Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 06

DEMIKIANLAH, mulai hari berikutnya, setiap pagi Pek-liong berjalan-jalan keluar dari rumahnya, menuju ke tempat-tempat yang sepi di sekitar Telaga Barat (See-ouw) yang indah pemandangan alamnya. Sengaja dia berperahu seorang diri, mendarat di tepi telaga yang paling sunyi dan jarang dikunjungi orang.

Namun, sampai tiga hari tidak terjadi sesuatu. Mereka yang kebetulan melihatnya, dan sudah mengenalnya memberi hormat dengan ramah, dan para pelancong dari tempat lain yang tidak mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya.

Pada hari keempat, pagi-pagi dia sudah berperahu, memancing ikan dan setelah mendapatkan tiga ekor ikan yang cukup besar, diapun mendarat di pantai sepi dekat hutan. Tempat ini menjadi tempat kesayangannya karena selain sunyi, juga rumputnya tebal dan bersih dan di tempat itu sejuk, tenang dan sedap baunya, bau pohon cemara, damar dan rumput.

Setelah menarik perahunya ke darat, Pek-liong membawa perlengkapan dan roti yang dibawanya dari rumah, membentangkan kain di atas rumput, lalu dia asyik memanggang tiga ekor ikan yang ditangkapnya dengan pancing tadi. Dia memang sengaja membawa bumbu dari rumah, dan memanggang ikan hasil pancingan di dekat telaga itu merupakan satu di antara kesenangan dan kebiasaannya.

Tak lama kemudian terciumlah bau sedap ikan panggang yang sudah dibumbui. Baunya dapat tercium sampai jauh dan Pek-liong tersenyum seorang diri. Memancing harimau keluar dari sarangnya tidak berhasil, yang berhasil dipancingnya hanya tiga ekor ikan gemuk, dan sekarang bau bakaran ikan itu siapa tahu akan memancing keluarnya orang yang selama ini dicarinya dan diharapkan kemunculannya.

Ah, angan-angan kosong, dia mencela diri sendiri. Musuh yang menginginkan kematiannya tentulah seorang tokoh yang lihai, bagaimana mungkin dapat dipancing keluar dengan aroma ikan panggang seperti memancing keluar seorang yang kelaparan saja!

Dia sudah menurunkan tiga ekor ikan yang ditusuk dengan ranting itu dari atas api. Aromanya membuat perutnya tiba-tiba terasa lapar bukan main. Dibukanya bungkusan roti dan juga guci anggur yang dibawanya dari rumah. Selagi dia hendak sarapan, tiba-tiba dia menghentikan gerakannya dan telinganya menangkap gerakan kaki orang tak jauh dari situ. Akan munculkah harimau yang dipancingnya selama tiga hari ini?

Lalu dia teringat. Kalau ada musuh menyerangnya di situ, tentu sarapan paginya akan terinjak-injak dan rusak. Sayang kalau sampai terjadi demikian, maka cepat dia menutupi makanan itu dengan kain bersih dan diapun bangkit, lalu menjauhi tempat itu, sejauh sepuluh meter agar kalau terjadi perkelahian, sarapan pagi yang dibuatnya dengan susah payah itu tidak akan terinjak-injak dan rusak! Dengan hati geli Pek-liong dapat mengikuti gerakan orang itu dari pendengarannya dan dia tahu bahwa orang itu, yang memiliki gerakan ringan kini mengintai dari balik sebatang pohon besar tidak jauh dari situ.

“Sobat yang bersembunyi dari balik pohon, kalau hendak bicara dengan aku, keluarlah engkau!” katanya sambil menahan tawa.

Hening sejenak, lalu terdengar suara dari balik pohon, suara yang lirih dan lembut seperti suara kanak-kanak, atau suara wanita. “Apakah engkau berjuluk Pek-liong-eng?”

Pek-liong tersenyum. Agaknya inilah “Harimau” yang dipancingnya selama tiga hari ini! “Benar sekali, akulah yang disebut Pek-liong-eng! Kalau engkau mencariku, keluarlah dan mari kita bicara!”

Seperti yang telah diduganya, dari batang pohon besar itu muncul seseorang, akan tetapi Pek-liong terbelalak kaget dan heran karena sama sekali di luar dugaannya, yang muncul adalah seorang gadis yang amat cantik manis! Gadis itu berusia paling banyak delapan belas tahun, cantik manis dengan muka yang putih kemerahan, rambutnya panjang dikuncir menjadi dua dan diikat pita merah, pakaiannya serba biru dan ringkas, di punggungnya nampak gagang sepasang pedang, matanya bersinar-sinar, mata orang yang lincah dan periang, akan tetapi saat itu mulut yang manis itu cemberut dan kelihatan marah sekali.

Setelah gadis itu melangkah maju, kini mereka berhadapan dalam jarak empat meter. Sejenak mereka saling pandang dan Pek-liong tidak menyembunyikan pandang matanya yang kagum akan kecantikan gadis itu. Cantik dan gagah, akan tetapi sedang marah, demikian kesannya terhadap gadis itu. Sebaliknya, gadis itupun mengamati Pek-liong dan nampak tertegun sehingga sampai lama mereka hanya saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata.

“Nah, nona siapakah dan ada keperluan apakah mencariku?” akhirnya Pek-liong yang bertanya.

“Engkau benar yang berjuluk Pek-liong-eng, dan bernama Tan Cin Hay?” gadis itu bertanya, suaranya kini nyaring. Suara yang merdu, pikir Pek-liong, sayang dalam keadaan marah tanpa sebab.

“Benar, dan nona siapakah?”

“Aku bernama Pouw Bouw Tan...”

“Nama yang indah sekali, serasi dengan orangnya...”

“Simpan saja rayuanmu itu. Aku datang untuk menangkapmu!”

Kini Pek-liong terbelalak. “Menangkap aku? Apa salahku, nona?”

“Engkau telah menyebabkan kematian kakakku!”

“Ehh? Aku tidak mengenal kakakmu dan tidak merasa telah membunuh kakakmu!”

“Akan tetapi kakakku tewas karena engkau, maka engkau harus kutangkap dan kuhadapkan kepada ayah. Di sana engkau boleh membela diri sesukamu.”

“Kalau aku tidak mau ditangkap?”

“Pedangku yang akan memaksamu!” kata gadis itu, sikapnya gagah sekali sehingga mau tidak mau Pek-liong tertawa. Gadis ini seperti seekor burung yang baru saja belajar terbang dan kini memamerkan kemampuannya terbang!

“Baiklah, nona. Tentang tangkap menangkap ini, kita bicarakan nanti setelah kita sarapan pagi “

“Sarapan?” Gadis itu terbelalak heran.

“Engkau tentu suka makan ikan panggang dan roti lunak, bukan? Enak sekali untuk sarapan pagi selagi perut lapar.”

“Ikan panggang...?” Gadis itu tadi memang sudah mengilar ketika mencium bau ikan panggang.

“Mari, nona. Mari kita sarapan dulu, baru bicara tentang urusan kita.” Tanpa banyak cakap lagi Pek-liong lalu melangkah ke arah hamparan kain di atas rumput. “Tidak baik membicarakan urusan penting dengan perut kosong, bisa masuk angin.”

Gadis itu masih termangu dan terheran, akan tetapi seperti di luar kehendaknya, kakinya melangkah mengikuti Pek-liong dan ketika pemuda itu dengan ramah memberi isyarat agar ia duduk di hamparan kain, iapun duduk berhadapan dengan pemuda itu.

Pek-liong membuka makanan yang tadi dia tutupi, lalu mempersilakan gadis itu makan. “Mari, rotinya masih baru, ikan panggangnya masih hangat, dan anggur ini manis dan tidak terlalu keras, buatanku sendiri, nona Bouw Tan. Namamu mengingatkan aku akan bunga bouw-tan yang indah.

Pouw Bouw Tan adalah seorang gadis kang-ouw yang tidak pemalu. Ia puteri seorang guru silat aliran Kun-lun-pai yang pandai dan sudah biasa merantau seorang diri mengandalkan sepasang pedangnya. Ia tabah, lincah dan gagah, maka kini melihat sikap Pek-liong yang tidak ceriwis, melainkan ramah dan nampak bersungguh-sungguh, iapun ikut duduk makan roti dan panggang ikan dan minum anggur merah yang disuguhkan Pek-liong.

Pendekar ini sendiri merasa kagum dan senang. Seorang gadis yang cantik, berani dan tabah sekali. Sayang datang memusuhinya, hendak menangkapnya. Kalau saja datang sebagai seorang sahabat, alangkah akan menyenangkan suasananya, seperti sedang pesiar di telaga bersama seorang kekasih saja.

Mereka makan minum tanpa bicara dan dari cara gadis itu makan, Pek-liong tahu bahwa gadis itupun lapar, seperti dia, dan jujur, makan secara bebas tanpa malu-malu seperti kebanyakan gadis lain. Setelah mereka selesai makan, barulah Pek-liong berkata.

“Engkaukah kiranya orang yang menghendaki kematianku, nona? Jadi engkaukah yang mengirim orang beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumahku?”

Bouw Tan memandang dengan alis berkerut. Mata yang bening indah itu memandang penuh selidik dan penasaran. “Aku tidak menghendaki kematianmu dan aku tidak pernah menyuruh siapapun memasuki rumahmu. Aku hanya ingin menangkapmu dan menghadapkan kepada ayah karena engkau penyebab kematian kakakku.”

Jawaban ini membuat Pek-liong semakin tertarik. Kalau bukan nona ini yang menyuruh orang memasuki rumahnya, maka berarti pancingannya telah gagal. Umpannya ternyata disambar oleh ikan yang tidak dikehendakinya! Ikan itu adalah gadis aneh ini, yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang mencoba memasuki rumahnya, akan tetapi yang hendak menangkapnya karena dia dianggap menjadi penyebab kematian kakaknya! Sungguh menarik.

“Nona Pouw Bouw Tan, sungguh aku menjadi bingung sekarang. Selama hidupku, sayang sekali aku belum pernah mengenalmu, baik orang maupun namanya. Baru sekarang ini aku bertemu dan mengenalmu. Akan tetapi engkau mengatakan bahwa aku menjadi penyebab kematian kakakmu, dan engkau hendak menangkap aku dan membawa aku menghadap ayahmu! Sungguh luar biasa. Mimpi apakah aku semalam maka hari ini hendak ditangkap orang tanpa salah? Siapakah ayahmu itu dan mengapa kaukatakan aku menyebabkan kematian kakakmu?”

“Tugasku hanya membawamu menghadap ayah, di sana engkau akan mendengar semua penjelasannya. Kita tidak mempunyai banyak waktu, mari kita berangkat, Pek-liong!” Gadis itu bangkit dan sikapnya kembali kaku dan tegas.

Pek-liong bangkit perlahan-lahan dan tersenyum. “Nona, engkau sudah mengenal aku sebagai Pek-liong-eng dan engkau berani hendak menangkap aku begitu saja. Apa kau kira engkau akan mampu mengalahkan aku?”

Bouw Tan mengerutkan alisnya dan matanya berkilat, tangannya meraba gagang sepasang pedangnya. “Aku tahu bahwa engkau seorang pendekar yang lihai. Akan tetapi aku tidak takut. Kalau perlu aku akan menggunakan pedangku. Demi membalas kematian kakakku, aku rela mempertaruhkan nyawaku!”

Pek-liong mengerutkan alisnya. Ini gawat! Jelas bahwa gadis ini bukan orang jahat, akan tetapi ia mengandung dendam yang amat hebat, dan agaknya bukan hanya gertakan kosong. Kalau dia melawan, tentu gadis itu akan menyerangnya mati-matian. Tentu saja dia tidak ingin mengalahkan gadis yang tidak berdosa ini.

“Ke mana engkau akan membawaku, nona?”

“Tidak jauh. Kami tinggal di kota Hang-kouw.”

Kota itu berada di seberang Telaga Barat. Tentu akan makan waktu perjalanan sehari penuh. Agaknya urusannya dengan gadis ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan urusan penyusupan penjahat ke rumahnya tiga hari yang lalu. Akan tetapi apa boleh buat. Dia juga ingin sekali tahu apa sebenarnya yang telah terjadi maka gadis ini nekat hendak menangkapnya dan menghadapkan dia kepada ayahnya.

“Baiklah kalau begitu, nona. Mari kita berangkat,” katanya sambil tersenyum sabar.

“Nanti dulu. Engkau harus kubelenggu kedua tanganmu agar lebih mudah bagiku membawamu ke sana.”

Pek-liong membelalakkan kedua matanya. “Kedua tanganku dibelenggu?”

“Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak akan menipuku dan tidak akan melarikan diri dalam perjalanan,” kata gadis itu galak.

Hampir Pek-liong tertawa bergelak mendengar ini,`dan melihat sikap galak itu. Seolah-olah dia seorang maling kecil saja! Akan tetapi, diapun melihat kelucuan dalam peristiwa ini, maka diapun menyodorkan kedua lengannya ke depan, dan berkata, “Nah, belenggulah kalau itu yang kau kehendaki, nona Bouw Tan.”

“Tarik kedua tanganmu ke belakang tubuh!” bentak Bouw Tan.

Ini sudah keterlaluan, pikir Pek-liong, akan tetapi dia masih tersenyum dan tanpa membantah dia menarik kedua tangan ke belakang tubuhnya. Nona itu lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan rantai besi yang sudah dipersiapkannya sebelumnya. Setelah melihat bahwa ikatan itu kuat sekali barulah Bouw Tan berkata.

“Nah, mari kita berangkat. Jangan marah karena aku harus yakin bahwa engkau tidak akan melarikan diri,” tambahnya.

Pek-liong kembali tersenyum. Bocah ini nakal, pikirnya. Enak saja membelenggu orang lalu minta agar dia tidak marah! “Baiklah, aku tidak akan marah. Aku ingin sekali tahu apa yang akan kuhadapi di Hang-kouw.”

Karena Pek-liong bersikap tenang, penurut dan sama sekali tidak melawan, sikap Bouw Tan juga lebih manis. Bahkan ketika mereka melakukan perjalanan di sepanjang pantai telaga yang luas itu menuju ke kota Hang-kouw, gadis itu mau menceritakan tentang kematian kakaknya.

“Ayah bernama Pouw Kiat yang di kota Hang-kouw dikenal sebagai Pouw-kouwsu (guru silat Pouw) karena memang pekerjaan ayah adalah guru silat. Ayah murid Kun-lun-pai dan perguruan silat ayah cukup dikenal. Ayah hanya mempunyai dua orang anak, yaitu kakakku bernama Pouw Bouw Ki dan aku. Kakak Bouw Ki berusia duapuluh lima tahun. Kakakku sering mewakili ayah mengajar ilmu silat kepada para murid yang sudah pandai.

“Pada suatu hari, kurang lebih seminggu yang lalu, kakak Bouw Ki tewas terbunuh orang tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuhnya. Akan tetapi, di baju kakakku yang putih ada tulisannya dan tulisan itulah yang membuat aku datang untuk menangkapmu dan membawamu menghadap ayah.”

Tentu saja Pek-liong merasa tertarik sekali. “Bagaimana bunyi tulisan itu?”

“Bunyinya begini: Pek-liong-eng telah menebus dosanya dan akan tiba giliran Hek-liong-li.”

Pek-liong mengerutkan alisnya. Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu ke belakang, tentu saat itu dia sudah meraba-raba dagunya, kebiasaannya kalau dia sedang berpikir keras. Kemudian dia bertanya, “Kau tadi mengatakan bahwa tulisan itu ditulis di atas baju kakakmu yang putih. Apakah kakakmu biasa memakai pakaian serba putih?”

Gadis itu mengangguk. “Semenjak ibu kami meninggal dunia lima tahun yang lalu, kakak Bouw Ki selalu mengenakan pakaian serba putih, seperti yang kau pakai, juga perawakannya serupa denganmu walaupun wajahnya tidak sama benar.”

“Kalau begitu, dia menjadi korban salah bunuh! Tentu disangka aku maka dia dibunuh!” Pek-liong berseru.

“Kamipun menyangka demikian. Karena engkau maka kakakku tewas, oleh karena itu, aku harus menangkapmu dan kubawa kepada ayah karena pembunuhan ini ada hubungannya dengan dirimu.”

“Tapi yang salah membunuh adalah penjahat itu, bukan aku, nona!” Pek-liong memprotes.

Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dan dua orang muncul dari balik semak belukar. Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, keduanya bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat. Seorang bermuka hitam dan sebatang golok besar terselip di pinggangnya, sedangkan orang kedua brewok dan memegang sebatang tombak. Yang tertawa adalah si muka hitam dan diapun berkata dengan suara parau.

“Ha-ha-ha-ha, sekali ini kami tidak akan salah membunuh orang, Pek-liong-eng, dan kami bahkan mendapat upah seorang gadis yang cantik, heh-heh!”

Mendengar ini, Bouw Tan mencabut sepasang pedangnya dan dengan gagah ia menghadapi kedua orang laki-laki kasar itu. Matanya berapi-api dan ia membentak nyaring. “Jadi kaliankah yang telah membunuh kakakku Pouw Bouw Ki, dan meninggalkan tulisan di bajunya itu?”

“Ha-ha-ha, kami Thian-te Siang-houw (Sepasang Harimau Langit Bumi) tidak pernah bekerja setengah-setengah. Sekali ini kami tidak akan salah bunuh lagi!” Setelah berkata demikian, kedua orang itu menggunakan senjata mereka untuk menyerang ke arah Pek-liong.

“Trang-tranggg...!!” Gadis itu dengan gagahnya telah menggerakkan sepasang pedangnya menangkis, dan berdiri di depan Pek-liong, bersikap melindunginya.

“Jahanam busuk, kalian telah membunuh kakakku, maka hari ini aku akan membalas kematian kakakku!”

Si brewok kini menyeringai. “Aih, nona manis. Kami tidak sengaja membunuh kakakmu. Minggirlah, biar kami membunuh Pek-liong-eng lebih dulu, nanti kami akan minta maaf dan bersikap manis kepadamu!”

Akan tetapi ucapan ini bagaikan minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Bouw Tan semakin berkobar, “Kalian iblis busuk!” bentaknya dan sepasang pedangnya sudah menjadi sinar bergulung-gulung menyambar ke arah dua orang laki-laki itu.

Si muka hitam berseru setelah menangkis serangan Bouw Tan. “Kita taklukkan kuda betina ini dulu, baru kita bunuh Pek-liong-eng!”

“Benar,” kata si brewok, “tapi jangan lukai gadis ini, sayang kalau sampai ia terluka, heh-heh!”

Bouw Tan marah sekali dan iapun memutar kedua pedangnya. Pek-liong segera mengenal ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang indah. Akan tetapi dia pun terkejut melihat gerakan dua orang tinggi besar itu. Ternyata merekapun lihai sekali dan permainan golok dan tombak mereka cukup berbahaya.

Andaikata harus melawan satu di antara mereka saja, mungkin Bouw Tan masih mampu menandingi karena tingkat mereka seimbang. Akan tetapi karena dua orang itu maju berdua, maka setelah lewat belasan jurus saja, gadis itu terdesak hebat.

Pek-liong hanya menonton saja karena dari gerakan mereka, tahulah dia bahwa dua orang itu tidak akan melukai Bouw Tan. Hatinya terasa panas oleh amarah karena dia dapat menduga apa yang menjadi isi hati kedua orang busuk itu. Tentu mereka ingin mengalahkan Bouw Tan tanpa melukainya, dan setelah mereka membunuh dia, tentu mereka akan mempermainkan Bouw Tan.

Sungguh dua orang manusia yang amat jahat dan keji, akan tetapi diapun ingin sekali mengetahui mengapa mereka memusuhinya. Melihat tingkat kepandaian mereka, tidak pantas kalau mereka itu memusuhinya, tentu mereka hanyalah anak buah saja, dan ada tokoh lain yang menyuruh mereka. Tempat kedua orang itu menghadang merupakan tepi telaga yang amat sepi, dan tidak ada orang lain kecuali dia yang menyaksikan perkelahian itu.

Seperti telah dikhawatirkannya, setelah lewat dua puluh jurus, akhirnya tangkisan yang amat kuat membuat kedua pedang gadis itu terlepas, dan gadis itupun roboh oleh sapuan gagang tombak pada kedua kakinya. Sebelum ia dapat bangkit, si brewok sudah menubruk dan menotoknya sehingga gadis itu rebah telentang tanpa mampu bergerak lagi. Kedua orang itu tertawa bergelak, dan si muka hitam berkata,

“Kau tunggulah sebentar, manis. Setelah kami membunuh Pek-liong-eng, kami akan mengajak engkau bersenang-senang sepuasnya, ha-ha-ha!”

Kini, si muka hitam yang memegang golok besar dan si brewok yang memegang tombak, menghampiri Pek-liong yang masih berdiri dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang. Pek-liong nampak tenang-tenang saja, sebaliknya Bouw Tan yang rebah tak mampu bergerak itu memandang dengan sinar mata ngeri dan penuh penyesalan. Akan tetapi ia tidak berdaya, bahkan ia terancam bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut.

“Pek-liong-eng, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” bentak si muka hitam.

“Engkau tidak perlu penasaran karena engkau akan mati di tangan dua orang gagah. Kami adalah Thian-te Siang-houw yang namanya terkenal di kolong langit!” kata si brewok.

“Hemm, Thian-te Siang-houw, kalian telah membunuh Pouw Bouw Ki, mengapa?” tanya Pek-liong sikapnya masih tenang saja sehingga Bouw Tan merasa heran sekali. Ia gelisah setengah mati, akan tetapi pendekar yang nyawanya seperti bergantung kepada sehelai rambut itu demikian tenangnya!

“Ha-ha, tadinya kami salah kira. Dia berpakaian putih, perawakannya seperti engkau. Setelah tahu kami keliru, kami merasa bahkan kebetulan karena kekeliruan itu akan dapat memancing engkau keluar. Perhitungan kami tepat. Engkau akan mampus sekarang juga!”

Dua orang itu kini menerjang dengan senjata mereka, menyerang Pek-liong dari kanan kiri. Bouw Tan yang tidak dapat bergerak, merasa ngeri sekali dan ia memejamkan mata, tidak ingin melihat pendekar itu terkoyak-koyak tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan tak terasa matanya menjadi basah karena ia menyadari bahwa ialah yang membuat pendekar itu mati konyol. Ia telah membelenggu kedua tangan pendekar itu sehingga tentu saja tidak akan mampu melawan dan akan mati tercincang.

Akan tetapi tidak terdengar apa-apa, tidak terdengar teriakan kesakitan atau robohnya badan, hanya terdengar suara senjata berdesing-desing. Bouw Tan membuka matanya dengan hati tegang, dan ia segera terbelalak. Pek-liong sama, sekali tidak roboh mandi darah dengan tubuh tercincang. Sama sekali tidak.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Tubuh pendekar yang kedua tangannya masih terikat ke belakang tubuh itu bergerak dengan ringan dan lincah sekali, menyelinap di antara sambaran kedua senjata lawan. Setiap bacokan golok, setiap tusukan tombak, semua tidak mampu menyentuhnya, bahkan menyentuh bajunyapun tidak.

Bouw Tan terbelalak dengan muka berubah merah sekali. Ia seperti telah buta! Dengan kedua tangan terikat ke belakang, pendekar itu mampu mempermainkan dua orang bersenjata pada hal ia sendiri dengan sepasang pedangnya telah kalah dalam waktu yang tidak terlalu lama!

Hampir ia tidak pernah berkedip mengikuti perkelahian itu dengan pandang matanya. Akhirnya ketika Pek-liong mengeluarkan seruan-seruan nyaring, kakinya bergerak terputar dan kedua orang itu terpelanting, senjata mereka terlempar dan merekapun mengaduh-aduh, mencoba bangkit akan tetapi sukar sekali.

Pek-liong meloncat ke dekat tubuh Bouw Tan, dengan ujung sepatunya dia menendang dua kali ke arah pundak dan pinggang dan... gadis itu dapat bergerak kembali. Pendekar itu telah membebaskan totokannya hanya dengan ujung sepatunya

Begitu dapat bergerak, Bouw Tan sudah meloncat dan mengambil sepasang pedangnya yang tadi terpukul jatuh, dan sebelum Pek-liong tahu apa yang akan dilakukannya, gadis itu sudah meloncat ke arah dua orang yang tadi dirobohkan Pek-liong, sepasang pedangnya bergerak seperti kilat menyambar ke arah dua orang yang sudah tidak berdaya melawan itu.

“Nona, jangan...!” teriak Pek-liong dengan kaget, akan tetapi terlambat, dua orang itu sudah roboh mandi darah dengan leher hampir putus dibabat sepasang pedang di tangan Bouw Tan. Pek-liong meloncat dekat dan merasa menyesal sekali.

“Aihh, kenapa engkau membunuh mereka nona?” tegurnya dengan nada menyesal.

“Kenapa tidak? Merekalah pembunuh-pembunuh kakakku, dan aku harus membalas dendam. Sekarang, kematian kakakku telah terbalas, hatiku telah merasa puas.”

“Akan tetapi, nona, mereka itu sesungguhnya hendak membunuhku. Kakakmu hanya menjadi korban salah duga saja, dan aku sebetulnya ingin sekali memaksa mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka untuk membunuhku. Sekarang mereka telah kau bunuh sehingga aku tetap tidak mengetahui siapa orang yang menyuruh mereka.”

Bouw Tan baru menyadari hal ini dan ia merasa menyesal juga. “Ah, maafkan aku, tai-hiap, aku telah terburu nafsu, dan... aku telah membelenggu kedua tanganmu, dan dengan kedua tangan terbelenggu engkau dapat merobohkan dua orang yang tak dapat kulawan dengan sepasang pedangku. Aku menyesal dan merasa malu sekali, kau maafkan aku, tai-hiap. Mari kubukakan belenggu tanganmu...!” Gadis itu menghampiri Pek-liong untuk membukakan tali pengikat kedua pergelangan tangan pendekar itu.

“Tidak perlu repot-repot, nona Bouw Tan,” kata Pek-liong dan sekali dia mengerahkan tenaga, ikatan itupun putus dan kedua tangannya bebas.

Melihat ini, wajah Bouw Tan berubah merah sekali. “Tai-hiap, kenapa tadi engkau mau saja kubelenggu kedua tanganmu? Kenapa engkau membiarkan dirimu menjadi tawananku?” tanyanya, heran dan juga malu...

Thanks for reading Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »