Social Items

DEMIKIANLAH, pagi hari itu ketika Sin Wan dan Kui Siang menuruni bagian timur lembah Pek-in-kok, Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan bekas murid yang kini menjadi sumoi-nya (adik seperguruannya) mendaki lembah bukit sebelah barat. Sui In dan Lili menggunakan ilmu berlari cepat dan bagaikan melayang saja mereka mendaki lembah bukit yang bagi orang biasa merupakan daerah yang amat sukar dilalui itu.

Mereka mendaki Pek-in-kok hanya dengan satu tujuan, yaitu untuk membalas kekalahan mereka pada sepuluh tahun yang lalu. Dewi Ular Cantik Cu Sui In memiliki watak seperti ayahnya, yaitu tidak pernah dapat menelan kekalahan dari orang lain. Oleh karena itu dia merasa terhina dan hatinya sakit sekali ketika dia dikalahkan oleh Sam Sian dalam usaha memperebutkan pusaka-pusaka istana.

Urusan pusaka sudah tidak diingatnya lagi, akan tetapi kekalahan yang dideritanya selalu menghantuinya dan da tidak akan merasa tenang sebelum dapat membalas dan menebus kekalahannya itu. Dan Lili yang kini menjadi sumoi-nya agaknya juga tidak pernah dapat melupakan penghinaan yang dialaminya dari anak laki-laki yang agaknya murid Sam Sian itu.

Anak laki-laki yang tak dikenal namanya itu, yang dia namakan Si Kerbau-sapi-kuda-babi-anjing-kucing itu sudah menangkapnya, memaksanya menelungkup di atas pangkuannya lantas menampari pinggulnya sepuluh kali seakan-akan seorang ayah yang menghukum anaknya yang nakal saja! Sampai mati dia tidak akan dapat melupakan penghinaan itu! Ia akan membalas penghinaan itu dengan pukulan sampai seratus kali biar pantat orang itu hancur menjadi bubur! Setiap kali membayangkan peristiwa itu, muka Lili menjadi merah sekali dan kemarahan seolah-olah membuat matanya berkilat dan napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengandung api!

Ketika dua orang wanita cantik itu tiba di depan pondok-pondok bambu yang sederhana namun rapi dan bersih itu, Sam Sian sedang duduk bersila di depan pondok, menikmati sinar matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang segar. Mereka duduk bersila di atas batu-batu datar yang halus, menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang sinarnya masih lembut. Ketika dua orang wanita itu muncul dan berloncatan ke depan mereka, tiga orang kakek itu memandang dengan heran.

Melihat mereka sanggup naik ke Pek-in-kok saja sudah dapat mereka ketahui bahwa dua orang wanita itu bukanlah orang-orang lemah, dan yang membuat mereka heran adalah sikap dan wajah mereka, terutama sinar mata mereka yang membayangkan kemarahan besar. Tiga pertapa itu adalah orang-orang yang sudah dapat membebaskan diri dari kekuasaan nafsu, maka tiada lagi dendam atau ganjalan di dalam hati dan pikiran mereka. Tidak ada lagi kenangan yang hanya menimbulkan suka duka, dendam dan budi.

Maka tentu saja mereka tidak ingat lagi siapa adanya dua orang wanita cantik ltu. Bahkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih sudah memejamkan mata dan menundukkan muka, tidak peduli dengan dua orang wanita yang muncul sebagai pengganggu ketenteraman mereka. Hanya Dewa Arak yang memandang mereka dengan mulut tersenyum ramah.

Seperti biasanya, dalam menghadapi urusan apa pun juga Ciu-sian Tong Kui ini selalu mengandalkan araknya. Dia meneguk arak dari guci yang selalu berada di dekatnya, guci arak pusaka pemberian dari kaisar yang isinya tentu saja sudah habis karena arak yang diterima dari kaisar sepuluh tahun yang lalu itu sudah dihabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu! Kini tinggal gucinya yang diisi arak biasa.

"Heh-heh-heh, angin apakah yang meniup kalian dua orang wanita cantik ke Pek-in-kok?"

"Angin dari Bukit Ular Pegunungan Himalaya," jawab Sui In dengan singkat dan ketus.

"Bukit Ular di Himalaya? Wah-wah-wah, bagaimana kabarnya dengan sahabat See-thian Coa-ong Cu Kiat? Kalian diutus oleh Raja Ular itu, bukan?" Dewa Arak meneguk kembali guci araknya.

"Ayahku tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatanganku ini. Aku datang untuk urusan pribadi dengan Sam Sian!"

"Ho-ho-ho, kami tiga orang tua bangka tidak pernah mempunyai urusan pribadi, apa lagi dengan wanita muda dan cantik," kata Dewa Arak dengan sikapnya yang seenaknya.

"Mudah-mudahan saja Sam Sian yang terkenal sebagai sesepuh dunia persilatan bukan hanya pengecut-pengecut yang pura-pura melupakan apa yang pernah mereka lakukan. Sam Sian, ingatkah kalian kejadian sepuluh tahun yang lalu? Aku, Bi-coa Sian-li Cu Sui In pernah kalian kalahkan. Nah, inilah aku, datang untuk menantang kalian, untuk membalas kekalahanku yang dulu. Sekali ini mudah-mudahan saja Sam Sian bukan tiga orang laki-laki licik dan curang yang suka main keroyokan terhadap lawannya seorang wanita. Aku tantang kalian untuk main satu demi satu mengadu kepandaian!"

"Wah-wah-wah, engkau terlambat, nona. Dahulu engkau menantang kami untuk merebut pusaka-pusaka istana itu, bukan? Sekarang pusaka-pusaka itu sudah kami kembalikan kepada kaisar. Apa bila engkau menginginkannya, datanglah ke kota raja dan minta saja kepada kaisar. Kami tidak tahu menahu lagi...”

"Aku tidak butuh pusaka! Aku datang untuk menebus kekalahanku sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah cukup kaya, akan tetapi kalian telah menghinaku sepuluh tahun yang lalu, meruntuhkan nama dan kehormatanku. Hari ini kalian harus membayarnya!"

"Siancai...! Kalau ada yang terang, mengapa memilih yang gelap? Kalau ada yang jernih mengapa memilih yang keruh? Kalau ada yang tenang, mengapa memilih kekacauan?" Yang berkata itu adalah Dewa Pedang. Kemudian terdengar Dewa Rambut Putih juga bicara dengan suaranya yang lembut sambil tersenyum ramah.

“Nona, sepuluh tahun yang lampau, ketika berhadapan denganmu, kami adalah petugas-petugas utusan kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka yang tercuri. Sesudah pusaka itu kami kembalikan, kami sudah mencuci tangan dan mengundurkan diri, dan bagi kami, perlstiwa dengan nona sepuluh tahun yang lalu sudah tidak ada lagi," kata-katanya amat lembut, kemudian disusul kakek ini menyanyikan ayat-ayat yang diambilnya dari kitab To-tik-keng, yaitu kitab suci Agama To.

"Tariklah tali gendewa anda sepenuhnya gendewa dapat patah dan sesal pun tiada guna. Asahlah pedang anda setajam-tajamnya mata pedang dapat aus dan takkan bertahan lama. Tumpuklah emas permata di kamar anda dan anda akan bersusah payah menjaganya. Membanggakan kekayaan dan kehormatan harga diri hanya menyebar benih kehancuran pribadi. Undurlah sesudah tugas terlaksana demikian cara Langit bekerja.”

"Hemm, apa yang kau maksudkan dengan nyanyianmu tadi?" Dewi Ular Cantik bertanya dengan suara mengejek. "Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan khotbah!”

Dewa Arak tertawa. "Nona, Dewa Rambut Putih telah menyanyikan ayat suci dari Agama To, kenapa nona tidak mengerti? Maksudnya adalah dalam kehidupan ini seyogyanya kita tidak berlebihan dalam segala hal, hanya memenuhi tugas dan kewajiban dan tidak mabok kemenangan atau keberhasilan. Mengenal batas dan tahu diri. Nona agak berlebihan dan terburu nafsu sehingga peristiwa sepuluh tahun yang lampau masih disimpan dalam hati sebagai dendam. Bukankah berarti nona meracuni diri sendiri selama sepuluh tahun ini? Dan semua itu untuk apa? Hanya untuk menebus kekalahan! Hanya untuk menang!”

"Sudahlah, tak perlu berkhotbah lagi. Aku datang untuk menantang kalian. Mau atau tldak kalian harus menerima tantanganku, karena kalau kalian tidak mau menandingiku, maka aku akan menyerang dan kalian akan mati konyol!"

"Nanti dulu, suci!" kata Lili. "Jangan bunuh mereka dulu sebelum memberi tahu kepadaku. Hei, ketiga totiang. Aku mencari anak setan kurang ajar itu. Di mana dia?"

"Anak setan yang mana? Di sini tidak ada anak setan, yang ada hanya anak manusia, nona," kata Dewa Arak.

“Aku mencari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu!" kata pula Lili sambil mengepal tinju.

Dewa Arak melongo, memandang kepada gadis cantik itu dan hatinya berkata, "Sungguh sayang, nona begini cantik tapi otaknya miring!"

Melihat kakek itu bengong saja, Lili membentak marah. "Jangan pura-pura! Aku mencari anak laki-laki yang sepuluh tahun lalu bersama kalian. Dia tentu murid kalian! Di mana si keparat itu?"

"Ooohhh, kau maksudkan Sin Wan? Dia sedang pergi."

"Sudahlah, sumoi. Nanti kita cari musuhmu itu, sekarang aku akan membereskan dahulu tiga orang ini!" kata Si Dewi Ular dan dia telah mencabut pedangnya, lalu berkata kepada tiga orang pertapa itu. "Sam Sian, aku Bi-coa Sian-li Cu Sui In menantang Sam Sian maju satu demi satu, tidak main keroyokan seperti pengecut-pengecut liar!"

Tiga orang kakek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa mereka itu merasa enggan untuk berkelahi meski pun sedikit pun tak merasa takut. Bagi mereka, melayani tantangan Dewi Ular Cantik itu sama saja dengan ikut menjadi gila. Di antara mereka dan wanita itu sebetulnya tidak ada permusuhan apa pun.

Dahulu mereka memang memperebutkan pusaka, akan tetapi sekarang pusaka itu sudah kembali kepada pemiliknya. Tentang kalah menang dalam pertandingan, bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal biasa dan tidak pernah mendatangkan sakit hati dan dendam.

"Suci, percuma menantang pengecut. Mereka takut!" kata Lili mengejek.

Sui In mengerutkan sepasang alisnya. “Sam Sian, kalau kalian takut, kalian harus berlutut minta ampun kepadaku, baru akan kupertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian!"

Kata-kata ini sengaja dikeluarkan Sui In untuk menyudutkan mereka. Tentu saja dia tahu bahwa orang-orang seperti Tiga Dewa itu tidak akan merasa takut menghadapi tantangan siapa pun juga. Ia sengaja memanaskan hati mereka supaya mereka segera menyambut tantangannya. Dan usahanya berhasil. Pantang bagi semua tokoh dunia persilatan kalau dikatakan takut.

"Siancai...! Bi-coa Sian-li terlalu memaksa orang. Baiklah, karena engkau telah mencabut pedang, pinto (aku) akan melayanimu sejenak," kata Kiam-sian Louw Sun sambil meraba pinggangnya.

Tapi alisnya berkerut dan dia segera teringat bahwa tidak ada lagi pedang di pinggangnya. Pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari), yang biasanya dililitkan di pinggang, kini tidak ada lagi di pinggangnya karena sudah dia berikan kepada muridnya, Lim Kui Siang! Sedangkan Pedang Tumpul yang diterimanya dari Kaisar, sudah dia berikan kepada Sin Wan.

Tadinya pedang-pedang itu hanya dipergunakan oleh kedua orang murid itu untuk latihan ilmu pedang, namun kemudian Si Dewa Pedang memberikan pedang-pedang itu kepada mereka karena dia sendiri tidak membutuhkan pedang. Baru sekarang dia teringat, akan tetapi dia tersenyum dan sama sekali tidak menjadi panik.

"Bi-coa Sian-li, maaf, aku tidak memiliki pedang. Biarlah kupergunakan sebatang ranting pohon saja untuk melayanimu bermain pedang," katanya.

Dia pun segera menghampiri sebatang pohon dan mematahkan ranting yang panjang dan besarnya seperti pedang. Setelah itu dia kembali menghadapi wanita itu dengan pedang kayu di tangan!

Wajah wanita itu berubah merah karena dia sudah marah sekali. "Dewa Pedang, engkau sungguh menghina dan berani memandang rendah kepadaku. Baik, kau akan menebus penghinaan ini dengan nyawamu!"

Cu Sui In sudah menggerakkan pedangnya sambil mengeluarkan bentakan nyaring. Sinar pedang menyambar ganas dan Dewa Pedang cepat meloncat untuk menghindarkan diri sambil mengelebatkan pedang kayunya, menusuk atau menotok ke pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Tetapi Dewi Ular yang cantik itu cepat menarik kembali tangannya, memutar pergelangan tangan dan pedang itu sudah meluncur lagi dengan tusukan dahsyat yang membuat Dewa Pedang terkejut sehingga terpaksa meloncat lagi ke samping untuk menghindarkan diri.

Dewi Ular mendesak terus, kini pedangnya telah berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata dan dari gulungan sinar itu terdengar suara bercuitan melengking. Diam-diam Dewa Pedang terkejut bukan kepalang. Dia cepat memutar pedang kayunya sambil mempergunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini.

Dari gerakan pedang lawan tahulah dia bahwa wanita ini sama sekali tak dapat disamakan dengan sepuluh tahun yang silam. Kini ilmu pedangnya matang dan mantap, gerakannya cepat dan ringan sekali sedangkan tenaga sinkang yang terkandung di dalam pedang itu kuat sekali, membuat pedang kayunya selalu terpental dan tangannya tergetar. Tahulah Dewa Pedang bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh!

Penglihatan Dewa Pedang memang tidak keliru. Selama sepuluh tahun ini Cu Sui In telah menggembleng diri dengan tekun di bawah bimbingan ayahnya sehingga di samping ilmu-ilmunya menjadi matang, juga ginkang dan sinkang yang dikuasainya menjadi makin kuat. Selain itu ayahnya juga mengajarkan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya, yang diberi nama Hek-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Hitam).

Si Raja Ular Cu Kiat menciptakan ilmu pedang ini berdasarkan gerakan seekor ular hitam yang sangat beracun, yaitu seekor cobra hitam, kalau binatang itu marah dan menyerang. Untuk menyempurnakan ciptaannya ini dia sudah mengorbankan beratus-ratus ekor cobra hitam dan musang yang diadunya agar dia dapat menangkap inti sari gerakan ular hitam itu. Akhirnya dia berhasil menciptakan Hek-coa Kiam-sut yang terdiri dari delapan belas jurus yang ampuh sekali. Dan ketika puterinya menggembleng diri selama sepuluh tahun, dia mengajarkan ilmu pedang ini kepada puterinya dan kepada muridnya, yaitu Tang Bwe Li.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sepuluh tahun yang silam tingkat kepandaian Sui In masih kalah setingkat dibandingkan tingkat seorang di antara Sam Sian. Namun sekarang keadaannya sudah berubah sama sekali. Apa bila Sui In selama sepuluh tahun menggembleng diri dan tekun berlatih, maka sebaliknya Tiga Dewa jarang berlatih kecuali hanya kalau sedang mengajar kedua orang murid mereka.

Sekarang tingkat kepandaian Sui In sudah sejajar dengan kepandaian Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih). Hanya Ciu-sian Si Dewa Arak yang diam-diam sudah merangkai sebuah ilmu yang dia ambil dari inti sari kepandaian mereka bertiga. Biar pun nampaknya ugal-ugalan dan suka main-main, namun sebenarnya Dewa Arak memiliki kecerdikan luar biasa.

Selama sepuluh tahun ini otaknya bekerja keras. Dia minta kepada dua orang rekannya agar merangkum dasar dari ilmu masing-masing, lantas dia menggabungkan inti sari ilmu mereka bertiga, dijadikan sebuah ilmu yang setiap hari masih terus disempurnakannya.

Dua orang rekannya yang tidak serajin Dewa Arak mengetahui tentang hal itu, akan tetapi tidak punya niat untuk ikut mempelajarinya. Mereka pun tahu bahwa Dewa Arak sengaja menciptakan ilmu gabungan itu bukan untuk dirinya sendiri, namun untuk dua orang murid mereka, yaitu Sin Wan dan Kui Siang.

Sesudah berhasil menciptakan ilmu gabungan ini, diam-diam Dewa Arak menuliskannya dalam sebuah kitab. Dari tahun ke tahun dia terus menyempurnakan ilmu itu dan sampai saat ini belum mengajarkannya kepada Sin Wan mau pun Kui Siang.

Hal ini adalah karena untuk dapat mempelajari dan melatih ilmu itu, harus memiliki dasar yang amat kuat, dan tenaga sinkang yang cukup. Kalau tidak, ilmu yang aneh ini bahkan dapat menimbulkan bahaya besar, dapat mengakibatkan luka dalam yang parah kepada yang melatihnya. Akan tetapi tingkat kepandaian Dewa Arak dengan sendirinya juga telah meningkat pesat karena menguasai ilmu baru itu.

Pertandingan antara Dewa Pedang dengan Dewi Ular Cantik berjalan semakin seru. Dewa Rambut Putih dan Dewa Arak diam-diam amat menyayangkan bahwa rekan mereka telah memberikan Pedang Sinar Matahari kepada Kui Siang dan Pedang Tumpul kepada Sin Wan. Kalau saja rekan mereka itu memegang satu di antara dua buah senjata pusaka itu, tentu akan lain keadaannya.

Akan tetapi sekarang Dewa Pedang hanya bersenjatakan sebatang ranting pohon. Kalau menghadapi lawan lain, mungkin sebatang ranting itu sudah cukup ampuh karena tangan Dewa Pedang yang mengandung tenaga sinkang yang kuat itu dapat membuat ranting itu menjadi senjata yang cukup tangguh. Akan tetapi yang kini dihadapinya adalah Dewi Ular Cantik yang ternyata memiliki kepandaian yang demikian tingginya.

Setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah Dewa Pedang terdesak hebat oleh lawannya. Dua kali sudah ujung ranting yang digunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang semakin lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti desis seekor ular cobra dan dia sudah mengubah gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut! Begitu dia memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya!

Gerakan pedang lawan itu seperti seekor ular cobra yang menyerang lawan. Dia berusaha untuk membentuk parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat sekali, namun tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biar pun dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak kirinya tertusuk ujung pedang lawan.

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia terhuyung ke depan dan ketika itu pula Dewi Ular Cantik sudah menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan mata sehingga Dewa Pedang terpaksa meloncat jauh ke atas untuk menghindarkan diri dari ilmu pedang yang gerakannya seperti ular itu! Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas seperti seekor burung rajawali ketika menghadapi ular.

Akan tetapi Dewi Ular Cantik sudah dapat menduga taktik ini dan dia pun ikut meloncat ke atas. Ketika berlompatan mereka mengadu pedang dan ranting di udara, lantas keduanya turun lagi dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka berdarah.

Sekarang keduanya sudah sampai ke puncak pertandingan, saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara. Namun tiba-tiba saja dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum hitam. Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian serangan pedangnya yang sangat ganas.

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting melindungi dirinya, akan tetapi biar pun dia berhasil memukul runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu menghindarkan tusukan pedang lawan yang menghujam lambungnya. Kembali mereka berdua melompat turun dalam jarak yang cukup jauh. Dewa Pedang dapat turun dengan berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya ketika tangan kirinya mendekap lambung yang terluka.

"Hyaaattt...!” Dia menggerakkan tangan kanan sambil membalik ke arah Dewi Ular Cantik. Ranting di tangannya itu meluncur seperti anak panah ke arah lawan.

Cu Sui In terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawan yang sudah terluka parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu. Dia menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur cepat ke arah pohon lalu menancap ke batang pohon seperti anak panah yang dilepas dari dekat! Akan tetapi itulah serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya kemudian menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir keluar. Akan tetapi sesudah memeriksanya, tahulah Dewa Arak bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah sehingga tak mungkin dapat disembuhkan lagi. Pedang Dewi Ular Cantik bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan telah melukai anggota badan sebelah dalam sehingga tidak mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio Ki meloncat ke depan wanita cantik itu. "Siancai..., hatimu sungguh ganas dan kejam sekali, Bi-coa Sian-li. Dahulu kami mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau berusaha membunuh kami.”

"Pek-mou-sian! Terluka atau pun tewas dalam pertandingan sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan. Hal itu biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi! Kalau tadi aku yang kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas. Nah, sekarang majulah, aku telah siap!" tantang wanita cantik itu.

"Suci, engkau sudah lelah. Biarkan aku maju mewakilimu menghadapi dia!" Tang Bwe Li melompat ke depan, akan tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.

"Sumoi, mundurlah kau! Ingat, jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan pribadiku, kau tahu? Biar andai kata aku terdesak dan terancam maut sekali pun, engkau tidak boleh turun tangan!"

Lili mundur. Dia maklum akan watak kakak seperguruannya, bekas gurunya ini. Cu Sui In memiliki watak persis ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong Cu Kiat. Watak yang keras dan gagah, juga tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut. Karena itulah dia tidak menghendaki sumoi-nya turut mencampuri pertandingannya melawan Sam Sian, apa lagi setelah melihat betapa Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya.

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili suci-nya, hal itu adalah karena gadis ini tahu benar betapa suci-nya itu telah lelah karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika melawan Kiam-sian, biar pun suci-nya keluar sebagai pemenang. Dan dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian kakek berambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang pula.

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau dia lancang melakukan hal ini, suci-nya tentu akan marah bukan main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan merendahkan harga diri suci-nya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan. Tadi dia pun mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang sangat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti gerakan ular cobra tadi. Bahkan rekannya yang dijuluki Dewa Pedang dan ahli dalam ilmu pedang saja masih tidak mampu menandingi ilmu pedang ular itu.

Akan tetapi Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama sekali. Bagi dia hidup atau mati bukan hal yang paling penting. Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu mengambil jalan yang benar. Kalau sudah benar, mati atau hidup sama saja! Mati karena membela yang benar jauh lebih baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

“Siancai..!” Ingat baik-kaik, Bi-coa Sian-li, engkau sendiri yang datang ke sini mencari dan menantang kami. Baik kalah atau menang akibatnya adalah tanggunganmu. Kami hanya melayani permintaanmu."

"Aku datang bukan hendak berdebat. Lekas keluarkan senjatamu kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!” bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas serta sulingnya. Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya dengan tangan kanan. Dia bersikap tenang walau pun waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganas pun, seperti tadi dia menyerang Dewa Pedang dengan jarum beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

"Bi-coa Sian-li, aku sudah siap,” katanya.

Baru saja kata-katanya habis, pedang di tangan Cu Sui In sudah menerjangnya dengan dahsyat bukan kepalang. Dewa Rambut Putih mengebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya menangkis.

"Tranggg...!” Suling menangkis pedang dan kipasnya mengebut ke arah muka lawan. Cu Sui In cepat mengelak dari sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba saja kipas itu menutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In. Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja, namun sebenarnya di balik gerakan yang lernbut itu terkandung tenaga yang dahsyat. Tahulah Cu Sui In bahwa lawannya amat lihai, sesuai dengan filsafah Agama To yang selalu menekankan bahwa yang kosong itu berisi, bahkan yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat berarti kalau ada bagiannya yang kosong.

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk menghargai segala sesuatu yang kosong atau bahkan ‘yang tidak ada’ dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat digunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya. Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di pintu dan jendelanya.

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut Putih, nampak lembut namun sesungguhnya sangat kuat! Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang banyak tenaga. Dia sudah mulai merasa lelah karena tadi pada saat melawan Dewa Pedang dia sudah mengerahkan banyak tenaga sinkang.

“Sssshhh...!" terdengar dia mendesis dan gerakan pedangnya kini sudah berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga. Begitu pedang lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sinkang.

"Cringgg...!" Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya, mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga pada waktu dia menarik sulingnya terlepas. Dia terhuyung, namun kipasnya cepat mengebut ke depan sehingga dia mampu menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang wanita itu mengandung tenaga sinkang yang dahsyat sekali, maka dia pun langsung mengerahkan tenaga sinkang yang biasa dia gunakan untuk ilmu sihirnya. Dalam adu kepandaian ini dia tidak mau menggunakan ilmu sihirnya karena selain belum tentu seorang yang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh sihir, juga dia tak mau berlaku curang dengan menggunakan sihir. Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat? Dia hanya membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir. Akan tetapi dia mengerahkan tenaga sinkang Pek-in (Awan Putih) dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya mulai mengepulkan uap putih!

Melihat ini Cu Sui In mendesis-desis semakin keras. Gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

"Siancai...!" Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk melindungi dirinya.

Wanita cantik itu memang berbahaya sekali. Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kuku-kuku jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra hitam. Sekali saja kulitnya tergores kuku sampai robek dan berdarah, racunnya akan memasuki tubuh melalui jalan darah dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra hitam!

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali terjadi pertandingan yang sangat seru dan hebat. Bahkan bagi Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh. Hal ini karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya menggunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri yang pernah membantunya membuat nama besar selama puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan lawan yang memiliki tingkat kepandaian tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu dengan cara balas menyerang.

Bagi Tiga Dewa, kalau tidak terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi membunuh atau melukai. Kini, ketika berhadapan dengan Dewi Ular Cantik, terpaksa dia harus melawan dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat. Kalau saja tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai puluhan jurus.

Sui In yang memang sudah lelah, sekarang dipaksa untuk menguras tenaganya. Wanita ini semakin lelah, leher dan dahinya sudah basah oleh keringat, napasnya agak memburu walau pun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya. Dibandingkan lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enam puluh dua tahun lebih, dia menang dalam beberapa hal. Pertama, dia lebih muda, ke dua dia lebih terlatih dan ke tiga dia lebih bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling dengan sangat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan serangannya. Dia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang lincah seperti tadi, rnelainkan menyerang dengan gerakan yang lambat dan berat.

Hal ini bukan berarti bahwa dia sudah kehabisan tenaga atau napas. Sama sekali tidak! Hanya, kalau tadi dia mengandalkan kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini dia mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga sinkang dari Ilmu Pedang Ular Hitam. Pedangnya menyambar dengan gerakan lambat dan berat sekali, akan tetapi mengandung angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan. Dia pun tidak berani lengah dari sambaran pedang itu, walau pun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan jauh ke samping lantas dia pun membalas dengan serangan yang sama sifatnya, lambat dan berat. Sulingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh sambaran kipasnya ke arah muka. Gerakannya mengandung sinkang yang kuat pula.

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan mati-matian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan. Dia tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin juga dua orang murid mereka, selamat.

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pek-mau-sian langsung menerjang dengan suling dan kipasnya. Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas, kipasnya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sedangkan suling pada tangan kanannya menotok ke arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Namun pada saat itu tubuh Dewi Ular Cantik yang terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali. Ketika dia menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling, menangkis dan terus melibatnya, sedangkan pedangnya bergerak menyambar arah kipas. Pedangnya merobek kipas dan terjepit di antara gagang kipas!

Sekarang kedua senjata Dewa Rambut Putih tak dapat digerakkan lagi, dan pada saat itu pula Dewi Ular Cantik yang tadi membuat gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, mendadak menggerakkan tangan kirinya yang membentuk cakar sehingga kuku-kuku jari tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian Thio Ki...!

Si Pedang Tumpul Jilid 11

DEMIKIANLAH, pagi hari itu ketika Sin Wan dan Kui Siang menuruni bagian timur lembah Pek-in-kok, Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan bekas murid yang kini menjadi sumoi-nya (adik seperguruannya) mendaki lembah bukit sebelah barat. Sui In dan Lili menggunakan ilmu berlari cepat dan bagaikan melayang saja mereka mendaki lembah bukit yang bagi orang biasa merupakan daerah yang amat sukar dilalui itu.

Mereka mendaki Pek-in-kok hanya dengan satu tujuan, yaitu untuk membalas kekalahan mereka pada sepuluh tahun yang lalu. Dewi Ular Cantik Cu Sui In memiliki watak seperti ayahnya, yaitu tidak pernah dapat menelan kekalahan dari orang lain. Oleh karena itu dia merasa terhina dan hatinya sakit sekali ketika dia dikalahkan oleh Sam Sian dalam usaha memperebutkan pusaka-pusaka istana.

Urusan pusaka sudah tidak diingatnya lagi, akan tetapi kekalahan yang dideritanya selalu menghantuinya dan da tidak akan merasa tenang sebelum dapat membalas dan menebus kekalahannya itu. Dan Lili yang kini menjadi sumoi-nya agaknya juga tidak pernah dapat melupakan penghinaan yang dialaminya dari anak laki-laki yang agaknya murid Sam Sian itu.

Anak laki-laki yang tak dikenal namanya itu, yang dia namakan Si Kerbau-sapi-kuda-babi-anjing-kucing itu sudah menangkapnya, memaksanya menelungkup di atas pangkuannya lantas menampari pinggulnya sepuluh kali seakan-akan seorang ayah yang menghukum anaknya yang nakal saja! Sampai mati dia tidak akan dapat melupakan penghinaan itu! Ia akan membalas penghinaan itu dengan pukulan sampai seratus kali biar pantat orang itu hancur menjadi bubur! Setiap kali membayangkan peristiwa itu, muka Lili menjadi merah sekali dan kemarahan seolah-olah membuat matanya berkilat dan napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengandung api!

Ketika dua orang wanita cantik itu tiba di depan pondok-pondok bambu yang sederhana namun rapi dan bersih itu, Sam Sian sedang duduk bersila di depan pondok, menikmati sinar matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang segar. Mereka duduk bersila di atas batu-batu datar yang halus, menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang sinarnya masih lembut. Ketika dua orang wanita itu muncul dan berloncatan ke depan mereka, tiga orang kakek itu memandang dengan heran.

Melihat mereka sanggup naik ke Pek-in-kok saja sudah dapat mereka ketahui bahwa dua orang wanita itu bukanlah orang-orang lemah, dan yang membuat mereka heran adalah sikap dan wajah mereka, terutama sinar mata mereka yang membayangkan kemarahan besar. Tiga pertapa itu adalah orang-orang yang sudah dapat membebaskan diri dari kekuasaan nafsu, maka tiada lagi dendam atau ganjalan di dalam hati dan pikiran mereka. Tidak ada lagi kenangan yang hanya menimbulkan suka duka, dendam dan budi.

Maka tentu saja mereka tidak ingat lagi siapa adanya dua orang wanita cantik ltu. Bahkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih sudah memejamkan mata dan menundukkan muka, tidak peduli dengan dua orang wanita yang muncul sebagai pengganggu ketenteraman mereka. Hanya Dewa Arak yang memandang mereka dengan mulut tersenyum ramah.

Seperti biasanya, dalam menghadapi urusan apa pun juga Ciu-sian Tong Kui ini selalu mengandalkan araknya. Dia meneguk arak dari guci yang selalu berada di dekatnya, guci arak pusaka pemberian dari kaisar yang isinya tentu saja sudah habis karena arak yang diterima dari kaisar sepuluh tahun yang lalu itu sudah dihabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu! Kini tinggal gucinya yang diisi arak biasa.

"Heh-heh-heh, angin apakah yang meniup kalian dua orang wanita cantik ke Pek-in-kok?"

"Angin dari Bukit Ular Pegunungan Himalaya," jawab Sui In dengan singkat dan ketus.

"Bukit Ular di Himalaya? Wah-wah-wah, bagaimana kabarnya dengan sahabat See-thian Coa-ong Cu Kiat? Kalian diutus oleh Raja Ular itu, bukan?" Dewa Arak meneguk kembali guci araknya.

"Ayahku tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatanganku ini. Aku datang untuk urusan pribadi dengan Sam Sian!"

"Ho-ho-ho, kami tiga orang tua bangka tidak pernah mempunyai urusan pribadi, apa lagi dengan wanita muda dan cantik," kata Dewa Arak dengan sikapnya yang seenaknya.

"Mudah-mudahan saja Sam Sian yang terkenal sebagai sesepuh dunia persilatan bukan hanya pengecut-pengecut yang pura-pura melupakan apa yang pernah mereka lakukan. Sam Sian, ingatkah kalian kejadian sepuluh tahun yang lalu? Aku, Bi-coa Sian-li Cu Sui In pernah kalian kalahkan. Nah, inilah aku, datang untuk menantang kalian, untuk membalas kekalahanku yang dulu. Sekali ini mudah-mudahan saja Sam Sian bukan tiga orang laki-laki licik dan curang yang suka main keroyokan terhadap lawannya seorang wanita. Aku tantang kalian untuk main satu demi satu mengadu kepandaian!"

"Wah-wah-wah, engkau terlambat, nona. Dahulu engkau menantang kami untuk merebut pusaka-pusaka istana itu, bukan? Sekarang pusaka-pusaka itu sudah kami kembalikan kepada kaisar. Apa bila engkau menginginkannya, datanglah ke kota raja dan minta saja kepada kaisar. Kami tidak tahu menahu lagi...”

"Aku tidak butuh pusaka! Aku datang untuk menebus kekalahanku sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah cukup kaya, akan tetapi kalian telah menghinaku sepuluh tahun yang lalu, meruntuhkan nama dan kehormatanku. Hari ini kalian harus membayarnya!"

"Siancai...! Kalau ada yang terang, mengapa memilih yang gelap? Kalau ada yang jernih mengapa memilih yang keruh? Kalau ada yang tenang, mengapa memilih kekacauan?" Yang berkata itu adalah Dewa Pedang. Kemudian terdengar Dewa Rambut Putih juga bicara dengan suaranya yang lembut sambil tersenyum ramah.

“Nona, sepuluh tahun yang lampau, ketika berhadapan denganmu, kami adalah petugas-petugas utusan kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka yang tercuri. Sesudah pusaka itu kami kembalikan, kami sudah mencuci tangan dan mengundurkan diri, dan bagi kami, perlstiwa dengan nona sepuluh tahun yang lalu sudah tidak ada lagi," kata-katanya amat lembut, kemudian disusul kakek ini menyanyikan ayat-ayat yang diambilnya dari kitab To-tik-keng, yaitu kitab suci Agama To.

"Tariklah tali gendewa anda sepenuhnya gendewa dapat patah dan sesal pun tiada guna. Asahlah pedang anda setajam-tajamnya mata pedang dapat aus dan takkan bertahan lama. Tumpuklah emas permata di kamar anda dan anda akan bersusah payah menjaganya. Membanggakan kekayaan dan kehormatan harga diri hanya menyebar benih kehancuran pribadi. Undurlah sesudah tugas terlaksana demikian cara Langit bekerja.”

"Hemm, apa yang kau maksudkan dengan nyanyianmu tadi?" Dewi Ular Cantik bertanya dengan suara mengejek. "Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan khotbah!”

Dewa Arak tertawa. "Nona, Dewa Rambut Putih telah menyanyikan ayat suci dari Agama To, kenapa nona tidak mengerti? Maksudnya adalah dalam kehidupan ini seyogyanya kita tidak berlebihan dalam segala hal, hanya memenuhi tugas dan kewajiban dan tidak mabok kemenangan atau keberhasilan. Mengenal batas dan tahu diri. Nona agak berlebihan dan terburu nafsu sehingga peristiwa sepuluh tahun yang lampau masih disimpan dalam hati sebagai dendam. Bukankah berarti nona meracuni diri sendiri selama sepuluh tahun ini? Dan semua itu untuk apa? Hanya untuk menebus kekalahan! Hanya untuk menang!”

"Sudahlah, tak perlu berkhotbah lagi. Aku datang untuk menantang kalian. Mau atau tldak kalian harus menerima tantanganku, karena kalau kalian tidak mau menandingiku, maka aku akan menyerang dan kalian akan mati konyol!"

"Nanti dulu, suci!" kata Lili. "Jangan bunuh mereka dulu sebelum memberi tahu kepadaku. Hei, ketiga totiang. Aku mencari anak setan kurang ajar itu. Di mana dia?"

"Anak setan yang mana? Di sini tidak ada anak setan, yang ada hanya anak manusia, nona," kata Dewa Arak.

“Aku mencari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu!" kata pula Lili sambil mengepal tinju.

Dewa Arak melongo, memandang kepada gadis cantik itu dan hatinya berkata, "Sungguh sayang, nona begini cantik tapi otaknya miring!"

Melihat kakek itu bengong saja, Lili membentak marah. "Jangan pura-pura! Aku mencari anak laki-laki yang sepuluh tahun lalu bersama kalian. Dia tentu murid kalian! Di mana si keparat itu?"

"Ooohhh, kau maksudkan Sin Wan? Dia sedang pergi."

"Sudahlah, sumoi. Nanti kita cari musuhmu itu, sekarang aku akan membereskan dahulu tiga orang ini!" kata Si Dewi Ular dan dia telah mencabut pedangnya, lalu berkata kepada tiga orang pertapa itu. "Sam Sian, aku Bi-coa Sian-li Cu Sui In menantang Sam Sian maju satu demi satu, tidak main keroyokan seperti pengecut-pengecut liar!"

Tiga orang kakek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa mereka itu merasa enggan untuk berkelahi meski pun sedikit pun tak merasa takut. Bagi mereka, melayani tantangan Dewi Ular Cantik itu sama saja dengan ikut menjadi gila. Di antara mereka dan wanita itu sebetulnya tidak ada permusuhan apa pun.

Dahulu mereka memang memperebutkan pusaka, akan tetapi sekarang pusaka itu sudah kembali kepada pemiliknya. Tentang kalah menang dalam pertandingan, bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal biasa dan tidak pernah mendatangkan sakit hati dan dendam.

"Suci, percuma menantang pengecut. Mereka takut!" kata Lili mengejek.

Sui In mengerutkan sepasang alisnya. “Sam Sian, kalau kalian takut, kalian harus berlutut minta ampun kepadaku, baru akan kupertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian!"

Kata-kata ini sengaja dikeluarkan Sui In untuk menyudutkan mereka. Tentu saja dia tahu bahwa orang-orang seperti Tiga Dewa itu tidak akan merasa takut menghadapi tantangan siapa pun juga. Ia sengaja memanaskan hati mereka supaya mereka segera menyambut tantangannya. Dan usahanya berhasil. Pantang bagi semua tokoh dunia persilatan kalau dikatakan takut.

"Siancai...! Bi-coa Sian-li terlalu memaksa orang. Baiklah, karena engkau telah mencabut pedang, pinto (aku) akan melayanimu sejenak," kata Kiam-sian Louw Sun sambil meraba pinggangnya.

Tapi alisnya berkerut dan dia segera teringat bahwa tidak ada lagi pedang di pinggangnya. Pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari), yang biasanya dililitkan di pinggang, kini tidak ada lagi di pinggangnya karena sudah dia berikan kepada muridnya, Lim Kui Siang! Sedangkan Pedang Tumpul yang diterimanya dari Kaisar, sudah dia berikan kepada Sin Wan.

Tadinya pedang-pedang itu hanya dipergunakan oleh kedua orang murid itu untuk latihan ilmu pedang, namun kemudian Si Dewa Pedang memberikan pedang-pedang itu kepada mereka karena dia sendiri tidak membutuhkan pedang. Baru sekarang dia teringat, akan tetapi dia tersenyum dan sama sekali tidak menjadi panik.

"Bi-coa Sian-li, maaf, aku tidak memiliki pedang. Biarlah kupergunakan sebatang ranting pohon saja untuk melayanimu bermain pedang," katanya.

Dia pun segera menghampiri sebatang pohon dan mematahkan ranting yang panjang dan besarnya seperti pedang. Setelah itu dia kembali menghadapi wanita itu dengan pedang kayu di tangan!

Wajah wanita itu berubah merah karena dia sudah marah sekali. "Dewa Pedang, engkau sungguh menghina dan berani memandang rendah kepadaku. Baik, kau akan menebus penghinaan ini dengan nyawamu!"

Cu Sui In sudah menggerakkan pedangnya sambil mengeluarkan bentakan nyaring. Sinar pedang menyambar ganas dan Dewa Pedang cepat meloncat untuk menghindarkan diri sambil mengelebatkan pedang kayunya, menusuk atau menotok ke pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Tetapi Dewi Ular yang cantik itu cepat menarik kembali tangannya, memutar pergelangan tangan dan pedang itu sudah meluncur lagi dengan tusukan dahsyat yang membuat Dewa Pedang terkejut sehingga terpaksa meloncat lagi ke samping untuk menghindarkan diri.

Dewi Ular mendesak terus, kini pedangnya telah berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata dan dari gulungan sinar itu terdengar suara bercuitan melengking. Diam-diam Dewa Pedang terkejut bukan kepalang. Dia cepat memutar pedang kayunya sambil mempergunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini.

Dari gerakan pedang lawan tahulah dia bahwa wanita ini sama sekali tak dapat disamakan dengan sepuluh tahun yang silam. Kini ilmu pedangnya matang dan mantap, gerakannya cepat dan ringan sekali sedangkan tenaga sinkang yang terkandung di dalam pedang itu kuat sekali, membuat pedang kayunya selalu terpental dan tangannya tergetar. Tahulah Dewa Pedang bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh!

Penglihatan Dewa Pedang memang tidak keliru. Selama sepuluh tahun ini Cu Sui In telah menggembleng diri dengan tekun di bawah bimbingan ayahnya sehingga di samping ilmu-ilmunya menjadi matang, juga ginkang dan sinkang yang dikuasainya menjadi makin kuat. Selain itu ayahnya juga mengajarkan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya, yang diberi nama Hek-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Hitam).

Si Raja Ular Cu Kiat menciptakan ilmu pedang ini berdasarkan gerakan seekor ular hitam yang sangat beracun, yaitu seekor cobra hitam, kalau binatang itu marah dan menyerang. Untuk menyempurnakan ciptaannya ini dia sudah mengorbankan beratus-ratus ekor cobra hitam dan musang yang diadunya agar dia dapat menangkap inti sari gerakan ular hitam itu. Akhirnya dia berhasil menciptakan Hek-coa Kiam-sut yang terdiri dari delapan belas jurus yang ampuh sekali. Dan ketika puterinya menggembleng diri selama sepuluh tahun, dia mengajarkan ilmu pedang ini kepada puterinya dan kepada muridnya, yaitu Tang Bwe Li.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sepuluh tahun yang silam tingkat kepandaian Sui In masih kalah setingkat dibandingkan tingkat seorang di antara Sam Sian. Namun sekarang keadaannya sudah berubah sama sekali. Apa bila Sui In selama sepuluh tahun menggembleng diri dan tekun berlatih, maka sebaliknya Tiga Dewa jarang berlatih kecuali hanya kalau sedang mengajar kedua orang murid mereka.

Sekarang tingkat kepandaian Sui In sudah sejajar dengan kepandaian Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih). Hanya Ciu-sian Si Dewa Arak yang diam-diam sudah merangkai sebuah ilmu yang dia ambil dari inti sari kepandaian mereka bertiga. Biar pun nampaknya ugal-ugalan dan suka main-main, namun sebenarnya Dewa Arak memiliki kecerdikan luar biasa.

Selama sepuluh tahun ini otaknya bekerja keras. Dia minta kepada dua orang rekannya agar merangkum dasar dari ilmu masing-masing, lantas dia menggabungkan inti sari ilmu mereka bertiga, dijadikan sebuah ilmu yang setiap hari masih terus disempurnakannya.

Dua orang rekannya yang tidak serajin Dewa Arak mengetahui tentang hal itu, akan tetapi tidak punya niat untuk ikut mempelajarinya. Mereka pun tahu bahwa Dewa Arak sengaja menciptakan ilmu gabungan itu bukan untuk dirinya sendiri, namun untuk dua orang murid mereka, yaitu Sin Wan dan Kui Siang.

Sesudah berhasil menciptakan ilmu gabungan ini, diam-diam Dewa Arak menuliskannya dalam sebuah kitab. Dari tahun ke tahun dia terus menyempurnakan ilmu itu dan sampai saat ini belum mengajarkannya kepada Sin Wan mau pun Kui Siang.

Hal ini adalah karena untuk dapat mempelajari dan melatih ilmu itu, harus memiliki dasar yang amat kuat, dan tenaga sinkang yang cukup. Kalau tidak, ilmu yang aneh ini bahkan dapat menimbulkan bahaya besar, dapat mengakibatkan luka dalam yang parah kepada yang melatihnya. Akan tetapi tingkat kepandaian Dewa Arak dengan sendirinya juga telah meningkat pesat karena menguasai ilmu baru itu.

Pertandingan antara Dewa Pedang dengan Dewi Ular Cantik berjalan semakin seru. Dewa Rambut Putih dan Dewa Arak diam-diam amat menyayangkan bahwa rekan mereka telah memberikan Pedang Sinar Matahari kepada Kui Siang dan Pedang Tumpul kepada Sin Wan. Kalau saja rekan mereka itu memegang satu di antara dua buah senjata pusaka itu, tentu akan lain keadaannya.

Akan tetapi sekarang Dewa Pedang hanya bersenjatakan sebatang ranting pohon. Kalau menghadapi lawan lain, mungkin sebatang ranting itu sudah cukup ampuh karena tangan Dewa Pedang yang mengandung tenaga sinkang yang kuat itu dapat membuat ranting itu menjadi senjata yang cukup tangguh. Akan tetapi yang kini dihadapinya adalah Dewi Ular Cantik yang ternyata memiliki kepandaian yang demikian tingginya.

Setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah Dewa Pedang terdesak hebat oleh lawannya. Dua kali sudah ujung ranting yang digunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang semakin lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti desis seekor ular cobra dan dia sudah mengubah gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut! Begitu dia memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya!

Gerakan pedang lawan itu seperti seekor ular cobra yang menyerang lawan. Dia berusaha untuk membentuk parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat sekali, namun tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biar pun dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak kirinya tertusuk ujung pedang lawan.

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia terhuyung ke depan dan ketika itu pula Dewi Ular Cantik sudah menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan mata sehingga Dewa Pedang terpaksa meloncat jauh ke atas untuk menghindarkan diri dari ilmu pedang yang gerakannya seperti ular itu! Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas seperti seekor burung rajawali ketika menghadapi ular.

Akan tetapi Dewi Ular Cantik sudah dapat menduga taktik ini dan dia pun ikut meloncat ke atas. Ketika berlompatan mereka mengadu pedang dan ranting di udara, lantas keduanya turun lagi dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka berdarah.

Sekarang keduanya sudah sampai ke puncak pertandingan, saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara. Namun tiba-tiba saja dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum hitam. Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian serangan pedangnya yang sangat ganas.

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting melindungi dirinya, akan tetapi biar pun dia berhasil memukul runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu menghindarkan tusukan pedang lawan yang menghujam lambungnya. Kembali mereka berdua melompat turun dalam jarak yang cukup jauh. Dewa Pedang dapat turun dengan berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya ketika tangan kirinya mendekap lambung yang terluka.

"Hyaaattt...!” Dia menggerakkan tangan kanan sambil membalik ke arah Dewi Ular Cantik. Ranting di tangannya itu meluncur seperti anak panah ke arah lawan.

Cu Sui In terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawan yang sudah terluka parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu. Dia menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur cepat ke arah pohon lalu menancap ke batang pohon seperti anak panah yang dilepas dari dekat! Akan tetapi itulah serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya kemudian menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir keluar. Akan tetapi sesudah memeriksanya, tahulah Dewa Arak bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah sehingga tak mungkin dapat disembuhkan lagi. Pedang Dewi Ular Cantik bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan telah melukai anggota badan sebelah dalam sehingga tidak mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio Ki meloncat ke depan wanita cantik itu. "Siancai..., hatimu sungguh ganas dan kejam sekali, Bi-coa Sian-li. Dahulu kami mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau berusaha membunuh kami.”

"Pek-mou-sian! Terluka atau pun tewas dalam pertandingan sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan. Hal itu biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi! Kalau tadi aku yang kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas. Nah, sekarang majulah, aku telah siap!" tantang wanita cantik itu.

"Suci, engkau sudah lelah. Biarkan aku maju mewakilimu menghadapi dia!" Tang Bwe Li melompat ke depan, akan tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.

"Sumoi, mundurlah kau! Ingat, jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan pribadiku, kau tahu? Biar andai kata aku terdesak dan terancam maut sekali pun, engkau tidak boleh turun tangan!"

Lili mundur. Dia maklum akan watak kakak seperguruannya, bekas gurunya ini. Cu Sui In memiliki watak persis ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong Cu Kiat. Watak yang keras dan gagah, juga tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut. Karena itulah dia tidak menghendaki sumoi-nya turut mencampuri pertandingannya melawan Sam Sian, apa lagi setelah melihat betapa Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya.

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili suci-nya, hal itu adalah karena gadis ini tahu benar betapa suci-nya itu telah lelah karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika melawan Kiam-sian, biar pun suci-nya keluar sebagai pemenang. Dan dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian kakek berambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang pula.

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau dia lancang melakukan hal ini, suci-nya tentu akan marah bukan main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan merendahkan harga diri suci-nya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan. Tadi dia pun mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang sangat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti gerakan ular cobra tadi. Bahkan rekannya yang dijuluki Dewa Pedang dan ahli dalam ilmu pedang saja masih tidak mampu menandingi ilmu pedang ular itu.

Akan tetapi Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama sekali. Bagi dia hidup atau mati bukan hal yang paling penting. Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu mengambil jalan yang benar. Kalau sudah benar, mati atau hidup sama saja! Mati karena membela yang benar jauh lebih baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

“Siancai..!” Ingat baik-kaik, Bi-coa Sian-li, engkau sendiri yang datang ke sini mencari dan menantang kami. Baik kalah atau menang akibatnya adalah tanggunganmu. Kami hanya melayani permintaanmu."

"Aku datang bukan hendak berdebat. Lekas keluarkan senjatamu kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!” bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas serta sulingnya. Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya dengan tangan kanan. Dia bersikap tenang walau pun waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganas pun, seperti tadi dia menyerang Dewa Pedang dengan jarum beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

"Bi-coa Sian-li, aku sudah siap,” katanya.

Baru saja kata-katanya habis, pedang di tangan Cu Sui In sudah menerjangnya dengan dahsyat bukan kepalang. Dewa Rambut Putih mengebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya menangkis.

"Tranggg...!” Suling menangkis pedang dan kipasnya mengebut ke arah muka lawan. Cu Sui In cepat mengelak dari sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba saja kipas itu menutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In. Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja, namun sebenarnya di balik gerakan yang lernbut itu terkandung tenaga yang dahsyat. Tahulah Cu Sui In bahwa lawannya amat lihai, sesuai dengan filsafah Agama To yang selalu menekankan bahwa yang kosong itu berisi, bahkan yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat berarti kalau ada bagiannya yang kosong.

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk menghargai segala sesuatu yang kosong atau bahkan ‘yang tidak ada’ dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat digunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya. Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di pintu dan jendelanya.

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut Putih, nampak lembut namun sesungguhnya sangat kuat! Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang banyak tenaga. Dia sudah mulai merasa lelah karena tadi pada saat melawan Dewa Pedang dia sudah mengerahkan banyak tenaga sinkang.

“Sssshhh...!" terdengar dia mendesis dan gerakan pedangnya kini sudah berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga. Begitu pedang lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sinkang.

"Cringgg...!" Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya, mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga pada waktu dia menarik sulingnya terlepas. Dia terhuyung, namun kipasnya cepat mengebut ke depan sehingga dia mampu menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang wanita itu mengandung tenaga sinkang yang dahsyat sekali, maka dia pun langsung mengerahkan tenaga sinkang yang biasa dia gunakan untuk ilmu sihirnya. Dalam adu kepandaian ini dia tidak mau menggunakan ilmu sihirnya karena selain belum tentu seorang yang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh sihir, juga dia tak mau berlaku curang dengan menggunakan sihir. Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat? Dia hanya membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir. Akan tetapi dia mengerahkan tenaga sinkang Pek-in (Awan Putih) dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya mulai mengepulkan uap putih!

Melihat ini Cu Sui In mendesis-desis semakin keras. Gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

"Siancai...!" Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk melindungi dirinya.

Wanita cantik itu memang berbahaya sekali. Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kuku-kuku jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra hitam. Sekali saja kulitnya tergores kuku sampai robek dan berdarah, racunnya akan memasuki tubuh melalui jalan darah dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra hitam!

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali terjadi pertandingan yang sangat seru dan hebat. Bahkan bagi Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh. Hal ini karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya menggunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri yang pernah membantunya membuat nama besar selama puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan lawan yang memiliki tingkat kepandaian tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu dengan cara balas menyerang.

Bagi Tiga Dewa, kalau tidak terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi membunuh atau melukai. Kini, ketika berhadapan dengan Dewi Ular Cantik, terpaksa dia harus melawan dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat. Kalau saja tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai puluhan jurus.

Sui In yang memang sudah lelah, sekarang dipaksa untuk menguras tenaganya. Wanita ini semakin lelah, leher dan dahinya sudah basah oleh keringat, napasnya agak memburu walau pun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya. Dibandingkan lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enam puluh dua tahun lebih, dia menang dalam beberapa hal. Pertama, dia lebih muda, ke dua dia lebih terlatih dan ke tiga dia lebih bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling dengan sangat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan serangannya. Dia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang lincah seperti tadi, rnelainkan menyerang dengan gerakan yang lambat dan berat.

Hal ini bukan berarti bahwa dia sudah kehabisan tenaga atau napas. Sama sekali tidak! Hanya, kalau tadi dia mengandalkan kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini dia mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga sinkang dari Ilmu Pedang Ular Hitam. Pedangnya menyambar dengan gerakan lambat dan berat sekali, akan tetapi mengandung angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan. Dia pun tidak berani lengah dari sambaran pedang itu, walau pun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan jauh ke samping lantas dia pun membalas dengan serangan yang sama sifatnya, lambat dan berat. Sulingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh sambaran kipasnya ke arah muka. Gerakannya mengandung sinkang yang kuat pula.

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan mati-matian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan. Dia tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin juga dua orang murid mereka, selamat.

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pek-mau-sian langsung menerjang dengan suling dan kipasnya. Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas, kipasnya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sedangkan suling pada tangan kanannya menotok ke arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Namun pada saat itu tubuh Dewi Ular Cantik yang terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali. Ketika dia menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling, menangkis dan terus melibatnya, sedangkan pedangnya bergerak menyambar arah kipas. Pedangnya merobek kipas dan terjepit di antara gagang kipas!

Sekarang kedua senjata Dewa Rambut Putih tak dapat digerakkan lagi, dan pada saat itu pula Dewi Ular Cantik yang tadi membuat gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, mendadak menggerakkan tangan kirinya yang membentuk cakar sehingga kuku-kuku jari tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian Thio Ki...!