Social Items

PADA keesokan harinya tengah hari, penduduk dusun itu kembali menjadi panik karena benar seperti mereka khawatirkan, datang pasukan yang sedikitnya seratus orang ke dusun itu. Pasukan ini di pimpin oleh seorang perwira gendut yang nampak bengis sekali dan begitu tiba di luar rumah kepala dusun, pasukan itu berhenti dan si perwira membentak dengan suara nyaring.

“Dimana pemberontak yang semalam membunuh prajurit-prajurit kami? keluarlah kalau tidak kami akan membakar semua rumah di dusun ini untuk memaksa kalian keluar!”

Ketika semua orang gemetaran dan tidak berani keluar, terdengar suara nyaring menjawab, “Akulah yang membunuh mereka!” dan Akauw sudah berdiri dengan tegak di depan perwira itu.

“Dan aku juga!” terdengar bentakan lain dan munculah seorang gadis cantik yang berdiri di dekat Akauw.

Perwira itu memandang dan dia begitu terkejut dan heran sehingga hampir dia terjatuh dari kudanya. Cepat dia melompat turun dan menghampiri Akauw dan Ji Goat. “Ahhh, bukankah engkau Cian-ciangkun dan Ji-Siocia?”

“Benar dan kamilah yang telah membunuh perampok-perampok itu. Jadi mereka itu adalah anak buahmu kau suruh merampoki penduduk dusun, merampok hewan ternak mereka dan memperkosa dan menculik anak gadis mereka? Begitukah?”

Pertanyaan yang di ajukan oleh Ji Goat ini membuat perwira itu kelihatan bingung dan gugup. “Ah, sama sekali tidak, Ji-Siocia. Mereka itu hanya iseng dan maklumlah, karena tugas mereka berat maka sekali waktu mereka ingin bersenang-senang“

“Bersenang-senang dengan menculik dan memperkosa gadis-gadis orang dusun? Dan berpesta pora menyembelih hewan ternak penduduk?” Ji Goat mendesak dengan kata-katanya dan perwira itu menjadi kehabisan akal untuk menjawab.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang tertawa, “Akauw, engkau sungguh mengecewakan gurumu!” dan muncullah Thian-te Ciu-kwi di antara para pasukan itu. Melihat gurunya, Akauw terkejut dan berkata sambil memberi hormat.

“Suhu…!”

“Bagus, beginikah engkau melaksanakan tugasmu? Hayo kau ikut pulang ke kota raja“

“Lo-cian-pwe, Kauw-ko sama sekali tidak bersalah. Dia melaksanakan tugas dengan baik. Ketahuilah, aku telah terluka oleh gerombolan pengacau, dan Kauw-ko membawaku ke sini untuk berobat. Kami telah menumpang tinggal di dusun ini kemudian malam tadi , dusun ini di serbu perampok yang merampas kambing dan ayam, bahkan menculik dan memperkosa wanita. Kami berdua turun tangan dan akibatnya beberapa orang perampok tewas. Sama sekali kami tidak menduga bahwa perampok itu adalah tentara anak buah perwira ini. Salahkah kami? Harap kau jangan menyalahkan muridmu...“

“Ji-siocia, tunggu sampai aku melaporkan kepada gurumu dan ayahmu. Akauw, mari kita pulang ke kota raja dan engkau harus membuat laporan kepada Sri Baginda“

Akauw tidak berani membantah perintah gurunya. “Baiklah, suhu...“

Pada hari itu juga, Akauw dan Ji Goat pulang bersama pasukan itu. Mereka mendapatkan masing-masing seekor kuda dan dengan cepat mereka kembali ke kota raja.

Akauw lalu di bawa oleh gurunya dan oleh Koksu menghadap Sri baginda Kaisar untuk membuat laporan. Dengan terus terang dia melaporkan tentang apa yang di dengarnya dari janda itu.

“Yang Mulia, menurut apa yang hamba dengar, Gubernur Yen akan di dukung oleh seluruh rakyat dan melihat betapa orang-orang Hek I Kaipang menyerang hamba, jelaslah bahwa Hek I Kaipang mendukung Gubernur Yen“

“Hemmm, kalau begitu, Koksu. Kerahkan pasukan dan cepat serbu Lok-yang sebelum mereka sempat memberontak. Ganti semua panglimanya dan tangkap seluruh keluarga Gubernur Yen, hukum mati semuanya, tidak boleh seorangpun lolos!“

Persidangan itu di bubarkan dan Akauw segera di omeli gurunya. “Akauw, apa yang kau lakukan di dusun itu suatu kesalahan besar. mana ada panglima membunuhi anak buahnya sendiri?“

“Akan tetapi suhu, mereka adalah orang-orang jahat yang melakukan perbuatan keji. Sudah sepatutnya kalau mereka di basmi!”

“Huushh, enak saja engkau bicara. Engkau adalah atasan mereka, kalau mereka melakukan kesalahan, berarti engkau yang paling bersalah di antara mereka. Sebaiknya engkau melaporkan kalau melihat mereka melakukan pelanggaran, agar mereka di hukum, bukannya engkau turun tangan sendiri membunuhi mereka. Pula, apa yang mereka lakukan itu tidak dapat terlalu di salahkan. Mengambili ayam dan kambing rakyat sudah semestinya, mereka berjaga dengan keras demi keamanan rakyat, apa salahnya kalau rakyat menyumbang mereka dengan sedikit makanan?”

“Tapi mereka juga menculik dan memperkosa wanita!”

“Ha-ha-ha itu sudah biasa. Mereka jauh dari keluarga. Mereka sudah lama di jauhkan dari wanita, maka sekali-sekali boleh saja mereka bersenang-senang, ha-ha-ha!”

Akauw merasa muak sekali mendengar pendapat gurunya ini. Pelajaran tentang susila yang di dapat dari kakekk Yang Kok It, terutama dari suhengnya, masih membekas di hatinya dan apa yang di ucapkan gurunya ini benar-benar membuatnya merasa penasaran dan muak.

“Suhu, sekarang juga aku keluar dari pekerjaanku sebagai panglima!”

Thian-te Ciu-kwi yang sedang tertawa itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan dia menoleh ke kanan kiri. Mereka berada di taman ruang gedung koksu dan tidak ada yang mendengar ucapan muridnya itu.

“Akauw, apakah engkau sudah gila? Engkau mendapatkan kedudukan terhormat di sini, dan engkau hendak keluar?”

“Benar, suhu. Sebetulnya sejak lama aku hendak keluar. Aku berada di sini hanya mengikuti suhu dan pernah aku mengatakan kepada suhu bahwa aku mau bekerja asalkan tidak di suruh melakukan perbuatan jahat . Aku telah melaksanakan tugas dengan baik. Akan tetapi sekarang suhu membenarkan perbuatan yang amat jahat, dan aku tidak ingin terlibat“

“Lalu engkau hendak pergi kemana?” sepasang mata itu memandang penuh selidik dan kecurigaan...“ Aku hendak melanjutkan perantauan ku dan aku tidak mau lagi kut suhu“

“Hemm, engkau murid murtad! Kalau engkau pergi, serahkan Hek-liong Po-kiam kepadaku!”

“Tidak suhu. Ini adalah pedangku sendiri, aku tidak mendapatkannya dari siapapun juga. Tidak akan ku berikan kepada siapapun“

“Akauw, engkau tidak menaati perintahku! Berikan pedang itu kepadaku dan aku akan mengampunimu, dan membiarkan engkau pergi. Semestinya aku menghukum mu karena engkau tidak taat, akan tetapi kalau kau berikan pedang itu, ku ijinkan engkau pergi“

“Tidak, suhu. Pedang ini bukan pemberian suhu, tidak akan kuberikan kepadamu“

“Eh, berani engkau membantah perintahku? Berikan, atau aku hendak menggunakan kekerasan untuk mendapatkannya!”

Setelah berkata demikian, Thian-te Ciu-kwi mencabut pedangnya dengan sikap mengancam. “Suhu, terlalu mendesak. Apa boleh buat, kalau suhu hendak merampas Hek-liong Po-kiam, aku akan mempertahankan!” kata Akauw yang kini yakin benar bahwa dia telah keliru memilih guru, dia mengambil keputusan untuk melawan.

Selama ini dia memang memperoleh petunjuk untuk memperdalam ilmu silatnya dari Thian-te Ciu-kwi, akan tetapi sebaliknya gurunya itu juga mempelajari ilmu silat yang di latihnya dari lukisan-lukisan dinding dalam guha. Hanya suhunya tidak dapat melatih ilmu itu karena setiap kali suhunya mencoba untuk berlatih, selalu suhunya merasa tenaganya membalik. Melihat betapa suhunya hendak memaksanya menyerahkan Hek-liong po-kiam, dia bertekad untuk mempertahankannya.

“Singggg…!“ Diapun mencabut pedang itu dari sarungnya dan bersiap siaga untuk melawan gurunya.

Pada saat itu terdengar suara tawa yang aneh, akan tetapi suara tawa itu mengandung getaran hebat sekali sehingga Akauw merasa jantungnya berdebar dan tubuhnya gemetar! Dan nampak bayangan hitam berkelebat menerjangnya. Karena dia masih terpengaruh suara ketawa tadi, gerakan Akauw kurang cepat dan tiba-tiba dia merasa lengannya yang memegang pedang menjadi lemas dan pedang itu tahu-tahu sudah berpindah tangan! Dia terkejut sekali dan memandang.

Seorang kakek raksasa yang berkulit hitam telah memegang pedangnya dan mengamati pedang itu sambil tertawa bergelak. “Bagus! Bagus sekali! Inilah pedang yang tepat untuk aku, ha-ha-ha-ha!”

Ketika Thian-te Ciu-kwi melihat orang hitam itu, dia pun terbelalak. Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam)…!”

“Ha-ha-ha, Ciu-kwi engkau masih mengenal aku? Bagus, bagus, ini membuktikan bahwa ingatanmu masih kuat. Belasan tahun telah lewat dan engkau masih ingat kepadaku!”

“Hek-liong-ong, engkau tidak boleh mengambil pedang itu!” kata Thian-te Ciu-kwi, akan tetapi ucapannya bernada lemah seolah dia takut kepada kakek raksasa hitam itu.

“Hemmm, pedang inipun bukan milikmu, melainkan milik orang muda ini. Engkau berani menghalangi aku! Boleh kau coba untuk merebutnya dari tanganku kalau berani!”

“Hek-liong-ong, pemuda ini adalah muridku. Lihatlah mukaku dan kembalikan pedang ini kepadanya“

“Ha-ha-ha, untuk kemudian engkau rampas darinya? Tidak, Ciu-kwi, tidak ada orang yang dapat mengambil pedang ini dariku!” kembali dia mengamati pedang itu dan melihat gambar ukiran naga di pedang hitam itu dan huruf-huruf kecil yang mengukir nama pedang. “Hek-liong Po-kiam menjadi milik Hek-liong-ong, sudah tepat sekali, bukan? Ha-ha-ha!”

“Kembalikan pedangku!” Bentak Akauw dan dengan nekad dia menubruk maju, menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng, tangan kanan membuat gerakan mendorong, tangan kiri membuat gerakan menarik kea rah pedang.

Kakek hitam itu terkejut bukan main. Dia dapat merasakan tenaga yang berlawanan itu, dan membuatnya terpaksa melangkah ke depan. Akan tetapi sebelum Akauw dapat merampas pedangnya, dia menggerakkan tangan kiri dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar kea rah Akauw, sehingga serangan Akauw dengan sendirinya gagal, kakek raksasa hitam itu memandang heran kepada Akauw dan dengan terkejut pula dia melirik ke arah Thian-te Ciu-kwi. Kalau muridnya memiliki pukulan yang begini aneh dan ampuh, apalagi gurunya. Agaknya pukulan Akauw tadi membuatnya jerih terhadap Thian-te Ciu-kwi, maka diapun lalu melompat jauh meninggalkan tempat itu.

“Jangan lari…!” Akauw melompat, mengejar akan tetapi kakek itu telah lenyap dari situ. Terpaksa Akauw kembali kepada gurunya. “Suhu, aku harus merebut kembali pedangku itu. Siapakah kakek itu dan dimana tinggalnya?”

Thian-te Ciu-kwi mengenal kesaktian Hek-liong-ong dan dia merasa tidak sanggup menandinginya. Apalagi dia, bahkan Toat-beng Giam-ong sendiri pernah tunduk kepada raksasa hitam itu, maka setelah kini Hek-liong Po-kiam terampas, biarlah Akauw yang berusaha mendapatkan kembali. Kalau sudah di tangan pemuda ini, mudah baginya untuk merampasnya kelak.

“Dia berjuluk Hek-liong-ong dan tempat tinggalnya di Pulau Naga di Laut Timur“

“Selamat tinggal, suhu. Aku akan pergi mencarinya! Harap pamitkan kepada keluarga Ji, terutama sekali nona Ji Goat. “Setelah berkata demikian. Akauw segera lari meninggalkan gurunya, menuju ke timur untuk mengejar kakek yang telah merampas Hek-liong Po-kiam.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

“Apa kau bilang…?” Perdana Menteri Ji membentak putrinya.

“Ayah, aku melihat dengan mata kepala sendiri. Rakyat amat membenci pemerintah penjajah Mongol. Kalau kita orang han mengabdi kepada pemerintah penjajah, rakyatpun akan membenci kita. Apakah ayah suka kalau rakyat mengatakan bahwa kita adalah pengkhianat bangsa yang membantu orang asing menjajah dan menyengsarakan mereka, bangsa kita sendiri?”

“Anak bodoh, mendengar ucapan rakyat yang bodoh pula. Kau kira untuk siapa aku ini bekerja kepada kerajaan ini sampai memperoleh kedudukan tinggi dan mulia? Justeru aku bekerja ini untuk rakyat. Dengan kedudukanku, aku dapat mengendalikan pemerintahan agar jangan sampai menyengsarakan rakyat jelata. Dan kau berani mengatakan bahwa aku membantu pemerintah yang menyengsarakan rakyat?”

“Akan tetapi buktinya, ayah. Sudah banyak aku melihat betapa para pembesar melakukan korup, menindas rakyat bahkan para serdadu biasa saja berani merampok dan membunuh semena-mena. Nama keluarga kita akan ikut di kutuk rakyat, ayah“

“Hemmm, kalau para pejabat korupsi, salahkukah itu? Dan kalau ada tentara yang berbuat jahat, salahkah itu? Itu semua hanya pelanggaran dan di jaman apa pun kejahatan selalu ada. Akan tetapi pemerintah tidak menyuruh anak buahnya bertindak begitu“

“Ayah, ini berarti bahwa pemerintahnya buruk. Dan ayah sebagai seorang yang duduk di atas, kenapa tidak mampu mencegah semua perbuatan itu? Karena kaisar juga tidak bertindak apa-apa.

Selama ini ku lihat kaisar hanya bersenang-senang, sama sekali tidak memperdulikan rakyat. bahkan sekarang aku menyangsikan Gubernur Yen. Gubernur itu di cinta rakyat, ayah dan kalau dia memberontak, tentu akan di dukung oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, sebelum terlambat, sebaiknya kalau ayah mengundurkan diri…“

“Plaakkk!” Perdana Menteri Ji menampar muka anaknya dan Ji Goat tidak mengelak maupun menangkis. Pipinya menjadi merah oleh tamparan itu.

“Apakah engkau sudah menjadi gila? Dengan susah payah selama bertahun-tahun, sejak engkau belum lahir, aku merangkak sampai akhirnya mencapai kedudukan ini dan engkau, anakku yang durhaka, malah minta aku untuk mengundurkan diri? Aih, ini tentu gara-gara engkau bergaul dengan murid Thian-te Ciu-kwi itu maka pikiranmu menjadi kotor. Mulai sekarang, engkau tidak boleh bergaul dengan pemuda kasar itu dan tahun depan kita rayakan pernikahanmu dengan Lai Seng, suhengmu itu yang sekarang mulai memegang jabatan“

Ji Goat mengerutkan alisnya. Ayahnya pernah membicarakan urusan perjodohannya dengan Lai Seng, murid gurunya atau suhengya yang jarang di temuinya itu karena Lai Seng selama ini tidak tinggal di kota raja. Akan tetapi dia tidak suka kepada suhengnya itu. Biarpun wajahnya tampan dan sikapnya halus seperti sastrawan, juga ilmu silatnya tinggi dengan senjata suling peraknya, akan tetapi ia tidak suka kepada pemuda itu, terutama sekali tidak menyukai pandangan mata yang berani dan kurang ajar itu.

“Ayah, aku tidak mau menikah dengan suheng Lai Seng. Aku tidak sudi!”

Setelah berkata demikian, Ji Goat meninggalkan ayahnya dan lari ke dalam kamarnya. Perdana Menteri Ji Menghela napas dan menggeleng kepalanya. Kini baru dia tahu bahwa dia selama ini terlalu memanjakan anak tunggalnya ini sehingga berani menentang dan membantahnya.

Perdana Menteri Ji dengan jengkel lalu memanggil kepala pengawalnya. Setelah kepala pengawal itu datang, dia memberi perintahnya. “Sejak saat ini, awasi nona, jangan sampai ia keluar dari rumah. Kalau ia memaksa, beritahukan aku!”

“Baik tai-jin“ Kepala pengawal itu mundur dan alisnya berkerut. Tugas yang amat berat, pikirnya. Nonanya itu galak dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, bagaimana mungkin melarangnya meninggalkan rumah. Seperti mengurung seekor harimau betina dengan kurungan rumput saja, pikirnya. Akan tetapi dia pun cepat memanggil semua anak buahnya dan menyampaikan perintah itu kepada mereka, dan mulailah saat itu semua pengawal mengamati dan menjaga kalau-kalau gadis itu pergi meninggalkan rumah.

Sementara itu, Ji Taijin berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu. Apa yang di ucapkan puterinya masih terngiang di telinganya. Anaknya itu dapat menjadi berbahaya sekali, pikirnya. Bayangkan kalau apa yang di ucapkan anaknya itu terdengar orang lain, kemudian menyampaikannya kepada Koksu atau kepada kaisar. Kedudukannya dapat terancam. Dia harus segera menikahkan puterinya itu agar tidak lagi menjadi binal seperti sekarang. Selama ini, puterinya sering mengenakan pakaian pria untuk mebantunya menyelidiki para pemberontak, siapa tahu hari ini menyatakan sukanya kepada pemberontak dan menasehati dia untuk mengundurkan diri. Mengundurkan diri? Setelah menjadi perdana menteri? Gila!

Kedudukan mendatangkan kekuasaan. dan setiap orang manusia mendambakan kekuasaan ini! Seorang pejabat ingin berkuasa terhadap bawahannya, seorang ayah ingin berkuasa terhadap anak-anaknya, seorang ibupun demikian bahkan kalau mungkin ingin berkuasa terhadap suaminya, seorang anak ingin berkuasa terhadap adik-adiknya atau teman-temannya.

Kekuasaan mendatangkan nikmat karena dengan kekuasaan itu orang bisa mendapatkan segala yang di kehendakinya. Oleh karena itu, wajar jika seseorang memegangi kedudukannya kuat-kuat, dan akan melakukan segala daya untuk tetap menguasainya. Kalau perlu dengan taruhan nyawa. Orang-orang saling berebutan sehingga terjadi bentrokan, bahkan perang.

Ketika sedang memperebutkan kekuasaan, orang mencari pendukung dengan sumpah bahwa kalau ia mendapatkan kekuasaan itu, dia akan menjadi penguasa yang adil dan yang melindungi kepentingan orang terbanyak. Akan tetapi sungguh sayang sekali, hanya dapat di hitung dengan jari saja penguasa yang benar-benar memegang janjinya itu. Biasanya, kalau kekuasaan sudah berada di tangannya, maka kekuasaan itu akan dipergunakan demi kepentingan diri sendiri, lalu kepentingan keluarganya, lalu kepentingan kelompoknya dan melupakan kepentingan orang terbanyak, yaitu rakyat jelata.

Dan kekuasaannya di perebutkan kembali, demikian seterusnya. Alangkah baiknya kalau penguasa mendapatkan kekuasaanya bukan karena memperebutkannya, kalau penguasa tetap memegang kekuasannya bukan karena menang berebut, melainkan dikehendaki oleh orang terbanyak atau rakyat jelata!


Ji Goat ingin menangis, ingin berteriak-teriak sekuatnya. Karena perasaan jengkel terhadap ayahnya. Biarpun ia sudah menduga lebih dahulu bahwa tidak mungkin ayahnya mau mendengar nasehatnya, akan tetapi setelah benar-benar ayahnya marah besar mendengar nasehatnya, ia menjadi jengkel. Apalagi ayahnya memaksanya harus menikah dengan Lai Seng! Berhari-hari ia tidak mau keluar dari kamarnya, bahkan makan pun minta di antar ke kamarnya.

Akan tetapi ia mempunyai seorang pelayan yang amat sayang dan setia kepadanya dan kepada pelayannya inilah ia minta agar suka mendengarkan segala berita dan menyampaikan kepadanya. Dan pada suatu hari ia mendengar berita bahwa Cian-ciangkun telah mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan kota raja!

Tentu saja Ji Goat menjadi terkejut bukan main. Ia telah mempunyai hubungan yang akrab dengan Akauw, maka mendengar bahwa Akauw pergi meninggalkan kota raja, hatinya menjadi semakin gelisah. Ia tahu bahwa Akauw mencintanya. Ia sendiri tidak tahu apakah ia juga mencinta pemuda yang jujur itu, akan tetapi yang jelas, tak dapat di ragukan lagi bahwa ia suka dan kagum kepada pemuda yang katanya dahulu hidup di antara kera itu. Selagi ia merasa gelisah, tiba-tiba pelayan mengumumkan bahwa Lai Seng datang berkunjung.

“Apa-apaan dia datang berkunjung? Beritahukan kepada ayah, bukan kepadaku!” katanya tegas kepada pelayan.

Ketika itu dara ini sedang melamun di taman, gelisah memikirkan berita tentang kepergian Akauw dari kota raja. Ia tidak tahu bahwa selama ini gerak-geriknya selalu di intai oleh para pengawal , bahkan ketika ida duduk di taman, para pengawalpun mengintai dari jauh, menjaga kalau-kalau gadis itu akan pergi meninggalkan rumah.

“Sumoi, aku datang bukan untuk ayahmu, bahkan oleh ayahmu aku di suruh menemuimu di sini“ tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dan muncullah Lai Seng.

Pemuda ini adalah pemuda yang pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan yang senjatanya suling perak. Akan tetapi sekali ini dia tidak menyamar. Dia memang seorang yang telah di angkat panglima oleh gurunya, yaitu oleh Koksu, jauh sebelum Akauw datang ke kota raja. Dia mendapat tugas untuk menyeludup di Hek I Kaipang namun usahanya itu gagal. Dan sekarang dia kembali ke kota raja dan kini pakaiannya gagah sekali, pakaian panglima dengan pedang panjang di pinggangnya. Pemuda ini memang cukup tampan, dan sebagai murid Lui Koksu tentu saja ilmunya lihai.

“Mau apa engkau datang ke sini, suheng? Aku tidak mengundangmu!” kata Ji Goat dengan suara yang angkuh.

“Aih, sumoi. Kita adalah saudara seperguruan, bukan? Mengapa engkau bersikap tidak ramah kepadaku? Apa salahku kepadamu, sumoi?”

“Apa salahmu, aku tidak peduli. Aku sedang pusing, pergilah tinggalkan aku seorang diri, suheng!”

“Kalau engkau sedang pusing, biarlah aku menjadi obatnya, kalau engkau sedang berduka, biarlah aku menjadi penghiburnya, sumoi. Aku akan meniupkan lagu untuk menggembirakan hatimu!”

Dan pemuda itu lalu mencabut suling peraknya dan meniup suling, melagukan sebuah lagu asmara yang sedang popular di saat itu. Ji Goat menjadi semakin gemas. Di tutupinya kedua telinganya dan ia berteriak-teriak, “Cukup, cukup, aku tidak mau mendengarkan lagi…!”

Lai Seng menghentikan tiupan sulingnya. “Aih, engkau sedang risau, sumoi? Biarlah ku bacakan sajak untukmu…“

Dia lalu membaca sajak dengan suara seperti orang bernyanyi. “Andaikan engkau menjadi air, adinda Biarlah aku menjadi telaganya Andaikan engkau menjadi api, adinda Biarlah aku menjadi bahan bakarnya. Andaikan engkau menjadi bunga, adinda. Biarlah aku menjadi tangkainya! Betapa hati ini ingin menyentuh Betapa hati ini ingin membelai Betapa...“

“Sudah cukup! Suheng, kalau engkau tidak lekas pergi dari sini, aku akan memanggil pengawal untuk mengusirmu!”

“Tapi, sumoi, pengawal-pengawalmu tidak akan berani mengusirku, karena aku memang di suruh ayahmu untuk menghiburmu“

Ji Goat membanting kaki kanannya tanda bahwa ia marah sekali. “Kalau begitu, biar aku yang mengusirmu!”

“Aihh, sumoi. Tidak tahukah engkau bahwa aku amat menyayangmu? Biarpun kita jarang sekali berjumpa, akan tetapi sejak pertama kali melihatmu, wajahmu selalu terukir di hatiku dan...“

“Cukup, aku tidak mau mendengarnya lagi!”

“Akan tetapi, sumoi. Ayahmu telah menjodohkan engkau dengan aku. Kalau kita sudah menjadi suami istri, bagaimana engkau tidak akan mendengarkan ucapanku. Sumoiku yang terkasih, tahun depan kita menikah…“

“Singgggg!” Ji Goat mencabut pedangnya. “Kalau engkau tidak menutup mulutmu dan pergi dari sini, aku akan melupakan bahwa engkau murid suhu dan aku akan menyerangmu“

“Aihhh, sumoi. Kita ini tunangan, calon suami istri“

“Aku bukan tunanganmu, aku tidak sudi berjodoh dengan engkau!“

“Akan tetapi ayahmu dan suhu sudah setuju, tinggal menentukan hari perkawinan kita…“

“Pergi atau tidak kau!” Ji Goat menodongkan pedangnya.

“Ha-ha, engkau mengajakku bermain-main? Mari kita latihan sebentar kalau itu yang kau hendaki, kekasihku!” Suling di tangan Lai Seng bergerak menangkis.

“Traannggg…!”

Bunga api berpijar ketika suling bertemu pedang. Hal ini membuat Ji Goat sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan iapun menyerang kalang kabut dengan marah sekali. Berulang kali terdengar bunyi nyaring ketika pedang bertemu suling dan kedua orang ini memang memiliki ilmu silat yang sama, bahkan tingkat mereka juga tidak berselisih jauh. Mungkin Lai Seng menang tenaga, akan tetapi sebaliknya Ji Goat menang cepat, maka terjadilah pertandingan yang seru. Mereka bukan lagi main-main atau berlatih karena desakan Ji Goat amat berbahaya dan membuat Lai Seng harus melindungi dirinya benar-benar. Semua itu nampak oleh pengawal yang segera melapor kepada Perdana Menteri Ji. Orang tua ini lalu tergopoh-gopoh lari memasuki taman dan berteriak.

“Ji Goat, hentikan ini…!” Dia membentak.

Mendengar bentakan ayahnya ini, Ji Goat menghentikan serangannya dan ia berdiri membelakangi ayahnya dengan wajah cemberut. Lai Seng cepat memberi hormat kepada Perdana Menteri itu.

“Ada apa ini, Lai Seng ?” Tanya sang perdana menteri, sambil memandang kepada pemuda itu.

“Tidak apa-apa, paman. Sumoi mengajak berlatih dan kami hanya berlatih silat“

“Tidak, ayah. Aku memang hendak membunuhnya!” Ji Goat berkata ketus.

Ayahnya terkejut dan berkata kepada Lai Seng dengan suara halus. “Lai Seng, engkau tinggalkan dulu kami berdua“

“Baik, paman. Sampai berjumpa kembali, sumoi“

Biarpun tidak mendapat jawaban, namun pemuda itu tetap tersenyum dan pergi meninggalkan mereka. Setelah pemuda itu pergi, Menteri Ji marah kepada puterinya. “Ji Goat, sikapmu ini sudah keterlaluan, apa kesalahan Lai Seng sehingga engkau bersikap seburuk ini?”

“Dia mengganggu ketenanganku di sini ayah. Tidak mau ku usir pergi. Ayah, aku tidak sudi menikah dengan orang itu“

“Ji Goat, pertunanganmu sudah kami bicarakan dengan matang. Aku dan gurumu sudah setuju. Apakah engkau hendak membantah ayahmu dan juga gurumu. Anak dan murid macam apa engkau ini? Kalau Koksu mendengat tentang sikapmu kepada muridnya yang sudah di anggap puteranya itu, tentu aku menjadi tidak enak kepadanya“

“Aku tidak peduli, ayah. Juga kepada suhu akan ku katakana bahwa aku tidak sudi menikah dengan suheng!”

“Anak durhaka! Engkau yang selama ini ku sayang. Kini, berani membantah kehendak orang tua?” Perdana Menteri Ji yang biasanya amat memanjakan Ji Goat, kini marah benar-benar dan lari ke kamarnya.

Perdana Menteri Ji memanggil para pengawalnya dan sekali lagi menekankan agar menjaga dengan hati-hati. Siang malam puterinya yang tinggal di kamarnya itu harus di awasi secara diam-diam. “kalau sampai ia melarikan diri, kalian harus mencegahnya, kalau perlu dengan kekerasan mengepungnya. Awas, kalau sampai ia lolos dan lari, kalian akan mendapat hukuman berat...“

Tentu saja para pengawal menjadi khawatir sekali. Bagaimana mungkin menghalangi kalau puteri itu hendak melarikan diri? Mereka lalu memasang penjagaan siang malam dengan bergilir, bahkan komandan pengawal tidak pernah pulang ke rumahnya, melainkan terus ikut menjaga. Semua orang menjadi sibuk dengan urusan itu.

Sementara itu di dalam kamarnya Ji Goat menangis. Gadis ini jarang menangis. Ia adalah seorang yang sejak kecil mempelajari ilmu silat dan menjunjung tinggi kegagahan, maka sejak kecil ia pantang untuk menjadi cengeng seperti anak-anak perempuan lainnya. Akan tetapi sekali ini ia menangis terisak–isak. Ia marah sekali dan yang membuatnya bersedih adalah karena ia memikirkan ayahnya. Ia amat sayang kepada ayahnya, lebih sayang daripada kepada ibunya.

Ayahnya sejak kecil amat memanjakannya dan sekarang ayahnya berubah sikap menjadi galak dan hendak memaksanya menikah dengan seorang pria yang tidak di sukainya. Ia mengambil keputusan untuk minggat, akan tetapi kalau teringat kepada ayahnya yang sudah tua, ia menangis sedih. Ayahnya tidak mau mengundurkan diri, berarti akan tetap menjadi Perdana Menteri. Bagaimana kalau sampai terjadi pemberontakan dan ayahnya menjadi korban kemarahan rakyat? Ia menjadi sedih sekali...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 14

PADA keesokan harinya tengah hari, penduduk dusun itu kembali menjadi panik karena benar seperti mereka khawatirkan, datang pasukan yang sedikitnya seratus orang ke dusun itu. Pasukan ini di pimpin oleh seorang perwira gendut yang nampak bengis sekali dan begitu tiba di luar rumah kepala dusun, pasukan itu berhenti dan si perwira membentak dengan suara nyaring.

“Dimana pemberontak yang semalam membunuh prajurit-prajurit kami? keluarlah kalau tidak kami akan membakar semua rumah di dusun ini untuk memaksa kalian keluar!”

Ketika semua orang gemetaran dan tidak berani keluar, terdengar suara nyaring menjawab, “Akulah yang membunuh mereka!” dan Akauw sudah berdiri dengan tegak di depan perwira itu.

“Dan aku juga!” terdengar bentakan lain dan munculah seorang gadis cantik yang berdiri di dekat Akauw.

Perwira itu memandang dan dia begitu terkejut dan heran sehingga hampir dia terjatuh dari kudanya. Cepat dia melompat turun dan menghampiri Akauw dan Ji Goat. “Ahhh, bukankah engkau Cian-ciangkun dan Ji-Siocia?”

“Benar dan kamilah yang telah membunuh perampok-perampok itu. Jadi mereka itu adalah anak buahmu kau suruh merampoki penduduk dusun, merampok hewan ternak mereka dan memperkosa dan menculik anak gadis mereka? Begitukah?”

Pertanyaan yang di ajukan oleh Ji Goat ini membuat perwira itu kelihatan bingung dan gugup. “Ah, sama sekali tidak, Ji-Siocia. Mereka itu hanya iseng dan maklumlah, karena tugas mereka berat maka sekali waktu mereka ingin bersenang-senang“

“Bersenang-senang dengan menculik dan memperkosa gadis-gadis orang dusun? Dan berpesta pora menyembelih hewan ternak penduduk?” Ji Goat mendesak dengan kata-katanya dan perwira itu menjadi kehabisan akal untuk menjawab.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang tertawa, “Akauw, engkau sungguh mengecewakan gurumu!” dan muncullah Thian-te Ciu-kwi di antara para pasukan itu. Melihat gurunya, Akauw terkejut dan berkata sambil memberi hormat.

“Suhu…!”

“Bagus, beginikah engkau melaksanakan tugasmu? Hayo kau ikut pulang ke kota raja“

“Lo-cian-pwe, Kauw-ko sama sekali tidak bersalah. Dia melaksanakan tugas dengan baik. Ketahuilah, aku telah terluka oleh gerombolan pengacau, dan Kauw-ko membawaku ke sini untuk berobat. Kami telah menumpang tinggal di dusun ini kemudian malam tadi , dusun ini di serbu perampok yang merampas kambing dan ayam, bahkan menculik dan memperkosa wanita. Kami berdua turun tangan dan akibatnya beberapa orang perampok tewas. Sama sekali kami tidak menduga bahwa perampok itu adalah tentara anak buah perwira ini. Salahkah kami? Harap kau jangan menyalahkan muridmu...“

“Ji-siocia, tunggu sampai aku melaporkan kepada gurumu dan ayahmu. Akauw, mari kita pulang ke kota raja dan engkau harus membuat laporan kepada Sri Baginda“

Akauw tidak berani membantah perintah gurunya. “Baiklah, suhu...“

Pada hari itu juga, Akauw dan Ji Goat pulang bersama pasukan itu. Mereka mendapatkan masing-masing seekor kuda dan dengan cepat mereka kembali ke kota raja.

Akauw lalu di bawa oleh gurunya dan oleh Koksu menghadap Sri baginda Kaisar untuk membuat laporan. Dengan terus terang dia melaporkan tentang apa yang di dengarnya dari janda itu.

“Yang Mulia, menurut apa yang hamba dengar, Gubernur Yen akan di dukung oleh seluruh rakyat dan melihat betapa orang-orang Hek I Kaipang menyerang hamba, jelaslah bahwa Hek I Kaipang mendukung Gubernur Yen“

“Hemmm, kalau begitu, Koksu. Kerahkan pasukan dan cepat serbu Lok-yang sebelum mereka sempat memberontak. Ganti semua panglimanya dan tangkap seluruh keluarga Gubernur Yen, hukum mati semuanya, tidak boleh seorangpun lolos!“

Persidangan itu di bubarkan dan Akauw segera di omeli gurunya. “Akauw, apa yang kau lakukan di dusun itu suatu kesalahan besar. mana ada panglima membunuhi anak buahnya sendiri?“

“Akan tetapi suhu, mereka adalah orang-orang jahat yang melakukan perbuatan keji. Sudah sepatutnya kalau mereka di basmi!”

“Huushh, enak saja engkau bicara. Engkau adalah atasan mereka, kalau mereka melakukan kesalahan, berarti engkau yang paling bersalah di antara mereka. Sebaiknya engkau melaporkan kalau melihat mereka melakukan pelanggaran, agar mereka di hukum, bukannya engkau turun tangan sendiri membunuhi mereka. Pula, apa yang mereka lakukan itu tidak dapat terlalu di salahkan. Mengambili ayam dan kambing rakyat sudah semestinya, mereka berjaga dengan keras demi keamanan rakyat, apa salahnya kalau rakyat menyumbang mereka dengan sedikit makanan?”

“Tapi mereka juga menculik dan memperkosa wanita!”

“Ha-ha-ha itu sudah biasa. Mereka jauh dari keluarga. Mereka sudah lama di jauhkan dari wanita, maka sekali-sekali boleh saja mereka bersenang-senang, ha-ha-ha!”

Akauw merasa muak sekali mendengar pendapat gurunya ini. Pelajaran tentang susila yang di dapat dari kakekk Yang Kok It, terutama dari suhengnya, masih membekas di hatinya dan apa yang di ucapkan gurunya ini benar-benar membuatnya merasa penasaran dan muak.

“Suhu, sekarang juga aku keluar dari pekerjaanku sebagai panglima!”

Thian-te Ciu-kwi yang sedang tertawa itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan dia menoleh ke kanan kiri. Mereka berada di taman ruang gedung koksu dan tidak ada yang mendengar ucapan muridnya itu.

“Akauw, apakah engkau sudah gila? Engkau mendapatkan kedudukan terhormat di sini, dan engkau hendak keluar?”

“Benar, suhu. Sebetulnya sejak lama aku hendak keluar. Aku berada di sini hanya mengikuti suhu dan pernah aku mengatakan kepada suhu bahwa aku mau bekerja asalkan tidak di suruh melakukan perbuatan jahat . Aku telah melaksanakan tugas dengan baik. Akan tetapi sekarang suhu membenarkan perbuatan yang amat jahat, dan aku tidak ingin terlibat“

“Lalu engkau hendak pergi kemana?” sepasang mata itu memandang penuh selidik dan kecurigaan...“ Aku hendak melanjutkan perantauan ku dan aku tidak mau lagi kut suhu“

“Hemm, engkau murid murtad! Kalau engkau pergi, serahkan Hek-liong Po-kiam kepadaku!”

“Tidak suhu. Ini adalah pedangku sendiri, aku tidak mendapatkannya dari siapapun juga. Tidak akan ku berikan kepada siapapun“

“Akauw, engkau tidak menaati perintahku! Berikan pedang itu kepadaku dan aku akan mengampunimu, dan membiarkan engkau pergi. Semestinya aku menghukum mu karena engkau tidak taat, akan tetapi kalau kau berikan pedang itu, ku ijinkan engkau pergi“

“Tidak, suhu. Pedang ini bukan pemberian suhu, tidak akan kuberikan kepadamu“

“Eh, berani engkau membantah perintahku? Berikan, atau aku hendak menggunakan kekerasan untuk mendapatkannya!”

Setelah berkata demikian, Thian-te Ciu-kwi mencabut pedangnya dengan sikap mengancam. “Suhu, terlalu mendesak. Apa boleh buat, kalau suhu hendak merampas Hek-liong Po-kiam, aku akan mempertahankan!” kata Akauw yang kini yakin benar bahwa dia telah keliru memilih guru, dia mengambil keputusan untuk melawan.

Selama ini dia memang memperoleh petunjuk untuk memperdalam ilmu silatnya dari Thian-te Ciu-kwi, akan tetapi sebaliknya gurunya itu juga mempelajari ilmu silat yang di latihnya dari lukisan-lukisan dinding dalam guha. Hanya suhunya tidak dapat melatih ilmu itu karena setiap kali suhunya mencoba untuk berlatih, selalu suhunya merasa tenaganya membalik. Melihat betapa suhunya hendak memaksanya menyerahkan Hek-liong po-kiam, dia bertekad untuk mempertahankannya.

“Singggg…!“ Diapun mencabut pedang itu dari sarungnya dan bersiap siaga untuk melawan gurunya.

Pada saat itu terdengar suara tawa yang aneh, akan tetapi suara tawa itu mengandung getaran hebat sekali sehingga Akauw merasa jantungnya berdebar dan tubuhnya gemetar! Dan nampak bayangan hitam berkelebat menerjangnya. Karena dia masih terpengaruh suara ketawa tadi, gerakan Akauw kurang cepat dan tiba-tiba dia merasa lengannya yang memegang pedang menjadi lemas dan pedang itu tahu-tahu sudah berpindah tangan! Dia terkejut sekali dan memandang.

Seorang kakek raksasa yang berkulit hitam telah memegang pedangnya dan mengamati pedang itu sambil tertawa bergelak. “Bagus! Bagus sekali! Inilah pedang yang tepat untuk aku, ha-ha-ha-ha!”

Ketika Thian-te Ciu-kwi melihat orang hitam itu, dia pun terbelalak. Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam)…!”

“Ha-ha-ha, Ciu-kwi engkau masih mengenal aku? Bagus, bagus, ini membuktikan bahwa ingatanmu masih kuat. Belasan tahun telah lewat dan engkau masih ingat kepadaku!”

“Hek-liong-ong, engkau tidak boleh mengambil pedang itu!” kata Thian-te Ciu-kwi, akan tetapi ucapannya bernada lemah seolah dia takut kepada kakek raksasa hitam itu.

“Hemmm, pedang inipun bukan milikmu, melainkan milik orang muda ini. Engkau berani menghalangi aku! Boleh kau coba untuk merebutnya dari tanganku kalau berani!”

“Hek-liong-ong, pemuda ini adalah muridku. Lihatlah mukaku dan kembalikan pedang ini kepadanya“

“Ha-ha-ha, untuk kemudian engkau rampas darinya? Tidak, Ciu-kwi, tidak ada orang yang dapat mengambil pedang ini dariku!” kembali dia mengamati pedang itu dan melihat gambar ukiran naga di pedang hitam itu dan huruf-huruf kecil yang mengukir nama pedang. “Hek-liong Po-kiam menjadi milik Hek-liong-ong, sudah tepat sekali, bukan? Ha-ha-ha!”

“Kembalikan pedangku!” Bentak Akauw dan dengan nekad dia menubruk maju, menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng, tangan kanan membuat gerakan mendorong, tangan kiri membuat gerakan menarik kea rah pedang.

Kakek hitam itu terkejut bukan main. Dia dapat merasakan tenaga yang berlawanan itu, dan membuatnya terpaksa melangkah ke depan. Akan tetapi sebelum Akauw dapat merampas pedangnya, dia menggerakkan tangan kiri dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar kea rah Akauw, sehingga serangan Akauw dengan sendirinya gagal, kakek raksasa hitam itu memandang heran kepada Akauw dan dengan terkejut pula dia melirik ke arah Thian-te Ciu-kwi. Kalau muridnya memiliki pukulan yang begini aneh dan ampuh, apalagi gurunya. Agaknya pukulan Akauw tadi membuatnya jerih terhadap Thian-te Ciu-kwi, maka diapun lalu melompat jauh meninggalkan tempat itu.

“Jangan lari…!” Akauw melompat, mengejar akan tetapi kakek itu telah lenyap dari situ. Terpaksa Akauw kembali kepada gurunya. “Suhu, aku harus merebut kembali pedangku itu. Siapakah kakek itu dan dimana tinggalnya?”

Thian-te Ciu-kwi mengenal kesaktian Hek-liong-ong dan dia merasa tidak sanggup menandinginya. Apalagi dia, bahkan Toat-beng Giam-ong sendiri pernah tunduk kepada raksasa hitam itu, maka setelah kini Hek-liong Po-kiam terampas, biarlah Akauw yang berusaha mendapatkan kembali. Kalau sudah di tangan pemuda ini, mudah baginya untuk merampasnya kelak.

“Dia berjuluk Hek-liong-ong dan tempat tinggalnya di Pulau Naga di Laut Timur“

“Selamat tinggal, suhu. Aku akan pergi mencarinya! Harap pamitkan kepada keluarga Ji, terutama sekali nona Ji Goat. “Setelah berkata demikian. Akauw segera lari meninggalkan gurunya, menuju ke timur untuk mengejar kakek yang telah merampas Hek-liong Po-kiam.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

“Apa kau bilang…?” Perdana Menteri Ji membentak putrinya.

“Ayah, aku melihat dengan mata kepala sendiri. Rakyat amat membenci pemerintah penjajah Mongol. Kalau kita orang han mengabdi kepada pemerintah penjajah, rakyatpun akan membenci kita. Apakah ayah suka kalau rakyat mengatakan bahwa kita adalah pengkhianat bangsa yang membantu orang asing menjajah dan menyengsarakan mereka, bangsa kita sendiri?”

“Anak bodoh, mendengar ucapan rakyat yang bodoh pula. Kau kira untuk siapa aku ini bekerja kepada kerajaan ini sampai memperoleh kedudukan tinggi dan mulia? Justeru aku bekerja ini untuk rakyat. Dengan kedudukanku, aku dapat mengendalikan pemerintahan agar jangan sampai menyengsarakan rakyat jelata. Dan kau berani mengatakan bahwa aku membantu pemerintah yang menyengsarakan rakyat?”

“Akan tetapi buktinya, ayah. Sudah banyak aku melihat betapa para pembesar melakukan korup, menindas rakyat bahkan para serdadu biasa saja berani merampok dan membunuh semena-mena. Nama keluarga kita akan ikut di kutuk rakyat, ayah“

“Hemmm, kalau para pejabat korupsi, salahkukah itu? Dan kalau ada tentara yang berbuat jahat, salahkah itu? Itu semua hanya pelanggaran dan di jaman apa pun kejahatan selalu ada. Akan tetapi pemerintah tidak menyuruh anak buahnya bertindak begitu“

“Ayah, ini berarti bahwa pemerintahnya buruk. Dan ayah sebagai seorang yang duduk di atas, kenapa tidak mampu mencegah semua perbuatan itu? Karena kaisar juga tidak bertindak apa-apa.

Selama ini ku lihat kaisar hanya bersenang-senang, sama sekali tidak memperdulikan rakyat. bahkan sekarang aku menyangsikan Gubernur Yen. Gubernur itu di cinta rakyat, ayah dan kalau dia memberontak, tentu akan di dukung oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, sebelum terlambat, sebaiknya kalau ayah mengundurkan diri…“

“Plaakkk!” Perdana Menteri Ji menampar muka anaknya dan Ji Goat tidak mengelak maupun menangkis. Pipinya menjadi merah oleh tamparan itu.

“Apakah engkau sudah menjadi gila? Dengan susah payah selama bertahun-tahun, sejak engkau belum lahir, aku merangkak sampai akhirnya mencapai kedudukan ini dan engkau, anakku yang durhaka, malah minta aku untuk mengundurkan diri? Aih, ini tentu gara-gara engkau bergaul dengan murid Thian-te Ciu-kwi itu maka pikiranmu menjadi kotor. Mulai sekarang, engkau tidak boleh bergaul dengan pemuda kasar itu dan tahun depan kita rayakan pernikahanmu dengan Lai Seng, suhengmu itu yang sekarang mulai memegang jabatan“

Ji Goat mengerutkan alisnya. Ayahnya pernah membicarakan urusan perjodohannya dengan Lai Seng, murid gurunya atau suhengya yang jarang di temuinya itu karena Lai Seng selama ini tidak tinggal di kota raja. Akan tetapi dia tidak suka kepada suhengnya itu. Biarpun wajahnya tampan dan sikapnya halus seperti sastrawan, juga ilmu silatnya tinggi dengan senjata suling peraknya, akan tetapi ia tidak suka kepada pemuda itu, terutama sekali tidak menyukai pandangan mata yang berani dan kurang ajar itu.

“Ayah, aku tidak mau menikah dengan suheng Lai Seng. Aku tidak sudi!”

Setelah berkata demikian, Ji Goat meninggalkan ayahnya dan lari ke dalam kamarnya. Perdana Menteri Ji Menghela napas dan menggeleng kepalanya. Kini baru dia tahu bahwa dia selama ini terlalu memanjakan anak tunggalnya ini sehingga berani menentang dan membantahnya.

Perdana Menteri Ji dengan jengkel lalu memanggil kepala pengawalnya. Setelah kepala pengawal itu datang, dia memberi perintahnya. “Sejak saat ini, awasi nona, jangan sampai ia keluar dari rumah. Kalau ia memaksa, beritahukan aku!”

“Baik tai-jin“ Kepala pengawal itu mundur dan alisnya berkerut. Tugas yang amat berat, pikirnya. Nonanya itu galak dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, bagaimana mungkin melarangnya meninggalkan rumah. Seperti mengurung seekor harimau betina dengan kurungan rumput saja, pikirnya. Akan tetapi dia pun cepat memanggil semua anak buahnya dan menyampaikan perintah itu kepada mereka, dan mulailah saat itu semua pengawal mengamati dan menjaga kalau-kalau gadis itu pergi meninggalkan rumah.

Sementara itu, Ji Taijin berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu. Apa yang di ucapkan puterinya masih terngiang di telinganya. Anaknya itu dapat menjadi berbahaya sekali, pikirnya. Bayangkan kalau apa yang di ucapkan anaknya itu terdengar orang lain, kemudian menyampaikannya kepada Koksu atau kepada kaisar. Kedudukannya dapat terancam. Dia harus segera menikahkan puterinya itu agar tidak lagi menjadi binal seperti sekarang. Selama ini, puterinya sering mengenakan pakaian pria untuk mebantunya menyelidiki para pemberontak, siapa tahu hari ini menyatakan sukanya kepada pemberontak dan menasehati dia untuk mengundurkan diri. Mengundurkan diri? Setelah menjadi perdana menteri? Gila!

Kedudukan mendatangkan kekuasaan. dan setiap orang manusia mendambakan kekuasaan ini! Seorang pejabat ingin berkuasa terhadap bawahannya, seorang ayah ingin berkuasa terhadap anak-anaknya, seorang ibupun demikian bahkan kalau mungkin ingin berkuasa terhadap suaminya, seorang anak ingin berkuasa terhadap adik-adiknya atau teman-temannya.

Kekuasaan mendatangkan nikmat karena dengan kekuasaan itu orang bisa mendapatkan segala yang di kehendakinya. Oleh karena itu, wajar jika seseorang memegangi kedudukannya kuat-kuat, dan akan melakukan segala daya untuk tetap menguasainya. Kalau perlu dengan taruhan nyawa. Orang-orang saling berebutan sehingga terjadi bentrokan, bahkan perang.

Ketika sedang memperebutkan kekuasaan, orang mencari pendukung dengan sumpah bahwa kalau ia mendapatkan kekuasaan itu, dia akan menjadi penguasa yang adil dan yang melindungi kepentingan orang terbanyak. Akan tetapi sungguh sayang sekali, hanya dapat di hitung dengan jari saja penguasa yang benar-benar memegang janjinya itu. Biasanya, kalau kekuasaan sudah berada di tangannya, maka kekuasaan itu akan dipergunakan demi kepentingan diri sendiri, lalu kepentingan keluarganya, lalu kepentingan kelompoknya dan melupakan kepentingan orang terbanyak, yaitu rakyat jelata.

Dan kekuasaannya di perebutkan kembali, demikian seterusnya. Alangkah baiknya kalau penguasa mendapatkan kekuasaanya bukan karena memperebutkannya, kalau penguasa tetap memegang kekuasannya bukan karena menang berebut, melainkan dikehendaki oleh orang terbanyak atau rakyat jelata!


Ji Goat ingin menangis, ingin berteriak-teriak sekuatnya. Karena perasaan jengkel terhadap ayahnya. Biarpun ia sudah menduga lebih dahulu bahwa tidak mungkin ayahnya mau mendengar nasehatnya, akan tetapi setelah benar-benar ayahnya marah besar mendengar nasehatnya, ia menjadi jengkel. Apalagi ayahnya memaksanya harus menikah dengan Lai Seng! Berhari-hari ia tidak mau keluar dari kamarnya, bahkan makan pun minta di antar ke kamarnya.

Akan tetapi ia mempunyai seorang pelayan yang amat sayang dan setia kepadanya dan kepada pelayannya inilah ia minta agar suka mendengarkan segala berita dan menyampaikan kepadanya. Dan pada suatu hari ia mendengar berita bahwa Cian-ciangkun telah mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan kota raja!

Tentu saja Ji Goat menjadi terkejut bukan main. Ia telah mempunyai hubungan yang akrab dengan Akauw, maka mendengar bahwa Akauw pergi meninggalkan kota raja, hatinya menjadi semakin gelisah. Ia tahu bahwa Akauw mencintanya. Ia sendiri tidak tahu apakah ia juga mencinta pemuda yang jujur itu, akan tetapi yang jelas, tak dapat di ragukan lagi bahwa ia suka dan kagum kepada pemuda yang katanya dahulu hidup di antara kera itu. Selagi ia merasa gelisah, tiba-tiba pelayan mengumumkan bahwa Lai Seng datang berkunjung.

“Apa-apaan dia datang berkunjung? Beritahukan kepada ayah, bukan kepadaku!” katanya tegas kepada pelayan.

Ketika itu dara ini sedang melamun di taman, gelisah memikirkan berita tentang kepergian Akauw dari kota raja. Ia tidak tahu bahwa selama ini gerak-geriknya selalu di intai oleh para pengawal , bahkan ketika ida duduk di taman, para pengawalpun mengintai dari jauh, menjaga kalau-kalau gadis itu akan pergi meninggalkan rumah.

“Sumoi, aku datang bukan untuk ayahmu, bahkan oleh ayahmu aku di suruh menemuimu di sini“ tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dan muncullah Lai Seng.

Pemuda ini adalah pemuda yang pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang dan yang senjatanya suling perak. Akan tetapi sekali ini dia tidak menyamar. Dia memang seorang yang telah di angkat panglima oleh gurunya, yaitu oleh Koksu, jauh sebelum Akauw datang ke kota raja. Dia mendapat tugas untuk menyeludup di Hek I Kaipang namun usahanya itu gagal. Dan sekarang dia kembali ke kota raja dan kini pakaiannya gagah sekali, pakaian panglima dengan pedang panjang di pinggangnya. Pemuda ini memang cukup tampan, dan sebagai murid Lui Koksu tentu saja ilmunya lihai.

“Mau apa engkau datang ke sini, suheng? Aku tidak mengundangmu!” kata Ji Goat dengan suara yang angkuh.

“Aih, sumoi. Kita adalah saudara seperguruan, bukan? Mengapa engkau bersikap tidak ramah kepadaku? Apa salahku kepadamu, sumoi?”

“Apa salahmu, aku tidak peduli. Aku sedang pusing, pergilah tinggalkan aku seorang diri, suheng!”

“Kalau engkau sedang pusing, biarlah aku menjadi obatnya, kalau engkau sedang berduka, biarlah aku menjadi penghiburnya, sumoi. Aku akan meniupkan lagu untuk menggembirakan hatimu!”

Dan pemuda itu lalu mencabut suling peraknya dan meniup suling, melagukan sebuah lagu asmara yang sedang popular di saat itu. Ji Goat menjadi semakin gemas. Di tutupinya kedua telinganya dan ia berteriak-teriak, “Cukup, cukup, aku tidak mau mendengarkan lagi…!”

Lai Seng menghentikan tiupan sulingnya. “Aih, engkau sedang risau, sumoi? Biarlah ku bacakan sajak untukmu…“

Dia lalu membaca sajak dengan suara seperti orang bernyanyi. “Andaikan engkau menjadi air, adinda Biarlah aku menjadi telaganya Andaikan engkau menjadi api, adinda Biarlah aku menjadi bahan bakarnya. Andaikan engkau menjadi bunga, adinda. Biarlah aku menjadi tangkainya! Betapa hati ini ingin menyentuh Betapa hati ini ingin membelai Betapa...“

“Sudah cukup! Suheng, kalau engkau tidak lekas pergi dari sini, aku akan memanggil pengawal untuk mengusirmu!”

“Tapi, sumoi, pengawal-pengawalmu tidak akan berani mengusirku, karena aku memang di suruh ayahmu untuk menghiburmu“

Ji Goat membanting kaki kanannya tanda bahwa ia marah sekali. “Kalau begitu, biar aku yang mengusirmu!”

“Aihh, sumoi. Tidak tahukah engkau bahwa aku amat menyayangmu? Biarpun kita jarang sekali berjumpa, akan tetapi sejak pertama kali melihatmu, wajahmu selalu terukir di hatiku dan...“

“Cukup, aku tidak mau mendengarnya lagi!”

“Akan tetapi, sumoi. Ayahmu telah menjodohkan engkau dengan aku. Kalau kita sudah menjadi suami istri, bagaimana engkau tidak akan mendengarkan ucapanku. Sumoiku yang terkasih, tahun depan kita menikah…“

“Singgggg!” Ji Goat mencabut pedangnya. “Kalau engkau tidak menutup mulutmu dan pergi dari sini, aku akan melupakan bahwa engkau murid suhu dan aku akan menyerangmu“

“Aihhh, sumoi. Kita ini tunangan, calon suami istri“

“Aku bukan tunanganmu, aku tidak sudi berjodoh dengan engkau!“

“Akan tetapi ayahmu dan suhu sudah setuju, tinggal menentukan hari perkawinan kita…“

“Pergi atau tidak kau!” Ji Goat menodongkan pedangnya.

“Ha-ha, engkau mengajakku bermain-main? Mari kita latihan sebentar kalau itu yang kau hendaki, kekasihku!” Suling di tangan Lai Seng bergerak menangkis.

“Traannggg…!”

Bunga api berpijar ketika suling bertemu pedang. Hal ini membuat Ji Goat sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan iapun menyerang kalang kabut dengan marah sekali. Berulang kali terdengar bunyi nyaring ketika pedang bertemu suling dan kedua orang ini memang memiliki ilmu silat yang sama, bahkan tingkat mereka juga tidak berselisih jauh. Mungkin Lai Seng menang tenaga, akan tetapi sebaliknya Ji Goat menang cepat, maka terjadilah pertandingan yang seru. Mereka bukan lagi main-main atau berlatih karena desakan Ji Goat amat berbahaya dan membuat Lai Seng harus melindungi dirinya benar-benar. Semua itu nampak oleh pengawal yang segera melapor kepada Perdana Menteri Ji. Orang tua ini lalu tergopoh-gopoh lari memasuki taman dan berteriak.

“Ji Goat, hentikan ini…!” Dia membentak.

Mendengar bentakan ayahnya ini, Ji Goat menghentikan serangannya dan ia berdiri membelakangi ayahnya dengan wajah cemberut. Lai Seng cepat memberi hormat kepada Perdana Menteri itu.

“Ada apa ini, Lai Seng ?” Tanya sang perdana menteri, sambil memandang kepada pemuda itu.

“Tidak apa-apa, paman. Sumoi mengajak berlatih dan kami hanya berlatih silat“

“Tidak, ayah. Aku memang hendak membunuhnya!” Ji Goat berkata ketus.

Ayahnya terkejut dan berkata kepada Lai Seng dengan suara halus. “Lai Seng, engkau tinggalkan dulu kami berdua“

“Baik, paman. Sampai berjumpa kembali, sumoi“

Biarpun tidak mendapat jawaban, namun pemuda itu tetap tersenyum dan pergi meninggalkan mereka. Setelah pemuda itu pergi, Menteri Ji marah kepada puterinya. “Ji Goat, sikapmu ini sudah keterlaluan, apa kesalahan Lai Seng sehingga engkau bersikap seburuk ini?”

“Dia mengganggu ketenanganku di sini ayah. Tidak mau ku usir pergi. Ayah, aku tidak sudi menikah dengan orang itu“

“Ji Goat, pertunanganmu sudah kami bicarakan dengan matang. Aku dan gurumu sudah setuju. Apakah engkau hendak membantah ayahmu dan juga gurumu. Anak dan murid macam apa engkau ini? Kalau Koksu mendengat tentang sikapmu kepada muridnya yang sudah di anggap puteranya itu, tentu aku menjadi tidak enak kepadanya“

“Aku tidak peduli, ayah. Juga kepada suhu akan ku katakana bahwa aku tidak sudi menikah dengan suheng!”

“Anak durhaka! Engkau yang selama ini ku sayang. Kini, berani membantah kehendak orang tua?” Perdana Menteri Ji yang biasanya amat memanjakan Ji Goat, kini marah benar-benar dan lari ke kamarnya.

Perdana Menteri Ji memanggil para pengawalnya dan sekali lagi menekankan agar menjaga dengan hati-hati. Siang malam puterinya yang tinggal di kamarnya itu harus di awasi secara diam-diam. “kalau sampai ia melarikan diri, kalian harus mencegahnya, kalau perlu dengan kekerasan mengepungnya. Awas, kalau sampai ia lolos dan lari, kalian akan mendapat hukuman berat...“

Tentu saja para pengawal menjadi khawatir sekali. Bagaimana mungkin menghalangi kalau puteri itu hendak melarikan diri? Mereka lalu memasang penjagaan siang malam dengan bergilir, bahkan komandan pengawal tidak pernah pulang ke rumahnya, melainkan terus ikut menjaga. Semua orang menjadi sibuk dengan urusan itu.

Sementara itu di dalam kamarnya Ji Goat menangis. Gadis ini jarang menangis. Ia adalah seorang yang sejak kecil mempelajari ilmu silat dan menjunjung tinggi kegagahan, maka sejak kecil ia pantang untuk menjadi cengeng seperti anak-anak perempuan lainnya. Akan tetapi sekali ini ia menangis terisak–isak. Ia marah sekali dan yang membuatnya bersedih adalah karena ia memikirkan ayahnya. Ia amat sayang kepada ayahnya, lebih sayang daripada kepada ibunya.

Ayahnya sejak kecil amat memanjakannya dan sekarang ayahnya berubah sikap menjadi galak dan hendak memaksanya menikah dengan seorang pria yang tidak di sukainya. Ia mengambil keputusan untuk minggat, akan tetapi kalau teringat kepada ayahnya yang sudah tua, ia menangis sedih. Ayahnya tidak mau mengundurkan diri, berarti akan tetap menjadi Perdana Menteri. Bagaimana kalau sampai terjadi pemberontakan dan ayahnya menjadi korban kemarahan rakyat? Ia menjadi sedih sekali...