Social Items

KINI mereka tiba di luar sebuah pintu dan Kok Ciang-kun memberi isyarat kepada Akim untuk berhenti. Kok Ciang-kun lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Akim yang sudah diberitahu sebelumnya untuk mengikuti apa yang dilakukan perwira Thai-kam itu.

“Hamba Kok Tay Gu mohon diperkenankan menghadap Hong-houw!” Dia berkata dengan suara nyaring.

Pintu dibuka dari dalam. Sebuah pintu berukir yang indah dan ketika pintu dibuka, Akim mengangkat muka dan iapun terpesona. Bukan main indahnya ruangan di balik pintu itu! Dan bau semerbak harum menyergap keluar begitu pintu dibuka oleh seorang dayang muda yang cantik. Seluruh isi ruangan itu gemerlapan dengan kemegahan dan kemewahan.

“Terima kasih, terima kasih atas kemurahan hati Hong-houw!” kata pula Kok Ciang-kun.

Sungguh suatu sikap yang berlebihan sehingga baginya seperti adegan dalam panggung wayang atau pelawak saja. Akan tetapi, Akim tidak berani mengangkat muka lagi ketika tadi pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang indah akan tetapi juga mencorong tajam seperti mata kucing di tempat gelap!

“Kok Ciang-kun, yang mulia Hong-houw memerintahkan engkau dan calon dayang ini masuk!” terdengar perintah yang keluar dari mulut seorang dayang lain.

Kok Ciang-kun bangkit dengan sikap hormat, diikuti oleh Akim, kemudian melangkah memasuki kamar. Akim hanya mengikuti saja dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

“Ban-swe, ban-ban-swe (hidup dan panjang usia)!” Kok Ciang-kun menjatuhkan diri berlutut lagi dan membentur-benturkan dahinya di lantai yang bertilamkan permadani merah. Akim juga berlutut dan membentur-benturkan dahinya.

“Kok Tay Gu, inikah gadis dusun yang ingin menjadi dayang itu?” terdengar suara yang halus namun tajam penuh wibawa.

Kok Ciang-kun memberi hormat lagi sebelum menjawab, “Benar sekali, Yang Mulia. Ia seorang gadis dusun bernama Kim Siauw Hwa, biasa disebut Akim, dan ia telah siap melakukan segala macam pekerjaan yang diperintahkan untuknya, siap melayani paduka dengan taruhan nyawa.”

Hemm, taruhan nyawa hidungmu! Demikian Liong-li memaki dalam hatinya. Sungguh segala hal terlalu dilebih-lebihkan di dalam istana ini. Penjilatan agaknya terjadi setiap saat, oleh orang-orang yang amat rendah terhadap orang-orang yang gila hormat.

“Hemmm, namanya Akim? Lucu juga. Akim, angkat mukamu untuk kami lihat!” kata pula suara yang lembut tajam itu.

Akim mengangkat mukanya dan ia melihat kepada seorang wanita yang amat cantik dan anggun. Wanita itu usianya empatpuluh tahun lebih, namun pakaiannya mewah bukan main, dan seluruh tubuhnya terawat dengan rapi. Agaknya setiap helai rambutnya pun tidak terluput dari perawatan sehingga ia nampak seperti hasil sebuah lukisan seorang ahli.

Sepasang matanya tajam mencorong, dan bibir yang penuh gairah dan manis menantang itu dihias dagu yang membayangkan kekerasan hatinya. Hidung kecil mancung itu kembang kempis, pertanda bahwa ia seorang wanita yang memiliki gairah nafsu yang berkobar! Seorang wanita yang amat berbahaya, cerdik seperti iblis, demikian keterangan Cian Hui, kepadanya.

Cepat ketika ia mengangkat mukanya, Akim memasang wajah bodoh dan ketakutan membayang pada pandang matanya yang biasanya tidak kalah tajam dan mencorong dibandingkan sepasang mata permaisuri itu. Wajah wanita itu masih cantik menarik, ditambah lagi dengan riasan yang agak berlebihan sehingga alisnya dibuat melengkung seperti bulan tanggal muda, bibirnya merah semringah, pipinya kemerahan dan kulit mukanya lebih putih dari pada aselinya. Sepasang alis melengkung yang terlalu hitam itu agak berkerut ketika ia melihat wajah dayang baru itu.

“Hemm, engkau terlalu buruk untuk menjadi dayang!” serunya. “Heh, Kok Tay Gu, kenapa engkau membawa seorang gadis berwajah bodoh dan buruk ini untuk menjadi dayang baru? Apa engkau ingin merusak keindahan sebuah taman bunga dengan ratusan aneka bunga jelita dengan menyertakan setangkai bunga yang jelek di dalam taman?”

Kok Ciang-kun sambil berlutut menjawab. “Mohon kemurahan hati paduka untuk mengampuni hamba, Yang Mulia. Biarpun wajahnya tidak berapa cantik namun ia pandai masak, rajin dan besar tenaganya. Iapun bersedia untuk bekerja di dapur atau di mana saja untuk menghambakan diri kepada paduka yang mulia!”

“Hemm, benarkah ia pandai masak dan rajin? Dan ia bertenaga besar dan kuat? Ingin aku melihatnya!”

Akim yang sudah menunduk kembali, juga Kok Ciang-kun, tidak melihat betapa permaisuri itu memberi isyarat dengan mata kepada seorang dayang pengawalnya. Gadis yang bertubuh tegap itu mengambil sebatang cambuk pendek, menghampiri Akim dari belakang. Biarpun Akim berlutut dan menunduk, pendengarannya yang terlatih dan amat tajam sudah sejak tadi menangkap gerakan orang di belakangnya.

Bahkan ia seperti dapat melihat saja ketika gadis dayang itu mengayun cambuknya ke arah punggungnya yang sedang membungkuk. Tentu saja amat mudah baginya untuk mengelak atau menangkis kalau ia kehendaki. Akan tetapi, Akim atau Liong-li adalah seorang wanita yang cerdik bukan main, waspada dan dapat mengetahui keadaan seketika dengan perhitungan yang tepat.

Ia sudah dapat menduga bahwa tentu permaisuri yang cerdik dan berbahaya seperti iblis itu menaruh curiga kepadanya dan kini mengutus seorang pembantunya untuk mengujinya. Kalau dalam keadaan seperti itu ia mampu menghindarkan diri dari serangan cambuk itu, berarti ia membuka rahasianya bahwa ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Karena hanya orang yang memiliki ilmu silat yang sudah tinggi tingkatannya saja mampu menghindarkan diri dari ancaman bahaya tanpa dilihatnya. Sungguh ujian yang keluar dari otak yang cerdik luar biasa, pikirnya dan iapun tidak mengerahkan tenaga sedikitpun ketika cambuk itu menghantam punggung.

“Tarr! Tarrr!” Dua kali cambuk itu menghantam punggungnya, demikian kerasnya sehingga baju di bagian punggung robek-robek, berikut kulit punggungnya yang tidak ia lindungi dengan tenaga sakti. Darah keluar dari kulit punggung yang pecah-pecah dan Akim mengeluarkan jerit kesakitan yang ia lakukan bukan seperti permainan sandiwara, melainkan sungguh-sungguh karena ia tidak menahan diri dan membiarkan naluri perasaannya membuatnya menjerit kesakitan.

Kok Ciang-kun terkejut sekali, akan tetapi tidak berani berkutik ketika permaisuri itu turun dari atas kursi emasnya dan melangkah perlahan untuk memeriksa keadaan punggung gadis dusun yang masih berlutut dan menangis lirih itu. Ia melihat punggung itu terluka oleh cambuk, berdarah dan iapun mengangguk puas.

Benar seorang gadis dusun yang tak begitu cantik, bodoh dan sama sekali tidak memiliki kepandaian yang membahayakan, dan mungkin tenaganya lebih besar dari wanita lain. Hal ini tentu saja wajar kalau mengingat bahwa ia seorang gadis dusun yang sejak kecil biasa bekerja kasar dan keras.

“Kok Tay Gu, Akim ini kami terima sebagai pelayan. Mundurlah, dan kami senang dengan jasamu ini.”

Bukan main girangnya hati Kok Ciang-kun yang tadinya sudah gemetar ketakutan karena dia mengira bahwa kehadiran Akim mendatangkan perasaan tidak senang di hati permaisuri itu. Dia membentur-benturkan dahinya di lantai, menghaturkan terima kasih berulang kali, kemudian merangkak mundur meninggalkan ruangan itu.

Permaisuri Bu Cek Thian berkata kepada seorang dayang pengawal, “Bawa ia ke belakang, beri pakaian dan obati punggungnya. Lalu serahkan ia kepada kepala dapur untuk menerimanya sebagai pembantu di dapur.”

Akim yang sudah mempelajari bagaimana ia harus bersikap di depan sang permaisuri, segera meniru apa yang dilakukan Kok Ciang-kun tadi. Ia membentur-benturkan dahinya di lantai sambil mengucap terima kasih berulang kali, walaupun hatinya mendongkol bukan main dan hatinya ingin sekali menghajar wanita pesolek yang sewenang-wenang dan kejam itu.

Tentu saja ia tidak berani melakukan hal semacam itu, karena betapapun pandainya, kalau ia berani melakukan hal itu, tentu nyawanya takkan dapat tertolong lagi! Wanita di depannya ini adalah permaisuri kaisar, bahkan menurut Cian Hui, wanita ini merupakan orang paling berkuasa di seluruh kerajaan, bahkan kaisar sendiri menjadi seperti boneka dalam genggaman wanita ini.

Ia lalu ditarik berdiri dan didorong secara kasar oleh dayang pengawal yang menerima perintah, diajak keluar dari ruangan itu dan setelah menerima beberapa helai pakaian baru, diobati punggungnya dengan obat bubuk. Ia lalu diajak ke dapur dan diserahkan kepada kepala dapur, seorang laki-laki thai-kam gendut seperti bola yang dari gerak geriknya saja sudah dapat diduga bahwa dia adalah seorang koki yang pandai!

Mulailah Akim atau Hek-liong-li Lie Kim Cu bekerja di dapur istana permaisuri yang menjadi satu dengan dapur istana kaisar. Hanya saja para pekerja thai-kam sajalah yang diperbolehkan masuk ke bagian puteri sedangkan para pekerja pria biasa sama sekali dilarang dan mereka ini yang membawa masakan dan segala keperluan lain ke istana bagian putera.

Karena pandai membawa diri, dalam waktu sehari saja Akim yang rajin disuka oleh mereka yang bekerja di dapur, apa lagi mendengar bahwa Akim diterima dan ditunjuk sendiri oleh permaisuri bekerja di bagian dapur. Karena ia ditunjuk sendiri oleh Permaisuri, maka ia dianggap “istimewa” dan tidak ada yang berani mengganggu. Pula, Akim pandai sekali memperlihatkan sikap yang tidak menarik bagi pria, dan ia kelihatan sebagai seorang gadis yang bodoh dan kaku walaupun rajin dan memiliki bentuk tubuh yang elok.

Malamnya, Akim mendapatkan sebuah kamar di antara deretan kamar para pelayan di bagian paling belakang, dekat dapur. Karena ia dianggap istimewa pula, pekerja yang ditunjuk permaisuri, maka ia mendapatkan sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Pelayan lain merasa enggan untuk tinggal sekamar dengannya, karena seorang yang ditunjuk oleh permaisuri dianggap berbahaya. Siapa tahu ia mata-mata permaisuri yang mencatat semua kegiatan mereka?

Permaisuri amat galak dan siapa yang bersalah mendapatkan hukuman yang mengerikan. Pernah ada seorang pelayan wanita di dapur yang wajahnya manis, tertangkap basah ketika ia melakukan hubungan mesra dengan seorang pelayan pria dari bagian putera. Permaisuri yang menganggap pelayan itu menodai “kesucian” istana bagian puteri, dipaksa mati secara mengerikan.

Ia dipaksa duduk di atas sebuah kursi, dengan kaki dan tangan terikat kepada kursi sehingga tak mampu bergerak. Kemudian, sebuah kantung kain diselubungkan ke kepalanya dan diikat tertutup rapat-rapat. Tentu saja setelah udara di dalam kantung itu habis, wanita malang itu tidak dapat bernapas. Akan tetapi ia tidak mampu meronta, hanya kepalanya saja yang meronta-ronta minta lepas, akan tetapi sebentar saja kepala itu terkulai dan ia tewas. Mayatnya dikubur diam-diam dan semua hukuman ini berlangsung secara rahasia tanpa diketahui orang luar, kecuali para pekerja di istana.

Tentu saja Akim yang “diasingkan” oleh para pekerja lain, merasa girang bukan main. Justeru inilah yang ia kehendaki. Karena ia memiliki kamar tersendiri, dengan leluasa ia mampu mengadakan penyelidikan. Pada malam harinya, setelah semua orang tidur, Akim mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam yang sudah ia persiapkan, menutupi mukanya dengan topeng kain, dan iapun menyelinap keluar dari dalam kamarnya tanpa diketahui siapapun. Ia lalu mulai dengan penyelidikannya.

Malam pertama itu ia tidak bertemu dengan Bayangan Iblis seorangpun, hanya melihat seorang kebiri berjalan mengiringkan seorang dayang pengawal menuju ke kamar Sang Permaisuri. Laki-laki kebiri itu usianya kurang lebih tigapuluh tahun, wajahnya ganteng dengan kulit putih bersih dan perawakannya jantan, tinggi besar dan kokoh kuat.

Hal ini membuat Akim tertegun dan terheran-heran. Memang hanya para thai-kam (laki-laki kebiri) saja yang diperbolehkan berkeliaran melakukan tugas masing-masing di istana bagian puteri. Laki-laki kebiri dianggap “aman” karena tidak mungkin dapat melakukan hubungan gelap dengan para wanita istana.

Kalau ia melihat thai-kam itu memasuki kamar Sang Permaisuri pada siang hari, ia tidak akan merasa heran. Akan tetapi malam hari? Dan ketika semua orang sudah tidur dan mengunci pintu kamar mereka? Sungguh janggal! Apa lagi ketika ia melihat thai-kam itu memasuki kamar sang permaisuri seorang diri saja, sedangkan dayang pengawal yang tadi bersamanya tinggal di luar dan melakukan penjagaan dengan para dayang pengawal lainnya, enam orang jumlahnya.

Apa saja yang dikerjakan thai-kam itu di dalam kamar sang permaisuri? Ah, mungkin dia seorang ahli pijat, pikir Akim. Ya, tentu saja. Thai-kam itu seorang ahli pijat dan kini bertugas memijati tubuh sang permaisuri, untuk mengusir semua kelelahan dari tubuh yang amat dimanja itu.

Tentu saja Akim tidak mau menghabiskan waktu untuk menyelidiki persoalan pribadi Sang Permaisuri yang agaknya tidak ada sangkut pautnya dengan Kwi-eng-cu, dan ia melakukan penyelidikan ke bagian lain. Namun malam itu ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Keesokan harinya, sambil bekerja, iapun memasang mata dan telinga untuk mengamati setiap orang bahkan ia berhasil memancing seorang pelayan kebiri yang setengah tua dan yang gemar mengobrol untuk bicara tentang Kwi-eng-cu. Mereka berdua sedang mencabuti bulu ayam.

Istana memang merupakan tempat keroyalan dan kemewahan. Setiap hari tidak kurang dari seratus ekor ayam gemuk dipotong, belum daging babi atau kambing atau sapi, juga ikan dan banyak macam sayuran. Maka, mencabuti bulu ayam memakan waktu yang cukup lama sehingga Akim dan thai-kam itu mempunyai waktu untuk mengobrol.

“Ketika aku datang dari dusun ke kota raja, aku mendengar kabar angin tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja. Aku menjadi ngeri. Siapakah yang dibunuh dan siapa pula yang membunuh, paman?” Akim mulai memancing, dengan suara biasa dan sikap acuh, sambil lalu saja.

Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Akong, si thai-kam, nampak terkejut dan ketakutan. Dia menoleh ke kanan kiri. Akan tetapi memang di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Tempat pencucian daging itu memang tidak sebersih bagian lain dan orang enggan ke situ kalau tidak untuk bekerja. Akim tentu saja sudah yakin bahwa tidak ada orang lain mendengarkan percakapan mereka.

“Kenapa, paman?”

“Hushhh, jangan keras-keras. Kalau terdengar dia, salah-salah malam nanti lehermu atau leherku putus!”

Akim menjadi ketakutan dan ia menggeser duduknya mendekati thai-kam itu, suaranya gemetar dan tubuhnya menggigil. “Aih, paman, aku... aku takut...!” katanya lirih setengah berbisik. “Akan tetapi... kenapa tidak boleh keras-keras...? Dan... siapa yang melarang kita bicara?” Ia sengaja memperlihatkan wajah ketakutan. “Paman, kalau bersamamu, aku tentu akan selamat. Jangan takut-takuti aku, paman.”

Akong menyeringai bangga. “Boleh, bicara, akan tetapi jangan keras-keras. Kabarnya, Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) memiliki seribu telinga dan kita tidak boleh bicara buruk tentang dia. Bisa berbahaya!” katanya lirih pula.

“Ah, agaknya paman tahu banyak. Aku ingin sekali mendengar, paman. Siapa sih Kwi-eng-cu itu?”

“Ssttt, berbisik saja,” kata thai-kam itu sambil mendekat dan bicara kasak-kusuk berbisik. “Dia seorang yang entah manusia entah dewa, akan tetapi semenjak terjadi pembunuhan, sudah puluhan orang pejabat tinggi terbunuh, ada yang melihat munculnya Si Bayangan Iblis itu. Tak seorangpun melihat dia yang melakukan pembunuhan, hanya timbul dugaan karena dia muncul ketika terjadi pembunuhan-pembunuhan...”

“Ih, betapa mengerikan! Apakah tidak kelihatan orangnya, paman?”

Akong menggeleng. “Dia bergerak cepat dan hanya nampak bayangannya saja. Bayangan tinggi besar dan kepalanya bertanduk, karena itu dinamakan Si Bayangan Iblis...”

“Hiiii, menakutkan sekali !” Akim kembali menggigil. “Akan tetapi kita aman, paman, Sehebat-hebatnya dia, tidak mungkin dia berani muncul di lingkungan istana ini!”

“Siapa bilang? Sstttt...!” Dia memperingatkan diri sendiri yang bicara terlampau keras. “Dia dapat muncul di mana-mana. Di sini juga.”

“Tidak mungkin, paman. Jangan paman membohongi aku dan hendak menakut-nakuti aku!”

“Eh, anak buruk! Siapa berbohong?”

“Aku tanggung itu hanya kabar angin saja. Siapa yang pernah melihat dia di sini?”

“Bukan kabar angin. Aku pernah melihatnya sendiri.”

Akim merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tak disangkanya bahwa ia akan memperoleh keterangan yang amat penting dari thai-kam ini. “Aih, paman Akong, engkau hanya main-main saja dan mencoba untuk menakut-nakuti aku!” Akim berkata mengejek.

“Akim, jangan kurang ajar engkau! Kau anggap aku berbohong? Engkau tidak percaya kepadaku?”

Akim mengangguk-angguk. “Maaf, maaf, paman Akong yang baik. Sejak datang di sini bertemu denganmu, aku sudah merasa seolah engkau ini pamanku sendiri. Engkau begini baik, paman. Aku tentu saja percaya kepadamu, akan tetapi ceritamu terlalu aneh. Bagaimana mungkin pembunuh itu dapat berkeliaran di dalam istana?”

“Sssttt, tutup mulutmu yang lancang dan jangan keras-keras bicara. Dengar, aku tidak berbohong. Ketika aku bertugas di bagian putera, pada suatu malam aku melihat bayangan berkelebat dan bayangan itu berhenti sejenak di sudut dinding gudang di belakang. Jelas sekali bayangan itu, dan menyeramkan. Bayangan tinggi besar dan kepalanya mempunyai dua buah tanduk. Huuhhh, masih meremang bulu tengkukku kalau mengenangnya.”

“Dan paman tidak menceritakan kepada siapapun sampai sekarang ini?“

“Mana aku berani? Baru sekarang aku bercerita kepadamu untuk meyakinkan hatimu.”

“Hanya satu kali itu saja paman melihatnya? Dan tidak pernah nampak di bagian puteri sini?”

“Baru satu kali itu, dan tidak pernah ada yang melihat bayangan itu muncul di sini. Dan selain aku sendiri, sebelum itu juga pernah ada ada seorang perajurit pengawal melihat, bahkan mengejar bayangan itu di dalam istana bagian putera, akan tetapi bayangan itu menghilang. Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Kelima terbunuh di luar istana, maka pernah gegerlah istana. Akan tetapi setelah diperiksa di seluruh pelosok, tidak ditemukan Si Bayangan Iblis di istana.”

Tiba-tiba thai-kam itu memberi isyarat agar Akim diam dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan tekun, seolah-olah mereka tidak pernah bercakap-cakap tentang Si Bayangan Iblis. Seorang pelayan lain masuk ke dapur bagian pencucian daging itu. Diam-diam Akim mengenang kembali semua percakapan tadi. Dugaannya kini semakin kuat bahwa sarang gerombolan pembunuh itu, atau setidaknya pemimpin mereka, besar sekali kemungkinannya bersembunyi di dalam istana ini, atau juga pemimpin itu merupakan seorang anggauta keluarga kaisar sendiri, atan pejabat yang bertugas di dalam lingkungan istana.

Jelas bukan Permaisuri atau seorang di antara para selir atau puteri kaisar, karena bayangan itu tidak pernah nampak di sini, melainkan di istana bagian putera. Akan tetapi, ia tidak sama sekali melepaskan kemungkinan bahwa pemimpinnya seorang penghuni bagian puteri, walaupun pemimpin itu bekerja “di belakang layar”. Siapa tahu? Ia harus menyelidikinya di bagian putera. Malam nanti! Tugas yang berbahaya memang, namun tanpa menempuh bahaya itu, bagaimana mungkin ia akan mampu memecahkan rahasia Kwi-eng-cu?

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 09 karya kho ping hoo

Setelah mandi sore dan makan malam, karena tidak ada lagi tugas untuknya, Akim duduk bersila di dalam kamarnya, di atas pembaringan, mengatur pernapasan dan menghimpun tenaga. Siapa tahu malam ini ia membutuhkan banyak tenaga. Ia sudah mengambil keputusan untuk mengalihkan medan penyelidikannya di waktu malam. Tidak lagi di bagian puteri, melainkan di istana induk, tempat tinggal Kaisar dan para pangeran yang masih tinggal di istana.

Ia sudah mendengar keterangan Cian Ciang-kun bahwa istana induk itu berbahaya, dijaga ketat oleh pasukan pengawal thai-kam, dan ada tiga orang jagoan thai-kam yang amat lihai. Maka, ia harus berhati-hati karena ia menyelidiki seorang yang rahasia sehingga ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan di dalam istana itu.

Segala kemungkinan ada. Pemimpin para pembunuh itu mungkin saja seorang pangeran, mungkin seorang thai-kam, mungkin pula permaisuri, bahkan mungkin kaisar sendiri! Mungkin pula pejabat penting yang tinggal di istana karena pekerjaan dan tugasnya.

Ia menanti sampai keadaan di istana menjadi sunyi. Kamarnya berada di antara kamar-kamar para pelayan, pekerja yang paling rendah tingkatnya di istana itu, dan kebetulan sekali setiap jam tentu peronda keamanan lewat di kebun belakang perumahan itu. Maka, ia dapat menghitung waktu dan menjelang tengah malam ia sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memasang kedok kain hitam pula.

Sebetulnya bukan kedok, hanya kain saputangan hitam yang lebar, diikatkan menutupi hidung dan mulutnya. Juga kepalanya dibungkus kain hitam, bahkan menutupi dahinya sehingga yang nampak hanya sepasang matanya saja. Bukan mata Akim lagi, melainkan mata Hek-liong-li Lie Kim Cu, sepasang mata yang jeli, indah dan mencorong amat tajamnya!

Karena maklum bahwa tugasnya amat berbahaya, iapun mengeluarkan pedang pusakanya, Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) yang diselundupkan oleh Cian Ciang-kun dan kemudian disimpan di tempat rahasia, yaitu di bawah atap kamarnya. Pedang itu ia selipkan di ikat pinggang, tertutup oleh jubah hitamnya yang lebar.

Setelah ia mengintai dari jendela kamarnya keluar, dan melihat bahwa malam telah larut dan suasana sudah amat sunyi, dan juga rombongan peronda, yaitu para pengawal thai-kam baru saja lewat. Ia lalu membuka daun jendela kamarnya dan seperti seekor kucing saja, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, tubuhnya sudah meloncat ke luar jendela. Dari luar, daun jendela ditutupnya kembali dengan hati-hati, lalu cepat tubuhnya sudah menyelinap ke dalam kebun di belakang perumahan para pelayan itu. Di kebun ini terdapat banyak pohon, dan iapun menyusup di antara pohon-pohon.

Ia sejak sore tadi sudah memperhitungkan dan merencanakan bagaimana ia akan memasuki istana induk. Tentu saja yang paling mudah dan aman melalui kebun itu. Kebun itu bersambung dengan kebun di belakang istana induk, hanya dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi dan tidak terjaga ketat. Memang tidak perlu dijaga ketat karena orang-orang biasa saja tidak akan dapat melewati tembok itu.

Setelah menanti beberapa menit dan melihat bahwa keadaan sekeliling tetap sunyi, tidak nampak bayangan orang dan tidak terdengar suara apapun, hatinya lega. Tangan kirinya memegang kedua ujung jubah yang diselimutkan di tubuhnya, lalu ia menyelinap di antara pohon-pohon di kebun itu, menuju ke tembok pemisah antara kebun istana puteri dan kebun istana induk.

Ia memang sudah memperhitungkan bahwa malam itu bulan bercahaya cukup terang karena bulan sudah berusia sepuluh hari. Langit bersih dan cerah sehingga dengan mudah ia dapat menyelinap di antara pohon-pohon yang tidak begitu gelap dengan adanya sinar bulan. Ketika ia tiba di bagian terbuka, dan tembok pemisah kebun itu sudah nampak putih cerah tertimpa sinar bulan, tiba-tiba ia terkejut bukan main karena bermunculan delapan bayangan yang agaknya tadi bersembunyi di balik batang pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu!

Melihat gerakan mereka, Akim memperhitungkan bahwa tidak mungkin mereka itu dapat membayanginya sejak tadi tanpa ia dapat melihatnya. Kalau mereka membayanginya sejak tadi, sudah pasti ia dapat melihat, atau setidaknya mendengar gerakan mereka. Jelaslah bahwa mereka memang sudah menanti di balik batang-batang pohon itu sehingga tentu saja ia tidak tahu bahwa ada delapan orang yang agaknya sudah menghadangnya dan menanti kemunculannya! Hal ini hanya berarti bahwa gerakannya sudah diketahui sejak ia meninggalkan kamar, bahkan sudah diketahui bahwa ia akan lewat di tempat itu! Luar biasa sekali.

Akan tetapi hatinya merasa lega, juga sekaligus terheran-heran ketika melihat bahwa pengepungnya itu sama sekali bukan orang-orang berkedok seperti Si Bayangan Iblis! Sama sekali bukan! Mereka itu adalah pengawal-pengawal thai-kam!

“Bayangan Iblis! Menyerahlah, engkau sudah terkepung!” bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok besar.

Teman-temannya ada yang memegang golok, ada yang bersenjata pedang dan mereka itu telah mengepungnya dengan sikap mengancam. Mendengar bentakan ini, Akim merasa semakin heran. Ia malah disangka Si Bayangan Iblis!

Hampir saja ia menyangkal. Akan tetapi kalau ia menyangkal ia harus membuka saputangan hitam penutup mukanya, dan ia tentu akan dicurigai dan ditangkap pula karena ia kini telah menanggalkan penyamarannya sebagai Akim, dan wajahnya kini adalah wajah Liong-li! Andaikata ia berada dalam penyamaranpun, tentu ia tetap akan ditangkap sebagai Akim! Serba salah memang! Maka, begitu si tinggi besar itu membentak, ia sudah membalik dan menerjang orang yang berdiri mengepung di belakangnya.

Melihat gerakan ini, orang yang memegang golok di belakang itu menyerang dengan bacokan golok. Akan tetapi, dengan mudah Akim atau Liong-li mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian ia mengerahkan gin-kangnya dan ia sudah berlari oepat sekali meninggalkan tempat itu!

“Berhenti! Hendak lari ke mana kau?” bentak delapan orang perajurit pengawal itu dan mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi, bayangan orang berpakaian serba hitam itu sudah lenyap ditelan bayangan pohon-pohon!

Dan pada saat delapan orang itu mencari-cari, Liong-li sudah menyamar lagi sebagai Akim dan rebah di atas pembaringannya. Pakaian serba hitam, juga pedang Hek-liong-kiam, sudah tersimpan aman di bawah atap sehingga andaikata para perajurit pengawal menggeledah kamarnya, mereka takkan dapat menemukan tanda-tanda bahwa ialah yang tadi mereka kejar-kejar. Dan iapun merasa lega dan dapat tidur pulas setelah tidak ada gangguan datang, walaupun ia masih menduga-duga dengan heran bagaimana delapan orang pengawal itu tahu-tahu sudah menghadang di sana!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akim sudah bangun dan bekerja seperti biasa, membersihkan dapur dan ia pura-pura acuh saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Semalam Akim tidur nyenyak di kamarnya dan tidak melihat atau mendengar sesuatu sampai bangun pagi hari ini, demikian ia meyakinkan penyamarannya. Akan tetapi, diam-diam ia menaruh perhatian akan keadaan sekelilingnya.

Ia melihat betapa para pelayan lainnya bekerja seperti biasa pula, menyalaminya seperti biasa. Hanya ada satu hal yang dirasa aneh, atau hanya kebetulan saja, yaitu tidak adanya Akong. Ia pura-pura acuh dan tidak berani bertanya, karena kalau ia bertanya, berarti ia menaruh perhatian khusus untuk Akong dan hal itu akan dapat saja menimbulkan kecurigaan. Ia menyapu lantai dapur dengan tenang dan tekun.

Tiba-tiba para pelayan yang sedang sibuk bekerja itu berdiri dengan sikap hormat dan menunda pekerjaan mereka. Akim menoleh dan iapun terheran melihat munculnya seorang perwira thai-kam yang gendut dan yang dikenalnya sebagai Kok Ciang-kun, perwira yang memasukkannya ke dalam istana! Tentu saja ia segera memberi hormat, akan tetapi dengan sikap dingin Kok Ciang-kun memandang kepadanya dan berkata singkat.

“Bergantilah pakaian bersih dan ikut dengan aku!”

“Ke... ke mana, Ciang-kun?” tanyanya dengan jantung berdebar tegang.

“Engkau dipanggil menghadap oleh Hong-houw!”

Liong-li menekan perasaan hatinya yang terguncang sehingga wajahnya hanya membayangkan keheranan, bukan kegelisahan. Ia lalu pergi ke kamarnya dan berganti pakaian sambil mengingat-ingat. Adakah hubungannya panggilan Permaisuri ini dengan peristiwa semalam? Ah, tidak mungkin ada hubungannya, kalau ia dicurigai, andaikata ada sesuatu yang membocorkan rahasianya, tentu ia akan ditangkap oleh pasukan pengawal, bukan dipanggil melalui Kok Ciang-kun, orang yang membawanya masuk ke istana. Tidak, ia tidak perlu gelisah, harus bersikap tenang.

Sebentar saja ia sudah berjalan bersama Kok Ciang-kun meninggalkan ruangan dapur menuju ke istana permaisuri. Di dalam perjalanan ini, ia mencoba memancing dan bertanya kepada Kok Ciang-kun mengapa ia dipanggil oleh Hong-houw. Akan tetapi, Kok Ciang-kun menggeleng kepalanya.

“Aku tidak tahu. Akupun baru pagi ini, pagi-pagi sekali dipanggil menghadap, dan setelah menghadap, aku diutus untuk menjemputmu dan bersama-sama menghadap.”

“Aku... aku bekerja dengan rajin dan sebaik mungkin, aku tidak pernah melakukan kesalahan,” kata Akim dengan suara gelisah. “Apakah beliau kelihatan marah-marah?”

Perwira pengawal thai-kam itu menggeleng kepala. “Menurut pengamatanku, beliau tidak marah, hanya nampak kesal.”

Lega rasa hati Akim. Kalau memang menyangkut urusan besar, tentu permaisuri sudah marah dan ia sudah disuruh tangkap. Ia harus bersikap tenang saja. Mereka berlutut di depan pintu ruangan yang terbuka, agaknya memang sejak tadi dibuka menanti kedatangannya. Seorang dayang pengawal memerintahkan mereka masuk dengan suara lantang, menyampaikan perintah Hong-houw. Mereka lalu bangkit dan melangkah masuk dengan kepala menunduk, kemudian di depan kursi emas Sang Permaisuri Bu Cek Thian, Kok Ciang-kun dan Akim menjatuhkan diri berlutut.

“Ban-swe, ban-ban-swe...!” Mereka berkata dengan khidmat sambil menempelkan dahi ke lantai.

“Bangkitlah kalian!” kata Hong-houw. Keduanya mengangkat kepala dan tubuh mereka tegak, akan tetapi kaki mereka masih berlutut.

“Kok Tay Gu, kepadamu kami mengajukan sebuah saja pertanyaan yang harus kau jawab dengan sebenarnya. Kalau jawabanmu bohong, sekarang juga kami akan perintahkan agar lehermu dipenggal!”

Bukan main keras dan tegasnya ucapan itu dan ketika ia melirik, Akim melihat betapa perwira pengawal itu gemetar seluruh tubuhnya, dan suaranya tergagap ketika dia berkata. “Hamba... hamba akan menjawab dengan sebenarnya... dan bersedia menerima hukuman kalau berbohong.”

“Kenalkah engkau siapa gadis ini dan dari siapa engkau menerimanya?”

Diam-diam Akim terkejut bukan main. Kiranya, di luar dugaannya, memang ada sangkut pautnya dengan dirinya! Ia telah dicurigai dan tentu permaisuri itu tidak bertanya tentang dirinya seperti itu. Kini, kepala pengawal thai-kam itu mati kutu dan dia sudah lemas.

“Hamba... hanya tahu... ia bernama Kim Siauw Hwa dan biasa disebut Akim, dan hamba... hamba dimintai tolong oleh bekas Panglima Cian Hui untuk menerimanya sebagai... dayang atau pelayan di sini... mohon beribu ampun kalau hamba bersalah...”

Hening sejenak. Keheningan yang mencekik rasanya, karena seolah Akim menanti datangnya putusan mati atau hidup! Kemudian terdengar suara itu, suara yang lembut namun mengandung kekerasan seperti baja, akan tetapi suara itu terdengar lega.

“Engkau berkata sebenarnya. Memang ia bernama Kim Siauw Hwa alias Akim dan engkau menerimanya dari Cian Hui. Nah, keluarlah kamu dari sini, laksanakan tugasmu dengan baik. Perintahkan pasukan pengawal untuk lebih ketat lagi menjaga istanaku.”

Akim seolah mendengar betapa kepala pengawal itu bersorak dalam hatinya, dan ia sendiripun merasa lega, seolah baru saja lepas dari himpitan batu besar yang berat. Kok Ciang-kun menghaturkan terima kasih berulang kali, lalu memberi hormat dan benturan dahinya pada lantai sampai menimbulkan kekhawatiran di hati Akim kalau-kalau kepala pengawal menderita gegar otak karenanya.

Kok Ciang-kun mundur dan kini tinggal Akim seorang diri masih berlutut. Karena yang diperintah mundur hanya Kok Ciang-kun, maka ia tidak berani bergerak dan diam saja, walaupun hatinya ingin sekali ia segera terbang dari situ. Baru pertama kali ini selama ia menjadi seorang wanita perkasa, Hek-liong-li Lie Kim Cu merasa gentar! Ia merasa seperti menghadapi seorang lawan yang jauh lebih pandai dan lebih lihai darinya, yang membuat ia merasa hampir tidak berdaya!

Kalau ia disuruh memilih, ia memilih menghadapi dua orang datuk sesat yang lihai dari pada harus mengadapi permaisuri ini sebagai musuh! Ia merasa seperti menghadapi seekor ular berbisa yang amat berbahaya dan ia tidak tahu dari mana dan kapan ular berbisa itu akan mematuk. Membuat ia ingin menghindar jauh-jauh dari tempat itu, sejauh mungkin! Akim masih berlutut dan menundukkan mukanya ketika ia mendengar suara Hong-houw, kini suaranya meninggi dan penuh ejekan.

“Engkau bernama Kim Siauw Hwa, ya? Akim? Hemmm, orang lain boleh saja kau kelabui, akan tetapi jangan mengharap akan dapat mengelabui kami.” Lalu terdengar perintahnya kepada para pengawal, “Ambil air dan sikat, cuci bersih mukanya dan tarik rambut palsunya!”

Bukan main kagetnya rasa hati Liong-li mendengar ini. Kalau ia meloncat, tentu para pengawal itu mengepungnya dan sekali terdengar tanda bahaya, ratusan bahkan ribuan perajurit pengawal akan datang dan ia tidak mungkin dapat lolos. Kalau ia menangkap dan menyandara permaisuri itupun tidak mudah, karena para dayang pengawal nampaknya sudah siap melindungi junjungan mereka.

“Ampun, Yang Mulia. Perkenankan hamba menanggalkan penyamaran hamba sekarang juga!” katanya dan cepat ia menggosok mukanya, melepaskan kedok tipis yang menutupi muka aselinya, dan mencopot pula sedikit rambut palsu yang merubah bentuk sanggulnya. Sanggulnya terlepas, rambut aselinya yang hitam dan halus panjang itu terurai, mukanya yang asli nampak, muka seorang yang cantik jelita dan manis. Bahkan sinar matanyapun kini berubah, tidak lagi bodoh, melainkan mencorong dan tajam penuh kecerdikan!”

Kini permaisuri itu tersenyum. “Hemm, sudah kuduga, engkau tentu seorang wanita yang cantik. Nah, sekarang mengakulah, siapa engkau dan mengapa pula, engkau diseludupkan ke sini oleh Cian Hui?”

Bagaimana pun juga hati Liong-li merasa lega karena tidak terkandung kemarahan atau permusuhan di dalam suara yang lembut dan berwibawa itu. “Ampunkan hamba, Yang Mulia. Akan tetapi sebelum hamba memberi penjelasan, hamba ingin sekali mengetahui bagaimana paduka dapat mengetahui rahasia penyamaran hamba...”

Permaisuri itu tidak marah, sungguh mengherankan hati para dayang pengawal yang menganggap pertanyaan Liong-li itu kurang ajar. Sebaliknya malah permaisuri itu tertawa geli dan senang. Memang hati permaisuri itu merasa senang dan bangga karena pertanyaan Liong-li itu membuktikan bahwa wanita muda yang cerdik sekali dan pandai menyamar sehingga mengelabui mata semua penghuni istana, kini kagum kepadanya dan terheran akan kecerdikannya!”

“Engkau memang seorang perempuan muda yang amat cerdik, akan tetapi bagi kami, kecerdikanmu itu belum seberapa dan tidak ada artinya. Ketika kami mengujimu untuk melihat apakah engkau benar seorang gadis dusun dan bukan seorang mata-mata berbahaya yang menyelundup ke istana, engkau dengan cerdik berlagak bodoh dan bahkan membiarkan punggungmu pecah kulitnya oleh cambuk. Akan tetapi ketika aku mendekat, aku melihat dibalik kain baju yang robek dan kulit punggung yang terluka, dekat luka itu kulitnya putih halus. Aku sudah menduga bahwa tentu kulit tubuhmu yang aseli putih mulus, tidak kecoklatan dan kasar. Tentu engkau telah memolesi seluruh kulit tubuhmu dengan semacam obat cairan. Aku sudah mulai curiga dan engkau lihat siapa yang berdiri di sana itu!”

Karena sejak tadi Liong-li tidak berani mengangkat muka, kini setelah diperintah, ia mengangkat muka dan memandang ke arah yang ditunjuk permaisuri itu. Di sudut sana, berdiri dengan sebatang tombak di tangan, adalah... Akong! Pelayan thai-kam itu ternyata adalah seorang perajurit pengawal yang menjadi kepercayaan sang permaisuri...!

Si Bayangan Iblis Jilid 09

KINI mereka tiba di luar sebuah pintu dan Kok Ciang-kun memberi isyarat kepada Akim untuk berhenti. Kok Ciang-kun lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Akim yang sudah diberitahu sebelumnya untuk mengikuti apa yang dilakukan perwira Thai-kam itu.

“Hamba Kok Tay Gu mohon diperkenankan menghadap Hong-houw!” Dia berkata dengan suara nyaring.

Pintu dibuka dari dalam. Sebuah pintu berukir yang indah dan ketika pintu dibuka, Akim mengangkat muka dan iapun terpesona. Bukan main indahnya ruangan di balik pintu itu! Dan bau semerbak harum menyergap keluar begitu pintu dibuka oleh seorang dayang muda yang cantik. Seluruh isi ruangan itu gemerlapan dengan kemegahan dan kemewahan.

“Terima kasih, terima kasih atas kemurahan hati Hong-houw!” kata pula Kok Ciang-kun.

Sungguh suatu sikap yang berlebihan sehingga baginya seperti adegan dalam panggung wayang atau pelawak saja. Akan tetapi, Akim tidak berani mengangkat muka lagi ketika tadi pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang indah akan tetapi juga mencorong tajam seperti mata kucing di tempat gelap!

“Kok Ciang-kun, yang mulia Hong-houw memerintahkan engkau dan calon dayang ini masuk!” terdengar perintah yang keluar dari mulut seorang dayang lain.

Kok Ciang-kun bangkit dengan sikap hormat, diikuti oleh Akim, kemudian melangkah memasuki kamar. Akim hanya mengikuti saja dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

“Ban-swe, ban-ban-swe (hidup dan panjang usia)!” Kok Ciang-kun menjatuhkan diri berlutut lagi dan membentur-benturkan dahinya di lantai yang bertilamkan permadani merah. Akim juga berlutut dan membentur-benturkan dahinya.

“Kok Tay Gu, inikah gadis dusun yang ingin menjadi dayang itu?” terdengar suara yang halus namun tajam penuh wibawa.

Kok Ciang-kun memberi hormat lagi sebelum menjawab, “Benar sekali, Yang Mulia. Ia seorang gadis dusun bernama Kim Siauw Hwa, biasa disebut Akim, dan ia telah siap melakukan segala macam pekerjaan yang diperintahkan untuknya, siap melayani paduka dengan taruhan nyawa.”

Hemm, taruhan nyawa hidungmu! Demikian Liong-li memaki dalam hatinya. Sungguh segala hal terlalu dilebih-lebihkan di dalam istana ini. Penjilatan agaknya terjadi setiap saat, oleh orang-orang yang amat rendah terhadap orang-orang yang gila hormat.

“Hemmm, namanya Akim? Lucu juga. Akim, angkat mukamu untuk kami lihat!” kata pula suara yang lembut tajam itu.

Akim mengangkat mukanya dan ia melihat kepada seorang wanita yang amat cantik dan anggun. Wanita itu usianya empatpuluh tahun lebih, namun pakaiannya mewah bukan main, dan seluruh tubuhnya terawat dengan rapi. Agaknya setiap helai rambutnya pun tidak terluput dari perawatan sehingga ia nampak seperti hasil sebuah lukisan seorang ahli.

Sepasang matanya tajam mencorong, dan bibir yang penuh gairah dan manis menantang itu dihias dagu yang membayangkan kekerasan hatinya. Hidung kecil mancung itu kembang kempis, pertanda bahwa ia seorang wanita yang memiliki gairah nafsu yang berkobar! Seorang wanita yang amat berbahaya, cerdik seperti iblis, demikian keterangan Cian Hui, kepadanya.

Cepat ketika ia mengangkat mukanya, Akim memasang wajah bodoh dan ketakutan membayang pada pandang matanya yang biasanya tidak kalah tajam dan mencorong dibandingkan sepasang mata permaisuri itu. Wajah wanita itu masih cantik menarik, ditambah lagi dengan riasan yang agak berlebihan sehingga alisnya dibuat melengkung seperti bulan tanggal muda, bibirnya merah semringah, pipinya kemerahan dan kulit mukanya lebih putih dari pada aselinya. Sepasang alis melengkung yang terlalu hitam itu agak berkerut ketika ia melihat wajah dayang baru itu.

“Hemm, engkau terlalu buruk untuk menjadi dayang!” serunya. “Heh, Kok Tay Gu, kenapa engkau membawa seorang gadis berwajah bodoh dan buruk ini untuk menjadi dayang baru? Apa engkau ingin merusak keindahan sebuah taman bunga dengan ratusan aneka bunga jelita dengan menyertakan setangkai bunga yang jelek di dalam taman?”

Kok Ciang-kun sambil berlutut menjawab. “Mohon kemurahan hati paduka untuk mengampuni hamba, Yang Mulia. Biarpun wajahnya tidak berapa cantik namun ia pandai masak, rajin dan besar tenaganya. Iapun bersedia untuk bekerja di dapur atau di mana saja untuk menghambakan diri kepada paduka yang mulia!”

“Hemm, benarkah ia pandai masak dan rajin? Dan ia bertenaga besar dan kuat? Ingin aku melihatnya!”

Akim yang sudah menunduk kembali, juga Kok Ciang-kun, tidak melihat betapa permaisuri itu memberi isyarat dengan mata kepada seorang dayang pengawalnya. Gadis yang bertubuh tegap itu mengambil sebatang cambuk pendek, menghampiri Akim dari belakang. Biarpun Akim berlutut dan menunduk, pendengarannya yang terlatih dan amat tajam sudah sejak tadi menangkap gerakan orang di belakangnya.

Bahkan ia seperti dapat melihat saja ketika gadis dayang itu mengayun cambuknya ke arah punggungnya yang sedang membungkuk. Tentu saja amat mudah baginya untuk mengelak atau menangkis kalau ia kehendaki. Akan tetapi, Akim atau Liong-li adalah seorang wanita yang cerdik bukan main, waspada dan dapat mengetahui keadaan seketika dengan perhitungan yang tepat.

Ia sudah dapat menduga bahwa tentu permaisuri yang cerdik dan berbahaya seperti iblis itu menaruh curiga kepadanya dan kini mengutus seorang pembantunya untuk mengujinya. Kalau dalam keadaan seperti itu ia mampu menghindarkan diri dari serangan cambuk itu, berarti ia membuka rahasianya bahwa ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Karena hanya orang yang memiliki ilmu silat yang sudah tinggi tingkatannya saja mampu menghindarkan diri dari ancaman bahaya tanpa dilihatnya. Sungguh ujian yang keluar dari otak yang cerdik luar biasa, pikirnya dan iapun tidak mengerahkan tenaga sedikitpun ketika cambuk itu menghantam punggung.

“Tarr! Tarrr!” Dua kali cambuk itu menghantam punggungnya, demikian kerasnya sehingga baju di bagian punggung robek-robek, berikut kulit punggungnya yang tidak ia lindungi dengan tenaga sakti. Darah keluar dari kulit punggung yang pecah-pecah dan Akim mengeluarkan jerit kesakitan yang ia lakukan bukan seperti permainan sandiwara, melainkan sungguh-sungguh karena ia tidak menahan diri dan membiarkan naluri perasaannya membuatnya menjerit kesakitan.

Kok Ciang-kun terkejut sekali, akan tetapi tidak berani berkutik ketika permaisuri itu turun dari atas kursi emasnya dan melangkah perlahan untuk memeriksa keadaan punggung gadis dusun yang masih berlutut dan menangis lirih itu. Ia melihat punggung itu terluka oleh cambuk, berdarah dan iapun mengangguk puas.

Benar seorang gadis dusun yang tak begitu cantik, bodoh dan sama sekali tidak memiliki kepandaian yang membahayakan, dan mungkin tenaganya lebih besar dari wanita lain. Hal ini tentu saja wajar kalau mengingat bahwa ia seorang gadis dusun yang sejak kecil biasa bekerja kasar dan keras.

“Kok Tay Gu, Akim ini kami terima sebagai pelayan. Mundurlah, dan kami senang dengan jasamu ini.”

Bukan main girangnya hati Kok Ciang-kun yang tadinya sudah gemetar ketakutan karena dia mengira bahwa kehadiran Akim mendatangkan perasaan tidak senang di hati permaisuri itu. Dia membentur-benturkan dahinya di lantai, menghaturkan terima kasih berulang kali, kemudian merangkak mundur meninggalkan ruangan itu.

Permaisuri Bu Cek Thian berkata kepada seorang dayang pengawal, “Bawa ia ke belakang, beri pakaian dan obati punggungnya. Lalu serahkan ia kepada kepala dapur untuk menerimanya sebagai pembantu di dapur.”

Akim yang sudah mempelajari bagaimana ia harus bersikap di depan sang permaisuri, segera meniru apa yang dilakukan Kok Ciang-kun tadi. Ia membentur-benturkan dahinya di lantai sambil mengucap terima kasih berulang kali, walaupun hatinya mendongkol bukan main dan hatinya ingin sekali menghajar wanita pesolek yang sewenang-wenang dan kejam itu.

Tentu saja ia tidak berani melakukan hal semacam itu, karena betapapun pandainya, kalau ia berani melakukan hal itu, tentu nyawanya takkan dapat tertolong lagi! Wanita di depannya ini adalah permaisuri kaisar, bahkan menurut Cian Hui, wanita ini merupakan orang paling berkuasa di seluruh kerajaan, bahkan kaisar sendiri menjadi seperti boneka dalam genggaman wanita ini.

Ia lalu ditarik berdiri dan didorong secara kasar oleh dayang pengawal yang menerima perintah, diajak keluar dari ruangan itu dan setelah menerima beberapa helai pakaian baru, diobati punggungnya dengan obat bubuk. Ia lalu diajak ke dapur dan diserahkan kepada kepala dapur, seorang laki-laki thai-kam gendut seperti bola yang dari gerak geriknya saja sudah dapat diduga bahwa dia adalah seorang koki yang pandai!

Mulailah Akim atau Hek-liong-li Lie Kim Cu bekerja di dapur istana permaisuri yang menjadi satu dengan dapur istana kaisar. Hanya saja para pekerja thai-kam sajalah yang diperbolehkan masuk ke bagian puteri sedangkan para pekerja pria biasa sama sekali dilarang dan mereka ini yang membawa masakan dan segala keperluan lain ke istana bagian putera.

Karena pandai membawa diri, dalam waktu sehari saja Akim yang rajin disuka oleh mereka yang bekerja di dapur, apa lagi mendengar bahwa Akim diterima dan ditunjuk sendiri oleh permaisuri bekerja di bagian dapur. Karena ia ditunjuk sendiri oleh Permaisuri, maka ia dianggap “istimewa” dan tidak ada yang berani mengganggu. Pula, Akim pandai sekali memperlihatkan sikap yang tidak menarik bagi pria, dan ia kelihatan sebagai seorang gadis yang bodoh dan kaku walaupun rajin dan memiliki bentuk tubuh yang elok.

Malamnya, Akim mendapatkan sebuah kamar di antara deretan kamar para pelayan di bagian paling belakang, dekat dapur. Karena ia dianggap istimewa pula, pekerja yang ditunjuk permaisuri, maka ia mendapatkan sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Pelayan lain merasa enggan untuk tinggal sekamar dengannya, karena seorang yang ditunjuk oleh permaisuri dianggap berbahaya. Siapa tahu ia mata-mata permaisuri yang mencatat semua kegiatan mereka?

Permaisuri amat galak dan siapa yang bersalah mendapatkan hukuman yang mengerikan. Pernah ada seorang pelayan wanita di dapur yang wajahnya manis, tertangkap basah ketika ia melakukan hubungan mesra dengan seorang pelayan pria dari bagian putera. Permaisuri yang menganggap pelayan itu menodai “kesucian” istana bagian puteri, dipaksa mati secara mengerikan.

Ia dipaksa duduk di atas sebuah kursi, dengan kaki dan tangan terikat kepada kursi sehingga tak mampu bergerak. Kemudian, sebuah kantung kain diselubungkan ke kepalanya dan diikat tertutup rapat-rapat. Tentu saja setelah udara di dalam kantung itu habis, wanita malang itu tidak dapat bernapas. Akan tetapi ia tidak mampu meronta, hanya kepalanya saja yang meronta-ronta minta lepas, akan tetapi sebentar saja kepala itu terkulai dan ia tewas. Mayatnya dikubur diam-diam dan semua hukuman ini berlangsung secara rahasia tanpa diketahui orang luar, kecuali para pekerja di istana.

Tentu saja Akim yang “diasingkan” oleh para pekerja lain, merasa girang bukan main. Justeru inilah yang ia kehendaki. Karena ia memiliki kamar tersendiri, dengan leluasa ia mampu mengadakan penyelidikan. Pada malam harinya, setelah semua orang tidur, Akim mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam yang sudah ia persiapkan, menutupi mukanya dengan topeng kain, dan iapun menyelinap keluar dari dalam kamarnya tanpa diketahui siapapun. Ia lalu mulai dengan penyelidikannya.

Malam pertama itu ia tidak bertemu dengan Bayangan Iblis seorangpun, hanya melihat seorang kebiri berjalan mengiringkan seorang dayang pengawal menuju ke kamar Sang Permaisuri. Laki-laki kebiri itu usianya kurang lebih tigapuluh tahun, wajahnya ganteng dengan kulit putih bersih dan perawakannya jantan, tinggi besar dan kokoh kuat.

Hal ini membuat Akim tertegun dan terheran-heran. Memang hanya para thai-kam (laki-laki kebiri) saja yang diperbolehkan berkeliaran melakukan tugas masing-masing di istana bagian puteri. Laki-laki kebiri dianggap “aman” karena tidak mungkin dapat melakukan hubungan gelap dengan para wanita istana.

Kalau ia melihat thai-kam itu memasuki kamar Sang Permaisuri pada siang hari, ia tidak akan merasa heran. Akan tetapi malam hari? Dan ketika semua orang sudah tidur dan mengunci pintu kamar mereka? Sungguh janggal! Apa lagi ketika ia melihat thai-kam itu memasuki kamar sang permaisuri seorang diri saja, sedangkan dayang pengawal yang tadi bersamanya tinggal di luar dan melakukan penjagaan dengan para dayang pengawal lainnya, enam orang jumlahnya.

Apa saja yang dikerjakan thai-kam itu di dalam kamar sang permaisuri? Ah, mungkin dia seorang ahli pijat, pikir Akim. Ya, tentu saja. Thai-kam itu seorang ahli pijat dan kini bertugas memijati tubuh sang permaisuri, untuk mengusir semua kelelahan dari tubuh yang amat dimanja itu.

Tentu saja Akim tidak mau menghabiskan waktu untuk menyelidiki persoalan pribadi Sang Permaisuri yang agaknya tidak ada sangkut pautnya dengan Kwi-eng-cu, dan ia melakukan penyelidikan ke bagian lain. Namun malam itu ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Keesokan harinya, sambil bekerja, iapun memasang mata dan telinga untuk mengamati setiap orang bahkan ia berhasil memancing seorang pelayan kebiri yang setengah tua dan yang gemar mengobrol untuk bicara tentang Kwi-eng-cu. Mereka berdua sedang mencabuti bulu ayam.

Istana memang merupakan tempat keroyalan dan kemewahan. Setiap hari tidak kurang dari seratus ekor ayam gemuk dipotong, belum daging babi atau kambing atau sapi, juga ikan dan banyak macam sayuran. Maka, mencabuti bulu ayam memakan waktu yang cukup lama sehingga Akim dan thai-kam itu mempunyai waktu untuk mengobrol.

“Ketika aku datang dari dusun ke kota raja, aku mendengar kabar angin tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja. Aku menjadi ngeri. Siapakah yang dibunuh dan siapa pula yang membunuh, paman?” Akim mulai memancing, dengan suara biasa dan sikap acuh, sambil lalu saja.

Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Akong, si thai-kam, nampak terkejut dan ketakutan. Dia menoleh ke kanan kiri. Akan tetapi memang di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Tempat pencucian daging itu memang tidak sebersih bagian lain dan orang enggan ke situ kalau tidak untuk bekerja. Akim tentu saja sudah yakin bahwa tidak ada orang lain mendengarkan percakapan mereka.

“Kenapa, paman?”

“Hushhh, jangan keras-keras. Kalau terdengar dia, salah-salah malam nanti lehermu atau leherku putus!”

Akim menjadi ketakutan dan ia menggeser duduknya mendekati thai-kam itu, suaranya gemetar dan tubuhnya menggigil. “Aih, paman, aku... aku takut...!” katanya lirih setengah berbisik. “Akan tetapi... kenapa tidak boleh keras-keras...? Dan... siapa yang melarang kita bicara?” Ia sengaja memperlihatkan wajah ketakutan. “Paman, kalau bersamamu, aku tentu akan selamat. Jangan takut-takuti aku, paman.”

Akong menyeringai bangga. “Boleh, bicara, akan tetapi jangan keras-keras. Kabarnya, Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) memiliki seribu telinga dan kita tidak boleh bicara buruk tentang dia. Bisa berbahaya!” katanya lirih pula.

“Ah, agaknya paman tahu banyak. Aku ingin sekali mendengar, paman. Siapa sih Kwi-eng-cu itu?”

“Ssttt, berbisik saja,” kata thai-kam itu sambil mendekat dan bicara kasak-kusuk berbisik. “Dia seorang yang entah manusia entah dewa, akan tetapi semenjak terjadi pembunuhan, sudah puluhan orang pejabat tinggi terbunuh, ada yang melihat munculnya Si Bayangan Iblis itu. Tak seorangpun melihat dia yang melakukan pembunuhan, hanya timbul dugaan karena dia muncul ketika terjadi pembunuhan-pembunuhan...”

“Ih, betapa mengerikan! Apakah tidak kelihatan orangnya, paman?”

Akong menggeleng. “Dia bergerak cepat dan hanya nampak bayangannya saja. Bayangan tinggi besar dan kepalanya bertanduk, karena itu dinamakan Si Bayangan Iblis...”

“Hiiii, menakutkan sekali !” Akim kembali menggigil. “Akan tetapi kita aman, paman, Sehebat-hebatnya dia, tidak mungkin dia berani muncul di lingkungan istana ini!”

“Siapa bilang? Sstttt...!” Dia memperingatkan diri sendiri yang bicara terlampau keras. “Dia dapat muncul di mana-mana. Di sini juga.”

“Tidak mungkin, paman. Jangan paman membohongi aku dan hendak menakut-nakuti aku!”

“Eh, anak buruk! Siapa berbohong?”

“Aku tanggung itu hanya kabar angin saja. Siapa yang pernah melihat dia di sini?”

“Bukan kabar angin. Aku pernah melihatnya sendiri.”

Akim merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tak disangkanya bahwa ia akan memperoleh keterangan yang amat penting dari thai-kam ini. “Aih, paman Akong, engkau hanya main-main saja dan mencoba untuk menakut-nakuti aku!” Akim berkata mengejek.

“Akim, jangan kurang ajar engkau! Kau anggap aku berbohong? Engkau tidak percaya kepadaku?”

Akim mengangguk-angguk. “Maaf, maaf, paman Akong yang baik. Sejak datang di sini bertemu denganmu, aku sudah merasa seolah engkau ini pamanku sendiri. Engkau begini baik, paman. Aku tentu saja percaya kepadamu, akan tetapi ceritamu terlalu aneh. Bagaimana mungkin pembunuh itu dapat berkeliaran di dalam istana?”

“Sssttt, tutup mulutmu yang lancang dan jangan keras-keras bicara. Dengar, aku tidak berbohong. Ketika aku bertugas di bagian putera, pada suatu malam aku melihat bayangan berkelebat dan bayangan itu berhenti sejenak di sudut dinding gudang di belakang. Jelas sekali bayangan itu, dan menyeramkan. Bayangan tinggi besar dan kepalanya mempunyai dua buah tanduk. Huuhhh, masih meremang bulu tengkukku kalau mengenangnya.”

“Dan paman tidak menceritakan kepada siapapun sampai sekarang ini?“

“Mana aku berani? Baru sekarang aku bercerita kepadamu untuk meyakinkan hatimu.”

“Hanya satu kali itu saja paman melihatnya? Dan tidak pernah nampak di bagian puteri sini?”

“Baru satu kali itu, dan tidak pernah ada yang melihat bayangan itu muncul di sini. Dan selain aku sendiri, sebelum itu juga pernah ada ada seorang perajurit pengawal melihat, bahkan mengejar bayangan itu di dalam istana bagian putera, akan tetapi bayangan itu menghilang. Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Kelima terbunuh di luar istana, maka pernah gegerlah istana. Akan tetapi setelah diperiksa di seluruh pelosok, tidak ditemukan Si Bayangan Iblis di istana.”

Tiba-tiba thai-kam itu memberi isyarat agar Akim diam dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan tekun, seolah-olah mereka tidak pernah bercakap-cakap tentang Si Bayangan Iblis. Seorang pelayan lain masuk ke dapur bagian pencucian daging itu. Diam-diam Akim mengenang kembali semua percakapan tadi. Dugaannya kini semakin kuat bahwa sarang gerombolan pembunuh itu, atau setidaknya pemimpin mereka, besar sekali kemungkinannya bersembunyi di dalam istana ini, atau juga pemimpin itu merupakan seorang anggauta keluarga kaisar sendiri, atan pejabat yang bertugas di dalam lingkungan istana.

Jelas bukan Permaisuri atau seorang di antara para selir atau puteri kaisar, karena bayangan itu tidak pernah nampak di sini, melainkan di istana bagian putera. Akan tetapi, ia tidak sama sekali melepaskan kemungkinan bahwa pemimpinnya seorang penghuni bagian puteri, walaupun pemimpin itu bekerja “di belakang layar”. Siapa tahu? Ia harus menyelidikinya di bagian putera. Malam nanti! Tugas yang berbahaya memang, namun tanpa menempuh bahaya itu, bagaimana mungkin ia akan mampu memecahkan rahasia Kwi-eng-cu?

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 09 karya kho ping hoo

Setelah mandi sore dan makan malam, karena tidak ada lagi tugas untuknya, Akim duduk bersila di dalam kamarnya, di atas pembaringan, mengatur pernapasan dan menghimpun tenaga. Siapa tahu malam ini ia membutuhkan banyak tenaga. Ia sudah mengambil keputusan untuk mengalihkan medan penyelidikannya di waktu malam. Tidak lagi di bagian puteri, melainkan di istana induk, tempat tinggal Kaisar dan para pangeran yang masih tinggal di istana.

Ia sudah mendengar keterangan Cian Ciang-kun bahwa istana induk itu berbahaya, dijaga ketat oleh pasukan pengawal thai-kam, dan ada tiga orang jagoan thai-kam yang amat lihai. Maka, ia harus berhati-hati karena ia menyelidiki seorang yang rahasia sehingga ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan di dalam istana itu.

Segala kemungkinan ada. Pemimpin para pembunuh itu mungkin saja seorang pangeran, mungkin seorang thai-kam, mungkin pula permaisuri, bahkan mungkin kaisar sendiri! Mungkin pula pejabat penting yang tinggal di istana karena pekerjaan dan tugasnya.

Ia menanti sampai keadaan di istana menjadi sunyi. Kamarnya berada di antara kamar-kamar para pelayan, pekerja yang paling rendah tingkatnya di istana itu, dan kebetulan sekali setiap jam tentu peronda keamanan lewat di kebun belakang perumahan itu. Maka, ia dapat menghitung waktu dan menjelang tengah malam ia sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memasang kedok kain hitam pula.

Sebetulnya bukan kedok, hanya kain saputangan hitam yang lebar, diikatkan menutupi hidung dan mulutnya. Juga kepalanya dibungkus kain hitam, bahkan menutupi dahinya sehingga yang nampak hanya sepasang matanya saja. Bukan mata Akim lagi, melainkan mata Hek-liong-li Lie Kim Cu, sepasang mata yang jeli, indah dan mencorong amat tajamnya!

Karena maklum bahwa tugasnya amat berbahaya, iapun mengeluarkan pedang pusakanya, Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) yang diselundupkan oleh Cian Ciang-kun dan kemudian disimpan di tempat rahasia, yaitu di bawah atap kamarnya. Pedang itu ia selipkan di ikat pinggang, tertutup oleh jubah hitamnya yang lebar.

Setelah ia mengintai dari jendela kamarnya keluar, dan melihat bahwa malam telah larut dan suasana sudah amat sunyi, dan juga rombongan peronda, yaitu para pengawal thai-kam baru saja lewat. Ia lalu membuka daun jendela kamarnya dan seperti seekor kucing saja, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, tubuhnya sudah meloncat ke luar jendela. Dari luar, daun jendela ditutupnya kembali dengan hati-hati, lalu cepat tubuhnya sudah menyelinap ke dalam kebun di belakang perumahan para pelayan itu. Di kebun ini terdapat banyak pohon, dan iapun menyusup di antara pohon-pohon.

Ia sejak sore tadi sudah memperhitungkan dan merencanakan bagaimana ia akan memasuki istana induk. Tentu saja yang paling mudah dan aman melalui kebun itu. Kebun itu bersambung dengan kebun di belakang istana induk, hanya dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi dan tidak terjaga ketat. Memang tidak perlu dijaga ketat karena orang-orang biasa saja tidak akan dapat melewati tembok itu.

Setelah menanti beberapa menit dan melihat bahwa keadaan sekeliling tetap sunyi, tidak nampak bayangan orang dan tidak terdengar suara apapun, hatinya lega. Tangan kirinya memegang kedua ujung jubah yang diselimutkan di tubuhnya, lalu ia menyelinap di antara pohon-pohon di kebun itu, menuju ke tembok pemisah antara kebun istana puteri dan kebun istana induk.

Ia memang sudah memperhitungkan bahwa malam itu bulan bercahaya cukup terang karena bulan sudah berusia sepuluh hari. Langit bersih dan cerah sehingga dengan mudah ia dapat menyelinap di antara pohon-pohon yang tidak begitu gelap dengan adanya sinar bulan. Ketika ia tiba di bagian terbuka, dan tembok pemisah kebun itu sudah nampak putih cerah tertimpa sinar bulan, tiba-tiba ia terkejut bukan main karena bermunculan delapan bayangan yang agaknya tadi bersembunyi di balik batang pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu!

Melihat gerakan mereka, Akim memperhitungkan bahwa tidak mungkin mereka itu dapat membayanginya sejak tadi tanpa ia dapat melihatnya. Kalau mereka membayanginya sejak tadi, sudah pasti ia dapat melihat, atau setidaknya mendengar gerakan mereka. Jelaslah bahwa mereka memang sudah menanti di balik batang-batang pohon itu sehingga tentu saja ia tidak tahu bahwa ada delapan orang yang agaknya sudah menghadangnya dan menanti kemunculannya! Hal ini hanya berarti bahwa gerakannya sudah diketahui sejak ia meninggalkan kamar, bahkan sudah diketahui bahwa ia akan lewat di tempat itu! Luar biasa sekali.

Akan tetapi hatinya merasa lega, juga sekaligus terheran-heran ketika melihat bahwa pengepungnya itu sama sekali bukan orang-orang berkedok seperti Si Bayangan Iblis! Sama sekali bukan! Mereka itu adalah pengawal-pengawal thai-kam!

“Bayangan Iblis! Menyerahlah, engkau sudah terkepung!” bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok besar.

Teman-temannya ada yang memegang golok, ada yang bersenjata pedang dan mereka itu telah mengepungnya dengan sikap mengancam. Mendengar bentakan ini, Akim merasa semakin heran. Ia malah disangka Si Bayangan Iblis!

Hampir saja ia menyangkal. Akan tetapi kalau ia menyangkal ia harus membuka saputangan hitam penutup mukanya, dan ia tentu akan dicurigai dan ditangkap pula karena ia kini telah menanggalkan penyamarannya sebagai Akim, dan wajahnya kini adalah wajah Liong-li! Andaikata ia berada dalam penyamaranpun, tentu ia tetap akan ditangkap sebagai Akim! Serba salah memang! Maka, begitu si tinggi besar itu membentak, ia sudah membalik dan menerjang orang yang berdiri mengepung di belakangnya.

Melihat gerakan ini, orang yang memegang golok di belakang itu menyerang dengan bacokan golok. Akan tetapi, dengan mudah Akim atau Liong-li mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian ia mengerahkan gin-kangnya dan ia sudah berlari oepat sekali meninggalkan tempat itu!

“Berhenti! Hendak lari ke mana kau?” bentak delapan orang perajurit pengawal itu dan mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi, bayangan orang berpakaian serba hitam itu sudah lenyap ditelan bayangan pohon-pohon!

Dan pada saat delapan orang itu mencari-cari, Liong-li sudah menyamar lagi sebagai Akim dan rebah di atas pembaringannya. Pakaian serba hitam, juga pedang Hek-liong-kiam, sudah tersimpan aman di bawah atap sehingga andaikata para perajurit pengawal menggeledah kamarnya, mereka takkan dapat menemukan tanda-tanda bahwa ialah yang tadi mereka kejar-kejar. Dan iapun merasa lega dan dapat tidur pulas setelah tidak ada gangguan datang, walaupun ia masih menduga-duga dengan heran bagaimana delapan orang pengawal itu tahu-tahu sudah menghadang di sana!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akim sudah bangun dan bekerja seperti biasa, membersihkan dapur dan ia pura-pura acuh saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya. Semalam Akim tidur nyenyak di kamarnya dan tidak melihat atau mendengar sesuatu sampai bangun pagi hari ini, demikian ia meyakinkan penyamarannya. Akan tetapi, diam-diam ia menaruh perhatian akan keadaan sekelilingnya.

Ia melihat betapa para pelayan lainnya bekerja seperti biasa pula, menyalaminya seperti biasa. Hanya ada satu hal yang dirasa aneh, atau hanya kebetulan saja, yaitu tidak adanya Akong. Ia pura-pura acuh dan tidak berani bertanya, karena kalau ia bertanya, berarti ia menaruh perhatian khusus untuk Akong dan hal itu akan dapat saja menimbulkan kecurigaan. Ia menyapu lantai dapur dengan tenang dan tekun.

Tiba-tiba para pelayan yang sedang sibuk bekerja itu berdiri dengan sikap hormat dan menunda pekerjaan mereka. Akim menoleh dan iapun terheran melihat munculnya seorang perwira thai-kam yang gendut dan yang dikenalnya sebagai Kok Ciang-kun, perwira yang memasukkannya ke dalam istana! Tentu saja ia segera memberi hormat, akan tetapi dengan sikap dingin Kok Ciang-kun memandang kepadanya dan berkata singkat.

“Bergantilah pakaian bersih dan ikut dengan aku!”

“Ke... ke mana, Ciang-kun?” tanyanya dengan jantung berdebar tegang.

“Engkau dipanggil menghadap oleh Hong-houw!”

Liong-li menekan perasaan hatinya yang terguncang sehingga wajahnya hanya membayangkan keheranan, bukan kegelisahan. Ia lalu pergi ke kamarnya dan berganti pakaian sambil mengingat-ingat. Adakah hubungannya panggilan Permaisuri ini dengan peristiwa semalam? Ah, tidak mungkin ada hubungannya, kalau ia dicurigai, andaikata ada sesuatu yang membocorkan rahasianya, tentu ia akan ditangkap oleh pasukan pengawal, bukan dipanggil melalui Kok Ciang-kun, orang yang membawanya masuk ke istana. Tidak, ia tidak perlu gelisah, harus bersikap tenang.

Sebentar saja ia sudah berjalan bersama Kok Ciang-kun meninggalkan ruangan dapur menuju ke istana permaisuri. Di dalam perjalanan ini, ia mencoba memancing dan bertanya kepada Kok Ciang-kun mengapa ia dipanggil oleh Hong-houw. Akan tetapi, Kok Ciang-kun menggeleng kepalanya.

“Aku tidak tahu. Akupun baru pagi ini, pagi-pagi sekali dipanggil menghadap, dan setelah menghadap, aku diutus untuk menjemputmu dan bersama-sama menghadap.”

“Aku... aku bekerja dengan rajin dan sebaik mungkin, aku tidak pernah melakukan kesalahan,” kata Akim dengan suara gelisah. “Apakah beliau kelihatan marah-marah?”

Perwira pengawal thai-kam itu menggeleng kepala. “Menurut pengamatanku, beliau tidak marah, hanya nampak kesal.”

Lega rasa hati Akim. Kalau memang menyangkut urusan besar, tentu permaisuri sudah marah dan ia sudah disuruh tangkap. Ia harus bersikap tenang saja. Mereka berlutut di depan pintu ruangan yang terbuka, agaknya memang sejak tadi dibuka menanti kedatangannya. Seorang dayang pengawal memerintahkan mereka masuk dengan suara lantang, menyampaikan perintah Hong-houw. Mereka lalu bangkit dan melangkah masuk dengan kepala menunduk, kemudian di depan kursi emas Sang Permaisuri Bu Cek Thian, Kok Ciang-kun dan Akim menjatuhkan diri berlutut.

“Ban-swe, ban-ban-swe...!” Mereka berkata dengan khidmat sambil menempelkan dahi ke lantai.

“Bangkitlah kalian!” kata Hong-houw. Keduanya mengangkat kepala dan tubuh mereka tegak, akan tetapi kaki mereka masih berlutut.

“Kok Tay Gu, kepadamu kami mengajukan sebuah saja pertanyaan yang harus kau jawab dengan sebenarnya. Kalau jawabanmu bohong, sekarang juga kami akan perintahkan agar lehermu dipenggal!”

Bukan main keras dan tegasnya ucapan itu dan ketika ia melirik, Akim melihat betapa perwira pengawal itu gemetar seluruh tubuhnya, dan suaranya tergagap ketika dia berkata. “Hamba... hamba akan menjawab dengan sebenarnya... dan bersedia menerima hukuman kalau berbohong.”

“Kenalkah engkau siapa gadis ini dan dari siapa engkau menerimanya?”

Diam-diam Akim terkejut bukan main. Kiranya, di luar dugaannya, memang ada sangkut pautnya dengan dirinya! Ia telah dicurigai dan tentu permaisuri itu tidak bertanya tentang dirinya seperti itu. Kini, kepala pengawal thai-kam itu mati kutu dan dia sudah lemas.

“Hamba... hanya tahu... ia bernama Kim Siauw Hwa dan biasa disebut Akim, dan hamba... hamba dimintai tolong oleh bekas Panglima Cian Hui untuk menerimanya sebagai... dayang atau pelayan di sini... mohon beribu ampun kalau hamba bersalah...”

Hening sejenak. Keheningan yang mencekik rasanya, karena seolah Akim menanti datangnya putusan mati atau hidup! Kemudian terdengar suara itu, suara yang lembut namun mengandung kekerasan seperti baja, akan tetapi suara itu terdengar lega.

“Engkau berkata sebenarnya. Memang ia bernama Kim Siauw Hwa alias Akim dan engkau menerimanya dari Cian Hui. Nah, keluarlah kamu dari sini, laksanakan tugasmu dengan baik. Perintahkan pasukan pengawal untuk lebih ketat lagi menjaga istanaku.”

Akim seolah mendengar betapa kepala pengawal itu bersorak dalam hatinya, dan ia sendiripun merasa lega, seolah baru saja lepas dari himpitan batu besar yang berat. Kok Ciang-kun menghaturkan terima kasih berulang kali, lalu memberi hormat dan benturan dahinya pada lantai sampai menimbulkan kekhawatiran di hati Akim kalau-kalau kepala pengawal menderita gegar otak karenanya.

Kok Ciang-kun mundur dan kini tinggal Akim seorang diri masih berlutut. Karena yang diperintah mundur hanya Kok Ciang-kun, maka ia tidak berani bergerak dan diam saja, walaupun hatinya ingin sekali ia segera terbang dari situ. Baru pertama kali ini selama ia menjadi seorang wanita perkasa, Hek-liong-li Lie Kim Cu merasa gentar! Ia merasa seperti menghadapi seorang lawan yang jauh lebih pandai dan lebih lihai darinya, yang membuat ia merasa hampir tidak berdaya!

Kalau ia disuruh memilih, ia memilih menghadapi dua orang datuk sesat yang lihai dari pada harus mengadapi permaisuri ini sebagai musuh! Ia merasa seperti menghadapi seekor ular berbisa yang amat berbahaya dan ia tidak tahu dari mana dan kapan ular berbisa itu akan mematuk. Membuat ia ingin menghindar jauh-jauh dari tempat itu, sejauh mungkin! Akim masih berlutut dan menundukkan mukanya ketika ia mendengar suara Hong-houw, kini suaranya meninggi dan penuh ejekan.

“Engkau bernama Kim Siauw Hwa, ya? Akim? Hemmm, orang lain boleh saja kau kelabui, akan tetapi jangan mengharap akan dapat mengelabui kami.” Lalu terdengar perintahnya kepada para pengawal, “Ambil air dan sikat, cuci bersih mukanya dan tarik rambut palsunya!”

Bukan main kagetnya rasa hati Liong-li mendengar ini. Kalau ia meloncat, tentu para pengawal itu mengepungnya dan sekali terdengar tanda bahaya, ratusan bahkan ribuan perajurit pengawal akan datang dan ia tidak mungkin dapat lolos. Kalau ia menangkap dan menyandara permaisuri itupun tidak mudah, karena para dayang pengawal nampaknya sudah siap melindungi junjungan mereka.

“Ampun, Yang Mulia. Perkenankan hamba menanggalkan penyamaran hamba sekarang juga!” katanya dan cepat ia menggosok mukanya, melepaskan kedok tipis yang menutupi muka aselinya, dan mencopot pula sedikit rambut palsu yang merubah bentuk sanggulnya. Sanggulnya terlepas, rambut aselinya yang hitam dan halus panjang itu terurai, mukanya yang asli nampak, muka seorang yang cantik jelita dan manis. Bahkan sinar matanyapun kini berubah, tidak lagi bodoh, melainkan mencorong dan tajam penuh kecerdikan!”

Kini permaisuri itu tersenyum. “Hemm, sudah kuduga, engkau tentu seorang wanita yang cantik. Nah, sekarang mengakulah, siapa engkau dan mengapa pula, engkau diseludupkan ke sini oleh Cian Hui?”

Bagaimana pun juga hati Liong-li merasa lega karena tidak terkandung kemarahan atau permusuhan di dalam suara yang lembut dan berwibawa itu. “Ampunkan hamba, Yang Mulia. Akan tetapi sebelum hamba memberi penjelasan, hamba ingin sekali mengetahui bagaimana paduka dapat mengetahui rahasia penyamaran hamba...”

Permaisuri itu tidak marah, sungguh mengherankan hati para dayang pengawal yang menganggap pertanyaan Liong-li itu kurang ajar. Sebaliknya malah permaisuri itu tertawa geli dan senang. Memang hati permaisuri itu merasa senang dan bangga karena pertanyaan Liong-li itu membuktikan bahwa wanita muda yang cerdik sekali dan pandai menyamar sehingga mengelabui mata semua penghuni istana, kini kagum kepadanya dan terheran akan kecerdikannya!”

“Engkau memang seorang perempuan muda yang amat cerdik, akan tetapi bagi kami, kecerdikanmu itu belum seberapa dan tidak ada artinya. Ketika kami mengujimu untuk melihat apakah engkau benar seorang gadis dusun dan bukan seorang mata-mata berbahaya yang menyelundup ke istana, engkau dengan cerdik berlagak bodoh dan bahkan membiarkan punggungmu pecah kulitnya oleh cambuk. Akan tetapi ketika aku mendekat, aku melihat dibalik kain baju yang robek dan kulit punggung yang terluka, dekat luka itu kulitnya putih halus. Aku sudah menduga bahwa tentu kulit tubuhmu yang aseli putih mulus, tidak kecoklatan dan kasar. Tentu engkau telah memolesi seluruh kulit tubuhmu dengan semacam obat cairan. Aku sudah mulai curiga dan engkau lihat siapa yang berdiri di sana itu!”

Karena sejak tadi Liong-li tidak berani mengangkat muka, kini setelah diperintah, ia mengangkat muka dan memandang ke arah yang ditunjuk permaisuri itu. Di sudut sana, berdiri dengan sebatang tombak di tangan, adalah... Akong! Pelayan thai-kam itu ternyata adalah seorang perajurit pengawal yang menjadi kepercayaan sang permaisuri...!