Social Items

Peking merupakan kota raja ke dua dari kerajaan baru Beng-tiauw. Biar pun kota raja kini dipindahkan ke Nan-king di tepian Sungai Yang-ce, namun bekas kota raja Peking di utara itu masih dipertahankan sebagai pangkalan yang penting. Di samping memiliki bangunan-bangunan besar dan indah, kota ini mempunyai banyak penduduk dan menjadi kota yang ramai, juga merupakan benteng utama di wilayah utara untuk menentang para penyerbu dari utara. Di Peking ini Kaisar Thai-cu menempatkan seorang puteranya sebagai seorang raja muda.

Karena itu kekuasaan Raja Muda Yung Lo cukup besar karena selain sebagai raja muda, dia juga putera Kaisar Thai-cu. Bahkan bala tentara kerajaan Beng sebagian besar berada di daerah utara ini untuk membendung bahaya yang mungkin datang dari Bangsa Mongol yang tentu saja tidak rela membiarkan kekuasaannya di selatan digulingkan dan mereka selalu berusaha untuk berjaya kembali.

Ketika mereka sampai di luar pintu gerbang Peking, Sin Wan teringat akan sesuatu dan berkata kepada Pek-sim Lo-kai. “Meski pun telah bertahun-tahun locianpwe meninggalkan dunia persilatan, tapi setiap pengemis tentu akan mengenal locianpwe sebagai pemimpin besar mereka. Kalau sudah begitu, tentu kami tak mungkin lagi bisa mendekati locianpwe yang pasti akan disambut dengan meriah. Kami bukan segolongan, maka kami tidak ingin membuat locianpwe merasa kikuk."

"Heh-heh-heh, siapa yang akan mengenal seorang jembel tua seperti aku? Dahulu yang berjuluk Pek-sim Lo-kai adalah seorang tua gagah yang selalu mengenakan pakaian putih bersih dan membawa pedang, rambutnya pun belum putih dan selalu terawat rapi. Tetapi sekarang aku hanyalah seorang tua she Bu yang berpakaian butut, dengan rambut serta kumis jenggot yang tidak terawat dan putih semua, juga tidak membawa pedang. Takkan ada yang mengenalku dan aku pun tidak suka dikenal sebelum aku mengambil keputusan apa yang akan kulakukan terhadap para kai-pang itu sesuai percakapan kita tadi."

Mereka pun memasuki pintu gerbang dan memang tidak ada yang memperhatikan Bu Lee Ki. Juga tidak ada yang memperhatikan Sin Wan, namun hampir setiap orang pria yang berpapasan dengan Kui Siang selalu memandang, bahkan menengok. Hal ini tidak aneh bagi Sin Wan yang menyadari akan kecantikan sumoi-nya. Selain merasa bangga bahwa sumoi-nya dikagumi hampir setiap orang pria, diam-diam dia juga merasa amat beruntung karena dialah yang dapat bergaul akrab dengan sumoi-nya.

Kota Peking memang besar dan megah, juga amat ramai. Di samping merupakan daerah pertahanan dan benteng utama terhadap musuh dari utara, juga Peking menjadi tujuan para pedagang yang datang dari utara untuk bertukar barang dagangan.

Sejak runtuhnya pemerintah Mongol dan berdirinya Kerajaan Beng-tiauw, Kaisar Thai-cu pendiri Beng-tiauw yang berkedudukan di Nan-king sudah mengangkat seorang di antara putera-puteranya untuk menjadi raja muda di Peking. Kaisar Thai-cu memang cerdik dan bijaksana. Dia tahu bahwa di antara semua puteranya, Yung Lo adalah seorang yang paling gagah perkasa dan ahli perang. Maka, dia mengangkat Yung Lo menjadi raja muda di Peking dan bertugas membendung musuh yang berani menyerbu dari utara.

Raja Muda Yung Lo memang berbakat menjadi panglima. Dia memimpin pasukan besar melakukan pembersihan di daerah utara, dan dia pun pandai mengajak rakyat untuk turut bersama pasukannya mempertahankan kedaulatan pemerintahan bangsa sendiri setelah seabad lamanya dicengkeram penjajah Mongol. Karena sikapnya ini maka para pendekar di dunia persilatan merasa senang dan hormat kepadanya dan suka mendukungnya.

Raja muda Yung Lo juga mengetahui bahwa golongan pengemis yang bergabung dalam kai-pang (perkumpulan pengemis) adalah pejuang yang gigih ketika rakyat memberontak terhadap kerajaan Mongol. Oleh karena itu, setelah dia menjadi raja muda di Peking, dia pun merangkul kai-pang dan memberi banyak sumbangan untuk kemajuan perkumpulan-perkumpulan pengemis.

Sejalan dengan politik ayahnya, yaitu Kaisar Thai-cu di Nan-king, raja muda ini pula yang menganjurkan kepada para pemimpin kai-pang supaya mempersatukan seluruh kai-pang agar jangan sampai timbul persaingan dan bentrokan. Persatuan rakyat merupakan syarat mutlak untuk kekuatan pemerintah, juga memungkinkan kehidupan rakyat yang tenteram sehingga memudahkan tercapainya kesejahteraan.

Pada masa itu perkumpulan pengemis yang terbesar dan yang paling kuat di daerah utara adalah Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pakaian para anggota pengemis ini bermacam-macam warnanya, tentu saja dengan tambalan sebagai ciri khas pengemis. akan tetapi setiap anggotanya selalu memakai sabuk berwarna merah, sesuai dengan namanya, yaitu Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah.

Sebelum penjajah Mongol dijatuhkan, Ang-kin Kai-pang merupakan perkumpulan pejuang yang berwatak gagah, namun ketika itu ketuanya tidak mau bekerja sama dengan pihak kerajaan baru. Usaha Raja Muda Yung Lo untuk merangkul perkumpulan ini selalu gagal. Akan tetapi, setelah ketua yang keras hati ltu diganti oleh ketua baru pilihan Raja Muda Yung Lo, kini perkumpulan itu benar-benar telah menjadi bawahan raja muda ini dan setia kepada pemerintah. Ketua yang sekarang, yang baru dua tahun menjadi ketua Ang-kin Kai-pang, bernama Thio Sam Ki dan berusia empat puluh tahun. Dia terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi.

Berkat bimbingan Thio Sam Ki dan pengarahan Raja Muda Yung Lo, maka sudah terjadi perubahan besar-besaran dalam perkumpulan itu, Tidak pernah lagi ada anggota Ang-kin Kai-pang yang melakukan tindakan kekerasan, bahkan mereka sangat tertib. Dan setiap orang anggota kai-pang merupakan orang yang berwatak gagah sehingga mereka disukai oleh rakyat karena mereka itu selalu turun tangan membela rakyat yang tertindas.

Sejak Ang-kin Kai-pang dipimpin oleh ketuanya yang baru, semua anggota kai-pang yang berkeliaran di kota Peking dan sekitarnya seakan-akan menjadi petugas keamanan pula sehingga tidak ada penjahat yang berani melakukan aksinya. Dengan demikian pasukan keamanan pemerintah mendapatkan bantuan yang besar sekali dari para pengemis itu.

Bahkan mereka ini mengemis atau mohon sumbangan dari rakyat hanya sekedar untuk menyesuaikan keadaan mereka sebagai anggota perkumpulan pengemis belaka. Mereka mengemis kepada orang-orang yang mampu, dan diberi berapa pun akan mereka terima dengan senang hati. Memang mereka tidak perlu menggunakan kekerasan karena para hartawan dengan rela akan memberi sumbangan karena para pengemis itu turut menjaga ketenteraman. Selain itu, Ang-kin Kai-pang juga tidak takut kekurangan biaya karena Raja Muda Yung Lo selalu mengulurkan tangan membantu.

Siang hari itu, amat ramai di sebuah restoran besar yang berada di pusat keramaian, yaitu di daerah pasar. Rumah makan cat hijau itu memang amat terkenal dengan masakannya sehingga setiap hari hampir selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan para pendatang dari luar kota Peking selalu makan di tempat ini.

Bu Lee Ki, Sin Wan dan Kui Siang mendapatkan tempat duduk di luar, karena di sebelah dalam, juga di loteng, sudah penuh tamu. Maklumlah, ketika itu memang waktunya makan siang dan hawa udara amat dinginnya, sehingga semua tamu lebih senang mendapatkan meja di sebelah dalam. Yang membuat hawa semakin dingin menusuk tulang walau pun tengah hari adalah angin yang bertiup dari utara. Namun bagi tiga orang yang terlatih dan memiliki sinkang kuat ini, hawa dingin itu tidak begitu mengganggu.

Tanpa sungkan lagi, dengan gembira dan wajah penuh senyum, Bu Lee Ki melihat menu makanan lantas memesan masakan-masakan yang paling istimewa, tanpa mempedulikan harganya. Sin Wan dan Kui Siang ikut gembira. Memang mereka telah menjanjikan untuk menjamu kakek ini sepuasnya dan sekenyangnya.

Di luar rumah makan, di pinggir jalan dan di sekitar pertokoan di daerah pasar itu, nampak beberapa orang pengemis bersabuk merah berkeliaran. Mereka rata-rata bersikap gagah, dengan tubuh kekar serta wajah yang lembut penuh senyum sehingga sama sekali tidak menimbulkan kesan angker.

Kalau Bu Lee Ki sendiri sama sekali tidak mempedulikan mereka, sebaliknya diam-diam Sin Wan dan Kui Siang memperhatikan gerak gerik para pengemis bersabuk merah itu. Ketika Bu Lee Ki sibuk memilih masakan dan yang diperhatikannya hanya susunan daftar harga masakan, Sin Wan memperhatikan beberapa orang pengemis yang berada di luar rumah makan.

Betapa beda jauhnya sikap mereka itu dengan apa yang didengarnya dari keterangan Bu Lee Ki. Menurut keterangan kakek itu, kai-pang yang paling berpengaruh di Peking adalah Ang-kin Kai-pang yang cabang-cabangnya terdapat di seluruh daerah utara. Dan menurut kakek itu, Ang-kin Kai-pang merupakan kai-pang yang paling keras, dipimpin oleh orang-orang yang suka mempergunakan kekerasan. Biar pun bukan tergolong penjahat, namun mereka itu suka sewenang-wenang, memaksakan keinginan dan sama sekali tidak pernah mau tunduk terhadap pemerintah, biar pun mereka ikut pula berjuang melawan penjajah.

Akan tetapi, melihat beberapa orang pengemis sabuk merah yang berada di luar rumah makan, sungguh berbeda dari gambaran kakek itu. Memang beberapa orang pengemis di luar itu masih muda dan bertubuh tegap dan kokoh, jelas menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang yang kuat dan tidak pantas menjadi pengemis, namun wajah mereka sama sekali tidak membayangkan kekerasan.

Bahkan mereka tersenyum-senyum, dan orang yang berlalu lalang di sana juga nampak tidak takut kepada mereka, malah ada beberapa orang yang berhenti lalu bercakap-cakap dengan mereka seperti layaknya sahabat yang akrab. Ada pula wanita yang agaknya baru pulang berbelanja, sengaja memberikan bungkusan makanan kepada para pengemis itu dengan sikap wajar dan ramah, diterima dengan sikap sopan oleh para pengemis sabuk merah itu!

Dilihat dari keadaan itu serta sikap mereka, Sin Wan dan Kui Siang merasa yakin bahwa para pengemis itu tidak dapat digolongkan jahat. Mereka pun sempat melihat betapa dua orang di antara mereka kini mendekati rumah makan dan sering kali mereka itu melirik ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut!

Kakek itu sama sekali tidak peduli, apa lagi setelah hidangan yang mereka pesan datang. Sambil tersenyum-senyum girang dan tanpa malu-malu lagi Bu Lee Ki segera menyerbu masakan-masakan itu seperti seorang kelaparan yang bertemu makanan enak. Sepasang sumpitnya bergerak cepat dari satu ke lain masakan, dan mangkok demi mangkok nasi putih dilahapnya. Mulut yang tidak bergigi lagi akan tetapi masih kuat mengunyah segala macam daging dan sayur itu tak pernah berhenti bergerak sedetik pun. Bercawan-cawan arak mendorong makanan ke dalam perutnya.

Melihat kakek itu demikian lahap dan nampak nikmat sekali, Sin Wan dan Kui Siang juga ikut bergembira. Biar pun baru saja mereka berkenalan dengan Bu Lee Ki, namun mereka merasa suka dan sayang kepada kakek tua itu. Kakek ini tampak demikian lembut, ramah dan selalu cerah wajahnya, halus gerak-geriknya dan bicaranya biar pun tanpa pura-pura namun selalu lembut dan tidak menyinggung perasaan. Padahal mereka yakin bahwa di balik semua kelembutan dan kemiskinan itu, kakek ini mempunyai ilmu kepandaian yang amat hebat!

Ketika Kui Siang menuangkan lagi arak dari guci ke dalam cawan yang sudah kosong itu, Bu Lee Ki mengangkat kedua tangan ke atas. "Wah, sudah, sudah cukup, Kui Siang. Apa kalian ingin melihat aku mabok dan harus digotong keluar?"

"Akan tetapi engkau belum kelihatan mabok, locianpwe," kata Kui Siang.

"Heh-heh-heh, segala hal ada batasnya! Cawan ini yang terakhir dan kalau kalian sudah selesai makan, kita segera keluar dari sini,” katanya, kemudian sekali tuang saja arak di dalam cawan itu sudah memasuki perutnya.

Pada saat itu pula dua orang pengemis berpakaian kuning bersih dengan sabuk merah di pinggang menghampiri meja mereka yang memang berada di bagian luar rumah makan. Mereka berusia kurang lebih tiga puluh tahun, keduanya bertubuh kekar dan walau pun pakaian mereka berhias tambalan, namun dengan sabuk merah melilit pinggang, mereka bardua lebih patut menjadi ahli silat dari pada menjadi pengemis.

Dengan sikap hormat mereka mengangkat kedua tangan sebagai penghormatan kepada Sin Wan dan Kui Siang, lantas seorang di antara mereka berkata, "Harap kongcu (tuan muda) dan siocia (nona) suka memaafkan kami. Bukan maksud kami menyinggung ji-wi (kalian), akan tetapi kami ingin bicara dengan jembel tua ini."

Alis di atas mata Kui Siang sudah berkerut karena hatinya tidak senang mendengar kakek yang duduk semeja dengannya itu disebut jembel tua, akan tetapi dia didahului Sin Wan yang berkata acuh.

"Silakan."

Dua orang anggota Ang-kin Kai-pang itu lalu menghadapi Bu Lee Ki yang bersikap acuh tak acuh sambil mengelus-elus perutnya yang baru saja diisi penuh, matanya mengantuk karena kekenyangan.

"Orang tua," kata salah seorang di antara mereka yang berjenggot pendek. "Apa artinya kemunculanmu ini? Apakah engkau memang sengaja hendak menghina kami dari Ang-kin Kai-pang?"

Bu Lee Ki membuka mata, menggeliat seperti seekor kucing malas dengan kaki tangan terentang sehingga kakinya yang panjang dan telanjang itu hampir saja mengenai muka si jenggot pendek yang melangkah mundur dengan jengkel. "Hahhh, apa...? Apa kau bilang dan kau bicara kepada siapa?"

“Aku bicara kepadamu! Kalau engkau benar seorang pengemis, kenapa engkau bersikap royal, makan masakan mahal dan bersikap seperti hartawan? Dari perkumpulan kai-pang manakah engkau? Dan kalau sebaliknya engkau seorang hartawan, apa perlunya pura-pura menjadi pengemis dengan pakaian butut dan kaki telanjang? Apakah engkau hendak mengejek dan menghina kami?"

Bu Lee Ki terbelalak seperti orang bingung. "Ehh...? Ohhhh...?" Lalu dia menoleh kepada Sin Wan. "He-he, Sin Wan, mereka ini... heh-heh, aku malas menjawab. Engkau sajalah yang mewakili aku menjawab." Setelah berkata demikian kakek itu lalu menjulurkan kedua kakinya ke bawah meja, bersandar pada kursinya dan tidur pulas, mulutnya yang terbuka mendengkur!

Kui Siang yang sejak tadi sudah marah cepat mendahului Sin Wan dan menjawab sambil memandang marah dan suaranya sangat ketus. "Kalian berdua ini manusia lancang dan usil. Peduli apa kalian dengan orang tua ini? Apakah dia pengemis, ataukah dia jenderal ataukah raja, apa hubungannya denganmu dan ada urusan apa maka kalian ribut-ribut? Dia mau memakai pakaian rombeng ataukah memakai pakaian kaisar, tidak ada sangkut pautnya pula dengan kalian. Yang penting dia memakai pakaiannya sendiri, tidak mencuri dan di sini dia makan pun membayar! Hayo kalian pergi cepat dari sini!"

Si jenggot pendek dan temannya cepat menoleh kepada Kui Siang dengan muka merah. Mereka adalah orang-orang gagah, anggota Ang-kin Kai-pang, sudah biasa disegani dan dihormati orang dan siang ini tiba-tiba saja dicaci maki seorang gadis! Padahal semalam mereka tidak mimpi apa-apa! Si jenggot pendek menjura kepada Kui Siang,

"Maafkan kami, nona. Kami tidak berurusan dengan nona, dan kalau andainya orang tua ini tidak berpakaian pengemis, kami pun tidak akan mencampuri urusannya, asal dia tidak melakukan kejahatan. Akan tetapi siapa pun yang berpakaian pengemis harus mentaati peraturan kai-pang! Kalau tidak, tentu kami yang akan menjadi bulan-bulan!"

Sin Wan khawatir kalau-kalau Kui Siang tidak mampu menahan kemarahannya dan terjadi perkelahian. Dia cepat-cepat bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri dua orang pengemis itu, lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai tanda menghormat. Ini saja sudah luar biasa! Ada seorang kongcu (tuan muda) memberi hormat kepada dua orang pengemis!

"Sobat, sudahlah, maafkan kami. Kami adalah pendatang dari jauh yang tidak tahu akan peraturan di sini. Orang tua ini menjadi tanggung jawab kami, sebab itu harap ji-wi (kalian berdua) tidak mengganggunya lagi."

"Kalau kalian menghendaki sedekah, katakan saja, tak perlu mengganggu orang makan," kata pula Kui Siang yang sudah ikut bangkit berdiri dan mengambil dua keping uang dari dalam saku di pinggangnya, “Nah, ini kuberi sedekah untuk kalian!"

Dara itu melemparkan dua keping uang tersebut kepada mereka. Karena ada benda yang menyambar ke arah mereka, dua orang anggota Ang-kin Kai-pang cepat menyambutnya dengan tangan. Mereka melihat ke arah benda yang berada di tangan mereka dan mata mereka terbelalak.

Sekeping uang tembaga yang berada di tangan mereka telah berubah bentuk, hampir tergulung bundar dan dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga jari-jari tangan yang dapat meremas kedua keping uang tembaga menjadi seperti itu. Otomatis mereka menurunkan pandang mata menuju ke arah tangan gadis itu. Jari-jari yang lembut kecil-kecil itukah yang memiliki tenaga sehebat itu? Mereka lalu menjura kepada Sin Wan dan Kui Siang.

"Maafkan kami, dengan ji-wi kami memang tidak memiliki urusan apa-apa. Dan mengingat kehadiran ji-wi, biarlah sementara ini kami tidak akan mendesak kepada pengemis tua itu dan hanya akan melapor kepada pimpinan kami." Mereka lantas membalikkan tubuh dan pergi dari situ dengan langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Sin Wan dan Kui Siang duduk kembali dan kakek Bu Lee Ki masih tidur mendengkur. Sebenarnya Sin Wan tidak menyetujui perbuatan sumoi-nya tadi, akan tetapi dia juga tidak mau menegur, takut kalau-kalau menyinggung perasaan Kui Siang. Dia hanya berkata lirih agar tidak terdengar oleh para tamu lain yang tadi memperhatikan peristiwa itu dengan diam-diam saja.

"Kulihat mereka itu bukan orang jahat. Sikap mereka baik dan sopan."

"Akan tetapi mereka menghina Bu locianpwe. Mereka tinggi hati!" bantah Kui Siang.

Kakek Bu Lee Ki menggeliat dan menguap, lalu membuka kedua matanya. "Ehhh? Aku sampai tertidur. Wah, perut kenyang bikin orang mengantuk. Mari kita pergi. Sudah kalian bayar harga makanan?"

Sin Wan menggapai pelayan yang segera datang menghampiri. Para pelayan memang sudah memperhatikan mereka sejak terjadinya keributan kecil dengan dua orang anggota Ang-kin Kai-pang tadi, maka merasa girang bahwa tiga orang tamu itu membayar harga makanan dan segera pergi dari situ agar tidak mendatangkan keributan lebih lanjut.

Mereka berjalan-jalan di dalam kota dan melihat betapa seluruh kota Peking dikuasai oleh para pengemis Ang-kin Kai-pang. Tidak ada seorang pun pengemis yang tidak bersabuk merah. Tidak mengherankan kalau setiap orang pengemis tentu melirik ke arah Bu Lee Ki yang berpakaian pengemis namun tanpa sabuk merah. Dan di mana pun mereka berada dan melihat anggota Ang-kin Kai-pang. selalu para pengemis itu bersikap baik dan sopan.

"Heh-heh, agaknya memang sudah terjadi perubahan,” bisik Bu Lee Ki kepada dua orang anak muda itu. "Sudah pasti terjadi perubahan pada Ang-kin Kai-pang. Mereka sopan dan tertib, hal yang sungguh menggembirakan hatiku."

"Akan tetapi dua orang tadi sudah menghinamu, locianpwe. Mereka menyebutmu jembel tua. Hati siapa tidak akan menjadi panas?" kata Kui Siang.

Kakek Bu Lee Ki terkekeh-kekeh, "Heh-heh-heh, alangkah lucunya! Semenjak muda aku memang pengemis, aku memang jembel tua. Sebutan jembel tua itu bahkan merupakan sebutan kehormatan bagiku, seperti seorang kaisar kalau disebut Sribaginda! Mengapa malah engkau yang menjadi panas hati?"

Kui Siang mengerutkan alisnya akan tetapi tidak mampu menjawab karena baru sekarang dia menyadari betapa janggal sikapnya! Kakek ini memang seorang pengemis, bahkan dia menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, berarti rajanya jembel...! Bagi kakek itu, disebut kakek jembel tentu bukan merupakan penghinaan sama sekali, tetapi dia memandang dan mendengar sebutan itu sebagai seorang awam yang bukan golongan pengemis!

"Locianpwe, agaknya hal ini merupakan pertanda baik bahwa memang sudah sepatutnya kalau locianpwe kembali memimpin mereka. Kalau mereka berdisiplin dan baik, bukankah akan lebih mudah untuk mempersatukan mereka dan membuat pembersihan sehingga tidak ada lagi kai-pang yang kotor?”

Kakek itu mengangguk-angguk. Melihat sikap para pengemis di Peking, dan mendengar ucapan Sin Wan, timbul semangat dan gairahnya. "Engkau benar, Sin Wan. Apa artinya hidup ini kalau tidak ada guna dan manfaatnya bagi manusia lain? Bukti yang paling nyata dari kebaktian kepada Tuhan adalah berbuat baik terhadap manusia. Sekarang mari kalian ikut bersamaku mengunjungi pusat Ang-kin Kai-pang!"

Melihat semangat dari kakek itu yang kini wajahnya berseri, Sin Wan dan Kui Siang turut merasa gembira. Mereka berdua merasa sangat suka kepada kakek itu dan ingin melihat perkembangan usaha kakek itu dalam mempersatukan kembali seluruh kai-pang sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nan-king.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Kakek Bu Lee Ki tertegun ketika dia berdiri di depan pintu gerbang markas Ang-kin Kai-pang. Tentu saja dia tahu di mana markas itu karena dulu, di waktu dia masih memegang kedudukan pemimpin besar kai-pang yang sampai kini belum diganti, dia pernah datang ke markas-markas semua perkumpulan besar kai-pang.

Yang membuat dia tertegun adalah perubahan yang terjadi di situ. Baru pintu gerbangnya saja sudah amat megah dan dari situ nampak bangunan yang biar pun sederhana namun besar dan kokoh, bukan bangunan yang dulu lagi. Bangunan ini besar dan pekarangannya luas, bahkan tanaman di pekarangan itu nampak terawat dan teratur baik sekali sehingga tempat yang amat bersih itu sungguh tidak pantas menjadi bangunan pusat perkumpulan pengemis! Di atas pintu gerbang itu terdapat papan nama yang gagah dan indah seperti papan nama perusahaan besar saja, berbunyi ANG-KIN KAI-PANG.

Melihat tiga orang itu berdiri di depan pintu gerbang, dua orang anggota Ang-kin Kai-pang segera menghampiri mereka dari dalam. "Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?” tanya seorang di antara mereka singkat, namun sikapnya cukup menghormat,

Dengan sikap acuh dan suara sambil lalu kakek itu berkata, "Aku ingin bertemu dengan pimpinan Ang-kin Kai-pang."

Agaknya para anggota Ang-kin Kai-pang sudah mendengar tentang tiga orang ini. Hal ini nampak pada sikap mereka yang tidak merasa heran dengan ucapan kakek itu, bahkan dengan tegas mereka lalu membungkuk dan salah seorang di antaranya berkata, "Silakan masuk. Pimpinan kami sudah menanti kunjungan sam-wi (anda bertiga)!"

Dengan wajah tersenyum Bu Lee Ki melangkah masuk ke dalam pekarangan itu, diikuti Sin Wan dan Kui Siang yang diam-diam merasa tegang karena mereka maklum bahwa mereka memasuki ‘sarang harimau’. Kini dari kanan kiri nampak banyak anak buah Ang-kin Kai-pang berlarian, juga dari dalam gedung besar itu bermunculan lebih banyak lagi. Mereka itu membentuk pagar dan ketika Bu Lee Ki dan dua orang muda tiba di beranda, mereka sudah dihadang oleh pagar manusia yang mengepung mereka dengan setengah lingkaran. Jumlah para anggota Ang-kin Kai-pang tidak kurang dari tiga puluh orang dan karena mereka semua bersabuk merah walau pun pakaian mereka bermacam-macam, maka mereka seperti sekelompok murid perguruan silat saja.

Melihat pagar manusia itu menghadang dan mengepung, Bu Lee Ki terkekeh. "Heh-heh-heh, mana pimpinan kalian? Aku ingin bertemu!"

Daun pintu lebar yang menembus ke ruangan sebelah dalam terbuka, dan kini nampaklah belasan orang di sebelah dalam sedang duduk dan agaknya mereka sedang mengadakan pesta! Mereka yang berada di dalam itu menoleh ke luar, kemudian mereka pun bangkit berdiri.

Tujuh orang yang berpakaian sutera dengan sabuk merah berjalan di depan, sedangkan di belakang mereka nampak lima orang berpakaian perwira tinggi. Para pimpinan Ang-kin Kai-pang sedang menerima dan menyambut tamu-tamu mereka, yaitu para perwira itu, dan mereka sedang makan minum ketika kedatangan tiga orang itu mengganggu.

Tentu mereka semua sudah mendengar laporan dua orang anggota perkumpulan mereka mengenai peristiwa di rumah makan. Maka kini tujuh orang pemimpin, bahkan lima orang tamu mereka yang agaknya sudah mendengar pula, merasa tertarik sehingga semuanya keluar meninggalkan meja hidangan!

Biar pun mulutnya tersenyum-senyum dan matanya menjadi sipit hampir terpejam, diam-diam Bu Lee Ki memperhatikan wajah ketujuh orang pemimpin Ang-kin Kai-pang dan dia masih mengenal beberapa orang di antara mereka. Sebaliknya di antara para pimpinan itu ada yang merasa kenal dengan kakek pengemis itu, juga di antara para anggota Ang-kin Kai pang yang sudah tua, ada yang merasa tidak asing, akan tetapi mereka tidak dapat mengingat siapa adanya kakek pengemis itu.

Tujuh orang pimpinan itu berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun dan sikap mereka berwibawa. Seorang di antara mereka yang berjenggot panjang dan berusia lima puluhan tahun segera melangkah maju lantas mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada tiga orang tamu yang tidak diundang itu.

"Siapakah anda bertiga dan ada keperluan apa berkunjung ke tempat kami ini?"

Karena Sin Wan dan Kui Siang datang ke tempat itu hanya sebagai pengikut Bu Lee Ki, maka mereka diam saja, menyerahkan jawabannya kepada kakek itu.

"Mana ketua Ang-kin Kai-pang? Suruh dia keluar menemuiku! Aku hanya mau berbicara dengan ketua kalian," kata kakek itu. Karena dia bicara sambil tersenyum dan suaranya lembut, maka dalam ucapan itu tidak terkandung nada yang angkuh.

Biar pun demikian, tujuh orang pimpinan perkumpulan pengemis itu saling pandang dan wajah mereka berubah tidak senang karena mereka merasa diremehkan sekali oleh kakek pengemis asing ini. Ketua mereka, Thio Sam Ki, memang pada waktu itu tidak berada di situ, akan tetapi karena mendongkol mereka tidak mau membiarkan kakek ini pergi begitu saja sebelum merasakan keangkeran Ang-kin Kai-pang supaya nama serta kehormatan mereka tetap terjaga.

"Hemm, orang tua. Tidak begitu mudah untuk bertemu dengan ketua kami. Kalau engkau mampu melewati rintangan dan masuk sampai ke ruangan tamu di dalam, baru engkau ada harganya untuk bertemu dan menghadap ketua kami.”

Sesudah berkata demikian tujuh orang pimpinan itu melangkah mundur, lantas si jenggot panjang memberi isyarat kepada anak buahnya. Begitu ketujuh orang pimpinan dan lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu itu masuk kembali, pintu besar dibiarkan terbuka, akan tetapi kini di depan pintu, di tempat para pimpinan tadi berdiri, sudah berdiri enam orang tinggi besar dengan tongkat merah di tangan. Mereka menuruni anak tangga dan membuat gerakan menggeser kaki, membuat setengah lingkaran menghadapi tiga orang itu.

"Bolehkah aku yang menghadapi mereka?" tanya Kui Siang kepada Bu Lee Ki dan kakek ini mengangguk sambil tersenyum. Dia pun mundur agak jauh lalu duduk di bawah pohon nongkrong seenaknya dengan santai untuk menjadi penonton!

"Sumoi, kita tidak mempunyai permusuhan dengan siapa pun. Harap berhati-hati, jangan sampai engkau mencelakai orang!" kata Sin Wan yang mulai khawatir kalau-kalau dalam kemarahannya sumoi-nya akan membunuh atau melukai orang sampai parah.

Kui Siang mengangguk, "Jangan khawatir, suheng."

Lega rasa hati Sin Wan mendengar jawaban itu, kemudian dia pun mengundurkan diri dan bergabung dengan Bu Lee Ki di bawah pohon. Melihat betapa mereka hendak dilawan oleh seorang gadis, enam orang itu tetap dengan pengepungan mereka. Mereka telah mendengar mengenai kelihaian gadis ini, maka tidak berani memandang ringan.

"Nona, keluarkan senjatamu. Kami akan menyerangmu dengan tongkat kami," kata salah seorang di antara mereka yang bertubuh gendut sehingga tidak patut menjadi pengemis, patutnya menjadi seorang cukong.

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka ini bukan orang.orang yang berwatak curang. Sebagai jawaban, Kui Siang meraba pinggangnya dan begitu tangannya bergerak, nampak berkelebat sinar yang menyilaukan mata dan tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang tipis dan yang tadi dia lilitkan di pinggangnya. Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) yang ampuh!

Melihat ini, enam orang anggota Ang-kin Kai-pang itu terbelalak kagum. "Nona, sebetulnya nona tidak berhak mencampuri urusan di antara pengemis, akan tetapi karena nona datang bersama pengemis tua itu, terpaksa kami akan melayani nona. Harap nona memperkenalkan diri terlebih dulu, siapakah nona dan apa hubungan nona dengan pengemis tua itu," kata pula si perut gendut yang agaknya menjadi pemimpin dari barisan tongkat enam orang itu.

"Namaku Lim Kui Siang dan locianpwe itu adalah paman guruku!" jawab Kui Siang. Bu Lee Ki adalah sababat baik guru-gurunya, maka sudah sepatutnya kalau dia mengakuinya sebagai paman guru.

"Heh-heh-heh, engkau memang murid keponakan yang baik, Kui Siang, hajar saja orang-orang yang tak tahu diri itu!" dari tempat dia menonton, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki berseru.

"Bersiaplah, nona, akan kami mulai!" Si gendut berseru nyaring dan ini merupakan aba-aba bagi para temannya untuk mulai dengan serangan mereka.

Enam batang tongkat merah menyambar dari depan, kanan dan kiri. Ada yang menusuk lurus ke arah dada, ada yang dari atas menghantam ke arah kepala dan ada pula yang membabat ke arah kedua kaki. Dan setiap batang tongkat mengeluarkan angin berdesing, tanda bahwa keenam orang itu memiliki tenaga yang cukup kuat!

Dengan tenang dan mudah saja Kui Siang melangkah mundur sehingga semua serangan itu pun luput. Akan tetapi enam orang itu melanjutkan serangan sambil menambah tenaga dan kecepatan sehingga enam batang tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar merah yang menyambar dari semua jurusan. Serangan itu datangnya tidak berbareng, melainkan susul menyusul dan bertubi-tubi sehingga tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada Kui Siang untuk membalas.

Gadis ini masih bersikap tenang saja. Dengan mempergunakan langkah-langkah Hui-niau Poan-soan (Langkah Ajaib Burung Terbang) yang cepat dan aneh dia mampu mengelak dari semua serangan. Bagi yang menonton pertandingan itu, seolah-olah gadis cantik itu nampak sedang menari-nari, mempergunakan enam helai selendang merah!

Tiba-tiba saja enam orang yang mengepung itu mengubah gerakan tongkat mereka. Kini mereka menyerang secara berbareng. Enam batang tongkat menyambar cepat dari enam penjuru, dari sekeliling tubuh gadis itu. Kui Siang memutar tubuh kemudian menggerakkan pedangnya. Terdengar bunyi nyaring berdenting ketika enam batang tongkat itu bertemu pedang.

Enam orang itu berseru kaget karena tongkat mereka segera patah ketika bertemu pedang tipis dan pada saat mereka mundur, Kui Siang sudah menggerakkan sepasang kakinya bertubi-tubi yang menyambar bagaikan kilat cepatnya, membuat orang-orang yang mengeroyoknya itu berpelantingan!

Mengerti bahwa mereka telah kalah, enam orang itu bangkit, memberi hormat kepada Kui Siang lantas mengundurkan diri. Terdengar tepuk tangan dari dalam dan ketika Kui Siang mengangkat muka memandang, yang bertepuk tangan itu adalah lima orang perwira tinggi yang tadi melanjutkan makan minum sebagai tamu sambil menonton pertandingan silat.

Akan tetapi tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang tidak bertepuk tangan, bahkan wajah mereka terlihat muram dan penasaran. Enam orang jagoan mereka telah tumbang secara demikian mudah di tangan seorang gadis muda!

"Hebat, kepandaian lihiap sungguh hebat, membuat kami merasa kagum!" kata seorang di antara lima perwira tinggi itu yang usianya lima puluh tahun lebih sambil mengangguk-angguk terhadap Kui Siang.

Akan tetapi dara ini tidak mempedulikan pujian itu melainkan memperhatikan gerakan dari sebelah dalam, karena kini sudah muncul sembilan orang lelaki anggota Ang-kin Kai-pang yang lainnya. Mereka tidak memegang tongkat merah seperti enam orang tadi, melainkan masing-masing membawa sebatang pedang! Agaknya sembilan orang ini adalah ahli-ahli pedang dari Ang-kin Kai-pang!

Salah seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Kui Siang. "Terima kasih bahwa Lim-lihiap telah memperlihatkan kepandaian dan memberi petunjuk kepada enam orang sute (adik seperguruan) kami. Akan tetapi kami mohon sukalah lihiap mundur dan membiarkan pengemis tua yang tidak mau memperkenalkan nama itu untuk maju menghadapi kami."

Melihat sikap dan kata-kata itu cukup sopan, Kui Sian menjadi ragu-ragu. Pada saat itu, Sin Wan sudah menghampirinya. "Sumoi, mundurlah. Aku sudah mendapat perkenan dari su-siok (paman guru) untuk mewakilinya menghadapi barisan Sembilan Pedang Naga ini."

Kui Siang mengangguk lantas berjalan ke bawah pohon di mana kakek itu menyambutnya dengan senyum gembira. Sembilan orang jagoan Ang-kin Kai-pang itu bertukar pandang, kemudian si tinggi kurus menghadapi Sin Wan dan memberi hormat.

"Orang muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa kami adalah barisan Sembilan Pedang Naga?" tanyanya sambil memandang penuh perhatian. "Dan siapakah anda?"

"Namaku Sin Wan, suheng dari nona Lim Kui Siang tadi. Kalian adalah jagoan-jagoan terkenal, tentu saja aku mengenal Kiu-liong Kiam-tin (Barisan Sembilan Padang Naga)."

"Bagus, kalau begitu keluarkan senjatamu, Sin-sicu (orang gagah Sin), kami sudah siap untuk menguji kelihaianmu."

Sin Wan dapat menduga bahwa sembilan orang lawannya ini tentu lihai sekali karena tadi kakek Bu Lee Ki sudah memberi tahu bahwa mereka adalah pasukan pedang yang amat tangguh dari Ang-kin Kai-pang. Bahkan kakek itu juga membisikkan bahwa dia tidak boleh membiarkan dirinya terkepung dan berusaha untuk berada di luar kepungan. Maka, tanpa ragu lagi dia segera mengeluarkan pedangnya dari balik jubahnya, pedang yang biasanya tersembunyi...

Si Pedang Tumpul Jilid 17

Peking merupakan kota raja ke dua dari kerajaan baru Beng-tiauw. Biar pun kota raja kini dipindahkan ke Nan-king di tepian Sungai Yang-ce, namun bekas kota raja Peking di utara itu masih dipertahankan sebagai pangkalan yang penting. Di samping memiliki bangunan-bangunan besar dan indah, kota ini mempunyai banyak penduduk dan menjadi kota yang ramai, juga merupakan benteng utama di wilayah utara untuk menentang para penyerbu dari utara. Di Peking ini Kaisar Thai-cu menempatkan seorang puteranya sebagai seorang raja muda.

Karena itu kekuasaan Raja Muda Yung Lo cukup besar karena selain sebagai raja muda, dia juga putera Kaisar Thai-cu. Bahkan bala tentara kerajaan Beng sebagian besar berada di daerah utara ini untuk membendung bahaya yang mungkin datang dari Bangsa Mongol yang tentu saja tidak rela membiarkan kekuasaannya di selatan digulingkan dan mereka selalu berusaha untuk berjaya kembali.

Ketika mereka sampai di luar pintu gerbang Peking, Sin Wan teringat akan sesuatu dan berkata kepada Pek-sim Lo-kai. “Meski pun telah bertahun-tahun locianpwe meninggalkan dunia persilatan, tapi setiap pengemis tentu akan mengenal locianpwe sebagai pemimpin besar mereka. Kalau sudah begitu, tentu kami tak mungkin lagi bisa mendekati locianpwe yang pasti akan disambut dengan meriah. Kami bukan segolongan, maka kami tidak ingin membuat locianpwe merasa kikuk."

"Heh-heh-heh, siapa yang akan mengenal seorang jembel tua seperti aku? Dahulu yang berjuluk Pek-sim Lo-kai adalah seorang tua gagah yang selalu mengenakan pakaian putih bersih dan membawa pedang, rambutnya pun belum putih dan selalu terawat rapi. Tetapi sekarang aku hanyalah seorang tua she Bu yang berpakaian butut, dengan rambut serta kumis jenggot yang tidak terawat dan putih semua, juga tidak membawa pedang. Takkan ada yang mengenalku dan aku pun tidak suka dikenal sebelum aku mengambil keputusan apa yang akan kulakukan terhadap para kai-pang itu sesuai percakapan kita tadi."

Mereka pun memasuki pintu gerbang dan memang tidak ada yang memperhatikan Bu Lee Ki. Juga tidak ada yang memperhatikan Sin Wan, namun hampir setiap orang pria yang berpapasan dengan Kui Siang selalu memandang, bahkan menengok. Hal ini tidak aneh bagi Sin Wan yang menyadari akan kecantikan sumoi-nya. Selain merasa bangga bahwa sumoi-nya dikagumi hampir setiap orang pria, diam-diam dia juga merasa amat beruntung karena dialah yang dapat bergaul akrab dengan sumoi-nya.

Kota Peking memang besar dan megah, juga amat ramai. Di samping merupakan daerah pertahanan dan benteng utama terhadap musuh dari utara, juga Peking menjadi tujuan para pedagang yang datang dari utara untuk bertukar barang dagangan.

Sejak runtuhnya pemerintah Mongol dan berdirinya Kerajaan Beng-tiauw, Kaisar Thai-cu pendiri Beng-tiauw yang berkedudukan di Nan-king sudah mengangkat seorang di antara putera-puteranya untuk menjadi raja muda di Peking. Kaisar Thai-cu memang cerdik dan bijaksana. Dia tahu bahwa di antara semua puteranya, Yung Lo adalah seorang yang paling gagah perkasa dan ahli perang. Maka, dia mengangkat Yung Lo menjadi raja muda di Peking dan bertugas membendung musuh yang berani menyerbu dari utara.

Raja Muda Yung Lo memang berbakat menjadi panglima. Dia memimpin pasukan besar melakukan pembersihan di daerah utara, dan dia pun pandai mengajak rakyat untuk turut bersama pasukannya mempertahankan kedaulatan pemerintahan bangsa sendiri setelah seabad lamanya dicengkeram penjajah Mongol. Karena sikapnya ini maka para pendekar di dunia persilatan merasa senang dan hormat kepadanya dan suka mendukungnya.

Raja muda Yung Lo juga mengetahui bahwa golongan pengemis yang bergabung dalam kai-pang (perkumpulan pengemis) adalah pejuang yang gigih ketika rakyat memberontak terhadap kerajaan Mongol. Oleh karena itu, setelah dia menjadi raja muda di Peking, dia pun merangkul kai-pang dan memberi banyak sumbangan untuk kemajuan perkumpulan-perkumpulan pengemis.

Sejalan dengan politik ayahnya, yaitu Kaisar Thai-cu di Nan-king, raja muda ini pula yang menganjurkan kepada para pemimpin kai-pang supaya mempersatukan seluruh kai-pang agar jangan sampai timbul persaingan dan bentrokan. Persatuan rakyat merupakan syarat mutlak untuk kekuatan pemerintah, juga memungkinkan kehidupan rakyat yang tenteram sehingga memudahkan tercapainya kesejahteraan.

Pada masa itu perkumpulan pengemis yang terbesar dan yang paling kuat di daerah utara adalah Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pakaian para anggota pengemis ini bermacam-macam warnanya, tentu saja dengan tambalan sebagai ciri khas pengemis. akan tetapi setiap anggotanya selalu memakai sabuk berwarna merah, sesuai dengan namanya, yaitu Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah.

Sebelum penjajah Mongol dijatuhkan, Ang-kin Kai-pang merupakan perkumpulan pejuang yang berwatak gagah, namun ketika itu ketuanya tidak mau bekerja sama dengan pihak kerajaan baru. Usaha Raja Muda Yung Lo untuk merangkul perkumpulan ini selalu gagal. Akan tetapi, setelah ketua yang keras hati ltu diganti oleh ketua baru pilihan Raja Muda Yung Lo, kini perkumpulan itu benar-benar telah menjadi bawahan raja muda ini dan setia kepada pemerintah. Ketua yang sekarang, yang baru dua tahun menjadi ketua Ang-kin Kai-pang, bernama Thio Sam Ki dan berusia empat puluh tahun. Dia terkenal dengan ilmu silatnya yang tinggi.

Berkat bimbingan Thio Sam Ki dan pengarahan Raja Muda Yung Lo, maka sudah terjadi perubahan besar-besaran dalam perkumpulan itu, Tidak pernah lagi ada anggota Ang-kin Kai-pang yang melakukan tindakan kekerasan, bahkan mereka sangat tertib. Dan setiap orang anggota kai-pang merupakan orang yang berwatak gagah sehingga mereka disukai oleh rakyat karena mereka itu selalu turun tangan membela rakyat yang tertindas.

Sejak Ang-kin Kai-pang dipimpin oleh ketuanya yang baru, semua anggota kai-pang yang berkeliaran di kota Peking dan sekitarnya seakan-akan menjadi petugas keamanan pula sehingga tidak ada penjahat yang berani melakukan aksinya. Dengan demikian pasukan keamanan pemerintah mendapatkan bantuan yang besar sekali dari para pengemis itu.

Bahkan mereka ini mengemis atau mohon sumbangan dari rakyat hanya sekedar untuk menyesuaikan keadaan mereka sebagai anggota perkumpulan pengemis belaka. Mereka mengemis kepada orang-orang yang mampu, dan diberi berapa pun akan mereka terima dengan senang hati. Memang mereka tidak perlu menggunakan kekerasan karena para hartawan dengan rela akan memberi sumbangan karena para pengemis itu turut menjaga ketenteraman. Selain itu, Ang-kin Kai-pang juga tidak takut kekurangan biaya karena Raja Muda Yung Lo selalu mengulurkan tangan membantu.

Siang hari itu, amat ramai di sebuah restoran besar yang berada di pusat keramaian, yaitu di daerah pasar. Rumah makan cat hijau itu memang amat terkenal dengan masakannya sehingga setiap hari hampir selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan para pendatang dari luar kota Peking selalu makan di tempat ini.

Bu Lee Ki, Sin Wan dan Kui Siang mendapatkan tempat duduk di luar, karena di sebelah dalam, juga di loteng, sudah penuh tamu. Maklumlah, ketika itu memang waktunya makan siang dan hawa udara amat dinginnya, sehingga semua tamu lebih senang mendapatkan meja di sebelah dalam. Yang membuat hawa semakin dingin menusuk tulang walau pun tengah hari adalah angin yang bertiup dari utara. Namun bagi tiga orang yang terlatih dan memiliki sinkang kuat ini, hawa dingin itu tidak begitu mengganggu.

Tanpa sungkan lagi, dengan gembira dan wajah penuh senyum, Bu Lee Ki melihat menu makanan lantas memesan masakan-masakan yang paling istimewa, tanpa mempedulikan harganya. Sin Wan dan Kui Siang ikut gembira. Memang mereka telah menjanjikan untuk menjamu kakek ini sepuasnya dan sekenyangnya.

Di luar rumah makan, di pinggir jalan dan di sekitar pertokoan di daerah pasar itu, nampak beberapa orang pengemis bersabuk merah berkeliaran. Mereka rata-rata bersikap gagah, dengan tubuh kekar serta wajah yang lembut penuh senyum sehingga sama sekali tidak menimbulkan kesan angker.

Kalau Bu Lee Ki sendiri sama sekali tidak mempedulikan mereka, sebaliknya diam-diam Sin Wan dan Kui Siang memperhatikan gerak gerik para pengemis bersabuk merah itu. Ketika Bu Lee Ki sibuk memilih masakan dan yang diperhatikannya hanya susunan daftar harga masakan, Sin Wan memperhatikan beberapa orang pengemis yang berada di luar rumah makan.

Betapa beda jauhnya sikap mereka itu dengan apa yang didengarnya dari keterangan Bu Lee Ki. Menurut keterangan kakek itu, kai-pang yang paling berpengaruh di Peking adalah Ang-kin Kai-pang yang cabang-cabangnya terdapat di seluruh daerah utara. Dan menurut kakek itu, Ang-kin Kai-pang merupakan kai-pang yang paling keras, dipimpin oleh orang-orang yang suka mempergunakan kekerasan. Biar pun bukan tergolong penjahat, namun mereka itu suka sewenang-wenang, memaksakan keinginan dan sama sekali tidak pernah mau tunduk terhadap pemerintah, biar pun mereka ikut pula berjuang melawan penjajah.

Akan tetapi, melihat beberapa orang pengemis sabuk merah yang berada di luar rumah makan, sungguh berbeda dari gambaran kakek itu. Memang beberapa orang pengemis di luar itu masih muda dan bertubuh tegap dan kokoh, jelas menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang yang kuat dan tidak pantas menjadi pengemis, namun wajah mereka sama sekali tidak membayangkan kekerasan.

Bahkan mereka tersenyum-senyum, dan orang yang berlalu lalang di sana juga nampak tidak takut kepada mereka, malah ada beberapa orang yang berhenti lalu bercakap-cakap dengan mereka seperti layaknya sahabat yang akrab. Ada pula wanita yang agaknya baru pulang berbelanja, sengaja memberikan bungkusan makanan kepada para pengemis itu dengan sikap wajar dan ramah, diterima dengan sikap sopan oleh para pengemis sabuk merah itu!

Dilihat dari keadaan itu serta sikap mereka, Sin Wan dan Kui Siang merasa yakin bahwa para pengemis itu tidak dapat digolongkan jahat. Mereka pun sempat melihat betapa dua orang di antara mereka kini mendekati rumah makan dan sering kali mereka itu melirik ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut!

Kakek itu sama sekali tidak peduli, apa lagi setelah hidangan yang mereka pesan datang. Sambil tersenyum-senyum girang dan tanpa malu-malu lagi Bu Lee Ki segera menyerbu masakan-masakan itu seperti seorang kelaparan yang bertemu makanan enak. Sepasang sumpitnya bergerak cepat dari satu ke lain masakan, dan mangkok demi mangkok nasi putih dilahapnya. Mulut yang tidak bergigi lagi akan tetapi masih kuat mengunyah segala macam daging dan sayur itu tak pernah berhenti bergerak sedetik pun. Bercawan-cawan arak mendorong makanan ke dalam perutnya.

Melihat kakek itu demikian lahap dan nampak nikmat sekali, Sin Wan dan Kui Siang juga ikut bergembira. Biar pun baru saja mereka berkenalan dengan Bu Lee Ki, namun mereka merasa suka dan sayang kepada kakek tua itu. Kakek ini tampak demikian lembut, ramah dan selalu cerah wajahnya, halus gerak-geriknya dan bicaranya biar pun tanpa pura-pura namun selalu lembut dan tidak menyinggung perasaan. Padahal mereka yakin bahwa di balik semua kelembutan dan kemiskinan itu, kakek ini mempunyai ilmu kepandaian yang amat hebat!

Ketika Kui Siang menuangkan lagi arak dari guci ke dalam cawan yang sudah kosong itu, Bu Lee Ki mengangkat kedua tangan ke atas. "Wah, sudah, sudah cukup, Kui Siang. Apa kalian ingin melihat aku mabok dan harus digotong keluar?"

"Akan tetapi engkau belum kelihatan mabok, locianpwe," kata Kui Siang.

"Heh-heh-heh, segala hal ada batasnya! Cawan ini yang terakhir dan kalau kalian sudah selesai makan, kita segera keluar dari sini,” katanya, kemudian sekali tuang saja arak di dalam cawan itu sudah memasuki perutnya.

Pada saat itu pula dua orang pengemis berpakaian kuning bersih dengan sabuk merah di pinggang menghampiri meja mereka yang memang berada di bagian luar rumah makan. Mereka berusia kurang lebih tiga puluh tahun, keduanya bertubuh kekar dan walau pun pakaian mereka berhias tambalan, namun dengan sabuk merah melilit pinggang, mereka bardua lebih patut menjadi ahli silat dari pada menjadi pengemis.

Dengan sikap hormat mereka mengangkat kedua tangan sebagai penghormatan kepada Sin Wan dan Kui Siang, lantas seorang di antara mereka berkata, "Harap kongcu (tuan muda) dan siocia (nona) suka memaafkan kami. Bukan maksud kami menyinggung ji-wi (kalian), akan tetapi kami ingin bicara dengan jembel tua ini."

Alis di atas mata Kui Siang sudah berkerut karena hatinya tidak senang mendengar kakek yang duduk semeja dengannya itu disebut jembel tua, akan tetapi dia didahului Sin Wan yang berkata acuh.

"Silakan."

Dua orang anggota Ang-kin Kai-pang itu lalu menghadapi Bu Lee Ki yang bersikap acuh tak acuh sambil mengelus-elus perutnya yang baru saja diisi penuh, matanya mengantuk karena kekenyangan.

"Orang tua," kata salah seorang di antara mereka yang berjenggot pendek. "Apa artinya kemunculanmu ini? Apakah engkau memang sengaja hendak menghina kami dari Ang-kin Kai-pang?"

Bu Lee Ki membuka mata, menggeliat seperti seekor kucing malas dengan kaki tangan terentang sehingga kakinya yang panjang dan telanjang itu hampir saja mengenai muka si jenggot pendek yang melangkah mundur dengan jengkel. "Hahhh, apa...? Apa kau bilang dan kau bicara kepada siapa?"

“Aku bicara kepadamu! Kalau engkau benar seorang pengemis, kenapa engkau bersikap royal, makan masakan mahal dan bersikap seperti hartawan? Dari perkumpulan kai-pang manakah engkau? Dan kalau sebaliknya engkau seorang hartawan, apa perlunya pura-pura menjadi pengemis dengan pakaian butut dan kaki telanjang? Apakah engkau hendak mengejek dan menghina kami?"

Bu Lee Ki terbelalak seperti orang bingung. "Ehh...? Ohhhh...?" Lalu dia menoleh kepada Sin Wan. "He-he, Sin Wan, mereka ini... heh-heh, aku malas menjawab. Engkau sajalah yang mewakili aku menjawab." Setelah berkata demikian kakek itu lalu menjulurkan kedua kakinya ke bawah meja, bersandar pada kursinya dan tidur pulas, mulutnya yang terbuka mendengkur!

Kui Siang yang sejak tadi sudah marah cepat mendahului Sin Wan dan menjawab sambil memandang marah dan suaranya sangat ketus. "Kalian berdua ini manusia lancang dan usil. Peduli apa kalian dengan orang tua ini? Apakah dia pengemis, ataukah dia jenderal ataukah raja, apa hubungannya denganmu dan ada urusan apa maka kalian ribut-ribut? Dia mau memakai pakaian rombeng ataukah memakai pakaian kaisar, tidak ada sangkut pautnya pula dengan kalian. Yang penting dia memakai pakaiannya sendiri, tidak mencuri dan di sini dia makan pun membayar! Hayo kalian pergi cepat dari sini!"

Si jenggot pendek dan temannya cepat menoleh kepada Kui Siang dengan muka merah. Mereka adalah orang-orang gagah, anggota Ang-kin Kai-pang, sudah biasa disegani dan dihormati orang dan siang ini tiba-tiba saja dicaci maki seorang gadis! Padahal semalam mereka tidak mimpi apa-apa! Si jenggot pendek menjura kepada Kui Siang,

"Maafkan kami, nona. Kami tidak berurusan dengan nona, dan kalau andainya orang tua ini tidak berpakaian pengemis, kami pun tidak akan mencampuri urusannya, asal dia tidak melakukan kejahatan. Akan tetapi siapa pun yang berpakaian pengemis harus mentaati peraturan kai-pang! Kalau tidak, tentu kami yang akan menjadi bulan-bulan!"

Sin Wan khawatir kalau-kalau Kui Siang tidak mampu menahan kemarahannya dan terjadi perkelahian. Dia cepat-cepat bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri dua orang pengemis itu, lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai tanda menghormat. Ini saja sudah luar biasa! Ada seorang kongcu (tuan muda) memberi hormat kepada dua orang pengemis!

"Sobat, sudahlah, maafkan kami. Kami adalah pendatang dari jauh yang tidak tahu akan peraturan di sini. Orang tua ini menjadi tanggung jawab kami, sebab itu harap ji-wi (kalian berdua) tidak mengganggunya lagi."

"Kalau kalian menghendaki sedekah, katakan saja, tak perlu mengganggu orang makan," kata pula Kui Siang yang sudah ikut bangkit berdiri dan mengambil dua keping uang dari dalam saku di pinggangnya, “Nah, ini kuberi sedekah untuk kalian!"

Dara itu melemparkan dua keping uang tersebut kepada mereka. Karena ada benda yang menyambar ke arah mereka, dua orang anggota Ang-kin Kai-pang cepat menyambutnya dengan tangan. Mereka melihat ke arah benda yang berada di tangan mereka dan mata mereka terbelalak.

Sekeping uang tembaga yang berada di tangan mereka telah berubah bentuk, hampir tergulung bundar dan dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga jari-jari tangan yang dapat meremas kedua keping uang tembaga menjadi seperti itu. Otomatis mereka menurunkan pandang mata menuju ke arah tangan gadis itu. Jari-jari yang lembut kecil-kecil itukah yang memiliki tenaga sehebat itu? Mereka lalu menjura kepada Sin Wan dan Kui Siang.

"Maafkan kami, dengan ji-wi kami memang tidak memiliki urusan apa-apa. Dan mengingat kehadiran ji-wi, biarlah sementara ini kami tidak akan mendesak kepada pengemis tua itu dan hanya akan melapor kepada pimpinan kami." Mereka lantas membalikkan tubuh dan pergi dari situ dengan langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Sin Wan dan Kui Siang duduk kembali dan kakek Bu Lee Ki masih tidur mendengkur. Sebenarnya Sin Wan tidak menyetujui perbuatan sumoi-nya tadi, akan tetapi dia juga tidak mau menegur, takut kalau-kalau menyinggung perasaan Kui Siang. Dia hanya berkata lirih agar tidak terdengar oleh para tamu lain yang tadi memperhatikan peristiwa itu dengan diam-diam saja.

"Kulihat mereka itu bukan orang jahat. Sikap mereka baik dan sopan."

"Akan tetapi mereka menghina Bu locianpwe. Mereka tinggi hati!" bantah Kui Siang.

Kakek Bu Lee Ki menggeliat dan menguap, lalu membuka kedua matanya. "Ehhh? Aku sampai tertidur. Wah, perut kenyang bikin orang mengantuk. Mari kita pergi. Sudah kalian bayar harga makanan?"

Sin Wan menggapai pelayan yang segera datang menghampiri. Para pelayan memang sudah memperhatikan mereka sejak terjadinya keributan kecil dengan dua orang anggota Ang-kin Kai-pang tadi, maka merasa girang bahwa tiga orang tamu itu membayar harga makanan dan segera pergi dari situ agar tidak mendatangkan keributan lebih lanjut.

Mereka berjalan-jalan di dalam kota dan melihat betapa seluruh kota Peking dikuasai oleh para pengemis Ang-kin Kai-pang. Tidak ada seorang pun pengemis yang tidak bersabuk merah. Tidak mengherankan kalau setiap orang pengemis tentu melirik ke arah Bu Lee Ki yang berpakaian pengemis namun tanpa sabuk merah. Dan di mana pun mereka berada dan melihat anggota Ang-kin Kai-pang. selalu para pengemis itu bersikap baik dan sopan.

"Heh-heh, agaknya memang sudah terjadi perubahan,” bisik Bu Lee Ki kepada dua orang anak muda itu. "Sudah pasti terjadi perubahan pada Ang-kin Kai-pang. Mereka sopan dan tertib, hal yang sungguh menggembirakan hatiku."

"Akan tetapi dua orang tadi sudah menghinamu, locianpwe. Mereka menyebutmu jembel tua. Hati siapa tidak akan menjadi panas?" kata Kui Siang.

Kakek Bu Lee Ki terkekeh-kekeh, "Heh-heh-heh, alangkah lucunya! Semenjak muda aku memang pengemis, aku memang jembel tua. Sebutan jembel tua itu bahkan merupakan sebutan kehormatan bagiku, seperti seorang kaisar kalau disebut Sribaginda! Mengapa malah engkau yang menjadi panas hati?"

Kui Siang mengerutkan alisnya akan tetapi tidak mampu menjawab karena baru sekarang dia menyadari betapa janggal sikapnya! Kakek ini memang seorang pengemis, bahkan dia menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, berarti rajanya jembel...! Bagi kakek itu, disebut kakek jembel tentu bukan merupakan penghinaan sama sekali, tetapi dia memandang dan mendengar sebutan itu sebagai seorang awam yang bukan golongan pengemis!

"Locianpwe, agaknya hal ini merupakan pertanda baik bahwa memang sudah sepatutnya kalau locianpwe kembali memimpin mereka. Kalau mereka berdisiplin dan baik, bukankah akan lebih mudah untuk mempersatukan mereka dan membuat pembersihan sehingga tidak ada lagi kai-pang yang kotor?”

Kakek itu mengangguk-angguk. Melihat sikap para pengemis di Peking, dan mendengar ucapan Sin Wan, timbul semangat dan gairahnya. "Engkau benar, Sin Wan. Apa artinya hidup ini kalau tidak ada guna dan manfaatnya bagi manusia lain? Bukti yang paling nyata dari kebaktian kepada Tuhan adalah berbuat baik terhadap manusia. Sekarang mari kalian ikut bersamaku mengunjungi pusat Ang-kin Kai-pang!"

Melihat semangat dari kakek itu yang kini wajahnya berseri, Sin Wan dan Kui Siang turut merasa gembira. Mereka berdua merasa sangat suka kepada kakek itu dan ingin melihat perkembangan usaha kakek itu dalam mempersatukan kembali seluruh kai-pang sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nan-king.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Kakek Bu Lee Ki tertegun ketika dia berdiri di depan pintu gerbang markas Ang-kin Kai-pang. Tentu saja dia tahu di mana markas itu karena dulu, di waktu dia masih memegang kedudukan pemimpin besar kai-pang yang sampai kini belum diganti, dia pernah datang ke markas-markas semua perkumpulan besar kai-pang.

Yang membuat dia tertegun adalah perubahan yang terjadi di situ. Baru pintu gerbangnya saja sudah amat megah dan dari situ nampak bangunan yang biar pun sederhana namun besar dan kokoh, bukan bangunan yang dulu lagi. Bangunan ini besar dan pekarangannya luas, bahkan tanaman di pekarangan itu nampak terawat dan teratur baik sekali sehingga tempat yang amat bersih itu sungguh tidak pantas menjadi bangunan pusat perkumpulan pengemis! Di atas pintu gerbang itu terdapat papan nama yang gagah dan indah seperti papan nama perusahaan besar saja, berbunyi ANG-KIN KAI-PANG.

Melihat tiga orang itu berdiri di depan pintu gerbang, dua orang anggota Ang-kin Kai-pang segera menghampiri mereka dari dalam. "Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?” tanya seorang di antara mereka singkat, namun sikapnya cukup menghormat,

Dengan sikap acuh dan suara sambil lalu kakek itu berkata, "Aku ingin bertemu dengan pimpinan Ang-kin Kai-pang."

Agaknya para anggota Ang-kin Kai-pang sudah mendengar tentang tiga orang ini. Hal ini nampak pada sikap mereka yang tidak merasa heran dengan ucapan kakek itu, bahkan dengan tegas mereka lalu membungkuk dan salah seorang di antaranya berkata, "Silakan masuk. Pimpinan kami sudah menanti kunjungan sam-wi (anda bertiga)!"

Dengan wajah tersenyum Bu Lee Ki melangkah masuk ke dalam pekarangan itu, diikuti Sin Wan dan Kui Siang yang diam-diam merasa tegang karena mereka maklum bahwa mereka memasuki ‘sarang harimau’. Kini dari kanan kiri nampak banyak anak buah Ang-kin Kai-pang berlarian, juga dari dalam gedung besar itu bermunculan lebih banyak lagi. Mereka itu membentuk pagar dan ketika Bu Lee Ki dan dua orang muda tiba di beranda, mereka sudah dihadang oleh pagar manusia yang mengepung mereka dengan setengah lingkaran. Jumlah para anggota Ang-kin Kai-pang tidak kurang dari tiga puluh orang dan karena mereka semua bersabuk merah walau pun pakaian mereka bermacam-macam, maka mereka seperti sekelompok murid perguruan silat saja.

Melihat pagar manusia itu menghadang dan mengepung, Bu Lee Ki terkekeh. "Heh-heh-heh, mana pimpinan kalian? Aku ingin bertemu!"

Daun pintu lebar yang menembus ke ruangan sebelah dalam terbuka, dan kini nampaklah belasan orang di sebelah dalam sedang duduk dan agaknya mereka sedang mengadakan pesta! Mereka yang berada di dalam itu menoleh ke luar, kemudian mereka pun bangkit berdiri.

Tujuh orang yang berpakaian sutera dengan sabuk merah berjalan di depan, sedangkan di belakang mereka nampak lima orang berpakaian perwira tinggi. Para pimpinan Ang-kin Kai-pang sedang menerima dan menyambut tamu-tamu mereka, yaitu para perwira itu, dan mereka sedang makan minum ketika kedatangan tiga orang itu mengganggu.

Tentu mereka semua sudah mendengar laporan dua orang anggota perkumpulan mereka mengenai peristiwa di rumah makan. Maka kini tujuh orang pemimpin, bahkan lima orang tamu mereka yang agaknya sudah mendengar pula, merasa tertarik sehingga semuanya keluar meninggalkan meja hidangan!

Biar pun mulutnya tersenyum-senyum dan matanya menjadi sipit hampir terpejam, diam-diam Bu Lee Ki memperhatikan wajah ketujuh orang pemimpin Ang-kin Kai-pang dan dia masih mengenal beberapa orang di antara mereka. Sebaliknya di antara para pimpinan itu ada yang merasa kenal dengan kakek pengemis itu, juga di antara para anggota Ang-kin Kai pang yang sudah tua, ada yang merasa tidak asing, akan tetapi mereka tidak dapat mengingat siapa adanya kakek pengemis itu.

Tujuh orang pimpinan itu berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun dan sikap mereka berwibawa. Seorang di antara mereka yang berjenggot panjang dan berusia lima puluhan tahun segera melangkah maju lantas mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada tiga orang tamu yang tidak diundang itu.

"Siapakah anda bertiga dan ada keperluan apa berkunjung ke tempat kami ini?"

Karena Sin Wan dan Kui Siang datang ke tempat itu hanya sebagai pengikut Bu Lee Ki, maka mereka diam saja, menyerahkan jawabannya kepada kakek itu.

"Mana ketua Ang-kin Kai-pang? Suruh dia keluar menemuiku! Aku hanya mau berbicara dengan ketua kalian," kata kakek itu. Karena dia bicara sambil tersenyum dan suaranya lembut, maka dalam ucapan itu tidak terkandung nada yang angkuh.

Biar pun demikian, tujuh orang pimpinan perkumpulan pengemis itu saling pandang dan wajah mereka berubah tidak senang karena mereka merasa diremehkan sekali oleh kakek pengemis asing ini. Ketua mereka, Thio Sam Ki, memang pada waktu itu tidak berada di situ, akan tetapi karena mendongkol mereka tidak mau membiarkan kakek ini pergi begitu saja sebelum merasakan keangkeran Ang-kin Kai-pang supaya nama serta kehormatan mereka tetap terjaga.

"Hemm, orang tua. Tidak begitu mudah untuk bertemu dengan ketua kami. Kalau engkau mampu melewati rintangan dan masuk sampai ke ruangan tamu di dalam, baru engkau ada harganya untuk bertemu dan menghadap ketua kami.”

Sesudah berkata demikian tujuh orang pimpinan itu melangkah mundur, lantas si jenggot panjang memberi isyarat kepada anak buahnya. Begitu ketujuh orang pimpinan dan lima orang perwira tinggi yang menjadi tamu itu masuk kembali, pintu besar dibiarkan terbuka, akan tetapi kini di depan pintu, di tempat para pimpinan tadi berdiri, sudah berdiri enam orang tinggi besar dengan tongkat merah di tangan. Mereka menuruni anak tangga dan membuat gerakan menggeser kaki, membuat setengah lingkaran menghadapi tiga orang itu.

"Bolehkah aku yang menghadapi mereka?" tanya Kui Siang kepada Bu Lee Ki dan kakek ini mengangguk sambil tersenyum. Dia pun mundur agak jauh lalu duduk di bawah pohon nongkrong seenaknya dengan santai untuk menjadi penonton!

"Sumoi, kita tidak mempunyai permusuhan dengan siapa pun. Harap berhati-hati, jangan sampai engkau mencelakai orang!" kata Sin Wan yang mulai khawatir kalau-kalau dalam kemarahannya sumoi-nya akan membunuh atau melukai orang sampai parah.

Kui Siang mengangguk, "Jangan khawatir, suheng."

Lega rasa hati Sin Wan mendengar jawaban itu, kemudian dia pun mengundurkan diri dan bergabung dengan Bu Lee Ki di bawah pohon. Melihat betapa mereka hendak dilawan oleh seorang gadis, enam orang itu tetap dengan pengepungan mereka. Mereka telah mendengar mengenai kelihaian gadis ini, maka tidak berani memandang ringan.

"Nona, keluarkan senjatamu. Kami akan menyerangmu dengan tongkat kami," kata salah seorang di antara mereka yang bertubuh gendut sehingga tidak patut menjadi pengemis, patutnya menjadi seorang cukong.

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka ini bukan orang.orang yang berwatak curang. Sebagai jawaban, Kui Siang meraba pinggangnya dan begitu tangannya bergerak, nampak berkelebat sinar yang menyilaukan mata dan tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang tipis dan yang tadi dia lilitkan di pinggangnya. Itulah Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) yang ampuh!

Melihat ini, enam orang anggota Ang-kin Kai-pang itu terbelalak kagum. "Nona, sebetulnya nona tidak berhak mencampuri urusan di antara pengemis, akan tetapi karena nona datang bersama pengemis tua itu, terpaksa kami akan melayani nona. Harap nona memperkenalkan diri terlebih dulu, siapakah nona dan apa hubungan nona dengan pengemis tua itu," kata pula si perut gendut yang agaknya menjadi pemimpin dari barisan tongkat enam orang itu.

"Namaku Lim Kui Siang dan locianpwe itu adalah paman guruku!" jawab Kui Siang. Bu Lee Ki adalah sababat baik guru-gurunya, maka sudah sepatutnya kalau dia mengakuinya sebagai paman guru.

"Heh-heh-heh, engkau memang murid keponakan yang baik, Kui Siang, hajar saja orang-orang yang tak tahu diri itu!" dari tempat dia menonton, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki berseru.

"Bersiaplah, nona, akan kami mulai!" Si gendut berseru nyaring dan ini merupakan aba-aba bagi para temannya untuk mulai dengan serangan mereka.

Enam batang tongkat merah menyambar dari depan, kanan dan kiri. Ada yang menusuk lurus ke arah dada, ada yang dari atas menghantam ke arah kepala dan ada pula yang membabat ke arah kedua kaki. Dan setiap batang tongkat mengeluarkan angin berdesing, tanda bahwa keenam orang itu memiliki tenaga yang cukup kuat!

Dengan tenang dan mudah saja Kui Siang melangkah mundur sehingga semua serangan itu pun luput. Akan tetapi enam orang itu melanjutkan serangan sambil menambah tenaga dan kecepatan sehingga enam batang tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar merah yang menyambar dari semua jurusan. Serangan itu datangnya tidak berbareng, melainkan susul menyusul dan bertubi-tubi sehingga tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada Kui Siang untuk membalas.

Gadis ini masih bersikap tenang saja. Dengan mempergunakan langkah-langkah Hui-niau Poan-soan (Langkah Ajaib Burung Terbang) yang cepat dan aneh dia mampu mengelak dari semua serangan. Bagi yang menonton pertandingan itu, seolah-olah gadis cantik itu nampak sedang menari-nari, mempergunakan enam helai selendang merah!

Tiba-tiba saja enam orang yang mengepung itu mengubah gerakan tongkat mereka. Kini mereka menyerang secara berbareng. Enam batang tongkat menyambar cepat dari enam penjuru, dari sekeliling tubuh gadis itu. Kui Siang memutar tubuh kemudian menggerakkan pedangnya. Terdengar bunyi nyaring berdenting ketika enam batang tongkat itu bertemu pedang.

Enam orang itu berseru kaget karena tongkat mereka segera patah ketika bertemu pedang tipis dan pada saat mereka mundur, Kui Siang sudah menggerakkan sepasang kakinya bertubi-tubi yang menyambar bagaikan kilat cepatnya, membuat orang-orang yang mengeroyoknya itu berpelantingan!

Mengerti bahwa mereka telah kalah, enam orang itu bangkit, memberi hormat kepada Kui Siang lantas mengundurkan diri. Terdengar tepuk tangan dari dalam dan ketika Kui Siang mengangkat muka memandang, yang bertepuk tangan itu adalah lima orang perwira tinggi yang tadi melanjutkan makan minum sebagai tamu sambil menonton pertandingan silat.

Akan tetapi tujuh orang pimpinan Ang-kin Kai-pang tidak bertepuk tangan, bahkan wajah mereka terlihat muram dan penasaran. Enam orang jagoan mereka telah tumbang secara demikian mudah di tangan seorang gadis muda!

"Hebat, kepandaian lihiap sungguh hebat, membuat kami merasa kagum!" kata seorang di antara lima perwira tinggi itu yang usianya lima puluh tahun lebih sambil mengangguk-angguk terhadap Kui Siang.

Akan tetapi dara ini tidak mempedulikan pujian itu melainkan memperhatikan gerakan dari sebelah dalam, karena kini sudah muncul sembilan orang lelaki anggota Ang-kin Kai-pang yang lainnya. Mereka tidak memegang tongkat merah seperti enam orang tadi, melainkan masing-masing membawa sebatang pedang! Agaknya sembilan orang ini adalah ahli-ahli pedang dari Ang-kin Kai-pang!

Salah seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Kui Siang. "Terima kasih bahwa Lim-lihiap telah memperlihatkan kepandaian dan memberi petunjuk kepada enam orang sute (adik seperguruan) kami. Akan tetapi kami mohon sukalah lihiap mundur dan membiarkan pengemis tua yang tidak mau memperkenalkan nama itu untuk maju menghadapi kami."

Melihat sikap dan kata-kata itu cukup sopan, Kui Sian menjadi ragu-ragu. Pada saat itu, Sin Wan sudah menghampirinya. "Sumoi, mundurlah. Aku sudah mendapat perkenan dari su-siok (paman guru) untuk mewakilinya menghadapi barisan Sembilan Pedang Naga ini."

Kui Siang mengangguk lantas berjalan ke bawah pohon di mana kakek itu menyambutnya dengan senyum gembira. Sembilan orang jagoan Ang-kin Kai-pang itu bertukar pandang, kemudian si tinggi kurus menghadapi Sin Wan dan memberi hormat.

"Orang muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa kami adalah barisan Sembilan Pedang Naga?" tanyanya sambil memandang penuh perhatian. "Dan siapakah anda?"

"Namaku Sin Wan, suheng dari nona Lim Kui Siang tadi. Kalian adalah jagoan-jagoan terkenal, tentu saja aku mengenal Kiu-liong Kiam-tin (Barisan Sembilan Padang Naga)."

"Bagus, kalau begitu keluarkan senjatamu, Sin-sicu (orang gagah Sin), kami sudah siap untuk menguji kelihaianmu."

Sin Wan dapat menduga bahwa sembilan orang lawannya ini tentu lihai sekali karena tadi kakek Bu Lee Ki sudah memberi tahu bahwa mereka adalah pasukan pedang yang amat tangguh dari Ang-kin Kai-pang. Bahkan kakek itu juga membisikkan bahwa dia tidak boleh membiarkan dirinya terkepung dan berusaha untuk berada di luar kepungan. Maka, tanpa ragu lagi dia segera mengeluarkan pedangnya dari balik jubahnya, pedang yang biasanya tersembunyi...