Social Items

HAN SIN melihat bahwa ilmu kepandaian to-kouw ini cukup berat walaupun masih kalah dibandingkan ketua Hwa-li-pang yang pernah di lihatnya bertanding melawan keluarga gila dahulu itu. Dia pun menyambutnya dengan gerakan cepat dan membiarkan wanita itu mengamuk dan menyerang bertubi-tubi sampai tiga puluh jurus lebih. Dia hanya mengelak dan kadang menangkis saja.

“Lo-cian-pwe, perlahan dulu!” Han Sin meloncat kebelakang. “Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu!”

“Kalahkan dulu pedang dan kebutanku, baru kita bicara!” kata to-kouw itu yang mengira bahwa pemuda itu menjadi jerih.

“Hemm, begitukah maumu? Baik!” kata Han Sin yang tadinya tidak ingin membikin malu To-kouw itu dengan mengalahkannya. Sekarang mau tidak mau dia harus mengalahkan wanita berhati baja ini. Maka mulailah dia mengisi kedua tangannya dengan tenaga Bu-tek Cin-keng dan begitu dia mendorong kedua tangannya, Kang Sim To-kouw tidak mampu bertahan dan terdorong ke belakang, terhuyung dan hampir roboh kalau beberapa orang muridnya tidak cepat merangkulnya. Diam-diam Kang Sim To-kouw terkejut bukan main. Tak disangkanya ia akan dikalahkan demikian mudahnya oleh seorang pemuda!

“Nah, lo-cian-pwe, apakah engkau akan menjilat ludah sendiri dan tidak memenuhi janji untuk mendengarkan pembicaraanku?”

Dengan cemberut Kang Sim To-kouw mendengus. “Masuklah dan mari kita bicara!” katanya karena di depan semua muridnya sudah jelas ia telah dikalahkan dan tentu saja ia tidak ingin mengingkari janji.

Ia masuk ke dalam kuil dan di ikuti oleh Han Sin. Setelah berada di ruangan dalam, mereka duduk berdua berhadapan dan Kang Sim To-kouw berkata ketus, “Nah, katakan apa yang hendak kau bicarakan?”

Han Sin senang melihat bahwa di situ tidak ada orang lain sehingga dia dapat leluasa bicara. Dia tersenyum, memandang tajam lalu berkata perlahan, “Pang-cu, aku datang ingin membicarakan tentang dosamu yang amat besar!”

Sepasang mata itu terbelalak dan muka itu berubah merah sekali karena marahnya. “Orang muda! Apakah karena sudah dapat menang melawan aku engkau lalu boleh main-main sesuka hatimu? Jangan kurang ajar!”

“Maaf, pang-cu. Aku tidak main-main. Aku bicara sejujurnya. Aku tahu apa yang kau lakukan belasan tahun yang lalu. Mungkin tidak ada orang lain yang mengetahui, akan tetapi aku tahu benar bahwa engkau telah melakukan dosa besar sekali!”

Kini w ajah yang tadinya merah berubah agak pucat dan pandang matanya penuh selidik. “Hemm, coba katakan, dosa apa yang telah kulakukan?”

“Engkau telah menculik seorang anak perempuan yang kau tinggalkan di dalam hutan!”

Wajah itu menjadi pucat sekali dan otomatis wanita tua itu menoleh ke kanan kiri untuk melihat apakah pembicaraan mereka ada yang mendengarkan. Setelah yakin bahwa di situ tidak ada orang lain, ia memandang kepada Han Sin.

“Kau bohong! Kau ngawur dan melakukan fitnah!” Akan tetapi teriakannya dilakukan dengan suara bisik-bisik.

Han Sin tertawa. “Pang-cu engkau seorang ketua dan seorang pendeta wanita. Sungguh tidak pantas sekali apa yang kau lakukan itu. Akan tetapi Thian adil. Perbuatanmu itu ada yang melihatnya dan anak perempuan itu kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang berilmu tinggi sekali. Apa yang akan dilakukannya kalau ia kuberitahu bahwa engkau dulu menculiknya?”

Kang Sim To-kouw merasa tersudut dan akhirnya ia menghela napas panjang. Memang perbuatannya itu selalu menghantuinya dan ia merasa menyesal bukan main. “Cian Han Sin, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Hem, aku tidak akan menceritakan kepada siapapun juga asal engkau suka memenuhi permintaanku...“

“Apa yang kau kehendaki?”

“Aku ingin mengetahui siapa orang tua anak itu!”

“Kalau aku tidak mau memberitahu?"

“Akan kusiarkan ke seluruh dunia kang-ouw bahwa pang-cu dari Thian-li-pang yang terhormat itu ternyata hanyalah seorang penculik anak kecil, seorang penculik yang kejam, juga akan ku beritahukan kepada gadis itu agar ia sendiri yang menuntut balas ke sini. Dan jangan harap kalian semua akan mampu menandinginya! Ia lebih lihai daripada aku!” kata Han Sin mengancam.

Wajah itu semakin pucat dan berulang kali ia menghela napas panjang. “Baiklah, akan kuberitahu kepadamu sendiri. Bocah itu adalah anak dari sumoiku sendiri...“

“Siapa sumoimu?”

“Namanya Ciang Hwi, sekarang bernama Pek Mau To-kouw…”

“Pek Mau To-kouw ketua Hwa-li-pang di Hwa-san?“ Han Sin memotong dan Kang Sim To-kow mengangguk sambil menundukkan mukanya. "Akan tetapi… mengapa…?”

“Jangan Tanya mengapa… Aku akan menjadi gila karena iri hati…“ Dan tiba-tiba to-kouw itu menangis sesunggukan, tanpa suara.

Han Sin dapat melihat betapa to-kouw itu menyesali perbuatannya, maka diapun merasa kasihan. “Penyesalan saja tiada gunanya, pang-cu. Yang penting pang-cu harus berani mengakui kepada sumoimu dan minta maaf. Aku mengenal Pek Mau To-kouw dan ia adalah seorang yang berbudi mulia. Tentu ia akan suka memaafkanmu“

Kang Sim To-kouw mengangguk. ”Maukah engkau menemaniku mengunjunginya?”

“Tentu saja. Mari kutemani engkau berkunjung ke Hwa-li-pang...“

Kang Sim To-kouw lalu menghentikan tangisnya. Ia memanggil para murid kepala dan berpesan agar mereka menjaga Thian-li-pang baik-baik karena ia hendak pergi bersama Han Sin. Para murid memandang heran akan tetapi tidak ada yang berani bertanya.

Pada hari itu juga, Kang Sim To-kouw berangkat bersama Han Sin menuju ke Hwa-li-pang. Kalau bukan karena urusan itu menyangkut diri Kim Lan, tentu Han Sin tidak mau bersusah payah menemani pang-cu itu ke Hwa-san.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 31 karya kho ping hoo

Kedua orang to-kouw itu saling berhadapan dan saling pandang sampai beberapa lamanya. Akhirnya Kang Sim To-kouw yang mendahului memanggil. “Sumoi…!”

Pek Mau To-kouw terbelalak, merasa seperti dalam mimpi. Tadinya ia tidak mengenal siapa to-kouw yang berdiri di depannya itu karena sudah nampak tua sekali, seperti telah berusia tujuh puluh tahun. Akan tetapi setelah Kang Sim To-kouw memanggilnya, barulah ia menyadari bahwa yang berdiri di depannya benar-benar Yap Ci Hwa atau Kang Sim To-kouw, sucinya. Ia lalu maju merangkul dan berseru.

“Suci…! Benarkah engkau ini, suci? Terima kasih kepada Thian! Suci mau datang ke sini berkunjung kepadaku?”

Mereka berangkulan kemudian Pek Mau To-kouw dapat menguasai dirinya dan memandang kepada Han Sin.

“Suci datang bersama pemuda ini… heiii, bukankah sicu ini pemuda yang dulu datang bersama keluarga gila itu?”

Han Sin memberi hormat. “Benar pang-cu, Thian-li-pangcu berkunjung untuk membicarakan hal yang teramat penting kepadamu, maka harap kami diperbolehkan bicara di dalam...“

“Ah, mari, silahkan! Silahkan masuk!”

Pek Mau To-kouw menggandeng tangan Kang Sim To-kouw yang masih terharu melihat sambutan sumoinya yang dahulu di musuhinya dan Han Sin mengikuti dari belakang. Mereka duduk dalam ruangan tamu.

“Hal penting apakah yang perlu dibicarakan?” Tanya Pek Mau To-kouw dan ia semakin heran melihat betapa tiba-tiba saja sucinya menangis.

“Eh? Suci, engkau kenapakah? Orang-orang seperti kita ini sudah tidak semestinya lagi menangisi sesuatu. Segala sesuatu dalam dunia ini adalah baying-bayang belaka, tidak ada yang perlu di susahkan...“

“Sumoi, aku datang untuk minta ampun kepadamu“

Pek Mau To-kouw terbelalak memandang sucinya, kemudian menoleh kearah Han Sin. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk saja.

“Suci, apa-apaan ini? Akulah yang seharusnya minta maaf kepadamu bahwa selama ini aku tidak mengunjungimu, bahkan sebaliknya hari ini engkau datang berkunjung. Kenapa mint a ampun?”

“Sumoi, aku datang untuk membuat pengakuan akan dosaku yang tak berampun kepadamu. Aku… Akulah yang telah menculik anak perempuanmu dahulu“

Betapapun tenang dan sabarnya ia, Pek Mau To-kouw terlonjak kaget dan meloncat dari tempat duduknya. Sambil berdiri dengan muka pucat ia memandang sucinya. “Akan tetapi… kenapa… kenapa kau lakukan itu, suci? Dan dimana ia sekarang? Dimana anakku?”

Han Sin berkata, “Jangan khawatir, pang-cu. Puterimu masih hidup dan sekarang telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi..."

Pek Mau To-kouw menjatuhkan dirinya duduk di atas kursi lagi, merangkap kedua tangan seperti menyembah dan berseru. “Terima kasih kepada Thian! Anakku masih hidup, achh, anakku masih hidup!”

“Sumoi, maukah engkau memaafkan aku?”

“Tentu saja, suci. Peristiwa itu sudah berlalu belasan tahun lamanya dan anakku Lan Lan masih hidup! Dimana ia sekarang?”

“Aku tidak tahu, sumoi dan Cian Han Sin inilah yang mengetahui dimana ia“

“Aku juga tidak tahu dimana ia sekarang. Akan tetapi aku akan mencarikan ia untukmu, pang-cu. Tidak dapatkah pang-cu menduga siapa anakmu itu? Pernah pang-cu bertemu dengannya di sini!”

“Ehhhh…? Siapakah? Sudah ratusan orang gadis kutemui di sini, yang datang bersembahyang…“

“Akan tetapi puterimu itu lain lagi. Ia sendiri tidak tahu bahwa engkaulah ibu kandungnya. Puterimu itu adalah gadis berpakaian putih yang bernama Kim Lan itu...“

Kembali Pek Mau To-kouw melonjak kaget, akan tetapi kali ia kelihatan gembira bukan main. “Ia…! Ah, terima kasih Tuhan, anakku menjadi gadis yang berbudi dan sakti. Ah, sicu, dimana ia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya!”

“Tenanglah, pang-cu. Aku sendiri tidak tahu dimana ia sekarang ini, akan tetapi aku berjanji akan membawanya ke sini bertemu denganmu!”

Pek Mau To-kouw yang merasa bahagia sekali itu lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada Han Sin. “Terima kasih, Cian-sicu, engkau merupakan dewa penolong bagiku!”

Han Sin cepat membalas penghormatan itu. “Aihh, pang-cu. Harap jangan bersikap seperti itu. Ingat, ketika aku dijadikan taw anan keluarga gila itu, pang-cu juga telah ikut menolongku...“

“Akupun berterima kasih kepadamu, suci. Dengan pengakuanmu ini, engkau telah mendatangkan kebahagiaan dalam hatiku dan itu sudah cukup untuk menebus kesalahanmu dahulu“ kata Pek Mau To-kouw bijaksana.

Akan tetapi tiba-t liba Kang Sim To-kouw melakukan sesuatu yang membuat Pek Mau To-kouw dan Han Sin terkejut. Ketua Thian-li-pang itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut didepan sumoinya sambil menangis!

“Eh, apa yang kaulakukan ini suci?”

“Sumoi, dosaku tak berampun. Aku bukan hanya minta ampun kepadamu, bahkan kalau sekarang juga engkau membunuhku, aku rela untuk menebus dosaku, sumoi“

“Suci, apa artinya ini?”

“Aku… Aku yang telah membunuh Ang Cun Sek…“ Nenek itu kini menangis sesunggukan.

Wajah Pek Mau To-kouw yang tadinya berseri dan kemerahan saking bahagianya mendengar berita tentang puterinya, kini mendadak pucat sekali dan matanya terbelalak. Jadi, pembunuh suaminya adalah sucinya ini juga!

“Aku… aku menjadi gila… Kemasukan setan karena iri kepadamu sumoi…“ Kang Sim To-kouw menangis.

Pek Mau To-kouw menegakkan kepalanya dan suaranya terdengar lembut namun ketus. “Hemm, aku tidak berhak memberi ampun kepadamu, suci. Engkau telah membunuh seorang manusia yang tidak berdosa. Kalau mau minta amapun. Mintalah ampun kepada Thian. Sekarang pergilah dan jangan berada di sini lebih lama lagi!” Pek-Mau To-kouw mengusir sucinya yang mengaku telah membunuh suaminya itu.

Kang Sim To-kouw menangis bangkit berdiri lalu berlari keluar sambil terus menangis. Setelah Kang Sim To-kouw pergi, barulah Pek Mau To-kouw tenang kembali dan ia merangkap kedua tangan depan dada.

“Siancai… terima kasih kepada Thian yang telah memberi kekuatan kepada hambanya…“ katanya lirih.

Han Sin kagum sekali. To-kouw ini benar-benar telah memiliki kekuatan batin yang menganggumkan sehingga mendengar pengakuan orang yang membunuh suaminya tidak menjadi mata gelap dan marah. “Pang-cu, aku telah mengenal baik puterimu Kim Lan…“

“Sebetulnya ia bernama Swi Lan, Sicu. Ang Swi Lan dan biasanya ketika kecil menyebut diri sendiri Lan Lan“

“Ah, begitukah? Aku telah mengenalnya dengan baik dan aku akan mencarinya untukmu“

“Terima kasih, Cian-sicu. Engkau baik sekali. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak percaya jika diberitahu bahwa aku adalah ibu kandungnya?”

“Hemmm, sulit juga. Bagaimana kalau ia minta bukti?” kata pula Han Sin ragu. “Saksi mata satu-satunya, yaitu Thian Ho Hwesio yang menjadi gurunya, telah meninggal dunia“

“Ah, aku ingat sekarang! Anak itu mempunyai tanda bercak hitam pada telapak kaki sebelah kanan! Itulah buktinya bahwa ia adalah puteriku“

“Bagus! Terima kasih pangcu. Aku mohon diri untuk segera mencari jejaknya“

“Selamat jalan, sicu, semoga engkau berhasil dan sekali lagi terima kasih atas semua jerih payahmu“

Han Sin lalu meninggalkan Hwa-li-pang dengan hati gembira. Dia merasa menerima tugas yang amat menggembirakan. Betapa hatinya tidak akan gembira? Dia akan dapat membahagiakan hati gadis yang di cintainya itu dengan berita tentang ibu kandungnya ini.

********************

Kaisar Yang Ti melaksanakan niatnya untuk melakukan pembersihan sendiri terhadap bangsa liar yang mengganggu tapal batas utara di Shan-si utara. Kaisar Yang Ti membawa pasukan yang besar jumlahnya, tidak kurang dari sepuluh laksa orang. Akan tetapi Kaisar ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan mendiang ayahnya, Kaisar Yang Cian yang merupakan seorang pendekar dan ahli perang.

kaisar Yang Ti sudah terbiasa dengan kehidupan yang berfoya-foya mengejar kesenangan sehingga perjalanan memimpin pasukan inipun tidak ketinggalan ikut pula selir-selirnya tercinta! Perjalanan itu baginya bukan sebagai seorang panglima perang, melainkan seorang yang pergi berpesiar dengan selirnya untuk bersenang-senang.

Ketika tiba di Shan-si, Kaisar di sambut oleh Gubernur Shan-si, Li Goan. Akan tetapi Li Si Bin tidak ikut menyambut, bahkan meninggalkan kota. Pemuda ini muak melihat sikap kaisar yang demikian angkuh dan demikian royal. Pergi berperang dalam kereta mewah berikut para selirnya. Dalam pandangan pemuda putera gubernur ini, kaisar Yang Ti tidak patut menjadi orang yang di sembah-sembah.

Gubernur Li Goan dengan hati-hati memperingatkan Kaisar agar meninggalkan selir-selirnya di Tai-goan dan melakukan pembersihan mengutus para panglimanya saja. Akan tetapi Kaisar tidak ambil peduli. Dia hendak memimpin sendiri sambil memamerkan kepada para selirnya betapa 'gagahnya' dia membuat aksi pembersihan para pemberontak.

Hal ini tentu saja menggirangkan hati Lui Couw. Sudah lama sekali putera bekas Kok-su Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang menjadi kok-su kerajaan Toba ini menanti saat baik untuk membunuh Kaisar, menggulingkan Kerajaannya dan kalau mungkin merampas tahta kerajaan! Dia bercita-cita mendirikan kembali Kerajaan Toba yang sudah jatuh. Dia sudah berhasil menyingkirkan penghalang utama, yaitu Panglima Cian Kauw Cu dan sekarang dia mendapat kesempatan baik sekali untuk membinasakan Kaisar. Dia tidak puas dengan hasil usahanya menyeret Kaisar ke dalam kehidupan yang hanya mengejar kesenangan belaka.

Dan dia sudah menempatkan diri dengan kedudukan sebaik mungkin sehingga sebagai Panglima besar dia menyertai Kaisar Yang Ti mengadakan pembersihan ke utara. Dan diam-diam Lui Couw sudah mengadakan persiapan sebaik mungkin. Dia sudah menyusupkan Pak-te-ong dan See-thian-mo menjadi prajurit karena kedua orang datuk inilah yang bertugas membunuh kaisar pada saatnya. Semua itu harus dilakukan dengan hati-hati sehingga kaisar seolah-olah terbunuh oleh pemberontak.

Gubernur Li Goan dan puteranya yang tidak mau menghadap Kaisar Yang Ti memandang dengan hati prihatin melihat kaisar mereka berangkat ke perbatasan di utara yang berbahaya. Mereka tahu bahwa pihak Turki dan suku-suku Mongol sudah tahu akan gerakan pembersihan itu dan mereka tentu sudah mengatur perang gerilya yang akan membahayakan kedudukan pasukan Kaisar. Maka, Gubernur Li Goan lalu berunding dengan puteranya dan akhirnya Li Si Bin memimpin pasukan istimewa untuk membayangi pasukan kota raja itu dan melindungi kaisar kalau diperlukan.

Beberapa hari kemudian, pasukan yang sepuluh laksa orang itu tiba di perbatasan utara, dekat dengan daerah Yak-ka. Akan tetapi jauh hari sebelumnya Tar-sukai sudah mendengar berita yang dikirim Li Si Bin akan datangnya pasukan besar itu dan dia sudah mengosongkan perdusunannya, bersembunyi di hutan-hutan dan mengatur barisan untuk melakukan perang gerilya.

Juga suku-suku lain dan Bangsa Turki yang berada diperbatasan sudah menyingkir dan bersembunyi, akan tetapi bukan melarikan diri melainkan bersiap-siap untuk melakukan perang secara bersembunyi-sembunyi.

Melihat dusun-dusun yang kosong, kesempatan baik ini dipergunakan Lui-ciangkun untuk menghadap Kaisar Yang Ti. “Hamba melaporkan bahwa para pengacau sudah pergi meninggalkan dusun-dusun mereka dan melarikan diri, Yang Mulia. Kami tidak menemukan seorangpun musuh“

“Hemm, lalu bagaimana baiknya, Lui-ciangkun?” Tanya kaisar.

“Kita harus membagi-bagi tugas dan pasukan menjadi puluhan regu. Masing-masing melakukan pengejaran dan pembakaran terhadap dusun-dusun yang di tinggalkan,bmembunuhi ternak yang kita temukan dan membakar habis tanaman mereka agar mereka mati kelaparan“

Kaisar Yang Ti mengangguk-angguk. “Bagus, akan tetapi kami ingin memimpin pasukan sendiri untuk mengobrak-abrik dan membinasakan mereka!” kata Kaisar itu dengan sikap gagah karena di situ para selirnya juga hadir dan mendengarkan.

“Tentu saja, Yang Mulia. Paduka akan memimpin sepasukan pengawal istimewa dan juga hamba sendiri akan mengawal paduka! Kita boleh menghancurkan mereka sepuas hati paduka!“

“Baik, kalau begitu lekas atur pemecahan pasukan menjadi rombongan-rombongan agar semua perusuh dapat di cari dan dikejar lalu di basmi!” kata Kaisar Yang Ti.

Lui-ciangkun lalu memerintahkan para pembantunya untuk memecah-mecah pasukan itu menjadi beberapa rombongan. Dia memilih pasukan pengawal yang hanya terdiri dari dua ratus orang untuk mengawal Kaisar dan tentu saja di dalamnya terdapat Pak-te-ong dan see-thian-mo yang menyamar sebagai prajurit. Dengan kedua pembantunya ini dia sudah mengatur siasat.

Malam nanti, ketika rombongan itu berhenti berkemah, dua orang pembunuh itu akan mengenakan kedok dan akan melakukan pembunuhan. Dengan demikian, tentu tidak akan ada yang mengira bahwa pembunuhnya adalah orang-orang dalam, melainkan mata-mata yang dikirim musuh. Dengan kesaktian mereka, andaikata ketahuan oleh pengawal, mereka akan mampu memukul mundur para pengawal dan melanjutkan usaha pembunuhan mereka sampai berhasil.

Setelah hari mulai gelap, mereka pun membuat perkemahan dilereng sebuah bukit. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ada ribuan pasang mata mengintai mereka sejak hari mulai gelap. Begitu malam tiba, Pak-te-ong dan see-thian-mo sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam pula. Akan tetapi sebelum mereka melaksanakan tugas keji itu, tiba-tiba terdengar ledakan keras di susul sorak sorai. Kiranya ribuan orang suku Yak-ka bercampur dengan bangsa Turki datang menyerbu!

Tentu saja para prajurit yang hanya dua ratus orang jumlahnya itu menjadi kacau balau. Lui-ciangkun terkejut dan disertai dua orang yang berkedok itu diapun membela diri dan mengamuk. Banyak musuh dapat mereka bertiga robohkan. Melihat kekuatan musuh yang demikian besar, Lui-caingkun lalu berseru kepada dua orang pembantu rahasianya.

“Kita tinggalkan pergi! Biar mereka yang mewakili pekerjaan kalian!”

Pak-te-ong dan see-thian-mo juga mengerti bahwa betapapun sakti mereka, tak mungkin mereka melawan ribuan orang itu. Pula, bukankah tugas mereka membunuh kaisar dan tentu kaisar akan terbunuh oleh orang-orang ini? Maka dalam kegelapan malam mereka bertiga melarikan diri. Para prjaurit juga banyak yang mengikuti jejak mereka.

Perkemahan itu di bakar dan ketika musuh sudah pergi, Lui-ciangkun mengumpulkan sisa pasukannya, Pak-te-ong dan see-thian-mo sudah berganti pakaian prajurit biasa lagi. Mereka memeriksa keadaan dan mencari-cari mayat kaisar. Akan tetapi mereka tidak menemukan mayat itu. Bahkan tidak ada pula mayat seorangpun selir. Yang ada hanya mayat beberapa orang prajurit yang tewas. Tentu saja mereka menjadi heran dan tiga orang pengkhianat itu menjadi agak panik.

“Heran sekali, kemana kaisar pergi?” kata Lui-ciangkun.

“Tentu telah di tawan, karena kalau dibunuh tentu ada mayatnya“ kata Pak-te-ong.

“Hem, apa bedanya? Dit awan musuh sama saja dengan di bunuh!” kata see-thian-mo.

Agak lega hati Lui-ciangkun dan dia segera menghubungi pasukan lain yang berpencaran. Setelah dalam tiga hari dia bertemu dengan pasukan lain. kiranya pasukan lain juga mengalami serangan mendadak di tengah malam dan banyak mengalami kerugian. Akan tetapi para perwira terkejut setengah mati mendengar berita yang di sampaikan Lui-ciangkun bahwa kaisar beserta para selirnya jatuh ke tangan musuh dan ditawan!

Selagi mereka kebingungan dan ramai membicarakan malapetaka itu, datang dua orang utusan bangsa Turki. Mereka menunggang kuda dan membawa bendera tanda utusan sehingga mereka tidak di ganggu dan di terima oleh Lui-ciangkun dan para perwira lainnya. Dua orang utusan itu membawa pesan raja Turki bahwa Kaisar Yang Ti berada di tangan mereka sebagai sandera dan kalau Kerajaan Sui tidak cepat menarik pasukan mereka, kaisar akan segera dibunuh!

Mendengar pesan ini, tentu saja para panglima tidak ada yang berani melanjutkan pertempuran dan mereka semua menarik pasukan mereka dan mundur sampai ke Tai-goan.

Sementara itu, pasukan yang di pimpin Li Si Bin juga sudah mendengar akan tertawannya Kaisar oleh bangsa Turki. Dia lalu menyuruh pasukannya untuk pulang dan dia sendiri cepat membalapkan kudanya menuju ke utara, ke pertengahan bangsa Turki di luar tapal batas. Li Si Bin diterima oleh para pimpinan Bangsa Turki dengan baik karena dia dianggap keluarga. Ibunya adalah seorang puteri Turki dan hubungannya dengan Bangsa Turki memang baik sekali. Apalagi ayahnya, Gubernur Li Goan. Juga bersahabat dan di antara keduanya tidak pernah terjadi permusuhan, walaupun Li Goan menjadi Gubernur di Shan-si.

“Hemm, tentu maksud kunjunganmu ini ada hubungannya dengan kaisarmu yang tertawan, Li Si Bin!” kata pimpinan suku Turki itu sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan memuntir kumisnya yang panjang.

“Tidak salah, yang Mulia. Saya bermaksud untuk mencegah kekeliruan besar yang mungkin paduka lakukan!”

“Kekeliruan besar? Apa maksudmu?”

“Kalau paduka mengganggu atau membunuh kaisar Yang Ti, maka akan terjadi malapetaka di sini. Membunuh Kaisar itu tidak ada gunanya, tidak menguntungkan malahbmerugikan saja. Kaisar itu seperti boneka, tidak ada gunanya dan selama dia yang menjadi kaisar di Kerajaan Sui, paduka boleh tenang-tenang saja karena pasukannya tidak akan mungkin menyerbu ke sini. Akan tetapi kalau sampai dia terbunuh, lalu kerajaan Sui mengangkat seorang kaisar baru yang gagah perkasa seperti mendiang Kaisar Yang Chien, kita bisa celaka. Tempat ini pasti akan di serbu oleh puluhan laksa prajurit dan tempat paduka akan menjadi lautan api!”

Pemimpin Turki itu mengangguk-angguk setelah berpikir sejenak. “Hemmm, bicaramu masuk di akal. Memang kami masih ragu untuk membunuh kaisar pengecut itu yang dalam tahanan masih saja bersenang-senang dengan para selirnya dan selalu merengek minta ampun. Akan tetapi apa untungnya membebaskan kaisar seperti itu bagi kami?”

“Untungnya banyak sekali, Yang Mulia. Selain kaisar merasa berhutang budi sehingga tidak memusuhi paduka, juga paduka mendapat kesempatan untuk menyusun kekuatan dan pada saatnya kelak kita bergerak ke selatan. Bahkan ada baiknya paduka menghadiahkan beberapa orang selir terdiri dari wanita-wanita yang cerdik untuk dijadikan penyelidik dan mata-mata di sana“

“Bagus, bagus! kami setuju sekali!”

“Juga saya dapat membujuk Kaisar bahwa kalau paduka membebaskannya, kaisar akan memberi hadiah yang pantas untuk paduka“

“Baik, laksanakanlah...!“

Li Si Bin lalu memasuki tempat tahanan dan dia berlutut di depan kaisar. Kaisar memandang kepadanya dan bertanya. ”Engkau siapakah? Engkau seperti seorang Han...!?“

“Yang Mulia, hamba adalah Li Si Bin, putera Gubernur Li Goan...“

Kaisar terkejut sekali dan heran. Eh, bagaimana engkau dapat masuk ke sini...?”

“Yang Mulia,ketika mendengar bahwa paduka di tawan, hamba memberanikan diri menghadap pemimpin orang Turki untuk membujuknya agar mereka membebaskan paduka. Hamba berhasil membujuknya dengan syarat bahwa kalau paduka dibebaskan, pertama akan memberi hadiah yang layak kepada mereka...“

“Tentu saja, itu hal mudah!”

“Dan kedua kalau paduka dibebaskan mereka mohon agar paduka tidak memusuhi dan menyerang mereka lagi...“

“Tentu, hal itupun pasti kulakukan. kalau dibebaskan, aku akan segera pulang ke selatan dan menarik mundur semua pasukan...“

“Kalau begitu, hari ini juga paduka akan bebas“

“Bagus sekali, jasamu akan besar sekali, Li Si Bin...“

Pemimpin orang Turki lalu menghadap Kaisar dengan sikap hormat dan menyerahkan tiga orang gadis Turki yang cantik-cantik sebagai persembahan. Tentu saja mereka ini di terima dengan girang oleh Kaisar Yang Ti yang mata keranjang. Pembebasan itu di atur dengan mudah. Sepasukan pengawal ditugaskan mengantar rombongan Kaisar bersama Li Si Bin untuk meninggalkan tempat itu. Mereka lalu menuju ke Tai-goan.

Tentu saja munculnya kaisar ini di sambut oleh Gubernur Li Goan dengan gembira sekali. Akan tetapi pasukan kerajaan sudah meninggalkan Shan-si, di suruh kemabli ke selatan oleh Lui-ciangkun. Sedangkan Lui-ciangkun sendiri sudah mendahului untuk memberi kabar kepada kota raja ditemani dua orang perajurit yang bukan lain adalah Pak-tek-ong dan See-thian-mo. Padahal, dia mendahului ke selatan ini adalah untuk melaksanakan rencana mereka yang busuk, yaitu mencoba untuk merampas tahta kerajaan!

Saking girangnya dibebaskan oleh Bangsa Turki, Kaisar Yang Ti tidak tergesa-gesa pulang ke kotaraja, melainkan tinggal beberapa lamanya di Tai-goan dan tetap bersenag-senang, terutama dengan tiga orang selir barunya dari Turki...

********************

Pedang Naga Hitam Jilid 31

HAN SIN melihat bahwa ilmu kepandaian to-kouw ini cukup berat walaupun masih kalah dibandingkan ketua Hwa-li-pang yang pernah di lihatnya bertanding melawan keluarga gila dahulu itu. Dia pun menyambutnya dengan gerakan cepat dan membiarkan wanita itu mengamuk dan menyerang bertubi-tubi sampai tiga puluh jurus lebih. Dia hanya mengelak dan kadang menangkis saja.

“Lo-cian-pwe, perlahan dulu!” Han Sin meloncat kebelakang. “Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu!”

“Kalahkan dulu pedang dan kebutanku, baru kita bicara!” kata to-kouw itu yang mengira bahwa pemuda itu menjadi jerih.

“Hemm, begitukah maumu? Baik!” kata Han Sin yang tadinya tidak ingin membikin malu To-kouw itu dengan mengalahkannya. Sekarang mau tidak mau dia harus mengalahkan wanita berhati baja ini. Maka mulailah dia mengisi kedua tangannya dengan tenaga Bu-tek Cin-keng dan begitu dia mendorong kedua tangannya, Kang Sim To-kouw tidak mampu bertahan dan terdorong ke belakang, terhuyung dan hampir roboh kalau beberapa orang muridnya tidak cepat merangkulnya. Diam-diam Kang Sim To-kouw terkejut bukan main. Tak disangkanya ia akan dikalahkan demikian mudahnya oleh seorang pemuda!

“Nah, lo-cian-pwe, apakah engkau akan menjilat ludah sendiri dan tidak memenuhi janji untuk mendengarkan pembicaraanku?”

Dengan cemberut Kang Sim To-kouw mendengus. “Masuklah dan mari kita bicara!” katanya karena di depan semua muridnya sudah jelas ia telah dikalahkan dan tentu saja ia tidak ingin mengingkari janji.

Ia masuk ke dalam kuil dan di ikuti oleh Han Sin. Setelah berada di ruangan dalam, mereka duduk berdua berhadapan dan Kang Sim To-kouw berkata ketus, “Nah, katakan apa yang hendak kau bicarakan?”

Han Sin senang melihat bahwa di situ tidak ada orang lain sehingga dia dapat leluasa bicara. Dia tersenyum, memandang tajam lalu berkata perlahan, “Pang-cu, aku datang ingin membicarakan tentang dosamu yang amat besar!”

Sepasang mata itu terbelalak dan muka itu berubah merah sekali karena marahnya. “Orang muda! Apakah karena sudah dapat menang melawan aku engkau lalu boleh main-main sesuka hatimu? Jangan kurang ajar!”

“Maaf, pang-cu. Aku tidak main-main. Aku bicara sejujurnya. Aku tahu apa yang kau lakukan belasan tahun yang lalu. Mungkin tidak ada orang lain yang mengetahui, akan tetapi aku tahu benar bahwa engkau telah melakukan dosa besar sekali!”

Kini w ajah yang tadinya merah berubah agak pucat dan pandang matanya penuh selidik. “Hemm, coba katakan, dosa apa yang telah kulakukan?”

“Engkau telah menculik seorang anak perempuan yang kau tinggalkan di dalam hutan!”

Wajah itu menjadi pucat sekali dan otomatis wanita tua itu menoleh ke kanan kiri untuk melihat apakah pembicaraan mereka ada yang mendengarkan. Setelah yakin bahwa di situ tidak ada orang lain, ia memandang kepada Han Sin.

“Kau bohong! Kau ngawur dan melakukan fitnah!” Akan tetapi teriakannya dilakukan dengan suara bisik-bisik.

Han Sin tertawa. “Pang-cu engkau seorang ketua dan seorang pendeta wanita. Sungguh tidak pantas sekali apa yang kau lakukan itu. Akan tetapi Thian adil. Perbuatanmu itu ada yang melihatnya dan anak perempuan itu kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang berilmu tinggi sekali. Apa yang akan dilakukannya kalau ia kuberitahu bahwa engkau dulu menculiknya?”

Kang Sim To-kouw merasa tersudut dan akhirnya ia menghela napas panjang. Memang perbuatannya itu selalu menghantuinya dan ia merasa menyesal bukan main. “Cian Han Sin, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Hem, aku tidak akan menceritakan kepada siapapun juga asal engkau suka memenuhi permintaanku...“

“Apa yang kau kehendaki?”

“Aku ingin mengetahui siapa orang tua anak itu!”

“Kalau aku tidak mau memberitahu?"

“Akan kusiarkan ke seluruh dunia kang-ouw bahwa pang-cu dari Thian-li-pang yang terhormat itu ternyata hanyalah seorang penculik anak kecil, seorang penculik yang kejam, juga akan ku beritahukan kepada gadis itu agar ia sendiri yang menuntut balas ke sini. Dan jangan harap kalian semua akan mampu menandinginya! Ia lebih lihai daripada aku!” kata Han Sin mengancam.

Wajah itu semakin pucat dan berulang kali ia menghela napas panjang. “Baiklah, akan kuberitahu kepadamu sendiri. Bocah itu adalah anak dari sumoiku sendiri...“

“Siapa sumoimu?”

“Namanya Ciang Hwi, sekarang bernama Pek Mau To-kouw…”

“Pek Mau To-kouw ketua Hwa-li-pang di Hwa-san?“ Han Sin memotong dan Kang Sim To-kow mengangguk sambil menundukkan mukanya. "Akan tetapi… mengapa…?”

“Jangan Tanya mengapa… Aku akan menjadi gila karena iri hati…“ Dan tiba-tiba to-kouw itu menangis sesunggukan, tanpa suara.

Han Sin dapat melihat betapa to-kouw itu menyesali perbuatannya, maka diapun merasa kasihan. “Penyesalan saja tiada gunanya, pang-cu. Yang penting pang-cu harus berani mengakui kepada sumoimu dan minta maaf. Aku mengenal Pek Mau To-kouw dan ia adalah seorang yang berbudi mulia. Tentu ia akan suka memaafkanmu“

Kang Sim To-kouw mengangguk. ”Maukah engkau menemaniku mengunjunginya?”

“Tentu saja. Mari kutemani engkau berkunjung ke Hwa-li-pang...“

Kang Sim To-kouw lalu menghentikan tangisnya. Ia memanggil para murid kepala dan berpesan agar mereka menjaga Thian-li-pang baik-baik karena ia hendak pergi bersama Han Sin. Para murid memandang heran akan tetapi tidak ada yang berani bertanya.

Pada hari itu juga, Kang Sim To-kouw berangkat bersama Han Sin menuju ke Hwa-li-pang. Kalau bukan karena urusan itu menyangkut diri Kim Lan, tentu Han Sin tidak mau bersusah payah menemani pang-cu itu ke Hwa-san.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 31 karya kho ping hoo

Kedua orang to-kouw itu saling berhadapan dan saling pandang sampai beberapa lamanya. Akhirnya Kang Sim To-kouw yang mendahului memanggil. “Sumoi…!”

Pek Mau To-kouw terbelalak, merasa seperti dalam mimpi. Tadinya ia tidak mengenal siapa to-kouw yang berdiri di depannya itu karena sudah nampak tua sekali, seperti telah berusia tujuh puluh tahun. Akan tetapi setelah Kang Sim To-kouw memanggilnya, barulah ia menyadari bahwa yang berdiri di depannya benar-benar Yap Ci Hwa atau Kang Sim To-kouw, sucinya. Ia lalu maju merangkul dan berseru.

“Suci…! Benarkah engkau ini, suci? Terima kasih kepada Thian! Suci mau datang ke sini berkunjung kepadaku?”

Mereka berangkulan kemudian Pek Mau To-kouw dapat menguasai dirinya dan memandang kepada Han Sin.

“Suci datang bersama pemuda ini… heiii, bukankah sicu ini pemuda yang dulu datang bersama keluarga gila itu?”

Han Sin memberi hormat. “Benar pang-cu, Thian-li-pangcu berkunjung untuk membicarakan hal yang teramat penting kepadamu, maka harap kami diperbolehkan bicara di dalam...“

“Ah, mari, silahkan! Silahkan masuk!”

Pek Mau To-kouw menggandeng tangan Kang Sim To-kouw yang masih terharu melihat sambutan sumoinya yang dahulu di musuhinya dan Han Sin mengikuti dari belakang. Mereka duduk dalam ruangan tamu.

“Hal penting apakah yang perlu dibicarakan?” Tanya Pek Mau To-kouw dan ia semakin heran melihat betapa tiba-tiba saja sucinya menangis.

“Eh? Suci, engkau kenapakah? Orang-orang seperti kita ini sudah tidak semestinya lagi menangisi sesuatu. Segala sesuatu dalam dunia ini adalah baying-bayang belaka, tidak ada yang perlu di susahkan...“

“Sumoi, aku datang untuk minta ampun kepadamu“

Pek Mau To-kouw terbelalak memandang sucinya, kemudian menoleh kearah Han Sin. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk saja.

“Suci, apa-apaan ini? Akulah yang seharusnya minta maaf kepadamu bahwa selama ini aku tidak mengunjungimu, bahkan sebaliknya hari ini engkau datang berkunjung. Kenapa mint a ampun?”

“Sumoi, aku datang untuk membuat pengakuan akan dosaku yang tak berampun kepadamu. Aku… Akulah yang telah menculik anak perempuanmu dahulu“

Betapapun tenang dan sabarnya ia, Pek Mau To-kouw terlonjak kaget dan meloncat dari tempat duduknya. Sambil berdiri dengan muka pucat ia memandang sucinya. “Akan tetapi… kenapa… kenapa kau lakukan itu, suci? Dan dimana ia sekarang? Dimana anakku?”

Han Sin berkata, “Jangan khawatir, pang-cu. Puterimu masih hidup dan sekarang telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi..."

Pek Mau To-kouw menjatuhkan dirinya duduk di atas kursi lagi, merangkap kedua tangan seperti menyembah dan berseru. “Terima kasih kepada Thian! Anakku masih hidup, achh, anakku masih hidup!”

“Sumoi, maukah engkau memaafkan aku?”

“Tentu saja, suci. Peristiwa itu sudah berlalu belasan tahun lamanya dan anakku Lan Lan masih hidup! Dimana ia sekarang?”

“Aku tidak tahu, sumoi dan Cian Han Sin inilah yang mengetahui dimana ia“

“Aku juga tidak tahu dimana ia sekarang. Akan tetapi aku akan mencarikan ia untukmu, pang-cu. Tidak dapatkah pang-cu menduga siapa anakmu itu? Pernah pang-cu bertemu dengannya di sini!”

“Ehhhh…? Siapakah? Sudah ratusan orang gadis kutemui di sini, yang datang bersembahyang…“

“Akan tetapi puterimu itu lain lagi. Ia sendiri tidak tahu bahwa engkaulah ibu kandungnya. Puterimu itu adalah gadis berpakaian putih yang bernama Kim Lan itu...“

Kembali Pek Mau To-kouw melonjak kaget, akan tetapi kali ia kelihatan gembira bukan main. “Ia…! Ah, terima kasih Tuhan, anakku menjadi gadis yang berbudi dan sakti. Ah, sicu, dimana ia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya!”

“Tenanglah, pang-cu. Aku sendiri tidak tahu dimana ia sekarang ini, akan tetapi aku berjanji akan membawanya ke sini bertemu denganmu!”

Pek Mau To-kouw yang merasa bahagia sekali itu lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada Han Sin. “Terima kasih, Cian-sicu, engkau merupakan dewa penolong bagiku!”

Han Sin cepat membalas penghormatan itu. “Aihh, pang-cu. Harap jangan bersikap seperti itu. Ingat, ketika aku dijadikan taw anan keluarga gila itu, pang-cu juga telah ikut menolongku...“

“Akupun berterima kasih kepadamu, suci. Dengan pengakuanmu ini, engkau telah mendatangkan kebahagiaan dalam hatiku dan itu sudah cukup untuk menebus kesalahanmu dahulu“ kata Pek Mau To-kouw bijaksana.

Akan tetapi tiba-t liba Kang Sim To-kouw melakukan sesuatu yang membuat Pek Mau To-kouw dan Han Sin terkejut. Ketua Thian-li-pang itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut didepan sumoinya sambil menangis!

“Eh, apa yang kaulakukan ini suci?”

“Sumoi, dosaku tak berampun. Aku bukan hanya minta ampun kepadamu, bahkan kalau sekarang juga engkau membunuhku, aku rela untuk menebus dosaku, sumoi“

“Suci, apa artinya ini?”

“Aku… Aku yang telah membunuh Ang Cun Sek…“ Nenek itu kini menangis sesunggukan.

Wajah Pek Mau To-kouw yang tadinya berseri dan kemerahan saking bahagianya mendengar berita tentang puterinya, kini mendadak pucat sekali dan matanya terbelalak. Jadi, pembunuh suaminya adalah sucinya ini juga!

“Aku… aku menjadi gila… Kemasukan setan karena iri kepadamu sumoi…“ Kang Sim To-kouw menangis.

Pek Mau To-kouw menegakkan kepalanya dan suaranya terdengar lembut namun ketus. “Hemm, aku tidak berhak memberi ampun kepadamu, suci. Engkau telah membunuh seorang manusia yang tidak berdosa. Kalau mau minta amapun. Mintalah ampun kepada Thian. Sekarang pergilah dan jangan berada di sini lebih lama lagi!” Pek-Mau To-kouw mengusir sucinya yang mengaku telah membunuh suaminya itu.

Kang Sim To-kouw menangis bangkit berdiri lalu berlari keluar sambil terus menangis. Setelah Kang Sim To-kouw pergi, barulah Pek Mau To-kouw tenang kembali dan ia merangkap kedua tangan depan dada.

“Siancai… terima kasih kepada Thian yang telah memberi kekuatan kepada hambanya…“ katanya lirih.

Han Sin kagum sekali. To-kouw ini benar-benar telah memiliki kekuatan batin yang menganggumkan sehingga mendengar pengakuan orang yang membunuh suaminya tidak menjadi mata gelap dan marah. “Pang-cu, aku telah mengenal baik puterimu Kim Lan…“

“Sebetulnya ia bernama Swi Lan, Sicu. Ang Swi Lan dan biasanya ketika kecil menyebut diri sendiri Lan Lan“

“Ah, begitukah? Aku telah mengenalnya dengan baik dan aku akan mencarinya untukmu“

“Terima kasih, Cian-sicu. Engkau baik sekali. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak percaya jika diberitahu bahwa aku adalah ibu kandungnya?”

“Hemmm, sulit juga. Bagaimana kalau ia minta bukti?” kata pula Han Sin ragu. “Saksi mata satu-satunya, yaitu Thian Ho Hwesio yang menjadi gurunya, telah meninggal dunia“

“Ah, aku ingat sekarang! Anak itu mempunyai tanda bercak hitam pada telapak kaki sebelah kanan! Itulah buktinya bahwa ia adalah puteriku“

“Bagus! Terima kasih pangcu. Aku mohon diri untuk segera mencari jejaknya“

“Selamat jalan, sicu, semoga engkau berhasil dan sekali lagi terima kasih atas semua jerih payahmu“

Han Sin lalu meninggalkan Hwa-li-pang dengan hati gembira. Dia merasa menerima tugas yang amat menggembirakan. Betapa hatinya tidak akan gembira? Dia akan dapat membahagiakan hati gadis yang di cintainya itu dengan berita tentang ibu kandungnya ini.

********************

Kaisar Yang Ti melaksanakan niatnya untuk melakukan pembersihan sendiri terhadap bangsa liar yang mengganggu tapal batas utara di Shan-si utara. Kaisar Yang Ti membawa pasukan yang besar jumlahnya, tidak kurang dari sepuluh laksa orang. Akan tetapi Kaisar ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan mendiang ayahnya, Kaisar Yang Cian yang merupakan seorang pendekar dan ahli perang.

kaisar Yang Ti sudah terbiasa dengan kehidupan yang berfoya-foya mengejar kesenangan sehingga perjalanan memimpin pasukan inipun tidak ketinggalan ikut pula selir-selirnya tercinta! Perjalanan itu baginya bukan sebagai seorang panglima perang, melainkan seorang yang pergi berpesiar dengan selirnya untuk bersenang-senang.

Ketika tiba di Shan-si, Kaisar di sambut oleh Gubernur Shan-si, Li Goan. Akan tetapi Li Si Bin tidak ikut menyambut, bahkan meninggalkan kota. Pemuda ini muak melihat sikap kaisar yang demikian angkuh dan demikian royal. Pergi berperang dalam kereta mewah berikut para selirnya. Dalam pandangan pemuda putera gubernur ini, kaisar Yang Ti tidak patut menjadi orang yang di sembah-sembah.

Gubernur Li Goan dengan hati-hati memperingatkan Kaisar agar meninggalkan selir-selirnya di Tai-goan dan melakukan pembersihan mengutus para panglimanya saja. Akan tetapi Kaisar tidak ambil peduli. Dia hendak memimpin sendiri sambil memamerkan kepada para selirnya betapa 'gagahnya' dia membuat aksi pembersihan para pemberontak.

Hal ini tentu saja menggirangkan hati Lui Couw. Sudah lama sekali putera bekas Kok-su Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang menjadi kok-su kerajaan Toba ini menanti saat baik untuk membunuh Kaisar, menggulingkan Kerajaannya dan kalau mungkin merampas tahta kerajaan! Dia bercita-cita mendirikan kembali Kerajaan Toba yang sudah jatuh. Dia sudah berhasil menyingkirkan penghalang utama, yaitu Panglima Cian Kauw Cu dan sekarang dia mendapat kesempatan baik sekali untuk membinasakan Kaisar. Dia tidak puas dengan hasil usahanya menyeret Kaisar ke dalam kehidupan yang hanya mengejar kesenangan belaka.

Dan dia sudah menempatkan diri dengan kedudukan sebaik mungkin sehingga sebagai Panglima besar dia menyertai Kaisar Yang Ti mengadakan pembersihan ke utara. Dan diam-diam Lui Couw sudah mengadakan persiapan sebaik mungkin. Dia sudah menyusupkan Pak-te-ong dan See-thian-mo menjadi prajurit karena kedua orang datuk inilah yang bertugas membunuh kaisar pada saatnya. Semua itu harus dilakukan dengan hati-hati sehingga kaisar seolah-olah terbunuh oleh pemberontak.

Gubernur Li Goan dan puteranya yang tidak mau menghadap Kaisar Yang Ti memandang dengan hati prihatin melihat kaisar mereka berangkat ke perbatasan di utara yang berbahaya. Mereka tahu bahwa pihak Turki dan suku-suku Mongol sudah tahu akan gerakan pembersihan itu dan mereka tentu sudah mengatur perang gerilya yang akan membahayakan kedudukan pasukan Kaisar. Maka, Gubernur Li Goan lalu berunding dengan puteranya dan akhirnya Li Si Bin memimpin pasukan istimewa untuk membayangi pasukan kota raja itu dan melindungi kaisar kalau diperlukan.

Beberapa hari kemudian, pasukan yang sepuluh laksa orang itu tiba di perbatasan utara, dekat dengan daerah Yak-ka. Akan tetapi jauh hari sebelumnya Tar-sukai sudah mendengar berita yang dikirim Li Si Bin akan datangnya pasukan besar itu dan dia sudah mengosongkan perdusunannya, bersembunyi di hutan-hutan dan mengatur barisan untuk melakukan perang gerilya.

Juga suku-suku lain dan Bangsa Turki yang berada diperbatasan sudah menyingkir dan bersembunyi, akan tetapi bukan melarikan diri melainkan bersiap-siap untuk melakukan perang secara bersembunyi-sembunyi.

Melihat dusun-dusun yang kosong, kesempatan baik ini dipergunakan Lui-ciangkun untuk menghadap Kaisar Yang Ti. “Hamba melaporkan bahwa para pengacau sudah pergi meninggalkan dusun-dusun mereka dan melarikan diri, Yang Mulia. Kami tidak menemukan seorangpun musuh“

“Hemm, lalu bagaimana baiknya, Lui-ciangkun?” Tanya kaisar.

“Kita harus membagi-bagi tugas dan pasukan menjadi puluhan regu. Masing-masing melakukan pengejaran dan pembakaran terhadap dusun-dusun yang di tinggalkan,bmembunuhi ternak yang kita temukan dan membakar habis tanaman mereka agar mereka mati kelaparan“

Kaisar Yang Ti mengangguk-angguk. “Bagus, akan tetapi kami ingin memimpin pasukan sendiri untuk mengobrak-abrik dan membinasakan mereka!” kata Kaisar itu dengan sikap gagah karena di situ para selirnya juga hadir dan mendengarkan.

“Tentu saja, Yang Mulia. Paduka akan memimpin sepasukan pengawal istimewa dan juga hamba sendiri akan mengawal paduka! Kita boleh menghancurkan mereka sepuas hati paduka!“

“Baik, kalau begitu lekas atur pemecahan pasukan menjadi rombongan-rombongan agar semua perusuh dapat di cari dan dikejar lalu di basmi!” kata Kaisar Yang Ti.

Lui-ciangkun lalu memerintahkan para pembantunya untuk memecah-mecah pasukan itu menjadi beberapa rombongan. Dia memilih pasukan pengawal yang hanya terdiri dari dua ratus orang untuk mengawal Kaisar dan tentu saja di dalamnya terdapat Pak-te-ong dan see-thian-mo yang menyamar sebagai prajurit. Dengan kedua pembantunya ini dia sudah mengatur siasat.

Malam nanti, ketika rombongan itu berhenti berkemah, dua orang pembunuh itu akan mengenakan kedok dan akan melakukan pembunuhan. Dengan demikian, tentu tidak akan ada yang mengira bahwa pembunuhnya adalah orang-orang dalam, melainkan mata-mata yang dikirim musuh. Dengan kesaktian mereka, andaikata ketahuan oleh pengawal, mereka akan mampu memukul mundur para pengawal dan melanjutkan usaha pembunuhan mereka sampai berhasil.

Setelah hari mulai gelap, mereka pun membuat perkemahan dilereng sebuah bukit. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ada ribuan pasang mata mengintai mereka sejak hari mulai gelap. Begitu malam tiba, Pak-te-ong dan see-thian-mo sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam pula. Akan tetapi sebelum mereka melaksanakan tugas keji itu, tiba-tiba terdengar ledakan keras di susul sorak sorai. Kiranya ribuan orang suku Yak-ka bercampur dengan bangsa Turki datang menyerbu!

Tentu saja para prajurit yang hanya dua ratus orang jumlahnya itu menjadi kacau balau. Lui-ciangkun terkejut dan disertai dua orang yang berkedok itu diapun membela diri dan mengamuk. Banyak musuh dapat mereka bertiga robohkan. Melihat kekuatan musuh yang demikian besar, Lui-caingkun lalu berseru kepada dua orang pembantu rahasianya.

“Kita tinggalkan pergi! Biar mereka yang mewakili pekerjaan kalian!”

Pak-te-ong dan see-thian-mo juga mengerti bahwa betapapun sakti mereka, tak mungkin mereka melawan ribuan orang itu. Pula, bukankah tugas mereka membunuh kaisar dan tentu kaisar akan terbunuh oleh orang-orang ini? Maka dalam kegelapan malam mereka bertiga melarikan diri. Para prjaurit juga banyak yang mengikuti jejak mereka.

Perkemahan itu di bakar dan ketika musuh sudah pergi, Lui-ciangkun mengumpulkan sisa pasukannya, Pak-te-ong dan see-thian-mo sudah berganti pakaian prajurit biasa lagi. Mereka memeriksa keadaan dan mencari-cari mayat kaisar. Akan tetapi mereka tidak menemukan mayat itu. Bahkan tidak ada pula mayat seorangpun selir. Yang ada hanya mayat beberapa orang prajurit yang tewas. Tentu saja mereka menjadi heran dan tiga orang pengkhianat itu menjadi agak panik.

“Heran sekali, kemana kaisar pergi?” kata Lui-ciangkun.

“Tentu telah di tawan, karena kalau dibunuh tentu ada mayatnya“ kata Pak-te-ong.

“Hem, apa bedanya? Dit awan musuh sama saja dengan di bunuh!” kata see-thian-mo.

Agak lega hati Lui-ciangkun dan dia segera menghubungi pasukan lain yang berpencaran. Setelah dalam tiga hari dia bertemu dengan pasukan lain. kiranya pasukan lain juga mengalami serangan mendadak di tengah malam dan banyak mengalami kerugian. Akan tetapi para perwira terkejut setengah mati mendengar berita yang di sampaikan Lui-ciangkun bahwa kaisar beserta para selirnya jatuh ke tangan musuh dan ditawan!

Selagi mereka kebingungan dan ramai membicarakan malapetaka itu, datang dua orang utusan bangsa Turki. Mereka menunggang kuda dan membawa bendera tanda utusan sehingga mereka tidak di ganggu dan di terima oleh Lui-ciangkun dan para perwira lainnya. Dua orang utusan itu membawa pesan raja Turki bahwa Kaisar Yang Ti berada di tangan mereka sebagai sandera dan kalau Kerajaan Sui tidak cepat menarik pasukan mereka, kaisar akan segera dibunuh!

Mendengar pesan ini, tentu saja para panglima tidak ada yang berani melanjutkan pertempuran dan mereka semua menarik pasukan mereka dan mundur sampai ke Tai-goan.

Sementara itu, pasukan yang di pimpin Li Si Bin juga sudah mendengar akan tertawannya Kaisar oleh bangsa Turki. Dia lalu menyuruh pasukannya untuk pulang dan dia sendiri cepat membalapkan kudanya menuju ke utara, ke pertengahan bangsa Turki di luar tapal batas. Li Si Bin diterima oleh para pimpinan Bangsa Turki dengan baik karena dia dianggap keluarga. Ibunya adalah seorang puteri Turki dan hubungannya dengan Bangsa Turki memang baik sekali. Apalagi ayahnya, Gubernur Li Goan. Juga bersahabat dan di antara keduanya tidak pernah terjadi permusuhan, walaupun Li Goan menjadi Gubernur di Shan-si.

“Hemm, tentu maksud kunjunganmu ini ada hubungannya dengan kaisarmu yang tertawan, Li Si Bin!” kata pimpinan suku Turki itu sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan memuntir kumisnya yang panjang.

“Tidak salah, yang Mulia. Saya bermaksud untuk mencegah kekeliruan besar yang mungkin paduka lakukan!”

“Kekeliruan besar? Apa maksudmu?”

“Kalau paduka mengganggu atau membunuh kaisar Yang Ti, maka akan terjadi malapetaka di sini. Membunuh Kaisar itu tidak ada gunanya, tidak menguntungkan malahbmerugikan saja. Kaisar itu seperti boneka, tidak ada gunanya dan selama dia yang menjadi kaisar di Kerajaan Sui, paduka boleh tenang-tenang saja karena pasukannya tidak akan mungkin menyerbu ke sini. Akan tetapi kalau sampai dia terbunuh, lalu kerajaan Sui mengangkat seorang kaisar baru yang gagah perkasa seperti mendiang Kaisar Yang Chien, kita bisa celaka. Tempat ini pasti akan di serbu oleh puluhan laksa prajurit dan tempat paduka akan menjadi lautan api!”

Pemimpin Turki itu mengangguk-angguk setelah berpikir sejenak. “Hemmm, bicaramu masuk di akal. Memang kami masih ragu untuk membunuh kaisar pengecut itu yang dalam tahanan masih saja bersenang-senang dengan para selirnya dan selalu merengek minta ampun. Akan tetapi apa untungnya membebaskan kaisar seperti itu bagi kami?”

“Untungnya banyak sekali, Yang Mulia. Selain kaisar merasa berhutang budi sehingga tidak memusuhi paduka, juga paduka mendapat kesempatan untuk menyusun kekuatan dan pada saatnya kelak kita bergerak ke selatan. Bahkan ada baiknya paduka menghadiahkan beberapa orang selir terdiri dari wanita-wanita yang cerdik untuk dijadikan penyelidik dan mata-mata di sana“

“Bagus, bagus! kami setuju sekali!”

“Juga saya dapat membujuk Kaisar bahwa kalau paduka membebaskannya, kaisar akan memberi hadiah yang pantas untuk paduka“

“Baik, laksanakanlah...!“

Li Si Bin lalu memasuki tempat tahanan dan dia berlutut di depan kaisar. Kaisar memandang kepadanya dan bertanya. ”Engkau siapakah? Engkau seperti seorang Han...!?“

“Yang Mulia, hamba adalah Li Si Bin, putera Gubernur Li Goan...“

Kaisar terkejut sekali dan heran. Eh, bagaimana engkau dapat masuk ke sini...?”

“Yang Mulia,ketika mendengar bahwa paduka di tawan, hamba memberanikan diri menghadap pemimpin orang Turki untuk membujuknya agar mereka membebaskan paduka. Hamba berhasil membujuknya dengan syarat bahwa kalau paduka dibebaskan, pertama akan memberi hadiah yang layak kepada mereka...“

“Tentu saja, itu hal mudah!”

“Dan kedua kalau paduka dibebaskan mereka mohon agar paduka tidak memusuhi dan menyerang mereka lagi...“

“Tentu, hal itupun pasti kulakukan. kalau dibebaskan, aku akan segera pulang ke selatan dan menarik mundur semua pasukan...“

“Kalau begitu, hari ini juga paduka akan bebas“

“Bagus sekali, jasamu akan besar sekali, Li Si Bin...“

Pemimpin orang Turki lalu menghadap Kaisar dengan sikap hormat dan menyerahkan tiga orang gadis Turki yang cantik-cantik sebagai persembahan. Tentu saja mereka ini di terima dengan girang oleh Kaisar Yang Ti yang mata keranjang. Pembebasan itu di atur dengan mudah. Sepasukan pengawal ditugaskan mengantar rombongan Kaisar bersama Li Si Bin untuk meninggalkan tempat itu. Mereka lalu menuju ke Tai-goan.

Tentu saja munculnya kaisar ini di sambut oleh Gubernur Li Goan dengan gembira sekali. Akan tetapi pasukan kerajaan sudah meninggalkan Shan-si, di suruh kemabli ke selatan oleh Lui-ciangkun. Sedangkan Lui-ciangkun sendiri sudah mendahului untuk memberi kabar kepada kota raja ditemani dua orang perajurit yang bukan lain adalah Pak-tek-ong dan See-thian-mo. Padahal, dia mendahului ke selatan ini adalah untuk melaksanakan rencana mereka yang busuk, yaitu mencoba untuk merampas tahta kerajaan!

Saking girangnya dibebaskan oleh Bangsa Turki, Kaisar Yang Ti tidak tergesa-gesa pulang ke kotaraja, melainkan tinggal beberapa lamanya di Tai-goan dan tetap bersenag-senang, terutama dengan tiga orang selir barunya dari Turki...

********************