Social Items

Ji Goat mengambil keputusan untuk minggat saja kalau ayahnya memaksa ia menikah dengan Lai Seng. Di cobanya untuk menghubungi ibunya malam itu. “Ibu, engkau harus menolongku, ibu“ tangisnya di pangkuan ibunya.

Ibunya mengelus rambut puterinya. “Ji Goat, ayahmu tentu tahu apa yang terbaik untukmu. Dia tidak akan sembarangan saja memilih suami untukmu. Aku mendengar bahwa pemuda she Lai itu kakak seperguruanmu sendiri dan kabarnya dia cukup tampan dan baik. Ayahmu tidak akan mencelakakan hidupmu, Ji Goat“

“Ah, ibu, mengapa malah membenarkan ayah? Aku minta agar ibu membujuk ayah supaya pertunangan itu di batalkan!”

“Akan tetapi kenapa, Ji Goat? Kenapa harus di batalkan?”

“Tidak mengertikah ibu, aku belum ingin menikah. Aku ingin tinggal bersama ayah dan ibu!”

“Ji Goat, usiamu sudah hamper sembilan belas tahun! Engkau tidak bisa selamanya tinggal bersama ayah dan ibumu...“

“Ibu, haruskah ku jelaskan lagi? Aku tidak suka padanya, aku tidak mencintanya. Haruskah aku menikah dengan pria yang tidak ku cinta? Lebih baik selama hidup aku tidak menikah!“

Gadis itu menangis lagi dan kini tangisnya lebih sedih karena ia tahu bahwa dari ibunya ia tidak dapat mengharapkan bantuan. Ibunya sependapat dengan ayahnya pula, andaikata tidak begitu, ibunya juga tidak berani membantah kehendak ayahnya. Satu-satunya jalan hanya minggat!

Ji Goat diam-diam mempersiapkan segalanya. Ia berkemas dan hanya pelayan yang dipercayainya itu saja yang mengetahui bahwa nonanya berkemas untuk pergi. Membawa buntalan pakaian, membawa perhiasan. Akan tetapi nonanya menanti saat baik. Darinya nonanya tahu bahwa penjagaan kini diperketat, dan agaknya para pengawal akan menghalangi kepergiannya.

Ji Goat menanti setelah malam gelap. Mendung di luar dan langit gelap tidak nampak sebauhpun bintang, apalagi bulan. Ia berpakaian ringkas, pakaian wanita biasa, bukan seperti pakaian pria seperti biasanya. Lalu ia keluar dari kamarnya, menggendong buntalan pakaiannya dan membawa pedang di punggungnya.

Baru beberapa langkah keluar dari kamarnya saja, sudah muncul beberapa orang pengawal dengan tombak di tangan. Mereka melintangkan tombak menghadang dan seorang di antara mereka berkata, “Atas perintah Perdana Menteri, tak seorangpun di perbolehkan meninggalkan rumah“

“Tahan, tidak lihat engkau dengan siapa engkau bicara?” bentak Ji Goat marah.

“Maaf, nona. Kami tahu bahwa kami berhadapan dengan Ji-siocia, puteri Perdana Menteri, akan tetapi ayah nona yang memerintahkan kami melarang nona keluar“

“Kalian berani?”

“Kami hanya menaati perintah!” kata seorang di antara mereka dan yang seorang lagi sudah meniup sempritan tanda bahaya.

“Haiitttt…!” Ji Goat bergerak di antara tombak mereka dan dua kali tangannya menampar, dua orang pengawal itu pun roboh. Akan tetapi kini datang banyak pengawal, dua puluh orang banyaknya dan mereka semua mengepung Ji Goat!

“Nona, di larang pergi, kalau memaksa, kami menggunakan kekerasan!”

Ji Goat maklum bahwa tidak dapat di bujuk orang-orang ini yang tentu saja takut kepada ayahnya, maka iapun sudah mencabut sepadang pedang pendeknya lalu mengamuk. Kasihan sekali para pasukan pengawal itu. Tentu saja mereka bukan lawan Ji Goat dan biarpun mereka berusaha melawan dan menangkis, tetap saja gulungan dua sinar pedang di tangan Ji Goat merobohkan mereka satu demi satu. Ada yang terluka ringan, akan tetapi ada pula yang parah sehingga tidak mampu bangkit kembali. Seorang pengawal cepat lari untuk melapor kepada Perdana Menteri Ji Sun Cai.

Akan tetapi ketika pembesar ini berlari ke tempat itu dia hanya melihat para pengawalnya rebah malang melintang dalam keadaan luka-luka, sedangkan Ji Goat sudah lama menghilang di kegelapan malam. Bukan main marahnya Perdana Menteri Ji. Malam itu juga dia mengundang Koksu Lui dan minta bantuannya agar menangkap kembali puterinya yang melarikan diri. Mendengar permintaan itu, Koksu Lui tersenyum.

Sepantasnya dia marah karena malam-malam begini Perdana Menteri Ji mengundangnya hanya untuk mengurus hal yang sekecil itu. Akan tetapi dia dapat mengerti betapa khawatir perdana menteri itu atas puterinya yna menjadi anak tunggal. Tentu saja dia tidak mau merendahkan diri untuk melakukan pengejaran terhadap muridnya dengan turun tangan sendiri.

“Harap taijin tidak khawatir“ katanya menghibur. “Saya akan menyuruh murid saya Lai Seng untuk melakukan pengejaran. Pemuda itu cukup cerdik dan tentu akan dapat melacaknya dan mengajaknya pulang“

“Kalau Lai Seng dapat mengajaknya pulang, saya akan langsung saja menikahkan mereka“ kata Ji-taijin sambil mengepal tinju.

“Itu baik sekali, taijin. Akan saya sampaikan kepada Lai Seng dan saya percaya janji itu akan membuat dia lebih bersemangat dalam usahanya mencari puterimu“

Lui-Koksu berpamit pulang dan malam itu juga dia memberitahu kepada Lai Seng dan menyuruh murid itu melacak jejak ji Goat. “Perdana Menteri sudah berjanji kepadaku bahwa kalau engkau dapat membawa pulang puterinya, engkau akan langsung saja di nikahkan dengan puterinya itu“

“Baik, suhu, malam ini juga teecu akan berangkat menacri sumoi Ji Goat!” kata pemuda itu penuh semangat. Memang dia sudah tergila-gila kepada gadis yang di tunangkan padanya itu, bukan saja tergila-gila atas kecantikannya, akan tetapi juga atas kedudukannya. Kalau dia menjadi mantu Perdana Menteri, tentu saja martabatnya akan terangkat naik tinggi sekali!

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Ji Goat melarikan diri ke selatan. Ia sudah mendengar beritanya akan Coa-ciangkun yang gagah perkasa, yang selama ini menjaga perbatasan selatan dengan gigih dari serangan Kerajaan Sun di selatan. Dan ia sudah mendengar pula bahwa Kaisar memerintahkan bahwa panglima itu harus mengundurkan pasukannya, bahkan ada berita panglima itu di panggil pulang ke kota raja.

Juga dia mendengar bahwa Gubernur Gak di Nam-kiang mempunyai hubungan baik dengan panglima itu, karenanya gubernur inipun menjadi perhatian ayahnya dan Koksu. Ia ingin pergi ke daerah itu, ingin menyelidiki apa sebetulnya yang telah terjadi disana. Ayahnya tidak menyimpan rahasia terhadap dirinya.

Pernah ayahnya menceritakan bahwa satu-satunya jalan untuk menguasai raja-raja muda di selatan, adalah mengajak damai dan bersatu dengan Kerajaan Sun yang selama ini menjadi saingan dan musuh besar. Karena itu, ayahnya dan Koksu mengusulkan kepada kaisar untuk memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Sun dank arena itulah maka Panglima Coa di minta untuk menarik mundur pasukannya.

Perbatasan antara wilayah Kerajaan Toba dan Kerajaan Sun terdapat di sepanjang Sungai Huai. Seberang utara termasuk wilayah Kerajaan Toba, dan Kerajaan Sun wilayahnya berada di sebelah selatan sungai itu. Seringkali terjadi perang dan pertempuran di sungai itu, dimana perahu-perahu mereka kadang menyeberang untuk melakukan penyerangan.

Akan tetapi semenjak Panglima Coa menerima perintah untuk mengundurkan pasukannya, tidak pernah lagi terjadi bentrokan. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Panglima Coa menarik mundur pasukannya. Dia tetap mempertahankan perbentengan di sebelah utara Sungai Huai. Wilayah ini termasuk wilayah daerah Nam-kiang yang di pimpin oleh Gubernur Gak.

Pada suatu hari, seorang gadis yang berpakaian sederhana namun bersih, berjalan seorang diri menuju ke kota Tiong-ho-koan yang berada kurang lebih tiga puluh li dari perbatasan. Gadis ini sederhana saja pakaiannya, namun wajahnya amat manis dan jelita sehingga agak janggal juga melihat sepasang pedang pendek yang tergantung di punggung, orangpun akan mengerti bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw yang ahli silat sehingga ia memiliki kepandaian dan mampu menjaga diri sendiri.

Kalau orang mengenal siapa gadis itu, dia tentu tidak merasa heran lagi karena gadis itu adalah Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji, murid Toat-beng Giam Ong atau Liu Kok-su yang sakti. Gadis ini memiliki ilmu kepandaian tinggi maka pantaslah kalau ia berani melakukan perjalanan sampai sedemikian jauhnya dari kota raja.

Pada masa itu, karena pemerintahan lemah, maka para penjahat bermunculan, banyak sekali gerombolan perampok merajalela dimana-mana. Ada perampok-perampok biasa yang memang terdiri dari orang jahat yang enggan bekerja melainkan hendak mencari kesenangan dengan mudah, yaitu mencuri dan merampok. Ada pula perampok berpakaian seragam, yaitu para anak buah pasukan yang suka meliar dan merampok, mengandalkan pakaian dan gerombolan mereka.

Ketika Ji Goat berjalan seorang diri di lereng bukit itu, tiba-tiba bermunculan belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis. Ini adalah gerombolan perampok yang biasa menghadang orang lewat di daerah itu, terkenal sebagai gerombolan perampok ganas, di kepalai oleh seorang yang bermuka bopeng dan bertubuh tinggi besar. Melihat bahwa yang mereka hadang seorang gadis yang demikian cantik jelita, kepala perampok itu berkata sambil tertawa bergelak,

“Aduh cantiknya. Kawan-kawan, bagaimana kalau gadis ini menjadi isteriku, apakah sudah cocok?”

“Cocok sekali, twako!” seru para anak buahnya yang enam belas orang itu serentak dan mereka tertawa-tawa gembira.

Si muka bopeng itu lalu melangkah maju menghadapi Ji Goat. “Nona manis, engkau sudah mendengar sendiri kata kawan-kawanku. Engkau cocok untuk menjadi isteriku. Siapakah namamu, nona?”

Sebetulnya hati Ji Goat sudah panas sekali dan ia marah, akan tetapi ia tersenyum mengejek, lalu berkata, “mau tahu namaku? Namaku adalah Pemukul Anjing bopeng“

“Hehhh…?” Kepala perampok itu mendengus heran.

“Dan karena engkau ini anjing besar yang bopeng, sebaiknya cepat menggelinding pergi dari sini sebelum ku pukul kepalamu!” tambah lagi Ji Goat.

“Bangsat kurang ajar!” Kepala perampok itu memaki berang. Dia dimaki anjing bopeng di depan semua anak buahnya. Biarpun dia tergila-gila kepada gadis cantik itu, akan tetapi makian itu membuat gilanya berubah menjadi marah sekali.

“Tangkap ia hidup-hidup!” bentaknya kepada anak buahnya.

Para perampok itu tidak usah di perintah dua kali, sudah biasa bagi mereka untuk menangkapi kambing, sapi, kerbau atau ayam, menggotong barang-barang rampasan, dan menangkap memanggul seorang gadis untuk diperkosa. Maka, mendengar bahwa mereka di suruh menangkap gadis cantik itu, mereka seperti berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus dan merangkul gadis itu.

Akan tetapi, siapa yang lebih dulu menerjang gadis itu, dialah yang lebih dulu terjengkang atau terpelanting roboh dan sekarat, karena pedang Ji Goat telah menyambar. Begitu cepatnya gadis itu mencabut sepasang pedangnya sehingga tidak nampak oleh orang-orang itu dan begitu dia mengelebatkan pedangnya, mereka yang berada paling depan roboh bergelimpangan. Dalam waktu beberapa menit saja empat orang sudah roboh dan sekarat. Melihat ini, yang lain mundur dan kepala perampok menjadi semakin marah.

“Serang dengan senjata!”

Semua perampok mencabut golok masing-masing dan kepala perampok itupun sudah memainkan golok besarnya mengeroyok Ji Goat. Namun gadis itu tidak menjadi gentar, ia mengamuk dengan sepasang pedangnya dan tidak mudah bagi para perampok itu untuk mendekatinya. Siapa terdekat tentu akan di sambar sinar pedang dan roboh!

Akan tetapi kepala perampok itu cukup lihai. Dia dapat menangkis sambaran pedang Ji Goat dan dapat membalas pula, di bantu oleh para anak buahnya. Sudah tujuh orang anak buahnya roboh, akan tetapi masih ada sepuluh orang lagi dan kini mereka mengeroyok Ji Goat dengan hati-hati karena maklum bahwa gadis itu sama sekali tidak boleh di pandang ringan.

Ji Goat menjadi semakin marah sekali. Dengan pedangnya ia mengamuk, mengeluarkan suara melengking panjang dan kembali tiga orang anak buah perampok menjerit dan roboh bergelimpangan mandi darah. Pada saat itu muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Lai Seng, murid Lui Koksu atau suheng dari Ji Goat sendiri. Tanpa banyak cakap lagi Lai Seng lalu menyerbu dan sulingnya mengeluarkan cahaya gemerlapan putih ketika menyambar-nyambar.

Pertama kali adalah kepala perampok muka bopeng itu yang menjadi korban hantaman sulingnya. Ketika Ji Goat melihat datangnya pemuda ini, pedangnya juga merobohkan dua orang pengeroyok lagi. Melihat kepala perampok sudah roboh maka sisa anak buahnya yang hanya tinggal lima orang itu lalu melarikan diri cerai berai meninggalkan belasan orang rekannya yang sudah rebah malang melintang dengan mandi darah.

Ji Goat berdiri saling pandang dengan Lai Seng. Biarpun mereka kakak beradik seperguruan, namun mereka tidak pernah bergaul karena Lui Koksu melatih silat gadis itu di rumah Perdana Menteri. maka antara mereka hanya saling mengenal saja akan tetapi tidak bergaul akrab. Ji Goat memang tidak begitu suka kepada suhengnya ini yang mempunyai pandang mata kurang ajar, apalagi setelah ia mendengar dari ayahnya bahwa ia hendak di jodohkan dengan suhengnya itu, rasa tidak suka itu berkembang menjadi kebencian. Kini, biarpun baru saja ia mendapat bantuan, ia memandang kepada suhengnya itu dengan alis berkerut.

“Kenapa kau membantu aku! Aku tidak membutuhkan bantuan dan aku sendiri saja masih sanggup membasmi mereka!“ katanya ketus.

Lai Seng juga tidak begitu akrab ldengan sumoinya ini karena selain mereka jarang bertemu, juga dia tentu saja harus tahu diri. Sumoinya adalah puteri Perdana Menteri, sedangkan dia hanyalah seorang perwira biasa saja murid Koksu. Akan tetapi, setelah dia oleh suhunya hendak di jodohkan dengan gadis ini, tentu saja dia menjadi lebih berani. Bukankah gadis ini telah di tunangkan padanya dan menjadi calon isterinya?

“Sumoi, bukankah kita ini kakak dan adik seperguruan? Tentu saja kita harus saling bantu...“

“Aku tidak butuh bantuanmu. Suheng, kenapa engkau mengikuti aku? Pergilah dan jangan mengikuti aku lagi...!”

“Sumoi, aku tidak mengikutimu, aku memang mencarimu untuk mengajakmu pulang . Marilah, sumoi, mari kita pulang ke kota raja...“

“Aku akan pulang sendiri kalau aku menghendaki. Aku tidak mau pulang sekarang. Pulanglah sendiri dan jangan mengganggu aku...“

“Tidak bisa sumoi. Aku harus pulang bersamamu. Ketahuilah, aku di utus oleh ayahmu untuk mencarimu dan membawamu pulang...“

“Aku tidak peduli siapa yang mengutusmu, pendeknya aku tidak mau pulang dan akutidak mau pulang bersamamu, pergilah!”

“Kalau engkau belum mau pulang, terpaksa aku harus menemanimu. Aku tidak ingin melihat tunanganku terancam bahaya dalam perjalanan“

“Tunangan? Siapa tunanganmu?”

“Sumoi, tentu engkau juga sudah tahu bahwa kita telah di tunangkan satu sama lain oleh suhu dan ayahmu“

“Tidak sudi! Aku tidak sudi bertunangan dengan mu, pergilah!”

“Aku tidak mau pergi kalau tidak bersamamu...“

“Keparat, kalau begitu aku akan terpaksa mengusirmu!” teriak Ji Goat dan iapun sudah menyerang dengan sepasang pedangnya. Lai Seng cepat menyambut dengan sulingnya dan dua orang ini lalu bertanding dengan seru. Akan tetapi betapa hebatnya Ji Goat memainkan pedangnya, tentu saja Lai Seng yang seperguruan dengannya itu sudah hafal akan gerakan sepasang pedang Ji Goat sehingga dia mampu menandingi dan mengimbangi dengan suling peraknya.

Tempat yang masih penuh dengan tubuh para perampok itu, dimana para perampok masih merintih-rintih, kini menjadi tempat pertandingan antara Ji Goat dan Lai Seng. Gerakan mereka cepat sekali dan berkali-kali terdengar suara berdecing nyaring di susul berpijarnya bunga api ketika pedang bertemu suling.

“Hyyaatttt…!” Pedang kiri Ji Goat menyambar dan ketika di tangkis suling, pedang kanan menyusul sehingga suling itu tergunting. Akan tetapi Lai Seng sudah mengirim tendangan sehingga terpaksa Ji Goat meloncat ke belakang dan senjata mereka tidak lagi beradu.

Lai Seng lebih banyak menangkis karena tentu saja dia tidak ingin menyerang gadis yang membuatnya tergila-gila dan yang sudah di anggapnya sebagai calon isterinya itu. Tingkat kepandaian mereka berimbang akan tetapi Ji Goat harus mengakui bahwa ia masih kalah dalam hal tenaga. Sudah lima puluh jurus lewat dan belum juga Ji Goat mampu mendesak Lai Seng yang hanya mempertahankan diri. Selagi seru-serunya mereka berkelahi, tiba-tiba muncul banyak orang berpakaian hitam dan mereka itu adalah orang-orang Hek I Kaipang yang di pimpin oleh Cu Lokai. Ketika Cu Lokai melihat Lai Seng, tentu saja dia marah sekali.

Cu Lokai sedang memimpin rombongan pengemis baju hitam yang dari kota raja mengungsi ke selatan. Melihat Lai Seng orang yang menyeludup ke Hek I Kaipang dan pernah hendak merebut kedudukan ketua cabang, Cu Lokai menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggerakkan tongkatnya maju ke gelanggang perkelahian dan menyerang Lai Seng dengan dahsyatnya!

Lai Seng terkejut, mengenal pangcu pusat Hek I Kaipang yang amat lihai, maka tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan, tentu dia akan celaka. Maka dengan sebuah lompatan jauh, diapun melarikan diri dari tempat itu dan memasuki hutan di sebelah. Cu Lokai tidak mengejar, melainkan menghampiri Ji Goat yang merasa lega melihat Lai Seng melarikan diri. ia tadi sudah kehabisan akal untuk dapat menang melawan suhengnya itu. Maka ia pun memberi hormat kepada kakek berpakaian itu.

“Terima kasih atas bantuan lo-cianpwe...“

Cu Lokai memandang kepada gadis itu, lalu memandang kepada para perampok yang bergelimpangan di situ dengan heran. “Nona, kalau tidak salah, mereka ini adalah perampok-perampok ganas, apa yang telah terjadi dan siapakah nona?”

“Aku adalah seorang yang sedang merantau dan tadi di sini aku bertemu dengan para perampok ini. Mereka dapat ku hajar, akan tetapi lalu datang laki-laki itu menyerangku...“ kata Ji Goat yang tidak ingin memperkenalkan diri, juga tidak mengaku bahwa yang menyerangnya tadi adalah suhengnya.

“Heiiii…! Ia adalah puteri Perdana Menteri Ji!“ tiba-tiba seorang di antara para pengemis itu berteriak.

“A-cin, yang benar kau bicara!” tegur yang lain. “Jangan ngawur saja kau! Puteri Perdana Menteri bagaimana dapat berada di sini seorang diri?”

“Aku tidak ngawur! Pernah di kuil dulu ia memberi sedekah kepadaku dan kabarnya puteri Perdana menteri memang lihai, murid Lui Kok-su!” kata pula pengemis itu dengan tegas.

Cu Lokai memandang kepada Ji Goat dan kini dia bertanya dengan penuh selidik, “Nona, benarkah nona ini puteri Perdana Menteri? Murid Lui Koksu?”

Ji Goat tidak mengenal mereka siapa. Pakaiannya seperti pengemis dan seorang di antara mereka telah mengenalnya. Sebaiknya ia mengaku saja agar mereka takut mengganggunya dan akan membiarkan ia pergi dengan aman.

“Benar, aku adalah puteri Perdana Menteri Ji dan murid Lui Koksu. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian dan sekarang aku hendak pergi melanjutkan perjalanan...“ Berkata demikian, Ji Goat sudah melangkah hendak pergi.

“Tahan dulu...!” sekali meloncat Cu Lokai sudah berada di depannya dan juga tiga puluh lebih orang pengemis telah mengepungnya sehingga Ji Goat merasa tidak berdaya. Ketua pengemis ini lihai sekali. Buktinya Lai Seng juga lari ketakutan. Apalagi di situ masih terdapat puluhan anak buahnya. Melawan akan tidak ada artinya sama sekali.

“Heiii, kalian mau apa?” bentaknya.

Cu Lokai berkata hormat. “Nona kami tidak akan mengganggumu, akan tetapi karena nona adalah Puteri Perdana Menteri, maka terpaksa nona akan kami hadapkan kepada pimpinan kami. Kemudian terserah kepada pimpinan kami apa yang akan di lakukan terhadap nona...“

“Kiranya kalian tidak lebih baik dari pada perampok ini, suka mengganggu wanita. Tak tahu malu...!”

“Harap jangan salah mengerti, nona. Kami tidak pernah mengganggu orang, apalagi merampok. Juga pimpinan kami tidak suka berbuat jahat. Kami adalah orang-orang Hek I Kaipang, pejuang sejati yang tidak suka mengganggu, malah melindungi rakyat. Akan tetapi karena nona adalah Puteri Perdana Menteri, terpaksa kami hadapkan dulu kepada ketua kami!”

Ji Goat terkejut. Kiranya mereka adalah orang-orang Hek I Kaipang yang bersekutu dengan para pemberontak. Akan tetapi karena untuk melawan ia tidak mungkin dapat dan pula ia ingin sekali tahu macam apa pimpinan para pemberontak itu, ia pun mengikuti mereka pergi tanpa banyak membantah lagi.

“Baik, bawa aku kepada pimpinanmu, hendak ku lihat apa yang akan dia lakukan kepadaku!” Katanya dengan sikap amat gagah sehingga diam-diam Cu Lokai merasa kagum. Bagaimana mungkin Perdana Menteri Ji, si penjilat antek Mongol itu, mempunyai puteri yang sedemikian gagah?

********************

Perkumpulan Hek I Kaipang yang tadinya berpusat di Tiang-an, kini terpecah dua. Sebagian pindah ke Lok-yang dan sebagian pula pergi ke selatan. Yang berada di selatan ini sekarang menjadi pusat, dan Yang Cien bahkan telah mendahului ke sana untuk memilih tempat yang baik untuk di jadikan pusat. Dan dia memilih sebuah bukit di tepi sungai Huai sebelah utara, tepat diperbatasan untuk di jadikan tempat tinggal para anak buah yang tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya.

Bahkan di tempat itu telah di bangun pondok-pondok darurat untuk tempat tinggal mereka. Daerah ini adalah perbatasan, maka amat baik untuk dijadikan pusat karena tempatnya sepi. Penduduk dusun sudah lama mengungsi meninggalkan dusun mereka karena takut akan terjadi perang di situ antara pasukan Toba dengan pasukan Kerajaan Sun sehingga keadaan di bukit itu sunyi sekali. Karena itu tempat ini di anggap cukup memenuhi syarat untuk menerima kunjungan para pimpinan kaipang sebagai tempat di selenggarakannya rapat besar memilih pimpinan para pangcu di seluruh negeri. Di sini akan di pilih seseorang yang mewakili para kaipang dalam pemilihan sebagai bengcu (pemimpin rakyat) kelak.

Ketika Ji Goat di bawa naik ke bukit dan tiba di perkampungan yang menjadi pusat Hek I Kaipang itu, diam-diam ia kagum. Perkampungan yang baru itu cukup bersih, sama sekali tidak pantas menjadi tempat tinggal para pengemis jembel. Dan di situ terdapat banyak sekali anggota Hek I Kaipang yang semua berpakaian hitam membawa tongkat hitam. Mereka semua itu memberi hormat setiap kali bertemu dengan Cu Lokai.

“Dimana Yang-taihiap?” Tanya Cu Lokai kepada seorang anggota pengemis karena melihat pondok yang di peruntukkan Yang Cien itu kosong.

“Yang-taihiap sedang melatih para anggota di lapangan...“

“Katakan bahwa aku dapat membawa seorang tamu ingin menghadap Yang-taihiap...“ kata Cu Lokai

“Aku ingin menonton latihan para anggota kaipang“ kata Ji Goat yang merasa tertarik.

Cu Lokai mengajaknya ke lapangan dan di lapangan itu terdapat pemandangan yang menganggumkan hati Ji Goat. Ratusan orang pengemis dengan tongkat di tangan sedang berlatih silat, di pimpin oleh seorang pemuda yang berdiri di tempat tinggi dan pemuda inipun memegang tongkat, Ketika pemuda itu melihat Cu Lokai datang bersama seorang gadis, dia kelihatan heran dan berseru kepada para pengemis agar melanjutkan berlatih jurus yang baru saja di ajarkan. Kemudian dia menghampiri Cu Lokai.

Ji Goat memandang dan jantungnya berdebar. Tak di sangkanya bahwa pimpinan pengemis itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, walaupun pakaiannya sederhana sekali. “Paman sudah datang? Apa kabarnya, dan siapa pula nona ini, Paman Cu...?”

“Semua kawan telah tiba dengan selamat dan baik saja, taihiap. Dan tentang nona ini, marilah kita bicara di dalam saja...“

Mereka lalu memasuki pondok tempat tinggal Yang Cien dan tak lama kemudian mereka sudah duduk menghadapi meja yang buatannya kasar dan bentuknya persegi empat.

“Nah, ceritakanlah siapa nona ini, paman!” kata Yang Cien dan diam-diam dia merasa kagum karena gadis di depannya itu memang cantik jelita dan nampak betapa sikapnya gagah dan berani, tidak pemalu seperti gadis-gadis biasanya.

“Mula-mula kami melihat nona ini di serang oleh Lai Seng...“

“Lai Seng?” Tanya Yang Cien.

“Benar, taihiap, Lai Seng yang dahulu pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang. Kami lalu membantu nona ini sehingga Lai Seng melarikan diri. Ternyata nona ini tadinya di hadang perampok yang banyak di robohkan olehnya sampai kemudian datang Lai Seng itu. Tentu saja tadinya kami tidak berani mengganggu nona ini lebih jauh, akan tetapi seorang anggota kita mengenalnya sebagai puteri Perdana Menteri Ji Sun Cai...”

Setelah mendengar bahwa ia puteri Perdana Menteri, terpaksa kami menawannya dan menghadapkannya kepada taihiap untuk di beri keputusan...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 15

Ji Goat mengambil keputusan untuk minggat saja kalau ayahnya memaksa ia menikah dengan Lai Seng. Di cobanya untuk menghubungi ibunya malam itu. “Ibu, engkau harus menolongku, ibu“ tangisnya di pangkuan ibunya.

Ibunya mengelus rambut puterinya. “Ji Goat, ayahmu tentu tahu apa yang terbaik untukmu. Dia tidak akan sembarangan saja memilih suami untukmu. Aku mendengar bahwa pemuda she Lai itu kakak seperguruanmu sendiri dan kabarnya dia cukup tampan dan baik. Ayahmu tidak akan mencelakakan hidupmu, Ji Goat“

“Ah, ibu, mengapa malah membenarkan ayah? Aku minta agar ibu membujuk ayah supaya pertunangan itu di batalkan!”

“Akan tetapi kenapa, Ji Goat? Kenapa harus di batalkan?”

“Tidak mengertikah ibu, aku belum ingin menikah. Aku ingin tinggal bersama ayah dan ibu!”

“Ji Goat, usiamu sudah hamper sembilan belas tahun! Engkau tidak bisa selamanya tinggal bersama ayah dan ibumu...“

“Ibu, haruskah ku jelaskan lagi? Aku tidak suka padanya, aku tidak mencintanya. Haruskah aku menikah dengan pria yang tidak ku cinta? Lebih baik selama hidup aku tidak menikah!“

Gadis itu menangis lagi dan kini tangisnya lebih sedih karena ia tahu bahwa dari ibunya ia tidak dapat mengharapkan bantuan. Ibunya sependapat dengan ayahnya pula, andaikata tidak begitu, ibunya juga tidak berani membantah kehendak ayahnya. Satu-satunya jalan hanya minggat!

Ji Goat diam-diam mempersiapkan segalanya. Ia berkemas dan hanya pelayan yang dipercayainya itu saja yang mengetahui bahwa nonanya berkemas untuk pergi. Membawa buntalan pakaian, membawa perhiasan. Akan tetapi nonanya menanti saat baik. Darinya nonanya tahu bahwa penjagaan kini diperketat, dan agaknya para pengawal akan menghalangi kepergiannya.

Ji Goat menanti setelah malam gelap. Mendung di luar dan langit gelap tidak nampak sebauhpun bintang, apalagi bulan. Ia berpakaian ringkas, pakaian wanita biasa, bukan seperti pakaian pria seperti biasanya. Lalu ia keluar dari kamarnya, menggendong buntalan pakaiannya dan membawa pedang di punggungnya.

Baru beberapa langkah keluar dari kamarnya saja, sudah muncul beberapa orang pengawal dengan tombak di tangan. Mereka melintangkan tombak menghadang dan seorang di antara mereka berkata, “Atas perintah Perdana Menteri, tak seorangpun di perbolehkan meninggalkan rumah“

“Tahan, tidak lihat engkau dengan siapa engkau bicara?” bentak Ji Goat marah.

“Maaf, nona. Kami tahu bahwa kami berhadapan dengan Ji-siocia, puteri Perdana Menteri, akan tetapi ayah nona yang memerintahkan kami melarang nona keluar“

“Kalian berani?”

“Kami hanya menaati perintah!” kata seorang di antara mereka dan yang seorang lagi sudah meniup sempritan tanda bahaya.

“Haiitttt…!” Ji Goat bergerak di antara tombak mereka dan dua kali tangannya menampar, dua orang pengawal itu pun roboh. Akan tetapi kini datang banyak pengawal, dua puluh orang banyaknya dan mereka semua mengepung Ji Goat!

“Nona, di larang pergi, kalau memaksa, kami menggunakan kekerasan!”

Ji Goat maklum bahwa tidak dapat di bujuk orang-orang ini yang tentu saja takut kepada ayahnya, maka iapun sudah mencabut sepadang pedang pendeknya lalu mengamuk. Kasihan sekali para pasukan pengawal itu. Tentu saja mereka bukan lawan Ji Goat dan biarpun mereka berusaha melawan dan menangkis, tetap saja gulungan dua sinar pedang di tangan Ji Goat merobohkan mereka satu demi satu. Ada yang terluka ringan, akan tetapi ada pula yang parah sehingga tidak mampu bangkit kembali. Seorang pengawal cepat lari untuk melapor kepada Perdana Menteri Ji Sun Cai.

Akan tetapi ketika pembesar ini berlari ke tempat itu dia hanya melihat para pengawalnya rebah malang melintang dalam keadaan luka-luka, sedangkan Ji Goat sudah lama menghilang di kegelapan malam. Bukan main marahnya Perdana Menteri Ji. Malam itu juga dia mengundang Koksu Lui dan minta bantuannya agar menangkap kembali puterinya yang melarikan diri. Mendengar permintaan itu, Koksu Lui tersenyum.

Sepantasnya dia marah karena malam-malam begini Perdana Menteri Ji mengundangnya hanya untuk mengurus hal yang sekecil itu. Akan tetapi dia dapat mengerti betapa khawatir perdana menteri itu atas puterinya yna menjadi anak tunggal. Tentu saja dia tidak mau merendahkan diri untuk melakukan pengejaran terhadap muridnya dengan turun tangan sendiri.

“Harap taijin tidak khawatir“ katanya menghibur. “Saya akan menyuruh murid saya Lai Seng untuk melakukan pengejaran. Pemuda itu cukup cerdik dan tentu akan dapat melacaknya dan mengajaknya pulang“

“Kalau Lai Seng dapat mengajaknya pulang, saya akan langsung saja menikahkan mereka“ kata Ji-taijin sambil mengepal tinju.

“Itu baik sekali, taijin. Akan saya sampaikan kepada Lai Seng dan saya percaya janji itu akan membuat dia lebih bersemangat dalam usahanya mencari puterimu“

Lui-Koksu berpamit pulang dan malam itu juga dia memberitahu kepada Lai Seng dan menyuruh murid itu melacak jejak ji Goat. “Perdana Menteri sudah berjanji kepadaku bahwa kalau engkau dapat membawa pulang puterinya, engkau akan langsung saja di nikahkan dengan puterinya itu“

“Baik, suhu, malam ini juga teecu akan berangkat menacri sumoi Ji Goat!” kata pemuda itu penuh semangat. Memang dia sudah tergila-gila kepada gadis yang di tunangkan padanya itu, bukan saja tergila-gila atas kecantikannya, akan tetapi juga atas kedudukannya. Kalau dia menjadi mantu Perdana Menteri, tentu saja martabatnya akan terangkat naik tinggi sekali!

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Ji Goat melarikan diri ke selatan. Ia sudah mendengar beritanya akan Coa-ciangkun yang gagah perkasa, yang selama ini menjaga perbatasan selatan dengan gigih dari serangan Kerajaan Sun di selatan. Dan ia sudah mendengar pula bahwa Kaisar memerintahkan bahwa panglima itu harus mengundurkan pasukannya, bahkan ada berita panglima itu di panggil pulang ke kota raja.

Juga dia mendengar bahwa Gubernur Gak di Nam-kiang mempunyai hubungan baik dengan panglima itu, karenanya gubernur inipun menjadi perhatian ayahnya dan Koksu. Ia ingin pergi ke daerah itu, ingin menyelidiki apa sebetulnya yang telah terjadi disana. Ayahnya tidak menyimpan rahasia terhadap dirinya.

Pernah ayahnya menceritakan bahwa satu-satunya jalan untuk menguasai raja-raja muda di selatan, adalah mengajak damai dan bersatu dengan Kerajaan Sun yang selama ini menjadi saingan dan musuh besar. Karena itu, ayahnya dan Koksu mengusulkan kepada kaisar untuk memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Sun dank arena itulah maka Panglima Coa di minta untuk menarik mundur pasukannya.

Perbatasan antara wilayah Kerajaan Toba dan Kerajaan Sun terdapat di sepanjang Sungai Huai. Seberang utara termasuk wilayah Kerajaan Toba, dan Kerajaan Sun wilayahnya berada di sebelah selatan sungai itu. Seringkali terjadi perang dan pertempuran di sungai itu, dimana perahu-perahu mereka kadang menyeberang untuk melakukan penyerangan.

Akan tetapi semenjak Panglima Coa menerima perintah untuk mengundurkan pasukannya, tidak pernah lagi terjadi bentrokan. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Panglima Coa menarik mundur pasukannya. Dia tetap mempertahankan perbentengan di sebelah utara Sungai Huai. Wilayah ini termasuk wilayah daerah Nam-kiang yang di pimpin oleh Gubernur Gak.

Pada suatu hari, seorang gadis yang berpakaian sederhana namun bersih, berjalan seorang diri menuju ke kota Tiong-ho-koan yang berada kurang lebih tiga puluh li dari perbatasan. Gadis ini sederhana saja pakaiannya, namun wajahnya amat manis dan jelita sehingga agak janggal juga melihat sepasang pedang pendek yang tergantung di punggung, orangpun akan mengerti bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw yang ahli silat sehingga ia memiliki kepandaian dan mampu menjaga diri sendiri.

Kalau orang mengenal siapa gadis itu, dia tentu tidak merasa heran lagi karena gadis itu adalah Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji, murid Toat-beng Giam Ong atau Liu Kok-su yang sakti. Gadis ini memiliki ilmu kepandaian tinggi maka pantaslah kalau ia berani melakukan perjalanan sampai sedemikian jauhnya dari kota raja.

Pada masa itu, karena pemerintahan lemah, maka para penjahat bermunculan, banyak sekali gerombolan perampok merajalela dimana-mana. Ada perampok-perampok biasa yang memang terdiri dari orang jahat yang enggan bekerja melainkan hendak mencari kesenangan dengan mudah, yaitu mencuri dan merampok. Ada pula perampok berpakaian seragam, yaitu para anak buah pasukan yang suka meliar dan merampok, mengandalkan pakaian dan gerombolan mereka.

Ketika Ji Goat berjalan seorang diri di lereng bukit itu, tiba-tiba bermunculan belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis. Ini adalah gerombolan perampok yang biasa menghadang orang lewat di daerah itu, terkenal sebagai gerombolan perampok ganas, di kepalai oleh seorang yang bermuka bopeng dan bertubuh tinggi besar. Melihat bahwa yang mereka hadang seorang gadis yang demikian cantik jelita, kepala perampok itu berkata sambil tertawa bergelak,

“Aduh cantiknya. Kawan-kawan, bagaimana kalau gadis ini menjadi isteriku, apakah sudah cocok?”

“Cocok sekali, twako!” seru para anak buahnya yang enam belas orang itu serentak dan mereka tertawa-tawa gembira.

Si muka bopeng itu lalu melangkah maju menghadapi Ji Goat. “Nona manis, engkau sudah mendengar sendiri kata kawan-kawanku. Engkau cocok untuk menjadi isteriku. Siapakah namamu, nona?”

Sebetulnya hati Ji Goat sudah panas sekali dan ia marah, akan tetapi ia tersenyum mengejek, lalu berkata, “mau tahu namaku? Namaku adalah Pemukul Anjing bopeng“

“Hehhh…?” Kepala perampok itu mendengus heran.

“Dan karena engkau ini anjing besar yang bopeng, sebaiknya cepat menggelinding pergi dari sini sebelum ku pukul kepalamu!” tambah lagi Ji Goat.

“Bangsat kurang ajar!” Kepala perampok itu memaki berang. Dia dimaki anjing bopeng di depan semua anak buahnya. Biarpun dia tergila-gila kepada gadis cantik itu, akan tetapi makian itu membuat gilanya berubah menjadi marah sekali.

“Tangkap ia hidup-hidup!” bentaknya kepada anak buahnya.

Para perampok itu tidak usah di perintah dua kali, sudah biasa bagi mereka untuk menangkapi kambing, sapi, kerbau atau ayam, menggotong barang-barang rampasan, dan menangkap memanggul seorang gadis untuk diperkosa. Maka, mendengar bahwa mereka di suruh menangkap gadis cantik itu, mereka seperti berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus dan merangkul gadis itu.

Akan tetapi, siapa yang lebih dulu menerjang gadis itu, dialah yang lebih dulu terjengkang atau terpelanting roboh dan sekarat, karena pedang Ji Goat telah menyambar. Begitu cepatnya gadis itu mencabut sepasang pedangnya sehingga tidak nampak oleh orang-orang itu dan begitu dia mengelebatkan pedangnya, mereka yang berada paling depan roboh bergelimpangan. Dalam waktu beberapa menit saja empat orang sudah roboh dan sekarat. Melihat ini, yang lain mundur dan kepala perampok menjadi semakin marah.

“Serang dengan senjata!”

Semua perampok mencabut golok masing-masing dan kepala perampok itupun sudah memainkan golok besarnya mengeroyok Ji Goat. Namun gadis itu tidak menjadi gentar, ia mengamuk dengan sepasang pedangnya dan tidak mudah bagi para perampok itu untuk mendekatinya. Siapa terdekat tentu akan di sambar sinar pedang dan roboh!

Akan tetapi kepala perampok itu cukup lihai. Dia dapat menangkis sambaran pedang Ji Goat dan dapat membalas pula, di bantu oleh para anak buahnya. Sudah tujuh orang anak buahnya roboh, akan tetapi masih ada sepuluh orang lagi dan kini mereka mengeroyok Ji Goat dengan hati-hati karena maklum bahwa gadis itu sama sekali tidak boleh di pandang ringan.

Ji Goat menjadi semakin marah sekali. Dengan pedangnya ia mengamuk, mengeluarkan suara melengking panjang dan kembali tiga orang anak buah perampok menjerit dan roboh bergelimpangan mandi darah. Pada saat itu muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Lai Seng, murid Lui Koksu atau suheng dari Ji Goat sendiri. Tanpa banyak cakap lagi Lai Seng lalu menyerbu dan sulingnya mengeluarkan cahaya gemerlapan putih ketika menyambar-nyambar.

Pertama kali adalah kepala perampok muka bopeng itu yang menjadi korban hantaman sulingnya. Ketika Ji Goat melihat datangnya pemuda ini, pedangnya juga merobohkan dua orang pengeroyok lagi. Melihat kepala perampok sudah roboh maka sisa anak buahnya yang hanya tinggal lima orang itu lalu melarikan diri cerai berai meninggalkan belasan orang rekannya yang sudah rebah malang melintang dengan mandi darah.

Ji Goat berdiri saling pandang dengan Lai Seng. Biarpun mereka kakak beradik seperguruan, namun mereka tidak pernah bergaul karena Lui Koksu melatih silat gadis itu di rumah Perdana Menteri. maka antara mereka hanya saling mengenal saja akan tetapi tidak bergaul akrab. Ji Goat memang tidak begitu suka kepada suhengnya ini yang mempunyai pandang mata kurang ajar, apalagi setelah ia mendengar dari ayahnya bahwa ia hendak di jodohkan dengan suhengnya itu, rasa tidak suka itu berkembang menjadi kebencian. Kini, biarpun baru saja ia mendapat bantuan, ia memandang kepada suhengnya itu dengan alis berkerut.

“Kenapa kau membantu aku! Aku tidak membutuhkan bantuan dan aku sendiri saja masih sanggup membasmi mereka!“ katanya ketus.

Lai Seng juga tidak begitu akrab ldengan sumoinya ini karena selain mereka jarang bertemu, juga dia tentu saja harus tahu diri. Sumoinya adalah puteri Perdana Menteri, sedangkan dia hanyalah seorang perwira biasa saja murid Koksu. Akan tetapi, setelah dia oleh suhunya hendak di jodohkan dengan gadis ini, tentu saja dia menjadi lebih berani. Bukankah gadis ini telah di tunangkan padanya dan menjadi calon isterinya?

“Sumoi, bukankah kita ini kakak dan adik seperguruan? Tentu saja kita harus saling bantu...“

“Aku tidak butuh bantuanmu. Suheng, kenapa engkau mengikuti aku? Pergilah dan jangan mengikuti aku lagi...!”

“Sumoi, aku tidak mengikutimu, aku memang mencarimu untuk mengajakmu pulang . Marilah, sumoi, mari kita pulang ke kota raja...“

“Aku akan pulang sendiri kalau aku menghendaki. Aku tidak mau pulang sekarang. Pulanglah sendiri dan jangan mengganggu aku...“

“Tidak bisa sumoi. Aku harus pulang bersamamu. Ketahuilah, aku di utus oleh ayahmu untuk mencarimu dan membawamu pulang...“

“Aku tidak peduli siapa yang mengutusmu, pendeknya aku tidak mau pulang dan akutidak mau pulang bersamamu, pergilah!”

“Kalau engkau belum mau pulang, terpaksa aku harus menemanimu. Aku tidak ingin melihat tunanganku terancam bahaya dalam perjalanan“

“Tunangan? Siapa tunanganmu?”

“Sumoi, tentu engkau juga sudah tahu bahwa kita telah di tunangkan satu sama lain oleh suhu dan ayahmu“

“Tidak sudi! Aku tidak sudi bertunangan dengan mu, pergilah!”

“Aku tidak mau pergi kalau tidak bersamamu...“

“Keparat, kalau begitu aku akan terpaksa mengusirmu!” teriak Ji Goat dan iapun sudah menyerang dengan sepasang pedangnya. Lai Seng cepat menyambut dengan sulingnya dan dua orang ini lalu bertanding dengan seru. Akan tetapi betapa hebatnya Ji Goat memainkan pedangnya, tentu saja Lai Seng yang seperguruan dengannya itu sudah hafal akan gerakan sepasang pedang Ji Goat sehingga dia mampu menandingi dan mengimbangi dengan suling peraknya.

Tempat yang masih penuh dengan tubuh para perampok itu, dimana para perampok masih merintih-rintih, kini menjadi tempat pertandingan antara Ji Goat dan Lai Seng. Gerakan mereka cepat sekali dan berkali-kali terdengar suara berdecing nyaring di susul berpijarnya bunga api ketika pedang bertemu suling.

“Hyyaatttt…!” Pedang kiri Ji Goat menyambar dan ketika di tangkis suling, pedang kanan menyusul sehingga suling itu tergunting. Akan tetapi Lai Seng sudah mengirim tendangan sehingga terpaksa Ji Goat meloncat ke belakang dan senjata mereka tidak lagi beradu.

Lai Seng lebih banyak menangkis karena tentu saja dia tidak ingin menyerang gadis yang membuatnya tergila-gila dan yang sudah di anggapnya sebagai calon isterinya itu. Tingkat kepandaian mereka berimbang akan tetapi Ji Goat harus mengakui bahwa ia masih kalah dalam hal tenaga. Sudah lima puluh jurus lewat dan belum juga Ji Goat mampu mendesak Lai Seng yang hanya mempertahankan diri. Selagi seru-serunya mereka berkelahi, tiba-tiba muncul banyak orang berpakaian hitam dan mereka itu adalah orang-orang Hek I Kaipang yang di pimpin oleh Cu Lokai. Ketika Cu Lokai melihat Lai Seng, tentu saja dia marah sekali.

Cu Lokai sedang memimpin rombongan pengemis baju hitam yang dari kota raja mengungsi ke selatan. Melihat Lai Seng orang yang menyeludup ke Hek I Kaipang dan pernah hendak merebut kedudukan ketua cabang, Cu Lokai menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggerakkan tongkatnya maju ke gelanggang perkelahian dan menyerang Lai Seng dengan dahsyatnya!

Lai Seng terkejut, mengenal pangcu pusat Hek I Kaipang yang amat lihai, maka tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan, tentu dia akan celaka. Maka dengan sebuah lompatan jauh, diapun melarikan diri dari tempat itu dan memasuki hutan di sebelah. Cu Lokai tidak mengejar, melainkan menghampiri Ji Goat yang merasa lega melihat Lai Seng melarikan diri. ia tadi sudah kehabisan akal untuk dapat menang melawan suhengnya itu. Maka ia pun memberi hormat kepada kakek berpakaian itu.

“Terima kasih atas bantuan lo-cianpwe...“

Cu Lokai memandang kepada gadis itu, lalu memandang kepada para perampok yang bergelimpangan di situ dengan heran. “Nona, kalau tidak salah, mereka ini adalah perampok-perampok ganas, apa yang telah terjadi dan siapakah nona?”

“Aku adalah seorang yang sedang merantau dan tadi di sini aku bertemu dengan para perampok ini. Mereka dapat ku hajar, akan tetapi lalu datang laki-laki itu menyerangku...“ kata Ji Goat yang tidak ingin memperkenalkan diri, juga tidak mengaku bahwa yang menyerangnya tadi adalah suhengnya.

“Heiiii…! Ia adalah puteri Perdana Menteri Ji!“ tiba-tiba seorang di antara para pengemis itu berteriak.

“A-cin, yang benar kau bicara!” tegur yang lain. “Jangan ngawur saja kau! Puteri Perdana Menteri bagaimana dapat berada di sini seorang diri?”

“Aku tidak ngawur! Pernah di kuil dulu ia memberi sedekah kepadaku dan kabarnya puteri Perdana menteri memang lihai, murid Lui Kok-su!” kata pula pengemis itu dengan tegas.

Cu Lokai memandang kepada Ji Goat dan kini dia bertanya dengan penuh selidik, “Nona, benarkah nona ini puteri Perdana Menteri? Murid Lui Koksu?”

Ji Goat tidak mengenal mereka siapa. Pakaiannya seperti pengemis dan seorang di antara mereka telah mengenalnya. Sebaiknya ia mengaku saja agar mereka takut mengganggunya dan akan membiarkan ia pergi dengan aman.

“Benar, aku adalah puteri Perdana Menteri Ji dan murid Lui Koksu. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian dan sekarang aku hendak pergi melanjutkan perjalanan...“ Berkata demikian, Ji Goat sudah melangkah hendak pergi.

“Tahan dulu...!” sekali meloncat Cu Lokai sudah berada di depannya dan juga tiga puluh lebih orang pengemis telah mengepungnya sehingga Ji Goat merasa tidak berdaya. Ketua pengemis ini lihai sekali. Buktinya Lai Seng juga lari ketakutan. Apalagi di situ masih terdapat puluhan anak buahnya. Melawan akan tidak ada artinya sama sekali.

“Heiii, kalian mau apa?” bentaknya.

Cu Lokai berkata hormat. “Nona kami tidak akan mengganggumu, akan tetapi karena nona adalah Puteri Perdana Menteri, maka terpaksa nona akan kami hadapkan kepada pimpinan kami. Kemudian terserah kepada pimpinan kami apa yang akan di lakukan terhadap nona...“

“Kiranya kalian tidak lebih baik dari pada perampok ini, suka mengganggu wanita. Tak tahu malu...!”

“Harap jangan salah mengerti, nona. Kami tidak pernah mengganggu orang, apalagi merampok. Juga pimpinan kami tidak suka berbuat jahat. Kami adalah orang-orang Hek I Kaipang, pejuang sejati yang tidak suka mengganggu, malah melindungi rakyat. Akan tetapi karena nona adalah Puteri Perdana Menteri, terpaksa kami hadapkan dulu kepada ketua kami!”

Ji Goat terkejut. Kiranya mereka adalah orang-orang Hek I Kaipang yang bersekutu dengan para pemberontak. Akan tetapi karena untuk melawan ia tidak mungkin dapat dan pula ia ingin sekali tahu macam apa pimpinan para pemberontak itu, ia pun mengikuti mereka pergi tanpa banyak membantah lagi.

“Baik, bawa aku kepada pimpinanmu, hendak ku lihat apa yang akan dia lakukan kepadaku!” Katanya dengan sikap amat gagah sehingga diam-diam Cu Lokai merasa kagum. Bagaimana mungkin Perdana Menteri Ji, si penjilat antek Mongol itu, mempunyai puteri yang sedemikian gagah?

********************

Perkumpulan Hek I Kaipang yang tadinya berpusat di Tiang-an, kini terpecah dua. Sebagian pindah ke Lok-yang dan sebagian pula pergi ke selatan. Yang berada di selatan ini sekarang menjadi pusat, dan Yang Cien bahkan telah mendahului ke sana untuk memilih tempat yang baik untuk di jadikan pusat. Dan dia memilih sebuah bukit di tepi sungai Huai sebelah utara, tepat diperbatasan untuk di jadikan tempat tinggal para anak buah yang tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya.

Bahkan di tempat itu telah di bangun pondok-pondok darurat untuk tempat tinggal mereka. Daerah ini adalah perbatasan, maka amat baik untuk dijadikan pusat karena tempatnya sepi. Penduduk dusun sudah lama mengungsi meninggalkan dusun mereka karena takut akan terjadi perang di situ antara pasukan Toba dengan pasukan Kerajaan Sun sehingga keadaan di bukit itu sunyi sekali. Karena itu tempat ini di anggap cukup memenuhi syarat untuk menerima kunjungan para pimpinan kaipang sebagai tempat di selenggarakannya rapat besar memilih pimpinan para pangcu di seluruh negeri. Di sini akan di pilih seseorang yang mewakili para kaipang dalam pemilihan sebagai bengcu (pemimpin rakyat) kelak.

Ketika Ji Goat di bawa naik ke bukit dan tiba di perkampungan yang menjadi pusat Hek I Kaipang itu, diam-diam ia kagum. Perkampungan yang baru itu cukup bersih, sama sekali tidak pantas menjadi tempat tinggal para pengemis jembel. Dan di situ terdapat banyak sekali anggota Hek I Kaipang yang semua berpakaian hitam membawa tongkat hitam. Mereka semua itu memberi hormat setiap kali bertemu dengan Cu Lokai.

“Dimana Yang-taihiap?” Tanya Cu Lokai kepada seorang anggota pengemis karena melihat pondok yang di peruntukkan Yang Cien itu kosong.

“Yang-taihiap sedang melatih para anggota di lapangan...“

“Katakan bahwa aku dapat membawa seorang tamu ingin menghadap Yang-taihiap...“ kata Cu Lokai

“Aku ingin menonton latihan para anggota kaipang“ kata Ji Goat yang merasa tertarik.

Cu Lokai mengajaknya ke lapangan dan di lapangan itu terdapat pemandangan yang menganggumkan hati Ji Goat. Ratusan orang pengemis dengan tongkat di tangan sedang berlatih silat, di pimpin oleh seorang pemuda yang berdiri di tempat tinggi dan pemuda inipun memegang tongkat, Ketika pemuda itu melihat Cu Lokai datang bersama seorang gadis, dia kelihatan heran dan berseru kepada para pengemis agar melanjutkan berlatih jurus yang baru saja di ajarkan. Kemudian dia menghampiri Cu Lokai.

Ji Goat memandang dan jantungnya berdebar. Tak di sangkanya bahwa pimpinan pengemis itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, walaupun pakaiannya sederhana sekali. “Paman sudah datang? Apa kabarnya, dan siapa pula nona ini, Paman Cu...?”

“Semua kawan telah tiba dengan selamat dan baik saja, taihiap. Dan tentang nona ini, marilah kita bicara di dalam saja...“

Mereka lalu memasuki pondok tempat tinggal Yang Cien dan tak lama kemudian mereka sudah duduk menghadapi meja yang buatannya kasar dan bentuknya persegi empat.

“Nah, ceritakanlah siapa nona ini, paman!” kata Yang Cien dan diam-diam dia merasa kagum karena gadis di depannya itu memang cantik jelita dan nampak betapa sikapnya gagah dan berani, tidak pemalu seperti gadis-gadis biasanya.

“Mula-mula kami melihat nona ini di serang oleh Lai Seng...“

“Lai Seng?” Tanya Yang Cien.

“Benar, taihiap, Lai Seng yang dahulu pernah menyeludup ke dalam Hek I Kaipang. Kami lalu membantu nona ini sehingga Lai Seng melarikan diri. Ternyata nona ini tadinya di hadang perampok yang banyak di robohkan olehnya sampai kemudian datang Lai Seng itu. Tentu saja tadinya kami tidak berani mengganggu nona ini lebih jauh, akan tetapi seorang anggota kita mengenalnya sebagai puteri Perdana Menteri Ji Sun Cai...”

Setelah mendengar bahwa ia puteri Perdana Menteri, terpaksa kami menawannya dan menghadapkannya kepada taihiap untuk di beri keputusan...