Social Items

KINI mengertilah ia. Tentu karena merasa curiga, permaisuri yang luar biasa cerdiknya itu telah diam-diam menyelundupkan Akong ke bagian dapur, bekerja sebagai pelayan dapur sehingga mendapat kesempatan bercakap-cakap dengannya! Padahal, ia merasa cerdik sudah berhasil mengorek rahasia dan memancing keterangan dari Akong. Tidak tahunya, ialah yang terkorek rahasianya. Karena sikapnya yang ingin tahu dan bertanya-tanya tentang Kwi-eng-cu itu tentu saja dicatat oleh Akong dan pada malam harinya diteruskan kepada Hong-houw.

Dan permaisuri yang seperti dikatakan Cian Hui cerdik seperti iblis itu sudah memperhitungkan bahwa malam itu ia tentu akan melakukan penyelidikan ke istana induk, maka sengaja menyuruh delapan orang perajurit itu untuk menghadangnya dan mengepungnya. Dan biarpun delapan orang itu tidak berhasil menangkapnya, namun kini ia yakin bahwa ketika ia kembali ke dalam kamarnya, seperti ia keluar dari kamarnya, tentu sudah ada beberapa pasang mata yang mengintainya. Agaknya permaisuri itu hanya ingin merasa yakin bahwa “Akim” benar seorang mata-mata yang diselundupkan ke dalam istana. Melihat Akong, Liong-li segera memberi hormat kembali. “Sungguh benar sekali apa yang diterangkan oleh Cian Ciang-kun kepada hamba tentang paduka yang mulia...”

“Heh? Apa kata Cian Hui? Tentu dia memperingatkan bahwa engkau harus berhati- hati menghadapi aku, bukan? Heh-heh-hi-hik!”

Kembali Liong-li tertegun, bukan pura-pura melainkan sungguh ia merasa heran dan kagum. Wanita ini seolah-olah tahu segalanya!

“Aku mengenal siapa Cian Hui! Dia seorang yang cerdik, kalau tidak begitu, tentu dia tidak diangkat menjadi penyelidik. Kalau dia yang menyelundupkan kamu ke istana, tentu dia memperingatkanmu untuk berhati-hati terhadap kami. Dia sudah tahu siapa aku!” Suara ini mengandung kebanggaan hati yang besar terhadap diri sendiri.

“Sesungguhnya demikian, Yang Mulia. Karena paduka sudah tahu segalanya, hamba kira hamba tidak perlu menerangkannya lagi.”

“Hemm, Cian Hui memilih engkau, itu berarti bahwa engkau tentu memiliki kelihaian dan kecerdikan. Akan tetapi di sini, engkau kurang berhati-hati. Bayangkan saja seandainya aku ini Kwi-eng-cu! Apa kau kira masih hidup saat ini?”

“Hamba beruntung sekali bahwa Kwi-eng-cu bukan paduka. Akan tetapi hamba yang terkagum-kagum akan kecerdikan dan kebijaksanaan paduka, hamba ingin sekali tahu apakah paduka sudah pula mengetahui siapa hamba sebenarnya?”

Kembali para dayang mengerutkan alisnya. Perempuan itu sungguh kurang ajar, seolah menantang sang permaisuri, atau seperti mempermainkan saja. Bicaranya seolah permaisuri itu sahabatnya, bukan junjungannya! Akan tetapi aneh, permaisuri tidak marah melainkan tersenyum manis! Dan memang hati permaisuri itu senang sekali, merasa ditantang kecerdikannya.

“Kami memang belum mengetahui siapa kamu, akan tetapi kami dapat menduganya,” kata permaisuri itu dengan suara yang tenang sekali.

Liong-li tertarik dan semakin kagum, ia mengangkat muka memandang dan sejenak dua pasang mata yang sama indahnya, sama jeli dan sama tajamnya bertemu dan bertaut. Selamanya belum pernah Liong-li beradu pandang dengan seorang wanita yang memiliki pandang mata seperti itu dan diam-diam ia bergidik. Juga agaknya Permaisuri Bu Cek Thian mempunyai pendapat yang sama. Ia mengerutkan alisnya dan seperti mewakili suara hati Liong-li ia berkata,

“Aihhh, matamu seperti mata kucing atau harimau betina! Mengerikan sekali!”

Tepat sekali, pikir Liong-li. Memang matamu seperti mata harimau betina kelaparan! “Bolehkah hamba mengetahui, paduka menduga hamba ini siapakah?” ia masih ingin mengetahui sampai di mana kecerdikan permaisuri itu.

“Hek-liong-li Lie Kim Cu, dibandingkan dengan kami, engkau seperti anak masih ingusan!”

Kini Liong-li menatap wajah permaisuri itu dengan mata terbelalak. Ia benar takluk dan kagum bukan main, permaisuri itu tentu tidak berbohong ketika mengatakan bahwa belum mengetahui dirinya dan hanya menduga saja. Akan tetapi betapa tepatnya dugaan itu! Matanya penuh pertanyaan, mewakili suara hatinya yang ingin sekali tahu bagaimana permaisuri itu mampu menduganya demikian tepat! Dan agaknya pertanyaan pada sinar matanya itupun terbaca oleh Permaisuri Bu Cek Thian. Wanita ini kembali tertawa dan menutupi mulut yang terbuka dengan sapu tangan sutera.

“Mudah saja menduga bahwa engkau Hek-liong-li Lie Kim Cu. Biarpun kami belum pernah bertemu denganmu, akan tetapi berita tentang dirimu sudah pernah kami dengar. Kami mendengar bahwa di Lok-yang terdapat seorang wanita muda cantik jelita yang kabarnya memiliki ilmu silat yang tinggi dan kecerdikan yang mengagumkan, namanya Lie Kim Cu dan berjuluk Hek-liong-li. Bukan seorang penjahat, bahkan kadang-kadang menentang kejahatan, kaya raya dan ditakuti dunia kang-ouw. Ketika Kaisar, atas dorongan kami, memerintahkan Cian Hui untuk menyelidiki tentang pembunuhan-pembunuhan di kota raja dan tentang Kwi-eng-cu, kami mendengar dari penyelidik kami bahwa Cian Hui pergi seorang diri menuju Lok-yang. Tadinya kami kira bahwa mungkin dia pergi ke sana ada hubungannya dengan penyelidikannya, atau untuk mengikuti jejak. Nah, peristiwa itu saja sudah menunjuk kepadamu. Kemudian Kok Tay Gu memasukkan seorang dayang yang mukanya buruk seperti penyamaranmu tadi. Kami mulai curiga dan ternyata kecurigaan kami benar ketika kami melihat kulit punggungmu ada yang putih mulus dekat luka. Dan ketika malam tadi engkau keluar dari kamar sebagai seorang wanita bertopeng hitam dan berpakaian serba hitam, kemudian melihat betapa engkau sedemikian lihainya sehingga mampu menghindarkan diri dari kepungan delapan orang perajurit pengawal pilihan. Lalu sekarang melihat bahwa engkau seorang wanita muda yang cantik jelita dan juga cerdik, bahkan mampu menguji kecerdikanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang amat cerdik, lalu siapa lagi engkau, kalau bukan Hek-liong-li Lie Kim Cu? Dan kami yakin bahwa pedang yang semalam katanya terselip di pinggangmu tentulah pedang pusakamu Hek-liong-kiam yang terkenal itu. Entah di mana sekarang pusaka itu kau sembunyikan!”

Saking kagumnya, Long-li memberi hormat dan menempelkan dahinya di lantai. “Ban-swe, ban-ban-swe...! Sungguh hebat, sungguh luar biasa sekali! Paduka adalah seorang yang amat cerdik, bijaksana dan hamba mengaku kalah!”

“Hek-liong-li, bangkitlah. Aku sudah muak dengan penghormatan berlebihan seperti itu. Nah bangkit dan duduklah, aku ingin bicara denganmu!” Lalu ia memberi isyarat kepada para dayang pengawal agar mereka meninggalkan ruang itu!

Semua pengawal, kecuali dua orang wanita muda yang wajahnya sama, masih berdiri di belakang kursi permaisuri itu. Mereka adalah sepasang saudara kembar yang merupakan pengawal pribadi yang tidak pernah meninggalkan Permaisuri Bu Cek Thian sejenak pun! Juga Akong sudah keluar tanpa menoleh kepada Liong-li.

Pintu ruangan itu ditutup dan di dalam ruangan yang luas dan amat indah itu, Permaisuri Bu Cek Thian duduk di atas kursi emasnya yang agak tinggi. Kedua kakinya menginjak punggung sebuah batu berukir yang berbentuk kura-kura, lambang panjang usia, seolah-olah Permaisuri itu selalu menunggangi lambang yang membuat usianya menjadi panjang.

Dua orang saudara kembar yang menjadi pengawal pribadi itu, keduanya mahir ilmu silat dan tangan kanan mereka tak pernah meninggalkan gagang pedang yang tergantung di pinggang, berdiri di belakang kursi emas itu.

Liong-li diperintahkan duduk di atas sebuah bangku yang agak rendah. Hanya mereka berempat yang berada di situ dan Liong-li yakin bahwa tidak ada seorangpun lainnya yang berani mengintai atau ikut mendengarkan karena hal itu dapat mengakibatkan hukuman mati! Dan iapun kini merasa lega karena jelas bahwa permaisuri yang amat cerdik ini, yang dapat menjadi lawan yang amat berbahaya, kini nampaknya sudah percaya benar kepadanya.

“Lebih dulu katakan, di mana engkau menyembunyikan pedang pusakamu itu? Satu-satunya tempat persembunyian adalah di bawah atap kamarmu!”

Liong-li tersipu. Akan sia-sia sajalah membohongi wanita seperti ini! “Memang benar di sana, Yang Mulia.”

“Hemm, kalau begitu, engkau pergilah dulu, ambil pedangmu itu lalu kembalilah kesini. Cepat! Berbahaya kalau sampai didahului orang lain!”

Mendengar ini, Liong-li terkejut, cepat memberi hormat dan keluar dari ruangan itu. Ternyata di dekat ambang pintu, tentu ada alat rahasianya, karena sebelum ia tiba di pintu, daun pintu itu telah terbuka dari luar. Agaknya para penjaga di luar tahu bahwa ada orang hendak keluar! Ia keluar dan cepat pergi ke kamarnya setelah ia memasang kembali kedok tipisnya dan rambut palsunya sebagai Akim!

Setibanya di dalam kamar, ia menutupkan daun pintu dan meloncat ke atas, mendorong langit-langit di sudut. Cepat ia mengambil pedang dan pakaian hitam, lalu melompat turun kembali. Pada saat itu, ia mendengar langkah kaki dekat jendelanya. Cepat ia menyembunyikan pedang dan pakaian dibawah kasur, lalu ia sendiri merebahkan diri di atas pembaringan. Daun jendela terbuka dan sesosok bayangan melompat masuk.

“Heii, siapa itu? Maliiingg...!” Ia berteriak.

Tentu saja ia harus bersandiwara karena bukankah semua orang di situ mengira ia seorang gadis dusun? Sudah sewajarnya kalau ia berteriak ada orang laki-laki memasuki kamarnya lewat jendela.

Orang itu jangkung kurus, mukanya tertutup lengan baju, terkejut dan meloncat keluar lagi. Liong-li tidak mengejar dan kembali ia mengagumi sang permaisuri. Kalau tidak permaisuri itu cepat memerintahkan ia mengambil pedang pusakanya, besar sekali kemungkinan Hek-liong-kiam sudah diambil orang.

Ketika ia menghadapi kembali permaisuri yang cantik berwibawa itu, Liong-li terus terang menceritakan apa yang baru saja ia alami di kamarnya ketika ia mengambil pedang. Agaknya, terhadap wanita yang satu ini, ia tidak boleh menyimpan rahasia karena segala peristiwa agaknya dapat diketahuinya atau diduganya. Mendengar cerita Liong-li, permaisuri Bu Cek Thian mengangguk-angguk.

“Bagaimana wajah bayangan itu?” tanyanya singkat.

“Tidak nampak jelas, Yang mulia. Hanya nampak bayangan yang bentuk badannya jangkung kurus, akan tetapi dia memiliki gerakan yang gesit dan cepat sekali sehingga ketika hamba mengejar keluar, dia telah lenyap.”

Permaisuri itu mengerutkan alisnya. “Hemm, kehadiranmu sebagai penyelidik agaknya sudah dicurigai orang. Biarlah untuk sementara engkau menjadi dayangku yang baru di sini. Bagaimana, maukah engkau, Hek-liong-li?”

Liong-li menyambut tawaran ini dengan gembira sekali. “Tentu saja hamba suka dan banyak terima kasih atas bantuan paduka. Yang penting bagi hamba adalah dapat melakukan penyelidikan sampai hamba berhasil menangkap, atau setidaknya membongkar rahasia Kwi-eng-cu itu, seperti yang diminta oleh Cian Ciang-kun.”

“Bagus, aku senang sekali engkau mau menjadi dayangku, Hek-liong-li. Dan mulai sekarang nama panggilanmu di sini Siauw Cu (Mestika Kecil). Aku akan merasa lebih aman kalau engkau menjadi dayangku dan engkau boleh menemaniku setiap saat membantu tugas Bi Cu dan Bi Hwa ini,” katanya menunjuk kepada dua orang gadis kembar yang kelihatan gagah perkasa dan yang berdiri di belakang kursinya.

“Hamba merasa terhormat sekali, Yang Mulia, dan mudah-mudahan, berkat petunjuk paduka, hamba akan berhasil membongkar rahasia si Bayangan Iblis.”

Permaisuri itu mengerutkan alisnya dan senyumnya manis, akan tetapi juga mengandung ejekan. “Hemm, sekali ini kepandaianmu akan diuji berat sekali, Hek-liong-li... eh, Siauw Cu. Yang kau hadapi adalah seorang yang amat lihai, amat berbahaya sekali.”

“Ah, ampunkan hamba, Yang Mulia. Jadi kalau begitu paduka sudah mengetahui siapa adanya si Bayangan Iblis? Lebih mudah bagi hamba untuk menghadapinya dan melaporkan kepada Cian Ciang-kun!”

Permaisuri itu menatap tajam wajah Liong-li, lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Siauw Cu, kalau aku sudah mengetahui dengan jelas siapa dia, apa kau kira dia akan mampu bernapas lagi saat ini? Kami baru menduga-duga saja tanpa bukti. Yang jelas, dia tidak pernah berani mencoba untuk mengganggu kami. Bagaimanapun juga, dia tetap merupakan ancaman dan duri dalam daging yang harus dihancurkan. Aku sendiri akan memberi hadiah besar kepadamu kalau engkau mampu menangkapnya, Siauw Cu.”

Diam-diam Liong-li merasa girang dan lega. Akan lebih berbahaya dan lebih sukar rasanya kalau si Bayangan Iblis menjadi kaki tangan wanita di depannya ini. Berhadapan dengan permaisuri ini, ia merasa dirinya kecil dan lemah, seperti menghadapi seekor naga betina yang amat berbahaya, penuh rahasia dan sukar ditebak dari arah mana akan menyerang. Kalau si Bayangan Iblis bukan anak buah permaisuri, berarti ia akan menjadi sekutu permaisuri ini dan ia merasa yakin, dengan bantuan permaisuri yang amat cerdik ini, ia pasti akan berhasil.

“Hamba tidak mengharapkan imbalan jasa dan hadiah, Yang Mulia, melainkan hamba menganggapnya sebagai suatu kewajiban untuk menghalau pengacau yang membahayakan ketenteraman kota raja. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap si Bayangan Iblis!”

“Bagus! Akan tetapi agar hatiku lebih yakin akan kemampuanmu karena pihak lawan benar-benar tangguh, kami harus menguji kemampuanmu dulu, Siauw Cu. Bersiaplah engkau untuk menghadapi dua orang pengawalku ini. Beranikah engkau?”

Tidak ada tantangan yang pernah ditolak oleh Liong-li, dari siapapun juga datangnya. Dan Bu Cek Thian memang cerdik bukan main. Kalau ia mengatakan, “Maukah engkau?”, mungkin Liong-li akan mencari alasan dan menolak. Akan tetapi dengan pertanyaan “beranikah engkau?” tidak ada pilihan lain bagi Liong-li kecuali menerimanya!

“Hamba bersedia!” katanya sambil menatap tajam kedua orang wanita yang selalu berdiri di belakang permaisuri itu.

Mereka adalah dua orang wanita yang serupa benar, baik bentuk mukanya, bentuk sanggul dan pakaiannya. Sukar sekali membedakan antara dua orang gadis kembar ini. Usia mereka sekitar duapuluh lima tahun, dengan bentuk tubuh yang tinggi langsing dan wajah yang manis, dingin dan angkuh. Di punggung mereka terdapat pedang dengan ronce berwarna biru. Pakaian mereka ringkas berwarna kuning sehingga rambut mereka nampak semakin hitam.

“Bi Cu! Bi Hwa! Kalian boleh uji kepandaian Siauw Cu dengan tangan kosong dan semua tidak boleh menggunakan senjata. Kami ingin melihat sampai di mana kemampuan Siauw Cu! Mulailah!”

Gerakan dua orang wanita kembar itu ringan sekali ketika mereka tiba-tiba saja meloncat ke depan Liong-li setelah dengan suara halus menyanggupi perintah sang permaisuri. Liong-li melangkah mundur, agak menjauhi permaisuri itu karena tidak baik untuk bertanding silat terlalu dekat wanita bangsawan tinggi itu. Pula, ia mencari tempat yang lebih luas agar jangan sampai merusak perabot dan hiasan di ruangan yang luas dan amat mewah itu.

Ketika mereka berdiri saling berhadapan, Liong-li melihat bahwa tinggi badannya hanya sampai setinggi bawah telinga kedua orang wanita kembar itu. Padahal, menurut ukuran wanita pada umumnya, ia bukan termasuk pendek. Jadi, mereka itulah yang tergolong tinggi, seperti para wanita dari daerah propinsi Shan-tung. Tinggi dan biarpun pinggang mereka ramping, namun kaki tangan mereka kokoh kuat.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 10 karya kho ping hoo

Ketika kedua orang wanita itu memasang kuda-kuda, ia melihat dasar kuda-kuda dari ilmu silat Bu-tong-pai. Ia menduga bahwa mereka itu selain lihai dalam ilmu silat tangan kosong, tentu mahir pula memainkan pedang kalau benar mereka itu murid Bu-tong-pai. Maka iapun tidak berani memandang rendah dan berhati-hati. Dua orang wanita kembar yang sudah terpilih menjadi pengawal pribadi permaisuri sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

“Enci berdua, majulah, aku sudah bersiap!” kata Liong-li, sikapnya tenang saja bahkan ia tidak memasang kuda-kuda seperti mereka, namun biar ia berdiri santai, sesungguhnya di bawah kulit tubuhnya, seluruh urat syarafnya sudah menegang dan siap siaga menghadapi serangan dari mana pun datangnya.

Bi Cu dan Bi Hwa memang dua orang gadis kembar yang pernah menjadi murid Bu-tong-pai, dan selain mahir ilmu silat Bu-tong-pai, setelah dipilih menjadi pengawal pribadi Bu Cek Thian, merekapun oleh permaisuri itu diperintahkan untuk memperdalam ilmu silat mereka dengan mempelajarinya dari jagoan-jagoan istana. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau mereka menjadi sepasang gadis kembar yang amat lihai.

Kelihaian mereka terutama sekali terletak dalam kerja sama mereka yang amat kokoh dan erat. Mereka memiliki kepekaan satu sama lain yang tidak dimiliki orang lain. Ada semacam hubungan batin di antara mereka sehingga mereka itu seolah-olah dapat saling mengerti kehendak dan dapat mengimbangi gerakan masing-masing seperti dua badan yang dikendalikan oleh satu pikiran saja.

“Li-hiap, sambutlah serangan kami!” seru Bi Hwa dan merekapun sudah bergerak maju.

“Tahan!” tiba-tiba terdengar seruan Bu Cek Thian dan sungguh luar biasa sekali, begitu mendengar seruan ini, dua orang gadis yang sudah mulai melakukan serangan itu tiba-tiba mencelat ke belakang seperti dipagut ular berbisa. Demikian kuat dan penuh wibawa perintah dari permaisuri itu sehingga Liong-li yang tadipun sudah siap siaga memandang heran dan kagum.

“Bi Cu dan Bi Hwa, kalian ingat. Sekali-kali tidak boleh menyebut li-hiap kepadanya, apalagi di depan orang lain. Sebut saja namanya. Namanya Siauw Cu, mengerti?”

Dua orang wanita kembar itu memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut di depan permaisuri itu dan dengan suara berbareng mereka berkata. “Baik, Yang Mulia. Hamba mentaati perintah.”

“Nah, sekarang seranglah, akan tetapi yang sungguh-sungguh. Kalau kalian mampu mengalahkan Siauw Cu, kalian akan kuberi hadiah!” kata sang permaisuri. yang duduk bersandar di kursinya dengan sikap santai dan sinar matanya berseri tanda bahwa hatinya gembira.

Kembali dua orang wanita kembar itu sudah menghadapi Liong-li dengan kuda-kuda mereka yang gagah. Mula-mula kedua kaki mereka dipentang miring dan kedua tangan di pinggang, lalu perlahan-lahan kaki kanan diangkat ke lutut kiri dan tubuh mereka tegak, lengan kanan tetap ditekuk di pinggang dan tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan telunjuk menuding ke arah atas lurus, kepala miring menghadapi lawan.

“Majulah, enci berdua!” kata Liong-li dengan wajah berseri dan mulut tersenyum. Ia sama sekali tidak berani memandang rendah, akan tetapi juga sikapnya amat tenang seolah-olah ia merasa yakin bahwa dua orang pengeroyok itu tidak akan mampu mengalahkannya.

“Haiiittt...!” Bi Cu menyerang dengan luncuran tubuhnya yang menerjang ke depan dari kiri, tangan kanannya dengan jari terbuka menusuk ke arah dada kanan Liong-li.

“Hyaaattt...!” Bi Hwa juga berteriak dan sudah menerjang dari depan kanan dengan tendangan kakinya ke arah pinggang.

Menghadapi serangan dua orang yang dilakukan dengan berbareng ini, Liong-li bersikap tenang, memutar kedua lengan dari atas ke bawah untuk menangkis dua serangan itu.

“Plak! Plakk!” Kedua lengannya dapat menangkis tangan dan kaki dua orang lawannya, akan tetapi dua orang wanita kembar itu sudah memutar tubuh dan kembali menyerang dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi. Kini Bi Cu mencengkeram ke arah pundak dan Bi Hwa menendang untuk membabat kaki lawan.

Liong-li meloncat menghindarkan sabetan kaki dan terus menarik tubuh ke belakang untuk menghindarkan cengkeraman, dan ketika tubuhnya meloncat ke atas itu, kedua kakinya terpentang dan menyambar dengan kakinya ke arah dua orang lawannya yang berada di depan kanan kiri. Sungguh merupakan serangan yang aneh dan tidak terduga. Tidak mudah meloncat sambil melakukan tendangan kedua kaki pada saat yang sama ke arah dua jurusan ini. Namun tendangan itu cepat dan kuat sekali.

Hal ini dapat diketahui oleh dua orang wanita kembar itu yang tidak berani sembarangan menangkis, melainkan cepat melangkah mundur ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran sepatu yang di bawahnya dipasangi baja itu. Karena tendangannya tidak mengenai sasaran, tubuh Liong-li membuat pok-say (salto) sampai tiga kali di udara dan begitu turun, tubuhnya sudah menerjang ke arah kedua orang lawannya seperti seekor burung garuda menyambar!

“Bagus...!” seru Bu Cek Thian yang merasa kagum bukan main. Permaisuri ini tidak bisa ilmu silat, akan tetapi ia mengagumi keindahan gerakan Liong-li tadi, dari melayang ke udara, berjungkir balik tiga kali di udara kemudian turun menyambar seperti seekor burung garuda.

Dua orang wanita kembar juga cukup waspada, dan mereka sudah mengelak lagi dengan gesitnya. Begitu tubuh Liong-li turun, mereka sudah menyerang lagi dari kanan kiri dengan tenaga yang kuat sehingga pukulan atau tamparan tangan mendatangkan angin bersiutan. Liong-li menghindarkan diri dengan mengelak atau menangkis, dan segera membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya. Terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik.

Demikian cepat gerakan tiga orang wanita ini sehingga bagi pandang mata permaisuri Bu Cek Thian, sukarlah mengikuti bayangan tiga orang yang berkelebatan itu. Yang dapat ia bedakan hanyalah dua bayangan kuning berkelebatan di antara bayangan hijau karena Liong-li mengenakan pakaian berwarna kehijauan. Ia tidak tahu siapa yang mendesak, siapa pula yang terdesak.

Diam-diam dua orang gadis kembar itu terkejut setengah mati. Mereka berdua sudah memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan kalau hanya para pengawal istana saja, jangan harap akan mampu menandingi mereka kalau mereka maju bersama. Bahkan selama ini, keamanan permaisuri terjamin karena mereka berdua tidak pernah meninggalkannya.

Akan tetapi sekarang, menghadapi Hek-liong-li, mereka sungguh menjadi bingung. Wanita itu dapat bergerak dengan kecepatan yang tak pernah mereka duga, bahkan juga tenaga Dewi Naga Hitam itu demikian kuatnya sehingga setiap kali mengadu tangan, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang!

Di lain pihak, Hek-liong-li sendiri juga kagum. Dua orang wanita kembar ini memang pantas menjadi pengawal kepercayaan permaisuri, karena mereka berdua merupakan lawan yang cukup tangguh baginya. Kalau saja ia tidak memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang ditunjang ilmu langkah ajaib Liu-seng-pouw, sukar baginya untuk dapat mengatasi pengeroyokan dua orang kembar yang memiliki kerja sama demikian baiknya.

Langkah-langkah ajaibnya membuat ia tidak pernah dapat tersentuh serangan mereka. Ia tidak berani menggunakan ilmunya yang ampuh dan mematikan seperti Hiat-tok-ciang karena ia tidak mau melukai atau membunuh mereka, maka kini ia merobah ilmu silatnya dan mulai memainkan ilmu silat Bi-jin-kun (Silat wanita cantik). Begitu ia mainkan ilmu silat ini, dengan gerakan diperlambat, sang permaisuri bertepuk tangan dan memuji.

“Bagus! Indah sekali...! Hei, Siauw Cu, engkau ini sedang berkelahi atau sedang menari?”

Memang Bi-jin-kun merupakan ilmu silat tangan kosong yang gerakannya seperti orang menari, indah dan lembut. Namun dibalik kelembutan itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat sehingga ketika pada suatu saat ia mendorongkan kedua lengannya dengan gerakan lemah gemulai, dua orang lawannya itu berseru kaget dan terhuyung ke belakang, hampir saja terjengkang!

Melihat ini, Bu Cek Thian segera bertepuk tangan dan berseru, “Sekarang kalian coba bermain pedang!”

“Singgg! Singgggg!” Nampak sinar putih berkilat ketika sepasang saudara kembar itu mencabut pedang mereka dari punggung dan mereka memasang kuda-kuda dengan menyilangkan pedangnya di depan dada.

Melihat ini, Liong-li tersenyum. Ia harus memperlihatkan kemampuannya, bukan saja untuk membuat sang permaisuri percaya kepadanya, akan tetapi juga untuk menundukkan keangkuhan dua orang saudara kembar ini agar kelak tidak lagi berlagak di depannya.

“Singgg!” Sinar hitam yang menyilaukan mata nampak ketika ia mencabut pedangnya.

“Aihhh! Itukah Hek-liong-kiam?” seru sang permaisuri kagum.

“Benar, Yang Mulia. Inilah Pedang Naga Hitam!” jawab Liong-li sambil memberi hormat, lalu dengan pedang di depan dada, menuding lurus ke atas ia menghadapi dua orang wanita kembar itu.

“Siauw Cu, sambutlah pedang kami!” Bi Cu membentak dan bersama saudara kembarnya ia telah menggerakkan pedangnya. Dua gulungan sinar putih menyambar-nyambar dengan ganasnya dan terdengar suara kedua pedang itu mendesing-desing ketika meluncur dengan ganasnya.

Namun sekali ini Liong-li tidak mau main-main lagi. Ia dapat menduga bahwa pedang-pedang di tangan kedua orang lawannya itu bukan pedang biasa. Sebagai pelindung atau pengawal pribadi permaisuri, tentu saja mereka memiliki pedang pusaka yang ampuh dan kuat, maka ia tidak khawatir bahwa Hek-liong-kiam akan merusak kedua pedang itu, asal ia tidak mempergunakan tenaga sin-kang terlampau kuat.

Melihat gerakan pedang mereka, ia semakin yakin bahwa mereka adalah ahli-ahli pedang dari Bu-tong-pai yang hebat. Dilihat dari gerakan mereka dan ketika bertanding dengan tangan kosong melawan tadi, ia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang kembar ini sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat ilmu silat Cian Ciang-kun agaknya.

“Trang-tranggg...!” Bunga api berpijar ketika ketiga pedang itu saling bertemu.

Dua orang wanita kembar merasa betapa lengan kanan mereka tergetar hebat dan mereka terkejut sekali, meloncat ke belakang dan memeriksa pedang mereka. Sepasang pedang itu adalah pemberian Hong-houw, merupakan pusaka istana, maka tentu saja merupakan pusaka yang ampuh. Untung pedang mereka tidak rusak bertemu dengan pedang hitam di tangan Liong-li. Mereka maju lagi dan menyerang dengan gerakan yang lebih dahsyat.

Akan tetapi, mereka segera menjadi terkejut sekali menghadapi gulungan sinar pedang yang hitam dan amat kuatnya, seolah-olah sinar pedang itu menggulung sinar putih dari kedua pedang mereka dan membuat mereka sama sekali tidak ada kesempatan untuk menyerang. Liong-li kini tidak main-main lagi dan ia sudah memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakannya bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay.

Sebetulnya ilmu pedang ini merupakan ilmu simpanan dari Liong-li dan tidak ia keluarkan kalau tidak perlu sekali. Akan tetapi sekali ini, walaupun dengan ilmu yang lain ia masih sanggup untuk menandingi dua orang gadis kembar, ia ingin memperlihatkan kepandaiannya kepada sang permaisuri agar percaya penuh kepadanya.

Maka, ia mengeluarkan Sin-liong Kiam-sut itu dan begitu ia mainkan jurus-jurus ilmu ini, pedang hitamnya seperti berobah menjadi seekor naga hitam yang menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya, seperti seekor naga hitam bermain-main di angkasa. Dua gulungan sinar pedang putih itu semakin menyempit dan akhirnya tergulung sama sekali.

“Trangg! Trangggg...!” Dua orang gadis kembar itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat karena ronce-ronce pedang mereka telah terbabat putus, dan mereka mengerti bahwa kalau tadi terjadi perkelahian yang sungguh, tentu mereka berdua sudah termakan pedang hitam di tangan lawan yang jauh lebih pandai dari mereka itu.

“Kami mengaku kalah!” mereka berdua menjura kepada Liong-li, lalu berlutut menghadap Bu Cek Thian. “Hamba berdua telah kalah, siap menerima hukuman.”

Akan tetapi Bu Cek Thian tidak marah, bahkan tersenyum lebar dengan wajah gembira. “Kalian tidak perlu penasaran dikalahkan oleh Hek-liong-li yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia persilatan. Kembalilah ke tempat kalian!”

Dua orang itu menghaturkan terima kasih lalu pergi kembali berdiri di belakang sang permaisuri itu, pandang mata mereka kini tidak angkuh lagi dan bahkan mereka kini memandang kagum kepada Liong-li.

“Siauw Cu, simpan pedangmu baik-baik, agar jangan sampai diketahui orang lain. Berikan kepadaku, biar aku yang menyembunyikannya dan engkau boleh menggunakan jika perlu saja.”

Liong-li tidak berani membantah, lalu memberikan Hek-liong-kiam bersama sarungnya kepada permaisuri itu. Bu Cek Thian menyimpan pedang itu di dalam lubang yang berada di bagian bawah kursinya sehingga tidak nampak dari luar karena ada tutupnya. Liong-li memandang kagum. Kiranya kursi berukir yang indah itu mengandung alat-alat rahasia pula untuk melindungi keselamatan sang permaisuri yang amat cerdik itu.

Baru saja Permaisuri Bu Cek Thian menyimpan Hek-liong-kiam, dua orang dayang memasuki ruangan itu sambil berlarian dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Cek Thian. Permaisuri itu seketika menjadi merah wajahnya dan matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang kepada dua orang dayang yang berlutut dengan tubuh gemetar dan muka pucat itu.

“Apakah kalian sudah bosan hidup? Berani masuk tanpa kami perintahkan?”

“Ampun, Yang Mulia, ampunkan hamba... di luar ada pangeran Souw Cun yang memaksa masuk. Para penjaga dan dayang telah berusaha untuk menghalanginya, namun hamba semua mendapat pukulan dan tendangan...”

Belum habis dayang itu melapor, terdengar seruan marah di luar ruangan itu. “Kalian berani menghalangi aku? Mau mati??”

Dan muncullah seorang pria berpakaian mewah memasuki ruangan itu dengan sikap marah, akan tetapi begitu dia melihat Permaisuri Bu Cek Thian, dia cepat merubah sikapnya. Dengan sikap sopan dan lembut dia lalu menghampiri dan memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan di depan dada. Dia membungkuk sampai dalam di depan wanita yang anggun dan berwibawa itu.

“Pangeran, apa artinya ini? Engkau masuk begitu saja tanpa kupanggil dan memukuli para pengawal dan dayang kami?” Bu Cek Thian menegur, namun suaranya tetap lembut.

Sementara itu, dalam keadaan masih berlutut, diam-diam Liong-li memperhatikan pangeran itu. Seorang pemuda yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus, wajahnya tampan dan pesolek, matanya tajam dan lagaknya congkak. Dari gerak geriknya, Liong-li menduga bahwa pangeran ini bukan seorang lemah, dan agaknya memiliki kepandaian silat. Hal ini dapat diketahui dari langkahnya. Sinar mata yang tajam itu membayangkan kecerdikan dan seketika Liong-li tahu bahwa ia harus berhati-hati terhadap orang ini.

“Selamat pagi, Ibu Permaisuri!” katanya dan suaranya juga lembut namun nyaring dan penuh semangat. “Para pengawal dan dayang itu yang tidak tahu diri. Bagaimana mereka berani mencegah saya masuk ke sini menghadap paduka? Ibunda adalah ibuku, dan sudah selayaknya kalau saya sebagai puteranda datang pada pagi hari ini untuk menghaturkan selamat pagi, bukan? Saya harus mematuhi pelajaran yang saya dapatkan dari Bouw Sianseng (bapak guru Bouw)...”

“Hemmm, pelajaran apa yang kau dapatkan dari Bouw Sianseng yang menjemukan itu?” Permaisuri Bu Cek Thian bertanya, nada suaranya ingin tahu sekali.

“Bahwa seorang kun-cu (budiman) mengenal tiga macam hauw (bakti), yaitu pertama berbakti kepada Thian (Tuhan), kedua berbakti kepada Negara, dan ketiga berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Nah, kalau pagi-pagi saya mencari ibunda untuk menghaturkan selamat pagi, itu adalah untuk memenuhi Hauw yang ketiga itulah.”

Diam-diam Liong-li memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang amat cerdik, pikirnya, akan tetapi juga ia merasa geli mendengar alasan yang jelas dicari-cari itu.

“Huh! Pelajaran dari orang yang menjemukan itu bisa menyesatkanmu, Souw Cun! Buktinya, engkau ingin berbakti, akan tetapi telah melanggar peraturan, menggangguku dengan hadir di sini tanpa kupanggil!”

Pemuda itu membelalakkan mata dan mengangkat sepasang alisnya, lalu memandang ke sekeliling. “Aih, kiranya saya telah mengganggu paduka, ibunda Permaisuri? Akan tetapi saya tidak melihat paduka sedang bercengkerama, tidak mengadakan rapat atau persidangan, bahkan hanya ditemani si kembar dan ini... ah, siapakah gadis jelita ini, ibunda?”

Kini Pangeran Souw Cun memandang kepada Liong-li yang masih berlutut dan menundukkan mukanya. Jantungnya berdebar tegang karena ia merasa seolah-olah sikap pangeran itu dibuat-buat. Bukan tidak mungkin kalau pangeran ini sudah tahu atau dapat menduga siapa ia, atau setidaknya menaruh curiga kepadanya!

“Ah, ia dayangku yang baru, namanya Siauw Cu,” kata sang Permaisuri dengan sikap acuh.

“Siauw Cu? Mustika kecil? Wah, nama yang cocok sekali dengan orangnya. Manis, coba kau angkat mukamu, aku ingin melihatnya!” kata pangeran itu.

Dengan sikap seorang gadis yang bodoh dan penakut, Liong-li semakin menundukkan mukanya dan suaranya gemetar ketika ia menjawab lirih. “Ampun... hamba... tidak berani...”

“Hemm, berani engkau membantah?” Tiba-tiba tangan kanan pangeran itu menangkap dagu Liong-li dan wanita ini merasa betapa jari-jari tangan itu mengandung tenaga kuat dan kalau ia mengerahkan tenaganya, tentu jari-jari tangan itu akan mencengkeram. Ia bersikap wajar saja, nampak ketakutan dan menurut saja ketika dagunya didorong naik sehingga mukanya tengadah.

“Hmm, cantik jelita... manis sekali dayang ini, ibunda Permaisuri!” kata Pangeran Souw Cun sambil tertawa.

“Souw Cun, lepaskan dayangku!” teriak sang Permaisuri dengan suara marah.

Pangeran itu melepaskan tangannya sehingga Liong-li menunduk kembali dan kini ibu tiri dan pangeran itu saling pandang dengan sinar mata saling menentang. “Ibunda, dayang yang satu ini berikan saja kepada saya. Puteranda suka sekali melihat wajahnya,” kata pangeran itu.

“Tidak! Tidak boleh! Siauw Cu baru saja kuangkat menjadi dayang dan ia akan kujadikan dayang pribadiku. Dan engkau tidak boleh mengganggunya, pangeran!”

Pangeran Souw Cun tertawa, dan ketika dia tertawa, jelas bahwa sikap hormatnya tadi kepada sang permaisuri hanya pura-pura saja. Ketika tertawa nampak bahwa sesungguhnya, di balik sikap hormat itu dia tidak suka kepada ibu tirinya ini! Hal itu tampak jelas sekali oleh Liong-li yang melirik dari bawah.

“Ha-ha, mohon paduka mengampuni saya, ibunda. Kalau saya tadi meraba mukanya, hal itu hanya untuk melihat kecantikannya, dan untuk membuktikan bahwa ia benar seorang wanita!”

“Pangeran! Apa maksud ucapanmu itu?” sang permaisuri membentak.

“Ibunda permaisuri yang mulia, seorang pemuda yang tampan dan lembut mudah saja menyamar sebagai seorang gadis. Ibunda, Puteranda mohon mengundurkan diri!”

Dan tersenyum lebar pangeran itu meninggalkan ruangan setelah menjura dengan sikap hormat sekali kepada Permaisuri yang memandang dengan mata melotot dan muka merah karena marah...

Si Bayangan Iblis Jilid 10

KINI mengertilah ia. Tentu karena merasa curiga, permaisuri yang luar biasa cerdiknya itu telah diam-diam menyelundupkan Akong ke bagian dapur, bekerja sebagai pelayan dapur sehingga mendapat kesempatan bercakap-cakap dengannya! Padahal, ia merasa cerdik sudah berhasil mengorek rahasia dan memancing keterangan dari Akong. Tidak tahunya, ialah yang terkorek rahasianya. Karena sikapnya yang ingin tahu dan bertanya-tanya tentang Kwi-eng-cu itu tentu saja dicatat oleh Akong dan pada malam harinya diteruskan kepada Hong-houw.

Dan permaisuri yang seperti dikatakan Cian Hui cerdik seperti iblis itu sudah memperhitungkan bahwa malam itu ia tentu akan melakukan penyelidikan ke istana induk, maka sengaja menyuruh delapan orang perajurit itu untuk menghadangnya dan mengepungnya. Dan biarpun delapan orang itu tidak berhasil menangkapnya, namun kini ia yakin bahwa ketika ia kembali ke dalam kamarnya, seperti ia keluar dari kamarnya, tentu sudah ada beberapa pasang mata yang mengintainya. Agaknya permaisuri itu hanya ingin merasa yakin bahwa “Akim” benar seorang mata-mata yang diselundupkan ke dalam istana. Melihat Akong, Liong-li segera memberi hormat kembali. “Sungguh benar sekali apa yang diterangkan oleh Cian Ciang-kun kepada hamba tentang paduka yang mulia...”

“Heh? Apa kata Cian Hui? Tentu dia memperingatkan bahwa engkau harus berhati- hati menghadapi aku, bukan? Heh-heh-hi-hik!”

Kembali Liong-li tertegun, bukan pura-pura melainkan sungguh ia merasa heran dan kagum. Wanita ini seolah-olah tahu segalanya!

“Aku mengenal siapa Cian Hui! Dia seorang yang cerdik, kalau tidak begitu, tentu dia tidak diangkat menjadi penyelidik. Kalau dia yang menyelundupkan kamu ke istana, tentu dia memperingatkanmu untuk berhati-hati terhadap kami. Dia sudah tahu siapa aku!” Suara ini mengandung kebanggaan hati yang besar terhadap diri sendiri.

“Sesungguhnya demikian, Yang Mulia. Karena paduka sudah tahu segalanya, hamba kira hamba tidak perlu menerangkannya lagi.”

“Hemm, Cian Hui memilih engkau, itu berarti bahwa engkau tentu memiliki kelihaian dan kecerdikan. Akan tetapi di sini, engkau kurang berhati-hati. Bayangkan saja seandainya aku ini Kwi-eng-cu! Apa kau kira masih hidup saat ini?”

“Hamba beruntung sekali bahwa Kwi-eng-cu bukan paduka. Akan tetapi hamba yang terkagum-kagum akan kecerdikan dan kebijaksanaan paduka, hamba ingin sekali tahu apakah paduka sudah pula mengetahui siapa hamba sebenarnya?”

Kembali para dayang mengerutkan alisnya. Perempuan itu sungguh kurang ajar, seolah menantang sang permaisuri, atau seperti mempermainkan saja. Bicaranya seolah permaisuri itu sahabatnya, bukan junjungannya! Akan tetapi aneh, permaisuri tidak marah melainkan tersenyum manis! Dan memang hati permaisuri itu senang sekali, merasa ditantang kecerdikannya.

“Kami memang belum mengetahui siapa kamu, akan tetapi kami dapat menduganya,” kata permaisuri itu dengan suara yang tenang sekali.

Liong-li tertarik dan semakin kagum, ia mengangkat muka memandang dan sejenak dua pasang mata yang sama indahnya, sama jeli dan sama tajamnya bertemu dan bertaut. Selamanya belum pernah Liong-li beradu pandang dengan seorang wanita yang memiliki pandang mata seperti itu dan diam-diam ia bergidik. Juga agaknya Permaisuri Bu Cek Thian mempunyai pendapat yang sama. Ia mengerutkan alisnya dan seperti mewakili suara hati Liong-li ia berkata,

“Aihhh, matamu seperti mata kucing atau harimau betina! Mengerikan sekali!”

Tepat sekali, pikir Liong-li. Memang matamu seperti mata harimau betina kelaparan! “Bolehkah hamba mengetahui, paduka menduga hamba ini siapakah?” ia masih ingin mengetahui sampai di mana kecerdikan permaisuri itu.

“Hek-liong-li Lie Kim Cu, dibandingkan dengan kami, engkau seperti anak masih ingusan!”

Kini Liong-li menatap wajah permaisuri itu dengan mata terbelalak. Ia benar takluk dan kagum bukan main, permaisuri itu tentu tidak berbohong ketika mengatakan bahwa belum mengetahui dirinya dan hanya menduga saja. Akan tetapi betapa tepatnya dugaan itu! Matanya penuh pertanyaan, mewakili suara hatinya yang ingin sekali tahu bagaimana permaisuri itu mampu menduganya demikian tepat! Dan agaknya pertanyaan pada sinar matanya itupun terbaca oleh Permaisuri Bu Cek Thian. Wanita ini kembali tertawa dan menutupi mulut yang terbuka dengan sapu tangan sutera.

“Mudah saja menduga bahwa engkau Hek-liong-li Lie Kim Cu. Biarpun kami belum pernah bertemu denganmu, akan tetapi berita tentang dirimu sudah pernah kami dengar. Kami mendengar bahwa di Lok-yang terdapat seorang wanita muda cantik jelita yang kabarnya memiliki ilmu silat yang tinggi dan kecerdikan yang mengagumkan, namanya Lie Kim Cu dan berjuluk Hek-liong-li. Bukan seorang penjahat, bahkan kadang-kadang menentang kejahatan, kaya raya dan ditakuti dunia kang-ouw. Ketika Kaisar, atas dorongan kami, memerintahkan Cian Hui untuk menyelidiki tentang pembunuhan-pembunuhan di kota raja dan tentang Kwi-eng-cu, kami mendengar dari penyelidik kami bahwa Cian Hui pergi seorang diri menuju Lok-yang. Tadinya kami kira bahwa mungkin dia pergi ke sana ada hubungannya dengan penyelidikannya, atau untuk mengikuti jejak. Nah, peristiwa itu saja sudah menunjuk kepadamu. Kemudian Kok Tay Gu memasukkan seorang dayang yang mukanya buruk seperti penyamaranmu tadi. Kami mulai curiga dan ternyata kecurigaan kami benar ketika kami melihat kulit punggungmu ada yang putih mulus dekat luka. Dan ketika malam tadi engkau keluar dari kamar sebagai seorang wanita bertopeng hitam dan berpakaian serba hitam, kemudian melihat betapa engkau sedemikian lihainya sehingga mampu menghindarkan diri dari kepungan delapan orang perajurit pengawal pilihan. Lalu sekarang melihat bahwa engkau seorang wanita muda yang cantik jelita dan juga cerdik, bahkan mampu menguji kecerdikanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang amat cerdik, lalu siapa lagi engkau, kalau bukan Hek-liong-li Lie Kim Cu? Dan kami yakin bahwa pedang yang semalam katanya terselip di pinggangmu tentulah pedang pusakamu Hek-liong-kiam yang terkenal itu. Entah di mana sekarang pusaka itu kau sembunyikan!”

Saking kagumnya, Long-li memberi hormat dan menempelkan dahinya di lantai. “Ban-swe, ban-ban-swe...! Sungguh hebat, sungguh luar biasa sekali! Paduka adalah seorang yang amat cerdik, bijaksana dan hamba mengaku kalah!”

“Hek-liong-li, bangkitlah. Aku sudah muak dengan penghormatan berlebihan seperti itu. Nah bangkit dan duduklah, aku ingin bicara denganmu!” Lalu ia memberi isyarat kepada para dayang pengawal agar mereka meninggalkan ruang itu!

Semua pengawal, kecuali dua orang wanita muda yang wajahnya sama, masih berdiri di belakang kursi permaisuri itu. Mereka adalah sepasang saudara kembar yang merupakan pengawal pribadi yang tidak pernah meninggalkan Permaisuri Bu Cek Thian sejenak pun! Juga Akong sudah keluar tanpa menoleh kepada Liong-li.

Pintu ruangan itu ditutup dan di dalam ruangan yang luas dan amat indah itu, Permaisuri Bu Cek Thian duduk di atas kursi emasnya yang agak tinggi. Kedua kakinya menginjak punggung sebuah batu berukir yang berbentuk kura-kura, lambang panjang usia, seolah-olah Permaisuri itu selalu menunggangi lambang yang membuat usianya menjadi panjang.

Dua orang saudara kembar yang menjadi pengawal pribadi itu, keduanya mahir ilmu silat dan tangan kanan mereka tak pernah meninggalkan gagang pedang yang tergantung di pinggang, berdiri di belakang kursi emas itu.

Liong-li diperintahkan duduk di atas sebuah bangku yang agak rendah. Hanya mereka berempat yang berada di situ dan Liong-li yakin bahwa tidak ada seorangpun lainnya yang berani mengintai atau ikut mendengarkan karena hal itu dapat mengakibatkan hukuman mati! Dan iapun kini merasa lega karena jelas bahwa permaisuri yang amat cerdik ini, yang dapat menjadi lawan yang amat berbahaya, kini nampaknya sudah percaya benar kepadanya.

“Lebih dulu katakan, di mana engkau menyembunyikan pedang pusakamu itu? Satu-satunya tempat persembunyian adalah di bawah atap kamarmu!”

Liong-li tersipu. Akan sia-sia sajalah membohongi wanita seperti ini! “Memang benar di sana, Yang Mulia.”

“Hemm, kalau begitu, engkau pergilah dulu, ambil pedangmu itu lalu kembalilah kesini. Cepat! Berbahaya kalau sampai didahului orang lain!”

Mendengar ini, Liong-li terkejut, cepat memberi hormat dan keluar dari ruangan itu. Ternyata di dekat ambang pintu, tentu ada alat rahasianya, karena sebelum ia tiba di pintu, daun pintu itu telah terbuka dari luar. Agaknya para penjaga di luar tahu bahwa ada orang hendak keluar! Ia keluar dan cepat pergi ke kamarnya setelah ia memasang kembali kedok tipisnya dan rambut palsunya sebagai Akim!

Setibanya di dalam kamar, ia menutupkan daun pintu dan meloncat ke atas, mendorong langit-langit di sudut. Cepat ia mengambil pedang dan pakaian hitam, lalu melompat turun kembali. Pada saat itu, ia mendengar langkah kaki dekat jendelanya. Cepat ia menyembunyikan pedang dan pakaian dibawah kasur, lalu ia sendiri merebahkan diri di atas pembaringan. Daun jendela terbuka dan sesosok bayangan melompat masuk.

“Heii, siapa itu? Maliiingg...!” Ia berteriak.

Tentu saja ia harus bersandiwara karena bukankah semua orang di situ mengira ia seorang gadis dusun? Sudah sewajarnya kalau ia berteriak ada orang laki-laki memasuki kamarnya lewat jendela.

Orang itu jangkung kurus, mukanya tertutup lengan baju, terkejut dan meloncat keluar lagi. Liong-li tidak mengejar dan kembali ia mengagumi sang permaisuri. Kalau tidak permaisuri itu cepat memerintahkan ia mengambil pedang pusakanya, besar sekali kemungkinan Hek-liong-kiam sudah diambil orang.

Ketika ia menghadapi kembali permaisuri yang cantik berwibawa itu, Liong-li terus terang menceritakan apa yang baru saja ia alami di kamarnya ketika ia mengambil pedang. Agaknya, terhadap wanita yang satu ini, ia tidak boleh menyimpan rahasia karena segala peristiwa agaknya dapat diketahuinya atau diduganya. Mendengar cerita Liong-li, permaisuri Bu Cek Thian mengangguk-angguk.

“Bagaimana wajah bayangan itu?” tanyanya singkat.

“Tidak nampak jelas, Yang mulia. Hanya nampak bayangan yang bentuk badannya jangkung kurus, akan tetapi dia memiliki gerakan yang gesit dan cepat sekali sehingga ketika hamba mengejar keluar, dia telah lenyap.”

Permaisuri itu mengerutkan alisnya. “Hemm, kehadiranmu sebagai penyelidik agaknya sudah dicurigai orang. Biarlah untuk sementara engkau menjadi dayangku yang baru di sini. Bagaimana, maukah engkau, Hek-liong-li?”

Liong-li menyambut tawaran ini dengan gembira sekali. “Tentu saja hamba suka dan banyak terima kasih atas bantuan paduka. Yang penting bagi hamba adalah dapat melakukan penyelidikan sampai hamba berhasil menangkap, atau setidaknya membongkar rahasia Kwi-eng-cu itu, seperti yang diminta oleh Cian Ciang-kun.”

“Bagus, aku senang sekali engkau mau menjadi dayangku, Hek-liong-li. Dan mulai sekarang nama panggilanmu di sini Siauw Cu (Mestika Kecil). Aku akan merasa lebih aman kalau engkau menjadi dayangku dan engkau boleh menemaniku setiap saat membantu tugas Bi Cu dan Bi Hwa ini,” katanya menunjuk kepada dua orang gadis kembar yang kelihatan gagah perkasa dan yang berdiri di belakang kursinya.

“Hamba merasa terhormat sekali, Yang Mulia, dan mudah-mudahan, berkat petunjuk paduka, hamba akan berhasil membongkar rahasia si Bayangan Iblis.”

Permaisuri itu mengerutkan alisnya dan senyumnya manis, akan tetapi juga mengandung ejekan. “Hemm, sekali ini kepandaianmu akan diuji berat sekali, Hek-liong-li... eh, Siauw Cu. Yang kau hadapi adalah seorang yang amat lihai, amat berbahaya sekali.”

“Ah, ampunkan hamba, Yang Mulia. Jadi kalau begitu paduka sudah mengetahui siapa adanya si Bayangan Iblis? Lebih mudah bagi hamba untuk menghadapinya dan melaporkan kepada Cian Ciang-kun!”

Permaisuri itu menatap tajam wajah Liong-li, lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Siauw Cu, kalau aku sudah mengetahui dengan jelas siapa dia, apa kau kira dia akan mampu bernapas lagi saat ini? Kami baru menduga-duga saja tanpa bukti. Yang jelas, dia tidak pernah berani mencoba untuk mengganggu kami. Bagaimanapun juga, dia tetap merupakan ancaman dan duri dalam daging yang harus dihancurkan. Aku sendiri akan memberi hadiah besar kepadamu kalau engkau mampu menangkapnya, Siauw Cu.”

Diam-diam Liong-li merasa girang dan lega. Akan lebih berbahaya dan lebih sukar rasanya kalau si Bayangan Iblis menjadi kaki tangan wanita di depannya ini. Berhadapan dengan permaisuri ini, ia merasa dirinya kecil dan lemah, seperti menghadapi seekor naga betina yang amat berbahaya, penuh rahasia dan sukar ditebak dari arah mana akan menyerang. Kalau si Bayangan Iblis bukan anak buah permaisuri, berarti ia akan menjadi sekutu permaisuri ini dan ia merasa yakin, dengan bantuan permaisuri yang amat cerdik ini, ia pasti akan berhasil.

“Hamba tidak mengharapkan imbalan jasa dan hadiah, Yang Mulia, melainkan hamba menganggapnya sebagai suatu kewajiban untuk menghalau pengacau yang membahayakan ketenteraman kota raja. Hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap si Bayangan Iblis!”

“Bagus! Akan tetapi agar hatiku lebih yakin akan kemampuanmu karena pihak lawan benar-benar tangguh, kami harus menguji kemampuanmu dulu, Siauw Cu. Bersiaplah engkau untuk menghadapi dua orang pengawalku ini. Beranikah engkau?”

Tidak ada tantangan yang pernah ditolak oleh Liong-li, dari siapapun juga datangnya. Dan Bu Cek Thian memang cerdik bukan main. Kalau ia mengatakan, “Maukah engkau?”, mungkin Liong-li akan mencari alasan dan menolak. Akan tetapi dengan pertanyaan “beranikah engkau?” tidak ada pilihan lain bagi Liong-li kecuali menerimanya!

“Hamba bersedia!” katanya sambil menatap tajam kedua orang wanita yang selalu berdiri di belakang permaisuri itu.

Mereka adalah dua orang wanita yang serupa benar, baik bentuk mukanya, bentuk sanggul dan pakaiannya. Sukar sekali membedakan antara dua orang gadis kembar ini. Usia mereka sekitar duapuluh lima tahun, dengan bentuk tubuh yang tinggi langsing dan wajah yang manis, dingin dan angkuh. Di punggung mereka terdapat pedang dengan ronce berwarna biru. Pakaian mereka ringkas berwarna kuning sehingga rambut mereka nampak semakin hitam.

“Bi Cu! Bi Hwa! Kalian boleh uji kepandaian Siauw Cu dengan tangan kosong dan semua tidak boleh menggunakan senjata. Kami ingin melihat sampai di mana kemampuan Siauw Cu! Mulailah!”

Gerakan dua orang wanita kembar itu ringan sekali ketika mereka tiba-tiba saja meloncat ke depan Liong-li setelah dengan suara halus menyanggupi perintah sang permaisuri. Liong-li melangkah mundur, agak menjauhi permaisuri itu karena tidak baik untuk bertanding silat terlalu dekat wanita bangsawan tinggi itu. Pula, ia mencari tempat yang lebih luas agar jangan sampai merusak perabot dan hiasan di ruangan yang luas dan amat mewah itu.

Ketika mereka berdiri saling berhadapan, Liong-li melihat bahwa tinggi badannya hanya sampai setinggi bawah telinga kedua orang wanita kembar itu. Padahal, menurut ukuran wanita pada umumnya, ia bukan termasuk pendek. Jadi, mereka itulah yang tergolong tinggi, seperti para wanita dari daerah propinsi Shan-tung. Tinggi dan biarpun pinggang mereka ramping, namun kaki tangan mereka kokoh kuat.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 10 karya kho ping hoo

Ketika kedua orang wanita itu memasang kuda-kuda, ia melihat dasar kuda-kuda dari ilmu silat Bu-tong-pai. Ia menduga bahwa mereka itu selain lihai dalam ilmu silat tangan kosong, tentu mahir pula memainkan pedang kalau benar mereka itu murid Bu-tong-pai. Maka iapun tidak berani memandang rendah dan berhati-hati. Dua orang wanita kembar yang sudah terpilih menjadi pengawal pribadi permaisuri sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

“Enci berdua, majulah, aku sudah bersiap!” kata Liong-li, sikapnya tenang saja bahkan ia tidak memasang kuda-kuda seperti mereka, namun biar ia berdiri santai, sesungguhnya di bawah kulit tubuhnya, seluruh urat syarafnya sudah menegang dan siap siaga menghadapi serangan dari mana pun datangnya.

Bi Cu dan Bi Hwa memang dua orang gadis kembar yang pernah menjadi murid Bu-tong-pai, dan selain mahir ilmu silat Bu-tong-pai, setelah dipilih menjadi pengawal pribadi Bu Cek Thian, merekapun oleh permaisuri itu diperintahkan untuk memperdalam ilmu silat mereka dengan mempelajarinya dari jagoan-jagoan istana. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau mereka menjadi sepasang gadis kembar yang amat lihai.

Kelihaian mereka terutama sekali terletak dalam kerja sama mereka yang amat kokoh dan erat. Mereka memiliki kepekaan satu sama lain yang tidak dimiliki orang lain. Ada semacam hubungan batin di antara mereka sehingga mereka itu seolah-olah dapat saling mengerti kehendak dan dapat mengimbangi gerakan masing-masing seperti dua badan yang dikendalikan oleh satu pikiran saja.

“Li-hiap, sambutlah serangan kami!” seru Bi Hwa dan merekapun sudah bergerak maju.

“Tahan!” tiba-tiba terdengar seruan Bu Cek Thian dan sungguh luar biasa sekali, begitu mendengar seruan ini, dua orang gadis yang sudah mulai melakukan serangan itu tiba-tiba mencelat ke belakang seperti dipagut ular berbisa. Demikian kuat dan penuh wibawa perintah dari permaisuri itu sehingga Liong-li yang tadipun sudah siap siaga memandang heran dan kagum.

“Bi Cu dan Bi Hwa, kalian ingat. Sekali-kali tidak boleh menyebut li-hiap kepadanya, apalagi di depan orang lain. Sebut saja namanya. Namanya Siauw Cu, mengerti?”

Dua orang wanita kembar itu memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut di depan permaisuri itu dan dengan suara berbareng mereka berkata. “Baik, Yang Mulia. Hamba mentaati perintah.”

“Nah, sekarang seranglah, akan tetapi yang sungguh-sungguh. Kalau kalian mampu mengalahkan Siauw Cu, kalian akan kuberi hadiah!” kata sang permaisuri. yang duduk bersandar di kursinya dengan sikap santai dan sinar matanya berseri tanda bahwa hatinya gembira.

Kembali dua orang wanita kembar itu sudah menghadapi Liong-li dengan kuda-kuda mereka yang gagah. Mula-mula kedua kaki mereka dipentang miring dan kedua tangan di pinggang, lalu perlahan-lahan kaki kanan diangkat ke lutut kiri dan tubuh mereka tegak, lengan kanan tetap ditekuk di pinggang dan tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan telunjuk menuding ke arah atas lurus, kepala miring menghadapi lawan.

“Majulah, enci berdua!” kata Liong-li dengan wajah berseri dan mulut tersenyum. Ia sama sekali tidak berani memandang rendah, akan tetapi juga sikapnya amat tenang seolah-olah ia merasa yakin bahwa dua orang pengeroyok itu tidak akan mampu mengalahkannya.

“Haiiittt...!” Bi Cu menyerang dengan luncuran tubuhnya yang menerjang ke depan dari kiri, tangan kanannya dengan jari terbuka menusuk ke arah dada kanan Liong-li.

“Hyaaattt...!” Bi Hwa juga berteriak dan sudah menerjang dari depan kanan dengan tendangan kakinya ke arah pinggang.

Menghadapi serangan dua orang yang dilakukan dengan berbareng ini, Liong-li bersikap tenang, memutar kedua lengan dari atas ke bawah untuk menangkis dua serangan itu.

“Plak! Plakk!” Kedua lengannya dapat menangkis tangan dan kaki dua orang lawannya, akan tetapi dua orang wanita kembar itu sudah memutar tubuh dan kembali menyerang dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi. Kini Bi Cu mencengkeram ke arah pundak dan Bi Hwa menendang untuk membabat kaki lawan.

Liong-li meloncat menghindarkan sabetan kaki dan terus menarik tubuh ke belakang untuk menghindarkan cengkeraman, dan ketika tubuhnya meloncat ke atas itu, kedua kakinya terpentang dan menyambar dengan kakinya ke arah dua orang lawannya yang berada di depan kanan kiri. Sungguh merupakan serangan yang aneh dan tidak terduga. Tidak mudah meloncat sambil melakukan tendangan kedua kaki pada saat yang sama ke arah dua jurusan ini. Namun tendangan itu cepat dan kuat sekali.

Hal ini dapat diketahui oleh dua orang wanita kembar itu yang tidak berani sembarangan menangkis, melainkan cepat melangkah mundur ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran sepatu yang di bawahnya dipasangi baja itu. Karena tendangannya tidak mengenai sasaran, tubuh Liong-li membuat pok-say (salto) sampai tiga kali di udara dan begitu turun, tubuhnya sudah menerjang ke arah kedua orang lawannya seperti seekor burung garuda menyambar!

“Bagus...!” seru Bu Cek Thian yang merasa kagum bukan main. Permaisuri ini tidak bisa ilmu silat, akan tetapi ia mengagumi keindahan gerakan Liong-li tadi, dari melayang ke udara, berjungkir balik tiga kali di udara kemudian turun menyambar seperti seekor burung garuda.

Dua orang wanita kembar juga cukup waspada, dan mereka sudah mengelak lagi dengan gesitnya. Begitu tubuh Liong-li turun, mereka sudah menyerang lagi dari kanan kiri dengan tenaga yang kuat sehingga pukulan atau tamparan tangan mendatangkan angin bersiutan. Liong-li menghindarkan diri dengan mengelak atau menangkis, dan segera membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya. Terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik.

Demikian cepat gerakan tiga orang wanita ini sehingga bagi pandang mata permaisuri Bu Cek Thian, sukarlah mengikuti bayangan tiga orang yang berkelebatan itu. Yang dapat ia bedakan hanyalah dua bayangan kuning berkelebatan di antara bayangan hijau karena Liong-li mengenakan pakaian berwarna kehijauan. Ia tidak tahu siapa yang mendesak, siapa pula yang terdesak.

Diam-diam dua orang gadis kembar itu terkejut setengah mati. Mereka berdua sudah memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan kalau hanya para pengawal istana saja, jangan harap akan mampu menandingi mereka kalau mereka maju bersama. Bahkan selama ini, keamanan permaisuri terjamin karena mereka berdua tidak pernah meninggalkannya.

Akan tetapi sekarang, menghadapi Hek-liong-li, mereka sungguh menjadi bingung. Wanita itu dapat bergerak dengan kecepatan yang tak pernah mereka duga, bahkan juga tenaga Dewi Naga Hitam itu demikian kuatnya sehingga setiap kali mengadu tangan, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang!

Di lain pihak, Hek-liong-li sendiri juga kagum. Dua orang wanita kembar ini memang pantas menjadi pengawal kepercayaan permaisuri, karena mereka berdua merupakan lawan yang cukup tangguh baginya. Kalau saja ia tidak memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang ditunjang ilmu langkah ajaib Liu-seng-pouw, sukar baginya untuk dapat mengatasi pengeroyokan dua orang kembar yang memiliki kerja sama demikian baiknya.

Langkah-langkah ajaibnya membuat ia tidak pernah dapat tersentuh serangan mereka. Ia tidak berani menggunakan ilmunya yang ampuh dan mematikan seperti Hiat-tok-ciang karena ia tidak mau melukai atau membunuh mereka, maka kini ia merobah ilmu silatnya dan mulai memainkan ilmu silat Bi-jin-kun (Silat wanita cantik). Begitu ia mainkan ilmu silat ini, dengan gerakan diperlambat, sang permaisuri bertepuk tangan dan memuji.

“Bagus! Indah sekali...! Hei, Siauw Cu, engkau ini sedang berkelahi atau sedang menari?”

Memang Bi-jin-kun merupakan ilmu silat tangan kosong yang gerakannya seperti orang menari, indah dan lembut. Namun dibalik kelembutan itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat sehingga ketika pada suatu saat ia mendorongkan kedua lengannya dengan gerakan lemah gemulai, dua orang lawannya itu berseru kaget dan terhuyung ke belakang, hampir saja terjengkang!

Melihat ini, Bu Cek Thian segera bertepuk tangan dan berseru, “Sekarang kalian coba bermain pedang!”

“Singgg! Singgggg!” Nampak sinar putih berkilat ketika sepasang saudara kembar itu mencabut pedang mereka dari punggung dan mereka memasang kuda-kuda dengan menyilangkan pedangnya di depan dada.

Melihat ini, Liong-li tersenyum. Ia harus memperlihatkan kemampuannya, bukan saja untuk membuat sang permaisuri percaya kepadanya, akan tetapi juga untuk menundukkan keangkuhan dua orang saudara kembar ini agar kelak tidak lagi berlagak di depannya.

“Singgg!” Sinar hitam yang menyilaukan mata nampak ketika ia mencabut pedangnya.

“Aihhh! Itukah Hek-liong-kiam?” seru sang permaisuri kagum.

“Benar, Yang Mulia. Inilah Pedang Naga Hitam!” jawab Liong-li sambil memberi hormat, lalu dengan pedang di depan dada, menuding lurus ke atas ia menghadapi dua orang wanita kembar itu.

“Siauw Cu, sambutlah pedang kami!” Bi Cu membentak dan bersama saudara kembarnya ia telah menggerakkan pedangnya. Dua gulungan sinar putih menyambar-nyambar dengan ganasnya dan terdengar suara kedua pedang itu mendesing-desing ketika meluncur dengan ganasnya.

Namun sekali ini Liong-li tidak mau main-main lagi. Ia dapat menduga bahwa pedang-pedang di tangan kedua orang lawannya itu bukan pedang biasa. Sebagai pelindung atau pengawal pribadi permaisuri, tentu saja mereka memiliki pedang pusaka yang ampuh dan kuat, maka ia tidak khawatir bahwa Hek-liong-kiam akan merusak kedua pedang itu, asal ia tidak mempergunakan tenaga sin-kang terlampau kuat.

Melihat gerakan pedang mereka, ia semakin yakin bahwa mereka adalah ahli-ahli pedang dari Bu-tong-pai yang hebat. Dilihat dari gerakan mereka dan ketika bertanding dengan tangan kosong melawan tadi, ia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang kembar ini sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat ilmu silat Cian Ciang-kun agaknya.

“Trang-tranggg...!” Bunga api berpijar ketika ketiga pedang itu saling bertemu.

Dua orang wanita kembar merasa betapa lengan kanan mereka tergetar hebat dan mereka terkejut sekali, meloncat ke belakang dan memeriksa pedang mereka. Sepasang pedang itu adalah pemberian Hong-houw, merupakan pusaka istana, maka tentu saja merupakan pusaka yang ampuh. Untung pedang mereka tidak rusak bertemu dengan pedang hitam di tangan Liong-li. Mereka maju lagi dan menyerang dengan gerakan yang lebih dahsyat.

Akan tetapi, mereka segera menjadi terkejut sekali menghadapi gulungan sinar pedang yang hitam dan amat kuatnya, seolah-olah sinar pedang itu menggulung sinar putih dari kedua pedang mereka dan membuat mereka sama sekali tidak ada kesempatan untuk menyerang. Liong-li kini tidak main-main lagi dan ia sudah memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakannya bersama Pek-liong-eng Tan Cin Hay.

Sebetulnya ilmu pedang ini merupakan ilmu simpanan dari Liong-li dan tidak ia keluarkan kalau tidak perlu sekali. Akan tetapi sekali ini, walaupun dengan ilmu yang lain ia masih sanggup untuk menandingi dua orang gadis kembar, ia ingin memperlihatkan kepandaiannya kepada sang permaisuri agar percaya penuh kepadanya.

Maka, ia mengeluarkan Sin-liong Kiam-sut itu dan begitu ia mainkan jurus-jurus ilmu ini, pedang hitamnya seperti berobah menjadi seekor naga hitam yang menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya, seperti seekor naga hitam bermain-main di angkasa. Dua gulungan sinar pedang putih itu semakin menyempit dan akhirnya tergulung sama sekali.

“Trangg! Trangggg...!” Dua orang gadis kembar itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat karena ronce-ronce pedang mereka telah terbabat putus, dan mereka mengerti bahwa kalau tadi terjadi perkelahian yang sungguh, tentu mereka berdua sudah termakan pedang hitam di tangan lawan yang jauh lebih pandai dari mereka itu.

“Kami mengaku kalah!” mereka berdua menjura kepada Liong-li, lalu berlutut menghadap Bu Cek Thian. “Hamba berdua telah kalah, siap menerima hukuman.”

Akan tetapi Bu Cek Thian tidak marah, bahkan tersenyum lebar dengan wajah gembira. “Kalian tidak perlu penasaran dikalahkan oleh Hek-liong-li yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia persilatan. Kembalilah ke tempat kalian!”

Dua orang itu menghaturkan terima kasih lalu pergi kembali berdiri di belakang sang permaisuri itu, pandang mata mereka kini tidak angkuh lagi dan bahkan mereka kini memandang kagum kepada Liong-li.

“Siauw Cu, simpan pedangmu baik-baik, agar jangan sampai diketahui orang lain. Berikan kepadaku, biar aku yang menyembunyikannya dan engkau boleh menggunakan jika perlu saja.”

Liong-li tidak berani membantah, lalu memberikan Hek-liong-kiam bersama sarungnya kepada permaisuri itu. Bu Cek Thian menyimpan pedang itu di dalam lubang yang berada di bagian bawah kursinya sehingga tidak nampak dari luar karena ada tutupnya. Liong-li memandang kagum. Kiranya kursi berukir yang indah itu mengandung alat-alat rahasia pula untuk melindungi keselamatan sang permaisuri yang amat cerdik itu.

Baru saja Permaisuri Bu Cek Thian menyimpan Hek-liong-kiam, dua orang dayang memasuki ruangan itu sambil berlarian dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Cek Thian. Permaisuri itu seketika menjadi merah wajahnya dan matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang kepada dua orang dayang yang berlutut dengan tubuh gemetar dan muka pucat itu.

“Apakah kalian sudah bosan hidup? Berani masuk tanpa kami perintahkan?”

“Ampun, Yang Mulia, ampunkan hamba... di luar ada pangeran Souw Cun yang memaksa masuk. Para penjaga dan dayang telah berusaha untuk menghalanginya, namun hamba semua mendapat pukulan dan tendangan...”

Belum habis dayang itu melapor, terdengar seruan marah di luar ruangan itu. “Kalian berani menghalangi aku? Mau mati??”

Dan muncullah seorang pria berpakaian mewah memasuki ruangan itu dengan sikap marah, akan tetapi begitu dia melihat Permaisuri Bu Cek Thian, dia cepat merubah sikapnya. Dengan sikap sopan dan lembut dia lalu menghampiri dan memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan di depan dada. Dia membungkuk sampai dalam di depan wanita yang anggun dan berwibawa itu.

“Pangeran, apa artinya ini? Engkau masuk begitu saja tanpa kupanggil dan memukuli para pengawal dan dayang kami?” Bu Cek Thian menegur, namun suaranya tetap lembut.

Sementara itu, dalam keadaan masih berlutut, diam-diam Liong-li memperhatikan pangeran itu. Seorang pemuda yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus, wajahnya tampan dan pesolek, matanya tajam dan lagaknya congkak. Dari gerak geriknya, Liong-li menduga bahwa pangeran ini bukan seorang lemah, dan agaknya memiliki kepandaian silat. Hal ini dapat diketahui dari langkahnya. Sinar mata yang tajam itu membayangkan kecerdikan dan seketika Liong-li tahu bahwa ia harus berhati-hati terhadap orang ini.

“Selamat pagi, Ibu Permaisuri!” katanya dan suaranya juga lembut namun nyaring dan penuh semangat. “Para pengawal dan dayang itu yang tidak tahu diri. Bagaimana mereka berani mencegah saya masuk ke sini menghadap paduka? Ibunda adalah ibuku, dan sudah selayaknya kalau saya sebagai puteranda datang pada pagi hari ini untuk menghaturkan selamat pagi, bukan? Saya harus mematuhi pelajaran yang saya dapatkan dari Bouw Sianseng (bapak guru Bouw)...”

“Hemmm, pelajaran apa yang kau dapatkan dari Bouw Sianseng yang menjemukan itu?” Permaisuri Bu Cek Thian bertanya, nada suaranya ingin tahu sekali.

“Bahwa seorang kun-cu (budiman) mengenal tiga macam hauw (bakti), yaitu pertama berbakti kepada Thian (Tuhan), kedua berbakti kepada Negara, dan ketiga berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Nah, kalau pagi-pagi saya mencari ibunda untuk menghaturkan selamat pagi, itu adalah untuk memenuhi Hauw yang ketiga itulah.”

Diam-diam Liong-li memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang amat cerdik, pikirnya, akan tetapi juga ia merasa geli mendengar alasan yang jelas dicari-cari itu.

“Huh! Pelajaran dari orang yang menjemukan itu bisa menyesatkanmu, Souw Cun! Buktinya, engkau ingin berbakti, akan tetapi telah melanggar peraturan, menggangguku dengan hadir di sini tanpa kupanggil!”

Pemuda itu membelalakkan mata dan mengangkat sepasang alisnya, lalu memandang ke sekeliling. “Aih, kiranya saya telah mengganggu paduka, ibunda Permaisuri? Akan tetapi saya tidak melihat paduka sedang bercengkerama, tidak mengadakan rapat atau persidangan, bahkan hanya ditemani si kembar dan ini... ah, siapakah gadis jelita ini, ibunda?”

Kini Pangeran Souw Cun memandang kepada Liong-li yang masih berlutut dan menundukkan mukanya. Jantungnya berdebar tegang karena ia merasa seolah-olah sikap pangeran itu dibuat-buat. Bukan tidak mungkin kalau pangeran ini sudah tahu atau dapat menduga siapa ia, atau setidaknya menaruh curiga kepadanya!

“Ah, ia dayangku yang baru, namanya Siauw Cu,” kata sang Permaisuri dengan sikap acuh.

“Siauw Cu? Mustika kecil? Wah, nama yang cocok sekali dengan orangnya. Manis, coba kau angkat mukamu, aku ingin melihatnya!” kata pangeran itu.

Dengan sikap seorang gadis yang bodoh dan penakut, Liong-li semakin menundukkan mukanya dan suaranya gemetar ketika ia menjawab lirih. “Ampun... hamba... tidak berani...”

“Hemm, berani engkau membantah?” Tiba-tiba tangan kanan pangeran itu menangkap dagu Liong-li dan wanita ini merasa betapa jari-jari tangan itu mengandung tenaga kuat dan kalau ia mengerahkan tenaganya, tentu jari-jari tangan itu akan mencengkeram. Ia bersikap wajar saja, nampak ketakutan dan menurut saja ketika dagunya didorong naik sehingga mukanya tengadah.

“Hmm, cantik jelita... manis sekali dayang ini, ibunda Permaisuri!” kata Pangeran Souw Cun sambil tertawa.

“Souw Cun, lepaskan dayangku!” teriak sang Permaisuri dengan suara marah.

Pangeran itu melepaskan tangannya sehingga Liong-li menunduk kembali dan kini ibu tiri dan pangeran itu saling pandang dengan sinar mata saling menentang. “Ibunda, dayang yang satu ini berikan saja kepada saya. Puteranda suka sekali melihat wajahnya,” kata pangeran itu.

“Tidak! Tidak boleh! Siauw Cu baru saja kuangkat menjadi dayang dan ia akan kujadikan dayang pribadiku. Dan engkau tidak boleh mengganggunya, pangeran!”

Pangeran Souw Cun tertawa, dan ketika dia tertawa, jelas bahwa sikap hormatnya tadi kepada sang permaisuri hanya pura-pura saja. Ketika tertawa nampak bahwa sesungguhnya, di balik sikap hormat itu dia tidak suka kepada ibu tirinya ini! Hal itu tampak jelas sekali oleh Liong-li yang melirik dari bawah.

“Ha-ha, mohon paduka mengampuni saya, ibunda. Kalau saya tadi meraba mukanya, hal itu hanya untuk melihat kecantikannya, dan untuk membuktikan bahwa ia benar seorang wanita!”

“Pangeran! Apa maksud ucapanmu itu?” sang permaisuri membentak.

“Ibunda permaisuri yang mulia, seorang pemuda yang tampan dan lembut mudah saja menyamar sebagai seorang gadis. Ibunda, Puteranda mohon mengundurkan diri!”

Dan tersenyum lebar pangeran itu meninggalkan ruangan setelah menjura dengan sikap hormat sekali kepada Permaisuri yang memandang dengan mata melotot dan muka merah karena marah...