Social Items

THIO WI HAN mengangguk. Dia tadipun melihat bahwa betapa lihainya pun Cin Hay, pemuda itu masih belum dapat mengalahkan Hek-sim Lo-mo yang amat lihai ilmu pedangnya. Untuk sementara ini, yang penting adalah menghindarkan dua orang pemuda itu dari maut.

“Baiklah, Hek-sim Lo-mo. Akan tetapi engkau berjanjilah dulu bahwa engkau dan anak buahmu tidak akan membunuh kedua orang pemuda ini, dan akan membebaskan mereka setelah pedang-pedang itu kuselesaikan.”

Hek-sim Lo-mo menyeringai. “Aku berjanji...”

Lalu kepada Yauw Ban dan kawan-kawannya dia memerintah, “Tangkap mereka, belenggu kaki tangan mereka, akan tetapi jangan disiksa dan jangan diganggu!”

Cin Hay tidak melihat jalan lain kecuali menyerah, ketika kaki dan tangannya dipasangi rantai baja. Kalau dia melawan, tentu Thio Wi Han dan Song Tek Hin mereka bunuh. Juga dia tadi sudah merasakan kelihaian Hek-sim Lo-mo. Datuk itu saja dia tidak mampu kalahkan, apa lagi kalau datuk itu dibantu oleh semua anak buahnya yang rata-rata amat lihai. Akan tetapi Song Tek Hin marah-marah dan kecewa sekali melihat Cin Hay menyerah.

“Tai-hiap, engkau kena ditipu! Kalau engkau menyerah, akhirnya mereka ini tentu akan membunuh pula engkau, aku dan paman Thio! Sia-sia saja pengorbananmu. Kalau engkau melawan, biarlah mereka memhunuhku, aku tidak penasaran karena engkau tentu akan berhasil membasmi mereka.”

Cin Hay tersenyum dan menggeleng kepala. “Tenang dan bersabarlah, saudara Song Tek Hin.” Diam-diam dia suka sekali kepada pemuda yang biarpun ilmu silatnya tidak begitu tinggi, namun amat gagah perkasa ini.

Dua orang pemuda itu dimasukkan ke dalam sebuah pondok darurat di belakang rumah Thio Wi Han, dan kamar mereka dipasangi jeruji besi yang kokoh kuat. Para pembantu utama Hek-sim Lo-mo bergiliran melakukan penjagaan di luar kamar tahanan itu. Thio Wi Han sendiri kembali ke tempat kerjanya. Dibantu isterinya, dia melanjutkan penyelesaian pembuatan sepasang pedang. Yang sebatang berwarna keputihan, yang kedua berwarna kehitaman. Yang putih agak lebih panjang dari pada yang hitam.

Kakek yang ahli ini telah berhasil memisahkan dua macam baja yang terkandung dalam benda aneh yang disebut Kim-san Liong-cu itu, mencampurnya dengan baja yang dibawa oleh Cap-sha-kwi dan membuatnya menjadi sepasang pedang itu. Menurut keterangannya kepada Hek-sim Lo-mo, pedang yang panjang itu adalah pedang jantan dan diberi nama Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) sedangkan yang hitam adalah pedang betina dan diberi nama Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam). Kini, kedua pedang itu sudah terbentuk, sudah hampir jadi, tinggal memperhalusnya lagi saja. Nampak indah sekali.

Malam itu, di dalam kamar mereka, Thio Wi Han dan isterinya bicara dalam bisik bisik. Mereka bersikap waspada sekali dan baru setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang lain yang akan mampu menangkap percakapan mereka, suami isteri ini berbisik-bisik dengan saling mendekatkan mulut dengan telinga, di atas pembaringan.

“Tidak ada lain jalan, kita harus melarikan sepasang pedang itu, sekali-kali kedua pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”

“Akan tetapi, itu berbahaya sekali!” bantah isterinya. “Kalau kita ketahuan, kita takkan mampu melawan mereka dan kita tentu akan mereka bunuh!”

“Kau kira mereka tidak akan membunuh kita kalau pedang itu sudah selesai? Aku tahu orang-orang macam apa mereka itu. Hal ini sudah sejak semula kurencanakan, karena itu, aku membuat sepasang pedang palsu itu, sedangkan yang aseli diam-diam kuselesaikan. Engkau masih menyimpan Hek-liong-kiam yang aseli itu, bukan?”

Isterinya mengangguk, “Di tempat yang aman.”

“Bagus! Sekarang, kebetulan muncul dua orang pemuda itu. Yang bernama Tan Cin Hay dan berpakaian putih itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. ”Hanya Hek-sim-lo-mo yang mampu menandinginya, dan kalau dia memegang Pek-liong-kiam, kukira dia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo. Kita pergunakan kesempatan baik ini untuk melarikan diri bersama mereka.”

“Tapi... mereka sendiri tidak berdaya, dalam tawanan...”

“Aku akan membebaskan mereka.”

“Ah, itu berbahaya sekali... aku khawatir akan keselamatanmu...”

Thio Wi merangkul isterinya. “Jangan khawatir. Dalam saat terakhir dari usia kita yang sudah tua ini, kita harus melakukan hal yang tepat dan baik. Menyerahkan sepasang pedang ini ke tangan mereka berarti kita membuat dosa besar karena di tangan mereka, sepasang pedang ini hanya akan mendatangkan banjir darah. Kita harus berdaya upaya agar pedang ini jatuh ke tangan pendekar yang layak menerimanya agar sepasang pedang ini dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan. Setidaknya sebuah di antara kedua pedang ini, harus jatuh ke tangan orang yang layak.”

Isterinya mengangguk, “Engkau benar. Kita sudah tua, kematian bukan apa-apa bagi kita, akan tetapi dosa akan memberatkan batin. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Begini, mereka tidak mencurigaimu dan engkau tidak pernah diawasi. Yang diawasi hanya aku. Maka, besok pagi engkau seperti biasa bawalah keranjang untuk mencari sayur ke ladang kita, dam sembunyikan Hek-liong-kiam di balik bajumu sampai tidak kentara dari luar. Larikanlah pedang itu keluar dusun. Sebaiknya engkau mengambil jalan jurusan timur, memasuki hutan cemara itu. Mengerti?”

Isterinya mengangguk. “Dan engkau?”

“Aku akan lari ke barat. Kita harus berpencar agar setidaknya sebatang di antara dua pedang itu dapat diselamatkan.”

“Tapi itu berbahaya sekali. Mereka mengawasimu dan engkau tentu tidak akan dapat lari jauh...”

“Jangan khawatir. Sudah kurencanakan semua. Sebelum lari, aku akan membebaskan kedua orang pemuda itu. Akan kuserahkan Pek-liong-kiam kepada Cin Hay agar dia mampu menahan mereka. Kalau Thian menghendaki, tentu aku akan selamat dan kita akan dapat saling berjumpa kembali.”

Suara kaki dan orang-orang bicara memberitahu mereka bahwa ada anak buah Hek-sim Lo-mo meronda, maka merekapun tidak bicara lagi. Semalam itu mereka hampir tidak tidur, merencanakan tekad mereka itu dan membayangkan apa yang akan terjadi.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 15 karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, tanpa menimbulkan kecurigaan, isteri Thio Wi Han meninggalkan pondok. Ia mengenakan baju rangkap karena hawa udara memang dingin di pagi itu, membawa sebuah keranjang sayur. Dengan sikap biasa nenek ini berjalan perlahan menuju ke timur.

Cap-sha-kwi melihat ia meninggalkan pondok, akan tetapi mereka tidak menaruh perhatian karena tugas mereka hanya menjaga agar Thio Wi Han tidak pergi dan berhubungan dengan orang luar. Nenek itu sendiri tidak ada artinya bagi mereka, dan memang satu-dua hari sekali nenek itu keluar membawa keranjang sayur untuk membeli sayur di pasar dusun itu.

Sementara itu, kakek Thio Wi Han sibuk di bengkelnya. Suara palunya sudah berdenting sejak pagi tadi. Dia sedang menempa pedang yang keputihan, tinggal menghaluskannya saja, sedangkan pedang yang lebih pendek, yang kehitaman, berada di atas meja bengkelnya, juga belum halus benar, masih memerlukan penghalusan selama beberapa hari lagi.

“Kakek Thio, masih belum jadi jugakah sepasang pedang itu?”

Thio Wi Han terkejut. Munculnya Yauw Ban si mata satu itu sungguh mengejutkan hatinya karena selain munculnya tanpa suara, juga dia sudah sejak tadi merasa tegang menghadapi rencananya yang sudah diatur semalam bersama isterinya.

“Tinggal sedikit lagi, dalam waktu dua-tiga hari lagi pasti selesai,” jawabnya acuh. Tentu saja diapun mengetahui akan perubahan sikap pembantu utama Hek- sim Lo-mo ini. Biasanya, si mata satu ini menyebutnya Thio-locianpwe, dan bersikap hormat. Akan tetapi sekarang sikapnya sudah berbeda, juga sebutannya. Hal ini saja jelas membuktikan bahwa mereka memang mempunyai niat jahat terhadap dirinya. Hampir dia berani memastikan bahwa kalau sepasang pedang itu sudah jadi dan sudah diserahkan kepada mereka, dia dan isterinya, juga dua orang pemuda itu, tentu akan dibunuh.

Yauw Ban mendekat dan melihat kedua batang pedang itu dengan penuh perhatian. Kakek Thio Wi Han tidak khawatir kalau sampai ketahuan bahwa dua batang pedang itu palsu. Hek-sim Lo-mo sendiri tidak akan mengetahuinya! Dia membuat pedang itu dengan baja murni pula, dan memberi campuran yang membuat kedua batang pedang itu berwarna hitam dan putih.

Pedang yang aseli sudah jadi, yang betina berwarna hitam kini sudah dibawa pergi isterinya, sedangkan yang jantan berwarna putih disimpannya dengan aman di dalam kamarnya, di tempat rahasia bawah pembaringan. Betapapun juga, melihat betapa mata yang tinggal satu dari Yauw Ban mengamati kedua pedang itu dengan sinar mencorong, hati kakek ini berdebar juga. Untuk meredakan ketegangannya, sambil melanjutkan tempaannya dia berkata.

“Kuharap saja kalian tidak melanggar janji dan kedua keponakanku itu diperlakukan dengan baik dan tidak diganggu. Kalau sampai mereka diganggu, sungguh mati, aku tidak akan melanjutkan pembuatan pedang-pedang ini.”

Yauw Ban mengeluarkan suara seperti sapi mendengus. “Huh, siapa yang akan menganggu mereka! Mereka itu bagaimanapun juga tidak akan mungkin dapat membuat ribut lagi. Mereka dikurung dalam kamar berjeruji besi, siang malam dijaga secara bergilir dan andaikata mereka membuat keributanpun, kami semua akan datang dan menundukkannya. Apa lagi Beng-cu kami tidak jauh dari sini!” Berkata demikian, Yauw Ban meninggalkan tempat kerja itu karena diapun tidak mau lama-lama mengganggu kakek itu, hal yang amat dilarang oleh majikan atau pemimpinnya.

Diam-diam kakek Thio Wi Han merasa senang mendengar keterangan tadi. Dua orang pemuda itu masih selamat, dikurung dalam kamar yang diberi jeruji besi, dijaga secara bergiliran. Secara bergiliran ini berarti bahwa penjaganya tidaklah terlalu banyak. Kalau dia dapat bertindak cepat, besar kemungkinan dia akan mampu membebaskan dua orang pemuda itu sebelum melarikan diri membawa pedang pusaka. Kalau terjadi pengeroyokan, dia dapat mengandalkan pemuda bernama Tan Cin Hay itu dan menyerahkan Pedang Naga Putih kepadanya.

Setelah Yauw Ban keluar, kakek Thio Wi Han menyelinap ke balik jendela dan mengintai. Pembantu utama yang paling lihai dari Hek-sim Lo-mo itu pergi ke arah utara, meninggalkan rumah, berarti tidak ikut berjaga di tempat tahanan yang berada di belakang rumah. Berarti pula satu bahaya telah menjauh. Keadaan pagi itu sunyi dan kakek yang sudah selama beberapa hari memperhatikan kebiasaan para anak buah penjahat itu maklum bahwa kebanyakan dari mereka itu suka bangun siang, dan sepagi itu tentu masih mendengkur. Yang sudah bangunpun masih bermalas-malasan dan saat inilah mereka lengah.

Dengan hati-hati kakek itu lalu memasuki kamarnya. Dia mengenakan sebuah baju luar yang panjang dan dengan menggeser kaki dipan, terbukalah sebuah lubang di lantai bawah pembaringan itu dan diambilnya sebatang pedang yang bersarung kayu buruk dan kasar. Disimpannya pedang itu di balik jubah panjangnya dan diapun menyelinap keluar dari pintu belakang. Karena sudah bersiap siaga sebelumnya, sejak bangun pagi-pagi tadi, kakek itu sudah mengenakan pakaian yang ringkas dan sepatu yang kuat.

Tepat seperti dugaannya, tidak nampak seorangpun dari Cap-sha-kwi di situ. Tentu tigabelas orang kasar itu masih tidur mendengkur. Dia menyelinap masuk ke dalam pondok tempat tahanan. Barulah dia merasa terkejut sekali melihat dua orang duduk saling berpelukan di atas bangku panjang di depan kamar tahanan!

Ketika dua orang itu mendengar langkahnya dan mereka mengangkat muka menengok, dia mengenal bahwa dua orang yang tadi bermesraan itu bukan lain adalah Kiu-bwe Mo-li si iblis betina genit dan Lui Teng si penjahat cabul! Sungguh dua orang itu seperti cacing dan sampah, begitu cocok! Berjaga di depan kamar tahanan, mereka masih sempat bermesraan, tidak perduli betapa dua orang pemuda tahanan itu dapat melihat perbuatan mereka melalui jeruji besi. Sungguh orang-orang yang sudah tidak lagi mengenal kesusilaan, tidak mengenal malu.

Akan tetapi tentu saja kakek Thio tidak sempat memikirkan hal ini. Dia sudah terlalu kaget mengenal dua orang lihai itu, apa lagi karena merekapun sudah melihatnya. Untuk mundur lagi. sudah terlambat karena mereka tentu akan mencurigainya. Benar saja dugaannya, Kiu-bwe Mo-li sudah meloncat turun dari atas pangkuan Lui Teng dan sekali meloncat ia sudah berada di depan kakek Thio Wi Han.

“Heii, kakek Thio! Mau apa engkau pagi-pagi datang ke sini?” bentaknya penuh curiga.

“Dia meninggalkan bengkelnya dan pergi ke sini, tentu berniat buruk!” kata pula Lui Teng yang juga sudah meloncat dekat.

Menghadapi dua orang itu, kakek Thio Wi Han bersikap tenang. “Aku sengaja datang untuk menjenguk dua orang keponakanku. Hendak kulihat apakah benar kalian memegang janji dan tidak mengganggu mereka. Kalau kalian mengganggu mereka, aku tidak akan menyelesaikan pedang-pedang itu dan kalian tentu akan disalahkan oleh Hek-sim Lo-mo.”

Sikapnya yang tenang dan kata-katanya yang tepat itu mengusir kecurigaan dua orang tokoh sesat itu dan Kiu-bwe Mo-li tersenyum mengejek dengan sikap genit. Tadi memang ia sengaja merayu Lui Teng sehingga pria muda yang menjadi hamba nafsu itu melayani di depan kamar tahanan dan hal ini dilakukan oleh si genit untuk menarik hati Tan Cin Hay karena diam-diam ia merasa amat tertarik kepada pemuda tampan yang gagah perkasa itu.

“Hemm, kau lihat saja sendiri! Dua orang pemuda keponakanmu itu tidur dengan enaknya, sama sekali tidak terganggu.”

“Boleh lihat sebentar dan segera pergi lagi ke bengkelmu!” kata Lui Teng yang merasa mendongkol karena keasyikannya tadi terganggu.

Thio Wi Han lalu menghampiri jeruji besi dan benar saja. Dua orang pemuda itu dalam keadaan selamat dan sehat. Bahkan Song Tek Hin tidak lagi terbelenggu. Cin Hay nampak duduk bersila seperti sedang samadhi sedangkan Tek Hin duduk bersandar dinding. Cin Hay membuka matanya dan dia terbelalak memandang kepada kakek itu. Kalau dia menghendaki, kiranya tidak akan sukar baginya untuk menjebol jeruji besi itu dan membebaskan diri.

Akan tetapi, dia teringat keselamatan Tek Hin, kakek Thio Wi Han dan isterinya. Dia ingin menyelamatkan mereka bertiga dari tangan orang-orang jahat itu, juga dia ingin menyelidiki tentang Kim-san Liong-cu yang agaknya oleh Hek-sim Lo-mo sedang dijadikan pedang, dikerjakan oleh kakek Thio Wi Han. Kalau mungkin, dia ingin merampas pedang pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan seorang datuk jahat seperti Hek-sim Lo-mo.

“Cin Hay, ini kubawakan makanan untukmu,” kata Thio Wi Han.

Biarpun Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng memperhatikan gerak-gerik kakek itu ketika menghampiri tempat tahanan, akan tetapi mendengar bahwa kakek itu membawakan makanan, mereka tidak menaruh curiga. Kakek Thio Wi Han menyingkap jubah luarnya dan mengeluarkan pedang yang bersarung kayu buruk itu, memasukkan melalui jeruji besi dan melemparkannya kepada Cin Hay!

“Heiiiii! Apa yang kau lemparkan itu!” Kiu-bwe Mo-li membentak.

Akan tetapi kakek Thio Wi Han sudah membalikkan tubuh menghadapi dua orang tokoh sesat itu dengan sepasang pedang telanjang di tangan! Itulah pedang pendek hitam dan pedang panjang putih yang selama ini digarapnya dalam bengkel, yang sudah hampir jadi, tinggal menghaluskannya saja, pedang-pedang yang dibuat dari bahan Kim-san Liong-cu!

Dan tanpa banyak cakap lagi, Thio Wi Han sudah menggerakkan kedua pedang itu, yang putih panjang di tangan kanan, yang lebih pendek hitam di tangan kiri, langsung dia menyerang Kiu-bwe Mo-li! Ketika wanita itu dengan kaget meloncat ke samping sambil mengelak, kakek Thio Wi Han menyerang Jai-hwa Kongcu Lui Teng dengan pedang hitam pendek yang mengeluarkan sinar hitam!

Lui Teng terkejut dan agak gentar menghadapi pedang pusaka itu, maka diapun meloncat ke belakang sambil melolos sabuk putihnya. Kiu-bwe Mo-li juga sudah menggerakkan cambuk ekor sembilan di tangannya dan menyerang dengan ganas dan marah. Sementara itu, Lui Teng juga menyerang dengan sabuk putihnya yang lihai.

Melawan Lui Teng seorang diri saja kakek Thio Wi Han takkan mampu mengalahkannya, apa lagi melawan Kiu-bwe Mo-li yang lebih lihai lagi. Dan kini dia dikeroyok dua! Cambuk ekor sembilan itu meledak-ledak dan mengancam seluruh jalan darah di tubuh kakek itu, sedangkan sabuk putih di tangan Lui Teng sudah membentuk gulungan sinar putih yang berbahaya sekali. Tentu saja kakek ini segera terdesak hebat. Akan tetapi dengan gigihnya dia memutar kedua pedang di tangannya dan melindungi dirinya sambil berusaha untuk membalas.

Sementara itu, Cin Hay menyambar benda panjang yang dilemparkan oleh kakek Thio Wi Han dari luar kamar tahanan itu kepadanya. Sebatang pedang yang sarungnya butut! Heran dia, mengapa kakek itu melemparkan sebatang pedang padanya? Tanpa pedangpun dia akan mampu, melawan musuh. Apa lagi pedang butut ini, apa manfaatnya? Dicabutnya pedang itu dan diapun semakin kecewa. Sebatang pedang yang warnanya kotor kehitaman, seperti besi biasa yang dicat!

“Tai-hiap, mari kita keluar dan kita bantu Paman Thio!” kata Tek Hin dengan sikap gagah. Mengingat bahwa ilmu silat pemuda ini tidak berapa tinggi, Cin Hay lalu menyerahkan pedang buruk itu kepadanya.

“Jangan banyak bergerak, saudara Song. Kau pegang pedang ini untuk berjaga diri, dan kalau aku sudah membuka jeruji tahanan ini, sebaiknya engkau cepat melarikan diri biar aku yang membantu Paman Thio.”

Akan tetapi Tek Hin sudah menerima pedang itu dan berkata dengan suara lantang. “Aku? Disuruh lari sedangkan engkau dan Paman Thio dikepung musuh? Lebih baik aku mati!” Berkata demikian, pemuda ini dengan marah lalu menggunakan pedang kotor kehitaman itu untuk membabat jeruji besi tempat tahanan mereka. Dan pedang itu dapat membabat putus semua jeruji, seolah-olah jeruji itu bukan dibuat dari besi melainkan dari bahan yang lunak saja!

Cin Hay terkejut melihat ini dan baru dia tahu bahwa pedang buruk itu oleh kakek Thio diberikan kepadanya agar dia dapat menghadapi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya. Sekali melompat dia sudah berada di dekat Tek Hin dan pedang itupun berpindah tangan.

“Cepat, saudara Song. Engkau larilah menyelamatkan diri lebih dulu! Dengan pedang ini aku akan menghajar mereka dan menyelamatkan Paman Thio dan isterinya!”

Akan tetapi, Song Tek Hin adalah seorang pemuda yang tabah dan berani mati, apa lagi dia merasa sakit hati sekali kepada Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya atas kematian tunangan dan calon mertuanya. Mana dia mau melarikan diri begitu saja?

“Aku akan mengadu nyawa dengan iblis itu!” bentaknya, dan melihat betapa tigabelas orang Cap-sha-kwi telah bermunculan, dia segera menerjang orang yang terdekat sambil melompat keluar dari kamar yang jerujinya telah patah-patah itu.

“Tek Hin, jangan...!” Cin Hay mencegah, akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikan cegahannya, bahkan sudah mengamuk, memukul dan menendang. Akan tetapi, kepandaiannya masih jauh untuk dapat melawan Cap-sha-kwi yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi itu sehingga dalam beberapa jurus saja, tubuh Tek Hin telah menjadi bulan- bulan pukulan sehingga dia terjungkal roboh!

Akan tetapi dasar dia sudah nekat, dia bangkit kembali ketika seorang di antara Cap-sha-kwi menubruknya dan dia menyambut orang itu dengan tendangan kuat. Orang itu tidak menyangka dan perutnya kena ditendang sehingga dia terjengkang dan mengaduh. Tek Hin mendapat hati dan menyerang terus, dihadang oleh beberapa orang anggauta Cap-sha-kwi.

Ketika Cin Hay melompat keluar, dia sempat merobohkan dua orang anggauta Cap-sha-kwi yang mengancam Tek Hin, akan tetapi pada saat itu dia mendengar Kakek Thio mengeluh. Cepat dia menengok dan melihat betapa kakek itu roboh terluka dan kedua pedang di tangan kakek itu telah terampas oleh Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng!

Cin Hay meloncat dan pedangnya menyambar. Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng menggerakkan senjata mereka, yaitu cambuk ekor sembilan dan sabuk putih untuk menyambut serangan Cin Hay.

“Bret Brettt!” Cambuk ekor sembilan dan sabuk putih itu terbabat oleh pedang buruk di tangan Cin Hay dan kedua senjata itu putus!

Dua orang tokoh sesat itu terkejut sekali dan mereka meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat! Senjata mereka adalah senjata lemas yang tidak akan mudah dibikin putus begitu saja oleh sebatang pedang, namun kini sekali bertemu dengan pedang pemuda pakaian putih itu, senjata mereka telah menjadi buntung!

Cin Hay melihat betapa kakek Thio telah terluka parah, mukanya kehitaman tanda bahwa dia terkena luka beracun, maka cepat diangkat dan dipanggulnya tubuh kakek itu. Ketika dia menengok untuk menolong Tek Hin, pemuda ini telah diringkus dan diikat tangannya, akan tetapi dia masih meronta dan memaki.

“Tek Hin...!” Cin Hay berseru kaget.

“Tan Taihiap, pergilah, bawalah Paman Thio pergi. Selamatkan dia dan jangan perdulikan diriku!” teriak Song Tek Hin sebelum sebuah pukulan mengenai lehernya dan membuat dia roboh pingsan dengan mulut berdarah.

Cin Hay merasa khawatir sekali, akan tetapi diapun maklum bahwa dengan memanggul tubuh Thio Wi Han, tidak mungkin dia dapat menolong Tek Hin, apa lagi pemuda itu telah diringkus dan sebelum dia turun tangan, bisa saja pihak penjahat membunuh Tek Hin. Maka, diapun melompat dan melarikan kakek Thio Wi Han.

Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng tidak berani mengejar pemuda pakaian putih yang luar biasa lihainya itu. Apa lagi mereka sudah berhasil merampas dua batang pedang pusaka, dan itulah yang terpenting. Kalau sepasang pedang pusaka itu lenyap dilarikan orang, tentu Hek-sim Lo-mo akan marah sekali.

Akan tetapi sepasang pedang itu telah mereka rampas dari tangan Thio Wi Han, maka larinya Thio Wi Han, yang sudah terluka parah dan pemuda berpakaian putih itu tidak menjadi persoalan lagi. Masih ada Song Tek Hin dalam tawanan mereka, dan pemuda ini tentu dapat dijadikan umpan untuk memancing kembalinya pemuda berpakaian putih, kalau hal ini dikehendaki oleh Hek-sim Lo-mo. Kalau tidak, pemuda itu akan dibunuh begitu saja dan mereka akan meninggalkan dusun Gi-ho-cung.

********************

Nyonya Thio Wi Han yang usianya masih terbilang amat muda dibandingkan dengan suaminya, baru empat puluh dua tahun dibandingkan suaminya yang sudah tujuhpuluh tahun lebih. Akan tetapi, ia amat mencinta suaminya. Biarpun ketika ia menikah dengan Thio Wi Han, suaminya itu telah menjadi seorang duda berusia setengah abad lebih dan ia masih seorang gadis, namun suaminya sungguh merupakan seorang suami yang amat baik, yang memenuhi semua syarat seorang suami yang mencinta isterinya.

Bahkan setelah mereka menjadi suami isteri lebih dari dua puluh tahun lamanya dan mereka tidak mendapatkan keturunan, cinta kasih suaminya terhadap dirinya tak pernah berkurang sedikitpun juga. Mereka selalu berdua, selalu hidup saling mencinta dan merasakan kebahagian berdua.

Akan tetapi sekarang, ia harus pergi meninggalkan suaminya! Untuk pertama kali sejak mereka menjadi suami isteri, mereka saling berpisah dan sekali berpisah, ia harus meninggalkan suaminya yang terancam bahaya maut! Tak terasa lagi nyonya itu menangis sambil melanjutkan perjalanannya memasuki hutan setelah ia berhasil meninggalkan dusun Gi-ho-cung.

Bagaimana kalau suaminya gagal menyelamatkan diri? Kalau sampai ketahuan mereka, bagaimana mungkin suaminya akan mampu menyelamatkan diri? Membayangkan suaminya mereka bunuh, nyonya itu menangis semakin mengguguk. Ingin ia berlari kembali untuk membantu suaminya atau mati bersama suaminya kalau perlu, dan pikiran ini membuat ia menahan kedua kakinya

“Hemm, Nyonya Thio, kenapa engkau menangis dan mengapa pula engkau meninggalkan kampung?”

Wanita itu terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sejak ia meninggalkan dusun tadi, ia telah menarik kecurigaan Yauw Ban, Naga Mata Satu pembantu utama Hek-sim Lo-mo!

Yauw Ban merasa curiga melihat wanita itu meninggalkan dusun Gi-ho-cung dan dia lalu mengajak He-nan Siang-mo untuk membayangi nyonya itu dari jauh. Ketika melihat wanita itu memasuki hutan, kemudian herjalan sambil menangis, kecurigaan hati Yauw Ban semakin kuat dan akhirnya dia lalu menegur wanita itu yang menjadi terkejut sekali.

Nyonya Thio Wi Han maklum bahwa ia tidak akan mampu lari. Ia teringat kembali akan bahaya yang mengancam suaminya, maka tiba-tiba saja ia menjadi marah sekali. Tangannya meraih ke balik jubahnya dan ia telah menghunus sebatang pedang yang rupanya kotor dan hitam.

“Kalian manusia-manusia iblis yang menyengsarakan suamiku!” bentaknya dan langsung saja ia menggerakkan pedangnya menyerang tiga orang di depannya itu dengan bacokan-bacokan nekat.

Terdengar bunyi mendesing nyaring dan angin yang mengandung hawa dingin menyambar. Tiga orang itu terkejut bukan main, tak mereka sangka bahwa nyonya itu demikian dahsyat serangannya. Mereka tidak tahu bahwa kedahsyatan serangan itu sebagian besar karena keampuhan pedang yang berada di tangan nyonya itu. Sebuah pedang yang kelihatan buruk, akan tetapi sesungguhnya itulah Hek-liong-kiam yang aseli!

Yauw Ban mencabut pedangnya, dan kedua orang kembar He-nan Siang-mo mencabut golok mereka. Wanita ini sebaiknya dibunuh saja, pikir mereka. Pedang-pedang itu sudah hampir jadi dan kalau sudah jadi, kakek Thio Wi Han dan isterinya ini akan dibunuh, juga dua orang pemuda tawanan, demikian perintah Hek-sim Lo-mo. Dan sekarang, wanita ini sikapnya mencurigakan, agaknya hendak melarikan diri, mungkin ingin minta bantuan dan hal ini amat berbahaya. Apa lagi kini Nyonya Thio Wi Han agaknya nekat hendak melakukan perlawanan mati-matian. Begitu Yauw Ban dan He-nan Siang-mo memainkan pedang dan golok mereka, wanita itu segera terdesak hebat! Namun, Nyonya Thio memutar pedangnya melindungi diri.

“Trang-tranggg!” Pedangnya menangkis dua batang golok dari si kembar, dan dapat dibayangkan betapa kaget hati He-nan Siang-mo melihat betapa ujung golok mereka yang bertemu dengan pedang itu menjadi buntung!

“Awas, pedangnya kuat sekali, jangan mengadu senjata!” teriak Yauw Ban. Dia seorang ahli pedang dan dia segera mengenal pedang ampuh walaupun pedang itu kelihatan demikian buruknya. Hal ini tidak mengherankan hatinya mengingat bahwa Thio Wi Han adalah seorang ahli pedang yang amat pandai. Kini, dua orang kembar He-nan Siang-mo menggunakan golok yang ujungnya sudah buntung. Mereka bersikap hati-hati dan tidak mau mengadu senjata, demikian pula Yauw Ban.

Karena memang tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, tentu saja kini wanita itu makin terdesak hebat, ia terpaksa berloncatan ke sana sini dan berusaha membalas dengan sambaran pedangnya. Namun, karena dikeroyok tiga, akhirnya pundak kirinya tergores golok buntung dan paha kanannya tertusuk pedang Yauw Ban! Ia terhuyung dan sebelum ia mampu mengatur keseimbangan dirinya, tangan kiri Yauw Ban berhasil memukul dadanya.

“Desss!” Pukulan itu hebat sekali. Nyonya Thio Wi Han terpental dan terbanting roboh dalam keadaan nanar dan setengah pingsan. Namun ia tetap memegangi pedang buruk dengan erat.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan wanita itu, tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan seorang gadis berpakaian hitam telah menghadang ketika Gin Siong, orang kedua dari He-nan Siang-mo sudah mengangkat golok buntungnya untuk menghabiskan nyawa Nyonya Thio. Kaki gadis itu mencuat dan menendang ke arah lengan yang mengayunkan golok.

Gan Siong maklum bahwa ada orang yang datang menolong wanita yang sudah menggeletak tak berdaya itu. Dia marah dan mengubah gerakan goloknya, kini membabat ke arah kaki gadis berpakaian hitam itu. Akan tetapi, gerakan gadis itu cepat bukan main. Kaki kirinya yang menendang tadi tiba-tiba saja ditarik kembali dan pada saat golok menyambar tempat kosong, kaki kanannya sudah melayang dari samping.

“Dukkk!” Tubuh Gan Siong terjengkang ketika perutnya kena ditendang dari samping dan dia terkejut, juga kesakitan maka diapun bergulingan untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, gadis itu tidak mengejarnya melainkan cepat menyambar tubuh Nyonya Thio yang sudah payah, lalu memanggulnya.

“Kau... pakai... pedang pusaka ini...!” Nyonya Thio sempat berkata sambil menyerahkan pedangnya kepada gadis itu sebelum ia pingsan di atas pundak gadis itu.

Gadis berpakaian hitam itu bukan lain adalah Lie Kim Cu atau Hek-liong-li! Melihat keadaan wanita setengah tua itu yang pingsan dan lukanya parah, Kim Cu menerima pedang itu. Sebatang pedang yang buruk, akan tetapi ketika dipegangnya, ternyata gagangnya enak sekali digenggam, dan berat pedang itupun seimbang dan enak pula untuk dimainkan.

Sementara itu, melihat kehebatan gadis yang dalam segebrakan saja mampu menendang jatuh Gan Siong, Yauw Ban terkejut dan memandang tajam penuh selidik dengan sebelah matanya. Dia teringat akan cerita Kiu-bwe Mo-li dan diapun membentak, “Apakah engkau yang berjuluk Dewi Naga Hitam?”

Kim Cu tersenyum mengejek. “Benar, dan sekali ini aku datang untuk membasmi orang-orang berwatak iblis seperti kalian!”

Yauw Ban sudah marah sekali dan diapun cepat menyerang dengan pedangnya. Si mata satu ini memang seorang ahli pedang dan serangannya dahsyat bukan main, pedangnya berkelebat seperti kilat menyambar. Namun, yang diserangnya sekarang adalah seorang gadis yang amat lihai, yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari Huang-ho Kui-bo, maka menghadapi serangan itu, Liong-li atau Kim Cu tidak menjadi gugup dan iapun menggerakkan pedang butut itu untuk menangkis.

“Wuuss...!” Liong-li terkejut dan heran. Lawannya yang demikian pandai bermain pedang, juga dari sambaran pedang tadi dapat diketahui bahwa tenaga sin-kangnya juga amat kuat, ternyata mengelak dan tidak mau mengadukan pedangnya dengan pedang butut yang dipegangnya. Pada saat itu, ia melihat sepasang orang kembar sudah menyerangnya dan iapun melihat betapa ujung kedua golok mereka itu buntung.

Kim Cu yang lihai dan cerdik segera dapat menduga mengapa lawannya yang bermata satu dan lihai itu tidak mau beradu pedang. Tentu karena pedang di tangannya itu, yang nampak buruk, adalah sebatang pedang pusaka ampuh dan bahwa kedua golok dari orang kembar itupun mungkin telah buntung oleh pedang di tangannya itu! Maka ia-pun cepat menggerakkan pedangnya untuk menangkis atau membabat ke arah sepasang golok yang menyerangnya dari kanan kiri.

Gerakannya cepat dan pedang itu mengeluarkan suara mencicit nyaring, juga mendatangkan angin yang dingin, berubah menjadi gulungan sinar yang melebar dari kanan ke kiri. Dan seperti juga si mata satu, dua orang kembar itu cepat menarik kembali golok mereka, jelas bahwa mereka gentar dan tidak berani mengadukan golok mereka dengan pedang di tangan Liong-li.

Hal ini menggembirakan hati Liong-li. Dari gerakan tiga orang itu, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berilmu tinggi, terutama sekali si mata satu itu. Ia tidak akan gentar menghadapi mereka dan yakin akan mampu mengalahkan mereka bertiga kalau saja tidak ada wanita pingsan yang berada di atas pundak kirinya.

Dengan adanya beban itu, tentu saja ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, bahkan amat berbahaya baginya kalau harus menghadapi pengeroyokan tiga orang itu sambil memanggul orang pingsan. Akan tetapi, dengan pedang pusaka ampuh itu di tangan, ia akan mampu melindungi dirinya sendiri dan wanita yang dipanggulnya, dan akan dapat menyelamatkannya.

“Haiiiitttt...!” Wanita berpakaian hitam itu mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, jeritan yang mengandung khi-kang ini membuat He-nan Siang-mo dan Yauw Ban terkejut dan merasa betapa jantung mereka terguncang hebat. Cepat mereka menggerakkan senjata melindungi tubuh mereka, karena mereka melihat wanita pakaian hitam itu memutar pedang seperti baling-baling dan tubuhnya meluncur dengan serangan yang dahsyat. Hawa dingin menyambar-nyambar dan terpaksa tiga orang ini berloncatan mundur.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk meloncat jauh ke kiri dan melarikan diri untuk menyelamatkan wanita yang pingsan di atas pundaknya itu. Melihat ini, Yauw Ban dan He-nan Siang-mo tidak berani mengejar, hanya mereka menggerakkan tangan kiri dan beberapa batang senjata rahasia piauw dan paku beterbangan ke arah tubuh Liong-li yang sedang melarikan diri.

Liong-li mendengar suara angin sambaran senjata-senjata rahasia kecil itu. Tanpa menoleh, ia meloncat ke atas sambil memutar pedangnya ke arah belakang. Semua senjata rahasia yang menyambar bagian bawah lewat di bawah kakinya dan yang menyambar bagian atas runtuh oleh tangkisan sinar pedang Hek-liong-kiam.

Tiga orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo hanya memandang dengan mata terbelalak, kagum dan juga jerih melihat wanita baju hitam itu melarikan tubuh Nyonya Thio dengan kecepatan bagaikan terbang saja. Mereka bertiga lalu bergegas menuju ke rumah Thio Wi Han, dan Yauw Ban sendiri cepat mengunjungi Hek-sim Lo-mo di tempat peristirahatannya untuk melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Hek-liong-li Lie Kim Cu berlari cepat untuk meninggalkan tempat berbabaya itu. Kalau saja ia tidak menerima pedang pusaka ampuh dari wanita itu, agaknya tidak akan demikian mudah ia dapat menyelamatkan wanita itu. Biarpun ia tidak gentar menghadapi tiga orang lawannya, namun untuk merobohkan mereka, membutuhkan waktu. Apa lagi kalau ia harus memanggul tubuh orang, mungkin saja ia malah akan mengalami kekalahan.

Ia lari masuk ke dalam hutan yang lebat dan merasa yakin bahwa tiga orang lawan itu tidak melakukan pengejaran. Tiba-tiba ia berhenti dan cepat ia menyelinap ke balik sebatang pohon besar. Ada langkah kaki orang berlari ke arahnya! Agaknya ada pula yang melakukan pengejaran! Dengan pedang di tangan kanan dan tubuh Nyonya Thio dipanggul di atas pundak kiri, Liong-li siap siaga, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Suara langkah kaki orang berlari itu semakin dekat dan kini orang itu memperlambat larinya, bahkan berjalan biasa ketika tiba di dekat tempat Liong-li bersembunyi. Wanita ini melihat seorang laki-laki yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, berpakaian putih, tangan kanan memegang sebatang pedang yang buruk, tangan kiri memanggul tubuh seorang kakek yang kelihatannya menderita luka parah.

Tak salah lagi, tentu seorang anak buah Hek-sim Lo-mo pula yang entah telah menangkap siapa. Tanpa banyak cakap lagi, Liong-li lalu melompat keluar dan menerjang dengan bacokan pedangnya ke arah kepala orang berpakaian putih itu.

“Singgg...!” Pedang di tangannya menyambar dahsyat dan mengeluarkan hawa dingin.

Orang muda itu nampak terkejut, akan tetapi tidak menjadi gugup dan dengan gerakan yang cepat diapun mengangkat pedang di tangannya untuk menangkis. Melihat ini, girang rasa hati Liong-li karena ia merasa yakin bahwa pedang pusakanya tentu akan membabat buntung pedang lawan itu.

“Trangggg...!!” Nampak bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat sampai menembus ke dalam dada dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah! Liong-li terkejut bukan main! Pedang orang itu sama sekali tidak buntung, bahkan selain mampu menahan pedang pusaka di tangannya, juga tenaga yang terkandung di balik pedang itu amat kuatnya!

Di lain pihak, orang berpakaian putih itu yang bukan lain adalah Tan Cin Hay, juga terkejut bukan main. Tadi dia sedang melarikan tubuh Thio Wi Han yang pingsan ketika tiba-tiba ada orang menyerangnya. Tak disangkanya bahwa penyerangnya itu seorang gadis berpakaian hitam yang selain memiliki pedang pusaka yang kuat pula, juga memiliki sin-kang yang mampu menandinginya! Keduanya kini saling pandang dengan penuh perhatian dan keduanya kagum.

Liong-li melihat seorang pemuda yang berwajah tampan dan lembut, nampaknya seperti seorang sastrawan lemah saja, sepasang matanya mencorong dan pakaiannya yang serba putih itu nampak bersih, dengan potongan sederhana. Kakek yang dipanggul pemuda itu nampaknya terluka berat dan pingsan, dengan muka agak kehitaman seperti keracunan.

Sebaliknya, Cin Hay juga kagum melihat seorang wanita muda berpakaian serba hitam yang cantik manis. Wajah itu bulat telur, dengan dagu meruncing, mulutnya kecil dengan bibir yang merah basah tanpa gincu. Di bawah mata kiri ada tahi lalat di atas pipi dan wanita itu memiliki sepasang mata yang tajam, mulutnya yang indah itu menyungging senyuman sinis sehingga nampak lesung pipit di tepi mulut. Manis sekali, akan tetapi sepasang mata itu membayangkan ketabahan, keberanian, kegalakan dan juga kecerdikan, membuat Cin Hay yang terkagum-kagum itu menjadi waspada. Seorang lawan yang amat berbahaya, pikirnya...

Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 15

THIO WI HAN mengangguk. Dia tadipun melihat bahwa betapa lihainya pun Cin Hay, pemuda itu masih belum dapat mengalahkan Hek-sim Lo-mo yang amat lihai ilmu pedangnya. Untuk sementara ini, yang penting adalah menghindarkan dua orang pemuda itu dari maut.

“Baiklah, Hek-sim Lo-mo. Akan tetapi engkau berjanjilah dulu bahwa engkau dan anak buahmu tidak akan membunuh kedua orang pemuda ini, dan akan membebaskan mereka setelah pedang-pedang itu kuselesaikan.”

Hek-sim Lo-mo menyeringai. “Aku berjanji...”

Lalu kepada Yauw Ban dan kawan-kawannya dia memerintah, “Tangkap mereka, belenggu kaki tangan mereka, akan tetapi jangan disiksa dan jangan diganggu!”

Cin Hay tidak melihat jalan lain kecuali menyerah, ketika kaki dan tangannya dipasangi rantai baja. Kalau dia melawan, tentu Thio Wi Han dan Song Tek Hin mereka bunuh. Juga dia tadi sudah merasakan kelihaian Hek-sim Lo-mo. Datuk itu saja dia tidak mampu kalahkan, apa lagi kalau datuk itu dibantu oleh semua anak buahnya yang rata-rata amat lihai. Akan tetapi Song Tek Hin marah-marah dan kecewa sekali melihat Cin Hay menyerah.

“Tai-hiap, engkau kena ditipu! Kalau engkau menyerah, akhirnya mereka ini tentu akan membunuh pula engkau, aku dan paman Thio! Sia-sia saja pengorbananmu. Kalau engkau melawan, biarlah mereka memhunuhku, aku tidak penasaran karena engkau tentu akan berhasil membasmi mereka.”

Cin Hay tersenyum dan menggeleng kepala. “Tenang dan bersabarlah, saudara Song Tek Hin.” Diam-diam dia suka sekali kepada pemuda yang biarpun ilmu silatnya tidak begitu tinggi, namun amat gagah perkasa ini.

Dua orang pemuda itu dimasukkan ke dalam sebuah pondok darurat di belakang rumah Thio Wi Han, dan kamar mereka dipasangi jeruji besi yang kokoh kuat. Para pembantu utama Hek-sim Lo-mo bergiliran melakukan penjagaan di luar kamar tahanan itu. Thio Wi Han sendiri kembali ke tempat kerjanya. Dibantu isterinya, dia melanjutkan penyelesaian pembuatan sepasang pedang. Yang sebatang berwarna keputihan, yang kedua berwarna kehitaman. Yang putih agak lebih panjang dari pada yang hitam.

Kakek yang ahli ini telah berhasil memisahkan dua macam baja yang terkandung dalam benda aneh yang disebut Kim-san Liong-cu itu, mencampurnya dengan baja yang dibawa oleh Cap-sha-kwi dan membuatnya menjadi sepasang pedang itu. Menurut keterangannya kepada Hek-sim Lo-mo, pedang yang panjang itu adalah pedang jantan dan diberi nama Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) sedangkan yang hitam adalah pedang betina dan diberi nama Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam). Kini, kedua pedang itu sudah terbentuk, sudah hampir jadi, tinggal memperhalusnya lagi saja. Nampak indah sekali.

Malam itu, di dalam kamar mereka, Thio Wi Han dan isterinya bicara dalam bisik bisik. Mereka bersikap waspada sekali dan baru setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang lain yang akan mampu menangkap percakapan mereka, suami isteri ini berbisik-bisik dengan saling mendekatkan mulut dengan telinga, di atas pembaringan.

“Tidak ada lain jalan, kita harus melarikan sepasang pedang itu, sekali-kali kedua pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”

“Akan tetapi, itu berbahaya sekali!” bantah isterinya. “Kalau kita ketahuan, kita takkan mampu melawan mereka dan kita tentu akan mereka bunuh!”

“Kau kira mereka tidak akan membunuh kita kalau pedang itu sudah selesai? Aku tahu orang-orang macam apa mereka itu. Hal ini sudah sejak semula kurencanakan, karena itu, aku membuat sepasang pedang palsu itu, sedangkan yang aseli diam-diam kuselesaikan. Engkau masih menyimpan Hek-liong-kiam yang aseli itu, bukan?”

Isterinya mengangguk, “Di tempat yang aman.”

“Bagus! Sekarang, kebetulan muncul dua orang pemuda itu. Yang bernama Tan Cin Hay dan berpakaian putih itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. ”Hanya Hek-sim-lo-mo yang mampu menandinginya, dan kalau dia memegang Pek-liong-kiam, kukira dia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo. Kita pergunakan kesempatan baik ini untuk melarikan diri bersama mereka.”

“Tapi... mereka sendiri tidak berdaya, dalam tawanan...”

“Aku akan membebaskan mereka.”

“Ah, itu berbahaya sekali... aku khawatir akan keselamatanmu...”

Thio Wi merangkul isterinya. “Jangan khawatir. Dalam saat terakhir dari usia kita yang sudah tua ini, kita harus melakukan hal yang tepat dan baik. Menyerahkan sepasang pedang ini ke tangan mereka berarti kita membuat dosa besar karena di tangan mereka, sepasang pedang ini hanya akan mendatangkan banjir darah. Kita harus berdaya upaya agar pedang ini jatuh ke tangan pendekar yang layak menerimanya agar sepasang pedang ini dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan. Setidaknya sebuah di antara kedua pedang ini, harus jatuh ke tangan orang yang layak.”

Isterinya mengangguk, “Engkau benar. Kita sudah tua, kematian bukan apa-apa bagi kita, akan tetapi dosa akan memberatkan batin. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Begini, mereka tidak mencurigaimu dan engkau tidak pernah diawasi. Yang diawasi hanya aku. Maka, besok pagi engkau seperti biasa bawalah keranjang untuk mencari sayur ke ladang kita, dam sembunyikan Hek-liong-kiam di balik bajumu sampai tidak kentara dari luar. Larikanlah pedang itu keluar dusun. Sebaiknya engkau mengambil jalan jurusan timur, memasuki hutan cemara itu. Mengerti?”

Isterinya mengangguk. “Dan engkau?”

“Aku akan lari ke barat. Kita harus berpencar agar setidaknya sebatang di antara dua pedang itu dapat diselamatkan.”

“Tapi itu berbahaya sekali. Mereka mengawasimu dan engkau tentu tidak akan dapat lari jauh...”

“Jangan khawatir. Sudah kurencanakan semua. Sebelum lari, aku akan membebaskan kedua orang pemuda itu. Akan kuserahkan Pek-liong-kiam kepada Cin Hay agar dia mampu menahan mereka. Kalau Thian menghendaki, tentu aku akan selamat dan kita akan dapat saling berjumpa kembali.”

Suara kaki dan orang-orang bicara memberitahu mereka bahwa ada anak buah Hek-sim Lo-mo meronda, maka merekapun tidak bicara lagi. Semalam itu mereka hampir tidak tidur, merencanakan tekad mereka itu dan membayangkan apa yang akan terjadi.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 15 karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, tanpa menimbulkan kecurigaan, isteri Thio Wi Han meninggalkan pondok. Ia mengenakan baju rangkap karena hawa udara memang dingin di pagi itu, membawa sebuah keranjang sayur. Dengan sikap biasa nenek ini berjalan perlahan menuju ke timur.

Cap-sha-kwi melihat ia meninggalkan pondok, akan tetapi mereka tidak menaruh perhatian karena tugas mereka hanya menjaga agar Thio Wi Han tidak pergi dan berhubungan dengan orang luar. Nenek itu sendiri tidak ada artinya bagi mereka, dan memang satu-dua hari sekali nenek itu keluar membawa keranjang sayur untuk membeli sayur di pasar dusun itu.

Sementara itu, kakek Thio Wi Han sibuk di bengkelnya. Suara palunya sudah berdenting sejak pagi tadi. Dia sedang menempa pedang yang keputihan, tinggal menghaluskannya saja, sedangkan pedang yang lebih pendek, yang kehitaman, berada di atas meja bengkelnya, juga belum halus benar, masih memerlukan penghalusan selama beberapa hari lagi.

“Kakek Thio, masih belum jadi jugakah sepasang pedang itu?”

Thio Wi Han terkejut. Munculnya Yauw Ban si mata satu itu sungguh mengejutkan hatinya karena selain munculnya tanpa suara, juga dia sudah sejak tadi merasa tegang menghadapi rencananya yang sudah diatur semalam bersama isterinya.

“Tinggal sedikit lagi, dalam waktu dua-tiga hari lagi pasti selesai,” jawabnya acuh. Tentu saja diapun mengetahui akan perubahan sikap pembantu utama Hek- sim Lo-mo ini. Biasanya, si mata satu ini menyebutnya Thio-locianpwe, dan bersikap hormat. Akan tetapi sekarang sikapnya sudah berbeda, juga sebutannya. Hal ini saja jelas membuktikan bahwa mereka memang mempunyai niat jahat terhadap dirinya. Hampir dia berani memastikan bahwa kalau sepasang pedang itu sudah jadi dan sudah diserahkan kepada mereka, dia dan isterinya, juga dua orang pemuda itu, tentu akan dibunuh.

Yauw Ban mendekat dan melihat kedua batang pedang itu dengan penuh perhatian. Kakek Thio Wi Han tidak khawatir kalau sampai ketahuan bahwa dua batang pedang itu palsu. Hek-sim Lo-mo sendiri tidak akan mengetahuinya! Dia membuat pedang itu dengan baja murni pula, dan memberi campuran yang membuat kedua batang pedang itu berwarna hitam dan putih.

Pedang yang aseli sudah jadi, yang betina berwarna hitam kini sudah dibawa pergi isterinya, sedangkan yang jantan berwarna putih disimpannya dengan aman di dalam kamarnya, di tempat rahasia bawah pembaringan. Betapapun juga, melihat betapa mata yang tinggal satu dari Yauw Ban mengamati kedua pedang itu dengan sinar mencorong, hati kakek ini berdebar juga. Untuk meredakan ketegangannya, sambil melanjutkan tempaannya dia berkata.

“Kuharap saja kalian tidak melanggar janji dan kedua keponakanku itu diperlakukan dengan baik dan tidak diganggu. Kalau sampai mereka diganggu, sungguh mati, aku tidak akan melanjutkan pembuatan pedang-pedang ini.”

Yauw Ban mengeluarkan suara seperti sapi mendengus. “Huh, siapa yang akan menganggu mereka! Mereka itu bagaimanapun juga tidak akan mungkin dapat membuat ribut lagi. Mereka dikurung dalam kamar berjeruji besi, siang malam dijaga secara bergilir dan andaikata mereka membuat keributanpun, kami semua akan datang dan menundukkannya. Apa lagi Beng-cu kami tidak jauh dari sini!” Berkata demikian, Yauw Ban meninggalkan tempat kerja itu karena diapun tidak mau lama-lama mengganggu kakek itu, hal yang amat dilarang oleh majikan atau pemimpinnya.

Diam-diam kakek Thio Wi Han merasa senang mendengar keterangan tadi. Dua orang pemuda itu masih selamat, dikurung dalam kamar yang diberi jeruji besi, dijaga secara bergiliran. Secara bergiliran ini berarti bahwa penjaganya tidaklah terlalu banyak. Kalau dia dapat bertindak cepat, besar kemungkinan dia akan mampu membebaskan dua orang pemuda itu sebelum melarikan diri membawa pedang pusaka. Kalau terjadi pengeroyokan, dia dapat mengandalkan pemuda bernama Tan Cin Hay itu dan menyerahkan Pedang Naga Putih kepadanya.

Setelah Yauw Ban keluar, kakek Thio Wi Han menyelinap ke balik jendela dan mengintai. Pembantu utama yang paling lihai dari Hek-sim Lo-mo itu pergi ke arah utara, meninggalkan rumah, berarti tidak ikut berjaga di tempat tahanan yang berada di belakang rumah. Berarti pula satu bahaya telah menjauh. Keadaan pagi itu sunyi dan kakek yang sudah selama beberapa hari memperhatikan kebiasaan para anak buah penjahat itu maklum bahwa kebanyakan dari mereka itu suka bangun siang, dan sepagi itu tentu masih mendengkur. Yang sudah bangunpun masih bermalas-malasan dan saat inilah mereka lengah.

Dengan hati-hati kakek itu lalu memasuki kamarnya. Dia mengenakan sebuah baju luar yang panjang dan dengan menggeser kaki dipan, terbukalah sebuah lubang di lantai bawah pembaringan itu dan diambilnya sebatang pedang yang bersarung kayu buruk dan kasar. Disimpannya pedang itu di balik jubah panjangnya dan diapun menyelinap keluar dari pintu belakang. Karena sudah bersiap siaga sebelumnya, sejak bangun pagi-pagi tadi, kakek itu sudah mengenakan pakaian yang ringkas dan sepatu yang kuat.

Tepat seperti dugaannya, tidak nampak seorangpun dari Cap-sha-kwi di situ. Tentu tigabelas orang kasar itu masih tidur mendengkur. Dia menyelinap masuk ke dalam pondok tempat tahanan. Barulah dia merasa terkejut sekali melihat dua orang duduk saling berpelukan di atas bangku panjang di depan kamar tahanan!

Ketika dua orang itu mendengar langkahnya dan mereka mengangkat muka menengok, dia mengenal bahwa dua orang yang tadi bermesraan itu bukan lain adalah Kiu-bwe Mo-li si iblis betina genit dan Lui Teng si penjahat cabul! Sungguh dua orang itu seperti cacing dan sampah, begitu cocok! Berjaga di depan kamar tahanan, mereka masih sempat bermesraan, tidak perduli betapa dua orang pemuda tahanan itu dapat melihat perbuatan mereka melalui jeruji besi. Sungguh orang-orang yang sudah tidak lagi mengenal kesusilaan, tidak mengenal malu.

Akan tetapi tentu saja kakek Thio tidak sempat memikirkan hal ini. Dia sudah terlalu kaget mengenal dua orang lihai itu, apa lagi karena merekapun sudah melihatnya. Untuk mundur lagi. sudah terlambat karena mereka tentu akan mencurigainya. Benar saja dugaannya, Kiu-bwe Mo-li sudah meloncat turun dari atas pangkuan Lui Teng dan sekali meloncat ia sudah berada di depan kakek Thio Wi Han.

“Heii, kakek Thio! Mau apa engkau pagi-pagi datang ke sini?” bentaknya penuh curiga.

“Dia meninggalkan bengkelnya dan pergi ke sini, tentu berniat buruk!” kata pula Lui Teng yang juga sudah meloncat dekat.

Menghadapi dua orang itu, kakek Thio Wi Han bersikap tenang. “Aku sengaja datang untuk menjenguk dua orang keponakanku. Hendak kulihat apakah benar kalian memegang janji dan tidak mengganggu mereka. Kalau kalian mengganggu mereka, aku tidak akan menyelesaikan pedang-pedang itu dan kalian tentu akan disalahkan oleh Hek-sim Lo-mo.”

Sikapnya yang tenang dan kata-katanya yang tepat itu mengusir kecurigaan dua orang tokoh sesat itu dan Kiu-bwe Mo-li tersenyum mengejek dengan sikap genit. Tadi memang ia sengaja merayu Lui Teng sehingga pria muda yang menjadi hamba nafsu itu melayani di depan kamar tahanan dan hal ini dilakukan oleh si genit untuk menarik hati Tan Cin Hay karena diam-diam ia merasa amat tertarik kepada pemuda tampan yang gagah perkasa itu.

“Hemm, kau lihat saja sendiri! Dua orang pemuda keponakanmu itu tidur dengan enaknya, sama sekali tidak terganggu.”

“Boleh lihat sebentar dan segera pergi lagi ke bengkelmu!” kata Lui Teng yang merasa mendongkol karena keasyikannya tadi terganggu.

Thio Wi Han lalu menghampiri jeruji besi dan benar saja. Dua orang pemuda itu dalam keadaan selamat dan sehat. Bahkan Song Tek Hin tidak lagi terbelenggu. Cin Hay nampak duduk bersila seperti sedang samadhi sedangkan Tek Hin duduk bersandar dinding. Cin Hay membuka matanya dan dia terbelalak memandang kepada kakek itu. Kalau dia menghendaki, kiranya tidak akan sukar baginya untuk menjebol jeruji besi itu dan membebaskan diri.

Akan tetapi, dia teringat keselamatan Tek Hin, kakek Thio Wi Han dan isterinya. Dia ingin menyelamatkan mereka bertiga dari tangan orang-orang jahat itu, juga dia ingin menyelidiki tentang Kim-san Liong-cu yang agaknya oleh Hek-sim Lo-mo sedang dijadikan pedang, dikerjakan oleh kakek Thio Wi Han. Kalau mungkin, dia ingin merampas pedang pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan seorang datuk jahat seperti Hek-sim Lo-mo.

“Cin Hay, ini kubawakan makanan untukmu,” kata Thio Wi Han.

Biarpun Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng memperhatikan gerak-gerik kakek itu ketika menghampiri tempat tahanan, akan tetapi mendengar bahwa kakek itu membawakan makanan, mereka tidak menaruh curiga. Kakek Thio Wi Han menyingkap jubah luarnya dan mengeluarkan pedang yang bersarung kayu buruk itu, memasukkan melalui jeruji besi dan melemparkannya kepada Cin Hay!

“Heiiiii! Apa yang kau lemparkan itu!” Kiu-bwe Mo-li membentak.

Akan tetapi kakek Thio Wi Han sudah membalikkan tubuh menghadapi dua orang tokoh sesat itu dengan sepasang pedang telanjang di tangan! Itulah pedang pendek hitam dan pedang panjang putih yang selama ini digarapnya dalam bengkel, yang sudah hampir jadi, tinggal menghaluskannya saja, pedang-pedang yang dibuat dari bahan Kim-san Liong-cu!

Dan tanpa banyak cakap lagi, Thio Wi Han sudah menggerakkan kedua pedang itu, yang putih panjang di tangan kanan, yang lebih pendek hitam di tangan kiri, langsung dia menyerang Kiu-bwe Mo-li! Ketika wanita itu dengan kaget meloncat ke samping sambil mengelak, kakek Thio Wi Han menyerang Jai-hwa Kongcu Lui Teng dengan pedang hitam pendek yang mengeluarkan sinar hitam!

Lui Teng terkejut dan agak gentar menghadapi pedang pusaka itu, maka diapun meloncat ke belakang sambil melolos sabuk putihnya. Kiu-bwe Mo-li juga sudah menggerakkan cambuk ekor sembilan di tangannya dan menyerang dengan ganas dan marah. Sementara itu, Lui Teng juga menyerang dengan sabuk putihnya yang lihai.

Melawan Lui Teng seorang diri saja kakek Thio Wi Han takkan mampu mengalahkannya, apa lagi melawan Kiu-bwe Mo-li yang lebih lihai lagi. Dan kini dia dikeroyok dua! Cambuk ekor sembilan itu meledak-ledak dan mengancam seluruh jalan darah di tubuh kakek itu, sedangkan sabuk putih di tangan Lui Teng sudah membentuk gulungan sinar putih yang berbahaya sekali. Tentu saja kakek ini segera terdesak hebat. Akan tetapi dengan gigihnya dia memutar kedua pedang di tangannya dan melindungi dirinya sambil berusaha untuk membalas.

Sementara itu, Cin Hay menyambar benda panjang yang dilemparkan oleh kakek Thio Wi Han dari luar kamar tahanan itu kepadanya. Sebatang pedang yang sarungnya butut! Heran dia, mengapa kakek itu melemparkan sebatang pedang padanya? Tanpa pedangpun dia akan mampu, melawan musuh. Apa lagi pedang butut ini, apa manfaatnya? Dicabutnya pedang itu dan diapun semakin kecewa. Sebatang pedang yang warnanya kotor kehitaman, seperti besi biasa yang dicat!

“Tai-hiap, mari kita keluar dan kita bantu Paman Thio!” kata Tek Hin dengan sikap gagah. Mengingat bahwa ilmu silat pemuda ini tidak berapa tinggi, Cin Hay lalu menyerahkan pedang buruk itu kepadanya.

“Jangan banyak bergerak, saudara Song. Kau pegang pedang ini untuk berjaga diri, dan kalau aku sudah membuka jeruji tahanan ini, sebaiknya engkau cepat melarikan diri biar aku yang membantu Paman Thio.”

Akan tetapi Tek Hin sudah menerima pedang itu dan berkata dengan suara lantang. “Aku? Disuruh lari sedangkan engkau dan Paman Thio dikepung musuh? Lebih baik aku mati!” Berkata demikian, pemuda ini dengan marah lalu menggunakan pedang kotor kehitaman itu untuk membabat jeruji besi tempat tahanan mereka. Dan pedang itu dapat membabat putus semua jeruji, seolah-olah jeruji itu bukan dibuat dari besi melainkan dari bahan yang lunak saja!

Cin Hay terkejut melihat ini dan baru dia tahu bahwa pedang buruk itu oleh kakek Thio diberikan kepadanya agar dia dapat menghadapi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya. Sekali melompat dia sudah berada di dekat Tek Hin dan pedang itupun berpindah tangan.

“Cepat, saudara Song. Engkau larilah menyelamatkan diri lebih dulu! Dengan pedang ini aku akan menghajar mereka dan menyelamatkan Paman Thio dan isterinya!”

Akan tetapi, Song Tek Hin adalah seorang pemuda yang tabah dan berani mati, apa lagi dia merasa sakit hati sekali kepada Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya atas kematian tunangan dan calon mertuanya. Mana dia mau melarikan diri begitu saja?

“Aku akan mengadu nyawa dengan iblis itu!” bentaknya, dan melihat betapa tigabelas orang Cap-sha-kwi telah bermunculan, dia segera menerjang orang yang terdekat sambil melompat keluar dari kamar yang jerujinya telah patah-patah itu.

“Tek Hin, jangan...!” Cin Hay mencegah, akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikan cegahannya, bahkan sudah mengamuk, memukul dan menendang. Akan tetapi, kepandaiannya masih jauh untuk dapat melawan Cap-sha-kwi yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi itu sehingga dalam beberapa jurus saja, tubuh Tek Hin telah menjadi bulan- bulan pukulan sehingga dia terjungkal roboh!

Akan tetapi dasar dia sudah nekat, dia bangkit kembali ketika seorang di antara Cap-sha-kwi menubruknya dan dia menyambut orang itu dengan tendangan kuat. Orang itu tidak menyangka dan perutnya kena ditendang sehingga dia terjengkang dan mengaduh. Tek Hin mendapat hati dan menyerang terus, dihadang oleh beberapa orang anggauta Cap-sha-kwi.

Ketika Cin Hay melompat keluar, dia sempat merobohkan dua orang anggauta Cap-sha-kwi yang mengancam Tek Hin, akan tetapi pada saat itu dia mendengar Kakek Thio mengeluh. Cepat dia menengok dan melihat betapa kakek itu roboh terluka dan kedua pedang di tangan kakek itu telah terampas oleh Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng!

Cin Hay meloncat dan pedangnya menyambar. Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng menggerakkan senjata mereka, yaitu cambuk ekor sembilan dan sabuk putih untuk menyambut serangan Cin Hay.

“Bret Brettt!” Cambuk ekor sembilan dan sabuk putih itu terbabat oleh pedang buruk di tangan Cin Hay dan kedua senjata itu putus!

Dua orang tokoh sesat itu terkejut sekali dan mereka meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat! Senjata mereka adalah senjata lemas yang tidak akan mudah dibikin putus begitu saja oleh sebatang pedang, namun kini sekali bertemu dengan pedang pemuda pakaian putih itu, senjata mereka telah menjadi buntung!

Cin Hay melihat betapa kakek Thio telah terluka parah, mukanya kehitaman tanda bahwa dia terkena luka beracun, maka cepat diangkat dan dipanggulnya tubuh kakek itu. Ketika dia menengok untuk menolong Tek Hin, pemuda ini telah diringkus dan diikat tangannya, akan tetapi dia masih meronta dan memaki.

“Tek Hin...!” Cin Hay berseru kaget.

“Tan Taihiap, pergilah, bawalah Paman Thio pergi. Selamatkan dia dan jangan perdulikan diriku!” teriak Song Tek Hin sebelum sebuah pukulan mengenai lehernya dan membuat dia roboh pingsan dengan mulut berdarah.

Cin Hay merasa khawatir sekali, akan tetapi diapun maklum bahwa dengan memanggul tubuh Thio Wi Han, tidak mungkin dia dapat menolong Tek Hin, apa lagi pemuda itu telah diringkus dan sebelum dia turun tangan, bisa saja pihak penjahat membunuh Tek Hin. Maka, diapun melompat dan melarikan kakek Thio Wi Han.

Kiu-bwe Mo-li dan Jai-hwa Kongcu Lui Teng tidak berani mengejar pemuda pakaian putih yang luar biasa lihainya itu. Apa lagi mereka sudah berhasil merampas dua batang pedang pusaka, dan itulah yang terpenting. Kalau sepasang pedang pusaka itu lenyap dilarikan orang, tentu Hek-sim Lo-mo akan marah sekali.

Akan tetapi sepasang pedang itu telah mereka rampas dari tangan Thio Wi Han, maka larinya Thio Wi Han, yang sudah terluka parah dan pemuda berpakaian putih itu tidak menjadi persoalan lagi. Masih ada Song Tek Hin dalam tawanan mereka, dan pemuda ini tentu dapat dijadikan umpan untuk memancing kembalinya pemuda berpakaian putih, kalau hal ini dikehendaki oleh Hek-sim Lo-mo. Kalau tidak, pemuda itu akan dibunuh begitu saja dan mereka akan meninggalkan dusun Gi-ho-cung.

********************

Nyonya Thio Wi Han yang usianya masih terbilang amat muda dibandingkan dengan suaminya, baru empat puluh dua tahun dibandingkan suaminya yang sudah tujuhpuluh tahun lebih. Akan tetapi, ia amat mencinta suaminya. Biarpun ketika ia menikah dengan Thio Wi Han, suaminya itu telah menjadi seorang duda berusia setengah abad lebih dan ia masih seorang gadis, namun suaminya sungguh merupakan seorang suami yang amat baik, yang memenuhi semua syarat seorang suami yang mencinta isterinya.

Bahkan setelah mereka menjadi suami isteri lebih dari dua puluh tahun lamanya dan mereka tidak mendapatkan keturunan, cinta kasih suaminya terhadap dirinya tak pernah berkurang sedikitpun juga. Mereka selalu berdua, selalu hidup saling mencinta dan merasakan kebahagian berdua.

Akan tetapi sekarang, ia harus pergi meninggalkan suaminya! Untuk pertama kali sejak mereka menjadi suami isteri, mereka saling berpisah dan sekali berpisah, ia harus meninggalkan suaminya yang terancam bahaya maut! Tak terasa lagi nyonya itu menangis sambil melanjutkan perjalanannya memasuki hutan setelah ia berhasil meninggalkan dusun Gi-ho-cung.

Bagaimana kalau suaminya gagal menyelamatkan diri? Kalau sampai ketahuan mereka, bagaimana mungkin suaminya akan mampu menyelamatkan diri? Membayangkan suaminya mereka bunuh, nyonya itu menangis semakin mengguguk. Ingin ia berlari kembali untuk membantu suaminya atau mati bersama suaminya kalau perlu, dan pikiran ini membuat ia menahan kedua kakinya

“Hemm, Nyonya Thio, kenapa engkau menangis dan mengapa pula engkau meninggalkan kampung?”

Wanita itu terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sejak ia meninggalkan dusun tadi, ia telah menarik kecurigaan Yauw Ban, Naga Mata Satu pembantu utama Hek-sim Lo-mo!

Yauw Ban merasa curiga melihat wanita itu meninggalkan dusun Gi-ho-cung dan dia lalu mengajak He-nan Siang-mo untuk membayangi nyonya itu dari jauh. Ketika melihat wanita itu memasuki hutan, kemudian herjalan sambil menangis, kecurigaan hati Yauw Ban semakin kuat dan akhirnya dia lalu menegur wanita itu yang menjadi terkejut sekali.

Nyonya Thio Wi Han maklum bahwa ia tidak akan mampu lari. Ia teringat kembali akan bahaya yang mengancam suaminya, maka tiba-tiba saja ia menjadi marah sekali. Tangannya meraih ke balik jubahnya dan ia telah menghunus sebatang pedang yang rupanya kotor dan hitam.

“Kalian manusia-manusia iblis yang menyengsarakan suamiku!” bentaknya dan langsung saja ia menggerakkan pedangnya menyerang tiga orang di depannya itu dengan bacokan-bacokan nekat.

Terdengar bunyi mendesing nyaring dan angin yang mengandung hawa dingin menyambar. Tiga orang itu terkejut bukan main, tak mereka sangka bahwa nyonya itu demikian dahsyat serangannya. Mereka tidak tahu bahwa kedahsyatan serangan itu sebagian besar karena keampuhan pedang yang berada di tangan nyonya itu. Sebuah pedang yang kelihatan buruk, akan tetapi sesungguhnya itulah Hek-liong-kiam yang aseli!

Yauw Ban mencabut pedangnya, dan kedua orang kembar He-nan Siang-mo mencabut golok mereka. Wanita ini sebaiknya dibunuh saja, pikir mereka. Pedang-pedang itu sudah hampir jadi dan kalau sudah jadi, kakek Thio Wi Han dan isterinya ini akan dibunuh, juga dua orang pemuda tawanan, demikian perintah Hek-sim Lo-mo. Dan sekarang, wanita ini sikapnya mencurigakan, agaknya hendak melarikan diri, mungkin ingin minta bantuan dan hal ini amat berbahaya. Apa lagi kini Nyonya Thio Wi Han agaknya nekat hendak melakukan perlawanan mati-matian. Begitu Yauw Ban dan He-nan Siang-mo memainkan pedang dan golok mereka, wanita itu segera terdesak hebat! Namun, Nyonya Thio memutar pedangnya melindungi diri.

“Trang-tranggg!” Pedangnya menangkis dua batang golok dari si kembar, dan dapat dibayangkan betapa kaget hati He-nan Siang-mo melihat betapa ujung golok mereka yang bertemu dengan pedang itu menjadi buntung!

“Awas, pedangnya kuat sekali, jangan mengadu senjata!” teriak Yauw Ban. Dia seorang ahli pedang dan dia segera mengenal pedang ampuh walaupun pedang itu kelihatan demikian buruknya. Hal ini tidak mengherankan hatinya mengingat bahwa Thio Wi Han adalah seorang ahli pedang yang amat pandai. Kini, dua orang kembar He-nan Siang-mo menggunakan golok yang ujungnya sudah buntung. Mereka bersikap hati-hati dan tidak mau mengadu senjata, demikian pula Yauw Ban.

Karena memang tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, tentu saja kini wanita itu makin terdesak hebat, ia terpaksa berloncatan ke sana sini dan berusaha membalas dengan sambaran pedangnya. Namun, karena dikeroyok tiga, akhirnya pundak kirinya tergores golok buntung dan paha kanannya tertusuk pedang Yauw Ban! Ia terhuyung dan sebelum ia mampu mengatur keseimbangan dirinya, tangan kiri Yauw Ban berhasil memukul dadanya.

“Desss!” Pukulan itu hebat sekali. Nyonya Thio Wi Han terpental dan terbanting roboh dalam keadaan nanar dan setengah pingsan. Namun ia tetap memegangi pedang buruk dengan erat.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan wanita itu, tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan seorang gadis berpakaian hitam telah menghadang ketika Gin Siong, orang kedua dari He-nan Siang-mo sudah mengangkat golok buntungnya untuk menghabiskan nyawa Nyonya Thio. Kaki gadis itu mencuat dan menendang ke arah lengan yang mengayunkan golok.

Gan Siong maklum bahwa ada orang yang datang menolong wanita yang sudah menggeletak tak berdaya itu. Dia marah dan mengubah gerakan goloknya, kini membabat ke arah kaki gadis berpakaian hitam itu. Akan tetapi, gerakan gadis itu cepat bukan main. Kaki kirinya yang menendang tadi tiba-tiba saja ditarik kembali dan pada saat golok menyambar tempat kosong, kaki kanannya sudah melayang dari samping.

“Dukkk!” Tubuh Gan Siong terjengkang ketika perutnya kena ditendang dari samping dan dia terkejut, juga kesakitan maka diapun bergulingan untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, gadis itu tidak mengejarnya melainkan cepat menyambar tubuh Nyonya Thio yang sudah payah, lalu memanggulnya.

“Kau... pakai... pedang pusaka ini...!” Nyonya Thio sempat berkata sambil menyerahkan pedangnya kepada gadis itu sebelum ia pingsan di atas pundak gadis itu.

Gadis berpakaian hitam itu bukan lain adalah Lie Kim Cu atau Hek-liong-li! Melihat keadaan wanita setengah tua itu yang pingsan dan lukanya parah, Kim Cu menerima pedang itu. Sebatang pedang yang buruk, akan tetapi ketika dipegangnya, ternyata gagangnya enak sekali digenggam, dan berat pedang itupun seimbang dan enak pula untuk dimainkan.

Sementara itu, melihat kehebatan gadis yang dalam segebrakan saja mampu menendang jatuh Gan Siong, Yauw Ban terkejut dan memandang tajam penuh selidik dengan sebelah matanya. Dia teringat akan cerita Kiu-bwe Mo-li dan diapun membentak, “Apakah engkau yang berjuluk Dewi Naga Hitam?”

Kim Cu tersenyum mengejek. “Benar, dan sekali ini aku datang untuk membasmi orang-orang berwatak iblis seperti kalian!”

Yauw Ban sudah marah sekali dan diapun cepat menyerang dengan pedangnya. Si mata satu ini memang seorang ahli pedang dan serangannya dahsyat bukan main, pedangnya berkelebat seperti kilat menyambar. Namun, yang diserangnya sekarang adalah seorang gadis yang amat lihai, yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari Huang-ho Kui-bo, maka menghadapi serangan itu, Liong-li atau Kim Cu tidak menjadi gugup dan iapun menggerakkan pedang butut itu untuk menangkis.

“Wuuss...!” Liong-li terkejut dan heran. Lawannya yang demikian pandai bermain pedang, juga dari sambaran pedang tadi dapat diketahui bahwa tenaga sin-kangnya juga amat kuat, ternyata mengelak dan tidak mau mengadukan pedangnya dengan pedang butut yang dipegangnya. Pada saat itu, ia melihat sepasang orang kembar sudah menyerangnya dan iapun melihat betapa ujung kedua golok mereka itu buntung.

Kim Cu yang lihai dan cerdik segera dapat menduga mengapa lawannya yang bermata satu dan lihai itu tidak mau beradu pedang. Tentu karena pedang di tangannya itu, yang nampak buruk, adalah sebatang pedang pusaka ampuh dan bahwa kedua golok dari orang kembar itupun mungkin telah buntung oleh pedang di tangannya itu! Maka ia-pun cepat menggerakkan pedangnya untuk menangkis atau membabat ke arah sepasang golok yang menyerangnya dari kanan kiri.

Gerakannya cepat dan pedang itu mengeluarkan suara mencicit nyaring, juga mendatangkan angin yang dingin, berubah menjadi gulungan sinar yang melebar dari kanan ke kiri. Dan seperti juga si mata satu, dua orang kembar itu cepat menarik kembali golok mereka, jelas bahwa mereka gentar dan tidak berani mengadukan golok mereka dengan pedang di tangan Liong-li.

Hal ini menggembirakan hati Liong-li. Dari gerakan tiga orang itu, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berilmu tinggi, terutama sekali si mata satu itu. Ia tidak akan gentar menghadapi mereka dan yakin akan mampu mengalahkan mereka bertiga kalau saja tidak ada wanita pingsan yang berada di atas pundak kirinya.

Dengan adanya beban itu, tentu saja ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, bahkan amat berbahaya baginya kalau harus menghadapi pengeroyokan tiga orang itu sambil memanggul orang pingsan. Akan tetapi, dengan pedang pusaka ampuh itu di tangan, ia akan mampu melindungi dirinya sendiri dan wanita yang dipanggulnya, dan akan dapat menyelamatkannya.

“Haiiiitttt...!” Wanita berpakaian hitam itu mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, jeritan yang mengandung khi-kang ini membuat He-nan Siang-mo dan Yauw Ban terkejut dan merasa betapa jantung mereka terguncang hebat. Cepat mereka menggerakkan senjata melindungi tubuh mereka, karena mereka melihat wanita pakaian hitam itu memutar pedang seperti baling-baling dan tubuhnya meluncur dengan serangan yang dahsyat. Hawa dingin menyambar-nyambar dan terpaksa tiga orang ini berloncatan mundur.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk meloncat jauh ke kiri dan melarikan diri untuk menyelamatkan wanita yang pingsan di atas pundaknya itu. Melihat ini, Yauw Ban dan He-nan Siang-mo tidak berani mengejar, hanya mereka menggerakkan tangan kiri dan beberapa batang senjata rahasia piauw dan paku beterbangan ke arah tubuh Liong-li yang sedang melarikan diri.

Liong-li mendengar suara angin sambaran senjata-senjata rahasia kecil itu. Tanpa menoleh, ia meloncat ke atas sambil memutar pedangnya ke arah belakang. Semua senjata rahasia yang menyambar bagian bawah lewat di bawah kakinya dan yang menyambar bagian atas runtuh oleh tangkisan sinar pedang Hek-liong-kiam.

Tiga orang pembantu utama Hek-sim Lo-mo hanya memandang dengan mata terbelalak, kagum dan juga jerih melihat wanita baju hitam itu melarikan tubuh Nyonya Thio dengan kecepatan bagaikan terbang saja. Mereka bertiga lalu bergegas menuju ke rumah Thio Wi Han, dan Yauw Ban sendiri cepat mengunjungi Hek-sim Lo-mo di tempat peristirahatannya untuk melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Hek-liong-li Lie Kim Cu berlari cepat untuk meninggalkan tempat berbabaya itu. Kalau saja ia tidak menerima pedang pusaka ampuh dari wanita itu, agaknya tidak akan demikian mudah ia dapat menyelamatkan wanita itu. Biarpun ia tidak gentar menghadapi tiga orang lawannya, namun untuk merobohkan mereka, membutuhkan waktu. Apa lagi kalau ia harus memanggul tubuh orang, mungkin saja ia malah akan mengalami kekalahan.

Ia lari masuk ke dalam hutan yang lebat dan merasa yakin bahwa tiga orang lawan itu tidak melakukan pengejaran. Tiba-tiba ia berhenti dan cepat ia menyelinap ke balik sebatang pohon besar. Ada langkah kaki orang berlari ke arahnya! Agaknya ada pula yang melakukan pengejaran! Dengan pedang di tangan kanan dan tubuh Nyonya Thio dipanggul di atas pundak kiri, Liong-li siap siaga, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Suara langkah kaki orang berlari itu semakin dekat dan kini orang itu memperlambat larinya, bahkan berjalan biasa ketika tiba di dekat tempat Liong-li bersembunyi. Wanita ini melihat seorang laki-laki yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, berpakaian putih, tangan kanan memegang sebatang pedang yang buruk, tangan kiri memanggul tubuh seorang kakek yang kelihatannya menderita luka parah.

Tak salah lagi, tentu seorang anak buah Hek-sim Lo-mo pula yang entah telah menangkap siapa. Tanpa banyak cakap lagi, Liong-li lalu melompat keluar dan menerjang dengan bacokan pedangnya ke arah kepala orang berpakaian putih itu.

“Singgg...!” Pedang di tangannya menyambar dahsyat dan mengeluarkan hawa dingin.

Orang muda itu nampak terkejut, akan tetapi tidak menjadi gugup dan dengan gerakan yang cepat diapun mengangkat pedang di tangannya untuk menangkis. Melihat ini, girang rasa hati Liong-li karena ia merasa yakin bahwa pedang pusakanya tentu akan membabat buntung pedang lawan itu.

“Trangggg...!!” Nampak bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat sampai menembus ke dalam dada dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah! Liong-li terkejut bukan main! Pedang orang itu sama sekali tidak buntung, bahkan selain mampu menahan pedang pusaka di tangannya, juga tenaga yang terkandung di balik pedang itu amat kuatnya!

Di lain pihak, orang berpakaian putih itu yang bukan lain adalah Tan Cin Hay, juga terkejut bukan main. Tadi dia sedang melarikan tubuh Thio Wi Han yang pingsan ketika tiba-tiba ada orang menyerangnya. Tak disangkanya bahwa penyerangnya itu seorang gadis berpakaian hitam yang selain memiliki pedang pusaka yang kuat pula, juga memiliki sin-kang yang mampu menandinginya! Keduanya kini saling pandang dengan penuh perhatian dan keduanya kagum.

Liong-li melihat seorang pemuda yang berwajah tampan dan lembut, nampaknya seperti seorang sastrawan lemah saja, sepasang matanya mencorong dan pakaiannya yang serba putih itu nampak bersih, dengan potongan sederhana. Kakek yang dipanggul pemuda itu nampaknya terluka berat dan pingsan, dengan muka agak kehitaman seperti keracunan.

Sebaliknya, Cin Hay juga kagum melihat seorang wanita muda berpakaian serba hitam yang cantik manis. Wajah itu bulat telur, dengan dagu meruncing, mulutnya kecil dengan bibir yang merah basah tanpa gincu. Di bawah mata kiri ada tahi lalat di atas pipi dan wanita itu memiliki sepasang mata yang tajam, mulutnya yang indah itu menyungging senyuman sinis sehingga nampak lesung pipit di tepi mulut. Manis sekali, akan tetapi sepasang mata itu membayangkan ketabahan, keberanian, kegalakan dan juga kecerdikan, membuat Cin Hay yang terkagum-kagum itu menjadi waspada. Seorang lawan yang amat berbahaya, pikirnya...