekali...!" Sin Wan yang merangkul sangat terkejut karena gadis itu nampak pucat dan menderita nyeri, dan tubuhnya panas seperti terbakar. Dan Sin Wan merasa betapa tangan dan lengannya yang merangkul menjadi basah oleh keringat gadis itu.

"Sin Wan, aku... aku... ahhhh...!" Gadis itu lalu terkulai dan pingsan dalam rangkulan Sin Wan!

"Lili, ahh, kenapa kau?"

Sin Wan cepat memondong tubuh itu dan membawanya ke tempat yang kering, di mana tanahnya tertutup daun-daun yang kering dan dengan hati-hati dia lalu merebahkan gadis itu di atas tanah. Setelah itu dia melepaskan kancing di dekat leher untuk melonggarkan dada gadis itu karena dia melihat napasnya terengah.

Setelah itu mulailah dia memeriksa denyut jantung melalui nadi dan pernapasan gadis itu. Pemuda ini sudah mewarisi ilmu pengobatan mendiang Pek-mau-sian Thio Ki, seorang di antara Sam-sian. Setelah melakukan pemeriksaan sejenak, dia terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis itu sudah keracunan! Tahulah dia bahwa racun itu tentu masuk melalui tiga buah luka pada punggung dan pundaknya tadi. Ternyata obatnya tidak cukup kuat untuk melawan racun itu dan kini ada hawa beracun menguasai gadis itu.

Terpaksa dia mendorong tubuh gadis itu agar miring, lalu merobek baju di punggung untuk memeriksa luka-lukanya. Dan benar saja, luka-luka itu nampak telah membiru, baik yang di pundak kiri mau pun yang di punggung. Nampak betapa dua luka kecil di punggung itu terlihat buruk sekali di permukaan punggung yang berkulit halus dan putih mulus. Dia tahu bahwa akan sukarlah mengobati Lili tanpa mengeluarkan racun itu dari luka-lukanya.

Dia mendorong tubuh itu menelungkup dengan muka miring, merobek baju di punggung itu semakin lebar sehingga nampak semua permukaan punggung dan pundak, kemudian tanpa ragu-ragu lagi dia pun membungkuk kemudian menempelkan mulutnya pada luka pertama!

Dia lalu mengerahkan sinkang dan mulai mengisap, perlahan-lahan dan mengatur tenaga isapannya hingga mulutnya merasakan darah. Dia meludahkan darah yang diisapnya, dan seperti dugaannya, darah itu berwarna kehitaman!

Setelah tiga kali mengisap barulah yang terisap ke mulutnya berupa darah merah dan dia menghentikannya, lalu menaburkan bubuk putih lagi kepada luka yang sudah bersih dari racun. Dia kembali melakukan isapan pada luka ke dua seperti tadi, kemudian pada luka di pundak sampai ke tiga luka itu bebas dari racun.

Pernapasan gadis itu tidak seperti tadi meski pun tubuhnya masih terasa panas. Baru saja dia selesai mengisap luka di pundak, mendadak gadis itu merintih dan bergerak. Sin Wan cepat melepaskan mulutnya dan pada saat itu pula Lili sudah bangkit duduk. Mata gadis itu mencorong, lalu kedua tangannya meraba punggung dan pundak yang terbuka karena baju di bagian punggung terbuka lebar.

"Jahanam kau, Sin Wan! Kau... kau... berani..."

Tangan kiri Lili sudah menyambar ke arah kepala Sin Wan dengan cengkeraman maut. Akan tetapi Sin Wan menangkap pergelangan tangan itu, lalu meludahkan darah terakhir tadi baru berkata,

"Tenanglah, Lili. Tadi aku mengobatimu, aku menyedot racun dari luka-luka dan untuk itu terpaksa aku harus membuka bajumu di bagian punggung. Maaf, tak ada jalan lain untuk menyelamatkan nyawamu. Lihat itu..." Sin Wan menunjuk ke tanah di mana tampak darah hitam yang diludahkannya tadi.

Lili terbelalak dan kebingungan. "Jadi aku... aku keracunan...?"

Sin Wan mengangguk. "Benar. Racun itu sangat jahat sehingga pengobatanku pertama tadi gagal. Akan tetapi aku telah mengisap keluar semua racun dari tiga luka itu, dan kini hanya hawa beracun di tubuhmu yang harus kita bersihkan. Percayalah padaku, Lili. Aku hanya ingin menolongmu, bukan berniat kotor dan tidak sopan. Nah, duduklah bersila, aku akan membantumu mengusir hawa beracun dari tubuhmu."

Lili mengangguk. Tanpa bicara lagi gadis ini segera duduk bersila, bahkan membiarkan saja punggung dan pundaknya yang terbuka. Sin Wan dengan hati-hati menaburkan obat bubuk putih di luka terakhir, yaitu di pundak, kemudian dia menutup kembali punggung dan pundak yang terbuka dengan mengikatkan ujung kedua baju yang tadi dia robek.

Sekarang dia pun duduk bersila di belakang gadis itu sambil menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang kini telah tertutup kembali, perlahan-lahan dia mengerahkan tenaganya, disalurkan dari pusar melalui kedua lengannya, membuat telapak tangan yang menampung tenaga itu tergetar.

Lili duduk bersila dengan hati yang tidak karuan rasanya. Ada marah, ada malu, ada pula rasa girang, ada terharu sehingga kedua matanya menjadi basah! Sejak menjadi murid Bi-coa Sian-li sampai sekarang, dia tak pernah menangis. Tangis adalah pantangan baginya.

Namun saat ini ingin dia menjerit-jerit menangis. Ketika perasaan itu ditahannya, matanya menjadi panas dan basah, kemudian perlahan-lahan beberapa tetes air mata jatuh ke atas kedua pipinya. Dia merasa betapa dari kedua telapak tangan pemuda yang menempel di punggungnya itu keluar hawa hangat yang bergelombang memasuki dirinya.

Dia tidak melawan dan pasrah saja, tetapi perlahan-lahan dia merasa betapa hawa panas yang membakar di dalam dadanya berangsur mengurang. Uap mengepul dari kepalanya dan tidak sampai satu jam kemudian, kesehatannya sudah pulih kembali, hawa panas itu menghilang dan dia merasa tubuhnya demikian nyaman, akan tetapi juga amat lemah.

"Nah, sekarang engkau sudah sembuh, Lili," kata Sin Wan lirih sambil melepaskan kedua tangan yang menempel di punggung gadis itu.

Akan tetapi karena lemah, dengan lemas Lili terkulai dan jatuh bersandar pada dada Sin Wan yang cepat merangkulnya. "Ehh, kenapa, Lili?"

"Lemas sekali... Sin Wan, biarkan aku bersandar begini... biarkan..." Lili berkata dengan suara yang lemah dan lirih.

Tentu saja Sin Wan membiarkan gadis itu duduk bersandar pada dadanya, dan dia pun merangkul dengan kedua lengan supaya gadis itu tidak sampai terguling ke samping. Dia tahu bahwa akibat racun tadi, Lili yang sudah sembuh itu tinggal merasa lemas saja.

Dan sekarang, setelah bahaya yang mengancam gadis itu lewat, baru dia merasa betapa lembut dan hangat tubuh yang bersandar di dadanya itu. Betapa halus dan harum rambut di kepala itu, dan betapa cantik raut wajah yang kini bersandar miring di dadanya. Betapa indah dan lembut lengan yang dipeluknya.

Sin Wan adalah seorang pemuda dewasa yang normal, maka wajarlah kalau dia merasa jantungnya berdebar penuh gairah. Akan tetapi dengan kekuatan batinnya yang kokoh dia menekan perasaan yang timbul ini, perasaan alami seorang pria dengan keyakinan bahwa amatlah berbahaya dan tidak baik jika menuruti dorongan perasaan mesra itu, yang dapat membuatnya lupa dan melakukan hal-hal yang tak sepatutnya dia lakukan. Dia pun cepat memejamkan kedua matanya.

Dia baru sadar dengan kaget ketika merasa betapa tubuh yang bersandar di dadanya itu terguncang perlahan. Sesudah dia membuka mata dan menundukkan muka memandang, dia melihat betapa gadis itu menangis lirih! Tangis tanpa bunyi, akan tetapi jelas bahwa gadis itu menangis karena kedua pipinya basah dan pundaknya terguncang perlahan.

"Lili, kau... kau... menangis...?” tanyanya khawatir dengan suara lirih seperti berbisik saja di dekat telinga gadis itu.

"Siapa menangis?" jawaban itu sangat cepat dan mengandung bantahan, namun segera disusul ucapan lirih dan lemas, "Biarkan aku... Sin Wan, biarkan aku begini sebentar..."

Sin Wan diam saja dan gadis itu bersandar miring. Semakin lama pernapasan gadis itu semakin halus dan panjang, dan akhirnya tahulah Sin Wan bahwa Lili telah tertidur di atas dadanya! Dia pun merasa kasihan dan tidak ingin mengganggu, hanya merangkul supaya gadis itu tidak terguling jatuh. Diam-diam dia merasa iba sekali.

Gadis ini pasti mengalami kepahitan hidup, agaknya haus akan kelembutan, haus dengan kasih sayang. Kasihan sekali gadis secantik ini, pikirnya dan dia pun duduk bersila dengan kokoh seperti dalam keadaan semedhi, membiarkan dirinya kokoh kuat sebagai sandaran gadis yang pulas itu, sambil mendengarkan pernapasan yang panjang dan lembut.

Sementara itu matahari sudah mulai condong ke barat, senja menjelang datang. Sesosok bayangan yang gerakannya sangat ringan memasuki hutan itu dan menyelinap di antara pohon dan semak. Akhirnya bayangan itu berhenti di belakang pohon, mengintai ke arah Sin Wan yang duduk diam disandari gadis yang tidur pulas di dadanya. Ikatan rambut Lili terlepas dan rambutnya yang hitam panjang itu menyelimuti dada dan perut Sin Wan.

Bayangan itu adalah Lim Kui Siang! Karena sampai lama Sin Wan tidak muncul di kota Lok-yang, dia menyatakan kekhawatirannya dan memberi tahu kakek Bu Lee Ki bahwa dia hendak mencari dan menjemput suheng-nya itu melalui pintu gerbang barat. Bu Lee Ki yang maklum akan perasaan gadis itu terhadap Sin Wan, menyetujui dan memesan agar gadis itu pulang sebelum malam tiba.

Kui Siang keluar dari pintu gerbang barat, namun tidak bertemu dengan Sin Wan. Hatinya merasa khawatir, apa lagi matahari mulai condong ke barat dan jalan raya itu amat sunyi. Dia mengerutkan alisnya ketika melihat sebuah hutan di kiri jalan.

Apakah yang telah terjadi dengan suheng-nya? Dia merasa khawatir dan dia pun berjalan memasuki hutan. Siapa tahu suheng-nya sedang menyelidiki sesuatu dan kini dia berada di dalam hutan ini. Akhirnya, sesudah tiba di tengah hutan, dia melihat Sin Wan duduk bersila di atas tanah yang ditilami daun-daun kering, dan di depan pemuda itu nampak seorang gadis cantik sedang tidur pulas di atas pangkuan Sin Wan, dengan kepala miring bersandar di dada suheng-nya. Mesra bukan main!

Seketika Kui Siang merasa betapa seluruh tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil dan dadanya seperti akan meledak! Benarkah itu suheng-nya? Akan tetapi kenapa? Siapa gadis itu? Bagaimana mungkin suheng-nya melakukan hal semacam itu, bermesraan dan berpacaran dengan seorang gadis asing di tengah hutan?

Setahunya suheng-nya bukanlah pria macam itu! Bahkan terhadap dirinya sendiri sebagai sumoi pun, suheng-nya tak pernah bersikap terlalu mesra, tak pernah menyentuh sedikit pun, selalu menjaga jarak dan kesopanan. Akan tetapi sekarang, di tempat sepi ini, tahu-tahu suheng-nya merangkul seorang gadis yang tidur pulas di atas pangkuannya, dengan kepala bersandar mesra di dadanya!

Entah mengapa Kui Siang ingin menjerit, ingin mengamuk, ingin membunuh gadis itu dan memaki suheng-nya, ingin menangis! Sebelum tidak kuat lagi menahan semua dorongan amarah itu, dia cepat pergi dari situ, setelah sekali lagi memperhatikan dan yakin bahwa pemuda itu adalah Sin Wan, suheng-nya!

Kui Siang berlari cepat meninggalkan tengah hutan itu, namun sesudah tiba di tepi hutan, tak jauh dari jalan raya akan tetapi tidak nampak dari sana, dia tidak dapat menahan lagi guncangan hatinya dan dia pun menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon lalu menangis sejadi-jadinya! Sesudah banyak air mata mengalir keluar, baru agak ringan rasa hatinya, seolah semua beban yang menyesak dada tadi mendapatkan jalan keluar.

Dengan mata masih merah serta muka basah Kui Siang lantas termenung. Kesadarannya menimbulkan pertanyaan yang membuat dia sendiri merasa sungkan dan heran. Kenapa dia menangis? Kenapa dia harus marah-marah dan merasa bersedih seperti itu?

Sin Wan bermesraan dengan seorang gadis! Walau pun itu adalah hal yang baru baginya dan terasa aneh, akan tetapi wajar sekali. Sin Wan seorang pemuda dewasa dan gadis itu cantik! Mengapa dia harus marah-marah dan bersedih?

Kui Siang termangu-mangu. Meski pikirannya merasa heran dan penasaran kenapa ulah dirinya seperti ini, namun hatinya berbisik jelas sekali, "Aku cinta padanya... aku mencinta suheng, aku tidak ingin dia dimiliki wanita lain!"

Menyadari kenyataan yang dibisikkan hatinya ini, Kui Siang bangkit dan mukanya menjadi kemerahan. Kini tampak jelas bahwa semenjak dahulu dia jatuh cinta kepada suheng-nya. Bukan cinta seorang sumoi terhadap suheng-nya, bukan cinta kanak-kanak karena sejak berusia sembilan tahun dia bergaul dengan Sin Wan, bukan pula cinta saudara, melainkan cinta seorang gadis dewasa terhadap seorang pemuda. Cinta seorang wanita terhadap seorang pria. Dan dia dilanda cemburu!

"Ihhh...!" Dia mencela diri sendiri. Cemburu? Sin Wan hanya suheng-nya, bukan apa-apanya, bukan pula kekasihnya. Inilah salahnya! Kalau saja mereka saling mengaku bahwa mereka saling mencinta, apa bila Sin Wan tahu bahwa ia mencintainya, kiranya belum tentu Sin Wan mau bermesraan dengan gadis lain.

Ada pendapat dan perbantahan dalam hati dan kepalanya. Ini membuat Kui Siang merasa pening dan dia pun perlahan-lahan melangkah keluar menuju ke jalan raya. Kemudian, seperti orang yang kehilangan semangat, dia pun kembali ke rumah penginapan di mana dia dan Bu Lee Ki menyewa dua buah kamar.

Dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh Bu Lee Ki, dia memasuki kamarnya, kemudian melempar tubuh ke atas pembaringan, menelungkup dan membenamkan mukanya pada bantal agar isaknya tidak sampai terdengar orang!

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Cuaca sudah mulai remang-remang. Sekarang Sin Wan merasa khawatir. Tidak mungkin dia mendiamkan saja Lili pulas di atas dadanya sampai cuaca menjadi gelap. Dia harus melanjutkan perjalanan memasuki kota Lok-yang untuk mencari kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang.

Sudah cukup lama Lili tertidur, lebih dari satu jam. Perlahan dan lembut dia memegang pundak kanan gadis itu, pundak yang tidak terluka, mengguncangnya dan berbisik lirih.

“Lili...! Lili...! Bangunlah...”

Pernapasan yang lembut itu berubah, kemudian tubuh yang lembut hangat itu menggeliat perlahan. Lili membuka matanya dan agaknya dia terheran melihat dirinya duduk tertidur di dalam hutan yang cuacanya mulai remang. Dia melihat ke atas.

Ketika dia melihat wajah Sin Wan yang menunduk dan memandang kepadanya, dia lalu teringat akan semua yang sudah terjadi dan dia pun tersenyum! Dia tidak segera bangkit, bahkan membalikkan mukanya, dibenamkan pada dada yang bidang itu. Selama hidupnya belum pernah dia merasa begitu tenang tenteram penuh damai seperti seekor anak ayam berilndung di bawah selimutan sayap induknya!

"Aihh..., Sin Wan... aku... sudah lamakah aku tertidur?" bisiknya.

"Ada sejam lebih. Sekarang malam hampir tiba dan kita harus segera keluar dari hutan ini, aku harus melanjutkan perjalanan..." kata Sin Wan tanpa nada mengusir.

"Sin Wan, aku tidak mau pergi..." kini Lili malah merangkul leher. "Sin Wan, aku tidak sudi berpisah darimu, aku ingin kita terus berdampingan, tak terpisah lagi... seperti ini..."

Sin Wan mengerutkan alisnya. Ini sudah keterlaluan namanya. Dia merasa kasihan sekali kepada Lili, akan tetapi kemanjaan yang berlebihan ini juga amat mengganggunya. Rasa iba membuat dia mengelus rambut kepala yang hitam panjang itu, seperti seorang kakak menghibur adiknya.

"Lili, tidak mungkin begitu. Mengapa engkau seaneh ini?" Suaranya lembut tidak bernada teguran.

Lili bangkit duduk, lalu membalik sehingga sekarang mereka duduk berhadapan. Gadis itu memandang dengan sinar mata tajam dan nampak penasaran. "Kenapa aneh? Aku cinta padamu, Sin Wan! Ya, aku jatuh cinta padamu dan aku tidak ingin berpisah darimu!"

Sin Wan kaget bukan kepalang, matanya membelalak. Bukan main gadis ini! Begitu saja menyatakan cinta, begitu terbuka, begitu jujur dan begitu berani! Dia sendiri menjadi salah tingkah, mukanya menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar.

Lili menjulurkan kedua tangannya lantas menangkap tangan pemuda itu. Jari-jari tangan mereka saling genggam. "Sin Wan, aku cinta kepadamu dan engkau pun cinta kepadaku, bukan? Engkau sudah menyelamatkan aku, engkau sudah begitu baik kepadaku, engkau telah melihat punggung dan pundakku yang telanjang. Bahkan engkau telah mengalahkan aku dalam latihan tadi..."

"Aku yang kalah, Lili...," kata Sin Wan karena tidak tahu harus berkata apa.

"Tidak, engkau sudah mengalah, kau kira aku tidak tahu? Engkau amat baik kepadaku, itu tandanya engkau pun cinta padaku!" Kedua tangan Lili menggenggam kuat-kuat.

Sin Wan menghela napas panjang, tidak berusaha melepaskan kedua tangannya walau pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia memang amat kagum kepada gadis ini, juga merasa kasihan, akan tetapi dua macam perasaan itu belum menjadi tanda bahwa dia jatuh cinta! Bagaimana mungkin cinta dapat ditentukan sedemikian cepatnya?

"Lili, kita tidak boleh begini. Kita baru saja bertemu dan berkenalan, bagaimana mungkin kita bicara soal cinta? Lagi pula aku harus menyelesaikan tugasku lebih dulu. Aku sedang melakukan perjalanan bersama locianpwe Pek-sim Lo-kai, dan sekarang dia menantiku di dalam kota, aku harus cepat pergi ke sana.”

Sepasang mata yang indah itu melebar, penuh kagum. "Ahh…, jadi engkau adalah murid Pek-sim Lo-kai yang kabarnya amat lihai itu, Sin Wan? Pantas saja kepandaianmu hebat. Aku makin cinta padamu!"

"Bukan, Lili. Locianpwe itu bukan guruku!" jawab Sin Wan cepat, semakin bingung karena gadis itu tiada hentinya mengaku cinta.

"Bukan muridnya? Lalu siapa gurumu, Sin Wan?"

Kalau saja Sin Wan tidak menjadi panik dan bingung, merasa disudutkan oleh pengakuan cinta yang bertubi-tubi dari gadis itu, tentu dia akan berhati-hati dan takkan sembarangan saja memperkenalkan nama guru-gurunya. Akan tetapi dia sedang panik, apa lagi kedua tangan gadis itu terasa demikian hangat dan penuh getaran aneh, membuat jantungnya berdebar semakin kencang.

"Guruku adalah Sam Sian..." jawaban ini keluar begitu saja.

Dia merasa betapa jari-jari tangan itu semakin kuat menggenggam kedua tangannya, dan karena salah tingkah dia tidak berani menatap wajah Lili sehingga tidak melihat perubahan yang terjadi pada wajah gadis itu.

"Tiga Dewa? Engkau adalah murid Tiga Dewa...?"

Dan kini teringatlah Lili akan anak laki-laki yang pernah menghinanya sebelas tahun yang lalu! Bahkan setahun yang lalu, ketika ia dan suci-nya menyerbu Pek-In-kok dan suci-nya berhasil menewaskan dua di antara Tiga Dewa walau pun suci-nya sendiri terluka, dia tak berhasil mencari anak laki-laki yang dulu menghinanya itu. Dan kini teringatlah dia bahwa Dewa Arak pernah menyebutkan nama muridnya. Sin Wan? Mungkin, dia sudah lupa lagi.

“Kau... kau murid Sam Sian...?” Bibirnya komat-kamit dan suaranya terdengar tidak jelas. Perasaannya terguncang, penuh kebimbangan, penuh penasaran dan kemarahan.

"Lili, kau kenapa...?" dengan khawatir Sin Wan memegang kedua pundak gadis itu karena tubuh itu menggigil.

Akan tetapi pada saat itu pula kedua tangan Lili bergerak dan sebelum Sin Wan tahu apa yang terjadi, tahu-tahu dia sudah tertotok kemudian roboh terkulai, tidak mampu bergerak lagi karena tubuhnya menjadi lemas!

"Lili, kau...?” Sin Wan berkata lemah, lebih merasa heran dari pada penasaran. Dara yang tadi mati-matian mengaku cinta, yang begitu lembut dan hangat membenamkan wajah di dadanya, tiba-tiba menyerang dan merobohkannya dengan totokan!

"Sin Wan, katakan, sejak kapan engkau menjadi murid Sam-sian?" Lili bertanya dan kini suaranya terdengar galak, lenyap semua kemanisan dan kemesraan dalam suaranya itu.

"Kenapa? Sejak kecil..."

"Sebelas tahun yang lalu?"

"Ya begitulah, kurang lebih."

"Ketika Sam-sian mengantarkan pusaka-pusaka istana yang hilang menggunakan sebuah kereta, engkau juga berada di kereta itu?"

"Ya... ya..." Sin Wan semakin heran. Bagaimana gadis ini mengetahui soal itu?

"Bagus! Kiranya engkaulah kuda-sapi-kerbau-anjing itu?"

Sin Wan terbelalak. Kata-kata dan sikap yang galak ini menggugah ingatannya. Teringat dia akan seorang anak perempuan yang amat galak, seperti setan! Anak perempuan yang mengambil pakaian dan merobek-robek pakaiannya ketika dia sedang mandi. Kemudian anak perempuan yang bersama gurunya hendak merampas pusaka istana itu berkelahi dengan dia, dan akhirnya dia berhasil menangkapnya lantas memukuli pinggulnya seperti seorang ayah menghajar anaknya yang nakal.

"Lili, kau... kau..."

"Engkau adalah seorang manusia yang kejam, jahat dan kurang ajar sekali!" Sekarang Lili memaki-maki dengan marah sekali. "Engkau pernah menghinaku habis-habisan, tahukah engkau? Dulu aku pernah bersumpah untuk membalas penghinaan itu, ingatkah? Engkau memukuli pinggulku! Sampai sekarang pun masih terasa olehku! Hemmm, engkau harus membayar berikut bunganya!"

Sin Wan tidak mau bicara lagi. Dia tahu bahwa dia telah terjatuh ke tangan seorang gadis yang seperti iblis. Murid Bi-coa Sian-li yang sudah menewaskan dua di antara tiga orang gurunya. Dia sudah tidak berdaya. Kematian di depan mata tanpa dia mampu melakukan perlawanan. Dan dia tidak mau membuka mulut karena dia tak ingin mendengar suaranya sendiri minta dikasihani dan diampuni.

Tidak, dia bukan seorang pengecut. Kalau memang Tuhan menghendaki dia harus mati di tangan gadis ini, tiada kekuatan atau kekuasaan di dunia ini mampu menyelamatkannya. Sebaliknya, kalau memang Tuhan tidak menghendaki dia mati sekarang, meski dia sudah berada di ambang maut sekali pun, pasti akan terdapat jalan baginya untuk terhindar dari maut. Kalau pun dia harus mati, dia harus mati sebagai seekor harimau yang tidak pernah memperlihatkan kelemahan sedikit pun juga sampai mati, bukan seperti matinya seekor babi yang akan disembelih dan merengek-rengek minta hidup. Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa, dia hanya menyerahkan jiwa raganya kepada kekuasaan Tuhan.

Kaki gadis itu mendorong dan tubuh Sin Wan terguling menelungkup. Kemudian terdengar gadis itu menghardik, "Engkau pernah memukuli pinggulku sampai sepuluh kali! Sekarang rasakan pembalasanku dengan pukulan seratus kali!" Sesudah berkata demikian, tangan kiri Lili terayun dan sambil berjongkok dia menamparkan tangan kirinya ke arah pinggul Sin Wan bertubi-tubi.

“Plak…! Plak…! Plak…! Plak...!"

Dia menampari sambil menghitung dengan tangan kirinya. Tetapi karena dia tidak berniat membunuh, hanya untuk menghajar dan membalas penghinaan melalui pemukulan pada pinggul, dia mengatur tenaga, tidak mempergunakan tenaga sakti, melainkan tenaga otot biasa. Oleh karena itu Sin Wan tidak menderita luka dalam, tulangnya tidak patah bahkan kulitnya pun tidak pecah. Akan tetapi karena dia sendiri tertotok sehingga tidak mampu mengerahkan tenaga, maka tamparan-tamparan itu terasa nyeri, panas dan perih.

“Plak…! Plak…! Plak...!"

Belum sampai lima puluh kali tangan kiri Lili telah terasa panas dan lelah sekali sehingga pukulannya makin lama semakin lemah. Dia menggantikannya dengan tangan kanan dan kembali tamparannya menjadi kuat.

Tentu saja Sin Wan menderita nyeri. Kedua pinggulnya terasa panas dan pedih, namun dia menerimanya dengan bibir terkatup kuat, tidak pernah dia mengeluh atau merintih.

Hal inilah yang membuat Lili merasa amat penasaran. Kalau pemuda itu mengeluh, tentu hatinya akan terasa puas sekali. Akan tetapi Sin Wan sama sekali tidak merintih seolah-olah semua pukulannya itu tak terasa sama sekali. Padahal kedua tangannya sudah lelah dan panas karena dia hanya menggunakan tenaga otot. Belum sampai seratus kali, paling banyak baru tujuh puluh kali, dia sudah menghentikan tamparannya!

"Hemm, engkau bandel, ya? Engkau tidak minta ampun, tidak mengeluh, engkau merasa gagah, ya? Pembalasanku belum lunas, pukulanku belum ada seratus kali, sisanya akan kulakukan dengan cara lain!"

Dia melolos sabuknya yang panjang, membikin putus sebagian, kemudian dia menyeret tubuh Sin Wan ke sebatang pohon, memaksanya bangkit berdiri dengan menariknya, lalu dia mengikat Sin Wan pada batang pohon itu. Diikatnya kaki dan tangan pemuda itu ke belakang, bersandar pohon.

Setelah selesai, dia memandang kepada Sin Wan dengan senyumnya yang khas, senyum sinis mengejek. Kemarahannya memuncak ketika dia melihat wajah pemuda itu tenang-tenang saja, bahkan pemuda itu pun tersenyum, seperti orang dewasa yang merasa geli melihat ulah nakal seorang kanak-kanak!

"Aku akan meninggalkanmu di sini, biar engkau dimakan binatang buas di hutan ini! Nah, apa yang akan kau katakan...?”