Social Items

Han Sin melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja! Pedang Hek-liong-kiam telah berhasil dia rampas kembali dan menurut cerita Panglima Coa Hong Bu, Kaisar Yang Ti menghendaki pedang Hek-liong-kiam dan Kitab Bu-tek Cin-keng. Dia sudah berjanji apabila berhasil merampas Hek-liong-kiam, akan dikembalikan kepada Kaisar dan kalau Kaisar ingin belajar Bu-tek Cin-keng, dia akan mengajarkannya karena kitabnya sudah dia bakar. Kini dia harus menghaturkan pedang itu kepada Kaisar susuai dengan janjinya kepada Panglima Coa Hong Bu yang tentu melapor kepada Kaisar tentang hal itu.

Setelah tiba di kota raja, hari sudah sore dan Han Sin segera mencari kamar di rumah penginapan. Dia tidak tahu bahwa sejak dia memasuki pintu gapura kerajaan, dirinya sudah di incar dan dibayangi beberapa orang mata-mata yang menjadi anak buah Lui Couw atau Lui-ciangkun, segala gerak-geriknya diamati orang.

Begitu melihat pemuda itu memasuki kota raja, Lui Couw segera menghadap Kaisar dan memberi laporan, “Yang Mulia, pemuda putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu yang memberontak itu kini nampak berada di kota raja...“

Kaisar mengerutkan alisnya. “Putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu memberontak? Apa maksudmu, Lui-ciangkun?”

“Pemuda itu menyembunyikan pedang Hek-liong-kiam dan ilmu Bu-tek Cin-keng yang paduka kehendaki. Bukan itu saja, ketika hamba mencoba untuk memintanya, dia melawan bahkan telah membunuh putera hamba dan banyak prajurit tewas di tangannya. Sekarang dia datang ke sini tentu bukan dengan niat baik terhadap paduka...“

“Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu?” Bukankah dahulu ayahnya, Panglima Cian Kauw Cu merupakan seorang pahlaw an yang setia?”

“Apakah paduka lupa? Paduka telah memerintahkan agar rumah mereka di kosongkan, dan hal itu rupanya menimbulkan dendam di hati pemuda itu. Dia dapat berbahaya sekali karena ilmu kepandaiannya tinggi, Yang Mulia...“

“Kurang ajar! Berani dia memberontak? Tangkap dia...!”

“Hamba akan lakukan, akan tetapi mengingat dia seorang yang berkepandaian tinggi, hamba mohon diberi surat perintah paduka agar dia tidak melawan“

Kaisar Yang Ti segera membuat surat perintah itu dan Lui Couw lalu mengumpulkan dua ratus orang prajurit dan pagi-pagi sekali dia memimpin para prajuritnya mengepung rumah penginapan dimana Han Sin berada!

Tentu saja pemilik rumah penginapan menjadi ketakutan melihat demikian banyaknya prajurit mengepung rumah penginapannya. Dia segera keluar menghadap Lui-ciangkun menanyakan apa kesalahannya.

“Suruh tamu yang bernama Cian Han Sin keluar, atau ku obrak abrik rumah penginapan ini!” kata Lui Couw.

Pemilik rumah penginapan itu segera berlari masuk, mencari Han Sin dan setelah bertemu, dia segera berkata dengan muka pucat, “Sicu, kami mohon sicu segera keluar. Sicu di cari oleh panglima Lui yang membawa ratusan prajurit yang sudah mengepung rumah penginapan ini. Kalau sicu tidak keluar, rumah penginapan ini akan di obrak abrik. Kasihanilah kami, sicu. Kami tidak ada sangkut pautnya dengan urusan sicu!” kata pemilik rumah penginapan itu dengan wajah hamper menangis.

Han Sin bersikap tenang saja. Dia tahu bahwa tentu Lui-ciangkun telah mengetahui akan kedatangannya dan telah bersiap-siap. Maka diapun berkata “Keluarlah dan kat akana bahw a aku akan menemuinya...“

Han Sin lalu berkemas. Menggendong buntalan pakaiannya dan pedang Hek-liong-kiam dia selipkan dipinggang, dibalik bajunya. Kemudian dia melangkah keluar dengan sikap tenang . Kalau Lui Couw hendak menggunakan kekerasan menangkapnya, dia akan melawan! Akan tetapi kalau kaisar yang menyuruh tangkap, kebetulan baginya karena dia hendak menghadap kaisar dan selain akan menyerahkan pedangnya, juga dia akan membeberkan semua kebusukan Lui Couw.

Setelah tiba di halaman rumah penginapan, benar saja di situ sudah berkumpul banyak sekali prajurit dan Lui Ciangkun dengan pakaian perangnya nampak gagah memimpin mereka. Disebelah kiri telah siap barisan anak panah yang sudah memasang anak panah pada busurnya. Siap membidik dan menyerang. Han Sin tersenyum kepada Lui-ciangkun.

“Lui Couw, apa maksudmu dengan semua ini? Kalau engkau hendak melawanku, kenapa harus mengerahkan banyak prajurit?“ Tegur Han Sin sambil tersenyum mengejek.

“Pemberontak Cian Han Sin! Berlututlah dan atas nama Sribaginda Kaisar engkau di tangkap!” Lui Couw tiba-tiba mengeluarkan surat perintah dari Kaisar itu dan melihat ini Han Sin terkejut. Kiranya benar kaisar yang menyuruh menangkapnya.

“Apakah aku akan dihadapkan kepada Sri baginda kaisar?”

“Tentu saja! Yang Mulia Kaisar sendiri akan menentukan hukuman apa yang harus dijatuhkan padamu“

“Baiklah, kalau aku akan dihadapkan kepada sribaginda Kaisar, aku tidak akan melawan dan aku akan menyerah...“ kata Han Sin dengan tenang.

Dan mendengar ini, Lui Couw merasa girang bukan main. Tidak disangkanya pemuda itu akan sedemikian mudahnya ditangkap. “Bagus...!“ serunya dan dia lalu memerintahkan kepada para pembantunya.

“Rampas buntalannya dan ringkus, belenggu kaki tangannya!”

Empat orang pembantunya melangkah maju menghampiri Han Sin. Akan tetapi ketika mereka hendak melaksanakan perintah itu, tiba-tiba mereka berempat terjengkang ke belakang!

“Hemmm, Lui-ciangkun. Aku menyerah dan tidak akan melawan untuk di bawa menghadap Sri baginda kaisar akan tetapi bukan sebagai tawanan terbelenggu! Aku tidak akan melawan, maka tidak ada gunanya membelenggu aku...!“

Lui Couw marah sekali akan tetapi dia memandang bimbang. Dia tahu benar akan kelihaian pemuda ini dan kalau dia menggunakan kekerasan, bisa jadi dia akan gagal dan pemuda ini akan dapat meloloskan diri. Dua orang pembantu yang paling diandalkan, yaitu Pak-te-ong dan see-thian-mo tidak berada di situ, yang berada dengannya hanyalah Bong Sek Toan, murid keponakannya yang biarpun cukup lihai, namun belum cukup menyakinkan. Dia sedang menyuruh pembantunya mengundang kedua orang datuk itu, akan tetapi belum kelihat an mereka muncul di situ. Dia menahan sabar dan memaksa diri tersenyum.

“Hemm, maafkan aku. Ini hanya kebiasaan saja dan kalau benar engkau tidak akan melakukan perlawanan, baiklah, kami tidak akan membelenggumu...“

Lalu kepada anak buahnya dia berseru, “Biarkan dia berjalan sendiri. Kepung saja dia!”

Demikianlah, dengan di tonton banyak sekali orang, Han Sin melangkah dengan tenang di tengah-tengah kerumunan para prajurit yang berbaris rapi dan yang selalu siap dengan senjata ditangan kalau-kalau pemuda itu memberontak. Tentu saja peristiwa itu menjadi buah bibir penduduk kota raja dan merupakan berita hangat hari itu sehingga sebentar saja tersebar luas diantara pelosok kota. Seorang pemuda bernama Cian Han Sin di tangkap Panglima Lui! Bahkan ada yang mengenal nama itu sebagai putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu sehingga berita itu menjadi lebih menarik lagi.

Sambil melangkah dengan tegap, Han Sin selalu waspada. Maka dia dapat melihatnya ketika muncul dua orang kakek diluar kerumunan prajurit dan bersatu dengan Lui-ciangkun. Dia mengenal pula Bong Sek Toan yang juga berada di dekat Lui-ciangkun. Dua orang kakek itu bukan lain adalah Pak-te-ong dan see-thian-mo! Dan diapun tahu bahwa dia tidak dibawa menuju ke ist ana kaisar, melainkan dibelokkan kearah lain! Tahulah dia bahwa dia telah tertipu dan sedang di bawa ke tempat berbahaya dimana sudah menunggu perangkap yang akan mencelakakannya.

Dia bersiap-siap dan tahu bahwa dia tidak jauh dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Tiba-tiba saja Han Sin menggerakkan tubuhnya dan belasan orang di sebelah kanannya roboh saling tabrak. Han Sin melompat dengan cepat sekali, bagaikan seekor burung terbang melalui kepala para prajurit dan sudah tiba di luar kepungan. Segera dia melarikan diri dan ketika beberapa belas orang prajurit paling luar menghadangnya, dia mencabut Hek-liong-kiam dan sekali pedang itu berkelebat, belasan buah golok dan pedang beterbangan dan Han Sin terus berlari.

Melihat ini, Lui Couw terkejut dan marah sekali. “Kejar!” bentaknya dan dia sendiri lalu mengejar, diikuti Pak-te-ong dan see-thian-mo. Juga Bong Sek Toan ikut pula mengejar, demikian pula para prajurit yang banyak jumlahnya itu. Para penduduk dan pejalan kaki menjadi panik dan geger mereka berlarian karena takut terbawa-bawa.

Sambil berlari, Han Sin merobohkan setiap orang yang menghadang diperjalanan. Juga dia merobohkan para penjaga pintu gerbang sehingga dia kini dapat melarikan diri keluar dari pintu gerbang. Dia telah dapat lolos dari kota raja!

Akan tetapi, baru kurang lebih lima mil dia melarikan diri dari kota raja, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang. Ketika dia menoleh, dia melihat belasan penunggang kuda mengejarnya! Tentu Panglima Couw, kedua orang datuk itu, Bong Sek Toan dan beberap orang perwira yang tangguh. Mereka itu menunggang kuda yang baik dan kuat. Sebetulnya dia dapat terus melarikan diri dengan kecepatan yang dapat mengimbangi larinya kuda, akan tetapi kalau dia terus berlari, akhirnya dia akan kehabisan napas dan kalau dia tersusul dalam keadaan kehabisan napas dan tenaga, dia dapat celaka. Karena yang mengejar hanya belasan orang lebih baik dia melawan sekarang.

Setelah mengambil keputusan demikian, Han Sin berhenti, membalikan tubuh menunggu dan Pedang Hek-liong-kiam telah berada di tangan kanannya! Dia berdiri tegak dengan sikap tenang sekali, akan tetapi seluruh urat syaraf di dalam tubuhnya dalam keadaan siap siaga.

Benar saja dugaannya. Setelah para pengejar itu tiba di depannya, ternyata mereka adalah Lui Couw, Pak-te-ong, see-thian-mo, Bong Sek Toan dan sepuluh orang perwira lain yang agaknya memiliki kepandaian pula. Mereka sudah berlompatan dari atas kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung Han Sin.

“Ha-ha-ha, Cian Han Sin, Engkau hendak lari kemana? Engkau tidak akan terlepas dari tanganku!” kata Lui Couw.

“Lui-ciangkun, serahkan saja bocah ini kepadaku. Aku harus mencabut nyawanya untuk membalas kematian anakku...“ kata Pak-te-ong.

Setelah berkata demikian, Pak-te-ong yang marah sekali it u sudah melancarkan pukulan Tian-Ciang ke arah Han Sin. T ian Ciang (Tangan Halilintar) dari Pak-te-ong ini lihai bukan main. Lawan yang di serang itu, terkena pukulan ini dari jarak jauh saja dapat roboh dan tewas. Serangkum angina pukulan yang amat panas menyambar dahsyat kearah tubuh Han Sin.

Akan tetapi Han Sin yang pernah merasakan pukulan dahsyat ini, sudah siap siaga. Dia mengelak dengan melompat ke kiri, akan tetapi dari kiri menyambar angin pukulan yang teramat dingin. Tanpa menoleh tahulah Han Sin bahwa see-thian-mo yang memukulnya dengan Swat-Ciang (Tangan salju).

Diapun pernah menderita karena pukulan ini, maka diapun mengelak lagi, kini kedua orang datuk itu memukul dengan berbarengan. Menghadapi pukulan ini, Han Sin mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan dia menyambut dengan kedua tangannya setelah menggigit pedang Hek-liong-kiam.

“Desss…!” Akibatnya, kedua orang kakek itu terjengkang! Hebat bukan main Bu-tek Cin-keng itu. Han Sin sendiri terhuyung, lalu dia mengambil pedang yang di gigitnya, siap menghadapi pengeroyokan. Dua orang itu terjengkang dan dada mereka terguncang hebat, akan tetapi tidak sampai melukai mereka. Kini dengan marah Lui Couw memberi isyarat dan majulah semua orang mengeroyok Han Sin.

Lui Couw sendiri menggunakan pedang yang cukup baik. Karena pedang itu adalah pedang pemberian kaisar sebagai tanda pangkatnya dan ia sudah memainkan lo-hai-kiamsut untuk menerjang Han Sin. Disampingnya, Bong Sek Toan juga memainkan pedangnya dengan ilmu pedang yang sama pula, membantu paman gurunya untuk menyerang Han Sin dari depan.

Pak-te-ong Ma Giok menggunakan senjatanya tongkat kepala naga yang diputar dahsyat, menyambar-nyambar bagaikan seekor naga yang mengancam kepala Han Sin. Demikian pula see-thian-mo, datuk barat yang bekas lama ini menggunakan senjatanya berupa tasbeh yang menyambar dengan aneh, di seling pukulan Swat Ciang yang ampuh.

Selain empat orang lawan tangguh ini, sepuluh orang perwira yang semua memegang pedang sudah mengepung dan ikut mengeroyok. Han Sin memutar Hek-liong-kiam dan mengamuk sekuat tenaga karena dia maklum bahwa lengah sedikit saja dia tentu akan terkena senjata lawan yang banyak dan semua lihai, terutama dua orang datuk itu.

Hebat memang sepak terjang Han Sin di saat itu. Dia memainkan pedangnya dengan sepenuhnya memainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, membuat pedang itu membentuk sinar yang bergulung-gulung berwarna hitam. Dari jauh nampak seolah dua ekor naga hitam yang mengamuk di antara sinar senjata lawan yang mengeroyoknya.

Hanya empat orang pengeroyok yang berilmu tinggi saja, yaitu Lui Couw, Bong Sek Toan, Pak-te-ong dan see-thian mo yang masih dapat menghujankan serangan mereka kepada Han Sin. Sedangkan sepuluh orang perwira itu sudah beberapa kali terjungkal oleh tendangan kaki Han Sin atau oleh hawa sambaran pedang Hek-liong-kiam!

Namun harus di akui kenyataannya bahwa saat itu Han Sin terancam bahaya besar. Betapapun lihainya, para pengeroyoknya amat tangguh, terutama sekali Pak-te-ong dan see-thian-mo yang berusaha mati-mat ian untuk merobohkannya. Pak-te-ong terutama sekali bernafsu untuk membunuh pemuda ini karena pemuda inilah yang di anggapnya telah menyebabkan kematian puterinya. Demikian pula Lui Couw yang berusaha keras membalaskan kematian puteranya dan juga untuk menguasai kembali pedang pusaka Hek-liong-kiam dari tangan pemuda itu.

“Wuuktttt…!” Tongkat kepala naga dari Pak-te-ong itu kembali menyambar ganas. Pada saat itu Han Sin sedang menggunakan pedangnya untuk menghalau senjata para pengeroyok lain maka hantaman tongkat kepala naga ke arah kepalanya ini terpaksa di tangkisnya dengan tangan kiri.

“Wuuutttt… plakkk...!“ Tongkat terpental, akan tetapi dia masih dapat memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga pada saat dia terhuyung tidak ada yang dapat mendekatinya.

Akan tetapi para pengeroyok mengepung lagi dan pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Han Sin itu, tiba-tiba terdengar bentakan halus dan berwibawa sekali.

“Hei, kalian yang mengeroyok ini mengapa saling tempur dengan kawan sendiri?”

Dan terjadilah kekacauan. Para perwira itu merasa betapa mereka tidak mengeroyok Han Sin melainkan bertanding melawan teman-teman sendiri. Tentu saja mereka terkejut dan berloncatan ke belakang. Bahkan Lui Couw dan Bong Sek Toan sendiri juga terkejut karena terpengaruh bentakan tadi dan mereka seolah bertanding melawan teman sendiri. Hanya Pak-te-ong dan see-thian-mo yang dapat melawan pengaruh itu karena sin-kang mereka sudah amat kuat.

Selagi keadaan kacau balau itu, mendadak muncul seorang gadis berpakaian putih yang tadi membentak itu bersama seorang gadis lain yang memegang sebatang tongkat. Dan gadis yang bertongkat itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang para perwira. Gerakannya bagaikan seekor burung rajawali mengamuk. Tongkatnya berkelebatan dan para perwira itupun bergelimpangan!

Yang datang itu adalah Kim Lan dan Cu Sian! Bagaimana kedua orang gadis itu dapat datang pada saat yang tepat untuk menolong Han Sin? Kedua orang gadis secara kebetulan saja saling bertemu ketika mereka berada di kota raja. Dan mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Di situ Kim Lan menghibur Cu Sian dan menyatakan bahwa Han Sin mencinta Cu Sian maka ia menganjurkan agar Cu Sian pergi mencarinya. Akan tetapi Cu Sian mengatakan bahwa setelah dirinya ternoda, ia merasa tidak pantas berdekatan lagi dengan Han Sin.

Selagi mereka berbicara pada pagi hari itu, mereka mendengar berita bahwa Cian Han Sin di tangkap oleh Lui Ciangkun. Tentu saja keduanya terkejut bukan main dan mereka lalu keluar untuk mencari. Melihat Han Sin di antara ratusan prajurit itu, mereka pun tidak berdaya dan merasa heran mengapa Han Sin menyerah begitu saja ditangkap.

Mereka diam-diam membayangi dari jauh dan kemudian mereka melihat betapa Han Sin memberontak dan melarikan diri keluar dari pintu gerbang, dikejar oleh belasan orang yang menunggang kuda. Mreka pun melakukan pengejaran dan akhirnya mereka melihat Han Sin di keroyok dan keadaannya terdesak dan terancam.

Kim Lan lalu mempergunakan kekuatan sihirnya untuk mengacau pengeroyokan itu dan Cu Sian sudah mengamuk dengan tongkatnya yang lihai. Para perwira yang sedang kebingungan itu tentu saja tidak mampu melawan Cu Sian yang mengamuk dan mereka sudah roboh bergelimpangan dan tidak mampu bertempur lagi.

Kekuatan sihir Kim Lan melemah dan kini barulah Lu i Couw dan Bong Sek Toan tahu bahwa yang mereka sangka bertempur dengan teman sendiri itu hanya khayalan belaka. Maka mereka menjadi marah sekali, apalagi Bong Sek Toan yang mengenal Cu Sian, sedangkan Lui Couw menyerang Kim Lan.

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 33 karya kho ping hoo

Han Sin girang bukan main melihat munculnya dua orang gadis itu dan terutama sekali melihat Kim Lan, "Lan-moi hati-hatilah terhadap Panglima jahat itu! Dan Sian-moi, hajarlah pemuda keparat itu!”

Dia sendiri kini dikeroyok oleh Pak-te-ong dan see-thian-mo. Akan tetapi pengeroyokan dua orang datuk itu tidak membuat Han Sin menjadi gentar. Kini d ia merasa dapat melayani sebaik-baiknya karena hanya melawan dua orang. Pedangnya ia gerakkan dengan amat dahsyat sehingga kedua lawan itu pun terdesak!

Pertandingan antara Cu Sin dan Bong Sek Toan amat serunya. Tingkat kepandaian kedua orang ini memang seimbang, akan tetapi permainan tongkat Cu Sian amat aneh. Ia telah menguasai Hek-tung-hoat sepenuhnya dan gadis ini menjadi lihai bukan main kalau sudah bersilat dengan tongkatnya. Ia bergerak dengan ringan dan lincah sekali sehingga kemana pun pedang di tangan Bong Sek Toan menyerang selalu hanya mengenai angin belaka.

Sebaliknya, totokan-totokan tongkat yang mengarah jalan darah itu amat berbahaya bagi Bong Sek Toan sehingga dia terpaksa harus memutar pedang untuk melindungi seluruh tubuhnya bagian atas agar jangan menjadi korban totokan. Akan tetapi tiba-tiba tongkat menyambar ke bawah tanpa di sangka-sangka oleh Bong Sek Toan.

“Tuukkk!” Tongkat itu dengan tepat memukul tulang kering kaki kanan pemuda itu. Bong Sek Toan mengaduh. Hanya orang yang pernah terpukul tulang keringnya yang dapat merasakan betapa sakitnya tulang betis itu terpukul. Kiut miut rasanya, senut-senut sampai menusuk jantung rasanya. Akan tetapi rasa nyeri ini membuat Bong Sek Toan menjadi marah sekali.

Kemarahannya yang memuncak membuat dia melupakan rasa nyeri itu dan diapun menubruk lalu menyerang dengan ganasnya. Akan tetapi Cu Sian sudah bergerak lincah lagi dan menghindar dengan cepatnya sambil kembali menghujankan totokan kearah seluruh jalan darah di tubuh Bong Sek Toan. Kembali pemuda itu menjadi repot dan terdesak hebat.

Sementara itu, Lui Couw menyerang Kim Lan dengan hebatnya. Gadis berpakaian putih ini memang hebat. Ia adalah seorang gadis berbudi baik dan bijaksana, bahkan selalu mentaati petunjuk gurunya untuk tidak melakukan kekerasan. Akan tetapi kalau ia di serang, ia dapat membela diri dengan amat baiknya karena ilmu silatnya tinggi. Bahkan dibandingkan Cu Sian, Kim Lan lebih hebat gerakannya. Tubuhnya seperti sehelai bulu saja ringannya. Diserang pedang, tubuhnya melayang-layang, pakaian putihnya berkibaran akan tetapi tidak pernah dapat tersentuh pedang.

Dan Kim Lan yang selamanya tidak pernah menggunakan senjata itu pun membalas dengan totokan-totokan jari tangannya yang membuat Lui Couw kewalahan, totokan itu biarpun dilakukan dengan jari yang halus dan kecil, akan tetapi mendatangkan angin yang mengeluarkan bunyi bercuitan! Kalau saja Kim Lan bermaksud mencelakai lawan dan merobohkan, agaknya ia dapat melakukan lebih cepat. Akan tetapi ia tidak mau melakukan itu hanya bermaksud merobohkan tanpa melukai saja maka tentu agak sukar baginya karena Lui Couw juga merupakan lawan yang amat tangguh.

Sementara itu, pertempuran antara Han Sin melawan dua orang datuk masih berjalan dengan seru. Para perwira yang tadi robohkan Cu Sian sudah tidak ada yang berani maju lagi, bahkan mereka bergerombol agak jauh dari tempat pertempuran, hanya menjadi penonton saja. Pada suatu saat yang diperhitungan dengan baik oleh Han Sin, ketika tasbeh di tangan see-thian-mo menyambar, dia mengerahkan tenaga sin-kang sekuatnya dan hek-liong-kiam di tangannya menyambar dahsyat.

“Sraattt… cinggg…! Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya terlepas berantakan, sehingga see-thian-mo terkejut bukan main dan meloncat ke belakang. Pada saat itu tongkat naga di tangan Pak-te-ong menyambar. Han Sin tidak memberi hati lagi, mengerahkan tenaganya membabat dengan pedang pusakanya dan sekali ini, tongkat itu pun dapat di patahkan. Selagi kedua orang itu terkejut dan gugup, Han Sin sudah memukul dengan kedua tangannya, menggigit pedangnya dan pukulan Bu-tek Cin-keng ini dia lakukan dengan sekuat tenaganya.

“Wuuuuttt… deessss…!“ Kedua orang kakek itu terlempar bagaikan dua helas daun tertiup angin. Ketika mereka tanpa di sangka menerima pukulan itu, mereka tidak sempat mengerahkan tenaga sinkang mereka karena masih tertegun melihat senjata mereka rusak, maka mereka terpukul dengan telak sekali.

Biarpun sudah terpukul sedemikian hebatnya. Kedua orang datuk sakti itu masih mampu merangkak berdiri, akan tetapi ketika mereka hendak menyerang dengan pengerahan sinkang, tiba-tiba mereka muntahkan darah segar dari mulut dan merasa betapa dada mereka nyeri bukan main. Mereka telah terluka parah dan tahulah mereka bahwa mereka tidak mungkin lagi melanjutkan pertandingan. Tanpa malu dan tanpa pamit mereka lalu membalikan tubuh dan pergi dari situ meninggalkan Lui Couw dan Bong Sek Toan yang masih bertanding.

Cu Sian sudah mendesak Bong Sek Toan dengan hebat dan ketika Bong Sek Toan agak lengah, tongkat Cu Sian sudah menotok dengan kecepatan kilat mengenai dada dan lehernya. Robohlah pemuda itu, tidak mampu berkutik lagi karena totokan tadi merupakan totokan maut yang seketika menewaskannya!

Sementara itu, Kim Lan juga masih mempermainkan Lui Couw. Gadis ini tidak ingin melukai atau membunuh orang, maka ia tidak menyerang untuk melukai atau mematikan, karena itu sampai sekian lamanya ia masih belum mampu mengalahkan Lui Couw yang memang lihai sekali, melihat ini, Han Sin melompat ke depan.

“Lan-moi, dia musuh besarku, serahkan dia kepadaku!” katanya dan dia sudah melompat ke tengah di antara kedua orang yang berkelahi itu. Kim Lan melangkah mundur dan mendekati Cu Sian yang sudah berhasil menewaskan Bong Sek Toan.

“Enci Lan, kenapa engkau tidak membunuhnya? Dia jahat sekali!” kata Cu Sian mencela.

Kim Lan menghela napas panjang. “Suhu tidak pernah mengajarkan aku untuk membunuh atau melukai orang, melainkan untuk mengobati orang...“

“Engkau terlalu baik hati, enci Lan. Dan lihat, sekarang Sin-ko menggantikanmu. Dia membelamu karena dia mencintamu enci...“

“Husshh, engkau salah sangka, Cu Sian! Sin-ko hanya mencinta engkau seorang. Sambutlah dia baik-baik, sekarang juga aku mau pergi...!”

“Tidak enci Lan. Engkau tidak boleh pergi. Aku yang akan pergi dari sini. Engkau yang harus menemaninya...!”

“Anak bodoh! Percayalah, hanya Sin-ko yang akan mampu mengobati luka-luka di hatimu dan membahagiakanmu...!”

“Akan tetapi, aku tidak mungkin membahagiakannya, enci. Biarkan aku pergi...!”

Kim Lan menghela napas panjang. Ia sudah minta dengan sungguh-sungguh kepada Han Sin agar membahagiakan gadis ini. Ia tahu bahwa Cu Sian amat mencinta Han Sin, dan biarpun di dalam hatinya ia tidak dapat menyangkal bahwa ia pun amat mencinta Han Sin, akan tetapi ia tidak ingin menghancurkan hati gadis yang baik ini.

“Kalau begitu, biarlah dia yang memutuskan nanti...“ katanya sambil memegangi tangan Cu Sian seolah ia khawatir kalau gadis itu nekat pergi meninggalkannya.

Mendengar ini, timbul keinginan hati Cu Sian untuk juga mengetahui bagaimana pendapat Han Sin, bagaimana isi hatinya. Biarpun ia sudah tidak mempunyai harapan lagi karena merasa rendah diri, merasa tidak berharga lagi bagi Han Sin.

Pertandingan antara Han Sin dan Lui Couw terjadi berat sebelah. Pedang di tangan Lui Couw sudah patah-patah dan kini dia melawan Han Sin dengan tangan kosong.

“Hyaattt...!” Lui Couw menyerang dengan ganasnya dengan pukulan mematikan dari Lo-hai-kun. Akan tetapi Han Sin sudah mengenal jurus itu dan dengan pengerahan sin-kangnya, dia menangkis.

“Dukkk… breesss…!“ Tubuh Lui Couw terbanting keras, akan tetapi dia bangkit kembali, mengusap keringat dari kening yang memasuki matanya dan mendengus.

“Cian Han Sin, engkau pemberontak! Berani melawan utusan Kaisar?”

“Hemmm, Lui-ciangkun. Engkau adalah pengkhianat! Engkau amat jahat membunuh ayahku secara curang, membunuh pula ibuku dengan engkau mencuri Hek-liong-kiam. Engkau bahkan bersekutu dengan see-thian-mo dan Pak-te-ong untuk membunuh kaisar! Sungguh manusia tak berbudi, sudah diberi pangkat tinggi masih hendak membunuh kaisar. Pengkhianat besar!”

“Tidak mengherankan karena dia adalah putera mendiang Toat-beng Giam-ong, Koksu dari Kerajaan Toba!” kata Kim Lan yang sudah mendapat keterangan tentang diri panglima itu.

“Ah, kiranya engkau putera Toat-beng Giam-ong? Jadi engkau adalah saudara seperguruan ibuku sendiri, dan engkau telah membunuhnya...!”

“Keparat! Akan kukirim engkau menyusul ibumu!” Lui Couw menjadi marah dan nekat karena tahu bahwa dia tidak akan mampu melarikan diri lagi. Dia menubruk bagaikan seekor singa menerkam domba, dan serangan ini di sambut oleh Han Sin dengan pukulan Bu-tek Cin-keng.

“Desss…!“ Tubuh Lui Couw terpental jauh dan jatuh terbanting keras, tak dapat bangkit kembali karena dia sudah tewas seketika.

Setelah melihat bahwa Lui Couw dan Bong Sek Toan tewas, Han Sin menghela napas panjang dan dia segera membuat lubang untuk mengubur dua mayat itu. Tanpa berkata apapun Kim Lan membantu pekerjaan itu dan biarpun tadinya Cu Sian memandang dengan alis berkerut, akhirnya ia membantu pula. Mereka bertiga menggali lubang dan mengubur dua mayat itu tanpa banyak cakap.

Setelah selesai menguburkan dua mayat itu, barulah Han Sin menghadapi mereka dan berkata, “Kalau kalian tidak datang tepat pada saatnya, tentu aku yang sekarang ini di kuburkan di sini, itupun kalau ada yang mau menguburku...“

“Kami sudah mengikutimu dari Kota raja, Sin-ko. Kami berdua kebetulan berada di kota raja dan kami mendengar berita bahwa engkau di tangkap Lui-ciangkun, maka kami lalu membayangi dan mengejar sampai ke sini...“ kata Kim Lan.

Han Sin memandang kepada dua orang gadis itu bergantian dan dia melihat perubahan sikap Cu Sian. Sungguh besar sekali bedanya antara Cu Sian dahulu dan sekarang. Sekarang Cu Sian menjadi begitu pendiam, bahkan agaknya seperti orang yang enggan untuk memandang kepadanya, melainkan selalu menundukkan muka.

“Lan-moi, sungguh aku girang sekali dapat bertemu denganmu di sini, karena sudah lama aku mencari-carimu. Ada urusan penting sekali hendak kubicarakan denganmu, Lan-moi...“

Mendengar ini, Cu Sian memutar tubuhnya dan berkata, “Enci Lan, maafkan aku. Aku akan pergi sekarang juga...“

Akan tetapi Kim Lan segera menangkap lengannya dan menahannya...“

“Adikku, nanti dulu. Sebelum Sin-ko menyatakan pendapatnya, engkau tidak boleh pergi dulu...“

Kemudian Kim Lan memandang kepada Han Sin dengan sinar mata penuh teguran, lalu berkata lantang, ”Sin-ko, sekarang kami berdua minta kepadamu agar berterus terang. Seorang pendekar gagah tentu tidak akan bersikap plin-plan, melainkan suka berterus terang dan tidak menyakiti hati orang...“

Tentu saja Han Sin memandang dengan heran, akan tetapi alisnya lalu berkerut dan jantungnya berdegup tegang karena dia teringat akan kata-kata dan sikap Kim Lan mengenai diri Cu Sian tempo hari. “Katakanlah, apa yang harus ku jawab dengan terus terang itu...“

“Sin-ko, biarpun sudah jelas bagi ku bahwa selama ini engkau mencinta Cu Sian, akan tetapi adik Cu Sian minta penegasan dari mulut mu sendiri, karena ia menganggap bahwa engkau mencintaku. Nah sekarang di depan kami berdua, katakan, kepada siapa engkau mencinta...?”

Biarpun Han Sin sudah menduga lebih dulu pertanyaan ini, namun dia tertegun juga dan sampai lama tidak mampu menjawab, hanya memandang bergantian kepada kedua orang gadis itu. Kepada Kim Lan yang menatap tajam wajahnya dan kepada Cu Sian yang menundukkan mukanya. Akhirnya dia berkata dengan suara yang sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya, tidak di buat -buat.

“Aku sayang kepada kalian berdua, aku sayang kepada Sian-moi seperti aku sayang kepadamu, Lan-moi. Inilah jawabanku yang jujur...“

Wajah Kim Lan berubah pucat, lalu merah dan ia berkata dengan penasaran. “Sin-ko, engkau tidak boleh menjawab begitu! Engkau harus menikah dengan adik Cu Sian, kalau tidak, aku… aku akan benci kepadamu...!”

Cu Sian merengut tangannya terlepas dari pegangan Kim Lan, kemudian memandang kepada Kim Lan dengan kedua mata basah air mata. “Tidak! Aku hanya mau menikah dengan Sin-ko akan tetapi dengan satu syarat…!”

“Apa syaratnya, adik Cu Sian?” Tanya Kim Lan heran.

“Syaratnya, Sin-ko harus menikah dengan enci Kim Lan lebih dulu. Kalian tahu kemana akan dapat menemukan aku di Tiang-an!” Setelah berkata demikian, Cu Sian melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Kim Lan menjadi bengong dan bingung. Setelah bayangan Cu Sian tidak nampak lagi, barulah Kim Lan menhadapi Han Sin dan dia berkata dengan bingung. “Apa… apa maksudnya ia berkata seperti itu dan mengajukan syarat gila itu...?”

Han Sin tersenyum dan memandang nakal. “Apanya yang aneh? Akupun mempunyai syarat, Lan-mo. Aku mau menikah dengan Cu Sian dan membahagiakannya dengan syarat bahwa aku harus menikah dulu dengan Ang Swi Lan!”

“Ehhh...? Siapa itu Ang Swi Lan?” Tanya Kim Lan dan matanya mencorong marah, kedua pipinya berubah merah sekali.

“Ang Swi Lan adalah gadis tercantik di dunia, dan sebetulnya hanya kepada Ang Swi Lan saja aku jatuh cinta dan tergila-gila. Akan tetapi aku mau menikah dengan Cu Sian asalkan aku lebih dulu menikah dengan Ang Swi Lan...“

Kim Lan menjadi marah sekali. Ia mengepal tinju dan bertanya, “Siapa itu Ang Swi Lan? Agaknya ada siluman betina yang telah menyihirmu sehingga engkau tergila-gila kepadanya! Tunjukan dimana dia!”

“Kalau sudah tahu engkau mau apa terhadap dirinya...?”

“Aku harus mengatakan kepadanya bahwa engkau telah ada yang punya, bahwa engkau sudah mencinta… eh, dua orang gadis dan aku akan mengenyahkannya kalau ia tidak melepaskan cengkraman sihirnya darimu...“

“Ha-ha-ha, engkau mau tahu siapa orangnya? Ang Swi Lan adalah gadis yang kini berada di depanku, yang marah-marah karena cemburu. Engkaulah Ang Swi Lan, Lan-moi...“

Kim Lan melangkah mundur dua langkah dan memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut. “Apa… apa maksudmu, Sin-ko? Jangan engkau mempermainkan aku...!”

“Aku tidak mempermainkan, lan-moi. Engkau memang bernama Ang Swi Lan dan aku telah bertemu dengan ibu kandungmu...!”

“Apa-apaan ini! Bagaimana engkau bisa tahu bahwa ada seorang yang mengaku sebagai ibu kandungku? Bagaimana kalau ia berbohong?”

“Panjang ceritanya, Lan-moi. Marilah kita duduk menjauhi kuburan ini dan mencari tempat yang enak untuk bercakap-cakap...“

Pedang Naga Hitam Jilid 33

Han Sin melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja! Pedang Hek-liong-kiam telah berhasil dia rampas kembali dan menurut cerita Panglima Coa Hong Bu, Kaisar Yang Ti menghendaki pedang Hek-liong-kiam dan Kitab Bu-tek Cin-keng. Dia sudah berjanji apabila berhasil merampas Hek-liong-kiam, akan dikembalikan kepada Kaisar dan kalau Kaisar ingin belajar Bu-tek Cin-keng, dia akan mengajarkannya karena kitabnya sudah dia bakar. Kini dia harus menghaturkan pedang itu kepada Kaisar susuai dengan janjinya kepada Panglima Coa Hong Bu yang tentu melapor kepada Kaisar tentang hal itu.

Setelah tiba di kota raja, hari sudah sore dan Han Sin segera mencari kamar di rumah penginapan. Dia tidak tahu bahwa sejak dia memasuki pintu gapura kerajaan, dirinya sudah di incar dan dibayangi beberapa orang mata-mata yang menjadi anak buah Lui Couw atau Lui-ciangkun, segala gerak-geriknya diamati orang.

Begitu melihat pemuda itu memasuki kota raja, Lui Couw segera menghadap Kaisar dan memberi laporan, “Yang Mulia, pemuda putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu yang memberontak itu kini nampak berada di kota raja...“

Kaisar mengerutkan alisnya. “Putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu memberontak? Apa maksudmu, Lui-ciangkun?”

“Pemuda itu menyembunyikan pedang Hek-liong-kiam dan ilmu Bu-tek Cin-keng yang paduka kehendaki. Bukan itu saja, ketika hamba mencoba untuk memintanya, dia melawan bahkan telah membunuh putera hamba dan banyak prajurit tewas di tangannya. Sekarang dia datang ke sini tentu bukan dengan niat baik terhadap paduka...“

“Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu?” Bukankah dahulu ayahnya, Panglima Cian Kauw Cu merupakan seorang pahlaw an yang setia?”

“Apakah paduka lupa? Paduka telah memerintahkan agar rumah mereka di kosongkan, dan hal itu rupanya menimbulkan dendam di hati pemuda itu. Dia dapat berbahaya sekali karena ilmu kepandaiannya tinggi, Yang Mulia...“

“Kurang ajar! Berani dia memberontak? Tangkap dia...!”

“Hamba akan lakukan, akan tetapi mengingat dia seorang yang berkepandaian tinggi, hamba mohon diberi surat perintah paduka agar dia tidak melawan“

Kaisar Yang Ti segera membuat surat perintah itu dan Lui Couw lalu mengumpulkan dua ratus orang prajurit dan pagi-pagi sekali dia memimpin para prajuritnya mengepung rumah penginapan dimana Han Sin berada!

Tentu saja pemilik rumah penginapan menjadi ketakutan melihat demikian banyaknya prajurit mengepung rumah penginapannya. Dia segera keluar menghadap Lui-ciangkun menanyakan apa kesalahannya.

“Suruh tamu yang bernama Cian Han Sin keluar, atau ku obrak abrik rumah penginapan ini!” kata Lui Couw.

Pemilik rumah penginapan itu segera berlari masuk, mencari Han Sin dan setelah bertemu, dia segera berkata dengan muka pucat, “Sicu, kami mohon sicu segera keluar. Sicu di cari oleh panglima Lui yang membawa ratusan prajurit yang sudah mengepung rumah penginapan ini. Kalau sicu tidak keluar, rumah penginapan ini akan di obrak abrik. Kasihanilah kami, sicu. Kami tidak ada sangkut pautnya dengan urusan sicu!” kata pemilik rumah penginapan itu dengan wajah hamper menangis.

Han Sin bersikap tenang saja. Dia tahu bahwa tentu Lui-ciangkun telah mengetahui akan kedatangannya dan telah bersiap-siap. Maka diapun berkata “Keluarlah dan kat akana bahw a aku akan menemuinya...“

Han Sin lalu berkemas. Menggendong buntalan pakaiannya dan pedang Hek-liong-kiam dia selipkan dipinggang, dibalik bajunya. Kemudian dia melangkah keluar dengan sikap tenang . Kalau Lui Couw hendak menggunakan kekerasan menangkapnya, dia akan melawan! Akan tetapi kalau kaisar yang menyuruh tangkap, kebetulan baginya karena dia hendak menghadap kaisar dan selain akan menyerahkan pedangnya, juga dia akan membeberkan semua kebusukan Lui Couw.

Setelah tiba di halaman rumah penginapan, benar saja di situ sudah berkumpul banyak sekali prajurit dan Lui Ciangkun dengan pakaian perangnya nampak gagah memimpin mereka. Disebelah kiri telah siap barisan anak panah yang sudah memasang anak panah pada busurnya. Siap membidik dan menyerang. Han Sin tersenyum kepada Lui-ciangkun.

“Lui Couw, apa maksudmu dengan semua ini? Kalau engkau hendak melawanku, kenapa harus mengerahkan banyak prajurit?“ Tegur Han Sin sambil tersenyum mengejek.

“Pemberontak Cian Han Sin! Berlututlah dan atas nama Sribaginda Kaisar engkau di tangkap!” Lui Couw tiba-tiba mengeluarkan surat perintah dari Kaisar itu dan melihat ini Han Sin terkejut. Kiranya benar kaisar yang menyuruh menangkapnya.

“Apakah aku akan dihadapkan kepada Sri baginda kaisar?”

“Tentu saja! Yang Mulia Kaisar sendiri akan menentukan hukuman apa yang harus dijatuhkan padamu“

“Baiklah, kalau aku akan dihadapkan kepada sribaginda Kaisar, aku tidak akan melawan dan aku akan menyerah...“ kata Han Sin dengan tenang.

Dan mendengar ini, Lui Couw merasa girang bukan main. Tidak disangkanya pemuda itu akan sedemikian mudahnya ditangkap. “Bagus...!“ serunya dan dia lalu memerintahkan kepada para pembantunya.

“Rampas buntalannya dan ringkus, belenggu kaki tangannya!”

Empat orang pembantunya melangkah maju menghampiri Han Sin. Akan tetapi ketika mereka hendak melaksanakan perintah itu, tiba-tiba mereka berempat terjengkang ke belakang!

“Hemmm, Lui-ciangkun. Aku menyerah dan tidak akan melawan untuk di bawa menghadap Sri baginda kaisar akan tetapi bukan sebagai tawanan terbelenggu! Aku tidak akan melawan, maka tidak ada gunanya membelenggu aku...!“

Lui Couw marah sekali akan tetapi dia memandang bimbang. Dia tahu benar akan kelihaian pemuda ini dan kalau dia menggunakan kekerasan, bisa jadi dia akan gagal dan pemuda ini akan dapat meloloskan diri. Dua orang pembantu yang paling diandalkan, yaitu Pak-te-ong dan see-thian-mo tidak berada di situ, yang berada dengannya hanyalah Bong Sek Toan, murid keponakannya yang biarpun cukup lihai, namun belum cukup menyakinkan. Dia sedang menyuruh pembantunya mengundang kedua orang datuk itu, akan tetapi belum kelihat an mereka muncul di situ. Dia menahan sabar dan memaksa diri tersenyum.

“Hemm, maafkan aku. Ini hanya kebiasaan saja dan kalau benar engkau tidak akan melakukan perlawanan, baiklah, kami tidak akan membelenggumu...“

Lalu kepada anak buahnya dia berseru, “Biarkan dia berjalan sendiri. Kepung saja dia!”

Demikianlah, dengan di tonton banyak sekali orang, Han Sin melangkah dengan tenang di tengah-tengah kerumunan para prajurit yang berbaris rapi dan yang selalu siap dengan senjata ditangan kalau-kalau pemuda itu memberontak. Tentu saja peristiwa itu menjadi buah bibir penduduk kota raja dan merupakan berita hangat hari itu sehingga sebentar saja tersebar luas diantara pelosok kota. Seorang pemuda bernama Cian Han Sin di tangkap Panglima Lui! Bahkan ada yang mengenal nama itu sebagai putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu sehingga berita itu menjadi lebih menarik lagi.

Sambil melangkah dengan tegap, Han Sin selalu waspada. Maka dia dapat melihatnya ketika muncul dua orang kakek diluar kerumunan prajurit dan bersatu dengan Lui-ciangkun. Dia mengenal pula Bong Sek Toan yang juga berada di dekat Lui-ciangkun. Dua orang kakek itu bukan lain adalah Pak-te-ong dan see-thian-mo! Dan diapun tahu bahwa dia tidak dibawa menuju ke ist ana kaisar, melainkan dibelokkan kearah lain! Tahulah dia bahwa dia telah tertipu dan sedang di bawa ke tempat berbahaya dimana sudah menunggu perangkap yang akan mencelakakannya.

Dia bersiap-siap dan tahu bahwa dia tidak jauh dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Tiba-tiba saja Han Sin menggerakkan tubuhnya dan belasan orang di sebelah kanannya roboh saling tabrak. Han Sin melompat dengan cepat sekali, bagaikan seekor burung terbang melalui kepala para prajurit dan sudah tiba di luar kepungan. Segera dia melarikan diri dan ketika beberapa belas orang prajurit paling luar menghadangnya, dia mencabut Hek-liong-kiam dan sekali pedang itu berkelebat, belasan buah golok dan pedang beterbangan dan Han Sin terus berlari.

Melihat ini, Lui Couw terkejut dan marah sekali. “Kejar!” bentaknya dan dia sendiri lalu mengejar, diikuti Pak-te-ong dan see-thian-mo. Juga Bong Sek Toan ikut pula mengejar, demikian pula para prajurit yang banyak jumlahnya itu. Para penduduk dan pejalan kaki menjadi panik dan geger mereka berlarian karena takut terbawa-bawa.

Sambil berlari, Han Sin merobohkan setiap orang yang menghadang diperjalanan. Juga dia merobohkan para penjaga pintu gerbang sehingga dia kini dapat melarikan diri keluar dari pintu gerbang. Dia telah dapat lolos dari kota raja!

Akan tetapi, baru kurang lebih lima mil dia melarikan diri dari kota raja, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang. Ketika dia menoleh, dia melihat belasan penunggang kuda mengejarnya! Tentu Panglima Couw, kedua orang datuk itu, Bong Sek Toan dan beberap orang perwira yang tangguh. Mereka itu menunggang kuda yang baik dan kuat. Sebetulnya dia dapat terus melarikan diri dengan kecepatan yang dapat mengimbangi larinya kuda, akan tetapi kalau dia terus berlari, akhirnya dia akan kehabisan napas dan kalau dia tersusul dalam keadaan kehabisan napas dan tenaga, dia dapat celaka. Karena yang mengejar hanya belasan orang lebih baik dia melawan sekarang.

Setelah mengambil keputusan demikian, Han Sin berhenti, membalikan tubuh menunggu dan Pedang Hek-liong-kiam telah berada di tangan kanannya! Dia berdiri tegak dengan sikap tenang sekali, akan tetapi seluruh urat syaraf di dalam tubuhnya dalam keadaan siap siaga.

Benar saja dugaannya. Setelah para pengejar itu tiba di depannya, ternyata mereka adalah Lui Couw, Pak-te-ong, see-thian-mo, Bong Sek Toan dan sepuluh orang perwira lain yang agaknya memiliki kepandaian pula. Mereka sudah berlompatan dari atas kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung Han Sin.

“Ha-ha-ha, Cian Han Sin, Engkau hendak lari kemana? Engkau tidak akan terlepas dari tanganku!” kata Lui Couw.

“Lui-ciangkun, serahkan saja bocah ini kepadaku. Aku harus mencabut nyawanya untuk membalas kematian anakku...“ kata Pak-te-ong.

Setelah berkata demikian, Pak-te-ong yang marah sekali it u sudah melancarkan pukulan Tian-Ciang ke arah Han Sin. T ian Ciang (Tangan Halilintar) dari Pak-te-ong ini lihai bukan main. Lawan yang di serang itu, terkena pukulan ini dari jarak jauh saja dapat roboh dan tewas. Serangkum angina pukulan yang amat panas menyambar dahsyat kearah tubuh Han Sin.

Akan tetapi Han Sin yang pernah merasakan pukulan dahsyat ini, sudah siap siaga. Dia mengelak dengan melompat ke kiri, akan tetapi dari kiri menyambar angin pukulan yang teramat dingin. Tanpa menoleh tahulah Han Sin bahwa see-thian-mo yang memukulnya dengan Swat-Ciang (Tangan salju).

Diapun pernah menderita karena pukulan ini, maka diapun mengelak lagi, kini kedua orang datuk itu memukul dengan berbarengan. Menghadapi pukulan ini, Han Sin mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan dia menyambut dengan kedua tangannya setelah menggigit pedang Hek-liong-kiam.

“Desss…!” Akibatnya, kedua orang kakek itu terjengkang! Hebat bukan main Bu-tek Cin-keng itu. Han Sin sendiri terhuyung, lalu dia mengambil pedang yang di gigitnya, siap menghadapi pengeroyokan. Dua orang itu terjengkang dan dada mereka terguncang hebat, akan tetapi tidak sampai melukai mereka. Kini dengan marah Lui Couw memberi isyarat dan majulah semua orang mengeroyok Han Sin.

Lui Couw sendiri menggunakan pedang yang cukup baik. Karena pedang itu adalah pedang pemberian kaisar sebagai tanda pangkatnya dan ia sudah memainkan lo-hai-kiamsut untuk menerjang Han Sin. Disampingnya, Bong Sek Toan juga memainkan pedangnya dengan ilmu pedang yang sama pula, membantu paman gurunya untuk menyerang Han Sin dari depan.

Pak-te-ong Ma Giok menggunakan senjatanya tongkat kepala naga yang diputar dahsyat, menyambar-nyambar bagaikan seekor naga yang mengancam kepala Han Sin. Demikian pula see-thian-mo, datuk barat yang bekas lama ini menggunakan senjatanya berupa tasbeh yang menyambar dengan aneh, di seling pukulan Swat Ciang yang ampuh.

Selain empat orang lawan tangguh ini, sepuluh orang perwira yang semua memegang pedang sudah mengepung dan ikut mengeroyok. Han Sin memutar Hek-liong-kiam dan mengamuk sekuat tenaga karena dia maklum bahwa lengah sedikit saja dia tentu akan terkena senjata lawan yang banyak dan semua lihai, terutama dua orang datuk itu.

Hebat memang sepak terjang Han Sin di saat itu. Dia memainkan pedangnya dengan sepenuhnya memainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, membuat pedang itu membentuk sinar yang bergulung-gulung berwarna hitam. Dari jauh nampak seolah dua ekor naga hitam yang mengamuk di antara sinar senjata lawan yang mengeroyoknya.

Hanya empat orang pengeroyok yang berilmu tinggi saja, yaitu Lui Couw, Bong Sek Toan, Pak-te-ong dan see-thian mo yang masih dapat menghujankan serangan mereka kepada Han Sin. Sedangkan sepuluh orang perwira itu sudah beberapa kali terjungkal oleh tendangan kaki Han Sin atau oleh hawa sambaran pedang Hek-liong-kiam!

Namun harus di akui kenyataannya bahwa saat itu Han Sin terancam bahaya besar. Betapapun lihainya, para pengeroyoknya amat tangguh, terutama sekali Pak-te-ong dan see-thian-mo yang berusaha mati-mat ian untuk merobohkannya. Pak-te-ong terutama sekali bernafsu untuk membunuh pemuda ini karena pemuda inilah yang di anggapnya telah menyebabkan kematian puterinya. Demikian pula Lui Couw yang berusaha keras membalaskan kematian puteranya dan juga untuk menguasai kembali pedang pusaka Hek-liong-kiam dari tangan pemuda itu.

“Wuuktttt…!” Tongkat kepala naga dari Pak-te-ong itu kembali menyambar ganas. Pada saat itu Han Sin sedang menggunakan pedangnya untuk menghalau senjata para pengeroyok lain maka hantaman tongkat kepala naga ke arah kepalanya ini terpaksa di tangkisnya dengan tangan kiri.

“Wuuutttt… plakkk...!“ Tongkat terpental, akan tetapi dia masih dapat memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga pada saat dia terhuyung tidak ada yang dapat mendekatinya.

Akan tetapi para pengeroyok mengepung lagi dan pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Han Sin itu, tiba-tiba terdengar bentakan halus dan berwibawa sekali.

“Hei, kalian yang mengeroyok ini mengapa saling tempur dengan kawan sendiri?”

Dan terjadilah kekacauan. Para perwira itu merasa betapa mereka tidak mengeroyok Han Sin melainkan bertanding melawan teman-teman sendiri. Tentu saja mereka terkejut dan berloncatan ke belakang. Bahkan Lui Couw dan Bong Sek Toan sendiri juga terkejut karena terpengaruh bentakan tadi dan mereka seolah bertanding melawan teman sendiri. Hanya Pak-te-ong dan see-thian-mo yang dapat melawan pengaruh itu karena sin-kang mereka sudah amat kuat.

Selagi keadaan kacau balau itu, mendadak muncul seorang gadis berpakaian putih yang tadi membentak itu bersama seorang gadis lain yang memegang sebatang tongkat. Dan gadis yang bertongkat itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang para perwira. Gerakannya bagaikan seekor burung rajawali mengamuk. Tongkatnya berkelebatan dan para perwira itupun bergelimpangan!

Yang datang itu adalah Kim Lan dan Cu Sian! Bagaimana kedua orang gadis itu dapat datang pada saat yang tepat untuk menolong Han Sin? Kedua orang gadis secara kebetulan saja saling bertemu ketika mereka berada di kota raja. Dan mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Di situ Kim Lan menghibur Cu Sian dan menyatakan bahwa Han Sin mencinta Cu Sian maka ia menganjurkan agar Cu Sian pergi mencarinya. Akan tetapi Cu Sian mengatakan bahwa setelah dirinya ternoda, ia merasa tidak pantas berdekatan lagi dengan Han Sin.

Selagi mereka berbicara pada pagi hari itu, mereka mendengar berita bahwa Cian Han Sin di tangkap oleh Lui Ciangkun. Tentu saja keduanya terkejut bukan main dan mereka lalu keluar untuk mencari. Melihat Han Sin di antara ratusan prajurit itu, mereka pun tidak berdaya dan merasa heran mengapa Han Sin menyerah begitu saja ditangkap.

Mereka diam-diam membayangi dari jauh dan kemudian mereka melihat betapa Han Sin memberontak dan melarikan diri keluar dari pintu gerbang, dikejar oleh belasan orang yang menunggang kuda. Mreka pun melakukan pengejaran dan akhirnya mereka melihat Han Sin di keroyok dan keadaannya terdesak dan terancam.

Kim Lan lalu mempergunakan kekuatan sihirnya untuk mengacau pengeroyokan itu dan Cu Sian sudah mengamuk dengan tongkatnya yang lihai. Para perwira yang sedang kebingungan itu tentu saja tidak mampu melawan Cu Sian yang mengamuk dan mereka sudah roboh bergelimpangan dan tidak mampu bertempur lagi.

Kekuatan sihir Kim Lan melemah dan kini barulah Lu i Couw dan Bong Sek Toan tahu bahwa yang mereka sangka bertempur dengan teman sendiri itu hanya khayalan belaka. Maka mereka menjadi marah sekali, apalagi Bong Sek Toan yang mengenal Cu Sian, sedangkan Lui Couw menyerang Kim Lan.

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 33 karya kho ping hoo

Han Sin girang bukan main melihat munculnya dua orang gadis itu dan terutama sekali melihat Kim Lan, "Lan-moi hati-hatilah terhadap Panglima jahat itu! Dan Sian-moi, hajarlah pemuda keparat itu!”

Dia sendiri kini dikeroyok oleh Pak-te-ong dan see-thian-mo. Akan tetapi pengeroyokan dua orang datuk itu tidak membuat Han Sin menjadi gentar. Kini d ia merasa dapat melayani sebaik-baiknya karena hanya melawan dua orang. Pedangnya ia gerakkan dengan amat dahsyat sehingga kedua lawan itu pun terdesak!

Pertandingan antara Cu Sin dan Bong Sek Toan amat serunya. Tingkat kepandaian kedua orang ini memang seimbang, akan tetapi permainan tongkat Cu Sian amat aneh. Ia telah menguasai Hek-tung-hoat sepenuhnya dan gadis ini menjadi lihai bukan main kalau sudah bersilat dengan tongkatnya. Ia bergerak dengan ringan dan lincah sekali sehingga kemana pun pedang di tangan Bong Sek Toan menyerang selalu hanya mengenai angin belaka.

Sebaliknya, totokan-totokan tongkat yang mengarah jalan darah itu amat berbahaya bagi Bong Sek Toan sehingga dia terpaksa harus memutar pedang untuk melindungi seluruh tubuhnya bagian atas agar jangan menjadi korban totokan. Akan tetapi tiba-tiba tongkat menyambar ke bawah tanpa di sangka-sangka oleh Bong Sek Toan.

“Tuukkk!” Tongkat itu dengan tepat memukul tulang kering kaki kanan pemuda itu. Bong Sek Toan mengaduh. Hanya orang yang pernah terpukul tulang keringnya yang dapat merasakan betapa sakitnya tulang betis itu terpukul. Kiut miut rasanya, senut-senut sampai menusuk jantung rasanya. Akan tetapi rasa nyeri ini membuat Bong Sek Toan menjadi marah sekali.

Kemarahannya yang memuncak membuat dia melupakan rasa nyeri itu dan diapun menubruk lalu menyerang dengan ganasnya. Akan tetapi Cu Sian sudah bergerak lincah lagi dan menghindar dengan cepatnya sambil kembali menghujankan totokan kearah seluruh jalan darah di tubuh Bong Sek Toan. Kembali pemuda itu menjadi repot dan terdesak hebat.

Sementara itu, Lui Couw menyerang Kim Lan dengan hebatnya. Gadis berpakaian putih ini memang hebat. Ia adalah seorang gadis berbudi baik dan bijaksana, bahkan selalu mentaati petunjuk gurunya untuk tidak melakukan kekerasan. Akan tetapi kalau ia di serang, ia dapat membela diri dengan amat baiknya karena ilmu silatnya tinggi. Bahkan dibandingkan Cu Sian, Kim Lan lebih hebat gerakannya. Tubuhnya seperti sehelai bulu saja ringannya. Diserang pedang, tubuhnya melayang-layang, pakaian putihnya berkibaran akan tetapi tidak pernah dapat tersentuh pedang.

Dan Kim Lan yang selamanya tidak pernah menggunakan senjata itu pun membalas dengan totokan-totokan jari tangannya yang membuat Lui Couw kewalahan, totokan itu biarpun dilakukan dengan jari yang halus dan kecil, akan tetapi mendatangkan angin yang mengeluarkan bunyi bercuitan! Kalau saja Kim Lan bermaksud mencelakai lawan dan merobohkan, agaknya ia dapat melakukan lebih cepat. Akan tetapi ia tidak mau melakukan itu hanya bermaksud merobohkan tanpa melukai saja maka tentu agak sukar baginya karena Lui Couw juga merupakan lawan yang amat tangguh.

Sementara itu, pertempuran antara Han Sin melawan dua orang datuk masih berjalan dengan seru. Para perwira yang tadi robohkan Cu Sian sudah tidak ada yang berani maju lagi, bahkan mereka bergerombol agak jauh dari tempat pertempuran, hanya menjadi penonton saja. Pada suatu saat yang diperhitungan dengan baik oleh Han Sin, ketika tasbeh di tangan see-thian-mo menyambar, dia mengerahkan tenaga sin-kang sekuatnya dan hek-liong-kiam di tangannya menyambar dahsyat.

“Sraattt… cinggg…! Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya terlepas berantakan, sehingga see-thian-mo terkejut bukan main dan meloncat ke belakang. Pada saat itu tongkat naga di tangan Pak-te-ong menyambar. Han Sin tidak memberi hati lagi, mengerahkan tenaganya membabat dengan pedang pusakanya dan sekali ini, tongkat itu pun dapat di patahkan. Selagi kedua orang itu terkejut dan gugup, Han Sin sudah memukul dengan kedua tangannya, menggigit pedangnya dan pukulan Bu-tek Cin-keng ini dia lakukan dengan sekuat tenaganya.

“Wuuuuttt… deessss…!“ Kedua orang kakek itu terlempar bagaikan dua helas daun tertiup angin. Ketika mereka tanpa di sangka menerima pukulan itu, mereka tidak sempat mengerahkan tenaga sinkang mereka karena masih tertegun melihat senjata mereka rusak, maka mereka terpukul dengan telak sekali.

Biarpun sudah terpukul sedemikian hebatnya. Kedua orang datuk sakti itu masih mampu merangkak berdiri, akan tetapi ketika mereka hendak menyerang dengan pengerahan sinkang, tiba-tiba mereka muntahkan darah segar dari mulut dan merasa betapa dada mereka nyeri bukan main. Mereka telah terluka parah dan tahulah mereka bahwa mereka tidak mungkin lagi melanjutkan pertandingan. Tanpa malu dan tanpa pamit mereka lalu membalikan tubuh dan pergi dari situ meninggalkan Lui Couw dan Bong Sek Toan yang masih bertanding.

Cu Sian sudah mendesak Bong Sek Toan dengan hebat dan ketika Bong Sek Toan agak lengah, tongkat Cu Sian sudah menotok dengan kecepatan kilat mengenai dada dan lehernya. Robohlah pemuda itu, tidak mampu berkutik lagi karena totokan tadi merupakan totokan maut yang seketika menewaskannya!

Sementara itu, Kim Lan juga masih mempermainkan Lui Couw. Gadis ini tidak ingin melukai atau membunuh orang, maka ia tidak menyerang untuk melukai atau mematikan, karena itu sampai sekian lamanya ia masih belum mampu mengalahkan Lui Couw yang memang lihai sekali, melihat ini, Han Sin melompat ke depan.

“Lan-moi, dia musuh besarku, serahkan dia kepadaku!” katanya dan dia sudah melompat ke tengah di antara kedua orang yang berkelahi itu. Kim Lan melangkah mundur dan mendekati Cu Sian yang sudah berhasil menewaskan Bong Sek Toan.

“Enci Lan, kenapa engkau tidak membunuhnya? Dia jahat sekali!” kata Cu Sian mencela.

Kim Lan menghela napas panjang. “Suhu tidak pernah mengajarkan aku untuk membunuh atau melukai orang, melainkan untuk mengobati orang...“

“Engkau terlalu baik hati, enci Lan. Dan lihat, sekarang Sin-ko menggantikanmu. Dia membelamu karena dia mencintamu enci...“

“Husshh, engkau salah sangka, Cu Sian! Sin-ko hanya mencinta engkau seorang. Sambutlah dia baik-baik, sekarang juga aku mau pergi...!”

“Tidak enci Lan. Engkau tidak boleh pergi. Aku yang akan pergi dari sini. Engkau yang harus menemaninya...!”

“Anak bodoh! Percayalah, hanya Sin-ko yang akan mampu mengobati luka-luka di hatimu dan membahagiakanmu...!”

“Akan tetapi, aku tidak mungkin membahagiakannya, enci. Biarkan aku pergi...!”

Kim Lan menghela napas panjang. Ia sudah minta dengan sungguh-sungguh kepada Han Sin agar membahagiakan gadis ini. Ia tahu bahwa Cu Sian amat mencinta Han Sin, dan biarpun di dalam hatinya ia tidak dapat menyangkal bahwa ia pun amat mencinta Han Sin, akan tetapi ia tidak ingin menghancurkan hati gadis yang baik ini.

“Kalau begitu, biarlah dia yang memutuskan nanti...“ katanya sambil memegangi tangan Cu Sian seolah ia khawatir kalau gadis itu nekat pergi meninggalkannya.

Mendengar ini, timbul keinginan hati Cu Sian untuk juga mengetahui bagaimana pendapat Han Sin, bagaimana isi hatinya. Biarpun ia sudah tidak mempunyai harapan lagi karena merasa rendah diri, merasa tidak berharga lagi bagi Han Sin.

Pertandingan antara Han Sin dan Lui Couw terjadi berat sebelah. Pedang di tangan Lui Couw sudah patah-patah dan kini dia melawan Han Sin dengan tangan kosong.

“Hyaattt...!” Lui Couw menyerang dengan ganasnya dengan pukulan mematikan dari Lo-hai-kun. Akan tetapi Han Sin sudah mengenal jurus itu dan dengan pengerahan sin-kangnya, dia menangkis.

“Dukkk… breesss…!“ Tubuh Lui Couw terbanting keras, akan tetapi dia bangkit kembali, mengusap keringat dari kening yang memasuki matanya dan mendengus.

“Cian Han Sin, engkau pemberontak! Berani melawan utusan Kaisar?”

“Hemmm, Lui-ciangkun. Engkau adalah pengkhianat! Engkau amat jahat membunuh ayahku secara curang, membunuh pula ibuku dengan engkau mencuri Hek-liong-kiam. Engkau bahkan bersekutu dengan see-thian-mo dan Pak-te-ong untuk membunuh kaisar! Sungguh manusia tak berbudi, sudah diberi pangkat tinggi masih hendak membunuh kaisar. Pengkhianat besar!”

“Tidak mengherankan karena dia adalah putera mendiang Toat-beng Giam-ong, Koksu dari Kerajaan Toba!” kata Kim Lan yang sudah mendapat keterangan tentang diri panglima itu.

“Ah, kiranya engkau putera Toat-beng Giam-ong? Jadi engkau adalah saudara seperguruan ibuku sendiri, dan engkau telah membunuhnya...!”

“Keparat! Akan kukirim engkau menyusul ibumu!” Lui Couw menjadi marah dan nekat karena tahu bahwa dia tidak akan mampu melarikan diri lagi. Dia menubruk bagaikan seekor singa menerkam domba, dan serangan ini di sambut oleh Han Sin dengan pukulan Bu-tek Cin-keng.

“Desss…!“ Tubuh Lui Couw terpental jauh dan jatuh terbanting keras, tak dapat bangkit kembali karena dia sudah tewas seketika.

Setelah melihat bahwa Lui Couw dan Bong Sek Toan tewas, Han Sin menghela napas panjang dan dia segera membuat lubang untuk mengubur dua mayat itu. Tanpa berkata apapun Kim Lan membantu pekerjaan itu dan biarpun tadinya Cu Sian memandang dengan alis berkerut, akhirnya ia membantu pula. Mereka bertiga menggali lubang dan mengubur dua mayat itu tanpa banyak cakap.

Setelah selesai menguburkan dua mayat itu, barulah Han Sin menghadapi mereka dan berkata, “Kalau kalian tidak datang tepat pada saatnya, tentu aku yang sekarang ini di kuburkan di sini, itupun kalau ada yang mau menguburku...“

“Kami sudah mengikutimu dari Kota raja, Sin-ko. Kami berdua kebetulan berada di kota raja dan kami mendengar berita bahwa engkau di tangkap Lui-ciangkun, maka kami lalu membayangi dan mengejar sampai ke sini...“ kata Kim Lan.

Han Sin memandang kepada dua orang gadis itu bergantian dan dia melihat perubahan sikap Cu Sian. Sungguh besar sekali bedanya antara Cu Sian dahulu dan sekarang. Sekarang Cu Sian menjadi begitu pendiam, bahkan agaknya seperti orang yang enggan untuk memandang kepadanya, melainkan selalu menundukkan muka.

“Lan-moi, sungguh aku girang sekali dapat bertemu denganmu di sini, karena sudah lama aku mencari-carimu. Ada urusan penting sekali hendak kubicarakan denganmu, Lan-moi...“

Mendengar ini, Cu Sian memutar tubuhnya dan berkata, “Enci Lan, maafkan aku. Aku akan pergi sekarang juga...“

Akan tetapi Kim Lan segera menangkap lengannya dan menahannya...“

“Adikku, nanti dulu. Sebelum Sin-ko menyatakan pendapatnya, engkau tidak boleh pergi dulu...“

Kemudian Kim Lan memandang kepada Han Sin dengan sinar mata penuh teguran, lalu berkata lantang, ”Sin-ko, sekarang kami berdua minta kepadamu agar berterus terang. Seorang pendekar gagah tentu tidak akan bersikap plin-plan, melainkan suka berterus terang dan tidak menyakiti hati orang...“

Tentu saja Han Sin memandang dengan heran, akan tetapi alisnya lalu berkerut dan jantungnya berdegup tegang karena dia teringat akan kata-kata dan sikap Kim Lan mengenai diri Cu Sian tempo hari. “Katakanlah, apa yang harus ku jawab dengan terus terang itu...“

“Sin-ko, biarpun sudah jelas bagi ku bahwa selama ini engkau mencinta Cu Sian, akan tetapi adik Cu Sian minta penegasan dari mulut mu sendiri, karena ia menganggap bahwa engkau mencintaku. Nah sekarang di depan kami berdua, katakan, kepada siapa engkau mencinta...?”

Biarpun Han Sin sudah menduga lebih dulu pertanyaan ini, namun dia tertegun juga dan sampai lama tidak mampu menjawab, hanya memandang bergantian kepada kedua orang gadis itu. Kepada Kim Lan yang menatap tajam wajahnya dan kepada Cu Sian yang menundukkan mukanya. Akhirnya dia berkata dengan suara yang sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya, tidak di buat -buat.

“Aku sayang kepada kalian berdua, aku sayang kepada Sian-moi seperti aku sayang kepadamu, Lan-moi. Inilah jawabanku yang jujur...“

Wajah Kim Lan berubah pucat, lalu merah dan ia berkata dengan penasaran. “Sin-ko, engkau tidak boleh menjawab begitu! Engkau harus menikah dengan adik Cu Sian, kalau tidak, aku… aku akan benci kepadamu...!”

Cu Sian merengut tangannya terlepas dari pegangan Kim Lan, kemudian memandang kepada Kim Lan dengan kedua mata basah air mata. “Tidak! Aku hanya mau menikah dengan Sin-ko akan tetapi dengan satu syarat…!”

“Apa syaratnya, adik Cu Sian?” Tanya Kim Lan heran.

“Syaratnya, Sin-ko harus menikah dengan enci Kim Lan lebih dulu. Kalian tahu kemana akan dapat menemukan aku di Tiang-an!” Setelah berkata demikian, Cu Sian melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Kim Lan menjadi bengong dan bingung. Setelah bayangan Cu Sian tidak nampak lagi, barulah Kim Lan menhadapi Han Sin dan dia berkata dengan bingung. “Apa… apa maksudnya ia berkata seperti itu dan mengajukan syarat gila itu...?”

Han Sin tersenyum dan memandang nakal. “Apanya yang aneh? Akupun mempunyai syarat, Lan-mo. Aku mau menikah dengan Cu Sian dan membahagiakannya dengan syarat bahwa aku harus menikah dulu dengan Ang Swi Lan!”

“Ehhh...? Siapa itu Ang Swi Lan?” Tanya Kim Lan dan matanya mencorong marah, kedua pipinya berubah merah sekali.

“Ang Swi Lan adalah gadis tercantik di dunia, dan sebetulnya hanya kepada Ang Swi Lan saja aku jatuh cinta dan tergila-gila. Akan tetapi aku mau menikah dengan Cu Sian asalkan aku lebih dulu menikah dengan Ang Swi Lan...“

Kim Lan menjadi marah sekali. Ia mengepal tinju dan bertanya, “Siapa itu Ang Swi Lan? Agaknya ada siluman betina yang telah menyihirmu sehingga engkau tergila-gila kepadanya! Tunjukan dimana dia!”

“Kalau sudah tahu engkau mau apa terhadap dirinya...?”

“Aku harus mengatakan kepadanya bahwa engkau telah ada yang punya, bahwa engkau sudah mencinta… eh, dua orang gadis dan aku akan mengenyahkannya kalau ia tidak melepaskan cengkraman sihirnya darimu...“

“Ha-ha-ha, engkau mau tahu siapa orangnya? Ang Swi Lan adalah gadis yang kini berada di depanku, yang marah-marah karena cemburu. Engkaulah Ang Swi Lan, Lan-moi...“

Kim Lan melangkah mundur dua langkah dan memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut. “Apa… apa maksudmu, Sin-ko? Jangan engkau mempermainkan aku...!”

“Aku tidak mempermainkan, lan-moi. Engkau memang bernama Ang Swi Lan dan aku telah bertemu dengan ibu kandungmu...!”

“Apa-apaan ini! Bagaimana engkau bisa tahu bahwa ada seorang yang mengaku sebagai ibu kandungku? Bagaimana kalau ia berbohong?”

“Panjang ceritanya, Lan-moi. Marilah kita duduk menjauhi kuburan ini dan mencari tempat yang enak untuk bercakap-cakap...“