Social Items

“Nah, Han Sin, mulai hari ini engkau tinggal disini dan belajarlah dengan tekun. Engkau tidak boleh meninggalkan kuil dan kalau engkau rindu kepada ibu, aku yang akan datang menjengukmu ke sini. Tidak perlu engkau pulang...“

Han Sin sudah maklum bahwa dia harus belajar dengan tekun, maka dia mengangguk. “Baiklah, ibu harap jangan khawatir. Aku akan belajar dengan tekun sesuai dengan pesanmu...“

Setelah akhirnya ibunya naik kembali ke dalam kereta dan meninggalkan kuil, mau tidak mau Han Sin merasa seolah semangatnya ikut pergi bersama ibunya. Kini, ayahnya telah meninggal dunia dan ketika ibunya meninggalkannya, ia merasa kehilangan dan kesepian sekali. Akan tetapi dia mengeraskan hatinya, bahkan segera memutar tubuhnya menghadapi Tiong Gi Hwesio.

“Suhu, harap perintahkan apa yang sekarang harus teccu lakukan...“

Hwesio itu tersenyum. Dia kagum melihat sikap anak ini. Akan tetapi, diapun maklum bahwa anak ini sebagai putera seorang panglima yang kabarnya berilmu tinggi, tentu sudah mendapat gemblengan dari ayah ibunya. Hwesio ini pun pernah mendengar bahwa ibu anak ini pun seorang yang pandai ilmu silat. Karena itu, dia sudah mengambil keputusan untuk tidak tergesa-gesa mengajarkan ilmu silat kepada anak ini, melainkan menggemblengnya agar dia memiliki dasar tenaga yang kuat dan terutama sekali melatih kesabaran dan menanamkan pelajaran agama kedalam bhatinnya sehingga kelak akan menjadi seorang yang budiman, tidak hanya mengandalkan kekerasan ilmu silat.

“Hari ini pinceng antarkan ke kamarmu lebih dulu, setelah itu baru pinceng akan memberitahukan apa tugasmu setiap hari didalam kuil ini...”

Han Sin mendapatkan sebuah kamar tersendiri di dalam kuil itu, tidak seperti belasan murid lain yang tinggal didalam kamar bertiga atau berempat. Bagaimanapun juga, Tiong Gi Hwesio masih merasa sungkan kepada ibu anak itu, seorang penyumbang besar dan janda seorang panglima besar pula.

Setelah mendapatkan kamar, Han Sin lalu di beri tugas oleh Tiong Gi Hwesio. Tugas pekerjaan yang berat. Setiap hari dia harus mengisi bak-bak air, mencari kayu bakar, membelah kayu-kayu besar itu menjadi kayu bak air. Di waktu malamnya, dia diharuskan membaca kitab-kitab agama dan menghafalnya.

Han Sin tidak menyangka sama sekali bahwa dia harus bekerja berat dikuil itu. Dan pekerjaan itu pun dilakukan dengan cara-cara yang seolah menyiksanya. Dia diharuskan memikul air dengan kedua kaki mengenakan bakiak (alas kaki dari kayu) yang amat berat. Baru memakai bakiak itu saja dia sudah hampir tidak dapat berjalan dengan baik. Apalagi harus memikul air yang berat dan bergoyang-goyang! Dan pikulannya pun terbuat dari lidi bambu yang banyak diikat menjadi satu.

Setelah dia mampu berjalan dengan bakiak memikul dua tong air yang penuh dengan baik, dengan langkah ringan dan cepat yang baru dapat dilakukan setelah dia bekerja lebih dari tiga bulan, batang-batang lidi itu dikurangi satu demi satu.

Sudah setahun lamanya Han Sin berada di kuil dan belum juga dia dilatih ilmu silat oleh Tiong Gi Hwesio! Bahkan pekerjaannya pun semakin berat saja. Pada pikulannya di ikat dua potong besi yang beratnya tidak kurang dari sepuluh kilo dan dia diharuskan memikul air dengan tong air yang bocor! Setiap kali dia sampai di bak air, pikulannya sudah kosong karena airnya habis membocor dalam perjalanan dari sumber air ke bak air dibelakang kuil!

Dia tidak boleh mengganti tong air. Terpaksa dia harus berjalan atau bahkan berlari secepat mungkin agar setibanya di bak air, tong itu belum habis sama sekali. Dalam waktu setahun, seringkali dia menjadi bahan tertawaan murid-murid yang lain yang tidak diharuskan bekerja berat seperti halnya Han Sin. Namun, biar mendapat perlakuan seperti itu, Han Sin tidak pernah mengeluh. Bahkan kepada ibunya yang hampir setiap bulan sekali datang menjenguknya, tidak ada sepat ahpun kata keluhan atau aduan kepada ibunya. Han Sin sudah dapat mengendalikan perasaanya dan belajar untuk bersabar diri.

Di waktu malam, seringkali Tiong Gi Hwesio datang kemarnya dan hwesio ini memberi petuah-petuah mengenai soal-soal kebatinan kepada anak itu. Ditekankan oleh hwesio itu agar Han Sin dapat menerima kenyataan, menerima keadaan dengan penuh kewaspadaan, menerima keadaan bukan berarti putus asa atau mengalah, melainkan penuh kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.

“Setiap saat engkau waspadalah terhadap segala perbuatanmu, gerak gerik semua anggota tubuhmu kalau sedang melakukan sesuatu. Juga jangan lengah untuk mengamati apa yang terjadi dengan hati dan pikiranmu. Kewaspadaan ini akan membuat engkau mengenal benar siapa dirimu dan mengikuti semua ulah nafsu yang menguasai dirimu lahir batin. Hanya kewaspadaan yang menyeluruh ini yang akan membawamu ke dalam jalan kehidupan yang benar, Han Sin...“

Setiap kali menerima wejangan hwesio itu, tentu saja Han Sin merasa agak pusing. Ucapan hwesio itu terlalu dalam untuk pikiran seorang anak berusia sepuluh tahun. Akan tetapi setelah hwesio itu pergi meninggalkan kamarnya, Han Sin suka merenungkan semua itu sampai dia samar-samar dapat menangkap intinya. Makin dia mengerti, makin sabarlah dia dan kehidupan dikuil itu makin terasa ringan. Kejenakaannya yang menjadi watak dasarnya timbul kembali sehingga dia dapat bersenda gurau dengan murid-murid yang lain di dalam kuil itu.

Karena pekerjaannya, Han Sin jadi dekat dengan Ho Beng Hwesio, tukang masak dikuil itu. Dalam pekerjaan membelah kayu bakar, mula-mula dia diberi sebuah kapak. Akan tetapi dia dilarang keras mengasah kapak itu. Tentu saja dalam setahun, kapak itu menjadi tumpul, tidak terasa oleh Han Sin dan dia tetap dapat sekali pukul membelah kayu yang besar. Ternyata ini pun merupakan latihan yang amat besar manfaatnya untuk menghimpun tenaga.

Ho Beng hwesio seringkali melihat anak itu bekerja dan diluar tahunya Han Sin, seringkali dia mengangguk dan tersenyum. Kakek tua renta ini sudah tahu bahwa Han Sin adalah putera mendiang panglima Cian Kauw Cu. Terbayanglah dia akan masa lalunya, tiga puluh tahun yang lalu, ketika dia masih berjuluk Hek Liong Ong, dia menjadi guru Cian Kauw Cu (baca Sepasang Naga Lembah Iblis)!

Dan Cian Kauw Cu merupakan seorang murid yang baik sekali. Sama sekali tidak terpengaruh oleh wataknya yang ketika itu masih menjadi seorang datuk sesat yang kejam! Kemudian bahkan muridnya yang membujuknya membantu para pejuang, membantu Yang Chien menaklukkan Kerajaan Toba sehingga membangun Kerajaan Sui yang sekarang. Diapun mendengar bahwa muridnya itu telah gugur dalam perang, dan kini putera muridnya itu menjadi murid dalam kuil itu!

Sudah dua tahun Han Sin berada di kuil itu. Pekerjaan berat yang sebetulnya merupakan latihan menghimpun tenaga itu membuat tubuhnya nampak semakin tegap. Dalam usianya yang dua belas tahun, Han Sin telah memiliki tenaga yang melebihi orang dewasa. Pada suatu hari ibunya datang menjenguknya. Seperti biasa, ibunya datang membawakan makanan yang enak-enak untuk puteranya. Setelah mereka bercakap-cakap melepaskan rindu, ibunya lalu bertanya,

“Han Sin, sampai dimana pelajaran ilmu silat mu?“

“Ditanya begini, Han Sin menjadi bingung bagaimana untuk menjawab, “Ah, biasa-biasa saja ibu...“

“Hari ini ibu ingin melihatnya. Berlatihlah dengan ilmu silat yang kau pelajari dari Tiong Gi Hwesio...“

Sekarang Han Sin tidak dapat menjawab lagi. Dia tidak tahu mau berbohong kepada ibunya, walaupun dia tidak ingin mengadu dan mengeluh.

“Hayo, Han Sin, kenapa diam saja? Engkau tidak malu kepada ibumu sendiri bukan? Ibu ingin melihat hasil latihan mu disini!“

Han Sin menghampiri ibunya dan memegang tangan ibunya. Dia amat sayang kepada ibunya dan tidak ingin mengecewakan hati ibunya. “Ibu, sebetulnya aku belum pernah berlatih silat disini, akan tetapi aku tidak kecewa, banyak mendapat pelajaran memperdalam sastra dan pengetahuan agama, juga banyak mendapat petuah dari suhu. Dan pekerjaan disini juga menyenangkan...“

Akan tetapi Ji Goat sudah marah sekali. Ia bangkit berdiri, memanggil seorang hwesio lalu berkata dengan suara dingin. “Tolong undang Tiong Gi Hwesio agar datang ke sini!“

Hwesio itu melihat sikap seorang yang tidak senang, maka cepat ia pergi kedalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hwesio masuk ke dalam ruangan tamu itu. “Ah, Cian-toanio! Selamat pagi, toa-nio...“ kata Tiong Gi Hwesio dengan ramah dan hormat.

“Losuhu, apa yang terjadi disini? Aku minta kepada anakku untuk berlatih ilmu silat yang dia pelajari disini dan dia mengatakan bahwa dia belum pernah berlatih silat. Apa artinya ini, losuhu?”

“Omitohud... Han Sin tidak pernah mengeluh...“

“Suhu, teecu sama sekali bukan bermaksud mengeluh atau mengadu kepada ibu. Akan tetapi karena ibu minta teecu berlatih ilmu silat yang teecu pelajari disini, terpaksa teecu mengatakan terus terang...“

“Omitohud...! pinceng tidak menyalahkanmu, Han Sin, juga sama sekali tidak menyalahkan toa-nio...“ Dia lalu menghadapi nyonya itu dan mengangkat kedua tangan didepan dadanya.

“Toa-nio, lupakan toanio ketika pertama kali membawa Han Sin ke sini, minta kepada pinceng untuk mengajarkan dasar-dasar ilmu silat yang dalam? Han Sin adalah putera mendiang Cian Ciangkun dan Cian-toanio yang pinceng tahu memiliki ilmu silat yang tinggi. Oleh karena itu, pinceng tekankan kepada latihan gerakan dasar yang membuat kaki tangannya ringan dan membangkitkan tenaga tubuh yang benar-benar kuat. Silahkan Toanio mengajaknya berlatih ilmu silat yang pernah dia pelajari dirumah dan toanio akan mengetahui kemajuannya...“

Ji Goat memandang kepada puteranya penuh perhatian. Ia masih belum melihat kemajuan itu, hanya harus mengakui bahwa tubuh puteranya menjadi semakin tegap. “Han Sin, mari kita berlatih Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan) yang pernah kuajarkan kepadamu sebentar...“ katanya dengan nada memerintah.

“Baik, ibu,..“ kata Han Sin yang melihat bahwa ibunya marah dan dia menaati untuk menghibur hati ibunya.

Ibu dan anak itu memasang kuda-kuda, lalu ibunya berseru, “jaga seranganku...!“ dan Diapun menyerang dengan ilmu silat itu.

Han Sin bergerak dan keduanya, ibu dan anak itu terkejut. Ji goat melihat gerakan puteranya demikian ringan dan cepat. Juga Han Sin kaget sendiri melihat gerakannya dan sadarlah dia bahwa ini berkat latihan memikul air dengan tong bocor sehingga dia terpaksa berlari cepat. Ibunya mulai gembira dan menyerang dengan cepat. Han Sin menangkis.

“Dukkk...!“ kembali keduanya terkejut. Tenaga tangkisan itu membuat Ji Goat merasa lengannya terguncang hebat, dan Han Sin juga merasakan betapa tenaganya mampu menolak tenaga ibunya yang biasanya dirasakan amat berat. Mereka berlatih semakin cepat dan ternyata Han Sin dapat mengimbangi permainan silat ibunya! Ji Goat lalu melompat kebelakang.

“Cukup, Han Sin...“ katanya dan nyonya itu lalu memberi hormat kepada Tiong Gi Hwesio.

“Lo-suhu, maafkan saya. Baru sekarang saya mengerti apa yang lo-suhu maksudkan dan banyak terima kasih atas semua bantuan lo-suhu. Saya serahkan sepenuhnya kepada lo-suhu...“ Ji Goat memang merasa gembira bukan main, anaknya yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya sehingga hampir dapat mengimbanginya dalam hal tenaga dan kecepatan!

Nyonya janda itu pulang dengan hati gembira dan puas. Sebaliknya Han Sin juga menyadari bahwa semua pekerjaan berat yang diberikan Tiong Gi hwesio kepadanya, yang nampaknya seperti menyiksanya, sebenarnya merupakan lat ihan yang amat bermanfaat. Dia teringat betapa murid dikuil itu sering kali menertawakannya. Dan kini dia yang menertawakan mereka. Mereka itu hanya memperoleh ilmu sebagai kulitnya saja, tanpa mendapatkan inti dan isinya. Akan tetapi kalau begini terus, kapan dia akan memperoleh latihan ilmu silat?

Malam itu terang bulan, setelah menghafalkan isi kitab agama, Han Sin duduk dalam kamarnya. Jendela kamarnya dia buka sehingga dia dapat menikmati keindahan malam terang bulan. Malam itu sunyi. Di luar nampak hijau kekuningan dan angin malam yang lembut bersilir, menggerakkan daun-daun pohon yang tumbuh diluar kamar jendelanya.

Memandangi keindahan malam itu, Han Sin melamun. Nampak awan putih berarak diangkasa dan dibalik awan itu sinar bulan menciptakan keindahan di angkasa seolah angkasa menjadi sorga yang dicerit akan dalam dongeng, Han Sin teringat kepada ayahnya. Apakah ayahnya berada dibalik awan-awan itu? Dia terkenang kepada ayahnya dan makin dalam tenggelam ke dalam lamunannya. Dia selalu membayangkan ayahnya sebagai orang yang paling gagah didunia. Dan diapun ingin kelak menjadi seperti ayahnya!

Orang gagah yang menent ang kejahatan, dan yang selalu ditakut musuh-musuhnya. Tiba-tiba dia melihat daun-daun pohon itu bergoyang agak keras, padahal angin tetap lembut seperti tadi. Dia seperti melihat bayangan dipohon. Han Sin bangkit berdiri dan menghampiri jendela agar dapat melihat lebih jelas. Setelah tiba ditepi jendela dia memandang dan benar saja, bayangan dipohon itu adalah seorang manusia yang tahu-tahu telah duduk di atas cabang pohon itu dan dia segera mengenal orang itu. Ho Beng Hwesio , tukang masak yang tua renta itu duduk di sana sambil tersenyum kepadanya! Hampir dia tidak dapat percaya. Bagaimana tahu-tahu hwesio tua itu telah berada di atas pohon?

“Ho Beng suhu...!“

“Ssssttttt! mari kau ikut denganku, nanti kita bicara. Maukah kau?“ tanya hwesio tua itu dengan suara lirih.

“Keluarlah dari jendela dan tutupkan daun jendela dari luar...“

Seperti dalam mimpi, Han Sin memenuhi permintaan hwesio tua itu meloncat keluar dari jendela dan menutupkan daun jendela. Hwesio tua itu meloncat turun dari atas cabang pohon, gerakannya demikian ringan seperti sehelai daun kering, kemudian memberi isyarat dengan gapaian tangan kepadanya untuk mengikuti.

Han Sin meloncat kedepan, akan tetapi kakek itu juga bergerak cepat ke depan. Han Sin menjadi penasaran dan dia berlari secepatnya untuk mengejar. Namun dia tidak pernah dapat menyusul kakek itu. Jarak antara mereka masih tetaap. Padahal kakek itu nampaknya seperti berjalan seenaknya saja. Ho Beng hwesio terus membaw anya menuju ke sumber air dilereng bukit di belakang kuil. Han Sin tetaap membanyangi dan akhirnya kakek itu berhenti diatas sumber air dimana ada lapangan rumput. Tempat itu terang karena agak jauh dari pohon-pohon besar. Han Sin segera menghampirinya dengan perasaan kagum dan heran.

“Ho Beng suhu, apa maksudmu mengajak aku ke sini?“ tanya Han Sin. Dia sudah mengenal baik hwesio tukang masak ini karena beberapa hari sekali dia mendapat tugas membelah kayu bakar di dapur.

“Han Sin, maukah engkau belajar silat dariku? Aku pernah mempelajari beberapa macam ilmu silat. Kini aku sudah tua dan sebelum mati aku ingin meninggalkan semua ilmuku kepadamu...“

“Kenapa kepadaku, Ho Beng suhu?”

“Karena engkau seorang anak yang tekun, rajin dan tahan uji. Aku sudah melihat engkau bekerja giat dan sabar selama dua tahun ini. Akan tetaapi ada satu syaratnya kalau engkau hendak belajar silat dariku...“

“Apa syaratnya, Ho Beng suhu...?“

“Syaratnya engkau tidak boleh mengatakan kepada siapapun juga bahwa engkau belajar silat dariku sehingga aku akan mengajarmu seperti sekarang ini, secara sembunyi di waktu malam. Sanggupkah engkau memenuhi syarat itu?“

“Aku sanggup. Akan tetapi kalau engkau akan mengajarkan ilmu silat kepadaku, aku juga mempunyai syarat, yaitu, engkau harus lebih dulu membuktikan bahwa engkau lihai dan dapat mengalahkan aku. Bagaimana Ho Beng suhu?“

“Bagus, memang engkau tidak boleh percaya apapun sebelum membukt ikan sendiri. Nah, sekarang seranglah aku dengan segala kepandaian dan kerahkan semua tenagamu...“

Dalam hatinya, Han Sin merasa tidak tega menyerang hwesio yang sudah tua renta ini. Bagaimana kalau pukulannya mengenai tubuh yang sudah nampak rapuh itu. Membuat tubuh itu terluka. Maka, tentu saja dia tidak ingin menyerang dengan sepenuh tenaganya.

“Ho Beng suhu, jaga seranganku...“ katanya dan diapun menyerang mempergunakan sebagian saja dari tenaganya namun gerakannya cepat bukan main.

Kakek itu melangkah dan memutar tubuh ke kira sehingga pukulan itu luput dan dari kiri tangannya mendorong tubuh Han Sin, dan dia tidak dapat mempert ahankan diri lagi dan roboh terpelanting!

“Omitohud, kenapa engkau membatasi tenagamu? Hayo serang lagi, kerahkan semua tenagamu dan pergunakan jurus silat mu yang paling hebat!“ tantang hwesio itu.

Han Sin bangkit dan diam-diam terkejut dan penasaran. Begitu mudahnya dia dirobohkan. Kini dia menyerang lagi, menggunakan jurus Lo-hai-kun dan mengerahkan tenaga sepenuhnya. Hebat serangannya ini, akan tetapi sebelum tangannya yang memukul itu mengenai sasaran, kakek itu mengelebatkan tangannya dan seketika tangan Han Sin, yang memukul menjadi lumpuh. Dia menyusulkan tamparan dengan tangan kiri, akan tetapi dengan mudahnya kakek itu mengelak dan begitu tangan kiri Han Sin lewat, dia memutar tubuh mendorong pundak anak itu dan untuk kedua kalinya Han Sin terpelanting roboh!

Kini yakinlah Han Sin bahwa kakek itu memang memiliki ilmu silat yang lihai sekali maka tanpa ragu lagi diapun menjatuhkan diri berlutut didepan tukang masak itu! “Teecu siap menerima petunjuk suhu!“

“Husshhh, lupakah engkau akan syarat ku tadi? Engkau sama sekali tidak boleh bersikap begini kepadaku, tentu orang lain akan mengetahui. Bersikaplah biasa saja, jangan seperti seorang murid terhadap gurunya, mengerti?”

“Han Sin bangkit lalu mengangguk. “Aku... aku mengerti, Ho Beng suhu...“ katanya dengan sikap dan nada suara biasa.

“Bagus, nah, mari kita mulai. Perhatikan baik-baik dan tirulah gerakan jurusku ini!“

Mulailah Ho Beng hw esio atau Hek Liong Ong Poa Yok Su mengajarkan ilmu silat tinggi kepada anak itu. Dia mengajarkan dengan sungguh-sungguh hati dan Han Sin yang maklum bahwa dia telah menemukan seorang guru yang pandai sekali juga belajar dengan tekun. Mulai malam itu, boleh dibilang setiap malam karena jarang sekali berhenti, Han Sin dilatih ilmu-ilmu silat oleh kakek itu. Mereka selalu bertemu dimalam hari, di atas sumber air itu.

Di waktu siangnya, Ho Beng hwesio bekerja di dapur seperti biasa, dan kadang Han Sin membelah kayu bakar di dapur dan sikap kedua orang itu sama lain nampak biasa saja. Selain ilmu silat, juga Ho Beng hwesio mengajarkan cara bersemadi menghimpun tenaga sakti. Dan pada siang harinya, Tiong Gi Hwesio yang pernah di tegur Ji Goat juga mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat siuw-lim-pai yang amat tangguh itu. Han Sin juga mempelajarinya dengan tekun karena dia telah diberitahu ibunya bahwa ilmu silat siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang hebat, yang menjadi sumber dari aliran lain, karena ilmu silat siauw-lim-pai mengandung pokok-pokok dasar gerakan ilmu silat pada umumnya.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Sang waktu terbang dengan cepatnya. Kalau tidak diperhatikan, tahun-tahun lewat bagaikan berhari-hari saja. Sebaliknya, kalau kita memperhatikan waktu, sehari rasanya setahun. Tanpa disadari, sejak Han Sin di latih ilmu silat oleh Ho Beng hwesio lima tahun telah lewat!

Selama tujuh tahun Han Sin berada di kuil itu dan kini dia telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas tahun. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dan gagah. Wajahnya selalu cerah dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya. Matanya bersinar lembut, akan tetapi seperti mata Naga. Sikapnya tenang akan tetaapi dia lincah jenaka, suka bergurau dan memandang dunia ini dari segi yang indah dan menggembirakan. Pelajaran agama dan sastra sudah ditekuni selama tujuh tahun dan pemuda ini memiliki pandangan yang luas akan kehidupan.

Dia pun seorang yang patuh memegang janjinya. Dia merahasiakan tentang keadaan Ho Beng hwesio, bahkan kepada ibunya sendiri rahasia itu tidak pernah diceritakan. Juga Tiong Gi hwesio sama sekali tidak pernah menduga bahwa muridnya yang paling pandai itu di samping ilmu-ilmu silat siaw-lim-pai yang di ajarkannya, juga mempelajari ilmu silat lain yang luar biasa dari seorang dat uk persilatan yang namanya pernah tersohor di dunia kang-ouw.

Setelah dia menjadi dewasa, barulah dia yakin benar akan manfaat pekerjaan kasar dan berat yang ditugaskan oleh Tiong Gi Hwesio kepadanya ketika dia masih kecil. Hasilnya terpetik olehnya setelah dia menjadi dewasa dan untuk itu dia merasa bersukur dan berterima kasih kepada ketua kuil itu.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kuil siauw-lim-pai itu didatangi seorang tosu tinggi kurus berusia enam puluh tujuh tahun. Matanya sipit mencorong, tangan kiri memegang sebatang hud-tim dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat putih. Sikapnya tenang sekali dan karena pada hwesio penjaga dia menyatakan ingin bertemu dengan Tiong Gi hwesio, maka hwesio penjaga melapor ke dalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hw esio keluar menjumpai tosu itu. Mereka saling memberi hormat.

“Siancai! Kalau pinto tidak salah duga, tentu losuhu ini yang bernama Tiong Gi hwesio dan menjadi ketua kuil siauw-lim-pai ini, bukan?“ kata tosu itu dengan suaranya yang terdengar dingin namun sikapnya lembut.

“Omitohud, dugaan to-yu memang tepat. Pinceng adalah Tiong Gi Hwesio yang bertugas memimpin dikuil ini. Tidak tahu siapakah to-tiang dan apakah keperluan to-tiang memberi kehormatan berkunjung ke kuil kami?“

“Pinto disebut orang Ngo Heng Thian Cu. Kalau tidak salah di kuil ini terdapat seorang hwesio yang baru menjadi hwesio sekitar tujuh tahun lebih, mukanya hitam seperti arang. Benarkah ada hwesio itu, Tiong Gi hwesio?” Sepasang mata sipit itu memandang tajam penuh selidik.

“Omitohud, mungkin to-yu maksudkan adalah Ho Beng hwesio yang menjadi tukang masak kami. Benarkah dia yang to-yu maksudkan?”

“Pinto tidak tahu nama barunya sebagai hwesio, akan tetapi pinto mengenalnya dengan baik sebelum dia menjadi hwesio. Bolehkah pinto bertemu dengan dia untuk melihat apakah dia orang yang pinto cari?“

Kebetulan Han Sin berada pula di depan dan melihat pemuda itu, Tiong Gi hwesio lalu berkata kepadanya. “Han Sin, coba panggil Ho Beng hwesio untuk keluar sebentar. Katakan bahwa pinceng yang memanggilnya ke sini...“

“Baik, suhu...“ Han Sin segera masuk kedalam kuil, langsung menuju ke dapur. Di situ dia melihat Ho Beng hwesio sedang menyalakan api dapur, agaknya hendak mulai dengan tugasnya sehari-hari, yaitu memasak. “Ho Beng suhu...!“

“Eh Han Sin, ada keperluan apakah engkau sepagi ini masuk ke dapur?“ tegur Ho Beng hwesio sambil tersenyum. Semua ilmu pilihannya telah di ajarkan kepada murid ini dan dia merasa puas karena Han Sin membuktikan bahwa dia seorang murid yang berbakat sekali. Semua ilmu itu telah dapat dikuasai dengan baik.

“Suhu, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan suhu dan Tiong Gi suhu sekarang memanggil suhu untuk keluar menemuinya...“

Tiba-tiba sikap Ho Beng hw esio berubah. Matanya yang sudah lebar itu terbelalak makin lebar. Mukanya yang hitam menjadi agak pucat dan dia nampak terkejut dan gelisah...“ Tamu itu... dia seperti apakah? Bagaimana macamnya dan berapa usianya...?“ tanyanya kepada Han Sin yang menjadi heran sekali melihat hwesio tua yang sakti itu nampak seperti orang yang ketakutan!

“Dia seorang tosu, usianya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun. Orangnya tinggi kurus, matanya sipit mencorong...“

“Apakah dia memegang sebatang hud-tim dan sebatang tongkat putih?”

“Benar sekali, suhu. Dan dia mengaku bernama Ngo-heng Thian-cu...”

“Aduh celaka! Aku... aku tidak mau membunuh dan di bunuh. Han Sin tolonglah aku. Katakan pada Tiong Gi hwesio bahwa aku sedang pergi berbelanja. Sudah, aku mau pergi dan jangan katakan kepada siapapun juga...“ kakek tua renta itu bergegas keluar dari dapur...

Pedang Naga Hitam Jilid 03

“Nah, Han Sin, mulai hari ini engkau tinggal disini dan belajarlah dengan tekun. Engkau tidak boleh meninggalkan kuil dan kalau engkau rindu kepada ibu, aku yang akan datang menjengukmu ke sini. Tidak perlu engkau pulang...“

Han Sin sudah maklum bahwa dia harus belajar dengan tekun, maka dia mengangguk. “Baiklah, ibu harap jangan khawatir. Aku akan belajar dengan tekun sesuai dengan pesanmu...“

Setelah akhirnya ibunya naik kembali ke dalam kereta dan meninggalkan kuil, mau tidak mau Han Sin merasa seolah semangatnya ikut pergi bersama ibunya. Kini, ayahnya telah meninggal dunia dan ketika ibunya meninggalkannya, ia merasa kehilangan dan kesepian sekali. Akan tetapi dia mengeraskan hatinya, bahkan segera memutar tubuhnya menghadapi Tiong Gi Hwesio.

“Suhu, harap perintahkan apa yang sekarang harus teccu lakukan...“

Hwesio itu tersenyum. Dia kagum melihat sikap anak ini. Akan tetapi, diapun maklum bahwa anak ini sebagai putera seorang panglima yang kabarnya berilmu tinggi, tentu sudah mendapat gemblengan dari ayah ibunya. Hwesio ini pun pernah mendengar bahwa ibu anak ini pun seorang yang pandai ilmu silat. Karena itu, dia sudah mengambil keputusan untuk tidak tergesa-gesa mengajarkan ilmu silat kepada anak ini, melainkan menggemblengnya agar dia memiliki dasar tenaga yang kuat dan terutama sekali melatih kesabaran dan menanamkan pelajaran agama kedalam bhatinnya sehingga kelak akan menjadi seorang yang budiman, tidak hanya mengandalkan kekerasan ilmu silat.

“Hari ini pinceng antarkan ke kamarmu lebih dulu, setelah itu baru pinceng akan memberitahukan apa tugasmu setiap hari didalam kuil ini...”

Han Sin mendapatkan sebuah kamar tersendiri di dalam kuil itu, tidak seperti belasan murid lain yang tinggal didalam kamar bertiga atau berempat. Bagaimanapun juga, Tiong Gi Hwesio masih merasa sungkan kepada ibu anak itu, seorang penyumbang besar dan janda seorang panglima besar pula.

Setelah mendapatkan kamar, Han Sin lalu di beri tugas oleh Tiong Gi Hwesio. Tugas pekerjaan yang berat. Setiap hari dia harus mengisi bak-bak air, mencari kayu bakar, membelah kayu-kayu besar itu menjadi kayu bak air. Di waktu malamnya, dia diharuskan membaca kitab-kitab agama dan menghafalnya.

Han Sin tidak menyangka sama sekali bahwa dia harus bekerja berat dikuil itu. Dan pekerjaan itu pun dilakukan dengan cara-cara yang seolah menyiksanya. Dia diharuskan memikul air dengan kedua kaki mengenakan bakiak (alas kaki dari kayu) yang amat berat. Baru memakai bakiak itu saja dia sudah hampir tidak dapat berjalan dengan baik. Apalagi harus memikul air yang berat dan bergoyang-goyang! Dan pikulannya pun terbuat dari lidi bambu yang banyak diikat menjadi satu.

Setelah dia mampu berjalan dengan bakiak memikul dua tong air yang penuh dengan baik, dengan langkah ringan dan cepat yang baru dapat dilakukan setelah dia bekerja lebih dari tiga bulan, batang-batang lidi itu dikurangi satu demi satu.

Sudah setahun lamanya Han Sin berada di kuil dan belum juga dia dilatih ilmu silat oleh Tiong Gi Hwesio! Bahkan pekerjaannya pun semakin berat saja. Pada pikulannya di ikat dua potong besi yang beratnya tidak kurang dari sepuluh kilo dan dia diharuskan memikul air dengan tong air yang bocor! Setiap kali dia sampai di bak air, pikulannya sudah kosong karena airnya habis membocor dalam perjalanan dari sumber air ke bak air dibelakang kuil!

Dia tidak boleh mengganti tong air. Terpaksa dia harus berjalan atau bahkan berlari secepat mungkin agar setibanya di bak air, tong itu belum habis sama sekali. Dalam waktu setahun, seringkali dia menjadi bahan tertawaan murid-murid yang lain yang tidak diharuskan bekerja berat seperti halnya Han Sin. Namun, biar mendapat perlakuan seperti itu, Han Sin tidak pernah mengeluh. Bahkan kepada ibunya yang hampir setiap bulan sekali datang menjenguknya, tidak ada sepat ahpun kata keluhan atau aduan kepada ibunya. Han Sin sudah dapat mengendalikan perasaanya dan belajar untuk bersabar diri.

Di waktu malam, seringkali Tiong Gi Hwesio datang kemarnya dan hwesio ini memberi petuah-petuah mengenai soal-soal kebatinan kepada anak itu. Ditekankan oleh hwesio itu agar Han Sin dapat menerima kenyataan, menerima keadaan dengan penuh kewaspadaan, menerima keadaan bukan berarti putus asa atau mengalah, melainkan penuh kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan.

“Setiap saat engkau waspadalah terhadap segala perbuatanmu, gerak gerik semua anggota tubuhmu kalau sedang melakukan sesuatu. Juga jangan lengah untuk mengamati apa yang terjadi dengan hati dan pikiranmu. Kewaspadaan ini akan membuat engkau mengenal benar siapa dirimu dan mengikuti semua ulah nafsu yang menguasai dirimu lahir batin. Hanya kewaspadaan yang menyeluruh ini yang akan membawamu ke dalam jalan kehidupan yang benar, Han Sin...“

Setiap kali menerima wejangan hwesio itu, tentu saja Han Sin merasa agak pusing. Ucapan hwesio itu terlalu dalam untuk pikiran seorang anak berusia sepuluh tahun. Akan tetapi setelah hwesio itu pergi meninggalkan kamarnya, Han Sin suka merenungkan semua itu sampai dia samar-samar dapat menangkap intinya. Makin dia mengerti, makin sabarlah dia dan kehidupan dikuil itu makin terasa ringan. Kejenakaannya yang menjadi watak dasarnya timbul kembali sehingga dia dapat bersenda gurau dengan murid-murid yang lain di dalam kuil itu.

Karena pekerjaannya, Han Sin jadi dekat dengan Ho Beng Hwesio, tukang masak dikuil itu. Dalam pekerjaan membelah kayu bakar, mula-mula dia diberi sebuah kapak. Akan tetapi dia dilarang keras mengasah kapak itu. Tentu saja dalam setahun, kapak itu menjadi tumpul, tidak terasa oleh Han Sin dan dia tetap dapat sekali pukul membelah kayu yang besar. Ternyata ini pun merupakan latihan yang amat besar manfaatnya untuk menghimpun tenaga.

Ho Beng hwesio seringkali melihat anak itu bekerja dan diluar tahunya Han Sin, seringkali dia mengangguk dan tersenyum. Kakek tua renta ini sudah tahu bahwa Han Sin adalah putera mendiang panglima Cian Kauw Cu. Terbayanglah dia akan masa lalunya, tiga puluh tahun yang lalu, ketika dia masih berjuluk Hek Liong Ong, dia menjadi guru Cian Kauw Cu (baca Sepasang Naga Lembah Iblis)!

Dan Cian Kauw Cu merupakan seorang murid yang baik sekali. Sama sekali tidak terpengaruh oleh wataknya yang ketika itu masih menjadi seorang datuk sesat yang kejam! Kemudian bahkan muridnya yang membujuknya membantu para pejuang, membantu Yang Chien menaklukkan Kerajaan Toba sehingga membangun Kerajaan Sui yang sekarang. Diapun mendengar bahwa muridnya itu telah gugur dalam perang, dan kini putera muridnya itu menjadi murid dalam kuil itu!

Sudah dua tahun Han Sin berada di kuil itu. Pekerjaan berat yang sebetulnya merupakan latihan menghimpun tenaga itu membuat tubuhnya nampak semakin tegap. Dalam usianya yang dua belas tahun, Han Sin telah memiliki tenaga yang melebihi orang dewasa. Pada suatu hari ibunya datang menjenguknya. Seperti biasa, ibunya datang membawakan makanan yang enak-enak untuk puteranya. Setelah mereka bercakap-cakap melepaskan rindu, ibunya lalu bertanya,

“Han Sin, sampai dimana pelajaran ilmu silat mu?“

“Ditanya begini, Han Sin menjadi bingung bagaimana untuk menjawab, “Ah, biasa-biasa saja ibu...“

“Hari ini ibu ingin melihatnya. Berlatihlah dengan ilmu silat yang kau pelajari dari Tiong Gi Hwesio...“

Sekarang Han Sin tidak dapat menjawab lagi. Dia tidak tahu mau berbohong kepada ibunya, walaupun dia tidak ingin mengadu dan mengeluh.

“Hayo, Han Sin, kenapa diam saja? Engkau tidak malu kepada ibumu sendiri bukan? Ibu ingin melihat hasil latihan mu disini!“

Han Sin menghampiri ibunya dan memegang tangan ibunya. Dia amat sayang kepada ibunya dan tidak ingin mengecewakan hati ibunya. “Ibu, sebetulnya aku belum pernah berlatih silat disini, akan tetapi aku tidak kecewa, banyak mendapat pelajaran memperdalam sastra dan pengetahuan agama, juga banyak mendapat petuah dari suhu. Dan pekerjaan disini juga menyenangkan...“

Akan tetapi Ji Goat sudah marah sekali. Ia bangkit berdiri, memanggil seorang hwesio lalu berkata dengan suara dingin. “Tolong undang Tiong Gi Hwesio agar datang ke sini!“

Hwesio itu melihat sikap seorang yang tidak senang, maka cepat ia pergi kedalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hwesio masuk ke dalam ruangan tamu itu. “Ah, Cian-toanio! Selamat pagi, toa-nio...“ kata Tiong Gi Hwesio dengan ramah dan hormat.

“Losuhu, apa yang terjadi disini? Aku minta kepada anakku untuk berlatih ilmu silat yang dia pelajari disini dan dia mengatakan bahwa dia belum pernah berlatih silat. Apa artinya ini, losuhu?”

“Omitohud... Han Sin tidak pernah mengeluh...“

“Suhu, teecu sama sekali bukan bermaksud mengeluh atau mengadu kepada ibu. Akan tetapi karena ibu minta teecu berlatih ilmu silat yang teecu pelajari disini, terpaksa teecu mengatakan terus terang...“

“Omitohud...! pinceng tidak menyalahkanmu, Han Sin, juga sama sekali tidak menyalahkan toa-nio...“ Dia lalu menghadapi nyonya itu dan mengangkat kedua tangan didepan dadanya.

“Toa-nio, lupakan toanio ketika pertama kali membawa Han Sin ke sini, minta kepada pinceng untuk mengajarkan dasar-dasar ilmu silat yang dalam? Han Sin adalah putera mendiang Cian Ciangkun dan Cian-toanio yang pinceng tahu memiliki ilmu silat yang tinggi. Oleh karena itu, pinceng tekankan kepada latihan gerakan dasar yang membuat kaki tangannya ringan dan membangkitkan tenaga tubuh yang benar-benar kuat. Silahkan Toanio mengajaknya berlatih ilmu silat yang pernah dia pelajari dirumah dan toanio akan mengetahui kemajuannya...“

Ji Goat memandang kepada puteranya penuh perhatian. Ia masih belum melihat kemajuan itu, hanya harus mengakui bahwa tubuh puteranya menjadi semakin tegap. “Han Sin, mari kita berlatih Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan) yang pernah kuajarkan kepadamu sebentar...“ katanya dengan nada memerintah.

“Baik, ibu,..“ kata Han Sin yang melihat bahwa ibunya marah dan dia menaati untuk menghibur hati ibunya.

Ibu dan anak itu memasang kuda-kuda, lalu ibunya berseru, “jaga seranganku...!“ dan Diapun menyerang dengan ilmu silat itu.

Han Sin bergerak dan keduanya, ibu dan anak itu terkejut. Ji goat melihat gerakan puteranya demikian ringan dan cepat. Juga Han Sin kaget sendiri melihat gerakannya dan sadarlah dia bahwa ini berkat latihan memikul air dengan tong bocor sehingga dia terpaksa berlari cepat. Ibunya mulai gembira dan menyerang dengan cepat. Han Sin menangkis.

“Dukkk...!“ kembali keduanya terkejut. Tenaga tangkisan itu membuat Ji Goat merasa lengannya terguncang hebat, dan Han Sin juga merasakan betapa tenaganya mampu menolak tenaga ibunya yang biasanya dirasakan amat berat. Mereka berlatih semakin cepat dan ternyata Han Sin dapat mengimbangi permainan silat ibunya! Ji Goat lalu melompat kebelakang.

“Cukup, Han Sin...“ katanya dan nyonya itu lalu memberi hormat kepada Tiong Gi Hwesio.

“Lo-suhu, maafkan saya. Baru sekarang saya mengerti apa yang lo-suhu maksudkan dan banyak terima kasih atas semua bantuan lo-suhu. Saya serahkan sepenuhnya kepada lo-suhu...“ Ji Goat memang merasa gembira bukan main, anaknya yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya sehingga hampir dapat mengimbanginya dalam hal tenaga dan kecepatan!

Nyonya janda itu pulang dengan hati gembira dan puas. Sebaliknya Han Sin juga menyadari bahwa semua pekerjaan berat yang diberikan Tiong Gi hwesio kepadanya, yang nampaknya seperti menyiksanya, sebenarnya merupakan lat ihan yang amat bermanfaat. Dia teringat betapa murid dikuil itu sering kali menertawakannya. Dan kini dia yang menertawakan mereka. Mereka itu hanya memperoleh ilmu sebagai kulitnya saja, tanpa mendapatkan inti dan isinya. Akan tetapi kalau begini terus, kapan dia akan memperoleh latihan ilmu silat?

Malam itu terang bulan, setelah menghafalkan isi kitab agama, Han Sin duduk dalam kamarnya. Jendela kamarnya dia buka sehingga dia dapat menikmati keindahan malam terang bulan. Malam itu sunyi. Di luar nampak hijau kekuningan dan angin malam yang lembut bersilir, menggerakkan daun-daun pohon yang tumbuh diluar kamar jendelanya.

Memandangi keindahan malam itu, Han Sin melamun. Nampak awan putih berarak diangkasa dan dibalik awan itu sinar bulan menciptakan keindahan di angkasa seolah angkasa menjadi sorga yang dicerit akan dalam dongeng, Han Sin teringat kepada ayahnya. Apakah ayahnya berada dibalik awan-awan itu? Dia terkenang kepada ayahnya dan makin dalam tenggelam ke dalam lamunannya. Dia selalu membayangkan ayahnya sebagai orang yang paling gagah didunia. Dan diapun ingin kelak menjadi seperti ayahnya!

Orang gagah yang menent ang kejahatan, dan yang selalu ditakut musuh-musuhnya. Tiba-tiba dia melihat daun-daun pohon itu bergoyang agak keras, padahal angin tetap lembut seperti tadi. Dia seperti melihat bayangan dipohon. Han Sin bangkit berdiri dan menghampiri jendela agar dapat melihat lebih jelas. Setelah tiba ditepi jendela dia memandang dan benar saja, bayangan dipohon itu adalah seorang manusia yang tahu-tahu telah duduk di atas cabang pohon itu dan dia segera mengenal orang itu. Ho Beng Hwesio , tukang masak yang tua renta itu duduk di sana sambil tersenyum kepadanya! Hampir dia tidak dapat percaya. Bagaimana tahu-tahu hwesio tua itu telah berada di atas pohon?

“Ho Beng suhu...!“

“Ssssttttt! mari kau ikut denganku, nanti kita bicara. Maukah kau?“ tanya hwesio tua itu dengan suara lirih.

“Keluarlah dari jendela dan tutupkan daun jendela dari luar...“

Seperti dalam mimpi, Han Sin memenuhi permintaan hwesio tua itu meloncat keluar dari jendela dan menutupkan daun jendela. Hwesio tua itu meloncat turun dari atas cabang pohon, gerakannya demikian ringan seperti sehelai daun kering, kemudian memberi isyarat dengan gapaian tangan kepadanya untuk mengikuti.

Han Sin meloncat kedepan, akan tetapi kakek itu juga bergerak cepat ke depan. Han Sin menjadi penasaran dan dia berlari secepatnya untuk mengejar. Namun dia tidak pernah dapat menyusul kakek itu. Jarak antara mereka masih tetaap. Padahal kakek itu nampaknya seperti berjalan seenaknya saja. Ho Beng hwesio terus membaw anya menuju ke sumber air dilereng bukit di belakang kuil. Han Sin tetaap membanyangi dan akhirnya kakek itu berhenti diatas sumber air dimana ada lapangan rumput. Tempat itu terang karena agak jauh dari pohon-pohon besar. Han Sin segera menghampirinya dengan perasaan kagum dan heran.

“Ho Beng suhu, apa maksudmu mengajak aku ke sini?“ tanya Han Sin. Dia sudah mengenal baik hwesio tukang masak ini karena beberapa hari sekali dia mendapat tugas membelah kayu bakar di dapur.

“Han Sin, maukah engkau belajar silat dariku? Aku pernah mempelajari beberapa macam ilmu silat. Kini aku sudah tua dan sebelum mati aku ingin meninggalkan semua ilmuku kepadamu...“

“Kenapa kepadaku, Ho Beng suhu?”

“Karena engkau seorang anak yang tekun, rajin dan tahan uji. Aku sudah melihat engkau bekerja giat dan sabar selama dua tahun ini. Akan tetaapi ada satu syaratnya kalau engkau hendak belajar silat dariku...“

“Apa syaratnya, Ho Beng suhu...?“

“Syaratnya engkau tidak boleh mengatakan kepada siapapun juga bahwa engkau belajar silat dariku sehingga aku akan mengajarmu seperti sekarang ini, secara sembunyi di waktu malam. Sanggupkah engkau memenuhi syarat itu?“

“Aku sanggup. Akan tetapi kalau engkau akan mengajarkan ilmu silat kepadaku, aku juga mempunyai syarat, yaitu, engkau harus lebih dulu membuktikan bahwa engkau lihai dan dapat mengalahkan aku. Bagaimana Ho Beng suhu?“

“Bagus, memang engkau tidak boleh percaya apapun sebelum membukt ikan sendiri. Nah, sekarang seranglah aku dengan segala kepandaian dan kerahkan semua tenagamu...“

Dalam hatinya, Han Sin merasa tidak tega menyerang hwesio yang sudah tua renta ini. Bagaimana kalau pukulannya mengenai tubuh yang sudah nampak rapuh itu. Membuat tubuh itu terluka. Maka, tentu saja dia tidak ingin menyerang dengan sepenuh tenaganya.

“Ho Beng suhu, jaga seranganku...“ katanya dan diapun menyerang mempergunakan sebagian saja dari tenaganya namun gerakannya cepat bukan main.

Kakek itu melangkah dan memutar tubuh ke kira sehingga pukulan itu luput dan dari kiri tangannya mendorong tubuh Han Sin, dan dia tidak dapat mempert ahankan diri lagi dan roboh terpelanting!

“Omitohud, kenapa engkau membatasi tenagamu? Hayo serang lagi, kerahkan semua tenagamu dan pergunakan jurus silat mu yang paling hebat!“ tantang hwesio itu.

Han Sin bangkit dan diam-diam terkejut dan penasaran. Begitu mudahnya dia dirobohkan. Kini dia menyerang lagi, menggunakan jurus Lo-hai-kun dan mengerahkan tenaga sepenuhnya. Hebat serangannya ini, akan tetapi sebelum tangannya yang memukul itu mengenai sasaran, kakek itu mengelebatkan tangannya dan seketika tangan Han Sin, yang memukul menjadi lumpuh. Dia menyusulkan tamparan dengan tangan kiri, akan tetapi dengan mudahnya kakek itu mengelak dan begitu tangan kiri Han Sin lewat, dia memutar tubuh mendorong pundak anak itu dan untuk kedua kalinya Han Sin terpelanting roboh!

Kini yakinlah Han Sin bahwa kakek itu memang memiliki ilmu silat yang lihai sekali maka tanpa ragu lagi diapun menjatuhkan diri berlutut didepan tukang masak itu! “Teecu siap menerima petunjuk suhu!“

“Husshhh, lupakah engkau akan syarat ku tadi? Engkau sama sekali tidak boleh bersikap begini kepadaku, tentu orang lain akan mengetahui. Bersikaplah biasa saja, jangan seperti seorang murid terhadap gurunya, mengerti?”

“Han Sin bangkit lalu mengangguk. “Aku... aku mengerti, Ho Beng suhu...“ katanya dengan sikap dan nada suara biasa.

“Bagus, nah, mari kita mulai. Perhatikan baik-baik dan tirulah gerakan jurusku ini!“

Mulailah Ho Beng hw esio atau Hek Liong Ong Poa Yok Su mengajarkan ilmu silat tinggi kepada anak itu. Dia mengajarkan dengan sungguh-sungguh hati dan Han Sin yang maklum bahwa dia telah menemukan seorang guru yang pandai sekali juga belajar dengan tekun. Mulai malam itu, boleh dibilang setiap malam karena jarang sekali berhenti, Han Sin dilatih ilmu-ilmu silat oleh kakek itu. Mereka selalu bertemu dimalam hari, di atas sumber air itu.

Di waktu siangnya, Ho Beng hwesio bekerja di dapur seperti biasa, dan kadang Han Sin membelah kayu bakar di dapur dan sikap kedua orang itu sama lain nampak biasa saja. Selain ilmu silat, juga Ho Beng hwesio mengajarkan cara bersemadi menghimpun tenaga sakti. Dan pada siang harinya, Tiong Gi Hwesio yang pernah di tegur Ji Goat juga mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat siuw-lim-pai yang amat tangguh itu. Han Sin juga mempelajarinya dengan tekun karena dia telah diberitahu ibunya bahwa ilmu silat siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang hebat, yang menjadi sumber dari aliran lain, karena ilmu silat siauw-lim-pai mengandung pokok-pokok dasar gerakan ilmu silat pada umumnya.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Sang waktu terbang dengan cepatnya. Kalau tidak diperhatikan, tahun-tahun lewat bagaikan berhari-hari saja. Sebaliknya, kalau kita memperhatikan waktu, sehari rasanya setahun. Tanpa disadari, sejak Han Sin di latih ilmu silat oleh Ho Beng hwesio lima tahun telah lewat!

Selama tujuh tahun Han Sin berada di kuil itu dan kini dia telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas tahun. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dan gagah. Wajahnya selalu cerah dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya. Matanya bersinar lembut, akan tetapi seperti mata Naga. Sikapnya tenang akan tetaapi dia lincah jenaka, suka bergurau dan memandang dunia ini dari segi yang indah dan menggembirakan. Pelajaran agama dan sastra sudah ditekuni selama tujuh tahun dan pemuda ini memiliki pandangan yang luas akan kehidupan.

Dia pun seorang yang patuh memegang janjinya. Dia merahasiakan tentang keadaan Ho Beng hwesio, bahkan kepada ibunya sendiri rahasia itu tidak pernah diceritakan. Juga Tiong Gi hwesio sama sekali tidak pernah menduga bahwa muridnya yang paling pandai itu di samping ilmu-ilmu silat siaw-lim-pai yang di ajarkannya, juga mempelajari ilmu silat lain yang luar biasa dari seorang dat uk persilatan yang namanya pernah tersohor di dunia kang-ouw.

Setelah dia menjadi dewasa, barulah dia yakin benar akan manfaat pekerjaan kasar dan berat yang ditugaskan oleh Tiong Gi Hwesio kepadanya ketika dia masih kecil. Hasilnya terpetik olehnya setelah dia menjadi dewasa dan untuk itu dia merasa bersukur dan berterima kasih kepada ketua kuil itu.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kuil siauw-lim-pai itu didatangi seorang tosu tinggi kurus berusia enam puluh tujuh tahun. Matanya sipit mencorong, tangan kiri memegang sebatang hud-tim dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat putih. Sikapnya tenang sekali dan karena pada hwesio penjaga dia menyatakan ingin bertemu dengan Tiong Gi hwesio, maka hwesio penjaga melapor ke dalam dan tak lama kemudian Tiong Gi Hw esio keluar menjumpai tosu itu. Mereka saling memberi hormat.

“Siancai! Kalau pinto tidak salah duga, tentu losuhu ini yang bernama Tiong Gi hwesio dan menjadi ketua kuil siauw-lim-pai ini, bukan?“ kata tosu itu dengan suaranya yang terdengar dingin namun sikapnya lembut.

“Omitohud, dugaan to-yu memang tepat. Pinceng adalah Tiong Gi Hwesio yang bertugas memimpin dikuil ini. Tidak tahu siapakah to-tiang dan apakah keperluan to-tiang memberi kehormatan berkunjung ke kuil kami?“

“Pinto disebut orang Ngo Heng Thian Cu. Kalau tidak salah di kuil ini terdapat seorang hwesio yang baru menjadi hwesio sekitar tujuh tahun lebih, mukanya hitam seperti arang. Benarkah ada hwesio itu, Tiong Gi hwesio?” Sepasang mata sipit itu memandang tajam penuh selidik.

“Omitohud, mungkin to-yu maksudkan adalah Ho Beng hwesio yang menjadi tukang masak kami. Benarkah dia yang to-yu maksudkan?”

“Pinto tidak tahu nama barunya sebagai hwesio, akan tetapi pinto mengenalnya dengan baik sebelum dia menjadi hwesio. Bolehkah pinto bertemu dengan dia untuk melihat apakah dia orang yang pinto cari?“

Kebetulan Han Sin berada pula di depan dan melihat pemuda itu, Tiong Gi hwesio lalu berkata kepadanya. “Han Sin, coba panggil Ho Beng hwesio untuk keluar sebentar. Katakan bahwa pinceng yang memanggilnya ke sini...“

“Baik, suhu...“ Han Sin segera masuk kedalam kuil, langsung menuju ke dapur. Di situ dia melihat Ho Beng hwesio sedang menyalakan api dapur, agaknya hendak mulai dengan tugasnya sehari-hari, yaitu memasak. “Ho Beng suhu...!“

“Eh Han Sin, ada keperluan apakah engkau sepagi ini masuk ke dapur?“ tegur Ho Beng hwesio sambil tersenyum. Semua ilmu pilihannya telah di ajarkan kepada murid ini dan dia merasa puas karena Han Sin membuktikan bahwa dia seorang murid yang berbakat sekali. Semua ilmu itu telah dapat dikuasai dengan baik.

“Suhu, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan suhu dan Tiong Gi suhu sekarang memanggil suhu untuk keluar menemuinya...“

Tiba-tiba sikap Ho Beng hw esio berubah. Matanya yang sudah lebar itu terbelalak makin lebar. Mukanya yang hitam menjadi agak pucat dan dia nampak terkejut dan gelisah...“ Tamu itu... dia seperti apakah? Bagaimana macamnya dan berapa usianya...?“ tanyanya kepada Han Sin yang menjadi heran sekali melihat hwesio tua yang sakti itu nampak seperti orang yang ketakutan!

“Dia seorang tosu, usianya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun. Orangnya tinggi kurus, matanya sipit mencorong...“

“Apakah dia memegang sebatang hud-tim dan sebatang tongkat putih?”

“Benar sekali, suhu. Dan dia mengaku bernama Ngo-heng Thian-cu...”

“Aduh celaka! Aku... aku tidak mau membunuh dan di bunuh. Han Sin tolonglah aku. Katakan pada Tiong Gi hwesio bahwa aku sedang pergi berbelanja. Sudah, aku mau pergi dan jangan katakan kepada siapapun juga...“ kakek tua renta itu bergegas keluar dari dapur...