Social Items

KETIKA dua orang anggauta gerombolan itu mengeluarkan ucapan kasar dan menghina kepadanya, kakek itu memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong, dan beberapa kali, secara aneh sekali, lidah kakek itu menjilat bibir sendiri dengan gerakan cepat, mengingatkan orang akan kebiasaan seekor ular yang suka menjilat bibir dengan lidah secara cepat. Lidah itu hanya nampak sekejap saja, menjulur ke luar dan lenyap lagi ke balik bibir. Si bopeng dan si muka hitam kini melangkah lebar menghampiri kakek itu.

“Kami tidak menyukai matamu itu! Hayo cepat berlutut dan minta ampun sebelum kami congkel keluar kedua mata setanmu itu!” bentak pula si bopeng, dan kedua orang itu sudah mengangkat golok mereka mengancam dengan sikap bengis. Kawan-kawan mereka hanya menonton saja karena mereka tidak memperdulikan seorang kakek yang tidak mengesankan itu.

Setelah memandang kepada dua orang itu dengan mata mencorong, kakek itu yang berdiri bersandar pada tongkatnya, berkata lirih. “Heeemmm, Thai-san Ngo-kwi memelihara dua ekor anjing buduk yang tidak ada gunanya ini, sungguh merugikan saja!”

Mendengar ucapan kakek itu, si bopeng dan si muka hitam tentu saja menjadi marah bukan main. Orang ini malah berani memaki mereka sebagai dua ekor anjing buduk! “Tua bangka yang bosan hidup! Kucincang kau!” bentak si muka bopeng sambil mengayun goloknya.

“Buntungi kaki tangannya, penggal lehernya!” teriak si muka hitam yang juga sudah menyerangnya. Dua orang anak buah gerombolan ini memang sudah terbiasa menggunakan kekerasan atau membunuh orang tanpa alasan yang kuat.

Akan tetapi kakek itu agaknya sama sekali tidak perduli akan serangan dua orang kasar itu. Kembali lidahnya mencuat keluar lalu masuk kembali, dan kini mulutnya menyeringai dan mengeluarkan suara mendesis. Uap keabuan menyambar keluar, tersembur dari mulut yang menyeringai itu dan mengenai muka si bopeng dan si muka hitam. Mereka itu terhuyung, golok mereka terlepas, lalu terpelanting roboh, berkelojotan dan tewas dengan muka berubah merah melepuh!

Para penjaga lainnya terkejut dan mereka berteriak-teriak marah. Mendengar teriakan mereka, para anggauta gerombolan yang berada di dalam dan di luar pintu gerbang, datang berlarian dan mereka semua marah melihat betapa dua orang rekan mereka tewas oleh seorang kakek asing. Kini puluhan orang anggauta gerombolan itu mengepung si kakek dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk menghancurkan tubuh kakek itu dengan pengeroyokan mereka.

“Bunuh tua bangka ini!”

“Siapakah engkau yang lancang berani mengacau di sini?” bentak yang lain.

Akan tetapi karena semua orang sudah marah dan siap menyerang, kakek itu tidak menjawab, melainkan mengangkat tongkatnya dan menempelkan gagang tongkat itu ke mulutnya. Ketika dia mengembungkan kedua pipinya, terdengarlah suara menggetar lirih dan tinggi, hampir tidak terdengar dan yang terdengar hanya suara desis mengerikan.

Suara ini memanjang, berhenti sebentar, mulai lagi, dan karena semua orang tidak tahu apa artinya ini, perbuatan dan sikap kakek itu membuat mereka sejenak tertegun dan tidak melanjutkan serangan mereka. Akan tetapi, karena tidak terjadi apa-apa, mereka menganggap kakek itu hanya berlagak saja.

“Bunuh dia!”

“Tidak, tangkap dan hadapkan pimpinan!”

“Siksa dia yang telah membunuh dua orang kawan kita!”

Kini puluhan buah senjata tajam, golok, pedang dan tombak, menyambar-nyambar dengan mengancam di sekeliling kakek itu. Namun dia tetap tenang saja dan tiba-tiba, sekali tubuhnya bergerak, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah lenyap dari dalam kepungan puluhan orang itu! Tentu saja semua orang terkejut dan ketika mereka mencari-cari, ternyata kakek itu telah berdiri jauh di luar kepungan, di luar pintu gerbang dalam jarak lima puluh meter!

Melihat ini, semua orang menyerbu keluar untuk mengejar dan menyerang kakek itu. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak melarikan diri, bahkan menghadapi para penyerbu sambil mengangkat-angkat tongkatnya, dan kadang-kadang meniup gagang tongkat yang berbentuk kepala ular itu.

Setelah tiba dekat pria itu, semua orang terbelalak dan serbuan mereka terhenti tiba-tiba. Mereka memandang ke atas tanah dan melihat betapa di depan dan kanan kiri kakek itu, nampak ratusan ekor ular merayap di atas tanah, berlenggang-lenggok menyerbu ke arah mereka! Kakek itu, ternyata dapat memanggil barisan ular dan menggerakkan barisan ular itu untuk menghadapi para anak buah gerombolan!

Biarpun hati mereka merasa ngeri melihat munculnya banyak sekali ular itu, namun anak buah gerombolan penjahat itu tentu saja tidak takut terhadap ular, apa lagi banyak di antara ular-ular itu kecil saja, sebesar ibu jari kaki dan yang paling besar sebetis orang. Mereka menggerakkan senjata dan menyambut ular-ular itu dengan serangan!

Beberapa ekor ular terbabat senjata tajam dan mati, akan tetapi segera terdengar teriakan-teriakan ketika beberapa orang anak buah gerombolan terkena gigitan ular-ular yang seperti nekat itu. Dan ternyata bahwa ular-ular itu sebagian besar adalah ular beracun! Dalam waktu singkat saja, ada puluhan ular mati, akan tetapi juga ada limabelas orang anak buah gerombolan bergulingan sambil merintih-rintih kesakitan karena kaki mereka digigit ular berbisa! Keadaan menjadi geger dan pada saat itu muncullah lima orang yang sikapnya gagah dan berpengaruh.

“Tahan senjata, semua mundur...!”

Teriakan itu berpengaruh dan semua anak buah gerombolan segera mundur sambil menyeret lima belas orang rekan yang terluka. Lima orang itu adalah Thai-san Ngo-kwi yang segera berlari keluar ketika mendengar bahwa ada seorang kakek dengan barisan ular mengamuk. Mereka kini melangkah maju dan memberi hormat kepada kakek itu. Thai-kwi, orang pertama yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, segera berseru dengan suara girang.

“Kiranya su-pek (uwa guru) yang datang!”

“Selamat datang, supek!” kata empat orang adik seperguruannya.

Kakek itu meniup tongkat ularnya dan semua ular kini lari keluar menuju ke hutan dan rumpun alang-alang tak jauh dari situ. Kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, kalian sudah mengangkat nama! Thai-san Ngo-kwi amat terkenal, akan tetapi sayang, anak buahmu kurang teratur sehingga akan melemahkan kedudukan kalian!”

Lima orang itu memandang ke arah dua orang anak buah mereka yang tewas, dan limabelas orang anak buah yang lain merintih-rintih karena kesakitan. Tahulah mereka bahwa kalau tidak cepat mendapatkan obat penawar, lima belas orang anak buah itu akan tewas pula. Maka, dipimpin oleh Thai-kwi, mereka berlima menjatuhkan diri berlutut menghadap supek itu.

“Harap supek maafkan. Karena selamanya belum pernah bertemu supek, maka mereka tidak mengenalmu. Bahkan kami sendiri hampir tidak percaya supek yang datang, kalau tidak melihat sendiri. Supek, mohon kemurahan hati supek. Berilah obat penawar bagi mereka, dan di dalam nanti tee-cu (murid) berlima akan menghaturkan maaf dan perjamuan selamat datang kepada supek.”

Kakek itu menyeringai dan menggerakkan tongkat ularnya dengan sikap congkak. “Hemm, kalau bukan kalian yang minta, mereka itu tentu akan mampus dalam waktu beberapa jam lagi.”

Dia mengeluarkan sebuah buntalan kain jubahnya, mengeluarkan lima belas butir menyerahkannya kepada Thai-kwi. “Suruh dari dalam saku pel hitam dan mereka masing-masing menelan pel ini, minum air paling sedikit lima mangkok dan racun itu akan keluar dan mereka akan selamat.”

“Terima kasih, supek!” kata Thai-kwi yang segera membagi-bagi obat itu dan menyuruh anak buah yang lain mengambilkan air. Kemudian, dia dan para sutenya dengan sikap hormat mempersilakan supek mereka masuk ke dalam perkampungan itu dan langsung ke bangunan tempat tinggal mereka.

Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara wanita melengking lembut. “Heii, kamipun sudah tiba di sini!”

Semua orang menengok dan nampak dua bayangan berkelebat ke pintu gerbang itu dan Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li telah berdiri di situ dengan gagah dan anggunnya! Kakek tukang ular itu adalah Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Kiu Lo-mo pula, dan yang tertua di antara mereka bertiga. Ketika dia melihat dua orang itu, dia tertawa.

“Ha-ha-ha, kiranya kalian sudah datang pula, tepat pada waktunya! Thai-san Ngo-kwi, cepat beri hormat. Mereka ini terhitung susiok (paman guru) dan su-kouw (bibi guru) kalian!”

Kim Pit Siu-cai mengebutkan lengan bajunya yang panjang ketika dia mengamati lima orang laki-laki gagah di depannya itu. “Jadi inikah murid-murid mendiang suheng Siauw-bin Ciu-kwi? Hem, nampaknya cukup boleh diandalkan, bukan, sumoi?” tanyanya kepada Ang I Sian-li.

Ang I Sian-li yang tadi bertemu di lereng bukit Hitam dengan suhengnya, mengangguk. “Mereka cukup gagah.”

Nama besar Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua) terkenal di dunia kang-ouw sebagai segerombolan datuk yang saling bantu dan orang mengira bahwa mereka adalah saudara-saudara seperguruan karena mereka saling sebut seperti kakak beradik seperguruan. Padahal, mereka itu sama sekali tidak ada hubungan perguruan, hanya karena mereka sudah sepakat untuk saling bantu agar memperkuat dan mempertahankan nama besar mereka, maka merekapun menganggap yang lain seperti saudara sendiri. Maka, tidak aneh kalau kini mereka saling menyebut suheng, sute dan sumoi!

Seperti dikatakan Kim Pit Siu-cai tadi, Thai-san Ngo-kwi adalah murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa), seorang di antara Kiu Lo-mo, maka lima orang pimpinan gerombolan di Thai-san ini masih terhitung murid-murid keponakan, walau hanya dalam sebutan saja. Kiu Lo-mo atau Sembilan Iblis Tua kini hanya tinggal tiga orang itu, Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Seratus), Kim Pit Siu-cai, dan Ang I Sian-li.

Ke mana lagi yang enam orang lainnya? Mereka sudah meninggal dunia, dan mereka itu adalah Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam)? Siauw-bin Ciu-kwi guru dari kelima orang kepala gerombolan itu, Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), Tiat-thouw Kui-bo (Nenek Iblis Kepala Besi), dan dua orang kakek kembar yang dijuluki Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Bukit Selatan).

Kini, sisa dari Kiu Lo-mo yang tinggal tiga orang mengadakan pertemuan atas undangan Pek-bwe Coa-ong dan mereka memilih puncak Bukit Hitam karena di situ menjadi sarang gerombolan yang dipimpin Thai-san Ngo-kwi, murid-murid keponakan mereka sendiri. Tiga orang datuk itu dijamu oleh Thai-san go-kwi dalam sebuah pesta yang meriah. Lima orang pimpinan gerombolan itu sudah lupa sama sekali bahwa dua orang mati konyol dan lima belas orang nyaris tewas pula dari gerombolan mereka. Mereka gembira bukan main mendapatkan kunjungan tiga orang datuk itu, suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka.

Setelah kenyang makan minum, dan melihat betapa tiga orang datuk itu nampak gembira dan puas, Thai-kwi yang menjadi orang tertua dari Thai-san Ngo-kwi, mengangkat cawan arak menghaturkan selamat datang kepada mereka bertiga, kemudian berkata dengan suara lantang dan gembira.

“Teecu berlima merasa gembira sekali dan mendapat kehormatan besar yang tidak kami sangka-sangka dengan kunjungan supek, susiok dan su-kouw ke tempat kami. Teecu merasa yakin bahwa kunjungan sam-wi (anda bertiga) tentu bukan sekedar melancong, pasti membawa hal yang teramat penting. Kalau boleh teecu mengetahui, angin apakah yang meniup sam-wi datang berkunjung ini?”

Pek-bwe Coa-ong yang tadinya nampak gembira tertawa-tawa, kini memandang serius kepada lima orang murid keponakannya. Kemudian, menjawab pertanyaan Thai-kwi, dia berbalik bertanya. “Apakah kalian berlima masih ingat, berapa lama sudah guru kalian, Siauw-bin Ciu-kwi meninggal dunia?”

Lima orang itu memandang heran mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. “Kurang lebih sudah empat tahun, supek,” kata seorang di antara mereka.

“Dan kalian masih ingat bagaimana matinya guru kalian? Siapa pembunuh guru kalian itu?”

Kini Thai-kwi yang menjawab karena para sutenya nampak gentar menghadapi sikap supek yang berubah galak itu. “Tentu saja teecu masih ingat supek. Pembunuhnya adalah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.”

Tiba-tiba supek itu menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok berloncatan ke atas. “Bagus! Murid-murid macam apa kalian ini? Tahu guru kalian dibunuh dua orang itu, dan kalian enak-enak saja di sini membuat nama besar, menumpuk harta, sama sekali tidak berusaha untuk membalas kematian guru!”

Lima orang kepala gerombolan itu saling pandang dan nampak pucat, akan tetapi Thai-kwi segera menjawab. “Supek tentu mengetahui jelas mengapa teecu berlima tidak berusaha membalas dendam. Tentu saja kami juga menaruh dendam sakit hati terhadap Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) dan Hek-liong-li (wanita Naga Hitam). Akan tetapi, kami tidak berdaya. Sedangkan mendiang suhu saja kalah oleh mereka, bagaimana mungkin kami dapat membalas dendam? Sebelum kami berhasil membalas dendam, tentu mereka berdua sudah membunuh kami! Kepandaian dua orang pendekar itu setinggi langit, teecu berlima sama sekali bukan lawan mereka. Bahkan baru satu-dua tahun yang lalu, paman guru Lam-hai Mo-ong dan bibi guru Tiat-thouw Kui-bo di istana kerajaan juga menjadi korban kelihaian Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kalau mereka berdua saja tewas di tangan dua orang pendekar itu, apa yang dapat kami lakukan?”

Pek-bwe Coa-ong mengepal tinju. “Itulah yang membuat hatiku sakit bukan main! Pek-liong-eng dan Hek-liong-li itu agaknya hendak memusuhi kita Kiu Lo-mo! Pertama kali, mereka membunuh suheng Hek-sim Lo-mo, kemudian membunuh Siauw-bin Ciu-kwi dan paling akhir, membunuh Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo. Empat orang di antara Lo-mo telah mereka bunuh! Kalau kita tidak cepat turun tangan membalas dendam, tunggu kapan lagi!”

Ang I Sian-li mengangguk-angguk. “Suheng benar. Dua orang muda sombong itu telah membunuh empat orang saudara kita. Sayang bahwa dua saudara kembar kita Lam-san Siang-kwi juga tewas di dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah di daerah selatan. Di antara Kiu Lo-mo, tinggal kita bertiga. Sekaranglah saatnya kita membalas dendam!”

“Aku setuju!” kata Kim Pit Siu-cai dengan suaranya yang lembut. ”Kalau kita bertiga menyatukan tenaga, ditambah dengan bantuan Thai-san Ngo-kwi dan anak buah mereka, tentu kita akan berhasil membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!”

Mendengar ucapan tiga orang datuk itu dan melihat sikap mereka, timbul keberanian dan kegembiraan dalam hati Thai-san Ngo-kwi. Mereka bersemangat lagi untuk membalas kematian para datuk itu. “Teecu sekalian siap untuk membantu sam-wi menghancurkan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!” kata mereka serempak.

“Bagus! Kalau begitu, tidak percuma kalian menerima ilmu dari mendiang guru kalian,” kata Pek-bwe Coa-ong. “Aku memang sengaja mengundang susiok dan su-kouw kalian, agar hari ini kami mengadakan pertemuan di sini. Kami membutuhkan bantuan banyak orang, dan hanya anak buah kalian yang dapat kami percaya. Akan tetapi, mulai sekarang, mereka harus diperintah dengan tangan besi agar tidak sembarangan dan tidak boleh bertindak sendiri-sendiri seperti ketika aku datang tadi. Mulai sekarang, kalian berlima dan anak buah kalian harus mentaati semua siasat yang akan kami rencanakan. Menghadapi dua orang macam Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak bisa dilawan dengan kekuatan dan kekasaran semata. Harus menggunakan siasat yang matang.”

“Supek, kami juga pernah menyelidiki keadaan mereka untuk mencari tahu dan untuk melihat kemungkinan kami membalas dendam. Akan tetapi apa yang kami dapatkan tentang mereka membuat kami jerih dan tidak berani turun tangan karena hal itu sama saja dengan membunuh diri,” kata pula Thai-kwi.

“Ceritakan, apa yang kauketahui dari penyelidikanmu itu?” tanya Kim Pit Siu-cai.

“Pek-liong-eng bernama Tan Cin Hay, kini berusia tiga puluhan tahun dan dia tinggal di dusun Pat-kwa-bun di dekat Telaga See- ouw di Hang-kouw. Dia tinggal menyendiri di dalam rumahnya yang besar dan kokoh kuat, bersama enam orang pelayan pria yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sekali. Selain Pek-liong-eng sendiri sakti dan enam orang pelayannya lihai, juga rumahnya yang kokoh kuat itu lebih sukar diserbu dari pada sebuah benteng! Rumah itu penuh dengan jebakan-jebakan rahasia yang amat berbahaya.”

“Hemm, dan bagaimana dengan Hek-liong-li ?” tanya Ang I Sian-li.

“Kami juga sudah melakukan penyelidikan terhadap wanita itu. Hek-liong-li bernama Lie Kim Cu. Ia amat cantik dan tinggal menyendiri pula di kota Lok-yang, di sebelah ujung barat. Seperti juga rumah Pek-liong-eng, rumah wanita itu kokoh kuat dan sukar ditembus, penuh alat-alat rahasia, jebakan maut, dan selain wanita sakti itu yang sukar dikalahkan, ia masih dibantu sembilan orang gadis pelayan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lihai.”

Pek-bwe Coa-ong mengangguk-angguk. “Bagus laporanmu itu menunjukkan bahwa kalian memang selama ini tidak tinggal diam dan sudah menyelidiki keadaan dua orang musuh besar itu. Kita harus mengatur siasat dan tidak putus asa dengan kenyataan tentang kekuatan mereka itu. Kita harus dapat menghancurkan mereka, dan kita dapat menggunakan siasat melalui sahabat-sahabat mereka. Sian-li, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo? Siapa saja sahabat-sahabat baik Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang patut masuk catatan kita?”

“Sudah kuselidiki, suheng. Aku tidak melibatkan para pangeran, apa lagi keluarga kaisar. Akan tetapi, jelas bahwa dua orang musuh besar kita itu bekerja sama dengan dua orang yang kemudian menjadi sahabat baik mereka. Bahkan kini, dua orang itu telah menjadi suami isteri! Mereka adalah Cian Hui atau Cian Ciang-kun yang bekerja sebagai penyelidik, sedangkan orang kedua yang kini menjadi isterinya bernama Cu Sui In, keponakan Ciok Taijin.”

“Hemm, yang pria seorang panglima dan yang wanita keponakan seorang pembesar kota raja?” Pek-bwe Coa-ong mengerutkan alisnya.

“Benar, akan tetapi mereka bukan kerabat istana, dan orang yang bernama Cian Hui itu sudah banyak mencelakakan kawan-kawan di dunia kang-ouw. Sudah kuselidiki ilmu kepandaian silat suami isteri itu. Suami itu ilmu silatnya tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi dia cerdik bukan main. Dan sang isteri lebih lihai dari suaminya karena ia murid Kun-lun-pai. Akan tetapi juga tidak perlu dikhawatirkan karena tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada tingkat seorang di antara Thai-san Ngo-kwi ini.” Wanita cantik baju merah itu mengakhiri keterangannya.

“Kalau begitu, tidak perlu dikhawatirkan benar. Hanya mereka harus dipancing keluar, tidak perlu kita membikin kacau di istana. Di sana banyak sekali jagoan yang pandai. Bahkan di kota raja pun kita tidak boleh membikin ribut agar usaha kita membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak terganggu. Dan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Siauw-bin Ciu-kwi, Siu-cai?”

Kim Pit Siu-cai tersenyum. “Tidak sukar menyelidiki tentang peristiwa yang terjadi empat tahun yang lalu itu. Suheng Siauw-bin Ciu-kwi memang tewas di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, dan yang membantu dua orang muda sombong itu adalah kakak beradik she Kam. Merekalah yang menggagalkan suheng mendapatkan harta karun, bahkan menemui kematiannya. Kam Sun Ting dan Kam Cian Li itu kakak beradik ahli renang dan ahli selam. Mereka bahkan kabarnya juga kekasih Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kini mereka hidup dengan makmur dan kaya raya sebagai pedagang kain di Nam-cang.”

“Bagus! Tentu kita dapat mempergunakan mereka. Bagaimana kepandaian silat mereka?”

“Ah, biasa-biasa saja. Mereka bukan ahli silat, melainkan ahli menyelam.”

“Nah, sekarang kuceritakan hasil penyelidikanku tentang kematian suheng Hek-sim-Lo-mo enam tahun yang lalu. Dan biarpun kematian suheng juga di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, namun dalam pertentangan itu, yang membantu Pek-liong-eng dan Hek-liong-li adalah dua orang muda yang sekarang telah menjadi suami isteri. Yang pria bernama Song Tek Hin, dan yang wanita bernama Su Hong Ing, murid Bu-tong-pai. Akan tetapi ilmu silat suami isteri ini tidak ada artinya, dan sudah kuselidiki keadaan mereka. Merekapun merupakan orang-orang penting yang dapat kita pergunakan untuk menjebak dua orang musuh besar kita.”

Tiga orang datuk itu bersama Thai-san Ngo-kwi lalu mengadakan perundingan, mengatur rencana siasat untuk membalas dendam mereka terhadap Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua jilid 02 karya kho ping hoo

Semua orang di kota Lok-yang, bahkan sampai jauh di seluruh daerah Lok-yang, mengenal belaka siapa yang tinggal di rumah gedung besar di sudut barat kota Lok-yang itu. Semua orang tahu siapa adanya gadis cantik jelita gagah perkasa yang mereka sebut Liong-lihiap (Pendekar Wanita Naga) atau Liong-li (Wanita Naga) itu.

Ia adalah Lie Kim Cu yang julukannya sebetulnya adalah Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam). Akan tetapi, orang-orang yang melihat wajah yang cantik jelita dan manis itu, kulit yang putih mulus, merasa sungkan menyebutnya Hek-liong-li. Kata “Hitam” itu agaknya tidak pantas untuk seorang gadis yang kulitnya putih mulus kemerahan seperti itu, walaupun ia selalu mengenakan pakaian sutera hitam. Pakaian yang membuat kulitnya makin nampak putih mulus.

Biarpun Hek-liong-li Lie Kim Cu atau lebih terkenal dengan Liong-li saja usianya sudah dua puluh delapan tahun, namun ia belum menikah. Iapun bukan seorang gadis yang perawan, karena sejak muda sekali ia sudah terjatuh ke tangan seorang pangeran di Lok-yang, diperkosa dan kemudian dijual kepada seorang mucikari sehingga ia dipaksa menjadi seorang pelacur!

Ia berhasil membebaskan diri dari cengkeraman mucikari yang menjadikannya sumber uang itu, dan setelah mempelajari ilmu silat tinggi dari Huang-ho Kui-bo, seorang datuk sesat yang sakti, ia membalas dendam kepada pengeran itu dan kepada sang mucikari. Akan tetapi ia telah kehilangan seluruh keluarganya.

Mendiang ayahnya adalah seorang bangsawan, akan tetapi karena keluarganya sudah habis, Liong-li hidup seorang diri, menjadi pendekar wanita dan petualang yang sebentar saja membuat nama besar bersama Pek-liong-eng yang kemudian menjadi sahabat dan rekannya yang setia walaupun mereka tinggal berpisah agak jauh.

Sebagai seorang pendekar wanita, Liong-li terkenal, ditakuti para penjahat dan disegani para pendekar. Ia bukan seorang petualang asmara, bukan pengejar cinta gairah berahi, akan tetapi, apabila bertemu seorang pria yang berkenan di hati dan saling menyukai, iapun tidak pantang untuk mengadakan hubungan cinta dengan pria itu asalkan dasarnya suka sama suka dan tidak ada ikatan apapun antara mereka. Hanya merupakan petualangan sepintas saja.

Karena ini, banyak pria yang jatuh cinta kepadanya dan menderita patah hati karena terpaksa mereka berpisah lagi sesuai dengan janji yang sebelumnya dituntut oleh Liong-li, yaitu tidak ada ikatan apapun antara mereka! Tak dapat diragukan lagi, orang yang paling dicintanya, paling disayangnya di dunia ini adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay, rekannya yang sudah sering berjuang bahu-membahu, saling bantu, saling bela dengan taruhan nyawa dalam berbagai petualangan. Seperti juga Pek-liong-eng, Liong-li juga rela mengorbankan nyawanya kalau perlu demi menolong rekannya itu!

Hubungan cinta kasih antara mereka melebihi cinta kasih antar saudara bahkan antar kekasih! Anehnya, kalau Liong-li tidak pantang menyerahkan diri dalam buaian cinta bersama seorang pria yang berkenan di hatinya, dengan Pek-liong hubungannya hanyalah hubungan batin! Belum pernah mereka itu bermesraan, apa lagi berhubungan badan!

Memang aneh, dan keduanya juga merasa aneh, namun nyatanya demikian dan mereka berdua seolah takut kalau sampai berhubungan badan, maka hubungan itu bahkan akan melenyapkan atau mengurangi hubungan batin mereka yang saling menyayang dan saling membela!

Lebih aneh akan tetapi nyata pula, tiap kali ia melihat Pek-l.iong berhubungan cinta dengan wanita lain, ia sama sekali tidak merasa cemburu atau iri karena ia yakin sedalam-dalamnya bahwa Pek-liong-eng hanya menaruh cinta nafsu saja kepada wanita lain, sedangkan cinta sejati pendekar itu hanya untuk ia seorang! Ia rasakan dan yakin benar!

Liong-li memang seorang wanita yang cantik jelita. Usianya membuat ia menjadi seorang wanita yang masak. Wajahnya bulatbtelur dengan dagu meruncing sehingga nampak manis sekali. Mulutnya kecil, dengan bibir yang merah membasah selalu, tanda bahwa ia sehat dan belahan bibir lembut itu selalu cerah mengandung senyum, dihias lesung pipi di kanan kiri dan sebuah tahi lalat di bawah mata kiri.

Ilmu kepandaiannya tinggi, bahkan semakin meningkat selama ini, karena setiap hari ia berlatih diri dengan para pelayannya yang menjadi lawan berlatihnya. Juga ia tekun sekali mempelajari setiap jurus yang telah dikuasainya, untuk dicari perkembangannya dan selalu memperbaikinya dengan menutup bagian-bagian yang lemah.

Seperti Pek-liong-eng yang mempunyai sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Putih), maka Liong-li juga memiliki sebatang pedang pusaka yang disebut Hek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Hitam). Dan bersama Pek-liong-eng, Long-li menciptakan ilmu pedang yang mereka namakan Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) yang dapat mereka mainkan secara berpisah maupun digabung menjadi satu.

Selain ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama itu, Liong-li juga menguasai ilmu pedang istimewa Hek-liong-kiam-sut. Ilmu silatnya tangan kosong juga banyak macamnya, akan tetapi yang membuat ia disegani adalah ilmu silatnya tangan kosong yang disebut Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya lemah gemulai dan cantik indah, namun menyembunyikan bahaya maut bagi lawan! Juga ia menguasai Lie-eng-pouw (Langkah Enam Bintang), yang disebut langkah ajaib karena dengan langkah-langkah yang aneh itu ia mudah mengelabui lawan dan dapat menyelamatkan diri dari hujan senjata pengeroyok.

Dalam petualangannya bersama Pek-liong-eng, Liong-li telah mendapatkan harta karun yang membuat ia menjadi kaya raya. Rumah gedung amat indah dan penuh dengan alat rahasia untuk melindungi diri. Rumahnya bertembok putih bersih karena sering dikapur, dengan jendela dan pintu dicat hijau muda, nampak segar dan bersih menyenangkan, apa lagi dihias dengan tanaman bunga-bunga yang membuat rumah itu dikepung daun-daun hijau dan bunga-bunga beraneka warna.

Di depan rumahnya terdapat pekarangan yang luas, dan di tengah pekarangan itu nampak sebuah kolam ikan yang luas, yang ditumbuhi teratai merah dan putih, dan di tengah kolam dipasangi arca yang indah sekali buatannya. Arca seorang wanita cantik berpakaian tipis tembus pandang menunggang seekor angsa!

Keindahan bentuk tubuh wanita dan angsa itu sungguh serasi. Di sebelah kiri dan belakang gedung itu terdapat taman bunga yang mengumpulkan segala macam bunga yang berasal dari luar Lok-yang dan yang terpelihara baik. Perumahan itu dikelilingi pagar tembok yang dua meter tingginya, dan di atas pagar tembok dipasangi tombak-tombak merah. Indah dan juga megah angker!

Liong-li tinggal di gedung mungil itu ditemani sembilan orang pelayannya, semuanya wanita berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun. Para pelayan ini mengenakan pakaian yang beraneka warna, dan mereka nampak cantik dan gesit, karena mereka telah menerima latihan ilmu silat yang lumayan dari majikan mereka.

Mereka itu mempunyai nama dan dikenal baik oleh Liong-li akan tetapi Liong-li lebih sering menyebut mereka dengan warna pakaian mereka saja, seperti Ang-hwa (Bunga Merah), Pek-hwa (Bunga Putih), atau Lan-hwa (Bunga Biru). Dan sembilan orang wanita pelayan ini juga berwatak gagah, dan amat setia kepada Liong-li yang mereka sayang dan mereka hormati sebagai majikan yang royal dalam memberi hadiah, dan guru yang amat baik.

Liong-li berjiwa petualang, maka tentu saja ia tidak betah kalau harus tinggal saja di rumah, walaupun rumahnya indah, taman bunganya indah dan para pelayannya selain pandai silat, pandai pula bermain musik, bernyanyi dan menari. Liong-li sendiri merupakan seorang ahli dalam kesenian, dan seringkali ia dibantu sembiIan orang pelayannya bersenang-senang dan bermain musik di tamannya yang indah di waktu bulan purnama. Kalau sedang begitu, mereka merupakan sepuluh orang bidadari yang cantik dan ahli seni, sedikit pun tidak membayangkan bahwa mereka adalah sepuluh orang wanita yang amat berbahaya bagi siapa saja yang berniat jahat terhadap mereka.

Mungkin karena belum berumah tangga, tidak mempunyai suami dan anak, maka Liong-li kadang-kadang keluar rumah dan makan di rumah makan. Padahal ia sendiri ahli masak, dan para pelayannya juga pandai masak. Ia menghendaki kesegaran di luar, melihat kehidupan di luar. Bahkan ada kalanya ia tidur di sebuah rumah penginapan, meninggalkan kamarnya sendiri yang jauh lebih indah!

Pada suatu pagi yang indah, Liong-li sudah keluar dari rumahnya. Kepada para pelayannya ia mengatakan bahwa ia hendak pergi berjalan-jalan ke kota. Begitu keluar dari rumah, di sepanjang jalan raya hampir setiap orang tersenyum atau mengangguk kepadanya, ada pula yang mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Liong-li memang merupakan seorang wanita yang populer, disuka dan dikagumi semua orang baik-baik, disegani dan ditakuti para penjahat. Bahkan seorang perwira keamanan yang sedang lewat menunggang kuda, begitu melihat Liong-li berjalan seorang diri di tepi jalan, cepat memberi hormat seperti bertemu dengan seorang atasannya!

Liong-li membalas setiap salam orang dengan senyum dan anggukan kepala. Ia pagi itu nampak segar, bagaikan setangkai bunga yang masih basah oleh embun bermandikan cahaya matahari pagi. Berseri dan semerbak. Rambutnya yang panjang hitam dan gemuk itu digelung ke atas, dilakukan oleh seorang pelayannya yang paling ahli dalam hal membuat sanggul, dan rambutnya yang disanggul tinggi itu dihias jepitan dan tusuk sanggul perak dengan mainan seekor naga kecil di atas bunga teratai.

Pakaiannya dari sutera tipis sehingga pakaian dalamnya membayang di sebelah dalam, seluruh pakaian itu dari sutera berwarna hitam sehingga nampak betapa kulit leher dan tangannya putih mulus. Matanya yang tajam kadang mencorong itu nampak ramah berseri setiap kali bertemu orang dan menerima salam mereka...

Dendam Sembilan Iblis Tua Jilid 02

KETIKA dua orang anggauta gerombolan itu mengeluarkan ucapan kasar dan menghina kepadanya, kakek itu memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong, dan beberapa kali, secara aneh sekali, lidah kakek itu menjilat bibir sendiri dengan gerakan cepat, mengingatkan orang akan kebiasaan seekor ular yang suka menjilat bibir dengan lidah secara cepat. Lidah itu hanya nampak sekejap saja, menjulur ke luar dan lenyap lagi ke balik bibir. Si bopeng dan si muka hitam kini melangkah lebar menghampiri kakek itu.

“Kami tidak menyukai matamu itu! Hayo cepat berlutut dan minta ampun sebelum kami congkel keluar kedua mata setanmu itu!” bentak pula si bopeng, dan kedua orang itu sudah mengangkat golok mereka mengancam dengan sikap bengis. Kawan-kawan mereka hanya menonton saja karena mereka tidak memperdulikan seorang kakek yang tidak mengesankan itu.

Setelah memandang kepada dua orang itu dengan mata mencorong, kakek itu yang berdiri bersandar pada tongkatnya, berkata lirih. “Heeemmm, Thai-san Ngo-kwi memelihara dua ekor anjing buduk yang tidak ada gunanya ini, sungguh merugikan saja!”

Mendengar ucapan kakek itu, si bopeng dan si muka hitam tentu saja menjadi marah bukan main. Orang ini malah berani memaki mereka sebagai dua ekor anjing buduk! “Tua bangka yang bosan hidup! Kucincang kau!” bentak si muka bopeng sambil mengayun goloknya.

“Buntungi kaki tangannya, penggal lehernya!” teriak si muka hitam yang juga sudah menyerangnya. Dua orang anak buah gerombolan ini memang sudah terbiasa menggunakan kekerasan atau membunuh orang tanpa alasan yang kuat.

Akan tetapi kakek itu agaknya sama sekali tidak perduli akan serangan dua orang kasar itu. Kembali lidahnya mencuat keluar lalu masuk kembali, dan kini mulutnya menyeringai dan mengeluarkan suara mendesis. Uap keabuan menyambar keluar, tersembur dari mulut yang menyeringai itu dan mengenai muka si bopeng dan si muka hitam. Mereka itu terhuyung, golok mereka terlepas, lalu terpelanting roboh, berkelojotan dan tewas dengan muka berubah merah melepuh!

Para penjaga lainnya terkejut dan mereka berteriak-teriak marah. Mendengar teriakan mereka, para anggauta gerombolan yang berada di dalam dan di luar pintu gerbang, datang berlarian dan mereka semua marah melihat betapa dua orang rekan mereka tewas oleh seorang kakek asing. Kini puluhan orang anggauta gerombolan itu mengepung si kakek dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk menghancurkan tubuh kakek itu dengan pengeroyokan mereka.

“Bunuh tua bangka ini!”

“Siapakah engkau yang lancang berani mengacau di sini?” bentak yang lain.

Akan tetapi karena semua orang sudah marah dan siap menyerang, kakek itu tidak menjawab, melainkan mengangkat tongkatnya dan menempelkan gagang tongkat itu ke mulutnya. Ketika dia mengembungkan kedua pipinya, terdengarlah suara menggetar lirih dan tinggi, hampir tidak terdengar dan yang terdengar hanya suara desis mengerikan.

Suara ini memanjang, berhenti sebentar, mulai lagi, dan karena semua orang tidak tahu apa artinya ini, perbuatan dan sikap kakek itu membuat mereka sejenak tertegun dan tidak melanjutkan serangan mereka. Akan tetapi, karena tidak terjadi apa-apa, mereka menganggap kakek itu hanya berlagak saja.

“Bunuh dia!”

“Tidak, tangkap dan hadapkan pimpinan!”

“Siksa dia yang telah membunuh dua orang kawan kita!”

Kini puluhan buah senjata tajam, golok, pedang dan tombak, menyambar-nyambar dengan mengancam di sekeliling kakek itu. Namun dia tetap tenang saja dan tiba-tiba, sekali tubuhnya bergerak, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah lenyap dari dalam kepungan puluhan orang itu! Tentu saja semua orang terkejut dan ketika mereka mencari-cari, ternyata kakek itu telah berdiri jauh di luar kepungan, di luar pintu gerbang dalam jarak lima puluh meter!

Melihat ini, semua orang menyerbu keluar untuk mengejar dan menyerang kakek itu. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak melarikan diri, bahkan menghadapi para penyerbu sambil mengangkat-angkat tongkatnya, dan kadang-kadang meniup gagang tongkat yang berbentuk kepala ular itu.

Setelah tiba dekat pria itu, semua orang terbelalak dan serbuan mereka terhenti tiba-tiba. Mereka memandang ke atas tanah dan melihat betapa di depan dan kanan kiri kakek itu, nampak ratusan ekor ular merayap di atas tanah, berlenggang-lenggok menyerbu ke arah mereka! Kakek itu, ternyata dapat memanggil barisan ular dan menggerakkan barisan ular itu untuk menghadapi para anak buah gerombolan!

Biarpun hati mereka merasa ngeri melihat munculnya banyak sekali ular itu, namun anak buah gerombolan penjahat itu tentu saja tidak takut terhadap ular, apa lagi banyak di antara ular-ular itu kecil saja, sebesar ibu jari kaki dan yang paling besar sebetis orang. Mereka menggerakkan senjata dan menyambut ular-ular itu dengan serangan!

Beberapa ekor ular terbabat senjata tajam dan mati, akan tetapi segera terdengar teriakan-teriakan ketika beberapa orang anak buah gerombolan terkena gigitan ular-ular yang seperti nekat itu. Dan ternyata bahwa ular-ular itu sebagian besar adalah ular beracun! Dalam waktu singkat saja, ada puluhan ular mati, akan tetapi juga ada limabelas orang anak buah gerombolan bergulingan sambil merintih-rintih kesakitan karena kaki mereka digigit ular berbisa! Keadaan menjadi geger dan pada saat itu muncullah lima orang yang sikapnya gagah dan berpengaruh.

“Tahan senjata, semua mundur...!”

Teriakan itu berpengaruh dan semua anak buah gerombolan segera mundur sambil menyeret lima belas orang rekan yang terluka. Lima orang itu adalah Thai-san Ngo-kwi yang segera berlari keluar ketika mendengar bahwa ada seorang kakek dengan barisan ular mengamuk. Mereka kini melangkah maju dan memberi hormat kepada kakek itu. Thai-kwi, orang pertama yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, segera berseru dengan suara girang.

“Kiranya su-pek (uwa guru) yang datang!”

“Selamat datang, supek!” kata empat orang adik seperguruannya.

Kakek itu meniup tongkat ularnya dan semua ular kini lari keluar menuju ke hutan dan rumpun alang-alang tak jauh dari situ. Kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, kalian sudah mengangkat nama! Thai-san Ngo-kwi amat terkenal, akan tetapi sayang, anak buahmu kurang teratur sehingga akan melemahkan kedudukan kalian!”

Lima orang itu memandang ke arah dua orang anak buah mereka yang tewas, dan limabelas orang anak buah yang lain merintih-rintih karena kesakitan. Tahulah mereka bahwa kalau tidak cepat mendapatkan obat penawar, lima belas orang anak buah itu akan tewas pula. Maka, dipimpin oleh Thai-kwi, mereka berlima menjatuhkan diri berlutut menghadap supek itu.

“Harap supek maafkan. Karena selamanya belum pernah bertemu supek, maka mereka tidak mengenalmu. Bahkan kami sendiri hampir tidak percaya supek yang datang, kalau tidak melihat sendiri. Supek, mohon kemurahan hati supek. Berilah obat penawar bagi mereka, dan di dalam nanti tee-cu (murid) berlima akan menghaturkan maaf dan perjamuan selamat datang kepada supek.”

Kakek itu menyeringai dan menggerakkan tongkat ularnya dengan sikap congkak. “Hemm, kalau bukan kalian yang minta, mereka itu tentu akan mampus dalam waktu beberapa jam lagi.”

Dia mengeluarkan sebuah buntalan kain jubahnya, mengeluarkan lima belas butir menyerahkannya kepada Thai-kwi. “Suruh dari dalam saku pel hitam dan mereka masing-masing menelan pel ini, minum air paling sedikit lima mangkok dan racun itu akan keluar dan mereka akan selamat.”

“Terima kasih, supek!” kata Thai-kwi yang segera membagi-bagi obat itu dan menyuruh anak buah yang lain mengambilkan air. Kemudian, dia dan para sutenya dengan sikap hormat mempersilakan supek mereka masuk ke dalam perkampungan itu dan langsung ke bangunan tempat tinggal mereka.

Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara wanita melengking lembut. “Heii, kamipun sudah tiba di sini!”

Semua orang menengok dan nampak dua bayangan berkelebat ke pintu gerbang itu dan Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li telah berdiri di situ dengan gagah dan anggunnya! Kakek tukang ular itu adalah Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Kiu Lo-mo pula, dan yang tertua di antara mereka bertiga. Ketika dia melihat dua orang itu, dia tertawa.

“Ha-ha-ha, kiranya kalian sudah datang pula, tepat pada waktunya! Thai-san Ngo-kwi, cepat beri hormat. Mereka ini terhitung susiok (paman guru) dan su-kouw (bibi guru) kalian!”

Kim Pit Siu-cai mengebutkan lengan bajunya yang panjang ketika dia mengamati lima orang laki-laki gagah di depannya itu. “Jadi inikah murid-murid mendiang suheng Siauw-bin Ciu-kwi? Hem, nampaknya cukup boleh diandalkan, bukan, sumoi?” tanyanya kepada Ang I Sian-li.

Ang I Sian-li yang tadi bertemu di lereng bukit Hitam dengan suhengnya, mengangguk. “Mereka cukup gagah.”

Nama besar Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua) terkenal di dunia kang-ouw sebagai segerombolan datuk yang saling bantu dan orang mengira bahwa mereka adalah saudara-saudara seperguruan karena mereka saling sebut seperti kakak beradik seperguruan. Padahal, mereka itu sama sekali tidak ada hubungan perguruan, hanya karena mereka sudah sepakat untuk saling bantu agar memperkuat dan mempertahankan nama besar mereka, maka merekapun menganggap yang lain seperti saudara sendiri. Maka, tidak aneh kalau kini mereka saling menyebut suheng, sute dan sumoi!

Seperti dikatakan Kim Pit Siu-cai tadi, Thai-san Ngo-kwi adalah murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa), seorang di antara Kiu Lo-mo, maka lima orang pimpinan gerombolan di Thai-san ini masih terhitung murid-murid keponakan, walau hanya dalam sebutan saja. Kiu Lo-mo atau Sembilan Iblis Tua kini hanya tinggal tiga orang itu, Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Seratus), Kim Pit Siu-cai, dan Ang I Sian-li.

Ke mana lagi yang enam orang lainnya? Mereka sudah meninggal dunia, dan mereka itu adalah Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam)? Siauw-bin Ciu-kwi guru dari kelima orang kepala gerombolan itu, Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), Tiat-thouw Kui-bo (Nenek Iblis Kepala Besi), dan dua orang kakek kembar yang dijuluki Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Bukit Selatan).

Kini, sisa dari Kiu Lo-mo yang tinggal tiga orang mengadakan pertemuan atas undangan Pek-bwe Coa-ong dan mereka memilih puncak Bukit Hitam karena di situ menjadi sarang gerombolan yang dipimpin Thai-san Ngo-kwi, murid-murid keponakan mereka sendiri. Tiga orang datuk itu dijamu oleh Thai-san go-kwi dalam sebuah pesta yang meriah. Lima orang pimpinan gerombolan itu sudah lupa sama sekali bahwa dua orang mati konyol dan lima belas orang nyaris tewas pula dari gerombolan mereka. Mereka gembira bukan main mendapatkan kunjungan tiga orang datuk itu, suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka.

Setelah kenyang makan minum, dan melihat betapa tiga orang datuk itu nampak gembira dan puas, Thai-kwi yang menjadi orang tertua dari Thai-san Ngo-kwi, mengangkat cawan arak menghaturkan selamat datang kepada mereka bertiga, kemudian berkata dengan suara lantang dan gembira.

“Teecu berlima merasa gembira sekali dan mendapat kehormatan besar yang tidak kami sangka-sangka dengan kunjungan supek, susiok dan su-kouw ke tempat kami. Teecu merasa yakin bahwa kunjungan sam-wi (anda bertiga) tentu bukan sekedar melancong, pasti membawa hal yang teramat penting. Kalau boleh teecu mengetahui, angin apakah yang meniup sam-wi datang berkunjung ini?”

Pek-bwe Coa-ong yang tadinya nampak gembira tertawa-tawa, kini memandang serius kepada lima orang murid keponakannya. Kemudian, menjawab pertanyaan Thai-kwi, dia berbalik bertanya. “Apakah kalian berlima masih ingat, berapa lama sudah guru kalian, Siauw-bin Ciu-kwi meninggal dunia?”

Lima orang itu memandang heran mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. “Kurang lebih sudah empat tahun, supek,” kata seorang di antara mereka.

“Dan kalian masih ingat bagaimana matinya guru kalian? Siapa pembunuh guru kalian itu?”

Kini Thai-kwi yang menjawab karena para sutenya nampak gentar menghadapi sikap supek yang berubah galak itu. “Tentu saja teecu masih ingat supek. Pembunuhnya adalah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.”

Tiba-tiba supek itu menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok berloncatan ke atas. “Bagus! Murid-murid macam apa kalian ini? Tahu guru kalian dibunuh dua orang itu, dan kalian enak-enak saja di sini membuat nama besar, menumpuk harta, sama sekali tidak berusaha untuk membalas kematian guru!”

Lima orang kepala gerombolan itu saling pandang dan nampak pucat, akan tetapi Thai-kwi segera menjawab. “Supek tentu mengetahui jelas mengapa teecu berlima tidak berusaha membalas dendam. Tentu saja kami juga menaruh dendam sakit hati terhadap Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) dan Hek-liong-li (wanita Naga Hitam). Akan tetapi, kami tidak berdaya. Sedangkan mendiang suhu saja kalah oleh mereka, bagaimana mungkin kami dapat membalas dendam? Sebelum kami berhasil membalas dendam, tentu mereka berdua sudah membunuh kami! Kepandaian dua orang pendekar itu setinggi langit, teecu berlima sama sekali bukan lawan mereka. Bahkan baru satu-dua tahun yang lalu, paman guru Lam-hai Mo-ong dan bibi guru Tiat-thouw Kui-bo di istana kerajaan juga menjadi korban kelihaian Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kalau mereka berdua saja tewas di tangan dua orang pendekar itu, apa yang dapat kami lakukan?”

Pek-bwe Coa-ong mengepal tinju. “Itulah yang membuat hatiku sakit bukan main! Pek-liong-eng dan Hek-liong-li itu agaknya hendak memusuhi kita Kiu Lo-mo! Pertama kali, mereka membunuh suheng Hek-sim Lo-mo, kemudian membunuh Siauw-bin Ciu-kwi dan paling akhir, membunuh Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo. Empat orang di antara Lo-mo telah mereka bunuh! Kalau kita tidak cepat turun tangan membalas dendam, tunggu kapan lagi!”

Ang I Sian-li mengangguk-angguk. “Suheng benar. Dua orang muda sombong itu telah membunuh empat orang saudara kita. Sayang bahwa dua saudara kembar kita Lam-san Siang-kwi juga tewas di dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah di daerah selatan. Di antara Kiu Lo-mo, tinggal kita bertiga. Sekaranglah saatnya kita membalas dendam!”

“Aku setuju!” kata Kim Pit Siu-cai dengan suaranya yang lembut. ”Kalau kita bertiga menyatukan tenaga, ditambah dengan bantuan Thai-san Ngo-kwi dan anak buah mereka, tentu kita akan berhasil membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!”

Mendengar ucapan tiga orang datuk itu dan melihat sikap mereka, timbul keberanian dan kegembiraan dalam hati Thai-san Ngo-kwi. Mereka bersemangat lagi untuk membalas kematian para datuk itu. “Teecu sekalian siap untuk membantu sam-wi menghancurkan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!” kata mereka serempak.

“Bagus! Kalau begitu, tidak percuma kalian menerima ilmu dari mendiang guru kalian,” kata Pek-bwe Coa-ong. “Aku memang sengaja mengundang susiok dan su-kouw kalian, agar hari ini kami mengadakan pertemuan di sini. Kami membutuhkan bantuan banyak orang, dan hanya anak buah kalian yang dapat kami percaya. Akan tetapi, mulai sekarang, mereka harus diperintah dengan tangan besi agar tidak sembarangan dan tidak boleh bertindak sendiri-sendiri seperti ketika aku datang tadi. Mulai sekarang, kalian berlima dan anak buah kalian harus mentaati semua siasat yang akan kami rencanakan. Menghadapi dua orang macam Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak bisa dilawan dengan kekuatan dan kekasaran semata. Harus menggunakan siasat yang matang.”

“Supek, kami juga pernah menyelidiki keadaan mereka untuk mencari tahu dan untuk melihat kemungkinan kami membalas dendam. Akan tetapi apa yang kami dapatkan tentang mereka membuat kami jerih dan tidak berani turun tangan karena hal itu sama saja dengan membunuh diri,” kata pula Thai-kwi.

“Ceritakan, apa yang kauketahui dari penyelidikanmu itu?” tanya Kim Pit Siu-cai.

“Pek-liong-eng bernama Tan Cin Hay, kini berusia tiga puluhan tahun dan dia tinggal di dusun Pat-kwa-bun di dekat Telaga See- ouw di Hang-kouw. Dia tinggal menyendiri di dalam rumahnya yang besar dan kokoh kuat, bersama enam orang pelayan pria yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sekali. Selain Pek-liong-eng sendiri sakti dan enam orang pelayannya lihai, juga rumahnya yang kokoh kuat itu lebih sukar diserbu dari pada sebuah benteng! Rumah itu penuh dengan jebakan-jebakan rahasia yang amat berbahaya.”

“Hemm, dan bagaimana dengan Hek-liong-li ?” tanya Ang I Sian-li.

“Kami juga sudah melakukan penyelidikan terhadap wanita itu. Hek-liong-li bernama Lie Kim Cu. Ia amat cantik dan tinggal menyendiri pula di kota Lok-yang, di sebelah ujung barat. Seperti juga rumah Pek-liong-eng, rumah wanita itu kokoh kuat dan sukar ditembus, penuh alat-alat rahasia, jebakan maut, dan selain wanita sakti itu yang sukar dikalahkan, ia masih dibantu sembilan orang gadis pelayan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lihai.”

Pek-bwe Coa-ong mengangguk-angguk. “Bagus laporanmu itu menunjukkan bahwa kalian memang selama ini tidak tinggal diam dan sudah menyelidiki keadaan dua orang musuh besar itu. Kita harus mengatur siasat dan tidak putus asa dengan kenyataan tentang kekuatan mereka itu. Kita harus dapat menghancurkan mereka, dan kita dapat menggunakan siasat melalui sahabat-sahabat mereka. Sian-li, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo? Siapa saja sahabat-sahabat baik Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang patut masuk catatan kita?”

“Sudah kuselidiki, suheng. Aku tidak melibatkan para pangeran, apa lagi keluarga kaisar. Akan tetapi, jelas bahwa dua orang musuh besar kita itu bekerja sama dengan dua orang yang kemudian menjadi sahabat baik mereka. Bahkan kini, dua orang itu telah menjadi suami isteri! Mereka adalah Cian Hui atau Cian Ciang-kun yang bekerja sebagai penyelidik, sedangkan orang kedua yang kini menjadi isterinya bernama Cu Sui In, keponakan Ciok Taijin.”

“Hemm, yang pria seorang panglima dan yang wanita keponakan seorang pembesar kota raja?” Pek-bwe Coa-ong mengerutkan alisnya.

“Benar, akan tetapi mereka bukan kerabat istana, dan orang yang bernama Cian Hui itu sudah banyak mencelakakan kawan-kawan di dunia kang-ouw. Sudah kuselidiki ilmu kepandaian silat suami isteri itu. Suami itu ilmu silatnya tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi dia cerdik bukan main. Dan sang isteri lebih lihai dari suaminya karena ia murid Kun-lun-pai. Akan tetapi juga tidak perlu dikhawatirkan karena tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada tingkat seorang di antara Thai-san Ngo-kwi ini.” Wanita cantik baju merah itu mengakhiri keterangannya.

“Kalau begitu, tidak perlu dikhawatirkan benar. Hanya mereka harus dipancing keluar, tidak perlu kita membikin kacau di istana. Di sana banyak sekali jagoan yang pandai. Bahkan di kota raja pun kita tidak boleh membikin ribut agar usaha kita membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak terganggu. Dan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Siauw-bin Ciu-kwi, Siu-cai?”

Kim Pit Siu-cai tersenyum. “Tidak sukar menyelidiki tentang peristiwa yang terjadi empat tahun yang lalu itu. Suheng Siauw-bin Ciu-kwi memang tewas di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, dan yang membantu dua orang muda sombong itu adalah kakak beradik she Kam. Merekalah yang menggagalkan suheng mendapatkan harta karun, bahkan menemui kematiannya. Kam Sun Ting dan Kam Cian Li itu kakak beradik ahli renang dan ahli selam. Mereka bahkan kabarnya juga kekasih Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kini mereka hidup dengan makmur dan kaya raya sebagai pedagang kain di Nam-cang.”

“Bagus! Tentu kita dapat mempergunakan mereka. Bagaimana kepandaian silat mereka?”

“Ah, biasa-biasa saja. Mereka bukan ahli silat, melainkan ahli menyelam.”

“Nah, sekarang kuceritakan hasil penyelidikanku tentang kematian suheng Hek-sim-Lo-mo enam tahun yang lalu. Dan biarpun kematian suheng juga di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, namun dalam pertentangan itu, yang membantu Pek-liong-eng dan Hek-liong-li adalah dua orang muda yang sekarang telah menjadi suami isteri. Yang pria bernama Song Tek Hin, dan yang wanita bernama Su Hong Ing, murid Bu-tong-pai. Akan tetapi ilmu silat suami isteri ini tidak ada artinya, dan sudah kuselidiki keadaan mereka. Merekapun merupakan orang-orang penting yang dapat kita pergunakan untuk menjebak dua orang musuh besar kita.”

Tiga orang datuk itu bersama Thai-san Ngo-kwi lalu mengadakan perundingan, mengatur rencana siasat untuk membalas dendam mereka terhadap Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode dendam sembilan iblis tua jilid 02 karya kho ping hoo

Semua orang di kota Lok-yang, bahkan sampai jauh di seluruh daerah Lok-yang, mengenal belaka siapa yang tinggal di rumah gedung besar di sudut barat kota Lok-yang itu. Semua orang tahu siapa adanya gadis cantik jelita gagah perkasa yang mereka sebut Liong-lihiap (Pendekar Wanita Naga) atau Liong-li (Wanita Naga) itu.

Ia adalah Lie Kim Cu yang julukannya sebetulnya adalah Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam). Akan tetapi, orang-orang yang melihat wajah yang cantik jelita dan manis itu, kulit yang putih mulus, merasa sungkan menyebutnya Hek-liong-li. Kata “Hitam” itu agaknya tidak pantas untuk seorang gadis yang kulitnya putih mulus kemerahan seperti itu, walaupun ia selalu mengenakan pakaian sutera hitam. Pakaian yang membuat kulitnya makin nampak putih mulus.

Biarpun Hek-liong-li Lie Kim Cu atau lebih terkenal dengan Liong-li saja usianya sudah dua puluh delapan tahun, namun ia belum menikah. Iapun bukan seorang gadis yang perawan, karena sejak muda sekali ia sudah terjatuh ke tangan seorang pangeran di Lok-yang, diperkosa dan kemudian dijual kepada seorang mucikari sehingga ia dipaksa menjadi seorang pelacur!

Ia berhasil membebaskan diri dari cengkeraman mucikari yang menjadikannya sumber uang itu, dan setelah mempelajari ilmu silat tinggi dari Huang-ho Kui-bo, seorang datuk sesat yang sakti, ia membalas dendam kepada pengeran itu dan kepada sang mucikari. Akan tetapi ia telah kehilangan seluruh keluarganya.

Mendiang ayahnya adalah seorang bangsawan, akan tetapi karena keluarganya sudah habis, Liong-li hidup seorang diri, menjadi pendekar wanita dan petualang yang sebentar saja membuat nama besar bersama Pek-liong-eng yang kemudian menjadi sahabat dan rekannya yang setia walaupun mereka tinggal berpisah agak jauh.

Sebagai seorang pendekar wanita, Liong-li terkenal, ditakuti para penjahat dan disegani para pendekar. Ia bukan seorang petualang asmara, bukan pengejar cinta gairah berahi, akan tetapi, apabila bertemu seorang pria yang berkenan di hati dan saling menyukai, iapun tidak pantang untuk mengadakan hubungan cinta dengan pria itu asalkan dasarnya suka sama suka dan tidak ada ikatan apapun antara mereka. Hanya merupakan petualangan sepintas saja.

Karena ini, banyak pria yang jatuh cinta kepadanya dan menderita patah hati karena terpaksa mereka berpisah lagi sesuai dengan janji yang sebelumnya dituntut oleh Liong-li, yaitu tidak ada ikatan apapun antara mereka! Tak dapat diragukan lagi, orang yang paling dicintanya, paling disayangnya di dunia ini adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay, rekannya yang sudah sering berjuang bahu-membahu, saling bantu, saling bela dengan taruhan nyawa dalam berbagai petualangan. Seperti juga Pek-liong-eng, Liong-li juga rela mengorbankan nyawanya kalau perlu demi menolong rekannya itu!

Hubungan cinta kasih antara mereka melebihi cinta kasih antar saudara bahkan antar kekasih! Anehnya, kalau Liong-li tidak pantang menyerahkan diri dalam buaian cinta bersama seorang pria yang berkenan di hatinya, dengan Pek-liong hubungannya hanyalah hubungan batin! Belum pernah mereka itu bermesraan, apa lagi berhubungan badan!

Memang aneh, dan keduanya juga merasa aneh, namun nyatanya demikian dan mereka berdua seolah takut kalau sampai berhubungan badan, maka hubungan itu bahkan akan melenyapkan atau mengurangi hubungan batin mereka yang saling menyayang dan saling membela!

Lebih aneh akan tetapi nyata pula, tiap kali ia melihat Pek-l.iong berhubungan cinta dengan wanita lain, ia sama sekali tidak merasa cemburu atau iri karena ia yakin sedalam-dalamnya bahwa Pek-liong-eng hanya menaruh cinta nafsu saja kepada wanita lain, sedangkan cinta sejati pendekar itu hanya untuk ia seorang! Ia rasakan dan yakin benar!

Liong-li memang seorang wanita yang cantik jelita. Usianya membuat ia menjadi seorang wanita yang masak. Wajahnya bulatbtelur dengan dagu meruncing sehingga nampak manis sekali. Mulutnya kecil, dengan bibir yang merah membasah selalu, tanda bahwa ia sehat dan belahan bibir lembut itu selalu cerah mengandung senyum, dihias lesung pipi di kanan kiri dan sebuah tahi lalat di bawah mata kiri.

Ilmu kepandaiannya tinggi, bahkan semakin meningkat selama ini, karena setiap hari ia berlatih diri dengan para pelayannya yang menjadi lawan berlatihnya. Juga ia tekun sekali mempelajari setiap jurus yang telah dikuasainya, untuk dicari perkembangannya dan selalu memperbaikinya dengan menutup bagian-bagian yang lemah.

Seperti Pek-liong-eng yang mempunyai sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Putih), maka Liong-li juga memiliki sebatang pedang pusaka yang disebut Hek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Hitam). Dan bersama Pek-liong-eng, Long-li menciptakan ilmu pedang yang mereka namakan Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) yang dapat mereka mainkan secara berpisah maupun digabung menjadi satu.

Selain ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama itu, Liong-li juga menguasai ilmu pedang istimewa Hek-liong-kiam-sut. Ilmu silatnya tangan kosong juga banyak macamnya, akan tetapi yang membuat ia disegani adalah ilmu silatnya tangan kosong yang disebut Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya lemah gemulai dan cantik indah, namun menyembunyikan bahaya maut bagi lawan! Juga ia menguasai Lie-eng-pouw (Langkah Enam Bintang), yang disebut langkah ajaib karena dengan langkah-langkah yang aneh itu ia mudah mengelabui lawan dan dapat menyelamatkan diri dari hujan senjata pengeroyok.

Dalam petualangannya bersama Pek-liong-eng, Liong-li telah mendapatkan harta karun yang membuat ia menjadi kaya raya. Rumah gedung amat indah dan penuh dengan alat rahasia untuk melindungi diri. Rumahnya bertembok putih bersih karena sering dikapur, dengan jendela dan pintu dicat hijau muda, nampak segar dan bersih menyenangkan, apa lagi dihias dengan tanaman bunga-bunga yang membuat rumah itu dikepung daun-daun hijau dan bunga-bunga beraneka warna.

Di depan rumahnya terdapat pekarangan yang luas, dan di tengah pekarangan itu nampak sebuah kolam ikan yang luas, yang ditumbuhi teratai merah dan putih, dan di tengah kolam dipasangi arca yang indah sekali buatannya. Arca seorang wanita cantik berpakaian tipis tembus pandang menunggang seekor angsa!

Keindahan bentuk tubuh wanita dan angsa itu sungguh serasi. Di sebelah kiri dan belakang gedung itu terdapat taman bunga yang mengumpulkan segala macam bunga yang berasal dari luar Lok-yang dan yang terpelihara baik. Perumahan itu dikelilingi pagar tembok yang dua meter tingginya, dan di atas pagar tembok dipasangi tombak-tombak merah. Indah dan juga megah angker!

Liong-li tinggal di gedung mungil itu ditemani sembilan orang pelayannya, semuanya wanita berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun. Para pelayan ini mengenakan pakaian yang beraneka warna, dan mereka nampak cantik dan gesit, karena mereka telah menerima latihan ilmu silat yang lumayan dari majikan mereka.

Mereka itu mempunyai nama dan dikenal baik oleh Liong-li akan tetapi Liong-li lebih sering menyebut mereka dengan warna pakaian mereka saja, seperti Ang-hwa (Bunga Merah), Pek-hwa (Bunga Putih), atau Lan-hwa (Bunga Biru). Dan sembilan orang wanita pelayan ini juga berwatak gagah, dan amat setia kepada Liong-li yang mereka sayang dan mereka hormati sebagai majikan yang royal dalam memberi hadiah, dan guru yang amat baik.

Liong-li berjiwa petualang, maka tentu saja ia tidak betah kalau harus tinggal saja di rumah, walaupun rumahnya indah, taman bunganya indah dan para pelayannya selain pandai silat, pandai pula bermain musik, bernyanyi dan menari. Liong-li sendiri merupakan seorang ahli dalam kesenian, dan seringkali ia dibantu sembiIan orang pelayannya bersenang-senang dan bermain musik di tamannya yang indah di waktu bulan purnama. Kalau sedang begitu, mereka merupakan sepuluh orang bidadari yang cantik dan ahli seni, sedikit pun tidak membayangkan bahwa mereka adalah sepuluh orang wanita yang amat berbahaya bagi siapa saja yang berniat jahat terhadap mereka.

Mungkin karena belum berumah tangga, tidak mempunyai suami dan anak, maka Liong-li kadang-kadang keluar rumah dan makan di rumah makan. Padahal ia sendiri ahli masak, dan para pelayannya juga pandai masak. Ia menghendaki kesegaran di luar, melihat kehidupan di luar. Bahkan ada kalanya ia tidur di sebuah rumah penginapan, meninggalkan kamarnya sendiri yang jauh lebih indah!

Pada suatu pagi yang indah, Liong-li sudah keluar dari rumahnya. Kepada para pelayannya ia mengatakan bahwa ia hendak pergi berjalan-jalan ke kota. Begitu keluar dari rumah, di sepanjang jalan raya hampir setiap orang tersenyum atau mengangguk kepadanya, ada pula yang mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Liong-li memang merupakan seorang wanita yang populer, disuka dan dikagumi semua orang baik-baik, disegani dan ditakuti para penjahat. Bahkan seorang perwira keamanan yang sedang lewat menunggang kuda, begitu melihat Liong-li berjalan seorang diri di tepi jalan, cepat memberi hormat seperti bertemu dengan seorang atasannya!

Liong-li membalas setiap salam orang dengan senyum dan anggukan kepala. Ia pagi itu nampak segar, bagaikan setangkai bunga yang masih basah oleh embun bermandikan cahaya matahari pagi. Berseri dan semerbak. Rambutnya yang panjang hitam dan gemuk itu digelung ke atas, dilakukan oleh seorang pelayannya yang paling ahli dalam hal membuat sanggul, dan rambutnya yang disanggul tinggi itu dihias jepitan dan tusuk sanggul perak dengan mainan seekor naga kecil di atas bunga teratai.

Pakaiannya dari sutera tipis sehingga pakaian dalamnya membayang di sebelah dalam, seluruh pakaian itu dari sutera berwarna hitam sehingga nampak betapa kulit leher dan tangannya putih mulus. Matanya yang tajam kadang mencorong itu nampak ramah berseri setiap kali bertemu orang dan menerima salam mereka...