Social Items

MELIHAT gadis itu meragu, dia menyambung. “Aku perlu mengetahui untuk dapat meyakinkan hatiku tentang ceritamu...“

“Orang itu bernama Lai Seng! Nah, engkau tidak boleh pungkir sekarang, Yang Cien, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang terkutuk kepadaku...“

“Mempertanggung-jawabkan bagaimana?”

“Engkau harus menikahi aku atau engkau harus mati di tanganku...“

“Keduanya tidak dapat ku terima. Aku tidak mau mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak kulakukan. Nona, pertimbangkan baik-baik. Aku tidak melakukan itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku dan lebih percaya kepada keterangan laki-laki jahanam itu? Ingat, Lai Seng adalah seorang penjahat besar yang menjadi mata-mata Kerajaan Mongol, dia pernah hendak menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan ketahuan, lalu di usir. Apakah laki-laki penjilat Mongol itu lebih kau percaya dari pada aku? Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu!”

Kwe Sun Nio mencabut pedangnya. Ia sudah nekat. Kalau bukan Yang Cien yang melakukan, lebih celaka lagi baginya. Kalau Yang Cien, ia menuntut dinikahi dan ia akan suka menjadi isteri pemuda ini. Kalau orang lain bagaimana? Mungkin ia memilih mati! Kekecewaan dan penasaran membuatnya nekat.

“Yang Cien, aku adalah murid Thian-li-pang yang sejak kecil di latih dengan peraturan keras. Aku telah kehilangan kesucianku sebagai seorang gadis dan hukumnya hanyalah menikah atau mati ternoda aib. Kalau engkau tidak mau menikahiku, biarlah aku mati di tanganmu atau engkau mati di tanganku!” Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menyerang dengan dahsyatnya, menusukkan pedangnya kearah dada Yang Cien.

Pemuda ini cepat mengelak dan meloncat ke belakang, “Bersabarlah, nona. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bahkan aku merasa iba sekali kepadamu, dan aku bersedia membantumu untuk menyelidiki siapa yang melakukan perbuatan terkutuk itu!”

Makin nyeri rasa hati Kwe Sun Nio. Pemuda ini tetap menyangkal, mengecewakan hatinya dan mematahkan semua harapannya agar pemuda yang dikaguminya ini mau menikahinya. “Kalau bukan engkau siapa lagi!” Bentaknya dan kembali ia menyerang dengan nekad bahwa kalau ia tidak dapat membunuh pemuda itu, biarlah ia tewas di tangannya untuk menubus aib.

Kembali Yang Cien mengelak dan dia tahu bahwa dengan bujukan kata-kata saja, gadis ini yang agaknya sudah nekat dan penasaran tidak akan reda kemarahannya. Diam-diam, mendengar nama Lai Seng di sebut, dia sudah curiga bahwa pemuda ini tentu melempar fitnah dan sangat boleh jadi bahwa perbuatan terkutuk itu di lakukan oleh sendiri. Biarpun ilmu pendang yang dimainkan Sun Nio cukup hebat namun berhadapan dengan Yang Cien, sama sekali tidak ada artinya. Setelah mengelak selama belasan jurus, akhirnya dia menangkap pedang itu dalam jempitan antara kedua jarinya dan pedang itu seperti melekat di situ, tidak dapat di tarik kembali oleh Sun Nio.

“Nona, engkau salah sangka, hentikanlah...!” kata Yang Cien dan dia melepaskan jepitannya. Akan tetapi, Yang Cien tidak menduga sama sekali bahwa gadis itu sudah nekat benar begitu pedangnya di lepas sudah menyerang lagi dengan tusukan yang cepat dan mengandung tenaga. Yang Cien memiringkan tubuhnya dan tangannya menyambar dari atas ke bawah. Tangan yang miring itu menghantam pedang yang menyambar di dekat perutnya.

“Traakkk…!“ Pedang itu patah menjadi dua potong seperti di hantam palu godam yang berat. Sun Nio terbelalak pucat, membuang sisa pedangnya dan menyerang dengan pukulan tangan kosong.

Yang Cien meloncat ke belakang lalu menghilang. “Nona, engkau salah sangka…“ terdengar suaranya dari jauh, suara yang mengandung penasaran dan juga iba hati.

Sun Nio menangis. Ia menjatuhkan diri menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis sesungukan dengan hati hancur. Satu-satunya harapan telah pudar dan ia meraba-raba dalam kegelapan tidak tahu kepada siapa ia akan minta pertanggung-jawabnya.

“Subo… Ah, subo…“ Tangisnya dan ia lalu bangkit berdiri melangkah terhuyung untuk pergi melapor kepada subonya. Ia akan minta bantuan subonya untuk membujuk Yang Cien agar mempertanggung-jawabnya. Mengingat akan kemungkinan ini, timbul pula sedikit harapan di hati Sun Nio. Mungkin subonya akan berhasil.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Gubernur Yen di bebaskan dari tahanan di kota raja! Dia diperbolehkan pulang ke Lok-yang. Hal ini adalah karena nasehat dan siasat Koksu dan Perdana menteri yang di ajukan kepada kaisar. Pertama, untuk meredakan ketegangan kedua, agar pasukan di Lok-yang terkecoh dan tidak siap siaga. Padahal, beberapa hari setelah dia dipulangkan ke Lok-yang, puluhan ribu pasukan yang di pimpin oleh Koksu sendiri menyerbu Lok-yang!

Hanya terjadi sedikit perlawanan dari para penjaga pintu gerbang, karena memang Gubernur Yen melarang pasukan di wilayahnya mengadakan perlawanan terhadap pasukan kerajaan. Pemberontakan belum waktunya dimulai karena perimbangan kekuatan masih jauh selisihnya. Dia memerintahkan kedua orang anaknya, Yen Gun dan Yen Sian, untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang melarikan diri meninggalkan Lok-yang, dan menyusun kekuatan bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang condong memberontak terhadap pemerintah Toba.

Tanpa melakukan perlawanan Gubernur Yen kembali di tawan, kini berikut seluruh keluarganya, kecuali Yen Gun dan Yen Sian yang sudah lebih dulu melarikan diri. Juga para panglima di tawan dan seketika di ganti oleh panglima-panglima yang di tunjuk oleh Koksu. Penyerbuan sehari itu selesai dan hampir semua pejabat di Lok-yang di tangkap dan diganti, kecuali beberapa orang yang memang sebelumnya sudah ada kontak dengan kerajaan dan bahkan merupakan mata-mata yang mengawasi gerak-gerik mereka yang condong memberontak.

Ketika pasukan menyerbu, Yen Gun dan Yen Sian, dengan mengenakan pakaian biasa, menyelinap diantara orang-orang yang mengungsi karena takut akan peperangan, dan melarikan diri keluar kota. Akan tetapi baru saja tiba di luar kota, serombongan prajurit kerajaan menghentikan mereka yang lari mengungsi. Jumlah prajurit ini tidak kurang dari seratus orang dan jumlah pengungsi sedikitnya lima puluh orang.

“Berhenti! Kalian hendak lari kemana?”

Semua orang ketakutan dan Yen Gun mewakili mereka menjawab, “kami hendak lari mengungsi karena takut akan adanya perang. Mengungsi keluar kota agar jangan ikut terlanda perang...“

“Hemm, kami harus menggeledah dulu kalian. Hayo berkumpul di sini!” kata pemimpin rombongan prajurit itu dengan sikap angkuh dan memerintah.

Semua orang menaati perintah itu dan mulailah diadakan penggeledahan. Dan penggeledahan itu bukan lain hanyalah perampokan dan perampasan. Setiap menemukan benda berharga, lalu di sita begitu saja oleh para penggeledahnya. Dan yang lebih memuakkan hati lagi, kalau yang di geledah seorang wanita muda, tangan-tangan para penggeledah lalu mulai berbuat kurang ajar dan tidak sopan, meraba sana sini sehingga mulai terdengar jerit tangis mereka yang dipermainkan dan mereka yang barang-barangnya di rampas.

“Heeiii...! kalian ini menggeledah atau merampok?” bentak Yen Gun dengan marah.

“Dan lepaskan perempuan itu!” bentak pula Yen Sian ketika seorang menggeledah hampir menelanjangi seorang wanita muda yang manis.

“Kau mau melawan, ya...? Kamu pemberontak, ya?“ bentak orang yang sedang mengantungi kalung emas dari seorang wanita yang di geledahnya dan langsung saja dia mengangkat tangannya untuk menampar muka Yen Gun.

“Dukkk!” Yen Gun menangkis dan sekali tangannya bergerak, orang itu terpelanting roboh.

Seorang prajurit lain yang melihat kecantikan Yen Sian, juga sudah menubruk dan memeluk pinggangnya dari belakang. Yen Sian menjerit karena jijik, kakinya menendang ke belakang dan pemeluknya jatuh tersungkur, bergulingan memegangi bawah perut yang mendadak terasa seperti akan hancur.

Tentu saja keadaan menjadi geger melihat Yen Gun dan Yen Sian merobohkan dua orang prajurit. Komandan pasukan itu lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok. Yen Gun dan Yen Sian yang sudah di pesan oleh ayahnya untuk tidak melakukan perlawanan dan lari bergabung dengan Hek I Kaipang, tidak kuat menahan hati mereka melihat tindakan sewenang-wenang dari para prajurit Toba, maka kini mereka menghadapi pengeroyokan itu dengan pedang di tangan!

Dua orang kakak beradik ini adalah murid dari ayah mereka sendiri. Gubernur Yen Kan adalah seorang pewaris ilmu silat keluarga Yen yang sudah turun temurun memiliki ilmu silat dari Gobi-pai. Dan Gubernur Yen-Kan dahulunya di kala muda pernah menjadi pendekar Gobi-pai yang di segani orang karena ilmu silatnya yang tinggi.

Bagaikan sepasang rajawali mengamuk, Yen Gun dan Yen Sian membabati para prajurit Mongol itu dan puluhan orang prajurit sudah menjadi korban pedang mereka. Para pengungsi lain menggunakan kesempatan itu untuk lari cerai berai, ada yang kehilangan suaminya kehilangan anaknya karena mereka berpencaran saking takutnya.

“Sian-moi, lari…!” Mereka lari memutar pedang, menjatuhkan para pengeroyok terdepan, kemudian berloncatan jauh dan menggunakan ilmu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Untung bagi mereka bahwa peristiwa itu terjadi di luar kota. Andaikata terjadi di sebelah dalam kota, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri.

Biarpun demikian, para prajurit segera melakukan pengejaran dan mereka yang mengejar dengan menunggang kuda dapat menyusul mereka dan kembali mereka terkepung. Akan tetapi pengepungnya hanya dua tiga puluh orang yang memiliki kepandaian lebih tangguh dibandingkan para pengeroyok pertama. Inilah para prajurit yang membantu dari kota dan mereka adalah prajurit pilihan, di pimpin oleh Lai Seng dan Bong Kwi Hwa.

Begitu Lai Seng dan Bong Kwi Hwa berloncatan turun dari atas kuda mereka dengan berjungkir balik di udara beberapa kali dan berhadapan dengan Yen Gun dan Yen Sian, tahulah kedua kakak beradik ini bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang pandai. Dan Lai Seng segera mengenal kedua orang itu.

“Ha-ha-ha, kiranya putera dan puteri Gubernur sendiri yang melakukan pemberontakan di sini! Menyerahlah kalian untuk kami tawan, kalau kalian tidak menghendaki mati di tempat ini...“

“Kami tidak akan menyerah selama nyawa masih di kandung badan! “ kata Yan Gun dengan gagah.

“Gun-ko, kita hajar saja antek-antek Mongol ini!” seru pula Yen Sian.

“Ha-ha-ha, nona yang cantik bernyali besar, Kwi Hwa, kau tangkap yang laki-laki, biar aku hadapi nona ini!” kata Lai Seng yang segera menggerakkan suling peraknya menyerang Yen Sian.

“Trangg! Tranngg! Criingg…!”

Bunga api berhamburan ketika suling itu di tangkis pedang Yen Sian. Gadis ini segera memainkan ilmu pedang Gobi-kiam-hoat untuk menandingi Lai Seng dan terjadilah perkelahian seru sekali antara mereka.

Sementara itu Bong Kwi Hwa juga menggerakkan pedangnya menyerang Yen Gun. Ia tahu bahwa suaminya sudah tergila-gila kepada gadis jelita itu, akan tetapi ia tidak peduli karena ia pun akan senang sekali untuk dapat menawan pemuda yang jangkung tampan ini. Yen Gun menangkis pedang lawan dan keduanya juga segera bertanding dengan serunya. Ternyata tingkat ilmu pedang mereka semua seimbang sehingga perkelahian itu terjadi sengit dan melihat ini, Lai Seng merasa khawatir kalau sampai mereka lolos.

Maka dia lalu meneriakan aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok dan mengepung. Setelah di kepung puluhan orang prajurit, sementara harus melawan Lai Seng dan Kwi Hwa yang tangguh, maka kedua orang putera dan puteri Gubernur Yen itu merasa kewalahan juga. Pada saat keadaan mereka sudah gawat dan peluh sudah membasahi seluruh badan walaupun mereka belum terluka, tiba-tiba dengan tak terduga juga datang serombongan orang berpakaian hitam dan menggunakan tongkat. Mereka menyerbu dari luar kepungan dan para prajurit itu jatuh bergelimpangan!

Hek I Kaipang muncul, sebanyak tidak kurang dari lima puluh orang, di pimpin oleh Thio Ci dan Thio Kui, ketua dan wakil ketua Hek I Kaipang wilayah Lok-yang. Ketika terjadi penyerbuan ke kota Lok-yang, Hek I Kaipang juga merasa gelisah. Akan tetapi mereka mendengar akan perintah Gubernur Yen agar jangan mengadakan perlawanan, melainkan mengundurkan diri untuk menyusun kekuatan.

Maka, Thio Ci lalu memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di luar kota dan membantu para pengungsi melarikan diri. Hanya itu yang dapat mereka lakukan karena andaikata mereka akan menyerbu masuk kota, tentu pasukan kerajaan yang besar jumlahnya itu bukan merupakan tandingan mereka yang hanya berjumlah ratusan orang. Thio Ci dan Thio Kui menggunakan jarum-jarum, pisau dan paku beracun merobohkan banyak prajurit.

Dan ketika mereka terjun ke dalam perkelahian, Thio Ci membantu Yen Gun dan adiknya Yen Sian, pihak pasukan kerajaan segera terdesak. Betul ada pula datang bala bantuan yang jumlahnya hanya tiga puluh orang. Namun Lai Seng maklum bahwa orang-orang berpakaian hitam ini berbahaya sekali maka dia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri dan hanya melakukan perlawanan sambil mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thio Ci untuk mengajak kedua putera Gubernur Yen ini melarikan diri.

“Terima kasih atas pertolongan ji-wi pangcu...“ kata Yen Gun dan Yen Sian yang sudah mengenal baik mereka.

“Tidak perlu berterima kasih, kongcu dan sio-cia. Bagaimana dengan Yen-taijin? Sungguh kami tidak mengerti mengapa taijin tidak melakukan perlawanan…“

“Ayah kami tahu akan kekuatan sendiri. Kalau melakukan perlawanan berarti menghancurkan kekuatan pasukan sendiri dan hal ini dapat melemahkan semangat. Sekarang belum saatnya melakukan perlawanan. Ayah memerintahkan kami untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang, lalu menyusun kekuatan untuk kelak melakukan pemberontakan...“

Thio Ci menghela napas panjang. “Yen-taijin terlalu mengkhawatirkan keadaan, terlalu menyayang rakyat dan pasukan, sehingga rela mengorbankan diri sendiri di tangkap..."

“Koko, bagaimana dengan ayah dan ibu dan semua keluarga? Ah, aku khawatir sekali, koko...“ kata Yen Sian dan suaranya terdengar bergetar.

“Harap Yen-siocia tenangkan diri. Kami kira Yen-taijin dapat menjaga diri sindiri dan keluarganya. Bagaimanapun semua ini tentu telah masuk perhitungan beliau, karena bagaimana beliau akan dapat di tuntut sebagai pemberontak kalau tidak ada bukti pemberontakan? Kini kami mengerti. Justeru inilah sebabnya maka beliau melarang diadakannya perlawanan, agar jangan ada bukti bahwa beliau pemberontak...“

“Akan tetapi hatiku khawatir sekali...“ kata Yen Sian. “kaisar Kerajaan Toba memiliki banyak penjilat dan kabarnya para penjilat inilah yang berbahaya suka membujuk kaisar untuk menghukum siapa saja yang mereka anggap tidak dapat di jadikan sahabat atau sekutu...“

“Jangan khawatir, nona...! Kami akan mengirim mata-mata ke kota raja untuk mendengarkan berita tentang ayah nona kalau sudah di bawa ke kota raja...“ Thio Ci menghiburnya. “Sekarang, sebaiknya ji-wi ikut dengan kami untuk mengadakan perundingan lebih jauh. Kebetulan sekali pemimpin besar kami akan datang berkunjung...“

“Siapakah pemimpin besar kalian? Apakah bukan Cu-Lokai yang dahulu menjadi ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an?“ Tanya Yen Gun.

“Dia juga akan datang, akan tetapi kami sekarang mempunyai pemimpin besar, bahkan yang kami calonkan sebagai bengcu, dia adalah taihiap Yang Cien. Mari, kongcu dan sioci, kita cepat pergi agar jangan sampai ada pasukan datang mencari lagi...“

Mereka segera pergi dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Hek I Kaipang di bukit dekat Sungai Huai. Sementara itu, dengan sikap gagah dan tegak Gubernur Yen duduk di kursinya di ruangan besar, di kelilingi keluarganya kecuali kedua orang puteranya, dan sikapnya berwibawa sekali ketika Panglima Su yang menjadi pemimpin pasukan yang di suruh Koksu menghadap Gubernur menyampaikan perintah kaisar untuk menangkapnya.

Koksu hanya ikut untuk menjaga kalau-kalau Lok-yang melakukan perlawanan dan bukanlah menjadi tugas seorang Guru Negara untuk memimpin pasukan. Maka begitu melihat bahwa tidak ada perlawanan, Koksu lalu lebih dulu kembali ke Tiang-an dan yang memasuki gedung gubernuran adalah Su-ciang kun.

“Gubernur Yen, atas perintah Yang Mulia Kaisar, kami datang untuk menangkapmu, berlututlah dan menyerahlah untuk kami tangkap!”

“Apakah alasannya aku akan di tangkap?” Tanya Gubernur itu dengan wajah tenang sekali.

“Alasannya sudah jelas. Mengadakan usaha pemberontakan!” kata Su-Ciangkun

“Fitnah keji. Mana buktinya? Apakah ketika ciang-kun memasuki tempat ini ada yang menentangmu?”

Su-ciangkun nampak bingung. Memang dia tidak melihat perlawanan berarti atau pemberontakan, hanya kesalahpahaman saja antara pasukannya dengan para penjaga keamanan yang berhak mempertahankan tempat yang mereka jaga. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda pemberontakan.

“Aku tidak tahu, pendeknya aku datang atas perintah kaisar untuk menangkapmu...“

“Jangan harap aku akan menyerahkan diri kalau perintah tidak ada buktinya!”

“Gubernur Yen, kami membawa perintah Kaisar itu. Lihat ini...!“ Su-ciangkun mengeluarkan segulung surat dan setelah surat itu di baca oleh Gubernur Yen, dia segera bangkit berdiri.

“Baik, kami menaati perintah Sri Baginda Kaisar untuk di bawa ke kota raja!” katanya gagah.

Dua orang prajurit segera menghampiri atas isyarat Su-ciangkun dan akan memborgol kedua tangan Gubernur itu. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki tanganya, dua orang prajurit itu telah di tendang dan di tampar roboh oleh Gubernur Yen.

“Aku tidak perlu di borgol, aku bukan penjahat dan tuduhan pemberontakan itu tidak ada buktinya. Aku akan menghadap kaisar dengan keadaan seperti seorang bawahan menghadap atasan, bukan sebagai seorang pemberontak atau penjahat. Juga keluargaku kalau hendak di bawa, harus menggunakan keretaku sendiri. kalau semua ini tidak di penuhi sampai mati aku tidak akan menyerah!”

Sikap dan ucapan gubernur itu berwibawa sekali sehingga Su-ciangkun sendiri merasa gentar. Terpaksa dia memenuhi permintaan gubernur itu agar tidak menimbulkan kesulitan. Demikianlah, gubernur dan keluarganya dibawa ke kota raja bukan sebagai tawanan perang, bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai tamu saja yang dikawal pasukan besar Kerajaan! Suatu kehormatan yang besar dan yang hanya mungkin terjadi karena keberanian Gubernur Yen.

Akan tetapi, setelah menghadap Kaisar, Gubernur Yen dimarahi oleh Kaisar, “Biarpun belum ada bukti bahwa engkau melakukan pemberontakan, akan tetapi menurut penyelidikan, engkau mengumpulkan para pengemis dan melakukan hubungan baik dengan Hek I Kaipang, padahal Hek I Kaipang jelas berusaha memberontak. Ada gejalanya engkau berpihak kepada pemberontak, karena itu kamu di tahan sambil menanti sidang pengadilan. Demikian pula keluarga akan di tahan di penjara!”

Keputusan kaisar tidak dapat dibantah dan demikianlah, Gubernur Yen Kan dan tiga orang isterinya lalu lalu di masukkan ke dalam tahanan. Gubernur itu tidak kelihatan sedih, bahkan merasa bersukur bahwa kedua orang anaknya berhasil lolos dari tangkapan dan dia percaya bahwa mereka berdua tentu akan melanjutkan perjuangannya untuk menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dari tanah air. Dia tidak akan menyesal andaikata dia harus mati sekalipun!

********************

Penangkapan atas diri Gubernur Gak di Nam-kiang kemudian di susul penangkapan atas diri Gubernur Yen di Lok-yang menimbulkan kegemparan. Banyak pejabat tinggi menjadi khawatir. Bagaimanapun juga, belum ada bukti-bukti bahwa kedua Gubernur itu melakukan pemberontakan. Juga di terima kabar bahwa Coa-ciangkun tidak jadi berangkat ke kota raja atau jelasnya mengabaikan panggilan kaisar untuk menarik pasukan dan kembali ke kota raja!

Memang panggilan itu di anggap tidak masuk akal oleh para pejabat tinggi. Coa-ciangkun adalah seorang panglima yang berjasa besar, panglima yang selama ini telah menahan serangan Kerajaan Sun di perbatasan. Kalau tidak karena kehebatan Coa-ciangkun mengatur pasukan, tentu sudah lama musuh di selatan itu memasuki wilayah Toba karena pasukan Sun di kabarkan amat kuat. Hanya berkat kegagahan Coa-ciangkun saja maka Kerajaan Sun dapat di tahan. Dan sekarang kaisar menyuruhnya mundur dan menarik pasukan. Tidak masuk di akal!

Penangkapan atas diri kedua Gubernur itu menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan pejabat tinggi, apalagi penagkapan itu menjalar dengan di tangkapinya dan digantinya para panglima yang tadinya berkedudukan di Lok-yang. Semua pejabat khawatir kalau-kalau pada suatu hari mereka akan mengalami nasib yang sama. Dan mereka semua juga tahu bahwa semua ini adalah hasil ulah Koksu Lui Tat dan juga Perdana Menteri Ji.

Dunia kang-ouw juga geger. Mereka semua seperti sudah dapat merasakan mulainya api pemberontakan berkobar di mana-mana, ledakan-ledakan pemberontakan hanya tinggal menanti saatnya saja. Akan tetapi para tokoh kang-ouw sendiri masih bingung harus berpihak siapa. Dan untuk melegakan hati mereka, untuk mendapatkan pegangan, mereka memandang kepada pemilihan beng-cu yang segera akan tiba dan di adakan di Thai-san. Kalau sudah ada seorang beng-cu yang bijaksana dan pandai, tentu beng-cu itu akan dapat mengambil keputusan melalui musyawarah, tindakan apa yang sebaiknya harus di ambil oleh dunia kang-ouw menghadapi peristiwa dalam negeri itu.

Jauh hari sebelum hari pertemuan besar pemilihan beng-cu, Thai-san sudah mulai di banjiri pengunjung. Mereka terdiri dari banyak macam orang, ada yang aneh-aneh, ada pengemis, pendeta hwe-sio, to-su, ada pendeta wanita, dan ada pula yang berpakaian seperti petani, ada pula yang seperti sastrawan, dan seperti orang kalangan persilatan. Mereka ada yang datang berkelompok, ada pula yang perorangan.

Karena pertemuan itu adalah pertemuan yang dikehendaki semua orang, tanpa ada tuan rumah, akan tetapi undangan dilakukan oleh Hek I Kaipang, maka juga mereka tidak menerima penyambutan seperti biasa. Mereka mendirikan sendiri gubuk-gubuk darurat untuk tempat tinggal sambil menanti datangnya hari yang di tentukan.

Yang Cien yang mewakili golongan pengemis sudah tiba lebih dulu di ditu bersama Cu Lokai yang mewakili Hek I Kaipang yang lain. Mereka pun mendirikan gubuk-gubuk di dalam hutan di puncak pegunungan yang dingin itu karena pemilihan bengcu baru akan di adakan tiga hari kemudian. Tempat untuk melakukan pemilihan sudah dipersiapkan oleh Hek I Kaipang, yang menebangi pohon dan membuka sesuatu dataran yang cukup luas, dengan mendirikan panggung yang besar.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, seorang anggota pengemis memberitahu kepada Yang Cien bahwa ada seorang tokouw (Pendeta To) dan seorang gadis minta berjumpa dengannya. Yang Cien mengerti bahwa itu tentulah Kwe Sun Nio yang menuduhnya memperkosa dan gurunya. Maka dia bergegas keluar, menerima mereka di depan gubuk di bawah pohon besar dan dia memberi isyarat kepada semua pengemis untuk menjauhkan diri karena maklum bahwa apa yang di bicarakan tidak boleh terdengar orang lain.

“Selamat pagi, lo-cianpwe...“ kata Yang Cien sambil memberi hormat. “Dan Nona Kwe...“

Kedua orang wanita itu membalas penghormatannya dan wajah Sun Nio kemerahan, bahkan matanya juga menunjukkan bahwa gadis ini banyak menangis dan dalam keadaan bersedih sekali sehingga dia merasa kasihan.

“Selamat pagi, Yang-taihiap. Kami kira engkau sudah tahu apa maksud kunjungan kami ini...“ kata Im-yang To-kouw dengan suara tajam dan pandang mata penuh selidik.

Yang Cien bersikap serius. “Kalau tidak salah, tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa diri nona Kwe?”

“Yang-taihiap, kami bukan hendak mencari keributan. Antara engkau dan kami ada hubungan baik, yaitu sama-sama mendukung perjuangan untuk mengusir penjajah Mongol dari tanah air. Bahkan kita bersama menghadapi peristiwa besar pemilihan beng-cu dan kami pun mendukung kalau engkau yang dapat menjadi beng-cu untuk memimpin kita semua. Akan tetapi, peristiwa yang menimpa diri murid kami menjadi ganjalan dan kami harap agar taihiap suka mempertanggung-jawabnya. Ketahuilah, kehidupan kami sebagai pendeta mempunyai peraturan yang amat keras. Apa yang menimpa diri Sun Nio yang malang ini hanya dapat dibersihkan dengan dua jalan, yaitu ia menikah dengan yang bertanggung-jawab atau ia menghabisi nyawa sendiri untuk menebus aib dan tidak menodai nama perkumpulan kami. Nah, tegakah taihiap bersikap tidak adil dan membiarkannya menghabiskan nyawa sendiri...?”

“Aduh, lo-cian-pwe, apa yang dapat saya katakan? Sungguh mati, saya berani bersumpah bahwa saya bukanlah pelakunya. Bukan saya yang melakukannya dan saya tidak tahu menahu sama sekali, bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan nona Kwe sejak kami saling jumpa di rumah Gubernur Gak dulu itu. Lalu bagaimana saya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak saya lakukan?”

“Akan tetapi muridku ini mengatakan bahwa ada orang yang melihatmu!” desak Im-Yang To-kouw karena pertapa ini juga setuju sepenuhnya kalau muridnya menjadi isteri pemuda yang dikaguminya ini.

“Lo-cian-pwe, saya bukanlah orang macam itu. Saya tidak mungkin dapat melakukan perbuatan sekeji dan terkutuk itu, dan sayapun seorang yang bertanggung-jawab sepenuhnya atas segala perbuatan saya. Menurut keterangan nona Kwe, ketika peristiwa itu berlangsung ia sedang dalam keadaan pingsan. Berarti ia tidak melihat siapa pelakunya, artinya, boleh jadi saya, boleh jadi pula orang lain! Kemudian, ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa orang itu melihat saya melarikan diri! Ketahuilah, lo-cian-pwe' orang yang mengatakan itu adalah Lai Seng, dia kabarnya murid Toat-beng Giam-ong, Koksu Lui Tat dan dia seorang yang jahat sekali. Dia pernah menyusup ke dalam Hek I Kaipang dan membikin kacau sehingga terusir keluar. Orang macam dialah yang besar kemungkinan melakukan perbuatan terkutuk itu dan karena ia memang mendendam kepadaku karena kukalahkan dan ku usir dari Hek I Kaipang maka dia lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga suatu cara untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dengan Hek I Kaipang. Pertimbangkanlah baik-baik, lo-cian-pwe dan engkau, Nona Kwe Sun Nio. Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu...!”

Terdengar isak tangis Sun Nio dan Im-Yang To-kouw termenung. Ia dapat menerima alasan-alasan Yang Cien dan menjadi ragu. “Aihhh, Sun Nio, jangan-jangan anjing keparat Lai Seng itu yang justru melakukannya! Kita harus menyelidiki dulu sebelum menjatuhkan suatu keputusan...“

“Aihhhh, subo… bagaimana teecu ini…?” Sun Nio tersedu-sedu.

“Kwee-siocia, saya berjanji akan membantumu menyelidikinya!” kata Yang Cien dengan gemas. “Karena ini menyangkut fitnah atas nama saya pula. Tunggulah saja sampai pemilihan beng-cu ini selesai, aku akan menemui Lai Seng dan kalau perlu akan ku paksa dia mengaku bahwa semua itu fitnah belaka...!”

Sun Nio tidak menjawab lalu lari meninggalkan tempat itu sambil menangis. Hatinya hancur karena dengan hadirnya subonya tetap saja tidak dapat membujuk Yang Cien untuk mengawininya. Dan kalau benar Lai Seng yang melakukannya, ah, ia lebih baik mati daripada harus menikah dengan orang sejahat itu, melakukan fitnah kepada orang lain!

Ia harus mengetahui yang sebenarnya dan kalau sudah yakin bahwa Lai Seng yang melakukannya, ia harus membunuh jahanam itu. Kalau pelaku itu sudah dibunuhnya, maka baru impas dan ia sudah terlepas dari ada hukuman yang menjadi peraturan Thian-li-pang. Kalau ia melakukan perjinaan ia memang harus mati, akan tetapi ia tidak berdaya dan diperkosa orang selagi pingsan. Kalau ia sudah dapat membunuh pelakunya, maka impaslah sudah.

“Maafkan kami, taihiap. Pin-ni percaya akan semua keteranganmu dan hal ini akan kami selidiki lebih lanjut...“ kata Im-Yang To-kouw...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 20

MELIHAT gadis itu meragu, dia menyambung. “Aku perlu mengetahui untuk dapat meyakinkan hatiku tentang ceritamu...“

“Orang itu bernama Lai Seng! Nah, engkau tidak boleh pungkir sekarang, Yang Cien, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang terkutuk kepadaku...“

“Mempertanggung-jawabkan bagaimana?”

“Engkau harus menikahi aku atau engkau harus mati di tanganku...“

“Keduanya tidak dapat ku terima. Aku tidak mau mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak kulakukan. Nona, pertimbangkan baik-baik. Aku tidak melakukan itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku dan lebih percaya kepada keterangan laki-laki jahanam itu? Ingat, Lai Seng adalah seorang penjahat besar yang menjadi mata-mata Kerajaan Mongol, dia pernah hendak menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan ketahuan, lalu di usir. Apakah laki-laki penjilat Mongol itu lebih kau percaya dari pada aku? Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu!”

Kwe Sun Nio mencabut pedangnya. Ia sudah nekat. Kalau bukan Yang Cien yang melakukan, lebih celaka lagi baginya. Kalau Yang Cien, ia menuntut dinikahi dan ia akan suka menjadi isteri pemuda ini. Kalau orang lain bagaimana? Mungkin ia memilih mati! Kekecewaan dan penasaran membuatnya nekat.

“Yang Cien, aku adalah murid Thian-li-pang yang sejak kecil di latih dengan peraturan keras. Aku telah kehilangan kesucianku sebagai seorang gadis dan hukumnya hanyalah menikah atau mati ternoda aib. Kalau engkau tidak mau menikahiku, biarlah aku mati di tanganmu atau engkau mati di tanganku!” Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menyerang dengan dahsyatnya, menusukkan pedangnya kearah dada Yang Cien.

Pemuda ini cepat mengelak dan meloncat ke belakang, “Bersabarlah, nona. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bahkan aku merasa iba sekali kepadamu, dan aku bersedia membantumu untuk menyelidiki siapa yang melakukan perbuatan terkutuk itu!”

Makin nyeri rasa hati Kwe Sun Nio. Pemuda ini tetap menyangkal, mengecewakan hatinya dan mematahkan semua harapannya agar pemuda yang dikaguminya ini mau menikahinya. “Kalau bukan engkau siapa lagi!” Bentaknya dan kembali ia menyerang dengan nekad bahwa kalau ia tidak dapat membunuh pemuda itu, biarlah ia tewas di tangannya untuk menubus aib.

Kembali Yang Cien mengelak dan dia tahu bahwa dengan bujukan kata-kata saja, gadis ini yang agaknya sudah nekat dan penasaran tidak akan reda kemarahannya. Diam-diam, mendengar nama Lai Seng di sebut, dia sudah curiga bahwa pemuda ini tentu melempar fitnah dan sangat boleh jadi bahwa perbuatan terkutuk itu di lakukan oleh sendiri. Biarpun ilmu pendang yang dimainkan Sun Nio cukup hebat namun berhadapan dengan Yang Cien, sama sekali tidak ada artinya. Setelah mengelak selama belasan jurus, akhirnya dia menangkap pedang itu dalam jempitan antara kedua jarinya dan pedang itu seperti melekat di situ, tidak dapat di tarik kembali oleh Sun Nio.

“Nona, engkau salah sangka, hentikanlah...!” kata Yang Cien dan dia melepaskan jepitannya. Akan tetapi, Yang Cien tidak menduga sama sekali bahwa gadis itu sudah nekat benar begitu pedangnya di lepas sudah menyerang lagi dengan tusukan yang cepat dan mengandung tenaga. Yang Cien memiringkan tubuhnya dan tangannya menyambar dari atas ke bawah. Tangan yang miring itu menghantam pedang yang menyambar di dekat perutnya.

“Traakkk…!“ Pedang itu patah menjadi dua potong seperti di hantam palu godam yang berat. Sun Nio terbelalak pucat, membuang sisa pedangnya dan menyerang dengan pukulan tangan kosong.

Yang Cien meloncat ke belakang lalu menghilang. “Nona, engkau salah sangka…“ terdengar suaranya dari jauh, suara yang mengandung penasaran dan juga iba hati.

Sun Nio menangis. Ia menjatuhkan diri menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis sesungukan dengan hati hancur. Satu-satunya harapan telah pudar dan ia meraba-raba dalam kegelapan tidak tahu kepada siapa ia akan minta pertanggung-jawabnya.

“Subo… Ah, subo…“ Tangisnya dan ia lalu bangkit berdiri melangkah terhuyung untuk pergi melapor kepada subonya. Ia akan minta bantuan subonya untuk membujuk Yang Cien agar mempertanggung-jawabnya. Mengingat akan kemungkinan ini, timbul pula sedikit harapan di hati Sun Nio. Mungkin subonya akan berhasil.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Gubernur Yen di bebaskan dari tahanan di kota raja! Dia diperbolehkan pulang ke Lok-yang. Hal ini adalah karena nasehat dan siasat Koksu dan Perdana menteri yang di ajukan kepada kaisar. Pertama, untuk meredakan ketegangan kedua, agar pasukan di Lok-yang terkecoh dan tidak siap siaga. Padahal, beberapa hari setelah dia dipulangkan ke Lok-yang, puluhan ribu pasukan yang di pimpin oleh Koksu sendiri menyerbu Lok-yang!

Hanya terjadi sedikit perlawanan dari para penjaga pintu gerbang, karena memang Gubernur Yen melarang pasukan di wilayahnya mengadakan perlawanan terhadap pasukan kerajaan. Pemberontakan belum waktunya dimulai karena perimbangan kekuatan masih jauh selisihnya. Dia memerintahkan kedua orang anaknya, Yen Gun dan Yen Sian, untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang melarikan diri meninggalkan Lok-yang, dan menyusun kekuatan bersama perkumpulan-perkumpulan lain yang condong memberontak terhadap pemerintah Toba.

Tanpa melakukan perlawanan Gubernur Yen kembali di tawan, kini berikut seluruh keluarganya, kecuali Yen Gun dan Yen Sian yang sudah lebih dulu melarikan diri. Juga para panglima di tawan dan seketika di ganti oleh panglima-panglima yang di tunjuk oleh Koksu. Penyerbuan sehari itu selesai dan hampir semua pejabat di Lok-yang di tangkap dan diganti, kecuali beberapa orang yang memang sebelumnya sudah ada kontak dengan kerajaan dan bahkan merupakan mata-mata yang mengawasi gerak-gerik mereka yang condong memberontak.

Ketika pasukan menyerbu, Yen Gun dan Yen Sian, dengan mengenakan pakaian biasa, menyelinap diantara orang-orang yang mengungsi karena takut akan peperangan, dan melarikan diri keluar kota. Akan tetapi baru saja tiba di luar kota, serombongan prajurit kerajaan menghentikan mereka yang lari mengungsi. Jumlah prajurit ini tidak kurang dari seratus orang dan jumlah pengungsi sedikitnya lima puluh orang.

“Berhenti! Kalian hendak lari kemana?”

Semua orang ketakutan dan Yen Gun mewakili mereka menjawab, “kami hendak lari mengungsi karena takut akan adanya perang. Mengungsi keluar kota agar jangan ikut terlanda perang...“

“Hemm, kami harus menggeledah dulu kalian. Hayo berkumpul di sini!” kata pemimpin rombongan prajurit itu dengan sikap angkuh dan memerintah.

Semua orang menaati perintah itu dan mulailah diadakan penggeledahan. Dan penggeledahan itu bukan lain hanyalah perampokan dan perampasan. Setiap menemukan benda berharga, lalu di sita begitu saja oleh para penggeledahnya. Dan yang lebih memuakkan hati lagi, kalau yang di geledah seorang wanita muda, tangan-tangan para penggeledah lalu mulai berbuat kurang ajar dan tidak sopan, meraba sana sini sehingga mulai terdengar jerit tangis mereka yang dipermainkan dan mereka yang barang-barangnya di rampas.

“Heeiii...! kalian ini menggeledah atau merampok?” bentak Yen Gun dengan marah.

“Dan lepaskan perempuan itu!” bentak pula Yen Sian ketika seorang menggeledah hampir menelanjangi seorang wanita muda yang manis.

“Kau mau melawan, ya...? Kamu pemberontak, ya?“ bentak orang yang sedang mengantungi kalung emas dari seorang wanita yang di geledahnya dan langsung saja dia mengangkat tangannya untuk menampar muka Yen Gun.

“Dukkk!” Yen Gun menangkis dan sekali tangannya bergerak, orang itu terpelanting roboh.

Seorang prajurit lain yang melihat kecantikan Yen Sian, juga sudah menubruk dan memeluk pinggangnya dari belakang. Yen Sian menjerit karena jijik, kakinya menendang ke belakang dan pemeluknya jatuh tersungkur, bergulingan memegangi bawah perut yang mendadak terasa seperti akan hancur.

Tentu saja keadaan menjadi geger melihat Yen Gun dan Yen Sian merobohkan dua orang prajurit. Komandan pasukan itu lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok. Yen Gun dan Yen Sian yang sudah di pesan oleh ayahnya untuk tidak melakukan perlawanan dan lari bergabung dengan Hek I Kaipang, tidak kuat menahan hati mereka melihat tindakan sewenang-wenang dari para prajurit Toba, maka kini mereka menghadapi pengeroyokan itu dengan pedang di tangan!

Dua orang kakak beradik ini adalah murid dari ayah mereka sendiri. Gubernur Yen Kan adalah seorang pewaris ilmu silat keluarga Yen yang sudah turun temurun memiliki ilmu silat dari Gobi-pai. Dan Gubernur Yen-Kan dahulunya di kala muda pernah menjadi pendekar Gobi-pai yang di segani orang karena ilmu silatnya yang tinggi.

Bagaikan sepasang rajawali mengamuk, Yen Gun dan Yen Sian membabati para prajurit Mongol itu dan puluhan orang prajurit sudah menjadi korban pedang mereka. Para pengungsi lain menggunakan kesempatan itu untuk lari cerai berai, ada yang kehilangan suaminya kehilangan anaknya karena mereka berpencaran saking takutnya.

“Sian-moi, lari…!” Mereka lari memutar pedang, menjatuhkan para pengeroyok terdepan, kemudian berloncatan jauh dan menggunakan ilmu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Untung bagi mereka bahwa peristiwa itu terjadi di luar kota. Andaikata terjadi di sebelah dalam kota, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri.

Biarpun demikian, para prajurit segera melakukan pengejaran dan mereka yang mengejar dengan menunggang kuda dapat menyusul mereka dan kembali mereka terkepung. Akan tetapi pengepungnya hanya dua tiga puluh orang yang memiliki kepandaian lebih tangguh dibandingkan para pengeroyok pertama. Inilah para prajurit yang membantu dari kota dan mereka adalah prajurit pilihan, di pimpin oleh Lai Seng dan Bong Kwi Hwa.

Begitu Lai Seng dan Bong Kwi Hwa berloncatan turun dari atas kuda mereka dengan berjungkir balik di udara beberapa kali dan berhadapan dengan Yen Gun dan Yen Sian, tahulah kedua kakak beradik ini bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang pandai. Dan Lai Seng segera mengenal kedua orang itu.

“Ha-ha-ha, kiranya putera dan puteri Gubernur sendiri yang melakukan pemberontakan di sini! Menyerahlah kalian untuk kami tawan, kalau kalian tidak menghendaki mati di tempat ini...“

“Kami tidak akan menyerah selama nyawa masih di kandung badan! “ kata Yan Gun dengan gagah.

“Gun-ko, kita hajar saja antek-antek Mongol ini!” seru pula Yen Sian.

“Ha-ha-ha, nona yang cantik bernyali besar, Kwi Hwa, kau tangkap yang laki-laki, biar aku hadapi nona ini!” kata Lai Seng yang segera menggerakkan suling peraknya menyerang Yen Sian.

“Trangg! Tranngg! Criingg…!”

Bunga api berhamburan ketika suling itu di tangkis pedang Yen Sian. Gadis ini segera memainkan ilmu pedang Gobi-kiam-hoat untuk menandingi Lai Seng dan terjadilah perkelahian seru sekali antara mereka.

Sementara itu Bong Kwi Hwa juga menggerakkan pedangnya menyerang Yen Gun. Ia tahu bahwa suaminya sudah tergila-gila kepada gadis jelita itu, akan tetapi ia tidak peduli karena ia pun akan senang sekali untuk dapat menawan pemuda yang jangkung tampan ini. Yen Gun menangkis pedang lawan dan keduanya juga segera bertanding dengan serunya. Ternyata tingkat ilmu pedang mereka semua seimbang sehingga perkelahian itu terjadi sengit dan melihat ini, Lai Seng merasa khawatir kalau sampai mereka lolos.

Maka dia lalu meneriakan aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok dan mengepung. Setelah di kepung puluhan orang prajurit, sementara harus melawan Lai Seng dan Kwi Hwa yang tangguh, maka kedua orang putera dan puteri Gubernur Yen itu merasa kewalahan juga. Pada saat keadaan mereka sudah gawat dan peluh sudah membasahi seluruh badan walaupun mereka belum terluka, tiba-tiba dengan tak terduga juga datang serombongan orang berpakaian hitam dan menggunakan tongkat. Mereka menyerbu dari luar kepungan dan para prajurit itu jatuh bergelimpangan!

Hek I Kaipang muncul, sebanyak tidak kurang dari lima puluh orang, di pimpin oleh Thio Ci dan Thio Kui, ketua dan wakil ketua Hek I Kaipang wilayah Lok-yang. Ketika terjadi penyerbuan ke kota Lok-yang, Hek I Kaipang juga merasa gelisah. Akan tetapi mereka mendengar akan perintah Gubernur Yen agar jangan mengadakan perlawanan, melainkan mengundurkan diri untuk menyusun kekuatan.

Maka, Thio Ci lalu memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di luar kota dan membantu para pengungsi melarikan diri. Hanya itu yang dapat mereka lakukan karena andaikata mereka akan menyerbu masuk kota, tentu pasukan kerajaan yang besar jumlahnya itu bukan merupakan tandingan mereka yang hanya berjumlah ratusan orang. Thio Ci dan Thio Kui menggunakan jarum-jarum, pisau dan paku beracun merobohkan banyak prajurit.

Dan ketika mereka terjun ke dalam perkelahian, Thio Ci membantu Yen Gun dan adiknya Yen Sian, pihak pasukan kerajaan segera terdesak. Betul ada pula datang bala bantuan yang jumlahnya hanya tiga puluh orang. Namun Lai Seng maklum bahwa orang-orang berpakaian hitam ini berbahaya sekali maka dia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri dan hanya melakukan perlawanan sambil mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thio Ci untuk mengajak kedua putera Gubernur Yen ini melarikan diri.

“Terima kasih atas pertolongan ji-wi pangcu...“ kata Yen Gun dan Yen Sian yang sudah mengenal baik mereka.

“Tidak perlu berterima kasih, kongcu dan sio-cia. Bagaimana dengan Yen-taijin? Sungguh kami tidak mengerti mengapa taijin tidak melakukan perlawanan…“

“Ayah kami tahu akan kekuatan sendiri. Kalau melakukan perlawanan berarti menghancurkan kekuatan pasukan sendiri dan hal ini dapat melemahkan semangat. Sekarang belum saatnya melakukan perlawanan. Ayah memerintahkan kami untuk melarikan diri dan bergabung dengan Hek I Kaipang, lalu menyusun kekuatan untuk kelak melakukan pemberontakan...“

Thio Ci menghela napas panjang. “Yen-taijin terlalu mengkhawatirkan keadaan, terlalu menyayang rakyat dan pasukan, sehingga rela mengorbankan diri sendiri di tangkap..."

“Koko, bagaimana dengan ayah dan ibu dan semua keluarga? Ah, aku khawatir sekali, koko...“ kata Yen Sian dan suaranya terdengar bergetar.

“Harap Yen-siocia tenangkan diri. Kami kira Yen-taijin dapat menjaga diri sindiri dan keluarganya. Bagaimanapun semua ini tentu telah masuk perhitungan beliau, karena bagaimana beliau akan dapat di tuntut sebagai pemberontak kalau tidak ada bukti pemberontakan? Kini kami mengerti. Justeru inilah sebabnya maka beliau melarang diadakannya perlawanan, agar jangan ada bukti bahwa beliau pemberontak...“

“Akan tetapi hatiku khawatir sekali...“ kata Yen Sian. “kaisar Kerajaan Toba memiliki banyak penjilat dan kabarnya para penjilat inilah yang berbahaya suka membujuk kaisar untuk menghukum siapa saja yang mereka anggap tidak dapat di jadikan sahabat atau sekutu...“

“Jangan khawatir, nona...! Kami akan mengirim mata-mata ke kota raja untuk mendengarkan berita tentang ayah nona kalau sudah di bawa ke kota raja...“ Thio Ci menghiburnya. “Sekarang, sebaiknya ji-wi ikut dengan kami untuk mengadakan perundingan lebih jauh. Kebetulan sekali pemimpin besar kami akan datang berkunjung...“

“Siapakah pemimpin besar kalian? Apakah bukan Cu-Lokai yang dahulu menjadi ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an?“ Tanya Yen Gun.

“Dia juga akan datang, akan tetapi kami sekarang mempunyai pemimpin besar, bahkan yang kami calonkan sebagai bengcu, dia adalah taihiap Yang Cien. Mari, kongcu dan sioci, kita cepat pergi agar jangan sampai ada pasukan datang mencari lagi...“

Mereka segera pergi dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Hek I Kaipang di bukit dekat Sungai Huai. Sementara itu, dengan sikap gagah dan tegak Gubernur Yen duduk di kursinya di ruangan besar, di kelilingi keluarganya kecuali kedua orang puteranya, dan sikapnya berwibawa sekali ketika Panglima Su yang menjadi pemimpin pasukan yang di suruh Koksu menghadap Gubernur menyampaikan perintah kaisar untuk menangkapnya.

Koksu hanya ikut untuk menjaga kalau-kalau Lok-yang melakukan perlawanan dan bukanlah menjadi tugas seorang Guru Negara untuk memimpin pasukan. Maka begitu melihat bahwa tidak ada perlawanan, Koksu lalu lebih dulu kembali ke Tiang-an dan yang memasuki gedung gubernuran adalah Su-ciang kun.

“Gubernur Yen, atas perintah Yang Mulia Kaisar, kami datang untuk menangkapmu, berlututlah dan menyerahlah untuk kami tangkap!”

“Apakah alasannya aku akan di tangkap?” Tanya Gubernur itu dengan wajah tenang sekali.

“Alasannya sudah jelas. Mengadakan usaha pemberontakan!” kata Su-Ciangkun

“Fitnah keji. Mana buktinya? Apakah ketika ciang-kun memasuki tempat ini ada yang menentangmu?”

Su-ciangkun nampak bingung. Memang dia tidak melihat perlawanan berarti atau pemberontakan, hanya kesalahpahaman saja antara pasukannya dengan para penjaga keamanan yang berhak mempertahankan tempat yang mereka jaga. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda pemberontakan.

“Aku tidak tahu, pendeknya aku datang atas perintah kaisar untuk menangkapmu...“

“Jangan harap aku akan menyerahkan diri kalau perintah tidak ada buktinya!”

“Gubernur Yen, kami membawa perintah Kaisar itu. Lihat ini...!“ Su-ciangkun mengeluarkan segulung surat dan setelah surat itu di baca oleh Gubernur Yen, dia segera bangkit berdiri.

“Baik, kami menaati perintah Sri Baginda Kaisar untuk di bawa ke kota raja!” katanya gagah.

Dua orang prajurit segera menghampiri atas isyarat Su-ciangkun dan akan memborgol kedua tangan Gubernur itu. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki tanganya, dua orang prajurit itu telah di tendang dan di tampar roboh oleh Gubernur Yen.

“Aku tidak perlu di borgol, aku bukan penjahat dan tuduhan pemberontakan itu tidak ada buktinya. Aku akan menghadap kaisar dengan keadaan seperti seorang bawahan menghadap atasan, bukan sebagai seorang pemberontak atau penjahat. Juga keluargaku kalau hendak di bawa, harus menggunakan keretaku sendiri. kalau semua ini tidak di penuhi sampai mati aku tidak akan menyerah!”

Sikap dan ucapan gubernur itu berwibawa sekali sehingga Su-ciangkun sendiri merasa gentar. Terpaksa dia memenuhi permintaan gubernur itu agar tidak menimbulkan kesulitan. Demikianlah, gubernur dan keluarganya dibawa ke kota raja bukan sebagai tawanan perang, bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai tamu saja yang dikawal pasukan besar Kerajaan! Suatu kehormatan yang besar dan yang hanya mungkin terjadi karena keberanian Gubernur Yen.

Akan tetapi, setelah menghadap Kaisar, Gubernur Yen dimarahi oleh Kaisar, “Biarpun belum ada bukti bahwa engkau melakukan pemberontakan, akan tetapi menurut penyelidikan, engkau mengumpulkan para pengemis dan melakukan hubungan baik dengan Hek I Kaipang, padahal Hek I Kaipang jelas berusaha memberontak. Ada gejalanya engkau berpihak kepada pemberontak, karena itu kamu di tahan sambil menanti sidang pengadilan. Demikian pula keluarga akan di tahan di penjara!”

Keputusan kaisar tidak dapat dibantah dan demikianlah, Gubernur Yen Kan dan tiga orang isterinya lalu lalu di masukkan ke dalam tahanan. Gubernur itu tidak kelihatan sedih, bahkan merasa bersukur bahwa kedua orang anaknya berhasil lolos dari tangkapan dan dia percaya bahwa mereka berdua tentu akan melanjutkan perjuangannya untuk menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dari tanah air. Dia tidak akan menyesal andaikata dia harus mati sekalipun!

********************

Penangkapan atas diri Gubernur Gak di Nam-kiang kemudian di susul penangkapan atas diri Gubernur Yen di Lok-yang menimbulkan kegemparan. Banyak pejabat tinggi menjadi khawatir. Bagaimanapun juga, belum ada bukti-bukti bahwa kedua Gubernur itu melakukan pemberontakan. Juga di terima kabar bahwa Coa-ciangkun tidak jadi berangkat ke kota raja atau jelasnya mengabaikan panggilan kaisar untuk menarik pasukan dan kembali ke kota raja!

Memang panggilan itu di anggap tidak masuk akal oleh para pejabat tinggi. Coa-ciangkun adalah seorang panglima yang berjasa besar, panglima yang selama ini telah menahan serangan Kerajaan Sun di perbatasan. Kalau tidak karena kehebatan Coa-ciangkun mengatur pasukan, tentu sudah lama musuh di selatan itu memasuki wilayah Toba karena pasukan Sun di kabarkan amat kuat. Hanya berkat kegagahan Coa-ciangkun saja maka Kerajaan Sun dapat di tahan. Dan sekarang kaisar menyuruhnya mundur dan menarik pasukan. Tidak masuk di akal!

Penangkapan atas diri kedua Gubernur itu menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan pejabat tinggi, apalagi penagkapan itu menjalar dengan di tangkapinya dan digantinya para panglima yang tadinya berkedudukan di Lok-yang. Semua pejabat khawatir kalau-kalau pada suatu hari mereka akan mengalami nasib yang sama. Dan mereka semua juga tahu bahwa semua ini adalah hasil ulah Koksu Lui Tat dan juga Perdana Menteri Ji.

Dunia kang-ouw juga geger. Mereka semua seperti sudah dapat merasakan mulainya api pemberontakan berkobar di mana-mana, ledakan-ledakan pemberontakan hanya tinggal menanti saatnya saja. Akan tetapi para tokoh kang-ouw sendiri masih bingung harus berpihak siapa. Dan untuk melegakan hati mereka, untuk mendapatkan pegangan, mereka memandang kepada pemilihan beng-cu yang segera akan tiba dan di adakan di Thai-san. Kalau sudah ada seorang beng-cu yang bijaksana dan pandai, tentu beng-cu itu akan dapat mengambil keputusan melalui musyawarah, tindakan apa yang sebaiknya harus di ambil oleh dunia kang-ouw menghadapi peristiwa dalam negeri itu.

Jauh hari sebelum hari pertemuan besar pemilihan beng-cu, Thai-san sudah mulai di banjiri pengunjung. Mereka terdiri dari banyak macam orang, ada yang aneh-aneh, ada pengemis, pendeta hwe-sio, to-su, ada pendeta wanita, dan ada pula yang berpakaian seperti petani, ada pula yang seperti sastrawan, dan seperti orang kalangan persilatan. Mereka ada yang datang berkelompok, ada pula yang perorangan.

Karena pertemuan itu adalah pertemuan yang dikehendaki semua orang, tanpa ada tuan rumah, akan tetapi undangan dilakukan oleh Hek I Kaipang, maka juga mereka tidak menerima penyambutan seperti biasa. Mereka mendirikan sendiri gubuk-gubuk darurat untuk tempat tinggal sambil menanti datangnya hari yang di tentukan.

Yang Cien yang mewakili golongan pengemis sudah tiba lebih dulu di ditu bersama Cu Lokai yang mewakili Hek I Kaipang yang lain. Mereka pun mendirikan gubuk-gubuk di dalam hutan di puncak pegunungan yang dingin itu karena pemilihan bengcu baru akan di adakan tiga hari kemudian. Tempat untuk melakukan pemilihan sudah dipersiapkan oleh Hek I Kaipang, yang menebangi pohon dan membuka sesuatu dataran yang cukup luas, dengan mendirikan panggung yang besar.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, seorang anggota pengemis memberitahu kepada Yang Cien bahwa ada seorang tokouw (Pendeta To) dan seorang gadis minta berjumpa dengannya. Yang Cien mengerti bahwa itu tentulah Kwe Sun Nio yang menuduhnya memperkosa dan gurunya. Maka dia bergegas keluar, menerima mereka di depan gubuk di bawah pohon besar dan dia memberi isyarat kepada semua pengemis untuk menjauhkan diri karena maklum bahwa apa yang di bicarakan tidak boleh terdengar orang lain.

“Selamat pagi, lo-cianpwe...“ kata Yang Cien sambil memberi hormat. “Dan Nona Kwe...“

Kedua orang wanita itu membalas penghormatannya dan wajah Sun Nio kemerahan, bahkan matanya juga menunjukkan bahwa gadis ini banyak menangis dan dalam keadaan bersedih sekali sehingga dia merasa kasihan.

“Selamat pagi, Yang-taihiap. Kami kira engkau sudah tahu apa maksud kunjungan kami ini...“ kata Im-yang To-kouw dengan suara tajam dan pandang mata penuh selidik.

Yang Cien bersikap serius. “Kalau tidak salah, tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa diri nona Kwe?”

“Yang-taihiap, kami bukan hendak mencari keributan. Antara engkau dan kami ada hubungan baik, yaitu sama-sama mendukung perjuangan untuk mengusir penjajah Mongol dari tanah air. Bahkan kita bersama menghadapi peristiwa besar pemilihan beng-cu dan kami pun mendukung kalau engkau yang dapat menjadi beng-cu untuk memimpin kita semua. Akan tetapi, peristiwa yang menimpa diri murid kami menjadi ganjalan dan kami harap agar taihiap suka mempertanggung-jawabnya. Ketahuilah, kehidupan kami sebagai pendeta mempunyai peraturan yang amat keras. Apa yang menimpa diri Sun Nio yang malang ini hanya dapat dibersihkan dengan dua jalan, yaitu ia menikah dengan yang bertanggung-jawab atau ia menghabisi nyawa sendiri untuk menebus aib dan tidak menodai nama perkumpulan kami. Nah, tegakah taihiap bersikap tidak adil dan membiarkannya menghabiskan nyawa sendiri...?”

“Aduh, lo-cian-pwe, apa yang dapat saya katakan? Sungguh mati, saya berani bersumpah bahwa saya bukanlah pelakunya. Bukan saya yang melakukannya dan saya tidak tahu menahu sama sekali, bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan nona Kwe sejak kami saling jumpa di rumah Gubernur Gak dulu itu. Lalu bagaimana saya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan yang tidak saya lakukan?”

“Akan tetapi muridku ini mengatakan bahwa ada orang yang melihatmu!” desak Im-Yang To-kouw karena pertapa ini juga setuju sepenuhnya kalau muridnya menjadi isteri pemuda yang dikaguminya ini.

“Lo-cian-pwe, saya bukanlah orang macam itu. Saya tidak mungkin dapat melakukan perbuatan sekeji dan terkutuk itu, dan sayapun seorang yang bertanggung-jawab sepenuhnya atas segala perbuatan saya. Menurut keterangan nona Kwe, ketika peristiwa itu berlangsung ia sedang dalam keadaan pingsan. Berarti ia tidak melihat siapa pelakunya, artinya, boleh jadi saya, boleh jadi pula orang lain! Kemudian, ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa orang itu melihat saya melarikan diri! Ketahuilah, lo-cian-pwe' orang yang mengatakan itu adalah Lai Seng, dia kabarnya murid Toat-beng Giam-ong, Koksu Lui Tat dan dia seorang yang jahat sekali. Dia pernah menyusup ke dalam Hek I Kaipang dan membikin kacau sehingga terusir keluar. Orang macam dialah yang besar kemungkinan melakukan perbuatan terkutuk itu dan karena ia memang mendendam kepadaku karena kukalahkan dan ku usir dari Hek I Kaipang maka dia lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga lalu menyebut namaku. Mungkin ini juga suatu cara untuk mengadu domba antara Thian-li-pang dengan Hek I Kaipang. Pertimbangkanlah baik-baik, lo-cian-pwe dan engkau, Nona Kwe Sun Nio. Aku bersumpah tidak melakukan perbuatan itu...!”

Terdengar isak tangis Sun Nio dan Im-Yang To-kouw termenung. Ia dapat menerima alasan-alasan Yang Cien dan menjadi ragu. “Aihhh, Sun Nio, jangan-jangan anjing keparat Lai Seng itu yang justru melakukannya! Kita harus menyelidiki dulu sebelum menjatuhkan suatu keputusan...“

“Aihhhh, subo… bagaimana teecu ini…?” Sun Nio tersedu-sedu.

“Kwee-siocia, saya berjanji akan membantumu menyelidikinya!” kata Yang Cien dengan gemas. “Karena ini menyangkut fitnah atas nama saya pula. Tunggulah saja sampai pemilihan beng-cu ini selesai, aku akan menemui Lai Seng dan kalau perlu akan ku paksa dia mengaku bahwa semua itu fitnah belaka...!”

Sun Nio tidak menjawab lalu lari meninggalkan tempat itu sambil menangis. Hatinya hancur karena dengan hadirnya subonya tetap saja tidak dapat membujuk Yang Cien untuk mengawininya. Dan kalau benar Lai Seng yang melakukannya, ah, ia lebih baik mati daripada harus menikah dengan orang sejahat itu, melakukan fitnah kepada orang lain!

Ia harus mengetahui yang sebenarnya dan kalau sudah yakin bahwa Lai Seng yang melakukannya, ia harus membunuh jahanam itu. Kalau pelaku itu sudah dibunuhnya, maka baru impas dan ia sudah terlepas dari ada hukuman yang menjadi peraturan Thian-li-pang. Kalau ia melakukan perjinaan ia memang harus mati, akan tetapi ia tidak berdaya dan diperkosa orang selagi pingsan. Kalau ia sudah dapat membunuh pelakunya, maka impaslah sudah.

“Maafkan kami, taihiap. Pin-ni percaya akan semua keteranganmu dan hal ini akan kami selidiki lebih lanjut...“ kata Im-Yang To-kouw...