Social Items

SEMENTARA itu, Koksu yang mendengar ucapan itu, lalu mengangkat tangan ke atas minta semua orang tenang. Sebagai anggota pimpinan pemilihan bengcu, dia memang berhak bicara dan dia berkata kepada Yang Cien dengan suara nyaring.

“Tiga calon terdahulu sudah dikenal semua orang karena mereka memang merupakan tokoh-tokoh besar. Akan tetapi, engkau adalah seorang pemuda yang sama sekali belum di kenal, maka sebaiknya kalau engkau memperkenalkan diri tentang keadaan dirimu kepada kita semua...“

Yang Cien memandang kepada Koksu itu. Inilah musuh besarnya. Inilah orang yang menyebabkan kematian ayah ibunya, dan yang membuat dia dan kakeknya melarikan diri terlunta-lunta. Akan tetapi dia melupakan semua kenangan itu dan menghadapi semua orang. “Nama saya Yang Cien dan saya di pilih oleh para kaipang untuk menjadi pemimpin dan menjadi wakil mereka dalam pemilihan bengcu...“

Semua orang membicarakan pemuda yang tidak terkenal itu, dan banyak wakil pimpinan para perkumpulan besar yang masih meragukan kemampuan Yang Cien yang masih muda sebagai seorang beng-cu. Kalau kemampuan tiga orang yang lain mereka sudah tidak meragukannya lagi. Kini pihak pemilih terbagi menjadi dua golongan. Yang segolongan condong memilih Thian-te Ciu-kwi atau Sin-to Kwi-ong yang akan membawa mereka membantu pemerintah dan memperoleh kedudukan.

Akan tetapi mereka yang berjiwa patriot dan membenci penjajah, condong memilih Hek-liong-ong. Akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa Hek-liong-ong juga seorang datuk sesat, maka mereka banyak pula yang menoleh kepada Yang Cien. Bagaimanapun juga, tidak enak kalau perjuangan menentang penjajah di pimpin oleh seorang datuk sesat.

Kini Cu Lokai yang maju dan bicara. “Semua ada empat orang calon dan cuwi sudah mendengarkan suara mereka ketika mereka berbicara tadi, mengetahui isi hati mereka. Sekarang, seperti lazimnya dalam pemilihan bengcu, harus dilakukan ujian kepandaian. Siapa yang lebih tangguh dan lebih berhak untuk menjadi bengcu. Kita mengadakan undian siapa yang harus melawan siapa lebih dulu, untuk kemudian pemenang dari dua pertandingan itu di pertandingkan lagi, dan pemenangnya itulah yang berhak mendapat penilaian dan pertimbangan lebih dahulu untuk menjadi bengcu. Dapatkah peraturan ini di setujui...?”

Semua orang berteriak setuju karena di anggap peraturan itu sudah cukup adil. Undian lalu di lakukan dan ternyata hasil undian adalah bahwa peserta pertama, Thian-te Ciu-kwi harus bertanding melawan Hek-liong-ong dan peserta ke tiga, Sin-to Kwi-ong bertanding melawan Yang Cien. Kemudian pemenang dari kedua pertandingan ini akan di pertandingkan untuk merebut kejuaraan dan keluar sebagai pemenang.

Mendengar ini, Hek-liong-ong tertawa bergelak. “Akauw, pinjamkan pedangmu sebentar!” katanya dan Akauw tidak membantah, memberikan pedangnya kepada suhunya yang memegang pedang itu lalu menghadapi Thian-te Ciu-kwi di atas panggung.

Ketika melihat Hek-liong-ong menggerakkan pedang yang mengeluarkan sinar hitam itu, Yang Cien terkejut bukan main. “Hek-liong Po-kiam…!” katanya dalam hati dan dia merasa heran. Bagaimana pedang itu dapat terjatuh ke tangan Hek-liong-ong? Dia sudah mengambil keputusan untuk menarik Hek-liong-ong menjadi rekan seperjuangan karena tujuan mereka adalah sama, akan tetapi begitu melihat Hek-liong Po-kiam, hatinya menjadi ragu. Apa yang terjadi dengan Akauw maka pedangnya terjatuh ke tangan raksasa hitam itu?

Melihat lawannya sudah maju dengan pedang hitam di tangan, Thian-te Ciu-kwi juga mencabut pedangnya dan diapun meloncat ke depan Hek-liong-ong dengan marah. “Hek-liong-ong, engkau telah mencuri pedang muridku, kembalikan pedang itu kepadaku atau pertempuran ini akan ku buat menjadi pertempuran mati-matian memperebutkan pedang...“

“Ha-ha-ha, Ciu-kwi, jangan tekebur. Pedang ini sekarang milik muridku dan bukan milikmu, maka engkau tidak berhak memiliki. Kita memperebutkan kedudukan bengcu, bukan pedang. Hayo, mulailah memperlihatkan kepandaianmu...!”

“Bagus, jangan di kira aku takut menghadapimu, Hek-liong-ong! Haaiiittt… yaahhhh…!“

Thian-te Ciu-kwi mulai menyerang dengan dahsyat, menggunakan pedangnya yang juga merupakan sebatang pedang pusaka untuk menusuk ke arah perut lawan, Hek-liong-ong mengelak dan membalikkan tubuh, membalas serangan itu dengan bacokan kearah leher. Bacokan ini di lakukan sambil membalikkan tubuh sehingga cepat sekali datangnya, akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak menjadi gugup. Dengan tenang dan kuat pedangnya menangkis dari samping.

“Crringgg…!” Bunga api berhamburan ketika ke dua senjata bertemu dan keduanya merasa betapa tangan mereka bergetar. Akan tetapi, getaran pada tangan Thian-te Ciu-kwi lebih keras dari pada getaran yang di rasakan Hek-liong-ong dan hal ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga, Hek-liong-ong masih lebih unggul sedikit dibandingkan lawannya.

“Hyaatttttt…!” Thian-te Ciu-kwi kini memainkan Thian-te Sin-kiam (Pedang Sakti Langit Bumi) yang dilakukan dengan gerakan cepat bukan main. Pedang di tangannya menyambar-nyambar kadang-kadang dari atas kadang-kadang dari bawah dan pedang itu telah lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar kebiruan yang amat hebat, mengeluarkan suara berdesingan dan mendatangkan angina bersiutan.

Akan tetapi, dengan tenang Hek-liong-ong mengimbangi permainan pedang lawannya dengan ilmu pedang Hai-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Laut). Juga pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang bergelombang pasang yang dahsyat.

Semua orang memandang dengan penuh kagum. Pertandingan antara dua orang datuk ini memang hebat sekali. Kedua memiliki gerakan cepat dan memang sepasang pedang yang ampuh. Maka, dapat dibayangkan betapa hebatnya pertandingan itu. Akan tetapi, setelah lewat lima puluh jurus, nampaklah bahwa dalam hal tenaga, Hek-liong-ong lebih unggul. Beberapa kali, setelah kedua pedang yang mengandung tenaga sinkang bertemu, nampak Thian-te Ciu-kwi terhuyung. Dan semakin lama, ayunan pedang hitam Hek-liong-ong semakin kuat saja. Hal ini adalah karena Thian-te Ciu-kwi memiliki kebiasaan minum arak yang secara berlebihan sehingga hal ini sedikit banyak merusak kesehatan tubuhnya.

“Heeiiittttt…!” Dengan penasaran Thian-te Ciu-kwi menusukkan lambung kanan lawan.

“Hyeeehhhh…!” Hek-liong-ong Poa Yok Su mengelak dan pedang terayun cepat sekali menyambar kearah leher Ciu-kwi.

Ciu-kwi terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang lawan yang hitam. Baru sinar pedang yang hitam itu saja sudah amat berbahaya, apalagi kalau pedang itu mengenai lehernya. Dia terjengkang dan menggulingkan diri, bergulingan mendekati lawan dan pedangnya membabat kearah kaki Hek-liong-ong.

Hek-liong-ong melompat ke atas lalu meluncur turun menusukkan Hek-liong Po-kiam kearah leher Ciu-kwi. Ciu-kwi tidak dapat mengelak lagi dan menangkis pedangnya.

“Traaannggg…!” pedang itu tertangkis, melewat dan masih menyerempet pundak Ciu-kwi sehingga pundak itu berdarah. Ciu-kwi terhuyung ke belakang dan mukanya berubah merah sekali. Bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa pundaknya terluka. Walaupun tidak berat luka itu, namun cukup mengeluarkan banyak darah dan terpaksa dia harus mengakui keunggulan lawan.

“Hek-liong-ong, engkau memang semakin lihai saja!” katanya dan diapun melompat turun dari atas panggung itu agar jangan menderita malu.

Sorak-sorai dari mereka yang mendukung Hek-liong-ong menyambut kemenangan itu ketika Cu Lokai yang juga diam-diam merasa girang itu mengumumkan bahwa dalam adu ilmu itu Hek-liong-ong telah keluar sebagai pemenang.

“Sekarang tiba giliran calon ketiga dan ke empat untuk menguji kepandaian masing-masing!” kata Cu Lokai dengan suara lantang. Semua orang kini memandang penuh perhatian. Mereka sudah mendengar tentang kehebatan Sin-to Kwi-ong, ketua dari Perkumpulan Golok Setan itu, yang terkenal sekali dengan ilmu goloknya yang lihai dan tenaganya yang amat kuat. Apakah pemuda yang tidak terkenal itu akan mampu menandingi datuk yang namanya terkenal di sepanjang Sungai Huai itu?

Akan tetapi, Sin–to Kwi-ong sendiri tidak kelihatan gembiara mendapatkan lawan pemuda itu. Dia pernah bertanding melawan pemuda itu dan dia tidak dapat menganggap pemuda itu sebagai lawan yang ringan. Sama sekali tidak , bahkan dia pernah di desak oleh pemuda yang memiliki gerakan pukulan aneh yang mendatangkan nagin bergelombang amat dahsyatnya. Dan kini dia harus berhadapan lagi dengan pemuda itu! Akan tetapi, di situ terdapat kawan-kawannya, terutama sekali terdapat Koksu, maka dia tidak takut dan cepat dia mencabut goloknya menghadapi Yang Cien.

“Bocah she Yang! Kembali kita berhadapan dan sekali ini aku tidak akan melepaskanmu!” bentaknya.

“Kwi-ong, kita berdua adalah calon-calon bengcu yang hendak menguji kepandaian masing-masing. Tidak perlu banyak cakap lagi dan silahkan mulai!” jawab Yang Cien. Dia tahu bahwa Raja Iblis ini adalah antek penjajah pula, dan dia sudah pernah merasakan betapa lihainya golok setan di tangan kakek tinggi besar yang berwajah bengis itu.

“Lihat golok, hiyaattt…!” Sin-to Kwi-ong sudah menerjang dan memutar goloknya. Begitu menyerang dia langsung saja mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh karena dia sudah tahu bahwa lawannya lihai.

Yang Cien bergerak cepat, mengelak dari sambaran-sambaran golok itu dan ketika dia menangkis, terdengar suara lantang nyaring bertemunya pedang putihnya dan golok, menimbulkan suara berdentingan dan mendatangkan bunga api berhamburan. Mereka lalu saling serang dengan sengitnya. Pertandingan beberapa bulan yang lalu di ulangi, akan tetapi sekarang pertandingan dilakukan satu lawan satu, tidak seperti dahulu yang terjadi dalam sebuah pertempuran keroyokan yang kacau balau. Apalagi pertandingan kali ini adalah merupakan saling uji kepandaian, terjadi di atas saling uji kepandaian, terjadi di atas panggung di saksikan ratusan pasang mata orang kang-ouw sehingga mereka tidak mungkin dapat melakukan kecurangan.

“Tring-tring-traanggg…!”

Untuk kesekian kalinya golok itu bertemu dengan pedang dan kini Yang Cien mulai menggunakan pukulan-pukulan jarak jauh dengan tangan kirinya, yaitu pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng.

Biarpun Sin-to Kwi-ong sudah siap menghadapi pukulan aneh itu, dan menangkis, tetap saja dia terhuyung oleh gelombang hawa pukulan yang amat dahsyat itu. Dia terkejut sekali dan berusaha untuk memutar goloknya sambil bergulingan untuk menghindarkan pukulan dan mendesak lawan sambil berguling goloknya membuat bacokan-bacokan dari bawah seperti seekor ular menyerang lawannya.

Yang Cien terkejut dan cepat dia berlompatan untuk menghindarkan diri dan ketika mendapat kesempatan, selagi dia menangkis dan pedangnya menempel ketat dengan golok lawan, dia pun membarengi dengan dorongan tangan kirinya. Itulah jurus ampuh sekali dari Bu-tek Cin-keng yang di sebut Tangan Dewa Keluarkan Kilat.

Hawa pukulan sinkang yang amat kuat mencuat dari telapak tangan itu. Kwi-ong masih berusaha untuk menyambut dengan tangan kirinya, akan tetapi dia mengeluh dan tubuhnya terjengkang ke belakang dan diapun roboh dan muntah darah!

Yang Cien tidak melanjutkan serangannya, melainkan berdiri menunggu dengan pedang ditangan. Sin-to Kwi-ong merangkak bangun dan Lai Seng sudah meloncat ke atas panggung untuk membantu mertuanya bangkit berdiri lalu keduanya meninggalkan panggung. Sorak sorai bergemuruh menyambut kemenangan ini yang di umumkan oleh Cu Lokai.

Diam-diam Cu Lokai dan para pejuang yang menentang penjajahan merasa gembira bukan main. Yang menang adalah Hek-liong-ong dan Yang Cien, justeru dua orang calon yang berpihak kepada pejuang dan menentang penjajahan, Koksu berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Dia merasa terpukul sekali karena dua orang jagoannya telah kalah. Dia sendiri sebagai Koksu tentu saja tidak dapat mengajukan diri sebagai calon bengcu dan yang menang adalah dua orang yang berjiwa pemberontak.

Sementara itu, Hek-liong-ong yang haus kemenangan itu, melihat betapa Yang Cien keluar sebagai pemenang, langsung tanpa menanti pengumuman Cu Lokai lagi lalu menantang Yang Cien, “Orang muda, pemenangnya adalah engkau dan aku. Marilah kita berdua mengadu kepandaian untuk menentukan siapa di antara kita yang berhak menjadi bengcu!” Setelah berkata demikian, dia mengangkat Pedang Pusaka Naga Hitam yang di pinjamnya dari muridnya.

“Suhu, jangan!” Tiba-tiba Akauw meloncat ke atas panggung dan melihat pemuda ini, Yang Cien kaget dan heran, juga girang bukan main.

“Sute…!”

“Suhu, dia adalah suhengku sendiri. Harap suhu suka mengalah dan menyerahkan kedudukan bengcu kepada suheng! “ kata Akauw kepada suhunya.

“Ha-ha, dia harus mengalahkan aku lebih dulu kalau mau menjadi bengcu...“ bentak Hek-liong-ong.

Yang Cien girang melihat kenyataan bahwa sutenya bukan menjadi antek Kerajaan Mongol seperti yang pernah di dengarnya dari Thio Cid an Thio Kui, melainkan sutenya menjadi murid seorang datuk yang juga berjiwa pejuang!

Pada saat itu, terdengar teriakan panjang dan nyaring, “Hek-liong-ong dan Yang Cien, kalian hendak menggerakkan dunia kang-ouw untuk memberontak kepada pemerintah. Atas nama kaisar kami akan menangkap kalian. Menyerahlah, tempat ini sudah di kepung...!”

Ternyata yang berteriak itu adalah Koksu dan benar saja, tempat itu kini telah dikepung pasukan yang agaknya telah dipersiapkan secara diam-diam oleh Koksu.

“Curang...!” teriak Hek-liong-ong melihat ini. “Toat-beng Giam-ong, urusan pemilihan bengsu tidak ada hubungan dengan pemerintah!” kata pula Cu Lokai dengan marah melihat kecurangan Koksu yang menggunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan, bukan saja mencampuri pemilihan bengcu di dunia kangouw, bahkan hendak melakukan penangkapan.

“Saudara-saudara sekali, siapa yang membantu kami menangkapi pemberontak, akan mendapat pahala, sebaliknya yang membantu pemberontak akan di tangkap dan di hukum berat!” berulang-ulang Koksu berteriak dan pasukan mulai mengepung tempat itu dengan ketat.

Dengan sendirinya Lai Seng, Bong Kwi Hwa, Sin-to Kwi-ong, Thian-te Ciu-kwi, Gu Moko, Huangho Sam-houw dan para anak buah Koksu sudah siap dengan senjatanya masing-masing untuk melakukan pengeroyokan dan penangkapan.

Melihat ini, Hek-liong-ong marah sekali. Dia menyerahkan pedangnya kepada muridnya dan sebagai gantinya Pedang Pusaka Naga Hitam, dia menggunakan pedangnya sendiri yang panjang besar. “Kauw Cu, mari kita hajar antek-antek Mongol ini!”

Akauw mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan dia sudah menerjang ke arah Koksu dengan keberanian luar biasa. Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi, bekas gurunya. menghadangnya dengan pedang di tangan sehingga terpaksa Akauw menyerangnya. Bekas guru dan murid ini bertanding sendiri, akan tetapi sebentar saja Akauw sudah di keroyok banyak orang. Hek-liong-ong juga sudah di keroyok oleh Sin-to Kwi-ong yang di bantu puterinya, Bong Kwi Hwa. Para pasukan juga mulai bergerak hendak menangkap Yang Cien.

Melihat keadaan ini, banyak wakil para perkumpulan besar yang tidak mau melibatkan diri lalu meninggalkan tempat itu. Akan tetapi banyak pula yang membela kaum pemberontak sehingga terjadilah pertempuran sengit di tempat itu. Im-yang To-kouw melihat kesempatan ini, sudah menggerakkan kebutan dan pedangnya, menyerang Lai Seng dengan kemarahan meluap-luap karena ia teringat akan muridnya yang menjadi korban kejahatan pemuda ini sehingga tewas.

“Jahanam busuk, engkau harus menebus dosamu terhadap murid pin-ni Kwe Sun Nio!” bentaknya dan kebutan serta pedangnya menyerang dengan dahsyat sehingga Lai Seng terdesak mundur. Akan tetapi isterinya yang tadinya membantu ayah mertuanya, sudah meninggalkan orang tua itu untuk membantunya sehingga To-kouw itu di keroyok dua, Sin-to Kwi-ong yang di tinggalkan puterinya, terdesak oleh Hek-liong-ong, akan tetapi segera dia di bantu oleh Huang-ho Sam-houw sehingga keadaan mereka berimbang lagi.

Lui Koksu sendiri tidak mau melepaskan Yang Cien. Dia melihat bahwa pemuda itu amat berbahaya, agaknya mendapatkan banyak sekali pendukung, oleh karena itu harus lebih dulu di tangkap atau dibunuh. Maka dia sendiri yang meloncat dan dia sudah memainkan golok gergajinya dengan hebat sekali menyerang Yang Cien. Yang Cien menggunakan Pek-liong Po-kiam menyambut dan terjadilah pertandingan yang paling hebat di antara mereka.

Biarpun semua anggota Hek I Kaipang juga bangkit dan melakukan perlawanan, namun jumlah pasukan jauh lebih banyak sehingga Yang Cien maklum bahwa pertempuran itu tidak akan menguntungkan pihaknya kalau dilanjutkan.

“Kwan-kawan, munduuuurrrr…!” bentaknya berulang-ulang dan dia sendiri sudah meloncat meninggalkan Koksu, mengamuk di antara pasukan musuh, merobohkan banyak orang.

Perbuatannya ini di turut pula oleh Akauw, Hek-liong-ong, Im-yang To-kouw, para kai-pangcu dan semua yang membela pihak pejuang sehingga pasukan yang tadinya mendesak terpaksa mundur. Kesempatan ini dipergunakan mereka untuk melarikan diri dan pasukan tidak berani mengejarnya. Juga Koksu tidak berani mengejar sendiri-sendiri karena di pihak musuh terdapat banyak sekali orang pandai. Pengejaran hanya di lakukan oleh pasukan yang terpimpin dan ini sukar sekali karena para pemberontak itu melarikan diri cerai berai.

Jauh dari tempat itu, para pejuang berkumpul kembali. Hek-liong-ong sudah lenyap seleranya untuk menjadi beng-cu. Dia memang tadinya terbakar semangatnya oleh sikap muridnya saja, setelah melihat betapa sukarnya mengurus dan memimpin dunia kang-ouw menghadapi pemerintah penjajah, dengan rela dia mengalah dan menyerahkan kedudukan beng-cu kepada Yang Cien, sesuai dengan permintaan muridnya.

“Orang muda, engkau cukup gagah dan bijaksana untuk menjadi bengcu. Baiklah, aku mengundurkan diri dari kedudukan bengcu dan ku serahkan kepadamu. Kalau kelak usahamu sudah berhasil, menghimpun kekuatan untuk mengusir penjajah dari tanah air, aku Hek-liong-ong akan membantumu sekuat tenaga...“

“Terima kasih lo-cian-pwe. Saya harap lo-cian-pwe merelakan sute Cian Kauw Cu menjadi pembantuku...“

“Baik, dia memang sudah selesai belajar dariku. Kauw Cu jangan mengecewakan aku yang pernah menjadi gurumu. Jadilah pejuang yang gagah perkasa dan kelak mengangkat pula namaku yang menjadi gurumu...“

“Harap suhu jangan khawatir. Di samping suheng Yang Cien, aku akan berkerja sebaik mungkin...“ jawab Akauw yang merasa gembira sekali dapat berkumpul kembali dengan suhengnya.

Im-yang To-kouw juga menyatakan mendukung Yang Cien dan siap dengan anak buahnya kalau saat perjuangan sudah tiba, kemudian To-kowu ini meninggalkan tempat itu sambil berpesan, “Yang-taihiap, harap engkau cari kesempatan untuk membunuh Lai Seng demi muridku. Aku telah gagal membunuhnya karena dia di bantu banyak orang...“

“Jangan khawatir, lo-cianpwe, Tanpa adanya urusan penasaran dari nona Kwe, orang yang bernama Lai Seng itu memang pantas untuk di lenyapkan dari permukaan bumi dimana dia hanya membuat kotor dengan kejahatannya saja...“ jawab Yang Cien.

Para tokoh lain yang tadi ikut membela para pejuang juga pamit dan mereka semua menyatakan mendukung Yang Cien sebagai beng-cu dan berjanji akan membantu kalau saat perjuangan tiba. Yang tinggal hanyalah para kaipang-cu, termasuk Akauw tidak mau berpisah lagi dari suhengnya.

Sementara itu, Koksu membuat beng-cu tandingan. Dia mengangkat Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dari golongan orang kang-ouw yang memihak pemerintah. Dan terutama para tokoh kang-ouw golongan sesat banyak yang mengakui Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dan mereka merupakan segolongan orang kang-ouw yang siap melakukan tugas yang diberikan Koksu melalui Thian-te Ciu-kwi.

Dan mulailah Koksu menyebar pasukan dengan di bantu orang-orang kangouw untuk mengejar mereka yang berpihak kepada pejuang untuk di tangkapi atau di bunuh. Terjadilah perpecahan di dunia kang-ouw karena ulah Koksu ini. Akan tetapi, para pimpinan perkumpulan-perkumpulan silat yang besar tidak mau terseret dalam permusuhan antara dua kelompok orang kang-ouw ini. Mereka hanya menanti dan diam-diam di antara mereka banyak yang siap kalau tiba waktunya mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Mereka pun sebagian besar tidak rela melihat tanah air di jajah oleh bangsa Toba.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

“Sute, sudah lama sekali aku mencarimu dan beruntung kita bisa bertemu di pemilihan beng-cu itu. Kemana saja engkau selama ini, sute?” Tanya Yang Cien ketika dia sempat bicara berdua saja dengan Akauw.

“Ah, panjang sekali ceritanya, suheng. Aku telah mengalami banyak sekali peristiwa yang aneh-aneh. Bahkan aku pernah berguru kepada dua orang, yang pertama adalah Thian-te Ciu-kwi, dan yang kedua adalah Hek-liong-ong itulah...“ Lalu dengan panjang lebar Akauw menceritakan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan Lembah Iblis.

“Dan engkau pernah menjadi panglima yang membantu kaisar Kerajaan Toba...?”

“Itulah, Suheng. Karena aku menjadi murid Thian-te Ciu-kwi, maka aku di ajak ke kota raja dan menghadap Koksu dan Perdana Menteri Ji. Disana aku diangkat menjadi panglima. Akan tetapi sama sekali aku tidak melupakan pesanmu, juga tidak pernah melakukan kejahatan, juga tidak sewenang-wenang. Memang ketika aku melakukan penyelidikan atas gerakan para pemberontak. Akan tetapi kemudian aku menyadari bahwa yang di sebut para pemberontak itu bukanlah penjahat, melainkan mereka yang hendak berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkraman penjajah. Karena itu, aku lalu meninggalkan Thian-te Ciu-kwi, meninggalkan kedudukanku. Ketika itu, Thian-te Ciu-kwi tidak keberatan aku mengundurkan diri akan tetapi dia minta agar aku menyerahkan Hek-liong Po-kiam kepadanya. Tentu saja aku menolak permintaannya itu dan pada saat itu, po-kiam itu terampas dari tanganku oleh Hek-liong-ong yang amat lihai. Aku lalu mengejarnya sampai ke Pulau Naga, tempat tinggalnya setelah mengalami banyak hal yang luar biasa. Ternyata dia bukanlah orang yang terlalu jahat, bahkan dia suka kepadaku dan mengangkatku sebagai muridnya. Pedang itu pun dia kembalikan kepadaku dan akhirnya aku berhasil membujuknya untuk menjadi seorang pejuang yang menentang pemerintah penjajah...“

“Ah, begitukah? Tadinya aku sudah heran sekali bahkan tidak percaya kalau engkau menjadi panglima, menjadi antek penjajah. Sungguh melegakan hati mendengar ceritamu, sute. Sekarang kau bentulah aku menyusun kekuatan. Kita tidak boleh tergesa-gesa memimpin mereka untuk berjuang menentang pemerintah. Pasukan pemerintah terlalu kuat untuk dapat di kalahkan begitu saja, kita harus menyusun kekuatan, mempersatukan segenap kekuatan dari empat penjuru. Aku sudah mempunyai kekuatan yang mendukungku, dan kekuatan itu cukup besar, terdiri dari semua kaipang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru. Kalau mereka itu di latih berperang, tentu akan merupakan kekuatan yang hebat. Dan kita pun di dukung oleh partai-partai persilatan besar yang sudah menjanjikan bantuan kalau saat perjuangan tiba..."

"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, suheng? Apa saja yang terjadi denganmu setelah kita berpisah...?”

Yang Cien menceritakan pengalamannya. Dia belum lama meninggalkan Lembah Iblis dan begitu tiba di dunia ramai langsung saja dia bertemu dengan para kaipang yang kemudian mendukungnya, bahkan memilih dia menjadi calon beng-cu, mengangkatnya menjadi pemimpin besar para kai-pang.

“Aku mempunyai tugas penting untukmu, sute...“

“Katakanlah, tugas apa itu? Aku akan senang sekali melakukannya untukmu, suheng...“

“Aku minta engkau menyeberang ke selatan dan menyelidiki keadaan kerajaan Sun di selatan. Kerajaan itu kecil saja akan tetapi aku mendengar bahwa Kerajaan Sun memiliki pasukan yang cukup kuat. Kurasa, di selatan itu dapat kita jadikan pangkalan pertama yang amat baik untuk menghimpun kekuatan...“

“Akan tetapi, apakah Raja Kerajaan itu akan membolehkannya...?”

“Karena itulah, kita harus mengadakan kontak dengannya dan aku mempercayakan kepadamu, sute. Aku akan menulis sepucuk surat untuk Sun Huangte, atas nama seluruh kai-pang. Dan coba kau hubungi kai-pang yang berada di sana, tentu mereka sudah mendengar tentang diriku yang di angkat oleh semua kai-pang menjadi pemimpin besar. Kalau sikap para kai-pang mendukung, tentu mereka akan dapat membantumu di selatan sana...“

Akauw memaklumi betapa penting tugas yang dibawanya, maka dia lalu membuat persiapan. “Berhati-hatilah, sute, dan jangan mudah terseret oleh perasaanmu, jangan mudah terpancing ke dalam perkelahian yang tidak ada gunanya. Engkau harus dapat menunjukkan kepada Sun Huang-te bahwa kedatanganmu mengajak kerjasama menentang pemerintah penjajah Toba...“

“Aku mengerti, suheng...“

Beberapa hari kemudian, berangkatlah Akauw seorang diri, membawa bekal surat dari Yang Cien, menyeberang Sungai Huai memasuki daerah Kerajaan Sun yang berada di sebelah selatan sungai itu.

Setelah sutenya pergi, Yang Cien yang duduk seorang diri di pondoknya sambil memutar otak, tiba-tiba kedatangan dua orang yang pernah di temui beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kakak beradik Yen, yaitu Yen Gun dan Yen Sian, putera dan puteri Gubernur Yen Kan dari Lok-yang yang di tangkap kaisar.

“Silahkan, kongcu, siocia. Silahkan duduk...“ kata Yang Cien mempersilahkan. Pernah ketika dia berkunjung ke tempat tinggal Thio Ci dan Thio Kui, dia di pertemukan dengan putera puteri Gubernur yang gagah perkasa itu dan dia menghibur mereka untuk bersabar.

“Perjuangan memang membutuhkan korban...“ katanya pada waktu itu. “Dan kebetulan ayah ji-wi yang menjadi korban. Akan tetapi karena belum terdapat bukti-bukti bahwa ayah ji-wi melakukan pemberontakan kukira beliau tidak akan di hokum, hanya di tahan saja sambil mereka mencari bukti-buktinya dulu. Sekarang hendaknya ji-wi tinggal bersama para anggota kai-pang agar tidak sampai tertangkap, karena tentu kaki tangan Koksu akan mencari ji-wi kemana-mana...“

Demikianlah, kakak beradik itu bersembunyi di dalam perkumpulan pengemis Baju Hitam. Bahkan ketika terjadi pemilihan bengcu di Thai-san, mereka tidak berani muncul karena kalau mereka ketahuan, mereka pasti di tangkap. Mereka di anggap sebagai pelarian, sebagai keluarga Gubernur Yen terdekat.

“Apa yang membawa ji-wi pagi ini datang ke sini...?” Tanya Yang Cien sambil memandang mereka dengan penuh selidik. Dia kagum sekali kepada kakak beradik yang gagah perkasa ini, sebagai pemuda pemudi bangsawan dapat menyesuaikan diri dan hidup di antara para pengemis tanpa merasa risih.

“Yang-taihiap, kami sudah tidak bersabar lagi!” kata Yen Sian sambil menatap tajam wajah Yang Cien. “Kami tidak mungkin dapat membiarkan saja ayah dan ibu merana dalam tahanan. Akan tetapi Thio-pangcu selalu melarang kami untuk bertindak. Karena itu kini kami menghadap tai-hiap untuk mohon pertimbangan. Bagaimana baiknya, apakah kita harus mendiamkan saja ayah dan para ibu meringkuk dalam tahanan tanpa keputusan...?”

“Kalau menurut kehendakmu, apa yang akan kau lakukan Yen-siocia?” Tanya Yang Cien dengan ramah.

“Kami minta persetujuanmu untuk bertindak, taihiap. Kalau mungkin, kami akan senang sekali apabila mendapat bantuan beberapa orang teman dari Hek I Kaipang, akan tetapi kalau tidak, kami ingin bertindak sendiri membebaskan ayah dan ibu dari dalam tahanan...!”

“Akan tetapi, tindakan itu berbahaya sekali dan juga tidak ada gunanya, nona. Kalian pasti akan gagal karena penjagaan pada rumah tahanan di kota raja ketat sekali. Katakanlah ji-wi akan berhasil meloloskan Gubernur Yen dari rumah tahanan, akan tetapi bagaimana akan mampu lolos keluar dari kota raja? Usaha itu akan sia-sia bahkan amat membahayakan ji-wi sendiri...“

“Kami tidak takut mati!” kata Yen Sian.

“Aku percaya, nona, dan aku kagum melihat kebaktian nona dan keberanian, akan tetapi ingatlah bahwa mungkin sekali membahayakan orang tuamu sendiri kalau berusaha lari lalu tertangkap di sana..."

Banyak nasehat diberikan Yang Cien kepada Yen Gun dan Yen Sian, akan tetapi agaknya kakak beradik ini tidak merasa puas. Terutama sekali Yen Sian yang tidak dapat tinggal diam melihat orang tuanya menjadi tawanan di kota raja. Akhirnya, seperti yang di khawatirkan Yang Cien, pada suatu pagi, kakak beradik itu pergi tanpa pamit!

Yang Cien merasa khawatir sekali. Sebetulnya, hal ini bukanlah urusannya. Dia sudah lebih dari cukup memberi nasehat dan saran, akan tetapi kalau kakak beradik itu bersikeras untuk mencoba melepaskan ayah ibunya dari tahanan, apa yang dapat dia lakukan? Bagaimanapun juga, tidak kuat hatinya membayangkan Yen Sian tertangkap orang-orangnya Koksu. Tak mungkin dia membiarkan saja gadis itu di tawan dan dalam bahaya maut. Maka dia pun segera berangkat mengejar.

Yen Gun dan Yen Sian memang sudah nekad. Kakak beradik ini tidak suka makan dan tidak dapat tidur setiap kali mereka teringat kepada ayah dan ibu dan seluruh keluarga yang menjadi tawanan di kota raja. Mereka nekat untuk mencoba membebaskan ayah dan ibu mereka dari tahanan musuh, tidak peduli bahwa kota raja merupakan tempat yang berbahaya sekali bagi mereka. Dengan mengenakan pakaian ringkas mereka berangkat berdua, menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang, menuju ke utara...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 22

SEMENTARA itu, Koksu yang mendengar ucapan itu, lalu mengangkat tangan ke atas minta semua orang tenang. Sebagai anggota pimpinan pemilihan bengcu, dia memang berhak bicara dan dia berkata kepada Yang Cien dengan suara nyaring.

“Tiga calon terdahulu sudah dikenal semua orang karena mereka memang merupakan tokoh-tokoh besar. Akan tetapi, engkau adalah seorang pemuda yang sama sekali belum di kenal, maka sebaiknya kalau engkau memperkenalkan diri tentang keadaan dirimu kepada kita semua...“

Yang Cien memandang kepada Koksu itu. Inilah musuh besarnya. Inilah orang yang menyebabkan kematian ayah ibunya, dan yang membuat dia dan kakeknya melarikan diri terlunta-lunta. Akan tetapi dia melupakan semua kenangan itu dan menghadapi semua orang. “Nama saya Yang Cien dan saya di pilih oleh para kaipang untuk menjadi pemimpin dan menjadi wakil mereka dalam pemilihan bengcu...“

Semua orang membicarakan pemuda yang tidak terkenal itu, dan banyak wakil pimpinan para perkumpulan besar yang masih meragukan kemampuan Yang Cien yang masih muda sebagai seorang beng-cu. Kalau kemampuan tiga orang yang lain mereka sudah tidak meragukannya lagi. Kini pihak pemilih terbagi menjadi dua golongan. Yang segolongan condong memilih Thian-te Ciu-kwi atau Sin-to Kwi-ong yang akan membawa mereka membantu pemerintah dan memperoleh kedudukan.

Akan tetapi mereka yang berjiwa patriot dan membenci penjajah, condong memilih Hek-liong-ong. Akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa Hek-liong-ong juga seorang datuk sesat, maka mereka banyak pula yang menoleh kepada Yang Cien. Bagaimanapun juga, tidak enak kalau perjuangan menentang penjajah di pimpin oleh seorang datuk sesat.

Kini Cu Lokai yang maju dan bicara. “Semua ada empat orang calon dan cuwi sudah mendengarkan suara mereka ketika mereka berbicara tadi, mengetahui isi hati mereka. Sekarang, seperti lazimnya dalam pemilihan bengcu, harus dilakukan ujian kepandaian. Siapa yang lebih tangguh dan lebih berhak untuk menjadi bengcu. Kita mengadakan undian siapa yang harus melawan siapa lebih dulu, untuk kemudian pemenang dari dua pertandingan itu di pertandingkan lagi, dan pemenangnya itulah yang berhak mendapat penilaian dan pertimbangan lebih dahulu untuk menjadi bengcu. Dapatkah peraturan ini di setujui...?”

Semua orang berteriak setuju karena di anggap peraturan itu sudah cukup adil. Undian lalu di lakukan dan ternyata hasil undian adalah bahwa peserta pertama, Thian-te Ciu-kwi harus bertanding melawan Hek-liong-ong dan peserta ke tiga, Sin-to Kwi-ong bertanding melawan Yang Cien. Kemudian pemenang dari kedua pertandingan ini akan di pertandingkan untuk merebut kejuaraan dan keluar sebagai pemenang.

Mendengar ini, Hek-liong-ong tertawa bergelak. “Akauw, pinjamkan pedangmu sebentar!” katanya dan Akauw tidak membantah, memberikan pedangnya kepada suhunya yang memegang pedang itu lalu menghadapi Thian-te Ciu-kwi di atas panggung.

Ketika melihat Hek-liong-ong menggerakkan pedang yang mengeluarkan sinar hitam itu, Yang Cien terkejut bukan main. “Hek-liong Po-kiam…!” katanya dalam hati dan dia merasa heran. Bagaimana pedang itu dapat terjatuh ke tangan Hek-liong-ong? Dia sudah mengambil keputusan untuk menarik Hek-liong-ong menjadi rekan seperjuangan karena tujuan mereka adalah sama, akan tetapi begitu melihat Hek-liong Po-kiam, hatinya menjadi ragu. Apa yang terjadi dengan Akauw maka pedangnya terjatuh ke tangan raksasa hitam itu?

Melihat lawannya sudah maju dengan pedang hitam di tangan, Thian-te Ciu-kwi juga mencabut pedangnya dan diapun meloncat ke depan Hek-liong-ong dengan marah. “Hek-liong-ong, engkau telah mencuri pedang muridku, kembalikan pedang itu kepadaku atau pertempuran ini akan ku buat menjadi pertempuran mati-matian memperebutkan pedang...“

“Ha-ha-ha, Ciu-kwi, jangan tekebur. Pedang ini sekarang milik muridku dan bukan milikmu, maka engkau tidak berhak memiliki. Kita memperebutkan kedudukan bengcu, bukan pedang. Hayo, mulailah memperlihatkan kepandaianmu...!”

“Bagus, jangan di kira aku takut menghadapimu, Hek-liong-ong! Haaiiittt… yaahhhh…!“

Thian-te Ciu-kwi mulai menyerang dengan dahsyat, menggunakan pedangnya yang juga merupakan sebatang pedang pusaka untuk menusuk ke arah perut lawan, Hek-liong-ong mengelak dan membalikkan tubuh, membalas serangan itu dengan bacokan kearah leher. Bacokan ini di lakukan sambil membalikkan tubuh sehingga cepat sekali datangnya, akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak menjadi gugup. Dengan tenang dan kuat pedangnya menangkis dari samping.

“Crringgg…!” Bunga api berhamburan ketika ke dua senjata bertemu dan keduanya merasa betapa tangan mereka bergetar. Akan tetapi, getaran pada tangan Thian-te Ciu-kwi lebih keras dari pada getaran yang di rasakan Hek-liong-ong dan hal ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga, Hek-liong-ong masih lebih unggul sedikit dibandingkan lawannya.

“Hyaatttttt…!” Thian-te Ciu-kwi kini memainkan Thian-te Sin-kiam (Pedang Sakti Langit Bumi) yang dilakukan dengan gerakan cepat bukan main. Pedang di tangannya menyambar-nyambar kadang-kadang dari atas kadang-kadang dari bawah dan pedang itu telah lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar kebiruan yang amat hebat, mengeluarkan suara berdesingan dan mendatangkan angina bersiutan.

Akan tetapi, dengan tenang Hek-liong-ong mengimbangi permainan pedang lawannya dengan ilmu pedang Hai-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Laut). Juga pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang bergelombang pasang yang dahsyat.

Semua orang memandang dengan penuh kagum. Pertandingan antara dua orang datuk ini memang hebat sekali. Kedua memiliki gerakan cepat dan memang sepasang pedang yang ampuh. Maka, dapat dibayangkan betapa hebatnya pertandingan itu. Akan tetapi, setelah lewat lima puluh jurus, nampaklah bahwa dalam hal tenaga, Hek-liong-ong lebih unggul. Beberapa kali, setelah kedua pedang yang mengandung tenaga sinkang bertemu, nampak Thian-te Ciu-kwi terhuyung. Dan semakin lama, ayunan pedang hitam Hek-liong-ong semakin kuat saja. Hal ini adalah karena Thian-te Ciu-kwi memiliki kebiasaan minum arak yang secara berlebihan sehingga hal ini sedikit banyak merusak kesehatan tubuhnya.

“Heeiiittttt…!” Dengan penasaran Thian-te Ciu-kwi menusukkan lambung kanan lawan.

“Hyeeehhhh…!” Hek-liong-ong Poa Yok Su mengelak dan pedang terayun cepat sekali menyambar kearah leher Ciu-kwi.

Ciu-kwi terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang lawan yang hitam. Baru sinar pedang yang hitam itu saja sudah amat berbahaya, apalagi kalau pedang itu mengenai lehernya. Dia terjengkang dan menggulingkan diri, bergulingan mendekati lawan dan pedangnya membabat kearah kaki Hek-liong-ong.

Hek-liong-ong melompat ke atas lalu meluncur turun menusukkan Hek-liong Po-kiam kearah leher Ciu-kwi. Ciu-kwi tidak dapat mengelak lagi dan menangkis pedangnya.

“Traaannggg…!” pedang itu tertangkis, melewat dan masih menyerempet pundak Ciu-kwi sehingga pundak itu berdarah. Ciu-kwi terhuyung ke belakang dan mukanya berubah merah sekali. Bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa pundaknya terluka. Walaupun tidak berat luka itu, namun cukup mengeluarkan banyak darah dan terpaksa dia harus mengakui keunggulan lawan.

“Hek-liong-ong, engkau memang semakin lihai saja!” katanya dan diapun melompat turun dari atas panggung itu agar jangan menderita malu.

Sorak-sorai dari mereka yang mendukung Hek-liong-ong menyambut kemenangan itu ketika Cu Lokai yang juga diam-diam merasa girang itu mengumumkan bahwa dalam adu ilmu itu Hek-liong-ong telah keluar sebagai pemenang.

“Sekarang tiba giliran calon ketiga dan ke empat untuk menguji kepandaian masing-masing!” kata Cu Lokai dengan suara lantang. Semua orang kini memandang penuh perhatian. Mereka sudah mendengar tentang kehebatan Sin-to Kwi-ong, ketua dari Perkumpulan Golok Setan itu, yang terkenal sekali dengan ilmu goloknya yang lihai dan tenaganya yang amat kuat. Apakah pemuda yang tidak terkenal itu akan mampu menandingi datuk yang namanya terkenal di sepanjang Sungai Huai itu?

Akan tetapi, Sin–to Kwi-ong sendiri tidak kelihatan gembiara mendapatkan lawan pemuda itu. Dia pernah bertanding melawan pemuda itu dan dia tidak dapat menganggap pemuda itu sebagai lawan yang ringan. Sama sekali tidak , bahkan dia pernah di desak oleh pemuda yang memiliki gerakan pukulan aneh yang mendatangkan nagin bergelombang amat dahsyatnya. Dan kini dia harus berhadapan lagi dengan pemuda itu! Akan tetapi, di situ terdapat kawan-kawannya, terutama sekali terdapat Koksu, maka dia tidak takut dan cepat dia mencabut goloknya menghadapi Yang Cien.

“Bocah she Yang! Kembali kita berhadapan dan sekali ini aku tidak akan melepaskanmu!” bentaknya.

“Kwi-ong, kita berdua adalah calon-calon bengcu yang hendak menguji kepandaian masing-masing. Tidak perlu banyak cakap lagi dan silahkan mulai!” jawab Yang Cien. Dia tahu bahwa Raja Iblis ini adalah antek penjajah pula, dan dia sudah pernah merasakan betapa lihainya golok setan di tangan kakek tinggi besar yang berwajah bengis itu.

“Lihat golok, hiyaattt…!” Sin-to Kwi-ong sudah menerjang dan memutar goloknya. Begitu menyerang dia langsung saja mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh karena dia sudah tahu bahwa lawannya lihai.

Yang Cien bergerak cepat, mengelak dari sambaran-sambaran golok itu dan ketika dia menangkis, terdengar suara lantang nyaring bertemunya pedang putihnya dan golok, menimbulkan suara berdentingan dan mendatangkan bunga api berhamburan. Mereka lalu saling serang dengan sengitnya. Pertandingan beberapa bulan yang lalu di ulangi, akan tetapi sekarang pertandingan dilakukan satu lawan satu, tidak seperti dahulu yang terjadi dalam sebuah pertempuran keroyokan yang kacau balau. Apalagi pertandingan kali ini adalah merupakan saling uji kepandaian, terjadi di atas saling uji kepandaian, terjadi di atas panggung di saksikan ratusan pasang mata orang kang-ouw sehingga mereka tidak mungkin dapat melakukan kecurangan.

“Tring-tring-traanggg…!”

Untuk kesekian kalinya golok itu bertemu dengan pedang dan kini Yang Cien mulai menggunakan pukulan-pukulan jarak jauh dengan tangan kirinya, yaitu pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng.

Biarpun Sin-to Kwi-ong sudah siap menghadapi pukulan aneh itu, dan menangkis, tetap saja dia terhuyung oleh gelombang hawa pukulan yang amat dahsyat itu. Dia terkejut sekali dan berusaha untuk memutar goloknya sambil bergulingan untuk menghindarkan pukulan dan mendesak lawan sambil berguling goloknya membuat bacokan-bacokan dari bawah seperti seekor ular menyerang lawannya.

Yang Cien terkejut dan cepat dia berlompatan untuk menghindarkan diri dan ketika mendapat kesempatan, selagi dia menangkis dan pedangnya menempel ketat dengan golok lawan, dia pun membarengi dengan dorongan tangan kirinya. Itulah jurus ampuh sekali dari Bu-tek Cin-keng yang di sebut Tangan Dewa Keluarkan Kilat.

Hawa pukulan sinkang yang amat kuat mencuat dari telapak tangan itu. Kwi-ong masih berusaha untuk menyambut dengan tangan kirinya, akan tetapi dia mengeluh dan tubuhnya terjengkang ke belakang dan diapun roboh dan muntah darah!

Yang Cien tidak melanjutkan serangannya, melainkan berdiri menunggu dengan pedang ditangan. Sin-to Kwi-ong merangkak bangun dan Lai Seng sudah meloncat ke atas panggung untuk membantu mertuanya bangkit berdiri lalu keduanya meninggalkan panggung. Sorak sorai bergemuruh menyambut kemenangan ini yang di umumkan oleh Cu Lokai.

Diam-diam Cu Lokai dan para pejuang yang menentang penjajahan merasa gembira bukan main. Yang menang adalah Hek-liong-ong dan Yang Cien, justeru dua orang calon yang berpihak kepada pejuang dan menentang penjajahan, Koksu berdiri dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Dia merasa terpukul sekali karena dua orang jagoannya telah kalah. Dia sendiri sebagai Koksu tentu saja tidak dapat mengajukan diri sebagai calon bengcu dan yang menang adalah dua orang yang berjiwa pemberontak.

Sementara itu, Hek-liong-ong yang haus kemenangan itu, melihat betapa Yang Cien keluar sebagai pemenang, langsung tanpa menanti pengumuman Cu Lokai lagi lalu menantang Yang Cien, “Orang muda, pemenangnya adalah engkau dan aku. Marilah kita berdua mengadu kepandaian untuk menentukan siapa di antara kita yang berhak menjadi bengcu!” Setelah berkata demikian, dia mengangkat Pedang Pusaka Naga Hitam yang di pinjamnya dari muridnya.

“Suhu, jangan!” Tiba-tiba Akauw meloncat ke atas panggung dan melihat pemuda ini, Yang Cien kaget dan heran, juga girang bukan main.

“Sute…!”

“Suhu, dia adalah suhengku sendiri. Harap suhu suka mengalah dan menyerahkan kedudukan bengcu kepada suheng! “ kata Akauw kepada suhunya.

“Ha-ha, dia harus mengalahkan aku lebih dulu kalau mau menjadi bengcu...“ bentak Hek-liong-ong.

Yang Cien girang melihat kenyataan bahwa sutenya bukan menjadi antek Kerajaan Mongol seperti yang pernah di dengarnya dari Thio Cid an Thio Kui, melainkan sutenya menjadi murid seorang datuk yang juga berjiwa pejuang!

Pada saat itu, terdengar teriakan panjang dan nyaring, “Hek-liong-ong dan Yang Cien, kalian hendak menggerakkan dunia kang-ouw untuk memberontak kepada pemerintah. Atas nama kaisar kami akan menangkap kalian. Menyerahlah, tempat ini sudah di kepung...!”

Ternyata yang berteriak itu adalah Koksu dan benar saja, tempat itu kini telah dikepung pasukan yang agaknya telah dipersiapkan secara diam-diam oleh Koksu.

“Curang...!” teriak Hek-liong-ong melihat ini. “Toat-beng Giam-ong, urusan pemilihan bengsu tidak ada hubungan dengan pemerintah!” kata pula Cu Lokai dengan marah melihat kecurangan Koksu yang menggunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan, bukan saja mencampuri pemilihan bengcu di dunia kangouw, bahkan hendak melakukan penangkapan.

“Saudara-saudara sekali, siapa yang membantu kami menangkapi pemberontak, akan mendapat pahala, sebaliknya yang membantu pemberontak akan di tangkap dan di hukum berat!” berulang-ulang Koksu berteriak dan pasukan mulai mengepung tempat itu dengan ketat.

Dengan sendirinya Lai Seng, Bong Kwi Hwa, Sin-to Kwi-ong, Thian-te Ciu-kwi, Gu Moko, Huangho Sam-houw dan para anak buah Koksu sudah siap dengan senjatanya masing-masing untuk melakukan pengeroyokan dan penangkapan.

Melihat ini, Hek-liong-ong marah sekali. Dia menyerahkan pedangnya kepada muridnya dan sebagai gantinya Pedang Pusaka Naga Hitam, dia menggunakan pedangnya sendiri yang panjang besar. “Kauw Cu, mari kita hajar antek-antek Mongol ini!”

Akauw mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan dia sudah menerjang ke arah Koksu dengan keberanian luar biasa. Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi, bekas gurunya. menghadangnya dengan pedang di tangan sehingga terpaksa Akauw menyerangnya. Bekas guru dan murid ini bertanding sendiri, akan tetapi sebentar saja Akauw sudah di keroyok banyak orang. Hek-liong-ong juga sudah di keroyok oleh Sin-to Kwi-ong yang di bantu puterinya, Bong Kwi Hwa. Para pasukan juga mulai bergerak hendak menangkap Yang Cien.

Melihat keadaan ini, banyak wakil para perkumpulan besar yang tidak mau melibatkan diri lalu meninggalkan tempat itu. Akan tetapi banyak pula yang membela kaum pemberontak sehingga terjadilah pertempuran sengit di tempat itu. Im-yang To-kouw melihat kesempatan ini, sudah menggerakkan kebutan dan pedangnya, menyerang Lai Seng dengan kemarahan meluap-luap karena ia teringat akan muridnya yang menjadi korban kejahatan pemuda ini sehingga tewas.

“Jahanam busuk, engkau harus menebus dosamu terhadap murid pin-ni Kwe Sun Nio!” bentaknya dan kebutan serta pedangnya menyerang dengan dahsyat sehingga Lai Seng terdesak mundur. Akan tetapi isterinya yang tadinya membantu ayah mertuanya, sudah meninggalkan orang tua itu untuk membantunya sehingga To-kouw itu di keroyok dua, Sin-to Kwi-ong yang di tinggalkan puterinya, terdesak oleh Hek-liong-ong, akan tetapi segera dia di bantu oleh Huang-ho Sam-houw sehingga keadaan mereka berimbang lagi.

Lui Koksu sendiri tidak mau melepaskan Yang Cien. Dia melihat bahwa pemuda itu amat berbahaya, agaknya mendapatkan banyak sekali pendukung, oleh karena itu harus lebih dulu di tangkap atau dibunuh. Maka dia sendiri yang meloncat dan dia sudah memainkan golok gergajinya dengan hebat sekali menyerang Yang Cien. Yang Cien menggunakan Pek-liong Po-kiam menyambut dan terjadilah pertandingan yang paling hebat di antara mereka.

Biarpun semua anggota Hek I Kaipang juga bangkit dan melakukan perlawanan, namun jumlah pasukan jauh lebih banyak sehingga Yang Cien maklum bahwa pertempuran itu tidak akan menguntungkan pihaknya kalau dilanjutkan.

“Kwan-kawan, munduuuurrrr…!” bentaknya berulang-ulang dan dia sendiri sudah meloncat meninggalkan Koksu, mengamuk di antara pasukan musuh, merobohkan banyak orang.

Perbuatannya ini di turut pula oleh Akauw, Hek-liong-ong, Im-yang To-kouw, para kai-pangcu dan semua yang membela pihak pejuang sehingga pasukan yang tadinya mendesak terpaksa mundur. Kesempatan ini dipergunakan mereka untuk melarikan diri dan pasukan tidak berani mengejarnya. Juga Koksu tidak berani mengejar sendiri-sendiri karena di pihak musuh terdapat banyak sekali orang pandai. Pengejaran hanya di lakukan oleh pasukan yang terpimpin dan ini sukar sekali karena para pemberontak itu melarikan diri cerai berai.

Jauh dari tempat itu, para pejuang berkumpul kembali. Hek-liong-ong sudah lenyap seleranya untuk menjadi beng-cu. Dia memang tadinya terbakar semangatnya oleh sikap muridnya saja, setelah melihat betapa sukarnya mengurus dan memimpin dunia kang-ouw menghadapi pemerintah penjajah, dengan rela dia mengalah dan menyerahkan kedudukan beng-cu kepada Yang Cien, sesuai dengan permintaan muridnya.

“Orang muda, engkau cukup gagah dan bijaksana untuk menjadi bengcu. Baiklah, aku mengundurkan diri dari kedudukan bengcu dan ku serahkan kepadamu. Kalau kelak usahamu sudah berhasil, menghimpun kekuatan untuk mengusir penjajah dari tanah air, aku Hek-liong-ong akan membantumu sekuat tenaga...“

“Terima kasih lo-cian-pwe. Saya harap lo-cian-pwe merelakan sute Cian Kauw Cu menjadi pembantuku...“

“Baik, dia memang sudah selesai belajar dariku. Kauw Cu jangan mengecewakan aku yang pernah menjadi gurumu. Jadilah pejuang yang gagah perkasa dan kelak mengangkat pula namaku yang menjadi gurumu...“

“Harap suhu jangan khawatir. Di samping suheng Yang Cien, aku akan berkerja sebaik mungkin...“ jawab Akauw yang merasa gembira sekali dapat berkumpul kembali dengan suhengnya.

Im-yang To-kouw juga menyatakan mendukung Yang Cien dan siap dengan anak buahnya kalau saat perjuangan sudah tiba, kemudian To-kowu ini meninggalkan tempat itu sambil berpesan, “Yang-taihiap, harap engkau cari kesempatan untuk membunuh Lai Seng demi muridku. Aku telah gagal membunuhnya karena dia di bantu banyak orang...“

“Jangan khawatir, lo-cianpwe, Tanpa adanya urusan penasaran dari nona Kwe, orang yang bernama Lai Seng itu memang pantas untuk di lenyapkan dari permukaan bumi dimana dia hanya membuat kotor dengan kejahatannya saja...“ jawab Yang Cien.

Para tokoh lain yang tadi ikut membela para pejuang juga pamit dan mereka semua menyatakan mendukung Yang Cien sebagai beng-cu dan berjanji akan membantu kalau saat perjuangan tiba. Yang tinggal hanyalah para kaipang-cu, termasuk Akauw tidak mau berpisah lagi dari suhengnya.

Sementara itu, Koksu membuat beng-cu tandingan. Dia mengangkat Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dari golongan orang kang-ouw yang memihak pemerintah. Dan terutama para tokoh kang-ouw golongan sesat banyak yang mengakui Thian-te Ciu-kwi sebagai bengcu dan mereka merupakan segolongan orang kang-ouw yang siap melakukan tugas yang diberikan Koksu melalui Thian-te Ciu-kwi.

Dan mulailah Koksu menyebar pasukan dengan di bantu orang-orang kangouw untuk mengejar mereka yang berpihak kepada pejuang untuk di tangkapi atau di bunuh. Terjadilah perpecahan di dunia kang-ouw karena ulah Koksu ini. Akan tetapi, para pimpinan perkumpulan-perkumpulan silat yang besar tidak mau terseret dalam permusuhan antara dua kelompok orang kang-ouw ini. Mereka hanya menanti dan diam-diam di antara mereka banyak yang siap kalau tiba waktunya mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Mereka pun sebagian besar tidak rela melihat tanah air di jajah oleh bangsa Toba.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

“Sute, sudah lama sekali aku mencarimu dan beruntung kita bisa bertemu di pemilihan beng-cu itu. Kemana saja engkau selama ini, sute?” Tanya Yang Cien ketika dia sempat bicara berdua saja dengan Akauw.

“Ah, panjang sekali ceritanya, suheng. Aku telah mengalami banyak sekali peristiwa yang aneh-aneh. Bahkan aku pernah berguru kepada dua orang, yang pertama adalah Thian-te Ciu-kwi, dan yang kedua adalah Hek-liong-ong itulah...“ Lalu dengan panjang lebar Akauw menceritakan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan Lembah Iblis.

“Dan engkau pernah menjadi panglima yang membantu kaisar Kerajaan Toba...?”

“Itulah, Suheng. Karena aku menjadi murid Thian-te Ciu-kwi, maka aku di ajak ke kota raja dan menghadap Koksu dan Perdana Menteri Ji. Disana aku diangkat menjadi panglima. Akan tetapi sama sekali aku tidak melupakan pesanmu, juga tidak pernah melakukan kejahatan, juga tidak sewenang-wenang. Memang ketika aku melakukan penyelidikan atas gerakan para pemberontak. Akan tetapi kemudian aku menyadari bahwa yang di sebut para pemberontak itu bukanlah penjahat, melainkan mereka yang hendak berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkraman penjajah. Karena itu, aku lalu meninggalkan Thian-te Ciu-kwi, meninggalkan kedudukanku. Ketika itu, Thian-te Ciu-kwi tidak keberatan aku mengundurkan diri akan tetapi dia minta agar aku menyerahkan Hek-liong Po-kiam kepadanya. Tentu saja aku menolak permintaannya itu dan pada saat itu, po-kiam itu terampas dari tanganku oleh Hek-liong-ong yang amat lihai. Aku lalu mengejarnya sampai ke Pulau Naga, tempat tinggalnya setelah mengalami banyak hal yang luar biasa. Ternyata dia bukanlah orang yang terlalu jahat, bahkan dia suka kepadaku dan mengangkatku sebagai muridnya. Pedang itu pun dia kembalikan kepadaku dan akhirnya aku berhasil membujuknya untuk menjadi seorang pejuang yang menentang pemerintah penjajah...“

“Ah, begitukah? Tadinya aku sudah heran sekali bahkan tidak percaya kalau engkau menjadi panglima, menjadi antek penjajah. Sungguh melegakan hati mendengar ceritamu, sute. Sekarang kau bentulah aku menyusun kekuatan. Kita tidak boleh tergesa-gesa memimpin mereka untuk berjuang menentang pemerintah. Pasukan pemerintah terlalu kuat untuk dapat di kalahkan begitu saja, kita harus menyusun kekuatan, mempersatukan segenap kekuatan dari empat penjuru. Aku sudah mempunyai kekuatan yang mendukungku, dan kekuatan itu cukup besar, terdiri dari semua kaipang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru. Kalau mereka itu di latih berperang, tentu akan merupakan kekuatan yang hebat. Dan kita pun di dukung oleh partai-partai persilatan besar yang sudah menjanjikan bantuan kalau saat perjuangan tiba..."

"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, suheng? Apa saja yang terjadi denganmu setelah kita berpisah...?”

Yang Cien menceritakan pengalamannya. Dia belum lama meninggalkan Lembah Iblis dan begitu tiba di dunia ramai langsung saja dia bertemu dengan para kaipang yang kemudian mendukungnya, bahkan memilih dia menjadi calon beng-cu, mengangkatnya menjadi pemimpin besar para kai-pang.

“Aku mempunyai tugas penting untukmu, sute...“

“Katakanlah, tugas apa itu? Aku akan senang sekali melakukannya untukmu, suheng...“

“Aku minta engkau menyeberang ke selatan dan menyelidiki keadaan kerajaan Sun di selatan. Kerajaan itu kecil saja akan tetapi aku mendengar bahwa Kerajaan Sun memiliki pasukan yang cukup kuat. Kurasa, di selatan itu dapat kita jadikan pangkalan pertama yang amat baik untuk menghimpun kekuatan...“

“Akan tetapi, apakah Raja Kerajaan itu akan membolehkannya...?”

“Karena itulah, kita harus mengadakan kontak dengannya dan aku mempercayakan kepadamu, sute. Aku akan menulis sepucuk surat untuk Sun Huangte, atas nama seluruh kai-pang. Dan coba kau hubungi kai-pang yang berada di sana, tentu mereka sudah mendengar tentang diriku yang di angkat oleh semua kai-pang menjadi pemimpin besar. Kalau sikap para kai-pang mendukung, tentu mereka akan dapat membantumu di selatan sana...“

Akauw memaklumi betapa penting tugas yang dibawanya, maka dia lalu membuat persiapan. “Berhati-hatilah, sute, dan jangan mudah terseret oleh perasaanmu, jangan mudah terpancing ke dalam perkelahian yang tidak ada gunanya. Engkau harus dapat menunjukkan kepada Sun Huang-te bahwa kedatanganmu mengajak kerjasama menentang pemerintah penjajah Toba...“

“Aku mengerti, suheng...“

Beberapa hari kemudian, berangkatlah Akauw seorang diri, membawa bekal surat dari Yang Cien, menyeberang Sungai Huai memasuki daerah Kerajaan Sun yang berada di sebelah selatan sungai itu.

Setelah sutenya pergi, Yang Cien yang duduk seorang diri di pondoknya sambil memutar otak, tiba-tiba kedatangan dua orang yang pernah di temui beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kakak beradik Yen, yaitu Yen Gun dan Yen Sian, putera dan puteri Gubernur Yen Kan dari Lok-yang yang di tangkap kaisar.

“Silahkan, kongcu, siocia. Silahkan duduk...“ kata Yang Cien mempersilahkan. Pernah ketika dia berkunjung ke tempat tinggal Thio Ci dan Thio Kui, dia di pertemukan dengan putera puteri Gubernur yang gagah perkasa itu dan dia menghibur mereka untuk bersabar.

“Perjuangan memang membutuhkan korban...“ katanya pada waktu itu. “Dan kebetulan ayah ji-wi yang menjadi korban. Akan tetapi karena belum terdapat bukti-bukti bahwa ayah ji-wi melakukan pemberontakan kukira beliau tidak akan di hokum, hanya di tahan saja sambil mereka mencari bukti-buktinya dulu. Sekarang hendaknya ji-wi tinggal bersama para anggota kai-pang agar tidak sampai tertangkap, karena tentu kaki tangan Koksu akan mencari ji-wi kemana-mana...“

Demikianlah, kakak beradik itu bersembunyi di dalam perkumpulan pengemis Baju Hitam. Bahkan ketika terjadi pemilihan bengcu di Thai-san, mereka tidak berani muncul karena kalau mereka ketahuan, mereka pasti di tangkap. Mereka di anggap sebagai pelarian, sebagai keluarga Gubernur Yen terdekat.

“Apa yang membawa ji-wi pagi ini datang ke sini...?” Tanya Yang Cien sambil memandang mereka dengan penuh selidik. Dia kagum sekali kepada kakak beradik yang gagah perkasa ini, sebagai pemuda pemudi bangsawan dapat menyesuaikan diri dan hidup di antara para pengemis tanpa merasa risih.

“Yang-taihiap, kami sudah tidak bersabar lagi!” kata Yen Sian sambil menatap tajam wajah Yang Cien. “Kami tidak mungkin dapat membiarkan saja ayah dan ibu merana dalam tahanan. Akan tetapi Thio-pangcu selalu melarang kami untuk bertindak. Karena itu kini kami menghadap tai-hiap untuk mohon pertimbangan. Bagaimana baiknya, apakah kita harus mendiamkan saja ayah dan para ibu meringkuk dalam tahanan tanpa keputusan...?”

“Kalau menurut kehendakmu, apa yang akan kau lakukan Yen-siocia?” Tanya Yang Cien dengan ramah.

“Kami minta persetujuanmu untuk bertindak, taihiap. Kalau mungkin, kami akan senang sekali apabila mendapat bantuan beberapa orang teman dari Hek I Kaipang, akan tetapi kalau tidak, kami ingin bertindak sendiri membebaskan ayah dan ibu dari dalam tahanan...!”

“Akan tetapi, tindakan itu berbahaya sekali dan juga tidak ada gunanya, nona. Kalian pasti akan gagal karena penjagaan pada rumah tahanan di kota raja ketat sekali. Katakanlah ji-wi akan berhasil meloloskan Gubernur Yen dari rumah tahanan, akan tetapi bagaimana akan mampu lolos keluar dari kota raja? Usaha itu akan sia-sia bahkan amat membahayakan ji-wi sendiri...“

“Kami tidak takut mati!” kata Yen Sian.

“Aku percaya, nona, dan aku kagum melihat kebaktian nona dan keberanian, akan tetapi ingatlah bahwa mungkin sekali membahayakan orang tuamu sendiri kalau berusaha lari lalu tertangkap di sana..."

Banyak nasehat diberikan Yang Cien kepada Yen Gun dan Yen Sian, akan tetapi agaknya kakak beradik ini tidak merasa puas. Terutama sekali Yen Sian yang tidak dapat tinggal diam melihat orang tuanya menjadi tawanan di kota raja. Akhirnya, seperti yang di khawatirkan Yang Cien, pada suatu pagi, kakak beradik itu pergi tanpa pamit!

Yang Cien merasa khawatir sekali. Sebetulnya, hal ini bukanlah urusannya. Dia sudah lebih dari cukup memberi nasehat dan saran, akan tetapi kalau kakak beradik itu bersikeras untuk mencoba melepaskan ayah ibunya dari tahanan, apa yang dapat dia lakukan? Bagaimanapun juga, tidak kuat hatinya membayangkan Yen Sian tertangkap orang-orangnya Koksu. Tak mungkin dia membiarkan saja gadis itu di tawan dan dalam bahaya maut. Maka dia pun segera berangkat mengejar.

Yen Gun dan Yen Sian memang sudah nekad. Kakak beradik ini tidak suka makan dan tidak dapat tidur setiap kali mereka teringat kepada ayah dan ibu dan seluruh keluarga yang menjadi tawanan di kota raja. Mereka nekat untuk mencoba membebaskan ayah dan ibu mereka dari tahanan musuh, tidak peduli bahwa kota raja merupakan tempat yang berbahaya sekali bagi mereka. Dengan mengenakan pakaian ringkas mereka berangkat berdua, menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang, menuju ke utara...