Social Items

AKAN tetapi, semua orang di atas perahu besar itu melihat betapa pengail tua itu menggerakkan batang kailnya dan tali kail itu menyambar ke arah anak-anak panah sehingga kedua batang anak panah itu tertangkap di ujung tali kail. Dia mengangkat kailnya dan memandang dua batang anak panah yang terkait atau terlibat itu, tertawa dan berkata dengan suara lirih, namun karena digerakkan dengan khi-kang maka terdengar jelas oleh mereka yang berada di perahu besar.

“Ha-ha-ha, di perahu besar diadakan pesta makan enak, di perahu kecil aku hanya mendapatkan dua batang anak panah. Mengail ikan mendapatkan anak panah, sungguh sungai yang aneh!”

Mendengar ejekan ini, tujuh orang pembantu Liong-li memandang marah, akan tetapi Liong-li tersenyum. “Ang-hwa dan Pek-hwa, aku memaafkan kelengahan kalian berdua. Tentu saja kalian tidak tahu kalau Pek-liong yang membayangi kalian!”

“Dia... dia... Pek-liong-eng...?” Para pembantu itu berseru lirih.

Liong-li berdiri di tepi perahu dan menjenguk ke bawah, lalu berkata sambil tersenyum. “Pengail tua, kami mengundangmu untuk ikut makan enak, naiklah ke sini!”

Pengail tua yang bukan lain adalah Pek-li-ong itu, menoleh, tersenyum dan berkata, “Terima kasih!” Dia mendayung perahunya mendekat, tangga diturunkan dan diapun naik ke atas perahu besar, disambut oleh Liong-li dengan senyum gembira dan mereka segera memasuki bilik perahu.

Setelah duduk berhadapan dan Pek-liong menanggalkan capingnya, mereka saling pandang sampai beberapa menit lamanya, tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi dua pasang mata itu saling tatap dan dari sinar mata mereka seolah mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.

“Liong-li, aku merasa ikut prihatin melihat engkau kehilangan dua orang pembantumu.” Pek-liong akhirnya berkata dengan suara serius.

Liong-li menghela napas panjang. “Sekali ini, kita tidak menghadapi ancaman yang main-main dan boleh dipandang ringan. Agaknya Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong. bekerja sama dan mati-matian mereka menyusun kekuatan untuk menghancurkan kita.”

Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka diganggu anak buah musuh di rumah masing-masing sampai mereka menerima surat dari sahabat-sahabat mereka yang telah ditawan oleh pihak musuh. Liong-li menceritakan pula tentang tewasnya Bunga Biru dan Bunga Hijau dan tentang tekad sisa pembantunya yang masih tujuh orang itu untuk membantunya menghadapi gerombolan musuh dengan taruhan nyawa. Ketika tiba giliran Pek-liong menceritakan pengalamannya, pendekar ini menceritakan pula tentang Cian Hui dan Cu Sui In.

“Mereka, gerombolan musuh itu, telah mencoba pula untuk menawan Cian Ciang-kun dan isterinya. Bahkan Pek-bwe Coa-ong sendiri yang turun tangan memimpin anak buahnya untuk menculik Cian Hui dan Cu Sui In, akan tetapi untung sekali bahwa Cian Ciang-kun amat cerdik dan telah mencurigai pihak musuh. Dia telah mempersiapkan pasukan sehingga ketika dia dan isterinya akan diculik, pasukannya menerjang dan gerombolan itupun melarikan diri.”

Liong-li merasa kagum. “Cian Ciang-kun memang seorang yang cerdik sekali.”

“Ya, dan diapun menawarkan diri untuk membantu kita menghadapi gerombolan dengan mengerahkan pasukan. Akan tetapi tawaran itu kutolak. Aku tidak ingin melihat dia terlibat, apa lagi sampai terancam bahaya kalau dia membantu kita. Tiga orang datuk sisa Kiu Lo-mo itu mempunyai dendam dan perhitungan dengan kita berdua, maka tidak pantaslah kalau kita sampai melibatkan Cian Ciang-kun dan membuat dia dan isterinya terancam bahaya..."

Liong-li menjulurkan tangannya ke seberang meja dan menangkap tangan kanan pendekar itu. Liong-li memandang kagum. Rekannya ini selalu memikirkan kepentingan orang lain! Betapa bijaksananya. Pek-liong dapat merasakan isi hati Liong-li dan diapun membalas dengan memegang tangan pendekar itu.

“Liong-li, sekali ini kita harus berhati-hati. Pihak musuh amat lihai, juga amat cerdik di samping mereka mempunyai banyak anak buah. Kita harus mencari akal untuk lebih dahulu membebaskan kakak beradik Kam dan Song Tek Hin bersama isterinya.”

“Engkau benar, Pek-liong. Mereka ditawan karena kita, maka kita harus dapat menolong mereka sebelum kita hadapi tiga orang datuk itu untuk membuat perhitungan sampai tuntas.”

Pada saat itu terdengar ketukan perlahan di pintu ruangan. Mereka menoleh dan melihat Ang-hwa berdiri di ambang pintu.

“Maafkan saya, Li-hiap, Tai-hiap, kalau saya mengganggu. Akan tetapi masakan itu akan menjadi dingin kalau tidak segera dihidangkan.”

Pek-liong dan Liong-li saling pandang lalu tertawa. “Baik, bawa masuk hidangan itu dan karena sekarang kita semua sedang berjuang, maka untuk sementara ini kalian adalah kawan-kawan seperjuangan. Kalian semua boleh menemani kami berdua makan minum,” kata Liong-li dan ajakan itu disambut dengan gembira oleh tujuh orang pembantunya.

Mereka adalah pembantu-pembantu dan pelayan yang setia, akan tetapi juga amat mengagumi, menghormati dan menyayang Liong-li, maka diajak makan semeja ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagi mereka. Apa lagi di situ terdapat pula Pek-liong-eng yang mereka kagumi. Sayang enam orang pembantu Pek-liong tidak ikut makan minum pula, pikir mereka. Kalau ada enam orang pembantu Pek-liong, lengkaplah sudah pasukan mereka! Sehabis makan, Pek-liong dan Liong-li melanjutkan perundingan mereka untuk mengatur siasat.

“Keadaan sarang mereka kuat sekali, akan sukar ditembus kalau kita menggunakan kekerasan saja, Pek-liong,” kata Liong-li.

“Engkau benar, akupun sudah melakukan penyelidikan. Selain mereka melakukan penjagaan kuat, agaknya empat orang sahabat kita itupun dikeram dalam rumah tahanan dan tentu dijaga kuat. Berusaha menyusup ke sana sama saja dengan membiarkan diri terperosok ke dalam jebakan.”

“Pek-liong, bagaimanapun juga, kita harus membebaskan mereka. Mari kita mencari siasat yang paling baik. Bagaimana menurut pendapatmu? Akal apa yang harus kita pergunakan?”

“Liong-li, biasanya engkau yang mendapatkan akal, bukan aku. Karena itu, pertanyaanmu itu ku kembalikan kepadamu dan aku siap mendengar pendapatmu.”

Mereka saling pandang, penuh pengertian dan keduanya tertawa. Mereka berdua itu sudah sehati dan sejalan saling pandang saja cukup untuk membuat mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing. Mereka saling menghargai, saling mengagumi dan saling menyayang, maka selalu saling merendahkan diri untuk membiarkan yang lain menonjol.

“Kita tuliskan saja akal kita masing-masing lalu kita membuat perbandingan. Dengan demikian, tidak ada yang menjadi orang pertama dan orang kedua. Bagaimana?”

“Setuju, akan kutuliskan akal dan pendapatku itu di atas meja ini,” kata Pek-liong yang segera membuat guratan dengan kuku jari telunjuk kanannya ke atas meja sambil menutupinya dengan tangan kiri. Liong-li yang tersenyum juga melakukan hal yang sama.

Mereka selesai dalam saat yang bersamaan pula dan sambil saling pandang, keduanya membuka tangan kiri yang menutupi guratan pada papan meja di depan masing-masing. Keduanya memandang tulisan itu dan keduanya tertawa gembira. Dalam keadaan seperti itu, lupalah mereka akan ancaman mereka. Ternyata guratan di depan masing-masing itu hanya sebuah huruf yang sama, yaitu huruf

“API.” Betapa sama jalan pikiran mereka. Dalam saat yang genting dan gawat itupun mereka mempunyai akal yang sama.

“Tepat sekali, Liong-li. Hanya ini satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat menyelundup masuk dan berusaha membebaskan empat orang sahabat kita itu,” kata Pek-liong sambil menekan dengan jarinya menghapus guratan di depannya. Hal yang sama dilakukan oleh Liong-li.

“Begitu melihat caramu menolong kami dari kepungan musuh semalam, akupun tahu bahwa api merupakan satu-satunya cara untuk menyerang musuh yang sarangnya demikian kuat, Pek-liong. Akan tetapi, itu hanya kita lakukan untuk mengacaukan mereka. Mungkin dalam kekacauan itu kita dapat menyelundup masuk, akan tetapi mengajak empat orang sahabat kita lolos dari sana, itu merupakan hal lain yang jauh lebih sukar.”

“Liong-li, tentu engkau pernah melakukan penelitian terhadap sarang itu dari puncak bukit, bukan? Dan engkau tentu melihat bahwa ada sebuah anak sungai mengalir melalui sebelah dalam perkampungan gerombolan itu!”

Liong-li mengerutkan alisnya, menunduk dan menggosok-gosok hidungnya dengan jari tangan, tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya. Kemudian ia mengangkat muka memandang kepada Pek-liong dengan wajah berseri. “Anak Sungai...? Anak sungai, air dan... ada kakak beradik Kam di sana! Ah, aku mengerti, Pek-liong, dan memang tepat sekali!”

Pek-liong mengangguk dan tersenyum kagum. “Ada air, ada kakak beradik Kam, dan pelarian mereka berempat itu akan dapat dilakukan dengan mudah tanpa terlalu membahayakan mereka.”

Mereka lalu mengatur siasat. Dua buah otak yang amat cerdas itu dikerjakan dengan cermat sehingga mereka dapat menyusun rencana siasat yang akan mereka laksanakan malam nanti. Mereka lalu bercakap-cakap melepas rindu dan pertemuan antara mereka sekali ini terasa lain dari pada pertemuan yang sudah-sudah. Sekali ini mereka sama-sama menyadari bahwa keadaan mereka yang saling berpisah dan berjauhan itu membuat mereka tidak lengkap, mudah diserang musuh dan hidup terasa timpang.

“Pek-liong, lama-lama aku menjadi bosan juga. Rasanya semenjak aku menguasai ilmu silat, tiada hentinya aku terlibat permusuhan dengan orang-orang kang-ouw dan terutama dengan golongan sesat. Hemm, entah kapan hidup ini dapat kunikmati dengan tenteram dan penuh damai..."

Mendengar ucapan itu dan melihat betapa wanita yang cantik jelita itu duduk termenung dengan pandang mata yang biasanya mencorong itu kini agak sayu, mulut yang biasanya penuh senyum cerah itu agak cemberut, tangan kiri bertopang dagu. Pek-liong tersenyum lebar dan hatinya merasa geli, walaupun ucapan itu membuat dia terkejut karena akhir-akhir ini dia juga mempunyai perasaan yang serupa!

“Liong-li, kiranya tidak perlu kita mengeluh. Pada saat kita mempelajari ilmu silat, kita sudah terlibat dan tergelincir masuk ke dalam dunia kekerasan. Masih untung bagi kita bahwa kita berdiri di pihak yang membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas, menentang yang jahat sewenang-wenang sehingga tidak percuma kita mempelajari ilmu silat, dapat dipergunakan untuk hidup yang benar sebagai seorang ahli silat.”

“Akan tetapi, Pek-liong, apakah kalau tidak pandai ilmu silat lalu tidak ada persoalan? Aih, sebelum pandai silat dahulu, aku malah menderita hebat sebagai korban kejahatan. Di mana-mana terdapat orang jahat, di mana-mana terdapat kesengsaraan, di samping kebaikan yang hanya sedikit, di dunia.ini agaknya kejahatan yang memegang peran penting dalam segala lapangan. Di antara sepuluh orang, mungkin hanya dua yang baik dan delapan yang jahat, hanya dua yang kaya dan delapan yang miskin, dua yang pandai dan delapan yang bodoh.”

“Itu sudah merupakan keadaan kehidupan manusia di dunia, Liong-li. Kenapa mesti dipersoalkan? Baik dan buruk sudah menjadi pasangannya, seperti ada siang tentu ada malam, ada atas ada bawah, ada kanan ada kiri. Kalau tidak ada susah di dunia ini, mana mungkin kita mengenal senang? Kalau tidak ada yang dinamakan jahat di dunia ini, mana mungkin kita tahu apa itu yang dinamakan baik? Sebaiknya kita tidak membiarkan diri terseret ke dalam pergolakan antara baik dan buruk ini, Liong-li, karena sekali terseret, kita akan menjadi mangsanya. Kalau kita tetap sadar dan tidak terseret, akan nampaklah bahwa memang demikian keadaan hidup di dunia. Hidup berarti perjuangan, Liong-li, perjuangan menghadapi segala macam tantangan yang kita namakan persoalan. Seni kehidupan ini justeru menghadapi dan menanggulangi semua tantangan itu! Barulah hidup itu berarti.”

“Hemm, apakah kita tidak boleh mengharapkan untuk dapat hidup tenang?”

Pek-liong tertawa. “Tentu saja boleh, siapa yang dapat melarang seseorang untuk mengharapkan sesuatu yang baik? Akan tetapi harus menyadari bahwa justeru menginginkan sesuatu itulah pangkal tolak terjadinya hal yang bertentangan dengan yang diinginkan. Kalau kita menginginkan senang, sudah pasti kita bertemu pula dengan susah, kalau kita menginginkan ketenangan, sudah pasti kita bertemu dengan ketidak-tenangan. Keduanya itu tak terpisahkan. Keinginan adalah nafsu, dan nafsu pula penggerak semua hal yang saling bertentangan itu.”

“Aihh, kalau sudah bicara tentang kehidupan aku merasa seperti seorang anak kecil mendengarmu, Pek-liong. Aku mengaku bodoh dalam hal ini. Sukar bagiku untuk mengerti, kenapa di dunia ini demikian banyaknya orang jahat. Padahal, mereka yang jahat itu bukanlah orang bodoh, melainkan orang yang pintar dan mengerti. Kenapa mereka melakukan kejahatan? Sepatutnya, mereka yang pintar itu tahu bahwa kelakuan mereka itu tidak benar, mengakibatkan malapetaka bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Akan tetapi kenapa mereka melakukannya juga? Kalau mereka bodoh dan tidak mengerti, hal itu mudah dimaklumi. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang pandai dan pintar...”

“Liong-li, kenyataan itu tidak mengherankan. Manusia adalah mahluk yang amat ringkih dan lemah karena kuatnya nafsu yang menguasai diri. Nafsu daya rendah sudah mencengkeram kita, membonceng pada kita, pada setiap anggauta tubuh, bahkan menyusup ke dalam akal pikiran kita sehingga apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita ucapkan dan lakukan, semua itu dikendalikan oleh nafsu yang sifatnya hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri, diri yang sudah menjadi satu dengan nafsu.

“Kepintaran yang berada dalam otak tidak berdaya melawan nafsu. Tidak ada pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu tidak baik, tidak ada perampok yang tidak tahu bahwa merampok itu jahat. Setiap orang manusia tahu dan mengerti belaka melalui akal pikiran mereka bahwa melakukan segala macam bentuk kejahatan itu tidaklah baik. Namun, pengertian ini tidak dapat menghentikan nafsu yang mendorong kita melakukan kejahatan. Akal pikiran dapat menimbulkan penyesalan setelah kita melakukan perbuatan jahat, akan tetapi di lain saat, dorongan nafsu menang lagi dan kita didorong untuk mengulang kejahatan yang tadi disesalkan akal pikiran. Demikian seterusnya, maka tidak aneh kalau engkau melihat seorang yang pintar dan pandai melakukan kejahatan. Dia menyadari perbuatan itu tidak baik, namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu, bahkan akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu membela perbuatan jahat itu dengan bermacam dalih dan alasan untuk membenarkan atau setidaknya mengurangi keburukannya.”

Dalam hal ilmu silat dan kecerdikan akal, Liong-li memang termasuk seorang wanita yang jarang ditemui keduanya. Namun, begitu Pek-liong bicara tentang kehidupan, ia merasa bingung dan menyadari kekurangannya. Pek-liong-eng Tan Cin Hay memang sudah memiliki kesadaran akan kenyataan hidup seperti yang diterangkannya kepada Liong-li. Namun, dia sendiri belum tahu bagaimana agar dia dapat terbebas dari cengkeraman nafsu-nafsunya sendiri.

Seperti telah dikatakannya, pikiran dan semua ilmu pengetahuan dan kepintarannya, tidak dapat mencegah manusia dari perbuatan jahat dan sesat, karena akal pikiran tidak kuasa melawan pengaruh nafsu. Contohnya yang paling sederhana, semua orang yang kecanduan arak tahu belaka bahwa minum arak merupakan perbuatan yang amat tidak baik, merugikan diri sendiri, merusak badan merusak batin, dapat mengakibatkan orang menjadi mabok dan melakukan hal-hal yang jahat.

Semua peminum arak tahu dan mengerti akan hal ini. Akan tetapi apa daya! Pengertian itu tidak dapat menundukkan keinginan untuk minum arak, yaitu dorongan nafsu yang mendatangkan kesenangan! Kalaupun ada usaha akal pikiran yang sadar untuk menentang keinginan minum arak, maka pikiran itu sendiri yang dicengkeram nafsu menjadi pembela dengan bisikan bahwa minum sedikit tidak mengapa, bahwa minun arak adalah untuk keakraban pergaulan, bahkan minum arak amat baik untuk kesehatan dan sebagainya lagi!

Demikian selanjutnya, kalau dibesarkan seorang koruptor bukan tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik, namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu yang ingin mencari kesenangan melalui tindak korupsi. Akal pikirannya akan membela perbuatan itu dengan bisikan bahwa dia bukan sendirian, semua orang juga melakukan bahkan lebih besar lagi, atau bisikan bahwa dia membutuhkan uang untuk keluarga, bahwa dia terpaksa melakukannya, bahwa dia berhak melakukannya untuk imbalan jasanya, dan sebagainya lagi. Bahkan seorang pembunuh akan dibela oleh pikirannya bahwa dia membunuh karena terpaksa, karena dia tidak bersalah dan seribu satu macam alasan lagi untuk menghapus dosa atau setidaknya menguranginya.

Jelas bahwa nafsu menyeret kita ke dalam dosa. Maka, mungkin jutaan orang yang setelah melihat kenyataan ini lalu berusaha untuk mengalahkan nafsu, untuk mengendalikan nafsu dengan bermacam cara. Dengan samadhi, dengan bertapa, dengan penyiksaan diri, mengurangi makan tidur, memaksa diri tidak melakukan segala macam keinginan, bahkan tidak memenuhi kebutuhan badan, dan segala macam cara lagi hanya dengan maksud agar dapat menguasai, mengalahkan dan mengendalikan nafsu, bahkan ada yang berniat untuk mematikan nafsu.

Betapa kenyataan menunjukkan kegagalan semua usaha ini! Nafsu yang dikekang dengan paksa, seperti api yang ditutup sekam, nampaknya saja padam akan tetapi sebetulnya membara di sebelah dalam dan kalau mendapat kesempatan, tertiup sedikit saja lalu berkobar! Semua usaha itu hanya merupakan keinginan untuk mencapai sesuatu, dan keinginan ini justeru hasil kerja dari nafsu!

Nafsu melihat betapa menuruti nafsu mendatangkan akibat yang tidak menyenangkan, maka nafsu lalu mendorong timbulnya keinginan untuk mengekang nafsu! Tentu agar tidak lagi dilanda akibat yang tidak menyenangkan tadi. Karena itu gagal. Mana mungkin nafsu mengekang nafsu, api memadamkan api?

Nafsu merupakan anugerah bagi kita. Nafsu merupakan bahan bakar yang menggerakkan kendaraan tubuh jasmani ini. Tanpa nafsu, pergerakan ini akan macet dan mati. Segala macam kenikmatan dalam hidup ini adalah berkat adanya nafsu. Yang kita kenal sebagai yang enak, yang merdu, yang indah, yang nyaman dan segala macam keadaan yang menyenangkan, adalah berkat adanya nafsu. Nafsu mutlak penting untuk hidup.

Tuhan Maha Bijaksana. Menyertakan nafsu kepada kita pasti ada hikmahnya, ada manfaatnya, bukan untuk dijadikan penggoda. Akan tetapi, nafsu dapat pula menjadi pembujuk yang menyeret kita ke dalam lumpur dosa. Bukan salah nafsu, melainkan salah kita sendiri. Nafsu ibarat api, tergantung kita yang mengaturnya, sesuai dengan kebutuhan hidup. Kalau dibiarkan merajalela, api akan membakar segalanya, seperti nafsu akan melahap segalanya.

Lalu bagaimana? Dibiarkan berkuasa, kita dijerumuskan dalam jurang kesengsaraan. Dimatikan, tidak mungkin, dikendalikan juga amatlah sukarnya. Lalu bagaimana? Demikianlah pertanyaan abadi yang dicari jawabannya oleh semua manusia di dunia.

Kalau akal pikiran sudah tidak mampu bekerja lagi untuk menemukan jawabannya, maka seyogianya kita kembali kepada sumber, kepada asal. Nafsu diikutsertakan kepada kita oleh Kekuasaan Tuhan Maha Pencipta! Karena itu, untuk menghadapinya, kita kembalikan kepada Kekuasaan Tuhan. Kita menyerahkan kepada Tuhan karena hanya kekuasaan Tuhan jualah yang akan mampu menjinakkan nafsu yang meliar. Menyerah, pasrah dengan sabar, dengan ikhlas, dengan tawakal kepada Tuhan!

Ini merupakan suatu kewaspadaan yang pasip, kewaspadaan tanpa pamrih, dilandasi penyerahan. Tanpa adanya keinginan, tanpa adanya pamrih, berarti tidak memberi umpan kepada api nafsu. Segala macam keinginan, bahkan keinginan untuk menghentikan atau mengendalikan nafsu, justeru menjadi umpan atau bahan bakar bagi api nafsu, mempertahankan kelangsungan hidupnya


********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Malam itu hawanya dingin menyusup tulang. Langit cerah oleh cahaya bulan dan awan berkumpul jauh di barat, membuat cahaya bulan dengan bebasnya memandikan permukaan bukit Hitam. Suasana mencekam. Kalau Pek-liong dan Liong-li, siang tadi mengatur siasat mereka, pihak lawan merekapun tidak tingggal diam. Penyerbuan yang dilakukan Liong-li dan para pembantunya cukup menggegerkan, apa lagi setelah timbul kekacauan karena penyerangan anak panah berapi yang mengakibatkan kebakaran.

Biarpun mereka berhasil membunuh dua orang anak buah Liong-li, namun merekapun kehilangan banyak anak buah. Dan bukan para pembantu Liong-li dan Pek-liong yang mereka kehendaki, melainkan sepasang naga itu sendiri. Mereka kini dapat menduga siapa yang menghujankan anak panah berapi, karena di antara para penjaga ada yang sempat melihat berkelebatnya bayangan pria dari arah datangnya anak panah berapi, Siapa lagi kalau bukan Pek-liong-eng, pikir tiga orang datuk itu.

“Pek-liong-eng sudah datang, kini lengkaplah sudah. Hek-liong-li dan Pek-liong-eng sudah datang dan agaknya mereka membawa para pembantu mereka,” kata Ang I Sian-li. Suaranya membayangkan ketegangan karena selain gembira akan dapat melaksanakan dendamnya, juga diam-diam ia merasa gentar juga menghadapi Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.

“Liong-li telah kehilangan dua orang pembantunya. Tinggal tujuh orang lagi pembantunya, dan Pek-liong mempunyai enam orang pembantu. Kita harus mengadakan persiapan. Mereka pasti akan berusaha untuk membebaskan tawanan kita,” kata Pek-bwe Coa-ong yang memimpin gerombolan pendendam itu.

“Mereka itu membikin repot saja. Setelah Pek-liong dan Liong-li datang, apakah tidak lebih baik kalau kita bunuh saja empat orang tawanan itu?" Kim Pit Siu-cai mengajukan usul.

“Ah, engkau keliru sekali, Siu-cai!” cela Pek-bwe Coa-ong. “Apa gunanya membunuh mereka? Malah.merugikan sekali, merusak rencana siasat kita. Mereka adalah umpan untuk memancing datangnya Pek-liong dan Liong-li. Kalau umpannya kita hilangkan, tentu ikannya tidak akan tertarik lagi dan tidak dapat kita pancing. Justeru Pek-liong dan Liong-li bernapsu untuk datang adalah karena adanya empat orang tawanan itu. Kalau mereka dibunuh, tentu Pek-liong dan Liong-li tidak begitu bodoh untuk membahayakan diri memasuki tempat ini. Kita bahkan harus menambah daya tarik umpan kita. Lepaskan mereka dari belenggu dan biarkan mereka berada di luar karena malam ini mereka pasti akan muncul di sini!”

Tiga orang datuk itu mengatur siasat untuk menjaga segala kemungkinan. Yang menjadi sasaran utama adalah hadirnya Pek-liong dan Liong-li di dalam sarang mereka. Kalau dua orang musuh besar itu sudah berhadapan dengan mereka, maka mereka yakin akan mampu mengalahkan sepasang musuh besar itu. Anak buah mereka hanya akan menghadapi para pembantu Pek-liong dan Liong-li.

Pek-bwe Coa-ong dan dua orang rekannya juga memperhitungkan kemungkinan berulangnya serangan anak panah berapi. Akan tetapi mereka tidak khawatir. Andaikata sarang mereka terbakar seluruhnya, bangunan itu hanya bangunan darurat. Mereka rela kehilangan semua bangunan itu asalkan mereka dapat menangkap atau membunuh Liong-li dan Pek-Iiong.

Penjagaan diatur dan diam-diam Pek-bwe Coa-ong sudah memasang barisan pendam di luar sarang, untuk menyerang anak buah Pek-liong dan Liong-li kalau mereka menyerang dengan anak panah berapi atau kalau muncul di sekitar sarang itu. Ini juga merupakan pancingan seolah-olah anak buah mereka meninggalkan sarang sehingga mendorong dua orang musuh itu untuk berani memasuki sarang, apa lagi kalau empat orang tawanan itu mereka biarkan berada di luar kamar tahanan.

Song Tek Hin dan isterinya, Su Hong Ing merasa lega ketika mereka dibebaskan dari ikatan kaki tangan mereka dan digiring oleh belasan orang pengawal keluar dari kamar tahanan. Semalam suami isteri ini mendengar keributan yang timbul karena kebakaran di sana sini.

Mereka mendengar teriakan-teriakan kebakaran dan hati mereka merasa gembira bercampur tegang dan cemas. Gembira karena mereka dapat menduga bahwa tentu Pek-liong dan Liong-li sudah datang untuk menolong mereka, akan tetapi juga tegang dan cemas karena mereka khawatir sekali sepasang pendekar yang mereka hormati dan sayangi itu akan terperangkap oleh pihak musuh yang licik, cerdik dan lihai.

Ketika suami isteri ini tiba di luar, di bawah sinar lampu gantung yang mendatangkan cahaya remang-remang, mereka melihat betapa kakak beradik Kam juga sudah berada di luar. Kam Sun Ting dan adiknya, Kam Cian Li, tidak lagi dibelenggu dan mereka berdua duduk di atas bangku di ruangan depan bangunan yang tadinya menjadi tempat tahanan, nampak jelas dari luar karena di ruangan itu dipasangi lampu-lampu gantung yang terang. Di tempat itu nampak pula banyak penjaga yang mengepung.

Ketika suami isteri itu disuruh duduk pula di ruangan itu, merekapun duduk dan hanya saling pandang dengan kakak beradik itu. Agaknya mereka berempat memang sengaja dikumpulkan di situ dan mereka dapat menduga bahwa hal ini dilakukan oleh para pemimpin gerombolan agar mereka dapat menarik perhatian Pek-liong dan Liong-li untuk masuk ke tempat itu dan berusaha menolong mereka. Diam-diam mereka merasa tidak enak dan menyesal, merasa seperti menjadi umpan yang akan mencelakakan dua orang pendekar yang mereka sayang dan hormati.

“Kita dijadikan umpan di tempat terbuka ini,” bisik Song Tek Hin kepada isterinya dan kakak beradik Kam ketika mereka duduk di atas bangku mengelilingi sebuah meja. Tidak ada penjaga yang mendekati mereka. Para penjaga itu mengepung rumah tahanan dengan ketat.

“Song-toako, aku merasa tidak enak sekali kalau sampai Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolong kita,” kata Kam Sun Ting yang telah akrab dengan suami isteri itu selama mereka berempat menjadi tawanan di situ.

“Bagaimana kalau kita melarikan diri saja sebelum mereka berdua terjebak di sini?” kata Kam Cian Li.

“Bagaimana caranya?” Su Hong Ing, isteri Song Tek Hin, bertanya, memandang ke sekeliling di mana terdapat sedikitnya tigapuluh orang yang nampak melakukan pengepungan. “Tempat ini terkepung rapat!”

“Tidak perduli, kita terjang saja keluar dan melawan mati-matian” kata Kam Cian Li dengan nekat. “Apa lagi enci Hong Ing dan Song-toako memiliki ilmu silat yang tangguh. Takut apa?”

Song Tek Hin tersenyum. “Kita tentu saja tidak takut. Akan tetapi, berusaha melarikan diri seperti itu hanya membuang tenaga sia-sia belaka. Selain kita dikepung oleh puluhan orang anak buah gerombolan, juga kalau seorang saja di antara tiga datuk itu keluar, kita tidak akan mampu berkutik. Mereka itu bukan lawan kita.”

“Aku tidak perduli,” kata Kam Cian Li nekat. “Lebih baik aku mati dikeroyok dari pada harus melihat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolongku di sini!”

“Li-moi, tidak bijaksana kalau kita mati konyol begitu saja. Kalau kita melakukan kenekatan berarti kita membunuh diri. Dan kalau sampai terjadi kita mati konyol begitu, bukankah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li akan merasa kecewa dan menyesal sekali? Mereka bersusah-payah berusaha menolong kita, bahkan kemarin telah ada dua orang pembantu Hek-liong-li yang tewas dalam usaha mereka menolong kita, dan kita malah membunuh diri!” kata Kam Sun Ting menegur adiknya yang kini tak dapat menahan mengalirnya air mata dari kedua matanya.

“Akan tetapi, koko! Bagaimana mungkin aku berdiam saja di sini melihat mereka berdua terjebak dan mendapat bencana karena aku?” adiknya membantah.

“Tentu saja kita harus berusaha, akan tetapi usaha itu bukan bunuh diri. Kita harus berusaha melarikan diri, akan tetapi menggunakan cara yang tepat dan menanti kesempatan yang baik, bukan asal nekat saja. Aku yakin bahwa saat ini Pek-liong-eng dan Hek-liong-li juga sedang menanti kesempatan untuk menyerbu ke sini. Nah, kalau terjadi keributan, kalau mereka menyerbu ke sini kita harus menggunakan kesempatan itu untuk lari ke arah sungai yang mengalir di bagian barat sarang gerombolan ini.”

“Ke arah sungai? Kenapa ke sungai dan bukan berusaha keluar dari kepungan dan dari sarang gerombolan ini?” tanya Song Tek Hin heran. “Kalau kita berempat mengamuk, sedangkan tiga orang datuk sibuk menyambut Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kiraku kita berempat akan mampu membobolkan pengepungan mereka. Tentu saja diharapkan keempat orang Thai-san Ngo-kwi juga tidak menghalangi kita.”

“Begini, Song-toako,” kata Kam Sun Ting. “Kurasa, akan percuma saja kalau kita nekat melawan mereka. Engkau dan isterimu saja yang memiliki ilmu silat tinggi masih tidak mampu menandingi mereka, apa lagi kami berdua yang hanya mengerti sedikit ilmu silat. Andaikata kita bisa lolos dari sarang mereka ini, mereka akan melakukan pengejaran dan kita yang belum mengenal daerah bukit ini tentu akan tersesat dan tentu akan tertawan kembali. Karena itu, aku mengajurkan agar kita lari ke sungai saja.”

“Akan tetapi mau apa kita ke sungai? Apakah kita dapat lolos dari pengejaran mereka kalau kita lari ke sungai?” tanya Su Hong Ing penasaran.

“Begini, enci Hong Ing, setelah koko menyatakan pendapatnya, baru aku tahu bahwa memang sungai itulah satu-satunya jalan bagi kita untuk menyelamatkan diri dan tidak menyeret Pek-liong-eng dan Hek-liong-li ke dalam bahaya.”

“Sebetulnya, apa yang kalian maksudkan?” tanya Su Hong Ing.

“Apakah kalian sudah menyediakan perahu di sungai itu untuk kita pakai melarikan diri?” tanya pula suaminya.

Kam Sun Ting menoleh ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka berempat yang dapat mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan dengan suara lirih, diapun memberi penjelasan.

“Melarikan diri dengan perahu akan percuma. Akan tetapi kami berdua memiliki keahlian di dalam air. Kami dahulu bekerja sebagai penyelam-penyelam dan begitu kami berdua dapat terjun ke dalam sungai, mereka pasti tidak akan menemukan kami lagi. Dengan cara menyelam kami dapat melarikan diri. Karena itu, kalau keadaan di sini kacau seperti kemarin malam misalnya, dan semua orang sibuk dan panik menghadapi serbuan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kita berempat dapat melarikan diri ke sungai dan selanjutnya kita terjun ke air dan menghilang.”

“Akan tetapi aku tidak dapat renang!” kata Cu Hong Ing.

“Dan akupun hanya dapat berenang biasa saja!” sambung suaminya.

“Kami dapat membantu, enci Hong Ing,” kata Kam Cian Li. “kalau aku menggunakan tali ikat pinggang dan engkau memegangi tali itu, lalu menahan napas, maka aku akan menarikmu dan membantumu melarikan diri sambil menyelam. Dan koko akan membantu Song-toako.”

Suami isteri itu saling pandang dan mengangguk-angguk. Agaknya memang jalan itu yang terbaik. Kalau hanya bertahan napas, mereka tentu kuat karena mereka sudah mempelajari banyak latihan pernapasan untuk memperkuat diri. Melihat empat orang tawanan itu bicara berbisik-bisik, Ngo-kwi, orang ke lima dari Thai- san Ngo-kwi, berjalan santai menghampiri mereka dan berjalan-jalan dekat mereka. Matanya yang galak itu mengerling secara kurang ajar kepada Su Hong Ing dan Kam Cian Li, mulutnya tersenyum mengejek...

Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 13

AKAN tetapi, semua orang di atas perahu besar itu melihat betapa pengail tua itu menggerakkan batang kailnya dan tali kail itu menyambar ke arah anak-anak panah sehingga kedua batang anak panah itu tertangkap di ujung tali kail. Dia mengangkat kailnya dan memandang dua batang anak panah yang terkait atau terlibat itu, tertawa dan berkata dengan suara lirih, namun karena digerakkan dengan khi-kang maka terdengar jelas oleh mereka yang berada di perahu besar.

“Ha-ha-ha, di perahu besar diadakan pesta makan enak, di perahu kecil aku hanya mendapatkan dua batang anak panah. Mengail ikan mendapatkan anak panah, sungguh sungai yang aneh!”

Mendengar ejekan ini, tujuh orang pembantu Liong-li memandang marah, akan tetapi Liong-li tersenyum. “Ang-hwa dan Pek-hwa, aku memaafkan kelengahan kalian berdua. Tentu saja kalian tidak tahu kalau Pek-liong yang membayangi kalian!”

“Dia... dia... Pek-liong-eng...?” Para pembantu itu berseru lirih.

Liong-li berdiri di tepi perahu dan menjenguk ke bawah, lalu berkata sambil tersenyum. “Pengail tua, kami mengundangmu untuk ikut makan enak, naiklah ke sini!”

Pengail tua yang bukan lain adalah Pek-li-ong itu, menoleh, tersenyum dan berkata, “Terima kasih!” Dia mendayung perahunya mendekat, tangga diturunkan dan diapun naik ke atas perahu besar, disambut oleh Liong-li dengan senyum gembira dan mereka segera memasuki bilik perahu.

Setelah duduk berhadapan dan Pek-liong menanggalkan capingnya, mereka saling pandang sampai beberapa menit lamanya, tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi dua pasang mata itu saling tatap dan dari sinar mata mereka seolah mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing.

“Liong-li, aku merasa ikut prihatin melihat engkau kehilangan dua orang pembantumu.” Pek-liong akhirnya berkata dengan suara serius.

Liong-li menghela napas panjang. “Sekali ini, kita tidak menghadapi ancaman yang main-main dan boleh dipandang ringan. Agaknya Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong. bekerja sama dan mati-matian mereka menyusun kekuatan untuk menghancurkan kita.”

Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka diganggu anak buah musuh di rumah masing-masing sampai mereka menerima surat dari sahabat-sahabat mereka yang telah ditawan oleh pihak musuh. Liong-li menceritakan pula tentang tewasnya Bunga Biru dan Bunga Hijau dan tentang tekad sisa pembantunya yang masih tujuh orang itu untuk membantunya menghadapi gerombolan musuh dengan taruhan nyawa. Ketika tiba giliran Pek-liong menceritakan pengalamannya, pendekar ini menceritakan pula tentang Cian Hui dan Cu Sui In.

“Mereka, gerombolan musuh itu, telah mencoba pula untuk menawan Cian Ciang-kun dan isterinya. Bahkan Pek-bwe Coa-ong sendiri yang turun tangan memimpin anak buahnya untuk menculik Cian Hui dan Cu Sui In, akan tetapi untung sekali bahwa Cian Ciang-kun amat cerdik dan telah mencurigai pihak musuh. Dia telah mempersiapkan pasukan sehingga ketika dia dan isterinya akan diculik, pasukannya menerjang dan gerombolan itupun melarikan diri.”

Liong-li merasa kagum. “Cian Ciang-kun memang seorang yang cerdik sekali.”

“Ya, dan diapun menawarkan diri untuk membantu kita menghadapi gerombolan dengan mengerahkan pasukan. Akan tetapi tawaran itu kutolak. Aku tidak ingin melihat dia terlibat, apa lagi sampai terancam bahaya kalau dia membantu kita. Tiga orang datuk sisa Kiu Lo-mo itu mempunyai dendam dan perhitungan dengan kita berdua, maka tidak pantaslah kalau kita sampai melibatkan Cian Ciang-kun dan membuat dia dan isterinya terancam bahaya..."

Liong-li menjulurkan tangannya ke seberang meja dan menangkap tangan kanan pendekar itu. Liong-li memandang kagum. Rekannya ini selalu memikirkan kepentingan orang lain! Betapa bijaksananya. Pek-liong dapat merasakan isi hati Liong-li dan diapun membalas dengan memegang tangan pendekar itu.

“Liong-li, sekali ini kita harus berhati-hati. Pihak musuh amat lihai, juga amat cerdik di samping mereka mempunyai banyak anak buah. Kita harus mencari akal untuk lebih dahulu membebaskan kakak beradik Kam dan Song Tek Hin bersama isterinya.”

“Engkau benar, Pek-liong. Mereka ditawan karena kita, maka kita harus dapat menolong mereka sebelum kita hadapi tiga orang datuk itu untuk membuat perhitungan sampai tuntas.”

Pada saat itu terdengar ketukan perlahan di pintu ruangan. Mereka menoleh dan melihat Ang-hwa berdiri di ambang pintu.

“Maafkan saya, Li-hiap, Tai-hiap, kalau saya mengganggu. Akan tetapi masakan itu akan menjadi dingin kalau tidak segera dihidangkan.”

Pek-liong dan Liong-li saling pandang lalu tertawa. “Baik, bawa masuk hidangan itu dan karena sekarang kita semua sedang berjuang, maka untuk sementara ini kalian adalah kawan-kawan seperjuangan. Kalian semua boleh menemani kami berdua makan minum,” kata Liong-li dan ajakan itu disambut dengan gembira oleh tujuh orang pembantunya.

Mereka adalah pembantu-pembantu dan pelayan yang setia, akan tetapi juga amat mengagumi, menghormati dan menyayang Liong-li, maka diajak makan semeja ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagi mereka. Apa lagi di situ terdapat pula Pek-liong-eng yang mereka kagumi. Sayang enam orang pembantu Pek-liong tidak ikut makan minum pula, pikir mereka. Kalau ada enam orang pembantu Pek-liong, lengkaplah sudah pasukan mereka! Sehabis makan, Pek-liong dan Liong-li melanjutkan perundingan mereka untuk mengatur siasat.

“Keadaan sarang mereka kuat sekali, akan sukar ditembus kalau kita menggunakan kekerasan saja, Pek-liong,” kata Liong-li.

“Engkau benar, akupun sudah melakukan penyelidikan. Selain mereka melakukan penjagaan kuat, agaknya empat orang sahabat kita itupun dikeram dalam rumah tahanan dan tentu dijaga kuat. Berusaha menyusup ke sana sama saja dengan membiarkan diri terperosok ke dalam jebakan.”

“Pek-liong, bagaimanapun juga, kita harus membebaskan mereka. Mari kita mencari siasat yang paling baik. Bagaimana menurut pendapatmu? Akal apa yang harus kita pergunakan?”

“Liong-li, biasanya engkau yang mendapatkan akal, bukan aku. Karena itu, pertanyaanmu itu ku kembalikan kepadamu dan aku siap mendengar pendapatmu.”

Mereka saling pandang, penuh pengertian dan keduanya tertawa. Mereka berdua itu sudah sehati dan sejalan saling pandang saja cukup untuk membuat mereka dapat menjenguk isi hati masing-masing. Mereka saling menghargai, saling mengagumi dan saling menyayang, maka selalu saling merendahkan diri untuk membiarkan yang lain menonjol.

“Kita tuliskan saja akal kita masing-masing lalu kita membuat perbandingan. Dengan demikian, tidak ada yang menjadi orang pertama dan orang kedua. Bagaimana?”

“Setuju, akan kutuliskan akal dan pendapatku itu di atas meja ini,” kata Pek-liong yang segera membuat guratan dengan kuku jari telunjuk kanannya ke atas meja sambil menutupinya dengan tangan kiri. Liong-li yang tersenyum juga melakukan hal yang sama.

Mereka selesai dalam saat yang bersamaan pula dan sambil saling pandang, keduanya membuka tangan kiri yang menutupi guratan pada papan meja di depan masing-masing. Keduanya memandang tulisan itu dan keduanya tertawa gembira. Dalam keadaan seperti itu, lupalah mereka akan ancaman mereka. Ternyata guratan di depan masing-masing itu hanya sebuah huruf yang sama, yaitu huruf

“API.” Betapa sama jalan pikiran mereka. Dalam saat yang genting dan gawat itupun mereka mempunyai akal yang sama.

“Tepat sekali, Liong-li. Hanya ini satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat menyelundup masuk dan berusaha membebaskan empat orang sahabat kita itu,” kata Pek-liong sambil menekan dengan jarinya menghapus guratan di depannya. Hal yang sama dilakukan oleh Liong-li.

“Begitu melihat caramu menolong kami dari kepungan musuh semalam, akupun tahu bahwa api merupakan satu-satunya cara untuk menyerang musuh yang sarangnya demikian kuat, Pek-liong. Akan tetapi, itu hanya kita lakukan untuk mengacaukan mereka. Mungkin dalam kekacauan itu kita dapat menyelundup masuk, akan tetapi mengajak empat orang sahabat kita lolos dari sana, itu merupakan hal lain yang jauh lebih sukar.”

“Liong-li, tentu engkau pernah melakukan penelitian terhadap sarang itu dari puncak bukit, bukan? Dan engkau tentu melihat bahwa ada sebuah anak sungai mengalir melalui sebelah dalam perkampungan gerombolan itu!”

Liong-li mengerutkan alisnya, menunduk dan menggosok-gosok hidungnya dengan jari tangan, tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya. Kemudian ia mengangkat muka memandang kepada Pek-liong dengan wajah berseri. “Anak Sungai...? Anak sungai, air dan... ada kakak beradik Kam di sana! Ah, aku mengerti, Pek-liong, dan memang tepat sekali!”

Pek-liong mengangguk dan tersenyum kagum. “Ada air, ada kakak beradik Kam, dan pelarian mereka berempat itu akan dapat dilakukan dengan mudah tanpa terlalu membahayakan mereka.”

Mereka lalu mengatur siasat. Dua buah otak yang amat cerdas itu dikerjakan dengan cermat sehingga mereka dapat menyusun rencana siasat yang akan mereka laksanakan malam nanti. Mereka lalu bercakap-cakap melepas rindu dan pertemuan antara mereka sekali ini terasa lain dari pada pertemuan yang sudah-sudah. Sekali ini mereka sama-sama menyadari bahwa keadaan mereka yang saling berpisah dan berjauhan itu membuat mereka tidak lengkap, mudah diserang musuh dan hidup terasa timpang.

“Pek-liong, lama-lama aku menjadi bosan juga. Rasanya semenjak aku menguasai ilmu silat, tiada hentinya aku terlibat permusuhan dengan orang-orang kang-ouw dan terutama dengan golongan sesat. Hemm, entah kapan hidup ini dapat kunikmati dengan tenteram dan penuh damai..."

Mendengar ucapan itu dan melihat betapa wanita yang cantik jelita itu duduk termenung dengan pandang mata yang biasanya mencorong itu kini agak sayu, mulut yang biasanya penuh senyum cerah itu agak cemberut, tangan kiri bertopang dagu. Pek-liong tersenyum lebar dan hatinya merasa geli, walaupun ucapan itu membuat dia terkejut karena akhir-akhir ini dia juga mempunyai perasaan yang serupa!

“Liong-li, kiranya tidak perlu kita mengeluh. Pada saat kita mempelajari ilmu silat, kita sudah terlibat dan tergelincir masuk ke dalam dunia kekerasan. Masih untung bagi kita bahwa kita berdiri di pihak yang membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas, menentang yang jahat sewenang-wenang sehingga tidak percuma kita mempelajari ilmu silat, dapat dipergunakan untuk hidup yang benar sebagai seorang ahli silat.”

“Akan tetapi, Pek-liong, apakah kalau tidak pandai ilmu silat lalu tidak ada persoalan? Aih, sebelum pandai silat dahulu, aku malah menderita hebat sebagai korban kejahatan. Di mana-mana terdapat orang jahat, di mana-mana terdapat kesengsaraan, di samping kebaikan yang hanya sedikit, di dunia.ini agaknya kejahatan yang memegang peran penting dalam segala lapangan. Di antara sepuluh orang, mungkin hanya dua yang baik dan delapan yang jahat, hanya dua yang kaya dan delapan yang miskin, dua yang pandai dan delapan yang bodoh.”

“Itu sudah merupakan keadaan kehidupan manusia di dunia, Liong-li. Kenapa mesti dipersoalkan? Baik dan buruk sudah menjadi pasangannya, seperti ada siang tentu ada malam, ada atas ada bawah, ada kanan ada kiri. Kalau tidak ada susah di dunia ini, mana mungkin kita mengenal senang? Kalau tidak ada yang dinamakan jahat di dunia ini, mana mungkin kita tahu apa itu yang dinamakan baik? Sebaiknya kita tidak membiarkan diri terseret ke dalam pergolakan antara baik dan buruk ini, Liong-li, karena sekali terseret, kita akan menjadi mangsanya. Kalau kita tetap sadar dan tidak terseret, akan nampaklah bahwa memang demikian keadaan hidup di dunia. Hidup berarti perjuangan, Liong-li, perjuangan menghadapi segala macam tantangan yang kita namakan persoalan. Seni kehidupan ini justeru menghadapi dan menanggulangi semua tantangan itu! Barulah hidup itu berarti.”

“Hemm, apakah kita tidak boleh mengharapkan untuk dapat hidup tenang?”

Pek-liong tertawa. “Tentu saja boleh, siapa yang dapat melarang seseorang untuk mengharapkan sesuatu yang baik? Akan tetapi harus menyadari bahwa justeru menginginkan sesuatu itulah pangkal tolak terjadinya hal yang bertentangan dengan yang diinginkan. Kalau kita menginginkan senang, sudah pasti kita bertemu pula dengan susah, kalau kita menginginkan ketenangan, sudah pasti kita bertemu dengan ketidak-tenangan. Keduanya itu tak terpisahkan. Keinginan adalah nafsu, dan nafsu pula penggerak semua hal yang saling bertentangan itu.”

“Aihh, kalau sudah bicara tentang kehidupan aku merasa seperti seorang anak kecil mendengarmu, Pek-liong. Aku mengaku bodoh dalam hal ini. Sukar bagiku untuk mengerti, kenapa di dunia ini demikian banyaknya orang jahat. Padahal, mereka yang jahat itu bukanlah orang bodoh, melainkan orang yang pintar dan mengerti. Kenapa mereka melakukan kejahatan? Sepatutnya, mereka yang pintar itu tahu bahwa kelakuan mereka itu tidak benar, mengakibatkan malapetaka bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Akan tetapi kenapa mereka melakukannya juga? Kalau mereka bodoh dan tidak mengerti, hal itu mudah dimaklumi. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang pandai dan pintar...”

“Liong-li, kenyataan itu tidak mengherankan. Manusia adalah mahluk yang amat ringkih dan lemah karena kuatnya nafsu yang menguasai diri. Nafsu daya rendah sudah mencengkeram kita, membonceng pada kita, pada setiap anggauta tubuh, bahkan menyusup ke dalam akal pikiran kita sehingga apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita ucapkan dan lakukan, semua itu dikendalikan oleh nafsu yang sifatnya hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri, diri yang sudah menjadi satu dengan nafsu.

“Kepintaran yang berada dalam otak tidak berdaya melawan nafsu. Tidak ada pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu tidak baik, tidak ada perampok yang tidak tahu bahwa merampok itu jahat. Setiap orang manusia tahu dan mengerti belaka melalui akal pikiran mereka bahwa melakukan segala macam bentuk kejahatan itu tidaklah baik. Namun, pengertian ini tidak dapat menghentikan nafsu yang mendorong kita melakukan kejahatan. Akal pikiran dapat menimbulkan penyesalan setelah kita melakukan perbuatan jahat, akan tetapi di lain saat, dorongan nafsu menang lagi dan kita didorong untuk mengulang kejahatan yang tadi disesalkan akal pikiran. Demikian seterusnya, maka tidak aneh kalau engkau melihat seorang yang pintar dan pandai melakukan kejahatan. Dia menyadari perbuatan itu tidak baik, namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu, bahkan akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu membela perbuatan jahat itu dengan bermacam dalih dan alasan untuk membenarkan atau setidaknya mengurangi keburukannya.”

Dalam hal ilmu silat dan kecerdikan akal, Liong-li memang termasuk seorang wanita yang jarang ditemui keduanya. Namun, begitu Pek-liong bicara tentang kehidupan, ia merasa bingung dan menyadari kekurangannya. Pek-liong-eng Tan Cin Hay memang sudah memiliki kesadaran akan kenyataan hidup seperti yang diterangkannya kepada Liong-li. Namun, dia sendiri belum tahu bagaimana agar dia dapat terbebas dari cengkeraman nafsu-nafsunya sendiri.

Seperti telah dikatakannya, pikiran dan semua ilmu pengetahuan dan kepintarannya, tidak dapat mencegah manusia dari perbuatan jahat dan sesat, karena akal pikiran tidak kuasa melawan pengaruh nafsu. Contohnya yang paling sederhana, semua orang yang kecanduan arak tahu belaka bahwa minum arak merupakan perbuatan yang amat tidak baik, merugikan diri sendiri, merusak badan merusak batin, dapat mengakibatkan orang menjadi mabok dan melakukan hal-hal yang jahat.

Semua peminum arak tahu dan mengerti akan hal ini. Akan tetapi apa daya! Pengertian itu tidak dapat menundukkan keinginan untuk minum arak, yaitu dorongan nafsu yang mendatangkan kesenangan! Kalaupun ada usaha akal pikiran yang sadar untuk menentang keinginan minum arak, maka pikiran itu sendiri yang dicengkeram nafsu menjadi pembela dengan bisikan bahwa minum sedikit tidak mengapa, bahwa minun arak adalah untuk keakraban pergaulan, bahkan minum arak amat baik untuk kesehatan dan sebagainya lagi!

Demikian selanjutnya, kalau dibesarkan seorang koruptor bukan tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik, namun tidak kuasa menolak dorongan nafsu yang ingin mencari kesenangan melalui tindak korupsi. Akal pikirannya akan membela perbuatan itu dengan bisikan bahwa dia bukan sendirian, semua orang juga melakukan bahkan lebih besar lagi, atau bisikan bahwa dia membutuhkan uang untuk keluarga, bahwa dia terpaksa melakukannya, bahwa dia berhak melakukannya untuk imbalan jasanya, dan sebagainya lagi. Bahkan seorang pembunuh akan dibela oleh pikirannya bahwa dia membunuh karena terpaksa, karena dia tidak bersalah dan seribu satu macam alasan lagi untuk menghapus dosa atau setidaknya menguranginya.

Jelas bahwa nafsu menyeret kita ke dalam dosa. Maka, mungkin jutaan orang yang setelah melihat kenyataan ini lalu berusaha untuk mengalahkan nafsu, untuk mengendalikan nafsu dengan bermacam cara. Dengan samadhi, dengan bertapa, dengan penyiksaan diri, mengurangi makan tidur, memaksa diri tidak melakukan segala macam keinginan, bahkan tidak memenuhi kebutuhan badan, dan segala macam cara lagi hanya dengan maksud agar dapat menguasai, mengalahkan dan mengendalikan nafsu, bahkan ada yang berniat untuk mematikan nafsu.

Betapa kenyataan menunjukkan kegagalan semua usaha ini! Nafsu yang dikekang dengan paksa, seperti api yang ditutup sekam, nampaknya saja padam akan tetapi sebetulnya membara di sebelah dalam dan kalau mendapat kesempatan, tertiup sedikit saja lalu berkobar! Semua usaha itu hanya merupakan keinginan untuk mencapai sesuatu, dan keinginan ini justeru hasil kerja dari nafsu!

Nafsu melihat betapa menuruti nafsu mendatangkan akibat yang tidak menyenangkan, maka nafsu lalu mendorong timbulnya keinginan untuk mengekang nafsu! Tentu agar tidak lagi dilanda akibat yang tidak menyenangkan tadi. Karena itu gagal. Mana mungkin nafsu mengekang nafsu, api memadamkan api?

Nafsu merupakan anugerah bagi kita. Nafsu merupakan bahan bakar yang menggerakkan kendaraan tubuh jasmani ini. Tanpa nafsu, pergerakan ini akan macet dan mati. Segala macam kenikmatan dalam hidup ini adalah berkat adanya nafsu. Yang kita kenal sebagai yang enak, yang merdu, yang indah, yang nyaman dan segala macam keadaan yang menyenangkan, adalah berkat adanya nafsu. Nafsu mutlak penting untuk hidup.

Tuhan Maha Bijaksana. Menyertakan nafsu kepada kita pasti ada hikmahnya, ada manfaatnya, bukan untuk dijadikan penggoda. Akan tetapi, nafsu dapat pula menjadi pembujuk yang menyeret kita ke dalam lumpur dosa. Bukan salah nafsu, melainkan salah kita sendiri. Nafsu ibarat api, tergantung kita yang mengaturnya, sesuai dengan kebutuhan hidup. Kalau dibiarkan merajalela, api akan membakar segalanya, seperti nafsu akan melahap segalanya.

Lalu bagaimana? Dibiarkan berkuasa, kita dijerumuskan dalam jurang kesengsaraan. Dimatikan, tidak mungkin, dikendalikan juga amatlah sukarnya. Lalu bagaimana? Demikianlah pertanyaan abadi yang dicari jawabannya oleh semua manusia di dunia.

Kalau akal pikiran sudah tidak mampu bekerja lagi untuk menemukan jawabannya, maka seyogianya kita kembali kepada sumber, kepada asal. Nafsu diikutsertakan kepada kita oleh Kekuasaan Tuhan Maha Pencipta! Karena itu, untuk menghadapinya, kita kembalikan kepada Kekuasaan Tuhan. Kita menyerahkan kepada Tuhan karena hanya kekuasaan Tuhan jualah yang akan mampu menjinakkan nafsu yang meliar. Menyerah, pasrah dengan sabar, dengan ikhlas, dengan tawakal kepada Tuhan!

Ini merupakan suatu kewaspadaan yang pasip, kewaspadaan tanpa pamrih, dilandasi penyerahan. Tanpa adanya keinginan, tanpa adanya pamrih, berarti tidak memberi umpan kepada api nafsu. Segala macam keinginan, bahkan keinginan untuk menghentikan atau mengendalikan nafsu, justeru menjadi umpan atau bahan bakar bagi api nafsu, mempertahankan kelangsungan hidupnya


********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Malam itu hawanya dingin menyusup tulang. Langit cerah oleh cahaya bulan dan awan berkumpul jauh di barat, membuat cahaya bulan dengan bebasnya memandikan permukaan bukit Hitam. Suasana mencekam. Kalau Pek-liong dan Liong-li, siang tadi mengatur siasat mereka, pihak lawan merekapun tidak tingggal diam. Penyerbuan yang dilakukan Liong-li dan para pembantunya cukup menggegerkan, apa lagi setelah timbul kekacauan karena penyerangan anak panah berapi yang mengakibatkan kebakaran.

Biarpun mereka berhasil membunuh dua orang anak buah Liong-li, namun merekapun kehilangan banyak anak buah. Dan bukan para pembantu Liong-li dan Pek-liong yang mereka kehendaki, melainkan sepasang naga itu sendiri. Mereka kini dapat menduga siapa yang menghujankan anak panah berapi, karena di antara para penjaga ada yang sempat melihat berkelebatnya bayangan pria dari arah datangnya anak panah berapi, Siapa lagi kalau bukan Pek-liong-eng, pikir tiga orang datuk itu.

“Pek-liong-eng sudah datang, kini lengkaplah sudah. Hek-liong-li dan Pek-liong-eng sudah datang dan agaknya mereka membawa para pembantu mereka,” kata Ang I Sian-li. Suaranya membayangkan ketegangan karena selain gembira akan dapat melaksanakan dendamnya, juga diam-diam ia merasa gentar juga menghadapi Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.

“Liong-li telah kehilangan dua orang pembantunya. Tinggal tujuh orang lagi pembantunya, dan Pek-liong mempunyai enam orang pembantu. Kita harus mengadakan persiapan. Mereka pasti akan berusaha untuk membebaskan tawanan kita,” kata Pek-bwe Coa-ong yang memimpin gerombolan pendendam itu.

“Mereka itu membikin repot saja. Setelah Pek-liong dan Liong-li datang, apakah tidak lebih baik kalau kita bunuh saja empat orang tawanan itu?" Kim Pit Siu-cai mengajukan usul.

“Ah, engkau keliru sekali, Siu-cai!” cela Pek-bwe Coa-ong. “Apa gunanya membunuh mereka? Malah.merugikan sekali, merusak rencana siasat kita. Mereka adalah umpan untuk memancing datangnya Pek-liong dan Liong-li. Kalau umpannya kita hilangkan, tentu ikannya tidak akan tertarik lagi dan tidak dapat kita pancing. Justeru Pek-liong dan Liong-li bernapsu untuk datang adalah karena adanya empat orang tawanan itu. Kalau mereka dibunuh, tentu Pek-liong dan Liong-li tidak begitu bodoh untuk membahayakan diri memasuki tempat ini. Kita bahkan harus menambah daya tarik umpan kita. Lepaskan mereka dari belenggu dan biarkan mereka berada di luar karena malam ini mereka pasti akan muncul di sini!”

Tiga orang datuk itu mengatur siasat untuk menjaga segala kemungkinan. Yang menjadi sasaran utama adalah hadirnya Pek-liong dan Liong-li di dalam sarang mereka. Kalau dua orang musuh besar itu sudah berhadapan dengan mereka, maka mereka yakin akan mampu mengalahkan sepasang musuh besar itu. Anak buah mereka hanya akan menghadapi para pembantu Pek-liong dan Liong-li.

Pek-bwe Coa-ong dan dua orang rekannya juga memperhitungkan kemungkinan berulangnya serangan anak panah berapi. Akan tetapi mereka tidak khawatir. Andaikata sarang mereka terbakar seluruhnya, bangunan itu hanya bangunan darurat. Mereka rela kehilangan semua bangunan itu asalkan mereka dapat menangkap atau membunuh Liong-li dan Pek-Iiong.

Penjagaan diatur dan diam-diam Pek-bwe Coa-ong sudah memasang barisan pendam di luar sarang, untuk menyerang anak buah Pek-liong dan Liong-li kalau mereka menyerang dengan anak panah berapi atau kalau muncul di sekitar sarang itu. Ini juga merupakan pancingan seolah-olah anak buah mereka meninggalkan sarang sehingga mendorong dua orang musuh itu untuk berani memasuki sarang, apa lagi kalau empat orang tawanan itu mereka biarkan berada di luar kamar tahanan.

Song Tek Hin dan isterinya, Su Hong Ing merasa lega ketika mereka dibebaskan dari ikatan kaki tangan mereka dan digiring oleh belasan orang pengawal keluar dari kamar tahanan. Semalam suami isteri ini mendengar keributan yang timbul karena kebakaran di sana sini.

Mereka mendengar teriakan-teriakan kebakaran dan hati mereka merasa gembira bercampur tegang dan cemas. Gembira karena mereka dapat menduga bahwa tentu Pek-liong dan Liong-li sudah datang untuk menolong mereka, akan tetapi juga tegang dan cemas karena mereka khawatir sekali sepasang pendekar yang mereka hormati dan sayangi itu akan terperangkap oleh pihak musuh yang licik, cerdik dan lihai.

Ketika suami isteri ini tiba di luar, di bawah sinar lampu gantung yang mendatangkan cahaya remang-remang, mereka melihat betapa kakak beradik Kam juga sudah berada di luar. Kam Sun Ting dan adiknya, Kam Cian Li, tidak lagi dibelenggu dan mereka berdua duduk di atas bangku di ruangan depan bangunan yang tadinya menjadi tempat tahanan, nampak jelas dari luar karena di ruangan itu dipasangi lampu-lampu gantung yang terang. Di tempat itu nampak pula banyak penjaga yang mengepung.

Ketika suami isteri itu disuruh duduk pula di ruangan itu, merekapun duduk dan hanya saling pandang dengan kakak beradik itu. Agaknya mereka berempat memang sengaja dikumpulkan di situ dan mereka dapat menduga bahwa hal ini dilakukan oleh para pemimpin gerombolan agar mereka dapat menarik perhatian Pek-liong dan Liong-li untuk masuk ke tempat itu dan berusaha menolong mereka. Diam-diam mereka merasa tidak enak dan menyesal, merasa seperti menjadi umpan yang akan mencelakakan dua orang pendekar yang mereka sayang dan hormati.

“Kita dijadikan umpan di tempat terbuka ini,” bisik Song Tek Hin kepada isterinya dan kakak beradik Kam ketika mereka duduk di atas bangku mengelilingi sebuah meja. Tidak ada penjaga yang mendekati mereka. Para penjaga itu mengepung rumah tahanan dengan ketat.

“Song-toako, aku merasa tidak enak sekali kalau sampai Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolong kita,” kata Kam Sun Ting yang telah akrab dengan suami isteri itu selama mereka berempat menjadi tawanan di situ.

“Bagaimana kalau kita melarikan diri saja sebelum mereka berdua terjebak di sini?” kata Kam Cian Li.

“Bagaimana caranya?” Su Hong Ing, isteri Song Tek Hin, bertanya, memandang ke sekeliling di mana terdapat sedikitnya tigapuluh orang yang nampak melakukan pengepungan. “Tempat ini terkepung rapat!”

“Tidak perduli, kita terjang saja keluar dan melawan mati-matian” kata Kam Cian Li dengan nekat. “Apa lagi enci Hong Ing dan Song-toako memiliki ilmu silat yang tangguh. Takut apa?”

Song Tek Hin tersenyum. “Kita tentu saja tidak takut. Akan tetapi, berusaha melarikan diri seperti itu hanya membuang tenaga sia-sia belaka. Selain kita dikepung oleh puluhan orang anak buah gerombolan, juga kalau seorang saja di antara tiga datuk itu keluar, kita tidak akan mampu berkutik. Mereka itu bukan lawan kita.”

“Aku tidak perduli,” kata Kam Cian Li nekat. “Lebih baik aku mati dikeroyok dari pada harus melihat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li terjebak dan celaka karena hendak menolongku di sini!”

“Li-moi, tidak bijaksana kalau kita mati konyol begitu saja. Kalau kita melakukan kenekatan berarti kita membunuh diri. Dan kalau sampai terjadi kita mati konyol begitu, bukankah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li akan merasa kecewa dan menyesal sekali? Mereka bersusah-payah berusaha menolong kita, bahkan kemarin telah ada dua orang pembantu Hek-liong-li yang tewas dalam usaha mereka menolong kita, dan kita malah membunuh diri!” kata Kam Sun Ting menegur adiknya yang kini tak dapat menahan mengalirnya air mata dari kedua matanya.

“Akan tetapi, koko! Bagaimana mungkin aku berdiam saja di sini melihat mereka berdua terjebak dan mendapat bencana karena aku?” adiknya membantah.

“Tentu saja kita harus berusaha, akan tetapi usaha itu bukan bunuh diri. Kita harus berusaha melarikan diri, akan tetapi menggunakan cara yang tepat dan menanti kesempatan yang baik, bukan asal nekat saja. Aku yakin bahwa saat ini Pek-liong-eng dan Hek-liong-li juga sedang menanti kesempatan untuk menyerbu ke sini. Nah, kalau terjadi keributan, kalau mereka menyerbu ke sini kita harus menggunakan kesempatan itu untuk lari ke arah sungai yang mengalir di bagian barat sarang gerombolan ini.”

“Ke arah sungai? Kenapa ke sungai dan bukan berusaha keluar dari kepungan dan dari sarang gerombolan ini?” tanya Song Tek Hin heran. “Kalau kita berempat mengamuk, sedangkan tiga orang datuk sibuk menyambut Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kiraku kita berempat akan mampu membobolkan pengepungan mereka. Tentu saja diharapkan keempat orang Thai-san Ngo-kwi juga tidak menghalangi kita.”

“Begini, Song-toako,” kata Kam Sun Ting. “Kurasa, akan percuma saja kalau kita nekat melawan mereka. Engkau dan isterimu saja yang memiliki ilmu silat tinggi masih tidak mampu menandingi mereka, apa lagi kami berdua yang hanya mengerti sedikit ilmu silat. Andaikata kita bisa lolos dari sarang mereka ini, mereka akan melakukan pengejaran dan kita yang belum mengenal daerah bukit ini tentu akan tersesat dan tentu akan tertawan kembali. Karena itu, aku mengajurkan agar kita lari ke sungai saja.”

“Akan tetapi mau apa kita ke sungai? Apakah kita dapat lolos dari pengejaran mereka kalau kita lari ke sungai?” tanya Su Hong Ing penasaran.

“Begini, enci Hong Ing, setelah koko menyatakan pendapatnya, baru aku tahu bahwa memang sungai itulah satu-satunya jalan bagi kita untuk menyelamatkan diri dan tidak menyeret Pek-liong-eng dan Hek-liong-li ke dalam bahaya.”

“Sebetulnya, apa yang kalian maksudkan?” tanya Su Hong Ing.

“Apakah kalian sudah menyediakan perahu di sungai itu untuk kita pakai melarikan diri?” tanya pula suaminya.

Kam Sun Ting menoleh ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka berempat yang dapat mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan dengan suara lirih, diapun memberi penjelasan.

“Melarikan diri dengan perahu akan percuma. Akan tetapi kami berdua memiliki keahlian di dalam air. Kami dahulu bekerja sebagai penyelam-penyelam dan begitu kami berdua dapat terjun ke dalam sungai, mereka pasti tidak akan menemukan kami lagi. Dengan cara menyelam kami dapat melarikan diri. Karena itu, kalau keadaan di sini kacau seperti kemarin malam misalnya, dan semua orang sibuk dan panik menghadapi serbuan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, kita berempat dapat melarikan diri ke sungai dan selanjutnya kita terjun ke air dan menghilang.”

“Akan tetapi aku tidak dapat renang!” kata Cu Hong Ing.

“Dan akupun hanya dapat berenang biasa saja!” sambung suaminya.

“Kami dapat membantu, enci Hong Ing,” kata Kam Cian Li. “kalau aku menggunakan tali ikat pinggang dan engkau memegangi tali itu, lalu menahan napas, maka aku akan menarikmu dan membantumu melarikan diri sambil menyelam. Dan koko akan membantu Song-toako.”

Suami isteri itu saling pandang dan mengangguk-angguk. Agaknya memang jalan itu yang terbaik. Kalau hanya bertahan napas, mereka tentu kuat karena mereka sudah mempelajari banyak latihan pernapasan untuk memperkuat diri. Melihat empat orang tawanan itu bicara berbisik-bisik, Ngo-kwi, orang ke lima dari Thai- san Ngo-kwi, berjalan santai menghampiri mereka dan berjalan-jalan dekat mereka. Matanya yang galak itu mengerling secara kurang ajar kepada Su Hong Ing dan Kam Cian Li, mulutnya tersenyum mengejek...