Social Items

DI RUANGAN terdapat lebih dari dua puluh orang. Tentu mereka adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena dia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu. Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan.

Mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walau pun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam. Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena pada ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Lekas ceritakan apa yang terjadi," kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu. Sekarang mayat itu rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat. "Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai. Kami segera mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelojotan sekarat, dengan kedua pipi ditembusi sebatang sumpit. Dengan hati-hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sinkang (tenaga sakti), kami bukanlah tandingan dua orang wanita itu. Pada saat itu pula, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), yaitu seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang. Dia datang bersama pasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini sudah melakukan pemerasan di kedai itu dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Karena semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami pun segera minta maaf kemudian membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)."

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang. Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggota Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru. Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya. Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemmm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji), coba periksa, apakah yang menyebabkan dia mati," perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu. Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umumnya bahwa bukan sumpit itu yang menyebabkan kematian. Dia lalu merobek baju pada bagian dada untuk memeriksa. Dan tepat di bawah tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, kematiannya disebabkan tiga batang jarum yang menembus bajunya kemudian memasuki dadanya," Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa dia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya? Jika sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang ini juga akan tewas seketika!" kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba saja nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik. Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!" kata Sui In dengan suara lantang tapi lembut.

"Pangcu... mereka... mereka inilah dua orang tamu di kedai itu..." kata si pengemis tinggi kurus.

Sejenak Souw Kiat memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kagum dan terkejut. Dua wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja. Dia sendiri yang biasanya sangat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka. Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang sesudah mendengar bahwa dua orang wanita ini adalah pembunuh anak buah mereka, "Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!"

Setelah berkata demikian, Souw Kiat segera memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh-sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya yang tadi memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi lihiap (pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung ke sini. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?”

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In mau pun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi timbul ketika melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mengeroyok itu. Sui In mengangguk.

"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan mengenai kai-pang pada umumnya." suara Sui In tenang, lembut namun penuh wibawa.

"Silakan duduk, ji-wi lihiap," kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk. "Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?"

"Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi-ku she Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia sangat kurang ajar, maka aku sudah melukainya dengan sumpit. Akan tetapi bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walau pun aku juga memiliki jarum beracun. Dan untuk membuktikan, jarum yang membunuh itu dapat dibandingkan dengan jarumku."

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak. Tidak terlihat dia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, pada dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.

Akan tetapi, kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna kehitaman, maka pada tltik-titik yang baru itu nampak jelas betapa kulit berikut daging yang tertembus jarum itu mencair seperti terbakar! Tentu saja semua orang menjadi terkejut bukan main.

"Ahhh... jarum-jarummu mengandung racun yang lebih dahsyat lagi, Cu-lihiap!” seru ketua itu.

Sui In tersenyum dingin, "Ini hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu. Dan sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan ketika mengemis, dan mengganggu wanita dengan mengandalkan kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!”

Wajah Souw Kiat berubah kemerahan. Walau pun lembut tetapi ucapan itu sungguh tajam seperti pedang menusuk ulu hatinya. Sinar matanya menjadi keras dan marah ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para pembantunya. "Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!”

Dua puluh empat orang ketua cabang itu cepat-cepat menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, tetapi satu demi satu mereka mundur lagi lalu menggelengkan kepala. Akhirnya dua puluh empat orang itu menyangkal semuanya dan tidak ada yang mengakui mayat itu sebagai bekas anggota mereka. Melihat ulah itu, Lili yang nakal dan galak lalu berkata kepada suci-nya, cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.

"Suci, apakah pernah engkau mendengar ada orang yang berani mengakui kesalahan dan cacat celanya? Aku sendiri belum pernah!"

Sui In menjawab dengan suara dingin, "Yang berani melakukan pengakuan semacam itu hanyalah orang-orang gagah saja, sumoi."

Mendengar ini wajah Souw Kiat menjadi semakin merah. Sepasang matanya melotot dan dia pun memandang kepada dua orang wanita itu. "Ji-wi lihiap, bukan watak kami untuk menyangkal kesalahan yang kami lakukan. Kalau para pembantuku ini mengatakan tidak, berarti memang tidak! Kami bukan pengecut! Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, maka kami pun tidak dapat memaksa."

Cu Sui In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan terkenal amat cerdik. Dengan tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu, dan dia pun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan seksama. Dia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan dia pun teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu.

Sikap pengemis baju hitam yang tewas itu terlampau menyolok, terlalu berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tak seberapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan membuat kekacauan. Kemudian muncul pengemis baju kembang bersama sepasukan penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan pengemis baju hitam. Dan pembunuhan rahasia terhadap pengemis yang mengacau itu! Semua itu merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apa-apanya.

"Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai musuh-musuh?" tiba-tiba Sui In bertanya.

Souw Kiat dan para pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran, kemudian menggelengkan kepala. "Sepanjang yang kami ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh. Musuh kami hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah kini mereka diusir, kami tidak mempunyai musuh lagi. Kenapa lihiap bertanya tentang itu?"

"Jawab sajalah," Sui Cin berkata dengan suaranya yang berwibawa. "Bagaimana dengan Hwa I Kai-pang? Apakah mereka bukan musuh Hek I Kai-pang?"

Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang. "Hwa I Kai-pang? Aihhh, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah segolongan dengan kami, mereka adalah rekan-rekan kami. Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat. Batasnya justru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat anggota-anggota kedua perkumpulan. Akan tetapi di antara kami tidak pernah ada permusuhan."

"Hemm, tadi kulihat sikap pengemis baju kembang itu tak bersahabat terhadap pengemis baju hitam. Bahkan dia juga memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan," Sui In mendesak.

Souw Kiat mengerutkan sepasang alisnya. "Hemm, terus terang saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum karena Lok-yang merupakan perbatasan. Kami sama-sama ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa, dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan suka menderma kepada kami. Hanya persaingan namun bukan permusuhan, dan selama ini tidak pernah terjadi bentrokan...," dia berhenti dan mengamati wajah cantik itu. "Akan tetapi kenapakah, lihiap?"

"Orang ini bukan anggota Hek I Kai-pang akan tetapi dia memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggota. Dia bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang ramai. Kemudian dia dibunuh secara diam-diam dan kebetulan sekali di sana mendadak muncul pasukan penjaga keamanan yang menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggota Hek I Kai-pang, diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di sana. Nah, kalau orang ini benar bukan anggota Hek I Kai-pang, kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak membocorkan rahasia itu."

"Ahhh..." Souw Kiat dan para pembantunya berseru kaget dan penasaran. "Tapi... tapi...”

"Souw pangcu, coba ceritakan, apakah antara Hek I Kai-pang dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu? Sekarang atau dalam waktu dekat ini?”

Souw Kiat mengerutkan alisnya, "Tidak ada perebutan sesuatu atau... ahh, mungkinkah? Dalam waktu dekat ini, sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang sedang merencanakan untuk mengadakan pertemuan besar. Kami semua sudah sepakat hendak mengangkat atau menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang. Orang ini akan menjadi atasan atau penasehat dari semua ketua empat kai-pang tersebar di empat penjuru. Tapi..."

"Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu, tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang hendak dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula yang kini menjadi pemimpin besar kai-pang."

Sekarang ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan dia menatap tajam wajah Sui In. Kemudian terdengarlah suaranya yang tegas. "Maaf, Cu-lihiap. Semua itu adalah urusan pribadi kai-pang, tak ada sangkut-pautnya dengan lihiap. Kami tidak boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang luar. Lagi pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua itu? Tidak ada manfaatnya bagi lihiap."

"Souw-pangcu. Aku telah mengambil keputusan untuk mendapat dukungan dari Hek I Kai-pang, bahkan mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti."

Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga memandang heran dan kaget. "Ahhh, apa maksud lihiap? Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili perkumpulan kami? Dan dukungan apa yang dapat kami berikan kepada lihiap?"

"Tentu saja mungkin apa bila engkau sebagai ketua Hek I Kai-pang memang menyetujui, pangcu. Aku dan sumoi-ku dapat saja menjadi anggota rombongan Hek I Kai-pang dalam pertemuan rapat besar itu. Ada pun dukungan yang kuminta adalah agar di dalam rapat itu Hek I Kai-pang mau mendukung diadakannya pemilihan pemimpin, kemudian mengajukan calon yang akan kutentukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang!”

Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut dan mukanya berubah merah. Juga para pembantunya banyak yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu dengan marah. "Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tak mungkin terjadi! Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang dalam pemilihan bengcu di dunia persilatan! Bagaimana seorang yang bukan pangemis bisa menjadi calon pemimpin besar kai-pang? Dan juga lihiap tidak berhak untuk mencampuri urusan kai-pang!"

Sui In tersenyum dingin sambil memandang kepada ketua itu dengan sinar mata tajam. "Souw Kiat, kenapa orang seperti engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang? Tentu karena engkau yang paling lihai di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, bukan?"

Souw-pangcu memandang tidak senang. "Kalau memang benar begitu, apa hubungannya denganmu?"

Sui In bangkit dengan tenang. "Kalau begitu aku hendak merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu dengan mengalahkanmu! Jika aku yang menjadi ketua, tentu aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi pemimpin besar kai-pang."

Semua orang menjadi gaduh dan bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang mereka anggap keterlaluan itu. Souw-pangcu sudah marah bukan main, akan tetapi sebagai orang yang telah banyak pengalaman, dia masih dapat menahan diri dan berkata dengan suara yang tegas.

"Cu-lihiap, sebenarnya apa yang kau kehendaki? Tidak mungkin Hek I Kai-pang memiliki ketua seorang wanita. Dan engkau juga bukan orang pengemis! Bagaimana mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan pengemis? Andai kata ada yang setuju pun, anggota Hek I Kai-pang lainnya yang berjumlah ratusan orang itu tentu akan merasa berkeberatan!"

"Hemm, kalau begitu jangan sampai memaksaku untuk merampas kedudukan ketua! Aku pun tidak suka menjadi ketua kaum jembel. Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang."

"Hemm, lalu siapakah calon yang kau pilih untuk menjadi pemimpin besar kai-pang?" Souw-pangcu bertanya, semakin penasaran.

Dengan wajah dingin akan tetapi bibirnya yang amat manis menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata, suaranya lantang terdengar oleh semua anggota kai-pang yang berada di situ. "Calonnya adalah aku sendiri! Aku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Bengcu."

Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh. Ada yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita itu. Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya ditertawakan orang. Walau pun sekarang Sui In sudah menjadi kakak seperguruannya, namun di dalam beberapa hal dia masih menganggapnya sebagai gurunya.

"Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau! Suci-ku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang, tetapi kalian tidak cepat menyambutnya dengan baik bahkan mentertawakan! Hayo, siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju melawan aku!"

Karena melihat kedua orang wanita ini datang tidak untuk memusuhi mereka, sebetulnya ketua Souw Kiat tak ingin memusuhi mereka dan telah menyambut mereka dengan sikap hormat. Akan tetapi, mendengar permintaan mereka untuk menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia sangat terkejut dan merasa penasaran.

Oleh karena itu dia pun diam saja ketika wakilnya yang bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu. Bagaimana pun juga kedua orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia tidak ingin perkumpulannya menjadi bahan tertawaan dunia kang-ouw. Dipimpin oleh wanita muda yang cantik! Bagaimana mungkin?

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan berpenyakitan, akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang ahli silat yang pandai. Dia memiliki tenaga sinkang yang kuat, juga memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan menjadi tangan kanan Souw Kiat. Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan dia pun sudah meloncat ke depan dara itu. Dengan telunjuk tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, dia kemudian membentak.

"Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang? Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan menghajarmu!” Dia berkata sambil melintangkan tongkat hitamnya di depan dada, tongkat yang sama dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, lalu menantang. "Hayo cepat keluarkan senjatamu!"

"Untuk apa senjata? Melawan orang macam engkau ini, dengan tangan kosong pun sudah terlalu kuat!" kata Lili dan kembali ucapannya itu membuat banyak orang merasa terkejut. Ada yang kagum akan keberaniannya, akan tetapi lebih banyak yang marah karena gadis ini dianggap terlalu sombong.

"Sumoi, jangan sampai membunuh orang!" kata Sui In. Dia tidak menghendaki Hek I Kai-pang mendendam padanya karena dia memerlukan bantuan dan dukungan perkumpulan pengemis ini.

"Jangan khawatir, suci. Aku hanya ingin memberi hajaran kepada anjing kurus ini."

Mendengar ucapan dua orang wanita itu, Lu Pi menjadi semakin marah. Mereka sungguh amat memandang rendah padanya. Dia telah memutar tongkat hitamnya sehingga benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam, kemudian dia berseru lantang. "Bocah sombong, lihat seranganku!"

Tanpa sungkan lagi dia menyerang gadis muda yang tidak memegang senjata itu. Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman. Biar pun dia sudah marah bukan main, namun dia tetap bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang tinggi.

Sesudah membentak sebagai peringatan pembukaan serangan, gulungan sinar hitam itu makin meluas dan tiba-tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu, menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili. Betapa pun juga, agaknya Lu Pi masih teringat bahwa yang diserangnya ini adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak bersenjata, oleh karena itu serangannya pun masih lunak dan hanya ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari totokan itu. Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak, tangan kanannya bergerak ke atas lantas jari tengahnya menjentik ke arah ujung tongkat yang datang menyambar pundaknya.

"Takkk!" Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya tergetar sehingga hampir saja tongkat itu terlepas dari genggamannya. Ujung jari tengah gadis itu membuat tongkatnya terpental keras! Kini tahulah dia bahwa lawannya bukan sekedar membual belaka. Gadis yang masih amat muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sinkang-nya lewat jentikan jari tadi saja telah terbukti kekuatannya. Dia pun tidak sungkan lagi dan serangan berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ujung tongkatnya bertubi-tubi mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan enak-enak saja. Lili sudah dapat mengukur tingkat kepandaian lawan, maka dia pun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang bergerak bagaikan dua ekor ular. Begitu lentur dan begitu aneh gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari dengan kepala terangkat. Ke mana pun ujung tongkat menotok selalu bertemu dengan ‘kepala’ dua ekor ular itu yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, dan sekarang menusuk ke arah tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan kanannya sekaligus menangkap ujung tongkat, gerakannya seperti ular yang membuka moncongnya dan menggigit. Ujung tongkat itu tertangkap dan sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili.

Seketika lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat mudahnya tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili. Gadis itu lalu menggunakan tongkat rampasannya untuk menyerang. Gerakannya aneh dan cepat, dan tubuh Lu Pi langsung menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri.

Walau pun Lu Pi berusaha untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah cepat dan terdengar suara bak-bik-buk ketika tongkat itu menggebuki kepala, punggung dan pinggulnya. Pukulan itu datang bertubi-tubi sehingga akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting roboh.

Sesudah lawannya roboh tanpa menderita luka parah, barulah Lili menghentikan pukulan tongkat. Dia lalu meremas tongkat itu dengan kedua tangannya. Bagian yang diremas itu menjadi hancur berkeping lalu dia pun melemparkan sisa tongkat serta remukannya itu ke arah tubuh Lu Pi yang mulai merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan telapak tangannya dari remukan kayu tongkat! Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggota kai-pang memandang dengan mata terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa wakil ketua mereka yang sangat lihai dengan tongkatnya itu roboh hanya dalam beberapa gebrakan saja, bahkan setelah dipermainkan oleh dara remaja itu, seperti seorang dewasa mempermainkan seorang kanak-kanak saja!

Lu Pi juga tahu diri. Dia maklum sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka dengan muka pucat dan kepala ditundukkan dia pun mundur ke sudut. Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada yang amat meremehkan.

"Nah, pangcu. Apakah engkau juga masih berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suci-ku ini?"

Wajah Souw Kiat kelihatan suram. Dia sudah melihat sendiri kekalahan wakilnya, dan dia pun tahu bahwa melawan gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang. Dia tidak sanggup mengalahkan Lu Pi dengan cara yang dilakukan gadis itu, sedemikian mudahnya! Apa lagi kalau harus melawan kakak seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi walau pun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.

"Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan kepandaian silatku. Kalau ada yang hendak merampas kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian," katanya akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.

"Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu kepandaian!” tantang Lili.

"Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua perkumpulan pengemis ini?" tanya Sui In.

Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat. "Aihh, siapa ingin mengetuai para jembel ini, suci? Tidak, aku hanya mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!"

"Kalau tidak, mundurlah, sumoi. Aku yang ingin menjadi ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu dari tangan Souw-pangcu."

Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah ruangan itu, lantas memandang kepada Souw Kiat sambil berkata, “Souw-pangcu, aku Cu Sui In hendak menantangmu mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua Hek I Kai-pang!"

Souw Kiat bangkit berdiri, kemudian dengan langkah lemas dia berjalan ke tengah ruang untuk menghadapi wanita cantik itu. Dia maklum bahwa kedudukannya sedang terancam. Souw Kiat memberi hormat dan berkata,

"Cu-lihiap, sungguh sikap lihiap ini sangat membingungkan hati kami. Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin menjadi pemimpin besar kai-pang? Apakah lihiap mempunyai alasan yang kuat? Dan sebelum kita bertanding, jika boleh kami mengetahui, dari partai manakah lihiap datang? Kami orang-orang Hek I Kai-pang selalu menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua golongan."

"Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kai-pang agar aku bisa mendapat dukungan kalau ada pemilihan pemimpin besar Kai-pang. Tujuanku bukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang, melainkan supaya aku dapat mewakili seluruh kai-pang untuk mengadakan pemilihan bengcu."

Mata Souw Kiat terbelalak. "Apakah... apakah lihiap yang masih semuda ini berkeinginan menjadi bengcu?”

Sui In menggelengkan kepala. “Bukan aku calon bengcu-nya, melainkan ayahku.”

“Siapakah ayah lihiap? Bolehkah kami mengetahui nama besarnya?"

"Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat."

Terdengar seruan-seruan kaget. Souw Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In. "Ahh, kiranya lihiap adalah puteri locianpwe See-thian Coa-ong!”

“Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran! Engkau telah dikalahkan oleh seorang murid dari locianpwe See-thian Coa-ong!" seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya.

Wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri. Kalau dikalahkan seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya. Namanya tak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh gadis sembarangan!

"Cu-lihiap, kalau demikian halnya, kiranya tidak perlu lihiap menjadi ketua Hek I Kai-pang. Kelak ketika ada pemilihan pemimpin seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon.”

"Souw-toako, bagaimana mungkin itu? Kalau Cu-lihiap bukan ketua kai-pang, bahkan juga bukan anggota, bagaimana mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?" Lu-pangcu mengingatkan ketuanya.

Souw Kiat mengangguk sambil mengerutkan alisnya. "Benar juga ucapan Lu-siauwte tadi. Bagaimana mungkin kami kelak mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua kai-pang?" Dia menghela napas panjang. "Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi, terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap. Kalau aku kalah, maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang."

"Hemm, silakan maju, pangcu," kata Sui In dan dengan sikap tenang dia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.

Akan tetapi Souw Kiat nampak tak bersemangat. Begitu mendengar bahwa wanita cantik ini adalah puteri See-thian Coa-ong, dia sudah menjadi jeri sekali. Apa lagi tadi dia melihat sendiri ketika wakilnya dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.

"Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tak akan menang melawanmu. Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan aku dalam hal tenaga sinkang, maka aku akan mengaku kalah dan akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap."

Sui In tersenyum. "Baik, kau mulailah!"

Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan dan dia pun mengerahkan tenaga, membuat gerakan seperti sedang memetik buah-buah dari atas, kemudian kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi tulang-tulang lengannya berkerotokan. Kedua tangannya terkembang ke bawah kemudian kembali membuat gerakan seperti mencabuti rumput-rumput dari bawah, lalu kedua tangan naik lagi dengan jari-jari terbuka menempel di kanan kiri pinggang. Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya tergetar, terisi tenaga sinkang yang dihimpunnya tadi...

Si Pedang Tumpul Jilid 14

DI RUANGAN terdapat lebih dari dua puluh orang. Tentu mereka adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena dia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu. Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan.

Mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walau pun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam. Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena pada ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Lekas ceritakan apa yang terjadi," kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu. Sekarang mayat itu rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat. "Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai. Kami segera mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelojotan sekarat, dengan kedua pipi ditembusi sebatang sumpit. Dengan hati-hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sinkang (tenaga sakti), kami bukanlah tandingan dua orang wanita itu. Pada saat itu pula, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), yaitu seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang. Dia datang bersama pasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini sudah melakukan pemerasan di kedai itu dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Karena semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami pun segera minta maaf kemudian membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)."

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang. Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggota Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru. Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya. Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemmm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji), coba periksa, apakah yang menyebabkan dia mati," perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu. Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umumnya bahwa bukan sumpit itu yang menyebabkan kematian. Dia lalu merobek baju pada bagian dada untuk memeriksa. Dan tepat di bawah tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, kematiannya disebabkan tiga batang jarum yang menembus bajunya kemudian memasuki dadanya," Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa dia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya? Jika sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang ini juga akan tewas seketika!" kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba saja nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik. Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!" kata Sui In dengan suara lantang tapi lembut.

"Pangcu... mereka... mereka inilah dua orang tamu di kedai itu..." kata si pengemis tinggi kurus.

Sejenak Souw Kiat memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kagum dan terkejut. Dua wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja. Dia sendiri yang biasanya sangat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka. Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang sesudah mendengar bahwa dua orang wanita ini adalah pembunuh anak buah mereka, "Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!"

Setelah berkata demikian, Souw Kiat segera memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh-sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya yang tadi memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi lihiap (pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung ke sini. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?”

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In mau pun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi timbul ketika melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mengeroyok itu. Sui In mengangguk.

"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan mengenai kai-pang pada umumnya." suara Sui In tenang, lembut namun penuh wibawa.

"Silakan duduk, ji-wi lihiap," kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk. "Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?"

"Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi-ku she Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia sangat kurang ajar, maka aku sudah melukainya dengan sumpit. Akan tetapi bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walau pun aku juga memiliki jarum beracun. Dan untuk membuktikan, jarum yang membunuh itu dapat dibandingkan dengan jarumku."

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak. Tidak terlihat dia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, pada dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.

Akan tetapi, kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna kehitaman, maka pada tltik-titik yang baru itu nampak jelas betapa kulit berikut daging yang tertembus jarum itu mencair seperti terbakar! Tentu saja semua orang menjadi terkejut bukan main.

"Ahhh... jarum-jarummu mengandung racun yang lebih dahsyat lagi, Cu-lihiap!” seru ketua itu.

Sui In tersenyum dingin, "Ini hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu. Dan sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan ketika mengemis, dan mengganggu wanita dengan mengandalkan kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!”

Wajah Souw Kiat berubah kemerahan. Walau pun lembut tetapi ucapan itu sungguh tajam seperti pedang menusuk ulu hatinya. Sinar matanya menjadi keras dan marah ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para pembantunya. "Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!”

Dua puluh empat orang ketua cabang itu cepat-cepat menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, tetapi satu demi satu mereka mundur lagi lalu menggelengkan kepala. Akhirnya dua puluh empat orang itu menyangkal semuanya dan tidak ada yang mengakui mayat itu sebagai bekas anggota mereka. Melihat ulah itu, Lili yang nakal dan galak lalu berkata kepada suci-nya, cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.

"Suci, apakah pernah engkau mendengar ada orang yang berani mengakui kesalahan dan cacat celanya? Aku sendiri belum pernah!"

Sui In menjawab dengan suara dingin, "Yang berani melakukan pengakuan semacam itu hanyalah orang-orang gagah saja, sumoi."

Mendengar ini wajah Souw Kiat menjadi semakin merah. Sepasang matanya melotot dan dia pun memandang kepada dua orang wanita itu. "Ji-wi lihiap, bukan watak kami untuk menyangkal kesalahan yang kami lakukan. Kalau para pembantuku ini mengatakan tidak, berarti memang tidak! Kami bukan pengecut! Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, maka kami pun tidak dapat memaksa."

Cu Sui In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan terkenal amat cerdik. Dengan tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu, dan dia pun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan seksama. Dia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan dia pun teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu.

Sikap pengemis baju hitam yang tewas itu terlampau menyolok, terlalu berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tak seberapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan membuat kekacauan. Kemudian muncul pengemis baju kembang bersama sepasukan penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan pengemis baju hitam. Dan pembunuhan rahasia terhadap pengemis yang mengacau itu! Semua itu merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apa-apanya.

"Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai musuh-musuh?" tiba-tiba Sui In bertanya.

Souw Kiat dan para pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran, kemudian menggelengkan kepala. "Sepanjang yang kami ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh. Musuh kami hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah kini mereka diusir, kami tidak mempunyai musuh lagi. Kenapa lihiap bertanya tentang itu?"

"Jawab sajalah," Sui Cin berkata dengan suaranya yang berwibawa. "Bagaimana dengan Hwa I Kai-pang? Apakah mereka bukan musuh Hek I Kai-pang?"

Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang. "Hwa I Kai-pang? Aihhh, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah segolongan dengan kami, mereka adalah rekan-rekan kami. Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat. Batasnya justru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat anggota-anggota kedua perkumpulan. Akan tetapi di antara kami tidak pernah ada permusuhan."

"Hemm, tadi kulihat sikap pengemis baju kembang itu tak bersahabat terhadap pengemis baju hitam. Bahkan dia juga memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan," Sui In mendesak.

Souw Kiat mengerutkan sepasang alisnya. "Hemm, terus terang saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum karena Lok-yang merupakan perbatasan. Kami sama-sama ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa, dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan suka menderma kepada kami. Hanya persaingan namun bukan permusuhan, dan selama ini tidak pernah terjadi bentrokan...," dia berhenti dan mengamati wajah cantik itu. "Akan tetapi kenapakah, lihiap?"

"Orang ini bukan anggota Hek I Kai-pang akan tetapi dia memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggota. Dia bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang ramai. Kemudian dia dibunuh secara diam-diam dan kebetulan sekali di sana mendadak muncul pasukan penjaga keamanan yang menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggota Hek I Kai-pang, diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di sana. Nah, kalau orang ini benar bukan anggota Hek I Kai-pang, kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak membocorkan rahasia itu."

"Ahhh..." Souw Kiat dan para pembantunya berseru kaget dan penasaran. "Tapi... tapi...”

"Souw pangcu, coba ceritakan, apakah antara Hek I Kai-pang dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu? Sekarang atau dalam waktu dekat ini?”

Souw Kiat mengerutkan alisnya, "Tidak ada perebutan sesuatu atau... ahh, mungkinkah? Dalam waktu dekat ini, sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang sedang merencanakan untuk mengadakan pertemuan besar. Kami semua sudah sepakat hendak mengangkat atau menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang. Orang ini akan menjadi atasan atau penasehat dari semua ketua empat kai-pang tersebar di empat penjuru. Tapi..."

"Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu, tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang hendak dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula yang kini menjadi pemimpin besar kai-pang."

Sekarang ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan dia menatap tajam wajah Sui In. Kemudian terdengarlah suaranya yang tegas. "Maaf, Cu-lihiap. Semua itu adalah urusan pribadi kai-pang, tak ada sangkut-pautnya dengan lihiap. Kami tidak boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang luar. Lagi pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua itu? Tidak ada manfaatnya bagi lihiap."

"Souw-pangcu. Aku telah mengambil keputusan untuk mendapat dukungan dari Hek I Kai-pang, bahkan mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti."

Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga memandang heran dan kaget. "Ahhh, apa maksud lihiap? Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili perkumpulan kami? Dan dukungan apa yang dapat kami berikan kepada lihiap?"

"Tentu saja mungkin apa bila engkau sebagai ketua Hek I Kai-pang memang menyetujui, pangcu. Aku dan sumoi-ku dapat saja menjadi anggota rombongan Hek I Kai-pang dalam pertemuan rapat besar itu. Ada pun dukungan yang kuminta adalah agar di dalam rapat itu Hek I Kai-pang mau mendukung diadakannya pemilihan pemimpin, kemudian mengajukan calon yang akan kutentukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang!”

Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut dan mukanya berubah merah. Juga para pembantunya banyak yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu dengan marah. "Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tak mungkin terjadi! Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang dalam pemilihan bengcu di dunia persilatan! Bagaimana seorang yang bukan pangemis bisa menjadi calon pemimpin besar kai-pang? Dan juga lihiap tidak berhak untuk mencampuri urusan kai-pang!"

Sui In tersenyum dingin sambil memandang kepada ketua itu dengan sinar mata tajam. "Souw Kiat, kenapa orang seperti engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang? Tentu karena engkau yang paling lihai di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, bukan?"

Souw-pangcu memandang tidak senang. "Kalau memang benar begitu, apa hubungannya denganmu?"

Sui In bangkit dengan tenang. "Kalau begitu aku hendak merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu dengan mengalahkanmu! Jika aku yang menjadi ketua, tentu aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi pemimpin besar kai-pang."

Semua orang menjadi gaduh dan bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang mereka anggap keterlaluan itu. Souw-pangcu sudah marah bukan main, akan tetapi sebagai orang yang telah banyak pengalaman, dia masih dapat menahan diri dan berkata dengan suara yang tegas.

"Cu-lihiap, sebenarnya apa yang kau kehendaki? Tidak mungkin Hek I Kai-pang memiliki ketua seorang wanita. Dan engkau juga bukan orang pengemis! Bagaimana mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan pengemis? Andai kata ada yang setuju pun, anggota Hek I Kai-pang lainnya yang berjumlah ratusan orang itu tentu akan merasa berkeberatan!"

"Hemm, kalau begitu jangan sampai memaksaku untuk merampas kedudukan ketua! Aku pun tidak suka menjadi ketua kaum jembel. Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang."

"Hemm, lalu siapakah calon yang kau pilih untuk menjadi pemimpin besar kai-pang?" Souw-pangcu bertanya, semakin penasaran.

Dengan wajah dingin akan tetapi bibirnya yang amat manis menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata, suaranya lantang terdengar oleh semua anggota kai-pang yang berada di situ. "Calonnya adalah aku sendiri! Aku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Bengcu."

Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh. Ada yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita itu. Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya ditertawakan orang. Walau pun sekarang Sui In sudah menjadi kakak seperguruannya, namun di dalam beberapa hal dia masih menganggapnya sebagai gurunya.

"Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau! Suci-ku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang, tetapi kalian tidak cepat menyambutnya dengan baik bahkan mentertawakan! Hayo, siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju melawan aku!"

Karena melihat kedua orang wanita ini datang tidak untuk memusuhi mereka, sebetulnya ketua Souw Kiat tak ingin memusuhi mereka dan telah menyambut mereka dengan sikap hormat. Akan tetapi, mendengar permintaan mereka untuk menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia sangat terkejut dan merasa penasaran.

Oleh karena itu dia pun diam saja ketika wakilnya yang bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu. Bagaimana pun juga kedua orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia tidak ingin perkumpulannya menjadi bahan tertawaan dunia kang-ouw. Dipimpin oleh wanita muda yang cantik! Bagaimana mungkin?

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan berpenyakitan, akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang ahli silat yang pandai. Dia memiliki tenaga sinkang yang kuat, juga memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan menjadi tangan kanan Souw Kiat. Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan dia pun sudah meloncat ke depan dara itu. Dengan telunjuk tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, dia kemudian membentak.

"Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang? Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan menghajarmu!” Dia berkata sambil melintangkan tongkat hitamnya di depan dada, tongkat yang sama dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, lalu menantang. "Hayo cepat keluarkan senjatamu!"

"Untuk apa senjata? Melawan orang macam engkau ini, dengan tangan kosong pun sudah terlalu kuat!" kata Lili dan kembali ucapannya itu membuat banyak orang merasa terkejut. Ada yang kagum akan keberaniannya, akan tetapi lebih banyak yang marah karena gadis ini dianggap terlalu sombong.

"Sumoi, jangan sampai membunuh orang!" kata Sui In. Dia tidak menghendaki Hek I Kai-pang mendendam padanya karena dia memerlukan bantuan dan dukungan perkumpulan pengemis ini.

"Jangan khawatir, suci. Aku hanya ingin memberi hajaran kepada anjing kurus ini."

Mendengar ucapan dua orang wanita itu, Lu Pi menjadi semakin marah. Mereka sungguh amat memandang rendah padanya. Dia telah memutar tongkat hitamnya sehingga benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam, kemudian dia berseru lantang. "Bocah sombong, lihat seranganku!"

Tanpa sungkan lagi dia menyerang gadis muda yang tidak memegang senjata itu. Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman. Biar pun dia sudah marah bukan main, namun dia tetap bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang tinggi.

Sesudah membentak sebagai peringatan pembukaan serangan, gulungan sinar hitam itu makin meluas dan tiba-tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu, menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili. Betapa pun juga, agaknya Lu Pi masih teringat bahwa yang diserangnya ini adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak bersenjata, oleh karena itu serangannya pun masih lunak dan hanya ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari totokan itu. Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak, tangan kanannya bergerak ke atas lantas jari tengahnya menjentik ke arah ujung tongkat yang datang menyambar pundaknya.

"Takkk!" Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya tergetar sehingga hampir saja tongkat itu terlepas dari genggamannya. Ujung jari tengah gadis itu membuat tongkatnya terpental keras! Kini tahulah dia bahwa lawannya bukan sekedar membual belaka. Gadis yang masih amat muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sinkang-nya lewat jentikan jari tadi saja telah terbukti kekuatannya. Dia pun tidak sungkan lagi dan serangan berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ujung tongkatnya bertubi-tubi mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan enak-enak saja. Lili sudah dapat mengukur tingkat kepandaian lawan, maka dia pun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang bergerak bagaikan dua ekor ular. Begitu lentur dan begitu aneh gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari dengan kepala terangkat. Ke mana pun ujung tongkat menotok selalu bertemu dengan ‘kepala’ dua ekor ular itu yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, dan sekarang menusuk ke arah tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan kanannya sekaligus menangkap ujung tongkat, gerakannya seperti ular yang membuka moncongnya dan menggigit. Ujung tongkat itu tertangkap dan sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili.

Seketika lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat mudahnya tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili. Gadis itu lalu menggunakan tongkat rampasannya untuk menyerang. Gerakannya aneh dan cepat, dan tubuh Lu Pi langsung menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri.

Walau pun Lu Pi berusaha untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah cepat dan terdengar suara bak-bik-buk ketika tongkat itu menggebuki kepala, punggung dan pinggulnya. Pukulan itu datang bertubi-tubi sehingga akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting roboh.

Sesudah lawannya roboh tanpa menderita luka parah, barulah Lili menghentikan pukulan tongkat. Dia lalu meremas tongkat itu dengan kedua tangannya. Bagian yang diremas itu menjadi hancur berkeping lalu dia pun melemparkan sisa tongkat serta remukannya itu ke arah tubuh Lu Pi yang mulai merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan telapak tangannya dari remukan kayu tongkat! Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggota kai-pang memandang dengan mata terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa wakil ketua mereka yang sangat lihai dengan tongkatnya itu roboh hanya dalam beberapa gebrakan saja, bahkan setelah dipermainkan oleh dara remaja itu, seperti seorang dewasa mempermainkan seorang kanak-kanak saja!

Lu Pi juga tahu diri. Dia maklum sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka dengan muka pucat dan kepala ditundukkan dia pun mundur ke sudut. Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada yang amat meremehkan.

"Nah, pangcu. Apakah engkau juga masih berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suci-ku ini?"

Wajah Souw Kiat kelihatan suram. Dia sudah melihat sendiri kekalahan wakilnya, dan dia pun tahu bahwa melawan gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang. Dia tidak sanggup mengalahkan Lu Pi dengan cara yang dilakukan gadis itu, sedemikian mudahnya! Apa lagi kalau harus melawan kakak seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi walau pun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.

"Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan kepandaian silatku. Kalau ada yang hendak merampas kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian," katanya akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.

"Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu kepandaian!” tantang Lili.

"Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua perkumpulan pengemis ini?" tanya Sui In.

Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat. "Aihh, siapa ingin mengetuai para jembel ini, suci? Tidak, aku hanya mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!"

"Kalau tidak, mundurlah, sumoi. Aku yang ingin menjadi ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu dari tangan Souw-pangcu."

Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah ruangan itu, lantas memandang kepada Souw Kiat sambil berkata, “Souw-pangcu, aku Cu Sui In hendak menantangmu mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua Hek I Kai-pang!"

Souw Kiat bangkit berdiri, kemudian dengan langkah lemas dia berjalan ke tengah ruang untuk menghadapi wanita cantik itu. Dia maklum bahwa kedudukannya sedang terancam. Souw Kiat memberi hormat dan berkata,

"Cu-lihiap, sungguh sikap lihiap ini sangat membingungkan hati kami. Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin menjadi pemimpin besar kai-pang? Apakah lihiap mempunyai alasan yang kuat? Dan sebelum kita bertanding, jika boleh kami mengetahui, dari partai manakah lihiap datang? Kami orang-orang Hek I Kai-pang selalu menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua golongan."

"Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kai-pang agar aku bisa mendapat dukungan kalau ada pemilihan pemimpin besar Kai-pang. Tujuanku bukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang, melainkan supaya aku dapat mewakili seluruh kai-pang untuk mengadakan pemilihan bengcu."

Mata Souw Kiat terbelalak. "Apakah... apakah lihiap yang masih semuda ini berkeinginan menjadi bengcu?”

Sui In menggelengkan kepala. “Bukan aku calon bengcu-nya, melainkan ayahku.”

“Siapakah ayah lihiap? Bolehkah kami mengetahui nama besarnya?"

"Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat."

Terdengar seruan-seruan kaget. Souw Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In. "Ahh, kiranya lihiap adalah puteri locianpwe See-thian Coa-ong!”

“Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran! Engkau telah dikalahkan oleh seorang murid dari locianpwe See-thian Coa-ong!" seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya.

Wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri. Kalau dikalahkan seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya. Namanya tak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh gadis sembarangan!

"Cu-lihiap, kalau demikian halnya, kiranya tidak perlu lihiap menjadi ketua Hek I Kai-pang. Kelak ketika ada pemilihan pemimpin seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon.”

"Souw-toako, bagaimana mungkin itu? Kalau Cu-lihiap bukan ketua kai-pang, bahkan juga bukan anggota, bagaimana mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?" Lu-pangcu mengingatkan ketuanya.

Souw Kiat mengangguk sambil mengerutkan alisnya. "Benar juga ucapan Lu-siauwte tadi. Bagaimana mungkin kami kelak mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua kai-pang?" Dia menghela napas panjang. "Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi, terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap. Kalau aku kalah, maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang."

"Hemm, silakan maju, pangcu," kata Sui In dan dengan sikap tenang dia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.

Akan tetapi Souw Kiat nampak tak bersemangat. Begitu mendengar bahwa wanita cantik ini adalah puteri See-thian Coa-ong, dia sudah menjadi jeri sekali. Apa lagi tadi dia melihat sendiri ketika wakilnya dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.

"Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tak akan menang melawanmu. Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan aku dalam hal tenaga sinkang, maka aku akan mengaku kalah dan akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap."

Sui In tersenyum. "Baik, kau mulailah!"

Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan dan dia pun mengerahkan tenaga, membuat gerakan seperti sedang memetik buah-buah dari atas, kemudian kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi tulang-tulang lengannya berkerotokan. Kedua tangannya terkembang ke bawah kemudian kembali membuat gerakan seperti mencabuti rumput-rumput dari bawah, lalu kedua tangan naik lagi dengan jari-jari terbuka menempel di kanan kiri pinggang. Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya tergetar, terisi tenaga sinkang yang dihimpunnya tadi...