Social Items

LIONG-LI mempunyai watak yang tidak mau kalah. Begitu tadi beradu pedang, iapun tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan tangguh yang memiliki sebatang pedang pusaka ampuh. Ini bukan lawan seperti tiga orang yang mengeroyoknya tadi, jauh lebih lihai. Akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar, apa lagi melihat betapa orang inipun memanggul tubuh seorang yang pingsan. Jadi keadaan mereka sama benar! Hal ini membuat ia merasa penasaran kalau belum dapat mengalahkan laki-laki tampan itu.

“Lihat pedang!” bentak Liong-li dan kembali ia menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya membuat lingkaran di atas kepalanya, makin lama semakin lebar dan akhirnya dari dalam gulungan sinar pedang itu menyambar mata pedang, bagaikan kilat cepatnya menyambar ke arah leher Cin Hay! Bukan hanya dahsyat sekali serangan ini, melainkan juga amat indah gerakannya sehingga Cin Hay memandang kagum. Namun diapun tahu akan bahayanya serangan lawan, maka cepat dia meloncat ke belakang, menggerakkan pedangnya menangkis dari samping.

“Cringgg...!” Kembali bunga api berpijar, dan pedang di tangan Cin Hay, begitu bertemu pedang lawan sengaja dia pentalkan ke samping untuk terus membabat ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang. Akan tetapi, Kim Cu juga sudah tahu akan siasat ini dan cepat ia menarik kembali pedangnya yang tertangkis, memutar pergelangan tangannya sehingga pedangnya membentuk lingkaran menutup serangan lawan yang terpaksa menarik kembali pedangnya karena jalan ke arah lengan gadis itu tertutup sudah.

Terjadilah perkelahian pedang yang amat cepat, amat kuat dan juga amat indah dipandang. Tubuh keduanya seperti digulung sinar hitam dan putih! Tanpa mereka sadari, pertemuan pedang yang berkali-kali itu, disertai tenaga sin-kang yang amat kuat, membuat kedua pedang itu tergetar hebat dan cat yang menutupi kedua pedang itu terlepas dan kini nampaklah bentuk aseli kedua pedang itu.

Pedang di tangan Cin Hay berubah menjadi sebatang pedang berwarna putih gelap dan sinar pedangnya menjadi putih, sedangkan pedang di tangan Kim Cu menjadi sebatang pedang hitam yang sinarnya hitam sekali. Juga pedang-pedang itu amat indahnya, buatannya halus dan ada ukiran naga di batang pedang-pedang itu.

Pedang Naga Putih dan Pedang Naga Hitam! Pedang jantan dan pedang betina yang terbuat dari Kim-san Liong-cu dicampur baja biru. Inilah sepasang pedang pusaka yang asli, buatan kakek Thio Wi Han yang dipesan oleh Hek-sim Lo-mo. Adapun sepasang pedang yang hampir serupa bentuknya, yang palsu, terjatuh ke tangan Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng.

Setelah bertanding selama belasan jurus, baik Cin Hay maupun Kim Cu merasa betapa lihainya lawan. Cin Hay merasa khawatir sekali kalau-kalau pedang hitam gadis itu akan melukai tubuh Thio Wi Han yang dipanggulnya. Maka dia lalu meloncat agak jauh ke belakang sambil berseru.

“Berhenti!”

Kim Cu yang merasa penasaran, mukanya sudah menjadi merah. Ia mendongkol sekali tidak mampu mengalahkan pemuda ini dan ia pun menahan gerakan pedangnya sambil memandang dengan mata mendelik. Ketika mereka saling berpandangan itulah, di dalam hati masing-masing timbul kekaguman. Liong-li melihat seorang pria muda yang sudah cukup dewasa, berwajah tampan, berbentuk sedang dan sederhana dan bersikap gagah sekali. Bukan ketampanan pemuda ini yang menarik hati Liong-li, melainkan sinar mata mencorong dan sikap yang penuh kegagahan tanpa ada bayangan kesombongan itu.

Di lain pihak, Cin Hay juga kagum sekali melihat lawannya. Seorang wanita muda yang usianya kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya amat manis dengan mulut yang kecil akan tetapi bibirnya penuh dan merah basah menggairahkan. Di bawah mata kirinya ada tahi lalat di atas pipi. Ketika wanita muda itu tersenyum mengejek, nampak lesung pipit di pinggir mulut. Seorang wanita yang cantik jelita dan manis, dengan bentuk tubuh yang padat berisi, kulit muka dan leher yang putih mulus, akan tetapi yang lebih dari segalanya adalah matanya yang bersinar-sinar tajam dan sikapnya yang gagah perkasa penuh keberanian itu.

Mereka bukan hanya mengamati diri masing-masing lawan penuh perhatian, akan tetapi juga memandang ke arah pedang lawan dan merekapun kagum. Cin Hay melihat betapa wanita yang pakaiannya serba hitam itu memegang sebatang pedang yang juga berwarna hitam! Dan pedang itu tadi ternyata sudah membuktikan keampuhannya, mampu menandingi pedang di tangannya Sebaliknya Liong-li juga mengamati pedang di tangan pemuda berpakaian putih itu, sebatang pedang yang berwarna putih dan yang ampuh sekali.

“Hemm, keparat, mengapa berhenti? Takutkah engkau?” bentaknya dengan senyum mengejek.

Cin Hay adalah orang yang pendiam dan sabar, akan tetapi entah bagaimana, senyum mengejek dan pandang mata wanita muda itu, apa lagi kata-katanya membuat perutnya terasa panas juga. Selain itu, juga ada perasaan penasaran di dalam hatinya karena tadi dia sudah merasakan betapa lihainya wanita ini sehingga baik tenaga maupun pedangnya dapat ditandingi oleh wanita galak itu. Dia merasa tidak percaya kalau dia tidak mampu mengalahkannya dan timbul keinginannya untuk menguji sampai di mana kepandaian wanita itu dan kalau mungkin mengalahkannya untuk memberi hajaran atas kesombongannya.

“Aku tidak takut sama sekali! Aku minta berhenti karena pertandingan antara kita dapat melukai kakek yang kupanggul dan hal ini tidak kukehendaki sama sekali.”

“Bagus! Akupun tidak ingin nenek ini terluka. Nah, mari kita turunkan mereka lebih dulu, baru kita lanjutkan pertandingan kita kalau memang engkau berani!”

“Huh, siapa takut padamu?” Cin Hay semakin panas ditantang oleh wanita itu.

Mereka menurunkan tubuh kakek dan nenek itu dari panggulan mereka, kemudian tanpa banyak cakap lagi keduanya sudah saling terjang seperti dua ekor singa kelaparan yang berebut mangsa, atau lebih tepat lagi, seperti sepasang naga memperebutkan mustika! Seekor naga putih dan seekor naga hitam saja layaknya mereka itu.

Cin Hay berpakaian putih dan memegang pedang putih, sedangkan Liong-li berpakaian hitam dan memegang pedang hitam. Mereka tidak tahu bahwa nama pedang di tangan mereka itupun Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)! Permainan pedang mereka amat hebatnya. Karena maklum bahwa lawan amat tangguh, keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan kepandaian simpanan sehingga kini tubuh mereka lenyap menjadi bayangan putih dan bayangan hitam, dan pedang merekapun menciptakan gulungan sinar putih dan hitam yang saling belit dan saling tekan.

Makin lama serangan mereka semakin dahsyat dan keduanya juga menjadi semakin kagum di samping rasa penasaran karena sama sekali mereka tidak mampu mendesak lawan. Cin Hay dapat melihat bahwa ilmu pedang wanita itu amat ganas dan penuh tipu daya, ciri khas ilmu silat dari golongan sesat, namun sungguh telah menduduki tingkat tinggi sehingga ilmunya sendiri yang sudah mantap dan bersih itu tidak mampu mendesaknya.

Sebaliknya, Liong-li, hampir menangis saking penasaran karena ilmu pedangnya seolah-olah membentur tembok baja yang membuat semua serangannya gagal dan membalik! Saking penasaran, ia lupa bahwa yang bertanding dengannya bukanlah musuh, bahkan sama sekali tidak dikenalnya dan mereka bertandingpun tanpa alasan tertentu! Ia lupa akan hal ini dan tiba-tiba Lie Kim Cu mengeluarkan bentakan-bentakan dengan suara melengking nyaring. Ia telah menambah serangannya dengan dorongan-dorongan tangan kirinya yang berubah merah, karena ia telah mempergunakan ilmu pukulan beracun Hiat-tok-ciang!

Cin Hay terkejut bukan main. Dia agak lengah tadi, sama sekali tidak mengira bahwa wanita secantik itu dapat mengeluarkan ilmu pukulan sekeji itu! Dikiranya bahwa wanita berpakaian hitam itu hanya mengeluarkan pukulan biasa saja, didorong tenaga sin-kang, maka melihat tangan kiri itu mendorong ke arah dadanya, diapun menarik kaki kanan ke belakang dan menyambut tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula, menangkis dari samping dalam.

“Plakkk!” Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya Cin Hay mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya terpelanting!

Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li Lie Kim Cu untuk mendesak dengan pedangnya, menyambar ke arah pundak Cin Hay, bukan untuk membunuh melainkan hanya melukai pundak saja. Akan tetapi, biarpun Cin Hay merasa betapa tadi hawa panas menyusup melalui telapak tangannya yang menangkis, membuat tubuhnya terpelanting dan dadanya terguncang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya menangkis dari bawah.

“Trang-cring-tranggg...!” Tiga kali pedang Liong-li menyambar dan tiga kali pula Cin Hay menangkis. Akan tetapi pemuda itu merasa betapa pandang matanya berkunang-kunang. Dia telah terkena pukulan beracun! Kalau perkelahian itu dilanjutkan, dia akan celaka. Dia harus bersila dan menghimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun itu, akan tetapi lawannya tidak memberi kesempatan. Tiba tiba terdengar seruan kakek dan nenek itu hampir berbareng,

“Tahan senjata...! Jangan berkelahi antara orang sendiri...!“

Seruan ini mengejutkan Liong-li yang segera meloncat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya untuk memandang kepada nenek yang tadi dipanggulnya. Cin Hay merasa bersyukur karena terbebas dari ancaman maut dan diapun cepat duduk bersila, memandang kepada kakek Thio Wi Han. Cin Hay dan Kim Cu memandang kepada kakek dan nenek itu yang kini sudah saling rangkul dalam keadaan luka parah dan mereka itu terhuyung menghampiri mereka, akan tetapi lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil saling memapah.

“Orang muda, kenapa engkau berkelahi dengan nona ini?” Thio Wi Han bertanya.

Tadi dia siuman dari pingsannya dan hampir bersamaan, isterinya juga siuman. Mereka saling menghampiri dengan girang karena bagaimanapun juga, keduanya masih hidup dan dapat saling berjumpa. Akan tetapi mereka berdua tidak mengerti mengapa dua orang muda yang sakti itu kini saling serang mati-matian. Dengan singkat mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan tahulah mereka bahwa dua orang yang saling serang itu adalah penolong mereka dan mungkin terjadi salah paham. Biarpun keduanya sudah terluka parah, mereka mengumpulkan sisa tenaga untuk mendekati dua orang yang saling berkelahi itu dan mereka berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi.

“Aku tidak tahu, locianpwe. Aku sedang berjalan melarikan locianpwe dari pengejaran musuh, tiba-tiba saja ia muncul dan menyerangku. Tentu ia seorang di antara anak buah Hek-sim Lo-mo!”

“Ngaco!” Liong-li membentak, “Engkaulah anak buah Hek-sim Lo-mo, maka aku menyerangmu.”

“Aku bukan anak buah Hek-sim Lo-mo!” bantah Cin Hay.

“Akupun bukan!” Liong-li Lie Kim Cu tidak mau kalah.

“Aih, sudahlah...!” kata kakek Thio Wi Han terengah. “Ketahuilah, nona yang perkasa, yang kau tolong adalah isteriku, aku adalah Thio Wi Han dan pemuda ini menolongku terlepas dari tangan anak buah Hek-sim Lo-mo, Akan tetapi aku... ah, aku terluka parah...”

“Jangan terlalu... banyak bicara...!” Isterinya merangkulnya, juga dalam keadaan payah.

“Kami... berdua terluka parah... tubuh kami yang tua tidak sanggup menahan... ketahuilah... pedang yang kalian pegang itu... adalah Pek-liong-kiam... dan Hek-liong-kiam... jantan dan betina... berasal dari Kim-san Liong-cu... jangan sampai terjatuh ke tangan Hek-sim Lo-mo. Kuberikan kepada kalian... pergunakanlah sebaiknya...” Kakek itu terkulai. Isterinya menjerit lalu terkulai pula.

Ketika Cin Hay dan Kim Cu menubruk dan memeriksa, ternyata keduanya telah tewas! Dalam keadaan masih berlutut saling berhadapan, terhalang dua tubuh tak bernyawa lagi itu, Cin Hay dan Kim Cu saling pandang. Sampai lama mereka saling pandang, lalu Kim Cu tersenyum, teringat akan perkelahian mereka tadi. Cin Hay juga tersenyum, senyum kecut karena perkelahian itu tadi membuatnya menderita luka dalam yang ditahannya dan tidak ingin diperlihatkannya kepada lawan atau bekas lawan itu.

“Kita harus kubur mereka...” katanya lirih.

Kim Cu mengangguk setuju, “Ya, dalam satu lubang. Mereka saling mencinta sampai mati.”

Cin Hay mengerutkan alisnya mendengar ucapan ini, akan tetapi tidak membantah dan tanpa bicara lagi keduanya lalu saling bantu menggali tanah. Cukup dalam dan lebar untuk mengubur dua jenazah itu. Biarpun secara amat sederhana, tanpa peti, namun dengan penuh khidmat Cin Hay dan Kim Cu mengubur jenazah kakek Thio Wi Han dan isterinya yang tewas secara gagah berani itu.

Setelah memberi penghormatan terakhir, tiba-tiba Cin Hay roboh terguling. Sejak tadi, dia telah menahan penderitaannya karena nyeri akibat pukulan beracun Kim Cu tadi. Dia menahannya saja, dan ketika dia harus menggunakan tenaga untuk menggali lubang dan mengubur dua mayat, dia telah mengerahkan tenaga yang membuat lukanya semakin parah. Akhirnya, dia tidak kuat menahan lagi dan ketika memberi penghormatan di depan makam, dia terguling dan jatuh pingsan.

“Ehhh...??!!” Kim Cu terkejut dan heran sekali. Cepat ia berlutut di dekat tubuh pemuda itu dan memeriksanya. Melihat tanda merah di pergelangan tangan pemuda itu, barulah ia tahu bahwa pemuda itu telah terluka oleh pukulan Hiat-tok-ciang yang dilakukannya tadi!

“Ah, kiranya dia luka oleh Hiat-tok-ciang tadi?” bisiknya dengan hati menyesal.

Pemuda ini seorang pendekar budiman yang telah menyelamatkan kakek Thio Wi Han dan biarpun ia belum mendengar semua duduknya perkara, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu seorang yang lihai sekali dan juga gagah perkasa, menimbulkan rasa kagum dan suka di dalam hatinya. Kini, pemuda itu terluka beracun oleh pukulannya.

Tanpa ragu-ragu lagi Kim Cu lalu membuka kancing baju pemuda itu. Sejenak mukanya berubah kemerahan. Teringat ia akan pengalaman-pengalamannya yang lalu, ketika ia secara terpaksa sekali harus melayani para pria sebagai seorang pelacur! Betapa ia sudah pandai dan hafal cara membuka pakaian langganannya dengan cara yang menarik!

Akan tetapi, segera diusirnya ingatannya ini. Ia kini adalah Liong-li! Ia sekarang adalah seorang wanita perkasa dan di depannya terdapat seorang pria yang terluka oleh pukulannya, seorang pria yang sama sekali tidak berdosa! Ia harus menebus kekeliruannya itu dan harus menyembuhkannya!

Kini wajahnya biasa saja dan jari-jari tangannya dengan cekatan membukai semua kancing baju pemuda itu dan menanggalkan baju itu. Nampaklah dada yang bidang, dengan kulit yang putih sehat, tegap dan kuat. Akan tetapi seperti yang diduganya, di sebagian dada kiri terdapat tanda merah dan itu menandakan bahwa racun dari Hiat-tok-ciang yang tadinya mengenai tangan pemuda itu ketika beradu lengan dengannya, telah menjalar ke atas dan hawa beracun telah memasuki dada sebelah kiri.

Dengan ilmu kepandaiannya yang demikian tinggi, pasti pemuda itu akan mampu mempergunakan sin-kang dan hawa murni untuk menekan hawa beracun itu keluar, akan tetapi ia merasa heran sekali mengapa pemuda itu tidak segera melakukannya, bahkan nekat menggali lubang dan mengubur dua jenazah itu sehingga racun itu hawanya makin menjalar naik sampai ke dada. Hemm, agaknya pemuda ini tadi merasa malu kepadanya maka menahan semua kenyerian itu, dan akan mengobatinya kalau sudah sendirian. Akan tetapi agaknya dia terlalu memandang rendah kepada akibat Hiat-tok-ciang!

Dengan tenang tanpa ragu-ragu, Kim Cu lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke pundak dan dada kiri pemuda itu, lalu mengerahkan sin-kangnya dan mendorong keluar hawa beracun dari Hiat-tok-ciang itu. Ia bersila dekat pemuda itu dan kurang lebih setengah jam saja, warna merah yang tadi nampak di dada kiri pemuda itu telah lenyap dan kini turun ke lengan kiri.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 16 karya kho ping hoo

Kim Cu memandang wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dan halus, seperti wajah seorang pemuda pelajar, tidak pantas menjadi wajah seorang yang memiliki ilmu silat demikian tingginya. Ia kagum. Pemuda ini memang hebat ilmu silatnya. Kalau tadi ia tidak mempergunakan Hiat-tok-ciang, belum tentu ia menang. Dan iapun dapat menduga bahwa pemuda itu agaknya tidak mengira bahwa ia menghadapi pukulan beracun, maka sampai dapat terpengaruh dan terkena hawa beracun. Wajah itu ketika dalam keadaan tidak sadar, nampak seperti orang tidur saja, dan nampak muda sekali.

“Hemm, orang muda yang malang...” katanya lirih.

Cin Hay membuka matanya, bingung melihat dia rebah telentang dan wanita cantik itu bersila didekatnya. “Apa... apa kaubilang?” tanyanya, masih agak nanar.

“Aku bilang, engkau orang muda yang malang...”

“Hemm, aku tidak muda lagi! Tentu lebih tua darimu, nona!”

“Kalau begitu... laki-laki yang malang!”

Entah mengapa dia sendiripun tidak tahu, akan tetapi hatinya senang mendengar dia disebut laki-laki, bukan orang muda! Dan pada saat itu diapun melihat bahwa bajunya telah dilucuti orang, maka serentak diapun bangkit duduk dan menutupi dadanya dengan kedua tangan. Melihat ini, Kim Cu tak dapat menahan diri lagi tertawa. Cin Hay menyambar pakaian atas itu cepat memakainya sambil memandang kepada wanita itu dengan alis berkerut.

“Kenapa kau tertawa?” Dia merasa bahwa dia ditertawai karena wanita itu tertawa sambil terus memandang kepadanya. Dia merasa mendongkol juga walaupun harus diakuinya bahwa wanita itu sungguh manis sekali kalau tertawa, tertawa bebas dan tidak malu-malu. Mulutnya terbuka sehingga kelihatan deretan gigi yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang merah muda.

Kini Kim Cu menggunakan saputangan untuk menahan ketawanya, menutupi mulutnya dengan saputangan dan gerakan ini demikian penuh gaya kewanitaan yang lembut. “Engkau... lucu! Kenapa dadamu kau tutupi? Hik-hik, engkau ini laki-laki tulen kenapa malu kelihatan dadanya?”

Cin Hay melompat berdiri, mukanya menjadi merah. “Kenapa engkau menanggalkan bajuku? Tentu engkau yang melakukannya! Tak tahu malu! Kenapa engkau menanggalkan bajuku?”

Kim Cu masih duduk di atas tanah sambil memandang dengan senyum manis sekali. Hatinya makin senang, makin kagum. Laki-laki ini marah-marah karena bajunya ia tanggalkan! Ohh, padahal, semua laki-laki dahulu berebut untuk ditanggalkan pakaiannya olehnya! Jelas bahwa pria yang satu ini memang lain sama sekali.

“Orang tak mengenal budi! Engkau roboh pingsan karena terkena hawa pukulan beracun. Aku telah membantumu menghilangkan hawa beracun dari dadamu, dan engkau malah menuduhku yang bukan-bukan? Aku tidak tahu malu, ya? Bagus sekali! Apakah engkau menantangku untuk mengadu kepandaian lagi?”

Kim Cu meloncat bangun dan kini ia sudah memasang kuda-kuda yang indah, kaki kanan diangkat dan ditekuk sehingga lututnya hampir menempel dada, lengan kanan diangkat lurus menuding ke atas, tangan kiri melingkar di depan pinggang.

Kini Cin Hay teringat dan dia meraba-raba dada kirinya. Rasa nyeri itu sudah hilang dari dadanya, dan tinggal di bagian lengan kiri saja, dari siku ke bawah. Tahulah ia bahwa apa yang diucapkan wanita ini memang benar. Wanita itu telah melukainya dengan pukulan beracun, ketika ia pingsan wanita ini pula yang telah mengobatinya, dan ia malah memaki-makinya. Tadinya dia menduga bahwa wanita ini tidak tahu malu! Diapun merasa lega, mukanya berubah merah dan diapun tertawa geli melihat betapa wanita itu sudah memasang kuda-kuda siap untuk bertanding mati-matian.

Kim Cu mengerutkan alisnya, diam-diam melirik ke arah kaki tangannya. Apakah kuda-kudanya jelek maka pemuda itu mentertawainya. “Ehh? Kenapa engkau tertawa? Mentertawai aku, ya?”

Cin Hay cepat memberi hormat merangkapkan kedua tangan di depan dada. “Minta ampun, sama sekali aku tidak mentertawaimu, nona. Mana aku berani? Aku mentertawai kebodohanku sendiri. Aku yang tidak tahu malu, nona. Engkau sih... tahu malu sekali. Aku yang tolol dan aku berterima kasih, nona. Nah, untuk membuktikan bahwa aku yang tidak tahu malu, biar kubuka lagi baju ini agar engkau dapat melanjutkan pengobatanmu, karena aku masih merasa nyeri di lengan kiriku.”

Cin Hay lalu menanggalkan bajunya dan berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Kim Cu, sama sekali tidak kelihatan malu-malu seperti tadi lagi karena dia sudah tidak menduga yang bukan-bukan terhadap Kim Cu.

Anehnya, kini wajah Kim Cu yang menjadi kemerahan! Ia sendiri merasa heran. Sudah sering ia melihat dada orang, dada pria yang telanjang. Kenapa kini jantungnya berdebar melihat dada laki-laki yang tidak dikenalnya ini? Pada hal tadi, meraba dada itu untuk mengobatinya, ia sama sekali tidak merasa apa-apa! Bodoh kau, Kim Cu, makinya kepada diri sendiri. Seperti seorang perawan saja kau! Tak tahu malu!

“Ke sinikan lenganmu, biar kuobati,” katanya sambil duduk dan Cin Hay juga duduk di depannya. Keduanya duduk bersila, berhadapan dan Cin Hay menjulurkan lengan kirinya.

Sejenak Kim Cu memandang dada itu, lengan itu, bulu hitam di bawah pangkal lengan itu, akan tetapi ia segera dapat menguasai perasaannya, membuang jauh-jauh getaran dan gejolak perasaan mudanya, lalu menangkap lengan itu dan menempelkan telapak tangan kanannya ke atas lengan kiri Cin Hay, mengerahkan sin-kangnya.

Cin Hay merasakan betapa ada hawa yang hangat memasuki lengannya, terasa nyaman sekali. Tiba-tiba dia memejamkan kedua matanya dan dia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk melawan gairah berahi yang tiba-tiba timbul. Sentuhan jari tangan wanita itu pada lengannya, seolah-olah menyusup ke dalam hatinya dan terasa begitu hangat, begitu lunak dan lembut, mengandung getaran mesra.

Cin Hay segera mengerahkan kekuatannya untuk mematikan semua rasa dan menutup ingatannya. Pikiran yang biasanya menuntun rasa dan membangkitkan gairah berahi itu. Diapun berperang sendiri dengan pikirannya dan akhirnya diapun dapat menguasai dirinya, menguasai tubuh dan perasaannya dan menjadi tenang kembali biarpun tubuhnya kini menjadi basah oleh keringat!

Biarpun usianya baru dua puluh tiga tahun, namun Hek-liong-li atau Lie Kim Cu adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dengan kaum pria, biarpun pengalaman itu datang kepadanya secara terpaksa. Maka iapun dapat merasakan dan tahu bahwa tadi pemuda yang diobatinya itu telah dibakar berahi. Akan tetapi, ia melihat pula perjuangan Cin Hay melawan gairah itu dan pemuda itu berhasil, walaupun kini tubuhnya penuh keringat. Diam-diam Kim Cu menjadi semakin kagum.

Pemuda ini memang bukan pria sembarangan yang mudah hanyut oleh nafsunya sendiri, pikirnya. Sukar mencari seorang pria seperti ini. Seorang pria pilihan! Iapun melepaskan lengan itu karena semua hawa beracun akibat pukulan Hiat-tok-ciang telah bersih dari lengan itu.

Cin Hay membuka mata memandang lengannya, menggerak-gerakkannya dan memang sama sekali sudah pulih, tidak ada rasa nyeri lagi. “Terima kasih, engkau baik sekali, nona,” katanya sambil mengenakan bajunya yang putih.

Sepasang mata yang tajam bersinar itu mengamati wajah Cin Hay penuh selidik, agaknya sinar mata itu ingin menjenguk isi hati pemuda itu, kemudian Liong-li bertanya, “Hemm, engkau ini memuji ataukah mengejek, heh?”

Cin Hay memandang terbelalak. “Tentu saja memuji, mengapa mesti mengejek?”

“Akulah yang membuat engkau keracunan, masa untuk itu engkau memujiku?”

“Ah, itukah? Akan tetapi, ketika itu engkau menganggap aku sebagai musuh, nona, dan untuk mengalahkan musuh, engkau mempergunakan ilmu yang paling ampuh untuk itu, engkau tidak bersalah.”

Kim Cu hanya tersenyum saja, akan tetapi diam-diam ia masih penasaran. Memang tadi ia mampu mengalahkan pemuda ini, akan tetapi kalau pemuda itu siap siaga sebelumnya, kiranya akan mampu menolak pukulan beracun Hiat-tok-ciang itu. Ia menang karena curang dan ia sebenarnya masih ingin sekali menguji kepandaian mereka berdua, siapa yang sesungguhnya lebih unggul. Akan tetapi tentu saja ia merasa tidak enak.

Ia lalu melirik ke arah pedang yang sudah dipasang di pinggang pemuda itu. Sebatang pedang pusaka yang baik sekali, tidak kalah oleh pedang yang diberikan kepadanya oleh nenek tadi. Apa nama pedang pemuda itu? Pek-liong-kiam! Dan pedangnya sendiri Hek-liong-kiam sungguh tepat sekali menjadi miliknya. Bukankah ia juga mempunyai julukan Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam)? Maka sudah sepatutnya menjadi pemilik pedang pusaka Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)! Akan tetapi pemuda itu, pantaskah menjadi pemilik Pek-liong-kiam?

“Siapakah namamu?” tiba-tiba Kim Cu bertanya. “Aku sendiri dikenal orang sebagai Hek-liong-li!”

Cin Hay mengerutkan alisnya. Wanita ini bagaimanapun juga sungguh tinggi hati. Menanyakan namanya akan tetapi tidak mau memperkenalkan nama sendiri melainkan memperkenalkan nama julukannya! Akan tetapi di samping rasa tidak puas ini, diapun terheran. Julukan wanita ini Hek-liong-li! Sedangkan dia sendiri dijuluki Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih). Dia tadi sudah merasa heran akan hal yang amat kebetulan itu. Dia berjuluk Pendekar Naga Putih dan oleh kakek Thio Wi Han diberi Pedang Naga Putih!

“Aku dikenal orang sebagai Pek-liong-eng,” jawabnya singkat.

Sepasang mata itu terbelalak dan muka yang cantik itu menjadi kemerahan. Merah karena marah. Kedua tangan yang kecil itu dikepal dan sikapnya seperti hendak memukul sehingga diam-diam Cin Hay juga siap siaga kalau-kalau dirinya diserang. “Wah, engkau ini kiranya memang kurang ajar!” bentaknya marah.

Cin Hay yang terbelalak kini. “Aku? Kurang ajar? Eh-eh, bagaimana sih engkau ini, nona? Apa maksudmu mengatakan aku kurang ajar?”

“Engkau hanya ikut-ikutan aku saja! Apakah engkau bermaksud menghinaku? Katakan saja kalau engkau hendak menantang untuk bertanding sampai sejuta jurus! Aku tidak takut!”

“Sejuta jurus! Wah, mana kuat, nona. Sungguh mati, bersumpah disaksikan bumi dan langit aku tidak bermaksud menghinamu, nona, dan akupun sama sekali tidak ikut-ikutan. Karena tadi nona hanya memperkenalkan julukan, maka kukira nona tidak ingin berkenalan, maksudku, tidak ingin saling memperkenalkan nama, maka akupun tadi hanya memperkenalkan nama julukan yang kuterima dari orang-orang. Aku memang disebut Pek-liong-eng, mungkin karena aku selalu mengenakan pakaian putih, dan namaku sendiri adalah Tan Cin Hay.”

Kim Cu menelan kemarahannya, bahkan kini ia merasa sungkan dan malu. Kembali ia telah salah sangka. Mengapa ia selalu berprasangka buruk terhadap orang ini? Mungkin karena ia memang mulai membenci pria sejak ia dipaksa melayani bermacam-macam pria itu, yang dilakukan penuh kejijikan dan kedukaan.

“Betapa anehnya kebetulan ini,” katanya tanpa meminta maaf, “Engkau berjuluk Pek-liong-eng dan engkau memperoleh warisan Pek-liong-kiam, sedangkan aku berjuluk Hek-liong-li dan aku memperoleh warisan Hek-liong-kiam pula!”

“Agaknya inilah yang dinamakan jodoh, nona.”

Kembali mata itu berkilat. “Siapa yang berjodoh?” tanyanya dengan suara kering, agaknya kembali ia berprasangka buruk, mengira bahwa Cin Hay hendak menggodanya.

“Siapa lagi kalau bukan kita... dengan pedang-pedang itu, nona. Engkau berjodoh dengan Hek-liong-kiam dan akupun berjodoh dengan Pek-liong-kiam. Dan kitapun saling berjodoh untuk bekerja sama, setidaknya untuk menghadapi Hek-sim Lo-mo.”

“Hemm, siapa membutuhkan bantuanmu? Seorang diri saja aku sanggup membasmi Hek-sim Lo-mo dengan kaki tangannya. Kau boleh tunggu dan lihat saja!” Berkata demikian, Kim Cu sudah meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan Cin Hay.

“Heiii! Nona, tunggu dulu...!” Cin Hay juga melompat dan mengejar.

Melihat pemuda itu mengejar, Liong-li lalu “tancap gas” dan ngebut secepatnya. Tubuhnya melesat ke depan bagaikan anak panah terlepas dari busurnya sehingga sebentar saja Cin Hay tertinggal jauh. Pemuda itu terkejut dan kagum, akan tetapi diapun tidak mau kalah begitu saja.

Kesempatan ini agaknya dipergunakan oleh mereka berdua untuk bertanding ilmu berlari cepat. Liong-li tidak mau kalah dan ia mengerahkan seluruh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan kekuatan larinya, akan tetapi Cin Hay juga mengerahkan seluruh tenaga dan ternyata dalam hal ilmu berlari cepat inipun tingkat mereka seimbang! Akan tetapi agaknya Cin Hay lebih menang dalam hal pernapasan karena akhirnya wanita itupun berhenti karena napasnya terengah-engah.

Dengan marah karena tentu pernapasannya yang senin kemis itu akan kelihatan orang, yang biarpun sudah ditahan-tahankannya agar jangan terengah-engah tetap saja megap-megap seperti ikan dilempar didaratan. Liong-li berhenti dan membalikkan tubuh dengan mata menyinarkan kilat kemarahan. Akan tetapi kemarahannya pudar seketika dan mulut yang cemberut itu berubah menjadi senyuman ketika ia melihat bahwa keadaan Cin Hay tiada bedanya dengan dirinya, yaitu hermandi peluh dan terengah-engah! Jadi ia tidak perlu malu-malu lagi.

“Hemm... men... jemuhkan... mau apa kau... mengejar-ngejar aku...?” tanyanya dengan nada marah akan tetapi kedengarannya lucu karena ia terengah-engah.

Sesungguhnya, Cin Hay tidak perlu terengah-engah walaupun tubuhnya juga basah oleh keringat. Pernapasannya lebih kuat dan dia masih mampu bernapas biasa. Akan tetapi dia mulai mengenal watak wanita cantik manis berjuluk Dewi Naga Hitam itu, ialah watak tidak mau kalah! Melihat betapa wanita itu terengah-engah, dia maklum bahwa wanita itu akan tersinggung dan akan menjadi marah sekali kalau melihat lawannya tidak terengah-engah. Oleh karena itu, sengaja Cin Hay megap-megap untuk mengimbangi keadaan wanita itu.

“Aku... mau... menagih... hutangmu padaku...”

Mendengar ini, Liong-li menjadi sedemikian herannya sampai ia melongo, matanya terbelalak mulutnya ternganga dan agaknya ia sudah lupa lagi untuk terengah-engah! “Nagih... nagih... hutang?? Hai, Tan Cin Hay atau Pek-liong-eng, jangan ngawur kau! Sejak kapan aku mempunyai hutang padamu? Nenek moyangku pun tidak mempunyai hutang sepeserpun kepada nenek moyangmu!”

“Wah, ini namanya penyabar dan mudah lupa, yaitu sabar dan mudah lupa kalau punya hutang! Baru beberapa menit engkau hutang padaku, nona, dan sekarang sudah lupa, ataukah pura-pura lupa?”

“Wah, engkau memang setan tukang fitnah keji! Apa memang sudah miring otakmu? Aku hutang apa, hah?”

Cin Hay tersenyum. Sungguh hebat wanita ini semua gerak-geriknya amat menarik, amat wajar, kecantikan yang aseli dan tidak dibuat-buat! “Baiklah kalau engkau sudah lupa, Hek-liong-li, engkau hutang nama kepadaku!”

“Hutang... hutang nama...?” Liong-li mengulang dengan alis berkerut, tidak mengerti.

“Ketika engkau memperkenalkan nama julukanmu, akupun segera membayarnya dengan memperkenalkan nama julukanku. Kemudian aku sudah memperkenalkan nama aseliku kepadamu, akan tetapi engkau belum membayarnya. Bukankah ini berarti engkau masih hutang nama kepadaku?”

Kini mengertilah Liong-li, dan ia tersenyum mengejek. “Hem, namaku tidak sembarangan kuperkenalkan kepada setiap orang, apa lagi kepada sembarang laki-laki!” Berkata demikian, iapun membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.

Sekali ini, Cin Hay tidak mengejar. Untuk apa mengejar wanita yang demikian tinggi hati? Dia bermaksud baik, mengajak wanita itu untuk bekerja sama, yaitu menentang kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang jahat. Dia tahu betapa lihainya Hek-sim Lo-mo, apa lagi masih dibantu oleh anak buahnya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarpun Si Dewi Naga Hitam itu pun lihai sekali, namun dia meragukan apakah ia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.

Mengingat akan ketinggian hati wanita itu, Cin Hay merasa segan untuk membantunya. Akan tetapi ada sesuatu pada diri wanita itu, kepribadiannya yang amat menarik, yang membuat dia menggerakkan kaki untuk membayanginya. Tidak, dia tidak mungkin membiarkan saja wanita itu memasuki bencana, memasuki guha yang penuh dengan harimau buas dan ganas. Dia harus membantunya.

Bukankah wanita itu dan dia yang telah dipilih oleh mendiang kakek Thio Wi Han untuk mewarisi dua batang pedang pusaka, dan menggunakan dua batang pedang pusaka itu untuk menentang Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya? Bagaimanapun juga, sepasang pedang itu adalah pedang jantan dan pedang betina yang dibuat dari bahan yang sama, yaitu dari Kim-san Liong-cu.

Pasangan pedang itu harus bekerja sama, apa lagi kalau menghadapi manusia-manusia sejahat iblis, seperti Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya itu. Biarpun kini tidak lagi berusaha menyusul, namun Cin Hay membayangi terus dari jarak yang cukup jauh, namun dia tidak pernah kehilangan bayangan hitam di sebelah depan itu.

********************

Song Tek Hin didorong ke dalam ruangan itu oleh Kwa Ti, si muka burik perut gendut orang pertama Wei-ho Cap-sha-kwi. Badannya yang penuh luka dan memar itu tak bertenaga lagi, akan tetapi semangat Tek Hin masih tinggi.

“Brukkk!” Tek Hin roboh tersungkur di atas lantai, di dekat kaki Hek-sim Lo-mo yang duduk di atas kursi.

Wajah Hek-sim Lo-mo yang hitam itu nampak lebih hitam dari biasanya, matanya mendelik lebar dan seluruh bulu kasar di mukanya itu seperti berdiri kaku. Dia marah sekali mendengar berita bahwa Thio Wi Han dan isterinya telah lolos, demikian pula pemuda berpakaian putih yang amat lihai itu...

Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 16

LIONG-LI mempunyai watak yang tidak mau kalah. Begitu tadi beradu pedang, iapun tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan tangguh yang memiliki sebatang pedang pusaka ampuh. Ini bukan lawan seperti tiga orang yang mengeroyoknya tadi, jauh lebih lihai. Akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar, apa lagi melihat betapa orang inipun memanggul tubuh seorang yang pingsan. Jadi keadaan mereka sama benar! Hal ini membuat ia merasa penasaran kalau belum dapat mengalahkan laki-laki tampan itu.

“Lihat pedang!” bentak Liong-li dan kembali ia menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya membuat lingkaran di atas kepalanya, makin lama semakin lebar dan akhirnya dari dalam gulungan sinar pedang itu menyambar mata pedang, bagaikan kilat cepatnya menyambar ke arah leher Cin Hay! Bukan hanya dahsyat sekali serangan ini, melainkan juga amat indah gerakannya sehingga Cin Hay memandang kagum. Namun diapun tahu akan bahayanya serangan lawan, maka cepat dia meloncat ke belakang, menggerakkan pedangnya menangkis dari samping.

“Cringgg...!” Kembali bunga api berpijar, dan pedang di tangan Cin Hay, begitu bertemu pedang lawan sengaja dia pentalkan ke samping untuk terus membabat ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang. Akan tetapi, Kim Cu juga sudah tahu akan siasat ini dan cepat ia menarik kembali pedangnya yang tertangkis, memutar pergelangan tangannya sehingga pedangnya membentuk lingkaran menutup serangan lawan yang terpaksa menarik kembali pedangnya karena jalan ke arah lengan gadis itu tertutup sudah.

Terjadilah perkelahian pedang yang amat cepat, amat kuat dan juga amat indah dipandang. Tubuh keduanya seperti digulung sinar hitam dan putih! Tanpa mereka sadari, pertemuan pedang yang berkali-kali itu, disertai tenaga sin-kang yang amat kuat, membuat kedua pedang itu tergetar hebat dan cat yang menutupi kedua pedang itu terlepas dan kini nampaklah bentuk aseli kedua pedang itu.

Pedang di tangan Cin Hay berubah menjadi sebatang pedang berwarna putih gelap dan sinar pedangnya menjadi putih, sedangkan pedang di tangan Kim Cu menjadi sebatang pedang hitam yang sinarnya hitam sekali. Juga pedang-pedang itu amat indahnya, buatannya halus dan ada ukiran naga di batang pedang-pedang itu.

Pedang Naga Putih dan Pedang Naga Hitam! Pedang jantan dan pedang betina yang terbuat dari Kim-san Liong-cu dicampur baja biru. Inilah sepasang pedang pusaka yang asli, buatan kakek Thio Wi Han yang dipesan oleh Hek-sim Lo-mo. Adapun sepasang pedang yang hampir serupa bentuknya, yang palsu, terjatuh ke tangan Kiu-bwe Mo-li dan Lui Teng.

Setelah bertanding selama belasan jurus, baik Cin Hay maupun Kim Cu merasa betapa lihainya lawan. Cin Hay merasa khawatir sekali kalau-kalau pedang hitam gadis itu akan melukai tubuh Thio Wi Han yang dipanggulnya. Maka dia lalu meloncat agak jauh ke belakang sambil berseru.

“Berhenti!”

Kim Cu yang merasa penasaran, mukanya sudah menjadi merah. Ia mendongkol sekali tidak mampu mengalahkan pemuda ini dan ia pun menahan gerakan pedangnya sambil memandang dengan mata mendelik. Ketika mereka saling berpandangan itulah, di dalam hati masing-masing timbul kekaguman. Liong-li melihat seorang pria muda yang sudah cukup dewasa, berwajah tampan, berbentuk sedang dan sederhana dan bersikap gagah sekali. Bukan ketampanan pemuda ini yang menarik hati Liong-li, melainkan sinar mata mencorong dan sikap yang penuh kegagahan tanpa ada bayangan kesombongan itu.

Di lain pihak, Cin Hay juga kagum sekali melihat lawannya. Seorang wanita muda yang usianya kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya amat manis dengan mulut yang kecil akan tetapi bibirnya penuh dan merah basah menggairahkan. Di bawah mata kirinya ada tahi lalat di atas pipi. Ketika wanita muda itu tersenyum mengejek, nampak lesung pipit di pinggir mulut. Seorang wanita yang cantik jelita dan manis, dengan bentuk tubuh yang padat berisi, kulit muka dan leher yang putih mulus, akan tetapi yang lebih dari segalanya adalah matanya yang bersinar-sinar tajam dan sikapnya yang gagah perkasa penuh keberanian itu.

Mereka bukan hanya mengamati diri masing-masing lawan penuh perhatian, akan tetapi juga memandang ke arah pedang lawan dan merekapun kagum. Cin Hay melihat betapa wanita yang pakaiannya serba hitam itu memegang sebatang pedang yang juga berwarna hitam! Dan pedang itu tadi ternyata sudah membuktikan keampuhannya, mampu menandingi pedang di tangannya Sebaliknya Liong-li juga mengamati pedang di tangan pemuda berpakaian putih itu, sebatang pedang yang berwarna putih dan yang ampuh sekali.

“Hemm, keparat, mengapa berhenti? Takutkah engkau?” bentaknya dengan senyum mengejek.

Cin Hay adalah orang yang pendiam dan sabar, akan tetapi entah bagaimana, senyum mengejek dan pandang mata wanita muda itu, apa lagi kata-katanya membuat perutnya terasa panas juga. Selain itu, juga ada perasaan penasaran di dalam hatinya karena tadi dia sudah merasakan betapa lihainya wanita ini sehingga baik tenaga maupun pedangnya dapat ditandingi oleh wanita galak itu. Dia merasa tidak percaya kalau dia tidak mampu mengalahkannya dan timbul keinginannya untuk menguji sampai di mana kepandaian wanita itu dan kalau mungkin mengalahkannya untuk memberi hajaran atas kesombongannya.

“Aku tidak takut sama sekali! Aku minta berhenti karena pertandingan antara kita dapat melukai kakek yang kupanggul dan hal ini tidak kukehendaki sama sekali.”

“Bagus! Akupun tidak ingin nenek ini terluka. Nah, mari kita turunkan mereka lebih dulu, baru kita lanjutkan pertandingan kita kalau memang engkau berani!”

“Huh, siapa takut padamu?” Cin Hay semakin panas ditantang oleh wanita itu.

Mereka menurunkan tubuh kakek dan nenek itu dari panggulan mereka, kemudian tanpa banyak cakap lagi keduanya sudah saling terjang seperti dua ekor singa kelaparan yang berebut mangsa, atau lebih tepat lagi, seperti sepasang naga memperebutkan mustika! Seekor naga putih dan seekor naga hitam saja layaknya mereka itu.

Cin Hay berpakaian putih dan memegang pedang putih, sedangkan Liong-li berpakaian hitam dan memegang pedang hitam. Mereka tidak tahu bahwa nama pedang di tangan mereka itupun Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)! Permainan pedang mereka amat hebatnya. Karena maklum bahwa lawan amat tangguh, keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan kepandaian simpanan sehingga kini tubuh mereka lenyap menjadi bayangan putih dan bayangan hitam, dan pedang merekapun menciptakan gulungan sinar putih dan hitam yang saling belit dan saling tekan.

Makin lama serangan mereka semakin dahsyat dan keduanya juga menjadi semakin kagum di samping rasa penasaran karena sama sekali mereka tidak mampu mendesak lawan. Cin Hay dapat melihat bahwa ilmu pedang wanita itu amat ganas dan penuh tipu daya, ciri khas ilmu silat dari golongan sesat, namun sungguh telah menduduki tingkat tinggi sehingga ilmunya sendiri yang sudah mantap dan bersih itu tidak mampu mendesaknya.

Sebaliknya, Liong-li, hampir menangis saking penasaran karena ilmu pedangnya seolah-olah membentur tembok baja yang membuat semua serangannya gagal dan membalik! Saking penasaran, ia lupa bahwa yang bertanding dengannya bukanlah musuh, bahkan sama sekali tidak dikenalnya dan mereka bertandingpun tanpa alasan tertentu! Ia lupa akan hal ini dan tiba-tiba Lie Kim Cu mengeluarkan bentakan-bentakan dengan suara melengking nyaring. Ia telah menambah serangannya dengan dorongan-dorongan tangan kirinya yang berubah merah, karena ia telah mempergunakan ilmu pukulan beracun Hiat-tok-ciang!

Cin Hay terkejut bukan main. Dia agak lengah tadi, sama sekali tidak mengira bahwa wanita secantik itu dapat mengeluarkan ilmu pukulan sekeji itu! Dikiranya bahwa wanita berpakaian hitam itu hanya mengeluarkan pukulan biasa saja, didorong tenaga sin-kang, maka melihat tangan kiri itu mendorong ke arah dadanya, diapun menarik kaki kanan ke belakang dan menyambut tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula, menangkis dari samping dalam.

“Plakkk!” Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya Cin Hay mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya terpelanting!

Kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li Lie Kim Cu untuk mendesak dengan pedangnya, menyambar ke arah pundak Cin Hay, bukan untuk membunuh melainkan hanya melukai pundak saja. Akan tetapi, biarpun Cin Hay merasa betapa tadi hawa panas menyusup melalui telapak tangannya yang menangkis, membuat tubuhnya terpelanting dan dadanya terguncang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya menangkis dari bawah.

“Trang-cring-tranggg...!” Tiga kali pedang Liong-li menyambar dan tiga kali pula Cin Hay menangkis. Akan tetapi pemuda itu merasa betapa pandang matanya berkunang-kunang. Dia telah terkena pukulan beracun! Kalau perkelahian itu dilanjutkan, dia akan celaka. Dia harus bersila dan menghimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun itu, akan tetapi lawannya tidak memberi kesempatan. Tiba tiba terdengar seruan kakek dan nenek itu hampir berbareng,

“Tahan senjata...! Jangan berkelahi antara orang sendiri...!“

Seruan ini mengejutkan Liong-li yang segera meloncat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya untuk memandang kepada nenek yang tadi dipanggulnya. Cin Hay merasa bersyukur karena terbebas dari ancaman maut dan diapun cepat duduk bersila, memandang kepada kakek Thio Wi Han. Cin Hay dan Kim Cu memandang kepada kakek dan nenek itu yang kini sudah saling rangkul dalam keadaan luka parah dan mereka itu terhuyung menghampiri mereka, akan tetapi lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil saling memapah.

“Orang muda, kenapa engkau berkelahi dengan nona ini?” Thio Wi Han bertanya.

Tadi dia siuman dari pingsannya dan hampir bersamaan, isterinya juga siuman. Mereka saling menghampiri dengan girang karena bagaimanapun juga, keduanya masih hidup dan dapat saling berjumpa. Akan tetapi mereka berdua tidak mengerti mengapa dua orang muda yang sakti itu kini saling serang mati-matian. Dengan singkat mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan tahulah mereka bahwa dua orang yang saling serang itu adalah penolong mereka dan mungkin terjadi salah paham. Biarpun keduanya sudah terluka parah, mereka mengumpulkan sisa tenaga untuk mendekati dua orang yang saling berkelahi itu dan mereka berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi.

“Aku tidak tahu, locianpwe. Aku sedang berjalan melarikan locianpwe dari pengejaran musuh, tiba-tiba saja ia muncul dan menyerangku. Tentu ia seorang di antara anak buah Hek-sim Lo-mo!”

“Ngaco!” Liong-li membentak, “Engkaulah anak buah Hek-sim Lo-mo, maka aku menyerangmu.”

“Aku bukan anak buah Hek-sim Lo-mo!” bantah Cin Hay.

“Akupun bukan!” Liong-li Lie Kim Cu tidak mau kalah.

“Aih, sudahlah...!” kata kakek Thio Wi Han terengah. “Ketahuilah, nona yang perkasa, yang kau tolong adalah isteriku, aku adalah Thio Wi Han dan pemuda ini menolongku terlepas dari tangan anak buah Hek-sim Lo-mo, Akan tetapi aku... ah, aku terluka parah...”

“Jangan terlalu... banyak bicara...!” Isterinya merangkulnya, juga dalam keadaan payah.

“Kami... berdua terluka parah... tubuh kami yang tua tidak sanggup menahan... ketahuilah... pedang yang kalian pegang itu... adalah Pek-liong-kiam... dan Hek-liong-kiam... jantan dan betina... berasal dari Kim-san Liong-cu... jangan sampai terjatuh ke tangan Hek-sim Lo-mo. Kuberikan kepada kalian... pergunakanlah sebaiknya...” Kakek itu terkulai. Isterinya menjerit lalu terkulai pula.

Ketika Cin Hay dan Kim Cu menubruk dan memeriksa, ternyata keduanya telah tewas! Dalam keadaan masih berlutut saling berhadapan, terhalang dua tubuh tak bernyawa lagi itu, Cin Hay dan Kim Cu saling pandang. Sampai lama mereka saling pandang, lalu Kim Cu tersenyum, teringat akan perkelahian mereka tadi. Cin Hay juga tersenyum, senyum kecut karena perkelahian itu tadi membuatnya menderita luka dalam yang ditahannya dan tidak ingin diperlihatkannya kepada lawan atau bekas lawan itu.

“Kita harus kubur mereka...” katanya lirih.

Kim Cu mengangguk setuju, “Ya, dalam satu lubang. Mereka saling mencinta sampai mati.”

Cin Hay mengerutkan alisnya mendengar ucapan ini, akan tetapi tidak membantah dan tanpa bicara lagi keduanya lalu saling bantu menggali tanah. Cukup dalam dan lebar untuk mengubur dua jenazah itu. Biarpun secara amat sederhana, tanpa peti, namun dengan penuh khidmat Cin Hay dan Kim Cu mengubur jenazah kakek Thio Wi Han dan isterinya yang tewas secara gagah berani itu.

Setelah memberi penghormatan terakhir, tiba-tiba Cin Hay roboh terguling. Sejak tadi, dia telah menahan penderitaannya karena nyeri akibat pukulan beracun Kim Cu tadi. Dia menahannya saja, dan ketika dia harus menggunakan tenaga untuk menggali lubang dan mengubur dua mayat, dia telah mengerahkan tenaga yang membuat lukanya semakin parah. Akhirnya, dia tidak kuat menahan lagi dan ketika memberi penghormatan di depan makam, dia terguling dan jatuh pingsan.

“Ehhh...??!!” Kim Cu terkejut dan heran sekali. Cepat ia berlutut di dekat tubuh pemuda itu dan memeriksanya. Melihat tanda merah di pergelangan tangan pemuda itu, barulah ia tahu bahwa pemuda itu telah terluka oleh pukulan Hiat-tok-ciang yang dilakukannya tadi!

“Ah, kiranya dia luka oleh Hiat-tok-ciang tadi?” bisiknya dengan hati menyesal.

Pemuda ini seorang pendekar budiman yang telah menyelamatkan kakek Thio Wi Han dan biarpun ia belum mendengar semua duduknya perkara, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda itu seorang yang lihai sekali dan juga gagah perkasa, menimbulkan rasa kagum dan suka di dalam hatinya. Kini, pemuda itu terluka beracun oleh pukulannya.

Tanpa ragu-ragu lagi Kim Cu lalu membuka kancing baju pemuda itu. Sejenak mukanya berubah kemerahan. Teringat ia akan pengalaman-pengalamannya yang lalu, ketika ia secara terpaksa sekali harus melayani para pria sebagai seorang pelacur! Betapa ia sudah pandai dan hafal cara membuka pakaian langganannya dengan cara yang menarik!

Akan tetapi, segera diusirnya ingatannya ini. Ia kini adalah Liong-li! Ia sekarang adalah seorang wanita perkasa dan di depannya terdapat seorang pria yang terluka oleh pukulannya, seorang pria yang sama sekali tidak berdosa! Ia harus menebus kekeliruannya itu dan harus menyembuhkannya!

Kini wajahnya biasa saja dan jari-jari tangannya dengan cekatan membukai semua kancing baju pemuda itu dan menanggalkan baju itu. Nampaklah dada yang bidang, dengan kulit yang putih sehat, tegap dan kuat. Akan tetapi seperti yang diduganya, di sebagian dada kiri terdapat tanda merah dan itu menandakan bahwa racun dari Hiat-tok-ciang yang tadinya mengenai tangan pemuda itu ketika beradu lengan dengannya, telah menjalar ke atas dan hawa beracun telah memasuki dada sebelah kiri.

Dengan ilmu kepandaiannya yang demikian tinggi, pasti pemuda itu akan mampu mempergunakan sin-kang dan hawa murni untuk menekan hawa beracun itu keluar, akan tetapi ia merasa heran sekali mengapa pemuda itu tidak segera melakukannya, bahkan nekat menggali lubang dan mengubur dua jenazah itu sehingga racun itu hawanya makin menjalar naik sampai ke dada. Hemm, agaknya pemuda ini tadi merasa malu kepadanya maka menahan semua kenyerian itu, dan akan mengobatinya kalau sudah sendirian. Akan tetapi agaknya dia terlalu memandang rendah kepada akibat Hiat-tok-ciang!

Dengan tenang tanpa ragu-ragu, Kim Cu lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke pundak dan dada kiri pemuda itu, lalu mengerahkan sin-kangnya dan mendorong keluar hawa beracun dari Hiat-tok-ciang itu. Ia bersila dekat pemuda itu dan kurang lebih setengah jam saja, warna merah yang tadi nampak di dada kiri pemuda itu telah lenyap dan kini turun ke lengan kiri.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 16 karya kho ping hoo

Kim Cu memandang wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dan halus, seperti wajah seorang pemuda pelajar, tidak pantas menjadi wajah seorang yang memiliki ilmu silat demikian tingginya. Ia kagum. Pemuda ini memang hebat ilmu silatnya. Kalau tadi ia tidak mempergunakan Hiat-tok-ciang, belum tentu ia menang. Dan iapun dapat menduga bahwa pemuda itu agaknya tidak mengira bahwa ia menghadapi pukulan beracun, maka sampai dapat terpengaruh dan terkena hawa beracun. Wajah itu ketika dalam keadaan tidak sadar, nampak seperti orang tidur saja, dan nampak muda sekali.

“Hemm, orang muda yang malang...” katanya lirih.

Cin Hay membuka matanya, bingung melihat dia rebah telentang dan wanita cantik itu bersila didekatnya. “Apa... apa kaubilang?” tanyanya, masih agak nanar.

“Aku bilang, engkau orang muda yang malang...”

“Hemm, aku tidak muda lagi! Tentu lebih tua darimu, nona!”

“Kalau begitu... laki-laki yang malang!”

Entah mengapa dia sendiripun tidak tahu, akan tetapi hatinya senang mendengar dia disebut laki-laki, bukan orang muda! Dan pada saat itu diapun melihat bahwa bajunya telah dilucuti orang, maka serentak diapun bangkit duduk dan menutupi dadanya dengan kedua tangan. Melihat ini, Kim Cu tak dapat menahan diri lagi tertawa. Cin Hay menyambar pakaian atas itu cepat memakainya sambil memandang kepada wanita itu dengan alis berkerut.

“Kenapa kau tertawa?” Dia merasa bahwa dia ditertawai karena wanita itu tertawa sambil terus memandang kepadanya. Dia merasa mendongkol juga walaupun harus diakuinya bahwa wanita itu sungguh manis sekali kalau tertawa, tertawa bebas dan tidak malu-malu. Mulutnya terbuka sehingga kelihatan deretan gigi yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang merah muda.

Kini Kim Cu menggunakan saputangan untuk menahan ketawanya, menutupi mulutnya dengan saputangan dan gerakan ini demikian penuh gaya kewanitaan yang lembut. “Engkau... lucu! Kenapa dadamu kau tutupi? Hik-hik, engkau ini laki-laki tulen kenapa malu kelihatan dadanya?”

Cin Hay melompat berdiri, mukanya menjadi merah. “Kenapa engkau menanggalkan bajuku? Tentu engkau yang melakukannya! Tak tahu malu! Kenapa engkau menanggalkan bajuku?”

Kim Cu masih duduk di atas tanah sambil memandang dengan senyum manis sekali. Hatinya makin senang, makin kagum. Laki-laki ini marah-marah karena bajunya ia tanggalkan! Ohh, padahal, semua laki-laki dahulu berebut untuk ditanggalkan pakaiannya olehnya! Jelas bahwa pria yang satu ini memang lain sama sekali.

“Orang tak mengenal budi! Engkau roboh pingsan karena terkena hawa pukulan beracun. Aku telah membantumu menghilangkan hawa beracun dari dadamu, dan engkau malah menuduhku yang bukan-bukan? Aku tidak tahu malu, ya? Bagus sekali! Apakah engkau menantangku untuk mengadu kepandaian lagi?”

Kim Cu meloncat bangun dan kini ia sudah memasang kuda-kuda yang indah, kaki kanan diangkat dan ditekuk sehingga lututnya hampir menempel dada, lengan kanan diangkat lurus menuding ke atas, tangan kiri melingkar di depan pinggang.

Kini Cin Hay teringat dan dia meraba-raba dada kirinya. Rasa nyeri itu sudah hilang dari dadanya, dan tinggal di bagian lengan kiri saja, dari siku ke bawah. Tahulah ia bahwa apa yang diucapkan wanita ini memang benar. Wanita itu telah melukainya dengan pukulan beracun, ketika ia pingsan wanita ini pula yang telah mengobatinya, dan ia malah memaki-makinya. Tadinya dia menduga bahwa wanita ini tidak tahu malu! Diapun merasa lega, mukanya berubah merah dan diapun tertawa geli melihat betapa wanita itu sudah memasang kuda-kuda siap untuk bertanding mati-matian.

Kim Cu mengerutkan alisnya, diam-diam melirik ke arah kaki tangannya. Apakah kuda-kudanya jelek maka pemuda itu mentertawainya. “Ehh? Kenapa engkau tertawa? Mentertawai aku, ya?”

Cin Hay cepat memberi hormat merangkapkan kedua tangan di depan dada. “Minta ampun, sama sekali aku tidak mentertawaimu, nona. Mana aku berani? Aku mentertawai kebodohanku sendiri. Aku yang tidak tahu malu, nona. Engkau sih... tahu malu sekali. Aku yang tolol dan aku berterima kasih, nona. Nah, untuk membuktikan bahwa aku yang tidak tahu malu, biar kubuka lagi baju ini agar engkau dapat melanjutkan pengobatanmu, karena aku masih merasa nyeri di lengan kiriku.”

Cin Hay lalu menanggalkan bajunya dan berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Kim Cu, sama sekali tidak kelihatan malu-malu seperti tadi lagi karena dia sudah tidak menduga yang bukan-bukan terhadap Kim Cu.

Anehnya, kini wajah Kim Cu yang menjadi kemerahan! Ia sendiri merasa heran. Sudah sering ia melihat dada orang, dada pria yang telanjang. Kenapa kini jantungnya berdebar melihat dada laki-laki yang tidak dikenalnya ini? Pada hal tadi, meraba dada itu untuk mengobatinya, ia sama sekali tidak merasa apa-apa! Bodoh kau, Kim Cu, makinya kepada diri sendiri. Seperti seorang perawan saja kau! Tak tahu malu!

“Ke sinikan lenganmu, biar kuobati,” katanya sambil duduk dan Cin Hay juga duduk di depannya. Keduanya duduk bersila, berhadapan dan Cin Hay menjulurkan lengan kirinya.

Sejenak Kim Cu memandang dada itu, lengan itu, bulu hitam di bawah pangkal lengan itu, akan tetapi ia segera dapat menguasai perasaannya, membuang jauh-jauh getaran dan gejolak perasaan mudanya, lalu menangkap lengan itu dan menempelkan telapak tangan kanannya ke atas lengan kiri Cin Hay, mengerahkan sin-kangnya.

Cin Hay merasakan betapa ada hawa yang hangat memasuki lengannya, terasa nyaman sekali. Tiba-tiba dia memejamkan kedua matanya dan dia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk melawan gairah berahi yang tiba-tiba timbul. Sentuhan jari tangan wanita itu pada lengannya, seolah-olah menyusup ke dalam hatinya dan terasa begitu hangat, begitu lunak dan lembut, mengandung getaran mesra.

Cin Hay segera mengerahkan kekuatannya untuk mematikan semua rasa dan menutup ingatannya. Pikiran yang biasanya menuntun rasa dan membangkitkan gairah berahi itu. Diapun berperang sendiri dengan pikirannya dan akhirnya diapun dapat menguasai dirinya, menguasai tubuh dan perasaannya dan menjadi tenang kembali biarpun tubuhnya kini menjadi basah oleh keringat!

Biarpun usianya baru dua puluh tiga tahun, namun Hek-liong-li atau Lie Kim Cu adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dengan kaum pria, biarpun pengalaman itu datang kepadanya secara terpaksa. Maka iapun dapat merasakan dan tahu bahwa tadi pemuda yang diobatinya itu telah dibakar berahi. Akan tetapi, ia melihat pula perjuangan Cin Hay melawan gairah itu dan pemuda itu berhasil, walaupun kini tubuhnya penuh keringat. Diam-diam Kim Cu menjadi semakin kagum.

Pemuda ini memang bukan pria sembarangan yang mudah hanyut oleh nafsunya sendiri, pikirnya. Sukar mencari seorang pria seperti ini. Seorang pria pilihan! Iapun melepaskan lengan itu karena semua hawa beracun akibat pukulan Hiat-tok-ciang telah bersih dari lengan itu.

Cin Hay membuka mata memandang lengannya, menggerak-gerakkannya dan memang sama sekali sudah pulih, tidak ada rasa nyeri lagi. “Terima kasih, engkau baik sekali, nona,” katanya sambil mengenakan bajunya yang putih.

Sepasang mata yang tajam bersinar itu mengamati wajah Cin Hay penuh selidik, agaknya sinar mata itu ingin menjenguk isi hati pemuda itu, kemudian Liong-li bertanya, “Hemm, engkau ini memuji ataukah mengejek, heh?”

Cin Hay memandang terbelalak. “Tentu saja memuji, mengapa mesti mengejek?”

“Akulah yang membuat engkau keracunan, masa untuk itu engkau memujiku?”

“Ah, itukah? Akan tetapi, ketika itu engkau menganggap aku sebagai musuh, nona, dan untuk mengalahkan musuh, engkau mempergunakan ilmu yang paling ampuh untuk itu, engkau tidak bersalah.”

Kim Cu hanya tersenyum saja, akan tetapi diam-diam ia masih penasaran. Memang tadi ia mampu mengalahkan pemuda ini, akan tetapi kalau pemuda itu siap siaga sebelumnya, kiranya akan mampu menolak pukulan beracun Hiat-tok-ciang itu. Ia menang karena curang dan ia sebenarnya masih ingin sekali menguji kepandaian mereka berdua, siapa yang sesungguhnya lebih unggul. Akan tetapi tentu saja ia merasa tidak enak.

Ia lalu melirik ke arah pedang yang sudah dipasang di pinggang pemuda itu. Sebatang pedang pusaka yang baik sekali, tidak kalah oleh pedang yang diberikan kepadanya oleh nenek tadi. Apa nama pedang pemuda itu? Pek-liong-kiam! Dan pedangnya sendiri Hek-liong-kiam sungguh tepat sekali menjadi miliknya. Bukankah ia juga mempunyai julukan Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam)? Maka sudah sepatutnya menjadi pemilik pedang pusaka Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam)! Akan tetapi pemuda itu, pantaskah menjadi pemilik Pek-liong-kiam?

“Siapakah namamu?” tiba-tiba Kim Cu bertanya. “Aku sendiri dikenal orang sebagai Hek-liong-li!”

Cin Hay mengerutkan alisnya. Wanita ini bagaimanapun juga sungguh tinggi hati. Menanyakan namanya akan tetapi tidak mau memperkenalkan nama sendiri melainkan memperkenalkan nama julukannya! Akan tetapi di samping rasa tidak puas ini, diapun terheran. Julukan wanita ini Hek-liong-li! Sedangkan dia sendiri dijuluki Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih). Dia tadi sudah merasa heran akan hal yang amat kebetulan itu. Dia berjuluk Pendekar Naga Putih dan oleh kakek Thio Wi Han diberi Pedang Naga Putih!

“Aku dikenal orang sebagai Pek-liong-eng,” jawabnya singkat.

Sepasang mata itu terbelalak dan muka yang cantik itu menjadi kemerahan. Merah karena marah. Kedua tangan yang kecil itu dikepal dan sikapnya seperti hendak memukul sehingga diam-diam Cin Hay juga siap siaga kalau-kalau dirinya diserang. “Wah, engkau ini kiranya memang kurang ajar!” bentaknya marah.

Cin Hay yang terbelalak kini. “Aku? Kurang ajar? Eh-eh, bagaimana sih engkau ini, nona? Apa maksudmu mengatakan aku kurang ajar?”

“Engkau hanya ikut-ikutan aku saja! Apakah engkau bermaksud menghinaku? Katakan saja kalau engkau hendak menantang untuk bertanding sampai sejuta jurus! Aku tidak takut!”

“Sejuta jurus! Wah, mana kuat, nona. Sungguh mati, bersumpah disaksikan bumi dan langit aku tidak bermaksud menghinamu, nona, dan akupun sama sekali tidak ikut-ikutan. Karena tadi nona hanya memperkenalkan julukan, maka kukira nona tidak ingin berkenalan, maksudku, tidak ingin saling memperkenalkan nama, maka akupun tadi hanya memperkenalkan nama julukan yang kuterima dari orang-orang. Aku memang disebut Pek-liong-eng, mungkin karena aku selalu mengenakan pakaian putih, dan namaku sendiri adalah Tan Cin Hay.”

Kim Cu menelan kemarahannya, bahkan kini ia merasa sungkan dan malu. Kembali ia telah salah sangka. Mengapa ia selalu berprasangka buruk terhadap orang ini? Mungkin karena ia memang mulai membenci pria sejak ia dipaksa melayani bermacam-macam pria itu, yang dilakukan penuh kejijikan dan kedukaan.

“Betapa anehnya kebetulan ini,” katanya tanpa meminta maaf, “Engkau berjuluk Pek-liong-eng dan engkau memperoleh warisan Pek-liong-kiam, sedangkan aku berjuluk Hek-liong-li dan aku memperoleh warisan Hek-liong-kiam pula!”

“Agaknya inilah yang dinamakan jodoh, nona.”

Kembali mata itu berkilat. “Siapa yang berjodoh?” tanyanya dengan suara kering, agaknya kembali ia berprasangka buruk, mengira bahwa Cin Hay hendak menggodanya.

“Siapa lagi kalau bukan kita... dengan pedang-pedang itu, nona. Engkau berjodoh dengan Hek-liong-kiam dan akupun berjodoh dengan Pek-liong-kiam. Dan kitapun saling berjodoh untuk bekerja sama, setidaknya untuk menghadapi Hek-sim Lo-mo.”

“Hemm, siapa membutuhkan bantuanmu? Seorang diri saja aku sanggup membasmi Hek-sim Lo-mo dengan kaki tangannya. Kau boleh tunggu dan lihat saja!” Berkata demikian, Kim Cu sudah meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan Cin Hay.

“Heiii! Nona, tunggu dulu...!” Cin Hay juga melompat dan mengejar.

Melihat pemuda itu mengejar, Liong-li lalu “tancap gas” dan ngebut secepatnya. Tubuhnya melesat ke depan bagaikan anak panah terlepas dari busurnya sehingga sebentar saja Cin Hay tertinggal jauh. Pemuda itu terkejut dan kagum, akan tetapi diapun tidak mau kalah begitu saja.

Kesempatan ini agaknya dipergunakan oleh mereka berdua untuk bertanding ilmu berlari cepat. Liong-li tidak mau kalah dan ia mengerahkan seluruh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan kekuatan larinya, akan tetapi Cin Hay juga mengerahkan seluruh tenaga dan ternyata dalam hal ilmu berlari cepat inipun tingkat mereka seimbang! Akan tetapi agaknya Cin Hay lebih menang dalam hal pernapasan karena akhirnya wanita itupun berhenti karena napasnya terengah-engah.

Dengan marah karena tentu pernapasannya yang senin kemis itu akan kelihatan orang, yang biarpun sudah ditahan-tahankannya agar jangan terengah-engah tetap saja megap-megap seperti ikan dilempar didaratan. Liong-li berhenti dan membalikkan tubuh dengan mata menyinarkan kilat kemarahan. Akan tetapi kemarahannya pudar seketika dan mulut yang cemberut itu berubah menjadi senyuman ketika ia melihat bahwa keadaan Cin Hay tiada bedanya dengan dirinya, yaitu hermandi peluh dan terengah-engah! Jadi ia tidak perlu malu-malu lagi.

“Hemm... men... jemuhkan... mau apa kau... mengejar-ngejar aku...?” tanyanya dengan nada marah akan tetapi kedengarannya lucu karena ia terengah-engah.

Sesungguhnya, Cin Hay tidak perlu terengah-engah walaupun tubuhnya juga basah oleh keringat. Pernapasannya lebih kuat dan dia masih mampu bernapas biasa. Akan tetapi dia mulai mengenal watak wanita cantik manis berjuluk Dewi Naga Hitam itu, ialah watak tidak mau kalah! Melihat betapa wanita itu terengah-engah, dia maklum bahwa wanita itu akan tersinggung dan akan menjadi marah sekali kalau melihat lawannya tidak terengah-engah. Oleh karena itu, sengaja Cin Hay megap-megap untuk mengimbangi keadaan wanita itu.

“Aku... mau... menagih... hutangmu padaku...”

Mendengar ini, Liong-li menjadi sedemikian herannya sampai ia melongo, matanya terbelalak mulutnya ternganga dan agaknya ia sudah lupa lagi untuk terengah-engah! “Nagih... nagih... hutang?? Hai, Tan Cin Hay atau Pek-liong-eng, jangan ngawur kau! Sejak kapan aku mempunyai hutang padamu? Nenek moyangku pun tidak mempunyai hutang sepeserpun kepada nenek moyangmu!”

“Wah, ini namanya penyabar dan mudah lupa, yaitu sabar dan mudah lupa kalau punya hutang! Baru beberapa menit engkau hutang padaku, nona, dan sekarang sudah lupa, ataukah pura-pura lupa?”

“Wah, engkau memang setan tukang fitnah keji! Apa memang sudah miring otakmu? Aku hutang apa, hah?”

Cin Hay tersenyum. Sungguh hebat wanita ini semua gerak-geriknya amat menarik, amat wajar, kecantikan yang aseli dan tidak dibuat-buat! “Baiklah kalau engkau sudah lupa, Hek-liong-li, engkau hutang nama kepadaku!”

“Hutang... hutang nama...?” Liong-li mengulang dengan alis berkerut, tidak mengerti.

“Ketika engkau memperkenalkan nama julukanmu, akupun segera membayarnya dengan memperkenalkan nama julukanku. Kemudian aku sudah memperkenalkan nama aseliku kepadamu, akan tetapi engkau belum membayarnya. Bukankah ini berarti engkau masih hutang nama kepadaku?”

Kini mengertilah Liong-li, dan ia tersenyum mengejek. “Hem, namaku tidak sembarangan kuperkenalkan kepada setiap orang, apa lagi kepada sembarang laki-laki!” Berkata demikian, iapun membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.

Sekali ini, Cin Hay tidak mengejar. Untuk apa mengejar wanita yang demikian tinggi hati? Dia bermaksud baik, mengajak wanita itu untuk bekerja sama, yaitu menentang kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang jahat. Dia tahu betapa lihainya Hek-sim Lo-mo, apa lagi masih dibantu oleh anak buahnya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarpun Si Dewi Naga Hitam itu pun lihai sekali, namun dia meragukan apakah ia akan mampu menandingi Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya.

Mengingat akan ketinggian hati wanita itu, Cin Hay merasa segan untuk membantunya. Akan tetapi ada sesuatu pada diri wanita itu, kepribadiannya yang amat menarik, yang membuat dia menggerakkan kaki untuk membayanginya. Tidak, dia tidak mungkin membiarkan saja wanita itu memasuki bencana, memasuki guha yang penuh dengan harimau buas dan ganas. Dia harus membantunya.

Bukankah wanita itu dan dia yang telah dipilih oleh mendiang kakek Thio Wi Han untuk mewarisi dua batang pedang pusaka, dan menggunakan dua batang pedang pusaka itu untuk menentang Hek-sim Lo-mo dan anak buahnya? Bagaimanapun juga, sepasang pedang itu adalah pedang jantan dan pedang betina yang dibuat dari bahan yang sama, yaitu dari Kim-san Liong-cu.

Pasangan pedang itu harus bekerja sama, apa lagi kalau menghadapi manusia-manusia sejahat iblis, seperti Hek-sim Lo-mo dan kawan-kawannya itu. Biarpun kini tidak lagi berusaha menyusul, namun Cin Hay membayangi terus dari jarak yang cukup jauh, namun dia tidak pernah kehilangan bayangan hitam di sebelah depan itu.

********************

Song Tek Hin didorong ke dalam ruangan itu oleh Kwa Ti, si muka burik perut gendut orang pertama Wei-ho Cap-sha-kwi. Badannya yang penuh luka dan memar itu tak bertenaga lagi, akan tetapi semangat Tek Hin masih tinggi.

“Brukkk!” Tek Hin roboh tersungkur di atas lantai, di dekat kaki Hek-sim Lo-mo yang duduk di atas kursi.

Wajah Hek-sim Lo-mo yang hitam itu nampak lebih hitam dari biasanya, matanya mendelik lebar dan seluruh bulu kasar di mukanya itu seperti berdiri kaku. Dia marah sekali mendengar berita bahwa Thio Wi Han dan isterinya telah lolos, demikian pula pemuda berpakaian putih yang amat lihai itu...