Social Items

Kota Yin-ning adalah sebuah kota di daerah Yi-li yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang Kasak. Namun di kota ini pun tinggal banyak orang dari suku bangsa lain, terutama Suku Bangsa Uigur yang sebagian besar beragama Islam.

Biar pun ada kemiripan pada wajah dan kulit mereka, tetapi mudah membedakan mereka dari pakaian mereka, terutama pelindung kepala. Kaum pria suku Uigur yang beragama Islam hampir semuanya mengenakan semacam peci berwarna putih atau hitam atau juga belang-belang seperti kulit harimau, sedangkan para wanitanya sebagian besar memakai kerudung dengan warna-warni indah.

Sebetulnya kaum pria dari suku Kasak ada pula yang berpeci, akan tetapi pada umumnya mereka memakai kain pembungkus kepala dan pakaian mereka juga berbeda. Topi para wanitanya terbuat dari bulu, dan banyak pula kaum pria suku Kasak yang mengenakan topi bulu domba. Suku Kasak terkenal tangkas dan pandai menunggang kuda, sebaliknya Suku Uigur lebih ahli dalam memelihara ternak domba dan bertani.

Selain kota Yin-ning, di daerah Yi-li terdapat pula banyak kota lain seperti Cau-su, Capu-cai, Sui-ting dan lain-lainnya. Kota Yin-ning terletak pada lereng bukit yang pemandangan alamnya indah dan hawanya sejuk. Pegunungan di sana menghasilkan rumput yang baik dan padang-padang rumput terbentang luas di lereng-lereng bukit, di antara pohon-pohon cemara yang rimbun dan menjulang tinggi.

Karena itu Yi-li menjadi tempat yang menguntungkan sekali bagi para pemelihara ternak. Maka terkenallah bulu-bulu domba yang gemuk dan halus dari daerah Yi-li, sehingga bulu domba merupakan hasil besar yang dikirim ke barat dan ke timur. Hasil panen gandum dari sawah ladang dan buah-buahan dari kebun-kebun di sana juga membuat penduduk daerah Yi-li pada umumnya dan kota Yin-ning pada khususnya, hidup berkecukupan, bahkan boleh dibilang sangat makmur untuk ukuran kehidupan di daerah pegunungan.

Penghuni pegunungan tidak memiliki banyak kebutuhan. Mereka telah merasa kecukupan asalkan keluarga dalam keadaan sehat, cukup makan dan pakaian, serta memiliki rumah yang kokoh. Untuk bersenang-senang, mereka secara berkelompok sering mengadakan pertemuan, menikmati hasil panen, makan hidangan berupa masakan sendiri dan buah-buahan dari kebun sendiri, minuman buatan sendiri, dan mereka menari dan bernyanyi di bawah sinar bulan. Apa lagi yang dikehendaki seseorang dalam hidupnya?

Keluarga Si Tangan Api tinggal di sudut kota Yin-ning, mempunyai pekarangan dan kebun yang luas. Si Tangan Api datang kurang lebih setahun yang lalu, bersama seorang isteri dan seorang anak laki-laki, kemudian membeli rumah besar dengan pekarangan besar itu dan tinggal di situ sebagai orang yang dianggap kaya.

Si Tangan Api ini adalah keturunan Uigur yang belum beragama Islam, melainkan Agama Hindu karena sejak muda dia merantau ke India dan berguru kepada orang-orang sakti di India. Namanya Se Jit Kong dan sesudah pulang dari India, dia langsung mengembara ke daratan Cina sebelah timur kemudian muncul sebagai seorang jagoan, seorang datuk! Dia malang melintang di sepanjang perjalanan dari daerah barat ke timur sehingga namanya menjadi terkenal, bahkan sampai di kota raja Nan-king.

Dia bukan saja terkenal dengan ilmu silatnya dan tenaganya yang dahsyat, akan tetapi terkenal pula dengan ilmu sihirnya. Kemenangan demi kemenangan membuat dia takabur dan sombong, bahkan dia mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu di dunia. Dia pun berani mendatangi partai-partai persilatan besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai bahkan Siauw-lim-pai untuk menantang para pimpinan perguruan silat, dan dia sudah membunuh beberapa orang tokoh penting di dunia persilatan.

Para pendekar menjadi marah, tapi sebegitu jauh belum ada seorang pun pendekar yang mampu menandingi Si Tangan Api. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk kembali ke barat, karena maklum bahwa dia dimusuhi oleh para pendekar. Apa lagi dia sudah mulai tua, usianya kini sudah hampir enam puluh tahun, dan dia ingin hidup tenang di kampung halamannya, yaitu di daerah Yi-li.

Akan tetapi bukan Si Tangan Api kalau dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan nama besar dan perbuatan yang menggemparkan. Dia menyelundup ke dalam gudang pusaka milik Kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka yang amat berharga. Gegerlah kota raja, dan berita mengenai perbuatan Si Tangan Api ini segera terdengar di seluruh dunia kang-ouw.

Di Yin-ning Se Jit Kong terkenal sebagai seorang hartawan, bahkan ketika baru pindah dia segera menunjukkan kepandaiannya sehingga ditakuti orang. Nama julukannya Si Tangan Api segera dikenal orang di seluruh Yi-li. Akan tetapi, berkat permintaan isterinya, di Yi-li dia sama sekali tak pernah melakukan kejahatan dan hidup tenang tenteram seperti yang diidamkannya.

Isteri Se Jit Kong adalah seorang wanita yang jauh lebih muda, berusia dua puluh delapan tahun dan mempunyai kecantikan yang khas Suku Uigur. Wanita Uigur memang memiliki kecantikan yang khas, manis dan anggun.

Se Jit Kong amat sayang kepada isterinya ini dan hal ini terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan datuk itu sangat memanjakan isterinya, membelikan banyak pakaian sutera yang indah-indah, juga perhiasan yang mahal-mahal. Dan wanita itu pun kelihatan amat mencinta suaminya, biar pun dia berwatak pendiam dan tidak pernah mau bercerita tentang keadaan keluarganya.

Suami isteri ini mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun dan diberi nama Sin Wan oleh ayahnya. Datuk besar itu sangat sayang kepada Sin Wan dan sejak berusia lima tahun, anak itu telah digembleng oleh ayahnya sehingga dalam usia sepuluh tahun dia telah menjadi seorang anak yang bertubuh kuat dan pandai bersilat.

Akan tetapi sungguh jauh bedanya dengan watak ayahnya. Kalau ayahnya seorang datuk yang keras hati dan suka mencari musuh, ingin menonjol dan merasa diri paling jagoan, sebaliknya Sin Wan seorang anak yang pendiam dan sama sekali tidak bengal, bahkan penurut sekali, terutama terhadap ibunya. Mungkin dia sudah mewarisi watak ibunya yang juga pendiam dan lembut, wanita yang tak pernah kelihatan marah dan tidak pernah pula kelihatan ribut dengan suaminya.

Sebagai suami isteri, tentu saja Ju Bi Ta pernah ribut dengan suaminya. Hanya karena ia seorang wanita yang sopan dan lembut, dia tidak pernah mau ribut di depan orang lain, bahkan tidak mau ribut dengan suaminya di depan anak mereka. Ketika sudah berdua di kamar, wanita yang lembut ini baru menegur dan memprotes suaminya dan kalau sudah demikian, biasanya datuk besar yang keras hati serta keras kepala ini selalu tunduk dan mengalah!

Setelah satu tahun tinggal di Yin-ning dan hidup dengan tenteram, pada suatu hari Se Jit Kong pergi meninggalkan rumahnya. Ketika berpamit kepada isterinya, dia mengatakan bahwa dia hendak pergi mengunjungi sahabat-sahabat lamanya di sekitar pegunungan Api di daerah Turfan.

"Ilmuku Tangan Api kudapatkan di pegunungan itu pula. Aku ingin melihat apakah guruku masih berada di sana, dan aku ingin menjenguk teman-temanku."

Se Jit Kong pergi selama satu bulan dan ketika dia kembali, dia disambut oleh isteri dan puteranya dengan gembira. Akan tetapi malam hari itu, setelah Sin Wan tidur di kamarnya sendiri dan suami isteri itu tinggal berdua saja di kamar mereka, Ju Bi Ta nampak marah-marah kepada suaminya.

"Bukankah engkau sudah berjanji bahwa engkau akan cuci tangan, tidak lagi melakukan kejahatan di sini? Lupakah engkau akan janjimu kepadaku? Engkau sudah mengganas di timur dan terkenal sebagai seorang datuk besar, tidak pantang melakukan segala bentuk kekejaman. Tapi di sini kita berada di antara bangsa sendiri. Aku akan merasa malu sekali kalau di sini aku dikenal sebagai isteri seorang penjahat besar!"

"Ahh, kekasihku, isteriku yang manis. Kenapa engkau marah-marah? Lihat, kepergianku untuk mencarikan benda-benda yang amat indah untukmu. Lihat emas permata dan batu-batu giok ini. Tidak ternilai harganya. Semua ini kuserahkan kepadamu, semua untukmu, sayang."

"Tidak sudi aku!" Ju Bi Ta yang biasanya kelihatan pendiam dan lembut itu sekarang benar-benar marah, mukanya kemerahan dan matanya bersinar-sinar menatap wajah suaminya, lalu melihat ke arah peti hitam terbuka yang berisi emas permata dan batu kemala itu. Dia menuding ke arah peti itu.

"Dari mana engkau mencuri atau merampok benda-benda ini? Aku seperti melihat barang-barang itu bergelimang dan berlepotan darah! Kembalikan, aku tidak sudi menerimanya!"

"Bi Ta, isteriku yang kucinta, jangan begitu. Sungguh mati, aku tidak merampasnya dari orang-orang di sini. Aku telah memenuhi janji, tidak membikin ribut di sini. Aku merampas benda-benda ini dari kafilah orang Han di dekat Gunung Api sana, tidak ada orang tahu..."

Wanita cantik itu mengerutkan alisnya. "Tidak ada orang tahu? Apakah engkau ini bukan orang? Iblis barang kali? Dan bagaimana pun juga, Tuhan melihat dan mengetahuinya! Ya Allah! Sampai kapankah engkau akan menyadari semua kesalahanmu? Sampai kapankah engkau akan bertobat dan minta ampun kepada Allah?"

"Sudahlah, kalau engkau belum mau menerimanya, maafkan aku, isteriku. Biar kusimpan dahulu benda-benda ini, akan tetapi jangan kau marah kepadaku. Aku merampas benda-benda ini hanya untuk menyenangkan hatimu, sayang,"

"Se Jit Kong, kalau engkau ingin menyenangkan hatiku, jangan melakukan kejahatan lagi, bertobatlah kepada Allah, bahkan gunakan kepandaian yang kau miliki untuk melakukan darma bakti kepada Allah, untuk menolong sesama umat manusia, menderma kepada fakir miskin, menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Bila engkau mau bersikap seperti itu, sungguh hatiku akan senang sekali."

"Baiklah... baiklah, aku berjanji, isteriku yang manis. Cobalah kau ingat, bukankah selama sepuluh tahun ini aku selalu memegang janjiku kepadamu? Bagaimana sikapku terhadap dirimu, dan terhadap anak kita Sin Wan? Pernahkah aku melanggar janji?"

Wanita itu termenung di tepi pembaringannya. Beberapa kali dia menarik napas panjang. "Kalau engkau tidak memegang janji, apakah kau kira aku masih suka hidup sampai saat ini? Engkau memang memenuhi janjimu itu, akan tetapi di luaran, engkau tiada hentinya menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendakmu. Biar pun di sini engkau tidak melakukan kejahatan, tetapi engkau sudah memamerkan kepandaian sehingga sebentar saja semua orang Kasak tahu belaka bahwa engkau adalah Si Tangan Api yang ditakuti itu."

Se Jit Kong menghela napas panjang dan menyimpan kembali peti hitam itu. Dia sendiri sering kali merasa heran, mengapa terhadap isterinya ini dia seperti kehilangan semua kekerasan hatinya, kehilangan semua keangkuhannya, bahkan kehilangan semangat. Dia tahu bahwa tanpa Ju Bi Ta, hidupnya tidak ada artinya. Bahkan dia harus mengakui dalam hati bahwa semua perbuatan yang dia lakukan, untuk menjadi orang gagah nomor satu di kolong langit, mengumpulkan benda-benda pusaka dan benda berharga, semua itu dia lakukan demi isterinya, dan menyenangkan hati isterinya!

"Baiklah, isteriku yang manis. Mulai saat ini juga aku akan mentaati semua kehendakmu. Engkau lihat saja, mulai sekarang harimau yang ganas ini akan berubah menjadi domba yang lemah dan jinak."

Dia menghampiri isterinya lantas merangkul. Ju Bi Ta memejamkan matanya dan seperti biasa, dia tidak pernah menolak menerima tumpahan kasih sayang suaminya. Ia seorang isteri yang baik, yang tidak pernah mengurangi kewajibannya, dan biar pun baru saja dia menegur dan marah kepada suaminya, kini dia siap melayani suaminya dengan pasrah.

Malam itu Sin Wan asyik dengan oleh-oleh ayahnya, yaitu sebuah kitab dongeng sejarah. Sejak kecil, oleh ibunya Sin Wan diharuskan mempelajari ilmu sastera sehingga pada usia sepuluh tahun dia sudah pandai baca tulis.

Ketika dulu mereka tinggal di timur, ibunya mengundang sasterawan untuk mengajarnya. Selain itu Ju Bi Ta juga mengharuskan dia supaya membaca kitab-kitab Agama Buddha, kitab-kitab guru besar Khong Hu Cu, juga ibu yang bijaksana ini mengajarkan pembacaan ayat kitab Al Quran. Ibunya mengajarkan budi pekerti, sehingga biar pun sejak kecil anak itu digembleng ilmu silat oleh ayahnya akan tetapi dia tetap berwatak lembut, percaya dan memuja Tuhan Allah, pencipta seluruh alam mayapada berikut isinya.

Pada esok harinya, ketika masih pagi sekali, muncul belasan orang di pekarangan rumah keluarga Se Jit Kong. Mereka adalah belasan orang lelaki yang berusia antara tiga puluh sampai lima puluh tahun dan semuanya kelihatan gagah perkasa. Dari sikap, pakaian dan senjata yang ada pada mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa bertualang di dunia kang-ouw (sungai telaga), orang-orang yang sudah biasa hidup keras mengandalkan kepandaian silat, ketebalan kulit dan kekerasan tulang.

"Hwe-ciang-kwi (Iblis Tangan Api) Se Jit Kong, keluarlah dari tempat persembunyianmu!" teriak salah seorang di antara tiga belas orang itu yang usianya sudah lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermata satu karena mata kirinya buta.

Pada pagi hari itu Se Jit Kong masih tidur karena dia memang kelelahan akibat baru saja melakukan perjalanan jauh. Sejak pagi subuh tadi isterinya sudah bangun kemudian sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sedangkan Sin Wan juga sudah tekun melanjutkan pembacaan kitabnya.

Mendengar teriakan yang melengking lantang sekali akibat didorong kekuatan khikang itu, baik Sin Wan mau pun ibunya menjadi terkejut bukan main. Teriakan yang melengking itu menembus hingga ke seluruh bagian rumah itu, bahkan terdengar sampai ke seluruh kota Yin-ning.

Dari dalam dapur Ju Bi Ta berlari keluar sehingga di ruangan tengah hampir bertabrakan dengan puteranya, kemudian mereka berdua cepat menuju ke pintu depan. Ketika mereka membuka pintu depan, mereka melihat tiga belas orang yang berdiri dengan sikap bengis dan mengancam.

Sin Wan adalah seorang anak yang lembut hati dan pendiam, akan tetapi sejak kecil oleh ibunya selalu ditekankan tentang susila dan sopan santun. Oleh karena itu dia merasa tak senang melihat sikap tiga belas orang itu.

"Cuwi (anda sekalian) adalah orang-orang tua yang kelihatan gagah, tetapi kenapa datang sebagai tamu tak diundang yang bersikap kurang ajar? Bersikaplah sopan kalau menjadi tamu!"

Tiga belas orang pria itu memandang kepada Sin Wan dan ibunya, dan tiga belas pasang mata itu memandang kepada Ju Bi Ta dengan kagum dan pandang mata liar, dan mereka memandang kepada Sin Wan dengan marah. Seorang di antara mereka, yang bertubuh pendek dan berkepala botak memaki,

"Bocah setan, jaga mulutmu itu, aku akan merobeknya!”

Berbareng dengan kata terakhir, si botak pendek itu sudah menggerakkan tangan kirinya lalu meluncurlah sinar menyilaukan dari sebatang hui-to (pisau terbang) ke arah mulut Sin Wan! Apa bila anak lain yang menghadapi serangan ini, tentu pisau itu benar-benar akan merobek mulutnya.

Namun semenjak kecil Sin Wan telah digembleng ilmu silat oleh ayahnya. Dia sama sekali tidak menjadi gugup menghadapi serangan itu. Tangan kanannya bergerak dan dia sudah menangkap pisau itu di antara jari-jari tangan yang menjepitnya, kemudian tanpa banyak cakap lagi Sin Wan melontarkan pisau itu ke arah penyambitnya!

"Ehhhh...?!" Si pendek botak terkejut, akan tetapi dia pun lihai dan dapat menangkap lagi senjata rahasianya.

Pada saat itu terdengar suara lantang dari dalam rumah. "Anjing-anjing dari mana sudah bosan hidup dan ingin menjadi bangkai?!”

Dari dalam rumah muncullah Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi. Agaknya dia tadi mendengar pula kedatangan tiga belas orang itu, akan tetapi dia tidak tergesa-gesa dan lebih dahulu berganti pakaian, mencuci muka serta menyisir rambutnya. Melihat suaminya muncul dan mendengar suaranya yang mengancam, isteri datuk itu segera berkata dengan nada suara yang serius.

"Berjanjilah bahwa engkau tidak akan membunuh orang!”

Sin Wan melihat ayahnya menatap wajah ibunya dan nampak ragu-ragu, dan belum juga menjawab ucapan isterinya itu. "Berjanjilah!" desak pula Ju Bi Ta kepada suaminya.

Datuk besar itu menghela napas lalu mengangguk. "Baiklah, aku berjanji tidak akan membunuh orang. Kalau anjing-anjing ini kurang ajar, aku hanya akan memberi ajaran kepada mereka agar tidak berani datang mengganggu lagi."

Ju Bi Ta kelihatan lega dan dia pun memegang tangan puteranya. "Sin Wan, mari kita masuk. Biar ayahmu yang menghadapi mereka itu."

Sin Wan juga mengenal ketegasan serta nada perintah dalam suara ibunya yang lembut. Dia mengangguk, kemudian mereka berdua masuk kembali ke dalam rumah. Wanita itu lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Sin Wan mencoba untuk melanjutkan bacaannya, akan tetapi sia-sia karena ingatannya melayang ke luar rumah.

Akhirnya dia tidak dapat menahan perasaan hatinya dan dia pun keluar dari ruangan itu, menuju ke depan kemudian mengintai dari balik pintu depan, melihat bagaimana ayahnya menghadapi tiga belas orang kasar dan tidak sopan itu.

Sesudah dia masuk tadi, agaknya tiga belas orang itu telah memperkenalkan diri kepada ayahnya sebab kini dia melihat ayahnya tertawa bergelak hingga perutnya terguncang dan mukanya menengadah. Betapa gagahnya sikap ayahnya itu dalam menghadapi tiga belas orang kasar yang nampak bengis mengancam itu.

"Ha-ha-ha, ternyata kalian ini yang di daerah pantai Pohai dikenal dengan julukan Bu-tek Cap-sha-kwi (Tiga belas Iblis Tanpa Tanding)? Ha-ha-ha, sungguh takabur menggunakan julukan seperti itu. Dulu pun aku sudah mendengar akan nama kalian, akan tetapi setelah mendengar bahwa kalian hanyalah penjahat-penjahat kecil yang menjadi antek-antek para bajak laut Jepang, aku pun tidak peduli. Sekarang kalian datang mencari aku, ada urusan apakah?" Kalau saja tidak ingat akan pesan isterinya, tentu datuk besar ini tidak sudi banyak cakap lagi dan sejak tadi dia sudah turun tangan membunuh mereka ini!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan tenang, usianya lima puluh tahun lebih serta pada punggungnya terdapat sepasang pedang, melangkah maju. Agaknya dialah pemimpin rombongan itu. Sepasang matanya tajam mencorong, sikapnya angkuh dan dia memandang tuan rumah seperti seorang atasan memandang bawahan.

"Hwe-ciang-kwi, pada saat engkau merajalela di timur sana, kami masih mendiamkan saja karena kita dari satu golongan dan seperti kami, engkau juga memusuhi para pendekar. Kami menganggap engkau sebagai orang segolongan maka kami tidak mau mencampuri. Tetapi engkau telah mencuri pusaka istana. Engkau seorang Suku Bangsa Uigur yang liar telah berani melarikan pusaka-pusaka istana. Hemm, kami sebagai orang-orang Han tidak bisa membiarkan saja perbuatanmu ini. Kembalikan pusaka-pusaka itu kepada kami!"

"Wah... wah, sungguh bebat. Tapi kalau aku tidak mau mengembalikan, kalian mau apa?" tantang Se Jit Kong sambil tersenyum mengejek.

"Terpaksa kami tidak akan memandang segolongan lagi, dan kami akan menangkap dan menyeretmu ke istana agar menerima hukuman sebagai pencuri!"

Kembali So Jit Kong tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali! Bu-tek Cap-sha-kwi sudah biasa membantu bajak-bajak laut Jepang, dan sekarang tiba-tiba ingin menjadi pahlawan? Kamu yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) itu, dan yang memimpin gerombolan tiga belas orang ini? Katakan saja bahwa kalian menginginkan pusaka-pusaka itu untuk kalian miliki sendiri, bukan untuk dikembalikan kepada Kaisar! Bukankah demikian, Cap-sha-kaw (tiga belas ekor anjing)?" Sengaja datuk besar itu mengubah julukan Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis) menjadi Tiga Belas Anjing!

Si pendek botak yang tadi menyerang Sin Wan, menjadi marah sekali. Dia melangkah maju kemudian menudingkan telunjuknya ke arah muka Se Jit Kong, "Iblis sombong, berani kau menghina kami? Sekarang bukan saja semua pusaka itu harus kau serahkan kepada kami, juga wanita cantik tadi. Dia adalah isterimu, bukan? Dia pun harus diserahkan kepadaku sebagai hukuman atas sikapmu ini!"

Seketika wajah Se Jit Kong menjadi merah. Dia sudah biasa mendengar kata-kata kasar menghina, dan hal itu dianggap lumrah. Akan tetapi ada suatu pantangan baginya. Siapa pun juga di dunia ini tidak boleh menghina isterinya tersayang!

Sinar matanya seperti berapi dan terasa panas ketika dia menatap wajah si pendek botak itu. Si botak ini memang berwatak mata keranjang. Dia merupakan seorang di antara tiga saudara berjuluk Bu-tek Sam-coa (Tiga Ular Tanpa Tanding) yang ikut bergabung menjadi anggota kelompok Tiga Belas Iblis Tanpa Tanding.

Anggota gerombolan ini semuanya menggunakan julukan Bu Tek (Tanpa Tanding) yang menunjukkan kesombongan watak mereka. Dan di daerah Po-yang, di sepanjang pantai laut timur, mereka memang sangat ditakuti, apa lagi sesudah mereka bergabung dengan para bajak laut Jepang yang selalu mengganggu keamanan di perairan laut timur dan di sepanjang pantai.

"Jahanam busuk, aku harus menghancurkan mulutmu," bentak Se Jit Kong dan tiba-tiba saja tubuhnya yang tinggi tegap itu sudah melayang ke depan, ke arah si pendek botak.

Biar pun dia pendek, namun si botak ini terkenal dengan kecepatan gerakannya dan juga tenaganya yang besar. ”Engkaulah yang akan mampus di tanganku!" bentaknya.

Dia pun sudah melolos rantai yang kedua ujungnya dipasangi pisau seperti pisau terbang yang biasa dia pergunakan sebagai senjata rahasia. Begitu Se Jit Kong meloncat dekat, dia langsung menyambut dengan serangan rantainya. Dua batang pisau itu menyambar-nyambar dahsyat dan terdengar suara bersiutan nyaring.

Secara diam-diam Se Jit Kong menilai gerakan lawan, maka tahulah dia bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang remeh. Apa lagi ketika dua orang saudara si botak juga ikut maju mengeroyoknya. Mereka bersenjata golok besar dan gerakan mereka pun dahsyat...

Si Pedang Tumpul Jilid 02

Kota Yin-ning adalah sebuah kota di daerah Yi-li yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang Kasak. Namun di kota ini pun tinggal banyak orang dari suku bangsa lain, terutama Suku Bangsa Uigur yang sebagian besar beragama Islam.

Biar pun ada kemiripan pada wajah dan kulit mereka, tetapi mudah membedakan mereka dari pakaian mereka, terutama pelindung kepala. Kaum pria suku Uigur yang beragama Islam hampir semuanya mengenakan semacam peci berwarna putih atau hitam atau juga belang-belang seperti kulit harimau, sedangkan para wanitanya sebagian besar memakai kerudung dengan warna-warni indah.

Sebetulnya kaum pria dari suku Kasak ada pula yang berpeci, akan tetapi pada umumnya mereka memakai kain pembungkus kepala dan pakaian mereka juga berbeda. Topi para wanitanya terbuat dari bulu, dan banyak pula kaum pria suku Kasak yang mengenakan topi bulu domba. Suku Kasak terkenal tangkas dan pandai menunggang kuda, sebaliknya Suku Uigur lebih ahli dalam memelihara ternak domba dan bertani.

Selain kota Yin-ning, di daerah Yi-li terdapat pula banyak kota lain seperti Cau-su, Capu-cai, Sui-ting dan lain-lainnya. Kota Yin-ning terletak pada lereng bukit yang pemandangan alamnya indah dan hawanya sejuk. Pegunungan di sana menghasilkan rumput yang baik dan padang-padang rumput terbentang luas di lereng-lereng bukit, di antara pohon-pohon cemara yang rimbun dan menjulang tinggi.

Karena itu Yi-li menjadi tempat yang menguntungkan sekali bagi para pemelihara ternak. Maka terkenallah bulu-bulu domba yang gemuk dan halus dari daerah Yi-li, sehingga bulu domba merupakan hasil besar yang dikirim ke barat dan ke timur. Hasil panen gandum dari sawah ladang dan buah-buahan dari kebun-kebun di sana juga membuat penduduk daerah Yi-li pada umumnya dan kota Yin-ning pada khususnya, hidup berkecukupan, bahkan boleh dibilang sangat makmur untuk ukuran kehidupan di daerah pegunungan.

Penghuni pegunungan tidak memiliki banyak kebutuhan. Mereka telah merasa kecukupan asalkan keluarga dalam keadaan sehat, cukup makan dan pakaian, serta memiliki rumah yang kokoh. Untuk bersenang-senang, mereka secara berkelompok sering mengadakan pertemuan, menikmati hasil panen, makan hidangan berupa masakan sendiri dan buah-buahan dari kebun sendiri, minuman buatan sendiri, dan mereka menari dan bernyanyi di bawah sinar bulan. Apa lagi yang dikehendaki seseorang dalam hidupnya?

Keluarga Si Tangan Api tinggal di sudut kota Yin-ning, mempunyai pekarangan dan kebun yang luas. Si Tangan Api datang kurang lebih setahun yang lalu, bersama seorang isteri dan seorang anak laki-laki, kemudian membeli rumah besar dengan pekarangan besar itu dan tinggal di situ sebagai orang yang dianggap kaya.

Si Tangan Api ini adalah keturunan Uigur yang belum beragama Islam, melainkan Agama Hindu karena sejak muda dia merantau ke India dan berguru kepada orang-orang sakti di India. Namanya Se Jit Kong dan sesudah pulang dari India, dia langsung mengembara ke daratan Cina sebelah timur kemudian muncul sebagai seorang jagoan, seorang datuk! Dia malang melintang di sepanjang perjalanan dari daerah barat ke timur sehingga namanya menjadi terkenal, bahkan sampai di kota raja Nan-king.

Dia bukan saja terkenal dengan ilmu silatnya dan tenaganya yang dahsyat, akan tetapi terkenal pula dengan ilmu sihirnya. Kemenangan demi kemenangan membuat dia takabur dan sombong, bahkan dia mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu di dunia. Dia pun berani mendatangi partai-partai persilatan besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai bahkan Siauw-lim-pai untuk menantang para pimpinan perguruan silat, dan dia sudah membunuh beberapa orang tokoh penting di dunia persilatan.

Para pendekar menjadi marah, tapi sebegitu jauh belum ada seorang pun pendekar yang mampu menandingi Si Tangan Api. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk kembali ke barat, karena maklum bahwa dia dimusuhi oleh para pendekar. Apa lagi dia sudah mulai tua, usianya kini sudah hampir enam puluh tahun, dan dia ingin hidup tenang di kampung halamannya, yaitu di daerah Yi-li.

Akan tetapi bukan Si Tangan Api kalau dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan nama besar dan perbuatan yang menggemparkan. Dia menyelundup ke dalam gudang pusaka milik Kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka yang amat berharga. Gegerlah kota raja, dan berita mengenai perbuatan Si Tangan Api ini segera terdengar di seluruh dunia kang-ouw.

Di Yin-ning Se Jit Kong terkenal sebagai seorang hartawan, bahkan ketika baru pindah dia segera menunjukkan kepandaiannya sehingga ditakuti orang. Nama julukannya Si Tangan Api segera dikenal orang di seluruh Yi-li. Akan tetapi, berkat permintaan isterinya, di Yi-li dia sama sekali tak pernah melakukan kejahatan dan hidup tenang tenteram seperti yang diidamkannya.

Isteri Se Jit Kong adalah seorang wanita yang jauh lebih muda, berusia dua puluh delapan tahun dan mempunyai kecantikan yang khas Suku Uigur. Wanita Uigur memang memiliki kecantikan yang khas, manis dan anggun.

Se Jit Kong amat sayang kepada isterinya ini dan hal ini terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan datuk itu sangat memanjakan isterinya, membelikan banyak pakaian sutera yang indah-indah, juga perhiasan yang mahal-mahal. Dan wanita itu pun kelihatan amat mencinta suaminya, biar pun dia berwatak pendiam dan tidak pernah mau bercerita tentang keadaan keluarganya.

Suami isteri ini mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun dan diberi nama Sin Wan oleh ayahnya. Datuk besar itu sangat sayang kepada Sin Wan dan sejak berusia lima tahun, anak itu telah digembleng oleh ayahnya sehingga dalam usia sepuluh tahun dia telah menjadi seorang anak yang bertubuh kuat dan pandai bersilat.

Akan tetapi sungguh jauh bedanya dengan watak ayahnya. Kalau ayahnya seorang datuk yang keras hati dan suka mencari musuh, ingin menonjol dan merasa diri paling jagoan, sebaliknya Sin Wan seorang anak yang pendiam dan sama sekali tidak bengal, bahkan penurut sekali, terutama terhadap ibunya. Mungkin dia sudah mewarisi watak ibunya yang juga pendiam dan lembut, wanita yang tak pernah kelihatan marah dan tidak pernah pula kelihatan ribut dengan suaminya.

Sebagai suami isteri, tentu saja Ju Bi Ta pernah ribut dengan suaminya. Hanya karena ia seorang wanita yang sopan dan lembut, dia tidak pernah mau ribut di depan orang lain, bahkan tidak mau ribut dengan suaminya di depan anak mereka. Ketika sudah berdua di kamar, wanita yang lembut ini baru menegur dan memprotes suaminya dan kalau sudah demikian, biasanya datuk besar yang keras hati serta keras kepala ini selalu tunduk dan mengalah!

Setelah satu tahun tinggal di Yin-ning dan hidup dengan tenteram, pada suatu hari Se Jit Kong pergi meninggalkan rumahnya. Ketika berpamit kepada isterinya, dia mengatakan bahwa dia hendak pergi mengunjungi sahabat-sahabat lamanya di sekitar pegunungan Api di daerah Turfan.

"Ilmuku Tangan Api kudapatkan di pegunungan itu pula. Aku ingin melihat apakah guruku masih berada di sana, dan aku ingin menjenguk teman-temanku."

Se Jit Kong pergi selama satu bulan dan ketika dia kembali, dia disambut oleh isteri dan puteranya dengan gembira. Akan tetapi malam hari itu, setelah Sin Wan tidur di kamarnya sendiri dan suami isteri itu tinggal berdua saja di kamar mereka, Ju Bi Ta nampak marah-marah kepada suaminya.

"Bukankah engkau sudah berjanji bahwa engkau akan cuci tangan, tidak lagi melakukan kejahatan di sini? Lupakah engkau akan janjimu kepadaku? Engkau sudah mengganas di timur dan terkenal sebagai seorang datuk besar, tidak pantang melakukan segala bentuk kekejaman. Tapi di sini kita berada di antara bangsa sendiri. Aku akan merasa malu sekali kalau di sini aku dikenal sebagai isteri seorang penjahat besar!"

"Ahh, kekasihku, isteriku yang manis. Kenapa engkau marah-marah? Lihat, kepergianku untuk mencarikan benda-benda yang amat indah untukmu. Lihat emas permata dan batu-batu giok ini. Tidak ternilai harganya. Semua ini kuserahkan kepadamu, semua untukmu, sayang."

"Tidak sudi aku!" Ju Bi Ta yang biasanya kelihatan pendiam dan lembut itu sekarang benar-benar marah, mukanya kemerahan dan matanya bersinar-sinar menatap wajah suaminya, lalu melihat ke arah peti hitam terbuka yang berisi emas permata dan batu kemala itu. Dia menuding ke arah peti itu.

"Dari mana engkau mencuri atau merampok benda-benda ini? Aku seperti melihat barang-barang itu bergelimang dan berlepotan darah! Kembalikan, aku tidak sudi menerimanya!"

"Bi Ta, isteriku yang kucinta, jangan begitu. Sungguh mati, aku tidak merampasnya dari orang-orang di sini. Aku telah memenuhi janji, tidak membikin ribut di sini. Aku merampas benda-benda ini dari kafilah orang Han di dekat Gunung Api sana, tidak ada orang tahu..."

Wanita cantik itu mengerutkan alisnya. "Tidak ada orang tahu? Apakah engkau ini bukan orang? Iblis barang kali? Dan bagaimana pun juga, Tuhan melihat dan mengetahuinya! Ya Allah! Sampai kapankah engkau akan menyadari semua kesalahanmu? Sampai kapankah engkau akan bertobat dan minta ampun kepada Allah?"

"Sudahlah, kalau engkau belum mau menerimanya, maafkan aku, isteriku. Biar kusimpan dahulu benda-benda ini, akan tetapi jangan kau marah kepadaku. Aku merampas benda-benda ini hanya untuk menyenangkan hatimu, sayang,"

"Se Jit Kong, kalau engkau ingin menyenangkan hatiku, jangan melakukan kejahatan lagi, bertobatlah kepada Allah, bahkan gunakan kepandaian yang kau miliki untuk melakukan darma bakti kepada Allah, untuk menolong sesama umat manusia, menderma kepada fakir miskin, menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Bila engkau mau bersikap seperti itu, sungguh hatiku akan senang sekali."

"Baiklah... baiklah, aku berjanji, isteriku yang manis. Cobalah kau ingat, bukankah selama sepuluh tahun ini aku selalu memegang janjiku kepadamu? Bagaimana sikapku terhadap dirimu, dan terhadap anak kita Sin Wan? Pernahkah aku melanggar janji?"

Wanita itu termenung di tepi pembaringannya. Beberapa kali dia menarik napas panjang. "Kalau engkau tidak memegang janji, apakah kau kira aku masih suka hidup sampai saat ini? Engkau memang memenuhi janjimu itu, akan tetapi di luaran, engkau tiada hentinya menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendakmu. Biar pun di sini engkau tidak melakukan kejahatan, tetapi engkau sudah memamerkan kepandaian sehingga sebentar saja semua orang Kasak tahu belaka bahwa engkau adalah Si Tangan Api yang ditakuti itu."

Se Jit Kong menghela napas panjang dan menyimpan kembali peti hitam itu. Dia sendiri sering kali merasa heran, mengapa terhadap isterinya ini dia seperti kehilangan semua kekerasan hatinya, kehilangan semua keangkuhannya, bahkan kehilangan semangat. Dia tahu bahwa tanpa Ju Bi Ta, hidupnya tidak ada artinya. Bahkan dia harus mengakui dalam hati bahwa semua perbuatan yang dia lakukan, untuk menjadi orang gagah nomor satu di kolong langit, mengumpulkan benda-benda pusaka dan benda berharga, semua itu dia lakukan demi isterinya, dan menyenangkan hati isterinya!

"Baiklah, isteriku yang manis. Mulai saat ini juga aku akan mentaati semua kehendakmu. Engkau lihat saja, mulai sekarang harimau yang ganas ini akan berubah menjadi domba yang lemah dan jinak."

Dia menghampiri isterinya lantas merangkul. Ju Bi Ta memejamkan matanya dan seperti biasa, dia tidak pernah menolak menerima tumpahan kasih sayang suaminya. Ia seorang isteri yang baik, yang tidak pernah mengurangi kewajibannya, dan biar pun baru saja dia menegur dan marah kepada suaminya, kini dia siap melayani suaminya dengan pasrah.

Malam itu Sin Wan asyik dengan oleh-oleh ayahnya, yaitu sebuah kitab dongeng sejarah. Sejak kecil, oleh ibunya Sin Wan diharuskan mempelajari ilmu sastera sehingga pada usia sepuluh tahun dia sudah pandai baca tulis.

Ketika dulu mereka tinggal di timur, ibunya mengundang sasterawan untuk mengajarnya. Selain itu Ju Bi Ta juga mengharuskan dia supaya membaca kitab-kitab Agama Buddha, kitab-kitab guru besar Khong Hu Cu, juga ibu yang bijaksana ini mengajarkan pembacaan ayat kitab Al Quran. Ibunya mengajarkan budi pekerti, sehingga biar pun sejak kecil anak itu digembleng ilmu silat oleh ayahnya akan tetapi dia tetap berwatak lembut, percaya dan memuja Tuhan Allah, pencipta seluruh alam mayapada berikut isinya.

Pada esok harinya, ketika masih pagi sekali, muncul belasan orang di pekarangan rumah keluarga Se Jit Kong. Mereka adalah belasan orang lelaki yang berusia antara tiga puluh sampai lima puluh tahun dan semuanya kelihatan gagah perkasa. Dari sikap, pakaian dan senjata yang ada pada mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa bertualang di dunia kang-ouw (sungai telaga), orang-orang yang sudah biasa hidup keras mengandalkan kepandaian silat, ketebalan kulit dan kekerasan tulang.

"Hwe-ciang-kwi (Iblis Tangan Api) Se Jit Kong, keluarlah dari tempat persembunyianmu!" teriak salah seorang di antara tiga belas orang itu yang usianya sudah lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermata satu karena mata kirinya buta.

Pada pagi hari itu Se Jit Kong masih tidur karena dia memang kelelahan akibat baru saja melakukan perjalanan jauh. Sejak pagi subuh tadi isterinya sudah bangun kemudian sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sedangkan Sin Wan juga sudah tekun melanjutkan pembacaan kitabnya.

Mendengar teriakan yang melengking lantang sekali akibat didorong kekuatan khikang itu, baik Sin Wan mau pun ibunya menjadi terkejut bukan main. Teriakan yang melengking itu menembus hingga ke seluruh bagian rumah itu, bahkan terdengar sampai ke seluruh kota Yin-ning.

Dari dalam dapur Ju Bi Ta berlari keluar sehingga di ruangan tengah hampir bertabrakan dengan puteranya, kemudian mereka berdua cepat menuju ke pintu depan. Ketika mereka membuka pintu depan, mereka melihat tiga belas orang yang berdiri dengan sikap bengis dan mengancam.

Sin Wan adalah seorang anak yang lembut hati dan pendiam, akan tetapi sejak kecil oleh ibunya selalu ditekankan tentang susila dan sopan santun. Oleh karena itu dia merasa tak senang melihat sikap tiga belas orang itu.

"Cuwi (anda sekalian) adalah orang-orang tua yang kelihatan gagah, tetapi kenapa datang sebagai tamu tak diundang yang bersikap kurang ajar? Bersikaplah sopan kalau menjadi tamu!"

Tiga belas orang pria itu memandang kepada Sin Wan dan ibunya, dan tiga belas pasang mata itu memandang kepada Ju Bi Ta dengan kagum dan pandang mata liar, dan mereka memandang kepada Sin Wan dengan marah. Seorang di antara mereka, yang bertubuh pendek dan berkepala botak memaki,

"Bocah setan, jaga mulutmu itu, aku akan merobeknya!”

Berbareng dengan kata terakhir, si botak pendek itu sudah menggerakkan tangan kirinya lalu meluncurlah sinar menyilaukan dari sebatang hui-to (pisau terbang) ke arah mulut Sin Wan! Apa bila anak lain yang menghadapi serangan ini, tentu pisau itu benar-benar akan merobek mulutnya.

Namun semenjak kecil Sin Wan telah digembleng ilmu silat oleh ayahnya. Dia sama sekali tidak menjadi gugup menghadapi serangan itu. Tangan kanannya bergerak dan dia sudah menangkap pisau itu di antara jari-jari tangan yang menjepitnya, kemudian tanpa banyak cakap lagi Sin Wan melontarkan pisau itu ke arah penyambitnya!

"Ehhhh...?!" Si pendek botak terkejut, akan tetapi dia pun lihai dan dapat menangkap lagi senjata rahasianya.

Pada saat itu terdengar suara lantang dari dalam rumah. "Anjing-anjing dari mana sudah bosan hidup dan ingin menjadi bangkai?!”

Dari dalam rumah muncullah Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi. Agaknya dia tadi mendengar pula kedatangan tiga belas orang itu, akan tetapi dia tidak tergesa-gesa dan lebih dahulu berganti pakaian, mencuci muka serta menyisir rambutnya. Melihat suaminya muncul dan mendengar suaranya yang mengancam, isteri datuk itu segera berkata dengan nada suara yang serius.

"Berjanjilah bahwa engkau tidak akan membunuh orang!”

Sin Wan melihat ayahnya menatap wajah ibunya dan nampak ragu-ragu, dan belum juga menjawab ucapan isterinya itu. "Berjanjilah!" desak pula Ju Bi Ta kepada suaminya.

Datuk besar itu menghela napas lalu mengangguk. "Baiklah, aku berjanji tidak akan membunuh orang. Kalau anjing-anjing ini kurang ajar, aku hanya akan memberi ajaran kepada mereka agar tidak berani datang mengganggu lagi."

Ju Bi Ta kelihatan lega dan dia pun memegang tangan puteranya. "Sin Wan, mari kita masuk. Biar ayahmu yang menghadapi mereka itu."

Sin Wan juga mengenal ketegasan serta nada perintah dalam suara ibunya yang lembut. Dia mengangguk, kemudian mereka berdua masuk kembali ke dalam rumah. Wanita itu lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Sin Wan mencoba untuk melanjutkan bacaannya, akan tetapi sia-sia karena ingatannya melayang ke luar rumah.

Akhirnya dia tidak dapat menahan perasaan hatinya dan dia pun keluar dari ruangan itu, menuju ke depan kemudian mengintai dari balik pintu depan, melihat bagaimana ayahnya menghadapi tiga belas orang kasar dan tidak sopan itu.

Sesudah dia masuk tadi, agaknya tiga belas orang itu telah memperkenalkan diri kepada ayahnya sebab kini dia melihat ayahnya tertawa bergelak hingga perutnya terguncang dan mukanya menengadah. Betapa gagahnya sikap ayahnya itu dalam menghadapi tiga belas orang kasar yang nampak bengis mengancam itu.

"Ha-ha-ha, ternyata kalian ini yang di daerah pantai Pohai dikenal dengan julukan Bu-tek Cap-sha-kwi (Tiga belas Iblis Tanpa Tanding)? Ha-ha-ha, sungguh takabur menggunakan julukan seperti itu. Dulu pun aku sudah mendengar akan nama kalian, akan tetapi setelah mendengar bahwa kalian hanyalah penjahat-penjahat kecil yang menjadi antek-antek para bajak laut Jepang, aku pun tidak peduli. Sekarang kalian datang mencari aku, ada urusan apakah?" Kalau saja tidak ingat akan pesan isterinya, tentu datuk besar ini tidak sudi banyak cakap lagi dan sejak tadi dia sudah turun tangan membunuh mereka ini!

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan tenang, usianya lima puluh tahun lebih serta pada punggungnya terdapat sepasang pedang, melangkah maju. Agaknya dialah pemimpin rombongan itu. Sepasang matanya tajam mencorong, sikapnya angkuh dan dia memandang tuan rumah seperti seorang atasan memandang bawahan.

"Hwe-ciang-kwi, pada saat engkau merajalela di timur sana, kami masih mendiamkan saja karena kita dari satu golongan dan seperti kami, engkau juga memusuhi para pendekar. Kami menganggap engkau sebagai orang segolongan maka kami tidak mau mencampuri. Tetapi engkau telah mencuri pusaka istana. Engkau seorang Suku Bangsa Uigur yang liar telah berani melarikan pusaka-pusaka istana. Hemm, kami sebagai orang-orang Han tidak bisa membiarkan saja perbuatanmu ini. Kembalikan pusaka-pusaka itu kepada kami!"

"Wah... wah, sungguh bebat. Tapi kalau aku tidak mau mengembalikan, kalian mau apa?" tantang Se Jit Kong sambil tersenyum mengejek.

"Terpaksa kami tidak akan memandang segolongan lagi, dan kami akan menangkap dan menyeretmu ke istana agar menerima hukuman sebagai pencuri!"

Kembali So Jit Kong tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali! Bu-tek Cap-sha-kwi sudah biasa membantu bajak-bajak laut Jepang, dan sekarang tiba-tiba ingin menjadi pahlawan? Kamu yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) itu, dan yang memimpin gerombolan tiga belas orang ini? Katakan saja bahwa kalian menginginkan pusaka-pusaka itu untuk kalian miliki sendiri, bukan untuk dikembalikan kepada Kaisar! Bukankah demikian, Cap-sha-kaw (tiga belas ekor anjing)?" Sengaja datuk besar itu mengubah julukan Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis) menjadi Tiga Belas Anjing!

Si pendek botak yang tadi menyerang Sin Wan, menjadi marah sekali. Dia melangkah maju kemudian menudingkan telunjuknya ke arah muka Se Jit Kong, "Iblis sombong, berani kau menghina kami? Sekarang bukan saja semua pusaka itu harus kau serahkan kepada kami, juga wanita cantik tadi. Dia adalah isterimu, bukan? Dia pun harus diserahkan kepadaku sebagai hukuman atas sikapmu ini!"

Seketika wajah Se Jit Kong menjadi merah. Dia sudah biasa mendengar kata-kata kasar menghina, dan hal itu dianggap lumrah. Akan tetapi ada suatu pantangan baginya. Siapa pun juga di dunia ini tidak boleh menghina isterinya tersayang!

Sinar matanya seperti berapi dan terasa panas ketika dia menatap wajah si pendek botak itu. Si botak ini memang berwatak mata keranjang. Dia merupakan seorang di antara tiga saudara berjuluk Bu-tek Sam-coa (Tiga Ular Tanpa Tanding) yang ikut bergabung menjadi anggota kelompok Tiga Belas Iblis Tanpa Tanding.

Anggota gerombolan ini semuanya menggunakan julukan Bu Tek (Tanpa Tanding) yang menunjukkan kesombongan watak mereka. Dan di daerah Po-yang, di sepanjang pantai laut timur, mereka memang sangat ditakuti, apa lagi sesudah mereka bergabung dengan para bajak laut Jepang yang selalu mengganggu keamanan di perairan laut timur dan di sepanjang pantai.

"Jahanam busuk, aku harus menghancurkan mulutmu," bentak Se Jit Kong dan tiba-tiba saja tubuhnya yang tinggi tegap itu sudah melayang ke depan, ke arah si pendek botak.

Biar pun dia pendek, namun si botak ini terkenal dengan kecepatan gerakannya dan juga tenaganya yang besar. ”Engkaulah yang akan mampus di tanganku!" bentaknya.

Dia pun sudah melolos rantai yang kedua ujungnya dipasangi pisau seperti pisau terbang yang biasa dia pergunakan sebagai senjata rahasia. Begitu Se Jit Kong meloncat dekat, dia langsung menyambut dengan serangan rantainya. Dua batang pisau itu menyambar-nyambar dahsyat dan terdengar suara bersiutan nyaring.

Secara diam-diam Se Jit Kong menilai gerakan lawan, maka tahulah dia bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang remeh. Apa lagi ketika dua orang saudara si botak juga ikut maju mengeroyoknya. Mereka bersenjata golok besar dan gerakan mereka pun dahsyat...