Social Items

AKAN tetapi, baru dua hari mereka melakukan perjalanan, mereka sudah menghadapi ancaman bahaya. Pada suatu pagi selagi mereka berjalan mendaki lereng sebuah bukit, tiba-tiba saja di sebuah tikungan muncul belasan orang dan mereka tidak sempat lagi menghindar. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa mereka adalah sepasukan perajurit pemerintah yang di pimpin oleh seorang panglima muda dan seorang wanita cantik.

Panglima itu adalah Lai Seng bersama isterinya, Bong Kwi Hwa. Betapa girang hati Lai Seng ketika melihat bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang pelarian, putera dan puteri Gubernur Yen. Dia sendiri tidak segera mengenal mereka, akan tetapi seorang pembantunya mengenal kedua orang muda itu dengan baik.

“Lai-ciangkun, merekalah kong-cu dan sio-cia Yen, putera-puteri Gubernur Yen yang di cari-cari...“

“Bagus, kita tangkap mereka!”

Isterinya yang melihat betapa tampannya Yen Gun, segera berbisik kepada suaminya, “Yang laki-laki untuk aku dan yang wanita untukmu, malam ini kita bersenang-senang...“

Lai Seng mengerti apa yang di kehendaki isterinya yang cabul itu. Dia mengerutkan alisnya. “Jangan main-main, isteriku. Mereka adalah orang-orang penting dan kalau kita berhasil menangkapnya, hidup atau mati, kita akan mendapatkan pahala besar dari Sri Baginda!”

Bong Kwi Hwa agak cemberut mendengar penolakan ini, akan tetapi ia tidak lagi membantah. Yen Gun dan Yen Sian tidak sempat menyingkir lagi dan terpaksa mereka menghadapi Lai Seng dan anak buahnya.

“Dua saudara Yen, kalian memang kami cari-cari, hayo menyerah menjadi tawanan kami sebelum kami menggunakan kekerasan...!“ kata Lai Seng sambil mencabut pedangnya.

Yen Gun dan Yen Sian juga mencabut pedang mereka. “Sebelum mati pantang menyerah!” bentak mereka dan keduanya sudah menerjang kearah Lai Seng dan Bong Kwi Hwa.

Mereka berdua segera di kepung dan di keroyok. Terjadi lah perkelahian yang seru. Sebetulnya, tingkat kepandaian kakak beradik Yen itu sudah cukup tinggi dan seimbang dengan kepandaian Lai Seng maupun Bong Kwi Hwa, akan tetapi karena Lai Seng dibantu oleh tujuh belas orang anak buahnya, maka dua orang kakak beradik itu menjadi terdesak hebat. Mereka berdua memainkan ilmu pedang Gobi-pai yang indah dan cepat gerakannya. Akan tetapi karena suling perak Lai Seng amat lihai, di tambah lagi permainan pedang Bong Kwi Hwa yang berbahaya sekali dengan Kwi-kiam-sut (Pedang Setan) maka kedua orang kakak beradik itu mulai terdesak dan mereka terus mundur.

Bong Kwi Hwa yang tidak diperbolehkan mempermainkan Yen Gun menjadi marah dan ialah yang mendesak pemuda itu, sedangkan Lai Seng mendesak Yn Sian, di bantu oleh anak buahnya. Yen Sian, mempertahankan diri dengan memutar pedangnya, akan tetapi pada suatu saat, setelah ia bertahan lebih dari lima puluh jurus, suling perak itu menghantam pundaknya dan tubuh gadis itu terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Lai Seng untuk menendang dan robohlah Yen Sian!

Melihat ini, Yen Gun mengamuk untuk melindungi adiknya yang sudah roboh. Akan tetapi dia sendiri di serang habis-habisan oleh wanita cantik itu sehingga dia tidak berdaya untuk melindungi Yen Sian. Pada saat yang amat berbahaya bagi kedua orang kakak beradik itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking dan nampak gulungan sinar putih yang datang menyambar-nyambar. Lai Seng dan Bong Kwi Hwa yang menangkis dengan pedang mereka terdorong mundur ke belakang. Mereka terkejut dan melihat bahwa yang muncul adalah Yang Cien, pemuda yang di pilih menjadi beng-cu oleh kaum pemberontak itu!

Yang Cien cepat memanggul tubuh Yen Sian yang pingsan dan berkata kepada Yen Gun, “Yen-kongcu, pergilah!”

Yen Gun tahu diri. Pihak lawan terlalu banyak, maka diapun melompat pergi dari situ. Yang Cien yang memanggul tubuh Yen Sian mengikuti dari belakang dan tidak ada yang berani mengejarnya. Lai Seng dan juga Bong Kwi Hwa maklum bahwa mereka berdua bukan tandingan bengcu itu yang sudah pernah mengalahkan ayah Bong Kwi Hwa, yaitu Sin-to Kwi-ong. Apalagi di samping pemuda perkasa itu masih ada Yen Gun yang tidak boleh di pandang ringan.

Karena itu, biarpun dengan hati mendongkol sekali, Lai Seng dan isterinya tidak berani melakukan pengejaran dan terpaksa membiarkan Yang Cien membawa pergi gadis yang sudah terluka itu. Dua orang penting, putera dan puteri Gubernur Yen dari Lok-yang tidak dapat di tangkap.

Sementara itu dengan cepat Yang Cien mengajak Yen Gun mencari tempat sunyi di dalam sebuah hutan. Setelah mendapatkan sebuah kuil kosong, dia membawa masuk tubuh Yen Sian yang masih lemah ke dalamnya, lalu dia menyuruh Yen Gun untuk berjaga di depan kuil dan dia sendiri lalu mengobati luka di pundak Yen Sian. Untuk itu, perlu dikerahkan sin-kang karena luka oleh suling perak itu mengandung racun. Dia menurunkan Yen Sian rebah menelungkup.

Kedua tangannya lalu di letakkan di punggung dan pundak, dan dengan pengerahan sin-kangnya, dia mendorong keluar hawa beracun dari pundak yang terkena pukulan suling itu. Akhirnya luka itu dapat disembuhkan, hanya tubuh Yen Sian masih lemah dan ia menangis sesunggukan setelah sembuh kembali. Yang Cien menghiburnya.

“Untung engkau dan kakakmu tidak tertawan, nona...“

“Akan tetapi kami gagal…“ Gadis itu menangis. “Bahkan kami hampir celaka. Kalau tidak engkau yang menolong, taihiap… kami juga menjadi tawanan. Ah, sampai kapan aku akan dapat menolong ayah ibu...?”

“Nona, hal itu jangan di pikirkan dulu. Tidak mungkin menyelidiki ke sana membebaskan tawanan. Sama saja dengan membunuh diri. Di Lok-yang, selama tidak ada gerakan pemberontakan, maka semua tuduhan atas diri ayahmu belum terbukti, maka kurasa Kaisar juga tidak akan menjatuhkan hukuman. Aku juga sudah memerintahkan semua saudara kang-ouw di daerah Lok-yang agar jangan memperlihatkan gerakan apapun. Kita perlu menyusun kekuatan lebih dulu sebelum bergerak. Nona, perjuangan memang menghendaki pengorbanan. Percayalah, pengorbanan keluarga nona tidak akan sia-sia. Ayah nona adalah seorang pahlawan besar bagi perjuangan bangsa kita. Kerajaan Wei yang sesungguhnya adalah Kerajaan Bangsa Toba dan Mongol itu, satu waktu pasti akan dapat kita hancurkan...!” Yang Cien mengepal tinju penuh semangat.

“Tapi, melihat ayah dan ibu menderita di penjara dan aku sebagai anaknya tidak berdaya menolong mereka, sungguh merupakan siksaan batin yang hebat, taihiap…“ Gadis itu menangis lagi.

Yang Cien merasa kasihan sekali. Bayangkan saja, seorang gadis puteri gubernur yang biasanya hidup mewah, terhormat, kini tiba-tiba di tinggalkan semua itu, bahkan di tinggalkan ayah ibu dan seluruh keluarga yang menjadi orang tahanan yang sewaktu-waktu nyawanya terancam bahaya maut. Betapa tidak hancur hatinya.

“Nona“ ia menyentuh pundak gadis itu dengan hati yang terharu. “Besarkan hatimu, tabahkan hatimu, ini semua nasib dan kita harus mengubah nasib itu dengan perjuangan...“

Yen Sian yang merasa betapa hatinya hancur itu terisak-isak dan entah bagaimana ia sudah jatuh ke dalam rangkulan Yang Cien. Pemuda ini merasa iba sekali dan Yen Sian merasa mendapatkan tempat berlindung dan tempat menyandarkan diri.

“Sian-moi, jangan bersedih, jangan menangis…“ Yang Cien tiba-tiba menyebutnya adik, tidak dapat menyebut nona lagi.

“Cien-ko… bantulah… bantulah aku agar aku dapat menahan semua ini…“

Yen Sian menangis sambil bersandar ke dada pemuda itu. Dalam keadaan seperti itu, keduanya seperti membuka rahasia hati mereka bahwa mereka itu saling mencinta, cinta yang mungkin dinyalakan melalui rasa iba di satu pihak dan terima kasih di lian pihak. Jalan menuju cinta memang berliku-liku. Dari rasa iba yang mendalam dapat saja timbul cinta. Dari budi kebaikan juga dapat timbul rasa cinta. Setelah kedukaannya mereda, mereka lalu keluar dari dalam kuil dan Yen Gun merasa lega melihat adiknya tidak apa-apa.

“Syukurlah kalau adikku sudah tidak apa-apa, lukanya sudah sembuh. Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Yang-taihiap, kalau tidak ada taihiap datang menolong, tentu kami berdua sudah tertangkap musuh...“ katanya.

“Koko, sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk bersungkan-sungkan dan menyebut taihiap kepada Cien-ko. Bukankah kita sekarang sudah seperti keluarga sendiri? Bukankah begitu, Cien-ko?”

Yang Cien mengangguk dan tersenyum. “Benar apa yang di katakan oleh Sian-moi, Gun-twako...“

Pernyataan ini membuat wajah Yen Gun berseri gembira dan sedikit banyak dia sudah dapat menduga bahwa ada hubungan yang lebih mendalam antara adiknya dan pendekar sakti itu. “Ah, banyak terima kasih, Cien-te (adik Cien) atas kehormatan yang diberikan kepada kami. Sekarang kita akan kemana?”

“Tidak ada lain jalan, kita harus kembali. Aku bermaksud untuk menemui Gubernur Gak dan Coa-ciangkun, melihat bagaimana sikap mereka dalam menghadapi penangkapan Gubernur Yen di Lok-yang, sekalian memperkenalkan diri...“

“Cien-ko, biarkan aku ikut membantumu. Membantu perjuanganmu bagiku sama dengan membantu pelepasan ayah ibuku, karena mereka itu di tangkap demi perjuangan melawan pemerintah penjajah pula...“

“Baik, Sian-moi, engkau boleh ikut denganku agar Gubernur Gak percaya. Dan kuharap Gun-ko suka menyusul Akauw ke selatan, melakukan penyelidikan terhadap Kerajaan Sun. Nanti sehabis menemui Jendral Gak dan Coa-ciangkun, kamipun akan menyusul ke selatan...“

Yen Gun menyanggupi dan berangkatlah mereka ke selatan. Sejak saat itu, hubungan antara Yen Sian dan Yang Cien semakin akrab dan keduanya tidak syak lagi bahwa mereka saling mencinta. bagi Yang Cien, Yen Sian adalah seorang gadis yang bangsawan, gagah perkasa, berbudi dan juga berjiwa pahlawan sehingga pantas untuk menjadi kekasih dan pasangannya.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Kita tengok keadaan di Kerajaan Sun. Kerajaan ini berada di selatan dengan Sungai Huai, dan kota rajanya adalah Nan-king. Sebuah Kerajaan kecil, sisa dari kerajaan yang dulu dikalahkan oleh Kerajaan Wei di jaman Sam-kok Kerajaan Toba masih menggunakan nama Kerajaan Wei, walaupun sesungguhnya yang berkuasa adalah orang-orang bersuku Bangsa Toba, sebuah suku Bangsa Mongol yang besar.

Kerajaan Sun dipimpin oleh Sun Huang-te yang sudah berusia limapuluh tahun. Kerajaan ini kecil saja, namun cukup kuat dan telah mengerahkan pasukannya di perbatasan utara untuk membendung gerakan kerajaan Wei atau Toba yang hendak menundukkannya.

Musuh besar pasukan Sun Huang-te ini adalah pasukan yang di pimpin oleh Coa-ciangkun yang berada di sepanjang Sungai Huai. Coa-ciangkun dengan pasukannya itu selalu menyerang pasukan Sun di sepanjang perbatasan, akan tetapi mendadak saja Sun Huang-te menerima kontak dari Koksu Kerajaan Toba yang agaknya menawarkan perdamaian! Bahkan pasukan Coa-ciangkun, walaupun tidak di tarik mundur dari perbatasan, mulai menghentikan serangannya.

Sun Huang-te adalah seorang kaisar yang lemah pula. Pekerjaan sehari-hari hanya mengejar kesenangan pribadi, pelesir dan mengumpulkan selir yang cantik-cantik sebanyak mungkin. Bagian atau daerah selatan memang terkenal dengan wanita-wanitanya yang lembut dan cantik. Pengejaran kesenangan ini tentu saja membuat pemerintahannya menjadi lemah dan kekuasaan terjatuh ke tangan para thaikam dan para pejabat tinggi.

Terutama sekali Ouw-yang Koksu, dia boleh di bilang menjadi penguasa tertinggi karena urusan pemerintahan hampir sebagian besar berada di tangannya! Kaisar yang malas mengurus urusan Negara itu menyerahkannya kepada Ouw-yang Kok-su sehingga kekuasaan Koksu ini amat besar untuk Kerajaan Sun. Setelah mendapat kontak dari utusan Lui Koksu dari Kerajaan Wei atau Toba, kaisar segera mengundang Koksu Ouw-yang untuk berbicara tentang hal itu.

“Harap paduka tidak terkecoh oleh penawaran damai dari pihak mereka...“ kata Ouw-yang Koksu. “Kalau Kerajaan Wei mengajak damai, hal ini tentu dilakukan karena mereka melihat suatu keuntungan dari perdamaian itu. Apa keuntungannya bagi mereka kalau berdamai dengan kita? Sudah jelas, Yang Mulia. Kalau mereka berdamai dengan kita, mereka akan lebih mudah menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh selatan. Dan kalau semua kerajaan sudah di tundukkan, baru mereka akan menghantam kita kembali! Di lain pihak, apakah keuntungan kita? Kita tidak mempunyai keperluan ke utara, seperti mereka mempunyai keperluan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di barat dan selatan. Tidak, Sri Baginda, penawaran damai ini hanya merupakan jebakan belaka!” Demikian Ouw-yang Koksu memberi nasehatnya.

“Akan tetapi kalau kita menolak begitu saja, mereka tentu akan memperkuat pasukan di perbatasan dan menyerang kita. Bagaimanapun juga, kekuatan mereka lebih besar dibandingkan kekuatan kita...“

“Kita tidak menolak secara keras, juga tidak menerima, kita mengulur waktu sambil mencari siasat untuk mengatasi keadaan ini, Sri Baginda. Bahkan hamba mendengar bahwa pemerintahan Kerajaan Wei mulai ada bentrokan dengan para pejabat di Nam-kiang. Kalau keadaan ini dikembangkan, baik sekali untuk kita. Hamba mendengar bahwa Coa-ciangkun pemimpin pasukan di perbatasan enggan untuk menarik mundur pasukannya, juga Gubernur Gak condong untuk bersekutu dengan Coa-ciangkun. Agaknya para pejabat daerah itu mulai membangkang kepada perintah Kerajaan Wei yang sepenuhnya di pegang oleh Bangsa Toba itu...“

Sun Huang-te mengangguk-angguk. “Kalau begitu benar kata-katamu tadi. Kita mengulur waktu sambil melihat keadaan agar dapat bertindak sesuai dengan keadaan...“

Demikianlah, Kerajaan Sun di sebelah selatan Sungai Huai mulai mengatur siasat mereka. Di selatan dan barat memang banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang dulunya dikuasai oleh para gubernur yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri-sendiri setelah perang Sam-kok dan Kerajaan Wei keluar sebagai pemenang.

Namun, karena kemudian Kerajaan Wei di kuasai oleh Bangsa Toba, maka banyak pejabat memisahkan diri dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di daerah-daerah, menyusun pasukan sendiri untuk menjaga kedaulatan kerajaan kecilnya. Kerajaan Wei atau Toba menjadi semakin lemah dan tidak berdaya. Cina yang dulunya sudah di persatukan ketika jaman Kerajaan Chin, setelah perang Sam-kok menjadi terpecah belah menjadi ratusan atau puluhan Kerajaan kecil yang berdiri sendiri sendiri.

Pada suatu hari, di Nan-king muncul seorang pemuda. Dia adalah Can Kauw Cu, atau Akauw. Seperti telah kita ketahui, Akauw ini menerima tugas penting dari suhengnya, yaitu untuk menyelidiki keadaan di Negara atau Kerajaan Sun, bahkan membawa sepucuk surat dari Yang Cien sebagai bengcu dunia kangouw untuk diserahkan kepada kaisar Sun Huang te kalau saatnya tiba.

Kehadiran pemuda tinggi besar yang agak kehitaman namun nampak gagah perkasa itu tidak mendatangkan banyak perhatian. Akauw memasuki sebuah rumah makan dan memesan makanan dengan kata-kata pendek. Bagaimanapun juga, kalau dia terlalu banyak bicara, tentu logat bicaranya akan di ketahui orang bahwa dia datang dari utara, walaupun di situ terdapat pula tidak sedikit orang yang berasal dari utara.

Setelah makan minum, Akauw lalu keluar dari rumah makan dan pergi melihat-lihat. Dari jauh dia melihat serombongan pengemis sedang menuju ke sebuah pasar, tentu untuk minta sedekah. Para pengemis ini jelas dari satu kelompok karena memiliki kesamaan yaitu tongkat mereka. Tongkat itu pada ujungnya di pasangi besi dan dia sudah mendengar dari suhengnya bahwa di selatan terdapat sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal dengan nama Tiat-tung kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Besi). Agaknya mereka ini adalah para anggota Tiat-tung Kai-pang.

Maka, Akauw mempercepat langkahnya untuk mengejar. Akan tetapi, ternyata para pengemis yang jumlahnya sembilan orang itu tidak pergi ke pasar, melainkan menghampiri sebuah rumah penginapan. Mereka mendatangi pengurus rumah penginapan dan Akauw dapat mendengar seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pimpinan, orangnya tinggi kurus, berkata dengan suara keras.

“Cepat panggil keluar nona berpakaian hijau yang kemarin malam telah menghajar tiga orang kawan kami, atau kami akan mengobrak-abrik tempat ini!”

Nada suara nya mengancam dan pengurus rumah penginapan itu menjadi ketakutan. “Baik, baik, bersabarlah, akan kupanggilkan nona itu!”

Akauw pura-pura duduk agak menjauh dan melihat apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, pengurus itu ke luar lagi di ikuti seorang gadis yang membuat Akauw melonjak karena kaget. Ji Goat! Tak salah lagi. Ji Goat lah gadis yang baru muncul itu, dan karena perhatian Ji Goat tertuju kepada para pengemis, maka gadis itu pun tidak melihatnya.

Gadis itu memang Ji Goat. Dalam perantauannya untuk meluaskan pengalaman, ia telah menyeberangi sungai setelah meninggalkan Yang Cien dan memasuki daerah Kerajaan Sun sampai ke kota raja, yaitu Nan-king. Setelah berhari-hari berada di situ, pada suatu hari ia melihat tiga orang pengemis sedang berbuat kurang sopan terhadap dua orang wanita kakak beradik. Tiga orang pengemis itu minta-minta sambil meraba-raba tubuh orang.

Melihat ini Ji Goat menjadi marah dan menegur para pengemis. Akan tetapi tiga orang pengemis itu menjadi marah dan menyerangnya dengan tongkat besi mereka. Ji Goat tentu saja menjadi semakin berang dan ia menghajar mereka sehingga tiga orang pengemis muda kurang ajar itu lari tunggang langgang.

Itulah sebabnya pagi hari ini sembilan orang pengemis tongkat besi mendatangi rumah penginapan dimana Ji Goat bermalam. Tadi, pengurus rumah penginapan memberitahu bahwa datang banyak pengemis minta bertemu dengannya. Tahulah Ji Goat bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa kemarin, maka ia pun sudah siap siaga, keluar sambil membawa pedang di punggungnya. Dan benar saja, di luar rumah penginapan telah menanti sembilan orang pengemis yang wajahnya bengis, di pimpin oleh seorang pengemis jangkung kurus.

Tanpa ragu-ragu Ji Goat melangkah lebar menghampiri sembilan orang pengemis yang berada di halaman depan itu dan bertanyalah ia dengan suara lantang, “Kalian mencari aku...?” Suara pertanyaannya mengandung tantangan dan memang gadis itu seperti biasanya, pemberani.

Si jangkung lalu melangkah maju menghadapinya dengan alis berkerut. “Nona, kami mendengar laporan bahwa nona telah memukuli tiga orang anggota kami. Benarkah itu dan mengapa nona melakukan pemukulan...?”

“Ah, itukah? Memang benar. Aku melihat tiga orang pengemis muda berbuat kurang ajar kepada dua orang nona. Mereka itu minta sedekah dengan cara yang tidak wajar, tangan mereka meraba-raba dan mencolek-colek tubuh kedua orang nona itu. Hal ini membuat aku marah dan menegur tiga orang pemngemis muda itu. Eh, mereka tidak menerima kesalahan, malah mereka menyerangku. Siapa tidak menjadi marah? Maka aku lalu menghajarnya. Kalian ini tentu golongan lebih tua dan lebih tahu sopan santun. Mengapa tidak kalian tegur perbuatan saudara muda kalian itu...?”

Si jangkung mengerutkan alisnya. “Nona, untuk menyelesaikan urusan ini, nona di panggil oleh pimpinan kami. Marilah nona ikut bersama kami untuk menghadap pemimpin kami sehingga di sana akan di urus siapa yang bersalah dalam hal ini...“

“Hemmm, aku tidak bersalah. Mengapa aku harus menghadap pimpinan kalian? Kalau dia perlu denganku, dialah yang harus datang menemuiku di sini. Aku tidak mau menghadap dia!” kata Ji Goat yang bukan saja merasa tidak enak di panggil seperti itu, akan tetapi juga dara ini menganggap bahwa mendatangi sarang kaipang itu merupakan bahaya besar, berbeda kalau ia menemui pemimpinnya di tempat umum.

“Nona, pemimpin kami sudah memerintahkan demikian, dan nona tidak boleh menolak...“

“Hemmm, perintah itu untuk kalian. Untukku dia tidak berhak memerintah apapun. Aku tidak bersalah, sebaliknya anak buahnya yang bersalah, maka kalau dia hendak bicara denganku tentang urusan itu, sudah sepatutnya kalau dia yang datang mencariku ke sini, bukan aku yang menghadapnya...“

“Nona, engkau berani membantah kehendak pang-cu kami?” kini si jangkung menjadi marah dan sudah melintangkan tongkat besinya di depan dada.

“Kenapa tidak berani? Ia bukan pang-cu ku...“ bantah Ji Goat, nampak tenang dan sedikitpun tidak nampak takut.

“Kawan-kawan, kita tangkap gadis sombong ini!” si jangkung membentak marah.

Pada saat itu Akauw merasa bahwa sudah tiba saatnya dia harus campur karena kalau dibiarkan Ji Goat pasti akan menghadapi pengeroyokan. Bukan dia khawatir, karena gadis itu memiliki kepandaian tinggi pula, akan tetapi sungguh tidak enak kalau terjadi perkelahian di negeri orang!

“Tahan dulu…!” dia berteriak dan lari menghampiri.

“Akauw…!” Ji Goat berseru girang sekali melihat pemuda ini, girang dan juga heran karena sama sekali tidak mengira akan bertemu dengan pemuda itu di Negeri Sun.

“Ji Goat, tahan dulu, jangan berkelahi!” Akauw yang juga girang bertemu dengan gadis yang telah merebut cinta di hatinya itu. “Biar aku bicara dengan mereka...“

Sementara itu, si jangkung yang melihat Akauw yang tubuhnya tinggi besar, mengerutkan alisnya dan membentak, “Orang muda, harap engkau jangan mencari penyakit dan mencampuri urusan kami dengan gadis muda ini!”

“Sobat, gadis ini adalah seorang sahabatku, tidak mungkin aku tidak mencampuri. Akan tetapi aku mencampuri untuk mendamaikan. Ketahuilah, kami adalah sahabat-sahabat baik dari Hek I Kaipang di utara, maka dengan memandang para sahabat dari Hek I Kaipang, kami berdua mengharappengertian kalian dan tidak menganggap kami sebagai musuh...“

Si Jangkung nampak ragu ketika mendengar disebutnya Hek I Kaipang, perkumpulan pengemis terbesar di saat itu. “Akan tetapi, nona ini tidak mau menerima panggilan pang-cu kami untuk membicarakan urusan ia memukuli tiga orang anak buah kami...“

“Karena ia menaruh curiga kepada kalian. Akan tetapi dengan adanya aku di sini, biarlah kami berdua menghadap pang-cu kalian, karena kebetulan sekali akupun menerima pesan dari beng-cu kami untuk menghubungi kalian...“

“Beng-cu…?“ si jangkung semakin ragu. “Baiklah, mari kita pergi menghadap pang-cu...“

Ji Goat dan Akauw mengikuti mereka. Ji Goat berjalan di samping Akauw dan gadis itu sudah sibuk menghujaninya dengan pertanyaan kenapa Akauw berada di tempat itu.

“Aku merasa seperti mimpi bertemu dengan mu di tempat ini, Akauw ada apakah engkau ke sini dan kapan engkau tiba?”

“Baru beberapa hari yang lalu dan nanti saja ku ceritakan sejelasnya, Ji Goat. Akan tetapi aku sendiripun merasa seperti mimpi bertemu denganmu di sini. Sungguh pertemuan yang tidak di sangka-sangka namun amat membahagiakan hatiku...“ ucapan Akauw ini demikian bersungguh-sungguh sehingga Ji Goat tersenyum dan tersipu.

Mereka tiba di sarang Tiat-tung Kai-pang yang berada di perkampungan miskin. Mereka segera dihadapkan seorang pengemis berusia lima puluh tahun lebih yang tubuhnya kekar dan berotot, tidak pantas menjadi pengemis. Pengemis yang menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang ini memang seorang yang bertubuh kuat sekali, dan dia terkenal dengan permainan tongkatnya. Namanya Cai Kui dan sebutannya Cai-pangcu. Dia hidup seorang diri, tidak menikah dan sejak belasan tahun menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang dan di segani oleh semua anak buahnya. Pengemis jangkung setelah menghadap ketuanya lalu memberi laporan bahwa nona itulah yang kemarin telah menghajar tiga orang anak buah mereka.

“Dan siapakah orang muda ini? Mengapa dia turut datang?” Tanya Cai pang-cu dengan suaranya yang lantang.

“Menurut pengakuannya, dia sahabat gadis itu dan dia adalah sahabat dari Hek I Kaipang di utara, pangcu...“

Cai Pang-cu kini memandang kepada Ji Goat dan Akauw, matanya memandang penuh selidik. “Benarkah, orang muda engkau sahabat baik Hek I Kaipang?”

“Benar, pang-cu. Aku mengenal Cu Lokai, Song Lokai dan banyak pemimpin Hek I Kaipang yang lain. Juga aku adalah sute dari beng-cu kita yang baru...“

“Hemmm, beng-cu yang mana kau maksudkan?”

“Beng-cu Yang Cien, yang baru saja di pilih di Thai-san, tentu pangcu juga sudah mendengarnya...“

“Hemmm, kami tidak mengikuti pilihan itu, walaupun beritanya sampai ke sini. Siapakah namamu, orang muda? Dan siapakah pula nama nona ini?”

“Namaku Cian Kauw Cu, dan nona ini bernama Ji Goat. Kami sungguh tidak pernah mempunyai rasa permusuhan dengan para kai-pang...“

“Nona, engkau telah menghajar tiga orang anak buah kami dan engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak memusuhi kami? Kami adalah orang-orang miskin yang mengandalkan nafkah dari minta-minta sedekah, kenapa engkau begitu tega untuk memukuli tiga orang anggota kami...?”

“Pang-cu, aku tidak bersalah. Seyogyanya pang-cu menegur tiga orang pengemis muda itu. Mereka bukan mengemis, akan tetapi mereka berbuat kurang ajar terhadap dua orang nona. Mereka minta sedekah sambil meraba dan mencolek tubuh dua orang gadis itu, tentu saja aku lalu menegur mereka. Akan tetapi, tiga orang pengemis muda itu malah menyerangku, maka terpaksa ku hajar mereka. Apakah pang-cu hendak menyalahkan aku dalam urusan ini?” Ji Goat berkata dengan sikap menegur dan menantang.

Wajah pang-cu itu penuh kerut merut. “Panggil ketiga orang anggota kita itu ke sini!” bentaknya kepada si jangkung

Si Jangkung pergi dan tak lama lagi kembali dengan tiga orang pengemis muda yang nampak ketakutan.

“Hayo kalian katakan, apa benar kalian kemarin ketika minta sedekah, kalian meraba-raba dan mencolek-colek tubuh dua orang gadis? Hayo jawab yang benar!” bentak Cai pang-cu.

“Kalau perlu, aku dapat mengajak dua orang gadis itu ke sini menjadi saksi!” cepat Ji Goat yang cerdik berkata untuk menakuti tiga orang pengemis itu.

Tiga orang pengemis muda itu saling pandang dan seorang di antara mereka berkata, “maaf, pangcu, kami… kami hanya main-main saja…“

“Main-main dan mencolek-colek tubuh gadis-gadis itu?” bentak sang ketua.

“Ya… ya… ya… Tapi… hanya main-main…“

“Jahanam! Kalian melanggar pantangan kita. Hayo beri hukuman masing-masing dua puluh kali! Seret mereka keluar...!”

Tiga orang pengemis muda itu di seret keluar dan terdengarlah suara berdebuk ketika mereka di pukuli, di susul teriakan-teriakan kesakitan mereka.

Akauw mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Pang-cu telah bertindak tepat, tahu bahwa yang bersalah haruslah diberi hukuman agar lain kali tidak mengulang kembali kesalahannya. Kami mengucapkan terima kasih...“

“Nanti dulu, orang muda. Aku Cai Kui tidak suka melihat anak buah dihina orang luar. Nona ini sudah memperlihatkan kepandaiannya, maka setelah tiba di sini, kami ingin menguji apakah sudah sepatutnya kalau ia memberi hajaran kepada anak buah kami sebagai golongan yang lebih tinggi...“

“Akan tetapi, pangcu…“ kata Akauw.

“Akauw, biarlah kalau Cai Pang-cu hendak mengujiku. Jangan di kira bahwa aku takut menghadapi ujian itu...!” kata Ji Goat dengan suara menantang

“Kami tidak berniat bermusuhan. Apalagi karena kalian menyatakan menjadi sahabat dari Hek I Kaipang yang kami pandang tinggi. Akan tetapi sebelum menguji kalian, bagaimana kami dapat menghargai kalian...? Sebelum kita membicarakan hal-hal penting, lebih dulu kami harus berkenalan dengan ilmu kalian agar mata kami lebih terbuka lagi...“

Dia memberi isyarat kepada seorang yang usianya sekitar empat puluh tahun dan berkedudukan wakil ketua. Nama wakil ketua itu adalah Bi Tun Bo, seorang yang juga ahli memainkan tongkat besi dan dalam hal ilmu silat hanya kalah sedikit dibandingkan sang ketua.

“Tun Bo, engkau yang menguji kepada nona Ji Goat ini...!”

“Baik, pang-cu. Silahkan nona...“ kata Bi Tun Bo yang bertubuh sedang dan mukanya penuh brewok itu. Dia sudah melintangkan tongkat berujung besi di depan dadanya.

Ji Goat melihat tempat itu cukup luas untuk bertanding silat. Melihat cara pengemis itu memegang tongkat, tahulah ia bahwa lawan ini tentu memiliki ilmu tongkat yang cukup lihai, oleh karena itu iapun menghunus pedangnya, yaitu sepasang pedang pendek yang sarungnya menjadi satu. Nampak sinar berkilauan ketika sepasang pedang pendek di cabut.

“Aku sudah siap, silahkan...“ kata Ji Goat yang memasang kuda-kuda yang manis di depan Bi Tun Bo.

Pengemis ini segera menggerakkan tongkatnya, memainkan ilmu tongkat besinya dengan gerakan yang tangkas, cepat dan mengandung tenaga. Namun, gerakannya itu sama sekali tidak cepat bagi Ji Goat bahkan lamban sekali sehingga dengan mudah gadis ini dapat menghindarkan serangan pertama, lalu membalas dengan pedang pendeknya, yang melakukan gerakan menggunting dari kanan kiri.

Ji Goat adalah murid Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan ia sudah mempelajari ilmu pedang yang hebat dari Koksu itu, ialah Lo-hai Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Lautan). Maka begitu ia memainkan sepasang pedangnya dengan ilmu itu, Bi Tun Bo menjadi pening kepalanya. Dia hanya melihat dua gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar dan menggulungnya sehingga tongkatnya menjadi kacau gerakannya, dia hanya mampu memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya dari sambaran kedua pedang yang mengamuk bagaikan dua ekor naga bermain di angkasa itu. Jelas bahwa tingkat kepandaian wakil ketua Tiat-tung Kai-pang itu jauh berada di bawah tingkat Ji Goat.

Akan tetapi Ji Goat juga maklum bahwa mereka berada di daerah orang dan amat tidak baik kalau sampai mendatangkan perasaan dendam. Maka ia pun tidak terlalu mendesak dengan sepasang pedangnya, dan ketika mendapat kesempatan ia tidak mau melukai lawan dengan pedangnya, hanya mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan terhuyung kebelakang. Melihat lawan tertendang dan terhuyung, ia pun menahan sepasang pedangnya dan berdiri tegak, tidak mengejar.

Bi Tun Bo juga bukan seorang yang tidak tahu diri. Dia sudah sejak tadi maklum bahwa dia pun bukan lawan seimbang nona ini yang amat lihai. Bahkan dia mengerti pula bahwa lawannya sengaja tidak ingin melukai, maka diam-diam dia berterima kasih. Melihat nona itu tidak mengejar, Bi Yun Bo lalu melompat ke belakang, memberi hormat kepada Ji Goat sambil berkata,

“Ilmu pedang Ji-siocia memang hebat aku mengaku kalah...!”

“Ah, engkau terlalu mengalah“ kata Ji Goat sambil tersenyum.

Cai Pangcu mengangguk-angguk. “Dengan ilmu kepandaianmu itu nona, engkau memang pantas mewakili kami memberi hajaran kepada anak buah kami yang menyeleweng. Sekarang, kami ingin sekali mengenal ilmu silat dari saudara Cian Kauw Cu...“

“Silahkan, pangcu...“ kata Akauw dengan sikap sederhana namun tegak, dan diapun sudah siap.

Ketua Cai berdiri di depan pemuda itu. Ketua itu tubuhnya memang kokoh, akan tetapi berhadapan dengan Akauw dia kelihatan agak pendek. Kedua lengannya yang nampak itu begitu penuh otot yang melingkar-lingkar, nampak kuat sekali.

“Orang muda, karena engkau adalah tamu kami dan engkau datang dari Hek I Kaipang, maka marilah kita mengadu ilmu dengan tangan kosong saja. Sungguh tidak enak kalau kita menggunakan senjata kemudian di antara kita ada yang terluka. Tadi, wakilku tidak terluka hanya karena kebijaksanaan nona Ji saja. Mari kita bertanding mengadu kepandaian dan tenaga...“

Cian Kauw Cu maklum bahwa agaknya ketua kaipang ini hendak mengambil keuntungan dari tenaganya yang agaknya besar. Diam-diam dia pun girang karena tidak harus menggunakan Hek-liong Po-kiam yang tentu akan menarik perhatian sekali karena po-kiam-nya itu amat tajam dan ampuh.

“Baiklah, pangcu, aku sudah siap...“ katanya sambil berdiri tegak di depan ketua itu.

“Orang muda, lihat seranganku...!” Tiba-tiba Cai Kui membentak dan dia sudah melompat ke dapan dan menghantamkan tangannya yang kokoh kuat itu kearah dada Akauw.

Akauw mengelak dengan mudah, akan tetapi tangan yang luput memukul itu lalu menggunakan gerakan mencengkram untuk menangkap lengan Akauw. Kembali Akauw mengelak dari cengkraman sambil menggeser kakinya ke belakang. Cai Pang-cu mendesak dengan mengayun kakinya menendang kearah pusar. Sekali ini Akauw menangkis dengan tangannya.

“Duukkk...!” kaki itu terpental akan tetapi Akauw merasa betapa tangannya pun tergetar. Tahulah dia bahwa tenaga tendangan lawan cukup kuat akan tetapi tidaklah terlalu kuat baginya. Ketika Cai Pangcu memukul lagi, kembali dia mengerahkan tenaganya menangkis. Dan sekali ini pertemuan kedua lengan membuat Cai Pangcu menyerengai kesakitan dan cepat melompat ke belakang, memutar tubuh dan dengan gerakan memutar itu kakinya terayun cepat sekali menuju kearah dada Akauw.

Akauw mengelak lagi dan kini mulai membalas dan terjadilah pertandingan tangan kosong yang seru. Saling serang, saling elak, dan kadang mereka beradu lengan, sehingga beberapa kali tubuh mereka tergetar saking kerasnya lengan atau kaki beradu. Setelah lewat tiga puluh jurus, Cai Kui mulai terengah dan kedua tangan dan kakinya terasa nyeri-nyeri. Dan ketika Akauw mempercepat gerakannya, dia pun terdesak hebat, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, sama sekali tidak mampu lagi balas menyerang.

Suatu saat, Akauw yang sudah menguasai pertandingan itu, melompat-lompat dengan cekatan sekali seperti monyet dan Cai Kui menjadi bingung karena beberapa kali dia kehilangan lawan dan tahu-tahu lawan itu sudah berada di belakangnya sambil menepuk punggungnya. Kalau Akauw mau tentu saja tepukan itu dapat di ubah menjadi hantaman yang tentu akan membuatnya roboh. Setelah beberapa kali di sentuh seperti itu, akhirnya Cai Pang-cu melompat ke belakang dan tubuhnya basah oleh keringat.

“Cian-taihiap sungguh hebat, aku mengaku kalah...!” katanya tanpa malu lagi. Memang dia tahu bahwa dia kalah jauh.

“Pang-cu yang terlalu mengalah...“ kata Akauw dengan hati girang karena dia tahu bahwa dia dan Ji Goat telah dapat menundukkan hati orang-orang Tiat-tung Kai-pang ini.

Mereka lalu di jamu. Biarpun hanya perkumpulan pengemis, akan tetapi ketuanya dapat menjamu dengan hidangan yang lumayan, di belikan dari rumah makan terbesar. Dalam makan bersama inilah, para pimpinan kai-pang itu mengadakan pembicaraan dengan Akauw dan Ji Goat. Karena Ji Goat dalam perjalanannya ke Kerajaan Sun hanya untuk berpetualang, maka ia lebih banyak diam dan menyerahkan percakapan kepada Akauw yang membawa tugas dari yang-Cien...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 23

AKAN tetapi, baru dua hari mereka melakukan perjalanan, mereka sudah menghadapi ancaman bahaya. Pada suatu pagi selagi mereka berjalan mendaki lereng sebuah bukit, tiba-tiba saja di sebuah tikungan muncul belasan orang dan mereka tidak sempat lagi menghindar. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa mereka adalah sepasukan perajurit pemerintah yang di pimpin oleh seorang panglima muda dan seorang wanita cantik.

Panglima itu adalah Lai Seng bersama isterinya, Bong Kwi Hwa. Betapa girang hati Lai Seng ketika melihat bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang pelarian, putera dan puteri Gubernur Yen. Dia sendiri tidak segera mengenal mereka, akan tetapi seorang pembantunya mengenal kedua orang muda itu dengan baik.

“Lai-ciangkun, merekalah kong-cu dan sio-cia Yen, putera-puteri Gubernur Yen yang di cari-cari...“

“Bagus, kita tangkap mereka!”

Isterinya yang melihat betapa tampannya Yen Gun, segera berbisik kepada suaminya, “Yang laki-laki untuk aku dan yang wanita untukmu, malam ini kita bersenang-senang...“

Lai Seng mengerti apa yang di kehendaki isterinya yang cabul itu. Dia mengerutkan alisnya. “Jangan main-main, isteriku. Mereka adalah orang-orang penting dan kalau kita berhasil menangkapnya, hidup atau mati, kita akan mendapatkan pahala besar dari Sri Baginda!”

Bong Kwi Hwa agak cemberut mendengar penolakan ini, akan tetapi ia tidak lagi membantah. Yen Gun dan Yen Sian tidak sempat menyingkir lagi dan terpaksa mereka menghadapi Lai Seng dan anak buahnya.

“Dua saudara Yen, kalian memang kami cari-cari, hayo menyerah menjadi tawanan kami sebelum kami menggunakan kekerasan...!“ kata Lai Seng sambil mencabut pedangnya.

Yen Gun dan Yen Sian juga mencabut pedang mereka. “Sebelum mati pantang menyerah!” bentak mereka dan keduanya sudah menerjang kearah Lai Seng dan Bong Kwi Hwa.

Mereka berdua segera di kepung dan di keroyok. Terjadi lah perkelahian yang seru. Sebetulnya, tingkat kepandaian kakak beradik Yen itu sudah cukup tinggi dan seimbang dengan kepandaian Lai Seng maupun Bong Kwi Hwa, akan tetapi karena Lai Seng dibantu oleh tujuh belas orang anak buahnya, maka dua orang kakak beradik itu menjadi terdesak hebat. Mereka berdua memainkan ilmu pedang Gobi-pai yang indah dan cepat gerakannya. Akan tetapi karena suling perak Lai Seng amat lihai, di tambah lagi permainan pedang Bong Kwi Hwa yang berbahaya sekali dengan Kwi-kiam-sut (Pedang Setan) maka kedua orang kakak beradik itu mulai terdesak dan mereka terus mundur.

Bong Kwi Hwa yang tidak diperbolehkan mempermainkan Yen Gun menjadi marah dan ialah yang mendesak pemuda itu, sedangkan Lai Seng mendesak Yn Sian, di bantu oleh anak buahnya. Yen Sian, mempertahankan diri dengan memutar pedangnya, akan tetapi pada suatu saat, setelah ia bertahan lebih dari lima puluh jurus, suling perak itu menghantam pundaknya dan tubuh gadis itu terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Lai Seng untuk menendang dan robohlah Yen Sian!

Melihat ini, Yen Gun mengamuk untuk melindungi adiknya yang sudah roboh. Akan tetapi dia sendiri di serang habis-habisan oleh wanita cantik itu sehingga dia tidak berdaya untuk melindungi Yen Sian. Pada saat yang amat berbahaya bagi kedua orang kakak beradik itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking dan nampak gulungan sinar putih yang datang menyambar-nyambar. Lai Seng dan Bong Kwi Hwa yang menangkis dengan pedang mereka terdorong mundur ke belakang. Mereka terkejut dan melihat bahwa yang muncul adalah Yang Cien, pemuda yang di pilih menjadi beng-cu oleh kaum pemberontak itu!

Yang Cien cepat memanggul tubuh Yen Sian yang pingsan dan berkata kepada Yen Gun, “Yen-kongcu, pergilah!”

Yen Gun tahu diri. Pihak lawan terlalu banyak, maka diapun melompat pergi dari situ. Yang Cien yang memanggul tubuh Yen Sian mengikuti dari belakang dan tidak ada yang berani mengejarnya. Lai Seng dan juga Bong Kwi Hwa maklum bahwa mereka berdua bukan tandingan bengcu itu yang sudah pernah mengalahkan ayah Bong Kwi Hwa, yaitu Sin-to Kwi-ong. Apalagi di samping pemuda perkasa itu masih ada Yen Gun yang tidak boleh di pandang ringan.

Karena itu, biarpun dengan hati mendongkol sekali, Lai Seng dan isterinya tidak berani melakukan pengejaran dan terpaksa membiarkan Yang Cien membawa pergi gadis yang sudah terluka itu. Dua orang penting, putera dan puteri Gubernur Yen dari Lok-yang tidak dapat di tangkap.

Sementara itu dengan cepat Yang Cien mengajak Yen Gun mencari tempat sunyi di dalam sebuah hutan. Setelah mendapatkan sebuah kuil kosong, dia membawa masuk tubuh Yen Sian yang masih lemah ke dalamnya, lalu dia menyuruh Yen Gun untuk berjaga di depan kuil dan dia sendiri lalu mengobati luka di pundak Yen Sian. Untuk itu, perlu dikerahkan sin-kang karena luka oleh suling perak itu mengandung racun. Dia menurunkan Yen Sian rebah menelungkup.

Kedua tangannya lalu di letakkan di punggung dan pundak, dan dengan pengerahan sin-kangnya, dia mendorong keluar hawa beracun dari pundak yang terkena pukulan suling itu. Akhirnya luka itu dapat disembuhkan, hanya tubuh Yen Sian masih lemah dan ia menangis sesunggukan setelah sembuh kembali. Yang Cien menghiburnya.

“Untung engkau dan kakakmu tidak tertawan, nona...“

“Akan tetapi kami gagal…“ Gadis itu menangis. “Bahkan kami hampir celaka. Kalau tidak engkau yang menolong, taihiap… kami juga menjadi tawanan. Ah, sampai kapan aku akan dapat menolong ayah ibu...?”

“Nona, hal itu jangan di pikirkan dulu. Tidak mungkin menyelidiki ke sana membebaskan tawanan. Sama saja dengan membunuh diri. Di Lok-yang, selama tidak ada gerakan pemberontakan, maka semua tuduhan atas diri ayahmu belum terbukti, maka kurasa Kaisar juga tidak akan menjatuhkan hukuman. Aku juga sudah memerintahkan semua saudara kang-ouw di daerah Lok-yang agar jangan memperlihatkan gerakan apapun. Kita perlu menyusun kekuatan lebih dulu sebelum bergerak. Nona, perjuangan memang menghendaki pengorbanan. Percayalah, pengorbanan keluarga nona tidak akan sia-sia. Ayah nona adalah seorang pahlawan besar bagi perjuangan bangsa kita. Kerajaan Wei yang sesungguhnya adalah Kerajaan Bangsa Toba dan Mongol itu, satu waktu pasti akan dapat kita hancurkan...!” Yang Cien mengepal tinju penuh semangat.

“Tapi, melihat ayah dan ibu menderita di penjara dan aku sebagai anaknya tidak berdaya menolong mereka, sungguh merupakan siksaan batin yang hebat, taihiap…“ Gadis itu menangis lagi.

Yang Cien merasa kasihan sekali. Bayangkan saja, seorang gadis puteri gubernur yang biasanya hidup mewah, terhormat, kini tiba-tiba di tinggalkan semua itu, bahkan di tinggalkan ayah ibu dan seluruh keluarga yang menjadi orang tahanan yang sewaktu-waktu nyawanya terancam bahaya maut. Betapa tidak hancur hatinya.

“Nona“ ia menyentuh pundak gadis itu dengan hati yang terharu. “Besarkan hatimu, tabahkan hatimu, ini semua nasib dan kita harus mengubah nasib itu dengan perjuangan...“

Yen Sian yang merasa betapa hatinya hancur itu terisak-isak dan entah bagaimana ia sudah jatuh ke dalam rangkulan Yang Cien. Pemuda ini merasa iba sekali dan Yen Sian merasa mendapatkan tempat berlindung dan tempat menyandarkan diri.

“Sian-moi, jangan bersedih, jangan menangis…“ Yang Cien tiba-tiba menyebutnya adik, tidak dapat menyebut nona lagi.

“Cien-ko… bantulah… bantulah aku agar aku dapat menahan semua ini…“

Yen Sian menangis sambil bersandar ke dada pemuda itu. Dalam keadaan seperti itu, keduanya seperti membuka rahasia hati mereka bahwa mereka itu saling mencinta, cinta yang mungkin dinyalakan melalui rasa iba di satu pihak dan terima kasih di lian pihak. Jalan menuju cinta memang berliku-liku. Dari rasa iba yang mendalam dapat saja timbul cinta. Dari budi kebaikan juga dapat timbul rasa cinta. Setelah kedukaannya mereda, mereka lalu keluar dari dalam kuil dan Yen Gun merasa lega melihat adiknya tidak apa-apa.

“Syukurlah kalau adikku sudah tidak apa-apa, lukanya sudah sembuh. Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Yang-taihiap, kalau tidak ada taihiap datang menolong, tentu kami berdua sudah tertangkap musuh...“ katanya.

“Koko, sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk bersungkan-sungkan dan menyebut taihiap kepada Cien-ko. Bukankah kita sekarang sudah seperti keluarga sendiri? Bukankah begitu, Cien-ko?”

Yang Cien mengangguk dan tersenyum. “Benar apa yang di katakan oleh Sian-moi, Gun-twako...“

Pernyataan ini membuat wajah Yen Gun berseri gembira dan sedikit banyak dia sudah dapat menduga bahwa ada hubungan yang lebih mendalam antara adiknya dan pendekar sakti itu. “Ah, banyak terima kasih, Cien-te (adik Cien) atas kehormatan yang diberikan kepada kami. Sekarang kita akan kemana?”

“Tidak ada lain jalan, kita harus kembali. Aku bermaksud untuk menemui Gubernur Gak dan Coa-ciangkun, melihat bagaimana sikap mereka dalam menghadapi penangkapan Gubernur Yen di Lok-yang, sekalian memperkenalkan diri...“

“Cien-ko, biarkan aku ikut membantumu. Membantu perjuanganmu bagiku sama dengan membantu pelepasan ayah ibuku, karena mereka itu di tangkap demi perjuangan melawan pemerintah penjajah pula...“

“Baik, Sian-moi, engkau boleh ikut denganku agar Gubernur Gak percaya. Dan kuharap Gun-ko suka menyusul Akauw ke selatan, melakukan penyelidikan terhadap Kerajaan Sun. Nanti sehabis menemui Jendral Gak dan Coa-ciangkun, kamipun akan menyusul ke selatan...“

Yen Gun menyanggupi dan berangkatlah mereka ke selatan. Sejak saat itu, hubungan antara Yen Sian dan Yang Cien semakin akrab dan keduanya tidak syak lagi bahwa mereka saling mencinta. bagi Yang Cien, Yen Sian adalah seorang gadis yang bangsawan, gagah perkasa, berbudi dan juga berjiwa pahlawan sehingga pantas untuk menjadi kekasih dan pasangannya.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Kita tengok keadaan di Kerajaan Sun. Kerajaan ini berada di selatan dengan Sungai Huai, dan kota rajanya adalah Nan-king. Sebuah Kerajaan kecil, sisa dari kerajaan yang dulu dikalahkan oleh Kerajaan Wei di jaman Sam-kok Kerajaan Toba masih menggunakan nama Kerajaan Wei, walaupun sesungguhnya yang berkuasa adalah orang-orang bersuku Bangsa Toba, sebuah suku Bangsa Mongol yang besar.

Kerajaan Sun dipimpin oleh Sun Huang-te yang sudah berusia limapuluh tahun. Kerajaan ini kecil saja, namun cukup kuat dan telah mengerahkan pasukannya di perbatasan utara untuk membendung gerakan kerajaan Wei atau Toba yang hendak menundukkannya.

Musuh besar pasukan Sun Huang-te ini adalah pasukan yang di pimpin oleh Coa-ciangkun yang berada di sepanjang Sungai Huai. Coa-ciangkun dengan pasukannya itu selalu menyerang pasukan Sun di sepanjang perbatasan, akan tetapi mendadak saja Sun Huang-te menerima kontak dari Koksu Kerajaan Toba yang agaknya menawarkan perdamaian! Bahkan pasukan Coa-ciangkun, walaupun tidak di tarik mundur dari perbatasan, mulai menghentikan serangannya.

Sun Huang-te adalah seorang kaisar yang lemah pula. Pekerjaan sehari-hari hanya mengejar kesenangan pribadi, pelesir dan mengumpulkan selir yang cantik-cantik sebanyak mungkin. Bagian atau daerah selatan memang terkenal dengan wanita-wanitanya yang lembut dan cantik. Pengejaran kesenangan ini tentu saja membuat pemerintahannya menjadi lemah dan kekuasaan terjatuh ke tangan para thaikam dan para pejabat tinggi.

Terutama sekali Ouw-yang Koksu, dia boleh di bilang menjadi penguasa tertinggi karena urusan pemerintahan hampir sebagian besar berada di tangannya! Kaisar yang malas mengurus urusan Negara itu menyerahkannya kepada Ouw-yang Kok-su sehingga kekuasaan Koksu ini amat besar untuk Kerajaan Sun. Setelah mendapat kontak dari utusan Lui Koksu dari Kerajaan Wei atau Toba, kaisar segera mengundang Koksu Ouw-yang untuk berbicara tentang hal itu.

“Harap paduka tidak terkecoh oleh penawaran damai dari pihak mereka...“ kata Ouw-yang Koksu. “Kalau Kerajaan Wei mengajak damai, hal ini tentu dilakukan karena mereka melihat suatu keuntungan dari perdamaian itu. Apa keuntungannya bagi mereka kalau berdamai dengan kita? Sudah jelas, Yang Mulia. Kalau mereka berdamai dengan kita, mereka akan lebih mudah menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh selatan. Dan kalau semua kerajaan sudah di tundukkan, baru mereka akan menghantam kita kembali! Di lain pihak, apakah keuntungan kita? Kita tidak mempunyai keperluan ke utara, seperti mereka mempunyai keperluan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di barat dan selatan. Tidak, Sri Baginda, penawaran damai ini hanya merupakan jebakan belaka!” Demikian Ouw-yang Koksu memberi nasehatnya.

“Akan tetapi kalau kita menolak begitu saja, mereka tentu akan memperkuat pasukan di perbatasan dan menyerang kita. Bagaimanapun juga, kekuatan mereka lebih besar dibandingkan kekuatan kita...“

“Kita tidak menolak secara keras, juga tidak menerima, kita mengulur waktu sambil mencari siasat untuk mengatasi keadaan ini, Sri Baginda. Bahkan hamba mendengar bahwa pemerintahan Kerajaan Wei mulai ada bentrokan dengan para pejabat di Nam-kiang. Kalau keadaan ini dikembangkan, baik sekali untuk kita. Hamba mendengar bahwa Coa-ciangkun pemimpin pasukan di perbatasan enggan untuk menarik mundur pasukannya, juga Gubernur Gak condong untuk bersekutu dengan Coa-ciangkun. Agaknya para pejabat daerah itu mulai membangkang kepada perintah Kerajaan Wei yang sepenuhnya di pegang oleh Bangsa Toba itu...“

Sun Huang-te mengangguk-angguk. “Kalau begitu benar kata-katamu tadi. Kita mengulur waktu sambil melihat keadaan agar dapat bertindak sesuai dengan keadaan...“

Demikianlah, Kerajaan Sun di sebelah selatan Sungai Huai mulai mengatur siasat mereka. Di selatan dan barat memang banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang dulunya dikuasai oleh para gubernur yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri-sendiri setelah perang Sam-kok dan Kerajaan Wei keluar sebagai pemenang.

Namun, karena kemudian Kerajaan Wei di kuasai oleh Bangsa Toba, maka banyak pejabat memisahkan diri dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di daerah-daerah, menyusun pasukan sendiri untuk menjaga kedaulatan kerajaan kecilnya. Kerajaan Wei atau Toba menjadi semakin lemah dan tidak berdaya. Cina yang dulunya sudah di persatukan ketika jaman Kerajaan Chin, setelah perang Sam-kok menjadi terpecah belah menjadi ratusan atau puluhan Kerajaan kecil yang berdiri sendiri sendiri.

Pada suatu hari, di Nan-king muncul seorang pemuda. Dia adalah Can Kauw Cu, atau Akauw. Seperti telah kita ketahui, Akauw ini menerima tugas penting dari suhengnya, yaitu untuk menyelidiki keadaan di Negara atau Kerajaan Sun, bahkan membawa sepucuk surat dari Yang Cien sebagai bengcu dunia kangouw untuk diserahkan kepada kaisar Sun Huang te kalau saatnya tiba.

Kehadiran pemuda tinggi besar yang agak kehitaman namun nampak gagah perkasa itu tidak mendatangkan banyak perhatian. Akauw memasuki sebuah rumah makan dan memesan makanan dengan kata-kata pendek. Bagaimanapun juga, kalau dia terlalu banyak bicara, tentu logat bicaranya akan di ketahui orang bahwa dia datang dari utara, walaupun di situ terdapat pula tidak sedikit orang yang berasal dari utara.

Setelah makan minum, Akauw lalu keluar dari rumah makan dan pergi melihat-lihat. Dari jauh dia melihat serombongan pengemis sedang menuju ke sebuah pasar, tentu untuk minta sedekah. Para pengemis ini jelas dari satu kelompok karena memiliki kesamaan yaitu tongkat mereka. Tongkat itu pada ujungnya di pasangi besi dan dia sudah mendengar dari suhengnya bahwa di selatan terdapat sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal dengan nama Tiat-tung kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Besi). Agaknya mereka ini adalah para anggota Tiat-tung Kai-pang.

Maka, Akauw mempercepat langkahnya untuk mengejar. Akan tetapi, ternyata para pengemis yang jumlahnya sembilan orang itu tidak pergi ke pasar, melainkan menghampiri sebuah rumah penginapan. Mereka mendatangi pengurus rumah penginapan dan Akauw dapat mendengar seorang di antara mereka yang agaknya menjadi pimpinan, orangnya tinggi kurus, berkata dengan suara keras.

“Cepat panggil keluar nona berpakaian hijau yang kemarin malam telah menghajar tiga orang kawan kami, atau kami akan mengobrak-abrik tempat ini!”

Nada suara nya mengancam dan pengurus rumah penginapan itu menjadi ketakutan. “Baik, baik, bersabarlah, akan kupanggilkan nona itu!”

Akauw pura-pura duduk agak menjauh dan melihat apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, pengurus itu ke luar lagi di ikuti seorang gadis yang membuat Akauw melonjak karena kaget. Ji Goat! Tak salah lagi. Ji Goat lah gadis yang baru muncul itu, dan karena perhatian Ji Goat tertuju kepada para pengemis, maka gadis itu pun tidak melihatnya.

Gadis itu memang Ji Goat. Dalam perantauannya untuk meluaskan pengalaman, ia telah menyeberangi sungai setelah meninggalkan Yang Cien dan memasuki daerah Kerajaan Sun sampai ke kota raja, yaitu Nan-king. Setelah berhari-hari berada di situ, pada suatu hari ia melihat tiga orang pengemis sedang berbuat kurang sopan terhadap dua orang wanita kakak beradik. Tiga orang pengemis itu minta-minta sambil meraba-raba tubuh orang.

Melihat ini Ji Goat menjadi marah dan menegur para pengemis. Akan tetapi tiga orang pengemis itu menjadi marah dan menyerangnya dengan tongkat besi mereka. Ji Goat tentu saja menjadi semakin berang dan ia menghajar mereka sehingga tiga orang pengemis muda kurang ajar itu lari tunggang langgang.

Itulah sebabnya pagi hari ini sembilan orang pengemis tongkat besi mendatangi rumah penginapan dimana Ji Goat bermalam. Tadi, pengurus rumah penginapan memberitahu bahwa datang banyak pengemis minta bertemu dengannya. Tahulah Ji Goat bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa kemarin, maka ia pun sudah siap siaga, keluar sambil membawa pedang di punggungnya. Dan benar saja, di luar rumah penginapan telah menanti sembilan orang pengemis yang wajahnya bengis, di pimpin oleh seorang pengemis jangkung kurus.

Tanpa ragu-ragu Ji Goat melangkah lebar menghampiri sembilan orang pengemis yang berada di halaman depan itu dan bertanyalah ia dengan suara lantang, “Kalian mencari aku...?” Suara pertanyaannya mengandung tantangan dan memang gadis itu seperti biasanya, pemberani.

Si jangkung lalu melangkah maju menghadapinya dengan alis berkerut. “Nona, kami mendengar laporan bahwa nona telah memukuli tiga orang anggota kami. Benarkah itu dan mengapa nona melakukan pemukulan...?”

“Ah, itukah? Memang benar. Aku melihat tiga orang pengemis muda berbuat kurang ajar kepada dua orang nona. Mereka itu minta sedekah dengan cara yang tidak wajar, tangan mereka meraba-raba dan mencolek-colek tubuh kedua orang nona itu. Hal ini membuat aku marah dan menegur tiga orang pemngemis muda itu. Eh, mereka tidak menerima kesalahan, malah mereka menyerangku. Siapa tidak menjadi marah? Maka aku lalu menghajarnya. Kalian ini tentu golongan lebih tua dan lebih tahu sopan santun. Mengapa tidak kalian tegur perbuatan saudara muda kalian itu...?”

Si jangkung mengerutkan alisnya. “Nona, untuk menyelesaikan urusan ini, nona di panggil oleh pimpinan kami. Marilah nona ikut bersama kami untuk menghadap pemimpin kami sehingga di sana akan di urus siapa yang bersalah dalam hal ini...“

“Hemmm, aku tidak bersalah. Mengapa aku harus menghadap pimpinan kalian? Kalau dia perlu denganku, dialah yang harus datang menemuiku di sini. Aku tidak mau menghadap dia!” kata Ji Goat yang bukan saja merasa tidak enak di panggil seperti itu, akan tetapi juga dara ini menganggap bahwa mendatangi sarang kaipang itu merupakan bahaya besar, berbeda kalau ia menemui pemimpinnya di tempat umum.

“Nona, pemimpin kami sudah memerintahkan demikian, dan nona tidak boleh menolak...“

“Hemmm, perintah itu untuk kalian. Untukku dia tidak berhak memerintah apapun. Aku tidak bersalah, sebaliknya anak buahnya yang bersalah, maka kalau dia hendak bicara denganku tentang urusan itu, sudah sepatutnya kalau dia yang datang mencariku ke sini, bukan aku yang menghadapnya...“

“Nona, engkau berani membantah kehendak pang-cu kami?” kini si jangkung menjadi marah dan sudah melintangkan tongkat besinya di depan dada.

“Kenapa tidak berani? Ia bukan pang-cu ku...“ bantah Ji Goat, nampak tenang dan sedikitpun tidak nampak takut.

“Kawan-kawan, kita tangkap gadis sombong ini!” si jangkung membentak marah.

Pada saat itu Akauw merasa bahwa sudah tiba saatnya dia harus campur karena kalau dibiarkan Ji Goat pasti akan menghadapi pengeroyokan. Bukan dia khawatir, karena gadis itu memiliki kepandaian tinggi pula, akan tetapi sungguh tidak enak kalau terjadi perkelahian di negeri orang!

“Tahan dulu…!” dia berteriak dan lari menghampiri.

“Akauw…!” Ji Goat berseru girang sekali melihat pemuda ini, girang dan juga heran karena sama sekali tidak mengira akan bertemu dengan pemuda itu di Negeri Sun.

“Ji Goat, tahan dulu, jangan berkelahi!” Akauw yang juga girang bertemu dengan gadis yang telah merebut cinta di hatinya itu. “Biar aku bicara dengan mereka...“

Sementara itu, si jangkung yang melihat Akauw yang tubuhnya tinggi besar, mengerutkan alisnya dan membentak, “Orang muda, harap engkau jangan mencari penyakit dan mencampuri urusan kami dengan gadis muda ini!”

“Sobat, gadis ini adalah seorang sahabatku, tidak mungkin aku tidak mencampuri. Akan tetapi aku mencampuri untuk mendamaikan. Ketahuilah, kami adalah sahabat-sahabat baik dari Hek I Kaipang di utara, maka dengan memandang para sahabat dari Hek I Kaipang, kami berdua mengharappengertian kalian dan tidak menganggap kami sebagai musuh...“

Si Jangkung nampak ragu ketika mendengar disebutnya Hek I Kaipang, perkumpulan pengemis terbesar di saat itu. “Akan tetapi, nona ini tidak mau menerima panggilan pang-cu kami untuk membicarakan urusan ia memukuli tiga orang anak buah kami...“

“Karena ia menaruh curiga kepada kalian. Akan tetapi dengan adanya aku di sini, biarlah kami berdua menghadap pang-cu kalian, karena kebetulan sekali akupun menerima pesan dari beng-cu kami untuk menghubungi kalian...“

“Beng-cu…?“ si jangkung semakin ragu. “Baiklah, mari kita pergi menghadap pang-cu...“

Ji Goat dan Akauw mengikuti mereka. Ji Goat berjalan di samping Akauw dan gadis itu sudah sibuk menghujaninya dengan pertanyaan kenapa Akauw berada di tempat itu.

“Aku merasa seperti mimpi bertemu dengan mu di tempat ini, Akauw ada apakah engkau ke sini dan kapan engkau tiba?”

“Baru beberapa hari yang lalu dan nanti saja ku ceritakan sejelasnya, Ji Goat. Akan tetapi aku sendiripun merasa seperti mimpi bertemu denganmu di sini. Sungguh pertemuan yang tidak di sangka-sangka namun amat membahagiakan hatiku...“ ucapan Akauw ini demikian bersungguh-sungguh sehingga Ji Goat tersenyum dan tersipu.

Mereka tiba di sarang Tiat-tung Kai-pang yang berada di perkampungan miskin. Mereka segera dihadapkan seorang pengemis berusia lima puluh tahun lebih yang tubuhnya kekar dan berotot, tidak pantas menjadi pengemis. Pengemis yang menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang ini memang seorang yang bertubuh kuat sekali, dan dia terkenal dengan permainan tongkatnya. Namanya Cai Kui dan sebutannya Cai-pangcu. Dia hidup seorang diri, tidak menikah dan sejak belasan tahun menjadi ketua Tiat-tung Kai-pang dan di segani oleh semua anak buahnya. Pengemis jangkung setelah menghadap ketuanya lalu memberi laporan bahwa nona itulah yang kemarin telah menghajar tiga orang anak buah mereka.

“Dan siapakah orang muda ini? Mengapa dia turut datang?” Tanya Cai pang-cu dengan suaranya yang lantang.

“Menurut pengakuannya, dia sahabat gadis itu dan dia adalah sahabat dari Hek I Kaipang di utara, pangcu...“

Cai Pang-cu kini memandang kepada Ji Goat dan Akauw, matanya memandang penuh selidik. “Benarkah, orang muda engkau sahabat baik Hek I Kaipang?”

“Benar, pang-cu. Aku mengenal Cu Lokai, Song Lokai dan banyak pemimpin Hek I Kaipang yang lain. Juga aku adalah sute dari beng-cu kita yang baru...“

“Hemmm, beng-cu yang mana kau maksudkan?”

“Beng-cu Yang Cien, yang baru saja di pilih di Thai-san, tentu pangcu juga sudah mendengarnya...“

“Hemmm, kami tidak mengikuti pilihan itu, walaupun beritanya sampai ke sini. Siapakah namamu, orang muda? Dan siapakah pula nama nona ini?”

“Namaku Cian Kauw Cu, dan nona ini bernama Ji Goat. Kami sungguh tidak pernah mempunyai rasa permusuhan dengan para kai-pang...“

“Nona, engkau telah menghajar tiga orang anak buah kami dan engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak memusuhi kami? Kami adalah orang-orang miskin yang mengandalkan nafkah dari minta-minta sedekah, kenapa engkau begitu tega untuk memukuli tiga orang anggota kami...?”

“Pang-cu, aku tidak bersalah. Seyogyanya pang-cu menegur tiga orang pengemis muda itu. Mereka bukan mengemis, akan tetapi mereka berbuat kurang ajar terhadap dua orang nona. Mereka minta sedekah sambil meraba dan mencolek tubuh dua orang gadis itu, tentu saja aku lalu menegur mereka. Akan tetapi, tiga orang pengemis muda itu malah menyerangku, maka terpaksa ku hajar mereka. Apakah pang-cu hendak menyalahkan aku dalam urusan ini?” Ji Goat berkata dengan sikap menegur dan menantang.

Wajah pang-cu itu penuh kerut merut. “Panggil ketiga orang anggota kita itu ke sini!” bentaknya kepada si jangkung

Si Jangkung pergi dan tak lama lagi kembali dengan tiga orang pengemis muda yang nampak ketakutan.

“Hayo kalian katakan, apa benar kalian kemarin ketika minta sedekah, kalian meraba-raba dan mencolek-colek tubuh dua orang gadis? Hayo jawab yang benar!” bentak Cai pang-cu.

“Kalau perlu, aku dapat mengajak dua orang gadis itu ke sini menjadi saksi!” cepat Ji Goat yang cerdik berkata untuk menakuti tiga orang pengemis itu.

Tiga orang pengemis muda itu saling pandang dan seorang di antara mereka berkata, “maaf, pangcu, kami… kami hanya main-main saja…“

“Main-main dan mencolek-colek tubuh gadis-gadis itu?” bentak sang ketua.

“Ya… ya… ya… Tapi… hanya main-main…“

“Jahanam! Kalian melanggar pantangan kita. Hayo beri hukuman masing-masing dua puluh kali! Seret mereka keluar...!”

Tiga orang pengemis muda itu di seret keluar dan terdengarlah suara berdebuk ketika mereka di pukuli, di susul teriakan-teriakan kesakitan mereka.

Akauw mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Pang-cu telah bertindak tepat, tahu bahwa yang bersalah haruslah diberi hukuman agar lain kali tidak mengulang kembali kesalahannya. Kami mengucapkan terima kasih...“

“Nanti dulu, orang muda. Aku Cai Kui tidak suka melihat anak buah dihina orang luar. Nona ini sudah memperlihatkan kepandaiannya, maka setelah tiba di sini, kami ingin menguji apakah sudah sepatutnya kalau ia memberi hajaran kepada anak buah kami sebagai golongan yang lebih tinggi...“

“Akan tetapi, pangcu…“ kata Akauw.

“Akauw, biarlah kalau Cai Pang-cu hendak mengujiku. Jangan di kira bahwa aku takut menghadapi ujian itu...!” kata Ji Goat dengan suara menantang

“Kami tidak berniat bermusuhan. Apalagi karena kalian menyatakan menjadi sahabat dari Hek I Kaipang yang kami pandang tinggi. Akan tetapi sebelum menguji kalian, bagaimana kami dapat menghargai kalian...? Sebelum kita membicarakan hal-hal penting, lebih dulu kami harus berkenalan dengan ilmu kalian agar mata kami lebih terbuka lagi...“

Dia memberi isyarat kepada seorang yang usianya sekitar empat puluh tahun dan berkedudukan wakil ketua. Nama wakil ketua itu adalah Bi Tun Bo, seorang yang juga ahli memainkan tongkat besi dan dalam hal ilmu silat hanya kalah sedikit dibandingkan sang ketua.

“Tun Bo, engkau yang menguji kepada nona Ji Goat ini...!”

“Baik, pang-cu. Silahkan nona...“ kata Bi Tun Bo yang bertubuh sedang dan mukanya penuh brewok itu. Dia sudah melintangkan tongkat berujung besi di depan dadanya.

Ji Goat melihat tempat itu cukup luas untuk bertanding silat. Melihat cara pengemis itu memegang tongkat, tahulah ia bahwa lawan ini tentu memiliki ilmu tongkat yang cukup lihai, oleh karena itu iapun menghunus pedangnya, yaitu sepasang pedang pendek yang sarungnya menjadi satu. Nampak sinar berkilauan ketika sepasang pedang pendek di cabut.

“Aku sudah siap, silahkan...“ kata Ji Goat yang memasang kuda-kuda yang manis di depan Bi Tun Bo.

Pengemis ini segera menggerakkan tongkatnya, memainkan ilmu tongkat besinya dengan gerakan yang tangkas, cepat dan mengandung tenaga. Namun, gerakannya itu sama sekali tidak cepat bagi Ji Goat bahkan lamban sekali sehingga dengan mudah gadis ini dapat menghindarkan serangan pertama, lalu membalas dengan pedang pendeknya, yang melakukan gerakan menggunting dari kanan kiri.

Ji Goat adalah murid Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan ia sudah mempelajari ilmu pedang yang hebat dari Koksu itu, ialah Lo-hai Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Lautan). Maka begitu ia memainkan sepasang pedangnya dengan ilmu itu, Bi Tun Bo menjadi pening kepalanya. Dia hanya melihat dua gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar dan menggulungnya sehingga tongkatnya menjadi kacau gerakannya, dia hanya mampu memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya dari sambaran kedua pedang yang mengamuk bagaikan dua ekor naga bermain di angkasa itu. Jelas bahwa tingkat kepandaian wakil ketua Tiat-tung Kai-pang itu jauh berada di bawah tingkat Ji Goat.

Akan tetapi Ji Goat juga maklum bahwa mereka berada di daerah orang dan amat tidak baik kalau sampai mendatangkan perasaan dendam. Maka ia pun tidak terlalu mendesak dengan sepasang pedangnya, dan ketika mendapat kesempatan ia tidak mau melukai lawan dengan pedangnya, hanya mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan terhuyung kebelakang. Melihat lawan tertendang dan terhuyung, ia pun menahan sepasang pedangnya dan berdiri tegak, tidak mengejar.

Bi Tun Bo juga bukan seorang yang tidak tahu diri. Dia sudah sejak tadi maklum bahwa dia pun bukan lawan seimbang nona ini yang amat lihai. Bahkan dia mengerti pula bahwa lawannya sengaja tidak ingin melukai, maka diam-diam dia berterima kasih. Melihat nona itu tidak mengejar, Bi Yun Bo lalu melompat ke belakang, memberi hormat kepada Ji Goat sambil berkata,

“Ilmu pedang Ji-siocia memang hebat aku mengaku kalah...!”

“Ah, engkau terlalu mengalah“ kata Ji Goat sambil tersenyum.

Cai Pangcu mengangguk-angguk. “Dengan ilmu kepandaianmu itu nona, engkau memang pantas mewakili kami memberi hajaran kepada anak buah kami yang menyeleweng. Sekarang, kami ingin sekali mengenal ilmu silat dari saudara Cian Kauw Cu...“

“Silahkan, pangcu...“ kata Akauw dengan sikap sederhana namun tegak, dan diapun sudah siap.

Ketua Cai berdiri di depan pemuda itu. Ketua itu tubuhnya memang kokoh, akan tetapi berhadapan dengan Akauw dia kelihatan agak pendek. Kedua lengannya yang nampak itu begitu penuh otot yang melingkar-lingkar, nampak kuat sekali.

“Orang muda, karena engkau adalah tamu kami dan engkau datang dari Hek I Kaipang, maka marilah kita mengadu ilmu dengan tangan kosong saja. Sungguh tidak enak kalau kita menggunakan senjata kemudian di antara kita ada yang terluka. Tadi, wakilku tidak terluka hanya karena kebijaksanaan nona Ji saja. Mari kita bertanding mengadu kepandaian dan tenaga...“

Cian Kauw Cu maklum bahwa agaknya ketua kaipang ini hendak mengambil keuntungan dari tenaganya yang agaknya besar. Diam-diam dia pun girang karena tidak harus menggunakan Hek-liong Po-kiam yang tentu akan menarik perhatian sekali karena po-kiam-nya itu amat tajam dan ampuh.

“Baiklah, pangcu, aku sudah siap...“ katanya sambil berdiri tegak di depan ketua itu.

“Orang muda, lihat seranganku...!” Tiba-tiba Cai Kui membentak dan dia sudah melompat ke dapan dan menghantamkan tangannya yang kokoh kuat itu kearah dada Akauw.

Akauw mengelak dengan mudah, akan tetapi tangan yang luput memukul itu lalu menggunakan gerakan mencengkram untuk menangkap lengan Akauw. Kembali Akauw mengelak dari cengkraman sambil menggeser kakinya ke belakang. Cai Pang-cu mendesak dengan mengayun kakinya menendang kearah pusar. Sekali ini Akauw menangkis dengan tangannya.

“Duukkk...!” kaki itu terpental akan tetapi Akauw merasa betapa tangannya pun tergetar. Tahulah dia bahwa tenaga tendangan lawan cukup kuat akan tetapi tidaklah terlalu kuat baginya. Ketika Cai Pangcu memukul lagi, kembali dia mengerahkan tenaganya menangkis. Dan sekali ini pertemuan kedua lengan membuat Cai Pangcu menyerengai kesakitan dan cepat melompat ke belakang, memutar tubuh dan dengan gerakan memutar itu kakinya terayun cepat sekali menuju kearah dada Akauw.

Akauw mengelak lagi dan kini mulai membalas dan terjadilah pertandingan tangan kosong yang seru. Saling serang, saling elak, dan kadang mereka beradu lengan, sehingga beberapa kali tubuh mereka tergetar saking kerasnya lengan atau kaki beradu. Setelah lewat tiga puluh jurus, Cai Kui mulai terengah dan kedua tangan dan kakinya terasa nyeri-nyeri. Dan ketika Akauw mempercepat gerakannya, dia pun terdesak hebat, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, sama sekali tidak mampu lagi balas menyerang.

Suatu saat, Akauw yang sudah menguasai pertandingan itu, melompat-lompat dengan cekatan sekali seperti monyet dan Cai Kui menjadi bingung karena beberapa kali dia kehilangan lawan dan tahu-tahu lawan itu sudah berada di belakangnya sambil menepuk punggungnya. Kalau Akauw mau tentu saja tepukan itu dapat di ubah menjadi hantaman yang tentu akan membuatnya roboh. Setelah beberapa kali di sentuh seperti itu, akhirnya Cai Pang-cu melompat ke belakang dan tubuhnya basah oleh keringat.

“Cian-taihiap sungguh hebat, aku mengaku kalah...!” katanya tanpa malu lagi. Memang dia tahu bahwa dia kalah jauh.

“Pang-cu yang terlalu mengalah...“ kata Akauw dengan hati girang karena dia tahu bahwa dia dan Ji Goat telah dapat menundukkan hati orang-orang Tiat-tung Kai-pang ini.

Mereka lalu di jamu. Biarpun hanya perkumpulan pengemis, akan tetapi ketuanya dapat menjamu dengan hidangan yang lumayan, di belikan dari rumah makan terbesar. Dalam makan bersama inilah, para pimpinan kai-pang itu mengadakan pembicaraan dengan Akauw dan Ji Goat. Karena Ji Goat dalam perjalanannya ke Kerajaan Sun hanya untuk berpetualang, maka ia lebih banyak diam dan menyerahkan percakapan kepada Akauw yang membawa tugas dari yang-Cien...