Social Items

BEGITU Sin Wan mencabut sebatang pedang yang butut, buruk rupa, tidak tajam juga tidak runcing itu, sembilan orang itu menahan kegelian hati mereka. Agaknya pedang pemuda itu adalah senjata yang belum jadi! Bagaimana dengan pedang buruk semacam itu akan menghadapi pedang naga mereka? Pedang mereka yang terhias ukiran naga itu terbuat dari baja yang amat kuat dan ampuh, juga amat tajam dan runcing!

Sebagai tokoh-tokoh tingkat tinggi yang kedudukannya hanya di bawah dewan pimpinan yang menjadi pembantu-pembantu ketua, diam-diam mereka pun merasa ragu dan agak sungkan untuk mengeroyok seorang pemuda yang hanya bersenjata semacam itu. Akan tetapi namanya juga kiam-tin (barisan pedang), karena itu kurang satu saja sudah menjadi tidak lengkap dan kacau. Maka kini mereka merasa ragu dan bingung.

"Sin-sicu, engkau masih muda dan kami merasa sayang sekali kalau sampai sicu terluka di dalam pertandingan ini, karena pedang tidak mempunyai mata. Apakah tidak sebaiknya kalau sicu mundur saja dan membiarkan paman guru sicu yang maju?" kata pula si tinggi kurus.

Dari tempat dia menonton di bawah pohon, Kui Siang bangkit berdiri. Gadis ini tidak biasa memperlihatkan kemarahan dan dia pun bukan seorang gadis galak, akan tetapi sekarang dia tidak dapat menahan kemarahannya. "Heiii, kalian ini sungguh tidak tahu malu! Kalau sudah berani maju mengeroyok, kenapa pakai segala macam alasan lagi? Kalau memang tidak berani, lekas mundur saja tanpa perlu banyak cakap lagi!"

Sin Wan merasa tak enak mendengar ucapan sumoi-nya yang cukup pedas itu. Dia cepat menjura kepada sembilan orang itu. "Paman sekalian, aku telah siap, segera mulailah dan jangan khawatir, aku tidak akan menyesal dan tidak akan menyalahkan kalian kalau aku terluka atau mati di dalam pertandingan ini."

Sembilan orang itu langsung membuat gerakan mengepung Sin Wan. Mereka melangkah secara teratur mengelilingi pemuda itu yang berdiri di tengah dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Sin Wan selalu ingat akan pesan kakek Bu Lee Ki bahwa dia harus menghindarkan kepungan sembilan orang itu.

Kini sembilan orang itu mempercepat langkah mereka setengah berlari mengitarinya, dan Sin Wan sudah memperhitungkan bagaimana caranya untuk membobol kepungan atau keluar dari kepungan itu. Dia tahu bahwa begitu dia bergerak menyerang ke suatu arah, tentu dia akan disambut dengan serangan dari depan, kanan kiri dan belakang. Maka dia pun diam saja menanti sampai para pengeroyok membuat gerakan terlebih dulu sebelum dia mengambil keputusan apa yang akan dia lakukan.

Mendadak si tinggi kurus yang menjadi pemimpin dari barisan pedang itu mengeluarkan teriakan sebagai aba-aba serangan, lalu sembilan orang itu pun serentak menggerakkan senjata mereka dan menyerang ketengah. Gerakan barisan pedang ini sungguh teratur sehingga biar pun sembilan orang menyerang bersama dalam waktu yang berbarengan, namun serangan itu tidak menjadi kacau.

Seluruh bagian tubuh Sin Wan dari kepala sampai ke kaki menghadapi serangan yang rata-rata sangat cepat datangnya serta mengandung tenaga dahsyat sehingga terdengar bunyi berdesing-desing dan nampak sinar pedang menyambar-nyambar.

Akan tetapi mereka melihat bayangan berkelebat dan pemuda yang tadi berada di tengah kepungan mereka tahu-tahu sudah lenyap melompat ke atas dan melampaui kepala dua orang pengeroyok, kemudian pemuda itu sudah berada di luar kepungan. Mereka semua langsung membalikkan tubuh dan melihat pemuda itu sudah berdiri dengan tenang seperti tadi, dengan pedang yang jelek itu di tangan, akan tetapi di luar kepungan.

Si tinggi kurus kembali mengeluarkan teriakan nyaring, dan dengan cepatnya barisan itu telah mengepung kembali, gerakan mereka cepat dan teratur, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan untuk menghindarkan diri dari kepungan. Sekarang sembilan orang itu kembali berlari-lari mengelilinginya dan terkejutlah Sin Wan melihat betapa kepungan itu bergerak secara aneh, ada yang berlari dari kiri ke kanan dan ada yang dari kanan ke kiri!

Barisan sembilan orang itu berlari saling berlawanan dan terbagi menjadi dua susun, akan tetapi jumlah mereka masih tetap sembilan. Tentu saja hal ini membuat Sin Wan bingung karena sulit baginya untuk menglkuti gerakan simpang siur itu dengan pandang matanya. Namun dia masih bersikap tenang saja, menanti sampai pihak lawan melakukan serangan lagi.

Dia tahu bahwa sekali ini tentu para pengeroyok tidak akan membiarkan dia melakukan loncatan seperti tadi untuk keluar dari kepungan. Sin Wan lalu memperhatikan barisan itu dan mendapat kenyataan bahwa lima orang berada di depan dan empat orang lainnya di belakang. Maka mengertilah dia bahwa lima orang itu yang akan menyerangnya, ada pun yang empat orang menjaga kalau dia melompat ke atas, tentu mereka akan menyambut dengan lompatan dari empat penjuru untuk menyerang selagi tubuhnya berada di udara. Hal itu akan dapat membahayakan dirinya!

Serangan ke dua itu datang dan seperti yang diduganya semula, lapisan pertama yang di depan menyerangnya. Lima orang menyerang dengan pedang mereka dari lima penjuru. Sin Wan terpaksa memutar pedangnya menangkis. Lima orang itu terkejut karena pedang mereka segera terpental begitu bertemu dengan pedang tumpul pemuda itu. Akan tetapi, begitu pedang mereka tertangkis dan terpental, mereka langsung melangkah mundur lalu dari belakang mereka, empat orang yang lainnya menyusulkan serangan kilat dari empat penjuru.

Kembali Sin Wan menggerakkan pedangnya menangkis. Akan tetapi lima orang pertama sudah menerjang lagi sehingga dia dihujani serangan yang dilakukan serentak oleh empat orang dan lima orang. Sin Wan maklum bahwa dalam menghadapi pengeroyokan banyak orang, apa bila hanya melindungi diri saja tanpa balas menyerang, maka akhirnya dia akan terkena juga atau setidaknya dia akan terancam bahaya. Biar pun dia sudah menduga sebelumnya, namun ketika lima orang menyerangnya lagi, dia sengaja meloncat ke atas untuk menghindarkan diri dari kepungan.

Benar saja, empat orang yang mengepung di lapisan kedua sudah berlompatan pula dan menyambutnya dengan serangan pedang selagi tubuhnya masih berada di atas! Terpaksa Sin Wan turun kembali dan dia masih tetap berada di dalam kepungan! Ketika diserang di atas tadi, dia pun memutar pedang menangkis, maka tubuhnya turun kembali ke bawah dan begitu turun, lima orang sudah menyambutnya dengan gelombang serangan baru.

Dia harus membalas, demikian pikirnya. Itulah satu-catunya cara untuk membebaskan diri dari tekanan! Sin Wan lantas bergerak cepat, memainkan pedang tumpulnya dan bersilat dengan ilmu silatnya yang baru dipelajarinya dari Ciu-sian, yaitu Sam-sian Sin-ciang yang dimainkan dengan pedang tumpul secara aneh dan dahsyat bukan main. Apa lagi ilmu ini mempergunakan langkah-langkah ajaib Hui-niau Poan-soan sehingga gerakannya seperti seekor burung walet saja.

Menghadapi serangan balasan Sin Wan yang gerakannya sangat cepat ini, lima orang itu menjadi sibuk sekali dan gerakan mereka kacau. Si tinggi kurus mengeluarkan seruan dan barisan itu kembali menjadi satu lapis terdiri dari sembilan orang. Kepungan itu melonggar akan tetapi Sin Wan kembali menghadapi sembilan batang pedang yang bergerak dengan berbareng dan serentak.

Melihat perubahan ini, Sin Wan melompat lagi dan dia pun berhasil keluar dari kepungan seperti tadi, namun sekali ini dia tidak tinggal diam melainkan segera membalas dengan menyerang balik dari luar kepungan!

Barisan itu menjadi buyar dan dua orang pengeroyok terpelanting oleh dorongan tangan kiri Sin Wan. Si tinggi kurus kembali mengeluarkan aba-aba dan sekarang sembilan orang itu berbaris tiga-tiga! Dan ketika mereka menyerang, maka serangan itu seperti datangnya gelombang samudera, pertama tiga orang menyerang, kemudian disusul tiga orang lain, dan akhirnya tiga orang lagi.

Menghadapi gelombang serangan ini, Sin Wan kembali terdesak. Dia tahu bahwa kalau dia mengalah terus, maka dia akan selalu terdesak. Begitu gelombang ke tiga dapat dia hindarkan dengan loncatan ke samping, dia pun langsung membalik dan kini dialah yang menyerang sebelum sembilan orang itu menyusun kembali barisan mereka.

Tubuh Sin Wan bergerak cepat sekali, pedang tumpul mengeluarkan bunyi mengaung dan berubah menjadi gulungan sinar kehijauan yang besar dan dari situ kadang kala mencuat sinar hijau dari ujung pedang. Setiap kali sinar itu meluncur maka seorang pengeroyok roboh tertotok dan meski pun yang lain berusaha untuk menangkis dan mengelak, namun pedang tumpul itu selalu berhasil merobohkan sasaran, dibantu oleh tangan kiri Sin Wan yang mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang).

Akan tetapi dia mengendalikan tenaganya sehingga dia hanya menotok roboh para pengeroyoknya, tanpa melukai sama sekali apa lagi membunuh. Kembali kemenangan Sin Wan disambut tepuk tangan riuh oleh lima orang perwira yang menjadi tamu Ang-kin Kai-pang. Sin Wan memberi hormat kepada tujuh orang pimpinan perkumpulan itu.

"Maafkan saya," katanya, kemudian dia pun mundur mendekati sumoi dan kakek Bu Lee Ki yang mengangguk-angguk senang.

Tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang bangkit dari tempat duduk mereka, menghampiri sembilan orang pembantu mereka dan membebaskan mereka dari pengaruh totokan yang membuat mereka tak mampu bergerak. Kemudian, dengan muka merah karena merasa penasaran melihat para pembantu utama mereka kembali mengalami kekalahan, mereka menghadap ke arah kakek Bu Lee Ki. Kini sikap mereka lunak, bahkan bersikap hormat kepada kakek itu. Si jenggot panjang yang kedudukannya sebagai wakil ketua dan menjadi pemimpin enam orang sute-nya segera memberi hormat.

"Kiranya dua orang murid keponakan locianpwe adalah orang-orang yang amat lihai. Kami yakin bahwa locianpwe sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi, maka harap maafkan kalau anak-anak buah kami bersikap kurang hormat. Sebagai persyaratan terakhir, kalau locianpwe mampu melewati kami bertujuh, kami akan mempersilakan locianpwe dan dua orang muda gagah ini untuk masuk sebagai tamu-tamu kehormatan kami."

Kakek itu bangkit berdiri dengan sikap ogah-ogahan, menggeliat dan berjalan tertatih-tatih menghampiri tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengomel. "Aihh, anak-anak ini sungguh rewel, main-main dengan orang tua seperti aku. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah cekcok dengan orang, bertengkar pun belum pernah, apa lagi sampai berkelahi. Sekarang begini saja. Apa bila kalian bertujuh mampu merampas capingku ini, biar aku mengaku kalah dan sebaliknya aku akan mencoba untuk mengambil sabuk merah kalian!”

Tantangan kakek itu membuat tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang menjadi tertegun. Si jenggot panjang yang bernama Ciok An dan merupakan wakil ketua Ang-kin Kai-pang, diam-diam amat terkejut. Kalau kakek itu berani menantang seperti itu, jelas bahwa tentu kepandaiannya hebat sekali. Tak akan mudah melindungi caping lebar yang tergantung di punggung dengan tali mengalungi leher itu dari sergapan tujuh orang, dan lebih sukar lagi merampas sabuk-sabuk merah mereka bertujuh yang mengikat pinggang.

Karena menduga bahwa kakek ini tentu sakti dan merupakan tokoh besar dunia persilatan yang belum dikenalnya, maka dia pun tidak ingin kalau sampai dia dan kawan-kawannya kesalahan tangan. Oleh karena itu dia pun menerima baik tantangan itu dengan hati lega karena kemungkinan kesalahan tangan melukai lawan akan lebih kecil dibandingkan kalau bertanding dengan senjata.

“Baik, kami mohon petunjuk locianpwe,” katanya merendah.

Kemudian dia memberi isyarat kepada enam orang sute-nya untuk mulai bergerak. Begitu mereka bergerak, mudah saja dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian ketujuh orang ini jauh lebih lihai jika dibandingkan dengan sembilan orang yang tadi mengeroyok Sin Wan. Gerakan mereka selain cepat juga mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Tujuh orang yang dipimpin Ciok An itu merupakan pimpinan Ang-kin Kai-pang, sedangkan Ciok An sendiri yang berjenggot panjang adalah wakil ketua. Tentu saja kepandaiannya dan enam orang sute-nya itu sudah mencapai tingkat tinggi. Begitu bergerak, mereka itu masing-masing melancarkan serangan dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain berusaha merampas caping yang tergantung di punggung Bu Lee Ki.

Akan tetapi tubuh kakek yang bertubuh sedang dan kurus itu seolah-olah berubah menjadi bayangan saja. Dia menggunakan langkah-langkah aneh dari ilmu Langkah Angin Puyuh dan tubuhnya yang hanya kelihatan seperti bayangan itu menyelinap di antara sambaran tujuh pasang tangan itu. Ada kalanya ia menangkis dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang tersentuh lengannya terhuyung ke belakang hampir roboh!

“He-heh-heh, kalian anak-anak nakal! Caping butut seperti ini untuk berebutan! Nah, awas pegangi itu celana agar jangan merosot ke bawah kalau sabuknya kuambil,” kata kakek itu terkekeh.

Mendengar ini, tujuh orang itu bersiap siaga supaya jangan sampai sabuk mereka dapat diambil kakek itu. Menurut pendapat mereka, sebetulnya hal ini tidak mungkin. Pertama, mereka cukup tangguh, apa lagi kalau hanya melindungi sabuk sutera, dan kedua, sabuk itu melilit pinggang mereka kuat-kuat. Bagaimana mungkin dapat dirampas?

Mendadak kakek itu membuat gerakan aneh. Tubuhnya yang tadi berputar-putar itu kini berputar semakin cepat dan tubuhnya bagaikan gasing saja, tidak tentu ke mana arahnya sehingga membingungkan para pengeroyoknya. Lantas tiba-tiba terdengar teriakan susul menyusul karena seorang demi seorang harus memegangi celana mereka supaya tidak merosot.

Entah bagaimana caranya, sabuk sutera merah yang melilit pinggang mereka itu tiba-tiba saja meninggalkan pinggang seperti berubah menjadi ular hidup saja dan sudah berada di tangan kakek Bu Lee Ki! Setelah semua sabuk terampas, tujuh orang itu berdiri dengan mata terbelalak, memegang celana sambil memandang ke arah kakek itu yang berdiri dan tertawa-tawa memegang tujuh helai sabuk merah dan diangkatnya tinggi-tinggi.

Kembali lima orang perwira tinggi itu bertepuk tangan memuji. Sekali ini mereka agaknya benar-benar kagum karena sekarang mereka berlima bangkit berdiri dari tempat duduk mereka. Pada saat itu pula beberapa orang anggota Ang-kin Kai-pang yang berada di luar berseru,

"Pangcu datang...!"

Suasana menjadi sangat menegangkan bagi semua orang ketika mendengar bahwa ketua mereka datang, dan giranglah hati Ciok An dan para sute-nya karena tentu ketua mereka yang lihai akan mampu menebus kekalahan mereka yang membuat mereka merasa malu dan penasaran.

Ternyata orang yang muncul dari luar ini justru lebih muda dibandingkan Ciok An dan para sute-nya. Usianya sekitar empat puluh tahun dan wajahnya bersih dan tampan, tanpa ada kumis dan jenggot. Tubuhnya tegap dan nampak gesit, pakaiannya juga amat sederhana, berwama biru muda dan seperti juga semua anggota Ang-kin Kai-pang, di pinggangnya terlilit sehelai sabuk sutera, hanya warna merahnya yang berbeda karena warna merah sabuknya lebih tua dari pada yang lain.

Sejak di luar tadi ketua ini telah mendengar dari anak buahnya bahwa ada seorang kakek pengemis asing dan dua orang murid keponakannya mengacau di situ dan mengalahkan semua pimpinan Ang-kin Kai-pang. Mendengar ini, dia cepat melangkah maju dan dengan suara berwibawa dia berseru nyaring.

"Siapa yang berani mengacau di Ang-kin Kai-pang?"

Dengan tangan kiri masih memegangi celana agar tak merosot, Ciok An cepat menjawab, “Pangcu, locianpwe ini memaksa hendak bertemu dengan pangcu dan kami semua telah dikalahkannya."

"Heh-heh-heh, jangan merengek! Nih, kukembalikan sabuk kalian!" Dan begitu kakek itu melemparkan sabuk-sabuk merah itu, nampak tujuh sinar merah melayang ke arah tujuh orang pimpinan itu dan mereka pun menyambut sabuk-sabuk mereka dengan tangan.

Akan tetapi mereka menyeringai karena ketika menangkap sabuk-sabuk yang melayang ke arah mereka itu, mereka merasa betapa telapak tangan mereka nyeri bagai dicambuk. Dengan menahan rasa nyeri, mereka cepat melilitkan kembali sabuk mereka di pinggang.

Sementara itu Thio Sam Ki, yaitu ketua Ang-kin Kai-pang, memandang ke arah kakek Bu Lee Ki lantas dia mengeluarkan seruan heran, kemudian bergegas menghampiri. Mereka kini berhadapan. Bu Lee Ki masih terkekeh sedangkan ketua Ang-kin Kai-pang terbelalak.

"Locianpwekah ini...? Benarkah... locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki...?"

Kakek itu terkekeh. "Heh-heh-heh, kiranya engkau yang menjadi ketua Ang-kin Kai-pang ini, Thio Sam Ki! Bagus, pantas saja kai-pang ini demikian maju dan baik, kiranya engkau yang menjadi ketuanya, ha-ha-ha-ha!"

"Ahh, locianpwe, semuanya ini berkat petunjuk yang pernah saya terima dari locianpwe. Betapa bahagia rasa hati saya melihat locianpwe ternyata masih dalam keadaan sehat. Locianpwe, terimalah hormat saya!" Dan ketua Ang-kin Kai-pang itu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan kakek itu!

Ketika tadi mendengar disebutnya nama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki oleh ketua Ang-kin Kai-pang, semua orang sudah terbelalak kaget. Sekarang melihat ketua mereka berlutut memberi hormat, tanpa diperintah lagi seluruh pimpinan serta anggota Ang-kin Kai-pang yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek itu! Siapa yang tak kaget mendengar bahwa kakek itu adalah Thai-pangcu (Ketua Besar) dari seluruh kai-pang? Kakek itu adalah ‘datuk’ seluruh pengemis yang dikabarkan menghilang selama bertahun-tahun.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Bu Lee Ki mengangkat kedua tangannya ke atas. "Wah .. wah, bangkitlah kalian semua. Aku datang untuk melihat-lihat keadaan dan kini dapat kunyatakan bahwa engkau sudah berhasil, Thio Sam Ki. Nampaknya Ang-kin Kai-pang mampu mempertahankan namanya sebagai pejuang-pejuang yang gagah, tidak menyeleweng ke jalan sesat!"

Thio Sam Ki bangkit berdiri, diturut semua anggotanya dan wajahnya berseri. "Semua ini berkat bimbingan locianpwe, dan berkat bantuan dari yang mulia Raja Muda Yung Lo!" Lalu dia memandang kepada tujuh orang pembantunya sambil tersenyum. "Apakah kalian ini sudah buta, berani mencoba-coba kepandaian locianpwe Bu Lee Ki!"

Sementara itu, sesudah melihat dan mendengar semua ini, lima orang perwira itu saling pandang dan mereka tampak gembira sekali. Seorang di antara mereka yang berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh-tinggi besar, segera maju memberi hormat kepada Bu Lee Ki.

"Kiranya locianpwe adalah Thai-pangcu yang terkenal itu. Kami merasa beruntung dapat bertemu locianpwe dan kami mengucapkan selamat atas berkumpulnya kembali seorang pemimpin besar dengan anak buahnya." Dia lalu memberi hormat kepada Thio Sam Ki dan berkata, "Kami mengucapkan selamat kepada Thio-pangcu yang telah dapat bertemu dengan pemimpin besarnya. Kami berlima mohon diri karena sudah cukup lama berada di sini dan terima kasih atas segala keramahan Ang-kin Kai-pang."

Lima orang perwira itu lalu keluar dari situ dan lima orang anggota Ang-kin Kai-pang telah mempersiapkan kuda tunggangan mereka. Sesudah mereka pergi, Thio Sam Ki memandang kepada Sin Wan dan Kui Siang, lalu bertanya kepada Bu Lee Ki,

"Saya mendengar bahwa kedua orang adik yang gagah ini adalah murid-murid keponakan locianpwe, harap suka memperkenalkan mereka kepada saya."

Bu Lee Ki tersenyum. "Mereka adalah murid-murid dari Sam-sian, boleh dibilang murid keponakanku sendiri. Pemuda ini bernama Sin Wan dan nona itu bernama Lim Kui Siang dari Nan-king. Sin Wan dan Kui Siang, ini adalah Thio Sam Ki ketua Ang-kin Kai-pang, tak kusangka bahwa dia yang menjadi ketua di sini."

Dua orang itu saling memberi hormat dengan Thio Sam Ki yang merasa kagum kepada mereka karena sudah mendengar betapa mereka ini sudah menang dengan mudahnya. Gadis cantik itu sudah mengalahkan barisan Enam Tongkat Merah, bahkan pemuda itu mengalahkan barisan Sembilan Pedang Naga. Hebat! Apa lagi sesudah tadi mendengar keterangan dari Bu Lee Ki bahwa mereka adalah murid-murid Sam-sian, kekagumannya semakin bertambah.

"Dahulu saya hanyalah anggota pengemis biasa di Ang-kin Kai-pang, akan tetapi berkat bimbingan locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki maka akhirnya saya dapat menjadi ketua. Locianpwe, marilah kita bicara di dalam." Ketua itu lalu memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan pesta penyambutan kepada pemimpin besar para kai-pang itu.

Dalam perjamuan meja panjang di mana duduk Bu Lee Ki, Sin Wan beserta Kui Siang sebagai tamu kehormatan, dan Thio Sam Ki bersama tujuh orang pembantunya sebagai tuan rumah, Bu Lee Ki dengan tenang dan sabar mendengarkan semua keterangan yang diberikan Thio Sam Ki tentang perkembangan dunia kai-pang semenjak penjajah Mongol diusir dan pemerintah Kerajaan Beng memegang kekuasaan.

Dahulunya Ang-kin Kai-pang juga terbawa menyeleweng oleh ketuanya yang lama yang bernama Boan Kin. Melihat keadaan yang kacau akibat perang, Boan Kin bersama para pendukungnya yang menjadi kaki tangannya dan berjumlah dua puluh orang lebih lantas membawa Ang-kin Kai-pang keluar dari jalan benar dan mulai melakukan pemerasan dan penindasan terhadap masyarakat di Peking dengan dalih bahwa Ang-kin Kai-pang sudah berjasa dalam perjuangan menumbangkan penjajah Mongol sehingga sudah sepantasnya kalau mendapatkan imbalan jasa. Boan Kin dan kaki tangannya merupakan gerombolan yang merajalela di Peking dan amat ditakuti oleh rakyat karena mereka tidak segan-segan mempergunakan kekerasan dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka.

Thio Sam Ki yang menjadi anggota Ang-kin Kai-pang dan para pengemis lain yang berjiwa bersih, tentu saja tidak menyetujui langkah yang diambil ketua mereka. Biar pun Thio Sam Ki sendiri sudah memiliki ilmu silat yang tinggi dan kiranya tidak akan kalah oleh Boan Kin karena dia pernah dibimbing langsung oleh Pek-sim Lo-kai, akan tetapi dia tidak berdaya mengingat bahwa Boan Kin mempunyai dua puluh lebih kaki tangan yang tentu saja tidak mungkin dapat dia atasi.

Akhirnya, sesudah Raja Muda Yung Lo mulai melakukan penertiban dengan tangan besi, melakukan pembersihan terhadap para penjahat, Thio Sam Ki mendapat dukungan dari raja muda ini. Dengan bantuan pasukan, Thio Sam Ki berhasil membunuh Boan Kin dan kaki tangannya lalu dia pun diangkat sebagai ketua baru oleh semua sisa anggota Ang-kin Kai-pang dan didukung sepenuhnya oleh Raja Muda Yung Lo.

"Demikianlah, locianpwe. Saya dipilih menjadi ketua baru Ang-kin Kai-pang, bukan karena saya berambisi untuk mencari kedudukan, melainkan semata-mata demi menolong Ang-kin Kai-pang dari cengkeraman orang jahat dan mengembalikan Ang-kin Kai-pang ke jalan yang benar." Thio Sam Ki mengakhiri ceritanya.

"Bagaimana dengan kai-pang yang lain-lainnya? Apakah keadaan di empat daerah masih seperti dahulu?" tanya Bu Lee Ki yang merasa senang melihat keadaan Ang-kin Kai-pang dan mulai tertarik untuk mengetahui keadaan dunia kai-pang yang dulu menjadi dunianya dan yang ditinggalkannya karena dia kecewa melihat penyelewengan para kai-pang.

"Setahu saya masih seperti dahulu, tidak ada pergantian ketua kecuali Ang-kin Kai-pang, locianpwe. Ketika saya diangkat menjadi ketua, tiga orang ketua dari kai-pang terbesar di barat, timur dan selatan datang memberi selamat. Kalau di utara yang menjadi kai-pang terbesar adalah Ang-kin Kai-pang maka di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang yang masih dipimpin oleh ketuanya yang dahulu, yaitu Kwee Cin. Di barat adalah Hek I Kai-pang yang dipimpin oleh Souw Kiat sebagai pangcu-nya, dan di timur Hwa I Kai-pang dipimpin Siok Cu."

Bu Lee Ki mengangguk-angguk. Ternyata tidak ada perubahan di tiga daerah itu, dan dia mengenal mereka karena mereka adalah bekas bawahannya. Ia pernah menjabat sebagai Thai-pangcu, yaitu ketua tertinggi yang dianggap sebagai pengawas dan penasehat bagi keempat kai-pang yang berkuasa.

"Apakah mereka juga masih menjaga kebersihan nama kai-pang masing-masing itu?" Dia bertanya, alisnya berkerut sebab dahulu dia melihat bahwa di antara mereka banyak yang terseret ke dalam kesesatan seperti halnya mendiang Boan Kin ketua Ang-kin Kai-pang yang lama, kecuali Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang yang seperti juga Thio Sam Ki, pernah menerima bimbingannya selama beberapa tahun.

"Yang saya ketahui hanya Hwa I Kai-pang saja yang kabarnya sekarang banyak berubah. Perkumpulan itu kini menjadi kaya raya dan kabarnya memiliki kekuasaan sangat besar. Ketuanya masih Siok Cu dan menurut berita yang saya terima, terjadi persaingan antara Hwa I Kai-pang dan Hek I Kai-pang. Saya merasa yakin sekali bahwa Souw-pangcu tetap mempertahankan Hek I Kai-pang sebagai kai-pang yang bersih dan gagah. Tentang Hwa I Kai-pang, banyak berita yang tidak menyenangkan."

Bu Lee Ki mengelus jenggotnya yang kacau dan putih. "Hemm, begitukah? Apakah Hwa I Kai-pang masih berpusat di Lok-yang?"

Thio Sam Ki membenarkan, lalu melanjutkan. "Satu bulan lagi akan diadakan pertemuan besar di Lok-yang antara pimpinan empat kai-pang, locianpwe, yaitu untuk membicarakan kepergian locianpwe dan kekosongan kedudukan Thai-pangcu. Dalam pertemuan itu akan diadakan pemilihan Thai-pangcu yang baru dan hal ini didukung pula oleh pemerintah."

"Pemerintah?"

"Benar sekali, locianpwe. Tentu locianpwe tadi melihat pula lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu di sini. Kami mempunyai hubungan yang baik sekali dengan para panglima, bahkan Raja Muda Yung Lo sangat memperhatikan kami. Demikian pula ayahanda beliau, Kaisar Thai-cu di Nan-king, kabarnya juga sangat memperhatikan kai-pang. Beliau tidak melupakan perjuangan para kai-pang, dan pemerintah yang menganjurkan agar diadakan pemilihan Thai-pangcu lagi untuk kelak mewakili para kai-pang dalam pemilihan Bengcu. Pemerintah bermaksud untuk mempersatukan seluruh tokoh dunia persilatan supaya tidak terjadi persaingan dan perpecahan sehingga kekuatan dunia persilatan bisa dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan demikian kehidupan menjadi tenteram."

"Bagus sekali!" Bu Lee Ki mengangguk-angguk dan wajahnya berseri. "Kalau kaisar dan pemerintahnya bijaksana dan baik, maka tidak sia-sia belaka bertahun-tahun rakyat turut berjuang melawan penjajah mengorbankan nyawa dan harta benda. Perjuangan tak akan berhasil tanpa bantuan rakyat karena yang berjuang adalah rakyat. Oleh sebab itu setelah perjuangan berhasil, para pimpinan sekali-kali tidak boleh melupakan tujuan semula dari perjuangan, yaitu membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan agar rakyat dapat hidup dalam keadaan tenteram dan adil makmur. Para pemimpin harus selalu menyadari bahwa tanpa rakyat, mereka bukan apa-apa, dan tanpa dukungan rakyat, setiap pemerintahan pasti akan rapuh dan jatuh.”

"Alangkah bahagianya kami apa bila selalu mendapatkan bimbingan dari locianpwe yang bijaksana," kata Thio Sam Ki terharu. “Pemilihan Thai-pangcu akan segera diadakan. Dan celakalah para kai-pang bila mana Ketua Besar dipegang oleh orang yang tidak bijaksana. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan para kai-pang dan dapat mengendalikan mereka supaya tak sempat terseret ke dalam kesesatan, kami mohon agar locianpwe suka kami calonkan kembali menjadi Thai-pangcu yang akan dipilih. Apa lagi selama ini Thai-pangcu masih dianggap pimpinan walau pun telah bertahun-tahun tidak muncul. Harap locianpwe tidak menolak."

"Baik, aku akan menghadiri rapat besar di Lok-yang itu dan kita lihat saja bagaimana perkembangannya kelak, apakah aku masih harus menyibukkan diri dengan kai-pang ataukah tidak perlu lagi," kata Bu Lee Ki lalu minum araknya.

Mereka bertiga tinggal di markas Ang-kin Kai-pang sebagai tamu kehormatan, dan pada malam harinya dengan wajah berseri Thio Sam Ki memperlihatkan sebuah sampul merah berisi surat undangan dari Raja Muda Yung Lo!

"Raja Muda mengundang kita, Locianpwe. Saya, Bu-locianpwe, Sin-taihiap dan Lim-lihiap diundang untuk makan malam di istana Raja Muda!” Ketua itu nampak amat gembira dan bangga bukan main.

Hati siapa yang tak akan merasa bangga menerima undangan makan malam dari seorang yang paling berkuasa di Peking, Raja Muda yang juga seorang putera kaisar itu? Selama ini dalam hubungannya dengan pemerintah, bahkan pada saat dia didukung untuk menjadi ketua, wakil pemerintah hanyalah para perwira tinggi saja dan belum pernah Thio Sam Ki bertemu langsung dengan raja muda itu, apa lagi diundang makan malam!

Sin Wan dan Kui Siang merasa heran sekali mendengar bahwa mereka pun ikut diundang raja muda, akan tetapi sesudah Thio-pangcu memperlihatkan surat undangan itu, di situ jelas tertulis pula nama Sin Wan dan Lim Kui Siang! Melihat keheranan dua orang muda itu, Thio-pangcu tersenyum.

"Taihiap dan lihiap tak perlu merasa heran. Raja Muda Yung Lo adalah seorang pangeran yang sejak dahulu amat menghargai orang-orang gagah di dunia persilatan, bahkan beliau sendiri seorang panglima yang gagah perkasa dan biar pun belum pernah ada yang berani mencohanya, namun kami mendengar bahwa beliau memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang hebat. Tentu para ciangkun (perwira) yang tadi menyaksikan kelihaian ji-wi (anda berdua) sudah melaporkan ke istana sehingga membuat Raja Muda Yung Lo tertarik dan mengirim undangan."

"Heh-heh-heh, memang nasib kita sedang mujur, Sin Wan dan Kui Siang. Begitu tiba di sini, kita selalu disambut dengan kehormatan dan terutama sekali dengan hidangan yang serba enak. Apa lagi kalau makan malam di istana, aduhh…, belum apa-apa aku sudah mengilar, walau pun tadi sudah makan kenyang, ha-ha-ha!"

Sin Wan yang selama hidupnya belum pernah melihat kemewahan dan keindahan yang luar biasa dari sebuah istana, tidak ada habisnya terkagum-kagum ketika dia bersama Kui Siang, kakek Bu Lee Ki dan Thio Sam Ki didahului pengawal memasuki istana Raja Muda Yung Lo. Kui Siang sendiri adalah seorang puteri bangsawan, oleh karena itu kemewahan gemerlapan itu tidak membuatnya merasa heran. Demikian pula dengan kakek Bu Lee Ki yang sudah memiliki banyak pengalaman itu. Bahkan Thio-pangcu sendiri pun terkagum-kagum.

Ketika mereka tiba di ruangan luas yang dipasangi banyak lampu sehingga keadaannya menjadi terang seperti siang itu, nampak Raja Muda Yung Lo telah duduk di situ. Agaknya raja muda ini sudah mendapat laporan dan sedang menunggu, ditemani oleh tiga orang panglimanya. Sebuah meja besar berada di situ, meja bundar yang bersih mengkilap.

Pada saat mereka berempat memasuki ambang pintu, seorang pengawal melapor dengan suaranya yang nyaring bahwa empat orang tamu undangan sudah tiba, lantas terdengar perintah raja muda itu supaya mereka dipersilakan masuk. Thio Sam Ki yang berjalan di depan, begitu memasuki ruangan itu dan melihat sang raja muda sedang duduk bersama tiga orang panglima besar yang telah dikenalnya, cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Raja Muda Yung Lo.

Akan tetapi kakek Bu Lee Ki tidak berlutut, hanya memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada lantas membungkuk sampai dalam. Sin Wan dan Kui Siang mengikuti perbuatan kakek itu, memberi hormat tanpa berlutut.

Melihat ini Thio-pangcu merasa khawatir, akan tetapi sebaliknya pangeran atau raja muda itu malah tersenyum dan menegurnya. "Tidak perlu berlutut, mari bangkitlah dan silakan kalian duduk," suaranya tegas dan nyaring, akan tetapi ramah.

Legalah hati Thio Sam Ki yang segera bangkit, kemudian dengan sikap hormat mereka melangkah maju dan duduk di atas kursi menghadapi Raja Muda Yung Lo di seberang meja. Sejenak mereka tak bicara, kemudian raja muda itu memberi isyarat dengan tangan kepada para pengawal agar keluar dari ruangan itu. Para pengawal keluar dan di situ kini tinggal Raja Muda Yung Lo, tiga orang panglima, serta empat orang tamu itu.

Kui Siang mengangkat muka untuk memandang kepada para bangsawan yang duduk di seberang meja bundar. Tiga orang panglima itu berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, bertubuh kekar dan nampak sangat berwibawa dalam pakaian panglima yang gemerlapan. Akan tetapi raja muda itu sendiri nampak masih muda. Tidak akan lebih dari tiga puluh tahun usianya dan wajahnya membayangkan kegagahan dan kecerdikan, wajah yang cukup tampan dan jantan.

Sepasang telinganya lebar dan panjang, merapat di kepala. Wajahnya berbentuk persegi panjang, dengan sedikit kumis dan cambangnya bersatu dengan jenggot, terpelihara rapi sehingga wajah itu nampak bersih. Matanya lebar dengan ujung sipit ke atas, dengan alis berbentuk golok. Hidungnya besar dan mancung, mulutnya membayangkan keramahan, akan tetapi dagunya menunjukkan bahwa dia seorang yang bersemangat dan keras hati.

Kepalanya tertutup topi dan pakaiannya ringkas walau pun gemerlapan, akan tetapi tidak terlalu mewah. Sepasang matanya itulah yang sangat menarik perhatian karena mata itu seperti mata burung elang rajawali yang amat tajam dan juga sangat berwibawa. Bahkan Kui Siang sendiri tak dapat bertahan lama beradu pandang dengan mata itu sehingga dia pun cepat menunduk kembali.

Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pria yang gagah perkasa dan jantan. Dia bukan seorang yang berwatak mata keranjang, biar pun sebagai seorang pria normal, dia tidak buta terhadap kecantikan wanita. Dia lebih mementingkan urusan pemerintahan, lebih mementingkan kedudukan ketimbang wanita.

Sebenarnya, ketika dia menjadi pangeran, nama kecilnya adalah Pangeran Yen dengan julukan Pangeran Cang On. Akan tetapi dia lebih suka mempergunakan nama Yung Lo, yaitu nama besar yang dipakainya setelah menjadi Raja Muda Yung Lo yang menguasai seluruh daerah utara. Dia bukan seorang pemimpin yang hanya mengatur siasat di balik tembok benteng dan di kamar yang mewah dalam istana. Dia adalah pemimpin yang maju sendiri memimpin pasukannya mengamuk apa bila sedang dalam pertempuran sehingga namanya terkenal dan dia dipuja-puja oleh pasukan dan rakyat sebagai seorang panglima yang gagah perkasa.

Akan tetapi kini, melihat Lim Kui Siang, raja muda itu terpesona. Bukan semata karena kecantikan Kui Siang, melainkan dia terkagum-kagum oleh kelihaian gadis itu. Dia sudah menerima laporan bahwa gadis ini seorang diri mampu mengalahkan enam orang tokoh Ang-kin Kai-pang yang mengeroyoknya, enam orang yang telah terkenal sebagai Barisan Tongkat Merah dari perkumpulan itu.

Dia sendiri sudah mempunyai seorang isteri yang cantik dan lima orang selir yang manis-manis, akan tetapi belum pernah dia bertemu seorang pendekar wanita muda yang cantik dan lihay seperti Kui Siang. Seketika hatinya tertarik dan timbul perasaan cintanya. Kalau dia dapat menarik gadis ini sebagai pendamping hidupnya, bukan saja dia mendapatkan seorang selir yang lain dari pada semua selirnya, melainkan juga mendapatkan seorang pengawal pribadi yang boleh diandalkan!

Sesudah berpandangan sejenak, dan tahu bahwa para tamu itu tentu tidak akan berani berbicara lebih dahulu sebelum ditegurnya. Raja Muda Yung Lo berkata dengan suaranya yang nyaring dan tegas. "Kami menerima laporan tentang locianpwe yang ternyata adalah Thai-pangcu, pemimpin besar para kai-pang yang selama bertahun-tahun ini menghilang. Kami sudah lama mendengar nama besar Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang sudah berjasa besar membantu perjuangan kami merobohkan penjajah Mongol. Sayang bahwa selama ini locianpwe pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali sehingga kami belum sempat memberi hadiah dan imbalan jasa kepadamu.”

Dari tempat duduknya kakek itu tersenyum, lantas memberi hormat kepada raja muda itu. “Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada hamba, Yang Mulia. Akan tetapi maafkan hamba karena hamba sama sekali tak mengharapkan hadiah atau imbalan jasa. Tentu paduka sudah lebih mengetahui bahwa berjuang demi kemerdekaan tanah air dan bangsa serta mengusir penjajah Mongol merupakan kewajiban setiap anak bangsa. Ketika hamba membantu perjuangan dan memimpin seluruh Kai-pang untuk menentang pasukan Mongol, dalam hati hamba seujung rambut pun tak ada pamrih untuk kemudian menuntut imbalan jasa.”

Raja Muda Yung Lo tertawa dan Kui Siang melihat betapa pria itu tampak jauh lebih muda ketika tertawa dan semua bentuk kekerasan yang menggores di wajah yang perkasa itu pun lenyap. Tahulah dia bahwa pada dasarnya raja muda itu adalah seorang yang lembut hati dan dia merasa semakin kagum.

“Ha-ha-ha, ucapanmu itu sudah kami duga sebelumnya, locianpwe. Memang demikianlah watak seorang pendekar, seorang pahlawan, yang selalu menjunjung kebajikan, membela kebenaran dan keadilan, tanpa pamrih sedikit pun untuk diri sendiri. Akan tetapi ketahuilah bahwa pemimpin bangsa yang baik dan bijaksana harus menghargai serta menghormati para pahlawan bangsa. Dan bagi kami, penghargaan kepada pahlawan yang masih hidup jauh lebih penting dari pada penghargaan terhadap pahlawan yang telah tewas dan gugur dengan sekedar kenangan untuk menghormati jasa mereka. Oleh karena itu kami selalu mencari para pendekar yang berjasa bukan sekedar untuk memberi penghargaan, akan tetapi juga mengajak mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bangsa. Perjuangan masih jauh dari pada selesai, locianpwe. Karena itu kami ingin sekali mengajak locianpwe bekerja sama!”

“Hamba mengerti, Yang Mulia. Memang, sebelum mati setiap orang tidak akan pernah terbebas dari pada perjuangan. Hidup ini perjuangan, yaitu menghadapi semua tantangan dan mengatasinya, bukan saja untuk diri sendiri, keluarga, bangsa bahkan manusia. Akan tetapi hamba sudah tua, Yang Mulia. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk membantu paduka? Tentu saja hamba selalu siap membantu asal sesuai dengan kemampuan hamba yang sudah tua ini...”

Si Pedang Tumpul Jilid 18

BEGITU Sin Wan mencabut sebatang pedang yang butut, buruk rupa, tidak tajam juga tidak runcing itu, sembilan orang itu menahan kegelian hati mereka. Agaknya pedang pemuda itu adalah senjata yang belum jadi! Bagaimana dengan pedang buruk semacam itu akan menghadapi pedang naga mereka? Pedang mereka yang terhias ukiran naga itu terbuat dari baja yang amat kuat dan ampuh, juga amat tajam dan runcing!

Sebagai tokoh-tokoh tingkat tinggi yang kedudukannya hanya di bawah dewan pimpinan yang menjadi pembantu-pembantu ketua, diam-diam mereka pun merasa ragu dan agak sungkan untuk mengeroyok seorang pemuda yang hanya bersenjata semacam itu. Akan tetapi namanya juga kiam-tin (barisan pedang), karena itu kurang satu saja sudah menjadi tidak lengkap dan kacau. Maka kini mereka merasa ragu dan bingung.

"Sin-sicu, engkau masih muda dan kami merasa sayang sekali kalau sampai sicu terluka di dalam pertandingan ini, karena pedang tidak mempunyai mata. Apakah tidak sebaiknya kalau sicu mundur saja dan membiarkan paman guru sicu yang maju?" kata pula si tinggi kurus.

Dari tempat dia menonton di bawah pohon, Kui Siang bangkit berdiri. Gadis ini tidak biasa memperlihatkan kemarahan dan dia pun bukan seorang gadis galak, akan tetapi sekarang dia tidak dapat menahan kemarahannya. "Heiii, kalian ini sungguh tidak tahu malu! Kalau sudah berani maju mengeroyok, kenapa pakai segala macam alasan lagi? Kalau memang tidak berani, lekas mundur saja tanpa perlu banyak cakap lagi!"

Sin Wan merasa tak enak mendengar ucapan sumoi-nya yang cukup pedas itu. Dia cepat menjura kepada sembilan orang itu. "Paman sekalian, aku telah siap, segera mulailah dan jangan khawatir, aku tidak akan menyesal dan tidak akan menyalahkan kalian kalau aku terluka atau mati di dalam pertandingan ini."

Sembilan orang itu langsung membuat gerakan mengepung Sin Wan. Mereka melangkah secara teratur mengelilingi pemuda itu yang berdiri di tengah dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Sin Wan selalu ingat akan pesan kakek Bu Lee Ki bahwa dia harus menghindarkan kepungan sembilan orang itu.

Kini sembilan orang itu mempercepat langkah mereka setengah berlari mengitarinya, dan Sin Wan sudah memperhitungkan bagaimana caranya untuk membobol kepungan atau keluar dari kepungan itu. Dia tahu bahwa begitu dia bergerak menyerang ke suatu arah, tentu dia akan disambut dengan serangan dari depan, kanan kiri dan belakang. Maka dia pun diam saja menanti sampai para pengeroyok membuat gerakan terlebih dulu sebelum dia mengambil keputusan apa yang akan dia lakukan.

Mendadak si tinggi kurus yang menjadi pemimpin dari barisan pedang itu mengeluarkan teriakan sebagai aba-aba serangan, lalu sembilan orang itu pun serentak menggerakkan senjata mereka dan menyerang ketengah. Gerakan barisan pedang ini sungguh teratur sehingga biar pun sembilan orang menyerang bersama dalam waktu yang berbarengan, namun serangan itu tidak menjadi kacau.

Seluruh bagian tubuh Sin Wan dari kepala sampai ke kaki menghadapi serangan yang rata-rata sangat cepat datangnya serta mengandung tenaga dahsyat sehingga terdengar bunyi berdesing-desing dan nampak sinar pedang menyambar-nyambar.

Akan tetapi mereka melihat bayangan berkelebat dan pemuda yang tadi berada di tengah kepungan mereka tahu-tahu sudah lenyap melompat ke atas dan melampaui kepala dua orang pengeroyok, kemudian pemuda itu sudah berada di luar kepungan. Mereka semua langsung membalikkan tubuh dan melihat pemuda itu sudah berdiri dengan tenang seperti tadi, dengan pedang yang jelek itu di tangan, akan tetapi di luar kepungan.

Si tinggi kurus kembali mengeluarkan teriakan nyaring, dan dengan cepatnya barisan itu telah mengepung kembali, gerakan mereka cepat dan teratur, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan untuk menghindarkan diri dari kepungan. Sekarang sembilan orang itu kembali berlari-lari mengelilinginya dan terkejutlah Sin Wan melihat betapa kepungan itu bergerak secara aneh, ada yang berlari dari kiri ke kanan dan ada yang dari kanan ke kiri!

Barisan sembilan orang itu berlari saling berlawanan dan terbagi menjadi dua susun, akan tetapi jumlah mereka masih tetap sembilan. Tentu saja hal ini membuat Sin Wan bingung karena sulit baginya untuk menglkuti gerakan simpang siur itu dengan pandang matanya. Namun dia masih bersikap tenang saja, menanti sampai pihak lawan melakukan serangan lagi.

Dia tahu bahwa sekali ini tentu para pengeroyok tidak akan membiarkan dia melakukan loncatan seperti tadi untuk keluar dari kepungan. Sin Wan lalu memperhatikan barisan itu dan mendapat kenyataan bahwa lima orang berada di depan dan empat orang lainnya di belakang. Maka mengertilah dia bahwa lima orang itu yang akan menyerangnya, ada pun yang empat orang menjaga kalau dia melompat ke atas, tentu mereka akan menyambut dengan lompatan dari empat penjuru untuk menyerang selagi tubuhnya berada di udara. Hal itu akan dapat membahayakan dirinya!

Serangan ke dua itu datang dan seperti yang diduganya semula, lapisan pertama yang di depan menyerangnya. Lima orang menyerang dengan pedang mereka dari lima penjuru. Sin Wan terpaksa memutar pedangnya menangkis. Lima orang itu terkejut karena pedang mereka segera terpental begitu bertemu dengan pedang tumpul pemuda itu. Akan tetapi, begitu pedang mereka tertangkis dan terpental, mereka langsung melangkah mundur lalu dari belakang mereka, empat orang yang lainnya menyusulkan serangan kilat dari empat penjuru.

Kembali Sin Wan menggerakkan pedangnya menangkis. Akan tetapi lima orang pertama sudah menerjang lagi sehingga dia dihujani serangan yang dilakukan serentak oleh empat orang dan lima orang. Sin Wan maklum bahwa dalam menghadapi pengeroyokan banyak orang, apa bila hanya melindungi diri saja tanpa balas menyerang, maka akhirnya dia akan terkena juga atau setidaknya dia akan terancam bahaya. Biar pun dia sudah menduga sebelumnya, namun ketika lima orang menyerangnya lagi, dia sengaja meloncat ke atas untuk menghindarkan diri dari kepungan.

Benar saja, empat orang yang mengepung di lapisan kedua sudah berlompatan pula dan menyambutnya dengan serangan pedang selagi tubuhnya masih berada di atas! Terpaksa Sin Wan turun kembali dan dia masih tetap berada di dalam kepungan! Ketika diserang di atas tadi, dia pun memutar pedang menangkis, maka tubuhnya turun kembali ke bawah dan begitu turun, lima orang sudah menyambutnya dengan gelombang serangan baru.

Dia harus membalas, demikian pikirnya. Itulah satu-catunya cara untuk membebaskan diri dari tekanan! Sin Wan lantas bergerak cepat, memainkan pedang tumpulnya dan bersilat dengan ilmu silatnya yang baru dipelajarinya dari Ciu-sian, yaitu Sam-sian Sin-ciang yang dimainkan dengan pedang tumpul secara aneh dan dahsyat bukan main. Apa lagi ilmu ini mempergunakan langkah-langkah ajaib Hui-niau Poan-soan sehingga gerakannya seperti seekor burung walet saja.

Menghadapi serangan balasan Sin Wan yang gerakannya sangat cepat ini, lima orang itu menjadi sibuk sekali dan gerakan mereka kacau. Si tinggi kurus mengeluarkan seruan dan barisan itu kembali menjadi satu lapis terdiri dari sembilan orang. Kepungan itu melonggar akan tetapi Sin Wan kembali menghadapi sembilan batang pedang yang bergerak dengan berbareng dan serentak.

Melihat perubahan ini, Sin Wan melompat lagi dan dia pun berhasil keluar dari kepungan seperti tadi, namun sekali ini dia tidak tinggal diam melainkan segera membalas dengan menyerang balik dari luar kepungan!

Barisan itu menjadi buyar dan dua orang pengeroyok terpelanting oleh dorongan tangan kiri Sin Wan. Si tinggi kurus kembali mengeluarkan aba-aba dan sekarang sembilan orang itu berbaris tiga-tiga! Dan ketika mereka menyerang, maka serangan itu seperti datangnya gelombang samudera, pertama tiga orang menyerang, kemudian disusul tiga orang lain, dan akhirnya tiga orang lagi.

Menghadapi gelombang serangan ini, Sin Wan kembali terdesak. Dia tahu bahwa kalau dia mengalah terus, maka dia akan selalu terdesak. Begitu gelombang ke tiga dapat dia hindarkan dengan loncatan ke samping, dia pun langsung membalik dan kini dialah yang menyerang sebelum sembilan orang itu menyusun kembali barisan mereka.

Tubuh Sin Wan bergerak cepat sekali, pedang tumpul mengeluarkan bunyi mengaung dan berubah menjadi gulungan sinar kehijauan yang besar dan dari situ kadang kala mencuat sinar hijau dari ujung pedang. Setiap kali sinar itu meluncur maka seorang pengeroyok roboh tertotok dan meski pun yang lain berusaha untuk menangkis dan mengelak, namun pedang tumpul itu selalu berhasil merobohkan sasaran, dibantu oleh tangan kiri Sin Wan yang mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang).

Akan tetapi dia mengendalikan tenaganya sehingga dia hanya menotok roboh para pengeroyoknya, tanpa melukai sama sekali apa lagi membunuh. Kembali kemenangan Sin Wan disambut tepuk tangan riuh oleh lima orang perwira yang menjadi tamu Ang-kin Kai-pang. Sin Wan memberi hormat kepada tujuh orang pimpinan perkumpulan itu.

"Maafkan saya," katanya, kemudian dia pun mundur mendekati sumoi dan kakek Bu Lee Ki yang mengangguk-angguk senang.

Tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang bangkit dari tempat duduk mereka, menghampiri sembilan orang pembantu mereka dan membebaskan mereka dari pengaruh totokan yang membuat mereka tak mampu bergerak. Kemudian, dengan muka merah karena merasa penasaran melihat para pembantu utama mereka kembali mengalami kekalahan, mereka menghadap ke arah kakek Bu Lee Ki. Kini sikap mereka lunak, bahkan bersikap hormat kepada kakek itu. Si jenggot panjang yang kedudukannya sebagai wakil ketua dan menjadi pemimpin enam orang sute-nya segera memberi hormat.

"Kiranya dua orang murid keponakan locianpwe adalah orang-orang yang amat lihai. Kami yakin bahwa locianpwe sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi, maka harap maafkan kalau anak-anak buah kami bersikap kurang hormat. Sebagai persyaratan terakhir, kalau locianpwe mampu melewati kami bertujuh, kami akan mempersilakan locianpwe dan dua orang muda gagah ini untuk masuk sebagai tamu-tamu kehormatan kami."

Kakek itu bangkit berdiri dengan sikap ogah-ogahan, menggeliat dan berjalan tertatih-tatih menghampiri tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengomel. "Aihh, anak-anak ini sungguh rewel, main-main dengan orang tua seperti aku. Sudah bertahun-tahun aku tidak pernah cekcok dengan orang, bertengkar pun belum pernah, apa lagi sampai berkelahi. Sekarang begini saja. Apa bila kalian bertujuh mampu merampas capingku ini, biar aku mengaku kalah dan sebaliknya aku akan mencoba untuk mengambil sabuk merah kalian!”

Tantangan kakek itu membuat tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang menjadi tertegun. Si jenggot panjang yang bernama Ciok An dan merupakan wakil ketua Ang-kin Kai-pang, diam-diam amat terkejut. Kalau kakek itu berani menantang seperti itu, jelas bahwa tentu kepandaiannya hebat sekali. Tak akan mudah melindungi caping lebar yang tergantung di punggung dengan tali mengalungi leher itu dari sergapan tujuh orang, dan lebih sukar lagi merampas sabuk-sabuk merah mereka bertujuh yang mengikat pinggang.

Karena menduga bahwa kakek ini tentu sakti dan merupakan tokoh besar dunia persilatan yang belum dikenalnya, maka dia pun tidak ingin kalau sampai dia dan kawan-kawannya kesalahan tangan. Oleh karena itu dia pun menerima baik tantangan itu dengan hati lega karena kemungkinan kesalahan tangan melukai lawan akan lebih kecil dibandingkan kalau bertanding dengan senjata.

“Baik, kami mohon petunjuk locianpwe,” katanya merendah.

Kemudian dia memberi isyarat kepada enam orang sute-nya untuk mulai bergerak. Begitu mereka bergerak, mudah saja dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian ketujuh orang ini jauh lebih lihai jika dibandingkan dengan sembilan orang yang tadi mengeroyok Sin Wan. Gerakan mereka selain cepat juga mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Tujuh orang yang dipimpin Ciok An itu merupakan pimpinan Ang-kin Kai-pang, sedangkan Ciok An sendiri yang berjenggot panjang adalah wakil ketua. Tentu saja kepandaiannya dan enam orang sute-nya itu sudah mencapai tingkat tinggi. Begitu bergerak, mereka itu masing-masing melancarkan serangan dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain berusaha merampas caping yang tergantung di punggung Bu Lee Ki.

Akan tetapi tubuh kakek yang bertubuh sedang dan kurus itu seolah-olah berubah menjadi bayangan saja. Dia menggunakan langkah-langkah aneh dari ilmu Langkah Angin Puyuh dan tubuhnya yang hanya kelihatan seperti bayangan itu menyelinap di antara sambaran tujuh pasang tangan itu. Ada kalanya ia menangkis dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang tersentuh lengannya terhuyung ke belakang hampir roboh!

“He-heh-heh, kalian anak-anak nakal! Caping butut seperti ini untuk berebutan! Nah, awas pegangi itu celana agar jangan merosot ke bawah kalau sabuknya kuambil,” kata kakek itu terkekeh.

Mendengar ini, tujuh orang itu bersiap siaga supaya jangan sampai sabuk mereka dapat diambil kakek itu. Menurut pendapat mereka, sebetulnya hal ini tidak mungkin. Pertama, mereka cukup tangguh, apa lagi kalau hanya melindungi sabuk sutera, dan kedua, sabuk itu melilit pinggang mereka kuat-kuat. Bagaimana mungkin dapat dirampas?

Mendadak kakek itu membuat gerakan aneh. Tubuhnya yang tadi berputar-putar itu kini berputar semakin cepat dan tubuhnya bagaikan gasing saja, tidak tentu ke mana arahnya sehingga membingungkan para pengeroyoknya. Lantas tiba-tiba terdengar teriakan susul menyusul karena seorang demi seorang harus memegangi celana mereka supaya tidak merosot.

Entah bagaimana caranya, sabuk sutera merah yang melilit pinggang mereka itu tiba-tiba saja meninggalkan pinggang seperti berubah menjadi ular hidup saja dan sudah berada di tangan kakek Bu Lee Ki! Setelah semua sabuk terampas, tujuh orang itu berdiri dengan mata terbelalak, memegang celana sambil memandang ke arah kakek itu yang berdiri dan tertawa-tawa memegang tujuh helai sabuk merah dan diangkatnya tinggi-tinggi.

Kembali lima orang perwira tinggi itu bertepuk tangan memuji. Sekali ini mereka agaknya benar-benar kagum karena sekarang mereka berlima bangkit berdiri dari tempat duduk mereka. Pada saat itu pula beberapa orang anggota Ang-kin Kai-pang yang berada di luar berseru,

"Pangcu datang...!"

Suasana menjadi sangat menegangkan bagi semua orang ketika mendengar bahwa ketua mereka datang, dan giranglah hati Ciok An dan para sute-nya karena tentu ketua mereka yang lihai akan mampu menebus kekalahan mereka yang membuat mereka merasa malu dan penasaran.

Ternyata orang yang muncul dari luar ini justru lebih muda dibandingkan Ciok An dan para sute-nya. Usianya sekitar empat puluh tahun dan wajahnya bersih dan tampan, tanpa ada kumis dan jenggot. Tubuhnya tegap dan nampak gesit, pakaiannya juga amat sederhana, berwama biru muda dan seperti juga semua anggota Ang-kin Kai-pang, di pinggangnya terlilit sehelai sabuk sutera, hanya warna merahnya yang berbeda karena warna merah sabuknya lebih tua dari pada yang lain.

Sejak di luar tadi ketua ini telah mendengar dari anak buahnya bahwa ada seorang kakek pengemis asing dan dua orang murid keponakannya mengacau di situ dan mengalahkan semua pimpinan Ang-kin Kai-pang. Mendengar ini, dia cepat melangkah maju dan dengan suara berwibawa dia berseru nyaring.

"Siapa yang berani mengacau di Ang-kin Kai-pang?"

Dengan tangan kiri masih memegangi celana agar tak merosot, Ciok An cepat menjawab, “Pangcu, locianpwe ini memaksa hendak bertemu dengan pangcu dan kami semua telah dikalahkannya."

"Heh-heh-heh, jangan merengek! Nih, kukembalikan sabuk kalian!" Dan begitu kakek itu melemparkan sabuk-sabuk merah itu, nampak tujuh sinar merah melayang ke arah tujuh orang pimpinan itu dan mereka pun menyambut sabuk-sabuk mereka dengan tangan.

Akan tetapi mereka menyeringai karena ketika menangkap sabuk-sabuk yang melayang ke arah mereka itu, mereka merasa betapa telapak tangan mereka nyeri bagai dicambuk. Dengan menahan rasa nyeri, mereka cepat melilitkan kembali sabuk mereka di pinggang.

Sementara itu Thio Sam Ki, yaitu ketua Ang-kin Kai-pang, memandang ke arah kakek Bu Lee Ki lantas dia mengeluarkan seruan heran, kemudian bergegas menghampiri. Mereka kini berhadapan. Bu Lee Ki masih terkekeh sedangkan ketua Ang-kin Kai-pang terbelalak.

"Locianpwekah ini...? Benarkah... locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki...?"

Kakek itu terkekeh. "Heh-heh-heh, kiranya engkau yang menjadi ketua Ang-kin Kai-pang ini, Thio Sam Ki! Bagus, pantas saja kai-pang ini demikian maju dan baik, kiranya engkau yang menjadi ketuanya, ha-ha-ha-ha!"

"Ahh, locianpwe, semuanya ini berkat petunjuk yang pernah saya terima dari locianpwe. Betapa bahagia rasa hati saya melihat locianpwe ternyata masih dalam keadaan sehat. Locianpwe, terimalah hormat saya!" Dan ketua Ang-kin Kai-pang itu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan kakek itu!

Ketika tadi mendengar disebutnya nama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki oleh ketua Ang-kin Kai-pang, semua orang sudah terbelalak kaget. Sekarang melihat ketua mereka berlutut memberi hormat, tanpa diperintah lagi seluruh pimpinan serta anggota Ang-kin Kai-pang yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek itu! Siapa yang tak kaget mendengar bahwa kakek itu adalah Thai-pangcu (Ketua Besar) dari seluruh kai-pang? Kakek itu adalah ‘datuk’ seluruh pengemis yang dikabarkan menghilang selama bertahun-tahun.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Bu Lee Ki mengangkat kedua tangannya ke atas. "Wah .. wah, bangkitlah kalian semua. Aku datang untuk melihat-lihat keadaan dan kini dapat kunyatakan bahwa engkau sudah berhasil, Thio Sam Ki. Nampaknya Ang-kin Kai-pang mampu mempertahankan namanya sebagai pejuang-pejuang yang gagah, tidak menyeleweng ke jalan sesat!"

Thio Sam Ki bangkit berdiri, diturut semua anggotanya dan wajahnya berseri. "Semua ini berkat bimbingan locianpwe, dan berkat bantuan dari yang mulia Raja Muda Yung Lo!" Lalu dia memandang kepada tujuh orang pembantunya sambil tersenyum. "Apakah kalian ini sudah buta, berani mencoba-coba kepandaian locianpwe Bu Lee Ki!"

Sementara itu, sesudah melihat dan mendengar semua ini, lima orang perwira itu saling pandang dan mereka tampak gembira sekali. Seorang di antara mereka yang berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh-tinggi besar, segera maju memberi hormat kepada Bu Lee Ki.

"Kiranya locianpwe adalah Thai-pangcu yang terkenal itu. Kami merasa beruntung dapat bertemu locianpwe dan kami mengucapkan selamat atas berkumpulnya kembali seorang pemimpin besar dengan anak buahnya." Dia lalu memberi hormat kepada Thio Sam Ki dan berkata, "Kami mengucapkan selamat kepada Thio-pangcu yang telah dapat bertemu dengan pemimpin besarnya. Kami berlima mohon diri karena sudah cukup lama berada di sini dan terima kasih atas segala keramahan Ang-kin Kai-pang."

Lima orang perwira itu lalu keluar dari situ dan lima orang anggota Ang-kin Kai-pang telah mempersiapkan kuda tunggangan mereka. Sesudah mereka pergi, Thio Sam Ki memandang kepada Sin Wan dan Kui Siang, lalu bertanya kepada Bu Lee Ki,

"Saya mendengar bahwa kedua orang adik yang gagah ini adalah murid-murid keponakan locianpwe, harap suka memperkenalkan mereka kepada saya."

Bu Lee Ki tersenyum. "Mereka adalah murid-murid dari Sam-sian, boleh dibilang murid keponakanku sendiri. Pemuda ini bernama Sin Wan dan nona itu bernama Lim Kui Siang dari Nan-king. Sin Wan dan Kui Siang, ini adalah Thio Sam Ki ketua Ang-kin Kai-pang, tak kusangka bahwa dia yang menjadi ketua di sini."

Dua orang itu saling memberi hormat dengan Thio Sam Ki yang merasa kagum kepada mereka karena sudah mendengar betapa mereka ini sudah menang dengan mudahnya. Gadis cantik itu sudah mengalahkan barisan Enam Tongkat Merah, bahkan pemuda itu mengalahkan barisan Sembilan Pedang Naga. Hebat! Apa lagi sesudah tadi mendengar keterangan dari Bu Lee Ki bahwa mereka adalah murid-murid Sam-sian, kekagumannya semakin bertambah.

"Dahulu saya hanyalah anggota pengemis biasa di Ang-kin Kai-pang, akan tetapi berkat bimbingan locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki maka akhirnya saya dapat menjadi ketua. Locianpwe, marilah kita bicara di dalam." Ketua itu lalu memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan pesta penyambutan kepada pemimpin besar para kai-pang itu.

Dalam perjamuan meja panjang di mana duduk Bu Lee Ki, Sin Wan beserta Kui Siang sebagai tamu kehormatan, dan Thio Sam Ki bersama tujuh orang pembantunya sebagai tuan rumah, Bu Lee Ki dengan tenang dan sabar mendengarkan semua keterangan yang diberikan Thio Sam Ki tentang perkembangan dunia kai-pang semenjak penjajah Mongol diusir dan pemerintah Kerajaan Beng memegang kekuasaan.

Dahulunya Ang-kin Kai-pang juga terbawa menyeleweng oleh ketuanya yang lama yang bernama Boan Kin. Melihat keadaan yang kacau akibat perang, Boan Kin bersama para pendukungnya yang menjadi kaki tangannya dan berjumlah dua puluh orang lebih lantas membawa Ang-kin Kai-pang keluar dari jalan benar dan mulai melakukan pemerasan dan penindasan terhadap masyarakat di Peking dengan dalih bahwa Ang-kin Kai-pang sudah berjasa dalam perjuangan menumbangkan penjajah Mongol sehingga sudah sepantasnya kalau mendapatkan imbalan jasa. Boan Kin dan kaki tangannya merupakan gerombolan yang merajalela di Peking dan amat ditakuti oleh rakyat karena mereka tidak segan-segan mempergunakan kekerasan dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka.

Thio Sam Ki yang menjadi anggota Ang-kin Kai-pang dan para pengemis lain yang berjiwa bersih, tentu saja tidak menyetujui langkah yang diambil ketua mereka. Biar pun Thio Sam Ki sendiri sudah memiliki ilmu silat yang tinggi dan kiranya tidak akan kalah oleh Boan Kin karena dia pernah dibimbing langsung oleh Pek-sim Lo-kai, akan tetapi dia tidak berdaya mengingat bahwa Boan Kin mempunyai dua puluh lebih kaki tangan yang tentu saja tidak mungkin dapat dia atasi.

Akhirnya, sesudah Raja Muda Yung Lo mulai melakukan penertiban dengan tangan besi, melakukan pembersihan terhadap para penjahat, Thio Sam Ki mendapat dukungan dari raja muda ini. Dengan bantuan pasukan, Thio Sam Ki berhasil membunuh Boan Kin dan kaki tangannya lalu dia pun diangkat sebagai ketua baru oleh semua sisa anggota Ang-kin Kai-pang dan didukung sepenuhnya oleh Raja Muda Yung Lo.

"Demikianlah, locianpwe. Saya dipilih menjadi ketua baru Ang-kin Kai-pang, bukan karena saya berambisi untuk mencari kedudukan, melainkan semata-mata demi menolong Ang-kin Kai-pang dari cengkeraman orang jahat dan mengembalikan Ang-kin Kai-pang ke jalan yang benar." Thio Sam Ki mengakhiri ceritanya.

"Bagaimana dengan kai-pang yang lain-lainnya? Apakah keadaan di empat daerah masih seperti dahulu?" tanya Bu Lee Ki yang merasa senang melihat keadaan Ang-kin Kai-pang dan mulai tertarik untuk mengetahui keadaan dunia kai-pang yang dulu menjadi dunianya dan yang ditinggalkannya karena dia kecewa melihat penyelewengan para kai-pang.

"Setahu saya masih seperti dahulu, tidak ada pergantian ketua kecuali Ang-kin Kai-pang, locianpwe. Ketika saya diangkat menjadi ketua, tiga orang ketua dari kai-pang terbesar di barat, timur dan selatan datang memberi selamat. Kalau di utara yang menjadi kai-pang terbesar adalah Ang-kin Kai-pang maka di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang yang masih dipimpin oleh ketuanya yang dahulu, yaitu Kwee Cin. Di barat adalah Hek I Kai-pang yang dipimpin oleh Souw Kiat sebagai pangcu-nya, dan di timur Hwa I Kai-pang dipimpin Siok Cu."

Bu Lee Ki mengangguk-angguk. Ternyata tidak ada perubahan di tiga daerah itu, dan dia mengenal mereka karena mereka adalah bekas bawahannya. Ia pernah menjabat sebagai Thai-pangcu, yaitu ketua tertinggi yang dianggap sebagai pengawas dan penasehat bagi keempat kai-pang yang berkuasa.

"Apakah mereka juga masih menjaga kebersihan nama kai-pang masing-masing itu?" Dia bertanya, alisnya berkerut sebab dahulu dia melihat bahwa di antara mereka banyak yang terseret ke dalam kesesatan seperti halnya mendiang Boan Kin ketua Ang-kin Kai-pang yang lama, kecuali Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang yang seperti juga Thio Sam Ki, pernah menerima bimbingannya selama beberapa tahun.

"Yang saya ketahui hanya Hwa I Kai-pang saja yang kabarnya sekarang banyak berubah. Perkumpulan itu kini menjadi kaya raya dan kabarnya memiliki kekuasaan sangat besar. Ketuanya masih Siok Cu dan menurut berita yang saya terima, terjadi persaingan antara Hwa I Kai-pang dan Hek I Kai-pang. Saya merasa yakin sekali bahwa Souw-pangcu tetap mempertahankan Hek I Kai-pang sebagai kai-pang yang bersih dan gagah. Tentang Hwa I Kai-pang, banyak berita yang tidak menyenangkan."

Bu Lee Ki mengelus jenggotnya yang kacau dan putih. "Hemm, begitukah? Apakah Hwa I Kai-pang masih berpusat di Lok-yang?"

Thio Sam Ki membenarkan, lalu melanjutkan. "Satu bulan lagi akan diadakan pertemuan besar di Lok-yang antara pimpinan empat kai-pang, locianpwe, yaitu untuk membicarakan kepergian locianpwe dan kekosongan kedudukan Thai-pangcu. Dalam pertemuan itu akan diadakan pemilihan Thai-pangcu yang baru dan hal ini didukung pula oleh pemerintah."

"Pemerintah?"

"Benar sekali, locianpwe. Tentu locianpwe tadi melihat pula lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu di sini. Kami mempunyai hubungan yang baik sekali dengan para panglima, bahkan Raja Muda Yung Lo sangat memperhatikan kami. Demikian pula ayahanda beliau, Kaisar Thai-cu di Nan-king, kabarnya juga sangat memperhatikan kai-pang. Beliau tidak melupakan perjuangan para kai-pang, dan pemerintah yang menganjurkan agar diadakan pemilihan Thai-pangcu lagi untuk kelak mewakili para kai-pang dalam pemilihan Bengcu. Pemerintah bermaksud untuk mempersatukan seluruh tokoh dunia persilatan supaya tidak terjadi persaingan dan perpecahan sehingga kekuatan dunia persilatan bisa dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan demikian kehidupan menjadi tenteram."

"Bagus sekali!" Bu Lee Ki mengangguk-angguk dan wajahnya berseri. "Kalau kaisar dan pemerintahnya bijaksana dan baik, maka tidak sia-sia belaka bertahun-tahun rakyat turut berjuang melawan penjajah mengorbankan nyawa dan harta benda. Perjuangan tak akan berhasil tanpa bantuan rakyat karena yang berjuang adalah rakyat. Oleh sebab itu setelah perjuangan berhasil, para pimpinan sekali-kali tidak boleh melupakan tujuan semula dari perjuangan, yaitu membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan agar rakyat dapat hidup dalam keadaan tenteram dan adil makmur. Para pemimpin harus selalu menyadari bahwa tanpa rakyat, mereka bukan apa-apa, dan tanpa dukungan rakyat, setiap pemerintahan pasti akan rapuh dan jatuh.”

"Alangkah bahagianya kami apa bila selalu mendapatkan bimbingan dari locianpwe yang bijaksana," kata Thio Sam Ki terharu. “Pemilihan Thai-pangcu akan segera diadakan. Dan celakalah para kai-pang bila mana Ketua Besar dipegang oleh orang yang tidak bijaksana. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan para kai-pang dan dapat mengendalikan mereka supaya tak sempat terseret ke dalam kesesatan, kami mohon agar locianpwe suka kami calonkan kembali menjadi Thai-pangcu yang akan dipilih. Apa lagi selama ini Thai-pangcu masih dianggap pimpinan walau pun telah bertahun-tahun tidak muncul. Harap locianpwe tidak menolak."

"Baik, aku akan menghadiri rapat besar di Lok-yang itu dan kita lihat saja bagaimana perkembangannya kelak, apakah aku masih harus menyibukkan diri dengan kai-pang ataukah tidak perlu lagi," kata Bu Lee Ki lalu minum araknya.

Mereka bertiga tinggal di markas Ang-kin Kai-pang sebagai tamu kehormatan, dan pada malam harinya dengan wajah berseri Thio Sam Ki memperlihatkan sebuah sampul merah berisi surat undangan dari Raja Muda Yung Lo!

"Raja Muda mengundang kita, Locianpwe. Saya, Bu-locianpwe, Sin-taihiap dan Lim-lihiap diundang untuk makan malam di istana Raja Muda!” Ketua itu nampak amat gembira dan bangga bukan main.

Hati siapa yang tak akan merasa bangga menerima undangan makan malam dari seorang yang paling berkuasa di Peking, Raja Muda yang juga seorang putera kaisar itu? Selama ini dalam hubungannya dengan pemerintah, bahkan pada saat dia didukung untuk menjadi ketua, wakil pemerintah hanyalah para perwira tinggi saja dan belum pernah Thio Sam Ki bertemu langsung dengan raja muda itu, apa lagi diundang makan malam!

Sin Wan dan Kui Siang merasa heran sekali mendengar bahwa mereka pun ikut diundang raja muda, akan tetapi sesudah Thio-pangcu memperlihatkan surat undangan itu, di situ jelas tertulis pula nama Sin Wan dan Lim Kui Siang! Melihat keheranan dua orang muda itu, Thio-pangcu tersenyum.

"Taihiap dan lihiap tak perlu merasa heran. Raja Muda Yung Lo adalah seorang pangeran yang sejak dahulu amat menghargai orang-orang gagah di dunia persilatan, bahkan beliau sendiri seorang panglima yang gagah perkasa dan biar pun belum pernah ada yang berani mencohanya, namun kami mendengar bahwa beliau memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang hebat. Tentu para ciangkun (perwira) yang tadi menyaksikan kelihaian ji-wi (anda berdua) sudah melaporkan ke istana sehingga membuat Raja Muda Yung Lo tertarik dan mengirim undangan."

"Heh-heh-heh, memang nasib kita sedang mujur, Sin Wan dan Kui Siang. Begitu tiba di sini, kita selalu disambut dengan kehormatan dan terutama sekali dengan hidangan yang serba enak. Apa lagi kalau makan malam di istana, aduhh…, belum apa-apa aku sudah mengilar, walau pun tadi sudah makan kenyang, ha-ha-ha!"

Sin Wan yang selama hidupnya belum pernah melihat kemewahan dan keindahan yang luar biasa dari sebuah istana, tidak ada habisnya terkagum-kagum ketika dia bersama Kui Siang, kakek Bu Lee Ki dan Thio Sam Ki didahului pengawal memasuki istana Raja Muda Yung Lo. Kui Siang sendiri adalah seorang puteri bangsawan, oleh karena itu kemewahan gemerlapan itu tidak membuatnya merasa heran. Demikian pula dengan kakek Bu Lee Ki yang sudah memiliki banyak pengalaman itu. Bahkan Thio-pangcu sendiri pun terkagum-kagum.

Ketika mereka tiba di ruangan luas yang dipasangi banyak lampu sehingga keadaannya menjadi terang seperti siang itu, nampak Raja Muda Yung Lo telah duduk di situ. Agaknya raja muda ini sudah mendapat laporan dan sedang menunggu, ditemani oleh tiga orang panglimanya. Sebuah meja besar berada di situ, meja bundar yang bersih mengkilap.

Pada saat mereka berempat memasuki ambang pintu, seorang pengawal melapor dengan suaranya yang nyaring bahwa empat orang tamu undangan sudah tiba, lantas terdengar perintah raja muda itu supaya mereka dipersilakan masuk. Thio Sam Ki yang berjalan di depan, begitu memasuki ruangan itu dan melihat sang raja muda sedang duduk bersama tiga orang panglima besar yang telah dikenalnya, cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Raja Muda Yung Lo.

Akan tetapi kakek Bu Lee Ki tidak berlutut, hanya memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada lantas membungkuk sampai dalam. Sin Wan dan Kui Siang mengikuti perbuatan kakek itu, memberi hormat tanpa berlutut.

Melihat ini Thio-pangcu merasa khawatir, akan tetapi sebaliknya pangeran atau raja muda itu malah tersenyum dan menegurnya. "Tidak perlu berlutut, mari bangkitlah dan silakan kalian duduk," suaranya tegas dan nyaring, akan tetapi ramah.

Legalah hati Thio Sam Ki yang segera bangkit, kemudian dengan sikap hormat mereka melangkah maju dan duduk di atas kursi menghadapi Raja Muda Yung Lo di seberang meja. Sejenak mereka tak bicara, kemudian raja muda itu memberi isyarat dengan tangan kepada para pengawal agar keluar dari ruangan itu. Para pengawal keluar dan di situ kini tinggal Raja Muda Yung Lo, tiga orang panglima, serta empat orang tamu itu.

Kui Siang mengangkat muka untuk memandang kepada para bangsawan yang duduk di seberang meja bundar. Tiga orang panglima itu berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, bertubuh kekar dan nampak sangat berwibawa dalam pakaian panglima yang gemerlapan. Akan tetapi raja muda itu sendiri nampak masih muda. Tidak akan lebih dari tiga puluh tahun usianya dan wajahnya membayangkan kegagahan dan kecerdikan, wajah yang cukup tampan dan jantan.

Sepasang telinganya lebar dan panjang, merapat di kepala. Wajahnya berbentuk persegi panjang, dengan sedikit kumis dan cambangnya bersatu dengan jenggot, terpelihara rapi sehingga wajah itu nampak bersih. Matanya lebar dengan ujung sipit ke atas, dengan alis berbentuk golok. Hidungnya besar dan mancung, mulutnya membayangkan keramahan, akan tetapi dagunya menunjukkan bahwa dia seorang yang bersemangat dan keras hati.

Kepalanya tertutup topi dan pakaiannya ringkas walau pun gemerlapan, akan tetapi tidak terlalu mewah. Sepasang matanya itulah yang sangat menarik perhatian karena mata itu seperti mata burung elang rajawali yang amat tajam dan juga sangat berwibawa. Bahkan Kui Siang sendiri tak dapat bertahan lama beradu pandang dengan mata itu sehingga dia pun cepat menunduk kembali.

Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pria yang gagah perkasa dan jantan. Dia bukan seorang yang berwatak mata keranjang, biar pun sebagai seorang pria normal, dia tidak buta terhadap kecantikan wanita. Dia lebih mementingkan urusan pemerintahan, lebih mementingkan kedudukan ketimbang wanita.

Sebenarnya, ketika dia menjadi pangeran, nama kecilnya adalah Pangeran Yen dengan julukan Pangeran Cang On. Akan tetapi dia lebih suka mempergunakan nama Yung Lo, yaitu nama besar yang dipakainya setelah menjadi Raja Muda Yung Lo yang menguasai seluruh daerah utara. Dia bukan seorang pemimpin yang hanya mengatur siasat di balik tembok benteng dan di kamar yang mewah dalam istana. Dia adalah pemimpin yang maju sendiri memimpin pasukannya mengamuk apa bila sedang dalam pertempuran sehingga namanya terkenal dan dia dipuja-puja oleh pasukan dan rakyat sebagai seorang panglima yang gagah perkasa.

Akan tetapi kini, melihat Lim Kui Siang, raja muda itu terpesona. Bukan semata karena kecantikan Kui Siang, melainkan dia terkagum-kagum oleh kelihaian gadis itu. Dia sudah menerima laporan bahwa gadis ini seorang diri mampu mengalahkan enam orang tokoh Ang-kin Kai-pang yang mengeroyoknya, enam orang yang telah terkenal sebagai Barisan Tongkat Merah dari perkumpulan itu.

Dia sendiri sudah mempunyai seorang isteri yang cantik dan lima orang selir yang manis-manis, akan tetapi belum pernah dia bertemu seorang pendekar wanita muda yang cantik dan lihay seperti Kui Siang. Seketika hatinya tertarik dan timbul perasaan cintanya. Kalau dia dapat menarik gadis ini sebagai pendamping hidupnya, bukan saja dia mendapatkan seorang selir yang lain dari pada semua selirnya, melainkan juga mendapatkan seorang pengawal pribadi yang boleh diandalkan!

Sesudah berpandangan sejenak, dan tahu bahwa para tamu itu tentu tidak akan berani berbicara lebih dahulu sebelum ditegurnya. Raja Muda Yung Lo berkata dengan suaranya yang nyaring dan tegas. "Kami menerima laporan tentang locianpwe yang ternyata adalah Thai-pangcu, pemimpin besar para kai-pang yang selama bertahun-tahun ini menghilang. Kami sudah lama mendengar nama besar Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang sudah berjasa besar membantu perjuangan kami merobohkan penjajah Mongol. Sayang bahwa selama ini locianpwe pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali sehingga kami belum sempat memberi hadiah dan imbalan jasa kepadamu.”

Dari tempat duduknya kakek itu tersenyum, lantas memberi hormat kepada raja muda itu. “Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada hamba, Yang Mulia. Akan tetapi maafkan hamba karena hamba sama sekali tak mengharapkan hadiah atau imbalan jasa. Tentu paduka sudah lebih mengetahui bahwa berjuang demi kemerdekaan tanah air dan bangsa serta mengusir penjajah Mongol merupakan kewajiban setiap anak bangsa. Ketika hamba membantu perjuangan dan memimpin seluruh Kai-pang untuk menentang pasukan Mongol, dalam hati hamba seujung rambut pun tak ada pamrih untuk kemudian menuntut imbalan jasa.”

Raja Muda Yung Lo tertawa dan Kui Siang melihat betapa pria itu tampak jauh lebih muda ketika tertawa dan semua bentuk kekerasan yang menggores di wajah yang perkasa itu pun lenyap. Tahulah dia bahwa pada dasarnya raja muda itu adalah seorang yang lembut hati dan dia merasa semakin kagum.

“Ha-ha-ha, ucapanmu itu sudah kami duga sebelumnya, locianpwe. Memang demikianlah watak seorang pendekar, seorang pahlawan, yang selalu menjunjung kebajikan, membela kebenaran dan keadilan, tanpa pamrih sedikit pun untuk diri sendiri. Akan tetapi ketahuilah bahwa pemimpin bangsa yang baik dan bijaksana harus menghargai serta menghormati para pahlawan bangsa. Dan bagi kami, penghargaan kepada pahlawan yang masih hidup jauh lebih penting dari pada penghargaan terhadap pahlawan yang telah tewas dan gugur dengan sekedar kenangan untuk menghormati jasa mereka. Oleh karena itu kami selalu mencari para pendekar yang berjasa bukan sekedar untuk memberi penghargaan, akan tetapi juga mengajak mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bangsa. Perjuangan masih jauh dari pada selesai, locianpwe. Karena itu kami ingin sekali mengajak locianpwe bekerja sama!”

“Hamba mengerti, Yang Mulia. Memang, sebelum mati setiap orang tidak akan pernah terbebas dari pada perjuangan. Hidup ini perjuangan, yaitu menghadapi semua tantangan dan mengatasinya, bukan saja untuk diri sendiri, keluarga, bangsa bahkan manusia. Akan tetapi hamba sudah tua, Yang Mulia. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk membantu paduka? Tentu saja hamba selalu siap membantu asal sesuai dengan kemampuan hamba yang sudah tua ini...”