Social Items

Se Jit Kong memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatnya, maka dia pun segera mempergunakan kelincahan gerakannya untuk mengelak, berloncatan menyelinap di antara gulungan sinar rantai dan golok. Namun dia tidak membalas kepada dua orang yang lain, karena perhatiannya dia tujukan kepada si botak pendek untuk melaksanakan ancamannya. Dia harus menghancurkan mulut yang telah berani menghina isterinya itu!

Sesudah lewat belasan jurus dikeroyok tiga orang yang berjuluk Tiga Ular Tanpa Tanding itu, Se Jit Kong melihat kesempatan baik. Ketika kedua ujung rantai yang dipasangi pisau itu menyambar kepadanya dengan berbareng, satu dari atas dan satu lagi dari samping, dia tidak mengelak melainkan menyambut dua batang pisau yang amat tajam berkilauan itu dengan kedua tangannya.

Dia berhasil menangkap dan mencengkeram dua batang pisau itu, menangkap rantainya dan sebelum si botak tahu apa yang terjadi, sepasang lengannya telah terbelit rantai dan tubuhnya terangkat dari atas tanah kemudian diputar-putar menyambut golok kedua orang saudaranya. Tentu saja dua orang itu sangat terkejut dan menarik kembali golok mereka, bahkan meloncat ke belakang karena khawatir kalau golok mereka akan melukai saudara sendiri.

Se Jit Kong menghentikan putaran tubuh si pendek botak yang kedua lengannya sudah terbelit rantai, kemudian menurunkannya dan sekali dia menggerakkan tangan kiri, jari-jari tangannya yang panjang dan besar, yang kuat bagaikan baja mentah, sudah menampar ke arah mulut si botak.

"Prakkk...!" Tubuh si botak terpelanting dan dia pun roboh dengan muka bermandikan darah karena mulutnya telah remuk. Tulang rahang berikut semua giginya hancur dan biar pun dia tidak akan tewas dengan luka itu, tetapi sukar dibayangkan bagaimana dia akan mampu bicara dan bagaimana pula dia akan mengirim makanan ke dalam perutnya!

Se Jit Kong selalu teringat akan janjinya kepada isterinya, maka pada waktu tangannya menampar tadi, dia membatasi tenaganya agar jangan membikin hancur kepala botak itu. Melihat betapa si botak itu roboh dengan muka bagian bawah remuk, tentu saja dua belas orang lainnya menjadi marah bukan main. Bu-tek Kiam-mo yang memimpin rombongan itu segera mengeluarkan bentakan dan mencabut sepasang pedangnya, kemudian bersama rekan-rekannya dia lalu mengepung Se Jit Kong yang berdiri dengan tenang dan tegak di tengah-tengah, tanpa memegang senjata apa pun.

Biar pun demikian, dia tetap waspada karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian para pengepungnya ini sama sekali tak boleh disamakan dengan kepandaian lima belas orang Kasak yang dibunuhnya baru-baru ini ketika dia merampas barang berharga dari kafilah itu. Kini yang mengeroyoknya adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar.

Sin Wan yang menonton perkelahian itu, melihat dengan hati bangga dan kagum. Walau pun dia sendiri berwatak lembut dan ibunya selalu menekankan bahwa mempergunakan kekerasan untuk melukai, terlebih lagi membunuh orang lain, adalah perbuatan yang jahat dan tidak baik, namun kini melihat ayahnya dikeroyok dan ayahnya menghadapi orang-orang yang jahat itu, dia merasa bangga.

Apa lagi ketika melihat ayahnya bergerak sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya tidak nampak lagi. Yang nampak hanyalah bayangan berkelebatan di antara sambaran banyak senjata, kemudian terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya para pengeroyok seorang demi seorang.

Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, tiga belas orang tokoh sesat yang terkenal di dunia kang-ouw itu sudah roboh semua. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tewas. Ada yang patah tulang pundaknya, patah tulang kaki atau lengan, ada yang bocor kepalanya, ada yang pingsan, akan tetapi tidak ada yang tewas.

"Cap-sha-kwi, dengarkan baik-baik. Kalian harus berterima kasih kepada isteriku, karena kalau tidak ada dia maka kalian sekarang sudah menjadi bangkai semua! Nah, pergilah dan jangan injak lagi daerah ini!"

Bu-tek Kiam-mo sendiri hanya patah tulang pundak kanannya. Dia masih dapat berjalan dan menggerakkan lengan kirinya. Karena maklum bahwa dia dan kawan-kawannya tidak akan mampu menyerang lagi, dia lalu memimpin kawan-kawannya untuk saling bantu dan dengan terpincang-pincang, ada yang memapah kawan dan ada pula yang menggotong teman yang pingsan, mereka meninggalkan kota Yin-ning diikuti sorakan dan ejekan dari para penghuni kota yang tadi sempat menyaksikan pertempuran di pekarangan rumah Si Tangan Api itu.

Sin Wan cepat lari ke dalam menemui ibunya di dapur. Dengan gembira dia menceritakan kepada ibunya betapa ayahnya dengan gagah perkasa berhasil mengusir tiga belas orang kasar itu. "Ayah hebat sekali, ibu," kata Sin Wan. "Mereka itu rata-rata mempunyai ilmu kepandaian yang sangat hebat, dan mereka semua bersenjata, sedangkan ayah yang dikeroyok tidak memegang senjata. Dan mereka semua roboh dengan tubuh terluka, akan tetapi tak ada seorang pun yang dibunuh ayah."

Ibunya mengangguk, akan tetapi wajahnya tidak kelihatan gembira. Bagaimana dia akan dapat menikmati hidup tenteram kalau sesudah pindah begini jauh, masih saja suaminya didatangi orang-orang yang memusuhinya? Semua ini adalah akibat cara hidup suaminya yang lalu, cara hidup yang penuh kekerasan, penuh perkelahian dan permusuhan.

"Sin Wan, kuharap kelak setelah dewasa engkau tidak mempunyai banyak musuh seperti ayahmu."

"Aku tidak suka bermusuhan, ibu, akan tetapi di dunia ini banyak orang jahat. Kalau aku diserang orang seperti tadi, tentu aku harus membela diri. Tadi pun ayah hanya membela diri. Orang-orang itulah yang datang mencari perkara dan menyerang ayah."

Diam-diam wanita itu mengeluh dalam hatinya. Puteranya itu tidak tahu orang macam apa sebenarnya ayahnya itu. Sin Wan tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang datuk besar dunia sesat yang terkenal amat kejam dan tidak pantang melakukan kejahatan bagaimana pun juga. Dia hanya tahu bahwa ayahnya seorang yang sakti, memiliki banyak ilmu yang dahsyat, dan bahwa ayahnya amat mencinta ibunya dan amat sayang kepadanya!

"Sudahlah. Sin Wan, Aku sedang sibuk masak, dan aku tidak ingin membicarakan tentang perkelahian itu."

Sin Wan meninggalkan dapur dan mencari ayahnya. Se Jit Kong berada di kamarnya dan sedang mengagumi benda-benda yang dikeluarkan dari dalam sebuah peti hitam besar. Ketika Sin Wan memasuki kamar, dia menoleh kemudian tersenyum.

"Masuklah, dan mari kau lihat benda-benda pusaka ini, Sin Wan. Ini adalah benda-benda yang tak ternilai harganya!"

Bagi Sin Wan, benda-benda itu ada yang indah dan ada pula yang aneh. Ada mainan dari batu giok yang diukir indah sekali, berbentuk naga, ada pula yang seperti bentuk burung Hong. Ada pula patung Dewi Kwan-Im yang amat indah, terbuat dari gading terukir halus. Juga terdapat dua batang pedang. Yang sebuah memiliki sarung dan gagang yang terbuat dari pada emas terukir indah sekali, bahkan sarung dan gagang itu dihiasi intan permata yang berkilauan. Akan tetapi ada pula sebatang pedang yang sarungnya terbuat dari kulit yang kasar, dan gagangnya juga sederhana sekali.

"Sudah pergikah semua orang kasar tadi, ayah?" Sin Wan bertanya sambil duduk di kursi dekat ayahnya, mengamati benda-benda indah dan aneh itu.

"Ha-ha-ha-ha, engkau melihat mereka tadi? Dan engkau telah menghalau serangan hui-to (pisau terbang), ya? Bagus! Mereka telah kuusir pergi, pencoleng-pencoleng cilik yang tak tahu diri itu. Kalau bukan ibumu yang melarangku, tentu mereka semua sudah kubunuh!"

"Mengapa mereka itu datang memusuhi ayah?”

"Tikus-tikus tak tahu diri itu ingin merampas benda-benda pusaka ini, Sin Wan."

Kini perhatian Sin Wan tertarik kepada benda-benda itu. Memang ada yang indah, banyak yang aneh, akan tetapi kenapa orang-orang datang memusuhi ayahnya untuk merampas benda-benda ini?

"Apa sih hebatnya benda-benda ini sampai mereka datang ke sini hendak merampasnya dari ayah?"

"Ha-ha-ha, anak bodoh! Kau tahu, semua orang kang-ouw siap mempertaruhkan nyawa untuk dapat memiliki sebuah saja dari benda-benda pusaka ini!"

"Hemmm, alangkah anehnya," Sin Wan memperhatikan benda-benda itu satu demi satu.

“Memang ada yang indah dan menarik, akan tetapi seperti pedang ini, apa sih bagusnya? Sebuah pedang yang sarungnya butut, gagangnya juga sangat kasar seperti pisau dapur saja. Kenapa ayah menyimpan pedang macam ini?”

"Ha-ha-ha-ha, engkau tidak tahu, anakku. Di antara semua benda pusaka ini, bagiku yang paling bernilai adalah pedang butut yang kau remehkan itul"

"Ahh, benarkah itu, ayah? Boleh aku mencabut dan melihatnya?"

"Lakukanlah. Tidak banyak orang di dunia ini yang pernah melihatnya, sedangkan seluruh pendekar di dunia ini ingin sekali mendapat kesempatan untuk melihatnya."

Dengan hati tertarik sekali Sin Wan lalu menghunus pedang yang gagang dan sarungnya butut itu. Dia menduga bahwa meski pun sarung dan gagangnya nampak butut, pedang yang dianggap sebagai pusaka sangat bernilai oleh ayahnya itu tentu merupakan pedang yang amat baik, tajam dan berkilauan, terbuat dari pada baja terbaik. Akan tetapi, setelah pedang itu dia hunus, Sin Wan mengerutkan alisnya dan hatinya kecewa.

Pedang itu sama sekali tidak menarik, bukan saja buatannya kasar seperti tempaan yang belum jadi, akan tetapi juga pedang itu tidak tajam dan tidak runcing. Sebatang pedang yang tumpul! Warnanya gelap kehijauan seperti pedang dari semacam batu karang yang warnanya hijau saja. Dan pedang itu pun tidak panjang, merupakan pedang pendek yang tumpul dan tidak menarik sama sekali!

"Aihh, ayah mempermainkan aku! Pedang ini hanyalah pedang yang belum jadi, tumpul dan jelek, bagaimana ayah sampai memuji-mujinya seperti itu?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau tidak tahu, Sin Wan! Pedang ini terbuat dari pada Batu Dewa Hijau, dan di dunia ini tidak ada senjata yang mampu mengalahkan keampuhannya! Pedang ini mempunyai kisah yang amat menarik, Sin Wan, dan kalau engkau sudah tahu riwayatnya, tentu akan kau hargai pula sebagai sebuah pusaka yang langka dan ampuh."

Sin Wan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya, kemudian memasukkan ke dalam peti. "Ayah, ceritakanlah kisah itu, aku ingin sekali tahu riwayatnya."

"Kau tahu, kurang lebih seratus tahun yang silam, pedang ini adalah milik Kaisar Jenghis Khan, yaitu pendiri dari Kerajaan Goan-tiauw yang baru saja jatuh. Dan jatuhnya Dinasti Mongol itu pun sebagian gara-gara tidak menghargai pusaka ini!"

Tentu saja Sin Wan menjadi semakin tertarik. Memang dia senang sekali membaca atau mendengar riwayat-riwayat kuno yang menarik.

“Sebelum Jenghis Khan menjadi kaisar, dia telah menemukan batu mustika yang disebut Batu Dewa Hijau atau Batu Asmara, dan batu bintang itu lantas dibikin menjadi sebatang pedang yang diberi nama Pedang Asmara. Semenjak mempunyai pedang itu bintangnya terus bersinar terang sampai akhirnya dia berhasil menjadi kaisar. Walau pun pedang itu pernah lepas dari tangannya, terjatuh ke tangan orang jahat, tetapi akhirnya bisa kembali kepadanya sehingga dinasti Mongol menjadi semakin jaya. Akan tetapi keturunan Jenghis Khan tidak dapat menghargai pedang yang bernama Pedang Asmara itu, karena mereka menganggap pedang itu melemahkan dan membuat orang menjadi budak nafsu asmara. Pedang itu lantas dibawa ke seorang pembuat pedang yang paling ahli di seluruh daratan Cina. Dengan susah payah akhirnya pedang itu dilebur lagi dan dihilangkan sarinya yang mempunyai pengaruh birahi bagi pemiliknya.”

Sin Wan mengangguk-angguk. Memang amat menarik dan entah bagaimana, dia merasa kasihan dan sayang kepada pedang yang seolah disia-siakan itu. Dia juga tidak bertanya dari mana ayahnya mendapat pedang yang tadinya milik Kaisar Jenghis Khan yang amat terkenal dalam sejarah yang pernah dibacanya itu. Bagi dia ayahnya adalah seorang sakti sehingga tidak aneh kalau benda-benda pusaka yang ampuh dan amat besar nilainya itu dapat terjatuh ke tangan ayahnya.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Tiga hari kemudian, pada suatu pagi yang cerah, tiga orang pria memasuki pekarangan rumah Se Jit Kong. Mereka itu bukan lain adalah Tiga Dewa, Ciu-sian Tong Kui, Kiam-sian Louw Sun, dan Pek-mau-sian Thio Ki. Kemarin mereka bertemu dengan rombongan Cap-sha-kwi dan dari rombongan inilah mereka mendapat kepastian babwa orang yang mereka cari, yaitu Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong memang benar berada di Yin-ning.

Setelah memperoleh keterangan ini, Tiga Dewa mempercepat perjalanan menuju ke kota Yin-ning dan pada pagi hari itu mereka bertiga memasuki pekarangan rumah datuk yang mereka cari-cari selama hampir satu tahun ini. Kepada seorang pelayan yang sedang menyapu pekarangan, mereka bertanya dengan sikap halus apakah tuan rumah sedang berada di rumah, dan kalau ada, mereka minta agar pelayan itu memberi tahukan majikannya tentang kedatangan mereka.

Si pelayan tidak menaruh curiga karena sikap tiga orang itu sangat lembut. Sikap mereka ini tidak seperti sikap tiga belas orang yang datang tiga hari yang silam. Pelayan itu lalu memberi laporan ke dalam. Akan tetapi pada waktu itu Se Jit Kong sedang bersemedhi, maka dia memberi laporan kepada nyonya majikannya.

"Nyonya, di depan ada tiga orang tamu yang hendak bertemu dengan tuan majikan,” kata pelayan itu.

Ju Bi Ta mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak. "Siapakah mereka?"

Pelayan itu menggelengkan kepala. "Mereka tidak memberi tahukan nama, tetapi mereka adalah tiga orang laki-laki setengah tua yang bersikap ramah dan lembut. Pakaian mereka seperti pakaian pendeta atau pertapa."

"Tuan majikan sedang bersemedhi, aku tidak berani mengganggunya. Biar aku saja yang menemui mereka," kata Ju Bi Ta.

Sin Wan yang juga berada di situ segera bangkit dan menemani ibunya. Ketika mereka tiba di luar, mereka melihat tiga orang berpakaian tosu (pendeta Agama To) berdiri di luar pintu.

Begitu melihat yang muncul adalah seorang wanita cantik bersama seorang anak laki-laki, tiga orang itu segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk.

"Nyonya muda, harap maafkan kami bertiga kalau kedatangan kami ini telah mengganggu nyonya,” kata Pek-mau-sian Thio Ki yang menjadi juru bicara mereka karena dialah yang paling pandai bicara, juga sikapnya halus dan sopan, tidak seperti Ciu-sian yang biar pun pandai bicara pula, namun sering bertindak ugal-ugalan dan terbuka.

Melihat sikap mereka yang sopan, Ju Bi Ta juga membalas penghormatan mereka. "Tidak apa-apa, akan tetapi siapakah sam-wi totiang (bapak pendeta bertiga) dan ada keperluan apakah dengan kami?"

“Saya bernama Thio Ki, ada pun dua orang saudara ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami datang dari timur, dari kota raja Nan-king dan sengaja jauh-jauh berkunjung ke sini untuk bertemu dengan saudara Se Jit Kong karena kami mempunyai urusan penting yang harus dibicarakan dengan dia,” kata pula Dewa Rambut Putih.

"Hemm, apakah sam-wi (anda bertiga) datang untuk merampas benda-benda pusaka milik ayah?" mendadak Sin Wan bertanya dengan suara lantang dan terlambatlah ibunya untuk mencegah dia mengajukan pertanyaan yang dianggapnya tidak sopan itu.

"Ha-ha-ha-ha, anak baik. Apakah engkau putera Se Jit Kong?"

"Benar, aku adalah puteranya, namaku Sin Wan," kata anak itu dengan hati tabah. "Kalau sam-wi datang untuk merampas pusaka, lebih baik sam-wi segera pergi lagi saja, jangan sampai dihajar oleh ayahku seperti tiga belas orang tempo hari."

"Ha-ha-ha-ha, sungguh hebat. Engkau jujur dan juga lembut, menyenangkan sekali, Sin Wan. Anak baik, apakah kau lihat kami bertiga ini seperti perampok-perampok?" kata pula Dewa Arak sambil tersenyum lebar, mukanya menjadi semakin merah dan cerah.

Sin Wan memandang perut gendut itu, juga wajahnya yang penuh tawa sehingga tampak selalu gembira dan lucu. "Terus terang saja, totiang (bapak pendeta), kalau dilihat totiang ini bukan seperti perampok, tapi lebih mirip seperti seorang pemabok."

"Sin Wan...!" ibunya menegur lagi. Heran dia mengapa puteranya yang biasanya lembut itu kini nampak seperti orang yang tidak sabaran. Hal ini ditimbulkan karena peristiwa tiga hari yang lampau.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau ini kecil-kecil sudah pandai melihat sampai ke dasarnya! Memang aku adalah seorang pemabok, memang aku tukang minum arak, ha-ha-ha!" kata pula Ciu-sian Tong Kai sambil tertawa bergelak. Suara tawanya yang lepas itu setengah disengaja, mengandung khikang sehingga suaranya bergema sampai ke dalam rumah.

Akalnya ini berhasil. Suara tawa yang amat nyaring itu menyusup sampai ke dalam kamar dan ke dalam telinga Se Jit Kong, menggugahnya dari semedhi. Se Jit Kong mengerutkan alisnya, merasa terganggu oleh suara tawa bergelak itu dan dia pun tahu bahwa kembali ada orang yang datang hendak mengganggunya. Mukanya menjadi kemerahan dan dia pun segera bangkit, berganti pakaian baru lalu keluar dari dalam kamar, langsung menuju keluar.

Dan begitu melihat laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu keluar. Tiga Dewa yang belum pernah berjumpa dengan Si Tangan Api itu segera memberi hormat kepadanya.

"Hemmm, apa yang terjadi di sini?" tanya Se Jit Kong tanpa mempedulikan penghormatan yang diberikan tiga orang tosu itu. Dia tidak membalas penghormatan mereka, sebaliknya malah mengajukan pertanyaan yang mengandung teguran itu.

Isterinya berkata dengan nada lembut dan menyabarkan. "Tiga orang totiang ini datang dari timur, dari Nan-king. Mereka mempunyai urusan untuk dibicarakan denganmu. Harap kau sambut tamu-tamu jauh ini dengan baik-baik."

Se Jit Kong mengerutkan alisnya lantas mengangguk. Hatinya masih mendongkol karena merasa terganggu, namun diam-diam dia terkejut juga setelah mendengar bahwa mereka datang dari Nan-king, dan segera dia dapat menduga bahwa tentu kedatangan mereka ini ada hubungannya dengan benda-benda pusaka yang dicurinya dari gedung pusaka kaisar di Nan-king.

"Aku tidak mengenal sam-wi (anda bertiga)..." katanya dengan setengah hati.

"Ayah, tadi mereka bilang tidak datang sebagai perampok yang hendak merampas benda-benda pusaka milik ayah," tiba-tiba Sin Wan berkata.

"Kalau ada urusan sebaiknya dibicarakan di dalam. Sam-wi totiang, mari silakan masuk ke ruangan tamu,” kata Ju Bi Ta dengan sikap ramah.

Tiga orang tosu itu memandang kepada tuan rumah. "Terima kasih, nyonya. Kami suka sekali kalau saja sicu (orang gagah) Se Jit Kong mengijinkan," kata Thio Ki ragu-ragu.

"Hemmm, isteriku sudah mempersilakan masuk, mengapa masih bertanya lagi? Masuklah dan cepat ceritakan apa maksud kedatangan kalian."

Tiga orang tosu itu lalu mengikuti tuan dan nyonya rumah memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri depan. Ruangan yang cukup luas, di mana terdapat meja kursi yang nyaman. Sekali ini Ju Bi Ta sengaja tidak meninggalkan suaminya, karena dia tidak ingin suaminya membuat ribut dan perkelahian Iagi. Dia merasa yakin bahwa kalau ada terjadi keributan, maka hanya dia seoranglah yang akan mampu mengendalikan suaminya dan mencegah terjadinya keributan.

Karena Ju Bi Ta tetap di ruangan tamu, Sin Wan juga mendapatkan kesempatan untuk ikut hadir dan mendengarkan pula. Dan biar pun Se Jit Kong merasa tidak senang dengan kehadiran isteri dan puteranya, dia tidak berani mengusir isterinya dan kemarahannya dia tumpahkan kepada tiga orang tamunya.

"Nah, cepat bicara. Siapa kalian dan mau apa kalian mencariku!" katanya ketus.

Sikap Se Jit Kong ini berwibawa sekali, dan biasanya para calon lawannya sudah merasa gentar dibuatnya, seperti wibawa seekor harimau kalau mengaum dan dengan auman itu sudah mampu melumpuhkan korbannya. Akan tetapi tiga orang tosu itu kelihatan tenang-tenang saja.

Dewa Arak bersikap acuh, memandang ke sekeliling seperti mengagumi keindahan hiasan ruangan Itu, kemudian dia mengambil guci arak yang diselipkan pada gendongannya dan mengguncangnya untuk mengetahui isinya. Diteguknya arak dari mulut guci dan wajahnya nampak gembira sekali seperti menikmati araknya yang sedap.

Si Dewa Pedang nampak tenang, menatap wajah tuan rumah dan diam saja. Seperti juga Dewa Arak, dia menyerahkan pembicaraan kepada rekannya, yaitu Dewa Rambut Putih...

Si Pedang Tumpul Jilid 03

Se Jit Kong memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatnya, maka dia pun segera mempergunakan kelincahan gerakannya untuk mengelak, berloncatan menyelinap di antara gulungan sinar rantai dan golok. Namun dia tidak membalas kepada dua orang yang lain, karena perhatiannya dia tujukan kepada si botak pendek untuk melaksanakan ancamannya. Dia harus menghancurkan mulut yang telah berani menghina isterinya itu!

Sesudah lewat belasan jurus dikeroyok tiga orang yang berjuluk Tiga Ular Tanpa Tanding itu, Se Jit Kong melihat kesempatan baik. Ketika kedua ujung rantai yang dipasangi pisau itu menyambar kepadanya dengan berbareng, satu dari atas dan satu lagi dari samping, dia tidak mengelak melainkan menyambut dua batang pisau yang amat tajam berkilauan itu dengan kedua tangannya.

Dia berhasil menangkap dan mencengkeram dua batang pisau itu, menangkap rantainya dan sebelum si botak tahu apa yang terjadi, sepasang lengannya telah terbelit rantai dan tubuhnya terangkat dari atas tanah kemudian diputar-putar menyambut golok kedua orang saudaranya. Tentu saja dua orang itu sangat terkejut dan menarik kembali golok mereka, bahkan meloncat ke belakang karena khawatir kalau golok mereka akan melukai saudara sendiri.

Se Jit Kong menghentikan putaran tubuh si pendek botak yang kedua lengannya sudah terbelit rantai, kemudian menurunkannya dan sekali dia menggerakkan tangan kiri, jari-jari tangannya yang panjang dan besar, yang kuat bagaikan baja mentah, sudah menampar ke arah mulut si botak.

"Prakkk...!" Tubuh si botak terpelanting dan dia pun roboh dengan muka bermandikan darah karena mulutnya telah remuk. Tulang rahang berikut semua giginya hancur dan biar pun dia tidak akan tewas dengan luka itu, tetapi sukar dibayangkan bagaimana dia akan mampu bicara dan bagaimana pula dia akan mengirim makanan ke dalam perutnya!

Se Jit Kong selalu teringat akan janjinya kepada isterinya, maka pada waktu tangannya menampar tadi, dia membatasi tenaganya agar jangan membikin hancur kepala botak itu. Melihat betapa si botak itu roboh dengan muka bagian bawah remuk, tentu saja dua belas orang lainnya menjadi marah bukan main. Bu-tek Kiam-mo yang memimpin rombongan itu segera mengeluarkan bentakan dan mencabut sepasang pedangnya, kemudian bersama rekan-rekannya dia lalu mengepung Se Jit Kong yang berdiri dengan tenang dan tegak di tengah-tengah, tanpa memegang senjata apa pun.

Biar pun demikian, dia tetap waspada karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian para pengepungnya ini sama sekali tak boleh disamakan dengan kepandaian lima belas orang Kasak yang dibunuhnya baru-baru ini ketika dia merampas barang berharga dari kafilah itu. Kini yang mengeroyoknya adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar.

Sin Wan yang menonton perkelahian itu, melihat dengan hati bangga dan kagum. Walau pun dia sendiri berwatak lembut dan ibunya selalu menekankan bahwa mempergunakan kekerasan untuk melukai, terlebih lagi membunuh orang lain, adalah perbuatan yang jahat dan tidak baik, namun kini melihat ayahnya dikeroyok dan ayahnya menghadapi orang-orang yang jahat itu, dia merasa bangga.

Apa lagi ketika melihat ayahnya bergerak sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya tidak nampak lagi. Yang nampak hanyalah bayangan berkelebatan di antara sambaran banyak senjata, kemudian terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya para pengeroyok seorang demi seorang.

Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, tiga belas orang tokoh sesat yang terkenal di dunia kang-ouw itu sudah roboh semua. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tewas. Ada yang patah tulang pundaknya, patah tulang kaki atau lengan, ada yang bocor kepalanya, ada yang pingsan, akan tetapi tidak ada yang tewas.

"Cap-sha-kwi, dengarkan baik-baik. Kalian harus berterima kasih kepada isteriku, karena kalau tidak ada dia maka kalian sekarang sudah menjadi bangkai semua! Nah, pergilah dan jangan injak lagi daerah ini!"

Bu-tek Kiam-mo sendiri hanya patah tulang pundak kanannya. Dia masih dapat berjalan dan menggerakkan lengan kirinya. Karena maklum bahwa dia dan kawan-kawannya tidak akan mampu menyerang lagi, dia lalu memimpin kawan-kawannya untuk saling bantu dan dengan terpincang-pincang, ada yang memapah kawan dan ada pula yang menggotong teman yang pingsan, mereka meninggalkan kota Yin-ning diikuti sorakan dan ejekan dari para penghuni kota yang tadi sempat menyaksikan pertempuran di pekarangan rumah Si Tangan Api itu.

Sin Wan cepat lari ke dalam menemui ibunya di dapur. Dengan gembira dia menceritakan kepada ibunya betapa ayahnya dengan gagah perkasa berhasil mengusir tiga belas orang kasar itu. "Ayah hebat sekali, ibu," kata Sin Wan. "Mereka itu rata-rata mempunyai ilmu kepandaian yang sangat hebat, dan mereka semua bersenjata, sedangkan ayah yang dikeroyok tidak memegang senjata. Dan mereka semua roboh dengan tubuh terluka, akan tetapi tak ada seorang pun yang dibunuh ayah."

Ibunya mengangguk, akan tetapi wajahnya tidak kelihatan gembira. Bagaimana dia akan dapat menikmati hidup tenteram kalau sesudah pindah begini jauh, masih saja suaminya didatangi orang-orang yang memusuhinya? Semua ini adalah akibat cara hidup suaminya yang lalu, cara hidup yang penuh kekerasan, penuh perkelahian dan permusuhan.

"Sin Wan, kuharap kelak setelah dewasa engkau tidak mempunyai banyak musuh seperti ayahmu."

"Aku tidak suka bermusuhan, ibu, akan tetapi di dunia ini banyak orang jahat. Kalau aku diserang orang seperti tadi, tentu aku harus membela diri. Tadi pun ayah hanya membela diri. Orang-orang itulah yang datang mencari perkara dan menyerang ayah."

Diam-diam wanita itu mengeluh dalam hatinya. Puteranya itu tidak tahu orang macam apa sebenarnya ayahnya itu. Sin Wan tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang datuk besar dunia sesat yang terkenal amat kejam dan tidak pantang melakukan kejahatan bagaimana pun juga. Dia hanya tahu bahwa ayahnya seorang yang sakti, memiliki banyak ilmu yang dahsyat, dan bahwa ayahnya amat mencinta ibunya dan amat sayang kepadanya!

"Sudahlah. Sin Wan, Aku sedang sibuk masak, dan aku tidak ingin membicarakan tentang perkelahian itu."

Sin Wan meninggalkan dapur dan mencari ayahnya. Se Jit Kong berada di kamarnya dan sedang mengagumi benda-benda yang dikeluarkan dari dalam sebuah peti hitam besar. Ketika Sin Wan memasuki kamar, dia menoleh kemudian tersenyum.

"Masuklah, dan mari kau lihat benda-benda pusaka ini, Sin Wan. Ini adalah benda-benda yang tak ternilai harganya!"

Bagi Sin Wan, benda-benda itu ada yang indah dan ada pula yang aneh. Ada mainan dari batu giok yang diukir indah sekali, berbentuk naga, ada pula yang seperti bentuk burung Hong. Ada pula patung Dewi Kwan-Im yang amat indah, terbuat dari gading terukir halus. Juga terdapat dua batang pedang. Yang sebuah memiliki sarung dan gagang yang terbuat dari pada emas terukir indah sekali, bahkan sarung dan gagang itu dihiasi intan permata yang berkilauan. Akan tetapi ada pula sebatang pedang yang sarungnya terbuat dari kulit yang kasar, dan gagangnya juga sederhana sekali.

"Sudah pergikah semua orang kasar tadi, ayah?" Sin Wan bertanya sambil duduk di kursi dekat ayahnya, mengamati benda-benda indah dan aneh itu.

"Ha-ha-ha-ha, engkau melihat mereka tadi? Dan engkau telah menghalau serangan hui-to (pisau terbang), ya? Bagus! Mereka telah kuusir pergi, pencoleng-pencoleng cilik yang tak tahu diri itu. Kalau bukan ibumu yang melarangku, tentu mereka semua sudah kubunuh!"

"Mengapa mereka itu datang memusuhi ayah?”

"Tikus-tikus tak tahu diri itu ingin merampas benda-benda pusaka ini, Sin Wan."

Kini perhatian Sin Wan tertarik kepada benda-benda itu. Memang ada yang indah, banyak yang aneh, akan tetapi kenapa orang-orang datang memusuhi ayahnya untuk merampas benda-benda ini?

"Apa sih hebatnya benda-benda ini sampai mereka datang ke sini hendak merampasnya dari ayah?"

"Ha-ha-ha, anak bodoh! Kau tahu, semua orang kang-ouw siap mempertaruhkan nyawa untuk dapat memiliki sebuah saja dari benda-benda pusaka ini!"

"Hemmm, alangkah anehnya," Sin Wan memperhatikan benda-benda itu satu demi satu.

“Memang ada yang indah dan menarik, akan tetapi seperti pedang ini, apa sih bagusnya? Sebuah pedang yang sarungnya butut, gagangnya juga sangat kasar seperti pisau dapur saja. Kenapa ayah menyimpan pedang macam ini?”

"Ha-ha-ha-ha, engkau tidak tahu, anakku. Di antara semua benda pusaka ini, bagiku yang paling bernilai adalah pedang butut yang kau remehkan itul"

"Ahh, benarkah itu, ayah? Boleh aku mencabut dan melihatnya?"

"Lakukanlah. Tidak banyak orang di dunia ini yang pernah melihatnya, sedangkan seluruh pendekar di dunia ini ingin sekali mendapat kesempatan untuk melihatnya."

Dengan hati tertarik sekali Sin Wan lalu menghunus pedang yang gagang dan sarungnya butut itu. Dia menduga bahwa meski pun sarung dan gagangnya nampak butut, pedang yang dianggap sebagai pusaka sangat bernilai oleh ayahnya itu tentu merupakan pedang yang amat baik, tajam dan berkilauan, terbuat dari pada baja terbaik. Akan tetapi, setelah pedang itu dia hunus, Sin Wan mengerutkan alisnya dan hatinya kecewa.

Pedang itu sama sekali tidak menarik, bukan saja buatannya kasar seperti tempaan yang belum jadi, akan tetapi juga pedang itu tidak tajam dan tidak runcing. Sebatang pedang yang tumpul! Warnanya gelap kehijauan seperti pedang dari semacam batu karang yang warnanya hijau saja. Dan pedang itu pun tidak panjang, merupakan pedang pendek yang tumpul dan tidak menarik sama sekali!

"Aihh, ayah mempermainkan aku! Pedang ini hanyalah pedang yang belum jadi, tumpul dan jelek, bagaimana ayah sampai memuji-mujinya seperti itu?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau tidak tahu, Sin Wan! Pedang ini terbuat dari pada Batu Dewa Hijau, dan di dunia ini tidak ada senjata yang mampu mengalahkan keampuhannya! Pedang ini mempunyai kisah yang amat menarik, Sin Wan, dan kalau engkau sudah tahu riwayatnya, tentu akan kau hargai pula sebagai sebuah pusaka yang langka dan ampuh."

Sin Wan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya, kemudian memasukkan ke dalam peti. "Ayah, ceritakanlah kisah itu, aku ingin sekali tahu riwayatnya."

"Kau tahu, kurang lebih seratus tahun yang silam, pedang ini adalah milik Kaisar Jenghis Khan, yaitu pendiri dari Kerajaan Goan-tiauw yang baru saja jatuh. Dan jatuhnya Dinasti Mongol itu pun sebagian gara-gara tidak menghargai pusaka ini!"

Tentu saja Sin Wan menjadi semakin tertarik. Memang dia senang sekali membaca atau mendengar riwayat-riwayat kuno yang menarik.

“Sebelum Jenghis Khan menjadi kaisar, dia telah menemukan batu mustika yang disebut Batu Dewa Hijau atau Batu Asmara, dan batu bintang itu lantas dibikin menjadi sebatang pedang yang diberi nama Pedang Asmara. Semenjak mempunyai pedang itu bintangnya terus bersinar terang sampai akhirnya dia berhasil menjadi kaisar. Walau pun pedang itu pernah lepas dari tangannya, terjatuh ke tangan orang jahat, tetapi akhirnya bisa kembali kepadanya sehingga dinasti Mongol menjadi semakin jaya. Akan tetapi keturunan Jenghis Khan tidak dapat menghargai pedang yang bernama Pedang Asmara itu, karena mereka menganggap pedang itu melemahkan dan membuat orang menjadi budak nafsu asmara. Pedang itu lantas dibawa ke seorang pembuat pedang yang paling ahli di seluruh daratan Cina. Dengan susah payah akhirnya pedang itu dilebur lagi dan dihilangkan sarinya yang mempunyai pengaruh birahi bagi pemiliknya.”

Sin Wan mengangguk-angguk. Memang amat menarik dan entah bagaimana, dia merasa kasihan dan sayang kepada pedang yang seolah disia-siakan itu. Dia juga tidak bertanya dari mana ayahnya mendapat pedang yang tadinya milik Kaisar Jenghis Khan yang amat terkenal dalam sejarah yang pernah dibacanya itu. Bagi dia ayahnya adalah seorang sakti sehingga tidak aneh kalau benda-benda pusaka yang ampuh dan amat besar nilainya itu dapat terjatuh ke tangan ayahnya.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Tiga hari kemudian, pada suatu pagi yang cerah, tiga orang pria memasuki pekarangan rumah Se Jit Kong. Mereka itu bukan lain adalah Tiga Dewa, Ciu-sian Tong Kui, Kiam-sian Louw Sun, dan Pek-mau-sian Thio Ki. Kemarin mereka bertemu dengan rombongan Cap-sha-kwi dan dari rombongan inilah mereka mendapat kepastian babwa orang yang mereka cari, yaitu Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong memang benar berada di Yin-ning.

Setelah memperoleh keterangan ini, Tiga Dewa mempercepat perjalanan menuju ke kota Yin-ning dan pada pagi hari itu mereka bertiga memasuki pekarangan rumah datuk yang mereka cari-cari selama hampir satu tahun ini. Kepada seorang pelayan yang sedang menyapu pekarangan, mereka bertanya dengan sikap halus apakah tuan rumah sedang berada di rumah, dan kalau ada, mereka minta agar pelayan itu memberi tahukan majikannya tentang kedatangan mereka.

Si pelayan tidak menaruh curiga karena sikap tiga orang itu sangat lembut. Sikap mereka ini tidak seperti sikap tiga belas orang yang datang tiga hari yang silam. Pelayan itu lalu memberi laporan ke dalam. Akan tetapi pada waktu itu Se Jit Kong sedang bersemedhi, maka dia memberi laporan kepada nyonya majikannya.

"Nyonya, di depan ada tiga orang tamu yang hendak bertemu dengan tuan majikan,” kata pelayan itu.

Ju Bi Ta mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak. "Siapakah mereka?"

Pelayan itu menggelengkan kepala. "Mereka tidak memberi tahukan nama, tetapi mereka adalah tiga orang laki-laki setengah tua yang bersikap ramah dan lembut. Pakaian mereka seperti pakaian pendeta atau pertapa."

"Tuan majikan sedang bersemedhi, aku tidak berani mengganggunya. Biar aku saja yang menemui mereka," kata Ju Bi Ta.

Sin Wan yang juga berada di situ segera bangkit dan menemani ibunya. Ketika mereka tiba di luar, mereka melihat tiga orang berpakaian tosu (pendeta Agama To) berdiri di luar pintu.

Begitu melihat yang muncul adalah seorang wanita cantik bersama seorang anak laki-laki, tiga orang itu segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk.

"Nyonya muda, harap maafkan kami bertiga kalau kedatangan kami ini telah mengganggu nyonya,” kata Pek-mau-sian Thio Ki yang menjadi juru bicara mereka karena dialah yang paling pandai bicara, juga sikapnya halus dan sopan, tidak seperti Ciu-sian yang biar pun pandai bicara pula, namun sering bertindak ugal-ugalan dan terbuka.

Melihat sikap mereka yang sopan, Ju Bi Ta juga membalas penghormatan mereka. "Tidak apa-apa, akan tetapi siapakah sam-wi totiang (bapak pendeta bertiga) dan ada keperluan apakah dengan kami?"

“Saya bernama Thio Ki, ada pun dua orang saudara ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami datang dari timur, dari kota raja Nan-king dan sengaja jauh-jauh berkunjung ke sini untuk bertemu dengan saudara Se Jit Kong karena kami mempunyai urusan penting yang harus dibicarakan dengan dia,” kata pula Dewa Rambut Putih.

"Hemm, apakah sam-wi (anda bertiga) datang untuk merampas benda-benda pusaka milik ayah?" mendadak Sin Wan bertanya dengan suara lantang dan terlambatlah ibunya untuk mencegah dia mengajukan pertanyaan yang dianggapnya tidak sopan itu.

"Ha-ha-ha-ha, anak baik. Apakah engkau putera Se Jit Kong?"

"Benar, aku adalah puteranya, namaku Sin Wan," kata anak itu dengan hati tabah. "Kalau sam-wi datang untuk merampas pusaka, lebih baik sam-wi segera pergi lagi saja, jangan sampai dihajar oleh ayahku seperti tiga belas orang tempo hari."

"Ha-ha-ha-ha, sungguh hebat. Engkau jujur dan juga lembut, menyenangkan sekali, Sin Wan. Anak baik, apakah kau lihat kami bertiga ini seperti perampok-perampok?" kata pula Dewa Arak sambil tersenyum lebar, mukanya menjadi semakin merah dan cerah.

Sin Wan memandang perut gendut itu, juga wajahnya yang penuh tawa sehingga tampak selalu gembira dan lucu. "Terus terang saja, totiang (bapak pendeta), kalau dilihat totiang ini bukan seperti perampok, tapi lebih mirip seperti seorang pemabok."

"Sin Wan...!" ibunya menegur lagi. Heran dia mengapa puteranya yang biasanya lembut itu kini nampak seperti orang yang tidak sabaran. Hal ini ditimbulkan karena peristiwa tiga hari yang lampau.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau ini kecil-kecil sudah pandai melihat sampai ke dasarnya! Memang aku adalah seorang pemabok, memang aku tukang minum arak, ha-ha-ha!" kata pula Ciu-sian Tong Kai sambil tertawa bergelak. Suara tawanya yang lepas itu setengah disengaja, mengandung khikang sehingga suaranya bergema sampai ke dalam rumah.

Akalnya ini berhasil. Suara tawa yang amat nyaring itu menyusup sampai ke dalam kamar dan ke dalam telinga Se Jit Kong, menggugahnya dari semedhi. Se Jit Kong mengerutkan alisnya, merasa terganggu oleh suara tawa bergelak itu dan dia pun tahu bahwa kembali ada orang yang datang hendak mengganggunya. Mukanya menjadi kemerahan dan dia pun segera bangkit, berganti pakaian baru lalu keluar dari dalam kamar, langsung menuju keluar.

Dan begitu melihat laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu keluar. Tiga Dewa yang belum pernah berjumpa dengan Si Tangan Api itu segera memberi hormat kepadanya.

"Hemmm, apa yang terjadi di sini?" tanya Se Jit Kong tanpa mempedulikan penghormatan yang diberikan tiga orang tosu itu. Dia tidak membalas penghormatan mereka, sebaliknya malah mengajukan pertanyaan yang mengandung teguran itu.

Isterinya berkata dengan nada lembut dan menyabarkan. "Tiga orang totiang ini datang dari timur, dari Nan-king. Mereka mempunyai urusan untuk dibicarakan denganmu. Harap kau sambut tamu-tamu jauh ini dengan baik-baik."

Se Jit Kong mengerutkan alisnya lantas mengangguk. Hatinya masih mendongkol karena merasa terganggu, namun diam-diam dia terkejut juga setelah mendengar bahwa mereka datang dari Nan-king, dan segera dia dapat menduga bahwa tentu kedatangan mereka ini ada hubungannya dengan benda-benda pusaka yang dicurinya dari gedung pusaka kaisar di Nan-king.

"Aku tidak mengenal sam-wi (anda bertiga)..." katanya dengan setengah hati.

"Ayah, tadi mereka bilang tidak datang sebagai perampok yang hendak merampas benda-benda pusaka milik ayah," tiba-tiba Sin Wan berkata.

"Kalau ada urusan sebaiknya dibicarakan di dalam. Sam-wi totiang, mari silakan masuk ke ruangan tamu,” kata Ju Bi Ta dengan sikap ramah.

Tiga orang tosu itu memandang kepada tuan rumah. "Terima kasih, nyonya. Kami suka sekali kalau saja sicu (orang gagah) Se Jit Kong mengijinkan," kata Thio Ki ragu-ragu.

"Hemmm, isteriku sudah mempersilakan masuk, mengapa masih bertanya lagi? Masuklah dan cepat ceritakan apa maksud kedatangan kalian."

Tiga orang tosu itu lalu mengikuti tuan dan nyonya rumah memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri depan. Ruangan yang cukup luas, di mana terdapat meja kursi yang nyaman. Sekali ini Ju Bi Ta sengaja tidak meninggalkan suaminya, karena dia tidak ingin suaminya membuat ribut dan perkelahian Iagi. Dia merasa yakin bahwa kalau ada terjadi keributan, maka hanya dia seoranglah yang akan mampu mengendalikan suaminya dan mencegah terjadinya keributan.

Karena Ju Bi Ta tetap di ruangan tamu, Sin Wan juga mendapatkan kesempatan untuk ikut hadir dan mendengarkan pula. Dan biar pun Se Jit Kong merasa tidak senang dengan kehadiran isteri dan puteranya, dia tidak berani mengusir isterinya dan kemarahannya dia tumpahkan kepada tiga orang tamunya.

"Nah, cepat bicara. Siapa kalian dan mau apa kalian mencariku!" katanya ketus.

Sikap Se Jit Kong ini berwibawa sekali, dan biasanya para calon lawannya sudah merasa gentar dibuatnya, seperti wibawa seekor harimau kalau mengaum dan dengan auman itu sudah mampu melumpuhkan korbannya. Akan tetapi tiga orang tosu itu kelihatan tenang-tenang saja.

Dewa Arak bersikap acuh, memandang ke sekeliling seperti mengagumi keindahan hiasan ruangan Itu, kemudian dia mengambil guci arak yang diselipkan pada gendongannya dan mengguncangnya untuk mengetahui isinya. Diteguknya arak dari mulut guci dan wajahnya nampak gembira sekali seperti menikmati araknya yang sedap.

Si Dewa Pedang nampak tenang, menatap wajah tuan rumah dan diam saja. Seperti juga Dewa Arak, dia menyerahkan pembicaraan kepada rekannya, yaitu Dewa Rambut Putih...