Pedang Naga Hitam Jilid 08

Dua orang piauw-su yang masih hidup itu tidak dapat mengenal belasan orang menyerbu yang semua mengenakan tutup muka dari kain, akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Ciang Hwi yakin bahwa mereka itu bukan gerombolan perampok karena barang berharga di kereta itu tidak mereka usik.

Karena itu, jelas bahwa gerombolan itu memang sengaja muncul untuk membunuh suaminya. Berarti gerombolan itu adalah musuh yang mendendam kepada suaminya. Akan tetapi siapakah musuh itu? Memang tentu saja suaminya mempunyai banyak musuh. Sebelum menikah dengannya, sebagai seorang pendekar Kun-lun-pai, tentu suaminya dimusuhi banyak orang karena dia selalu menentang kejahatan.

Setelah menjadi piauw-su, lebih lagi. Ketika mengawal barang dia sering bentrok dengan gerombolan perampok yang mencoba untuk merampok barang kawalannya. Akan tetapi siapakah mereka dan bagaimana ia dapat mengusut agar menemukan orang-orang yang membunuh suaminya?

Kandungannya semakin tua dan perutnya semakin membesar sehingga terpaksa Ciang Hwi berdiam di rumah dengan hati ditekan rasa penasaran dan sakit hati. Setelah genap bulan dan harinya, Ciang Hwi melahirk anseorang anak perempuan yang mungil dan sehat. Ia memberi nama Ang Swi Lan kepada anak itu.

Agaknya nasib janda muda ini memang sedang gelap. Kesusahan karena malapetaka menimpanya susul menyusul. Setelah kehilangan suaminya yang dibunuh orang dan ia belum mengetahui siapa pembunuh suaminya, ia memang terhibur dengan kelahiran Ang Swi Lan. Akan tetapi baru saja Swi Lan berusia dua tahun, pada suatu hari orang mendapatkan wanita pengasuh anak itu tewas di taman belakang sedangkan Swi Lan telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Tentu saja Ciang Hwi menjadi terkejut dan sedih sekali. Ia hendak mencari anaknya, akan tetapi kemana? Ia tidak tahu siapa yang menculik anaknya, bahkan satu-satunya saksi, yaitu si pangasuh telah tewas tertusuk pedang. Ia dan semua anak buah Hwa-li-pang mencoba untuk mencari jejak, namun sia-sia belaka, semua usaha mereka tidak berhasil, Swi Lan lenyap dengan penuh rahasia, seperti kematian suaminya yang juga belum diketahui sebab dan siapa pembunuhnya.

Akhirnya Ciang Hwi menerima nasib. Ia menjadi seorang pemurung dan kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya. Akan tetapi, ia mencurahkan segenap tenaga dan perhatiannya untuk mengatur Hwa-li-pang sehingga memperoleh kemajuan.

Para anak buah Hwa-li-pang tidak hanya bertani dan mencari rempah-rempah, akan tetapi juga ia meneruskan perusahaan suaminya, yaitu membuka perusahaan pengawalan barang kiriman dengan demikian, selain Hwa-li-pang mendapat banyak penghasilan, juga dalam mengawal barang ke segala jurusan ini anak buahnya dapat membuka mata dan telinga untuk mencari keterangan tentang hilangnya Swi Lan.

Dengan bekerja tekun, Hwa-li-pang memperoleh penghasilan lumayan dan Ciang Hwi dapat membangun rumah yang besar, bahkan ia juga membangun sebuah kuil di depan untuk menerima rakyat yang datang bersembahyang.

Mulailah ia menekuni agama dan mengikuti jejak gurunya, menjadi seorang To-kouw dengan julukan Pek Mau To-Kouw (Pendeta Wanita Rambut Putih) karena sejak kehilangan puterinya, dalam usianya yang baru dua puluh sembilan, rambutnya sudah mulai memutih. Selain berusaha keras untuk membangun Hwa-li-pang sehingga perkumpulan itu terkenal didunia Kang-ouw.

Pek Mau To-Kouw ini menghabiskan waktu untuk mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi dalam kamarnya. Ia berubah menjadi seorang wanita yang pendiam, bijaksana dalam mengatur anak buahnya, mengajarkan silat dengan penuh kesabaran. Perkumpulan ini menjadi terkenal dan makin banyak anak-anak perempuan dan gadis-gadis remaja masuk menjadi anggota perkumpulan. Namun watak dasarnya masih belum meninggalkannya, yaitu keras hati dan berkemauan teguh.

Apakah yang telah terjadi dengan Ang Swi Lan? Peristiwa itu terjadi cepat sekali sehingga tidak sempat dilihat orang lain. Ketika pengasuh Swi Lan sedang mengajak anak itu bermain-main di taman bunga, t iba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat dan sekali tangannya mengayuh pedang, pengasuh itu roboh dan tewas tanpa dapat menjerit lagi. Swi Lan sedang duduk di bawah pohon bermain-main dengan bunga-bunga yang dipetikkan pengasuhnya.

Setelah pengasuh itu roboh, si bayangan hitam itu cepat sekali menyambar anak itu, menotoknya sehingga tidak mampu berteriak dan membawanya melompat pergi dari situ. Tidak ada seorangpun menyaksikan peristiwa itu. Bayangan hitam itu berlari cepat menuruni Hwa-san sambil memondong anak kecil itu. Ia mengambil jalan melalui hutan-hutan sehingga tidak pernah bertemu orang.

Ketika ia tiba didalam sebuah hutan besar di kaki Hwa-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang sedang berkata-kata seorang diri. Suaranya lembut namun lantang. Bayangan itu cepat menyelinap ke balik semak belukar dan mengintai. Ia melihat seorang kakek berusia sekitar lima puluh tahun, membawa sebatang tongkat yang dipakai memikul sebuah keranjang berisi daun-daun dan akar-akaran dan kini orang berkepala gundul itu sedang meneliti daun-daun tak jauh dari situ. Jelas bahwa orang itu adalah seorang hwesio yang pakaiannya longgar.

“Apakah, sahabat-sahabatku, yang dinamakan jahat itu? Membunuh adalah jahat, mencuri adalah jahat, menghambakan diri kepada nafsu birahi adalah jahat, berbohong adalah jahat, fitnah adalah jahat, mencela mencaci adalah jahat, membenci adalah jahat, memeluk pelajaran palsu adalah jahat, namun itulah, sahabat-sahabatku, adalah jahat. Dan Apakah sahabat sahabat ku, akar dari kejahatan? Nafsu keinginan adalah, akar kejahatan, kebencian adalah akar kejahatan, khayalan adalah akar kejahatan, semua ini adalah akar kejahatan...“

Bayangan hitam itu terkejut dan menjadi gelisah, apalagi ketika ia mengintai dari balik semak-semak, ternyata hwesio itu telah lenyap dari tempat dimana tadi dia berdiri. Karena mengira bahwa hwesio itu telah pergi jauh, ia lalu melemparkan Swi Lan ke atas tanah. Dan tiba-tiba anak itu menangis, agaknya lemparan itu membuat sebagian tubuhnya menimpa batu dan inilah yang membebaskannya dari totokan, atau memang sudah waktunya pengaruh totokan itu habis.

Si bayangan hitam itu lalu menyingkap penutup mukanya, memandang kepada anak itu penuh kebencian dan berkata lirih, suaranya mendesis, “Kutinggalkan engkau disini biar dimakan binatang buas!“ setelah berkata demikian, orang itu lalu berkelebat pergi dari tempat itu.

Tanpa diketahuinya, perbuatannya itu ada yang menyaksikannya! Hwesio yang mengucapkan pelajaran Sang Budha itu ternyata tidak pergi jauh. Dia dapat menangkap gerakan orang dibalik semak belukar, maka diapun menyelinap ke balik pohon dan mengitarinya sehingga dia dapat melihat si bayangan hitam itu ketika membuang Swi Lan, membuka penutup kepalanya lalu mengucapkan kata-kata yang kejam itu.

Biarpun melihat wajah si bayangan hitam itu hanya sebentar saja, akan tetapi wajah itu takkan pernah dilupakan oleh hwesio itu. Dia lalu menghampiri Swi Lan yang sudah bangkit duduk sambil menangis itu. Dipondongnnya anak itu. Melihat dirinya dipondong oleh seorang yang tidak dikenalnya, tangis Swi Lan semakin menjadi-jadi karena takut.

“Ssssttttt, anak manis, anak baik, jangan menangis. Pin-ceng tidak akan menggangumu, pin-ceng hendak menolongmu, anak manis!“

Kata-kata yang bernada ramah penuh kelembutan itu akhirnya membuat Swi Lan diam. Agaknya anak kecil ini yang belum dapat berpikir dengan baik, namun dapat merasakan bahwa yang memondongnya bukan orang yang hendak menyusahkannya.

Hwe-sio itu bertubuh gendut dan mukanya selalu tersenyum ramah, pandang matanya lembut dan suaranya halus. “Anak manis, siapakah namamu?"

Swi Lan yang baru dapat bicara sepatah dua patah kata itu agaknya mengerti pertanyaan itu dan ia menjawab “ Lan Lan...!“

Ketika hwe-sio itu bertanya lagi minta jawaban yang tepat siapa nama lengkap dari anak itu , Swi Lan yang belum mengerti hanya menjawab “Lan Lan“

Hwe-sio itu menanyakan lagi orang tuanya dan tinggal dimana rumahnya, akan tetapi kepandaian bicara Swi Lan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hwe-sio itu tertawa.

“Omit ohud...! Agaknya sudah ditakdirkan bahwa pin-ceng harus merawat anak ini...“

Dia mengambil sebutir buah jeruk dari keranjang yang dipikulnya, mengupas jeruk itu dan memberikannya kepada Lan Lan. Anak itupun mau menerimanya dan memakannya.

“Lan Lan, anak baik. Karena pin-ceng tidak tahu dimana rumah orang tuamu dan siapa nama mereka, maka mulai hari ini jadilah engkau murid pin-ceng. Ha-ha-ha, Thian Ho Hwesio, jalan hidupmu sungguh ganjil. Selamanya belum pernah menerima murid dan sekali menerima murid, terpaksa menerima seorang bocah yang masih kecil Ha-ha-ha“

Dia tertawa-tawa memindahkan semua daun dan akar obat ke sebuah keranjang yang lain lalu memikul dua keranjang itu. Lan Lan kelihatan girang sekali dan ia mulai tertawa-tawa. Hwe-sio itupun semakin lebar senyumnya dan dia berjalan keluar dari hutan itu dengan langkah cepat.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Demikianlah keadaan Hwa-li-pang yang merupakan pecahan kecil dari Thian li pang. Sejak kematian suaminya lalu kehilangan puterinya. Ciang Hwi yang kini berjuluk Pek Mau To-kouw menyibukkan dirinya dengan mengurus Hwa-li-pang menjadi sebuah perkumpulan yang cukup besar di Hwa-san.

Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya dan enam belas tahun telah lewat sejak Ang Swi Lan lenyap di culik orang. Pek Mau To-kouw sudah tidak mengharapkan lagi puterinya akan dapat ia temukan. Mungkin puterinya telah tewas, dan andaikata masih hidup juga kalau bertemu dengannya pasti tidak saling mengenal.

Memang puterinya itu mempunyai sebuah tanda yang mungkin tidak akan lenyap sampai ia dewasa, yaitu semacam bercak hitam di tengah telapak kaki kanannya. Akan tetapi bagian tubuh itu selalu tertutup sehingga tidaklah mungkin baginya untuk minta kepada setiap orang gadis yang disangka puterinya untuk membuka sepatu kanannya.

Pek Mau To-kouw sudah melepaskan harapannya untuk bertemu dengan puterinya. Dan di dalam hatinya sudah terdapat ketenangan kembali. Ia sudah merasa berbahagia dalam kedudukannya sebagai pimpinan Hwa-li-pang. Juga mereka melayani orang-orang dusun yang datang hendak bersembahyang ke kuil hwa-li-pang.

Pagi itu merupakan pagi yang amat indah. Matahari yang baru muncul di ufuk timur begitu cerahnya sehingga seluruh permukaan bukit hwa-san bermandikan cahaya yang putih keemasan itu. Awan-awan putih tipis bergerak diangkasa, dapat di tembus cahaya matahari seperti tirai sutera tipis, angkasa jauh di atas nampak biru muda bagaikan samudera yang tenang tanpa gelombang. Angin pagi bersilir sejuk dan kicau burung dan kokok ayam jantan menambah semaraknya suasana dipagi yang indah itu.

Sebernarnya, setiap saat dan detik terdapat keindahan dari suasana yang wajar ini. Hanya karena kita terlalu di ombang ambingkan pikiran kita sendiri yang mengadakan banyak persoalan maka keindahan yang ada itu tidak nampak lagi. Pikiran kita selalu sibuk dengan berbagai macam persoalan kehidupan sehari-hari, dari urusan pekerjaan, mencari uang, persoalan rumah tangga, konflik-konflik dalam keluarga atau antar teman, pengangguran, kejahatan, dan bahkan perang.

Pikiran kita sudah menjadi gudang dari segala macam permasalahan yang memusingkan sehingga kita sudah lupa betapa indahnya alam di sekeliling kita, betapa Maha Murahnya Tuhan terhadap kita semua. Segala keperluan hidup manusia telah terbentang luas di depan kita, Kita tinggal mengolah dan memetik saja. Akan tetapi semua keindahan itu tidak akan terasa lagi kalau kita menjadi hamba nafsu yang menyeret kita ke dalam konflik dan pertentangan, saling membenci, saling bermusuhan dan bahkan saling membunuh!

Alangkah akan bahagianya hidup ini apabila kita manusia tidak saling bermusuhan, melainkan bersatu padu untuk membangun dengan sarana yang tersedia lengkap. Membangun demi kesejahteraan kita bersama. Hidup tenteram penuh kedamaian, saling tolong dan saling bantu dalam mengahdapi kesukaran yang bagaimanapun macamnya dan dari manapun datangnya. Kesukaran yang dibagi akan menjadi ringan dan bukan merupakan kesukaran lagi.

Sedangkan kelebihan dan kesenangan yang dibagi tidak akan menjadi berkurang. Hdiup dalam suasana seperti itu akan melenyapkan segala macam kesusahan dan yang terdengar dari mulut kita hanyalah Puji Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Maha Pencipta, tidak lagi terdengar keluh kesah seperti yang kita dengar setiap saat pada masa kini.


Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Pek Mau To-Kouw sudah bangun dari tidurnya, bermeditasi dan berdoa. Lalu ia membersihkan tubuhnya dengan air sejuk, kemudian berjalan keluar untuk memeriksa pekerjaan para murid atau anggota hwa-li-pang.

Para anggota Hwa-li-pang sudah nampak sibuk sepagi itu. Ada yang siap bekerja di swah, ladang, ada yang berangkat untuk mencari rempah-rempah di hutan, ada yang mengangkut hasil ladang untuk di jual di dusun-dusun dan kota di kaki bukit, dan ada pula yang bertugas sebagai pengawal barang kiriman, siap dengan keretanya.

Diantara mereka para anggota yang tua-tua, sibuk mengurus kuil dan melayani orang-orang yang datang bersembahyang. Sudah ada belasan orang tamu kuil itu di pagi hari itu. kesemuanya wanita hendak bersembahyang. Diantara belasan orang tamu wanita ini, terdapat wanita muda yang berpakaian serba putih, cantik sekali seperti bidadari, dengan gerak gerik yang halus.

Para tamu wanita itu cepat memberi hormat ket ika Pak Mau To-Kouw memasuki kuil. Penampilan Pek Mau To-kouw memang anggun berwibawa. Rambutnya yang sudah hampir semua putih itu di gelung di ikat di atas dengan sutera putih. Jubahnya berwarna kuning, jubah panjang sederhana dan tangan kanannya memagang sebatang kebutan dengan bulu berwarna merah. Pek Mau To-Kouw membalas penghormatan para tamu itu dengan anggukan kepala dan senyum ramah.

Tiba-tiba pandang mata Pek Mau To-Kouw tertarik oleh seorang yang melangkah datang ke kuil itu. Ia berhenti dan memutar tubuhnya menghadapi orang yang baru datang ini. Yang baru datang itu adalah seorang remaja berpakaian pengemis dan kepalanya di tutup sebuah topi butut. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat. Pakaiannya yang serba hitam itupun butut walau bersih, dan sepatunya yang sudah butut sehingga nampak jari kelingking kaki kirinya menonjol keluar. Mukanya kotor pula bercoreng lumpur namun dapat dilihat bahwa pengemis muda ini memiliki wajah yang tampan dan sepasang matanya bersinar-sinar.

“Sobat muda, engkau datang hendak bersembahyang ataukah hendak mengemis?“ tanya Pek Mau To-kouw dengan sikap dan suara lembut dan ramah.

Pengemis muda itu mengamati ketua Hwa-li-pang itu penuh perhatian, lalu berbalik mengajukan pertanyaan, “To-Kouw, kalau aku hendak bersembahyang mengapa dan kalau hendak mengemis bagaimana?“

Pek Mau To-Kouw tersenyum dan diam-diam ia menganggumi ketegasan pengemis muda, walaupun pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pengemis, namun sama sekali tidak rendah diri, bahkan nampaknya seperti orang yang dapat menjaga harga diri.

“Kalau hendak bersembahyang harap menunggu lebih dulu karena para tamu yang berada di dalam kuil semuanya adalah wanita sehingga tidak pantaslah kalau engkau seorang pria masuk bersama mereka. Dan kalau engkau hendak mengemis, sebaiknya engkau berdiri di luar kuil menanti pemberian sumbangan dari mereka yang datang dan pergi...“

“Dari jauh aku datang ke sini karena mendengar bahwa ketua Hwa-li-pang adalah seorang yang murah hati, aku tidak hendak bersembahyang, tidak pula mengemis, hanya ingin membuktikan sampai dimana kedermawanan hati ketua Hwa-li-pang. Dapatkah aku bertemu dengan ketua Hwa-li-pang?“

“Siancai...! Aku sendirilah ketua itu...“ kata Pek Mau To-kouw sambil tersenyum.

“Bagus! Aku tidak ingin mengemis hanya ingin memancing kebaikan hati pang-cu...“

“Orang muda, pertolongan apakah yang dapat kuberikan kepadamu? Apakah engkau lapar dan butuh makanan?“

“Aku sudah kenyang, pagi tadi sudah sarapan, hampir menghabiskan seekor ayam panggang...“

“Hemmm, kalau begitu, apakah engkau membutuhkan pakaian pengganti pakaianmu yang sudah butut itu?“

“Tidak, aku lebih senang dengan pakaian ini, biar butut akan tetapi bersih. Hanya sepatuku...“

“Kenapa dengan sepatumu?”

“Yang kiri sudah jebol sehingga jari kakiku kelihatan. Aku membutuhkan sepasang sepatu...“

Percakapan itu menarik perhatian para tamu wanita yang hendak bersembahyang dan merekapun tidak melanjutkan langkah mereka dan ikut menonton. Pek Mau Tok-kouw memandang ke arah kaki pengemis muda itu, lalu memadang kepada kakinya sendiri. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa ukuran kakinya sama dengan ukuran kaki pengemis remaja itu, maka lalu ia melepaskan sepatunya yang terbuat dari kulit dan menyerahkannya kepada pengemis itu.

“Kalau begitu, pakailah sepatu ini...“ katanya.

Pengemis itu memandang tertegun dan menerima sepatu itu dan Pak Mau To-kouw lalu melangkah ke dalam kuil dengan kaki hanya terbungkus kaus kaki saja.

Peristiwa kecil ini menunjukkan betapa baik budi to-kouw itu dan gadis berpakaian putih tadi yang melihat peristiwa itu memandang dengan mata sayu, agaknya ia terharu sekali akan kebaikan hati Pek Mau To-kouw. Pengemis itupun segera duduk diatas tanah dan mengganti sepatu bututnya dengan sepatu pemberian Pek Mau T lo-kouw. Wajahnya berseri dan dia tersenyum-senyum, lalu duduk bersandar pada pohon yang tumbuh di depan kuil.

Agaknya angin semilir membuat dia mengantuk karena dia sudah melenggut tidur ayam dibawah pohon. Pek Mau To-kouw sendiri sudah memasuki kamar samadhi di kuil itu dan seorang murid datang mengantarkan sepasang sepatu untuk gurunya itu.

Dari bawah lereng itu nampak ada empat orang naik ke lereng dan menuju ke kuil itu. Dilihat dari pakaian mereka, tiga diantaranya dengan pakaian kembang-kembang dan seorang diantaranya berpakaian serba putih. Para penjaga kuil menduga bahwa yang datang tentu segerombolan wanita lain. Akan tetapi setelah mereka itu dekat, tiba di halaman kuil, para pelayan itu memandang heran. Tiga orang berpakaian kembang-kembang itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, seorang wanita yang sebaya dan seorang gadis yang cantik. Adapun yang berpakaian serba putih itu adalah seorang pemuda tampan yang wajahnya dihias senyum tenang.

Pemuda berpakaian serba putih itu adalah Han Sin, sedangkan yang berpakaian kembang-kembang adalah keluarga gila itu, Kui Mo, istrinya Liu Si dan anak mereka Kui Ji. Seperti telah di ceritakan dibagian depan, keluarga gila itu memaksa Han Sin untuk menikah dengan Kui Ji dan untuk merayakan pesta pernikahan, mereka hendak meminjam tempat dari Hwa-li-pang.

Han Sin dalam keadaan tidak berdaya karena dia telah keracunan tidak mampu mengerahkan lwe-kangnya. Hawa sakti dari pusarnya tidak mampu menjalar ke kaki tangannya. Racun pelemas otot telah membuat otot-ototnya tidak mampu menampung hawa sakti atau tenaga dalam itu. Tentu saja dengan kehilangan hawa sakti, ilmu silatnya tidak berisi lagi dan dia tidak mampu menandingi keluarga gila itu.

Biarpun pemuda itu sudah menjadi seorang yang lemah, namun keluarga itu, terutama Kui Ji, tidak pernah melepaskan penjagaannya terhadap pemuda itu. Bahkan Kui Ji selalu berjalan di dekat Han Sin untuk menjaga jangan sampai pemuda yang membuatnya tergila-gila itu melarikan diri.

Kui Mo dan Liu Si memasuki kuil itu, diikuti oleh Han Sin yang digandeng oleh Kui Ji. Melihat tiga orang berpakaian kembang-kembang itu memasuki kuil sambil tertawa-tawa sepert i orang mabok, para anggota Hwa-li-pang yang bertugas di kuil segera maju menyambut. Kepala rombongan penjaga kuil, seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, sudah menjadi pendeta wanita pula, memberi hormat kepada mereka dan bertanya dengan suara lantang.

“Cu-wi, siapakah dan apa keperluan datang ke kuil kami? Apakah cu-w i (anda sekalian) hendak bersembahyang?“

Kui Mo tertawa bergelak. “ha-ha-ha, kami bukan hendak sembahyang, melainkan hendak meminjam tempat Hwi-li-pang ini untuk merayakan pesta pernikahan anak kami, ha-ha-ha“

Kepala penjaga kuil itu tentu saja terkejut mendengar ini dan mengerutkan alisnya. “Siancai... kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Tempat kami tidak untuk dipinjamkan kepada siapapun juga...“

Liu Si melangkah maju. Rambutnya yang riap-riapan itu menyeramkan sekali, sebagian wajahnya yang tidak tertutup rambut memperlihatkan kecantikan seorang wanita setengah tua, akan tetapi mulut yang menyerengai dan mata yang mencorong itu benar-benar membuat ia kelihatan seperti siluman.

“Jangan banyak cerewet... panggil ketuamu dan suruh menghadap kami. Pendeknya, boleh atau tidak boleh tempat ini baru kami pinjam untuk keperluan perayaan pesta pernikahan anak kami..."

Ucapan galak itu di susul tawa yang terdengar mengerikan, melengking tinggi, pada saat itu Kui Mo tertawa-tawa, demikian pula Kui Ji terkekeh-kekeh. Sedangkan Han Sin hanya berdiri dan tersenyum bodoh.

Para pengujung kuil mulai merasa takut melihat lagak tiga orang berpakaian kembang-kembang itu dan mereka berkumpul di pinggir dekat dinding dan bersiap-siap untuk melarikan diri kalau tiga orang gila itu mengamuk. To-kouw kepala jaga itupun mengerutkan alisnya. Tentu saja ia tidak mau merepotkan ketuanya untuk menghadapi tiga orang gila ini. Ia sendiri sudah memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi dari pada semua penjaga kuil itu. Maka dengan berani to-kouw itu lalu membentak,

“kalian ini orang-orang gila berani datang membikin kacau Hwa-li-pang? Pergilah atau aku akan menggunakan kekerasan mengusir kalian!“

Liu Si terkekeh, “he-he-he, engkau ini orang gila berani memaki kami? Kalau kami katakan hendak meminjam tempat ini, siapa yang berhak melarang? Kamu hendak mengusir kami dengan kekerasan? Hemmm, apa yang dapat kau lakukan?”

Liu Si melangkah maju sampai dekat sekali dengan to-kouw itu yang tentu saja menjadi ngeri di dekati wanita gila yang rambutnya riap-riapan itu. Ia lalu mengerahkan tenaganya mendorong Liu Si pada dadanya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendorong rasanya seperti mendorong sebongkah batu besar yang amat berat. Wanita gila itu sama sekali tidak bergoyang walaupun ia sudah mengerahkan tenaga sepenuhnya!

“Hik-hik-hik“ Liu Si terkekeh dan tangannya di dorongkan ke pundak kepala penjaga kuil itu.

Seperti sehelai daun kering di tiup angin to-kouw itu terlempar ke belakang dan roboh menimpa meja. Para anggota Hwa-li-pang yang menyaksikan peristiwa ini tentu saja menjadi marah. Mereka segera menghampiri dan menyerang Liu Si dengan pukulan–pukulan dan tamparan. Empat orang anggota Hwa-li-pang mengeroyoknya, akan tetapi dengan mudah sekali, begitu Liu Si menggerakkan kaki tangannya, empat orang inipun berpelantingan roboh. Gegerlah keadaan dalam kuil. Para murid Hwa-li-pang lari berdat angan dan melihat ini, Kui Mo tertawa.

“Ha-ha-ha, mari kita kehalaman dapan agar lebih leluasa kita menghajar mereka..!“

Kui Mo dan Liu Si berlompatan ke pekarangan kuil dan Kui Ji lalu menarik tangan Han Sin untuk ikut pula. “Jangan takut,suamiku. Aku akan menjagamu, agar tidak ada yang berani mengganggumu!“ kata Kui Ji sambil terkekeh, lalu berdiri di pekarangan itu. Di bawah pohon sambil menggandeng tangan Han Sin.

Pengemis muda yang tadi menerima sepatu dari Pek Mau To-kouw memandang dengan mata terbelalak heran. Akan tetapi berbeda dengan para tamu kuil yang kelihatan ketakutan, pemuda pengemis ini tidak nampak ketakutan, melainkan tertarik sekali. Terutama sekali dia merasa tertarik melihat keadaan Han Sin yang digandeng gadis gila itu.

Dia tahu bahwa tiga orang yang mengenakan baju berkembang itu tent ulah orang-orang gila, hal ini mudah diketahui dari sikap mereka yang tertawa-tawa menyeramkam itu. Dan agaknya dia gembira sekali melihat tontonan ini, yang dianggapnya aneh dan dia menanti para anggota Hwa-li-pang yang sudah mengejar keluar dari kuil.

Bukan hanya para penjaga kuil yang kini berlari menuju ke halaman kuil itu, akan tetapi juga para anggota lain yang belum berangkat untuk bekerja. Tidak kurang dari empat puluh orang wanita anggota Hwa-li-pang kini berdatangan ke tempat itu dan banyak diantara mereka yang memegang senjata pedang atau toya!

Kui Mo dan Liu Si sudah berdiri saling membelakangi dan tertawa-tawa melihat para anggota Hwa-li-pang berdatangan dengan sikap mengancam itu. Mereka Sama sekali tidak merasa gentar, sedangkan Kui Ji tetap berdiri di bawah pohon bersama Han Sin. Dua orang suami istri gila itu nampaknya gembira sekali melihat mereka dikepung oleh banyak pengeroyok dan begitu para pengeroyok itu menggerakkan senjata menyerang mereka, keduanya bergerak dengan cepatnya.

Terdengar suara meledak-ledak ketika Liu Si memainkan cambuknya dan tongkat di tangan Kui Mo juga berubah menjadi segulungan sinar kuning. Para pengeroyok terkejut sekali. Mereka menjadi bingung karena kedua orang gila itu seperti berubah mmenjadi bayangan yang banyak dan tahu-tahu enam orang diantara mereka telah roboh!

Akan tetapi, seperti kepala jaga di kuil tadi, yang roboh itu tidak terluka berat, maka mereka terus mnegeroyok dengan marah. Kui Mo dan Liu Si tertawa-tawa dan makin banyak pula pengeroyok yang berpelantingan, dengan kepala benjol, muka lebam, gigi rontok, atau salah urat!

Pengemis muda yang duduk di bawah pohon dan yang sejak tadi nonton dengan penuh perhatian nampak terkejut melihat kelihaian suami istri gila itu. Sementara itu, Kui Ji bertepuk tangan dan menari-nari kegirangan melihat ayah dan ibunya menghajar para pengeroyok itu.

Han Sin merasa tidak enak sekali. Para anggota Hwa-li-pang itu adalah wanita-wanita yang tidak berdosa, kini mereka di hajar dan semua itu adalah gara-gara dia. Kalau dia tidak diambil mantu keluarga gila ini tentu tidak akan terjadi kekacauan di Hwa-li-pang. Dan dia merasa tidak berdaya, tidak mampu mencegah pengamukan kedua orang gila itu. Hanya ada satu hal yang membuat hatinya lega, yaitu melihat kenyataan bahwa Kui Mo dan Liu Si selalu merobohkan pengeroyoknya tanpa membunuh, atau melukai berat.

Mereka itu hanya dirobohkan dengan luka ringan saja dan hal ini membuktikan bahwa keluarga gila ini ternyata tidaklah jahat dan tidak suka membunuh. Padahal kalau mereka menghendaki, tenaga pukulan mereka dapat diperkuat dan yang roboh tentu akan tewas. Tiba-tiba terdengar bentakan halus akan tetapi berwibawa.

"Hentikan perkelahian ini...!“

Mendengar suara ini, para anggota Hwa-li-pang berloncatan mundur. Di antara mereka banyak yang menderita luka-luka ringan. Pek Mau To-Kouw melangkah keluar dari pintu kuil dengan anggun dan tegap, menghampiri suami istri gila itu yang kini berdiri di samping Kui Ji dan Han Sin. Pek Mau To-kouw mengamati empat orang itu dengan pandangan mata penuh selidik, akan tetapi ia tidak merasa kenal dengan mereka. Ia lalu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan sambil memandang kepada Kui Mo dan Liu Si, ia berkata,

“Siancai...! Siapakah sebetulnya ji-wi (anda berdua) dan mengapa pula berkelahi dengan anak buah kami dari Hwa-li-pang? Apa kesalahan Hwa-li-pang terhadap ji-wi?"

Suami istri itu saling pandang dan mereka tertawa girang sekali. "suamiku...“ kata Liu Si dengan sikap manja, “To-kouw ini cukup anggun, bukan? Alangkah baiknya kalau ia yang mengatur upacara sembahyang untuk pernikahan anak kita...“

“Ha-ha-ha, memang tepat sekali kata-katamu, istriku. Dengan upacaranya di atur oleh to-kouw ini dan disaksikan oleh semua tokoh kang-ouw, pernikahan itu tentu akan mendapat berkah...“

Pek Mau To-kouw yang biasanya sabar sekali itu, kini timbul rasa penasaran di dalam hatinya. “Apa yang ji-wi maksudkan? Ji-wi belum menjawab pertanyaanku...!“

“Ha-ha-ha, engkau menanyakan apa tadi? Ah, siapakah kami? Aku bernama Kui Mo dan ini istriku Liu si, yang cantik ini puteri kami bernama Kui Ji dan pemuda ini adalah calon mantuku bernama Cian Han Sin. Nah, mengapa kami berkelahi dengan anak buahmu? Kalau saja sejak tadi engkau keluar, tentu tidak akan ada perkelahian? Engkau ketua Hwa-li-pang, bukan...?“

“Kami hendak meminjam tempat mu ini untuk perayaan pernikahan anak kami! Kata Liu Si...”

“Tempat ini kami pinjam, engkau menjadi pendeta yang mengatur upacara pernikahan dan engkau pula yang mengundang tokoh-tokoh kang-ouw agar hadir dan menyaksikan pernikahan itu, anak buahmu menyediakan hidangannya dan menjadi pelayan-pelayan untuk memeriahkan pesta pernikahan itu. Nah, usul kami ini baik sekali, bukan?“

Wanita gila itu tertawa melengking tinggi dan suami serta puterinya juga tertawa-tawa. Han Sin tidak ikut tertawa hanya tersenyum tak berdaya dan memandang kepada to-kouw itu dengan hati iba. Sejak dia dibawa ke tempat itu, dia selalu mencari kesempatan untuk meloloskan dan melarikan diri. Akan tetapi 'calon istrinya' selalu menjaganya.

Pek Mau To-kow menjadi merah mukanya saking marahnya mendengar ucapan itu. Tidak heran kalau para muridnya menjadi marah dan mengeroyok dua orang gila ini karena memang permintaan mereka itu sama sekali tidak pantas. Sampai lama ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking marah dan bingungnya bagaimana harus bersikap untuk menghadapi orang-orang gila ini.

“Ha-ha-ha, Pek Mau to-kouw, tidak usah ragu!“ kata Kui Mo. “Lakukan saja apa yang kami minta dan kami tidak akan mengganggumu. Pesta itu akan kami langsungkan setelah lewat tiga bulan, dan untuk sementara ini kami berempat akan tinggal disini. Beri saja kami dua buah kamar. Itu sudah cukup...“

“Tiga buah kamar!“ tiba-tiba Han Sin memotong ucapan Kui Mo. “Jangan paman calon mertua lupa, kita adalah orang-orang yang selalu menaati adat istiadat, tidak boleh calon pengantin berkumpul dalam satu kamar sebelum dilangsungkan pernikahannya!“

“Ah, ya benar! Tiga buah kamar. Dan makan setiap harinya untuk kami, permintaan kami ringan saja dan tentu engkau tidak keberatan, bukan?“ Kui Mo memandang kepada Pek Mau To-kouw.

Mendengar ucapan Han Sin tadi, tahulah Pek Mau to-kouw bahwa pemuda calon pengantin itu bukanlah seorang yang gila seperti suami istri dan puterinya itu. Tentu pemuda itu di paksa oleh suami istri gila yang lihai itu, pikirnya.

“Siancai...!“ Permintaan kalian itu tentu saja sama sekali tidak mungkin kami penuhi. Pertama, perkumpulan Hwa-li-pang kami adalah sebuah perkumpulan wanita, maka tentu saja tidak dapat menerima tamu pria untuk bermalam di sini, kedua, semua anggota Hwa-li-pang tidak ada yang merayakan pernikahannya, kalau ada yang menikah di tempat ini. Oleh karena itu bagaimana mungkin orang luar merayakan pernikahan disini? Sobat, terpaksa kami tidak dapat memenuhi permintaanmu dan harap segera meninggalkan tempat ini karena kami tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga...“

“Ha-ha-ha, kami tidak ingin mendengar alasan. Pendeknya, boleh atau tidak boleh, tempat ini kami pinjam. Engkau ini seorang to-kouw, kenapa tidak mengerti aturan?“ Kata Liu Si sambil menudingkan telunjuknya kepada Pek Mau To-kouw.

Ketua Hwa-li-pang itu memandang marah, “Hemmmm, apa maksudmu menuduh kami tidak mengerti aturan?”

“Seorang pendeta wanita harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat, harus berbuat baik. Sekarang hanya dipinjam tempatnya saja tidak boleh. Aturan mana itu?“

Pek Mau to-kouw menjadi geram. Dasar orang gila, maka pendapatnyapun gila dan seenak perutnya sendiri, pikirnya. “Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi, Pendeknya permintaan kalian tidak dapat kami penuhi...“

Kui Mo melangkah maju. “Pek Mau to-kouw, sekarang begini saja. Mari kita mengadu kepandaian. Kalau aku kalah, kami tidak akan banyak cakap lagi dan akan mencari tempat untuk pesta pernikahan anak kami. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus mengijinkan kami tinggal di sini sampai datangnya pesta pernikahan itu yang akan dilangsungkan di sini bagaimana?“

Pek Mau to-kouw menganggap bahwa keputusan itu, biarpun di usulkan seorang gila, cukup baik. Tentu saja ia menganggap pula bahwa ia pasti akan dapat mengalahkan si gila ini, karena betapa pun lihainya seorang gila tentu tidak dapat bersilat dengan sempurna. Pula, di situ berkumpul sebagian besar muridnya yang belum berangkat kerja dan terdapat pula orang-orang luar yang datang bersembahyang. Kalau ia tidak berani melayani tantangan seorang gila, apa kata orang? Pula, ia harus membalaskan para muridnya yang tadi di hajar oleh suami istri gila ini...

Thanks for reading Pedang Naga Hitam Jilid 08 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »