Social Items

Lili sudah keluar dari pintu gerbang kota Lok-yang sebelah barat. Ia merasa puas. Besok pagi-pagi dia akan kembali ke markas Hwa I Kai-pang dan akan memaksa ketuanya agar menakluk kepada suci-nya dan kelak memberikan suara kepada suci-nya untuk menjadi pemimpin besar para kai-pang! Akan jauh lebih mudah begitu, pikirnya bangga. Ia kini tiba di jalan raya dekat hutan yang sunyi, menuju ke perkumpulan Hek I Kai-pang yang berada di luar kota.

Tiba-tiba ia mendengar seruan dari sebelah kiri, dari hutan di tepi jalan raya itu. Mula-mula dia tak peduli, akan tetapi setelah dia dapat menangkap kata-kata yang diteriakkan suara itu, alisnya berkerut dan dia pun menahan langkahnya.

"Heiii, perempuan sombong! Kalau memang engkau berani, masuklah ke sini supaya kita dapat bertanding sampai seribu jurus tanpa ada orang lain yang mengganggunya! Kalau engkau takut, cepat berlutut dan menyerah untuk kubawa sebagai tawanan ke Hwa I Kai-pang!"

"Jahanam busuk!" Lili sudah menjadi marah sekali.

Tanpa mempedulikan peraturan kehidupan dunia kang-ouw bahwa tantangan dari dalam hutan seperti itu dapat merupakan jebakan dan amat berbahaya sehingga tak sepatutnya dilayani, dia sudah melompat ke kiri dan memasuki hutan itu.

"Siapa takut kepadamu? Keparat, jangan lari kau!" teriaknya lagi.

Ketika dia tiba di tempat terbuka, di situ telah menanti enam orang laki-laki, dipimpin oleh seorang pemuda yang bertubuh pendek tegap dan wajahnya yang tampan itu tersenyum-senyum secara kurang ajar. Bentuk wajah pemuda ini bundar laksana bulan, putih dan halus tanpa kumis jenggot, akan tetapi cambangnya tebal dan panjang, dari dekat telinga sampai ke dagunya. Kepala bagian depan sengaja dicukur botak sehingga nampak aneh, seperti seekor kepala burung yang ajaib.

"Engkaukah yang bernama Tang Bwe Li, nona?" tanya pemuda itu, sedangkan lima orang lainnya yang bertubuh tegap berdiri diam saja di sampingnya, namun sikap mereka pun dalam keadaan siap siaga dan menanti perintah.

"Kalau benar mengapa? Engkaukah yang berteriak-terlak menantangku tadi?"

Pemuda itu tertawa. "Aku memang sengaja memancingmu masuk ke sini, nona. Apa bila engkau takut, engkau boleh keluar lagi."

Maniyoko memang seorang pemuda Jepang yang telah memiliki banyak pengalaman dan amat cerdik. Dia segera tahu apa kelemahan gadis jelita yang berdiri dengan gagahnya di hadapannya itu. Gadis ini mempunyai kelemahan, yaitu tinggi hati sehingga kalau gadis ini ditantang dan dikatakan takut, biar dipancing dengan ancaman bahaya bagaimana besar pun tentu akan nekat!

Sepasang mata Lili berapi-api. "Tutup mulut busukmu. Siapa takut?!"

"Heh-heh, memang aku tahu bahwa engkau tidak mengenal takut, nona. Karena itu aku ingin sekali berkenalan. Namaku Maniyoko dan aku..."

"Persetan dengan namamu! Jika benar engkau yang menantangku tadi, bersiaplah untuk mampus. Aku tidak sudi berkenalan denganmu!" kata Lili dan dia pun langsung mencabut pedangnya karena sekali ini dia marah sekali sehingga dia harus membunuh orang yang tadi menghina dan menantangnya. Begitu mencabut pedangnya, Lili pun berseru, "Cepat keluarkan senjatamu dan bersiaplah untuk mati!"

Pemuda Jepang itu terkejut melihat pedang yang mengeluarkan cahaya putih, berwarna putih seperti perak, akan tetapi begitu tercabut mengeluarkan bau harum yang amat aneh itu. Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman dan lama berkecimpung dalam dunia persilatan, pemuda Jepang ini dapat menduga bahwa pedang itu tentu ampuh sekali dan mengandung racun. Maka dia pun memberi isyarat kepada lima orang anak buah ayahnya dan dia sendiri lalu mencabut pedang yang tergantung dipinggangnya.

Sebatang pedang panjang melengkung, pedang samurai yang sangat tajam dan gagangnya panjang sekali sehingga gagang itu dapat dipegang dengan kedua tangannya. Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang tinggi Maniyoko memandang rendah kepada gadis itu. Namun melihat pedang di tangan Lili, dia terpaksa mencabut pedangnya karena maklum bahwa pedang beracun itu cukup berbahaya.

"Nona manis, aku sudah siap. Mari kita bertaruh dalam pertandingan ini. Kalau engkau kalah, maka engkau akan menjadi mllikku dan harus menurut segala kehendakku, harus melayani aku dengan manis, heh-heh!"

“Jahanam kau! Kalau engkau yang kalah, lehermu akan kupenggal!” teriak Lili dan dia pun sudah menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya menjadi sinar putih menyambar dan mengeluarkan suara berdesing.

Maniyoko terkejut dan cepat menangkis dengan samurainya.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar hebat. Keduanya cepat meloncat ke belakang dan memeriksa senjata masing-masing, namun baik pedang mau pun samurai itu tidak rusak dan keduanya saling pandang.

Maniyoko baru tahu bahwa gadis itu benar-benar amat lihai, memiliki tenaga yang mampu menandinginya! Padahal tadi dia menangkis dengan pengerahan tenaga untuk membuat pedang lawan patah atau terlepas. Siapa kira tangannya sendiri tergetar hebat.

Sebaliknya Lili juga maklum bahwa lawannya tidak boleh disamakan dengan orang-orang Hwa I Kai-pang tadi. Ia menjadi semakin marah dan penasaran, lalu memutar pedangnya dan menyerang dengan ganasnya. Berbeda dengan suci-nya yang mempunyai Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam), oleh gurunya dia diberi Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) dan juga ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas. Seperti juga pedang suci-nya, pedang di tangannya itu walau pun nampaknya putih bersih seperti perak, namun pedang itu sudah direndam racun ular yang sangat berbahaya. Sedikit saja tergores pedang itu, maka orang yang terluka sukar ditolong lagi nyawanya.

Akan tetapi lawannya, Maniyoko ialah murid tersayang dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, seorang datuk yang kedudukannya setingkat dengan kedudukan datuk See-thian Coa-ong Cu Kiat. Tentu saja tingkat kepandaian pemuda Jepang itu juga sudah tinggi sehingga dia dapat mengimbangi permainan pedang Lili, bahkan membalas dengan tak kalah ganasnya dengan permainan samurainya yang aneh. Permainan samurai yang kadang-kadang dipegang kedua tangan itu bagaikan gelombang samudera, susul menyusul dan selalu menyambar lagi kalau serangan pertama gagal dan dielakkan lawan.

Akan tetapi, Lili merasa girang bahwa pemuda Jepang itu dapat dia desak mundur sampai ke bawah pohon. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu memang sengaja memancingnya ke bawah pohon besar itu, dan pada saat Lili menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba pemuda Jepang itu melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan.

Pada saat itu dari atas pohon meluncur sehelai jala yang lebar dan sebelum Lili maklum apa yang terjadi, tubuhnya telah ditimpa jala itu. Dia terkejut dan segera mempergunakan pedangnya untuk membabat tali-temali jala yang melibat dirinya.

Akan tetapi pada saat itu Maniyoko sudah melompat ke belakangnya, lalu sekali pemuda itu menggerakkan tubuh, Lili tidak mampu bertahan lagi dan roboh terkulai lemas. Hal ini dapat terjadi karena dia tadi sibuk meronta untuk melepaskan diri dari jala dengan sia-sia, karena ke empat sudut jala dipegang oleh anak buah Maniyoko. Lagi pula mereka adalah bajak-bajak laut yang lihai dan ahli mempergunakan senjata jala itu.

"Ha-ha-ha-ha, nona manis. Engkau kalah dan engkau akan menjadi milikku!” kata pemuda Jepang itu dengan girang sambil mencolek dagu gadis itu dari luar jala.

Lili hanya mampu memandang dengan mata penuh kebencian karena dia tidak mampu bergerak. Sambil tertawa gembira pemuda Jepang itu berkata kepada kawan-kawannya.

"Biarkan ikan jelita ini di dalam jala dan kita bawa ke Hwa I Kai-pang. Siok-pangcu tentu akan girang sekali dan kalian akan menerima hadiah besar."

Karena tadi dia meronta, pangkal lengan kiri dan punggungnya terkena besi kaitan yang dipasang di dalam jala sehingga kini terasa nyeri. Akan tetapi Lili menahan diri dan sama sekali tidak mau memperlihatkan penderitaan itu.

Lima orang anak buah itu lalu melibatkan jala di sekitar tubuhnya sehingga membuat Lili sama sekali tak mampu bergerak lagi. Andai kata pengaruh totokan pada tubuhnya sudah lenyap sekali pun, tetap sukarlah baginya untuk membebaskan diri dari jala yang melibat dirinya dengan kuatnya itu.

Pada saat itu pula nampak bayangan berkelebat. "Enam orang laki-laki menghina seorang wanita, sungguh jahat sekali!"

Lima orang anak buah Maniyoko segera menyerang bayangan itu yang ternyata seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap. Akan tetapi begitu pemuda itu menggerakkan tangan dan kakinya, lima orang itu terlempar ke belakang seperti disambar angin badai! Pemuda itu cepat membuka libatan jala, tetapi sebelum dia sempat membebaskan Lili dari totokan, Maniyoko telah menyerangnya dengan samurainya.

"Singgggg...!" Samurai itu meluncur dan mendesing nyaring ketika dielakkan oleh pemuda itu. Samurai yang luput dari sasaran itu membuat gerakan melengkung dan membalik, kini menyambar lagi sebagai serangan susulan yang lebih dahsyat dari pada yang pertama tadi.

Kembali pemuda itu mengelak dengan gerakan cepat, lantas dari samping dia mendorong dengan dua tangannya. Dari kedua telapak tangan itu mengepul uap putih dan angin yang dahsyat sehingga membuat Maniyoko hampir terjengkang!

Pemuda Jepang ini mengeluarkan seruan kaget, meloncat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh si pemuda jangkung untuk menyambar tubuh Lili yang masih berada dalam jala berikut pedangnya, memanggul tubuh itu dan melarikan diri ke dalam hutan!

Lima orang anak buahnya hendak mengejar akan tetapi Maniyoko cepat-cepat menahan mereka. "Jangan kejar! Mari kita lapor kepada suhu!" katanya dengan hati gentar.

Dari serangan kedua tangan yang mengeluarkan uap putih itu saja dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh, dan mengejar lawan selihai itu di dalam hutan sungguh amat berbahaya.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sesudah berlari cepat bagaikan burung terbang saja sampai ke tengah hutan dan melihat bahwa tidak ada yang mengejarnya, pemuda itu berhenti berlari lantas menurunkan tubuh yang dipanggulnya itu dengan hati-hati ke atas tanah berumput tebal. Dia mengulurkan tangan menekan punggung dan pundak gadis itu dan seketika Lili merasa dirinya terbebas dari totokan.

Lili marah bukan main dan karena jala itu sekarang tak ada yang memeganginya lagi, juga libatannya sudah agak longgar, dia lalu menggerakkan pedang mengamuk dan jala itu pun dicabik-cabiknya.

"Auhhh...!" ketika dia merenggut jala itu, besi kaitan telah mengait punggungnya sehingga menimbulkan rasa nyeri, menambah kenyerian luka di punggung dan pundaknya.

"Engkau terluka, nona...?" Pemuda itu bertanya sambil menghampiri gadis yang kini jatuh terduduk itu.

"Kaitan sialan ini mengait di punggung... aduhhh...!" Lili mengomel.

"Diamlah dan jangan bergerak, nona. Biar kucabut kaitan itu.”

Pemuda itu berlutut di belakang Lili. Akan tetapi setelah dia memeriksanya, ternyata besi kaitan itu menancap menembus pakaian serta kulit sehingga sukar mencabutnya karena tidak kelihatan. Dia lalu merobek baju di punggung itu agar dapat melihat besi kaitannya.

"Breettt...!"

"Ihhh! Apa yang kau lakukan itu, jahanam!" Lili membentak, hendak meloncat, akan tetapi terduduk kembali karena kaitan itu tidak memungkinkan dia untuk banyak bergerak.

"Tenanglah, nona. Aku hanya ingin mengeluarkan besi kaitan itu dan tanpa merobek baju, sukar melakukannya karena kaitan itu tidak kelihatan." Pemuda itu mengerutkan alisnya. Betapa galaknya gadis ini, pikirnya.

Dengan sangat hati-hati dia kemudian mengeluarkan besi kaitan itu dari daging dan kulit yang ditembusinya. Darah mengucur keluar dan pemuda itu melihat bahwa punggung itu menderita dua luka, sedangkan di pundak kiri pun juga terluka.

"Jangan bergerak dahulu, nona. Pundak serta punggungmu terluka. Tiga buah luka yang cukup dalam dan dapat berbahaya kalau tidak segera diobati. Siapa tahu besi kaitan itu mengandung racun." Pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, lalu membukanya dan menaburkan bubuk putih pada tiga luka itu.

Lili merasa betapa jari-jari tangan pemuda itu menyentuh kulit punggung dan pundaknya dengan lembut. Mengingat betapa selama hidupnya belum pernah ada tangan pria yang menyentuh kulitnya, maka bulu tengkuknya segera meremang. Akan tetapi luka-luka yang tadi menimbulkan perasaan panas dan perih, kini terasa dingin dan nyerinya menghilang.

Sesudah pemuda itu selesai mengobati lukanya, Lili meloncat berdiri dan pemuda itu pun bangkit berdiri. Pemuda itu akan kecelik bila dia mengharapkan ucapan manis dan terima kasih dari Lili. Bahkan sebaliknya gadis itu memandang kepadanya dengan alis berkerut, muka marah dan mata melotot, bahkan tangan yang memegang pedang itu gemetar, siap untuk membacok atau menusuk!

"Kenapa engkau menyentuh pundak dan punggungku? Kenapa? Hayo katakan, mengapa engkau menyentuh pundak dan punggungku, keparat?"

Pemuda itu tertegun, bengong dan sampai lama tidak mampu menjawab. "Hayo jawab, kenapa malah bengong seperti patung?!" bentak Lili bertambah marah.

"Ehh? Aku...eh, aku... hanya ingin menolongmu, nona...” akhirnya dia berkata gagap dan bingung karena selama hidupnya baru sekarang ini dia berhadapan dengan seorang gadis yang begini galak.

"Menolongku? Kenapa? Hayo jawab!" kembali Lili membentak marah.

Kini pemuda itu sudah dapat mengatasi kekagetan dan keheranannya. Entah siapa orang tua dan guru gadis ini, pikirnya. Kenapa tidak mampu mendidik anak ini sehingga menjadi seperti itu, manis tetapi galak, sesat, seenak perutnya sendiri, dan tak tahu sopan santun masih ditambah tidak mengenal budi? Baru saja diselamatkan nyawanya, ehh, bukannya berterima kasih bahkan memaki-maki dan membentak-bentak penolongnya!

"Nona, engkau... engkau ini seorang manusiakah?"

Lili terbelalak. Pertanyaan itu datangnya demikian mengejutkan, seperti serangan tusukan pedang yang tiba-tiba dan tidak diduga-duganya hingga membuat dia sejenak kehilangan keseimbangan dan salah tingkah. Kalau tadi gadis ini memegang pedang dengan sikap mengancam, kini dia terlupa dan pedangnya dia gunakan untuk bersandar seperti tongkat dengan ujungnya menekan tanah!

“Apa...? Apa maksudmu...?" Dia balik bertanya, bingung.

"Kalau nona ini seorang manusia, mengapa begini aneh? Baru saja diselamatkan orang tetapi malah berbalik memaki-maki penolongnya. Kalau nona bukan manusia, maka tidak aneh, hanya sungguh sayang. Nona begini muda, cantik dan gagah, kelihatan baik budi, sayang kalau bukan manusia...”

Tiba-tiba wajah yang tadinya bengis itu berubah sama sekali. Kini nampak cerah, bahkan nampak gembira dan kalau tadi mulutnya mengandung senyum sinis mengejek, sekarang berubah menjadi senyum yang sangat manis sehingga membuat wajah itu seperti wajah kanak-kanak yang berhati bersih.

"Benarkah ucapanmu itu? Benarkah aku cantik dan gagah? Benarkah...?"

Di dalam ucapan ini terkandung harapan bahkan permohonan seperti seorang anak kecil yang mengharapkan sesuatu yang sangat diinginkannya. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa sejak kecil Lili telah hidup bersama orang-orang yang wataknya aneh, bahkan keras dan dapat dikata sesat seperti Bi-coa Sian-li Cu Sui In, kemudian ia menjadi murid pula dari seorang datuk aneh dan sesat seperti See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Dari kedua orang ini dia tidak pernah merasakan cinta kasih yang sewajarnya, yang keluar dari hati dan perasaan yang murni. Bahkan lebih sering dia mendengar caci maki dan celaan yang menyakitkan hati. Kemudian, setelah dia remaja dan dewasa, kalau ada orang memuji kecantikannya, maka pujian itu selalu mengandung rayuan serta penjilatan, pujian penuh nafsu yang dapat dia rasakan dan yang membuat dia merasa jijik dan benci.

Kini untuk pertama kalinya selama hidupnya, dia bertemu seorang pemuda yang memuji atau mengatakan bahwa dia cantik dan gagah dengan cara yang lain sama sekali, bukan rayuan, bahkan bukan pula pujian hingga terasa olehnya bahwa ucapan itu mengandung ketulusan hati. lnilah yang selama ini dia idam-idamkan, yaitu perhatian yang tulus dari seseorang!

Pemuda itu kembali tertegun. Akan tetapi dia adalah seorang yang berwatak jujur, karena itu dia pun mengangguk. "Tentu saja! Semua orang pun dapat melihat bahwa engkau adalah seorang gadis yang masih muda, cantik dan gagah, mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Akan tepat dan serasi sekali kalau semua keindahan itu dilengkapi dengan watak yang baik pula. Nona, aku tadi melihat engkau ditangkap secara curang oleh enam orang laki-laki itu yang tidak kukenal. Karena aku menganggap perbuatan mereka itu jahat maka aku membantumu. Akan tetapi mereka itu ternyata lihai, apa lagi pemuda pendek itu. Maka aku mengambil keputusan untuk membawamu lari supaya kita dapat menyelamatkan diri dari pengeroyokan mereka. Tetapi siapa sangka, di sini engkau malah membalas perbuatanku untuk menolongmu itu dengan caci maki!"

Sejenak Lili tidak menjawab, akan tetapi sinar matanya mencorong dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik. Sinar matanya yang tajam seakan-akan hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati pemuda itu! Akan tetapi pemuda itu menentang pandangan matanya dengan tenang.

"Aku masih belum tahu apakah engkau memang seorang yang benar-benar jujur sehingga pantas menjadi sahabatku, apakah engkau tadi benar-benar menolongku tanpa pamrih, ataukah engkau hanya ingin pamer kepandaian untuk menarik perhatianku agar aku suka kepadamu?"

Dia berhenti sebentar, lalu mengangkat pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan dadanya. "Jika engkau palsu, keluarkan senjatamu karena aku ingin mengujimu sampai seberapa tinggi kepandaianmu maka engkau berani memamerkan kepandaianmu kepadaku! Akan tetapi kalau engkau memang jujur, harap kau suka maafkan sikapku tadi. Aku bukan tidak mengenal budi, hanya... ahh, belum pernah aku bertemu dengan orang yang hatinya tidak palsu, maka sukarlah bagiku untuk percaya kepada siapa pun juga di dunia ini.”

Pemuda itu menarik napas panjang dan nampak terharu karena ucapan dan sikap gadis itu agaknya amat mengena pada perasaannya. "Engkau memang benar, nona. Dunia ini penuh kepalsuan sehingga aku sendiri hampir tidak pernah melihat kebenaran yang sejati. Mungkin aku sendiri pun sama palsunya dengan yang lain. Kita sudah terseret ke dalam pusaran kepalsuan dalam kehidupan manusia di dunia. Sudahlah, nona, sekarang lebih baik aku pergi saja. Aku tidak mempunyai pamrih apa-apa saat membantumu, akan tetapi aku pun tak berani mengaku bahwa aku bukan orang yang palsu seperti orang-orang lain. Selamat tinggal…!"

Pemuda itu membalikkan tubuh lalu melangkah pergi. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah meloncat dan melewatinya. Kini dia menghadang di depannya dan tanpa banyak cakap lagi sudah menyerangnya dengan pukulan ke arah dada. Cepat dan kuat sekali serangan itu!

Pemuda itu mengelak dengan gerakan gesit, lalu meloncat ke belakang. "Heiiii...! Kenapa pula engkau menyerangku?"

Lili tertawa. "Hi-hik, aku hanya ingin mengajak engkau berlatih silat, sobat. Sambutlah...!"

Tanpa memberi kesempatan lagi kepada si pemuda untuk menjawab, Lili telah menyerang kalang kabut dengan kedua kaki tangannya, gerakannya cepat dan aneh karena dia yang ingin menguji kepandaian pemuda yang sangat menarik hatinya itu sudah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya!

Pemuda itu merasa terheran-heran, akan tetapi juga timbul kegembiraannya. Dia seorang yang berilmu tinggi dan tentu saja merasa senang kalau mendapatkan kesempatan untuk berlatih dengan lawan yang pandai seperti gadis aneh itu. Maka, sambil menangkis atau mengelak, dia pun membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah dahsyatnya!

Lili sudah terluka. Biar pun luka-luka di punggung dan pundak itu telah diobati, akan tetapi terasa nyeri lagi begitu dipakai bergerak, bahkan dia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya, terhalang oleh perasaan nyeri itu. Akan tetapi Lili adalah seorang gadis yang keras hati dan yang tidak pernah mau memperlihatkan kelemahannya. Biar pun rasa nyeri menusuk-nusuk, dia tak mau mengaku dan masih tetap mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan nyeri hingga seluruh tubuhnya berkeringat dan napasnya mulai memburu!

Pemuda itu maklum akan hal ini, dan tiba-tiba saja dia bergerak terlampau lambat ketika tangan kiri Lili mencengkeram ke arah dadanya. Akan tetapi begitu jari-jari tangan gadis itu menyentuh dadanya, tangan itu tidak jadi mencengkeram, bahkan dibuka dan hanya telapak tangannya yang membentur dada pemuda itu.

"Plakk...!" Pemuda itu terhuyung kebelakang.

"Nona lihai sekali, aku mengaku kalah,” katanya.

Tentu saja Lili bukan seorang gadis bodoh. Dalam hal ilmu silat, kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga dia dapat membedakan gerakan kalah atau mengalah. Dan dia tahu benar bahwa pemuda jangkung ini sengaja mengalah kepadanya, padahal dia sudah hampir kehabisan napas!

Lili tersenyum girang dan lega. Jika pemuda itu tidak mengalah, tentu dia akan kalah dan hal ini akan menyakitkan perasaannya. Kekalahan merupakan hal yang dia anggap amat menyakitkan dan bahkan merendahkan! Dengan napas terengah Lili mengusap keringat dari leher dan dahinya, menggunakan sehelai sapu tangan merah muda, lalu dia menatap wajah pemuda itu dengan senyum. Diam-diam dia merasa kagum.

"Engkau lihai, aku suka padamu. Siapakah namamu?" tanyanya dengan terus terang dan sikap ini kembali membuat pemuda itu tertegun, akan tetapi juga kagum.

Gadis ini amat terbuka dan jujur, tidak banyak dipengaruhi tata cara sopan santun yang biasanya hanya sebagai bedak penutup isi hati yang sebenarnya saja. Gadis seperti ini tidak akan menyimpan perasaannya sebagai rahasia, apa yang tercermin dalam sikap dan pada wajahnya menunjukkan keadaan perasaan hati yang sesungguhnya. Tidak seperti orang awam yang demi sopan santun palsu, sering memperlihatkan sikap yang menjadi kebalikan dari keadaan hatinya.

"Namaku Sin Wan. Dan siapakah engkau, nona?"

Pemuda itu memang Sin Wan. Seperti kita ketahui, bersama Kui Siang dan kakek Bu Lee Ki, juga ketua dan wakil ketua Ang-kin Kai-pang, dia pergi ke Lok-yang untuk menemani Bu Lee Ki dalam usaha kakek itu untuk mempersatukan dan memimpin kembali para kai-pang.

Setelah tiba di luar kota Lok-yang mereka lalu berpencar seperti yang sejak semula telah direncanakan oleh kakek Bu Lee Ki. Dua orang pimpinan Ang-kin Kai-pang memiisahkan diri karena mereka hendak langsung berkunjung ke markas Hwa I Kai-pang untuk menjadi tamu perkumpulan pengemis itu.

Kakek Bu Lee Ki sendiri bersama Kui Siang memasuki kota Lok-yang sebagai tamu yang sedang berpesiar. Sin Wan sendiri diberi tugas oleh Bu Lee Ki untuk memasuki Lok-yang melalui pintu gerbang barat untuk melakukan penyelidikan terhadap Hek I Kai-pang.

Demikianlah, ketika dia sampai di jalan raya dekat hutan yang sunyi, dia mendengar suara orang bertempur di dalam hutan. Perkelahian itu tidak nampak dari jalan raya, akan tetapi karena dia memiliki pendengaran yang tajam terlatih, dia dapat menangkap suara mereka dan karena tertarik, dia lalu memasuki hutan itu dan melihat betapa seorang gadis sedang dalam bahaya, ditawan oleh enam orang menggunakan jala dan dia segera turun tangan menolongnya.

Nama Sin Wan tidak dikenal oleh Lili meski sebelas tahun yang lalu sebagai kanak-kanak berusia sepuluh dan sembilan tahun, mereka pernah berkelahi. Juga wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali, dari kanak-kanak menjadi dewasa, maka tentu saja tidak saling mengenal. Maka dengan wajah masih dihias senyum manis Lili menjawab.

"Namaku Tang Hwe Li, akan tetapi engkau boleh memanggil aku Lili saja, seperti semua orang yang akrab denganku."

“Lili? Nama yang bagus."

"Hemm, dan namamu amat jelek."

"Hemm..." Sin Wan tersenyum walau pun dia merasa heran akan kekasaran gadis ini.

"Akan tetapi biar namamu jelek, engkau seorang yang amat baik dan aku suka padamu, Sin Wan. Aku belum pernah mempunyai seorang kawan yang baik, dan aku senang sekali mendapatkan seorang kawan seperti engkau. Aku... ahhh..."

Melihat gadis itu terkulai lantas jatuh terduduk di atas rumput sambil menekan kepalanya dengan tangan kiri, Sin Wan terkejut dan dia pun cepat berlutut di dekatnya.

"Lili, kau kenapakah...?" tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa..." Lili yang tidak pernah mau kelihatan lemah itu mengerahkan tenaganya dan dia mencoba untuk bangkit berdiri. Akan tetapi begitu dia berdiri, tubuhnya langsung terkulai dan dia tentu sudah roboh kalau saja tidak cepat dirangkul oleh Sin Wan.

Si Pedang Tumpul Jilid 20

Lili sudah keluar dari pintu gerbang kota Lok-yang sebelah barat. Ia merasa puas. Besok pagi-pagi dia akan kembali ke markas Hwa I Kai-pang dan akan memaksa ketuanya agar menakluk kepada suci-nya dan kelak memberikan suara kepada suci-nya untuk menjadi pemimpin besar para kai-pang! Akan jauh lebih mudah begitu, pikirnya bangga. Ia kini tiba di jalan raya dekat hutan yang sunyi, menuju ke perkumpulan Hek I Kai-pang yang berada di luar kota.

Tiba-tiba ia mendengar seruan dari sebelah kiri, dari hutan di tepi jalan raya itu. Mula-mula dia tak peduli, akan tetapi setelah dia dapat menangkap kata-kata yang diteriakkan suara itu, alisnya berkerut dan dia pun menahan langkahnya.

"Heiii, perempuan sombong! Kalau memang engkau berani, masuklah ke sini supaya kita dapat bertanding sampai seribu jurus tanpa ada orang lain yang mengganggunya! Kalau engkau takut, cepat berlutut dan menyerah untuk kubawa sebagai tawanan ke Hwa I Kai-pang!"

"Jahanam busuk!" Lili sudah menjadi marah sekali.

Tanpa mempedulikan peraturan kehidupan dunia kang-ouw bahwa tantangan dari dalam hutan seperti itu dapat merupakan jebakan dan amat berbahaya sehingga tak sepatutnya dilayani, dia sudah melompat ke kiri dan memasuki hutan itu.

"Siapa takut kepadamu? Keparat, jangan lari kau!" teriaknya lagi.

Ketika dia tiba di tempat terbuka, di situ telah menanti enam orang laki-laki, dipimpin oleh seorang pemuda yang bertubuh pendek tegap dan wajahnya yang tampan itu tersenyum-senyum secara kurang ajar. Bentuk wajah pemuda ini bundar laksana bulan, putih dan halus tanpa kumis jenggot, akan tetapi cambangnya tebal dan panjang, dari dekat telinga sampai ke dagunya. Kepala bagian depan sengaja dicukur botak sehingga nampak aneh, seperti seekor kepala burung yang ajaib.

"Engkaukah yang bernama Tang Bwe Li, nona?" tanya pemuda itu, sedangkan lima orang lainnya yang bertubuh tegap berdiri diam saja di sampingnya, namun sikap mereka pun dalam keadaan siap siaga dan menanti perintah.

"Kalau benar mengapa? Engkaukah yang berteriak-terlak menantangku tadi?"

Pemuda itu tertawa. "Aku memang sengaja memancingmu masuk ke sini, nona. Apa bila engkau takut, engkau boleh keluar lagi."

Maniyoko memang seorang pemuda Jepang yang telah memiliki banyak pengalaman dan amat cerdik. Dia segera tahu apa kelemahan gadis jelita yang berdiri dengan gagahnya di hadapannya itu. Gadis ini mempunyai kelemahan, yaitu tinggi hati sehingga kalau gadis ini ditantang dan dikatakan takut, biar dipancing dengan ancaman bahaya bagaimana besar pun tentu akan nekat!

Sepasang mata Lili berapi-api. "Tutup mulut busukmu. Siapa takut?!"

"Heh-heh, memang aku tahu bahwa engkau tidak mengenal takut, nona. Karena itu aku ingin sekali berkenalan. Namaku Maniyoko dan aku..."

"Persetan dengan namamu! Jika benar engkau yang menantangku tadi, bersiaplah untuk mampus. Aku tidak sudi berkenalan denganmu!" kata Lili dan dia pun langsung mencabut pedangnya karena sekali ini dia marah sekali sehingga dia harus membunuh orang yang tadi menghina dan menantangnya. Begitu mencabut pedangnya, Lili pun berseru, "Cepat keluarkan senjatamu dan bersiaplah untuk mati!"

Pemuda Jepang itu terkejut melihat pedang yang mengeluarkan cahaya putih, berwarna putih seperti perak, akan tetapi begitu tercabut mengeluarkan bau harum yang amat aneh itu. Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman dan lama berkecimpung dalam dunia persilatan, pemuda Jepang ini dapat menduga bahwa pedang itu tentu ampuh sekali dan mengandung racun. Maka dia pun memberi isyarat kepada lima orang anak buah ayahnya dan dia sendiri lalu mencabut pedang yang tergantung dipinggangnya.

Sebatang pedang panjang melengkung, pedang samurai yang sangat tajam dan gagangnya panjang sekali sehingga gagang itu dapat dipegang dengan kedua tangannya. Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang tinggi Maniyoko memandang rendah kepada gadis itu. Namun melihat pedang di tangan Lili, dia terpaksa mencabut pedangnya karena maklum bahwa pedang beracun itu cukup berbahaya.

"Nona manis, aku sudah siap. Mari kita bertaruh dalam pertandingan ini. Kalau engkau kalah, maka engkau akan menjadi mllikku dan harus menurut segala kehendakku, harus melayani aku dengan manis, heh-heh!"

“Jahanam kau! Kalau engkau yang kalah, lehermu akan kupenggal!” teriak Lili dan dia pun sudah menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya menjadi sinar putih menyambar dan mengeluarkan suara berdesing.

Maniyoko terkejut dan cepat menangkis dengan samurainya.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar hebat. Keduanya cepat meloncat ke belakang dan memeriksa senjata masing-masing, namun baik pedang mau pun samurai itu tidak rusak dan keduanya saling pandang.

Maniyoko baru tahu bahwa gadis itu benar-benar amat lihai, memiliki tenaga yang mampu menandinginya! Padahal tadi dia menangkis dengan pengerahan tenaga untuk membuat pedang lawan patah atau terlepas. Siapa kira tangannya sendiri tergetar hebat.

Sebaliknya Lili juga maklum bahwa lawannya tidak boleh disamakan dengan orang-orang Hwa I Kai-pang tadi. Ia menjadi semakin marah dan penasaran, lalu memutar pedangnya dan menyerang dengan ganasnya. Berbeda dengan suci-nya yang mempunyai Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam), oleh gurunya dia diberi Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) dan juga ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas. Seperti juga pedang suci-nya, pedang di tangannya itu walau pun nampaknya putih bersih seperti perak, namun pedang itu sudah direndam racun ular yang sangat berbahaya. Sedikit saja tergores pedang itu, maka orang yang terluka sukar ditolong lagi nyawanya.

Akan tetapi lawannya, Maniyoko ialah murid tersayang dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, seorang datuk yang kedudukannya setingkat dengan kedudukan datuk See-thian Coa-ong Cu Kiat. Tentu saja tingkat kepandaian pemuda Jepang itu juga sudah tinggi sehingga dia dapat mengimbangi permainan pedang Lili, bahkan membalas dengan tak kalah ganasnya dengan permainan samurainya yang aneh. Permainan samurai yang kadang-kadang dipegang kedua tangan itu bagaikan gelombang samudera, susul menyusul dan selalu menyambar lagi kalau serangan pertama gagal dan dielakkan lawan.

Akan tetapi, Lili merasa girang bahwa pemuda Jepang itu dapat dia desak mundur sampai ke bawah pohon. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu memang sengaja memancingnya ke bawah pohon besar itu, dan pada saat Lili menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba pemuda Jepang itu melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan.

Pada saat itu dari atas pohon meluncur sehelai jala yang lebar dan sebelum Lili maklum apa yang terjadi, tubuhnya telah ditimpa jala itu. Dia terkejut dan segera mempergunakan pedangnya untuk membabat tali-temali jala yang melibat dirinya.

Akan tetapi pada saat itu Maniyoko sudah melompat ke belakangnya, lalu sekali pemuda itu menggerakkan tubuh, Lili tidak mampu bertahan lagi dan roboh terkulai lemas. Hal ini dapat terjadi karena dia tadi sibuk meronta untuk melepaskan diri dari jala dengan sia-sia, karena ke empat sudut jala dipegang oleh anak buah Maniyoko. Lagi pula mereka adalah bajak-bajak laut yang lihai dan ahli mempergunakan senjata jala itu.

"Ha-ha-ha-ha, nona manis. Engkau kalah dan engkau akan menjadi milikku!” kata pemuda Jepang itu dengan girang sambil mencolek dagu gadis itu dari luar jala.

Lili hanya mampu memandang dengan mata penuh kebencian karena dia tidak mampu bergerak. Sambil tertawa gembira pemuda Jepang itu berkata kepada kawan-kawannya.

"Biarkan ikan jelita ini di dalam jala dan kita bawa ke Hwa I Kai-pang. Siok-pangcu tentu akan girang sekali dan kalian akan menerima hadiah besar."

Karena tadi dia meronta, pangkal lengan kiri dan punggungnya terkena besi kaitan yang dipasang di dalam jala sehingga kini terasa nyeri. Akan tetapi Lili menahan diri dan sama sekali tidak mau memperlihatkan penderitaan itu.

Lima orang anak buah itu lalu melibatkan jala di sekitar tubuhnya sehingga membuat Lili sama sekali tak mampu bergerak lagi. Andai kata pengaruh totokan pada tubuhnya sudah lenyap sekali pun, tetap sukarlah baginya untuk membebaskan diri dari jala yang melibat dirinya dengan kuatnya itu.

Pada saat itu pula nampak bayangan berkelebat. "Enam orang laki-laki menghina seorang wanita, sungguh jahat sekali!"

Lima orang anak buah Maniyoko segera menyerang bayangan itu yang ternyata seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap. Akan tetapi begitu pemuda itu menggerakkan tangan dan kakinya, lima orang itu terlempar ke belakang seperti disambar angin badai! Pemuda itu cepat membuka libatan jala, tetapi sebelum dia sempat membebaskan Lili dari totokan, Maniyoko telah menyerangnya dengan samurainya.

"Singgggg...!" Samurai itu meluncur dan mendesing nyaring ketika dielakkan oleh pemuda itu. Samurai yang luput dari sasaran itu membuat gerakan melengkung dan membalik, kini menyambar lagi sebagai serangan susulan yang lebih dahsyat dari pada yang pertama tadi.

Kembali pemuda itu mengelak dengan gerakan cepat, lantas dari samping dia mendorong dengan dua tangannya. Dari kedua telapak tangan itu mengepul uap putih dan angin yang dahsyat sehingga membuat Maniyoko hampir terjengkang!

Pemuda Jepang ini mengeluarkan seruan kaget, meloncat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh si pemuda jangkung untuk menyambar tubuh Lili yang masih berada dalam jala berikut pedangnya, memanggul tubuh itu dan melarikan diri ke dalam hutan!

Lima orang anak buahnya hendak mengejar akan tetapi Maniyoko cepat-cepat menahan mereka. "Jangan kejar! Mari kita lapor kepada suhu!" katanya dengan hati gentar.

Dari serangan kedua tangan yang mengeluarkan uap putih itu saja dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh, dan mengejar lawan selihai itu di dalam hutan sungguh amat berbahaya.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sesudah berlari cepat bagaikan burung terbang saja sampai ke tengah hutan dan melihat bahwa tidak ada yang mengejarnya, pemuda itu berhenti berlari lantas menurunkan tubuh yang dipanggulnya itu dengan hati-hati ke atas tanah berumput tebal. Dia mengulurkan tangan menekan punggung dan pundak gadis itu dan seketika Lili merasa dirinya terbebas dari totokan.

Lili marah bukan main dan karena jala itu sekarang tak ada yang memeganginya lagi, juga libatannya sudah agak longgar, dia lalu menggerakkan pedang mengamuk dan jala itu pun dicabik-cabiknya.

"Auhhh...!" ketika dia merenggut jala itu, besi kaitan telah mengait punggungnya sehingga menimbulkan rasa nyeri, menambah kenyerian luka di punggung dan pundaknya.

"Engkau terluka, nona...?" Pemuda itu bertanya sambil menghampiri gadis yang kini jatuh terduduk itu.

"Kaitan sialan ini mengait di punggung... aduhhh...!" Lili mengomel.

"Diamlah dan jangan bergerak, nona. Biar kucabut kaitan itu.”

Pemuda itu berlutut di belakang Lili. Akan tetapi setelah dia memeriksanya, ternyata besi kaitan itu menancap menembus pakaian serta kulit sehingga sukar mencabutnya karena tidak kelihatan. Dia lalu merobek baju di punggung itu agar dapat melihat besi kaitannya.

"Breettt...!"

"Ihhh! Apa yang kau lakukan itu, jahanam!" Lili membentak, hendak meloncat, akan tetapi terduduk kembali karena kaitan itu tidak memungkinkan dia untuk banyak bergerak.

"Tenanglah, nona. Aku hanya ingin mengeluarkan besi kaitan itu dan tanpa merobek baju, sukar melakukannya karena kaitan itu tidak kelihatan." Pemuda itu mengerutkan alisnya. Betapa galaknya gadis ini, pikirnya.

Dengan sangat hati-hati dia kemudian mengeluarkan besi kaitan itu dari daging dan kulit yang ditembusinya. Darah mengucur keluar dan pemuda itu melihat bahwa punggung itu menderita dua luka, sedangkan di pundak kiri pun juga terluka.

"Jangan bergerak dahulu, nona. Pundak serta punggungmu terluka. Tiga buah luka yang cukup dalam dan dapat berbahaya kalau tidak segera diobati. Siapa tahu besi kaitan itu mengandung racun." Pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, lalu membukanya dan menaburkan bubuk putih pada tiga luka itu.

Lili merasa betapa jari-jari tangan pemuda itu menyentuh kulit punggung dan pundaknya dengan lembut. Mengingat betapa selama hidupnya belum pernah ada tangan pria yang menyentuh kulitnya, maka bulu tengkuknya segera meremang. Akan tetapi luka-luka yang tadi menimbulkan perasaan panas dan perih, kini terasa dingin dan nyerinya menghilang.

Sesudah pemuda itu selesai mengobati lukanya, Lili meloncat berdiri dan pemuda itu pun bangkit berdiri. Pemuda itu akan kecelik bila dia mengharapkan ucapan manis dan terima kasih dari Lili. Bahkan sebaliknya gadis itu memandang kepadanya dengan alis berkerut, muka marah dan mata melotot, bahkan tangan yang memegang pedang itu gemetar, siap untuk membacok atau menusuk!

"Kenapa engkau menyentuh pundak dan punggungku? Kenapa? Hayo katakan, mengapa engkau menyentuh pundak dan punggungku, keparat?"

Pemuda itu tertegun, bengong dan sampai lama tidak mampu menjawab. "Hayo jawab, kenapa malah bengong seperti patung?!" bentak Lili bertambah marah.

"Ehh? Aku...eh, aku... hanya ingin menolongmu, nona...” akhirnya dia berkata gagap dan bingung karena selama hidupnya baru sekarang ini dia berhadapan dengan seorang gadis yang begini galak.

"Menolongku? Kenapa? Hayo jawab!" kembali Lili membentak marah.

Kini pemuda itu sudah dapat mengatasi kekagetan dan keheranannya. Entah siapa orang tua dan guru gadis ini, pikirnya. Kenapa tidak mampu mendidik anak ini sehingga menjadi seperti itu, manis tetapi galak, sesat, seenak perutnya sendiri, dan tak tahu sopan santun masih ditambah tidak mengenal budi? Baru saja diselamatkan nyawanya, ehh, bukannya berterima kasih bahkan memaki-maki dan membentak-bentak penolongnya!

"Nona, engkau... engkau ini seorang manusiakah?"

Lili terbelalak. Pertanyaan itu datangnya demikian mengejutkan, seperti serangan tusukan pedang yang tiba-tiba dan tidak diduga-duganya hingga membuat dia sejenak kehilangan keseimbangan dan salah tingkah. Kalau tadi gadis ini memegang pedang dengan sikap mengancam, kini dia terlupa dan pedangnya dia gunakan untuk bersandar seperti tongkat dengan ujungnya menekan tanah!

“Apa...? Apa maksudmu...?" Dia balik bertanya, bingung.

"Kalau nona ini seorang manusia, mengapa begini aneh? Baru saja diselamatkan orang tetapi malah berbalik memaki-maki penolongnya. Kalau nona bukan manusia, maka tidak aneh, hanya sungguh sayang. Nona begini muda, cantik dan gagah, kelihatan baik budi, sayang kalau bukan manusia...”

Tiba-tiba wajah yang tadinya bengis itu berubah sama sekali. Kini nampak cerah, bahkan nampak gembira dan kalau tadi mulutnya mengandung senyum sinis mengejek, sekarang berubah menjadi senyum yang sangat manis sehingga membuat wajah itu seperti wajah kanak-kanak yang berhati bersih.

"Benarkah ucapanmu itu? Benarkah aku cantik dan gagah? Benarkah...?"

Di dalam ucapan ini terkandung harapan bahkan permohonan seperti seorang anak kecil yang mengharapkan sesuatu yang sangat diinginkannya. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa sejak kecil Lili telah hidup bersama orang-orang yang wataknya aneh, bahkan keras dan dapat dikata sesat seperti Bi-coa Sian-li Cu Sui In, kemudian ia menjadi murid pula dari seorang datuk aneh dan sesat seperti See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Dari kedua orang ini dia tidak pernah merasakan cinta kasih yang sewajarnya, yang keluar dari hati dan perasaan yang murni. Bahkan lebih sering dia mendengar caci maki dan celaan yang menyakitkan hati. Kemudian, setelah dia remaja dan dewasa, kalau ada orang memuji kecantikannya, maka pujian itu selalu mengandung rayuan serta penjilatan, pujian penuh nafsu yang dapat dia rasakan dan yang membuat dia merasa jijik dan benci.

Kini untuk pertama kalinya selama hidupnya, dia bertemu seorang pemuda yang memuji atau mengatakan bahwa dia cantik dan gagah dengan cara yang lain sama sekali, bukan rayuan, bahkan bukan pula pujian hingga terasa olehnya bahwa ucapan itu mengandung ketulusan hati. lnilah yang selama ini dia idam-idamkan, yaitu perhatian yang tulus dari seseorang!

Pemuda itu kembali tertegun. Akan tetapi dia adalah seorang yang berwatak jujur, karena itu dia pun mengangguk. "Tentu saja! Semua orang pun dapat melihat bahwa engkau adalah seorang gadis yang masih muda, cantik dan gagah, mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Akan tepat dan serasi sekali kalau semua keindahan itu dilengkapi dengan watak yang baik pula. Nona, aku tadi melihat engkau ditangkap secara curang oleh enam orang laki-laki itu yang tidak kukenal. Karena aku menganggap perbuatan mereka itu jahat maka aku membantumu. Akan tetapi mereka itu ternyata lihai, apa lagi pemuda pendek itu. Maka aku mengambil keputusan untuk membawamu lari supaya kita dapat menyelamatkan diri dari pengeroyokan mereka. Tetapi siapa sangka, di sini engkau malah membalas perbuatanku untuk menolongmu itu dengan caci maki!"

Sejenak Lili tidak menjawab, akan tetapi sinar matanya mencorong dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik. Sinar matanya yang tajam seakan-akan hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati pemuda itu! Akan tetapi pemuda itu menentang pandangan matanya dengan tenang.

"Aku masih belum tahu apakah engkau memang seorang yang benar-benar jujur sehingga pantas menjadi sahabatku, apakah engkau tadi benar-benar menolongku tanpa pamrih, ataukah engkau hanya ingin pamer kepandaian untuk menarik perhatianku agar aku suka kepadamu?"

Dia berhenti sebentar, lalu mengangkat pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan dadanya. "Jika engkau palsu, keluarkan senjatamu karena aku ingin mengujimu sampai seberapa tinggi kepandaianmu maka engkau berani memamerkan kepandaianmu kepadaku! Akan tetapi kalau engkau memang jujur, harap kau suka maafkan sikapku tadi. Aku bukan tidak mengenal budi, hanya... ahh, belum pernah aku bertemu dengan orang yang hatinya tidak palsu, maka sukarlah bagiku untuk percaya kepada siapa pun juga di dunia ini.”

Pemuda itu menarik napas panjang dan nampak terharu karena ucapan dan sikap gadis itu agaknya amat mengena pada perasaannya. "Engkau memang benar, nona. Dunia ini penuh kepalsuan sehingga aku sendiri hampir tidak pernah melihat kebenaran yang sejati. Mungkin aku sendiri pun sama palsunya dengan yang lain. Kita sudah terseret ke dalam pusaran kepalsuan dalam kehidupan manusia di dunia. Sudahlah, nona, sekarang lebih baik aku pergi saja. Aku tidak mempunyai pamrih apa-apa saat membantumu, akan tetapi aku pun tak berani mengaku bahwa aku bukan orang yang palsu seperti orang-orang lain. Selamat tinggal…!"

Pemuda itu membalikkan tubuh lalu melangkah pergi. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah meloncat dan melewatinya. Kini dia menghadang di depannya dan tanpa banyak cakap lagi sudah menyerangnya dengan pukulan ke arah dada. Cepat dan kuat sekali serangan itu!

Pemuda itu mengelak dengan gerakan gesit, lalu meloncat ke belakang. "Heiiii...! Kenapa pula engkau menyerangku?"

Lili tertawa. "Hi-hik, aku hanya ingin mengajak engkau berlatih silat, sobat. Sambutlah...!"

Tanpa memberi kesempatan lagi kepada si pemuda untuk menjawab, Lili telah menyerang kalang kabut dengan kedua kaki tangannya, gerakannya cepat dan aneh karena dia yang ingin menguji kepandaian pemuda yang sangat menarik hatinya itu sudah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya!

Pemuda itu merasa terheran-heran, akan tetapi juga timbul kegembiraannya. Dia seorang yang berilmu tinggi dan tentu saja merasa senang kalau mendapatkan kesempatan untuk berlatih dengan lawan yang pandai seperti gadis aneh itu. Maka, sambil menangkis atau mengelak, dia pun membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah dahsyatnya!

Lili sudah terluka. Biar pun luka-luka di punggung dan pundak itu telah diobati, akan tetapi terasa nyeri lagi begitu dipakai bergerak, bahkan dia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya, terhalang oleh perasaan nyeri itu. Akan tetapi Lili adalah seorang gadis yang keras hati dan yang tidak pernah mau memperlihatkan kelemahannya. Biar pun rasa nyeri menusuk-nusuk, dia tak mau mengaku dan masih tetap mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan nyeri hingga seluruh tubuhnya berkeringat dan napasnya mulai memburu!

Pemuda itu maklum akan hal ini, dan tiba-tiba saja dia bergerak terlampau lambat ketika tangan kiri Lili mencengkeram ke arah dadanya. Akan tetapi begitu jari-jari tangan gadis itu menyentuh dadanya, tangan itu tidak jadi mencengkeram, bahkan dibuka dan hanya telapak tangannya yang membentur dada pemuda itu.

"Plakk...!" Pemuda itu terhuyung kebelakang.

"Nona lihai sekali, aku mengaku kalah,” katanya.

Tentu saja Lili bukan seorang gadis bodoh. Dalam hal ilmu silat, kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga dia dapat membedakan gerakan kalah atau mengalah. Dan dia tahu benar bahwa pemuda jangkung ini sengaja mengalah kepadanya, padahal dia sudah hampir kehabisan napas!

Lili tersenyum girang dan lega. Jika pemuda itu tidak mengalah, tentu dia akan kalah dan hal ini akan menyakitkan perasaannya. Kekalahan merupakan hal yang dia anggap amat menyakitkan dan bahkan merendahkan! Dengan napas terengah Lili mengusap keringat dari leher dan dahinya, menggunakan sehelai sapu tangan merah muda, lalu dia menatap wajah pemuda itu dengan senyum. Diam-diam dia merasa kagum.

"Engkau lihai, aku suka padamu. Siapakah namamu?" tanyanya dengan terus terang dan sikap ini kembali membuat pemuda itu tertegun, akan tetapi juga kagum.

Gadis ini amat terbuka dan jujur, tidak banyak dipengaruhi tata cara sopan santun yang biasanya hanya sebagai bedak penutup isi hati yang sebenarnya saja. Gadis seperti ini tidak akan menyimpan perasaannya sebagai rahasia, apa yang tercermin dalam sikap dan pada wajahnya menunjukkan keadaan perasaan hati yang sesungguhnya. Tidak seperti orang awam yang demi sopan santun palsu, sering memperlihatkan sikap yang menjadi kebalikan dari keadaan hatinya.

"Namaku Sin Wan. Dan siapakah engkau, nona?"

Pemuda itu memang Sin Wan. Seperti kita ketahui, bersama Kui Siang dan kakek Bu Lee Ki, juga ketua dan wakil ketua Ang-kin Kai-pang, dia pergi ke Lok-yang untuk menemani Bu Lee Ki dalam usaha kakek itu untuk mempersatukan dan memimpin kembali para kai-pang.

Setelah tiba di luar kota Lok-yang mereka lalu berpencar seperti yang sejak semula telah direncanakan oleh kakek Bu Lee Ki. Dua orang pimpinan Ang-kin Kai-pang memiisahkan diri karena mereka hendak langsung berkunjung ke markas Hwa I Kai-pang untuk menjadi tamu perkumpulan pengemis itu.

Kakek Bu Lee Ki sendiri bersama Kui Siang memasuki kota Lok-yang sebagai tamu yang sedang berpesiar. Sin Wan sendiri diberi tugas oleh Bu Lee Ki untuk memasuki Lok-yang melalui pintu gerbang barat untuk melakukan penyelidikan terhadap Hek I Kai-pang.

Demikianlah, ketika dia sampai di jalan raya dekat hutan yang sunyi, dia mendengar suara orang bertempur di dalam hutan. Perkelahian itu tidak nampak dari jalan raya, akan tetapi karena dia memiliki pendengaran yang tajam terlatih, dia dapat menangkap suara mereka dan karena tertarik, dia lalu memasuki hutan itu dan melihat betapa seorang gadis sedang dalam bahaya, ditawan oleh enam orang menggunakan jala dan dia segera turun tangan menolongnya.

Nama Sin Wan tidak dikenal oleh Lili meski sebelas tahun yang lalu sebagai kanak-kanak berusia sepuluh dan sembilan tahun, mereka pernah berkelahi. Juga wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali, dari kanak-kanak menjadi dewasa, maka tentu saja tidak saling mengenal. Maka dengan wajah masih dihias senyum manis Lili menjawab.

"Namaku Tang Hwe Li, akan tetapi engkau boleh memanggil aku Lili saja, seperti semua orang yang akrab denganku."

“Lili? Nama yang bagus."

"Hemm, dan namamu amat jelek."

"Hemm..." Sin Wan tersenyum walau pun dia merasa heran akan kekasaran gadis ini.

"Akan tetapi biar namamu jelek, engkau seorang yang amat baik dan aku suka padamu, Sin Wan. Aku belum pernah mempunyai seorang kawan yang baik, dan aku senang sekali mendapatkan seorang kawan seperti engkau. Aku... ahhh..."

Melihat gadis itu terkulai lantas jatuh terduduk di atas rumput sambil menekan kepalanya dengan tangan kiri, Sin Wan terkejut dan dia pun cepat berlutut di dekatnya.

"Lili, kau kenapakah...?" tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa..." Lili yang tidak pernah mau kelihatan lemah itu mengerahkan tenaganya dan dia mencoba untuk bangkit berdiri. Akan tetapi begitu dia berdiri, tubuhnya langsung terkulai dan dia tentu sudah roboh kalau saja tidak cepat dirangkul oleh Sin Wan.