Social Items

PONDOK itu sederhana saja, tersembunyi di bawah pohon cemara dan semak belukar tumbuh di sekelilingnya sehingga pondok itu tidak nampak dari bawah puncak.

“Giam susiok...!” Sui In memanggil beberapa kali di luar pondok.

Tidak ada jawaban. Sunyi sekeliling dan perasaan hati wanita itu semakin gelisah. Ia saling pandang dengan Pek-liong dan pendekar ini memberi isyarat dengan pandang matanya ke arah pintu pondok, Sui In mengangguk dan mereka lalu menghampiri pintu pondok, mendorongnya terbuka.

“Susiok...!” Sui In terkejut bukan main melihat paman gurunya sudah rebah miring di atas lantai tanah pondok itu. Ia meloncat masuk diikuti Pek-liong dan keduanya berlutut dekat tubuh yang menggeletak miring.

“Dia sudah tewas,” kata Pek-liong dan Sui In mengangguk, wajahnya pucat dan matanya terbelalak.

“Lihat ini...” kata Pek-liong menunjuk ke arah lantai dan ketika Sui In memandang sambil mendekatkan mukanya, iapun melihat betapa dekat tangan yang terkulai itu, di atas lantai tanah, terdapat tulisan. Huruf-hurufnya cukup jelas dan ia membacanya.

“Pek-mau-kwi... Kwi-eng-cu...!”

“Aih, Kwi-eng-cu...??” Gadis itu nampak terkejut sekali sehingga Pek-liong cepat bertanya.

“Siapa itu Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)?”

Sui In memandang dengan kedua mata basah. “Aku... aku mencari paman justeru... justeru... karena urusan Kwi-eng-cu dan ternyata paman guruku telah menjadi korban Kwi-eng-cu pula!”

Gadis itu menangis, teringat akan kematian suaminya dan kini kematian susioknya (paman gurunya), pada hal tadinya ia mengharapkan bantuan paman gurunya untuk dapat membalas dendam kepada Kwi-eng-cu. Pek-liong membiarkan wanita itu menangis sejenak, setelah Sui In dapat menguasai dirinya, dia lalu berkata,

“Sudahlah, In-moi. Susiokmu sudah tewas dan ditangisi bagaimanapun juga, tidak ada gunanya. Jauh lebih baik kalau kita segera mengubur jenazahnya.”

Sui In mengangguk dan Pek-liong lalu mencari sebuah cangkul di bagian belakang pondok itu, memilih tempat yang baik dan diapun segera bekerja, menggali lubang kuburan. Dan tak lama kemudian, jenazah Giam Sun, kakek berusia enampuluh tahun tokoh Kun-lun-pai itu telah dikubur secara sederhana. Kemudian disembayangi secara sederhana pula, tanpa alat sembahyang, hanya dengan berlutut di depan makam dan berdoa di dalam hati, namun dua orang muda itu bersembahyang dengan khidmat.

Setelah penguburan selesai, barulah Pek-liong berkata, “Nah, sekarang coba kauceritakan kepadaku siapa itu Kwi-eng-cu dan apa hubungannya dengan kedatanganmu ke sini dan dengan semua peristiwa ini, In-moi!”

Sui In menarik napas panjang, terkenang akan semua peristiwa buruk yang menimpa dirinya. “Aku tinggal di ibu kota, toako. Selama beberapa bulan ini, di kota raja timbul peristiwa yang menggegerkan, yaitu dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap beberapa orang pejabat penting. Tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh itu, hanya ada yang melihat bayangan yang bertanduk, seperti iblis. Karena itu maka pembunuh itu hanya dinamakan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) tanpa ada yang menduga siapa dia dan di mana sarangnya. Di antara banyak pejabat yang terbunuh itu, termasuk juga suamiku...”

“Ah...! Suamimu seorang pejabat dan dia pun tewas oleh Kwi-eng-cu?”

Tentu saja Pek-liong terkejut dan kini dia memandang wajah wanita itu dengan perasaan iba. Sui In melihat pandang mata penuh iba itu, maka iapun berterima kasih dengan senyum kecil!

“Aku sudah dapat mengatasi peristiwa itu, toako. Bukan hanya suamiku yang dibunuh, akan tetapi banyak pejabat, bahkan ada pangeran yang dibunuh, pembantu menteri bahkan menteri! Kota raja menjadi geger, dan aku sendiri setelah itu menjaga keselamatan pamanku, yaitu Pembantu Menteri Pajak, karena setiap orang pejabat tinggi, apa lagi yang dekat dengan kaisar, merasa terancam dan tidak aman. Karena aku ingin sekali menangkap penjahat tukang bunuh itu, maka setelah paman mendatangkan rombongan pengawal yang cukup tangguh, aku lalu pergi ke sini untuk menghadap paman guru Giam Sun, untuk minta bantuannya bersamaku menangkap dan menghukum Kwi-eng-cu di kota raja. Selanjutnya, engkau tahu apa yang terjadi di sini, toako. Ahh, sungguh malang sekali nasibku. Bagaimana pula susiok yang akan kumintai bantuan, tahu-tahu telah dibunuh orang? Dan apa artinya tulisan yang agaknya sengaja dia tinggalkan di tanah itu?”

Pek-liong tertarik sekali dan diapun mengerutkan alis, mengerjakan otaknya yang sehat, yang membuat dia cerdik sekali dan waspada. Baru sekarang dia mendengar tentang pembunuhan-pembunuhan aneh di kota raja itu dan biarpun dia tidak suka mencampuri urusan pemerintah, namun peristiwa itu sungguh menarik hatinya. Terjadi kejahatan yang luar biasa beraninya di kota raja.

“In-moi, kalau boleh aku bertanya, bagaimana keadaan dan pendirian mendiang suamimu terhadap Sribaginda Kaisar?“

Ditanya tentang suaminya itu, Sui In terkejut sekali, karena hal ini tidak pernah disangkanya. Ia memandang dengan mata terbelalak. “Apa... apa maksudmu, toako?”

“Begini, In-moi. Aku ingin mengetahui bagaimana sikap para pejabat tinggi yang terbunuh itu. Karena engkau tentu tidak mengetahui keadaan mereka, maka aku bertanya tentang suamimu. Diapun ikut pula terbunuh, berarti dia memiliki persamaan atau kepentingan yang sama dengan para pejabat lain yang terbunuh. Nah, aku ingin tahu apakah suamimu itu seorang pejabat yang... maafkan pertanyaanku kalau kasar, apakah dia seorang pejabat yang korup?”

Secara kontan Sui In menggeleng kepala keras-keras. “Sama sekali tidak! Baik pamanku, Ciok Tai-jin Pembantu Menteri Pajak, dan juga mendiang suamiku, mereka adalah pejabat-pejabat yang jujur dan setia, disiplin dan tidak sudi melakukan penyelewengan demi keuntungan diri pribadi!”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Dan bagaimana sikapnya terhadap Sribaginda Kaisar? Setia sepenuhnyakah? Ataukah ada sesuatu yang membuat suamimu merasa tidak suka akan kebijaksanaan Kaisar? Secara terang-terangan atau secara sembunyi menentang Kaisar?”

Sui In menggelengkan kepalanya dan kini ia mengerti ke arah mana tujuan pertanyaan Pek-liong, maka iapun menerangkan. “Akupun pernah melakukan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu, toako, dan akupun sudah menyelidiki tentang sikap mereka yang terbunuh. Suamiku sendiri adalah seorang yang setia dan taat kepada kaisar. Akan tetapi, yang membingungkan adalah bahwa di antara mereka yang terbunuh terdapat pula mereka yang memperlihatkan sikap tidak cocok dengan kebijaksanaan Kaisar. Jadi, pembunuhan ini jelas bukan berdasarkan pro atau anti kaisar.”

Pek-liong memandang wanita itu dengan kagum. Seorang wanita yang cerdik pula, pikirnya. “Apakah di kota raja sudah ada usaha untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu? Bagaimana dengan Kaisar sendiri?”

“Kaisar sudah memerintahkan semua petugas keamanan untuk melakukan penyelidikan. Namun tanpa hasil. Akan tetapi, sungguh aku tidak mengerti apa hubungan semua pembunuhan di kota raja itu dengan pembunuhan terhadap susiok?”

“Tentu ada kaitannya, In-moi. Setidaknya, mereka itu jelas memusuhi Kun-lun-pai. Buktinya, setelah mereka tahu bahwa engkau murid Kun-lun-pai engkaupun akan mereka bunuh. Tulisan itu menyebutkan dua nama. Nama Pek-mau-kwi sudah jelas. Dia adalah orang berambut putih yang memimpin pengeroyokan terhadap dirimu. Ini berarti bahwa ketika paman gurumu terbunuh, dia mengenal Pek-mau-kwi sebagai seorang di antara pembunuhnya. Melihat tingkat kepandaiannya, kiranya kalau hanya seorang diri saja Pek-mau-kwi tidak akan mungkin dapat membunuh susiokmu yang tentu lihai sekali.”

“Dalam hal kelihaian ilmu silat, susiok hanya lebih menang sedikit dibandingkan aku, akan tetapi dia berpengalaman dan cerdik, maka aku ingin minta bantuannya untuk menangkap pembunuh di kota raja.”

“Lebih lihai dan engkau berarti tidak kalah malawan Pek-mau-kwi. Mungkin dia dikeroyok oleh Pak-mau-kwi bersama dua orang pembantunya itu. Akan tetapi, diapun menulis nama Kwi-eng-cu! Apakah pembunuh misterius di kota raja itu datang pula ke sini, bersama Pek-mau-kwi membunuhnya?”

“Mungkin juga begitu! Sayang aku datang terlambat!” kata Sui In penuh penyesalan.

Pek-liong menggeleng kepala. Otaknya sudah bekerja karena dia tertarik sekali oleh semua peristiwa yang terjadi, baik di bukit itu maupun di kota raja seperti yang dia dengar dari Sui In. “Engkau terlambat satu hari, In-moi. Pamanmu itu sudah tewas sedikitnya lima jam yang lalu, akan tetapi melihat luka pedang di tengkuknya, tentu dia sudah diserang orang pada hari kemarin. Dia tentu disangka mati dan ditinggalkan para pembunuhnya, maka dia masih mampu menuliskan nama-nama itu. Dan melihat betapa kita bertemu dengan Pek-mau-kwi pada hari ini, bersama dua orang pembantunya yang lihai pula itu, maka kurasa yang membunuh pamanmu adalah tiga orang tadi. Kalau dikeroyok tiga, sukar baginya untuk menang.”

“Akan tetapi, mengapa paman guruku menuliskan nama Kwi-eng-cu pula?”

“Itulah yang menjadi rahasianya. Apapun rahasianya itu, jelas bahwa antara Kwi-eng-cu dan Pek-mau-kwi ada hubungan! Jadi, kalau kita hendak menyelidiki tentang Kwi-eng-cu, kita dapat menyelidikinya melalui Pek-mau-kwi!”

“Kita...?” Sui In mengangkat muka, memandang dengan sinar mata penuh harap.

Pek-liong mengangguk. “Ya, aku akan pergi denganmu, In-moi. Perkara ini amat menarik hatiku. Secara kebetulan saja kita saling melihat di rumah makan itu. Kalau saja tiga orang itu tidak menimbulkan kecurigaanku dengan sikap mereka, tentu aku tidak akan membayangi mereka dan kita mungkin tidak akan saling bertemu kembali.”

Bukan main girangnya rasa hati Sui In. Ia mencari susioknya untuk membantunya menyelidiki pembunuh suaminya. Susioknya tewas terbunuh orang dan sebagai gantinya, ia mendapat bantuan dari orang yang lebih hebat dan lebih dapat dipercaya dari pada susioknya, yaitu Pek-liong-eng Tan Cin Hay!

“Terima kasih, toako! Kalau engkau yang melakukan penyelidikan, aku yakin rahasia pembunuh itu akan terbongkar dan kita akan dapat menangkapnya! Biarpun aku berduka karena kematian susiok, sebaliknya aku gembira sekali telah mendapatkan engkau sebagai penggantinya untuk membantu aku membalas dendam kematian suamiku!”

“Maaf, In-moi. Kalau aku ingin menyelidiki Kwi-eng-cu, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan balas dendam kematian suamimu, juga bukan sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan lalu membela para pejabat. Aku bukan pendekar, aku seorang manusia biasa yang bebas menentukan jalan hidupku sendiri. Kalau aku sekarang ikut denganmu ke kota raja, hal itu adalah karena aku tertarik oleh semua ceritamu tadi, In-moi.”

“Apapun alasanmu, aku girang bahwa engkau suka pergi bersamaku ke kota raja, toako. Mari kita berangkat!” ajak wanita itu dengan wajah berseri.

“Kita singgah dulu di rumahku, In-moi. Tidak jauh dari sini. Aku harus membuat persiapan dan memberitahu orang di rumah.”

“Aih, maafkan. Aku lupa. Tentu saja engkau harus berpamit kepada keluargamu!” kata Sui In dan teringat akan hal ini, seri di wajahnya menghilang.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay tertawa. “Ha-ha-ha, aku hidup seorang diri di dunia ini, In-moi, sebatang kara, tanpa keluarga. Hanya dengan para pembantu rumah tangga. Kalau aku pergi, aku harus memberitahu mereka agar mereka tidak gelisah. Pula, aku harus membawa bekal dan persiapan.”

“Tapi, toako. Seorang pria seperti engkau ini, usiamu sudah cukup dewasa, engkau pandai, engkau gagah perkasa dan wajahmu menarik, bagaimana mungkin sampai kini masih hidup membujang? Maafkan, bukan maksudku mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi seorang pria seperti engkau sudah sepatutnya kalau mempunyai seorang isteri yang cantik jelita dan bijaksana, dan mempunyai beberapa orang anak yang mungil dan sehat.”

Ada bayangan gelap menyelimuti wajah Pek-liong, namun hanya sebentar saja, seperti bayangan awan yang lewat. Wajahnya sudah berseri kembali, matanya bercahaya dan mulutnya ramai oleh senyum. “Isteriku telah meninggal dunia sembilan tahun yang lalu tanpa anak dan sejak itu, aku belum pernah menikah lagi.”

“Ah, engkau... seorang... duda? Siapa sangka!” Wajah Sui In berubah merah sekali karena ucapan itu tadi keluar begitu saja di luar kesadarannya dan baru sekarang ia merasa betapa ucapan itu amat tidak pantas keluar dari mulutnya. Untuk menutupi perasaan rikuh dan salah tingkah, ia cepat menyambung, “Isterimu tentu meninggal dunia karena sakit.”

Pek-liong menggeleng kepala. “Seperti juga suamimu, isteriku tewas dibunuh orang! Sudahlah, perlu apa kita bicara tentang hal lalu. Mari engkau singgah dulu di rumahku. Tidak begitu jauh dari sini.”

Menjelang sore, tibalah mereka di dusun Pat-kwa-bun. Begitu memasuki pekarangan rumah Pek-liong, Sui In merasa, kagum bukan main. Tempat itu amat bersih dan terpelihara rapi. Dari pagar temboknya yang tidak begitu tinggi dan dicat merah, sampai pekarangan yang juga merupakan taman terpelihara indah, dengan air mancur di depan di tengah kolam ikan emas, dan ada sebuah arca naga putih di belakang kolam.

Beberapa batang pohon membuat tempat itu sejuk dan nyaman, dan hamparan rumput juga terpelihara sehingga merupakan permadani hijau yang menyegarkan mata. Rumah itu sendiri dari luar nampak kokoh. Tidak begitu besar namun indah walaupun tidak nampak mewah dari luar. Dindingnya putih bahkan jendela dari pintunya juga putih, dengan garis-garis tipis merah muda dan kuning. Gentengnya kemerahan.

“Selamat datang, Tai-hiap, Selamat datang, nona!” Dua orang pria yang berpakaian pelayan namun bersih dan dengan sikap yang gagah, dengan tubuh tegak dan tegap, menyambut mereka dengan salam hormat.

“Nona ini adalah Cu Li-hiap, menjadi tamu kehormatanku malam ini. Suruh A- liok menyiapkan hidangan yang lezat untuk tamu kita!” kata Pek-liong kepada mereka.

“Maafkan kami, Li-hiap,” kata seorang di antara mereka sambil memberi hormat kepada Sui In yang tentu saja merasa rikuh menerima penghormatan sebagai seorang pendekar wanita. Akan tetapi ia hanya mengangguk dan Pek-liong mempersilakan ia ikut memasuki rumahnya.

Setelah masuk ke dalam rumah itu, Sui In menjadi semakin kagum. Kiranya isi rumah itu berbeda sekali dengan keadaan luarnya. Semua perabot rumah di situ nampak megah dan mewah, juga terpelihara rapi. Sampai lantainya saja mengkilap seperti cermin! Lukisan-lukisan indah, juga tulisan-tulisan indah menghias dinding. Pot-pot bunga terukir naga dan burung Hong, berdiri di sudut-sudut terisi tanaman yang segar. Sutera-sutera beraneka warna menutupi lubang-lubang dan bergantungan seperti pelangi.

Ruangan-ruangan yang dilaluinya ditata secara nyeni sekali, tidak kalah indahnya dibandingkan istana raja sekalipun! Yang membuat Sui In semakin kagum adalah ketika mereka memasuki setiap ruangan Pek-liong selalu memeriksa apakah tombol rahasia menunjukkan bahwa ruangan itu bebas perangkap, jelas bahwa rumah yang indah itu penuh jebakan dan perangkap. Karena ingin tahu ia tanyakan hal ini kepada tuan rumah.

Pek-liong mengangguk, tersenyum. “Hidup seperti aku ini selalu diancam bahaya, banyak orang yang pernah kujatuhkan menaruh dendam dan setiap waktu mereka dapat datang menyerbu ke rumahku. Karena aku tidak suka menggunakan pasukan pengawal, maka aku harus mampu menjaga segala kemungkinan terhadap gangguan dari luar yang datang selagi aku tidur.”

“Ah, menarik sekali, Toako, aku tidak ingin mengetahui alat-alat rahasia di rumahmu ini yang tentu saja harus dirahasiakan, akan tetapi kalau boleh aku ingin melihat bekerjanya satu saja perangkap yang dipasang di ruangan depan itu.” Ia menuding ke depan, ke sebuah ruangan yang dihias sutera-sutera merah muda.

Pek-liong tersenyum, mengangguk dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Engkau boleh buktikan sendiri, In-moi. Coba kau masuki ruangan itu dengan sikap hati-hati. Engkau seorang penyerbu yang sudah menduga bahwa kamar itu dipasangi jebakan, sehingga engkau boleh berhati-hati sekali, akan tetapi engkau harus memasuki ruangan itu, katakanlah untuk mengambil atau melakukan sesuatu.”

Sui In mengerutkan alisnya. “Akan tetapi... aku tidak mau terancam bahaya maut, toako!”

Pek-liong menggeleng kepala. “Aku belum gila, In-moi. Masa aku akan mencelakaimu? Jangan khawatir, perangkap yang kupasang di rumah ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat orang yang berniat buruk tidak berdaya dan tertawan tanpa melukai atau menyakitinya. Engkau boleh mencabut pedangmu untuk berjaga-jaga, seperti seorang musuh tulen!”

Sui In menjadi tertarik sekali dan iapun mengangguk, mencabut pedangnya dan dengan hati-hati menghampiri kamar itu. Bahkan ia, merasa gembira karena ia seperti berada dalam suatu permainan yang menarik untuk menguji diri sendiri dan menguji keampuhan alat yang dipasang oleh Pendekar Naga Putih di dalam rumahnya.

Dengan penuh kewaspadaan, Sui In menghampiri ruangan itu. Sebuah ruangan duduk yang indah, dengan pintunya terbuka dan lantainya mengkilap, meja kursinya terukir indah ditilami bantalan. Jendela-jendela yang berada di tiga penjuru tertutup, tentu dibuka kalau ada tamu sehingga ruangan yang menembus di sebelah kiri pada sebuah taman itu tentu akan sejuk dan nyaman sekali. Dindingnya yang bersih dihiasi lukisan dan tulisan indah berbentuk syair-syair berpasangan.

Dengan pandang matanya yang tajam Sui In mengamati seluruh bagian ruangan itu, mencari-cari tanda adanya pesawat rahasia. Namun semua nampak bersih dan wajar, tidak ada yang mencurigakan. Apakah lantainya yang mampu bergerak dan terdapat lubang sehingga ia akan terperosok ke bawah kalau menginjaknya. Ataukah dari jendela-jendela itu akan keluar senjata rahasia atau asap pembius yang akan membuatnya pingsan? Apakah daun pintu akan menutup sendiri begitu ia memasuki ruangan?

Berbagai kemungkinan ini ia perhitungkan ketika akhirnya berindap-indap ia melangkah memasuki ruangan itu dengan pedang di tangan. Selangkah demi selangkah ia memasuki ruangan itu, setiap bagian tubuhnya menegang penuh kesiap siagaan. Pada langkah kelima, tiba-tiba terdengar suara berderit di belakangnya. Ia cepat menoleh dan daun pintu yang tadi terbuka lebar itu kini tertutup!

. Ia melangkah maju lagi dan setelah tiba di tengah ruangan, tiba-tiba saja dari empat sudut ruangan itu menyambar anak-anak panah yang ujungnya berbentuk bola, juga dari atas turun anak panah bagaikan hujan. Sui In cepat menggerakkan pedangnya, diputar melindungi tubuhnya dan semua anak panah runtuh. Setelah runtuh baru nampak olehnya bahwa anakpanah-anakpanah itu tumpul dan tidak akan melukai orang yang menjadi sasaran.

Tiba-tiba saja dari lantai yang mengkilap itu bermunculan tongkat-tongkat panjang yang menyambar-nyambar ke arah kakinya. Sui In meloncat ke atas, dan pada saat itu, kain-kain sutera merah muda yang bergantungan di langit-langit itu bergerak, menyambar-nyambar sehingga mengaburkan pandangan matanya dan tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya sudah terlibat-libat oleh kain sutera yang panjang dan banyak sekali, seperti tidak ada habisnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di udara dalam libatan banyak kain sutera, seperti seekor lalat tertangkap di sarang laba-laba.

Akan tetapi, Sui In bukanlah wanita lemah. Ketika tadi kain sutera yang tadinya bergantungan sebagai hiasan itu tiba-tiba hidup dan menyambar-nyambar ke arahnya, tubuhnya terlibat-libat, ia sudah cepat membebaskan tangan kanan yang memegang pedang. Kini, biarpun tubuhnya sudah terlibat-libat kain, lengan kanan dan pedangnya masih bebas. Ia menggerakkan pedangnya dan putuslah semua libatan kain sutera dari tubuhnya.

Ia terlepas dan jatuh ke bawah. Dengan ilmu meringankan tubuh yang hebat, ia sudah berjungkir balik tiga kali dan turun ke atas lantai dengan selamat dan dalam keadaan berdiri. Akan tetapi, putusnya kain-kain sutera itu menimbulkan bunyi kelenengan nyaring bertubi-tubi dan terdengar dari seluruh penjuru rumah itu.

Daun-daun jendela tiba-tiba terbuka dan enam orang pelayan pria pembantu rumah tangga itu sudah berdiri di luar jendela dengan pedang di tangan! Daun pintu yang tadi tertutup sendiripun terbuka dan Pek-liong sudah berdiri di ambang pintu dengan tersenyum! Sui In mendapatkan dirinya sudah terkepung di dalam ruangan itu!

Pek-liong bertepuk tangan memuji. “Hebat, engkau hebat sekali, nona. Engkau sudah dapat menghindarkan anak panah, toya dan bahkan jala kain sutera!”

Sui In menyarungkan pedangnya dan menarik napas panjang. “Aihhh, sungguh ruangan ini berbahaya sekali! Biarpun sudah dapat membebaskan diri dari semua itu, akhirnya aku terkepung di ruangan ini! Ruangan yang satu ini saja sudah begini hebat, apa lagi yang lainnya! Toako, aku mengaku kalah dan menyatakan kagum sekali. Maafkan kalau aku merusak kain-kain sutera merah muda itu.”

“Ah, tidak mengapa, In-moi.” Lalu kepada para pembantunya dia berkata, “Ganti kain-kain sutera itu dengan yang baru dengan warna biru laut!”

Kemudian dia mengajak Sui In keluar dari ruangan itu dan mempersilakan janda muda itu ke sebuah kamar. Dia sendiri berhenti di luar pintu kamar.

“In-moi, inilah kamar tamu untukmu bermalam semalam ini. Besok pagi baru kita akan melakukan perjalanan ke kota raja. Malam ini aku akan membuat persiapan untuk perjalanan besok pagi. Makan malam nanti setelah siap dan engkau akan diberitahu oleh pembantu. Nah, beristirahatlah, In-moi.”

Setelah berkata demikian, Pek-liong meninggalkan wanita itu. Sampai beberapa lamanya Sui In berdiri di pintu kamar itu, mengikuti bayangan Pek-liong sampai lenyap di tikungan. Seorang pria yang bukan main, pikirnya. Gagah perkasa, berkepandaian tinggi, tampan dan ganteng, duda dan bebas, ditambah lagi kaya-raya dan juga amat sopan. Masuk ke kamar itupun dia tidak mau!

Hatinya semakin tertarik dan dengan muka merah ia mendapatkan kenyataan betapa ia telah jatuh cinta kepada pria muda yang ganteng itu! Betapa ia mengharapkan terjadi suatu mujijat, suatu anugerah dari Tuhan. Ia seorang janda, dan Pek-liong-eng Tan Cin Hay seorang duda. Sudah tepat, bukan? Dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memasuki kamar itu. Begitu masuk, hidungnya bertemu keharuman semerbak.

Sebuah kamar yang mewah sekali. Ada dupa harum masih mengepul di atas meja, tanda bahwa dupa itu baru saja dibakar oleh pelayan. Kamar itu tidak berapa besar, namun lengkap dan enak sekali. Udaranya nyaman, masuk dari jendela yang menembus taman, dan dari lubang-lubang hawa di atas jendela. Sebuah kamar kecil menyambung kamar itu. Betapa mewahnya!

Ketika ia menjenguk ke dalam kamar mandi, tersedia sudah air jernih yang cukup banyak. Setelah menutup pintu kamar, Sui In lalu menyiram tubuhnya dengan air, mandi sekenyangnya sehingga tubuhnya terasa segar kembali, kulit tubuhnya dari muka sampai kaki tangan, menjadi kemerahan karena digosoknya dengan keras sehingga bersih dari debu.

Ia telah mengenakan pakaian bersih ketika pinta kamar diketuk dari luar, dan seorang pelayan dengan sikap hormat memberitahu bahwa makan malam telah siap, dan tamu yang dihormati itu dipersilakan datang ke ruangan makan di mana “tai-hiap” telah menanti.

Ketika Sui In memasuki ruangan makan, Pek-liong bangkit berdiri dan dia memandang kepada wanita itu dengan sinar mata kagum. Harus diakuinya bahwa janda muda ini memang cantik manis dan segar bagaikan setangkai bunga mawar di pagi hari, tersiram embun pagi dan bersinar cahaya keemasan matahari. Dengan ramah dia lalu mempersilakan tamunya duduk berhadapan dengannya, menghadapi sebuah meja.

Melihat pandang mata kagum itu, Sui In merasa betapa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Untuk menenangkan hatinya, iapun segera bertanya setelah duduk. “Sudahkah engkau membuat persiapan, toako? Dan kapan kita berangkat?”

Pek-liong mengangguk. “Sudah beres semua, In-moi. Besok pagi-pagi setelah terdengar bunyi ayam berkeruyuk, kita berangkat.”

Sementara itu, dua orang pelayan datang membawa hidangan yang masih mengepul panas. Sui In mencium bau masakan yang lezat dan perutnya memberontak karena memang ia telah merasa lapar. Tidak kurang dari sepuluh macam masakan dihidangkan, kesemuanya terdiri dari masakan yang mewah dan mahal. Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira, sambil bercakap-cakap. Sui In sama sekali tidak merasa canggung biarpun pengalaman seperti ini merupakan pengalaman pertama sejak suaminya terbunuh.

Makan malam berdua saja dengan seorang pria yang tampan dan gagah! Di dalam rumah pria itu pula! Akan tetapi, sedikitpun ia tidak merasa canggung dan kaku. Hal ini karena sikap Pek-liong yang sopan dan ramah. Memang, kadang-kadang sinar mata yang tajam mencorong itu membayangkan kekaguman, namun kekaguman yang wajar, tidak mengandung kecabulan atau kekurangajaran yang biasa ia lihat dalam pandang mata kaum pria kalau memandang kepadanya.

Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang rumah itu. Juga taman bunga ini, walaupun tidak sangat luas, diatur indah sekali. Di tengah taman, di antara beraneka macam bunga, terdapat sebuah tempat berteduh berbentuk payung, bangunan tanpa dinding, hanya atap yang berbentuk payung dan di bawahnya terdapat enam buah bangku dan sebuah meja. Tempat itu enak sekali. Empat lampu gantung menerangi tempat itu, dan di sana-sini, di ujung taman terdapat pula lampu gantung dengan berbagai warna. Suasana amat hening dan indah, semerbak harum bunga memenuhi taman itu.

“Aduh, bagus sekali taman ini!” kata Sui In memuji.

“Mari kita duduk di sana. Engkau belum mengantuk, bukan?” kata Pek-liong dan wanita itu tertawa.

“Aih, toako. Baru saja makan kenyang, masa mengantuk dan tidur? Pula, malam baru saja tiba, belum larut.”

Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja kecil. Suasana sungguh indah dan romantis sekali. Apa lagi ketika di langit muncul bulan muda yang memandikan taman itu dengan cahayanya yang lembut. Anginpun lembut sepoi-sepoi bercanda di antara bunga-bunga, membuat udara yang penuh keharuman bunga itu menjadi nyaman dan sejuk.

Suasana yang romantis seperti ini, cahaya bulan yang lembut mengandung daya yang mengairahkan, yang amat kuat mengusik hati muda, menggelitik dan membangkitkan berahi. Hal ini terasa sekali oleh Sui In ketika ia duduk dan menikmati keindahan itu, dan setiap kali pandang matanya berhenti di wajah Pek-liong, ia terpesona.

Wajah itu nampak demikian ganteng, demikian tampan sehingga hatinya luluh, rindu dendam dan gairahnya bangkit. Kalau saja pada saat itu Pek-liong maju selangkah saja, mengulurkan tangan, pasti ia tidak akan mampu menolak atau mengelak, dan akan terlena dalam pelukan pria itu dengan hati penuh kerinduan!

Akan tetapi, Pek-liong sama sekali tidak melakukan uluran tangan! Sama sekali tidak, bahkan pria mengajaknya bercakap-cakap kembali tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja, sehubungan dengan kemunculan Si Bayangan Iblis.

Bimbingan ke arah percakapan itu tentu saja membuyarkan keindahan khayal yang muncul dari gairah berahi tadi, apa lagi karena percakapan itu mengingatkan Sui In akan semua peristiwa dan malapetaka yang menimpa dirinya. Iapun tertarik dan setelah mereka barcakap-cakap, iapun menerangkan dan menceritakan segala hal yang diketahuinya dan yang bertalian dengan pembunuhan-pembunuhan misterius yang dilakukan oleh bayangan yang kemudian dinamakan Si Bayangan Iblis. Waktu berjalan cepat dan tahu-tahu bulan sudah naik tinggi ketika Pek-liong mempersilakan tamunya untuk tidur.

“Besok pagi-pagi kita berangkat, maka sebaiknya kalau engkau mengaso dan tidur di kamar, In-moi. Selamat malam dan selamat tidur!”

Sui In tidak menjawab dan ada perasaan kecewa dan menyesal di dalam hatinya bahwa malam itu ia harus berpisah dari Pek-liong. Muncul kembali kerinduannya akan suatu kemesraan yang sudah lama lepas darinya, lama sebelum suaminya tewas dibunuh orang. Dan ia ingin mendapatkan kemesraan itu dari Pek-liong! Akan tetapi, agaknya sedikitpun Pek-liong tidak menanggapi perasaannya. Berulang tali ia menarik napas panjang penuh kekecewaan dan penyesalan ketika ia melangkah perlahan menuju ke kamarnya, setelah tadi Pek-liong meninggalkannya di taman.

Baru setelah ia merebahkan diri di atas pembaringannya, ketika suasana romantis taman bunga bermandikan cahaya bulan itu tidak mempengaruhinya, ia tersenyum! Diam-diam ia berterima kasih kepada Pek-liong yang tidak mempergunakan kesempatan itu untuk merayunya dari menjatuhkannya!

Kalau sampai hal itu terjadi, tentu ia akan merasa menyesal sekali kemudian, karena ia sedang bertugas! Tugas mencari Si Bayangan Iblis dan menumpas kejahatan itu sama sekali belum terlaksana! Suaminya tewas di tangan penjahat, juga paman gurunya tewas di tangan penjahat dan penjahat itu agaknya Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis).

Sungguh tidak pantas kalau kini ia bersenang-senang mengumbar nafsu berahi. Selain tidak pantas karena baru saja kematian suaminya, juga tidak patut karena dalam melaksanakan tugas ia hanya mementingkan kesenangan sendiri, membiarkan diri menjadi budak nafsu! Kalau musuh itu telah terhukum, kalau ia sudah bebas dari tugas, hal itu akan lain lagi.

“Pek-liong, terima kasih...” bisiknya tersenyum dan janda muda inipun terlena dalam kepulasan.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 08 karya kho ping hoo

Gadis itu cukup manis walaupun tidak dapat dibilang terlalu cantik, Bahkan wajah yang nampak membayangkan kebodohan itu tidak akan menarik perhatian pria, walaupun harus diakui bahwa bentuk tubuhnya amat indah. Rambutnya juga nampak kasar dan gerak geriknya kaku. Juga ia kelihatan takut-takut dan gelisah.

Memasuki ruangan-ruangan yang amat indah dari istana itu, ia bagaikan seekor ikan sungai yang kecil dilempar masuk ke dalam samudera. Ia kebingungan, merasa dirinya kecil menghadapi segala kemegahan dan kemewahan itu. Melihat kegelisahan membayang di wajah yang manis dan polos itu, pria berpakaian perwira yang berjalan di sampingnya tersenyum.

“Akim, jangan takut. Tenanglah. Asalkan engkau pandai membawa diri dan rajin bekerja juga jujur dan taat, tentu engkau akan hidup senang di istana. Sekarang, Hong-houw (Parmaisuri) ingin melihatmu sebagai seorang dayang baru, engkau harus menghadap dan memberi hormat kepada beliau seperti yang sudah kuajarkan tadi.”

Gadis itu mengangguk-angguk akan tetapi jelas nampak betapa ia gelisah dan ketakutan. Gadis yang jelas sekali kelihatan sebagai seorang gadis dusun yang disebut Akim oleh perwira itu bukan lain adalah Hek-liong-li Lie Kim Cu! Dengan kepandaiannya menyamar yang hebat, ia sudah dapat menyulap dirinya yang merupakan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang amat cantik jelita, manis dan menarik hati, berubah menjadi seorang gadis dusun berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Kasar kaku, tidak menarik walaupun cukup manis, dan wajahnya membayangkan kebodohan. Cian Ciang-kun sendiri sampai terbalalak dan tertegun ketika pertama kali melihat penyamaran ini, dan merasa yakin bahwa tak seorangpun akan dapat mencurigai seorang gadis dusun bodoh seperti itu.

Perwira yang berjalan di sampingnya dalam ruangan-ruangan istana itu adalah Kok Ciang-kun (Perwira Kok) yang menjabat kepala pasukan pengawal thai-kam (orang- orang kebiri), yaitu kenalan Cian Ciang-kun dan yang suka “menolong” Cian Hui untuk memasukkan seorang “sanak jauh” dari dusun menjadi seorang dayang baru di istana.

Di istana bagian puteri ini, tak seorangpun dari luar diperbolehkan masuk. Hanya keluarga Kaisar yang boleh masuk, dan tentu saja para perajurit pengawal thai-kam. Untuk mencegah terjadinya, penyelewengan dari para wanita dalam istana itu, maka sejak dahulu kala sampai saat itu, para petugas pria di istana bagian-puteri haruslah dikebiri lebih dahulu!

Pada saat itu, bukan hanya karena kepandaian saja Liong-li yang kini menyamar menjadi Kim Siauw Hwa atau biasa disebut Akim kelihatan gugup dan gelisah. Akan tetapi memang benar-benar ada kegelisahan di hatinya. Ia telah memasuki istana dengan menyamar, dan ia tahu bahwa bahaya bukan hanya datang dari penjahat yang dinamakan Kwi-eng-cu akan tetapi dari satu kekuatan yang mempunyai banyak orang pandai!

Dan ia merasa yakin bahwa sarang penjahat itu, atau pimpinannya, pasti berada di istana. Kalau gerombolan penjahat itu berada di luar istana tentu sudah lama diketahui tempatnya oleh Cian Hui yang cerdik dan memiliki banyak mata-mata. Selain merasa berada di tengah-tengah pihak musuh yang belum diketahuinya siapa.

Dan betapa bahayanya bagi dirinya kalau pihak musuh sampai mengetahui bahwa ia Hek-liong-li yang menyamar, juga ia harus berhadapan dengan Hong-houw (Permaisuri) Bu Cek Thian! Menurut keterangan dari Cian Hui, wanita itu cerdik bagaikan iblis! Ia teringat akan kata-kata pesanan Cian Hui kepadanya ketika hendak berangkat tadi...

“Berhati-hatilah terhadap Hong-houw, Li-hiap. Ia seorang wanita yang teramat cerdik seperti Iblis! Bahkan saat ini boleh dibilang ia yang paling berkuasa di seluruh istana! Hong-siang (Kaisar) sendiri seperti menjadi boneka di tangannya. Ia cerdik dan amat berbahaya, oleh karena itu, berhati-hatilah engkau terhadap wanita ini.”

Tentu saja Liong-li tidak merasa takut. Baginya, makin lihai dan makin cerdik orang-orang yang berada di pihak lawan, akan semakin gembira menghadapinya. Yang membuat ia gelisah adalah mengingat betapa dirinya sama sekali tidak berdaya di dalam istana yang besar dan megah itu.

Ia merasa seperti seekor lalat memasuki sarang laba-laba! Dan begitu memasuki istana, diterima oleh Kok Ciang-kun, perwira thai-kam yang gendut dan agak genit seperti wanita ini membawanya menghadap Hong-houw, wanita yang agaknya bahkan ditakuti oleh Cian Hui itu...!

Si Bayangan Iblis Jilid 08

PONDOK itu sederhana saja, tersembunyi di bawah pohon cemara dan semak belukar tumbuh di sekelilingnya sehingga pondok itu tidak nampak dari bawah puncak.

“Giam susiok...!” Sui In memanggil beberapa kali di luar pondok.

Tidak ada jawaban. Sunyi sekeliling dan perasaan hati wanita itu semakin gelisah. Ia saling pandang dengan Pek-liong dan pendekar ini memberi isyarat dengan pandang matanya ke arah pintu pondok, Sui In mengangguk dan mereka lalu menghampiri pintu pondok, mendorongnya terbuka.

“Susiok...!” Sui In terkejut bukan main melihat paman gurunya sudah rebah miring di atas lantai tanah pondok itu. Ia meloncat masuk diikuti Pek-liong dan keduanya berlutut dekat tubuh yang menggeletak miring.

“Dia sudah tewas,” kata Pek-liong dan Sui In mengangguk, wajahnya pucat dan matanya terbelalak.

“Lihat ini...” kata Pek-liong menunjuk ke arah lantai dan ketika Sui In memandang sambil mendekatkan mukanya, iapun melihat betapa dekat tangan yang terkulai itu, di atas lantai tanah, terdapat tulisan. Huruf-hurufnya cukup jelas dan ia membacanya.

“Pek-mau-kwi... Kwi-eng-cu...!”

“Aih, Kwi-eng-cu...??” Gadis itu nampak terkejut sekali sehingga Pek-liong cepat bertanya.

“Siapa itu Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)?”

Sui In memandang dengan kedua mata basah. “Aku... aku mencari paman justeru... justeru... karena urusan Kwi-eng-cu dan ternyata paman guruku telah menjadi korban Kwi-eng-cu pula!”

Gadis itu menangis, teringat akan kematian suaminya dan kini kematian susioknya (paman gurunya), pada hal tadinya ia mengharapkan bantuan paman gurunya untuk dapat membalas dendam kepada Kwi-eng-cu. Pek-liong membiarkan wanita itu menangis sejenak, setelah Sui In dapat menguasai dirinya, dia lalu berkata,

“Sudahlah, In-moi. Susiokmu sudah tewas dan ditangisi bagaimanapun juga, tidak ada gunanya. Jauh lebih baik kalau kita segera mengubur jenazahnya.”

Sui In mengangguk dan Pek-liong lalu mencari sebuah cangkul di bagian belakang pondok itu, memilih tempat yang baik dan diapun segera bekerja, menggali lubang kuburan. Dan tak lama kemudian, jenazah Giam Sun, kakek berusia enampuluh tahun tokoh Kun-lun-pai itu telah dikubur secara sederhana. Kemudian disembayangi secara sederhana pula, tanpa alat sembahyang, hanya dengan berlutut di depan makam dan berdoa di dalam hati, namun dua orang muda itu bersembahyang dengan khidmat.

Setelah penguburan selesai, barulah Pek-liong berkata, “Nah, sekarang coba kauceritakan kepadaku siapa itu Kwi-eng-cu dan apa hubungannya dengan kedatanganmu ke sini dan dengan semua peristiwa ini, In-moi!”

Sui In menarik napas panjang, terkenang akan semua peristiwa buruk yang menimpa dirinya. “Aku tinggal di ibu kota, toako. Selama beberapa bulan ini, di kota raja timbul peristiwa yang menggegerkan, yaitu dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap beberapa orang pejabat penting. Tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh itu, hanya ada yang melihat bayangan yang bertanduk, seperti iblis. Karena itu maka pembunuh itu hanya dinamakan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) tanpa ada yang menduga siapa dia dan di mana sarangnya. Di antara banyak pejabat yang terbunuh itu, termasuk juga suamiku...”

“Ah...! Suamimu seorang pejabat dan dia pun tewas oleh Kwi-eng-cu?”

Tentu saja Pek-liong terkejut dan kini dia memandang wajah wanita itu dengan perasaan iba. Sui In melihat pandang mata penuh iba itu, maka iapun berterima kasih dengan senyum kecil!

“Aku sudah dapat mengatasi peristiwa itu, toako. Bukan hanya suamiku yang dibunuh, akan tetapi banyak pejabat, bahkan ada pangeran yang dibunuh, pembantu menteri bahkan menteri! Kota raja menjadi geger, dan aku sendiri setelah itu menjaga keselamatan pamanku, yaitu Pembantu Menteri Pajak, karena setiap orang pejabat tinggi, apa lagi yang dekat dengan kaisar, merasa terancam dan tidak aman. Karena aku ingin sekali menangkap penjahat tukang bunuh itu, maka setelah paman mendatangkan rombongan pengawal yang cukup tangguh, aku lalu pergi ke sini untuk menghadap paman guru Giam Sun, untuk minta bantuannya bersamaku menangkap dan menghukum Kwi-eng-cu di kota raja. Selanjutnya, engkau tahu apa yang terjadi di sini, toako. Ahh, sungguh malang sekali nasibku. Bagaimana pula susiok yang akan kumintai bantuan, tahu-tahu telah dibunuh orang? Dan apa artinya tulisan yang agaknya sengaja dia tinggalkan di tanah itu?”

Pek-liong tertarik sekali dan diapun mengerutkan alis, mengerjakan otaknya yang sehat, yang membuat dia cerdik sekali dan waspada. Baru sekarang dia mendengar tentang pembunuhan-pembunuhan aneh di kota raja itu dan biarpun dia tidak suka mencampuri urusan pemerintah, namun peristiwa itu sungguh menarik hatinya. Terjadi kejahatan yang luar biasa beraninya di kota raja.

“In-moi, kalau boleh aku bertanya, bagaimana keadaan dan pendirian mendiang suamimu terhadap Sribaginda Kaisar?“

Ditanya tentang suaminya itu, Sui In terkejut sekali, karena hal ini tidak pernah disangkanya. Ia memandang dengan mata terbelalak. “Apa... apa maksudmu, toako?”

“Begini, In-moi. Aku ingin mengetahui bagaimana sikap para pejabat tinggi yang terbunuh itu. Karena engkau tentu tidak mengetahui keadaan mereka, maka aku bertanya tentang suamimu. Diapun ikut pula terbunuh, berarti dia memiliki persamaan atau kepentingan yang sama dengan para pejabat lain yang terbunuh. Nah, aku ingin tahu apakah suamimu itu seorang pejabat yang... maafkan pertanyaanku kalau kasar, apakah dia seorang pejabat yang korup?”

Secara kontan Sui In menggeleng kepala keras-keras. “Sama sekali tidak! Baik pamanku, Ciok Tai-jin Pembantu Menteri Pajak, dan juga mendiang suamiku, mereka adalah pejabat-pejabat yang jujur dan setia, disiplin dan tidak sudi melakukan penyelewengan demi keuntungan diri pribadi!”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Dan bagaimana sikapnya terhadap Sribaginda Kaisar? Setia sepenuhnyakah? Ataukah ada sesuatu yang membuat suamimu merasa tidak suka akan kebijaksanaan Kaisar? Secara terang-terangan atau secara sembunyi menentang Kaisar?”

Sui In menggelengkan kepalanya dan kini ia mengerti ke arah mana tujuan pertanyaan Pek-liong, maka iapun menerangkan. “Akupun pernah melakukan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu, toako, dan akupun sudah menyelidiki tentang sikap mereka yang terbunuh. Suamiku sendiri adalah seorang yang setia dan taat kepada kaisar. Akan tetapi, yang membingungkan adalah bahwa di antara mereka yang terbunuh terdapat pula mereka yang memperlihatkan sikap tidak cocok dengan kebijaksanaan Kaisar. Jadi, pembunuhan ini jelas bukan berdasarkan pro atau anti kaisar.”

Pek-liong memandang wanita itu dengan kagum. Seorang wanita yang cerdik pula, pikirnya. “Apakah di kota raja sudah ada usaha untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu? Bagaimana dengan Kaisar sendiri?”

“Kaisar sudah memerintahkan semua petugas keamanan untuk melakukan penyelidikan. Namun tanpa hasil. Akan tetapi, sungguh aku tidak mengerti apa hubungan semua pembunuhan di kota raja itu dengan pembunuhan terhadap susiok?”

“Tentu ada kaitannya, In-moi. Setidaknya, mereka itu jelas memusuhi Kun-lun-pai. Buktinya, setelah mereka tahu bahwa engkau murid Kun-lun-pai engkaupun akan mereka bunuh. Tulisan itu menyebutkan dua nama. Nama Pek-mau-kwi sudah jelas. Dia adalah orang berambut putih yang memimpin pengeroyokan terhadap dirimu. Ini berarti bahwa ketika paman gurumu terbunuh, dia mengenal Pek-mau-kwi sebagai seorang di antara pembunuhnya. Melihat tingkat kepandaiannya, kiranya kalau hanya seorang diri saja Pek-mau-kwi tidak akan mungkin dapat membunuh susiokmu yang tentu lihai sekali.”

“Dalam hal kelihaian ilmu silat, susiok hanya lebih menang sedikit dibandingkan aku, akan tetapi dia berpengalaman dan cerdik, maka aku ingin minta bantuannya untuk menangkap pembunuh di kota raja.”

“Lebih lihai dan engkau berarti tidak kalah malawan Pek-mau-kwi. Mungkin dia dikeroyok oleh Pak-mau-kwi bersama dua orang pembantunya itu. Akan tetapi, diapun menulis nama Kwi-eng-cu! Apakah pembunuh misterius di kota raja itu datang pula ke sini, bersama Pek-mau-kwi membunuhnya?”

“Mungkin juga begitu! Sayang aku datang terlambat!” kata Sui In penuh penyesalan.

Pek-liong menggeleng kepala. Otaknya sudah bekerja karena dia tertarik sekali oleh semua peristiwa yang terjadi, baik di bukit itu maupun di kota raja seperti yang dia dengar dari Sui In. “Engkau terlambat satu hari, In-moi. Pamanmu itu sudah tewas sedikitnya lima jam yang lalu, akan tetapi melihat luka pedang di tengkuknya, tentu dia sudah diserang orang pada hari kemarin. Dia tentu disangka mati dan ditinggalkan para pembunuhnya, maka dia masih mampu menuliskan nama-nama itu. Dan melihat betapa kita bertemu dengan Pek-mau-kwi pada hari ini, bersama dua orang pembantunya yang lihai pula itu, maka kurasa yang membunuh pamanmu adalah tiga orang tadi. Kalau dikeroyok tiga, sukar baginya untuk menang.”

“Akan tetapi, mengapa paman guruku menuliskan nama Kwi-eng-cu pula?”

“Itulah yang menjadi rahasianya. Apapun rahasianya itu, jelas bahwa antara Kwi-eng-cu dan Pek-mau-kwi ada hubungan! Jadi, kalau kita hendak menyelidiki tentang Kwi-eng-cu, kita dapat menyelidikinya melalui Pek-mau-kwi!”

“Kita...?” Sui In mengangkat muka, memandang dengan sinar mata penuh harap.

Pek-liong mengangguk. “Ya, aku akan pergi denganmu, In-moi. Perkara ini amat menarik hatiku. Secara kebetulan saja kita saling melihat di rumah makan itu. Kalau saja tiga orang itu tidak menimbulkan kecurigaanku dengan sikap mereka, tentu aku tidak akan membayangi mereka dan kita mungkin tidak akan saling bertemu kembali.”

Bukan main girangnya rasa hati Sui In. Ia mencari susioknya untuk membantunya menyelidiki pembunuh suaminya. Susioknya tewas terbunuh orang dan sebagai gantinya, ia mendapat bantuan dari orang yang lebih hebat dan lebih dapat dipercaya dari pada susioknya, yaitu Pek-liong-eng Tan Cin Hay!

“Terima kasih, toako! Kalau engkau yang melakukan penyelidikan, aku yakin rahasia pembunuh itu akan terbongkar dan kita akan dapat menangkapnya! Biarpun aku berduka karena kematian susiok, sebaliknya aku gembira sekali telah mendapatkan engkau sebagai penggantinya untuk membantu aku membalas dendam kematian suamiku!”

“Maaf, In-moi. Kalau aku ingin menyelidiki Kwi-eng-cu, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan balas dendam kematian suamimu, juga bukan sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan lalu membela para pejabat. Aku bukan pendekar, aku seorang manusia biasa yang bebas menentukan jalan hidupku sendiri. Kalau aku sekarang ikut denganmu ke kota raja, hal itu adalah karena aku tertarik oleh semua ceritamu tadi, In-moi.”

“Apapun alasanmu, aku girang bahwa engkau suka pergi bersamaku ke kota raja, toako. Mari kita berangkat!” ajak wanita itu dengan wajah berseri.

“Kita singgah dulu di rumahku, In-moi. Tidak jauh dari sini. Aku harus membuat persiapan dan memberitahu orang di rumah.”

“Aih, maafkan. Aku lupa. Tentu saja engkau harus berpamit kepada keluargamu!” kata Sui In dan teringat akan hal ini, seri di wajahnya menghilang.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay tertawa. “Ha-ha-ha, aku hidup seorang diri di dunia ini, In-moi, sebatang kara, tanpa keluarga. Hanya dengan para pembantu rumah tangga. Kalau aku pergi, aku harus memberitahu mereka agar mereka tidak gelisah. Pula, aku harus membawa bekal dan persiapan.”

“Tapi, toako. Seorang pria seperti engkau ini, usiamu sudah cukup dewasa, engkau pandai, engkau gagah perkasa dan wajahmu menarik, bagaimana mungkin sampai kini masih hidup membujang? Maafkan, bukan maksudku mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi seorang pria seperti engkau sudah sepatutnya kalau mempunyai seorang isteri yang cantik jelita dan bijaksana, dan mempunyai beberapa orang anak yang mungil dan sehat.”

Ada bayangan gelap menyelimuti wajah Pek-liong, namun hanya sebentar saja, seperti bayangan awan yang lewat. Wajahnya sudah berseri kembali, matanya bercahaya dan mulutnya ramai oleh senyum. “Isteriku telah meninggal dunia sembilan tahun yang lalu tanpa anak dan sejak itu, aku belum pernah menikah lagi.”

“Ah, engkau... seorang... duda? Siapa sangka!” Wajah Sui In berubah merah sekali karena ucapan itu tadi keluar begitu saja di luar kesadarannya dan baru sekarang ia merasa betapa ucapan itu amat tidak pantas keluar dari mulutnya. Untuk menutupi perasaan rikuh dan salah tingkah, ia cepat menyambung, “Isterimu tentu meninggal dunia karena sakit.”

Pek-liong menggeleng kepala. “Seperti juga suamimu, isteriku tewas dibunuh orang! Sudahlah, perlu apa kita bicara tentang hal lalu. Mari engkau singgah dulu di rumahku. Tidak begitu jauh dari sini.”

Menjelang sore, tibalah mereka di dusun Pat-kwa-bun. Begitu memasuki pekarangan rumah Pek-liong, Sui In merasa, kagum bukan main. Tempat itu amat bersih dan terpelihara rapi. Dari pagar temboknya yang tidak begitu tinggi dan dicat merah, sampai pekarangan yang juga merupakan taman terpelihara indah, dengan air mancur di depan di tengah kolam ikan emas, dan ada sebuah arca naga putih di belakang kolam.

Beberapa batang pohon membuat tempat itu sejuk dan nyaman, dan hamparan rumput juga terpelihara sehingga merupakan permadani hijau yang menyegarkan mata. Rumah itu sendiri dari luar nampak kokoh. Tidak begitu besar namun indah walaupun tidak nampak mewah dari luar. Dindingnya putih bahkan jendela dari pintunya juga putih, dengan garis-garis tipis merah muda dan kuning. Gentengnya kemerahan.

“Selamat datang, Tai-hiap, Selamat datang, nona!” Dua orang pria yang berpakaian pelayan namun bersih dan dengan sikap yang gagah, dengan tubuh tegak dan tegap, menyambut mereka dengan salam hormat.

“Nona ini adalah Cu Li-hiap, menjadi tamu kehormatanku malam ini. Suruh A- liok menyiapkan hidangan yang lezat untuk tamu kita!” kata Pek-liong kepada mereka.

“Maafkan kami, Li-hiap,” kata seorang di antara mereka sambil memberi hormat kepada Sui In yang tentu saja merasa rikuh menerima penghormatan sebagai seorang pendekar wanita. Akan tetapi ia hanya mengangguk dan Pek-liong mempersilakan ia ikut memasuki rumahnya.

Setelah masuk ke dalam rumah itu, Sui In menjadi semakin kagum. Kiranya isi rumah itu berbeda sekali dengan keadaan luarnya. Semua perabot rumah di situ nampak megah dan mewah, juga terpelihara rapi. Sampai lantainya saja mengkilap seperti cermin! Lukisan-lukisan indah, juga tulisan-tulisan indah menghias dinding. Pot-pot bunga terukir naga dan burung Hong, berdiri di sudut-sudut terisi tanaman yang segar. Sutera-sutera beraneka warna menutupi lubang-lubang dan bergantungan seperti pelangi.

Ruangan-ruangan yang dilaluinya ditata secara nyeni sekali, tidak kalah indahnya dibandingkan istana raja sekalipun! Yang membuat Sui In semakin kagum adalah ketika mereka memasuki setiap ruangan Pek-liong selalu memeriksa apakah tombol rahasia menunjukkan bahwa ruangan itu bebas perangkap, jelas bahwa rumah yang indah itu penuh jebakan dan perangkap. Karena ingin tahu ia tanyakan hal ini kepada tuan rumah.

Pek-liong mengangguk, tersenyum. “Hidup seperti aku ini selalu diancam bahaya, banyak orang yang pernah kujatuhkan menaruh dendam dan setiap waktu mereka dapat datang menyerbu ke rumahku. Karena aku tidak suka menggunakan pasukan pengawal, maka aku harus mampu menjaga segala kemungkinan terhadap gangguan dari luar yang datang selagi aku tidur.”

“Ah, menarik sekali, Toako, aku tidak ingin mengetahui alat-alat rahasia di rumahmu ini yang tentu saja harus dirahasiakan, akan tetapi kalau boleh aku ingin melihat bekerjanya satu saja perangkap yang dipasang di ruangan depan itu.” Ia menuding ke depan, ke sebuah ruangan yang dihias sutera-sutera merah muda.

Pek-liong tersenyum, mengangguk dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Engkau boleh buktikan sendiri, In-moi. Coba kau masuki ruangan itu dengan sikap hati-hati. Engkau seorang penyerbu yang sudah menduga bahwa kamar itu dipasangi jebakan, sehingga engkau boleh berhati-hati sekali, akan tetapi engkau harus memasuki ruangan itu, katakanlah untuk mengambil atau melakukan sesuatu.”

Sui In mengerutkan alisnya. “Akan tetapi... aku tidak mau terancam bahaya maut, toako!”

Pek-liong menggeleng kepala. “Aku belum gila, In-moi. Masa aku akan mencelakaimu? Jangan khawatir, perangkap yang kupasang di rumah ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat orang yang berniat buruk tidak berdaya dan tertawan tanpa melukai atau menyakitinya. Engkau boleh mencabut pedangmu untuk berjaga-jaga, seperti seorang musuh tulen!”

Sui In menjadi tertarik sekali dan iapun mengangguk, mencabut pedangnya dan dengan hati-hati menghampiri kamar itu. Bahkan ia, merasa gembira karena ia seperti berada dalam suatu permainan yang menarik untuk menguji diri sendiri dan menguji keampuhan alat yang dipasang oleh Pendekar Naga Putih di dalam rumahnya.

Dengan penuh kewaspadaan, Sui In menghampiri ruangan itu. Sebuah ruangan duduk yang indah, dengan pintunya terbuka dan lantainya mengkilap, meja kursinya terukir indah ditilami bantalan. Jendela-jendela yang berada di tiga penjuru tertutup, tentu dibuka kalau ada tamu sehingga ruangan yang menembus di sebelah kiri pada sebuah taman itu tentu akan sejuk dan nyaman sekali. Dindingnya yang bersih dihiasi lukisan dan tulisan indah berbentuk syair-syair berpasangan.

Dengan pandang matanya yang tajam Sui In mengamati seluruh bagian ruangan itu, mencari-cari tanda adanya pesawat rahasia. Namun semua nampak bersih dan wajar, tidak ada yang mencurigakan. Apakah lantainya yang mampu bergerak dan terdapat lubang sehingga ia akan terperosok ke bawah kalau menginjaknya. Ataukah dari jendela-jendela itu akan keluar senjata rahasia atau asap pembius yang akan membuatnya pingsan? Apakah daun pintu akan menutup sendiri begitu ia memasuki ruangan?

Berbagai kemungkinan ini ia perhitungkan ketika akhirnya berindap-indap ia melangkah memasuki ruangan itu dengan pedang di tangan. Selangkah demi selangkah ia memasuki ruangan itu, setiap bagian tubuhnya menegang penuh kesiap siagaan. Pada langkah kelima, tiba-tiba terdengar suara berderit di belakangnya. Ia cepat menoleh dan daun pintu yang tadi terbuka lebar itu kini tertutup!

. Ia melangkah maju lagi dan setelah tiba di tengah ruangan, tiba-tiba saja dari empat sudut ruangan itu menyambar anak-anak panah yang ujungnya berbentuk bola, juga dari atas turun anak panah bagaikan hujan. Sui In cepat menggerakkan pedangnya, diputar melindungi tubuhnya dan semua anak panah runtuh. Setelah runtuh baru nampak olehnya bahwa anakpanah-anakpanah itu tumpul dan tidak akan melukai orang yang menjadi sasaran.

Tiba-tiba saja dari lantai yang mengkilap itu bermunculan tongkat-tongkat panjang yang menyambar-nyambar ke arah kakinya. Sui In meloncat ke atas, dan pada saat itu, kain-kain sutera merah muda yang bergantungan di langit-langit itu bergerak, menyambar-nyambar sehingga mengaburkan pandangan matanya dan tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya sudah terlibat-libat oleh kain sutera yang panjang dan banyak sekali, seperti tidak ada habisnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di udara dalam libatan banyak kain sutera, seperti seekor lalat tertangkap di sarang laba-laba.

Akan tetapi, Sui In bukanlah wanita lemah. Ketika tadi kain sutera yang tadinya bergantungan sebagai hiasan itu tiba-tiba hidup dan menyambar-nyambar ke arahnya, tubuhnya terlibat-libat, ia sudah cepat membebaskan tangan kanan yang memegang pedang. Kini, biarpun tubuhnya sudah terlibat-libat kain, lengan kanan dan pedangnya masih bebas. Ia menggerakkan pedangnya dan putuslah semua libatan kain sutera dari tubuhnya.

Ia terlepas dan jatuh ke bawah. Dengan ilmu meringankan tubuh yang hebat, ia sudah berjungkir balik tiga kali dan turun ke atas lantai dengan selamat dan dalam keadaan berdiri. Akan tetapi, putusnya kain-kain sutera itu menimbulkan bunyi kelenengan nyaring bertubi-tubi dan terdengar dari seluruh penjuru rumah itu.

Daun-daun jendela tiba-tiba terbuka dan enam orang pelayan pria pembantu rumah tangga itu sudah berdiri di luar jendela dengan pedang di tangan! Daun pintu yang tadi tertutup sendiripun terbuka dan Pek-liong sudah berdiri di ambang pintu dengan tersenyum! Sui In mendapatkan dirinya sudah terkepung di dalam ruangan itu!

Pek-liong bertepuk tangan memuji. “Hebat, engkau hebat sekali, nona. Engkau sudah dapat menghindarkan anak panah, toya dan bahkan jala kain sutera!”

Sui In menyarungkan pedangnya dan menarik napas panjang. “Aihhh, sungguh ruangan ini berbahaya sekali! Biarpun sudah dapat membebaskan diri dari semua itu, akhirnya aku terkepung di ruangan ini! Ruangan yang satu ini saja sudah begini hebat, apa lagi yang lainnya! Toako, aku mengaku kalah dan menyatakan kagum sekali. Maafkan kalau aku merusak kain-kain sutera merah muda itu.”

“Ah, tidak mengapa, In-moi.” Lalu kepada para pembantunya dia berkata, “Ganti kain-kain sutera itu dengan yang baru dengan warna biru laut!”

Kemudian dia mengajak Sui In keluar dari ruangan itu dan mempersilakan janda muda itu ke sebuah kamar. Dia sendiri berhenti di luar pintu kamar.

“In-moi, inilah kamar tamu untukmu bermalam semalam ini. Besok pagi baru kita akan melakukan perjalanan ke kota raja. Malam ini aku akan membuat persiapan untuk perjalanan besok pagi. Makan malam nanti setelah siap dan engkau akan diberitahu oleh pembantu. Nah, beristirahatlah, In-moi.”

Setelah berkata demikian, Pek-liong meninggalkan wanita itu. Sampai beberapa lamanya Sui In berdiri di pintu kamar itu, mengikuti bayangan Pek-liong sampai lenyap di tikungan. Seorang pria yang bukan main, pikirnya. Gagah perkasa, berkepandaian tinggi, tampan dan ganteng, duda dan bebas, ditambah lagi kaya-raya dan juga amat sopan. Masuk ke kamar itupun dia tidak mau!

Hatinya semakin tertarik dan dengan muka merah ia mendapatkan kenyataan betapa ia telah jatuh cinta kepada pria muda yang ganteng itu! Betapa ia mengharapkan terjadi suatu mujijat, suatu anugerah dari Tuhan. Ia seorang janda, dan Pek-liong-eng Tan Cin Hay seorang duda. Sudah tepat, bukan? Dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memasuki kamar itu. Begitu masuk, hidungnya bertemu keharuman semerbak.

Sebuah kamar yang mewah sekali. Ada dupa harum masih mengepul di atas meja, tanda bahwa dupa itu baru saja dibakar oleh pelayan. Kamar itu tidak berapa besar, namun lengkap dan enak sekali. Udaranya nyaman, masuk dari jendela yang menembus taman, dan dari lubang-lubang hawa di atas jendela. Sebuah kamar kecil menyambung kamar itu. Betapa mewahnya!

Ketika ia menjenguk ke dalam kamar mandi, tersedia sudah air jernih yang cukup banyak. Setelah menutup pintu kamar, Sui In lalu menyiram tubuhnya dengan air, mandi sekenyangnya sehingga tubuhnya terasa segar kembali, kulit tubuhnya dari muka sampai kaki tangan, menjadi kemerahan karena digosoknya dengan keras sehingga bersih dari debu.

Ia telah mengenakan pakaian bersih ketika pinta kamar diketuk dari luar, dan seorang pelayan dengan sikap hormat memberitahu bahwa makan malam telah siap, dan tamu yang dihormati itu dipersilakan datang ke ruangan makan di mana “tai-hiap” telah menanti.

Ketika Sui In memasuki ruangan makan, Pek-liong bangkit berdiri dan dia memandang kepada wanita itu dengan sinar mata kagum. Harus diakuinya bahwa janda muda ini memang cantik manis dan segar bagaikan setangkai bunga mawar di pagi hari, tersiram embun pagi dan bersinar cahaya keemasan matahari. Dengan ramah dia lalu mempersilakan tamunya duduk berhadapan dengannya, menghadapi sebuah meja.

Melihat pandang mata kagum itu, Sui In merasa betapa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Untuk menenangkan hatinya, iapun segera bertanya setelah duduk. “Sudahkah engkau membuat persiapan, toako? Dan kapan kita berangkat?”

Pek-liong mengangguk. “Sudah beres semua, In-moi. Besok pagi-pagi setelah terdengar bunyi ayam berkeruyuk, kita berangkat.”

Sementara itu, dua orang pelayan datang membawa hidangan yang masih mengepul panas. Sui In mencium bau masakan yang lezat dan perutnya memberontak karena memang ia telah merasa lapar. Tidak kurang dari sepuluh macam masakan dihidangkan, kesemuanya terdiri dari masakan yang mewah dan mahal. Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira, sambil bercakap-cakap. Sui In sama sekali tidak merasa canggung biarpun pengalaman seperti ini merupakan pengalaman pertama sejak suaminya terbunuh.

Makan malam berdua saja dengan seorang pria yang tampan dan gagah! Di dalam rumah pria itu pula! Akan tetapi, sedikitpun ia tidak merasa canggung dan kaku. Hal ini karena sikap Pek-liong yang sopan dan ramah. Memang, kadang-kadang sinar mata yang tajam mencorong itu membayangkan kekaguman, namun kekaguman yang wajar, tidak mengandung kecabulan atau kekurangajaran yang biasa ia lihat dalam pandang mata kaum pria kalau memandang kepadanya.

Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang rumah itu. Juga taman bunga ini, walaupun tidak sangat luas, diatur indah sekali. Di tengah taman, di antara beraneka macam bunga, terdapat sebuah tempat berteduh berbentuk payung, bangunan tanpa dinding, hanya atap yang berbentuk payung dan di bawahnya terdapat enam buah bangku dan sebuah meja. Tempat itu enak sekali. Empat lampu gantung menerangi tempat itu, dan di sana-sini, di ujung taman terdapat pula lampu gantung dengan berbagai warna. Suasana amat hening dan indah, semerbak harum bunga memenuhi taman itu.

“Aduh, bagus sekali taman ini!” kata Sui In memuji.

“Mari kita duduk di sana. Engkau belum mengantuk, bukan?” kata Pek-liong dan wanita itu tertawa.

“Aih, toako. Baru saja makan kenyang, masa mengantuk dan tidur? Pula, malam baru saja tiba, belum larut.”

Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja kecil. Suasana sungguh indah dan romantis sekali. Apa lagi ketika di langit muncul bulan muda yang memandikan taman itu dengan cahayanya yang lembut. Anginpun lembut sepoi-sepoi bercanda di antara bunga-bunga, membuat udara yang penuh keharuman bunga itu menjadi nyaman dan sejuk.

Suasana yang romantis seperti ini, cahaya bulan yang lembut mengandung daya yang mengairahkan, yang amat kuat mengusik hati muda, menggelitik dan membangkitkan berahi. Hal ini terasa sekali oleh Sui In ketika ia duduk dan menikmati keindahan itu, dan setiap kali pandang matanya berhenti di wajah Pek-liong, ia terpesona.

Wajah itu nampak demikian ganteng, demikian tampan sehingga hatinya luluh, rindu dendam dan gairahnya bangkit. Kalau saja pada saat itu Pek-liong maju selangkah saja, mengulurkan tangan, pasti ia tidak akan mampu menolak atau mengelak, dan akan terlena dalam pelukan pria itu dengan hati penuh kerinduan!

Akan tetapi, Pek-liong sama sekali tidak melakukan uluran tangan! Sama sekali tidak, bahkan pria mengajaknya bercakap-cakap kembali tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja, sehubungan dengan kemunculan Si Bayangan Iblis.

Bimbingan ke arah percakapan itu tentu saja membuyarkan keindahan khayal yang muncul dari gairah berahi tadi, apa lagi karena percakapan itu mengingatkan Sui In akan semua peristiwa dan malapetaka yang menimpa dirinya. Iapun tertarik dan setelah mereka barcakap-cakap, iapun menerangkan dan menceritakan segala hal yang diketahuinya dan yang bertalian dengan pembunuhan-pembunuhan misterius yang dilakukan oleh bayangan yang kemudian dinamakan Si Bayangan Iblis. Waktu berjalan cepat dan tahu-tahu bulan sudah naik tinggi ketika Pek-liong mempersilakan tamunya untuk tidur.

“Besok pagi-pagi kita berangkat, maka sebaiknya kalau engkau mengaso dan tidur di kamar, In-moi. Selamat malam dan selamat tidur!”

Sui In tidak menjawab dan ada perasaan kecewa dan menyesal di dalam hatinya bahwa malam itu ia harus berpisah dari Pek-liong. Muncul kembali kerinduannya akan suatu kemesraan yang sudah lama lepas darinya, lama sebelum suaminya tewas dibunuh orang. Dan ia ingin mendapatkan kemesraan itu dari Pek-liong! Akan tetapi, agaknya sedikitpun Pek-liong tidak menanggapi perasaannya. Berulang tali ia menarik napas panjang penuh kekecewaan dan penyesalan ketika ia melangkah perlahan menuju ke kamarnya, setelah tadi Pek-liong meninggalkannya di taman.

Baru setelah ia merebahkan diri di atas pembaringannya, ketika suasana romantis taman bunga bermandikan cahaya bulan itu tidak mempengaruhinya, ia tersenyum! Diam-diam ia berterima kasih kepada Pek-liong yang tidak mempergunakan kesempatan itu untuk merayunya dari menjatuhkannya!

Kalau sampai hal itu terjadi, tentu ia akan merasa menyesal sekali kemudian, karena ia sedang bertugas! Tugas mencari Si Bayangan Iblis dan menumpas kejahatan itu sama sekali belum terlaksana! Suaminya tewas di tangan penjahat, juga paman gurunya tewas di tangan penjahat dan penjahat itu agaknya Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis).

Sungguh tidak pantas kalau kini ia bersenang-senang mengumbar nafsu berahi. Selain tidak pantas karena baru saja kematian suaminya, juga tidak patut karena dalam melaksanakan tugas ia hanya mementingkan kesenangan sendiri, membiarkan diri menjadi budak nafsu! Kalau musuh itu telah terhukum, kalau ia sudah bebas dari tugas, hal itu akan lain lagi.

“Pek-liong, terima kasih...” bisiknya tersenyum dan janda muda inipun terlena dalam kepulasan.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 08 karya kho ping hoo

Gadis itu cukup manis walaupun tidak dapat dibilang terlalu cantik, Bahkan wajah yang nampak membayangkan kebodohan itu tidak akan menarik perhatian pria, walaupun harus diakui bahwa bentuk tubuhnya amat indah. Rambutnya juga nampak kasar dan gerak geriknya kaku. Juga ia kelihatan takut-takut dan gelisah.

Memasuki ruangan-ruangan yang amat indah dari istana itu, ia bagaikan seekor ikan sungai yang kecil dilempar masuk ke dalam samudera. Ia kebingungan, merasa dirinya kecil menghadapi segala kemegahan dan kemewahan itu. Melihat kegelisahan membayang di wajah yang manis dan polos itu, pria berpakaian perwira yang berjalan di sampingnya tersenyum.

“Akim, jangan takut. Tenanglah. Asalkan engkau pandai membawa diri dan rajin bekerja juga jujur dan taat, tentu engkau akan hidup senang di istana. Sekarang, Hong-houw (Parmaisuri) ingin melihatmu sebagai seorang dayang baru, engkau harus menghadap dan memberi hormat kepada beliau seperti yang sudah kuajarkan tadi.”

Gadis itu mengangguk-angguk akan tetapi jelas nampak betapa ia gelisah dan ketakutan. Gadis yang jelas sekali kelihatan sebagai seorang gadis dusun yang disebut Akim oleh perwira itu bukan lain adalah Hek-liong-li Lie Kim Cu! Dengan kepandaiannya menyamar yang hebat, ia sudah dapat menyulap dirinya yang merupakan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang amat cantik jelita, manis dan menarik hati, berubah menjadi seorang gadis dusun berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Kasar kaku, tidak menarik walaupun cukup manis, dan wajahnya membayangkan kebodohan. Cian Ciang-kun sendiri sampai terbalalak dan tertegun ketika pertama kali melihat penyamaran ini, dan merasa yakin bahwa tak seorangpun akan dapat mencurigai seorang gadis dusun bodoh seperti itu.

Perwira yang berjalan di sampingnya dalam ruangan-ruangan istana itu adalah Kok Ciang-kun (Perwira Kok) yang menjabat kepala pasukan pengawal thai-kam (orang- orang kebiri), yaitu kenalan Cian Ciang-kun dan yang suka “menolong” Cian Hui untuk memasukkan seorang “sanak jauh” dari dusun menjadi seorang dayang baru di istana.

Di istana bagian puteri ini, tak seorangpun dari luar diperbolehkan masuk. Hanya keluarga Kaisar yang boleh masuk, dan tentu saja para perajurit pengawal thai-kam. Untuk mencegah terjadinya, penyelewengan dari para wanita dalam istana itu, maka sejak dahulu kala sampai saat itu, para petugas pria di istana bagian-puteri haruslah dikebiri lebih dahulu!

Pada saat itu, bukan hanya karena kepandaian saja Liong-li yang kini menyamar menjadi Kim Siauw Hwa atau biasa disebut Akim kelihatan gugup dan gelisah. Akan tetapi memang benar-benar ada kegelisahan di hatinya. Ia telah memasuki istana dengan menyamar, dan ia tahu bahwa bahaya bukan hanya datang dari penjahat yang dinamakan Kwi-eng-cu akan tetapi dari satu kekuatan yang mempunyai banyak orang pandai!

Dan ia merasa yakin bahwa sarang penjahat itu, atau pimpinannya, pasti berada di istana. Kalau gerombolan penjahat itu berada di luar istana tentu sudah lama diketahui tempatnya oleh Cian Hui yang cerdik dan memiliki banyak mata-mata. Selain merasa berada di tengah-tengah pihak musuh yang belum diketahuinya siapa.

Dan betapa bahayanya bagi dirinya kalau pihak musuh sampai mengetahui bahwa ia Hek-liong-li yang menyamar, juga ia harus berhadapan dengan Hong-houw (Permaisuri) Bu Cek Thian! Menurut keterangan dari Cian Hui, wanita itu cerdik bagaikan iblis! Ia teringat akan kata-kata pesanan Cian Hui kepadanya ketika hendak berangkat tadi...

“Berhati-hatilah terhadap Hong-houw, Li-hiap. Ia seorang wanita yang teramat cerdik seperti Iblis! Bahkan saat ini boleh dibilang ia yang paling berkuasa di seluruh istana! Hong-siang (Kaisar) sendiri seperti menjadi boneka di tangannya. Ia cerdik dan amat berbahaya, oleh karena itu, berhati-hatilah engkau terhadap wanita ini.”

Tentu saja Liong-li tidak merasa takut. Baginya, makin lihai dan makin cerdik orang-orang yang berada di pihak lawan, akan semakin gembira menghadapinya. Yang membuat ia gelisah adalah mengingat betapa dirinya sama sekali tidak berdaya di dalam istana yang besar dan megah itu.

Ia merasa seperti seekor lalat memasuki sarang laba-laba! Dan begitu memasuki istana, diterima oleh Kok Ciang-kun, perwira thai-kam yang gendut dan agak genit seperti wanita ini membawanya menghadap Hong-houw, wanita yang agaknya bahkan ditakuti oleh Cian Hui itu...!