Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 11

PEK LIONG tersenyum, diam-diam merasa iba kepada tiga orang dari Kiu Lo-mo itu. Agaknya mereka itu tidak memperhitungkan adanya Cian Ciang-kun ini yang dapat merupakan lawan yang amat tangguh dengan adanya kekuasaannya atas pasukan keamanan kerajaan! Juga panglima ini amat cerdik sehingga bukan hanya dia dan Liong-li yang dapat menduga siapa yang mendalangi semua peristiwa itu.

“Ada dua hal yang membuat aku terpaksa tidak menyetujui rencanamu untuk menyerbu dengan pasukanmu, Ciang-kun. Pertama, urusan ini adalah urusan pribadi, permusuhan antara Kiu Lo-mo dengan kami berdua. Mereka hendak membalas dendam, maka demi kehormatan, harus kami hadapi tanpa campur tangan pasukan pemerintah. Kedua, kalau pasukan menyerbu, sukar untuk dapat menyelamatkan empat orang tawanan, para sahabat kami itu.”

Cian Hui termenung. Dia maklum akan harga diri dan kehormatan seorang pendekar yang sekali-kali tidak mau berbuat curang mengandalkan pengeroyokan untuk mencari kemenangan. “Akan tetapi, itu berbahaya sekali, tai-hiap! Kalau benar mereka itu bertiga, dibantu pula oleh orang-orang pandai seperti dua orang yang menyerang kami, dan tentu mereka telah siap pula dengan banyak anak buah, maka tai-hiap dan li-hiap akan masuk perangkap,” kata Cian Hui.

“Apa yang dikatakan suamiku benar, tai-hiap,” kata pula Cu Sui In. “Saya tahu bahwa tai-hiap dan li-hiap memang harus bersikap jantan dan demi kehormatan seorang pendekar, namun kiranya sikap seperti itu hanya dapat dipakai kalau kita menghadapi orang-orang yang juga menghargai kegagahan. Akan tetapi, menghadapi iblis-iblis berbentuk manusia yang tidak segan mempergunakan segala macam kecurangan, seperti dilakukan mereka, dengan menawan empat orang itu, untuk memancing tai-hiap dan li-hiap, masih perlukah tai-hiap mempergunakan kehormatan pendekar itu? Biarkan suamiku memimpin pasukan besar untuk menyerbu mereka dan membasmi mereka demi keselamatan tai-hiap dan li-hiap!”

Pek-liong menggeleng kepala dan tersenyum. “Cian Ciang-kun, kalau kau melakukan penyerbuan itu, tidak memenuhi permintaanku, tentu Liong-li akan merasa tidak senang sekali, dan aku sendiri akan merasa kecewa. Ketahuilah bahwa tadi aku menceritakan semua yang terjadi kepada kalian berdua bukan dengan maksud minta bantuan, melainkan karena aku percaya kepada kalian sebagai sahabat-sahabat kami yang baik. Nah, sekali lagi, kuharap engkau tidak mengerahkan pasukan. Setidaknya, sebelum kami berusaha menghadapi mereka secara jantan. Setelah itu, terserah kepadamu, akan tetapi dengan alasan bahwa pasukanmu itu bukan untuk membantu kami, melainkan sebagai tugas dari hamba pemerintah untuk menumpas kejahatan.”

Tentu saja Cian Hui dan Cu Sui In sama sekali tidak ingin membikin kecewa dan tidak senang hati Pek-liong dan Liong-li, maka Cian Hui lalu berjanji bahwa dia akan menahan diri. “Baiklah, tai-hiap. Akan tetapi, aku akan melakukan penyelidikan dan siap dengan pasukanku, bukan untuk mengeroyok, melainkan untuk membasmi kejahatan yang mengancam keamanan negara dan rakyat “

Setelah bercakap-cakap dan beramah-tamah, Pek-liong lalu meninggalkan rumah Cian Hui. Setelah pendekar itu pergi, Cian Hui termenung. Isterinya segera menghiburnya.

“Kurasa tidak perlu engkau terlalu mengkhawatirkan mereka. Pek-liong dan Liong-li bukanlah orang-orang yang akan mudah dicelakakan begitu saja, biar oleh tiga orang datuk sesat itu sekalipun! Mereka berdua sakti dan amat cerdik, dan tentu telah membuat persiapan sebelum berusaha untuk menolong empat orang tawanan itu.”

“Tapi, untuk menyelamatkan empat orang, mereka mempertaruhkan keselamatan nyawa mereka!”

“Tentu saja! Ingat, andaikata kita berdua sampai tertawan pula oleh para penjahat, tentu mereka berdua pun akan rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong kita, bukan?”

Cian Hui menghela napas panjang dan mengangguk-angguk. “Engkau benar, dan inilah yang menggelisahkan hatiku. Aku akan membawa pembantu-pembantu yang pandai dan menyelidiki pegunungan Hitam itu untuk mencari letak sarang mereka dan siap untuk menyerbu andaikata kedua orang pendekar itu gagal atau bahkan kalau mereka terancam.”

Cu Sui In mengangguk. “Aku akan menyertaimu.”

“Sebaiknya engkau tinggal di rumah menjaga Hong-ji (anak Hong),” cegah suaminya, “walaupun aku dapat memaklumi bahwa engkau mengkhawatirkan keselamatan Pek-liong.” Dia teringat betapa isterinya ini, sebelum menjadi isterinya, adalah seorang pendekar wanita tokoh Kun-lun-pai yang pernah jatuh cinta kepada Pek-liong.

Sui In mengerling kepada suaminya penuh arti dan tersenyum. “Engkau salah sangka! Sekali ini, seperti engkau mengkhawatirkan aku dan menyuruh aku tinggal di rumah, akupun mengkhawatirkan keselamatanmu di atas keselamatan seluruh manusia di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangan suami yang tercinta.”

Cian Hui terbelalak, tertawa dan merangkul isterinya. “Maafkan aku, bukan maksudku untuk... cemburu...”

“Akupun tidak cemburu kepada Liong-li. Kita sudah suami isteri dan ayah ibu anak kita bukan?”

Suami isteri itu membuat persiapan untuk melakukan penyelidikan bersama para pembantu yang dipilih oleh Cian Hui, dan pada keesokan harinya, setelah melapor kepada rekan dan atasannya, Cian Hui dan rombongannya berangkat ke lembah Huang-ho untuk melakukan penyelidikan.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Tiga orang tokoh Kiu Lo-mo itu memang telah membuat persiapan yang amat baik. Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong sekali ini ingin membuat pembalasan yang berhasil terhadap Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Mereka bukan saja dibantu oleh Thai-san Ngo-kwi, lima orang murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, akan tetapi juga lima orang ini mengerahkan para tokoh sesat yang pernah takluk kepada mereka, dibawa ke lembah Huang-ho itu.

Juga tiga orang datuk besar golongan sesat itu mengajak anak buah mereka sehingga di lembah itu sekarang berkumpul tidak kurang dari seratus orang anak buah, yang rata-rata merupakan orang-orang kang-ouw yang lihai! Pendeknya, mereka telah membuat persiapan sehingga sekali Pek-liong dan Liong-li berani memasuki daerah itu, sepasang pendekar ini akan disambut secara dahsyat dan mereka berdua pasti akan dapat ditangkap atau dibunuh!

Bukan hanya kekuatan orang yang mereka miliki, juga keadaan alam di lembah Huang-ho itu, di pegunungan Hitam amat membantu. Daerah itu amat berbahaya dan sukar dilalui manusia. Penuh dengan jurang-jurang yang curam, rawa-rawa yang berbahaya, bahkan di situ terdapat beberapa buah hutan di mana terdapat binatang buas. Terutama sekali binatang sejenis harimau besar yang amat ditakuti mereka yang lewat dekat daerah itu, karena harimau-harimau ini besar, kuat dan buas.

Daerah yang berbahaya ini oleh tiga orang sisa Sembilan Iblis Tua itu dimanfaatkan dan menjadi semakin berbahaya karena mereka pasangi banyak perangkap dan jebakan yang berbahaya. Lubang-lubang besar yang ditutupi ranting dan daun kering. Lumpur-lumpur berpusing yang di tutupi daun-daun pohon rumput hidup. Anak-anak panah beracun yang dipasang di antara daun-daun pohon yang siap meluncur dari busurnya yang terpentang dan dihubungkan dengan tali yang direntang di antara semak belukar, dan masih banyak alat rahasia lainnya.

Pendeknya, sekali ini tiga orang Iblis Tua itu siap untuk perang! Di sekeliling daerah sarang mereka di bukit yang berada di tengah-tengah antara semua perbukitan Hitam, telah dijaga oleh anak buah mereka sambil bersembunyi, akan tetapi siang malam selalu ada penjaga yang mengawasi daerah itu sehingga tidak mungkin ada yang lewat tanpa diketahui. Pendeknya, Pek-liong dan Liong-li tidak akan dapat memasuki daerah itu dari arah manapun tanpa diketahui para penjaga.

Liong-li dan sembilan orang pembantunya sudah sampai di sebuah tempat tersembunyi, tidak jauh dari perbatasan sarang musuh! Dengan kepandaiannya yang tinggi dan kecerdikannya yang luar biasa, Liong-li berhasil memimpin sembilan orang pembantunya melewati jurang dan melalui hutan-hutan yang berbahaya itu tanpa cedera. Memang beberapa kali, di antara pembantunya ada yang hampir terperosok ke dalam perangkap musuh, namun selalu dapat ia tolong dan selamatkan, sampai akhirnya mereka tiba di dekat daerah sarang musuh.

Berhari-hari mereka sepuluh orang wanita yang lihai itu telah mempelajari daerah itu, dan mereka maklum bahwa sarang musuh merupakan benteng alam yang amat kuat dan terjaga ketat. Bahkan bagian yang tidak terjagapun tak mungkin dijadikan jalan masuk, karena terhalang jurang yang lebarnya tidak mungkin dapat dilompati manusia, betapapun lihainya.

Kini mereka, atas isyarat Liong-li, berkumpul di balik semak belukar yang lebat, dan sembilan orang wanita itu, masing-masing dengan perbekalan dalam buntalan tergantung di punggung dan pedang di bawah buntalan, berjongkok mengeliling Liong-li yang duduk di atas rumput. Satu demi satu, sembilan orang itu memberi laporan tentang hasil penyelidikan mereka masing-masing sehingga yakinlah Liong-li bahwa memang tidak ada jalan masuk kecuali menyerbu melalui tempat-tempat yang terjaga. Setelah meraba dan menggosok hidungnya untuk mencurahkan pikirannya, ia lalu berkata dengan suara lirih.

“Sekarang tiba saatnya yang paling gawat dan berbahaya. Sekali salah langkah dan kurang berhati-hati, nyawa taruhannya. Dari pengumpul hasil penyelidikan kita semua, jelas bahwa pihak musuh mempunyai anak buah yang puluhan orang banyaknya, mungkin ada seratus orang. Sarang mereka terjaga ketat, dan bagian yang tidak terjaga dihalangi jurang yang lebar dan curam. Aku tidak ingin mengorbankan kalian. Kalau ada yang ragu-ragu dan jerih, masih belum terlambat untuk mundur dan pulang ke Lok-yang.”

Liong-li memendang kepada sembilan orang pembantu yang berjongkok dan mengelilinginya dalam setengah lingkaran di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik. Sembilan orang gadis yang usianya antara duapuluh lima sampai tiga puluh tahun dan rata-rata cantik dan lihai itu terkejut dan saling pandang, lalu mereka memperlihatkan wajah penasaran. Ang-hwa (Bunga Merah), yaitu nama sebutan gadis yang berpakaian merah dan yang merupakan pembantu utama karena ia merupakan pembantu yang paling lihai di antara sembilan orang gadis itu, mewakili semua rekannya.

“Li-hiap, bagaimana li-hiap dapat berkata seperti itu? Apakah li-hiap masih belum yakin akan kesetiaan kami sembilan orang yang menjadi pelayan, pembantu, sahabat, juga murid dari li-hiap? Li-hiap sudah mendidik kami, melatih kami, melimpahkan segala kebaikan kepada kami. Li-hiap selalu menolak kalau kami mohon untuk membantu li-hiap menghadapi lawan. Sekarang, pada saat li-hiap menghadapi ancaman dari lawan-lawan yang jauh lebih banyak dan berat, li-hiap menganjurkan kami untuk pulang! Li-hiap, berilah kesempatan kepada kami untuk membalas semua kebaikan li-hiap kepada kami dan kami rela berkorban nyawa kalau perlu, demi untuk li-hiap!”

Liong-li tersenyum. Ia memang sudah dapat menjenguk isi hati mereka, akan tetapi ia tahu benar betapa bahayanya tugas sekali ini, maka ia merasa tidak tega kalau sampai para pembantunya itu terancam bahaya maut karena dirinya. Kini mendengar jawaban itu, iapun berkata,

“Terima kasih! Kalian memang para sahabatku yang baik. Memang dalam perjuangan melawan kejahatan, yang ada hanyalah menang atau kalah, hidup atau mati. Matipun tidak akan penasaran kalau kita tewas dalam membela kebenaran dan menentang kejahatan. Nah, kalau begitu, dengarkan baik-baik rencana siasatku. Kita harus dapat mengacaukan pertahanan mereka dengan gangguan dari beberapa tempat. Aku hanya ingin agar mendapat kesempatan menyusup ke dalam dan kalau aku sudah berada di depan sarang mereka, aku akan menantang ketiga datuk sesat itu untuk mengadu ilmu secara gagah.”

Mereka lalu berbisik-bisik dan Liong-li membagi-bagi tugas. Kemudian, sesuai dengan siasat yang telah diatur oleh Liong-li, di balik semak belukar itu, sembilan orang pelayan menanggalkan pakaian luar mereka dan berganti pakaian. Ketika akhirnya mereka itu satu demi satu menyelinap keluar dari semak-semak, maka yang nampak hanyalah berkelebatnya sembilan sosok bayangan hitam! Liong-li sendiri juga menyelinap keluar.

Mula-mula para penjaga yang bersembunyi dan mengamati bagian barat daerah tapal batas penjagaan mereka, yang terkejut melihat berkelebatnya bayangan hitam, tak jauh dari tempat mereka bersembunyi. Tak lama kemudian, bayangan hitam yang memiliki gerakan cepat itu nampak berdiri di atas sebongkah batu besar dan memandang ke arah belakang mereka, ke arah sarang mereka yang tertutup pohon-pohon dan tidak nampak dari situ.

“Hek-liong-li...!” mereka berbisik dan jantung mereka berdebar tegang.

Mereka sudah mendapat peringatan dari para pimpinan agar berhati-hati kalau melihat seorang wanita cantik berpakaian hitam dan memakai tusuk sanggul perak berbentuk naga kecil di atas bunga teratai. Dan kini mereka melihat wanita itu tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

Hanya sebentar wanita itu nampak karena sekali berkelebat iapun menghilang kembali. Tentu saja tiga orang penjaga itu menjadi panik dan seorang di antara mereka cepat melapor bahwa di bagian sebelah barat itu telah muncul Hek-liong-li, seorang di antara dua musuh yang ditunggu-tunggu, yaitu Hek-liong-li dan Pek liong-eng.

Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li dan Pek-bwe Coa-ong tentu saja menjadi girang akan tetapi juga merasa tegang hati mereka ketika mendengar laporan dari para penjaga bahwa Hek-liong-li telah muncul di bagian barat. Cepat mereka menyuruh Thai-san Ngo-kwi untuk membagi anak buah mereka dan sekelompok besar terdiri dari dua puluh orang dipimpin oleh Ngo-kwi (Setan kelima) segera menuju ke daerah itu untuk melakukan penjagaan.

Akan tetapi baru saja kelompok itu berangkat, dari timur datang penjaga melapor bahwa Hek-liong-li nampak di daerah timur! Tiga orang datuk itu merasa heran. Bagaimana mungkin Hek-liong-li dapat bergerak secepat itu? Thai-san Ngo-kwi kembali mengirim Su-kwi memimpin duapuluh orang anak buah lari ke timur untuk memperkuat penjagaan. Dan berdatanganlah para penjaga melaporkan bahwa mereka melihat Hek-liong-li di tempat-tempat penjagaan yang terpisah-pisah.

“Aih, tidak mungkin ini!”'seru Ang I Sian-li penasaran.

“Ia bukan manusia tetapi setan!” kata Kim Pit Siu-cai dan wajahnya agak berubah. “Bagaimana mungkin seseorang dapat bermunculan di berbagai tempat dalam waktu hampir bersamaan? Kecuali setan yang pandai menghilang!”

“Jangan panik,” kata Pek-bwe Coa-ong. “Biarpun kita belum pernah jumpa dan bertanding melawan Hek-liong-li, kecuali Sian-li yang hanya bentrokan sejenak, kita tahu bahwa ia seorang yang amat lihai. Entah siasat apa yang ia pergunakan, karena kabarnya selain lihai ilmu silatnya, juga ia amat cerdik. Kita harus waspada dan mari kita selidiki sendiri keanehan ini!” kata-kata ini menyadarkan dua orang rekannya dan merekapun berpencar melakukan penyelidikan.

Liong-li menggunakan kepandaiannya untuk menyusup ke depan. Ia telah melihat hasil dari pengacauan yang dilakukan para pembantunya. Nampak banyak anak buah penjahat berbondong-bondong berlari-larian ke berbagai jurusan, dan ia melihat dari atas puncak pohon yang tinggi betapa di puncak bukit itu terdapat sebuah perkampungan atau perumahan yang terdiri dari sebuah rumah besar dengan banyak rumah kecil di sekitarnya.

Tak lama kemudian, ia telah tiba di pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi tempat itu dan melihat bahwa di situ hanya terdapat lima orang penjaga yang bersenjata tombak dan golok. Seorang penjaga yang tinggi besar dan ada codet di pipi kirinya berjaga paling depan dan dia kelihatan sombong, bahkan dengan dada dibusungkan dia mengeluarkan ucapan yang cukup nyaring untuk membual kepada empat orang kawannya.

“Kenapa sih ribut-ribut hanya karena munculnya Hek-liong-li? Kabarnya ia hanya seorang wanita muda yang cantik jelita! Hem, kalau ia muncul ke sini, tentu akan kutangkap dan kubawa ke pondokku untuk menemaniku malam ini, ha-ha!”

“Tukk!!” Laki-laki itu roboh dan matanya mendelik karena tepat di antara kedua matanya nampak tanda merah dan ketika empat orang kawannya menghampiri, si pembual itu telah tewas dengan dahi tertembus sebuah batu kerikil yang masuk ke dalam kepalanya. Gegerlah empat orang itu, apa lagi ketika muncul seorang wanita cantik berpakaian hitam di depan mereka.

“Hek-liong-li!” seru seorang di antara mereka dan mereka pun cepat menggerakkan senjata di tangan untuk mengeroyok.

Liong-li melompat ke belakang dan berkata dengan suara lantang. “Benar, aku Hek-liong-li. Panggil para tua bangka sisa Kiu Lo-mo itu keluar untuk bicara denganku!”

Akan tetapi, empat orang itu tidak menjawab melainkan terus mengeroyok karena bagaimanapun juga, mereka memandang rendah kepada musuh yang hanya seorang wanita muda yang cantik dan nampak lemah. Melihat keganasan empat orang itu, Liong-li yang tadinya hendak menantang pimpinan gerombolan, terpaksa menyambut dengan tamparan dan tendangan. Dengan gerakan yang lincah sekali, tubuhnya berkelebatan dan dalam waktu beberapa jurus saja, empat orang itupun sudah terpelanting ke kanan kiri, tak dapat bangkit kembali.

Akan tetapi, terdengar teriakan orang dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus bersama sepuluh orang anak buahnya yang segera mengepung Hek-liong-li dengan senjata di tangan. Sepuluh orang itu bersenjata golok, dan si tinggi kurus itupun memegang sebatang golok besar yang tipis dan tajam berkilauan. Dari gerakan si kurus tinggi ini, tahulah Liong-li bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang cukup tangguh.

“Hek-liong-li, engkau datang mengantar nyawa!” kata laki-laki tinggi kurus berusia empatpuluh tahun itu. Dia bukan lain adalah Sam-wi, orang ketiga dari Thai-san Ngo-kwi.

Liong-li memandang tajam dan segera mengenal seorang di antara Thai-san Ngo-kwi itu. Ia tidak ingin bentrok hanya dengan anak buah para datuk itu, karena kalau hanya Sam-kwi bersama belasan orang anak buahnya itu saja, tidak perlu ia bersusah payah datang ke tempat itu.

“Pergilah kalian kalau tidak ingin mati. Panggil saja tiga orang dari Kiu Lo-mo ke sini untuk menemuiku,” katanya tenang.

Akan tetapi, karena dia membawa banyak anak buah, pula mengingat bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali kawannya, juga terdapat tiga orang datuk yang lihai, Sam-kwi timbul semangat dan keberaniannya. Dia mengeluarkan aba-aba kepada sepuluh orang anak buahnya dan dia sendiri menerjang dengan goloknya.

“Singg...!”Golok itu berdesing, menjadi sinar yang menyilaukan mata, diikuti hujan senjata dari anak buahnya yang sudah mengeroyok Liong-li.

Wanita perkasa ini tidak menjadi gugup. Dengan langkah ajaib Liu-seng-pouw (Langkah Bintang Cemara) ia dapat menghindarkan diri dengan mudah dari sambaran sebelas batang golok itu. Melihat bahwa ilmu golok Sam-kwi cukup berbahaya untuk dihadapi dengan tangan kosong apa lagi dia dibantu oleh sepuluh orang anak buahnya yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, Liong-li meraba punggungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyilaukan mata, ketika Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut di tangannya!

Kini ia melompat ke belakang. Si tinggi kurus itu masih mengejar bersama sepuluh orang anak buahnya, golok mereka sudah menyambar-nyambar lagi dengan ganasnya karena mereka mengira bahwa Liong-li merasa jerih menghadapi pengeroyokan sebelas orang itu. Juga mereka memandang rendah kepada sebatang pedang hitam di tangan wanita itu.

Liong-li menjadi gemas dan begitu pedangnya diputar, sinar hitam bergulung-gulung dan terdengar suara berkerontangan ketika golok sepuluh orang itu buntung dan empat orang roboh terkena sabetan pedang, terkena tamparan dan tendangan Liong-li! Enam orang anak buah yang lain menjadi terkejut dan otomatis mereka mundur, akan tetapi Sam-kwi bahkan menjadi semakin penasaran dan marah melihat ini. Dia berseru keras dan goloknya menyambar dahsyat.

“Trangggg....” Golok itu tertangkis Hek-liong-kiam dan terpental, sedangkan pedang hitam itu sendiri seperti terpental pula, akan tetapi bukan terpental membalik, melainkan terpental ke bawah dan secepat kilat memasuki dada Sam-kwi, lalu tercabut lagi.

Saking cepatnya gerakan Liong-li, pedang itu tidak bernoda darah akan tetapi dada Sam-kwi telah ditembusi pedang. Dia masih memegang goloknya, mencoba untuk membacok, matanya terbelalak dan diapun terhuyung, tidak jadi membacok melainkan roboh menelungkup tak bergerak lagi. Enam orang anak buahnya cepat memukul tanda bahaya yang tergantung di gardu penjagaan!

Liong-li maklum bahwa kalau semua orang berdatangan, tentu ia tidak akan mampu melawan, maka iapun berkelebat lenyap di balik semak dan pohon-pohon karena ia harus melihat keadaan para pembantunya yang melakukan pengacauan tadi.

Di lain bagian dari tempat itu, dua sosok bayangan hitam berindap-indap di balik semak-semak menghampiri empat orang penjaga yang celingukan dengan golok di tangan, seperti mencari-cari. Tadi mereka melihat Hek-liong-li di bawah pohon, akan tetapi tiba-tiba saja bayangan wanita berpakaian hitam itu lenyap.

Seorang kawan sudah melapor dan mereka tetap berjaga di situ untuk mengawasi gerak gerik Hek-liong-li dengan hati tegang dan agak jerih karena mereka sudah mendengar kabar betapa lihainya pendekar wanita itu. Dua bayangan hitam yang menyamar dengan pakaian Hek-liong-li itu adalah Bunga Hijau dan Bunga Kuning yang bertugas mengadakan pengacauan di bagian itu.

“Cepat, kita robohkan dua orang di antara mereka,” bisik Bunga Hijau. Mereka lalu mengeluarkan busur kecil yang mereka bawa, memasang anak panah, membidik lalu menarik busur dan melepaskan talinya.

“Wirrr... wirrr...!” Dua batang anak panah melesat dengan cepatnya ke arah empat orang itu dan dua orang di antara penjaga itu berteriak dan roboh dengan leher tertancap anak panah kecil. Dua orang lainnya terkejut dan ketika mereka memandang ke arah dari mana datangnya anak panah, mereka melihat Hek-liong-li berdiri sambil memegangi busur dan tersenyum.

“Hek-liong-li...!” teriak mereka dengan kaget dan Bunga Hijau yang tadi sengaja memperlihatkan diri, menyelinap kembali ke balik semak belukar sedangkan Bunga Kuning sudah menyusup ke kanan, menjauhi kawannya.

Kini bala bantuan anak buah gerombolan yang menerima perintah dan dipimpin oleh Ngo-kwi tiba. Mereka bertanya-tanya di mana adanya Hek-liong-li. Dua orang penjaga itu menunjuk ke arah Bunga Hijau tadi berdiri. Ngo-kwi yang melihat dua orang anak buahnya roboh dengan leher tertusuk anak panah, menjadi marah dan diikuti pasukan kecilnya, dia meloncat ke tempat itu untuk mencari Hek-liong-li.

Namun, di balik semak belukar itu mereka tidak menemukan apa-apa karena Bunga Hijau sudah lari ke sebelah kiri, berpencar dari Bunga Kuning. Kini Bunga Kuning yang berada jauh di sebelah kanan, melepas sebuah anak panah lagi yang merobohkan seorang anggauta gerombolan. Ngo-kwi melihat ia sebagai Hek-liong-li maka diapun melakukan pengejaran akan tetapi Hek-liong-li itu telah lenyap.

Seperti telah mereka rencanakan, Bunga Kuning menyusup-nyusup ke tempat di mana ia berjanji untuk bertemu lagi dengan Bunga Hijau. Akan tetapi, tiba-tiba ia berhenti bergerak dan cepat ia masuk ke dalam semak-semak yang penuh duri, tidak perduli tubuhnya tertusuk duri. Kini ia aman dan tidak nampak dari luar, dan diapun mengintai dari celah-celah daun semak belukar, matanya terbelalak dan mukanya pucat melihat betapa Bunga Hijau telah berhadapan dengan seorang kakek berpakaian sastrawan sutera putih. Kakek itu memegang sebuah kipas lebar di tangan kirinya dan dia berwajah tampan dan gerak geriknya halus, namun senyumnya mengejek dan dingin.

“Ha-ha-ha, kiranya Hek-liong-li hanyalah seorang penakut yang beraninya hanya menyerang anak buah kami secara menggelap. Hek-liong-li, engkau berhadapan dengan Kim Pit Siu-cai, menyerahlah agar aku tidak terpaksa menggunakan kekerasan.”

Biarpun sikapnya memandang rendah dan ucapannya mengejek, namun sebenarnya dia merasa tegang dan agak jerih maka tangan kanannya meraba gagang mouw-pitnya yang terbuat dari emas, senjata ampuh yang menjadi andalannya. Bagaimana pun juga, empat orang rekannya tewas di tangan Hek-liong-li dan Pek-liong-eng, maka dalam hatinya dia sama sekali tidak berani memandang rendah.

Wanita-cantik berpakaian hitam itu membentak, “Hek-liong-li tidak sudi menyerah terhadap siapa pun juga!”

Setelah berkata demikian, Bunga Hijau yang seperti semua rekannya menyamar sebagai Hek liong-li itu telah mencabut pedangnya, sebatang pedang hitam yang bentuknya persis Hek-liong-kiam, akan tetapi tentu saja hanya pedang tiruan, dan dengan dahsyatnya iapun menyerang dengan tusukan pedangnya.

Melihat pedang hitam itu, Kim Pit Siu-cai menjadi semakin jerih dan sama sekali tidak berani memandang ringan. Dia cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri sambil mencabut senjata kim-pit (pena emas) dari pinggangnya. Akan tetapi wanita itu sudah menyerang lagi dengan bacokan pedangnya.

Sungguhpun pandang mata yang jeli dari Kim Pit Siu-cai melihat bahwa serangan Hek-liong-li itu tidak terlalu berbahaya, kurang sekali dalam hal kecepatan maupun tenaga, namun dia tetap tidak berani menggunakan senjatanya untuk menangkis pedang hitam yang dikenalnya sebagai Hek-liong-kiam yang amat ampuh itu.

Dia kembali mengelak dan kini menggerakkan kipasnya ke arah muka Hek-liong-li untuk mengebut dan disusul gerakan kim-pit yang melakukan gerakan totokan bertubi-tubi. Ini merupakan serangan andalan dari Kim Pit Siu-cai. Penggunaan senjata istimewa ini telah mengangkat namanya tinggi-tinggi karena memang hebat sekali.

Begitu senjata itu membalas, maka dia telah mengirim totokan ke arah tigabelas jalan darah di bagian tubuh depan lawan, susul menyusul dan dengan kecepatan luar biasa. Bunga Hijau terkejut dan berusaha untuk mengelak, akan tetapi pada totokan keempat, ia tidak mampu mengimbangi kecepatan lawan dan iapun terkena totokan pada pundaknya dan roboh terguling!

Kim Pit Siu-cai terkejut dan juga girang bukan main. Dia mengira bahwa tentu Hek-liong-li memandang rendah kepadanya maka dapat dia robohkan sedemikian mudahnya, atau mungkin itu hanya siasat saja bagi wanita sakti itu. Maka untuk meyakinkan hatinya bahwa dia benar-benar memperoleh kemenangan, secepat kilat senjata pena emas itu meluncur ke arah leher Hek-liong-li dan senjatanya itu menembus leher itu dengan mudah! Hek-liong-li mengeluh lirih dan terkulai!

Hampir Kim Pit Siu-cai tidak percaya. Akan tetapi melihat darah mengalir keluar dari luka di leher wanita yang kini tidak bergerak lagi itu, dia hampir bersorak. Disambarnya tubuh yang sudah lemas itu, dipanggulnya dan diapun lari secepatnya ke arah sarang gerombolannya sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

“Aku telah berhasil membunuh Hek-liong-li...!” berkali-kali.

Anak buah gerombolan itu bersorak gembira ketika melihat betapa musuh yang amat ditakuti itu telah tewas dan mayatnya dipanggul dan dibawa lari oleh Kim Pit Siu-cai. Sementara itu, di dalam semak-semak, Bunga Kuning menahan diri untuk tidak menjerit ketika menyaksikan betapa rekannya roboh dan terbunuh oleh kakek itu, bahkan tubuh rekannya yang entah mati ataukah hidup itupun dilarikan oleh pihak musuh.

Ia tidak berani keluar karena maklum bahwa hal itu berarti hanya mati konyol, padahal ia harus mengabarkan tentang kematian rekannya itu kepada Hek-liong-li. Air matanya bercucuran dan ia menangis tanpa mengeluarkan suara, lalu setelah gerombolan itu meninggalkan tempat itu, ia menyusup keluar dari semak-semak, tidak merasakan betapa bajunya robek-robek dan kulitnya juga babak belur berdarah, lalu ia berlari secepatnya untuk mencari Hek-liong-li di tempat pertemuan antara mereka semua yang telah ditentukan oleh pemimpin mereka.

Di bagian lain, Bunga Biru yang menyamar sebagai Hek-liong-li, seorang diri membuat kekacauan di bagian itu dengan muncul sebagai Hek-liong-li. Ketika para penjaga menjadi panik dan melapor, Bunga Biru seperti yang telah ditugaskan kepadanya, menggunakan anak panah menyerang para penjaga dan berhasil merobohkan seorang di antara mereka.

Ketika datang banyak anggauta gerombolan yang dipimpin oleh seorang yang bertubuh pendek gendut, Bunga Biru cepat melarikan diri dengan menyelinap di antara pohon-pohon. Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat, bayangan merah dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang nenek yang dikenalnya sebagai Ang I Sian-li.

Lan-hwa (Bunga Biru) pernah melihat nenek itu ketika membantu Thai-san Ngo-kwi, maka tentu saja ia terkejut bukan main. Di lain pihak, Ang I Sian-li juga merasa jerih dan hanya karena di situ terdapat banyak anak buahnya maka ia berani membentak nyaring.

“Hek-liong-li, engkau tidak akan dapat lolos lagi dari tangan kami!”

Nenek itu sudah menerjang dengan tamparan tangannya. Tangan nenek itu berubah kehijauan karena ia menggunakan pukulan beracun untuk melawan Hek-liong-li yang ia tahu amat lihai itu. Dan pukulan Tangan Racun Hijau ini merupakan ilmunya yang baru, yang dikuasainya dengan cara yang amat keji, yaitu menghisap darah banyak anak bayi. Karena sudah pernah merasakan kehebatan tenaga sakti dari Hek-liong-li, maka begitu menampar Ang I Sian-li mengerahkan tenaga beracun yang amat keji ini.

Bunga Biru yang menyamar Hek-liong-li, tentu saja tidak mengenal tamparan maut ini dan ia menyambutnya dengan pedang tiruan Hek-liong-kiam, membabat ke arah lengan si nenek yang menampar. Melihat Hek-liong-kiam, pedang hitam yang pernah didengarnya, nenek itu merasa ngeri dan otomatis iapun menarik kembali tamparannya.

Pada saat itu, belasan orang anak buah gerombolan penjahat berdatangan dan Ang I Sian-li yang jerih terhadap pedang di tangan Hek-liong-li, cepat memerintahkan anak buahnya untuk mengeroyok. Belasan batang golok menyerang dari segala jurusan.

Melihat dirinya dikeroyok, Lan-hwa cepat memutar pedangnya. Bagaimanapun juga, ia telah digembleng oleh Hek-liong-li dan ia sudah mahir memainkan pedang tiruannya. Terdengar suara berdencing ketika pedangnya menangkisi semua golok yang menyambarnya.

Ang I Sian-li terbelalak dan mengeluarkan suara tawa mengejek. Kiranya pedang Hek-liong-kiam yang terkenal itu hanya semacam itu saja, hanya sebanding dengan golok para anak buahnya. Golok-golok itu hanya tertangkis dan tidak menjadi rusak! Padahal, kedua lengannya lebih kuat dibandingkan golok para anak buah itu. Timbul keberaniannya dan sambil memekik nyaring, kembali ia menyerang, tubuhnya melompat seperti seekor burung terbang menyambar arah Lan-hwa dan mengirim tamparan mautnya yang mengandung racun jahat.

Saat itu, Lan-hwa sedang sibuk menangkisi banyak golok, bagaimana mungkin ia mampu menghindarkan diri dari tamparan itu. Andai kata ia tidak sedang menghadapi pengeroyokan sekalipun, andai kata ia siap dengan pedang di tanganpun belum tentu ia akan dapat menahan dahsyatnya tamparan Ang I Sian-li. Ia masih mencoba untuk mengelebatkan pedangnya menyambut tamparan itu. Akan tetapi, angin tamparan yang hebat membuat pedangnya menyeleweng dan tahu-tahu dadanya telah terkena tamparan tangan Ang I Sian-li.

“Plakk!” Lan-hwa mengeluh dan roboh terjengkang, tewas seketika dengan tubuh menjadi kehijauan...!

Thanks for reading Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »