Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 14

DUA orang wanita itu membuang muka, tidak mau memandang. Mereka maklum bahwa kalau saja mereka tidak diperlukan oleh ketiga datuk sebagai umpan memancing munculnya Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, maka tidak ada harapan mereka akan selamat di tangan seorang tokoh sesat seperti Thai-san Ngo-kwi.

Pandang mata Ngo-kwi itu saja sudah jelas menunjukkan wataknya yang mesum. Melihat empat orang tawanan itu kini menghentikan percakapan mereka, Ngo-kwi pergi menjauh lagi karena dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Malam semakin larut. Bulan naik semakin tinggi, akan tetapi langit tidak sebersih tadi. Awan berarak datang dari barat menghampiri bulan. Walaupun hanya awan tipis dan putih, namun cukup mengganggu kecerahan sinar bulan. Udara semakin dingin dan kerik jengkerik dan belalang semakin nyaring, namun tidak mengganggu keheningan malam itu. Semua suara itu bahkan menjadi bagian dari keheningan. Wajar. Wajar itu hening.

Empat orang tawanan itu tidak bercakap-cakap lagi. Mereka duduk di bangku dengan punggung tegak lurus dan santai, bernapas dalam-dalam menghimpun tenaga. Sikap ini mengendurkan ketegangan yang menghamburkan tenaga karena mereka menanti datangnya detik-detik yang mereka harapkan.

Sesuai dengan rencana mereka, Pek-liong dan Liong-li mempergunakan kepandaian mereka untuk menyusup mendekati sarang gerombolan. Mereka berpencar, mengambil jalan masing-masing dari arah kanan dan kiri. Semua anak buah mereka sudah memasang posisi dengan perlengkapan anak panah, kain dan minyak. Mereka hanya menanti tanda dari kedua orang pendekar itu.

Pek-liong merangkak di balik semak belukar, terus menghampiri sarang. Akan tetapi, terpaksa dia berhenti ketika melihat bahwa di luar sarang terdapat banyak anak buah gerombolan yang melakukan penjagaan sambil bersembunyi. Barisan pendam ini memang sudah dia perhitungkan dengan Liong-li, maka dia lalu meloncat dengan hati-hati ke atas pohon. Dia maklum bahwa Liong-li tentu melakukan hal yang sama.

Dari atas pohon yang tinggi, terlindung daun-daun yang lebat, Pek-liong mengintai ke balik pagar tinggi. Dia tidak melihat banyak penjaga di dalam sarang itu, hanya beberapa orang saja yang nampak berlalu-lalang di antara bangunan-bangunan. Kemudian, dia melihat empat orang tawanan itu duduk mengelilingi meja. Mereka duduk dengan tubuh tegak dan punggung lurus, nampak santai dan diam-diam dia merasa girang. Mereka itu telah bersiap-siaga, pikirnya. Agaknya mereka sudah menduga bahwa dia dan Liong-li pasti akan turun tangan malam ini! Pek-liong tersenyum.

Muncul kenangan-kenangan manis ketika dia memandang ke arah empat orang itu. Sahabat-sahabatnya yang baik! Dan sekarang mereka menderita karena dia dan Liong-li. Kalau mereka bukan sahabatnya, tidak mungkin tiga orang datuk mengganggu mereka. Akan tetapi Pek-liong mengerutkan alisnya. Mereka itu dibiarkan berada di luar, nampak tak terjaga.

Jelas ini merupakan umpan! Nampaknya saja sarang itu kosong dan lemah penjagaannya, akan tetapi di luar sarang terdapat banyak sekali anak buah gerombolan yang memasang barisan pendam. Agaknya pihak lawan menggunakan siasat mengosongkan sarang dan bersembunyi di luar, memancing harimau memasuki sarang! Kalau dia dan Liong-li sudah masuk ke sarang itu, puluhan bahkan mungkin ratusan orang anak buah gerombolan itu agaknya tentu akan mengepung tempat itu dan tidak ada jalan keluar lagi!

Pek-liong tersenyum dan dia tahu bahwa saat itu Liong-li tentu juga tersenyum mentertawakan siasat pihak lawan. Kalau hanya dikepung anak buah gerombolan, apa sukarnya bagi mereka untuk lolos? Apa lagi di sana ada sungai, dan ada kakak beradik Kam! Dia dan Liong-li akan mengelabui mereka.

Pek-liong sudah mengambil busur yang tergantung di punggungnya. Pada saat itu nampak sinar meluncur dari arah kirinya, menuju ke dalam sarang gerombolan. Pek-liong tahu bahwa itu adalah isyarat yang diberikan Liong-li kepada para pembantunya. Benar saja, luncuran anak panah berapi itu segera disusul oleh banyak sekali anak panah berapi yang beterbangan menuju ke sarang gerombolan. Pek-liong cepat meluncurkan isyaratnya dan kini dari arah kanan, beterbangan sinar-sinar dari anak panah berapi menyerang sarang itu.

Melihat ini, empat orang tawanan itu menjadi tegang. Mereka mengharapkan para anggauta gerombolan menjadi panik dan beramai-ramai sibuk memadamkan ke bakaran seperti yang pernah terjadi. Akan tetapi mereka menjadi heran dan bingung karena gerombolan itu kelihatan santai saja. Bahkan tidak nampak Thai-san Ngo-kwi memimpin anak buah mereka untuk memadamkan api yang sudah mulai membakar di sana sini.

“Ini sebuah perangkap, kita jangan ceroboh dan tergesa-gesa,” kata Song Tek Hin yang menjadi curiga.

Sementara itu, para anak buah gerombolan yang memasang baris pendam di luar sarang, sesuai dengan rencana tiga orang datuk, begitu melihat hujan anak panah berapi, segera keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyerang ka arah dari mana datangnya anak-anak panah itu.

Pek-liong dan Liong-li dapat memasuki sarang itu dengan mudah. Mereka berdua merobohkan beberapa orang yang bertemu dengan mereka, dan keduanya kini bergabung, terus maju menghampiri empat orang tawanan yang tadi mereka lihat dari atas pohon.

Song Tek Hin, Su Hong Ing, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li menjadi girang bukan main melihat munculnya Pek-liong dan Liong-li, akan tetapi mereka juga khawatir karena pada saat itu, belasan orang penjaga yang tadinya bersembunyi di sekitar rumah itu, serentak datang mengepung mereka.

“Serbu!” Song Tek Hin memberi aba-aba kepada yang lain dan empat orang itupun mengangkat bangku masing-masing dan menerjang ke arah anggauta gerombolan yang mengepung dan agaknya menjaga mereka agar jangan melarikan diri. Para penjaga itu menggerakkan senjata untuk melawan, akan tetapi sebentar saja, empat orang tawanan berhasil merobohkan empat orang anak buah gerombolan dan merampas empat batang pedang. Dengan senjata rampasan ini di tangan, mereka siap untuk mengamuk.

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menyeramkan dan empat orang tawanan itu terkejut bukan main karena suara itu mengandung getaran yang membuat mereka menggigil! Bahkan para, anak buah gerombolan juga menggigil dan untuk sementara pengeroyokan itu dihentikan.

“Ha-ha-ha, si keparat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!” kata Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Putih) Gan Ki yang tertawa tadi. “Akhirnya kami dapat berhadapan dengan kalian berdua. Bersiaplah untuk menghadap para rekan kami yang kalian bunuh untuk membayar hutang kalian di akhirat!”

Melihat betapa tiga orang datuk besar musuh mereka itu telah berdiri di situ, Liong-li bertolak pinggang dan berkata dengan suara mengejek. “Hemm, sejak orang pertama sampai yang terakhir, Kiu Lo-mo terkenal sebagai datuk sesat yang tak tahu malu, suka menggunakan kecurangan dan bersikap pengecut. Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li! Kalau memang kalian bertiga ingin mampus di tangan kami berdua, kenapa tidak langsung saja datang dan menantang sehingga kita dapat bertanding sebagai orang gagah? Kalian menculik para sahabat kami untuk memancing kami, apakah itu perbuatan orang gagah?”

Terdengar suara tawa terkekeh genit. “Hi-hi-hik, bicaramu besar sekali, menunjukkan kesombonganmu, Hek-liong-li. Sekarang kami berhadapan dengan kalian, boleh kita bertanding dan kalian akan mati di tangan kami. Adapun empat orang ini, karena mereka adalah sahabat-sahabatmu, mereka akan mampus pula, hik-hik!”

Pek-bwe Coa-ong memberi isyarat kepada anak buahnya yang kini sudah berkumpul di situ, sebanyak duapuluh orang lebih. “Tangkap mereka berempat!”

Dan dia sendiri bersama dua orang rekannya sudah mengepung Pek-liong dan Liong-li. Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas) sudah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kipas lebar dan sebatang pena bergagang emas. Senjata inilah yang memberinya nama besar di dunia persilatan.

Ang I Sian-li juga mencabut sepasang pedangnya. Tanpa siang-kiam (pedang pasangan) itupun iblis betina ini sudah lihai sekali dan tingkat kepandaiannya hanya kalah sedikit dibandingkan tingkat kedua orang rekannya. Di samping ilmu silatnya tinggi dan tenaga sin-kangnya kuat, wanita ini juga mempelajari ilmu-ilmu sesat, ilmu hitam yang diperkuat oleh hasil kekejiannya yang mengerikan, yaitu suka menghisap habis darah bayi.

Orang tertua di antara mereka bertiga, yaitu Pek-bwe Coan-ong, memegang sebatang tongkat ular yang berekor putih. Tongkat Pek-bwe-coa (ular berekor putih) ini yang membuat dia dijuluki Pek-bwe Coa-ong dan selain dia paling lihai dalam hal ilmu silat dan paling kuat tenaganya, juga dia memiliki ilmu memanggil dan menguasai ular, seorang pawang ular yang amat lihai dan berbahaya.

Karena mereka datang dengan tujuan terutama sekali untuk menolong empat orang tawanan itu, maka Pek-liong dan Liong-li segera berloncatan mendekati mereka berempat yang sedang mengamuk. Begitu mereka menggerakkan-tangan, nampak sinar hitam Hek-liong-kiam dan sinar putih Pek-liong-kiam dan robohlan empat orang pengeroyok. Empat orang tawanan itu bertambah semangat mereka, apalagi ketika Liong-li berkata lirih,

“Sun Ting, ajak mereka lari ke sungai!”

Diam-diam Kam Sun Ting kagum bukan main. Kiranya, begitu datang ke tempat itu, Hek-liong-li telah melihat pula kemungkinan mereka meloloskan diri lewat air! Akan tetapi kini tiga orang datuk itu menerjang maju dan karena mereka maklum bahwa empat orang tawanan itu bukanlah lawan tiga orang sakti itu, Pek-liong dan Liong-li cepat menggerakkan pedang menyambut mereka. Mereka berdua juga maklum betapa lihainya tiga orang lawan itu.

Apalagi di situ masih terdapat banyak sekali anak buah para datuk itu, maka begitu menggerakkan pedang, tanpa berunding lagi, mereka keduanya sudah memainkan Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang dirangkai oleh mereka berdua. Nampaklah gulungan sinar hitam dan putih saling belit dan saling tunjang, saling melindungi dan dari gulungan kedua sinar ini mencuat sinar yang menyerang tiga orang lawannya.

Namun, sekali ini sepasang pendekar itu berhadapan dengan tiga orang lawan yang amat tangguh. Tingkat kepandaian tiga orang ini masing-masing sudah seimbang dengan tingkat Pek-liong dan Liong-li, maka kini mereka berdua dikeroyok tiga, sungguh merupakan lawan yang amat berat.

Apalagi mereka bermaksud untuk menolong empat orang sahabat mereka, tentu saja mereka tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian sepenuhnya untuk melawan tiga orang datuk. Maka, mereka menggabungkan sinar pedang mereka, membentuk benteng pertahanan untuk melindungi diri dari desakan tiga orang lawan sambil kadang memperhatikan keadaan empat orang sahabat yang sedang berusaha melarikan diri itu.

Dipimpin oleh Song Tek Hin yang paling lihai di antara mereka, empat orang tawanan itu mengamuk dengan pedang rampasan. Song Tek Hin adalah seorang jago pedang yang tingkat kepandaiannya sedikit lebih tinggi dari pada isterinya, Su Hong Ing, murid Bu-tong-pai yang lihai. Adapun kakak beradik Kam hanya memiliki tubuh yang kuat dan gesit, tidak memiliki ilmu silat tinggi akan tetapi kedua orang kakak beradik yang pernah menjadi kekasih Pek-liong dan Liong-li ini pernah menerima petunjuk ilmu silat dari kedua orang pendekar itu.

Dengan hati yang penuh keberanian dan semangat karena hadirnya Pek-liong dan Liong-li, empat orang itu berhasil membobolkan kepungan dan mereka membela diri sambil menuju ke sungai. Melihat ini, Pek-liong dan Liong-li juga bersilat membela diri saling melindungi sambil mundur mengikuti empat orang sahabat mereka. Mengerti bahwa empat orang tawanan dan dua orang pendekar itu menuju ke sungai, tiga orang datuk itu diam-diam mentertawakan mereka.

Bagaimana mungkin mereka akan dapat melarikan diri kalau menuju ke sungai? Mereka tidak mempunyai perahu dan andaikata mempunyai perahu sekalipun, tentu perahu itu akan terhadang perahu-perahu anak buah mereka, baik di anak sungai itu maupun di Sungai Kuning, di mana air sungai itu bergabung. Maka, mereka tidak menghalangi, bahkan menggiring enam orang itu agar sampai di tepi sungai dan mendapatkan jalan buntu

Mereka sudah merasa yakin bahwa enam orang itu tidak akan mampu lolos. Pek-bwe Coa-ong yakin akan hal ini. Bahkan andaikata terjadi suatu keajaiban sehingga mereka dapat lolos dia masih memegang suatu kekuasaan yang dapat dia pergunakan untuk memaksa Pek-liong dan Liong-li datang membayar hutang kepada Kiu Lo-mo!

Sementara itu, keempat orang Thai-san Ngo-kwi memimpin anak buah mereka yang banyak sekali jumlahnya, melakukan penyerbuan ke arah enam orang pembantu Pek-liong dan tujuh orang pembantu Liong-li yang melakukan serangan dengan anak panah berapi dari sisi kanan dan kiri ke arah sarang gerombolan. Serangan yang dilakukan gerombolan penjahat itu begitu tiba-tiba datangnya sehingga mengejutkan para pembantu kedua pendekar itu. Namun dengan gigih mereka melakukan perlawanan.

Bagaimanapun juga, baik enam orang pembantu Pek-liong maupun tujuh orang pembantu Liong-li, tak lama kemudian terdesak hebat. Terutama sekali empat orang Thai-san Ngo-kwi merupakan lawan yang teramat berat bagi mereka sedangkan anak buah merekapun banyak. Thai-kwi dan Ji-kwi memimpin tigapuluh orang anak buah mengeroyok enam orang pembantu Pek-liong, sedangkan Su-kwi dan Ngo-kwi memimpin tigapuluh orang lebih mengeroyok tujuh orang pembantu Liong-li!

Para pembantu sepasang pendekar itu mengamuk dan melawan mati-matian. Banyak juga anak buah gerombolan yang tewas oleh amukan mereka, akan tetapi akhirnya mereka sendiri tak mampu menahan dan di antara enam orang pembantu Pek-liong, tinggal dua orang yang berhasil melarikan diri, yang empat orang roboh dan tewas di bawah hujan senjata pengeroyok. Demikian pula para pembantu Liong-li, hanya dua orang yang dapat lolos dengan luka-luka ringan, yang lima orang lagi tewas. Hanya Ang-hwa dan Pek-hwa yang dapat lolos.

Biarpun anak buah mereka sendiri banyak yang tewas, namun empat orang dari Thai-san Ngo-kwi membawa anak buah mereka pulang ke sarang dengan tawa kemenangan dan ketika mereka tiba di sarang, mereka melihat betapa Pek-liong dan Liong-li bersama empat orang tawanan itu mengamuk, dikeroyok dan didesak oleh tiga orang datuk. Enam orang itu telah terdesak mundur sampai ke tepi sungai!

Melihat ini, tiga orang datuk tertawa-tawa. Enam orang itu telah terkepung dan tidak dapat mundur lagi karena di belakang mereka terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Di situ tidak ada perahu, sedangkan anak buah mereka sudah siap dengan perahu-perahu yang disembunyikan di darat.

“Ha-ha-ha, Pek-liong dan Liong-li. Kalian tidak dapat lolos dari tangan kami sekarang!” kata Pek-bwe Coa-ong yang semakin gembira melihat empat orang dari Thai-san Ngo-kwi sudah kembali sehingga keadaan mereka semakin kuat. Kepada dua orang rekannya dia berkata, “Kita tangkap mereka hidup-hidup!”

Tentu saja dia dan dua orang rekannya ingin menangkap dua orang musuh besar itu dalam keadaan hidup agar mereka dapat membalas dendam dan melampiaskan kebencian mereka dengan menyiksa dulu musuh mereka sepuas hati sebelum membunuh mereka! Kebencian membuat manusia manapun juga menjadi buas. Hati yang panas dan diracuni dendam kebencian baru akan merasa puas dan senang melihat orang yang dibencinya tersiksa!

Melihat munculnya Thai-san Ngo-kwi dan anak buah mereka, Pek-liong dan Liong-li tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, mereka berenam akan kalah atau setidaknya, empat orang sahabat mereka akan dapat tertawan kembali. Liong-li segera berseru,

“Semua ke air!”

Kedua orang pendekar itu melihat betapa Kam Cian Li sudah menggandeng tangan Su Hong Ing dan menariknya loncat ke dalam sungai, demikian pula Kam Sun Ting menarik Song Tek Hin meloncat ke air. Mereka berdua juga cepat meloncat dan kembali air di permukaan sungai itu memercik ketika tertimpa tubuh dua orang pendekar itu.

“Tai-hiap, ke sini dan pegang ujung tali ini!” Kam Sun Ting berseru dan Pek-liong gembira dan kagum. Kiranya Kam Sun Ting sudah mempersiapkan diri!

“Sini Li-hiap, dan pegang ujung taliku!” kata pula Kam Cian Li yang berenang sambil membantu Su Hong Ing.

Setelah sepasang pendekar itu berenang menghampiri dan mereka menangkap ujung tali yang dililitkan di pinggang kakak beradik ahli selam itu, Kam Sun Ting dan adiknya berseru. “Ambil napas sebanyaknya dan tahan napas!”

Seruan ini ditujukan kepada Song Tek Hin dan Su Hong Ing karena Pek-liong dan Liong-li sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Setelah mereka semua menghirup udara sebanyaknya memenuhi paru-paru mereka dan menahan napas, kakak beradik itu menyelam dan lenyap dari permukaan air, dan bersama dengan mereka, lenyap pula tubuh suami isteri itu dan sepasang pendekar.

Tadinya tiga orang datuk itu tertawa-tawa melihat enam orang buronan itu terjun ke dalam sungai. “Tangkap mereka hidup-hidup, gunakan perahu!” kata Pek-bwe Coa-ong yang merasa yakin bahwa mereka tidak akan mungkin.berenang jauh.

Akan tetapi, begitu dia melihat enam orang itu lenyap, dia menjadi terkejut. Demikian pula dua orang rekannya, juga Thai-san Ngo-kwi dan para anak buah mereka menjadi panik.

“Kejar mereka!”

“Cari...!!”

Mereka yang merasa pandai renang segera melompat ke air. Akan tetapi tidak banyak di antara mereka yang pandai menyelam. Empat orang yang merasa memiliki keahlian menyelam, segera menukik dan menyelam, akan tetapi sebentar saja empat orang ini sudah tersembul lagi dalam keadaan tak bernyawa! Tiga orang datuk menjadi terkejut dan mereka berloncatan ke perahu-perahu yang sudah ditarik keluar dari balik semak-semak dan mereka bertiga memimpin sendiri pengejaran itu, menggunakan perahu-perahu.

Akan tetapi, amat sukar menemukan enam orang buronan yang lenyap dari permukaan air itu. Awan yang berarak semakin tebal sehingga cahaya bulan menjadi redup, dan gerakan banyak perahu itu membuat permukaan air berombak, sehingga biar pun kadang-kadang kepala para pelarian itu menonjol keluar sebentar untuk berganti udara dalam pernapasan mereka lalu menyelam lagi, tidak sempat diketahui mereka yang melakukan pencarian.

Tiga orang datuk itu menjadi penasaran sekali. Tak mungkin enam orang itu lenyap begitu saja, kecuali kalau mereka itu mati tenggelam. Akan tetapi, melihat betapa empat orang anak buah yang menyelam tadi tewas terbunuh, membuktikan bahwa enam orang pelarian itu masih hidup. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan bahwa mereka berenam mampu meloloskan diri dengan cara menyelam dalam air sungai. Sampai pagi mereka mencari-cari, namun tidak berhasil karena saat itu, enam orang pelarian telah pergi jauh, bahkan telah mengurus jenazah para anak buah Pek-liong dan Liong-li dengan sedih.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Hek-liong-li, wanita berhati baja yang gagah perkasa dan hampir tak pernah bersedih, pagi hari itu nampak menangis terisak-isak di depan makam tujuh orang pembantunya. Dua buah makam baru kemarin dulu ditimbun, kini ditambah lima buah makam para pembantunya yang tewas diserbu Su-kwi dan Ngo-kwi bersama anak buah mereka. Pek- liong hanya termenung, juga penuh kedukaan di depan makam empat orang pembantunya yang setia.

Kini tinggal dua orang pembantu Liong-li dan dua orang pula pembantu Pek-liong. Mereka juga berkabung. Bahkan Song Tek Hin dan Su Hong Ing, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li, ikut pula bersembahyang dan berkabung.

“Aihh, semua ini adalah kesalahan kami berempat,” kata Song Tek Hin dengan suara menyesal. “Kalau kami berempat tidak menjadi tawanan dan tidak mau menulis surat kepada Tai-hiap dan Li-hiap, tentu tidak akan terjatuh begini banyak korban. Mereka ini tewas karena kami berempat.”

“Saudara Song Tek Hin jangan bicara begitu,” kata Pek-liong sambil mengerutkan alisnya. “Mati hidup ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh manusia! Kalau dicari sebab sebabnya, amatlah banyak dan berantai amat panjang. Kalau dianggap bahwa kematian mereka disebabkan kalian berempat ditawan, maka kalian berempat ditawan karena kalian menjadi sahabat-sahabat baik kami berdua! Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, yang bersalah adalah Kiu Lo-mo karena mereka adalah manusia-manusia sesat yang suka melakukan perbuatan jahat. Kita adalah orang-orang yang menentang kejahatan, maka terjadi bentrokan antara mereka dan kita. Kalau jatuh korban dalam bentrokan ini, hal itu sudah sewajarnya.”

“Pek-liong berkata benar,” kata Liong-li yang telah dapat mendinginkan hatinya dan tenang kembali walaupun kedua pipinya masih basah. “Tujuh orang pembantuku dan empat orang pembantunya tewas sebagai orang-orang gagah, hal itu tidak perlu terlalu disedihkan. Aku akan membalaskan kematian mereka! Kiu Lo-mo tinggal tiga orang lagi dan aku bersama Pek-liong pasti akan dapat membasmi mereka! Kalian berempat sebaiknya cepat pulang saja agar jangan terlibat, dan bersikaplah hati-hati menjaga diri.”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Memang sebaiknya memenuhi permintaan Liong-li. Kalian berempat pulanglah, dan juga masing-masing pembantu kami sebaiknya mengundurkan diri agar jangan jatuh korban lebih banyak lagi. Aku dan Liong-li berdua yang akan menghancurkan mereka, tanpa membahayakan keselamatan orang-orang yang menjadi sahabat baik kami.”

“Li-hiap, kami berdua tidak mau meninggalkan li-hiap! Apa lagi tujuh orang rekan kami telah tewas dan kami disuruh mengundurkan diri? Tidak, li-hiap, kami akan membantu li-hiap dengan mempertaruhkan nyawa ini, untuk menuntut balas atas kematian tujuh orang rekan kami!” kata Ang-hwa dengan suara masih mengandung tangis.

“Kamipun tidak mau meninggalkan tai-hiap, lebih baik kami mati pula di tangan para penjahat dari pada harus lari setelah empat orang rekan kami tewas,” kata dua orang pembantu Pek-liong.

“Kami juga tidak mau pulang, kami ingin membantu tai-hiap dan li-hiap!” kata kakak beradik Kam dengan suara hampir berbareng.

“Demikian pula kami. Kami akan membantu sekuat tenaga,” kata Song Tek Hin dan isterinya mengangguk, membenarkan suaminya.

Pek-liong dan Liong-li saling pandang dan merasa terharu. Tidak ada yang lebih indah dari pada persahabatan yang tulus ikhlas dan setia. Akan tetapi mereka juga merasa khawatir sekali. Pihak musuh terlampau kuat dan amat berbahaya bagi empat orang sahabat dan empat orang pembantu mereka itu kalau mereka membantu.

Mereka sudah kehilangan sebelas orang pembantu. Mereka tidak ingin melihat ada korban lagi. Pula, kalau mereka berdua dibantu, menghadapi lawan yang amat kuat dan berbahaya, berarti mereka berdua bahkan harus melindungi para pembantunya itu sehingga mereka tidak dapat bergerak dengan leluasa. Untuk menghadapi para anak buah tiga orang datuk itu tentu saja para pembantu ini masih menguntungkan, akan tetapi kalau berhadapan dengan tiga orang datuk itu atau Thai-san Ngo-kwi, mereka terancam bahaya maut.

Selagi dua orang pendekar itu meragu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seorang penunggang kuda mendaki bukit itu. Pek-liong dan Liong-li bangkit dan memandang dengan penuh kewaspadaan. Seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi besar, meloncat turun dari atas punggung kudanya, membawa sebuah bungkusan dan menghampiri Pek-liong dan Liong-li dengan sikap gentar.

“Siapa engkau? Mau apa?” tanya Pek-liong singkat.

Orang itu membungkuk. “Saya adalah utusan pimpinan kami Pek-bwe Coa-ong untuk menyerahkan buntalan ini kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.”

“Aku Pek-liong-eng, berikan kepadaku!” kata Pek-liong.

Orang itu menyerahkan buntalan kain kuning kepada Pek-liong, kemudian dia membalikkan tubuh hendak pergi.

“Tunggu!” bentak Liong-li sehingga orang itu terkejut dan menahan langkahnya. “Tunggu sampai Pek-liong membuka dan melihat isi buntalan!”

Dengan hati-hati dan sikap tenang Pek-liong membuka buntalan itu dan merasa heran mendapatkan bahwa isinya adalah sehelai baju anak-anak berwarna merah. Ketika lipatan baju dibuka, di dalamnya terdapat sehelai kertas yang ditulis dengan huruf-huruf besar:

KAMI AKAN MENGGANTUNG CU KECIL KALAU KALIAN TIDAK CEPAT DATANG MEMBUAT PERHITUNGAN.

Pek-liong sengaja membaca surat itu sehingga terdengar oleh para sahabat dan pembantunya. Terdengar jerit tertahan dan Su Hong Ing meloncat ke depan dan mengambil baju kanak-kanak berwarna merah itu dari tangan Pek-liong. Diamatinya baju itu dan iapun berteriak,

“Ini baju Song Cu, anakku!”

Song Tek Hin juga maju dan merampas baju itu dari tangan isterinya, mengamatinya, kemudian dia membalik dan mencengkeram baju pembawa surat itu di bagian dadanya, menariknya dan membentak marah. “Hayo katakan, bagaimana anak kami dapat berada di sarang kalian!”

Orang itu menggeleng kepalanya. “Aku hanya utusan. Aku tidak tahu bagaimana anak itu dapat berada di tangan pemimpin kami.”

“Bagaimana keadaannya?” Su Hong Ing juga mendekati orang itu.

Utusan itu tersenyum mengejek. “Keadaannya baik-baik saja sampai sekarang ini. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya kalau kalian tidak memenuhi permintaan pimpinan kami.”

“Jahanam busuk!” bentak Su Hong Ing dan ia sudah menggerakkan tangan hendak memukul orang itu. Akan tetapi suaminya menangkap pergelangan tangannya dan menggeleng kepala. Su Hong Ing menyadari bahwa ia tidak boleh menyerang seorang utusan.

Pek-liong dan Liong-li saling pandang dan mengerutkan alis mereka. Tak mereka sangka sama sekali bahwa tiga orang datuk itu akan bertindak sedemikian jauh, sedemikian liciknya sehingga mereka sampai hati menculik seorang anak kecil untuk dijadikan sandera.

Song Tek Hin mendorong orang itu sehingga hampir terjengkang. Orang itu memandang dengan senyum mengejek kepada Pek-liong dan Liong-li, kemudian bangkit dan sebelum meninggalkan tempat itu dia berkata kepada Liong-li dan Pek-liong.

“Pimpinan kami menyuruh kami meninggalkan pesan bahwa kalau sampai matahari tenggelam hari ini kalian tidak datang menemui mereka, anak itu akan dibunuh dan mayatnya digantung di pintu gerbang sarang kami.” Setelah berkata demikian, dia pun meninggalkan tempat itu cepat-cepat.

Su Hong Ing menahan jerit tangisnya dan dia terkulai dalam pelukan suaminya, menangis dengan muka pucat karena ia merasa khawatir dan bingung sekali.

Hek-liong-li mengepal kedua tinju tangannya “Keparat, betapa liciknya mereka! Tak kusangka mereka akan mempergunakan kecurangan yang tak tahu malu itu!”

Pek-liong menarik napas panjang. “Kalau tidak licik dan curang, bukan Kiu Lo-mo namanya. Kita harus menghadapi mereka dengan kepala dingin.”

Liong-li mengangguk dan segera sikapnya tenang kembali, tidak terbakar emosi seperti tadi, lalu ia berkata kepada suami isteri yang sedang panik karena mengkhawatirkan anak mereka itu.

“Kalian jangan gelisah. Kami berdua pasti akan datang dan menemui mereka, minta agar anak kalian yang tidak tahu apa-apa itu segera dibebaskan.”

“Benar, kalian tenang sajalah. Mereka menawan anak itu hanya untuk memaksa kami pergi kepada mereka. Anak kalian pasti akan dapat dibebaskan,” kata pula Pek-liong.

Mendengar ini, Su Hong Ing terisak lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Pek-liong, “Tai-hiap, maafkan kami... bukan maksud kami untuk membuat tai-hiap dan li-hiap terancam bahaya maut tapi tapi kami aku tidak dapat hidup tanpa anakku...”

“Sudahlah, kalian tidak bersalah, anak kalian juga tidak bersalah. Memang Kiu Lo-mo amat curang, akan tetapi kami pasti akan mampu menghajar mereka dan menyelamatkan anak kalian,” kata Liong-li. “Sekarang juga kami akan berangkat ke sana untuk membebaskan anak kalian.”

“Sebaiknya kalau kalian delapan orang menunggu saja di sini dan jangan berpencar. Tunggu sampai kami kembali ke sini,” kata Pek-liong kepada empat orang sahabat dan empat orang pembantu itu. Kemudian bersama Liong-li dia berkelebat dan lenyap dari situ.

Setelah sepasang pendekar itu pergi. Su Hong Ing menangis. “Tidak aku tidak dapat membiarkan mereka terancam bahaya demi menyelamatkan anakku, dan aku sendiri menunggu dan menganggur di sini. Aku harus mencoba untuk menyelamatkan anakku!”

Melihat isterinya menangis seperti itu, Song Tek Hin merangkulnya. “Tenanglah, memang akupun berpendapat seperti itu, Sepantasnya yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak kita harus kita sendiri. Mari, mari kita ke sana dan kita minta kepada mereka agar anak kita dibebaskan.”

“Kami akan membantu kalian, Song-toako!” kata Kam Sun Ting dan adiknyapun bangkit berdiri dan menggandeng tangan Su Hong Ing.

Suami isteri itu terkejut. “Aih, jangan! Kalian berdua sudah menyelamatkan kami ketika kita melarikan diri melalui air, jangan lagi kalian kini terjun ke dalam bahaya untuk membantu kami,” kata Song Tek Hin yang merasa tidak enak sekali.

“Sebetulnya kami takut melanggar perintah li-hiap, akan tetapi kalau kalian berempat pergi untuk menyelamatkan anak itu, kami berdua pun tidak mau ketinggalan dan menunggu saja di sini. Kami akan ikut pula membantu kalian merampas kembali anak itu!” kata Ang-hwa, dan Pek-hwa mengangguk menyetujui.

“Kamipun bukan orang-orang takut mati. Biar tai-hiap akan memarahi kami, akan tetapi kami juga akan membantu, sekalian membalas dendam atas kematian empat orang rekan kami!” kata pula dua orang pembantu Pek-liong dengan sikap gagah...

Thanks for reading Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »