Social Items

BAGI makhluk-makhluk kecil yang pandai terbang ini, nampaknya pekerjaan setiap hari merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang disambut dengan persiapan yang riuh dan menggembirakan. Bagi mereka yang ada hanyalah satu, yakni setiap hari bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak mereka yang masih belum mampu mencari makan sendiri. Hanya mencari makan untuk mempertahankan hidup, itu saja.

Tiba-tiba saja nampak cahaya yang amat terang. Ang-hwa (Bunga Merah) yang mengendalikan kereta cepat menahan dua ekor kudanya dan ketika ia memandang ke sekeliling, ternyata kereta itu berada di tempat terbuka dan tempat itu sudah dikepung banyak orang. Tidak kurang dari dua puluh orang mengepung tempat itu, dan sedikitnya sepuluh orang memegang obor besar yang agaknya tadi dinyalakan serentak sehingga nampak cahaya yang menyilaukan mata.

Dua puluh orang lebih itu membawa golok di pinggang, ada yang memegang tombak, dan wajah-wajah yang tertimpa sinar obor kemerahan itu nampak bengis, seperti wajah setan layaknya. Dan di depan kereta muncul lima orang yang berdiri bertolak pinggang dengan sikap sombong.

Ang-hwa dan dua orang rekannya, yaitu Lan-hwa dan Ui-hwa yang mengintai dari celah-celah tirai, melihat bahwa mereka adalah lima orang yang bertampang dan bersikap menyeramkan. Seorang bertubuh tinggi besar berkulit hitam legam, yang kedua pendek gendut dengan muka menyeringai jelek, yang ketiga tinggi kurus, keempat tinggi besar agak bongkok dan yang kelima sedang saja, akan tetapi senyumnya mengejek dan sombong.

Biarpun dikepung dan dihadapi sedikitnya dua puluh lima orang, Ang-hwa (Bunga Merah) nampak tenang-tenang saja. Setelah saling pandang dengan lima orang itu, dengan suaranya yang lincah dan lantang Ang-hwa bertanya, “Apakah kalian ini yang disebut Thai-san Ngo-kwi (Lima Setan Thai-san)?”

Mereka memang Thai-san Ngo-kwi. Seperti sudah kita ketahui, lima orang kepala gerombolan murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi yang juga merasa sakit hati kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, bersekongkol dengan dua orang paman guru dan seorang bibi guru mereka, merencanakan balas dendam kepada dua orang pendekar itu.

Ngo-kwi (Setan Kelima) yang paling muda di antara mereka, usianya tiga puluh lima tahun pesolek dan tampan, bertubuh sedang dan pembawaannya seperti seorang kong-cu (tuan muda) dari kota, tertawa dibuat-buat sambil memandang ke arah Ang-hwa yang memegang kendali kuda.

“Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa Hek-liong-li mempunyai sembilan orang pelayan yang manis-manis dan yang berpakaian merah merupakan pelayan yang paling cantik paling lihai. Agaknya engkaulah nona baju merah itu? Kami memang benar Thai-san Ngo-kwi. Nah, nona merah, apakah engkau datang untuk menemani kami bersuka-ria? Marilah engkau turun ke dalam pelukanku, manis!”

Jelas bahwa ucapan ini bukan sekedar menggoda, melainkan juga mengandung ejekan yang tidak memandang sebelah mata kepada para pembantu Hek-liong-li. Memang benar pendapat Ngo-kwi ini. Ang-hwa adalah seorang yang paling cerdik, juga paling tangguh dalam ilmu silat, di antara rekan-rekannya. Karena melihat bakat yang ada pada diri Ang-hwa, maka Hek-liong-li tidak saja menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi kepadanya, juga amat mempercayainya sehingga untuk urusan penting, Ang-hwa yang diserahi tugas pelaksanaannya.

Gadis berusia dua puluh lima tahun ini sudah tiga kali putus cinta, dikhianati pria, maka setelah bertemu Hek-liong-li, iapun rela menghambakan diri dan kini merupakan pelayan, murid, dan sahabat terbaik Hek-liong-li. Mendengar ucapan Ngo- kwi, Ang-hwa sama sekali tidak terpancing menjadi marah. Bahkan sebaliknya, ia tersenyum manis sekali memandang kepada Ngo-kwi.

“Kiranya benar kalian Thai-san Ngo-kwi. Memang kunjunganku ini mempunyai tugas penting, yaitu aku diutus oleh Hek-liong Li-hiap (Pendekar Wanita Naga Hitam) untuk menyerahkan hadiah yang amat berharga kepada kalian sebagai tanda penghormatan!”

Mendengar ini, lima orang kepala penjahat itu saling pandang, ada yang terheran, ada yang curiga, ada pula yang kagum dan ada yang tidak percaya. Akan tetapi Thai-kwi, orang pertama dari mereka, berusia empat puluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar muka hitam, maklum akan kecerdikan Hek-liong-li dan tidak ingin adik seperguruannya yang termuda dan mata keranjang itu menggagalkan rencana mereka, segera melangkah maju mendekati kereta.

“Nona, kalau benar engkau diutus Hek-liong-li datang ke sini untuk mengirim hadiah kepada kami, nah, serahkan hadiah itu kepadaku. Akulah Thai-kwi, orang pertama dari Thai-san Ngo-kwi.”

Ang-hwa tersenyum. “Nah, itu baru sambutan yang tepat. Thai-kwi, terimalah kiriman dari nona kami, akan tetapi hati-hati, barang kiriman yang dua buah ini cukup berat. Sambutlah!”

Tiba-tiba dua buah benda besar panjang terlempar keluar dari dalam kereta, seperti menerjang kepada Thai-kwi. Orang pertama Thai-san Ngo-kwi ini memang lihai. Dia terkejut dan mengira bahwa ada orang-orang keluar dari kereta menyerangnya, maka sambil berteriak dia bergerak, memukul dan menendang ke arah dua buah benda yang menubruknya itu.

“Bukk! Bukkk!” Dua buah benda itu terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi.

Ketika semua orang memandang, mereka terkejut setengah mati. Bahkan Thai-kwi sendiri terbelalak dan mukanya berubah merah seperti dibakar. Karena kulit mukanya memang sudah hitam, ketika darah naik ke kepala saking marahnya, warna mukanya menjadi semakin gelap.

Dua buah benda itu bukan lain adalah tubuh dua orang laki-laki yang terbungkus kain, hanya mukanya saja yang nampak, muka dua orang anak buahnya yang tadi disuruh mengawal Ui-hwa (Bunga Kuning) mempelajari rahasia tempat tinggal Hek-liong-li! Mereka kini dikirim oleh Liong-li kepada mereka sudah menjadi mayat!

Tentu saja Thai-san Ngo-kwi menjadi marah bukan main, juga para anak buahnya berteriak-teriak karena marah. Bukan saja dua orang rekan mereka terbunuh, akan tetapi juga Liong-li mengirim mayat mereka, hal ini sungguh merupakan penghinaan yang hebat. Namun, di balik kemarahan ini terdapat kengerian karena cara yang dilakukan Liong-li ini menunjukkan betapa hebatnya wanita itu, betapa beraninya!

“Keparat! Nona baju merah, engkau berani membawa mayat-mayat anak buah kami ke sini, apakah nyawamu rangkap?” bentak Thai-kwi dan pada saat itu muncullah Lan-hwa dan Ui-hwa dari balik tirai kereta.

Setelah tadi melempar keluar dua mayat anak buah penjahat, dua orang gadis itu bersiap-siap dan setelah tiba saatnya, mereka meloncat keluar dan berdiri di kanan kiri kereta bagian depan, mendampingi Ang-hwa yang masih duduk di atas kereta. Tiga orang gadis cantik ini bersikap tenang dan siap siaga menghadapi pengeroyokan banyak lawan.

Melihat ini, kemarahan Thai-kwi memuncak. “Bagus!” teriak Thai-kwi. “Hek-liong-li mengirim tiga orang anak buahnya dan kami masih untung satu kalau membunuh mereka bertiga ini!”

“Twako, jangan bunuh. Serahkan dulu mereka bertiga kepadaku! Setelah kita mempermainkan mereka sepuasnya, barulah mereka itu dibunuh!” kata Ngo-kwi dan ucapannya ini disambut gembira oleh anak buah mereka.

Thai-kwi mengangguk-angguk dan tersenyum. “Begitu juga lebih baik. Nah, kerahkan semua tenaga dan tangkap tiga orang gadis ini hidup-hidup. Kita akan mempermainkan dan menyiksanya, baru mengirim mayat mereka ke rumah Hek-liong-li!”

Para pengepung itu menyeringai dan mereka semua menyimpan senjata mereka, mengepung kereta itu dan mata mereka berkilat, wajah berseri karena mereka seperti akan berlomba siapa yang dapat lebih dulu menangkap tiga orang wanita muda yang cantik manis itu. Akan tetapi, melihat mayat dua orang rekan mereka, para anak buah penjahat itupun maklum bahwa biarpun merupakan wanita-wanita muda yang cantik, namun pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak berani langsung menyerang, bahkan membiarkan pimpinan mereka, lima orang Thai-san Ngo-kwi untuk turun tangan.

Sebelum lima orang kepala gerombolan itu turun tangan, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di atas kereta itu telah berdiri seorang wanita yang cantik luar biasa. Nampak semakin luar biasa karena kemunculannya yang tiba-tiba, berpakaian sutera hitam dan wajahnya yang bulat telur itu disinari api obor yang banyak.

Tadi, lima orang Thai-san Ngo-kwi hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam, dan tahu-tahu wanita itu telah berdiri di atas kereta, tanpa mengguncangkan kereta seolah-olah yang menimpa atas kereta itu bukan manusia, melainkan seekor burung.

“Hek-liong-li...!” terdengar teriakan-teriakan kaget dan mendengar sebutan ini, Liong-li tersenyum manis.

“Hemm, kalian masih mengenal Hek-liong-li, namun tetap berani mengganggunya, berarti kalian memang sudah bosan hidup. Kalian merusak arca di pekarangan rumahku, kemudian kalian mencoba untuk meracuniku, lalu menawan orangku. Thai-san Ngo-kwi, selama ini aku Hek-liong-li tidak pernah mengganggumu, kenapa sekarang kalian melakukan hal-hal tidak pantas kepadaku? Aku tidak mau membunuh orang tanpa mengetahui urusannya!”

Biarpun hatinya jerih menghadapi pendekar wanita pembunuh gurunya itu, namun karena dia berada bersama empat orang adik seperguruannya, bahkan masih ada lagi dua puluh orang lebih anak buah mereka, Thai-kwi yang marah itu membentak.

“Hek-liong-li, kami akui bahwa yang merusak arca di pekarangan, yang menyuruh meracuni dan kemudian menculik anak buahmu adalah kami, Thai-san Ngo-kwi! Mengapa kami memusuhimu? Hek-liong-li, mungkin engkau sudah lupa, namun kami tidak akan pernah dapat melupakan bahwa guru kami, Siauw-bin Ciu-kwi, tewas di tangan engkau dan Pek-liong-eng! Nah, sekarang tiba saatnya engkau membayar hutang nyawa kepada guru kami!”

Bibir yang merah basah dan manis itu tersenyum mengejek. “Aha, kiranya kalian murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi. Tidak mengherankan kalian pandai mempergunakan siasat licik dan curang busuk. Siauw-bin Ciu-kwi tewas karena ulahnya sendiri, karena kejahatannya. Dan kalian pun akan mampus karena kejahatan kalian sendiri kalau kalian melanjutkan perbuatan jahat kalian. Sebaiknya, selagi masih ada kesempatan, kalian bertaubat, membuang senjata dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Aku Hek-liong-li bukan orang kejam dan suka memaafkan kalian yang telah merusak arca dan mencoba meracuniku.”

“Hek-liong-li, bersiaplah untuk mampus menebus hutangmu kepada guru kami!” Thai-kwi membentak dan dia memberi isyarat kepada empat orang adik seperguruannya.

Mereka berlima serentak menyerang Hek-liong-li, sedangkan dua puluh orang lebih anak buah mereka sambil berteriak-teriak maju mengepung dan menyerang Ang-hwa, Lan-hwa dan Ui-hwa. Terjadilah pertempuran seru di tempat itu, hanya diterangi obor-obor dan di atas tanah. Juga matahari pagi mulai memperbesar cahayanya menjenguk dari balik puncak.

Thai-san Ngo-kwi bersenjatakan golok besar dan selain ilmu golok yang dahsyat, mereka juga telah mewarisi ilmu pukulan ampuh dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, yaitu yang disebut Ang-hwe-ciang (Tangan Api Merah). Sambil memainkan golok dengan tangan kanan, merekapun mengerahkan tenaga Ang-hwe-ciang pada tangan kiri sehingga tangan kiri mereka itu berubah menjadi merah warnanya dan mengepulkan asap atau uap kemerahan.

Lebih hebat lagi, ketika mereka berlima menyerang dari lima jurusan, mereka kadang bergulingan dan sambil bergulingan itu golok mereka menyambar atau tangan kiri mereka memukul. Tangan kiri yang merah itu tidak kalah dahsyatnya dibandingkan golok di tangan kanan.

Namun Hek-liong-li adalah seorang ahli silat yang sudah berpengalaman menghadapi banyak macam penjahat lihai. Ia masih ingat benar akan keampuhan Ang-hwe-ciang dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, maka kini iapun amat berhati-hati. Ia masih belum mempergunakan pedangnya, hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan bertubi yang dilakukan lima orang kepala gerombolan itu.

Untuk menghadapi pengeroyokan lima orang lawan tangguh itu, Liong-li sengaja mempergunakan langkah ajaib yang disebut Liu-seng-pow (Langkah Pohon Liu). Kedua kakinya bergeser dan melangkah secara aneh, tubuhnya meliuk-liuk seperti batang pohon liu tertiup angin, dan hebatnya, semua serangan lima orang lawan tak pernah mampu menyentuh dirinya.

Untuk mengimbangi langkah ajaib Liu-seng-pouw ini, Liong-li juga menyelingi dengan serangan kedua tangannya yang mempergunakan ilmu Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya halus namun setiap kali tangannya menampar, angin pukulan menyambar dengan amat kuatnya.

Thai-san Ngo-kwi menjadi kewalahan. Setiap kali tangan Liong-li menampar dan mereka mengelak, tetap saja hawa pukulan itu membuat mereka terhuyung sehingga mereka maklum bahwa sekali saja terkena tamparan itu, berbahayalah bagi keselamatan nyawa mereka.

Selagi mereka kebingungan, terdengar suara tawa yang menyeramkan, seperti suara kuntilanak yang tertawa dan muncullah Ang I Sian-li yang biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad, masih nampak ramping dan cantik, pesolek pula. “Hek-liong-li, inilah saatnya engkau mati!” teriak nenek itu dan begitu ia menyerang.

Hek-liong-li terkejut. Ia dapat mengindarkan diri dengan langkah ajaibnya, namun tetap saja sebagian gelung rambutnya terlepas ketika dilanda angin pukulan yang berdesir tajam. Liong-li cepat memperhatikan wanita itu, akan tetapi ia merasa belum pernah bertemu atau mengenal orang ini.

Ia tidak diberi banyak kesempatan untuk berpikir, apa lagi bertanya karena begitu serangan pertama itu luput, nenek tadi sudah menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada serangan pertama. Karena ingin mengukur sampai di mana kekuatan pukulan lawan, Liong-li sengaja menyambut pukulan itu dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

“Desss...!!” Dua tangan itu bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai empat-lima langkah tanpa dapat mereka cegah lagi.

Nenek itu terbelalak kaget, dan diam-diam Liong-li juga terkejut karena ia tahu bahwa nenek ini benar-benar amat lihai, memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri. Maka, tanpa ragu lagi kini tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar hitam berkelebat ketika pedang Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut dari sarungnya.

Thai-san Ngo-kwi tentu saja tidak tinggal diam. Hati mereka besar setelah melihat munculnya nenek berpakaian serba merah itu. Melihat Ang I Sian-li sudah bergebrak melawan Hek-liong-li, merekapun segera menyerang dengan senjata golok mereka.

Liong-li maklum bahwa ia menghadapi banyak lawan yang tangguh, maka iapun cepat memutar pedangnya dan pedang itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar. Terdengar suara nyaring berkerontangan dan lima orang penyerang itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat karena ujung golok mereka patah-patah ketika bertemu gulungan sinar hitam.

Ang I Sian-li memang belum pernah bertemu dengan Liong-li dan hanya mendengar bahwa gadis pendekar itu lihai dan telah menewaskan empat orang rekannya dari Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua). Kini, dalam gebrakan pertama saja ia maklum bahwa berita tentang Hek-liong-li tidaklah bohong. Gadis itu memiliki tenaga sin-kang yang mampu menangkis pukulannya.

Kini sekali putar pedangnya saja ia mampu mematahkan ujung lima batang golok dari para murid Siauw-bin Ciu-kwi. Ia menoleh kepada duapuluh lebih anak buah Thai-san Ngo-kwi, dan melihat betapa merekapun dibuat kocar-kacir oleh tiga orang nona pelayan Hek-liong-li.

Ang I Sian-li memberi isyarat dengan siulan melengking. Ia memang tidak bermaksud membunuh Liong-li begitu saja. Gerakan pertama ini hanya untuk mengacau dan merongrong Hek-liong-li. Untuk membunuh gadis pendekar itu, ia harus bersatu dengan dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Pek-bwe Coa-ong.

Mendengar isyarat itu, Thai-san Ngo-kwi juga memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk mundur dan merekapun berlompatan meninggalkan tempat itu sambil menyeret dan menarik teman-teman yang sudah terluka dalam pertempuran itu.

“Jangan kejar!” Liong-li berseru ketika melihat tiga orang pembantunya hendak melakukan pengejaran.

Terlalu berbahaya mengejar musuh di daerah mereka sendiri, apa lagi musuh itu terdiri dari banyak orang jahat yang dipimpin seorang yang amat lihai seperti nenek berpakaian merah tadi. Yang membuat ia heran adalah nenek tadi. Siapakah ia dan mengapa pula ia membantu Thai-san Ngo-kwi?

Kalau lima orang pemimpin gerombolan itu memusuhinya, ia tidak merasa heran karena mereka adalah para murid Siauw-bin Ciu-kwi yang tewas di tangan ia dan Pek-liong. Akan tetapi nenek berpakaian merah itu, mengapa memusuhinya?

“Mari kita pulang dan mulai saat ini kita harus melakukan penjagaan ketat di rumah,” katanya kepada tiga orang pembantunya. Merekapun naik kereta dan pulang kembali ke Lok-yang.

Setelah Liong-li tiba di rumah dengan selamat, ia lalu mengatur penjagaan ketat siang malam secara bergilir agar setiap saat ada musuh datang, mereka dapat mengetahuinya. Mereka semua siap-siaga untuk melawan musuh kalau ada yang berani mengganggu.

Liong-li diam-diam mengutus seorang anggauta piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) untuk mengantarkan surat kepada Pek-liong yang tinggal di dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-ouw di Hang-kouw. Peristiwa yang baru saja ia alami perlu diketahui oleh Pek-liong, karena bukankah mereka berdua yang dahulu menantang Siauw-bin Ciu-kwi? Kalau kematian datuk sesat itu hendak dibalaskan oleh para muridnya, maka bukan ia seorang yang terancam, juga Pek-liong tentu akan mereka cari. Karena itulah, ia perlu memberitahu Pek-liong agar waspada.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Rumah itu tentu tidak akan menyolok dan menarik perhatian kalau berada di dalam kota besar. Akan tetapi karena adanya di dusun Pat-kwa-bun, maka tentu saja nampak megah dan mewah di antara rumah-rumah dusun yang kecil sederhana. Rumah itu cukup besar, dengan pekarangan yang luas. Dari taman di depan, kebun di belakang, dari genteng sampai ke dinding, daun pintu dan jendelanya, dapat dilihat bahwa rumah itu terpelihara baik-baik dan selain nampak megah, juga bersih dan menyenangkan.

Di taman atau pekarangan depan rumah, selain terdapat berbagai macam bunga yang sedang berkembang, juga terdapat sebuah arca berbentuk seekor naga dengan warna putih. Seekor Naga Putih! Baru bentuk arca ini saja akan membuat orang-orang dunia persilatan dapat menduga bahwa rumah ini tentu tempat tinggal si pendekar Naga Putih.

Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) Tan Cin Hay adalah seorang pendekar yang telah membuat nama besar dengan sepak terjangnya yang menggemparkan, baik seorang diri atau terutama sekali kalau dia berpasangan dengan Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam) Lie Kim Cu. Tan Cin Hay atau yang di dunia kang-ouw disebut Pek-liong (Naga Putih) adalah seorang pria yang usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya tampan bersih tidak dikotori kumis atau jenggot karena dicukur rapi, tentu hanya akan disangka seorang tuan muda atau seorang pelajar yang lembut kalau saja dagunya tidak berlekuk mununjukkan kejantanan dan sinar matanya tidak mencorong seperti mata naga.

Tubuhnya sedang saja dan pakaiannya yang serba putih itu di ringkas dan sederhana dan kalau orang berada di dekatnya baru akan melihat bahwa di lehernya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam. Orangnya pendiam, sederhana dan sikapnya rendah hati sehingga bagi yang belum mengenalnya, tentu akan menganggap dia seorang terpelajar karena penampilannya sama sekali tidak membayangkan seorang jagoan. Padahal, Pek-liong memiliki ilmu kepandaian yang membuat geger dunia kang-ouw, membuat gentar hati para penjahat karena dia selalu menentang kejahatan.

Dalam usianya yang tiga puluh tahun itu, Pek-liong hidup membujang di rumahnya yang besar, ditemani oleh enam orang pelayan pria yang usianya antara tiga puluh tiga sampai empat puluh tiga tahun. Para pelayan itu bukanlah pelayan biasa karena mereka telah digemblengnya dengan ilmu silat sehingga mereka juga dapat dianggap sebagai muridnya atau pembantunya.

Sebetulnya, Pek-liong bukanlah seorang perjaka yang tidak pernah menikah. Dia adalah seorang duda! Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia hidup bersama seorang isteri tercinta sebagai pengantin baru. Ketika itu isterinya sedang mengandung anak pertama. Akan tetapi malapetaka datang menimpa suami isteri ini.

Dalam keadaan mengandung tiga bulan, isterinya itu diculik dan diperkosa penjahat sampai mati. Dia sendiri nyaris tewas. Dendam sakit hati yang sedalam lautan sebesar gunung membuat Tan Cin Hay belajar ilmu silat secara mendalam, dan akhirnya dia berhasil membalas dendam kepada para penjahat yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya.

Dan sejak itulah nama Pek-liong terkenal di mana-mana karena dia selalu menentang kejahatan dan bertindak tegas terhadap penjahat yang manapun. Namanya bersama Liong-li semakin menjulang ketika mereka berdua berhasil membinasakan datuk-datuk besar golongan hitam, terutama sekali setelah mereka membinasakan empat orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).

Bersama Hek-liong-li, Pek-liong telah menewaskan Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), dan Tiat-thouw Kui-bo (Biang Iblis Kepala Besi), empat di antara Kiu Lo-mo yang terkenal sebagai datuk golongan hitam.

Memang amat mengherankan semua orang melihat betapa Pek-liong yang menjadi duda sejak usia dua puluh satu tahun itu tidak pernah menikah lagi. Padahal dia tampan, gagah perkasa, dan kaya raya. Banyak wanita yang akan merasa berbangga dan berbahagia apa bila dipersuntingnya. Namun, Pek-liong tidak pernah mau mengikatkan diri dengan sebuah pernikahan.

Walaupun beberapa kali dia terlibat dalam ikatan asmara dengan beberapa wanita, namun hubungan mereka itu hanyalah hubungan yang terdorong gairah nafsu kedua pihak belaka, tidak pernah dilanjutkan dengan ikatan cinta dalam pernikahan. Keadaannya yang seperti itu persis dengan keadaan Hek-liong-li.

Biarpun Pek-liong jarang mencari keributan di dunia persilatan, dan lebih banyak bersantai di rumah, menyibukkan diri dengan membaca kitab-kitab kuno dan mengurus taman dan kebun buahnya, namun dia tidak pernah lupa untuk berlatih silat. Bahkan, dengan enam orang pembantunya sebagai lawan berlatih, hampir setiap hari dia memperdalam ilmu-ilmunya, menyempurnakan kekurangannya dan juga dia selalu berlatih menghimpun tenaga untuk memperkuat sin-kangnya. Maka, keadaannya tetap sehat dan kuat, bahkan dengan bantuan kitab-kitab kuno, dia dapat memperoleh kemajuan dalam ilmu silatnya.

Seperti juga rumah Hek-liong-li, rumah pendekar ini penuh dengan alat-alat rahasia sehingga biarpun di waktu malam dia dan enam orang pembantunya tidur nyenyak, mereka tidak perlu merasa khawatir karena alat-alat rahasia itu merupakan penjaga keamanan yang amat setia dan boleh diandalkan.

Malam itu gelap dan dingin sekali. Di angkasa tidak nampak bulan, namun sebagai gantinya, bintang yang tak terhitung banyaknya bertaburan. Dusun Pat-kwa-bun sudah sunyi sekali, biarpun tengah malam masih jauh. Orang-orang lebih senang berada di rumah masing-masing di malam sedingin itu.

Dusun ini memang aman. Agaknya, dengan tinggalnya Pek-liong di dusun itu, tidak ada penjahat yang berani lancang mengganggu ketentraman dusun Pat-kwa-bun. Siapa yang berani mempermainkan kumis harimau? Jangankan baru penjahat kecil, biar para tokoh kang-ouw kenamaan yang lihai sekalipun akan merasa lebih aman kalau menjauhi Pat-kwa-bun agar tidak sampai bentrok dengan si Naga Putih.

Akan tetapi agaknya di malam gelap itu terjadi hal yang luar biasa. Sesosok bayangan hitam yang gerakannya ringan dan lincah sekali, berkelebat di luar pagar tembok di belakang rumah itu bagaikan seekor kucing saja, bayangan hitam itu meloncat ke atas tembok yang tingginya ada dua meter dan sejenak dia mendekam di atas pagar tembok, mengintai ke sebelah dalam.

Di bawah pagar sebelah dalam merupakan kebun belakang rumah Pek-liong. Bayangan itu menggerakkan tangan kanan, melemparkan sebuah batu ke bawah. Kiranya dia hendak melihat apakah tempat itu dipasangi jebakan. Setelah yakin bahwa tidak ada reaksi ketika dia melemparkan batu, tubuhnya melayang turun ke sebelah dalam dan kakinya tepat menginjak batu kecil yang tadi dia lemparkan.

Dia tidak berani sembarangan melangkah lagi. Dia maklum bahwa tempat tinggal si Naga Putih itu penuh dengan rahasia dan jebakan, maka dia bersikap hati-hati sekali. Setiap kali kakinya hendak melangkah, selalu dia dahului dengan lemparan batu ke arah tempat yang akan diinjaknya. Dan sikapnya ini memang menolongnya.

Ketika dia tiba di dekat lorong kecil menuju ke pintu belakang rumah itu, begitu dia melemparkan sebuah batu ke atas tanah yang akan dijadikan tempat berpijak, tiba-tiba saja ada tiga batang anak panah meluncur ke arah tempat itu dan andaikata dia tidak mencobanya dulu dengan batu, tentu dirinya yang diserang anak panah.

Agaknya di tempat yang dia lempari batu tadi dipasang alat rahasia sehingga kalau terpijak orang, lalu senjata anak panah itu bekerja melalui alat rahasia yang dipasang. Dia melemparkan batu ke tempat lain dan akhirnya dapat tiba di depan pintu belakang dengan selamat.

Daun pintu itu tidak berapa tinggi, hanya lebih tinggi sedikit dari orang itu dan lebarnya satu meter. Ketika dia berdiri di depan pintu, di mana terdapat sebuah lampu gantung, nampak bahwa dia seorang laki-laki yang bertubuh sedang, matanya tajam seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam dan muka bagian bawah tertutup kain hitam pula. Dia memegang sebatang pedang telanjang dan gerak geriknya memang ringan sekali.

Sejenak dia meneliti pintu itu. Jalan masuk hanya melalui pintu belakang ini. Dia tidak berani mengambil jalan dari atap. Terlalu berbahaya, pikirnya. Dia mengambil sebatang kayu sebesar lengan yang banyak terdapat di kebun itu, lalu menggunakan benda itu untuk mendorong daun pintu sambil mengerahkan tenaganya. Daun pintu dapat didorongnya terbuka, palangnya sebelah dalam patah. Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga orang ini. Dengan hati lega dia menyimpan pedangnya di sarung yang menempel di punggung, kemudian dengan hati-hati dia melangkah memasuki pintu yang sudah terbuka.

Pada saat tubuhnya tiba diambang pintu, tiba-tiba terdengar suara berdesing dan dari sebelah kanannya meluncur sebatang tombak menyerang ke arah dadanya! Cepat sekali gerakan tombak itu, namun si bayangan hitam itu ternyata lihai sekali. Dia cepat menggerakkan lengan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Krekkk!” Gagang tombak dari kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan lengannya dan pada saat itu, dia sudah melompat ke depan. Sebatang tombak dari kiri meluncur akan tetapi karena dia sudah melompat ke depan, tombak itu meluncur lewat di belakang tubuhnya dan tidak mengenai sasaran. Kiranya di ambang pintu itu terdapat alat rahasia yang menggerakkan dua tombak dari kanan kiri begitu terinjak kakinya.

Bayangan hitam itu mengeluarkan suara tawa kecil mengejek, lalu dia bergerak maju lagi dengan hati-hati, menggunakan sebatang kayu untuk mencari jalan yang aman. Akhirnya dia tiba di pintu besi yang menembus ke bangunan induk gedung itu. Pintu besi itu tingginya dua meter dan lebarnya hampir dua meter, daun pintu terbagi dua dan tertutup rapat.

Agaknya tidak mungkin mendobrak daun pintu yang kokoh kuat ini, pikir si bayangan hitam itu. Akan tetapi dia adalah seorang ahli dalam hal alat rahasia dan jebakan pada pintu. Dia tahu bahwa di sebelah luar pintu pasti ada alat pembuka pintunya. Sepasang mata di atas kain hitam penutup muka itu mengamati ke adaan sekitar pintu dengan sinar mata tajam.

Melihat sebuah arca singa kecil tak jauh dari pintu, diapun tertawa kecil dan menghampiri arca itu. Diputar-putarnya arca itu ke kanan kiri dan akhirnya sepasang daun pintu besi itu bergerak terbuka ke kanan kiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan mata berkilat karena gembira, si bayangan hitam berindap-indap memasuki lubang pintu itu. Karena tadi dia pernah terancam bahaya ketika melewati ambang pintu pertama, kini dengan hati-hati dia melemparkan batu sebelum kakinya menginjak ambang pintu. Setelah tidak melihat adanya bahaya, dia berani melangkah masuk.

Kiranya di belakang pintu itu merupakan jalan terowongan yang tidak begitu lebar, selebar pintu itu dan kanan kirinya dari dinding tinggi. Tidak ada pilihan lain kecuali maju melalui lorong itu ke depan. Untung bahwa lorong itu mendapat penerangan dari atas sehingga terang dan si bayangan hitam berindap melangkah ke depan.

Akan tetapi baru belasan langkah dia maju, tiba-tiba dia menahan langkahnya dan matanya terbelalak memandang ke depan karena dari depan muncul dua buah patung manusia dari kayu yang keduanya membawa tombak dan menyerbu ke depan menyerangnya! Karena lorong itu sempit, tidak leluasa untuk bergerak, maka si bayangan hitam terpaksa mundur dan bersiap-siap dengan pedang di tangan.

Maksudnya untuk mencari tempat yang luas di luar pintu agar mudah baginya untuk bergerak. Dia mundur dan tidak tahu betapa dua buah daun pintu besi itu bergerak menutup perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ketika dia tiba di ambang pintu, barulah dia menyadari datangnya bahaya, bukan dari dua buah patung kayu, melainkan dari dua buah daun pintu yang kini bergerak cepat menghimpitnya dari kanan kiri.

Dalam kagetnya, si bayangan hitam melepaskan pedangnya dan menggunakan kedua tangan untuk menahan daun pintu yang menghimpitnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil menahan dua buah daun pintu, namun diapun tidak mampu membebaskan diri. Dia telah terjebak, kedua tangan menahan daun pintu besi yang terus menghimpit. Bagaimanapun kuatnya, tenaganya terbatas dan tidak mungkin dia bertahan terus.

Perlahan-lahan, dua buah daun pintu itu semakin menutup, kedua lengannya semakin terhimpit. Setelah lewat puluhan menit, dari mulut dan hidungnya mengalir darah, kedua tangannya sudah tertekan sampai ke kepalanya, tubuhnya sudah mulai terhimpit. Akhirnya, setelah mengeluarkan jerit mengerikan dia terkulai. Dua buah daun pintu menutup terus, menghimpit tubuhnya sehingga ringsek dan ketika kepalanya terjepit, kepala itu mengeluarkan suara dan retak-retak. Orang itupun tewas secara mengerikan.

Jeritan tadi membangunkan Pek-liong dan enam orang pembantunya. Mereka terbangun dan berlarian menuju ke tempat itu. Melihat ada orang terjepit daun pintu dan tewas, Pek-liong menghela napas panjang, merasa heran mengapa ada orang demikian tolol berani memasuki tempat tinggalnya yang dipasangi banyak alat rahasia itu.

“Coba lihat, siapa orang yang sudah bosan hidup itu,” katanya.

Ketika para pembantunya melepaskan korban dari pintu dan membuka penutup muka, Pek-liong sendiri tidak mengenal muka yang sudah rusak karena kepalanya terjepit retak oleh daun pintu.

“Rawat dan kubur mayatnya baik-baik, dan bersihkan pintu ini,” katanya dan diapun kembali ke kamarnya.

Akan tetapi, peristiwa itu membuat Pek-liong-eng tidak dapat tidur. Dia duduk termenung di dalam kamarnya, menduga-duga siapa kiranya yang mengirim pembunuh ke tempat tinggalnya. Sudah lama tidak pernah ada orang memusuhinya. Tentu saja amat sukar menduga siapa orang itu dan siapa yang menyuruhnya karena di dunia kang-ouw dia mempunyai banyak sekali musuh, atau para tokoh kang-ouw yang mendendam kepadanya. Sudah terlalu banyak penjahat dia tentang dan dia basmi sehingga tentu saja banyak yang mendendam kepadanya.

Sayang, pikirnya, kalau saja dia tahu akan munculnya pembunuh itu, tentu akan dia tangkap hidup-hidup agar dia dapat mengorek keterang darinya siapa yang mengutusnya. Dia merasa yakin bahwa orang itu hanyalah orang suruhan saja. Orang yang tewas terjepit pintu besi itu berarti hanya memiliki kepandaian biasa saja, maka tentu ada orang lain yang lebih lihai yang berdiri di belakang layar.

Membayangkan semua pengalamannya ketika dia menentang para penjahat untuk menduga siapa kiranya yang patut dia curigai, diapun teringat akan Hek-liong-li. Dan diam-diam diapun terkejut. Kalau dia diancam pembunuh, besar kemungkinannya Liong-li mengalami hal yang sama. Selama beberapa tahun ini, mereka selalu maju bersama menentang para penjahat. Kalau ada penjahat mendendam kepadanya, maka penjahat itupun tentu mendendam kepada Liong-li. Tentu Liong-li juga mengalami ancaman penjahat, pikirnya.

Dia tidak mengkhawatirkan Liong-li. Dia tahu sepenuhnya betapa lihainya rekannya itu, bahkan tempat tinggal rekannya itu mengandung alat rahasia yang lebih rumit dibandingkan yang dipasang di rumahnya. Juga Liong-li mempunyai sembilan orang gadis pembantu yang boleh diandalkan. Tidak, dia tidak mengkhawatirkan keselamatan Liong-li hanya ingin sekali tahu apakah Liong-li juga mengalami hal yang sama dan bagaimana pendapat Liong-li mengenai penyerangan itu. Dan timbullah perasaan rindu yang amat sangat kepada pendekar wanita itu.

Jelas ada orang yang berusaha untuk membunuhnya, pikir Pek-liong. Sungguh tidak enak mengetahui ada orang yang mengarah nyawanya tanpa mengetahui siapa orangnya. Kiranya tidak akan mungkin ada orang dapat menyusup ke dalam tempat tinggalnya, dan satu-satunya cara untuk memancing harimau keluar dari tempat sembunyinya, hanyalah dengan memberinya umpan. Kalau ada orang menghendaki kematiannya, maka orang itu harus di pancing keluar dan umpannya adalah dirinya sendiri...

Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 05

BAGI makhluk-makhluk kecil yang pandai terbang ini, nampaknya pekerjaan setiap hari merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang disambut dengan persiapan yang riuh dan menggembirakan. Bagi mereka yang ada hanyalah satu, yakni setiap hari bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak mereka yang masih belum mampu mencari makan sendiri. Hanya mencari makan untuk mempertahankan hidup, itu saja.

Tiba-tiba saja nampak cahaya yang amat terang. Ang-hwa (Bunga Merah) yang mengendalikan kereta cepat menahan dua ekor kudanya dan ketika ia memandang ke sekeliling, ternyata kereta itu berada di tempat terbuka dan tempat itu sudah dikepung banyak orang. Tidak kurang dari dua puluh orang mengepung tempat itu, dan sedikitnya sepuluh orang memegang obor besar yang agaknya tadi dinyalakan serentak sehingga nampak cahaya yang menyilaukan mata.

Dua puluh orang lebih itu membawa golok di pinggang, ada yang memegang tombak, dan wajah-wajah yang tertimpa sinar obor kemerahan itu nampak bengis, seperti wajah setan layaknya. Dan di depan kereta muncul lima orang yang berdiri bertolak pinggang dengan sikap sombong.

Ang-hwa dan dua orang rekannya, yaitu Lan-hwa dan Ui-hwa yang mengintai dari celah-celah tirai, melihat bahwa mereka adalah lima orang yang bertampang dan bersikap menyeramkan. Seorang bertubuh tinggi besar berkulit hitam legam, yang kedua pendek gendut dengan muka menyeringai jelek, yang ketiga tinggi kurus, keempat tinggi besar agak bongkok dan yang kelima sedang saja, akan tetapi senyumnya mengejek dan sombong.

Biarpun dikepung dan dihadapi sedikitnya dua puluh lima orang, Ang-hwa (Bunga Merah) nampak tenang-tenang saja. Setelah saling pandang dengan lima orang itu, dengan suaranya yang lincah dan lantang Ang-hwa bertanya, “Apakah kalian ini yang disebut Thai-san Ngo-kwi (Lima Setan Thai-san)?”

Mereka memang Thai-san Ngo-kwi. Seperti sudah kita ketahui, lima orang kepala gerombolan murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi yang juga merasa sakit hati kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, bersekongkol dengan dua orang paman guru dan seorang bibi guru mereka, merencanakan balas dendam kepada dua orang pendekar itu.

Ngo-kwi (Setan Kelima) yang paling muda di antara mereka, usianya tiga puluh lima tahun pesolek dan tampan, bertubuh sedang dan pembawaannya seperti seorang kong-cu (tuan muda) dari kota, tertawa dibuat-buat sambil memandang ke arah Ang-hwa yang memegang kendali kuda.

“Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa Hek-liong-li mempunyai sembilan orang pelayan yang manis-manis dan yang berpakaian merah merupakan pelayan yang paling cantik paling lihai. Agaknya engkaulah nona baju merah itu? Kami memang benar Thai-san Ngo-kwi. Nah, nona merah, apakah engkau datang untuk menemani kami bersuka-ria? Marilah engkau turun ke dalam pelukanku, manis!”

Jelas bahwa ucapan ini bukan sekedar menggoda, melainkan juga mengandung ejekan yang tidak memandang sebelah mata kepada para pembantu Hek-liong-li. Memang benar pendapat Ngo-kwi ini. Ang-hwa adalah seorang yang paling cerdik, juga paling tangguh dalam ilmu silat, di antara rekan-rekannya. Karena melihat bakat yang ada pada diri Ang-hwa, maka Hek-liong-li tidak saja menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi kepadanya, juga amat mempercayainya sehingga untuk urusan penting, Ang-hwa yang diserahi tugas pelaksanaannya.

Gadis berusia dua puluh lima tahun ini sudah tiga kali putus cinta, dikhianati pria, maka setelah bertemu Hek-liong-li, iapun rela menghambakan diri dan kini merupakan pelayan, murid, dan sahabat terbaik Hek-liong-li. Mendengar ucapan Ngo- kwi, Ang-hwa sama sekali tidak terpancing menjadi marah. Bahkan sebaliknya, ia tersenyum manis sekali memandang kepada Ngo-kwi.

“Kiranya benar kalian Thai-san Ngo-kwi. Memang kunjunganku ini mempunyai tugas penting, yaitu aku diutus oleh Hek-liong Li-hiap (Pendekar Wanita Naga Hitam) untuk menyerahkan hadiah yang amat berharga kepada kalian sebagai tanda penghormatan!”

Mendengar ini, lima orang kepala penjahat itu saling pandang, ada yang terheran, ada yang curiga, ada pula yang kagum dan ada yang tidak percaya. Akan tetapi Thai-kwi, orang pertama dari mereka, berusia empat puluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar muka hitam, maklum akan kecerdikan Hek-liong-li dan tidak ingin adik seperguruannya yang termuda dan mata keranjang itu menggagalkan rencana mereka, segera melangkah maju mendekati kereta.

“Nona, kalau benar engkau diutus Hek-liong-li datang ke sini untuk mengirim hadiah kepada kami, nah, serahkan hadiah itu kepadaku. Akulah Thai-kwi, orang pertama dari Thai-san Ngo-kwi.”

Ang-hwa tersenyum. “Nah, itu baru sambutan yang tepat. Thai-kwi, terimalah kiriman dari nona kami, akan tetapi hati-hati, barang kiriman yang dua buah ini cukup berat. Sambutlah!”

Tiba-tiba dua buah benda besar panjang terlempar keluar dari dalam kereta, seperti menerjang kepada Thai-kwi. Orang pertama Thai-san Ngo-kwi ini memang lihai. Dia terkejut dan mengira bahwa ada orang-orang keluar dari kereta menyerangnya, maka sambil berteriak dia bergerak, memukul dan menendang ke arah dua buah benda yang menubruknya itu.

“Bukk! Bukkk!” Dua buah benda itu terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi.

Ketika semua orang memandang, mereka terkejut setengah mati. Bahkan Thai-kwi sendiri terbelalak dan mukanya berubah merah seperti dibakar. Karena kulit mukanya memang sudah hitam, ketika darah naik ke kepala saking marahnya, warna mukanya menjadi semakin gelap.

Dua buah benda itu bukan lain adalah tubuh dua orang laki-laki yang terbungkus kain, hanya mukanya saja yang nampak, muka dua orang anak buahnya yang tadi disuruh mengawal Ui-hwa (Bunga Kuning) mempelajari rahasia tempat tinggal Hek-liong-li! Mereka kini dikirim oleh Liong-li kepada mereka sudah menjadi mayat!

Tentu saja Thai-san Ngo-kwi menjadi marah bukan main, juga para anak buahnya berteriak-teriak karena marah. Bukan saja dua orang rekan mereka terbunuh, akan tetapi juga Liong-li mengirim mayat mereka, hal ini sungguh merupakan penghinaan yang hebat. Namun, di balik kemarahan ini terdapat kengerian karena cara yang dilakukan Liong-li ini menunjukkan betapa hebatnya wanita itu, betapa beraninya!

“Keparat! Nona baju merah, engkau berani membawa mayat-mayat anak buah kami ke sini, apakah nyawamu rangkap?” bentak Thai-kwi dan pada saat itu muncullah Lan-hwa dan Ui-hwa dari balik tirai kereta.

Setelah tadi melempar keluar dua mayat anak buah penjahat, dua orang gadis itu bersiap-siap dan setelah tiba saatnya, mereka meloncat keluar dan berdiri di kanan kiri kereta bagian depan, mendampingi Ang-hwa yang masih duduk di atas kereta. Tiga orang gadis cantik ini bersikap tenang dan siap siaga menghadapi pengeroyokan banyak lawan.

Melihat ini, kemarahan Thai-kwi memuncak. “Bagus!” teriak Thai-kwi. “Hek-liong-li mengirim tiga orang anak buahnya dan kami masih untung satu kalau membunuh mereka bertiga ini!”

“Twako, jangan bunuh. Serahkan dulu mereka bertiga kepadaku! Setelah kita mempermainkan mereka sepuasnya, barulah mereka itu dibunuh!” kata Ngo-kwi dan ucapannya ini disambut gembira oleh anak buah mereka.

Thai-kwi mengangguk-angguk dan tersenyum. “Begitu juga lebih baik. Nah, kerahkan semua tenaga dan tangkap tiga orang gadis ini hidup-hidup. Kita akan mempermainkan dan menyiksanya, baru mengirim mayat mereka ke rumah Hek-liong-li!”

Para pengepung itu menyeringai dan mereka semua menyimpan senjata mereka, mengepung kereta itu dan mata mereka berkilat, wajah berseri karena mereka seperti akan berlomba siapa yang dapat lebih dulu menangkap tiga orang wanita muda yang cantik manis itu. Akan tetapi, melihat mayat dua orang rekan mereka, para anak buah penjahat itupun maklum bahwa biarpun merupakan wanita-wanita muda yang cantik, namun pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak berani langsung menyerang, bahkan membiarkan pimpinan mereka, lima orang Thai-san Ngo-kwi untuk turun tangan.

Sebelum lima orang kepala gerombolan itu turun tangan, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di atas kereta itu telah berdiri seorang wanita yang cantik luar biasa. Nampak semakin luar biasa karena kemunculannya yang tiba-tiba, berpakaian sutera hitam dan wajahnya yang bulat telur itu disinari api obor yang banyak.

Tadi, lima orang Thai-san Ngo-kwi hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam, dan tahu-tahu wanita itu telah berdiri di atas kereta, tanpa mengguncangkan kereta seolah-olah yang menimpa atas kereta itu bukan manusia, melainkan seekor burung.

“Hek-liong-li...!” terdengar teriakan-teriakan kaget dan mendengar sebutan ini, Liong-li tersenyum manis.

“Hemm, kalian masih mengenal Hek-liong-li, namun tetap berani mengganggunya, berarti kalian memang sudah bosan hidup. Kalian merusak arca di pekarangan rumahku, kemudian kalian mencoba untuk meracuniku, lalu menawan orangku. Thai-san Ngo-kwi, selama ini aku Hek-liong-li tidak pernah mengganggumu, kenapa sekarang kalian melakukan hal-hal tidak pantas kepadaku? Aku tidak mau membunuh orang tanpa mengetahui urusannya!”

Biarpun hatinya jerih menghadapi pendekar wanita pembunuh gurunya itu, namun karena dia berada bersama empat orang adik seperguruannya, bahkan masih ada lagi dua puluh orang lebih anak buah mereka, Thai-kwi yang marah itu membentak.

“Hek-liong-li, kami akui bahwa yang merusak arca di pekarangan, yang menyuruh meracuni dan kemudian menculik anak buahmu adalah kami, Thai-san Ngo-kwi! Mengapa kami memusuhimu? Hek-liong-li, mungkin engkau sudah lupa, namun kami tidak akan pernah dapat melupakan bahwa guru kami, Siauw-bin Ciu-kwi, tewas di tangan engkau dan Pek-liong-eng! Nah, sekarang tiba saatnya engkau membayar hutang nyawa kepada guru kami!”

Bibir yang merah basah dan manis itu tersenyum mengejek. “Aha, kiranya kalian murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi. Tidak mengherankan kalian pandai mempergunakan siasat licik dan curang busuk. Siauw-bin Ciu-kwi tewas karena ulahnya sendiri, karena kejahatannya. Dan kalian pun akan mampus karena kejahatan kalian sendiri kalau kalian melanjutkan perbuatan jahat kalian. Sebaiknya, selagi masih ada kesempatan, kalian bertaubat, membuang senjata dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Aku Hek-liong-li bukan orang kejam dan suka memaafkan kalian yang telah merusak arca dan mencoba meracuniku.”

“Hek-liong-li, bersiaplah untuk mampus menebus hutangmu kepada guru kami!” Thai-kwi membentak dan dia memberi isyarat kepada empat orang adik seperguruannya.

Mereka berlima serentak menyerang Hek-liong-li, sedangkan dua puluh orang lebih anak buah mereka sambil berteriak-teriak maju mengepung dan menyerang Ang-hwa, Lan-hwa dan Ui-hwa. Terjadilah pertempuran seru di tempat itu, hanya diterangi obor-obor dan di atas tanah. Juga matahari pagi mulai memperbesar cahayanya menjenguk dari balik puncak.

Thai-san Ngo-kwi bersenjatakan golok besar dan selain ilmu golok yang dahsyat, mereka juga telah mewarisi ilmu pukulan ampuh dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, yaitu yang disebut Ang-hwe-ciang (Tangan Api Merah). Sambil memainkan golok dengan tangan kanan, merekapun mengerahkan tenaga Ang-hwe-ciang pada tangan kiri sehingga tangan kiri mereka itu berubah menjadi merah warnanya dan mengepulkan asap atau uap kemerahan.

Lebih hebat lagi, ketika mereka berlima menyerang dari lima jurusan, mereka kadang bergulingan dan sambil bergulingan itu golok mereka menyambar atau tangan kiri mereka memukul. Tangan kiri yang merah itu tidak kalah dahsyatnya dibandingkan golok di tangan kanan.

Namun Hek-liong-li adalah seorang ahli silat yang sudah berpengalaman menghadapi banyak macam penjahat lihai. Ia masih ingat benar akan keampuhan Ang-hwe-ciang dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, maka kini iapun amat berhati-hati. Ia masih belum mempergunakan pedangnya, hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan bertubi yang dilakukan lima orang kepala gerombolan itu.

Untuk menghadapi pengeroyokan lima orang lawan tangguh itu, Liong-li sengaja mempergunakan langkah ajaib yang disebut Liu-seng-pow (Langkah Pohon Liu). Kedua kakinya bergeser dan melangkah secara aneh, tubuhnya meliuk-liuk seperti batang pohon liu tertiup angin, dan hebatnya, semua serangan lima orang lawan tak pernah mampu menyentuh dirinya.

Untuk mengimbangi langkah ajaib Liu-seng-pouw ini, Liong-li juga menyelingi dengan serangan kedua tangannya yang mempergunakan ilmu Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya halus namun setiap kali tangannya menampar, angin pukulan menyambar dengan amat kuatnya.

Thai-san Ngo-kwi menjadi kewalahan. Setiap kali tangan Liong-li menampar dan mereka mengelak, tetap saja hawa pukulan itu membuat mereka terhuyung sehingga mereka maklum bahwa sekali saja terkena tamparan itu, berbahayalah bagi keselamatan nyawa mereka.

Selagi mereka kebingungan, terdengar suara tawa yang menyeramkan, seperti suara kuntilanak yang tertawa dan muncullah Ang I Sian-li yang biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad, masih nampak ramping dan cantik, pesolek pula. “Hek-liong-li, inilah saatnya engkau mati!” teriak nenek itu dan begitu ia menyerang.

Hek-liong-li terkejut. Ia dapat mengindarkan diri dengan langkah ajaibnya, namun tetap saja sebagian gelung rambutnya terlepas ketika dilanda angin pukulan yang berdesir tajam. Liong-li cepat memperhatikan wanita itu, akan tetapi ia merasa belum pernah bertemu atau mengenal orang ini.

Ia tidak diberi banyak kesempatan untuk berpikir, apa lagi bertanya karena begitu serangan pertama itu luput, nenek tadi sudah menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada serangan pertama. Karena ingin mengukur sampai di mana kekuatan pukulan lawan, Liong-li sengaja menyambut pukulan itu dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

“Desss...!!” Dua tangan itu bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai empat-lima langkah tanpa dapat mereka cegah lagi.

Nenek itu terbelalak kaget, dan diam-diam Liong-li juga terkejut karena ia tahu bahwa nenek ini benar-benar amat lihai, memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri. Maka, tanpa ragu lagi kini tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar hitam berkelebat ketika pedang Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut dari sarungnya.

Thai-san Ngo-kwi tentu saja tidak tinggal diam. Hati mereka besar setelah melihat munculnya nenek berpakaian serba merah itu. Melihat Ang I Sian-li sudah bergebrak melawan Hek-liong-li, merekapun segera menyerang dengan senjata golok mereka.

Liong-li maklum bahwa ia menghadapi banyak lawan yang tangguh, maka iapun cepat memutar pedangnya dan pedang itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar. Terdengar suara nyaring berkerontangan dan lima orang penyerang itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat karena ujung golok mereka patah-patah ketika bertemu gulungan sinar hitam.

Ang I Sian-li memang belum pernah bertemu dengan Liong-li dan hanya mendengar bahwa gadis pendekar itu lihai dan telah menewaskan empat orang rekannya dari Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua). Kini, dalam gebrakan pertama saja ia maklum bahwa berita tentang Hek-liong-li tidaklah bohong. Gadis itu memiliki tenaga sin-kang yang mampu menangkis pukulannya.

Kini sekali putar pedangnya saja ia mampu mematahkan ujung lima batang golok dari para murid Siauw-bin Ciu-kwi. Ia menoleh kepada duapuluh lebih anak buah Thai-san Ngo-kwi, dan melihat betapa merekapun dibuat kocar-kacir oleh tiga orang nona pelayan Hek-liong-li.

Ang I Sian-li memberi isyarat dengan siulan melengking. Ia memang tidak bermaksud membunuh Liong-li begitu saja. Gerakan pertama ini hanya untuk mengacau dan merongrong Hek-liong-li. Untuk membunuh gadis pendekar itu, ia harus bersatu dengan dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Pek-bwe Coa-ong.

Mendengar isyarat itu, Thai-san Ngo-kwi juga memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk mundur dan merekapun berlompatan meninggalkan tempat itu sambil menyeret dan menarik teman-teman yang sudah terluka dalam pertempuran itu.

“Jangan kejar!” Liong-li berseru ketika melihat tiga orang pembantunya hendak melakukan pengejaran.

Terlalu berbahaya mengejar musuh di daerah mereka sendiri, apa lagi musuh itu terdiri dari banyak orang jahat yang dipimpin seorang yang amat lihai seperti nenek berpakaian merah tadi. Yang membuat ia heran adalah nenek tadi. Siapakah ia dan mengapa pula ia membantu Thai-san Ngo-kwi?

Kalau lima orang pemimpin gerombolan itu memusuhinya, ia tidak merasa heran karena mereka adalah para murid Siauw-bin Ciu-kwi yang tewas di tangan ia dan Pek-liong. Akan tetapi nenek berpakaian merah itu, mengapa memusuhinya?

“Mari kita pulang dan mulai saat ini kita harus melakukan penjagaan ketat di rumah,” katanya kepada tiga orang pembantunya. Merekapun naik kereta dan pulang kembali ke Lok-yang.

Setelah Liong-li tiba di rumah dengan selamat, ia lalu mengatur penjagaan ketat siang malam secara bergilir agar setiap saat ada musuh datang, mereka dapat mengetahuinya. Mereka semua siap-siaga untuk melawan musuh kalau ada yang berani mengganggu.

Liong-li diam-diam mengutus seorang anggauta piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) untuk mengantarkan surat kepada Pek-liong yang tinggal di dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-ouw di Hang-kouw. Peristiwa yang baru saja ia alami perlu diketahui oleh Pek-liong, karena bukankah mereka berdua yang dahulu menantang Siauw-bin Ciu-kwi? Kalau kematian datuk sesat itu hendak dibalaskan oleh para muridnya, maka bukan ia seorang yang terancam, juga Pek-liong tentu akan mereka cari. Karena itulah, ia perlu memberitahu Pek-liong agar waspada.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Rumah itu tentu tidak akan menyolok dan menarik perhatian kalau berada di dalam kota besar. Akan tetapi karena adanya di dusun Pat-kwa-bun, maka tentu saja nampak megah dan mewah di antara rumah-rumah dusun yang kecil sederhana. Rumah itu cukup besar, dengan pekarangan yang luas. Dari taman di depan, kebun di belakang, dari genteng sampai ke dinding, daun pintu dan jendelanya, dapat dilihat bahwa rumah itu terpelihara baik-baik dan selain nampak megah, juga bersih dan menyenangkan.

Di taman atau pekarangan depan rumah, selain terdapat berbagai macam bunga yang sedang berkembang, juga terdapat sebuah arca berbentuk seekor naga dengan warna putih. Seekor Naga Putih! Baru bentuk arca ini saja akan membuat orang-orang dunia persilatan dapat menduga bahwa rumah ini tentu tempat tinggal si pendekar Naga Putih.

Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) Tan Cin Hay adalah seorang pendekar yang telah membuat nama besar dengan sepak terjangnya yang menggemparkan, baik seorang diri atau terutama sekali kalau dia berpasangan dengan Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam) Lie Kim Cu. Tan Cin Hay atau yang di dunia kang-ouw disebut Pek-liong (Naga Putih) adalah seorang pria yang usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya tampan bersih tidak dikotori kumis atau jenggot karena dicukur rapi, tentu hanya akan disangka seorang tuan muda atau seorang pelajar yang lembut kalau saja dagunya tidak berlekuk mununjukkan kejantanan dan sinar matanya tidak mencorong seperti mata naga.

Tubuhnya sedang saja dan pakaiannya yang serba putih itu di ringkas dan sederhana dan kalau orang berada di dekatnya baru akan melihat bahwa di lehernya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam. Orangnya pendiam, sederhana dan sikapnya rendah hati sehingga bagi yang belum mengenalnya, tentu akan menganggap dia seorang terpelajar karena penampilannya sama sekali tidak membayangkan seorang jagoan. Padahal, Pek-liong memiliki ilmu kepandaian yang membuat geger dunia kang-ouw, membuat gentar hati para penjahat karena dia selalu menentang kejahatan.

Dalam usianya yang tiga puluh tahun itu, Pek-liong hidup membujang di rumahnya yang besar, ditemani oleh enam orang pelayan pria yang usianya antara tiga puluh tiga sampai empat puluh tiga tahun. Para pelayan itu bukanlah pelayan biasa karena mereka telah digemblengnya dengan ilmu silat sehingga mereka juga dapat dianggap sebagai muridnya atau pembantunya.

Sebetulnya, Pek-liong bukanlah seorang perjaka yang tidak pernah menikah. Dia adalah seorang duda! Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia hidup bersama seorang isteri tercinta sebagai pengantin baru. Ketika itu isterinya sedang mengandung anak pertama. Akan tetapi malapetaka datang menimpa suami isteri ini.

Dalam keadaan mengandung tiga bulan, isterinya itu diculik dan diperkosa penjahat sampai mati. Dia sendiri nyaris tewas. Dendam sakit hati yang sedalam lautan sebesar gunung membuat Tan Cin Hay belajar ilmu silat secara mendalam, dan akhirnya dia berhasil membalas dendam kepada para penjahat yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya.

Dan sejak itulah nama Pek-liong terkenal di mana-mana karena dia selalu menentang kejahatan dan bertindak tegas terhadap penjahat yang manapun. Namanya bersama Liong-li semakin menjulang ketika mereka berdua berhasil membinasakan datuk-datuk besar golongan hitam, terutama sekali setelah mereka membinasakan empat orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).

Bersama Hek-liong-li, Pek-liong telah menewaskan Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), dan Tiat-thouw Kui-bo (Biang Iblis Kepala Besi), empat di antara Kiu Lo-mo yang terkenal sebagai datuk golongan hitam.

Memang amat mengherankan semua orang melihat betapa Pek-liong yang menjadi duda sejak usia dua puluh satu tahun itu tidak pernah menikah lagi. Padahal dia tampan, gagah perkasa, dan kaya raya. Banyak wanita yang akan merasa berbangga dan berbahagia apa bila dipersuntingnya. Namun, Pek-liong tidak pernah mau mengikatkan diri dengan sebuah pernikahan.

Walaupun beberapa kali dia terlibat dalam ikatan asmara dengan beberapa wanita, namun hubungan mereka itu hanyalah hubungan yang terdorong gairah nafsu kedua pihak belaka, tidak pernah dilanjutkan dengan ikatan cinta dalam pernikahan. Keadaannya yang seperti itu persis dengan keadaan Hek-liong-li.

Biarpun Pek-liong jarang mencari keributan di dunia persilatan, dan lebih banyak bersantai di rumah, menyibukkan diri dengan membaca kitab-kitab kuno dan mengurus taman dan kebun buahnya, namun dia tidak pernah lupa untuk berlatih silat. Bahkan, dengan enam orang pembantunya sebagai lawan berlatih, hampir setiap hari dia memperdalam ilmu-ilmunya, menyempurnakan kekurangannya dan juga dia selalu berlatih menghimpun tenaga untuk memperkuat sin-kangnya. Maka, keadaannya tetap sehat dan kuat, bahkan dengan bantuan kitab-kitab kuno, dia dapat memperoleh kemajuan dalam ilmu silatnya.

Seperti juga rumah Hek-liong-li, rumah pendekar ini penuh dengan alat-alat rahasia sehingga biarpun di waktu malam dia dan enam orang pembantunya tidur nyenyak, mereka tidak perlu merasa khawatir karena alat-alat rahasia itu merupakan penjaga keamanan yang amat setia dan boleh diandalkan.

Malam itu gelap dan dingin sekali. Di angkasa tidak nampak bulan, namun sebagai gantinya, bintang yang tak terhitung banyaknya bertaburan. Dusun Pat-kwa-bun sudah sunyi sekali, biarpun tengah malam masih jauh. Orang-orang lebih senang berada di rumah masing-masing di malam sedingin itu.

Dusun ini memang aman. Agaknya, dengan tinggalnya Pek-liong di dusun itu, tidak ada penjahat yang berani lancang mengganggu ketentraman dusun Pat-kwa-bun. Siapa yang berani mempermainkan kumis harimau? Jangankan baru penjahat kecil, biar para tokoh kang-ouw kenamaan yang lihai sekalipun akan merasa lebih aman kalau menjauhi Pat-kwa-bun agar tidak sampai bentrok dengan si Naga Putih.

Akan tetapi agaknya di malam gelap itu terjadi hal yang luar biasa. Sesosok bayangan hitam yang gerakannya ringan dan lincah sekali, berkelebat di luar pagar tembok di belakang rumah itu bagaikan seekor kucing saja, bayangan hitam itu meloncat ke atas tembok yang tingginya ada dua meter dan sejenak dia mendekam di atas pagar tembok, mengintai ke sebelah dalam.

Di bawah pagar sebelah dalam merupakan kebun belakang rumah Pek-liong. Bayangan itu menggerakkan tangan kanan, melemparkan sebuah batu ke bawah. Kiranya dia hendak melihat apakah tempat itu dipasangi jebakan. Setelah yakin bahwa tidak ada reaksi ketika dia melemparkan batu, tubuhnya melayang turun ke sebelah dalam dan kakinya tepat menginjak batu kecil yang tadi dia lemparkan.

Dia tidak berani sembarangan melangkah lagi. Dia maklum bahwa tempat tinggal si Naga Putih itu penuh dengan rahasia dan jebakan, maka dia bersikap hati-hati sekali. Setiap kali kakinya hendak melangkah, selalu dia dahului dengan lemparan batu ke arah tempat yang akan diinjaknya. Dan sikapnya ini memang menolongnya.

Ketika dia tiba di dekat lorong kecil menuju ke pintu belakang rumah itu, begitu dia melemparkan sebuah batu ke atas tanah yang akan dijadikan tempat berpijak, tiba-tiba saja ada tiga batang anak panah meluncur ke arah tempat itu dan andaikata dia tidak mencobanya dulu dengan batu, tentu dirinya yang diserang anak panah.

Agaknya di tempat yang dia lempari batu tadi dipasang alat rahasia sehingga kalau terpijak orang, lalu senjata anak panah itu bekerja melalui alat rahasia yang dipasang. Dia melemparkan batu ke tempat lain dan akhirnya dapat tiba di depan pintu belakang dengan selamat.

Daun pintu itu tidak berapa tinggi, hanya lebih tinggi sedikit dari orang itu dan lebarnya satu meter. Ketika dia berdiri di depan pintu, di mana terdapat sebuah lampu gantung, nampak bahwa dia seorang laki-laki yang bertubuh sedang, matanya tajam seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam dan muka bagian bawah tertutup kain hitam pula. Dia memegang sebatang pedang telanjang dan gerak geriknya memang ringan sekali.

Sejenak dia meneliti pintu itu. Jalan masuk hanya melalui pintu belakang ini. Dia tidak berani mengambil jalan dari atap. Terlalu berbahaya, pikirnya. Dia mengambil sebatang kayu sebesar lengan yang banyak terdapat di kebun itu, lalu menggunakan benda itu untuk mendorong daun pintu sambil mengerahkan tenaganya. Daun pintu dapat didorongnya terbuka, palangnya sebelah dalam patah. Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga orang ini. Dengan hati lega dia menyimpan pedangnya di sarung yang menempel di punggung, kemudian dengan hati-hati dia melangkah memasuki pintu yang sudah terbuka.

Pada saat tubuhnya tiba diambang pintu, tiba-tiba terdengar suara berdesing dan dari sebelah kanannya meluncur sebatang tombak menyerang ke arah dadanya! Cepat sekali gerakan tombak itu, namun si bayangan hitam itu ternyata lihai sekali. Dia cepat menggerakkan lengan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Krekkk!” Gagang tombak dari kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan lengannya dan pada saat itu, dia sudah melompat ke depan. Sebatang tombak dari kiri meluncur akan tetapi karena dia sudah melompat ke depan, tombak itu meluncur lewat di belakang tubuhnya dan tidak mengenai sasaran. Kiranya di ambang pintu itu terdapat alat rahasia yang menggerakkan dua tombak dari kanan kiri begitu terinjak kakinya.

Bayangan hitam itu mengeluarkan suara tawa kecil mengejek, lalu dia bergerak maju lagi dengan hati-hati, menggunakan sebatang kayu untuk mencari jalan yang aman. Akhirnya dia tiba di pintu besi yang menembus ke bangunan induk gedung itu. Pintu besi itu tingginya dua meter dan lebarnya hampir dua meter, daun pintu terbagi dua dan tertutup rapat.

Agaknya tidak mungkin mendobrak daun pintu yang kokoh kuat ini, pikir si bayangan hitam itu. Akan tetapi dia adalah seorang ahli dalam hal alat rahasia dan jebakan pada pintu. Dia tahu bahwa di sebelah luar pintu pasti ada alat pembuka pintunya. Sepasang mata di atas kain hitam penutup muka itu mengamati ke adaan sekitar pintu dengan sinar mata tajam.

Melihat sebuah arca singa kecil tak jauh dari pintu, diapun tertawa kecil dan menghampiri arca itu. Diputar-putarnya arca itu ke kanan kiri dan akhirnya sepasang daun pintu besi itu bergerak terbuka ke kanan kiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan mata berkilat karena gembira, si bayangan hitam berindap-indap memasuki lubang pintu itu. Karena tadi dia pernah terancam bahaya ketika melewati ambang pintu pertama, kini dengan hati-hati dia melemparkan batu sebelum kakinya menginjak ambang pintu. Setelah tidak melihat adanya bahaya, dia berani melangkah masuk.

Kiranya di belakang pintu itu merupakan jalan terowongan yang tidak begitu lebar, selebar pintu itu dan kanan kirinya dari dinding tinggi. Tidak ada pilihan lain kecuali maju melalui lorong itu ke depan. Untung bahwa lorong itu mendapat penerangan dari atas sehingga terang dan si bayangan hitam berindap melangkah ke depan.

Akan tetapi baru belasan langkah dia maju, tiba-tiba dia menahan langkahnya dan matanya terbelalak memandang ke depan karena dari depan muncul dua buah patung manusia dari kayu yang keduanya membawa tombak dan menyerbu ke depan menyerangnya! Karena lorong itu sempit, tidak leluasa untuk bergerak, maka si bayangan hitam terpaksa mundur dan bersiap-siap dengan pedang di tangan.

Maksudnya untuk mencari tempat yang luas di luar pintu agar mudah baginya untuk bergerak. Dia mundur dan tidak tahu betapa dua buah daun pintu besi itu bergerak menutup perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ketika dia tiba di ambang pintu, barulah dia menyadari datangnya bahaya, bukan dari dua buah patung kayu, melainkan dari dua buah daun pintu yang kini bergerak cepat menghimpitnya dari kanan kiri.

Dalam kagetnya, si bayangan hitam melepaskan pedangnya dan menggunakan kedua tangan untuk menahan daun pintu yang menghimpitnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil menahan dua buah daun pintu, namun diapun tidak mampu membebaskan diri. Dia telah terjebak, kedua tangan menahan daun pintu besi yang terus menghimpit. Bagaimanapun kuatnya, tenaganya terbatas dan tidak mungkin dia bertahan terus.

Perlahan-lahan, dua buah daun pintu itu semakin menutup, kedua lengannya semakin terhimpit. Setelah lewat puluhan menit, dari mulut dan hidungnya mengalir darah, kedua tangannya sudah tertekan sampai ke kepalanya, tubuhnya sudah mulai terhimpit. Akhirnya, setelah mengeluarkan jerit mengerikan dia terkulai. Dua buah daun pintu menutup terus, menghimpit tubuhnya sehingga ringsek dan ketika kepalanya terjepit, kepala itu mengeluarkan suara dan retak-retak. Orang itupun tewas secara mengerikan.

Jeritan tadi membangunkan Pek-liong dan enam orang pembantunya. Mereka terbangun dan berlarian menuju ke tempat itu. Melihat ada orang terjepit daun pintu dan tewas, Pek-liong menghela napas panjang, merasa heran mengapa ada orang demikian tolol berani memasuki tempat tinggalnya yang dipasangi banyak alat rahasia itu.

“Coba lihat, siapa orang yang sudah bosan hidup itu,” katanya.

Ketika para pembantunya melepaskan korban dari pintu dan membuka penutup muka, Pek-liong sendiri tidak mengenal muka yang sudah rusak karena kepalanya terjepit retak oleh daun pintu.

“Rawat dan kubur mayatnya baik-baik, dan bersihkan pintu ini,” katanya dan diapun kembali ke kamarnya.

Akan tetapi, peristiwa itu membuat Pek-liong-eng tidak dapat tidur. Dia duduk termenung di dalam kamarnya, menduga-duga siapa kiranya yang mengirim pembunuh ke tempat tinggalnya. Sudah lama tidak pernah ada orang memusuhinya. Tentu saja amat sukar menduga siapa orang itu dan siapa yang menyuruhnya karena di dunia kang-ouw dia mempunyai banyak sekali musuh, atau para tokoh kang-ouw yang mendendam kepadanya. Sudah terlalu banyak penjahat dia tentang dan dia basmi sehingga tentu saja banyak yang mendendam kepadanya.

Sayang, pikirnya, kalau saja dia tahu akan munculnya pembunuh itu, tentu akan dia tangkap hidup-hidup agar dia dapat mengorek keterang darinya siapa yang mengutusnya. Dia merasa yakin bahwa orang itu hanyalah orang suruhan saja. Orang yang tewas terjepit pintu besi itu berarti hanya memiliki kepandaian biasa saja, maka tentu ada orang lain yang lebih lihai yang berdiri di belakang layar.

Membayangkan semua pengalamannya ketika dia menentang para penjahat untuk menduga siapa kiranya yang patut dia curigai, diapun teringat akan Hek-liong-li. Dan diam-diam diapun terkejut. Kalau dia diancam pembunuh, besar kemungkinannya Liong-li mengalami hal yang sama. Selama beberapa tahun ini, mereka selalu maju bersama menentang para penjahat. Kalau ada penjahat mendendam kepadanya, maka penjahat itupun tentu mendendam kepada Liong-li. Tentu Liong-li juga mengalami ancaman penjahat, pikirnya.

Dia tidak mengkhawatirkan Liong-li. Dia tahu sepenuhnya betapa lihainya rekannya itu, bahkan tempat tinggal rekannya itu mengandung alat rahasia yang lebih rumit dibandingkan yang dipasang di rumahnya. Juga Liong-li mempunyai sembilan orang gadis pembantu yang boleh diandalkan. Tidak, dia tidak mengkhawatirkan keselamatan Liong-li hanya ingin sekali tahu apakah Liong-li juga mengalami hal yang sama dan bagaimana pendapat Liong-li mengenai penyerangan itu. Dan timbullah perasaan rindu yang amat sangat kepada pendekar wanita itu.

Jelas ada orang yang berusaha untuk membunuhnya, pikir Pek-liong. Sungguh tidak enak mengetahui ada orang yang mengarah nyawanya tanpa mengetahui siapa orangnya. Kiranya tidak akan mungkin ada orang dapat menyusup ke dalam tempat tinggalnya, dan satu-satunya cara untuk memancing harimau keluar dari tempat sembunyinya, hanyalah dengan memberinya umpan. Kalau ada orang menghendaki kematiannya, maka orang itu harus di pancing keluar dan umpannya adalah dirinya sendiri...