Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 03

SUNGGUH aneh betapa seorang wanita seperti ini belum juga berumah tangga, pada hal banyak sekali perjaka yang bangsawan dan hartawan tergila-gila kepadanya. Akan tetapi, siapa orangnya berani melamar Liong-li, kalau gadis itu tidak mengulurkan tangannya? kalau sekali saja ia menjulurkan tangan, tentu akan ada ratusan pasang tangan yang akan menyambutnya penuh gairah. Liong-li memiliki segalanya. Kecantikan, kelihaian, kekayaan, nama baik dan kepandaian bermacam-macam.

Bau sedap yang keluar dari sebuah rumah makan menarik perhatian Liong-li dan membuat perutnya berkeruyuk lapar. Pagi tadi ia memang menolak hidangan sarapan pagi dari pelayannya dan memang ia bermaksud untuk makan pagi di rumah makan yang paling dulu menarik seleranya.

Rumah makan Lok-hwa itu merupakan rumah makan besar, satu di antara rumah makan langganannya. Ketika ia memasuki rumah makan itu dengan langkah santai, dua orang pelayan tua yang mengenalnya segera menyambutnya dengan ramah.

“Selamat pagi, li-hiap (pendekar wanita)!” kata seorang.

“Silakan duduk, siocia (nona)!” kata yang lain.

Pemilik rumah makan itu yang duduk di bagian dalam, begitu melihat wanita berpakaian serba hitam itu memasuki rumah makannya, segera bangkit dan tergopoh-gopoh keluar untuk menyambut sendiri. “Selamat pagi, li-hiap! Sungguh merupakan kebahagiaan besar dapat menyanji li-hiap di pagi hai ini.” Dia lalu menoleh kepada para pelayan dan berkata dengan nada memerintah. “Cepat bersihkan meja terbaik untuk Liong-lihiap!”

Para pelayan tergopoh-gopoh membersihkan meja dan pemilik rumah makan itu sendiri yang mengantar Liong-li dan mempersilakan ia duduk, lalu bertanya, masakan apa yang hendak dipesan Liong-li.

Para tamu yang sudah lebih dulu berada di rumah makan itu, ada yang bangkit berdiri ada pula yang mengangguk. Yang jauhpun tersenyum ramah. Semua orang menghormati Liong-li. Semua orang mengaguminya. Beberapa orang pemuda yang duduk jauh, saling berbisik dan beberapa kali menelan ludah ketika mereka semua memandang ke arah Liong-li secara sembunyi-sembunyi, tidak berani langsung.

“Duhai juwita... betapa cantiknya...”

“Lihat tuh bibirnya... hemm, menggemaskan...”

“Kulit lehernya begitu putih mulus...”

“Lesung di pipinya amat manis...”

Liong-li adalah seorang wanita yang sudah melatih panca indranya melalui samadhi dan pernapasan. Ia memiliki pendengaran yang amat tajam sehingga dari jauh itu, kalau ia mencurahkan perhatiannya, ia mampu mendengarkan suara bisik-bisik para pemuda itu. Akan tetapi karena mereka itu hanya memuji-mujinya dengan kagum tanpa berniat kurang ajar, iapun hanya tersenyum. Tidak bangga lagi. Sudah terlalu lama dan terlalu sering ia melihat sinar mata kagum dari pria, juga kata-kata pujian. Semua itu dianggapnya hanya rayuan kosong belaka!

Liong-li memesan beberapa masakan yang paling disukainya, kemudian setelah pengurus rumah makan mengundurkan diri, Liong-li duduk termenung menanti masakan yang dipesannya. Untuk mempersiapkan masakan yang dipesan, tidak mungkin dapat dilakukan dengan terlalu cepat. Sayur yang segar harus dicuci dan dipotong-potong, juga daging yang segar harus disayat-sayat, semua bumbu harus dipersiapkan dan segalanya harus baru dan dimasak seketika agar dapat dihidangkan panas-panas dalam keadaan segar dan baru. Untuk melewatkan waktu, Liong-li makan kwa-ci (isi semangka) yang dihidangkan, dan minum teh cair yang harum dan hangat.

Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang membawakan masakan pesanannya. Ia memesan dua macam masakan dengan nasi tim, akan tetapi yang muncul adalah tiga macam masakan! “Ehh? Kenapa tiga macam? Aku tidak memesan sop ayam jamur ini!” katanya menunjuk masak ke tiga. “Tentu pesanan orang lain ini.”

Dua orang pelayan itu mengatur tiga masakan dan nasi di atas meja, lalu seorang dari mereka berkata, “Tidak keliru, li-hiap. Menurut kepala dapur, masakan sop ayam jamur ini sengaja dibuat untuk dihaturkan kepada nona disertai salam seluruh pekerja di dapur!”

Liong-li tersenyum. Tidak aneh baginya. Memang terlalu banyak orang bersikap terlalu baik kepadanya dan karena sudah terbiasa, dengan senang hati diterimanya sikap itu tanpa prasangka dan tidak canggung lagi. “Sampaikan terima kasihku kepada mereka,” katanya ramah. “Ingat saja mereka itu akan kesukaanku.”

“Kehadiran li-hiap merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi kami, tentu saja kami semua ingat apa masakan kegemaran li-hiap,” kata pelayan itu sambil memberi hormat lalu mengundurkan diri.

Liong-li tersenyum senang. Memang sop ayam jamur merupakan satu di antara masakan kegemarannya, akan tetapi pagi itu ia memang tidak memesan masakan itu, melainkan memesan masakan kegemaran yang lain. Karena sop pemberian para tukang masak itu nampak lezat, dengan daging kulit ayam yang gemuk menonjol dan kekuningan, dan jamurnya juga masih baru, iapun menggunakan sumpit untuk mengambil sepotong jamur kecil untuk mencobanya.

Akan tetapi, begitu jamur itu masuk ke mulutnya, ia cepat memuntahkannya kembali ke atas sebuah mangkok kosong, lalu menggunakan saputangan untuk menerima ludahnya, kemudian ia berkumur satu kali dengan air teh dan membuang kumuran itu ke atas mangkok tadi. Semua ini dilakukannya dengan tenang sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya.

Kemudian, dengan sikap masih tenang, namun kini setiap urat syarafnya waspada, pendengarannya tajam, penglihatannya juga mencorong, ia mencabut tusuk konde peraknya. Setelah menyapu ruangan itu dan melihat bahwa tidak ada tamu lain yang berani nonton ia makan karena hal itu kurang sopan, ia lalu mencelupkan ujung tusuk sanggul ke dalam sop ayam jamur, mendiamkannya sejenak dan ketika ia mengangkatnya kembali, ternyata ujung tusuk sanggul itu nampak kebiruan!

Yakinlah ia bahwa sop ayam jamur itu mengandung racun yang amat keras, yang kalau dimakannya tentu akan cukup kuat untuk membunuhnya. Bukan baru sekali ini nyawa Liong-li terancam maut. Oleh karena itu, sikapnya masih tetap tenang saja. Bahkan ia melanjutkan makan dua masakan yang dipesannya tadi bersama nasi, setelah dengan teliti memeriksa semua masakan itu, bahkan ia memeriksa pula arak yang disuguhkan.

Hanya sop ayam jamur itu saja yang mengandung racun, justeru masakan hadiah dari tukang masak atau kepala dapur! Sungguh aneh. Liong-li memutar otaknya sambil makan sehingga ia tidak dapat menikmati makan pagi itu sepenuhnya Perhatiannya tercurah kepada peristiwa itu, masakan yang dihadiahkan kepadanya, masakan yang mengandung racun!

Rasanya tidak masuk diakal kalau kepala dapur menghidangkan masakan beracun kepadanya! Tidak ada alasannya sama sekali. Pertama, ia tidak pernah bermusuhan dengan siapapun juga di rumah makan itu, dan kedua, kalau memang ada yang hendak membunuhnya dengan racun, mengapa caranya demikian kasar? Apakah orang itu tidak memperhitungkan bahayanya kalau sampai ketahuan? Tidak, kiranya tidak mungkin ada musuh setolol itu, dan jelas bukan kepala dapur.

Kecuali tentu saja kalau ada penjahat yang menyelundup dan kini bekerja di dapur rumah makan itu. Kemungkinan ini tentu saja ada, dan bukan mustahil kalau penjahat yang menyelundup menjadi tukang masak itu hendak membalas dendam kepadanya dengan menaruh racun ke dalam masakan yang dihadiahkan!

Tiba-tiba ia teringat dan jantungnya berdebar. Kenapa tidak dari tadi ia teringat akan hal ini? Bagaimana mungkin ada kepala dapur begitu lancang menghadiahkan masakan kepada seorang tamu? Kalau mau memberi hadiah masakan, tentu bukan dari kepala dapur datangnya, melainkan dari pemilik rumah makan! Kepala dapur menghadiahkan masakan semahal itu, atas namanya, tentu akan membuat pemilik rumah makan menjadi marah.

Melihat gadis itu sudah tidak makan lagi, pelayan tua datang menghampiri mejanya untuk membersihkan meja itu. “Sudah selesaikah, li-hiap?” tanyanya ramah.

Liong-li mengangguk tanpa bicara, diam-diam ia mengerling dan memperhatikan sikap pelayan itu. Dalam keadaan seperti itu, kewaspadaan membuat ia menaruh curiga terhadap apa saja dan siapa saja!

“Ehh?” Pelayan tua itu nampak kaget dan heran yang tidak dibuat-buat ketika dia melihat mangkok besar sop ayam jamur itu masih utuh. “Kenapa li-hiap tidak makan sop ayam jamur ini?”

Liong Li masih memancing sambil menatap tajam wajah orang. “Paman, maukah engkau memakannya, kalau kuberikan ini kepadamu?”

Sepasang mata itu terbelalak, bukan terkejut atau ketakutan, melainkan keheranan. “Tentu saja, li-hiap, akan tetapi... mana saya berani? Dan kenapa li-hiap tidak memakannya?”

Liong-li lega. Pelayan tua ini tidak tahu menahu. “Paman, siapakah yang menghadiahkan sup ayam jamur ini kepadaku?”

“Sudah saya katakan tadi, kepala dapur yang menghadiahkan kepada li-hiap, dengan salam hormat seluruh pekerja di dapur. Kenapakah, li-hiap?” Pelayan itu mulai memperlihatkan sikap tidak enak karena tentu saja dia merasa tidak enak hati melihat betapa hidangan yang dihadiahkan itu sama sekali tidak dimakan oleh Liong-li.

Liong-li tersenyum, “Tidak apa-apa, paman, hanya aku kekenyangan. Oya, aku ingin bertemu dengan kepala dapur untuk mengucapkan terima kasih. Maukah engkau mengundangnya keluar ke sini sebentar agar aku dapat bicara dengan dia?”

Wajah pelayan itu kembali berseri. “Tentu li-hiap! Aih, Tio-toako tentu akan gembira sekali mendengar undangan li-hiap ini!”

Sambil membawa mangkok kosong dan sisa makanan, kecuali sup ayam jamur yang masih ditahan Liong-li, pelayan itu bergegas masuk ke bagian belakang untuk menyampaikan undangan Liong-li kepada kepala dapur.bBiarpun sedang menghadapi keadaan yang menegangkan, Liong-li masih tidak mampu menahan geli hatinya ketika ia melihat koki atau kepala dapur itu “menggelundung” keluar dari dapurnya! Sungguh seorang laki-laki yang lucu bentuk tubuhnya. Dari kepalanya sampai ke tubuhnya, orang berusia empat puluh lebih ini benar-benar bundar seperti bola!

Kedua kakinya nampak pendek sehingga ketika dia datang dengan langkah cepat, dia seperti sebuah bola yang digelundungkan. Dan muka yang bulat penuh itu bermata sipit, hampir terpejam ketika mulutnya menyeringai lebar dalam senyum ramah dan girang. Tidak, pikir Liong-li. Orang macam ini mana mungkin mempunyai niat jahat untuk meracuninya? Pula, kalau benar dia berniat jahat, dia tidak akan keluar dengan wajah begitu gembiranya. Begitu bertemu, koki itu lalu merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk begitu dalamnya sehingga Liong-li khawatir kalau dia terjungkal!

“Li-hiap mengundang saya?” tanya orang itu, ragu-ragu karena diundang oleh pendekar wanita ini sungguh merupakan hal yang amat terhormat. Bahkan semua rekannya nampak mengintai dari pintu dapur dengan wajah berseri.

Liong-li belum pernah melihat koki ini, akan tetapi dari sikapnya ia yakin bahwa koki ini bukan orang baru di situ. Bahkan pemilik rumah makan yang duduk di belakang meja itu tersenyum melihat kokinya keluar menghadap Liong-li. Akan tetapi, kepala dapur itu mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang tadi menjadi sipit karena tersenyum, kini dilebar-lebarkan seolah dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Masakan sup ayam jamur di atas meja depan gadis itu masih utuh!

“Engkaukah Tio-toako?” tanya Liong-li, dengan sinar mata tajam penuh selidik ia menatap wajah bulat itu.

“Benar, li-hiap. Ada apakah li-hiap mengundang saya?”

“Tio-toako, sudah lama engkau menjadi kepala dapur di rumah makan ini?”

“Sudah ada sepuluh tahun, li-hiap.”

“Hemm, apakah engkau yang mengirim hadiah masakan ini dan engkau sendiri yang memasaknya?”

“Benar, li-hiap. Apakah tidak enak maka...”

“Engkau agaknya lupa menaruh garam pada masakan ini, toako. Sama sekali tidak asin dan hambar!”

“Ahhhh??” Sepasang mata itu makin dibelalakkan. “Bagaimana mungkin? Saya masak dengan hati-hati sekali, sudah saya taruh garam dan bumbu secukupnya.”

“Hemm, kau tidak percaya. Engkau rasakanlah sendiri, coba kau minum kuahnya sesendok saja,” kata Liong-li sambil menatap tajam wajah itu.

Wajah itu sama sekali tidak kelihatan gugup atau takut. “Aneh! Baik, akan saya coba sendiri. Maafkan, li-hiap,” kata si gendut itu sambil menghampiri meja dan menyendok kuah dari mangkok sup itu, lalu dibawa sendok itu ke mulutnya.

“Tidak usah!” Liong-li berkata dan sekali tangannya bergerak, sendok terisi kuah itu telah dirampasnya tanpa setetespun kuah tumpah.

Si gendut terkejut bukan main. “Ehhh? Ada apakah, li-hiap?” tanyanya heran.

“Tio-toako, ketika engkau masak sup ini, apakah ada yang membantumu?”

Si gendut mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Memang selalu saya dibantu oleh para pembantu koki. Kalau masakan penting, saya sendiri yang masak dan mereka itu hanya memotong-motong bahan masakan dan menyediakan bumbunya saja. Untuk masakan sup ini, ada seorang pembantu yang menemani saya.”

“Katakan terus terang, engkaukah yang menghadiahkan sup ini untukku? Sup ini mahal, bagaimana engkau dapat menghadiahkan begitu saja? Apakah engkau tidak dimarahi pemilik rumah makan?”

Wajah itu menjadi kemerahan dan senyumnya malu-malu, sepasang matanya kembali menyipit. “Maafkan, li-hiap, terus terang saja, masakan mahal ini dibeli...”

“Apa? Engkau membelinya untukku?”

“Eh, bukan... bukan uang saya, li-hiap. Biarlah saya mengaku terus terang saja. Seorang pembantu tukang masak yang merasa amat kagum kepada li-hiap, telah mengorbankan gajinya sehari untuk membeli masakan ini, untuk li-hiap. Karena dia pemalu, maka dia minta agar saya yang mengaku mengirim hidangan ini kepada li-hiap disertai salam semua rekan di dapur.”

Liong-li mengerutkan alisnya, jelaslah kini baginya, seperti melihat sebuah gambaran. “Dan pembantu itu yang tadi membantumu menyiapkan masakan sup ini?”

“Benar, li-hiap.”

“Dan dia tentu orang baru di sini?”

“Eh? Bagaimana li-hiap dapat mengetahuinya? Memang baru seminggu dia bekerja di sini, orangnya rajin dan pendiam, pekerjaannya baik dan... ehhh...”

Liong-li sudah bangkit dan menyambar pergelangan tangan si gendut itu, ditariknya orang itu memasuki dapur. “Tunjukkan mana orang itu!” katanya.

Si gendut tersaruk-saruk dan menjadi terkejut, heran dan takut. Ketika mereka memasuki dapur, semua pekerja di dapur memandang dengan heran pula. Si gendut memandang ke sekeliling, dan Liong-li siap untuk turun tangan. Akan tetapi si gendut nampak ragu-ragu.

”Eh? Di mana A-hok? Cepat panggil dia ke sini! A-hok... A-hooookkk...!!”

Dia memanggil-manggil. Akan tetapi, yang dipanggil tidak muncul, tidak nampak pula batang hidungnya dan Liong-li tidak merasa heran. Tentu saja penjahat yang hendak meracuninya itu telah melarikan diri begitu melihat usahanya gagal. Pemilik rumah makan segera datang ketika melihat ribut-ribut dan dengan hormat dia bertanya kepada Liong-li akan apa yang telah terjadi.

Dengan tenang Liong-li berkata kepadanya. “Pembantu tukang masak yang mengaku bernama A-hok itu adalah seorang penjahat yang menyelundup dan tadi dia berusaha meracuni aku melalui masakan yang dihidangkan. Hati-hati, masakan sup ayam jamur itu beracun jahat sekali, dan kalau kalian melihat A-hok itu di mana saja, cepat beri kabar kepadaku.” Liong-li segera membayar harga makanan yang dipesannya dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.

Semua gambaran itu kini jelas. Ada musuh bersembunyi yang menghendaki kematiannya. Hal ini sebenarnya tidak aneh. Ia tahu bahwa banyak penjahat sakit hati kepadanya, mendendam dan hendak membunuhnya. Dan karena itu maka selama ini ia tidak pernah lengah. Bahkan rumahnya pun dilindungi alat-alat rahasia. Akan tetapi, sudah satu dua tahun ini tidak ada penjahat berani mencoba untuk membunuhnya secara, terang-terangan seperti yang dilakukan penjahat yang menyelundup menjadi pembantu tukang masak tadi.

Ia memang tidak mencari keterangan tentang penjahat itu. Tidak ada gunanya. Penjahat kecil itu tentu hanya menjadi anak buah atau alat dari dalang yang mengaturnya, dan dalang itulah musuhnya yang berbahaya. Ia harus lebih waspada karena ada bayangan ancaman maut dari musuh-musuh yang tidak diketahui siapa.

Sementara itu, pemilik rumah makan yang merasa penasaran, lalu mengambil sedikit daging sup ayam jamur dan memberikannya kepada seekor kucing liar yang suka berkeliaran di situ mencari tulang-tulang sisa. Begitu kucing itu menjilat daging ayam, binatang itu terus meraung dan kejang-kejang, tewas seketika!

Baru dia percaya dan bergidik. Untung pendekar wanita yang dihormati itu tidak sampai mati keracunan di restorannya! Dia menyumpah-nyumpah dan mencoba untuk mencari tukang masak baru itu. Namun tentu saja usahanya sia-sia dan sejak itu, dia tidak berani menerima pekerja baru tanpa mengenal dulu dengan baik siapa orang itu!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua karya kho ping hoo

Seperti yang diduga oleh Liong-li, percobaan membunuhnya dengan racun itu merupakan awal serangkaian serangan dan usaha untuk membunuhnya, atau setidaknya merupakan serangan-serangan dan usaha gelap segerombolan musuh yang tidak diketahuinya siapa. Tiga hari kemudian, pada suatu malam terdengar suara ledakan nyaring di depan rumah gedungnya.

Dalam beberapa detik saja, ia dan sembilan orang pelayannya sudah berhamburan keluar dalam keadaan siap menghadapi musuh. Akan tetapi, tidak nampak bayangan seorangpun manusia di pekarangan itu, hanya bekas ledakan yang membuat Liong-li mengepal tinju. Arca wanita menunggang angsa yang menjadi kesayangannya, di tengah kolam ikan dan bunga teratai, telah hancur! Melihat bekas-bekasnya, arca itu dihancurkan dengan bahan peledak yang kuat sekali.

Agaknya, pihak musuh yang tidak berani memasuki rumah yang dipasangi alat-alat rahasia, melampiaskan dendam mereka kepada arca wanita dan angsa itu, atau sengaja mereka melakukan pengrusakan itu untuk mengganggu ketenteraman hatinya dan usaha itu memang berhasil. Ketenteraman hati Liong-li terusik dan sambil mengepal tinju ia berkata kepada sembilan orang pembantunya.

“Mulai detik ini kita harus waspada dan menyatakan perang terhadap para pengganggu yang curang dan pengecut ini. Buka mata dan telinga kalian setiap saat dan di manapun kalian berada. Musuh berada di sekeliling kita.”

Sembilan orang pelayan itu menyatakan sanggup dan merekapun merasa kesal sekali akan perbuatan yang curang dari musuh-musuh majikan mereka. Dan seperti yang dikatakan Liong-li, perang memang mulai dinyalakan oleh segerombolan orang yang bekerja secara curang dan menggelap. Hal ini terjadi tiga hari kemudian.

Pada hari itu, Bunga Biru dan Bunga Kuning, dua orang pelayan Liong-li, pergi berbelanja ke pasar. Seperti biasa, mereka berbelanja daging dan sayur mayur untuk masak hari itu. Juga Bunga Kuning hendak membeli kain sutera kuning untuk dibuat pakaian. Dua orang wanita muda berusia dua puluh tujuh tahun itu bersikap gembira, namun keduanya tetap waspada sesuai dengan pesan majikan mereka.

Walaupun sudah tiga hari tidak pernah terjadi sesuatu semenjak arca itu diledakkan orang, namun keduanya maklum bahwa mungkin saja pada saat itu ada mata yang mengikuti gerak gerik mereka. Maka, kegembiraan mereka itu bercampur siasat agar pihak musuh menganggap mereka lengah, agar pihak musuh mau bergerak melakukan serangan.

Menurut majikan mereka, sukar mencari musuh yang tidak mau memperkenalkan diri. Satu-satunya cara adalah memancing agar mereka turun tangan melakukan serangan dan hal ini dapat terjadi kalau mereka memperlihatkan sikap lengah! Memang permainan yang berbahaya, namun kesembilan orang pelayan Liong-li adalah gadis-gadis yang terlatih dan sudah terbiasa menghadapi bahaya seperti majikan mereka.

Setelah dua-tiga jam dua orang pelayan itu terlambat pulang, mulailah Liong-li mengerutkan alisnya. Ia mendapat laporan dari para pelayan lain bahwa Bunga Biru dan Bunga Kuning yang pergi berbelanja, sudah hampir tiga jam terlambat pulang dari pada waktu biasanya.

“Tunggu sejam lagi. Kalau mereka belum pulang, Bunga Merah dan Bunga Ungu agar pergi menyusul ke pasar dan ke toko,” kata Liong-li dengan sikap masih tenang.

Setengah jam kemudian, Bunga Biru pulang dengan wajah penuh ketegangan, dan ia tidak mau menjawab hujan pertanyaan para rekannya melainkan langsung saja ia lari menghadap Liong-li yang duduk di ruangan tengah. Tentu saja tujuh orang rekannya yang merasa khawatir, mengikutinya dari belakang dan kini delapan orang pelayan itu sudah duduk bersimpuh di atas lantai, menghadap Liong-li yang duduk di atas bangku rendah dengan santai.

“Lan Hwa, apakah yang terjadi dan di mana Ui Hwa?” tanya Liong-li dengan tegas dan suaranya mengandung teguran karena pelayan itu telah membuat mereka semua merasa khawatir.

“Maaf, li-hiap... Bunga Kuning diculik orang...”

Tentu saja semua pelayan terkejut walaupun mereka menekan perasaan dan tidak berani memperlihatkan kekagetan mereka. Hek-liong-li sendiri terkejut, akan tetapi dengan tenang ia berkata, “Coba ceritakan dari awal apa yang telah terjadi.”

“Kami berbelanja ke pasar dan ketika pulang kami singgah di toko kain untuk membeli kain sutera kuning. Setelah membeli kain, ketika kami keluar dari toko, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua, sekitar lima puluh tahun usianya, bertubuh tinggi kurus, menghampiri kami dan dia bertanya lirih apakah kami bekerja kepada li-hiap. Ketika kami membenarkan, dia berbisik bahwa dia melihat pembantu tukang masak yang pernah mencoba untuk meracuni li-hiap.”

Tentu saja perhatian Liong-li segera tertarik. “Lalu bagaimana? Cepat ceritakan yang jelas, jangan lewatkan hal-hal yang kecil sekalipun!”

Bunga biru melanjutkan ceritanya. Ketika ia dan Bunga Kuning mendengar bisikan laki-laki itu, tentu saja mereka berdua tertarik sekali, akan tetapi merekapun tidak mau percaya begitu saja. Mereka sudah terlatih dan terdidik oleh Liong-li dan mereka adalah gadis-gadis yang cerdik di samping tabah dan lihai.

Mereka saling pandang dan keduanya melalui pandang mata bersepakat untuk cepat melapor kepada Liong-li. Akan tetapi agaknya laki-laki kurus itupun dapat menduga, karena dia segera berkata bahwa kalau tidak cepat-cepat mereka mengejar, dia khawatir bekas pembantu tukang masak itu akan sempat menghilang.

“Di mana dia?” tanya Bunga Kuning.

“Tadi kulihat dia di dekat pintu gerbang sebelah barat. Mari cepat nona, kalau dia sudah pergi, aku takut kalian menganggap aku berbohong!” kata laki-laki itu yang berjalan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang barat.

Sambil mengikuti orang itu, Bunga Biru bertanya. “Siapakah engkau, paman? Dan mengapa engkau melaporkan hal ini kepada kami?”

Sambil berjalan cepat setengah berlari, orang itu menjawab. “Aku juga hadir sebagai tamu ketika peristiwa racun dalam sup ayam jamur itu terjadi. Aku pengagum Hek-liong-li, maka aku bertanya-tanya siapa orangnya yang begitu berani hendak meracuni li-hiap. Aku pernah melihat pembantu tukang masak itu dan tadi kebetulan aku melihatnya. Aku hendak melapor kepada li-hiap, akan tetapi ketika melihat kalian, aku teringat bahwa para pelayan Hek-liong-lihiap mengenakan pakaian yang beraneka warna. Marilah, jangan sampai dia menghilang!”

Mereka tiba di pintu gerbang, akan tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada. Dengan menyesal laki-laki itu menyatakan bahwa tentu orang itu melakukan perjalanan ke luar pintu gerbang.

“Mari kita kejar dia, pasti belum jauh dia pergi!” katanya dan melihat sikapnya yang sungguh-sungguh, mulai berkurang kecurigaan Bunga Biru dan Bunga Kuning.

Mereka mengikuti laki-laki melakukan pengejaran dan ketika mereka tiba di tempat sunyi dekat hutan, tiba-tiba saja bermunculan belasan orang dan si kurus itu segera menyerang Bunga Kuning! Tentu saja dua orang gadis pelayan itu terkejut dan marah. Kecurigaan mereka tadi ternyata benar. Orang ini adalah orang jahat yang sengaja memancing mereka keluar dari kota dan di tempat sunyi itu mereka dikepung oleh empat belas orang...!

Thanks for reading Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 03 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »