Social Items

EMPAT orang pengeroyok lain maju serentak, namun Dewa Pedang sudah menghindarkan diri dengan gerakannya yang sangat cepat, meloncat ke samping lantas meloncat ke atas membuat salto tiga kali dan ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah menyerang orang yang berada di paling ujung!

Bagaikan seekor garuda yang menerkam dari atas, pedangnya meluncur dan orang yang diserangnya cepat mengangkat golok menangkis. Namun begitu golok bertemu pedang, orang itu langsung berteriak lalu roboh, pundaknya berdarah terkena tusukan tangan kiri Kiam-sian Louw Sun.

Berturut-turut Dewa Pedang melukai lima orang lawannya, bukan luka berat akan tetapi cukup untuk membuat mereka merasa jeri sebab yang terluka adalah tangan, lengan atau pundak kanan mereka.

Mengertilah Hek I Ngo-liong bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya. Tentu saja mereka merasa kecewa dan menyesal bukan main. Peti berisi pusaka-pusaka istana sudah terjatuh ke tangan mereka dengan mudah, dapat mereka curi dari rumah Si Tangan Api selagi pemilik rumah tak berada di rumah. Mereka lari ketakutan, takut bila sampai Iblis Tangan Api dapat menyusul mereka. Kiranya malah tiga orang pertapa ini yang mengalahkan mereka dan akan merampas pusaka-pusaka itu. Baru melawan seorang saja dari tiga pertapa itu, mereka tidak mampu menang. Apa lagi kalau mereka bertiga itu maju semua!

Si kumis melintang maju mewakili teman-temannya, membungkuk ke arah tiga orang itu lalu berkata, "Kami Hek I Ngo-liong mengaku kalah. Harap sam-wi suka memperkenalkan nama agar kami tahu oleh siapa kami dikalahkan."

"Ho-ho-ho, kami tidak perlu memperkenal diri, tidak ingin dikenal. Hanya ketahuilah bahwa kami yang berhak atas pusaka-pusaka itu, maka kami melarang kalian mencurinya," kata Dewa Arak.

"Locianpwe (orang tua gagah), berlakulah adil antara sesama orang kang-ouw. Pusaka itu cukup banyak dan kami akan berterima kasih sekali bila locianpwe memberi kepada kami seorang sebuah saja."

"Hemm, tidak boleh, tidak boleh..."

"Kalau begitu empat buah saja... atau tiga buah...”

Melihat Dewa Arak masih menggelengkan kepala, si kumis melintang cepat menurunkan permintaannya. "Sudahlah, dua buah saja, locianpwe... atau sebuah saja untuk kami berlima!"

Dewa arak menghentikan tawanya lalu memandang dengan mata melotot. "Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka itu! Mestinya kalian kami tangkap dan kami seret ke kota raja supaya dihukum. Sekarang kalian masih berani rewel minta bagian?"

Mendengar ucapan itu, Hek I Ngo-liong amat terkejut dan ketakutan. Tanpa banyak cakap lagi mereka mengambil golok masing-masing dan hendak berloncatan ke kereta mereka. Akan tetapi Dewa Arak berseru.

"Berhenti! Kami telah memaafkan kalian dan tidak menangkap kalian, dan untuk itu kalian harus menerima hukuman lain sebagai penggantinya. Kereta dan kuda itu kami butuhkan. Nah, kalian pergilah..., ehh, nanti dulu. Kami harus memeriksa dahulu apakah pusaka itu masih lengkap!"

Sekali berkelebat Dewa Arak sudah meloncat ke dalam kereta dari jarak yang cukup jauh hingga mengejutkan lima orang itu. Peti itu berada di dalam kereta dan setelah membuka tutup peti dan melihat bahwa isinya masih lengkap, Dewa Arak lalu menjenguk keluar.

"Sekarang kalian berlima boleh pergi, tetapi sekali lagi bertemu dengan kami, tentu kami akan menangkap dan menyeret kalian ke kota raja agar dihukum."

Lima orang itu saling pandang, di dalam batin menyumpah-nyumpah. Akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu, maka mereka pun cepat-cepat lari meninggalkan tempat itu.

Sam Sian mengajak Sin Wan naik kereta rampasan itu, lalu mereka kembali ke rumah anak itu. Para pelayan yang terluka oleh Hek I Ngo-liong mendapat pengobatan dari Sam Sian. Untung mereka tidak terluka parah dan setelah mendapat pengobatan, mereka tidak menderita lagi. Sam Sian selalu membawa bekal obat-obat luka yang amat manjur.

Malam itu Sam Sian mengajak Sin Wan bercakap-cakap di ruang tamu. Mereka merasa suka dan juga kasihan kepada anak itu yang kini sudah tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Ayah kandungnya sudah lama tewas oleh Se Jit Kong, ibunya dan ayah tirinya juga sudah tewas. Tidak ada sanak kadang, tidak ada handai taulan, anak ini hidup sebatang kara di dunia dalam usia sepuluh tahun! Mereka sudah sepakat untuk menolong anak itu.

"Sin Wan, besok kami akan pergi mengantar pusaka-pusaka ini ke kota raja. Kami ingin sekali mengetahui, apa rencanamu sekarang?" tanya Pek-mau-sian Thio Ki dengan suara lembut.

Pertanyaan ini seperti menyeret Sin Wan kembali ke kenyataan hidup yang sangat pahit, menyadarkannya dari lamunan. Semenjak tadi dia memang sedang memikirkan keadaan dirinya. Besok tiga orang kakek ini meninggalkannya, lantas apa yang harus dia lakukan? Tetap tinggal di rumah besar peninggalan Se Jit Kong dengan segala harta kekayaaanya itu? Bagaimana dia akan mampu mengurus rumah tangga seorang diri saja, mengepalai tujuh orang pelayan itu? Dan dia tahu betapa di dunia ini lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik.

Pengalamannya dalam beberapa hari ini saja sudah membuka matanya betapa orang-orang yang kelihatannya baik, ternyata adalah orang yang amat jahat. Seperti ayah tirinya itu! Seperti Bu-tek Cap-sha-kwi, tiga belas orang yang mencoba untuk merampas pusaka, kemudian Hek I Ngo-liong. Pertanyaan Dewa Rambut Putih justru merupakan pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggunya.

"Locianpwe, saya... saya tidak tahu. Kalau sam-wi locianpwe mengijinkan, saya ingin ikut saja dengan sam-wi (anda bertiga)."

Tiga orang pertapa itu saling lirik. "Kami bertiga hanyalah orang-orang yang tidak biasa berada di tempat ramai, sebab kami hanya pertapa-pertapa. Mau apa engkau ikut kami, Sin Wan?" Dewa Arak memancing.

"Bila sam-wi sudi menerima saya, maka saya bersedia bekerja sebagai apa saja, sebagai bujang, kacung atau apa saja. Sam-wi locianpwe adalah orang-orang sakti yang budiman dan pandai. Saya akan dapat memetik banyak pelajaran jika menghambakan diri kepada sam-wi. Hanya sam-wi yang saya percaya di dunia ini "

Senang hati tiga orang kakek itu mendengar ucapan anak itu. Seperti yang telah mereka duga, selain memiliki bakat yang baik untuk belajar silat, anak ini juga mempunyai budi pekerti yang baik menurut didikan mendiang ibunya, sama sekali tidak mirip ayah tirinya, Iblis Tangan Api yang kejam dan jahat itu.

"Siancai...!" kata Kiam-sian. "Agaknya telah dikehendaki Tuhan engkau berjodoh dengan kami, Sin Wan. Bagaimana kalau engkau ikut dengan kami sebagai murid kami?"

Anak itu tertegun, matanya terbelalak, lalu wajahnya menjadi cerah gembira dan dengan gugup dan gemetar dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu. "Terima kasih kalau suhu bertiga sudi menerima teecu (murid) sebagai murid. Sebetulnya tidak ada yang lebih teecu inginkan dari pada menjadi murid sam-wi suhu (guru bertiga), akan tetapi tentu saja teecu tidak berani minta menjadi murid .... "

"Hemmm, mengapa tidak berani, Sin Wan? Kukira engkau bukan seorang anak penakut!" cela Dewa Arak.

“Maaf, suhu. Bagaimana pun juga sam-wi mengetahui bahwa teecu adalah anak tiri dari mendiang Se Jit Kong dan sejak bayi teecu sudah dididik olehnya. Teecu khawatir kalau sam-wi suhu menganggap teecu bukan anak yang terdidik dengan baik. Akan tetapi siapa kira sam-wi suhu yang mengambil teecu sebagai murid. Terima kasih kepada Allah Yang Maha Kasih..."

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Anak ini tidak berani minta dijadikan murid bukan karena merasa takut, melainkan karena merasa rendah diri sebagai putera seorang datuk besar yang kejam seperti iblis.

"Bangkit dan duduklah, Sin Wan. Kalau engkau ikut dengan kami, lalu bagaimana dengan rumah dan harta peninggalan Se Jit Kong ini?" tanya si Dewa Arak.

"Teecu tidak menginginkan sedikit pun dari harta peninggalan Se Jit Kong. Ayah kandung teecu sendiri tidak meninggalkan apa-apa ketika tewas, demiklan pula ibuku. Teecu akan meninggalkan rumah beserta seluruh harta ini kepada para pelayan. Teecu hendak pergi mengikuti suhu bertiga tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian teecu.”

Kembali tiga orang pendeta itu saling pandang dan mereka menjadi semakin kagum. Baru berusia sepuluh tahun akan tetapi Sin Wan tak terikat oleh harta benda! Ini membuktikan bahwa anak itu mempunyai keberanian dan harga diri. Anak seperti ini kelak kalau sudah dewasa tak akan mudah dicengkeram dan dipermainkan nafsu yang timbul oleh daya tarik benda yang amat kuat.

Harta bendalah yang mendorong sebagian besar manusia menjadi lupa diri, dan dalam pengejaran terhadap harta benda ini, manusia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan jahat. Mencuri, merampok, menipu atau lain macam perbuatan jahat lagi demi mengejar harta benda. Harta benda juga membuat manusia yang memilikinya menjadi sombong, merasa berkuasa dan merendahkan orang lain.

"Bagus! Kalau begitu malam ini juga harus dilakukan penyerahan harta benda itu supaya besok pagi kita dapat berangkat,” kata si Dewa Arak.

Tujuh orang pelayan itu segera dipanggil dan dikumpulkan di ruangan tamu, juga kepala kampung yang mengepalai daerah tempat tinggal Se Jit Kong diundang menjadi saksi. Di hadapan kepala kampung Sin Wan lalu menerangkan bahwa dia akan pergi merantau dan seluruh harta kekayaan yang berada di rumah itu, berikut rumahnya, dia berikan kepada tujuh orang pelayan.

Tentu saja semua orang merasa terkejut dan terheran, akan tetapi tujuh orang pelayan itu pun menjadi gembira bukan main. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Wan dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka. Biar dibagi tujuh sekali pun, mereka akan memperoleh bagian yang akan membuat masing-masing pelayan menjadi orang yang kaya!

Juga kepala kampung sangat terkejut dan terheran. Akan tetapi ketika si Dewa Arak yang mewakili Sin Wan mengatur semua urusan itu mengatakan bahwa sebagai pengawas dan saksi agar pembagian itu dilakukan seadil-adilnya, kepala kampung mendapat pula upah yang cukup layak, kepala kampung menjadi gembira pula.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Wan dan tiga orang gurunya meninggalkan rumah Se Jit Kong di Yin-ning itu dengan kereta rampasan mereka. Tujuh orang pelayan mengantarkan sampai di luar pintu gerbang, dan kereta segera membalap setelah berada di luar kota.

Sin Wan menghela napas panjang, seolah-olah dia terlepas dari belenggu yang amat tidak menyenangkan hatinya. Belenggu itu terasa olehnya semenjak dia mendengar keterangan ibunya bahwa Se Jit Kong bukan ayah kandungnya, bahkan pembunuh ayah kandungnya, dan bahwa ibunya menjadi isteri Se Jit Kong karena terpaksa untuk menyelamatkannya! Sejak saat itu rumah dan harta milik Se Jit Kong itu seperti sebuah penjara baginya, lantai rumah terasa seperti api membara, harta kekayaan itu bagai lintah-lintah yang bergayutan di tubuhnya.

Kini dia merasa bersih dan ringan, maka dia dapat menatap ke depan dengan wajah cerah penuh harapan. Akan tetapi teringat akan penderitaan ibunya, sepasang matanya menjadi basah dan cepat dia menghapus air matanya. Ibunya telah meninggal dunia, berarti sudah terbebas dari penderitaan hidup di dunia yang penuh kepalsuan. Dia hanya dapat berdoa dengan diam-diam, semoga Allah Yang Maha Pengampun sudi mengampuni semua dosa ibunya.

Semua keindahan pemandangan alam yang terbentang luas di sekitarnya menghilangkan semua kenangan sedih tentang ibunya. Baru sekarang ini Sin Wan melakukan perjalanan jauh, melalui daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan tiga orang pendeta itu juga merupakan pencinta alam. Setiap kali terdapat pemandangan yang sangat indah, si Dewa Arak yang duduk di tempat kusir bersama Dewa Pedang langsung menghentikan kuda penarik kereta dan mereka pun berhenti untuk menikmatl keindahan alam.

Sin Wan memperhatikan mereka dan segera melihat perbedaan di antara mereka kalau menghadapi keindahan alam yang mempesona itu. Dewa Arak menikmati keindahan alam sambil meneguk araknya, Dewa Pedang melihat ke sekeliling seperti orang terpesona dan termenung, sedangkan Dewa Rambut Putih, kalau tidak meniup sulingnya tentu bersajak!

Belasan hari lewat tanpa ada gangguan di perjalanan. Pada suatu senja kereta berhenti di puncak sebuah bukit. Puncak itu datar dan dari tempat itu pemandangan alam sangatlah indahnya. Apa lagi mereka dapat melihat matahari senja mengundurkan diri di atas kaki langit di barat, hampir menyembunyikan diri di balik bayangan gunung-gunung.

Menatap matahari senja memang merupakan sebuah pengalaman yang mempesonakan. Langit di barat berwarna kemerahan, diselingi oleh warna perak, biru serta ungu, ada pula sebagian yang warnanya kuning keemasan. Matahari sendiri berwarna merah cerah tetapi tidak menyilaukan, seperti tersenyum memberi ucapan selamat berpisah, seperti hendak mengucapkan selamat tidur.

Matahari menjadi bola merah yang besar, perlahan namun pasti makin menyelam ke balik bukit-bukit. Angin senja semilir menggoyang pucuk-pucuk ranting pohon, membuat pohon itu seperti kekasih-kekasih yang ditinggalkan orang yang dicintanya dan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan untuk bersua kembali esok hari.

Burung-burung terbang melayang, berkelompok sambil mengeluarkan suara riuh-rendah, sekelompok makhluk yang setelah sehari rajin bekerja kini pulang ke sarang mereka yang hangat, atau berlindung pada ranting-ranting pohon berselimutkan kerimbunan daun-daun yang melindungi.

Tanpa diperintah lagi, setelah mendapat pengalaman selama beberapa hari dan tahu apa yang harus dilakukannya, Sin Wan mencari kayu dan daun kering lantas menumpuknya di atas tanah, tidak jauh dari kereta. Dia harus mengumpulkan cukup banyak kayu bakar untuk membuat api unggun malam ini. Apa bila mereka tidur di tempat terbuka, harus ada api unggun yang selain dapat memberikan penerangan, juga dapat mengusir nyamuk dan binatang lain. Dapat pula mengusir hawa dingin yang dibawa angin malam.

Tiga orang pendeta itu turun dari kereta, segera duduk bersila untuk memulihkan tenaga setelah kelelahan sehari penuh melakukan perjalanan dengan kereta. Sin Wan mengambil sebuah buntalan yang berisi bekal makanan dan minuman yang dibeli tiga orang suhu-nya di dusun yang mereka lewati siang tadi.

Tanpa banyak bicara mereka lalu makan malam di dekat api unggun yang sudah dibuat oleh Sin Wan. Tiga orang kakek itu semakin suka kepada murid mereka. Meski pun sejak kecil hidup sebagai putera orang kaya raya, ternyata Sin Wan tidak manja, tidak cengeng, berani menghadapi kesukaran dan rajin, tidak canggung melakukan pekerjaan kasar.

Sesudah makan malam mereka duduk dekat api unggun dan Dewa Arak berkata kepada Sin Wan. "Sin Wan, sekarang engkau sudah menjadi murid kami. Kami ingin melihat apa saja yang pernah kau pelajari dari Iblis Tangan Api. Sekarang coba engkau mainkan ilmu-ilmu silat yang pernah kau pelajari darinya."

Sin Wan mengerutkan sepasang alisnya. Sebetulnya dia tidak suka memainkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari pembunuh ayahnya. Akan tetapi dia tak berani membantah perintah gurunya. Melihat keraguan anak itu dan kerut di alisnya, Kiam-sian lalu bertanya,

“Kenapa, Si Wan? Engkau kelihatan tidak suka memainkan ilmu yang pernah kau pelajari dari Se Jit Kong?"

"Maaf, suhu, Se Jit Kong adalah seorang datuk sesat yang amat kejam dan jahat. Teecu hendak melupakan saja semua yang pernah teecu pelajari darinya karena kalau orangnya jahat, pasti ilmunya jahat juga."

"Siancai, engkau tak boleh berpendapat seperti itu, Sin Wan. Semua ilmu tetap saja ilmu pengetahuan yang menjadi alat bagi manusia dalam kehidupannya. Seperti alat-alat hidup yang lain, ilmu tidak ada sangkut pautnya dengan sifat jahat atau baik. Jahat atau baiknya ilmu, seperti jahat atau baiknya alat, tergantung dari pada orang yang menggunakannya. Apa bila orang itu memang berniat jahat, maka alat apa saja atau ilmu apa saja, dapat dia gunakan untuk berbuat jahat, Yang jahat bukan ilmunya, melainkan orangnya! Andai kata di waktu hidupnya Se Jit Kong menggunakan semua ilmunya untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu-ilmunya jahat?"

Mendengar ucapan Kiam-sian ini, Sin Wan segera menjadi sadar dan dia pun memberi hormat kepada Dewa Pedang itu. “Maafkan teecu, suhu, Pandangan teecu tadi memang keliru dan amat picik. Baiklah, teecu akan memainkan semua ilmu silat yang pernah teecu pelajari dari Se Jit Kong."

Anak itu lalu bersilat, diterangi sinar api unggun dan ditonton ketiga orang gurunya. Se Jit Kong memang seorang datuk besar yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Sejak Sin Wan berusia empat tahun, anak itu telah digemblengnya. Bahkan tubuh anak itu telah dibikin kuat dengan obat-obat gosok mau pun minum.

Semenjak berusia enam tahun Sin Wan telah diajar melakukan siulian (semedhi) dan latihan pernapasan untuk menghimpun teraga sakti. Maka tidak mengherankan kalau ketika berusia sepuluh tahun Sin Wan telah menjadi seorang anak yang cukup lihai, yang takkan begitu mudah dikalahkan oleh orang dewasa biasa, betapa pun kuatnya orang itu.

Sin Wan tidak ingin menyembunyikan sesuatu. Dia bersilat sepenuh hatinya, memainkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, bahkan mengerahkan tenaga sinkang seperti yang pernah diajarkan Se Jit Kong kepadanya. Dan perlahan-lahan dari kedua tangan anak itu mengepul uap panas!

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Dalam usia sepuluh tahun Sin Wan sudah dapat mencapai tingkat seperti itu. Benar-benar hebat! Walau pun dia belum sepenuhnya menguasai ilmu Tangan Api, namun kedua tangannya telah mengepulkan uap panas, dan pukulan-pukulannya mengandung hawa panas pula. Setelah anak itu selesai bersilat dan mengatur kembali pernapasannya yang agak terengah, Kiam-sian bertanya,

"Pernahkah diajari ilmu pedang?"

Sin Wan mengangguk, lantas Dewa Pedang menggerakkan tangan kirinya ke arah pohon yang berada di dekat mereka. Diam-diam dia mengerahkan Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu pukulan yang mengandung sinkang amat kuat. Maka terdengarlah suara gaduh saat dua batang cabang pohon itu runtuh. Ia mengambil dua batang cabang itu, membersihkan daunnya lalu menyerahkan sebatang kepada muridnya.

"Nah, pergunakan pedang ini dan seranglah aku!" katanya dan dia pun memegang kayu cabang yang kedua.

"Baik, suhu," kata Sin Wan, kemudian anak ini memutar-mutar kayu itu seperti sebatang pedang dan mulai melakukan serangan-serangan dengan sepenuh hati kepada gurunya.

Sambil mengamati gerakan muridnya, Kiam-sian lantas menangkis dan balas menyerang. Dengan cara mengajak muridnya bertanding seperti ini maka lebih mudah baginya untuk mengukur dalamnya ilmu yang telah dimiliki muridnya, dari pada kalau hanya melihat anak itu bersilat pedang seorang diri saja. Setelah semua jurus dimainkan habis dan Sin Wan meloncat ke belakang menghentikan serangannya, Kiam-sian mengangguk-angguk.

"Duduklah kembali, Sin Wan."

Sin Wan duduk bersila lagi menghadapi api unggun. Tiba-tiba Dewa Arak sudah berada di belakangnya, juga duduk bersila dan gurunya ini berkata sambil tersenyum.

"Sin Wan, coba kau kerahkan seluruh tenaga sinkang yang pernah kau latih." Setelah berkata demikian, tangan kirinya ditempelkan di pundak, tangan kanan melingkari perut dan menempel di pusar.

Sin Wan tidak membantah. Dia pun mengangkat dua tangannya ke atas dengan telapak tangan tengadah. Oleh mendiang Se Jit Kong gerakan ini dinamakan ‘Menyambut Api dari Langit’. Dua tangan yang tengadah itu bergetar, kemudian perlahan-lahan turun ke bawah, kini kedua telapak tangan menempel dengan tanah. Inilah yang dinamakan ‘Menyedot Api Dari Bumi’.

Dia menghimpun tenaga seperti yang diajarkan Se Jit Kong, merasakan betapa ada hawa panas memasuki pusarnya lantas berputaran. Seperti yang biasa dilatihnya, dia mencoba untuk menguasai hawa yang berputaran itu supaya dapat dia salurkan ke arah sepasang lengannya. Akan tetapi tiba-tiba ada hawa sejuk masuk ke dalam pusarnya. Ketika tenaga panas yang disalurkan ke lengan tiba di pundak, hawa itu terhenti dan kembali ke pusar.

"Cukup, hentikan latihanmu," terdengar suara lembut dan baru dia teringat bahwa Dewa Arak sedang bersila di belakangnya.

"Siancai, murid kita ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang bersifat ganas. Akan tetapi ilmu-ilmu itu jangan dilupakan begitu saja, Sin Wan. Engkau berhak menguasainya, dan jika pandai mempergunakannya untuk berbuat kebaikan, maka keganasan ilmu-ilmu itu akan hilang bahkan berubah menjadi ilmu yang amat bermanfaat bagimu," kata Dewa Rambut Putih.

"Teecu akan mentaati semua nasehat dan petunjuk suhu bertiga," jawab Sin Wan dengan kesungguhan hati.

Malam itu mereka beristirahat dan pada keesokan harinya, pada waktu mereka hendak melanjutkan perjalanan, Sin Wan minta ijin tiga orang gurunya untuk mencari sumber air atau anak sungai untuk mandi. Tiga orang pertapa itu tersenyum dan Dewa Arak berkata sambil tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, kami sudah biasa bertapa tanpa mandi tanpa makan dan tanpa tidur hingga berbulan, maka pagi hari ini kami pun tidak membutuhkan air. Akan tetapi engkau terbiasa mandi setiap hari, bahkan kemarin engkau sudah mengeluh karena seharian tidak mandi. Pergilah, kurasa di sebelah kiri sana ada anak sungai yang airnya cukup jernih, Sin Wan."

Pemuda kecil itu berterima kasih, membawa ganti pakaian dan lari ke kiri. Benar saja, tak lama kemudian dia melihat sebuah anak sungai yang airnya cukup jernih karena seperti umumnya anak sungai di pegunungan, pada dasar sungai terdapat banyak pasir dan batu sehingga airnya tersaring jernih.

Dengan perasaan gembira Sin Wan menanggalkan pakaiannya, menaruhnya di tepi anak sungai bersama pakaian bersih yang dibawanya tadi, kemudian dengan bertelanjang bulat Sin Wan memasuki sungai kecil yang airnya jernih itu. Airnya sejuk dan segar!

Sin Wan memilih bagian yang airnya setinggi dadanya, kemudian mandi dengan gembira. Tubuhnya terasa nyaman bukan kepalang ketika berendam di air itu. Dia menggunakan sebuah batu halus untuk menggosok-gosok kulit tubuhnya dan membersihkan debu-debu yang menempel.

Dia tidak melihat atau mendengar betapa ada dua orang lain yang juga sedang mandi tak jauh dari tempat dia mandi namun tidak nampak dari situ karena berada di balik belokan sungai. Mereka menjadi marah sekali ketika mendengar ada orang yang turun ke sungai dan mandi di hulu tak jauh dari mereka. Perbuatan itu dengan sendirinya mengotorkan air yang mengalir ke arah mereka. Dengan bersungut-sungut keduanya naik ke tepi sungai, lalu secepatnya mereka mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian.

Mereka itu adalah dua orang wanita. Yang seorang berusia sekitar tiga puluh tahun akan tetapi masih nampak seperti gadis dua puluh tahun saja, cantik jelita serta anggun, akan tetapi sinar matanya keras dan tajam. Orang kedua adalah seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih baru sembilan tahun akan tetapi sudah kelihatan cantik manis!

"Subo (ibu guru), mari kita lihat siapa orangnya. Dia harus dihajar!" kata anak perempuan itu dengan wajah bersungut-sungut.

Wajah yang manis itu kulitnya kemerahan karena digosok-gosoknya ketika mandi tadi dan dia memang seorang anak perempuan yang manis. Rambutnya hitam dan gemuk sekali, dibiarkan panjang sampai ke punggung dan diikat pita merah. Wajahnya yang bentuknya bulat itu memiliki mata yang seperti sepasang bintang, hidungnya mancung dan mulutnya kecil, dagunya meruncing.

Wanita cantik itu tersenyum hingga lesung di kedua pipinya nampak melekuk manja. Yang paling mempesona pada diri wanita ini adalah mulutnya. Bentuk mulut itu demikian indah, dengan bibir merah membasah, penuh dan seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum nampak kilatan gigi yang berderet putih seperti mutiara, kalau berbicara kadang nampak rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang jambon. Bibir yang bawah dapat bergerak-gerak hidup, penuh gairah dan memiliki daya pikat yang kuat sekali.

"Li Li, jangan terburu nafsu. Kita lihat dahulu apakah sikapnya buruk. Dia mandi di sana disengaja ataukah tidak. Kalau sikapnya buruk, baru kita hajar dia!"

Di dalam suaranya yang merdu itu tersembunyi ancaman yang akan membuat orang yang mendengarnya menjadi ngeri. Wanita itu memang cantik sekali. Rambutnya yang halus dan hitam panjang digelung seperti model rambut seorang puteri bangsawan dan dihias dengan tusuk sanggul emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Ketika mandi tadi, walau pun dia hanya mengenakan pakaian dalam, dia membenamkan dirinya hingga ke leher dan menjaga supaya rambutnya tidak sampai basah, tidak seperti anak perempuan yang mencuci rambutnya. Kini sesudah berpakaian, wanita itu semakin nampak seperti seorang wanita bangsawan.

Pakaiannya serba indah dan mewah. Lehernya memakai kalung dan dua lengannya dihias gelang emas. Alisnya melengkung hitam di atas sepasang mata yang bersinar tajam dan kadang amat keras sehingga nampak galak. Hidungnya juga mancung dan manis, akan tetapi daya tarik yang paling memikat adalah mulutnya. Di dahinya nampak anak rambut halus berjuntai ke bawah, dan di depan telinga terdapat untaian rambut yang melengkung indah.

"Mari kita ke sana, subo!" anak perempuan itu nampak tergesa karena dia sudah marah sekali, merasa mandinya diganggu orang.

Dia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera mahal, walau pun bentuknya amat sederhana, tidak ada kesan mewah seperti pakaian wanita cantik yang disebutnya subo. Anak ini hanya memakai sepasang gelang batu giok (kumala) sebagai perhiasannya.

Guru dan murid itu lalu mengitari semak-semak belukar di belokan sungai dan tidak lama kemudian mereka sudah melihat Sin Wan yang sedang mandi. Dengan gembiranya anak laki-laki itu berulang kali membenamkan kepalanya ke air.

"Kiranya hanya seorang bocah. Tentu dia anak yang nakal sekali," anak perempuan yang disebut Li Li tadi mengomel. "Dia harus diberi hukuman atas kelancangannya yang sudah mengganggu kita."

Dengan gerakan yang cepat sekali dia meloncat ke arah tumpukan pakaian Sin Wan. Dia menyambar tumpukan dua stel pakaian kotor dan bersih itu, meninggalkan sebuah celana pendek saja, kemudian meloncat kembali ke belakang semak-semak di mana subo-nya menunggu.

Meski pun gerakan anak perempuan itu cepat sekali, bagaikan seekor kelinci, namun Sin Wan masih sempat melihat bayangan orang berkelebat. Dia cepat menengok dan melihat bayangan itu lenyap ke balik semak belukar. Akan tetapi yang membuat dia amat terkejut, ketika dia menengok ke arah tumpukan pakaiannya, ternyata tumpukan itu sudah lenyap, hanya tinggal sepotong baju atau celana di sana.

"Heiiiii ...!" Dia berteriak dan hendak keluar dari sungai itu. Akan tetapi dia ingat bahwa dia kini bertelanjang bulat, maka dia meragu, lalu kembali dia berteriak. "Heii, siapa pun yang berada di darat! Aku akan keluar dari sungai dalam keadaan telanjang bulat. Kembalikan pakaianku!"

Akan tetapi tidak terdengar suara dari balik semak, juga tidak ada gerakan apa pun. Tentu pencuri pakaian itu telah melarikan diri jauh-jauh, pikir Sin Wan. Dia lalu melompat ke atas daratan dan menyambar celana dalamnya yang masih tertinggal di tempat tumpukan yang lenyap tadi. Cepat dipakainya celana dalam itu, sebuah celana yang hanya menutup dari pinggang sampat ke paha, lalu larilah dia ke belakang semak untuk mengejar orang yang mencuri pakaiannya. Dan… hampir saja dia menabrak seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan manis yang berdiri di belakang semak belukar itu.

"Ehhh, maaf!” kata Sin Wan dan cepat dia melempar diri ke kanan sehingga bergulingan akan tetapi dia tidak sampai menabrak orang.

Ketika dia bangkit berdiri lagi, dia melihat bahwa pakaiannya masih dipegang oleh anak perempuan yang manis itu, yang sekarang berdiri di situ memandang kepadanya dengan senyum mengejek dan pandang mata penuh kemarahan.

Guru dan murid itu pun memandang kepadanya. Kalau anak perempuan itu memandang dengan senyum geli dan mengejek, maka wajah wanita itu berubah kemerahan dan dia pun cepat membuang muka sambil berkata ketus,

"Anak laki-laki tak tahu malu!"

Sin Wan merasa penasaran. Tentu saja dia pun merasa canggung dan malu harus berdiri dalam keadaan tiga perempat telanjang di depan dua orang wanita yang tidak dikenalnya ini. Akan tetapi yang membuat dia hampir telanjang itu adalah anak perempuan ini! Bukan dia yang tidak tahu malu atau kurang ajar, tetapi anak perempuan itu yang telah mencuri pakaiannya selagi dia mandi.

Meski pun dia menjadi marah sekali dan ingin memaki, ingin menampar anak perempuan itu, namun pendidikan mendiang ibunya membuat dia mampu menahan diri. Dia menekan perasaannya yang marah dan penasaran, lalu membungkuk depan anak perempuan itu dan berkata,

"Nona, harap pakaianku itu dikembalikan!" katanya, walau pun kata-katanya dan sikapnya sopan, namun suaranya keras mengandung kemarahan yang tertahan.

Akan tetapi anak perempuan itu membelalakkan matanya. “Apa kau bilang? Engkau tidak cepat berlutut minta ampun atas kesalahanmu malah menuntut pakaianmu dikembalikan? Hemm, engkau memang anak yang kurang ajar, nakal dan tak tahu diri!”

Si Pedang Tumpul Jilid 07

EMPAT orang pengeroyok lain maju serentak, namun Dewa Pedang sudah menghindarkan diri dengan gerakannya yang sangat cepat, meloncat ke samping lantas meloncat ke atas membuat salto tiga kali dan ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah menyerang orang yang berada di paling ujung!

Bagaikan seekor garuda yang menerkam dari atas, pedangnya meluncur dan orang yang diserangnya cepat mengangkat golok menangkis. Namun begitu golok bertemu pedang, orang itu langsung berteriak lalu roboh, pundaknya berdarah terkena tusukan tangan kiri Kiam-sian Louw Sun.

Berturut-turut Dewa Pedang melukai lima orang lawannya, bukan luka berat akan tetapi cukup untuk membuat mereka merasa jeri sebab yang terluka adalah tangan, lengan atau pundak kanan mereka.

Mengertilah Hek I Ngo-liong bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya. Tentu saja mereka merasa kecewa dan menyesal bukan main. Peti berisi pusaka-pusaka istana sudah terjatuh ke tangan mereka dengan mudah, dapat mereka curi dari rumah Si Tangan Api selagi pemilik rumah tak berada di rumah. Mereka lari ketakutan, takut bila sampai Iblis Tangan Api dapat menyusul mereka. Kiranya malah tiga orang pertapa ini yang mengalahkan mereka dan akan merampas pusaka-pusaka itu. Baru melawan seorang saja dari tiga pertapa itu, mereka tidak mampu menang. Apa lagi kalau mereka bertiga itu maju semua!

Si kumis melintang maju mewakili teman-temannya, membungkuk ke arah tiga orang itu lalu berkata, "Kami Hek I Ngo-liong mengaku kalah. Harap sam-wi suka memperkenalkan nama agar kami tahu oleh siapa kami dikalahkan."

"Ho-ho-ho, kami tidak perlu memperkenal diri, tidak ingin dikenal. Hanya ketahuilah bahwa kami yang berhak atas pusaka-pusaka itu, maka kami melarang kalian mencurinya," kata Dewa Arak.

"Locianpwe (orang tua gagah), berlakulah adil antara sesama orang kang-ouw. Pusaka itu cukup banyak dan kami akan berterima kasih sekali bila locianpwe memberi kepada kami seorang sebuah saja."

"Hemm, tidak boleh, tidak boleh..."

"Kalau begitu empat buah saja... atau tiga buah...”

Melihat Dewa Arak masih menggelengkan kepala, si kumis melintang cepat menurunkan permintaannya. "Sudahlah, dua buah saja, locianpwe... atau sebuah saja untuk kami berlima!"

Dewa arak menghentikan tawanya lalu memandang dengan mata melotot. "Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka itu! Mestinya kalian kami tangkap dan kami seret ke kota raja supaya dihukum. Sekarang kalian masih berani rewel minta bagian?"

Mendengar ucapan itu, Hek I Ngo-liong amat terkejut dan ketakutan. Tanpa banyak cakap lagi mereka mengambil golok masing-masing dan hendak berloncatan ke kereta mereka. Akan tetapi Dewa Arak berseru.

"Berhenti! Kami telah memaafkan kalian dan tidak menangkap kalian, dan untuk itu kalian harus menerima hukuman lain sebagai penggantinya. Kereta dan kuda itu kami butuhkan. Nah, kalian pergilah..., ehh, nanti dulu. Kami harus memeriksa dahulu apakah pusaka itu masih lengkap!"

Sekali berkelebat Dewa Arak sudah meloncat ke dalam kereta dari jarak yang cukup jauh hingga mengejutkan lima orang itu. Peti itu berada di dalam kereta dan setelah membuka tutup peti dan melihat bahwa isinya masih lengkap, Dewa Arak lalu menjenguk keluar.

"Sekarang kalian berlima boleh pergi, tetapi sekali lagi bertemu dengan kami, tentu kami akan menangkap dan menyeret kalian ke kota raja agar dihukum."

Lima orang itu saling pandang, di dalam batin menyumpah-nyumpah. Akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu, maka mereka pun cepat-cepat lari meninggalkan tempat itu.

Sam Sian mengajak Sin Wan naik kereta rampasan itu, lalu mereka kembali ke rumah anak itu. Para pelayan yang terluka oleh Hek I Ngo-liong mendapat pengobatan dari Sam Sian. Untung mereka tidak terluka parah dan setelah mendapat pengobatan, mereka tidak menderita lagi. Sam Sian selalu membawa bekal obat-obat luka yang amat manjur.

Malam itu Sam Sian mengajak Sin Wan bercakap-cakap di ruang tamu. Mereka merasa suka dan juga kasihan kepada anak itu yang kini sudah tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Ayah kandungnya sudah lama tewas oleh Se Jit Kong, ibunya dan ayah tirinya juga sudah tewas. Tidak ada sanak kadang, tidak ada handai taulan, anak ini hidup sebatang kara di dunia dalam usia sepuluh tahun! Mereka sudah sepakat untuk menolong anak itu.

"Sin Wan, besok kami akan pergi mengantar pusaka-pusaka ini ke kota raja. Kami ingin sekali mengetahui, apa rencanamu sekarang?" tanya Pek-mau-sian Thio Ki dengan suara lembut.

Pertanyaan ini seperti menyeret Sin Wan kembali ke kenyataan hidup yang sangat pahit, menyadarkannya dari lamunan. Semenjak tadi dia memang sedang memikirkan keadaan dirinya. Besok tiga orang kakek ini meninggalkannya, lantas apa yang harus dia lakukan? Tetap tinggal di rumah besar peninggalan Se Jit Kong dengan segala harta kekayaaanya itu? Bagaimana dia akan mampu mengurus rumah tangga seorang diri saja, mengepalai tujuh orang pelayan itu? Dan dia tahu betapa di dunia ini lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik.

Pengalamannya dalam beberapa hari ini saja sudah membuka matanya betapa orang-orang yang kelihatannya baik, ternyata adalah orang yang amat jahat. Seperti ayah tirinya itu! Seperti Bu-tek Cap-sha-kwi, tiga belas orang yang mencoba untuk merampas pusaka, kemudian Hek I Ngo-liong. Pertanyaan Dewa Rambut Putih justru merupakan pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggunya.

"Locianpwe, saya... saya tidak tahu. Kalau sam-wi locianpwe mengijinkan, saya ingin ikut saja dengan sam-wi (anda bertiga)."

Tiga orang pertapa itu saling lirik. "Kami bertiga hanyalah orang-orang yang tidak biasa berada di tempat ramai, sebab kami hanya pertapa-pertapa. Mau apa engkau ikut kami, Sin Wan?" Dewa Arak memancing.

"Bila sam-wi sudi menerima saya, maka saya bersedia bekerja sebagai apa saja, sebagai bujang, kacung atau apa saja. Sam-wi locianpwe adalah orang-orang sakti yang budiman dan pandai. Saya akan dapat memetik banyak pelajaran jika menghambakan diri kepada sam-wi. Hanya sam-wi yang saya percaya di dunia ini "

Senang hati tiga orang kakek itu mendengar ucapan anak itu. Seperti yang telah mereka duga, selain memiliki bakat yang baik untuk belajar silat, anak ini juga mempunyai budi pekerti yang baik menurut didikan mendiang ibunya, sama sekali tidak mirip ayah tirinya, Iblis Tangan Api yang kejam dan jahat itu.

"Siancai...!" kata Kiam-sian. "Agaknya telah dikehendaki Tuhan engkau berjodoh dengan kami, Sin Wan. Bagaimana kalau engkau ikut dengan kami sebagai murid kami?"

Anak itu tertegun, matanya terbelalak, lalu wajahnya menjadi cerah gembira dan dengan gugup dan gemetar dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu. "Terima kasih kalau suhu bertiga sudi menerima teecu (murid) sebagai murid. Sebetulnya tidak ada yang lebih teecu inginkan dari pada menjadi murid sam-wi suhu (guru bertiga), akan tetapi tentu saja teecu tidak berani minta menjadi murid .... "

"Hemmm, mengapa tidak berani, Sin Wan? Kukira engkau bukan seorang anak penakut!" cela Dewa Arak.

“Maaf, suhu. Bagaimana pun juga sam-wi mengetahui bahwa teecu adalah anak tiri dari mendiang Se Jit Kong dan sejak bayi teecu sudah dididik olehnya. Teecu khawatir kalau sam-wi suhu menganggap teecu bukan anak yang terdidik dengan baik. Akan tetapi siapa kira sam-wi suhu yang mengambil teecu sebagai murid. Terima kasih kepada Allah Yang Maha Kasih..."

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Anak ini tidak berani minta dijadikan murid bukan karena merasa takut, melainkan karena merasa rendah diri sebagai putera seorang datuk besar yang kejam seperti iblis.

"Bangkit dan duduklah, Sin Wan. Kalau engkau ikut dengan kami, lalu bagaimana dengan rumah dan harta peninggalan Se Jit Kong ini?" tanya si Dewa Arak.

"Teecu tidak menginginkan sedikit pun dari harta peninggalan Se Jit Kong. Ayah kandung teecu sendiri tidak meninggalkan apa-apa ketika tewas, demiklan pula ibuku. Teecu akan meninggalkan rumah beserta seluruh harta ini kepada para pelayan. Teecu hendak pergi mengikuti suhu bertiga tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian teecu.”

Kembali tiga orang pendeta itu saling pandang dan mereka menjadi semakin kagum. Baru berusia sepuluh tahun akan tetapi Sin Wan tak terikat oleh harta benda! Ini membuktikan bahwa anak itu mempunyai keberanian dan harga diri. Anak seperti ini kelak kalau sudah dewasa tak akan mudah dicengkeram dan dipermainkan nafsu yang timbul oleh daya tarik benda yang amat kuat.

Harta bendalah yang mendorong sebagian besar manusia menjadi lupa diri, dan dalam pengejaran terhadap harta benda ini, manusia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan jahat. Mencuri, merampok, menipu atau lain macam perbuatan jahat lagi demi mengejar harta benda. Harta benda juga membuat manusia yang memilikinya menjadi sombong, merasa berkuasa dan merendahkan orang lain.

"Bagus! Kalau begitu malam ini juga harus dilakukan penyerahan harta benda itu supaya besok pagi kita dapat berangkat,” kata si Dewa Arak.

Tujuh orang pelayan itu segera dipanggil dan dikumpulkan di ruangan tamu, juga kepala kampung yang mengepalai daerah tempat tinggal Se Jit Kong diundang menjadi saksi. Di hadapan kepala kampung Sin Wan lalu menerangkan bahwa dia akan pergi merantau dan seluruh harta kekayaan yang berada di rumah itu, berikut rumahnya, dia berikan kepada tujuh orang pelayan.

Tentu saja semua orang merasa terkejut dan terheran, akan tetapi tujuh orang pelayan itu pun menjadi gembira bukan main. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Wan dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka. Biar dibagi tujuh sekali pun, mereka akan memperoleh bagian yang akan membuat masing-masing pelayan menjadi orang yang kaya!

Juga kepala kampung sangat terkejut dan terheran. Akan tetapi ketika si Dewa Arak yang mewakili Sin Wan mengatur semua urusan itu mengatakan bahwa sebagai pengawas dan saksi agar pembagian itu dilakukan seadil-adilnya, kepala kampung mendapat pula upah yang cukup layak, kepala kampung menjadi gembira pula.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Wan dan tiga orang gurunya meninggalkan rumah Se Jit Kong di Yin-ning itu dengan kereta rampasan mereka. Tujuh orang pelayan mengantarkan sampai di luar pintu gerbang, dan kereta segera membalap setelah berada di luar kota.

Sin Wan menghela napas panjang, seolah-olah dia terlepas dari belenggu yang amat tidak menyenangkan hatinya. Belenggu itu terasa olehnya semenjak dia mendengar keterangan ibunya bahwa Se Jit Kong bukan ayah kandungnya, bahkan pembunuh ayah kandungnya, dan bahwa ibunya menjadi isteri Se Jit Kong karena terpaksa untuk menyelamatkannya! Sejak saat itu rumah dan harta milik Se Jit Kong itu seperti sebuah penjara baginya, lantai rumah terasa seperti api membara, harta kekayaan itu bagai lintah-lintah yang bergayutan di tubuhnya.

Kini dia merasa bersih dan ringan, maka dia dapat menatap ke depan dengan wajah cerah penuh harapan. Akan tetapi teringat akan penderitaan ibunya, sepasang matanya menjadi basah dan cepat dia menghapus air matanya. Ibunya telah meninggal dunia, berarti sudah terbebas dari penderitaan hidup di dunia yang penuh kepalsuan. Dia hanya dapat berdoa dengan diam-diam, semoga Allah Yang Maha Pengampun sudi mengampuni semua dosa ibunya.

Semua keindahan pemandangan alam yang terbentang luas di sekitarnya menghilangkan semua kenangan sedih tentang ibunya. Baru sekarang ini Sin Wan melakukan perjalanan jauh, melalui daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan tiga orang pendeta itu juga merupakan pencinta alam. Setiap kali terdapat pemandangan yang sangat indah, si Dewa Arak yang duduk di tempat kusir bersama Dewa Pedang langsung menghentikan kuda penarik kereta dan mereka pun berhenti untuk menikmatl keindahan alam.

Sin Wan memperhatikan mereka dan segera melihat perbedaan di antara mereka kalau menghadapi keindahan alam yang mempesona itu. Dewa Arak menikmati keindahan alam sambil meneguk araknya, Dewa Pedang melihat ke sekeliling seperti orang terpesona dan termenung, sedangkan Dewa Rambut Putih, kalau tidak meniup sulingnya tentu bersajak!

Belasan hari lewat tanpa ada gangguan di perjalanan. Pada suatu senja kereta berhenti di puncak sebuah bukit. Puncak itu datar dan dari tempat itu pemandangan alam sangatlah indahnya. Apa lagi mereka dapat melihat matahari senja mengundurkan diri di atas kaki langit di barat, hampir menyembunyikan diri di balik bayangan gunung-gunung.

Menatap matahari senja memang merupakan sebuah pengalaman yang mempesonakan. Langit di barat berwarna kemerahan, diselingi oleh warna perak, biru serta ungu, ada pula sebagian yang warnanya kuning keemasan. Matahari sendiri berwarna merah cerah tetapi tidak menyilaukan, seperti tersenyum memberi ucapan selamat berpisah, seperti hendak mengucapkan selamat tidur.

Matahari menjadi bola merah yang besar, perlahan namun pasti makin menyelam ke balik bukit-bukit. Angin senja semilir menggoyang pucuk-pucuk ranting pohon, membuat pohon itu seperti kekasih-kekasih yang ditinggalkan orang yang dicintanya dan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan untuk bersua kembali esok hari.

Burung-burung terbang melayang, berkelompok sambil mengeluarkan suara riuh-rendah, sekelompok makhluk yang setelah sehari rajin bekerja kini pulang ke sarang mereka yang hangat, atau berlindung pada ranting-ranting pohon berselimutkan kerimbunan daun-daun yang melindungi.

Tanpa diperintah lagi, setelah mendapat pengalaman selama beberapa hari dan tahu apa yang harus dilakukannya, Sin Wan mencari kayu dan daun kering lantas menumpuknya di atas tanah, tidak jauh dari kereta. Dia harus mengumpulkan cukup banyak kayu bakar untuk membuat api unggun malam ini. Apa bila mereka tidur di tempat terbuka, harus ada api unggun yang selain dapat memberikan penerangan, juga dapat mengusir nyamuk dan binatang lain. Dapat pula mengusir hawa dingin yang dibawa angin malam.

Tiga orang pendeta itu turun dari kereta, segera duduk bersila untuk memulihkan tenaga setelah kelelahan sehari penuh melakukan perjalanan dengan kereta. Sin Wan mengambil sebuah buntalan yang berisi bekal makanan dan minuman yang dibeli tiga orang suhu-nya di dusun yang mereka lewati siang tadi.

Tanpa banyak bicara mereka lalu makan malam di dekat api unggun yang sudah dibuat oleh Sin Wan. Tiga orang kakek itu semakin suka kepada murid mereka. Meski pun sejak kecil hidup sebagai putera orang kaya raya, ternyata Sin Wan tidak manja, tidak cengeng, berani menghadapi kesukaran dan rajin, tidak canggung melakukan pekerjaan kasar.

Sesudah makan malam mereka duduk dekat api unggun dan Dewa Arak berkata kepada Sin Wan. "Sin Wan, sekarang engkau sudah menjadi murid kami. Kami ingin melihat apa saja yang pernah kau pelajari dari Iblis Tangan Api. Sekarang coba engkau mainkan ilmu-ilmu silat yang pernah kau pelajari darinya."

Sin Wan mengerutkan sepasang alisnya. Sebetulnya dia tidak suka memainkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari pembunuh ayahnya. Akan tetapi dia tak berani membantah perintah gurunya. Melihat keraguan anak itu dan kerut di alisnya, Kiam-sian lalu bertanya,

“Kenapa, Si Wan? Engkau kelihatan tidak suka memainkan ilmu yang pernah kau pelajari dari Se Jit Kong?"

"Maaf, suhu, Se Jit Kong adalah seorang datuk sesat yang amat kejam dan jahat. Teecu hendak melupakan saja semua yang pernah teecu pelajari darinya karena kalau orangnya jahat, pasti ilmunya jahat juga."

"Siancai, engkau tak boleh berpendapat seperti itu, Sin Wan. Semua ilmu tetap saja ilmu pengetahuan yang menjadi alat bagi manusia dalam kehidupannya. Seperti alat-alat hidup yang lain, ilmu tidak ada sangkut pautnya dengan sifat jahat atau baik. Jahat atau baiknya ilmu, seperti jahat atau baiknya alat, tergantung dari pada orang yang menggunakannya. Apa bila orang itu memang berniat jahat, maka alat apa saja atau ilmu apa saja, dapat dia gunakan untuk berbuat jahat, Yang jahat bukan ilmunya, melainkan orangnya! Andai kata di waktu hidupnya Se Jit Kong menggunakan semua ilmunya untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu-ilmunya jahat?"

Mendengar ucapan Kiam-sian ini, Sin Wan segera menjadi sadar dan dia pun memberi hormat kepada Dewa Pedang itu. “Maafkan teecu, suhu, Pandangan teecu tadi memang keliru dan amat picik. Baiklah, teecu akan memainkan semua ilmu silat yang pernah teecu pelajari dari Se Jit Kong."

Anak itu lalu bersilat, diterangi sinar api unggun dan ditonton ketiga orang gurunya. Se Jit Kong memang seorang datuk besar yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Sejak Sin Wan berusia empat tahun, anak itu telah digemblengnya. Bahkan tubuh anak itu telah dibikin kuat dengan obat-obat gosok mau pun minum.

Semenjak berusia enam tahun Sin Wan telah diajar melakukan siulian (semedhi) dan latihan pernapasan untuk menghimpun teraga sakti. Maka tidak mengherankan kalau ketika berusia sepuluh tahun Sin Wan telah menjadi seorang anak yang cukup lihai, yang takkan begitu mudah dikalahkan oleh orang dewasa biasa, betapa pun kuatnya orang itu.

Sin Wan tidak ingin menyembunyikan sesuatu. Dia bersilat sepenuh hatinya, memainkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, bahkan mengerahkan tenaga sinkang seperti yang pernah diajarkan Se Jit Kong kepadanya. Dan perlahan-lahan dari kedua tangan anak itu mengepul uap panas!

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk. Dalam usia sepuluh tahun Sin Wan sudah dapat mencapai tingkat seperti itu. Benar-benar hebat! Walau pun dia belum sepenuhnya menguasai ilmu Tangan Api, namun kedua tangannya telah mengepulkan uap panas, dan pukulan-pukulannya mengandung hawa panas pula. Setelah anak itu selesai bersilat dan mengatur kembali pernapasannya yang agak terengah, Kiam-sian bertanya,

"Pernahkah diajari ilmu pedang?"

Sin Wan mengangguk, lantas Dewa Pedang menggerakkan tangan kirinya ke arah pohon yang berada di dekat mereka. Diam-diam dia mengerahkan Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu pukulan yang mengandung sinkang amat kuat. Maka terdengarlah suara gaduh saat dua batang cabang pohon itu runtuh. Ia mengambil dua batang cabang itu, membersihkan daunnya lalu menyerahkan sebatang kepada muridnya.

"Nah, pergunakan pedang ini dan seranglah aku!" katanya dan dia pun memegang kayu cabang yang kedua.

"Baik, suhu," kata Sin Wan, kemudian anak ini memutar-mutar kayu itu seperti sebatang pedang dan mulai melakukan serangan-serangan dengan sepenuh hati kepada gurunya.

Sambil mengamati gerakan muridnya, Kiam-sian lantas menangkis dan balas menyerang. Dengan cara mengajak muridnya bertanding seperti ini maka lebih mudah baginya untuk mengukur dalamnya ilmu yang telah dimiliki muridnya, dari pada kalau hanya melihat anak itu bersilat pedang seorang diri saja. Setelah semua jurus dimainkan habis dan Sin Wan meloncat ke belakang menghentikan serangannya, Kiam-sian mengangguk-angguk.

"Duduklah kembali, Sin Wan."

Sin Wan duduk bersila lagi menghadapi api unggun. Tiba-tiba Dewa Arak sudah berada di belakangnya, juga duduk bersila dan gurunya ini berkata sambil tersenyum.

"Sin Wan, coba kau kerahkan seluruh tenaga sinkang yang pernah kau latih." Setelah berkata demikian, tangan kirinya ditempelkan di pundak, tangan kanan melingkari perut dan menempel di pusar.

Sin Wan tidak membantah. Dia pun mengangkat dua tangannya ke atas dengan telapak tangan tengadah. Oleh mendiang Se Jit Kong gerakan ini dinamakan ‘Menyambut Api dari Langit’. Dua tangan yang tengadah itu bergetar, kemudian perlahan-lahan turun ke bawah, kini kedua telapak tangan menempel dengan tanah. Inilah yang dinamakan ‘Menyedot Api Dari Bumi’.

Dia menghimpun tenaga seperti yang diajarkan Se Jit Kong, merasakan betapa ada hawa panas memasuki pusarnya lantas berputaran. Seperti yang biasa dilatihnya, dia mencoba untuk menguasai hawa yang berputaran itu supaya dapat dia salurkan ke arah sepasang lengannya. Akan tetapi tiba-tiba ada hawa sejuk masuk ke dalam pusarnya. Ketika tenaga panas yang disalurkan ke lengan tiba di pundak, hawa itu terhenti dan kembali ke pusar.

"Cukup, hentikan latihanmu," terdengar suara lembut dan baru dia teringat bahwa Dewa Arak sedang bersila di belakangnya.

"Siancai, murid kita ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang bersifat ganas. Akan tetapi ilmu-ilmu itu jangan dilupakan begitu saja, Sin Wan. Engkau berhak menguasainya, dan jika pandai mempergunakannya untuk berbuat kebaikan, maka keganasan ilmu-ilmu itu akan hilang bahkan berubah menjadi ilmu yang amat bermanfaat bagimu," kata Dewa Rambut Putih.

"Teecu akan mentaati semua nasehat dan petunjuk suhu bertiga," jawab Sin Wan dengan kesungguhan hati.

Malam itu mereka beristirahat dan pada keesokan harinya, pada waktu mereka hendak melanjutkan perjalanan, Sin Wan minta ijin tiga orang gurunya untuk mencari sumber air atau anak sungai untuk mandi. Tiga orang pertapa itu tersenyum dan Dewa Arak berkata sambil tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, kami sudah biasa bertapa tanpa mandi tanpa makan dan tanpa tidur hingga berbulan, maka pagi hari ini kami pun tidak membutuhkan air. Akan tetapi engkau terbiasa mandi setiap hari, bahkan kemarin engkau sudah mengeluh karena seharian tidak mandi. Pergilah, kurasa di sebelah kiri sana ada anak sungai yang airnya cukup jernih, Sin Wan."

Pemuda kecil itu berterima kasih, membawa ganti pakaian dan lari ke kiri. Benar saja, tak lama kemudian dia melihat sebuah anak sungai yang airnya cukup jernih karena seperti umumnya anak sungai di pegunungan, pada dasar sungai terdapat banyak pasir dan batu sehingga airnya tersaring jernih.

Dengan perasaan gembira Sin Wan menanggalkan pakaiannya, menaruhnya di tepi anak sungai bersama pakaian bersih yang dibawanya tadi, kemudian dengan bertelanjang bulat Sin Wan memasuki sungai kecil yang airnya jernih itu. Airnya sejuk dan segar!

Sin Wan memilih bagian yang airnya setinggi dadanya, kemudian mandi dengan gembira. Tubuhnya terasa nyaman bukan kepalang ketika berendam di air itu. Dia menggunakan sebuah batu halus untuk menggosok-gosok kulit tubuhnya dan membersihkan debu-debu yang menempel.

Dia tidak melihat atau mendengar betapa ada dua orang lain yang juga sedang mandi tak jauh dari tempat dia mandi namun tidak nampak dari situ karena berada di balik belokan sungai. Mereka menjadi marah sekali ketika mendengar ada orang yang turun ke sungai dan mandi di hulu tak jauh dari mereka. Perbuatan itu dengan sendirinya mengotorkan air yang mengalir ke arah mereka. Dengan bersungut-sungut keduanya naik ke tepi sungai, lalu secepatnya mereka mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian.

Mereka itu adalah dua orang wanita. Yang seorang berusia sekitar tiga puluh tahun akan tetapi masih nampak seperti gadis dua puluh tahun saja, cantik jelita serta anggun, akan tetapi sinar matanya keras dan tajam. Orang kedua adalah seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih baru sembilan tahun akan tetapi sudah kelihatan cantik manis!

"Subo (ibu guru), mari kita lihat siapa orangnya. Dia harus dihajar!" kata anak perempuan itu dengan wajah bersungut-sungut.

Wajah yang manis itu kulitnya kemerahan karena digosok-gosoknya ketika mandi tadi dan dia memang seorang anak perempuan yang manis. Rambutnya hitam dan gemuk sekali, dibiarkan panjang sampai ke punggung dan diikat pita merah. Wajahnya yang bentuknya bulat itu memiliki mata yang seperti sepasang bintang, hidungnya mancung dan mulutnya kecil, dagunya meruncing.

Wanita cantik itu tersenyum hingga lesung di kedua pipinya nampak melekuk manja. Yang paling mempesona pada diri wanita ini adalah mulutnya. Bentuk mulut itu demikian indah, dengan bibir merah membasah, penuh dan seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum nampak kilatan gigi yang berderet putih seperti mutiara, kalau berbicara kadang nampak rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang jambon. Bibir yang bawah dapat bergerak-gerak hidup, penuh gairah dan memiliki daya pikat yang kuat sekali.

"Li Li, jangan terburu nafsu. Kita lihat dahulu apakah sikapnya buruk. Dia mandi di sana disengaja ataukah tidak. Kalau sikapnya buruk, baru kita hajar dia!"

Di dalam suaranya yang merdu itu tersembunyi ancaman yang akan membuat orang yang mendengarnya menjadi ngeri. Wanita itu memang cantik sekali. Rambutnya yang halus dan hitam panjang digelung seperti model rambut seorang puteri bangsawan dan dihias dengan tusuk sanggul emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Ketika mandi tadi, walau pun dia hanya mengenakan pakaian dalam, dia membenamkan dirinya hingga ke leher dan menjaga supaya rambutnya tidak sampai basah, tidak seperti anak perempuan yang mencuci rambutnya. Kini sesudah berpakaian, wanita itu semakin nampak seperti seorang wanita bangsawan.

Pakaiannya serba indah dan mewah. Lehernya memakai kalung dan dua lengannya dihias gelang emas. Alisnya melengkung hitam di atas sepasang mata yang bersinar tajam dan kadang amat keras sehingga nampak galak. Hidungnya juga mancung dan manis, akan tetapi daya tarik yang paling memikat adalah mulutnya. Di dahinya nampak anak rambut halus berjuntai ke bawah, dan di depan telinga terdapat untaian rambut yang melengkung indah.

"Mari kita ke sana, subo!" anak perempuan itu nampak tergesa karena dia sudah marah sekali, merasa mandinya diganggu orang.

Dia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera mahal, walau pun bentuknya amat sederhana, tidak ada kesan mewah seperti pakaian wanita cantik yang disebutnya subo. Anak ini hanya memakai sepasang gelang batu giok (kumala) sebagai perhiasannya.

Guru dan murid itu lalu mengitari semak-semak belukar di belokan sungai dan tidak lama kemudian mereka sudah melihat Sin Wan yang sedang mandi. Dengan gembiranya anak laki-laki itu berulang kali membenamkan kepalanya ke air.

"Kiranya hanya seorang bocah. Tentu dia anak yang nakal sekali," anak perempuan yang disebut Li Li tadi mengomel. "Dia harus diberi hukuman atas kelancangannya yang sudah mengganggu kita."

Dengan gerakan yang cepat sekali dia meloncat ke arah tumpukan pakaian Sin Wan. Dia menyambar tumpukan dua stel pakaian kotor dan bersih itu, meninggalkan sebuah celana pendek saja, kemudian meloncat kembali ke belakang semak-semak di mana subo-nya menunggu.

Meski pun gerakan anak perempuan itu cepat sekali, bagaikan seekor kelinci, namun Sin Wan masih sempat melihat bayangan orang berkelebat. Dia cepat menengok dan melihat bayangan itu lenyap ke balik semak belukar. Akan tetapi yang membuat dia amat terkejut, ketika dia menengok ke arah tumpukan pakaiannya, ternyata tumpukan itu sudah lenyap, hanya tinggal sepotong baju atau celana di sana.

"Heiiiii ...!" Dia berteriak dan hendak keluar dari sungai itu. Akan tetapi dia ingat bahwa dia kini bertelanjang bulat, maka dia meragu, lalu kembali dia berteriak. "Heii, siapa pun yang berada di darat! Aku akan keluar dari sungai dalam keadaan telanjang bulat. Kembalikan pakaianku!"

Akan tetapi tidak terdengar suara dari balik semak, juga tidak ada gerakan apa pun. Tentu pencuri pakaian itu telah melarikan diri jauh-jauh, pikir Sin Wan. Dia lalu melompat ke atas daratan dan menyambar celana dalamnya yang masih tertinggal di tempat tumpukan yang lenyap tadi. Cepat dipakainya celana dalam itu, sebuah celana yang hanya menutup dari pinggang sampat ke paha, lalu larilah dia ke belakang semak untuk mengejar orang yang mencuri pakaiannya. Dan… hampir saja dia menabrak seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan manis yang berdiri di belakang semak belukar itu.

"Ehhh, maaf!” kata Sin Wan dan cepat dia melempar diri ke kanan sehingga bergulingan akan tetapi dia tidak sampai menabrak orang.

Ketika dia bangkit berdiri lagi, dia melihat bahwa pakaiannya masih dipegang oleh anak perempuan yang manis itu, yang sekarang berdiri di situ memandang kepadanya dengan senyum mengejek dan pandang mata penuh kemarahan.

Guru dan murid itu pun memandang kepadanya. Kalau anak perempuan itu memandang dengan senyum geli dan mengejek, maka wajah wanita itu berubah kemerahan dan dia pun cepat membuang muka sambil berkata ketus,

"Anak laki-laki tak tahu malu!"

Sin Wan merasa penasaran. Tentu saja dia pun merasa canggung dan malu harus berdiri dalam keadaan tiga perempat telanjang di depan dua orang wanita yang tidak dikenalnya ini. Akan tetapi yang membuat dia hampir telanjang itu adalah anak perempuan ini! Bukan dia yang tidak tahu malu atau kurang ajar, tetapi anak perempuan itu yang telah mencuri pakaiannya selagi dia mandi.

Meski pun dia menjadi marah sekali dan ingin memaki, ingin menampar anak perempuan itu, namun pendidikan mendiang ibunya membuat dia mampu menahan diri. Dia menekan perasaannya yang marah dan penasaran, lalu membungkuk depan anak perempuan itu dan berkata,

"Nona, harap pakaianku itu dikembalikan!" katanya, walau pun kata-katanya dan sikapnya sopan, namun suaranya keras mengandung kemarahan yang tertahan.

Akan tetapi anak perempuan itu membelalakkan matanya. “Apa kau bilang? Engkau tidak cepat berlutut minta ampun atas kesalahanmu malah menuntut pakaianmu dikembalikan? Hemm, engkau memang anak yang kurang ajar, nakal dan tak tahu diri!”