Social Items

Cian Han Sin melakukan perjalanan meninggalkan kotaraja untuk melakukan pengejaran terhadap Lui-ciangkun. Akan tetapi dalam perjalanan itu dia mendengar tentang tertawannya Kaisar oleh musuh. Berita ini tidak terlalu diperdulikan karena dalam hatinya, Han Sin juga tidak begitu suka kepada Kaisar Yang Ti.

Banyak berita didengarnya tentang kaisar itu, berita yang tidak baik saja. Bahkan dia dan ibunya di usir keluar dari rumah mendiang ayahnya yang sudah banyak jasanya dalam membantu Kaisar Yang Cien membangun Dinasti Sui.

Mendengar di tariknya mundur pasukan Kerajaan dari utara, Han Sin menghentikan usahanya melakukan pengejaran ke utara karena dia tahu bahwa orang yang dia cari tentu bersama pasukan itu kembali pula ke kotaraja. Lebih baik dia menanti di kota raja dan kelak menyelidiki kalau Lui-ciangkun sudah kembali ke kota raja. Sementara itu, lebih baik dia mencari Kim Lan untuk dipertemukan dengan ibu kandungnya. Akan tetapi kemana dia harus mencari?

Pada suatu hari dia memasuki kota Tai-bun yang terletak di tepi sungai Fen-ho. Kota itu cukup besar dan ramai karena mempunyai hubungan langsung dengan Tai-goan melalui sungai Fen-ho. Setiap hari hilir mudik perahu-perahu pedagang yang pergi dan datang. Karena hari telah mulai gelap, Han Sin mengambil keputusan untuk bermalam di kota Tai-bun. Dia memilih sebuah rumah penginapan yang juga sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih. Pelayan menyambutnya dan mempersilahkannya masuk dengan sikap ramah.

“Kongsu hendak makan? Silahkan, masih banyak meja yang kosong di bagian dalam. Atau ingin makan di loteng?”

“Nanti dulu. Aku hendak menyewa sebuah kamar malam ini, apakah masih ada yang kosong?”

“Ada, kong-cu. Silahkan ikut saya...“ Pelayan itu membawanya ke sebuah kamar yang tidak begitu besar namun cukup bersih.

Setelah mandi dan bertukar pakaian, Han Sin lalu keluar dari kamarnya menuju ke rumah makan yang berada di bagian depan rumah penginapan itu. Ternyata rumah makan itu kini sudah penuh tamu dan dia mendapatkan meja yang berada di sudut. Sama sekali dia tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengamatinya dari atas loteng. Tiga orang itu duduk menghadapi meja dan sedang makan ketika Han Sin muncul.

Mereka itu bukan lain adalah Lui Couw atau Lui-ciangkun, murid keponakannya, Bong Sek Toan dan seorang Tosu tua yang bukan lain adalah Ngo-heng Thian-cu!

“Itu dia, Cian Han Sin!” bisik Bong Sek Toan ketika melihat Han Sin.

“Wah, pinto pernah bertemu dengan dia dan bertanding. Dia lihai bukan main, meilik iilmu pukulan sakti yang amat kuat!” kata Ngo-heng Thian-cu.

Lui Couw memandang tajam. “ Tidak salah lagi, tentu dia putera mendiang Cian Kauw Cu dan agaknya dia memiliki Bu-tek Cin-keng! Dia dapat merupakan orang yang amat berbahaya bagi kita. Mari kita pergi, jangan sampai dia melihat kita...“

Mereka bertiga meninggalkan loteng dan pergi dari rumah makan itu tanpa diketahui Han Sin. Dalam perjalanan Ngo heng Thian-cu mencela. “Lui-ciangkun, kenapa kita melarikan diri? Pinto tidak takut kepadanya, apalagi kalau kita maju bertiga, mustahil dia dapat menandingi kita...“

“Hemm, kita harus berhati-hati. Aku hendak mengerahkan pasukan untuk mencegatnya besok. Pula, kita masih menanti munculnya puteraku dan Ma Goat. Bukankah janjinya hari ini mereka akan datang ke kota ini?”

Mereka bertiga menuju ke sebuah rumah besar dan setelah tiba di situ, ternyata Ma Goat telah berada di situ. Begitu bertemu dengan Lui Couw, Ma Goat menghampiri lalu berkata dengan muka pucat.

“Lui-ciangkun, celaka sekali! Telah terjadi malapetaka hebat atas diri puteramu...!”

Lui Couw terkejut bukan main dan memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya kuat-kuat. kalau Ma Goat bukan seorang gadis lihai, tentu kedua pundaknya sudah terluka atau setidaknya akan hancur tulang pundaknya. Dia mengguncang dan berseru.

“Apa? Apa yang terjadi dengan puteraku Sun Ek? Dimana dia?”

“Dia… Dia telah tewas terbunuh…!” kata Ma Goat.

Panglima itu melepaskan pegangannya lalu melangkah mundur seperti terhuyung, matanya terbelalak. “Apa yang terjadi? Siapa pembunuh anakku? Katakan, siapa?”

“Yang membunuhnya adalah Cian Han Sin dan Cu Sian! Mula-mula kami berdua telah berhasil menawan Cu Sian. Akan tetapi kemudian muncul Han Sin dan seorang gadis berpakaian putih yang tidak saja menolong Cu Sian, akan tetapi juga membunuh Lui-kongcu. Bahkan gadis bernama Cu Sian itu menggunakan kipas milik Lui-kongcu untuk menghancurkan tubuh Lui-kongcu...“

“Aahhhh…!“ Lui Couw terhuyung dan kalau dia tidak cepat menjatuhkan diri di atas kursi, tentu dia sudah jatuh tersungkur. Mukanya pucat sekali dan wajahnya diliputi kedukaan yang mendalam. Kemudian dia melompat bangun.

“Jahanam Cian Han Sin! Aku akan membunuhmu, aku akan menghancur leburkan tubuhmu! kita tidak boleh gagal! Aku akan mengerahkan pasukan!”

Dengan hati terasa sakit sekali, malam itu juga Lui Couw menghubungi pembesar setempat dan berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak lima puluh orang penjaga keamanan kota. Dia tidak segera melakukan penagkapan atau penyerbuan malam itu juga karena dia tidak ingin gagal. Kalau malam itu di sergap, mungkin Han Sin yang berkepandaian tinggi itu akan mampu meloloskan diri. Dia lalu menaruh penjaga di sekeliling rumah penginapan untuk melakukan pengintaian. Demikian rapat penjagaan itu sehingga tidak mungkin pemuda itu meninggalkan rumah penginapan tanpa diketahui.

Han Sin sama sekali tidak menyangka buruk. Malam itu dia tidur nyenyak, bahkan bermimpi bertemu dengan Kim Lan, mempertemukan gadis itu dengan ibu kandungnya dan saking girang dan berterima kasihnya, Kim Lan dalam mimpi itu merangkul dan menghadiahinya sebuah ciuman! Tentu saja semua ini timbul dari keinginan dan harapannya sendiri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Han Sin sudah mandi dan dengan tubuh terasa segar dan pikiran juga penuh dengan harapan yang indah, dia melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu karena dia ingin mencari jejak Kim Lan. Dia berkeliling ke dalam kota itu untuk melihat kalau-kalau gadis itu berada di dalam kota. Setelah tidak berhasil, dia melanjutkan perjalanan keluar dari pintu gerbang sebelah timur karena dia bermaksud untuk pergi ke kota An-yang.

Di depan nampak deret an pegunungan Tai-hang-san dan baru beberapa li meninggalkan kota Tai-bun, dia sudah melalui jalan mendaki yang sunyi. Pagi itu amat cerah dan di pohon-pohon banyak burung berkicau. Biarpun musim semi sudah lewat namun masih banyak bunga menghias alam diantara daun-daun hijau.

Han Sin sama sekali tidak mengira bahwa sejak dia meninggalkan rumah penginapan, banyak orang telah membayanginya. Ketika dia tiba di tempat yang sunyi, tiba-tiba dari empat penjuru bermunculan banyak orang. Tadinya dia sama sekali tidak menduga bahwa kemunculan mereka itu ada hubungannya dengan dirinya. Tahu-tahu mereka itu telah mengepungnya! Lebih dari limah puluh orang dan mereka berpakaian seragam prajurit penjaga keamanan kota!

“Heiii, ada apakah ini?” teriaknya heran melihat puluhan orang itu mengepungnya dengan golok siap di tangan dan dengan sikap mengancam. kalau mereka itu sebangsa perampok tentu dia tidak akan merasa heran. Akan tetapi mereka adalah pasukan keamanan.

Kemudian muncul empat orang dan melihat tiga di antara mereka, mengertilah Han Sin bahwa dia berhadapan dengan musuh yang amat berbahaya. Dia tentu saja mengenal Bong Sek Toan, Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat! Dan yang seorang lagi tidak dikenalnya, seorang berpakaian panglima yang nampak bengis sekali ketika memandang kepadanya.

Tentu saja Han Sin maklum bahwa dia terancam karena tiga orang itu pernah bermusuhan dengan dia. Akan tetapi anehnya, bukan tiga orang itu yang kelihatan marah sekali, melainkan si panglima yang kelihatan gagah perkasa itu. Kalau tiga orang itu hanya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, kecuali Ma Goat yang masih memandang kepadanya dengan sinar mata penuh gairah di samping kemarahan si panglima itu mengacungkan telunjuknya menuding ke arah muka Han Sin dan membentaknya.

“Kamu yang bernama Cian Han Sin?”

Karena memang merasa tidak mengenal panglima itu, Han Sin menjawab dengan heran. “Rasanya aku belum pernah mengenalmu, ciang-kun. mengapa tiba-tiba saja engkau mengepung dan marah-marah kepadaku?”

Ma Goat tertawa, “He he he, Cian Han Sin! Engkau telah membunuh kong-cu Lui Sun Ek dan Lui-ciangkun ini adalah ayahnya. Tentu saja dia kini menghendaki kematianmu! Bersiaplah engkau untuk mati, Han Sin!”

“Aku akan mencincang tubuhmu sampai hancur!” bentak Lui Couw penuh geram.

Diam-diam Han Sin terkejut sekali dan juga girang. Di cari kemana-mana tidak tahunya kini berdiri di depannya. Akan tetapi dia menahan diri dan mencoba untuk membela diri. “Bukan aku yang membunuh Lui Sun Ek temanmu itu, akan tetapi Cu Sian...“

“Kalau bukan engkau yang datang menolong, bagaimana mungkin Cu Sian dapat membunuhnya? Engkau yang memberi kesempatan Cu Sian untuk membunuhnya!” kata Ma Goat.

Akan tetapi Han Sin tidak peduli lagi kepada gadis itu. Dia memandang Lui Couw penuh perhatian dan diam-diam merasa heran bagaimana ibunya dapat mempunyai seorang sute seperti panglima ini? “Jadi engkaukah yang bernama Panglima Lui Couw itu? Sudah lama aku memang mencarimu! Engkaulah yang dahulu membunuh ayahku dengan curang dan merampas Hek-liong-kiam, kemudian engkau pula yang membunuh ibuku, sucimu sendiri!”

Mendengar ucapan yang tegas itu, Lui Couw terkejut dan wajahnya agak berubah pucat. Akan tetapi karena rahasia sudah dibuka, dan pemuda ini sudah berada di ambang maut, diapun tertawa bergelak untuk menutupi keguncangan hatinya.

“Ha-ha-ha-ha-ha! Dan sekarang aku akan mengirim engkau menyusul ayah dan ibumu, keparat!” Setelah berkata demikian, panglima itu menggerakkan tangannya, mencabut pedang, bukan pedang panglima yang tergantung di pinggang, melainkan pedang yang tersembunyi di balik bajunya.

“Singggg…!” Nampak sinar hitam berkilauan menyilaukan mata. Itulah Hek-liong-kiam dan Han Sin mengetahui ini. Timbul perasaan haru di hatinya. Inilah pedang peninggalan ayahnya! Akan tetapi dia bersikap tenang dan tertawa.

“Ha-ha, seorang panglima besar memegang pedang curian menghadapi seorang muda dan masih menggunakan pengeroyokan puluhan orang lagi. Engkau sungguh seorang yang gagah, Lui Couw!”

“Lui-ciangkun, biarkan pinto menghajar bocah lancang mulut ini!” tiba-tiba Ngo-heng Thian-cu berseru dan tosu ini sudah mengebut kan hud-tim (kebutan) di tangan kiri dan menggerakkan tongkat putih di tangan kanan.

Han Sin menoleh kepadanya dan tertawa. “Bagus! Engkau tentulah Ngo-heng Thian-cu yang telah membunuh guruku Ho Beng Hwesio. Akupun akan membalaskan kematian Ho Beng Hwesio guruku!”

“Ho Beng Hwesio perut mu! Dia adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su, seorang datuk sesat yang amat jahat dan engkau sebagai muridnya tentu jahat pula. Terimalah ini!”

Tongkat putih itu berkelebat menjadi sinar putih ketika dia menyerang kearah leher Han Sin, di susul sambaran kebutan yang menjadi kaku dan menotok kearah pusar! Serangan itu hebat sekali, akan tetapi dengan lincahnya Han Sin mengelak sambil melompat ke belakang. Ketika di belakangnya empat orang prajurit menggerakkan golok, han Sin memutar tubuh, kedua tangannya bergerak dan empat orang prajurit itu roboh mengaduh-aduh!

Tongkat dan kebutan sudah menyambar lagi dan Han Sin menangkis tongkat, bahkan berusaha menangkap ujung kebutan, lalu balas menyerang dengan tangan kosong. Tamparan tangannya mengandung kekuatan yang amat hebat dan kedua lengannya bergerak bagaikan gelombang samudera. Dia memainkan ilmu silat Lo-hai-kun yang dia pelajari dari ibunya. Tentu saja dalam memainkan ilmu ini. Han Sin sekarang jauh lebih lihai dari mendiang ibunya karena dia memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

Sampai tiga puluh jurus bertanding, belum juga Ngo-heng Thian-cu yang memegang dua macam senjata itu dapat mendesak Han Sin. Dia merasa penasaran sekali, mengeluarkan bentakan nyaring dan dua senjata itu bergerak semakin cepat. Akan tetapi, Han Sin juga sudah tidak sabar lagi. Dia mengerahkan Bu-tek Cin-keng dan tiba-tiba dia merendahkan tubuh sambil mendorongkan kedua tangan ke depan sambil membentak dengan suara melengking.

“Hyyaatttttt…!” Hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar dan tubuh Ngo-heng Thian-cu terlempar ke belakang.

Namun tosu ini memang memiliki kekebalan. Biarpun dia terbanting keras, dia tidak mengalami luka dalam terlalu parah, hanya kepalanya berpusing rasanya dan sampai beberapa detik dia tidak mampu bangkit kembali. Akan tetapi sepasang senjata itu masih tergenggam di tangannya. Orang yang dapat menahan pukulan tidak langsung dari Bu-tek Cin-keng jarang ada dan tosu ini adalah seorang diantaranya, tanda bahwa dia memang seorang yang amat tangguh. Tidak terlalu mengherankan kalau Hek-liong-ong sampai tewas di tangannya.

Melihat kawannya roboh, Lui Couw marah sekali dan sambil membentak nyaring dia sudah menyerang dengan Hek-liong-kiam. Pedang itu merupakan pedang pusaka yang ampuh. Baru angin pukulannya saja terasa membawa ketajaman yang dingin sekali.

Han Sin maklum akan kehebatan pedang dan pemegangnya, maka diapun mengandalkan keringanan tubuhnya, berkelebatan mengelak ke sana sini. Untung baginya bahwa ilmu pedang andalan lawan itu adalah Lo-hai-kun (Ilmu Pedang Pengacau Lautan), ilmu yang pernah dipelajari dari ibunya maka dia sudah mengenal gerakan dasarnya sehingga lebih mudah baginya untuk menghindarkan diri.

Diapun menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk melawannya dan sambaran tangannya mengeluarkan hawa yang mampu menangkis dan menolak pedang. Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ngo-heng Thian-cu, ilmu kepandaian Lui Couw masih kalah setingkat. Akan tetapi karena ia memegang Hek-liong-kiam, maka dia lebih berbahaya dan Han Sin tahu benar akan hal ini.

Untung bahwa ketika berada di kuil Siauw-lim-pai dan di gembleng oleh Hek-liong-ong, dia dengan tekun berlatih gin-kang sehingga kini dia dapat bergerak ringan dengan cepatnya seperti seekor burung walet saja. Tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang berwarna hitam itu.

Akan tetapi begitu melihat pemimpin mereka bertanding, para prajurit itu tidak mau tinggal diam lagi. Lebih dari lima puluh orang mengepung dan mengeroyoknya. Bukan itu saja, juga Ngo-heng Thian-cu yang sudah bangkit kembali kini maju. Ma Goat pun tidak tinggal diam. Gadis ini merasa sakit hati kepada Han Sin yang bukan saja menolak cintanya, bahkan telah merobohkannya dan membantu Cu Sian sehingga Lui Sun Ek tewas di tangan Cu Sian.

Dengan suling mautnya Ma Goat ikut pula menyerang dan serangan gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Dalam hal kelihaian, gadis ini tidak kalah dibandingkan dengan Lui Couw sekalipun. Suling mautnya di tangan kanan diselingi pukulan Tian Ciang (Tangan Halilintar) di tangan kiri mengirim serangan-serangan maut.

Dikeroyok tiga orang sakti itu di tambah lagi kurang lebih enam puluh orang prajurit yang mengepungnya, Han Sin menjadi kewalahan juga. Dia tidak dapat melarikan diri karena untuk lolos dari kepungan itu saja amatlah sukarnya. Pedang Naga Hitam mengurungnya dari segala jurusan, di tambah kebutan dan tongkat putih di tangan Ngo-heng Thian-cu dan suling maut di tangan Ma Goat, sudah cukup merepotkannya. Biarpun dia dapat melindungi dirinya dengan hawa sakti dari Bu-tek Cin-keng, namun dia tidak diberi kesempatan untuk membalas serangan lawan yang bagaikan hujan lebat datangnya.

Keadaan Han Sin gawat, kalau diteruskan seperti itu, akhirnya dia dapat saja roboh terkena satu di antara banyak senjata ampuh itu. Akan tetapi dia bertekad untuk melawan sampai titik terakhir dan beberapa kali dengan dorongan kedua tangannya yang mengandung Bu-tek Cin-keng sepenuhnya dia dapat memaksa tiga orang lawannya mundur dan sebagian prajurit tersungkur. Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat lolos dari lingkaran yang berlapis-lapis itu.

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 32 karya kho ping hoo

Tiba-tiba terjadi perubahan. Han Sin merasakan betapa pengeroyokan para prajurit itu mengendur, bahkan kacau sehingga dia hanya menghadapi pengeroyokan Lui Couw, Ma Goat dan Ngo-heng Thian-cu bertiga saja. Apakah yang terjadi? Han Sin segera tahu bahwa ada orang-orang yang datang membantunya, menyerang para prajurit itu dari luar kepungan.

“Ha-ha-ha, tiga orang di bantu puluhan prajurit mengeroyok seorang pemuda! Sungguh tidak tahu malu!” terdengar suara seorang kakek yang bertubuh sedang dan dengan sebatang tongkat di tangan dia merobohkan banyak prajurit dengan amat mudahnya.

“Orang-orang yang tak tahu malu ini patut di hajar!” teriak seorang wanita setengah tua dan iapun menggerakkan sebatang pecut yang meledak-ledak dan merobohkan banyak prajurit.

“Heeiii, dia itu Han Sin!” teriak seorang gadis yang memegang sebatang tongkat pula.

Han Sin melayani tiga orang pengeroyoknya lalu melompat jauh ke belakang. Hal ini dapat dia lakukan karena semua prajurit kini sibuk menghadapi tiga orang pendatang itu. Dia melihat dan terheran-heran. Bukankah kakek itu Kui Mo yang gila itu bersama isterinya dan anaknya Kui Ji? Akan tetapi mereka kini tidak lagi berpakaian kembang-kembang yang aneh. Kalau dulu Kui Mo berpakaian kembang-kembang tambal-tambalan, rambutnya riap-riapan suka tertawa dan menangis, kini dia berpakaian rapi, bahkan setengah mewah dan rambutnya pun di ikat ke atas dengan rapi, di ikat dengan sutera biru.

Dan isterinya, yang usianya lima puluh tahun kurang itu, rambutnya juga tersisir dan tergelung rapi, tidak riap-riapan seperti dulu. Pakaiannya juga rapi, tidak berkembang-kembang. Kemudian gadis itu, Kui Ji nampak cantik sekali dengan pakaiannya yang serba hijau dan rambutnya di gelung ke atas seperti gelung rambut seorang puteri bangsawan.

Senjatanya tongkat berwarna hitam dan gadis itu dengan gerakan yang indah menotok sana sini merobohkan para prajurit lalu memandang kepada Han Sin dengan sinar mata bercahaya dan mulut tersenyum manis!

Keluarga gila! Han Sin merasa girang sekali. Keluarga itu jelas tidak gila lagi, dapat dilihat dari dandanan mereka dan juga sikap mereka. Mereka merobohkan para prajurit tanpa membunuh dan sebentar saja para prajurit itu kocar kacir. Kui Mo kini menerjang kearah Ngo-heng Thian-cu sambil berseru,

“Bukankah ini Ngo-heng Thian-cu yang tersohor itu...? Ha-ha-ha, kiranya yang bernama Ngo-heng Thian-cu hanya seorang manusia curang dan licik mengeroyok seorang muda mengandalkan banyak teman...!“ Tongkat kakek itu menyambar ke depan.

“Trakkk!” Ngo-heng Thian-cu menangkis dengan tongkat putihnya dan sejenak mereka berdiri saling pandang.

“Hemm, pinto tidak mengenalmu. Siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami?”

“Mau tahu namaku? Ouw yang Mo namaku dan mengapa aku mencampuri urusan kalian? Karena melihat ketidak-adilan. Aku mengenal pemuda ini sebagai seorang yang gagah perkasa dan melihat dia di keroyok segerombolan srigala, bagaimana aku tidak akan mencampurinya?”

“Bagus kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu, Ouw yang Mo!” teriak Ngo-heng Thian-cu yang menjadi malu dan marah sekali. Dua orang itu segera bertanding dengan serunya karena ilmu kepandaian mereka memang seimbang.

Kui Ji tidak mau kalah dengan ayahnya. Melihat betapa di antara para pengeroyok itu terdapat suling maut, iapun meloncat ke depan Ma Goat dan menudingkan tongkatnya. “Dan engkau inipun gadis tak tahu malu, main keroyokan!”

Akan tetapi sebelum ia menyerang Ma Goat, ibunya yang tadi sudah melihat betapa gerakan Ma Goat lihai sekali dan ia khawatir kalau puterinya akan celaka, segera melompat maju dan berkata kepada puterinya, “Kui Ji, kau hajar gerombolan anjing itu dan biar gadis tak tahu malu ini ibu yang menghajarnya!” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban puterinya, Nyonya Ouw yang Mo yang bernama Liu Si itu sudah menggerakkan cambuknya dan menerjang ke arah Ma Goat.

“Tar-tar-tar…!“ Cambuk itu meledak-ledak dan melecut kearah kepala dan muka Ma Goat, Maklum bahwa ia menghadapi lawan berat, Ma Goat lalu memutar sulingnya dan terjadilah perkelahian seru antara kedua orang wanita itu

Kui Ji sendiri yang telah di dahului ibunya, tentu saja tidak mau mengeroyok dan iapun mengamuk di antara para prajurit yang sudah mulai kacau dan kocar kacir itu.

Sementara itu, pertandingan antara Han Sin yang kini berhadapan satu lawan satu dengan Lui Couw terjadi amat hebatnya karena keduanya berusaha mati-matian untuk merobohkan lawan. Kini Han Sin yakin bahwa selain Lui Couw membunuh ayah dan ibunya dan mencuri Hek-liong-ong, juga orang jahat ini merencanakan terhadap Kaisar seperti yang diceritakan oleh Thian Ho Hwesio kepadanya.

Buktinya kini Ma Goat berada bersamanya, berarti bahwa See-thian-mo dan Pak-te-ong tentu diperalat panglima ini karena Ma Goat adalah puteri Pak-te-ong! Orang ini jahat sekali harus dibinasak an agar t idak membahayakan manusia di dunia!

Karena itulah menghadapi Hek-liong-ong yang ampuh itu, Han Sin mengerahkan seluruh tenaganya dan mainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, ilmu peninggalan ayahnya! Beberapa kali tubuh Lui Couw terpental oleh pukulan jarak jauhnya dan tenaga Lui Couw makin lama semakin lemah. Ketika melihat lawannya terhuyung, Han Sin cepat mengirim tendangan kearah tangan kanan yang memegang pedang dan dia berhasil menendang tangan itu sehingga Hek-liong-kiam terpental jauh!

Khawatir kalau pedang pusaka itu hilang, Han Sin tidak memperdulikan lawannya dan dia melompat dan berhasil menyambar pedang itu. Hek-liong-kiam milik ayahnya telah kembali ke tangannya! Bukan main girang dan leganya hati Han Sin, akan tetapi ketika dia mencari musuhnya, ternyata Lui Couw telah menghilang! Kiranya panglima itu telah kehilangan pedang dan melihat kawan-kawannya juga terdesak, menggunakan kesempatan selagi Han Sin mengejar pedang, dia dapat melarikan diri memasuki hutan lebat!

Han Sin tidak tahu harus mengejar kemana. Dia melihat Kui Ji dikeroyok puluhan prajurit maka setelah menyimpan pedang Hek-liong-kiam, di selipkan di ikat pinggangnya, diapun membantu gadis itu mengamuk, menampar dan memandangi para prajurit yang akhirnya melarikan diri ketakutan.

Ketika Han Sin menoleh, dia melihat Ng-heng Thian-cu sudah roboh terkapar dengan kepala pecah terpukul tongkat di tangan Ouw yang Mo, sedangkan Ma Goat juga tewas oleh lecutan cambuk di tangan Liu Si yang menotok pelipisnya. Han Sin menghela napas, diam-diam merasa kasihan kepada Ma Goat. Semua lawan telah pergi, meninggalkan mayat Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat. Han Sin berhadapan dengan tiga orang itu dan diapun cepat mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan berkata,

“Terima kasih atas pertolongan lo-cian-pwe bertiga. Kalau tidak ada samwi (kalian bertiga), tentu saya mengalami bahaya maut..."

“Ha-ha-ha, engkau pandai sekali merendahkan diri, Han Sin. Kami melihat bahwa ilmu kepandaianmu memang hebat sekali!”

“Orang-orang jahat ini memang sudah sepantasnya di hukum, bukan hanya karena membantumu saja kami menentang mereka!” kata Liu Si.

“Telah lama sekali kami mencarimu kemana-mana, Han Sin. Kemana saja engkau pergi?” Tanya Kui Ji dengan manis.

Han Sin memandang kearah kedua mayat itu, terutama mayat Ma Goat. Kalau saja dia yang menghadapi Ma Goat, dia tentu tidak akan sampai hati membunuhnya.

“Cian Han Sin, mengapa Ngo-heng Thian-cu memusuhi...?”

Pert anyaan Kui Mo yang ternyata kini bernama Ouw yang Mo itu membuat Han Sin tersadar dari lamunannyaa. “Dia telah membunuh guru saya...“

“Siapa gurumu...?”

“Guru saya Hek-liong-ong Poa Yok Su...“

“Ah, datuk besar dari Pulau Naga itu?” Ouw yang Mo memandang heran dan kaget.

“Dan mengapa gadis ini juga memusuhi mu, Han Sin?” Tanya Kui Ji.

“Ia bernama Ma Goat, puteri Pak-te-ong. Sudahlah, kita bicara nanti saja. Harap Lo-cian-pwe maafkan saya, saya harus mengubur dulu dua jenazah ini...“ kata Cian Han Sin.

“Han Sin, gadis ini memusuhimu, mengeroyokmu dan nyaris membunuhmu, kenapa engkau hendak mengurus jenazahnya?”

“Nona, ia pernah menyelamatkan nyawaku...“ jawab Han Sin yang segera mulai menggali lubang-lubang untuk mengubur dua jenazah itu.

“Hemm, dan tosu itu pembunuh gurumu. Kenapa ia juga kau urus penguburannya?” Kui Ji mengejar dengan penasaran.

“Nona, yang berbuat salah adalah orangnya ketika masih hidup. Kalau sudah mati, semua manusia sama saja dan kita harus menghormati orang yang sudah mati...“ jaw ab Han Sin tanpa berhenti menggali lubang.

“Ha-ha, Kui Ji. Engkau harus banyak belajar adap dari Cian Han Sin. Dia benar sekali!” kata Ouw yang Mo yang segera turun tangan membantu pemuda itu menggali lubang!

Setelah dua jenazah itu dikubur sepantasnya, barulah mereka melanjutkan percakapan.

“Han Sin apa yang dikat akan Kui Ji tadi benar. Kami telah lama mencarimu dan kebetulan sekali sekarang kita dapat saling bertemu di tempat ini“ kata Ouw ang Mo.

“Akan tetapi, saya tidak mempunyai urusan apa-apa lagi dengan lo-cian-pwe bertiga. Ada urusan apakah lo-cian-pwe mencari saya?”

“Cian Han Sin, kami masih ingin menyambung hubungan antara kita yang dahulu putus. Terus terang saja. Kami bertiga sepakat untuk menjodohkan puteri kami Kui Ji denganmu. Maafkan perbuatan kami dulu yang kami lakukan di luar kesadaran kami. Akan tetapi, kami bersungguh-sungguh untuk melanjutkan ikatan tali perjodohan itu...“

Han Sin menoleh dan memandang Kui Ji dan sama sekali tidak seperti dulu. Kini Kui Ji menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti layaknya gadis biasa. Juga Liu Si memandang kepadanya dengan senyum penuh harapan. Han Sin bangkit dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Ouw yang Mo.

“Banyak terima kasih saya haturkan kepada Lo-cian-pwe yang telah memberi kehormatan besar itu pada saya. Akan tetapi, saya mohon maaf sebesarnya karena terpaksa saya tidak dapat memenuhi keingin hati sam-wi...“

“Eh, Han Sin mengapa engkau menolak? Apakah engkau tidak suka karena kami bertiga pernah menjadi tidak waras karena keracunan? Ataukah, apakah anakku Kui Ji kurang cantik bagimu?” Liu Si bertanya penasaran.

“Maaf, bibi. Sama sekali tidak. Biarlah saya berterus terang saja. Saya telah mencinta gadis lain dan hanya dengan gadis itulah saya mau menikah. Saya telah mencinta gadis itu jauh sebelum saya bertemu dengan nona Kui Ji...“

Terdengar Kui Ji menghela napas panjang. “Ayah, ibu tidak baik memaksanya. Aku dapat memaklum keadaan hatinya...“

Han Sin merasa kagum sekali dan dia memberi hormat kepada Kui Ji. “Nona, sungguh hatimu bijaksana dan mulia. Harap sudi memaafkan aku kalau aku mengecewakan dan terima kasih atas pengertianmu...“

Ayah dan ibu gadis itu saling pandang dan merekapun menghela napas panjang, nampak kecewa sekali. Han Sin sudah bersiap-siap, kalau-kalau keluarga itu akan memaksanya dengan kekerasan seperti dahulu lagi. Akan tetapi ternyata tidak, bahkan kakek itu berkata,

“Kalau begitu kamipun tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya kami minta agar kita dapat terus menjadi sahabat. Han Sin, aku tadi melihat panglima yang memegang pedang hitam itu siapakah dia...?”

“Dia itu Panglima Lui Couw yang telah membunuh ayah dan ibuku...“

“Ah, sayang dia dapat lolos. Dan pedang hitam yang kau rampas itu, bukankah itu Hek-liong-kiam...?”

“Benar, pedang milik mendiang ayahku yang dia curi setelah dengan curang dia membunuh ayah dari belakang...“

“Ah, jadi Hek-liong-kiam itu milik ayahmu? dan engkau she Cian? Ya, Tuhan, kalau begitu engkau ini putera Panglima Cian Kauw Cu yang terkenal itu?”

Han Sin terkejut. “Bagaimana lo-cian-pwe bisa tahu?”

“Jangan sebut aku lo-cian-pwe, cukup sebut paman saja. Siapa yang tidak mengenal nama besar Panglima Cian Kauw Cu yang telah berjasa besar mendirikan Kerajaan Sui? Ketahuilah, aku adalah putera dari Mendiang Ouw yang Koksu dari Kerajaan Sun yang juga telah ditundukkan oleh pasukan yang dipimpin ayahmu dan mendiang Kaisar Yang Chien...“

“Ah, kalau begitu saya telah bersikap kurang hormat kepada paman, harap maafkan...“

“Han Sin, aku suka sekali kepadamu karena engkau sungguh seorang pemuda yang tahu sopan santun dan bersusila. Sayang engkau tidak berjodoh dengan puteriku. Akan tetapi masih ada satu hal yang kami harapkan untuk mendapatkan keterangan darimu...“

“Apakah itu paman? Tentu akan saya bantu kalau saya mampu...“

“Begini Han Sin. Kami bertiga dapat sembuh karena pertolongan seorang gadis berpakaian putih yang menurut keterangan yang kami dapat dari Pek Mau To-kow ketua Hwa-li-pang di Hwa-san bernama Kim Lan. Nah, apakah engkau mengetahui dimana adanya gadis itu? Kami ingin sekali bertemu dengannya dan menghaturkan terima kasih kami...“

Han Sin tersenyum. Tentu saja saya mengenalnya, paman. Akan tetapi namanya yang asli adalah Ang Swi Lan, alias Kim Lan alias Lan Lan. Ia adalah murid Thian Ho Hwesio yang berjuluk Siauw Bin Yok-sian, maka pandai dalam ilmu pengobatan. Memang ia yang telah menyembuhkan paman bertiga dan saya menjadi saksinya. Akan tetapi saya tidak tahu entah dimana adanya ia saat ini. Terus terang saja, saya sendiri juga sedang mencarinya..."

“Ah, penolong kami itu gadis yang kau cinta, Han Sin?” tiba-tiba Kui Ji berseru kaget akan tetapi juga girang.

Han Sin terkejut sekali. Tak dapat dia menyangkal, maka dia bertanya, “Adik Kui Ji bagaimana… engkau bisa tahu…?”

Kui Ji tersenyum. Lenyap sudah garis-garis kekecewaan yang tadi menghias wajah yang manis. “Mudah saja, Han Sin-ko, ketika engkau menyebutkan nama Ang Swi Lan, sepasang matamu bersinar-sinar dan pipimu menjadi kemerahan wajahmu berseri-seri...“

“Ha-ha-ha, alangkah tajamnya pandang matamu, Kui Ji!” Ouw yang Mo tertawa. "Han Sin jadi engkau sekarang tidak dapat mengira-ngirakan dimana adanya nona Ang Swi Lan?”

“Tidak, paman. Akan tetapi aku yakin akan dapat menemukannya!”

“Nah, kalau begitu, andaikata engkau yang lebih dulu berjumpa dengannya tolong sampaikan perasaan terima kasih kami yang mendalam kepadanya...“

“Baik, paman, akan saya sampaikan...“

Karena ingin segera melanjutkan perjalanannya, terutama mencari Kim lan dan melakukan pengejaran terhadap musuh besarnya, yaitu Lui Couw yang lolos dari tangannya, Han Sin lalu berpamit kepada keluarga yang telah menyelamatkannya itu. Perpisahan berjalan dengan hati ringan karena ternyata Kui Ji dapat mengatasi kekecewaannya dan kedua orang tuanya juga menghadapi penolakan itu dengan sikap yang bijaksana.

“Semoga engkau kelak berbahagia dengan Ang Swi Lan, Sin-ko...“ kata Kui Ji yang kini menyebut Han Sin dengan sebutan koko dan sikapnya juga tidak malu-malu seperti terhadap kakaknya sendiri.

Han Sin merasa terharu sekali. Gadis ini boleh jadi pernah gila karena keracunan, akan tetapi sesungguhnya memiliki watak yang bijaksana, seperti ayahnya. “Terima kasih, Ji-moi. Dan semoga engkau segera dapat bertemu dengan jodohmu yang cocok...“

Mereka berpisah dan mengambil jalan masing-masing...

********************

Pedang Naga Hitam Jilid 32

Cian Han Sin melakukan perjalanan meninggalkan kotaraja untuk melakukan pengejaran terhadap Lui-ciangkun. Akan tetapi dalam perjalanan itu dia mendengar tentang tertawannya Kaisar oleh musuh. Berita ini tidak terlalu diperdulikan karena dalam hatinya, Han Sin juga tidak begitu suka kepada Kaisar Yang Ti.

Banyak berita didengarnya tentang kaisar itu, berita yang tidak baik saja. Bahkan dia dan ibunya di usir keluar dari rumah mendiang ayahnya yang sudah banyak jasanya dalam membantu Kaisar Yang Cien membangun Dinasti Sui.

Mendengar di tariknya mundur pasukan Kerajaan dari utara, Han Sin menghentikan usahanya melakukan pengejaran ke utara karena dia tahu bahwa orang yang dia cari tentu bersama pasukan itu kembali pula ke kotaraja. Lebih baik dia menanti di kota raja dan kelak menyelidiki kalau Lui-ciangkun sudah kembali ke kota raja. Sementara itu, lebih baik dia mencari Kim Lan untuk dipertemukan dengan ibu kandungnya. Akan tetapi kemana dia harus mencari?

Pada suatu hari dia memasuki kota Tai-bun yang terletak di tepi sungai Fen-ho. Kota itu cukup besar dan ramai karena mempunyai hubungan langsung dengan Tai-goan melalui sungai Fen-ho. Setiap hari hilir mudik perahu-perahu pedagang yang pergi dan datang. Karena hari telah mulai gelap, Han Sin mengambil keputusan untuk bermalam di kota Tai-bun. Dia memilih sebuah rumah penginapan yang juga sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih. Pelayan menyambutnya dan mempersilahkannya masuk dengan sikap ramah.

“Kongsu hendak makan? Silahkan, masih banyak meja yang kosong di bagian dalam. Atau ingin makan di loteng?”

“Nanti dulu. Aku hendak menyewa sebuah kamar malam ini, apakah masih ada yang kosong?”

“Ada, kong-cu. Silahkan ikut saya...“ Pelayan itu membawanya ke sebuah kamar yang tidak begitu besar namun cukup bersih.

Setelah mandi dan bertukar pakaian, Han Sin lalu keluar dari kamarnya menuju ke rumah makan yang berada di bagian depan rumah penginapan itu. Ternyata rumah makan itu kini sudah penuh tamu dan dia mendapatkan meja yang berada di sudut. Sama sekali dia tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengamatinya dari atas loteng. Tiga orang itu duduk menghadapi meja dan sedang makan ketika Han Sin muncul.

Mereka itu bukan lain adalah Lui Couw atau Lui-ciangkun, murid keponakannya, Bong Sek Toan dan seorang Tosu tua yang bukan lain adalah Ngo-heng Thian-cu!

“Itu dia, Cian Han Sin!” bisik Bong Sek Toan ketika melihat Han Sin.

“Wah, pinto pernah bertemu dengan dia dan bertanding. Dia lihai bukan main, meilik iilmu pukulan sakti yang amat kuat!” kata Ngo-heng Thian-cu.

Lui Couw memandang tajam. “ Tidak salah lagi, tentu dia putera mendiang Cian Kauw Cu dan agaknya dia memiliki Bu-tek Cin-keng! Dia dapat merupakan orang yang amat berbahaya bagi kita. Mari kita pergi, jangan sampai dia melihat kita...“

Mereka bertiga meninggalkan loteng dan pergi dari rumah makan itu tanpa diketahui Han Sin. Dalam perjalanan Ngo heng Thian-cu mencela. “Lui-ciangkun, kenapa kita melarikan diri? Pinto tidak takut kepadanya, apalagi kalau kita maju bertiga, mustahil dia dapat menandingi kita...“

“Hemm, kita harus berhati-hati. Aku hendak mengerahkan pasukan untuk mencegatnya besok. Pula, kita masih menanti munculnya puteraku dan Ma Goat. Bukankah janjinya hari ini mereka akan datang ke kota ini?”

Mereka bertiga menuju ke sebuah rumah besar dan setelah tiba di situ, ternyata Ma Goat telah berada di situ. Begitu bertemu dengan Lui Couw, Ma Goat menghampiri lalu berkata dengan muka pucat.

“Lui-ciangkun, celaka sekali! Telah terjadi malapetaka hebat atas diri puteramu...!”

Lui Couw terkejut bukan main dan memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya kuat-kuat. kalau Ma Goat bukan seorang gadis lihai, tentu kedua pundaknya sudah terluka atau setidaknya akan hancur tulang pundaknya. Dia mengguncang dan berseru.

“Apa? Apa yang terjadi dengan puteraku Sun Ek? Dimana dia?”

“Dia… Dia telah tewas terbunuh…!” kata Ma Goat.

Panglima itu melepaskan pegangannya lalu melangkah mundur seperti terhuyung, matanya terbelalak. “Apa yang terjadi? Siapa pembunuh anakku? Katakan, siapa?”

“Yang membunuhnya adalah Cian Han Sin dan Cu Sian! Mula-mula kami berdua telah berhasil menawan Cu Sian. Akan tetapi kemudian muncul Han Sin dan seorang gadis berpakaian putih yang tidak saja menolong Cu Sian, akan tetapi juga membunuh Lui-kongcu. Bahkan gadis bernama Cu Sian itu menggunakan kipas milik Lui-kongcu untuk menghancurkan tubuh Lui-kongcu...“

“Aahhhh…!“ Lui Couw terhuyung dan kalau dia tidak cepat menjatuhkan diri di atas kursi, tentu dia sudah jatuh tersungkur. Mukanya pucat sekali dan wajahnya diliputi kedukaan yang mendalam. Kemudian dia melompat bangun.

“Jahanam Cian Han Sin! Aku akan membunuhmu, aku akan menghancur leburkan tubuhmu! kita tidak boleh gagal! Aku akan mengerahkan pasukan!”

Dengan hati terasa sakit sekali, malam itu juga Lui Couw menghubungi pembesar setempat dan berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak lima puluh orang penjaga keamanan kota. Dia tidak segera melakukan penagkapan atau penyerbuan malam itu juga karena dia tidak ingin gagal. Kalau malam itu di sergap, mungkin Han Sin yang berkepandaian tinggi itu akan mampu meloloskan diri. Dia lalu menaruh penjaga di sekeliling rumah penginapan untuk melakukan pengintaian. Demikian rapat penjagaan itu sehingga tidak mungkin pemuda itu meninggalkan rumah penginapan tanpa diketahui.

Han Sin sama sekali tidak menyangka buruk. Malam itu dia tidur nyenyak, bahkan bermimpi bertemu dengan Kim Lan, mempertemukan gadis itu dengan ibu kandungnya dan saking girang dan berterima kasihnya, Kim Lan dalam mimpi itu merangkul dan menghadiahinya sebuah ciuman! Tentu saja semua ini timbul dari keinginan dan harapannya sendiri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Han Sin sudah mandi dan dengan tubuh terasa segar dan pikiran juga penuh dengan harapan yang indah, dia melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu karena dia ingin mencari jejak Kim Lan. Dia berkeliling ke dalam kota itu untuk melihat kalau-kalau gadis itu berada di dalam kota. Setelah tidak berhasil, dia melanjutkan perjalanan keluar dari pintu gerbang sebelah timur karena dia bermaksud untuk pergi ke kota An-yang.

Di depan nampak deret an pegunungan Tai-hang-san dan baru beberapa li meninggalkan kota Tai-bun, dia sudah melalui jalan mendaki yang sunyi. Pagi itu amat cerah dan di pohon-pohon banyak burung berkicau. Biarpun musim semi sudah lewat namun masih banyak bunga menghias alam diantara daun-daun hijau.

Han Sin sama sekali tidak mengira bahwa sejak dia meninggalkan rumah penginapan, banyak orang telah membayanginya. Ketika dia tiba di tempat yang sunyi, tiba-tiba dari empat penjuru bermunculan banyak orang. Tadinya dia sama sekali tidak menduga bahwa kemunculan mereka itu ada hubungannya dengan dirinya. Tahu-tahu mereka itu telah mengepungnya! Lebih dari limah puluh orang dan mereka berpakaian seragam prajurit penjaga keamanan kota!

“Heiii, ada apakah ini?” teriaknya heran melihat puluhan orang itu mengepungnya dengan golok siap di tangan dan dengan sikap mengancam. kalau mereka itu sebangsa perampok tentu dia tidak akan merasa heran. Akan tetapi mereka adalah pasukan keamanan.

Kemudian muncul empat orang dan melihat tiga di antara mereka, mengertilah Han Sin bahwa dia berhadapan dengan musuh yang amat berbahaya. Dia tentu saja mengenal Bong Sek Toan, Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat! Dan yang seorang lagi tidak dikenalnya, seorang berpakaian panglima yang nampak bengis sekali ketika memandang kepadanya.

Tentu saja Han Sin maklum bahwa dia terancam karena tiga orang itu pernah bermusuhan dengan dia. Akan tetapi anehnya, bukan tiga orang itu yang kelihatan marah sekali, melainkan si panglima yang kelihatan gagah perkasa itu. Kalau tiga orang itu hanya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, kecuali Ma Goat yang masih memandang kepadanya dengan sinar mata penuh gairah di samping kemarahan si panglima itu mengacungkan telunjuknya menuding ke arah muka Han Sin dan membentaknya.

“Kamu yang bernama Cian Han Sin?”

Karena memang merasa tidak mengenal panglima itu, Han Sin menjawab dengan heran. “Rasanya aku belum pernah mengenalmu, ciang-kun. mengapa tiba-tiba saja engkau mengepung dan marah-marah kepadaku?”

Ma Goat tertawa, “He he he, Cian Han Sin! Engkau telah membunuh kong-cu Lui Sun Ek dan Lui-ciangkun ini adalah ayahnya. Tentu saja dia kini menghendaki kematianmu! Bersiaplah engkau untuk mati, Han Sin!”

“Aku akan mencincang tubuhmu sampai hancur!” bentak Lui Couw penuh geram.

Diam-diam Han Sin terkejut sekali dan juga girang. Di cari kemana-mana tidak tahunya kini berdiri di depannya. Akan tetapi dia menahan diri dan mencoba untuk membela diri. “Bukan aku yang membunuh Lui Sun Ek temanmu itu, akan tetapi Cu Sian...“

“Kalau bukan engkau yang datang menolong, bagaimana mungkin Cu Sian dapat membunuhnya? Engkau yang memberi kesempatan Cu Sian untuk membunuhnya!” kata Ma Goat.

Akan tetapi Han Sin tidak peduli lagi kepada gadis itu. Dia memandang Lui Couw penuh perhatian dan diam-diam merasa heran bagaimana ibunya dapat mempunyai seorang sute seperti panglima ini? “Jadi engkaukah yang bernama Panglima Lui Couw itu? Sudah lama aku memang mencarimu! Engkaulah yang dahulu membunuh ayahku dengan curang dan merampas Hek-liong-kiam, kemudian engkau pula yang membunuh ibuku, sucimu sendiri!”

Mendengar ucapan yang tegas itu, Lui Couw terkejut dan wajahnya agak berubah pucat. Akan tetapi karena rahasia sudah dibuka, dan pemuda ini sudah berada di ambang maut, diapun tertawa bergelak untuk menutupi keguncangan hatinya.

“Ha-ha-ha-ha-ha! Dan sekarang aku akan mengirim engkau menyusul ayah dan ibumu, keparat!” Setelah berkata demikian, panglima itu menggerakkan tangannya, mencabut pedang, bukan pedang panglima yang tergantung di pinggang, melainkan pedang yang tersembunyi di balik bajunya.

“Singggg…!” Nampak sinar hitam berkilauan menyilaukan mata. Itulah Hek-liong-kiam dan Han Sin mengetahui ini. Timbul perasaan haru di hatinya. Inilah pedang peninggalan ayahnya! Akan tetapi dia bersikap tenang dan tertawa.

“Ha-ha, seorang panglima besar memegang pedang curian menghadapi seorang muda dan masih menggunakan pengeroyokan puluhan orang lagi. Engkau sungguh seorang yang gagah, Lui Couw!”

“Lui-ciangkun, biarkan pinto menghajar bocah lancang mulut ini!” tiba-tiba Ngo-heng Thian-cu berseru dan tosu ini sudah mengebut kan hud-tim (kebutan) di tangan kiri dan menggerakkan tongkat putih di tangan kanan.

Han Sin menoleh kepadanya dan tertawa. “Bagus! Engkau tentulah Ngo-heng Thian-cu yang telah membunuh guruku Ho Beng Hwesio. Akupun akan membalaskan kematian Ho Beng Hwesio guruku!”

“Ho Beng Hwesio perut mu! Dia adalah Hek-liong-ong Poa Yok Su, seorang datuk sesat yang amat jahat dan engkau sebagai muridnya tentu jahat pula. Terimalah ini!”

Tongkat putih itu berkelebat menjadi sinar putih ketika dia menyerang kearah leher Han Sin, di susul sambaran kebutan yang menjadi kaku dan menotok kearah pusar! Serangan itu hebat sekali, akan tetapi dengan lincahnya Han Sin mengelak sambil melompat ke belakang. Ketika di belakangnya empat orang prajurit menggerakkan golok, han Sin memutar tubuh, kedua tangannya bergerak dan empat orang prajurit itu roboh mengaduh-aduh!

Tongkat dan kebutan sudah menyambar lagi dan Han Sin menangkis tongkat, bahkan berusaha menangkap ujung kebutan, lalu balas menyerang dengan tangan kosong. Tamparan tangannya mengandung kekuatan yang amat hebat dan kedua lengannya bergerak bagaikan gelombang samudera. Dia memainkan ilmu silat Lo-hai-kun yang dia pelajari dari ibunya. Tentu saja dalam memainkan ilmu ini. Han Sin sekarang jauh lebih lihai dari mendiang ibunya karena dia memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

Sampai tiga puluh jurus bertanding, belum juga Ngo-heng Thian-cu yang memegang dua macam senjata itu dapat mendesak Han Sin. Dia merasa penasaran sekali, mengeluarkan bentakan nyaring dan dua senjata itu bergerak semakin cepat. Akan tetapi, Han Sin juga sudah tidak sabar lagi. Dia mengerahkan Bu-tek Cin-keng dan tiba-tiba dia merendahkan tubuh sambil mendorongkan kedua tangan ke depan sambil membentak dengan suara melengking.

“Hyyaatttttt…!” Hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar dan tubuh Ngo-heng Thian-cu terlempar ke belakang.

Namun tosu ini memang memiliki kekebalan. Biarpun dia terbanting keras, dia tidak mengalami luka dalam terlalu parah, hanya kepalanya berpusing rasanya dan sampai beberapa detik dia tidak mampu bangkit kembali. Akan tetapi sepasang senjata itu masih tergenggam di tangannya. Orang yang dapat menahan pukulan tidak langsung dari Bu-tek Cin-keng jarang ada dan tosu ini adalah seorang diantaranya, tanda bahwa dia memang seorang yang amat tangguh. Tidak terlalu mengherankan kalau Hek-liong-ong sampai tewas di tangannya.

Melihat kawannya roboh, Lui Couw marah sekali dan sambil membentak nyaring dia sudah menyerang dengan Hek-liong-kiam. Pedang itu merupakan pedang pusaka yang ampuh. Baru angin pukulannya saja terasa membawa ketajaman yang dingin sekali.

Han Sin maklum akan kehebatan pedang dan pemegangnya, maka diapun mengandalkan keringanan tubuhnya, berkelebatan mengelak ke sana sini. Untung baginya bahwa ilmu pedang andalan lawan itu adalah Lo-hai-kun (Ilmu Pedang Pengacau Lautan), ilmu yang pernah dipelajari dari ibunya maka dia sudah mengenal gerakan dasarnya sehingga lebih mudah baginya untuk menghindarkan diri.

Diapun menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk melawannya dan sambaran tangannya mengeluarkan hawa yang mampu menangkis dan menolak pedang. Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ngo-heng Thian-cu, ilmu kepandaian Lui Couw masih kalah setingkat. Akan tetapi karena ia memegang Hek-liong-kiam, maka dia lebih berbahaya dan Han Sin tahu benar akan hal ini.

Untung bahwa ketika berada di kuil Siauw-lim-pai dan di gembleng oleh Hek-liong-ong, dia dengan tekun berlatih gin-kang sehingga kini dia dapat bergerak ringan dengan cepatnya seperti seekor burung walet saja. Tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang berwarna hitam itu.

Akan tetapi begitu melihat pemimpin mereka bertanding, para prajurit itu tidak mau tinggal diam lagi. Lebih dari lima puluh orang mengepung dan mengeroyoknya. Bukan itu saja, juga Ngo-heng Thian-cu yang sudah bangkit kembali kini maju. Ma Goat pun tidak tinggal diam. Gadis ini merasa sakit hati kepada Han Sin yang bukan saja menolak cintanya, bahkan telah merobohkannya dan membantu Cu Sian sehingga Lui Sun Ek tewas di tangan Cu Sian.

Dengan suling mautnya Ma Goat ikut pula menyerang dan serangan gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Dalam hal kelihaian, gadis ini tidak kalah dibandingkan dengan Lui Couw sekalipun. Suling mautnya di tangan kanan diselingi pukulan Tian Ciang (Tangan Halilintar) di tangan kiri mengirim serangan-serangan maut.

Dikeroyok tiga orang sakti itu di tambah lagi kurang lebih enam puluh orang prajurit yang mengepungnya, Han Sin menjadi kewalahan juga. Dia tidak dapat melarikan diri karena untuk lolos dari kepungan itu saja amatlah sukarnya. Pedang Naga Hitam mengurungnya dari segala jurusan, di tambah kebutan dan tongkat putih di tangan Ngo-heng Thian-cu dan suling maut di tangan Ma Goat, sudah cukup merepotkannya. Biarpun dia dapat melindungi dirinya dengan hawa sakti dari Bu-tek Cin-keng, namun dia tidak diberi kesempatan untuk membalas serangan lawan yang bagaikan hujan lebat datangnya.

Keadaan Han Sin gawat, kalau diteruskan seperti itu, akhirnya dia dapat saja roboh terkena satu di antara banyak senjata ampuh itu. Akan tetapi dia bertekad untuk melawan sampai titik terakhir dan beberapa kali dengan dorongan kedua tangannya yang mengandung Bu-tek Cin-keng sepenuhnya dia dapat memaksa tiga orang lawannya mundur dan sebagian prajurit tersungkur. Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat lolos dari lingkaran yang berlapis-lapis itu.

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 32 karya kho ping hoo

Tiba-tiba terjadi perubahan. Han Sin merasakan betapa pengeroyokan para prajurit itu mengendur, bahkan kacau sehingga dia hanya menghadapi pengeroyokan Lui Couw, Ma Goat dan Ngo-heng Thian-cu bertiga saja. Apakah yang terjadi? Han Sin segera tahu bahwa ada orang-orang yang datang membantunya, menyerang para prajurit itu dari luar kepungan.

“Ha-ha-ha, tiga orang di bantu puluhan prajurit mengeroyok seorang pemuda! Sungguh tidak tahu malu!” terdengar suara seorang kakek yang bertubuh sedang dan dengan sebatang tongkat di tangan dia merobohkan banyak prajurit dengan amat mudahnya.

“Orang-orang yang tak tahu malu ini patut di hajar!” teriak seorang wanita setengah tua dan iapun menggerakkan sebatang pecut yang meledak-ledak dan merobohkan banyak prajurit.

“Heeiii, dia itu Han Sin!” teriak seorang gadis yang memegang sebatang tongkat pula.

Han Sin melayani tiga orang pengeroyoknya lalu melompat jauh ke belakang. Hal ini dapat dia lakukan karena semua prajurit kini sibuk menghadapi tiga orang pendatang itu. Dia melihat dan terheran-heran. Bukankah kakek itu Kui Mo yang gila itu bersama isterinya dan anaknya Kui Ji? Akan tetapi mereka kini tidak lagi berpakaian kembang-kembang yang aneh. Kalau dulu Kui Mo berpakaian kembang-kembang tambal-tambalan, rambutnya riap-riapan suka tertawa dan menangis, kini dia berpakaian rapi, bahkan setengah mewah dan rambutnya pun di ikat ke atas dengan rapi, di ikat dengan sutera biru.

Dan isterinya, yang usianya lima puluh tahun kurang itu, rambutnya juga tersisir dan tergelung rapi, tidak riap-riapan seperti dulu. Pakaiannya juga rapi, tidak berkembang-kembang. Kemudian gadis itu, Kui Ji nampak cantik sekali dengan pakaiannya yang serba hijau dan rambutnya di gelung ke atas seperti gelung rambut seorang puteri bangsawan.

Senjatanya tongkat berwarna hitam dan gadis itu dengan gerakan yang indah menotok sana sini merobohkan para prajurit lalu memandang kepada Han Sin dengan sinar mata bercahaya dan mulut tersenyum manis!

Keluarga gila! Han Sin merasa girang sekali. Keluarga itu jelas tidak gila lagi, dapat dilihat dari dandanan mereka dan juga sikap mereka. Mereka merobohkan para prajurit tanpa membunuh dan sebentar saja para prajurit itu kocar kacir. Kui Mo kini menerjang kearah Ngo-heng Thian-cu sambil berseru,

“Bukankah ini Ngo-heng Thian-cu yang tersohor itu...? Ha-ha-ha, kiranya yang bernama Ngo-heng Thian-cu hanya seorang manusia curang dan licik mengeroyok seorang muda mengandalkan banyak teman...!“ Tongkat kakek itu menyambar ke depan.

“Trakkk!” Ngo-heng Thian-cu menangkis dengan tongkat putihnya dan sejenak mereka berdiri saling pandang.

“Hemm, pinto tidak mengenalmu. Siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami?”

“Mau tahu namaku? Ouw yang Mo namaku dan mengapa aku mencampuri urusan kalian? Karena melihat ketidak-adilan. Aku mengenal pemuda ini sebagai seorang yang gagah perkasa dan melihat dia di keroyok segerombolan srigala, bagaimana aku tidak akan mencampurinya?”

“Bagus kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu, Ouw yang Mo!” teriak Ngo-heng Thian-cu yang menjadi malu dan marah sekali. Dua orang itu segera bertanding dengan serunya karena ilmu kepandaian mereka memang seimbang.

Kui Ji tidak mau kalah dengan ayahnya. Melihat betapa di antara para pengeroyok itu terdapat suling maut, iapun meloncat ke depan Ma Goat dan menudingkan tongkatnya. “Dan engkau inipun gadis tak tahu malu, main keroyokan!”

Akan tetapi sebelum ia menyerang Ma Goat, ibunya yang tadi sudah melihat betapa gerakan Ma Goat lihai sekali dan ia khawatir kalau puterinya akan celaka, segera melompat maju dan berkata kepada puterinya, “Kui Ji, kau hajar gerombolan anjing itu dan biar gadis tak tahu malu ini ibu yang menghajarnya!” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban puterinya, Nyonya Ouw yang Mo yang bernama Liu Si itu sudah menggerakkan cambuknya dan menerjang ke arah Ma Goat.

“Tar-tar-tar…!“ Cambuk itu meledak-ledak dan melecut kearah kepala dan muka Ma Goat, Maklum bahwa ia menghadapi lawan berat, Ma Goat lalu memutar sulingnya dan terjadilah perkelahian seru antara kedua orang wanita itu

Kui Ji sendiri yang telah di dahului ibunya, tentu saja tidak mau mengeroyok dan iapun mengamuk di antara para prajurit yang sudah mulai kacau dan kocar kacir itu.

Sementara itu, pertandingan antara Han Sin yang kini berhadapan satu lawan satu dengan Lui Couw terjadi amat hebatnya karena keduanya berusaha mati-matian untuk merobohkan lawan. Kini Han Sin yakin bahwa selain Lui Couw membunuh ayah dan ibunya dan mencuri Hek-liong-ong, juga orang jahat ini merencanakan terhadap Kaisar seperti yang diceritakan oleh Thian Ho Hwesio kepadanya.

Buktinya kini Ma Goat berada bersamanya, berarti bahwa See-thian-mo dan Pak-te-ong tentu diperalat panglima ini karena Ma Goat adalah puteri Pak-te-ong! Orang ini jahat sekali harus dibinasak an agar t idak membahayakan manusia di dunia!

Karena itulah menghadapi Hek-liong-ong yang ampuh itu, Han Sin mengerahkan seluruh tenaganya dan mainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, ilmu peninggalan ayahnya! Beberapa kali tubuh Lui Couw terpental oleh pukulan jarak jauhnya dan tenaga Lui Couw makin lama semakin lemah. Ketika melihat lawannya terhuyung, Han Sin cepat mengirim tendangan kearah tangan kanan yang memegang pedang dan dia berhasil menendang tangan itu sehingga Hek-liong-kiam terpental jauh!

Khawatir kalau pedang pusaka itu hilang, Han Sin tidak memperdulikan lawannya dan dia melompat dan berhasil menyambar pedang itu. Hek-liong-kiam milik ayahnya telah kembali ke tangannya! Bukan main girang dan leganya hati Han Sin, akan tetapi ketika dia mencari musuhnya, ternyata Lui Couw telah menghilang! Kiranya panglima itu telah kehilangan pedang dan melihat kawan-kawannya juga terdesak, menggunakan kesempatan selagi Han Sin mengejar pedang, dia dapat melarikan diri memasuki hutan lebat!

Han Sin tidak tahu harus mengejar kemana. Dia melihat Kui Ji dikeroyok puluhan prajurit maka setelah menyimpan pedang Hek-liong-kiam, di selipkan di ikat pinggangnya, diapun membantu gadis itu mengamuk, menampar dan memandangi para prajurit yang akhirnya melarikan diri ketakutan.

Ketika Han Sin menoleh, dia melihat Ng-heng Thian-cu sudah roboh terkapar dengan kepala pecah terpukul tongkat di tangan Ouw yang Mo, sedangkan Ma Goat juga tewas oleh lecutan cambuk di tangan Liu Si yang menotok pelipisnya. Han Sin menghela napas, diam-diam merasa kasihan kepada Ma Goat. Semua lawan telah pergi, meninggalkan mayat Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat. Han Sin berhadapan dengan tiga orang itu dan diapun cepat mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan berkata,

“Terima kasih atas pertolongan lo-cian-pwe bertiga. Kalau tidak ada samwi (kalian bertiga), tentu saya mengalami bahaya maut..."

“Ha-ha-ha, engkau pandai sekali merendahkan diri, Han Sin. Kami melihat bahwa ilmu kepandaianmu memang hebat sekali!”

“Orang-orang jahat ini memang sudah sepantasnya di hukum, bukan hanya karena membantumu saja kami menentang mereka!” kata Liu Si.

“Telah lama sekali kami mencarimu kemana-mana, Han Sin. Kemana saja engkau pergi?” Tanya Kui Ji dengan manis.

Han Sin memandang kearah kedua mayat itu, terutama mayat Ma Goat. Kalau saja dia yang menghadapi Ma Goat, dia tentu tidak akan sampai hati membunuhnya.

“Cian Han Sin, mengapa Ngo-heng Thian-cu memusuhi...?”

Pert anyaan Kui Mo yang ternyata kini bernama Ouw yang Mo itu membuat Han Sin tersadar dari lamunannyaa. “Dia telah membunuh guru saya...“

“Siapa gurumu...?”

“Guru saya Hek-liong-ong Poa Yok Su...“

“Ah, datuk besar dari Pulau Naga itu?” Ouw yang Mo memandang heran dan kaget.

“Dan mengapa gadis ini juga memusuhi mu, Han Sin?” Tanya Kui Ji.

“Ia bernama Ma Goat, puteri Pak-te-ong. Sudahlah, kita bicara nanti saja. Harap Lo-cian-pwe maafkan saya, saya harus mengubur dulu dua jenazah ini...“ kata Cian Han Sin.

“Han Sin, gadis ini memusuhimu, mengeroyokmu dan nyaris membunuhmu, kenapa engkau hendak mengurus jenazahnya?”

“Nona, ia pernah menyelamatkan nyawaku...“ jawab Han Sin yang segera mulai menggali lubang-lubang untuk mengubur dua jenazah itu.

“Hemm, dan tosu itu pembunuh gurumu. Kenapa ia juga kau urus penguburannya?” Kui Ji mengejar dengan penasaran.

“Nona, yang berbuat salah adalah orangnya ketika masih hidup. Kalau sudah mati, semua manusia sama saja dan kita harus menghormati orang yang sudah mati...“ jaw ab Han Sin tanpa berhenti menggali lubang.

“Ha-ha, Kui Ji. Engkau harus banyak belajar adap dari Cian Han Sin. Dia benar sekali!” kata Ouw yang Mo yang segera turun tangan membantu pemuda itu menggali lubang!

Setelah dua jenazah itu dikubur sepantasnya, barulah mereka melanjutkan percakapan.

“Han Sin apa yang dikat akan Kui Ji tadi benar. Kami telah lama mencarimu dan kebetulan sekali sekarang kita dapat saling bertemu di tempat ini“ kata Ouw ang Mo.

“Akan tetapi, saya tidak mempunyai urusan apa-apa lagi dengan lo-cian-pwe bertiga. Ada urusan apakah lo-cian-pwe mencari saya?”

“Cian Han Sin, kami masih ingin menyambung hubungan antara kita yang dahulu putus. Terus terang saja. Kami bertiga sepakat untuk menjodohkan puteri kami Kui Ji denganmu. Maafkan perbuatan kami dulu yang kami lakukan di luar kesadaran kami. Akan tetapi, kami bersungguh-sungguh untuk melanjutkan ikatan tali perjodohan itu...“

Han Sin menoleh dan memandang Kui Ji dan sama sekali tidak seperti dulu. Kini Kui Ji menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti layaknya gadis biasa. Juga Liu Si memandang kepadanya dengan senyum penuh harapan. Han Sin bangkit dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Ouw yang Mo.

“Banyak terima kasih saya haturkan kepada Lo-cian-pwe yang telah memberi kehormatan besar itu pada saya. Akan tetapi, saya mohon maaf sebesarnya karena terpaksa saya tidak dapat memenuhi keingin hati sam-wi...“

“Eh, Han Sin mengapa engkau menolak? Apakah engkau tidak suka karena kami bertiga pernah menjadi tidak waras karena keracunan? Ataukah, apakah anakku Kui Ji kurang cantik bagimu?” Liu Si bertanya penasaran.

“Maaf, bibi. Sama sekali tidak. Biarlah saya berterus terang saja. Saya telah mencinta gadis lain dan hanya dengan gadis itulah saya mau menikah. Saya telah mencinta gadis itu jauh sebelum saya bertemu dengan nona Kui Ji...“

Terdengar Kui Ji menghela napas panjang. “Ayah, ibu tidak baik memaksanya. Aku dapat memaklum keadaan hatinya...“

Han Sin merasa kagum sekali dan dia memberi hormat kepada Kui Ji. “Nona, sungguh hatimu bijaksana dan mulia. Harap sudi memaafkan aku kalau aku mengecewakan dan terima kasih atas pengertianmu...“

Ayah dan ibu gadis itu saling pandang dan merekapun menghela napas panjang, nampak kecewa sekali. Han Sin sudah bersiap-siap, kalau-kalau keluarga itu akan memaksanya dengan kekerasan seperti dahulu lagi. Akan tetapi ternyata tidak, bahkan kakek itu berkata,

“Kalau begitu kamipun tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya kami minta agar kita dapat terus menjadi sahabat. Han Sin, aku tadi melihat panglima yang memegang pedang hitam itu siapakah dia...?”

“Dia itu Panglima Lui Couw yang telah membunuh ayah dan ibuku...“

“Ah, sayang dia dapat lolos. Dan pedang hitam yang kau rampas itu, bukankah itu Hek-liong-kiam...?”

“Benar, pedang milik mendiang ayahku yang dia curi setelah dengan curang dia membunuh ayah dari belakang...“

“Ah, jadi Hek-liong-kiam itu milik ayahmu? dan engkau she Cian? Ya, Tuhan, kalau begitu engkau ini putera Panglima Cian Kauw Cu yang terkenal itu?”

Han Sin terkejut. “Bagaimana lo-cian-pwe bisa tahu?”

“Jangan sebut aku lo-cian-pwe, cukup sebut paman saja. Siapa yang tidak mengenal nama besar Panglima Cian Kauw Cu yang telah berjasa besar mendirikan Kerajaan Sui? Ketahuilah, aku adalah putera dari Mendiang Ouw yang Koksu dari Kerajaan Sun yang juga telah ditundukkan oleh pasukan yang dipimpin ayahmu dan mendiang Kaisar Yang Chien...“

“Ah, kalau begitu saya telah bersikap kurang hormat kepada paman, harap maafkan...“

“Han Sin, aku suka sekali kepadamu karena engkau sungguh seorang pemuda yang tahu sopan santun dan bersusila. Sayang engkau tidak berjodoh dengan puteriku. Akan tetapi masih ada satu hal yang kami harapkan untuk mendapatkan keterangan darimu...“

“Apakah itu paman? Tentu akan saya bantu kalau saya mampu...“

“Begini Han Sin. Kami bertiga dapat sembuh karena pertolongan seorang gadis berpakaian putih yang menurut keterangan yang kami dapat dari Pek Mau To-kow ketua Hwa-li-pang di Hwa-san bernama Kim Lan. Nah, apakah engkau mengetahui dimana adanya gadis itu? Kami ingin sekali bertemu dengannya dan menghaturkan terima kasih kami...“

Han Sin tersenyum. Tentu saja saya mengenalnya, paman. Akan tetapi namanya yang asli adalah Ang Swi Lan, alias Kim Lan alias Lan Lan. Ia adalah murid Thian Ho Hwesio yang berjuluk Siauw Bin Yok-sian, maka pandai dalam ilmu pengobatan. Memang ia yang telah menyembuhkan paman bertiga dan saya menjadi saksinya. Akan tetapi saya tidak tahu entah dimana adanya ia saat ini. Terus terang saja, saya sendiri juga sedang mencarinya..."

“Ah, penolong kami itu gadis yang kau cinta, Han Sin?” tiba-tiba Kui Ji berseru kaget akan tetapi juga girang.

Han Sin terkejut sekali. Tak dapat dia menyangkal, maka dia bertanya, “Adik Kui Ji bagaimana… engkau bisa tahu…?”

Kui Ji tersenyum. Lenyap sudah garis-garis kekecewaan yang tadi menghias wajah yang manis. “Mudah saja, Han Sin-ko, ketika engkau menyebutkan nama Ang Swi Lan, sepasang matamu bersinar-sinar dan pipimu menjadi kemerahan wajahmu berseri-seri...“

“Ha-ha-ha, alangkah tajamnya pandang matamu, Kui Ji!” Ouw yang Mo tertawa. "Han Sin jadi engkau sekarang tidak dapat mengira-ngirakan dimana adanya nona Ang Swi Lan?”

“Tidak, paman. Akan tetapi aku yakin akan dapat menemukannya!”

“Nah, kalau begitu, andaikata engkau yang lebih dulu berjumpa dengannya tolong sampaikan perasaan terima kasih kami yang mendalam kepadanya...“

“Baik, paman, akan saya sampaikan...“

Karena ingin segera melanjutkan perjalanannya, terutama mencari Kim lan dan melakukan pengejaran terhadap musuh besarnya, yaitu Lui Couw yang lolos dari tangannya, Han Sin lalu berpamit kepada keluarga yang telah menyelamatkannya itu. Perpisahan berjalan dengan hati ringan karena ternyata Kui Ji dapat mengatasi kekecewaannya dan kedua orang tuanya juga menghadapi penolakan itu dengan sikap yang bijaksana.

“Semoga engkau kelak berbahagia dengan Ang Swi Lan, Sin-ko...“ kata Kui Ji yang kini menyebut Han Sin dengan sebutan koko dan sikapnya juga tidak malu-malu seperti terhadap kakaknya sendiri.

Han Sin merasa terharu sekali. Gadis ini boleh jadi pernah gila karena keracunan, akan tetapi sesungguhnya memiliki watak yang bijaksana, seperti ayahnya. “Terima kasih, Ji-moi. Dan semoga engkau segera dapat bertemu dengan jodohmu yang cocok...“

Mereka berpisah dan mengambil jalan masing-masing...

********************