Social Items

“Baiklah, engkau memang seorang gila yang pantas menerima hajaran!“ katanya singkat sambil menggerakkan kebutan di tangan kiri sedangkan tangan kanan sudah melolos sebatang pedang dari punggungnya.

Para murid Hwa-li-pang segera mundur dan membentuk lingkaran yang luas agar guru mereka dapat leluasa bertanding menghadapi orang gila yang lihai itu. Kui Ji dan Han Sin tetap berdiri di bawah pohon dimana duduk si pengemis muda. Di antara para penonton juga berdiri di lingkaran itu, nampak pula gadis berpakaian serba putih yang tadi datang bersama para wanita yang bersembahyang di kuil.

Melihat Pek Mau To-kouw sudah siap dengan senjata hud-tim (kebutan pendeta) dan pedang, Kui Mo tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, To-kouw, engkau tidak akan mampu menandingi tongkatku, lihat senjataku!“

Berkata demikian, dia menggerakkan tongkatnya dengan dahsyat sekali, menyerang ke arah kepala to-kouw itu. Melihat serangan ini, diam-diam Pak Mau To-kouw terkejut sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, segera ia dapat mengenal lawan yang tangguh. Begitu cepat tongkat itu bergerak dan mendatangkan angin pukulan yang kuat sekali. Ia pun mengelak dan kebutannya yang berbulu merah menyambar ke depan menotok ke arah leher sedangkan pedangnya menyusulkan tusukan ke arah dada.

Serangan balasan dari to-kouw ini pun hebat sekali sehingga Kui Mo mengeluarkan seruan yang di susul tawa terkekeh. Dia sudah menangkis pedang dan menggunakan tangan kiri mencengkram ke arah kebutan untuk menangkap kebutan itu. Akan tetapi lawannya tidak membiarkan pula kebutannya tertangkap, segera menarik kembali kebutannya dan kini pedang yang tertangkis itu membabat ke arah kaki lawannya.

Kui Mo meloncat ke atas dan ketika pedang lewat di bawah kakinya, pedang itu diinjaknya dan tongkatnya sudah menyerang dengan pukulan ke arah pundak kanan to-kouw itu. Tentu dia bermaksud agar to-kouw itu melepaskan pedangnya. Akan tetapi tidak semudah itu dia mengalahkan Pek Mau To-kouw itu. Hud-tim itu sudah menyambar lagi, kini bulu kebutan menjadi lemas dan hendak melibatkan kedua kakinya! Terpaksa Kui Mo meloncat turun dan serangan tongkat nyapun gagal karena to-kouw itu sudah miringkan pundaknya mengelak.

Perkelahian itu seru bukan main dan dalam pandangan para murid Hwa-li-pang, tubuh orang yang bertanding hanya nampak bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan sinar merah kebutan, sinar kuning tongkat dan sinar putih pedang. Kalau di tonton merupakan pemandangan yang indah dan menarik, akan tetapi semua murid menyadari bahwa yang indah itu mengandung bahaya maut untuk guru mereka!

Han Sin tentu saja dapat mengikuti gerakan kedua orang itu dan kembali dia merasa kagum dan juga senang. Dalam pertandingan inipun, menghadapi seorang lawan yang tangguh, kakek gila itu sama sekali tidak pernah menyerang dengan niat membunuh. Sebaliknya, setiap serangan to-kouw itu mengancam keselamatan nyawa lawan. Dia merasa girang dan yakin bahwa keluarga itu memang gila, akan tetapi bukanlah jahat. Dan biarpun kakek gila itu selalu mengalah dan membatasi tenaga serangannya, namun tetap saja Pek Mau To-kouw mulai terdesak.

To-kouw ini dibuat bingung oleh jurus-jurus gila itu yang sulit sekali diikuti perkembangannya yang selalu berlawanan dan tidak di sangka sama sekali. Tiba-tiba dalam ketegangan yang sunyi itu, yang hanya terisi bunyi nyaring ketika pedang bertemu tongkat di seling suara tawa keluarga gila itu, terdengar orang berkata-kata seperti sedang membaca sajak!

Semua orang menegok karena ternyata yang mengeluarkan suara itu adalah si pengemis muda yang kini berjongkok di bawah pohon dan mengikuti gerak-gerik dua orang yang sedang bertempur itu dengan penuh perhatian.

“Awal dan akhir bertentangan, ujung dan pangkal berlawanan, kanan menjadi kiri, atas menjadi bawah, depan menjadi belakang, itulah gerakan si pemabok atau si gila...!“

Bagi orang lain kata-kata ini seperti kacau dan tidak ada artinya. Akan tetapi tidak demikian bagi Pek Mau To-kouw. Ucapan itu menyadarkannya dan mulailah dia menghadapi lawannya berlandaskan ucapan itu. Kalau lawan menyerang dari bawah, ia menjaga sebelah atas dan benar saja!

Semua serangan lawannya merupakan serangan yang pangkalnya berlawanan dengan ujungnya sehingga ia dapat menjaga diri lebih baik dan dapat lebih banyak. Dan ia kini terlepas dari desakan lawan, bahkan dapat menyerang balik dengan dahsyat! Pertandingan menjadi seru dan ramai sekali.

Liu Si mengerutkan alisnya, menoleh kepada pengemis muda itu dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan pengemis itu. “kau gila, kau ikut membantu lawan!“ katanya dan sekali menggerakkan kepalanya, rambutnya yang riap-riapan itu telah menyambar ke arah pengemis muda itu.

Akan tetapi pengemis muda itu ternyata memiliki keringanan tubuh yang menakjubkan. Sekali dia bergerak, tubuh yang berjongkok itu sudah meloncat ke belakang sehingga sambaran rambut itu luput. Liu Si menjadi penasaran dan marah. Ia mengejar dengan senjata pecutnya, akan tetapi pengemis muda itu sudah melint angkan tongkatnya mengoyang-goyangkan tongkatnya dengan lagak yang lucu dan menggoda.

“Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, apalagi dengan seorang nenek gila. Aku takut ketularan gila, he-he-he!“

Liu Si semakin marah, “Siapa gila? Engkau yang gila, aku tidak gila!“

"Ha-ha, yang gila menganggap yang waras gila, itu sudah wajar di dunia ini. Entah mana yang benar, yang gila atau yang waras, mungkin saja yang waras itu benar-benar gila, aku tidak tahu! Nenek yang baik, kalau engkau tidak gila, siapa yang gila?“

“Kau yang gila, hik-hik-hik, ya engkau memang gila. Masih muda sudah menjadi pengemis, tentu saja kau gila, hik-hik -hik!“ Liu Si tertawa-tawa dan menunda penyerangannya.

“Aku tidak gila, engkaulah yang gila. Engkau berotak miring, engkau sinting!“ Pemuda itu berteriak-teriak dengan lantang dan marah.

Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda gila itu dan ia menjadi kagum. Dari gerakannya saja ketika tubuh yang berjongkok itu tiba-tiba meloncat ke belakang untuk menghindar serangan maut itu, tahulah dia bahwa pemuda itu ternyata bukanlah pemuda sembarangan, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Liu Si nampak tercengang seperti bingung mendengar pemuda itu memaki-makinya gila dengan suara lantang. “Aku gila? Ya, benar, aku gila dan sinting dan engkaupun edan. Hik-hik-hik, kita sama! Gila dan sinting, he-he-he-he!“

Han Sin memandang heran. Sikap pemuda pengemis itu benar-benar seperti sikap keluarga gila itu. Apakah pemuda itupun gila? Akan tetapi, jelas bahwa dia tadi memberi petunjuk kepada Pek Mau To-kouw bagaimana untuk melawan Kui Mo. Hal ini berarti bahwa pemuda itu selain cerdik, juga berilmu tinggi, dapat mengenal rahasia gerakan silat dari orang gila itu. Akan tetapi tiba-tiba Liu Si berhenti tertawa dan menghampiri pengemis muda itu, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu.

“Tidak, engkau tidak sama dengan aku! Aku tidak sudi disamakan seorang pengemis, engkau malas tak tahu malu, pengemis busuk!“

Pemuda itu menjadi marah. “Nenek gila, mulut mu kotor. Pergilah kalau engkau tidak mau kuhajar dengan tongkat ku!"

Para anak buah Hwa-li-pang yang tadinya menujukkan seluruh perhatian mereka kepada ketua mereka yang sedang bertanding melawan kakek sinting, kini perhatian mereka terpecah menjadi dua. Sebagian malah mendekati pemuda pengemis itu untuk melihat bagaimana pemuda itu akan menandingi nenek gila.

“Tar-tar-tar...!“ Cambuk di tangan nenek gila itu sudah meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke atas kepala pemuda pengemis itu.

Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba menggerakkan tongkatnya dan kembali Han Sin yang memperhatikan pemuda itu merasa kagum. Ilmu tongkat pemuda pengemis itu hebat. Ujung tongkat yang digerakkan itu menggetar seolah menjadi banyak dan ujung cambuk yang menyerang kepala itu dapat dihalaunya dengan mudah. Bahkan tongkatnya menyodok ke arah perut Liu Si membuat nenek gila ini terkejut dan berloncatan ke belakang menghindarkan serangan berbahaya itu.

Liu Si menjadi penasaran dan semakin marah. Dengan suara tawa terkekeh menyeramkan ia sudah menerjang lagi dengan cambuknya, akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu mengangkat tangan kirinya dan mengacungkan empat buah jarinya.

“Eh, nenek gila. Kau tahu hitungan tidak? Berapa ini?“

Nenek itu kelihatan bingung, akan tetapi ia memandang ke arah tangan kiri yang di acungkan ke atas. “Bodoh, sudah jelas itu empat!“ Akan tetapi baru saja ia berkata demikian, tongkat itu sudah menyambar dan menghantam pahanya.

“Bukkk!“ untung Liu Si sudah melindungi pahanya dengan kekuatan sin-kang sehingga pukulan itu hanya membuat ia terpelanting dan hampir roboh. Nenek itu meloncat sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, siap menyerang lagi, bahkan sudah menundukkan kepala hendak menyerang pula dengan rambutnya yang panjang. Akan tetapi kembai pengemis muda itu berseru nyaring.

“Heiiii, nenek gila! Kalau ini berapa?“ kembali dia mengacungkan tiga buah jari. “Kalau engkau bisa menebak, aku mengaku kalah!“

Nenek itu memandang dengan mata mendelik marah. “ Bocah gila, itu adalah tiga! Nah, kau kalah dan berlututlah!“

Akan tetapi pemuda itu sudah menekuk sebuah jarinya sehingga yang nampak hanya dau buah jarinya dan dia tertawa. “ha-ha-ha, nenek sinting bodoh lagi, siapa tidak tahu bahwa jumlah jari ini hanya dua? Mengapa mengatakan tiga? Nah, engkau yang kalah, berlututlah!“

“Tidak sudi! Engkau yang kalah!“ dan Liu Si sudah menerjang dengan dahsyatnya saking marahnya.

Pemuda itu menjadi sibuk memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya. Terjadi satu pertandingan yang seru di samping pertandingan pertama antara Kui Mo dan Pek Mau To-kouw. Dan ternyata pemuda pengemis itu benar-benar lihai, dapat mengimbangi serangan Liu Si yang dahsyat. Akan tetapi setelah saling serang sebanyak belasan jurus, tiba-tiba pemuda itu tertawa dan berkata lantang, meloncat keluar dari gelanggang pertandingan.

“Ha-ha-ha, aku tidak mau berkelahi lebih lama. Aku takut ketularan menjadi gila kalau terlalu lama!“

Liu Si marah dan hendak menyerang lagi, akan tetapi dengan beberapa lompatan jauh pemuda itu telah pergi. Sementara itu pertandingan antara Kui Mo dan Pek Mau To-kouw telah berubah lagi. Kini Pek Mau To-kouw kembali terdesak hebat oleh Kui Mo. Setelah tadi rahasia gerakan ilmu tongkatnya diketahui oleh pengemis muda dan Pek Mau To-kouw dapat memecahkan rahasia itu sehingga mampu menandinginya.

Kui Mo yang berbalik terdesak kini mengubah ilmu silatnya. Ilmu tongkatnya itu sama sekali berbeda dengan yang tadi dan Pek Mau To-kouw menjadi terdesak dan terus mundur. Pada suatu saat ujung tongkat Kui Mo terlibat kebutan merah. Kui Mo tidak berusaha menarik tongkatnya karena selain hal itu tidak ada gunanya juga dia dapat di serang oleh pedang di tangan kanan to-kouw itu. Dia malah menggerakkan tongkat, dan dengan ujung tongkat yang lain dia menghantam ke arah lengan kiri T o-kouw itu.

Pek Mau To-kouw terkejut bukan main. Bulu kebutannya masih melibat tongkat dan kini lengannya terancam. Terpaksa ia melepaskan kebutannya yang masih menempel pada tongkat dan menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk mengirimkan tusukan kilat.

“Traangg...!“ Pedang itu terpental karena:kuatnya tongkat itu menangkisnya. Kini Kui Mo telah berhasil merampas kebutan berbulu merah dan dia melemparkan kebutan itu kepada Kui Ji. Gadis gila itu menerimanya dan dengan girang ia menari-nari dengan kebutan merah itu di sekeliling Han Sin.

Setelah kehilangan kebutannya, Pek Mau To-kouw menjadi semakin sibuk dan terdesak hebat. Melihat ketua mereka kini terus mundur, para anak buah Hwa-li-pang maklum ketua mereka terdesak. Mereka menjadi khawatir sekali akan tetapi tidak berani turun tangan mencampuri tanpa perintah ketua itu.

Tiba-tiba terdengar lagi suara nyaring bertemunya kedua senjata dan sekali ini pedang Pek Mau To-kouw terlepas dari tangannya dan terlempar jauh. Ia telah kehilangan kedua senjatanya dan mau tidak mau to-kouw itu harus mengakui keunggulan lawannya. Biarpun mukanya menjadi merah karena marah dan penasaran, akan tetapi terpaksa ia memberi hormat dengan kedua tangan dapan dada.

. “Siancai...!" Ilmu kepandaian Kui-sicu amat hebat, saya mengaku kalah...“

Kui Mo tertawa bergelak dan berkata dengan girangnya. “Ha-ha-ha, bagus sekali. Jadi kami boleh tinggal di sini dan merayakan pesta pernikahan anak kami disini?“

“Kami telah berjanji dan tidak akan mengingkari janji. Mari kalian berempat ikut saya ke dalam dan akan saya berikan tiga buah kamar untuk kalian. Akan tet api ingat, janji ini hanya untuk kalian berempat tinggal di sini sampai hari pesta pernikahan. Kalau kalian membikin kacau disini, kami akan mengeroyok kalian dengan semua anggota perkumpulan kami...“

“Hik-hik-hik-hik, siapa hendak mengacau? Kami adalah keluarga terhormat, keluarga baik-baik!“ tiba-tiba Liu Si berkata dengan galak.

“Ayah, ibu! Aku ingin sekamar dengan suamiku!“ Kui Ji merengek.

“Hushhhh, apa kau hendak melanggar adat istiadat! Mantuku begitu mengenal adat kesopanan. Dia seorang terpelajar tinggi, apa engkau tidak malu kepada suami mu? Sebelum menikah kalian tidak boleh sekamar, mengerti?“ Bentak Kui Mo dengan lagak seolah dia seorang bangsawan inggi.

“Tapi... hemmm... bagaimana kalau dia lari? Aku akan kehilangan dia...! Kui Ji membantah.

“Siapa mampu melarikan diri kalau ada aku dan ibumu? Tiga kamar itu harus berjajar, kamar kami dipinggir, juga kamarmu. Bagaimana mungkin dia dapat melarikan diri?“

Kui Ji tidak merengek lagi. Percakapan itu di dengarkan oleh semua orang dan mereka tidak peduli. Gadis berbaju putih yang berada di antara tamu kuil, melihat dan mendengar percakapan ini dan seperti yang lain, tahulah ia bahwa pemuda pakaian putih itu seolah menjadi tawanan keluarga gila itu. Agaknya mereka tawan dan mereka paksa untuk menikah dengan gadis gila itu. Akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang tenang, mulutnya yang selalu tersenyum, semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang bodoh dan mungkin agak sinting juga!

“Marilah kalian ikut saya...“ kata Pek Mau To-kouw tidak sabar lagi melihat perbantahan antara keluarga gila itu.

Ia melangkah memasuki halaman di samping kuil menuju ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi pusat dari Hwa-li-pang. Empat orang itu mengikutinya dan Han Sin di gandeng oleh Kui Ji. Semua mata murid Hwa-li-pang mengikuti mereka dan setelah mereka menghilang di balik pintu besar, ramailah mereka membicarakan peristiwa itu.

“Heran sekali mengapa pang-cu membiarkan mereka tinggal di sini dan kelak merayakan pesta pernikahan orang gila disini?” seorang di antara mereka mengomel.

“Hemmm, Pang-cu adalah seorang yang berjiwa gagah, sekali berjanji tentu akan dipenuhinya,..“ kata yang lain.

“Akan tetapi keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kita! Mestinya pang-cu membiarkan kita maju semua dan mengeroyok keluarga gila itu. Banyak diantara kita sudalh dirobohkan dan sekarang mereka malah di biarkan t inggal di sini! Ini namanya penghinaan bagi Hwa-li-pang!“ kata yang lain lagi.

Gadis berpakaian putih yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu tiba-tiba berkata. “Kalian semua tidak mengerti. Justeru karena keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kalian maka pang-cu kalian membiarkan mereka tinggal di sini untuk sementara waktu...“

Mendengar ucapan itu, semua anak buah Hwa-li-pang menengok dan memandang kepada gadis itu penuh perhatian. Ia adalah seorang gadis cantik jelita sekali, jarang mereka bertemu dengan gadis secantik itu. Usianya sekitar delapan belas tahun. Gerak geriknya halus penuh kelembutan, pakaiannya yang putih itu sederhana sekali namun bersih. Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu runcing dan rambutnya hitam dan lebat sekali, di gelung ke atas dan di tusuk dengan perhiasaan dari perak berbentuk burung merak.

Telinganya sedang besarnya, bentuknya indah dan tidak memakai perhiasaan apapun. Sepasang alis yang kecil hitam melengkung seperti di lukis itu melindungi sepasang mata yang bersinar lembut namun berwibawa. Mata yang amat indah bentuknya, dengan bulu mata yang lentik panjang, hidungnya mancung, serasi dengan mulutnya yang juga indah sekali, dengan sepasang bibir yang selalu merah membasag, dengan lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

Entah mana yang lebih indah, matanya ataukah mulutnya. Keduanya merupakan daya tarik yang luar biasa dari pribadi gadis ini. Bentuk tubuhnya sedang, pinggangnya ramping dan jari-jari tangan yang tampak itu panjang dan mungil.

“Hemmmm, apa alasannya engkau berkata begitu, nona?“ tanya seorang anak buah Hwa-li-pang, penasaran dan yang lain juga memperhat ikan untuk mendengar jaw aban gadis itu.

“Banyak di antara kalian telah di robohkan oleh keluarga gila itu, akan tetapi siapakah diantara kalian yang tewas atau terluka berat? Tidak seorangpun! Juga, ketua kalian dikalahkan tanpa menderita luka. Apakah kalian tidak tahu akan hal ini? Ketua kalian mengetahuinya dan ia tentu mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu, walaupun gila, bukanlah orang-orang kejam atau jahat. Mereka bukan datang untuk menghina atau mengacau, akan tetapi memang ingin merayakan pesta pernikahan anak mereka. Karena itulah ketua kalian itu dan sebagai seorang gagah yang terhormat, ket lua kalian memenuhi janjinya, sikapnya itu membuat semua orang merasa kagum kepadanya...“

Para anggota Hwa-li-pang itu saling pandang dan mereka tidak dapat membantah pendapat gadis itu yang dapat biacara dengan lancar namun lembut.

“Akan tetapi, nona kalau pesta pernikahan itu diadakan d isini dan diketahui oleh dunia kang-ouw, bukankah perkumpulan kami akan menjadi buah tertawaan mereka?“ seseorang membantah.

Gadis itu mengangguk-angguk, “kalau kalian membolehkan aku bermalam disini, mungkin aku dapat menemukan suatu jalan untuk menggagalkan pernikahan itu, agar mereka segera meninggalkan tempat ini...“

Tentu saja semua anggota Hwa-li-pang menyetujui permintaan itu. Gadis berpakaian serba putih ini seorang wanita, maka tidak merupakan pantangan untuk bermalam di kuil. Mereka lalu mengajak gadis itu yang datang ke kuil seorang diri untuk memasuki kuil dan membicarakan urusan itu di dalam.

Sementara itu, para tamu segera pergi meninggalkan kuil karena mereka merasa takut dengan adanya keluarga gila di situ.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Gadis itu di jamu oleh para anggota Hwa-li-pang di belakang kuil sambil bercakap-cakap membicarakan urusan yang sedang terjadi di Hwa-li-pang.

“Nona, kami semua mengharapkan bantuan nona untuk memecahkan persoalan yang mengancam perkumpulan kami ini. Akan tetapi sebelumnya kami ingin mengetahui siapakah nona dan dimana tempat tinggal nona...“ kata kepala penjaga kuil dengan sikap ramah.

Gadis itu meletakkan sepasang sumpitnya di atas meja. Ia telah makan kenyang dan ia memberi isyarat agar perlengkapan makan itu dibersihkan dari atas meja. Setelah meja bersih, ia lalu memandang kepada orang-orang yang merubungnya di ruangan belakang kuil itu.

“Aku bermarga Kim dan namaku Lan. Aku seorang gadis perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan aku berasal dari barat, daerah pegunungan Kun-Lun...“

“Kim-siocia (Nona Kim) nampaknya lemah lembut sekali, akan tetapi kami yakin nona tentu memilik iilmu kepandaian tinggi!“ kata seorang anggota Hwa-li-pang.

Kim Lan tersenyum manis, “Semua orang tentu memiliki sesuatu kepandaian tertentu, akan tet mapi hanya orang bodoh yang menyombongkan kepandaiannya itu. Aku hanya seorang gadis biasa saja, tiada bedanya dengan para gadis lainnya.

“Nona Kim, bagaimanakah caranya untuk mencegah pernikahan gila itu?“ tanya kepala penjaga kuil.

“Kita melihat tadi. Pemuda yang hendak dinikahkan dengan gadis gila itu agaknya berada dibawah tekanan mereka. Dia tentu di tangkap dan dipaksa dan mungkin sekali dia di racuni. Aku pernah mempelajari tentang pengobatan dan aku melihat tanda-tanda bahwa dia itu keracunan. Hal ini perlu di selidiki lebih dulu untuk menentukan apa yang selanjutnya akan kita lakukan...”

“Akan tetapi bagaimana caranya untuk menyelidiki hal itu? Kalau kita langsung bertanya kepadanya, tentu keluarga gila itu akan marah dan kita akan di pukul, juga belum tentu pemuda itu berani bicara sebenarnya...“

“Jangan khawatir. Serahkan tugas itu kepadaku. Aku akan menyamar sebagai seorang anggota Hwa-li-pang dan biarkan aku membawakan makanan dan minuman untuk mereka, terutama untuk membawakan makanan ke kamar pemuda itu. Aku yang akan menyelidiki...“

Para anggota Hwa-li-pang bernapas lega. Mereka merasa gentar untuk melayani keluarga gila itu. Baru membayangkan melayani mereka, terutama kakek gila itu saja, mereka sudah merasa ngeri. Apalagi kalau melayani sambil mencari kesempatan bicara dengan pemuda tawanan mereka. Kalau ketahuan, ah, mengerikan!

Baiklah, Kim-Sio-cia itu merupakan gagasan yang baik sekali! Akan tetapi selanjut nya bagaimana?“ tanya kepala penjaga kuil.

“Kalau dugaanku benar bahwa pemuda itu keracunan, aku akan memberinya obat agar dia disembuhkan. Setelah itu aku akan mencari akal untuk membebaskannya dari kurungan keluarga itu. Kalau pemuda itu sudah bebas dan pergi dari sini, maka tanpa kita usir lagi, keluarga gila itu pasti akan pergi sendiri mencari pemuda itu...“

Semua anggota Hwa-li-pang yang mendengar ini menjadi gembira sekali. “Nona Kim merupakan seorang penolong besar dari perkumpulan kami!“ kata mereka.

“Sekarang harap kalian melapor kepada pang-cu kalian tentang usahaku, karena sebelum mendapatkan ijin darinya, bagaimana aku berani melaksanakannya?“

Kepala penjaga kuil bergegas pergi melapor dan mendengar akan usaha gadis berpakaian putih untuk menolong Hwa-li-pang, Pek Mau To-kouw menjadi senang sekali. Ia pun segera pergi ke kuil untuk menemui Kim Lan. Kim Lan segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Pek Mau To-kouw memasuki ruangan itu dan memberi hormat. Pek Mau To-kouw membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan sejenak ia mengagumi kecantikan gadis berpakaian serba putih itu.

“Pang-cu, maafkan kelancanganku...“ kata Kim Lan.

“Siancai... apakah nona yang bernama Kim Lan seperti dilaporkan muridku tadi?“

“Benar, pang-cu...“ kata Kim Lan.

“Silahkan duduk, nona...“

Mereka duduk kembali dan sejenak mereka saling pandang...

Pedang Naga Hitam Jilid 09

“Baiklah, engkau memang seorang gila yang pantas menerima hajaran!“ katanya singkat sambil menggerakkan kebutan di tangan kiri sedangkan tangan kanan sudah melolos sebatang pedang dari punggungnya.

Para murid Hwa-li-pang segera mundur dan membentuk lingkaran yang luas agar guru mereka dapat leluasa bertanding menghadapi orang gila yang lihai itu. Kui Ji dan Han Sin tetap berdiri di bawah pohon dimana duduk si pengemis muda. Di antara para penonton juga berdiri di lingkaran itu, nampak pula gadis berpakaian serba putih yang tadi datang bersama para wanita yang bersembahyang di kuil.

Melihat Pek Mau To-kouw sudah siap dengan senjata hud-tim (kebutan pendeta) dan pedang, Kui Mo tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, To-kouw, engkau tidak akan mampu menandingi tongkatku, lihat senjataku!“

Berkata demikian, dia menggerakkan tongkatnya dengan dahsyat sekali, menyerang ke arah kepala to-kouw itu. Melihat serangan ini, diam-diam Pak Mau To-kouw terkejut sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, segera ia dapat mengenal lawan yang tangguh. Begitu cepat tongkat itu bergerak dan mendatangkan angin pukulan yang kuat sekali. Ia pun mengelak dan kebutannya yang berbulu merah menyambar ke depan menotok ke arah leher sedangkan pedangnya menyusulkan tusukan ke arah dada.

Serangan balasan dari to-kouw ini pun hebat sekali sehingga Kui Mo mengeluarkan seruan yang di susul tawa terkekeh. Dia sudah menangkis pedang dan menggunakan tangan kiri mencengkram ke arah kebutan untuk menangkap kebutan itu. Akan tetapi lawannya tidak membiarkan pula kebutannya tertangkap, segera menarik kembali kebutannya dan kini pedang yang tertangkis itu membabat ke arah kaki lawannya.

Kui Mo meloncat ke atas dan ketika pedang lewat di bawah kakinya, pedang itu diinjaknya dan tongkatnya sudah menyerang dengan pukulan ke arah pundak kanan to-kouw itu. Tentu dia bermaksud agar to-kouw itu melepaskan pedangnya. Akan tetapi tidak semudah itu dia mengalahkan Pek Mau To-kouw itu. Hud-tim itu sudah menyambar lagi, kini bulu kebutan menjadi lemas dan hendak melibatkan kedua kakinya! Terpaksa Kui Mo meloncat turun dan serangan tongkat nyapun gagal karena to-kouw itu sudah miringkan pundaknya mengelak.

Perkelahian itu seru bukan main dan dalam pandangan para murid Hwa-li-pang, tubuh orang yang bertanding hanya nampak bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan sinar merah kebutan, sinar kuning tongkat dan sinar putih pedang. Kalau di tonton merupakan pemandangan yang indah dan menarik, akan tetapi semua murid menyadari bahwa yang indah itu mengandung bahaya maut untuk guru mereka!

Han Sin tentu saja dapat mengikuti gerakan kedua orang itu dan kembali dia merasa kagum dan juga senang. Dalam pertandingan inipun, menghadapi seorang lawan yang tangguh, kakek gila itu sama sekali tidak pernah menyerang dengan niat membunuh. Sebaliknya, setiap serangan to-kouw itu mengancam keselamatan nyawa lawan. Dia merasa girang dan yakin bahwa keluarga itu memang gila, akan tetapi bukanlah jahat. Dan biarpun kakek gila itu selalu mengalah dan membatasi tenaga serangannya, namun tetap saja Pek Mau To-kouw mulai terdesak.

To-kouw ini dibuat bingung oleh jurus-jurus gila itu yang sulit sekali diikuti perkembangannya yang selalu berlawanan dan tidak di sangka sama sekali. Tiba-tiba dalam ketegangan yang sunyi itu, yang hanya terisi bunyi nyaring ketika pedang bertemu tongkat di seling suara tawa keluarga gila itu, terdengar orang berkata-kata seperti sedang membaca sajak!

Semua orang menegok karena ternyata yang mengeluarkan suara itu adalah si pengemis muda yang kini berjongkok di bawah pohon dan mengikuti gerak-gerik dua orang yang sedang bertempur itu dengan penuh perhatian.

“Awal dan akhir bertentangan, ujung dan pangkal berlawanan, kanan menjadi kiri, atas menjadi bawah, depan menjadi belakang, itulah gerakan si pemabok atau si gila...!“

Bagi orang lain kata-kata ini seperti kacau dan tidak ada artinya. Akan tetapi tidak demikian bagi Pek Mau To-kouw. Ucapan itu menyadarkannya dan mulailah dia menghadapi lawannya berlandaskan ucapan itu. Kalau lawan menyerang dari bawah, ia menjaga sebelah atas dan benar saja!

Semua serangan lawannya merupakan serangan yang pangkalnya berlawanan dengan ujungnya sehingga ia dapat menjaga diri lebih baik dan dapat lebih banyak. Dan ia kini terlepas dari desakan lawan, bahkan dapat menyerang balik dengan dahsyat! Pertandingan menjadi seru dan ramai sekali.

Liu Si mengerutkan alisnya, menoleh kepada pengemis muda itu dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan pengemis itu. “kau gila, kau ikut membantu lawan!“ katanya dan sekali menggerakkan kepalanya, rambutnya yang riap-riapan itu telah menyambar ke arah pengemis muda itu.

Akan tetapi pengemis muda itu ternyata memiliki keringanan tubuh yang menakjubkan. Sekali dia bergerak, tubuh yang berjongkok itu sudah meloncat ke belakang sehingga sambaran rambut itu luput. Liu Si menjadi penasaran dan marah. Ia mengejar dengan senjata pecutnya, akan tetapi pengemis muda itu sudah melint angkan tongkatnya mengoyang-goyangkan tongkatnya dengan lagak yang lucu dan menggoda.

“Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, apalagi dengan seorang nenek gila. Aku takut ketularan gila, he-he-he!“

Liu Si semakin marah, “Siapa gila? Engkau yang gila, aku tidak gila!“

"Ha-ha, yang gila menganggap yang waras gila, itu sudah wajar di dunia ini. Entah mana yang benar, yang gila atau yang waras, mungkin saja yang waras itu benar-benar gila, aku tidak tahu! Nenek yang baik, kalau engkau tidak gila, siapa yang gila?“

“Kau yang gila, hik-hik-hik, ya engkau memang gila. Masih muda sudah menjadi pengemis, tentu saja kau gila, hik-hik -hik!“ Liu Si tertawa-tawa dan menunda penyerangannya.

“Aku tidak gila, engkaulah yang gila. Engkau berotak miring, engkau sinting!“ Pemuda itu berteriak-teriak dengan lantang dan marah.

Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda gila itu dan ia menjadi kagum. Dari gerakannya saja ketika tubuh yang berjongkok itu tiba-tiba meloncat ke belakang untuk menghindar serangan maut itu, tahulah dia bahwa pemuda itu ternyata bukanlah pemuda sembarangan, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Liu Si nampak tercengang seperti bingung mendengar pemuda itu memaki-makinya gila dengan suara lantang. “Aku gila? Ya, benar, aku gila dan sinting dan engkaupun edan. Hik-hik-hik, kita sama! Gila dan sinting, he-he-he-he!“

Han Sin memandang heran. Sikap pemuda pengemis itu benar-benar seperti sikap keluarga gila itu. Apakah pemuda itupun gila? Akan tetapi, jelas bahwa dia tadi memberi petunjuk kepada Pek Mau To-kouw bagaimana untuk melawan Kui Mo. Hal ini berarti bahwa pemuda itu selain cerdik, juga berilmu tinggi, dapat mengenal rahasia gerakan silat dari orang gila itu. Akan tetapi tiba-tiba Liu Si berhenti tertawa dan menghampiri pengemis muda itu, lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu.

“Tidak, engkau tidak sama dengan aku! Aku tidak sudi disamakan seorang pengemis, engkau malas tak tahu malu, pengemis busuk!“

Pemuda itu menjadi marah. “Nenek gila, mulut mu kotor. Pergilah kalau engkau tidak mau kuhajar dengan tongkat ku!"

Para anak buah Hwa-li-pang yang tadinya menujukkan seluruh perhatian mereka kepada ketua mereka yang sedang bertanding melawan kakek sinting, kini perhatian mereka terpecah menjadi dua. Sebagian malah mendekati pemuda pengemis itu untuk melihat bagaimana pemuda itu akan menandingi nenek gila.

“Tar-tar-tar...!“ Cambuk di tangan nenek gila itu sudah meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke atas kepala pemuda pengemis itu.

Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba menggerakkan tongkatnya dan kembali Han Sin yang memperhatikan pemuda itu merasa kagum. Ilmu tongkat pemuda pengemis itu hebat. Ujung tongkat yang digerakkan itu menggetar seolah menjadi banyak dan ujung cambuk yang menyerang kepala itu dapat dihalaunya dengan mudah. Bahkan tongkatnya menyodok ke arah perut Liu Si membuat nenek gila ini terkejut dan berloncatan ke belakang menghindarkan serangan berbahaya itu.

Liu Si menjadi penasaran dan semakin marah. Dengan suara tawa terkekeh menyeramkan ia sudah menerjang lagi dengan cambuknya, akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu mengangkat tangan kirinya dan mengacungkan empat buah jarinya.

“Eh, nenek gila. Kau tahu hitungan tidak? Berapa ini?“

Nenek itu kelihatan bingung, akan tetapi ia memandang ke arah tangan kiri yang di acungkan ke atas. “Bodoh, sudah jelas itu empat!“ Akan tetapi baru saja ia berkata demikian, tongkat itu sudah menyambar dan menghantam pahanya.

“Bukkk!“ untung Liu Si sudah melindungi pahanya dengan kekuatan sin-kang sehingga pukulan itu hanya membuat ia terpelanting dan hampir roboh. Nenek itu meloncat sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, siap menyerang lagi, bahkan sudah menundukkan kepala hendak menyerang pula dengan rambutnya yang panjang. Akan tetapi kembai pengemis muda itu berseru nyaring.

“Heiiii, nenek gila! Kalau ini berapa?“ kembali dia mengacungkan tiga buah jari. “Kalau engkau bisa menebak, aku mengaku kalah!“

Nenek itu memandang dengan mata mendelik marah. “ Bocah gila, itu adalah tiga! Nah, kau kalah dan berlututlah!“

Akan tetapi pemuda itu sudah menekuk sebuah jarinya sehingga yang nampak hanya dau buah jarinya dan dia tertawa. “ha-ha-ha, nenek sinting bodoh lagi, siapa tidak tahu bahwa jumlah jari ini hanya dua? Mengapa mengatakan tiga? Nah, engkau yang kalah, berlututlah!“

“Tidak sudi! Engkau yang kalah!“ dan Liu Si sudah menerjang dengan dahsyatnya saking marahnya.

Pemuda itu menjadi sibuk memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya. Terjadi satu pertandingan yang seru di samping pertandingan pertama antara Kui Mo dan Pek Mau To-kouw. Dan ternyata pemuda pengemis itu benar-benar lihai, dapat mengimbangi serangan Liu Si yang dahsyat. Akan tetapi setelah saling serang sebanyak belasan jurus, tiba-tiba pemuda itu tertawa dan berkata lantang, meloncat keluar dari gelanggang pertandingan.

“Ha-ha-ha, aku tidak mau berkelahi lebih lama. Aku takut ketularan menjadi gila kalau terlalu lama!“

Liu Si marah dan hendak menyerang lagi, akan tetapi dengan beberapa lompatan jauh pemuda itu telah pergi. Sementara itu pertandingan antara Kui Mo dan Pek Mau To-kouw telah berubah lagi. Kini Pek Mau To-kouw kembali terdesak hebat oleh Kui Mo. Setelah tadi rahasia gerakan ilmu tongkatnya diketahui oleh pengemis muda dan Pek Mau To-kouw dapat memecahkan rahasia itu sehingga mampu menandinginya.

Kui Mo yang berbalik terdesak kini mengubah ilmu silatnya. Ilmu tongkatnya itu sama sekali berbeda dengan yang tadi dan Pek Mau To-kouw menjadi terdesak dan terus mundur. Pada suatu saat ujung tongkat Kui Mo terlibat kebutan merah. Kui Mo tidak berusaha menarik tongkatnya karena selain hal itu tidak ada gunanya juga dia dapat di serang oleh pedang di tangan kanan to-kouw itu. Dia malah menggerakkan tongkat, dan dengan ujung tongkat yang lain dia menghantam ke arah lengan kiri T o-kouw itu.

Pek Mau To-kouw terkejut bukan main. Bulu kebutannya masih melibat tongkat dan kini lengannya terancam. Terpaksa ia melepaskan kebutannya yang masih menempel pada tongkat dan menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk mengirimkan tusukan kilat.

“Traangg...!“ Pedang itu terpental karena:kuatnya tongkat itu menangkisnya. Kini Kui Mo telah berhasil merampas kebutan berbulu merah dan dia melemparkan kebutan itu kepada Kui Ji. Gadis gila itu menerimanya dan dengan girang ia menari-nari dengan kebutan merah itu di sekeliling Han Sin.

Setelah kehilangan kebutannya, Pek Mau To-kouw menjadi semakin sibuk dan terdesak hebat. Melihat ketua mereka kini terus mundur, para anak buah Hwa-li-pang maklum ketua mereka terdesak. Mereka menjadi khawatir sekali akan tetapi tidak berani turun tangan mencampuri tanpa perintah ketua itu.

Tiba-tiba terdengar lagi suara nyaring bertemunya kedua senjata dan sekali ini pedang Pek Mau To-kouw terlepas dari tangannya dan terlempar jauh. Ia telah kehilangan kedua senjatanya dan mau tidak mau to-kouw itu harus mengakui keunggulan lawannya. Biarpun mukanya menjadi merah karena marah dan penasaran, akan tetapi terpaksa ia memberi hormat dengan kedua tangan dapan dada.

. “Siancai...!" Ilmu kepandaian Kui-sicu amat hebat, saya mengaku kalah...“

Kui Mo tertawa bergelak dan berkata dengan girangnya. “Ha-ha-ha, bagus sekali. Jadi kami boleh tinggal di sini dan merayakan pesta pernikahan anak kami disini?“

“Kami telah berjanji dan tidak akan mengingkari janji. Mari kalian berempat ikut saya ke dalam dan akan saya berikan tiga buah kamar untuk kalian. Akan tet api ingat, janji ini hanya untuk kalian berempat tinggal di sini sampai hari pesta pernikahan. Kalau kalian membikin kacau disini, kami akan mengeroyok kalian dengan semua anggota perkumpulan kami...“

“Hik-hik-hik-hik, siapa hendak mengacau? Kami adalah keluarga terhormat, keluarga baik-baik!“ tiba-tiba Liu Si berkata dengan galak.

“Ayah, ibu! Aku ingin sekamar dengan suamiku!“ Kui Ji merengek.

“Hushhhh, apa kau hendak melanggar adat istiadat! Mantuku begitu mengenal adat kesopanan. Dia seorang terpelajar tinggi, apa engkau tidak malu kepada suami mu? Sebelum menikah kalian tidak boleh sekamar, mengerti?“ Bentak Kui Mo dengan lagak seolah dia seorang bangsawan inggi.

“Tapi... hemmm... bagaimana kalau dia lari? Aku akan kehilangan dia...! Kui Ji membantah.

“Siapa mampu melarikan diri kalau ada aku dan ibumu? Tiga kamar itu harus berjajar, kamar kami dipinggir, juga kamarmu. Bagaimana mungkin dia dapat melarikan diri?“

Kui Ji tidak merengek lagi. Percakapan itu di dengarkan oleh semua orang dan mereka tidak peduli. Gadis berbaju putih yang berada di antara tamu kuil, melihat dan mendengar percakapan ini dan seperti yang lain, tahulah ia bahwa pemuda pakaian putih itu seolah menjadi tawanan keluarga gila itu. Agaknya mereka tawan dan mereka paksa untuk menikah dengan gadis gila itu. Akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang tenang, mulutnya yang selalu tersenyum, semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang bodoh dan mungkin agak sinting juga!

“Marilah kalian ikut saya...“ kata Pek Mau To-kouw tidak sabar lagi melihat perbantahan antara keluarga gila itu.

Ia melangkah memasuki halaman di samping kuil menuju ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggalnya dan menjadi pusat dari Hwa-li-pang. Empat orang itu mengikutinya dan Han Sin di gandeng oleh Kui Ji. Semua mata murid Hwa-li-pang mengikuti mereka dan setelah mereka menghilang di balik pintu besar, ramailah mereka membicarakan peristiwa itu.

“Heran sekali mengapa pang-cu membiarkan mereka tinggal di sini dan kelak merayakan pesta pernikahan orang gila disini?” seorang di antara mereka mengomel.

“Hemmm, Pang-cu adalah seorang yang berjiwa gagah, sekali berjanji tentu akan dipenuhinya,..“ kata yang lain.

“Akan tetapi keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kita! Mestinya pang-cu membiarkan kita maju semua dan mengeroyok keluarga gila itu. Banyak diantara kita sudalh dirobohkan dan sekarang mereka malah di biarkan t inggal di sini! Ini namanya penghinaan bagi Hwa-li-pang!“ kata yang lain lagi.

Gadis berpakaian putih yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu tiba-tiba berkata. “Kalian semua tidak mengerti. Justeru karena keluarga gila itu telah merobohkan banyak di antara kalian maka pang-cu kalian membiarkan mereka tinggal di sini untuk sementara waktu...“

Mendengar ucapan itu, semua anak buah Hwa-li-pang menengok dan memandang kepada gadis itu penuh perhatian. Ia adalah seorang gadis cantik jelita sekali, jarang mereka bertemu dengan gadis secantik itu. Usianya sekitar delapan belas tahun. Gerak geriknya halus penuh kelembutan, pakaiannya yang putih itu sederhana sekali namun bersih. Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu runcing dan rambutnya hitam dan lebat sekali, di gelung ke atas dan di tusuk dengan perhiasaan dari perak berbentuk burung merak.

Telinganya sedang besarnya, bentuknya indah dan tidak memakai perhiasaan apapun. Sepasang alis yang kecil hitam melengkung seperti di lukis itu melindungi sepasang mata yang bersinar lembut namun berwibawa. Mata yang amat indah bentuknya, dengan bulu mata yang lentik panjang, hidungnya mancung, serasi dengan mulutnya yang juga indah sekali, dengan sepasang bibir yang selalu merah membasag, dengan lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

Entah mana yang lebih indah, matanya ataukah mulutnya. Keduanya merupakan daya tarik yang luar biasa dari pribadi gadis ini. Bentuk tubuhnya sedang, pinggangnya ramping dan jari-jari tangan yang tampak itu panjang dan mungil.

“Hemmmm, apa alasannya engkau berkata begitu, nona?“ tanya seorang anak buah Hwa-li-pang, penasaran dan yang lain juga memperhat ikan untuk mendengar jaw aban gadis itu.

“Banyak di antara kalian telah di robohkan oleh keluarga gila itu, akan tetapi siapakah diantara kalian yang tewas atau terluka berat? Tidak seorangpun! Juga, ketua kalian dikalahkan tanpa menderita luka. Apakah kalian tidak tahu akan hal ini? Ketua kalian mengetahuinya dan ia tentu mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu, walaupun gila, bukanlah orang-orang kejam atau jahat. Mereka bukan datang untuk menghina atau mengacau, akan tetapi memang ingin merayakan pesta pernikahan anak mereka. Karena itulah ketua kalian itu dan sebagai seorang gagah yang terhormat, ket lua kalian memenuhi janjinya, sikapnya itu membuat semua orang merasa kagum kepadanya...“

Para anggota Hwa-li-pang itu saling pandang dan mereka tidak dapat membantah pendapat gadis itu yang dapat biacara dengan lancar namun lembut.

“Akan tetapi, nona kalau pesta pernikahan itu diadakan d isini dan diketahui oleh dunia kang-ouw, bukankah perkumpulan kami akan menjadi buah tertawaan mereka?“ seseorang membantah.

Gadis itu mengangguk-angguk, “kalau kalian membolehkan aku bermalam disini, mungkin aku dapat menemukan suatu jalan untuk menggagalkan pernikahan itu, agar mereka segera meninggalkan tempat ini...“

Tentu saja semua anggota Hwa-li-pang menyetujui permintaan itu. Gadis berpakaian serba putih ini seorang wanita, maka tidak merupakan pantangan untuk bermalam di kuil. Mereka lalu mengajak gadis itu yang datang ke kuil seorang diri untuk memasuki kuil dan membicarakan urusan itu di dalam.

Sementara itu, para tamu segera pergi meninggalkan kuil karena mereka merasa takut dengan adanya keluarga gila di situ.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Gadis itu di jamu oleh para anggota Hwa-li-pang di belakang kuil sambil bercakap-cakap membicarakan urusan yang sedang terjadi di Hwa-li-pang.

“Nona, kami semua mengharapkan bantuan nona untuk memecahkan persoalan yang mengancam perkumpulan kami ini. Akan tetapi sebelumnya kami ingin mengetahui siapakah nona dan dimana tempat tinggal nona...“ kata kepala penjaga kuil dengan sikap ramah.

Gadis itu meletakkan sepasang sumpitnya di atas meja. Ia telah makan kenyang dan ia memberi isyarat agar perlengkapan makan itu dibersihkan dari atas meja. Setelah meja bersih, ia lalu memandang kepada orang-orang yang merubungnya di ruangan belakang kuil itu.

“Aku bermarga Kim dan namaku Lan. Aku seorang gadis perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan aku berasal dari barat, daerah pegunungan Kun-Lun...“

“Kim-siocia (Nona Kim) nampaknya lemah lembut sekali, akan tetapi kami yakin nona tentu memilik iilmu kepandaian tinggi!“ kata seorang anggota Hwa-li-pang.

Kim Lan tersenyum manis, “Semua orang tentu memiliki sesuatu kepandaian tertentu, akan tet mapi hanya orang bodoh yang menyombongkan kepandaiannya itu. Aku hanya seorang gadis biasa saja, tiada bedanya dengan para gadis lainnya.

“Nona Kim, bagaimanakah caranya untuk mencegah pernikahan gila itu?“ tanya kepala penjaga kuil.

“Kita melihat tadi. Pemuda yang hendak dinikahkan dengan gadis gila itu agaknya berada dibawah tekanan mereka. Dia tentu di tangkap dan dipaksa dan mungkin sekali dia di racuni. Aku pernah mempelajari tentang pengobatan dan aku melihat tanda-tanda bahwa dia itu keracunan. Hal ini perlu di selidiki lebih dulu untuk menentukan apa yang selanjutnya akan kita lakukan...”

“Akan tetapi bagaimana caranya untuk menyelidiki hal itu? Kalau kita langsung bertanya kepadanya, tentu keluarga gila itu akan marah dan kita akan di pukul, juga belum tentu pemuda itu berani bicara sebenarnya...“

“Jangan khawatir. Serahkan tugas itu kepadaku. Aku akan menyamar sebagai seorang anggota Hwa-li-pang dan biarkan aku membawakan makanan dan minuman untuk mereka, terutama untuk membawakan makanan ke kamar pemuda itu. Aku yang akan menyelidiki...“

Para anggota Hwa-li-pang bernapas lega. Mereka merasa gentar untuk melayani keluarga gila itu. Baru membayangkan melayani mereka, terutama kakek gila itu saja, mereka sudah merasa ngeri. Apalagi kalau melayani sambil mencari kesempatan bicara dengan pemuda tawanan mereka. Kalau ketahuan, ah, mengerikan!

Baiklah, Kim-Sio-cia itu merupakan gagasan yang baik sekali! Akan tetapi selanjut nya bagaimana?“ tanya kepala penjaga kuil.

“Kalau dugaanku benar bahwa pemuda itu keracunan, aku akan memberinya obat agar dia disembuhkan. Setelah itu aku akan mencari akal untuk membebaskannya dari kurungan keluarga itu. Kalau pemuda itu sudah bebas dan pergi dari sini, maka tanpa kita usir lagi, keluarga gila itu pasti akan pergi sendiri mencari pemuda itu...“

Semua anggota Hwa-li-pang yang mendengar ini menjadi gembira sekali. “Nona Kim merupakan seorang penolong besar dari perkumpulan kami!“ kata mereka.

“Sekarang harap kalian melapor kepada pang-cu kalian tentang usahaku, karena sebelum mendapatkan ijin darinya, bagaimana aku berani melaksanakannya?“

Kepala penjaga kuil bergegas pergi melapor dan mendengar akan usaha gadis berpakaian putih untuk menolong Hwa-li-pang, Pek Mau To-kouw menjadi senang sekali. Ia pun segera pergi ke kuil untuk menemui Kim Lan. Kim Lan segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Pek Mau To-kouw memasuki ruangan itu dan memberi hormat. Pek Mau To-kouw membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan sejenak ia mengagumi kecantikan gadis berpakaian serba putih itu.

“Pang-cu, maafkan kelancanganku...“ kata Kim Lan.

“Siancai... apakah nona yang bernama Kim Lan seperti dilaporkan muridku tadi?“

“Benar, pang-cu...“ kata Kim Lan.

“Silahkan duduk, nona...“

Mereka duduk kembali dan sejenak mereka saling pandang...