Social Items

“Tentu Gubernur Yen adalah seorang patriot sejati. Kalau dia membangkang berarti ada bukti akan pemberontakan di Lok-yang. Tentu Gubernur Yen mengorbankan diri demi perjuangan. Biarpun dia di tangkap, bahkan di bunuh sekalipun, perjuangan tidak boleh hancur sebelum di mulai. Tentu diam-diam ada yang menggantikannya, melanjutkan penghimpunan kekuatan di sana. Kita sudah tidak dapat lagi tinggal di kota raja, oleh karena itu semua anak buah harus dipindahkan. Aku akan membawa anak buah dari kota raja pindah ke sekitar Lok-yang, untuk membantu sewaktu-waktu Lok-yang menentang pemerintah“

“Sebaiknya sebagian pula pindah ke Nam-kiang“ kata Song-Pangcu. “Di Nam-kiang juga terjadi pergolakan. Terjadi pertentangan antara Koksu dan Coa-ciangkun. kabarnya Coa-ciangkun telah menerima perintah dari kaisar untuk mengundurkan tentaranya akan tetapi dia masih menangguhkannya. Dan Gubernur Gak di Nam-kiang bersimpati kepada Coa-ciangkun. Ada gejalanya bahwa merekapun hendak menentang pemerintah penjajah“

“Akan tetapi kenapa Kaisar memerintahkan Coa-ciangkun mundur? Bukankah pasukan Coa-ciangkun yang menjaga tapal batas di selatan?”

“Entahlah, gerakan itu kalau benar dilakukan dan pasukan di tarik mundur, hanya akan menguntungkan Kerajaan Sun. Padahal kami mendengar bahwa Kerajaan Sun yang diperintah Sun Huang-te kini semakin kuat karena di bantu oleh banyak golongan kang-ouw. Kini di Nam-kiang itupun timbul desas-desus bahwa pemerintah Kerajaan Sun akan segera melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Toba“

“Bagus!” kata Coa Lokai. “Makin banyak yang memberontak semakin baik, tanda keruntuhan Kerajaan Toba sudah mendekati saatnya dan kita akan segera terbebas dari cengkraman penjajah“

Yang Cien yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, segera ikut bicara. “Menurut pendapat saya yang bodoh, pemberontakan-pemberontakan kecil itu tidak ada artinya sama sekali. Satu demi satu akan di hancurkan oleh kekuatan Toba, tentu akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka yang tak kunjung henti. Dan rakyat tetap saja tidak dapat mengecam kedamaian dan ketentraman“

“Hemmm, ada benarnya juga ucapan Yang-taihiap“ kata Cu Lokai. “Akan tetapi, kalau kita semua tidak melakukan usaha perjuangan ini, lalu sampai kapan penjajah Toba dapat di usir keluar dari tanah air?”

“Memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mengusir penjajah dari tanah air, akan tetapi yang paling penting kita harus dapat bersatu padu menghimpun kekuatan. Dengan cara demikian, barulah kita memang tidak akan berhasil dan kalaupun kita memang tidak akan terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara yang tidak henti-hentinya. Lupakah cu-wi akan sejarah bangsa kita sebelum bangsa Toba menjajah tanah air kita? Mengapa sampai dapat terjajah? Karena kita saling hantam sendiri, karena perang saudara yang tiada henti-hentinya. Bangsa Toba menggunakan kesempatan itu untuk memukul dan menguasai tanah air. Coba andaikata kita bersatu padu, tak mungkin bangsa lain menjajah kita“

Ucapan penuh semangat dari yang Cien ini di sambut gembira sekali oleh para pimpinan kaipang itu. Bahkan Song-pangcu saking gembiranya lalu mengusulkan. ”Dalam pemilihan pangcu yang akan di adakan dalam tahun depan, kami mengusulkan agar Yang-taihiap di pilih menjadi bengcu!”

“Akur! Setuju!” Semua orang berseru dan Cu Lokai mengangkat tangan agar mereka diam. Setelah semua orang diam, Co Lokai berkata dengan suara nyaring.

“Usul Song-pangcu itu memang tepat, akan tetapi bagi kami yang sudah mengenal baik Yang-Taihiap. Sedangkan golongan kaipang ada amat banyak. Mereka pun harus di yakinkan dulu akan kemampuan Yang-taihiap. Pertemuan para kaipang akan di adakan di lereng Hoa-san dalam waktu tiga bulan lagi. Nah, dalam pertemuan itulah kita akan mengusulkan agar Yang-taihiap dijadikan calon tunggal dari pihak seluruh kaipang sebagai calaon bengcu“

Semua orang menyatakan setuju dan kini Yang Cien yang bicara. “Maksud hati cu-wi amat baik dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan itu. Akan tetapi harap di ingat bahwa saya tidak mau memperebutkan kedudukan bengcu. Saya hanya mau menjadi bengcu kalau semua pihak menghendakinya. Memang sudah menjadi tekad saya untuk mempersatukan semua golongan dan mengusir penjajah Toba dari Tanah air. kalau perebutan kedudukan bengcu itu berarti sudah mengarah kepada perpecahan, justeru saya menghendaki persatuan semua pihak demi kepentingan perjuangan mengusir penjajah“

Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah, para anggota kaipang kini tidak diperbolehkan berkeliaran di kota raja. Sebagian dari mereka berangkat ke Lok-yang untuk bergabung dengan Hek I Kaipang di sana. dan sebagian lagi ada yang ke selatan. Yang tinggal di hutan itu menerima latihan ilmu silat dari Yang Cien untuk melewatkan waktu menanti datangnya pertemuan besar antara para kaipang di Hoa-san.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Ciang Kauw Cu dan Bi Soan melakukan perjalanan dengan santai ke kota Lok-yang kembali. Akan tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan mereka sekali ini tidaklah sama dengan perjalanan pertama dahulu. Ketika itu, tidak ada orang mengenal mereka, maka perjalanan mereka tidak menemui banyak rintangan. Sekarang keadaannya lain lagi.

Akauw sudah dikenal oleh orang-orang Hek I Kaipang, bahkan di kenal sebagai musuh karena mereka tahu bahwa Akauw adalah seorang panglima yang di tugaskan memanggil Gubernur Yen yang kemudian di tangkap. Bahkan ketika mengadakan pertemuan dengan Bi Soan di kuil tua dia sudah di serang oleh orang-orang Hek I Kaipang yang kini mengetahui bahwa dia adalah seorang jagoan yang amat lihai.

Kini, perjalanan mereka di bayangi orang Hek I Kaipang dari jauh, bahkan orang-orang Hek I Kaipang sudah mengatur siasat untuk menghadangnya dan telah mendatangkan dua orang jagoan dari dunia kang-ouw untuk membantu mereka menaklukkan panglima tinggi besar itu. Mereka itu adalah ketua cabang di Lok-yang dan wakilnya, dua orang kakak beradik seperguruan yang ahli dalam hal penggunaan racun atau senjata beracun.

Jauh di luar kota Lok-yang, di sebelah barat terdapat hutan yang di seling padang rumput yang luas. Ketika mereka tiba di padang rumput yang luas itulah muncul banyak orang. sedikitnya ada tiga puluh orang berpakaian hitam, berloncatan keluar dari balik rumput dan alang-alang, mengepung Akauw dan Bi Soan. Akauw merasa khawatir sekali akan keselamatan Bi Soan dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia mengajak Bi Soan karena kalau menghadapi bahaya begini Bi Soan tidak dapat membela diri dan terpaksa dialah yang harus melindunginya.

“Soan-te, cepat kau lari, aku yang akan melindungimu “bkata Akauw yang melihat banyaknya orang yang mengepung mereka. Kalau Bi Soan sudah melarikan diri, maka dia akan lebih tenang menghadapi pengeroyokan mereka. Baru dari pakaian mereka saja dia dapat menduga bahwa tentulah mereka anggota Hek I Kaipang.

“Heiii, siapakah kalian dan mengapa menghadang perjalanan kami?” Akauw membentak dengan sikap gagah.

Dua orang pemimpin mereka, yaitu Thio Ci Ketua Hek I Kaipang cabang Lok-yang dan Thio Kui, adiknya atau wakil ketua, segera berteriak, “Antek Mongol, lebih baik kalian menyerah daripada harus mampus di tangan kami!”

Akauw marah sekali mendengar dirinya di maki antek Mongol. Dia bekerja kepada Koksu dan kaisar hanya untuk membantu gurunya, Thian-te Ciu-kwi dan selama dia tidak melakukan pekerjaan yang kotor, dia tidak merasa menjadi antek Mongol.

“Kalian orang-orang Hek I Kaipang pemberontak jahat! Cepat pergi atau aku akan menghajar kalian dan kalau ada yang tewas di antara kalian jangan salahkan aku!” Akauw selama ini memang selalu menjaga agar jangan sampai membunuh orang. Akan tetapi sekarang, ketika keselamatan Bi Soan terancam, dia tidak akan segan untuk membunuh semua orang itu, demi keselamatan Bi Soan!

“Jangan khawatir, Kauw-ko, aku dapat melindungi diri sendiri!” bisik Bi Soan dan ketika dia mengerling kearah kawannya itu, ternyata Bi Soan telah memegang sepasang pedang pendek seperti belati, entah dari mana dia mendapatkan itu, tentu di sembunyikan di bawah pakaiannya

Melihat ini, Akauw merasa agak lega. Pada saat itu, kedua saudara Thio sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju menyerang. Bi Soan berdiri beradu punggung dengan Akauw dan ketika pemuda remaja ini mulai bergerak menyambut serangan para pengeroyok, hati Akauw menjadi kagum. Ternyata gerakan pemuda itu cukup hebat, bahkan terlalu hebat karena dalam beberapa gebrakan saja Bi Soan telah dapat merobohkan dua orang pengeroyok yang berada di depannya dengan sepasang pedangnya itu. Dia pun menjadi gembira dan dengan Hek-liong-kiam di tangan Akauw mengamuk. Begitu pedangnya berkelebat, beberapa batang tongkat terpotong menjadi dua dan tiga orang roboh oleh tendangan dan tamparan tangan kirinya. Akan tetapi para pengeroyok mendesak terus. Karena jumlah mereka memang banyak.

Yang menganggumkan adalah Bi Soan. Pemuda remaja ini bergerak dengan cepat bagaikan seekor burung walet saja dan dia berloncatan ke sana sini dengan gulungan sinar kedua pedangnya. Para pengeroyok menjadi panic ketika dua orang pemuda itu merobohkan banyak teman mereka. Tiba-tiba terdengar sambaran angin yang berciutan. Akauw maklum akan datangnya senjata rahasia maka dia memutar pedangnya sehingga beberapa batang jarum dan juga pisau terbang runtuh.

Akan tetapi dia mendengar kawannya mengeluh lirih. Tahulah dia bahwa Bi Soan terkena senjata rahasia, maka dia lalu mengamuk. melihat betapa Bi Soan terhuyung-huyung, hati Akauw menjadi gelisah sekali dan timbullah sifatnya yang liar. Dia mengeluarkan gerengan seperti kera yang marah dan gerakannya menjadi luar biasa sekali. Enam orang roboh mandi darah oleh gulungan sinar pedangnya yang hitam dan melihat ini, kedua saudara Thio menjadi gentar.

Kalau di lanjutkan bisa habis anak buah mereka, dan penyerangan mereka menggunakan senjata rahasia terhadap pemuda tinggi besar itupun sia-sia saja, bahkan tangkisan pemuda itu membuat senjata rahasia mereka menyeleweng dan mengenai kawan-kawan sendiri. Karena maklum bahwa pemuda tinggi besar itu sakti, Thio Ci memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk melarikan diri sambilmembawa kawan-kawan yang terluka. Mereka lari cerai berai akan tetapi Akauw tidak mengejar karena dia sudah merangkul Bi Soan yang roboh terguling.

Akauw memondong tubuh Bi Soan setelah menyimpan sepasang pedangnya yang masih di pegangi Bi Soan, lalu membawanya lari pergi dari tempat itu, khawatir kalau-kalau para musuh tadi datang kembali. Setelah memasuki sebuah hutan, dia berhenti. Keadaan di hutan itu cukup sunyi dan aman. Dia merebahkan Bi Soan di bawah sebatang pohon dan dilihatnya Bi Soan dalam keadaan pingsan!

Cepat diperiksanya dan di pundak pemuda remaja itu nampak sebatang paku besar yang masuk sampai hamper seluruhnya. dan sekitar luka itu nampak menghitam. Racun! Tahulah dia bahwa paku itu beracun. Maka cepat dia mencabut paku itu dan mengalirkan darah yang kehitaman.

“Breeettt…! “ Akauw tanpa ragu-ragu lagi membuka baju temannya di bagian dada dan pundak dan tiba-tiba dia terbelalak! Matanya menatap kearah dada itu dan tiba-tiba mukanya berubah merah sekali. Kawannya itu adalah seorang wanita! Sejenak Akauw tidak dapat berpikir, seperti patung dia menatap dada itu, kemudian barulah dia teringat akan ajaran suhengnya tentang tata susila, maka cepat-cepat dia menutupkan kembali baju itu, hanya meninggalkan bagian pundak saja yang terbuka.

Kemudian dengan agak gemetar karena masih terguncang oleh kenyataan bahwa kawannya itu adalah seorang gadis, dia lalu mendekatkan mulutnya pada luka di pundak itu dan mengisapnya. Darah terisap olehnya lalu di ludahkan, lalu mengisap lagi. Sampai tiga kali dia mengisap, mempergunakan tenaganya sehingga darah beracun itu terisap keluar semua.

Ketika dia mengisap untuk keempat kalinya, gadis itu siuman. Ia merintih dan melihat ada orang menempelkan mulut di pundaknya, ia menjerit. Akauw lalu mengangkat mukanya dan meludahkan darah yang merah, tidak menghitam lagi dan pada saat itu Bi Soan atau sekarang lebih baik mengenalnya sebagai Ji Goat menampar pipinya.

“Plakk, plakk!” Dua kali tangan itu menampar pipi Akauw dan Ji Goat kembali roboh dengan lemas dan ia pingsan lagi.

“Soan-te… eh… Bi Soan, kenapa engkau memukul aku? Aku mengobati lukamu…“

Akan tetapi Akauw segera tahu bahwa gadis itu tak sadarkan diri lagi maka dia memodong tubuhnya dan membawanya lari. Dia harus mendapatkan rumah orang agar gadis ini dapat beristirahat dan dapat dia titipkan karena dia harus cepat dapat mencari daun dan getah obat. Tak lama kemudian dia melihat sebuah dusun dan di rumah pertama dia melihat seorang wanita setengah tua di depan pintu. maka dia segera menghampiri wanita itu yang memandangnya dengan heran dan khawatir.

“Maafkan, bibi. Sahabatku ini terluka parah, bolehkah kami mendapatkan pertolongan bibi agar sahabatku ini dapat sekedar mengaso di dalam rumah bibi?”

“Ah, dia kenapa…?” Tanya wanita itu dengan khawatir.

“Dia terluka dan keracunan“

“Baik , bawa dia masuk… di sini, masuklah di kamar ini, ini kamarku…“

Akauw merasa senang sekali dan membawa Ji Goat masuk kamar dan merebahkannya di pembaringan. “Bibi, sahabatku ini seorang gadis yang menyamar pria karena itu harap bibi tidak khawatir. Ia pingsan dan aku akan pergi sebentar mencarikan obat untuknya. Kalau sebentar ia siuman dan menanyakan aku, katakana bahwa aku akan mencari obat“

Pada saat itu muncul seorang gadis dari dalam. “ini Giok Hwa, puteriku“ wanita itu memperkenalkan.

“Kebetulan sekali, biarkan puterimu menemani sahabatku. Nah, aku pergi dulu, bibi...“

Dan Akauw lalu cepat berlari keluar untuk mencarikan daun-daun obat di dalam hutan. Dia teringat akan kebiasaannya ketika masih hidup sebagai kera dan dia tahu betul mana daun obat yang dapat memunahkan racun seperti racun gigitan ular, dan mana getah pohon yang dapat mengeringkan luka. Ketika dia kembali ke rumah itu, ternyata Ji Goat sudah sadar dan ketika gadis itu memandang kepadanya, wajahnya berubah kemerahan.

“Kauw-ko, engkau…“ Ia tidak melanjutkan ucapannya karena di situ duduk Giok Hwa, gadis puteri nyonya rumah. Tadi Giok Hwa sudah bercakap-cakap dengan Ji Goat, menceritakan bahwa ibunya sudah menjadi janda dan mereka hanya hidup berdua saja di rumah itu. Giok Hwa agaknya tahu diri, maka ia lalu meninggalkan mereka berdua.

“Aku membawa daun obat untukmu“ kata Kauw cu dengan suara agak gemetar.

Ji Goat memandang kearah pipi pemuda itu dan pipi yang tadi di tamparinya itu masih kemerahan bekas tangannya. Ia tersipu. “Kauw-ko, engkau… tadi aku menamparmu…“

“Ah, engkau masih ingat itu? Maafkan aku, karena melihat engkau terluka dan lukamu itu penuh racun menghitam, sedangkan engkau masih pingsan sehingga tidak dapat ku mintai ijin, aku terpaksa mengisap keluar racun itu dari lukamu. Maafkan…“

Kauw-ko, engkau… Engkau sudah tahu… eh, keadaanku?“ Ia teringat akan bajunya yang sudah terlepas kancingnya dan tentu dadanya nampak oleh pemuda itu.

Akauw tidak berani mengangkat mukanya, akan tetapi dia mengangguk. “Maafkan, aku… aku tidak sengaja… aku tidak tahu engkau seorang wanita…“

“Engkau tidak salah, Kauw-ko. Dan memang agaknya sudah tiba waktunya bagiku untuk mengakui terus terang“

“Nanti dulu, biar aku obati dulu lukamu. Aku khawatir masih ada sisa racun di dalamnya. Ini aku membawa obat daun pemunah racun ular, kurasa cocok untuk mengobati lukamu dan ini getah untuk mengeringkan luka“

Melihat pemuda itu ragu-ragu untuk mengobati pundaknya, Ji Goat miringkan mukanya dan menyerahkan pundaknya. “Silahkan, kauw-ko“

Barulah Akauw berani menaruh daun pengisap racun pada luka itu. Setelah itu dia duduk di atas kursi dekat pembaringan. “Sekali lagi kau maafkanlah kelakuanku tadi, karena aku sama sekali tidak dapat menduga bahwa engkau seorang wanita“

“Kauw-ko, engkau sungguh jujur dan bodoh sekali. Kita pernah bertemu, maksudku aku sebagai wanita pernah bertemu denganmu, bahkan aku pernah menguji kepandaian silatmu“

Akauw terbelalak. Teringat dia akan Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji yang pernah menguji ilmu silatnya. Hampir saja dia melompat dari atas kursinya karena kaget. Dia bangkit berdiri dan mukanya berubah merah. “Jadi… Engkau… Nona Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji? Ah, kini aku ingat. Pantas saja aku merasa seperti pernah melihatmu ketika untuk pertama kalinya kita bertemu di rumah Perdana Menteri Ji“

“Ssstttt, jangan keras-keras, Kauw-ko…“ Akan tetapi peringatan itu tidak ada gunanya karena tadi Akauw bicara keras sekali sehingga terdengar oleh janda dan puterinya itu, yang berada diluar kamar.

“Tapi… tapi kenapa engkau memakai pakaian seperti ini, Ji-siocia?”

“Aih, Kauw-ko, apakah engkau sudah tidak mau menganggap aku sebagai sahabatmu lagi? Kalau masih kau anggap sahabat, jangan sebut aku Ji-Siocia!”

“Habis, aku harus menyebut apa? Tidak mungkin menyebut Soan-te…“

“Kalau aku menyamar sebagai pria engkau tetap menyebut aku adik Bi Soan, kalau aku berpakaian wanita barulah engkau menyebut…“

“Ji-siocia...“

“Bukan, aku tidak senang kalau engkau menyebutku begitu. Apakah engkau akan senang kalau aku menyebutmu Cian-ciangkun atau Cian-kongcu? Nah, sebut saja namaku. namaku Ji Goat, engkau boleh menyebutku Goat-moi kalau engkau suka“

“Kalau aku suka? Aih, Goat-moi tentu saja aku suka sekali, terima kasih!” Kata Akauw dengan gembira sekali. Entah mengapa, dia sendiri tidak tahu mengapa kini dia merasa begitu gembira setelah mendapat kenyataan bahwa sahabat yang di sayangnya itu adalah Ji Goat!

“Akan tetapi sekarang aku masih menyamar, sebaiknya engkau menyebut aku Soan-te seperti biasa”

“Akan tetapi janda itu dan puterinya sudah mengetahui bahwa engkau wanita“

“Tidak mengapa. Mereka tidak berbahaya“ Ji Goat lalu bangkit duduk. “Mari kita keluar, perutku terasa lapar dan tadi enci Giok Hwa sudah berjanji akan memasakkan sayur untukku“

Mereka lalu keluar dan janda itu bersama puterinya girang melihat bahwa Ji Goat sudah dapat turun dan ternyata tidak sakit parah seperti yang mereka khawatirkan.

“Nona, engkau terluka oleh senjata? Tentu prajurit-prajurit biadab itu yang melukaimu, bukan?” Tanya nyonya janda itu.

“Prajurit-prajurit biadab? Maksudmu siapa, bibi?” Tanya Ji Goat.

“Siapa lagi kalau bukan pasukan bangsa liar itu. Bangsa Toba adalah bangsa liar dan mereka selalu menindas kita. Memang sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai laki-laki karena mereka itu tidak pernah mau melepaskan wanita cantik“

Ji Goat menjadi tertarik sekali. “Bibi, apakah prajurit itu pernah mengganggu dusun ini?”

“Sudah tak terhitung banyaknya. Kambing dan ayam kita selalu di rampas. Dan kalau Giok Hwa ini ketahuan mereka, celakalah kita. Selama ini Giok Hwa ku titipkan pada pamannya di kota, dan baru beberapa hari ini pulang karena kami saling merindukan. Mudah-mudahan saja perampok-perampok berpakaian prajurit itu tidak akan datang malam ini“

Biarpun luka yang di derita oleh Ji Goat sudah tidak berbahaya lagi, akan tetapi karena gadis itu perlu beristirahat, Akauw menganjurkan untuk mereka bermalam satu malam di rumah itu dan baru pada keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Lok-yang. Malam itu Ji Goat tidur bersama Giok Hwa dan Akauw tidur di ruangan depan dan dia mendapat kesempatan untuk bicara dengan nyonya janda itu.

“Sudah lamakah suami bibi meninggal?” Tanya Akauw.

Wanita itu mengela napas. “Baru setahun yang lalu. Suamiku tewas karena mempertahankan tanahnya yang hendak di beli oleh tuan tanah. Dia ribut dengan para tukang pukul dan di pukuli. Dia menderita sakit karena itu dan meninggal sepekan kemudian. Kami orang dusun sungguh tersiksa hidup kami. Bukan saja dari para pemeras, akan tetapi juga dari pemerintah, kami di kenakan pajak besar. Belum lagi kerja paksa yang membawa banyak pemuda dusun ini untuk di suruh bekerja membangun Tembok Besar. Masih ada lagi gangguan para pasukan Bangsa Toba yang ganas itu. Aihhh kehidupan sungguh merupakan serentetan kesengsaraan yang tiada henti-hentinya. Kami tadinya hendak pindah saja ke dekat Lok-yang karena di sana keadaan lebih aman. Akan tetapi belum sempat lagi“

“Kenapa di dekat Lok-yang lebih aman, bibi?”

“Karena Gubernur Lok-yang seorang yang amat bijaksana. Dia memerintah dengan adil dan pasukan Lok-yang juga merupakan pasukan yang tidak pernah bertindak liar dan buas seperti pasukan Toba. Bahkan Gubernur di Lok-yang amat baik kepada rakyat kecil. Ketika musim panas yang berkepanjangan tahun lalu, beliau yang membagikan ransom kepada rakyat, bahkan juga uang untuk modal menanam pada musim hujan berikutnya. Ah, benar. Kalau saja yang memegang pemerintah itu Gubernur Yen di Lok-yang, kehidupan tentu akan lebih tenteram“

Akauw menjadi tertarik sekali. “Akan tetapi aku mendengar bahwa Gubernur Lok-yang hendak memberontak kepada Kerajaan, Bibi. benarkah berita itu?”

“Aku tidak tahu. Akan tetapi kalau benar begitu, tentu kami semua mendukungnya! Rakyat sudah bosan dengan pemerintah penjajah yang menindas dan menyengsarakan ini. Biarpun aku seorang wanita kalau bisa aku akan membantunya pula, untuk menebus kematian suamiku“

Sekarang jelaslah bagi Akauw. Pemerintah Toba itu di benci rakyat, dan kalau Gubernur Yen hendak memberontak, tentu akan mendapat dukungan rakyat jelata. Dia mulai menjadi bingung. Kalau dia kini membantu yang lalim yang di benci oleh rakyat, benarkah perbuatannya? Apakah suhengnya tidak akan menyalahkannya? Akan tetapi Ji Goat adalah puteri Perdana Menteri. Bagaimanapun juga dia harus berpihak kepada Ji Goat!

Tidak peduli dengan yang lain-lain, akan tetapi dia sudah yakin bahwa Ji Goat adalah seorang yang baik dan benar. Dan karenanya, dia akan membelanya, kalau perlu dengan taruhan nyawanya! Dia sudah jatuh cinta kepada Ji Goat sejak lama, sejak dia belum tahu bahwa Bi Soan adalah Ji Goat, seorang wanita. Dia sudah jatuh cinta sejak Ji Goat di anggapnya pemuda remaja.

Tiba-tiba terdengar canang di pukul bertubi-tubi, dan janda itu melompat berdiri, wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetaran.

“Celaka…! Mereka datang…!”

Pada saat itu, pintu kamar terbuka dan dua orang gadis itu muncul pula.

“Apa yang terjadi?”

Sementara itu, giok Hwa sudah saling rangkul dengan ibunya dan menangis.

“Apa yang terjadi?” Ji Goat dan Akauw bertanya kepada mereka.

“Mereka, perampok-perampok itu datang…!” Giok Hwa dengan suara menggigil.

Ji Goat dan Akauw saling pandang. “Mari, Kauw-ko!” Ji Goat dan ia sudah lari memasuki kamarnya untuk mengambil sepasang pedangnya dan Akauw segera mengikutinya pergi keluar.

Terjadi perubahan hebat di dusun yang tadinya sunyi dan tentram itu. Dimana-mana terdengar jeritan wanita dan teriakan-teriakan orang yang di pukuli. Nampak seorang laki-laki menyeret seorang gadis keluar dari rumah, dan dari rumah lain dua orang laki-laki menuntun kambing dan membawa ayam. Mereka itu adalah orang-orang berpakaian prajurit dan agaknya mereka itu mabok atau setengah mabok, merampoki ayam dan kambing sambil tertawa-tawa.

Ji Goat sudah tidak dapat menahan sabar lagi. Sekali loncat ia sudah mendekati prajurit yang menyeret-nyeret gadis yang menjerit-jerit ketakutan itu. Tangannya melayang dan menampar.

“Plaakkk!”

Laki-laki itu berseru kesakitan dan terpelanting. Akan tetapi dia cukup kuat karena sudah dapat meloncat bangun kembali dan ketika melihat bahwa yang menamparnya adalah seorang pemuda remaja, dia lalu mencabut goloknya dan membacok dengan cepat dan kuat. Kemarahan membuat dia ingin sekali membunuh pemuda yang menghalanginya membawa gadis itu. Gadis itupun lari sambil menangis, kembali ke rumahnya.

Di bacok dengan golok itu, Ji Goat menghindar cepat. Namun penyerangnya terus mengejar dengan golok. Ji Goat lalu menggerakkan sepasang pedangnya yang kiri menangkis yang kanan menusuk dan orang itupun roboh mandi darah, sambil mengeluarkan teriakan keras.

Kini bermunculan banyak prajurit. Tidak kurang dari dua puluh orang banyaknya. Ada yang memondong tubuh seorang wanita, ada pula yang membawa barang atau menuntun hewan ternak. Akauw juga sudah mengamuk dan kini dia sudah dikeroyok banyak prajurit yang menggunakan golok. Akauw mengamuk dengan pedangnya dan sebentar saja sudah ada enam orang yang roboh oleh pedangnya.

Ji Goat juga membantunya dan lebih banyak lagi pengeroyok roboh. Akan tetapi yang di serang oleh Ji Goat hanya mereka yang memondong wanita dan setiap penculik wanita itu pasti di bunuhnya tanpa ampun lagi. Tiba-tiba terdengar jeritan dari rumah dimana mereka bermalam. Mendengar ini Ji Goat meninggalkan Akauw dan lari kearah rumah itu. Ketika masuk, ia mendengar pergumulan dikamar dan terdengar jeritan Giok Hwa. Cepat di tendangnya daun pintu kamar terbuka dan mukanya berubah merah saking marahnya melihat seorang prajurit tinggi besar bermuka hitam yang sedang berusaha memperkosa Giok Hwa.

“Jahanam busuk!” Ji Goat berseru dan karena tidak mau membunuh orang dalam kamar itu, ia menjambak rambut si prajurit dan menariknya keluar.

Prajurit itu kaget dan hendak meronta, akan tetapi dia tidak dapat melepaskan jambakan itu. Tubuhnya terseret keluar dan ketika tiba di luar rumah baru dia di lepaskan.

“Kurang ajar!” bentaknya sambil mencabut goloknya. Ternyata dia berpakaian opsir, mungkin dia pemimpin gerombolan itu. Goloknya menyambar-nyambar dengan cepatnya dan ilmu silatnya lebih baik daripada yang lain. Akan tetapi dia berhadapan dengan murid Toat-beng Giam-ong, Koksu dari Kerajaan Toba! Biarpun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga, tetap saja dalam waktu belasan jurus, dia roboh dengan leher hampir putus terbabat pedang di tangan Ji Goat yang sudah marah sekali!

Para prajurit yang melihat betapa opsirnya tewas, juga setengah jumlah mereka sudah roboh, segera melarikan diri di tengan malam itu, meninggalkan semua barang rampokannya.

Orang-orang dusun keluar dari rumah mereka dan semua orang menjadi ketakutan. Kepala dusun itu segera menjatuhkan diri berlutut di dapan Akauw dan Ji Goat.

"Taihiap, bagaimana dengan kami ini? Mereka tentu akan datang dengan jumlah lebih banyak dan kami yang akan menerima hukuman karena banyak tentara tewas di dusun kami“ katanya dengan suara hampir menangis. Orang-orang dusun lainnya juga menjatuhkan diri berlutut.

“Kalian bangkitlah dan jangan khawatir. Kami berdua akan tinggal di sini dan kami yang akan bertanggung jawab. Kami akan menanti sampai mereka datang dan sementara itu, kalian urus jenazah semua perampok ini, kuburkan baik-baik. Ini untuk biayanya“ Ji Goat mengeluarkan beberapa potong uang emas untuk biaya penguburan.

Setelah Ji Goat berkata demikian, barulah kepala dusun merasa agak lega dan beramai-ramai mereka mengurus mayat sembilan orang prajurit itu. Yang belum mati sudah lebih dulu melarikan diri sedapatnya dari tempat itu...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 13

“Tentu Gubernur Yen adalah seorang patriot sejati. Kalau dia membangkang berarti ada bukti akan pemberontakan di Lok-yang. Tentu Gubernur Yen mengorbankan diri demi perjuangan. Biarpun dia di tangkap, bahkan di bunuh sekalipun, perjuangan tidak boleh hancur sebelum di mulai. Tentu diam-diam ada yang menggantikannya, melanjutkan penghimpunan kekuatan di sana. Kita sudah tidak dapat lagi tinggal di kota raja, oleh karena itu semua anak buah harus dipindahkan. Aku akan membawa anak buah dari kota raja pindah ke sekitar Lok-yang, untuk membantu sewaktu-waktu Lok-yang menentang pemerintah“

“Sebaiknya sebagian pula pindah ke Nam-kiang“ kata Song-Pangcu. “Di Nam-kiang juga terjadi pergolakan. Terjadi pertentangan antara Koksu dan Coa-ciangkun. kabarnya Coa-ciangkun telah menerima perintah dari kaisar untuk mengundurkan tentaranya akan tetapi dia masih menangguhkannya. Dan Gubernur Gak di Nam-kiang bersimpati kepada Coa-ciangkun. Ada gejalanya bahwa merekapun hendak menentang pemerintah penjajah“

“Akan tetapi kenapa Kaisar memerintahkan Coa-ciangkun mundur? Bukankah pasukan Coa-ciangkun yang menjaga tapal batas di selatan?”

“Entahlah, gerakan itu kalau benar dilakukan dan pasukan di tarik mundur, hanya akan menguntungkan Kerajaan Sun. Padahal kami mendengar bahwa Kerajaan Sun yang diperintah Sun Huang-te kini semakin kuat karena di bantu oleh banyak golongan kang-ouw. Kini di Nam-kiang itupun timbul desas-desus bahwa pemerintah Kerajaan Sun akan segera melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Toba“

“Bagus!” kata Coa Lokai. “Makin banyak yang memberontak semakin baik, tanda keruntuhan Kerajaan Toba sudah mendekati saatnya dan kita akan segera terbebas dari cengkraman penjajah“

Yang Cien yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, segera ikut bicara. “Menurut pendapat saya yang bodoh, pemberontakan-pemberontakan kecil itu tidak ada artinya sama sekali. Satu demi satu akan di hancurkan oleh kekuatan Toba, tentu akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka yang tak kunjung henti. Dan rakyat tetap saja tidak dapat mengecam kedamaian dan ketentraman“

“Hemmm, ada benarnya juga ucapan Yang-taihiap“ kata Cu Lokai. “Akan tetapi, kalau kita semua tidak melakukan usaha perjuangan ini, lalu sampai kapan penjajah Toba dapat di usir keluar dari tanah air?”

“Memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mengusir penjajah dari tanah air, akan tetapi yang paling penting kita harus dapat bersatu padu menghimpun kekuatan. Dengan cara demikian, barulah kita memang tidak akan berhasil dan kalaupun kita memang tidak akan terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara yang tidak henti-hentinya. Lupakah cu-wi akan sejarah bangsa kita sebelum bangsa Toba menjajah tanah air kita? Mengapa sampai dapat terjajah? Karena kita saling hantam sendiri, karena perang saudara yang tiada henti-hentinya. Bangsa Toba menggunakan kesempatan itu untuk memukul dan menguasai tanah air. Coba andaikata kita bersatu padu, tak mungkin bangsa lain menjajah kita“

Ucapan penuh semangat dari yang Cien ini di sambut gembira sekali oleh para pimpinan kaipang itu. Bahkan Song-pangcu saking gembiranya lalu mengusulkan. ”Dalam pemilihan pangcu yang akan di adakan dalam tahun depan, kami mengusulkan agar Yang-taihiap di pilih menjadi bengcu!”

“Akur! Setuju!” Semua orang berseru dan Cu Lokai mengangkat tangan agar mereka diam. Setelah semua orang diam, Co Lokai berkata dengan suara nyaring.

“Usul Song-pangcu itu memang tepat, akan tetapi bagi kami yang sudah mengenal baik Yang-Taihiap. Sedangkan golongan kaipang ada amat banyak. Mereka pun harus di yakinkan dulu akan kemampuan Yang-taihiap. Pertemuan para kaipang akan di adakan di lereng Hoa-san dalam waktu tiga bulan lagi. Nah, dalam pertemuan itulah kita akan mengusulkan agar Yang-taihiap dijadikan calon tunggal dari pihak seluruh kaipang sebagai calaon bengcu“

Semua orang menyatakan setuju dan kini Yang Cien yang bicara. “Maksud hati cu-wi amat baik dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan itu. Akan tetapi harap di ingat bahwa saya tidak mau memperebutkan kedudukan bengcu. Saya hanya mau menjadi bengcu kalau semua pihak menghendakinya. Memang sudah menjadi tekad saya untuk mempersatukan semua golongan dan mengusir penjajah Toba dari Tanah air. kalau perebutan kedudukan bengcu itu berarti sudah mengarah kepada perpecahan, justeru saya menghendaki persatuan semua pihak demi kepentingan perjuangan mengusir penjajah“

Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah, para anggota kaipang kini tidak diperbolehkan berkeliaran di kota raja. Sebagian dari mereka berangkat ke Lok-yang untuk bergabung dengan Hek I Kaipang di sana. dan sebagian lagi ada yang ke selatan. Yang tinggal di hutan itu menerima latihan ilmu silat dari Yang Cien untuk melewatkan waktu menanti datangnya pertemuan besar antara para kaipang di Hoa-san.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Ciang Kauw Cu dan Bi Soan melakukan perjalanan dengan santai ke kota Lok-yang kembali. Akan tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan mereka sekali ini tidaklah sama dengan perjalanan pertama dahulu. Ketika itu, tidak ada orang mengenal mereka, maka perjalanan mereka tidak menemui banyak rintangan. Sekarang keadaannya lain lagi.

Akauw sudah dikenal oleh orang-orang Hek I Kaipang, bahkan di kenal sebagai musuh karena mereka tahu bahwa Akauw adalah seorang panglima yang di tugaskan memanggil Gubernur Yen yang kemudian di tangkap. Bahkan ketika mengadakan pertemuan dengan Bi Soan di kuil tua dia sudah di serang oleh orang-orang Hek I Kaipang yang kini mengetahui bahwa dia adalah seorang jagoan yang amat lihai.

Kini, perjalanan mereka di bayangi orang Hek I Kaipang dari jauh, bahkan orang-orang Hek I Kaipang sudah mengatur siasat untuk menghadangnya dan telah mendatangkan dua orang jagoan dari dunia kang-ouw untuk membantu mereka menaklukkan panglima tinggi besar itu. Mereka itu adalah ketua cabang di Lok-yang dan wakilnya, dua orang kakak beradik seperguruan yang ahli dalam hal penggunaan racun atau senjata beracun.

Jauh di luar kota Lok-yang, di sebelah barat terdapat hutan yang di seling padang rumput yang luas. Ketika mereka tiba di padang rumput yang luas itulah muncul banyak orang. sedikitnya ada tiga puluh orang berpakaian hitam, berloncatan keluar dari balik rumput dan alang-alang, mengepung Akauw dan Bi Soan. Akauw merasa khawatir sekali akan keselamatan Bi Soan dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia mengajak Bi Soan karena kalau menghadapi bahaya begini Bi Soan tidak dapat membela diri dan terpaksa dialah yang harus melindunginya.

“Soan-te, cepat kau lari, aku yang akan melindungimu “bkata Akauw yang melihat banyaknya orang yang mengepung mereka. Kalau Bi Soan sudah melarikan diri, maka dia akan lebih tenang menghadapi pengeroyokan mereka. Baru dari pakaian mereka saja dia dapat menduga bahwa tentulah mereka anggota Hek I Kaipang.

“Heiii, siapakah kalian dan mengapa menghadang perjalanan kami?” Akauw membentak dengan sikap gagah.

Dua orang pemimpin mereka, yaitu Thio Ci Ketua Hek I Kaipang cabang Lok-yang dan Thio Kui, adiknya atau wakil ketua, segera berteriak, “Antek Mongol, lebih baik kalian menyerah daripada harus mampus di tangan kami!”

Akauw marah sekali mendengar dirinya di maki antek Mongol. Dia bekerja kepada Koksu dan kaisar hanya untuk membantu gurunya, Thian-te Ciu-kwi dan selama dia tidak melakukan pekerjaan yang kotor, dia tidak merasa menjadi antek Mongol.

“Kalian orang-orang Hek I Kaipang pemberontak jahat! Cepat pergi atau aku akan menghajar kalian dan kalau ada yang tewas di antara kalian jangan salahkan aku!” Akauw selama ini memang selalu menjaga agar jangan sampai membunuh orang. Akan tetapi sekarang, ketika keselamatan Bi Soan terancam, dia tidak akan segan untuk membunuh semua orang itu, demi keselamatan Bi Soan!

“Jangan khawatir, Kauw-ko, aku dapat melindungi diri sendiri!” bisik Bi Soan dan ketika dia mengerling kearah kawannya itu, ternyata Bi Soan telah memegang sepasang pedang pendek seperti belati, entah dari mana dia mendapatkan itu, tentu di sembunyikan di bawah pakaiannya

Melihat ini, Akauw merasa agak lega. Pada saat itu, kedua saudara Thio sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju menyerang. Bi Soan berdiri beradu punggung dengan Akauw dan ketika pemuda remaja ini mulai bergerak menyambut serangan para pengeroyok, hati Akauw menjadi kagum. Ternyata gerakan pemuda itu cukup hebat, bahkan terlalu hebat karena dalam beberapa gebrakan saja Bi Soan telah dapat merobohkan dua orang pengeroyok yang berada di depannya dengan sepasang pedangnya itu. Dia pun menjadi gembira dan dengan Hek-liong-kiam di tangan Akauw mengamuk. Begitu pedangnya berkelebat, beberapa batang tongkat terpotong menjadi dua dan tiga orang roboh oleh tendangan dan tamparan tangan kirinya. Akan tetapi para pengeroyok mendesak terus. Karena jumlah mereka memang banyak.

Yang menganggumkan adalah Bi Soan. Pemuda remaja ini bergerak dengan cepat bagaikan seekor burung walet saja dan dia berloncatan ke sana sini dengan gulungan sinar kedua pedangnya. Para pengeroyok menjadi panic ketika dua orang pemuda itu merobohkan banyak teman mereka. Tiba-tiba terdengar sambaran angin yang berciutan. Akauw maklum akan datangnya senjata rahasia maka dia memutar pedangnya sehingga beberapa batang jarum dan juga pisau terbang runtuh.

Akan tetapi dia mendengar kawannya mengeluh lirih. Tahulah dia bahwa Bi Soan terkena senjata rahasia, maka dia lalu mengamuk. melihat betapa Bi Soan terhuyung-huyung, hati Akauw menjadi gelisah sekali dan timbullah sifatnya yang liar. Dia mengeluarkan gerengan seperti kera yang marah dan gerakannya menjadi luar biasa sekali. Enam orang roboh mandi darah oleh gulungan sinar pedangnya yang hitam dan melihat ini, kedua saudara Thio menjadi gentar.

Kalau di lanjutkan bisa habis anak buah mereka, dan penyerangan mereka menggunakan senjata rahasia terhadap pemuda tinggi besar itupun sia-sia saja, bahkan tangkisan pemuda itu membuat senjata rahasia mereka menyeleweng dan mengenai kawan-kawan sendiri. Karena maklum bahwa pemuda tinggi besar itu sakti, Thio Ci memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk melarikan diri sambilmembawa kawan-kawan yang terluka. Mereka lari cerai berai akan tetapi Akauw tidak mengejar karena dia sudah merangkul Bi Soan yang roboh terguling.

Akauw memondong tubuh Bi Soan setelah menyimpan sepasang pedangnya yang masih di pegangi Bi Soan, lalu membawanya lari pergi dari tempat itu, khawatir kalau-kalau para musuh tadi datang kembali. Setelah memasuki sebuah hutan, dia berhenti. Keadaan di hutan itu cukup sunyi dan aman. Dia merebahkan Bi Soan di bawah sebatang pohon dan dilihatnya Bi Soan dalam keadaan pingsan!

Cepat diperiksanya dan di pundak pemuda remaja itu nampak sebatang paku besar yang masuk sampai hamper seluruhnya. dan sekitar luka itu nampak menghitam. Racun! Tahulah dia bahwa paku itu beracun. Maka cepat dia mencabut paku itu dan mengalirkan darah yang kehitaman.

“Breeettt…! “ Akauw tanpa ragu-ragu lagi membuka baju temannya di bagian dada dan pundak dan tiba-tiba dia terbelalak! Matanya menatap kearah dada itu dan tiba-tiba mukanya berubah merah sekali. Kawannya itu adalah seorang wanita! Sejenak Akauw tidak dapat berpikir, seperti patung dia menatap dada itu, kemudian barulah dia teringat akan ajaran suhengnya tentang tata susila, maka cepat-cepat dia menutupkan kembali baju itu, hanya meninggalkan bagian pundak saja yang terbuka.

Kemudian dengan agak gemetar karena masih terguncang oleh kenyataan bahwa kawannya itu adalah seorang gadis, dia lalu mendekatkan mulutnya pada luka di pundak itu dan mengisapnya. Darah terisap olehnya lalu di ludahkan, lalu mengisap lagi. Sampai tiga kali dia mengisap, mempergunakan tenaganya sehingga darah beracun itu terisap keluar semua.

Ketika dia mengisap untuk keempat kalinya, gadis itu siuman. Ia merintih dan melihat ada orang menempelkan mulut di pundaknya, ia menjerit. Akauw lalu mengangkat mukanya dan meludahkan darah yang merah, tidak menghitam lagi dan pada saat itu Bi Soan atau sekarang lebih baik mengenalnya sebagai Ji Goat menampar pipinya.

“Plakk, plakk!” Dua kali tangan itu menampar pipi Akauw dan Ji Goat kembali roboh dengan lemas dan ia pingsan lagi.

“Soan-te… eh… Bi Soan, kenapa engkau memukul aku? Aku mengobati lukamu…“

Akan tetapi Akauw segera tahu bahwa gadis itu tak sadarkan diri lagi maka dia memodong tubuhnya dan membawanya lari. Dia harus mendapatkan rumah orang agar gadis ini dapat beristirahat dan dapat dia titipkan karena dia harus cepat dapat mencari daun dan getah obat. Tak lama kemudian dia melihat sebuah dusun dan di rumah pertama dia melihat seorang wanita setengah tua di depan pintu. maka dia segera menghampiri wanita itu yang memandangnya dengan heran dan khawatir.

“Maafkan, bibi. Sahabatku ini terluka parah, bolehkah kami mendapatkan pertolongan bibi agar sahabatku ini dapat sekedar mengaso di dalam rumah bibi?”

“Ah, dia kenapa…?” Tanya wanita itu dengan khawatir.

“Dia terluka dan keracunan“

“Baik , bawa dia masuk… di sini, masuklah di kamar ini, ini kamarku…“

Akauw merasa senang sekali dan membawa Ji Goat masuk kamar dan merebahkannya di pembaringan. “Bibi, sahabatku ini seorang gadis yang menyamar pria karena itu harap bibi tidak khawatir. Ia pingsan dan aku akan pergi sebentar mencarikan obat untuknya. Kalau sebentar ia siuman dan menanyakan aku, katakana bahwa aku akan mencari obat“

Pada saat itu muncul seorang gadis dari dalam. “ini Giok Hwa, puteriku“ wanita itu memperkenalkan.

“Kebetulan sekali, biarkan puterimu menemani sahabatku. Nah, aku pergi dulu, bibi...“

Dan Akauw lalu cepat berlari keluar untuk mencarikan daun-daun obat di dalam hutan. Dia teringat akan kebiasaannya ketika masih hidup sebagai kera dan dia tahu betul mana daun obat yang dapat memunahkan racun seperti racun gigitan ular, dan mana getah pohon yang dapat mengeringkan luka. Ketika dia kembali ke rumah itu, ternyata Ji Goat sudah sadar dan ketika gadis itu memandang kepadanya, wajahnya berubah kemerahan.

“Kauw-ko, engkau…“ Ia tidak melanjutkan ucapannya karena di situ duduk Giok Hwa, gadis puteri nyonya rumah. Tadi Giok Hwa sudah bercakap-cakap dengan Ji Goat, menceritakan bahwa ibunya sudah menjadi janda dan mereka hanya hidup berdua saja di rumah itu. Giok Hwa agaknya tahu diri, maka ia lalu meninggalkan mereka berdua.

“Aku membawa daun obat untukmu“ kata Kauw cu dengan suara agak gemetar.

Ji Goat memandang kearah pipi pemuda itu dan pipi yang tadi di tamparinya itu masih kemerahan bekas tangannya. Ia tersipu. “Kauw-ko, engkau… tadi aku menamparmu…“

“Ah, engkau masih ingat itu? Maafkan aku, karena melihat engkau terluka dan lukamu itu penuh racun menghitam, sedangkan engkau masih pingsan sehingga tidak dapat ku mintai ijin, aku terpaksa mengisap keluar racun itu dari lukamu. Maafkan…“

Kauw-ko, engkau… Engkau sudah tahu… eh, keadaanku?“ Ia teringat akan bajunya yang sudah terlepas kancingnya dan tentu dadanya nampak oleh pemuda itu.

Akauw tidak berani mengangkat mukanya, akan tetapi dia mengangguk. “Maafkan, aku… aku tidak sengaja… aku tidak tahu engkau seorang wanita…“

“Engkau tidak salah, Kauw-ko. Dan memang agaknya sudah tiba waktunya bagiku untuk mengakui terus terang“

“Nanti dulu, biar aku obati dulu lukamu. Aku khawatir masih ada sisa racun di dalamnya. Ini aku membawa obat daun pemunah racun ular, kurasa cocok untuk mengobati lukamu dan ini getah untuk mengeringkan luka“

Melihat pemuda itu ragu-ragu untuk mengobati pundaknya, Ji Goat miringkan mukanya dan menyerahkan pundaknya. “Silahkan, kauw-ko“

Barulah Akauw berani menaruh daun pengisap racun pada luka itu. Setelah itu dia duduk di atas kursi dekat pembaringan. “Sekali lagi kau maafkanlah kelakuanku tadi, karena aku sama sekali tidak dapat menduga bahwa engkau seorang wanita“

“Kauw-ko, engkau sungguh jujur dan bodoh sekali. Kita pernah bertemu, maksudku aku sebagai wanita pernah bertemu denganmu, bahkan aku pernah menguji kepandaian silatmu“

Akauw terbelalak. Teringat dia akan Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji yang pernah menguji ilmu silatnya. Hampir saja dia melompat dari atas kursinya karena kaget. Dia bangkit berdiri dan mukanya berubah merah. “Jadi… Engkau… Nona Ji Goat, puteri Perdana Menteri Ji? Ah, kini aku ingat. Pantas saja aku merasa seperti pernah melihatmu ketika untuk pertama kalinya kita bertemu di rumah Perdana Menteri Ji“

“Ssstttt, jangan keras-keras, Kauw-ko…“ Akan tetapi peringatan itu tidak ada gunanya karena tadi Akauw bicara keras sekali sehingga terdengar oleh janda dan puterinya itu, yang berada diluar kamar.

“Tapi… tapi kenapa engkau memakai pakaian seperti ini, Ji-siocia?”

“Aih, Kauw-ko, apakah engkau sudah tidak mau menganggap aku sebagai sahabatmu lagi? Kalau masih kau anggap sahabat, jangan sebut aku Ji-Siocia!”

“Habis, aku harus menyebut apa? Tidak mungkin menyebut Soan-te…“

“Kalau aku menyamar sebagai pria engkau tetap menyebut aku adik Bi Soan, kalau aku berpakaian wanita barulah engkau menyebut…“

“Ji-siocia...“

“Bukan, aku tidak senang kalau engkau menyebutku begitu. Apakah engkau akan senang kalau aku menyebutmu Cian-ciangkun atau Cian-kongcu? Nah, sebut saja namaku. namaku Ji Goat, engkau boleh menyebutku Goat-moi kalau engkau suka“

“Kalau aku suka? Aih, Goat-moi tentu saja aku suka sekali, terima kasih!” Kata Akauw dengan gembira sekali. Entah mengapa, dia sendiri tidak tahu mengapa kini dia merasa begitu gembira setelah mendapat kenyataan bahwa sahabat yang di sayangnya itu adalah Ji Goat!

“Akan tetapi sekarang aku masih menyamar, sebaiknya engkau menyebut aku Soan-te seperti biasa”

“Akan tetapi janda itu dan puterinya sudah mengetahui bahwa engkau wanita“

“Tidak mengapa. Mereka tidak berbahaya“ Ji Goat lalu bangkit duduk. “Mari kita keluar, perutku terasa lapar dan tadi enci Giok Hwa sudah berjanji akan memasakkan sayur untukku“

Mereka lalu keluar dan janda itu bersama puterinya girang melihat bahwa Ji Goat sudah dapat turun dan ternyata tidak sakit parah seperti yang mereka khawatirkan.

“Nona, engkau terluka oleh senjata? Tentu prajurit-prajurit biadab itu yang melukaimu, bukan?” Tanya nyonya janda itu.

“Prajurit-prajurit biadab? Maksudmu siapa, bibi?” Tanya Ji Goat.

“Siapa lagi kalau bukan pasukan bangsa liar itu. Bangsa Toba adalah bangsa liar dan mereka selalu menindas kita. Memang sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai laki-laki karena mereka itu tidak pernah mau melepaskan wanita cantik“

Ji Goat menjadi tertarik sekali. “Bibi, apakah prajurit itu pernah mengganggu dusun ini?”

“Sudah tak terhitung banyaknya. Kambing dan ayam kita selalu di rampas. Dan kalau Giok Hwa ini ketahuan mereka, celakalah kita. Selama ini Giok Hwa ku titipkan pada pamannya di kota, dan baru beberapa hari ini pulang karena kami saling merindukan. Mudah-mudahan saja perampok-perampok berpakaian prajurit itu tidak akan datang malam ini“

Biarpun luka yang di derita oleh Ji Goat sudah tidak berbahaya lagi, akan tetapi karena gadis itu perlu beristirahat, Akauw menganjurkan untuk mereka bermalam satu malam di rumah itu dan baru pada keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Lok-yang. Malam itu Ji Goat tidur bersama Giok Hwa dan Akauw tidur di ruangan depan dan dia mendapat kesempatan untuk bicara dengan nyonya janda itu.

“Sudah lamakah suami bibi meninggal?” Tanya Akauw.

Wanita itu mengela napas. “Baru setahun yang lalu. Suamiku tewas karena mempertahankan tanahnya yang hendak di beli oleh tuan tanah. Dia ribut dengan para tukang pukul dan di pukuli. Dia menderita sakit karena itu dan meninggal sepekan kemudian. Kami orang dusun sungguh tersiksa hidup kami. Bukan saja dari para pemeras, akan tetapi juga dari pemerintah, kami di kenakan pajak besar. Belum lagi kerja paksa yang membawa banyak pemuda dusun ini untuk di suruh bekerja membangun Tembok Besar. Masih ada lagi gangguan para pasukan Bangsa Toba yang ganas itu. Aihhh kehidupan sungguh merupakan serentetan kesengsaraan yang tiada henti-hentinya. Kami tadinya hendak pindah saja ke dekat Lok-yang karena di sana keadaan lebih aman. Akan tetapi belum sempat lagi“

“Kenapa di dekat Lok-yang lebih aman, bibi?”

“Karena Gubernur Lok-yang seorang yang amat bijaksana. Dia memerintah dengan adil dan pasukan Lok-yang juga merupakan pasukan yang tidak pernah bertindak liar dan buas seperti pasukan Toba. Bahkan Gubernur di Lok-yang amat baik kepada rakyat kecil. Ketika musim panas yang berkepanjangan tahun lalu, beliau yang membagikan ransom kepada rakyat, bahkan juga uang untuk modal menanam pada musim hujan berikutnya. Ah, benar. Kalau saja yang memegang pemerintah itu Gubernur Yen di Lok-yang, kehidupan tentu akan lebih tenteram“

Akauw menjadi tertarik sekali. “Akan tetapi aku mendengar bahwa Gubernur Lok-yang hendak memberontak kepada Kerajaan, Bibi. benarkah berita itu?”

“Aku tidak tahu. Akan tetapi kalau benar begitu, tentu kami semua mendukungnya! Rakyat sudah bosan dengan pemerintah penjajah yang menindas dan menyengsarakan ini. Biarpun aku seorang wanita kalau bisa aku akan membantunya pula, untuk menebus kematian suamiku“

Sekarang jelaslah bagi Akauw. Pemerintah Toba itu di benci rakyat, dan kalau Gubernur Yen hendak memberontak, tentu akan mendapat dukungan rakyat jelata. Dia mulai menjadi bingung. Kalau dia kini membantu yang lalim yang di benci oleh rakyat, benarkah perbuatannya? Apakah suhengnya tidak akan menyalahkannya? Akan tetapi Ji Goat adalah puteri Perdana Menteri. Bagaimanapun juga dia harus berpihak kepada Ji Goat!

Tidak peduli dengan yang lain-lain, akan tetapi dia sudah yakin bahwa Ji Goat adalah seorang yang baik dan benar. Dan karenanya, dia akan membelanya, kalau perlu dengan taruhan nyawanya! Dia sudah jatuh cinta kepada Ji Goat sejak lama, sejak dia belum tahu bahwa Bi Soan adalah Ji Goat, seorang wanita. Dia sudah jatuh cinta sejak Ji Goat di anggapnya pemuda remaja.

Tiba-tiba terdengar canang di pukul bertubi-tubi, dan janda itu melompat berdiri, wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetaran.

“Celaka…! Mereka datang…!”

Pada saat itu, pintu kamar terbuka dan dua orang gadis itu muncul pula.

“Apa yang terjadi?”

Sementara itu, giok Hwa sudah saling rangkul dengan ibunya dan menangis.

“Apa yang terjadi?” Ji Goat dan Akauw bertanya kepada mereka.

“Mereka, perampok-perampok itu datang…!” Giok Hwa dengan suara menggigil.

Ji Goat dan Akauw saling pandang. “Mari, Kauw-ko!” Ji Goat dan ia sudah lari memasuki kamarnya untuk mengambil sepasang pedangnya dan Akauw segera mengikutinya pergi keluar.

Terjadi perubahan hebat di dusun yang tadinya sunyi dan tentram itu. Dimana-mana terdengar jeritan wanita dan teriakan-teriakan orang yang di pukuli. Nampak seorang laki-laki menyeret seorang gadis keluar dari rumah, dan dari rumah lain dua orang laki-laki menuntun kambing dan membawa ayam. Mereka itu adalah orang-orang berpakaian prajurit dan agaknya mereka itu mabok atau setengah mabok, merampoki ayam dan kambing sambil tertawa-tawa.

Ji Goat sudah tidak dapat menahan sabar lagi. Sekali loncat ia sudah mendekati prajurit yang menyeret-nyeret gadis yang menjerit-jerit ketakutan itu. Tangannya melayang dan menampar.

“Plaakkk!”

Laki-laki itu berseru kesakitan dan terpelanting. Akan tetapi dia cukup kuat karena sudah dapat meloncat bangun kembali dan ketika melihat bahwa yang menamparnya adalah seorang pemuda remaja, dia lalu mencabut goloknya dan membacok dengan cepat dan kuat. Kemarahan membuat dia ingin sekali membunuh pemuda yang menghalanginya membawa gadis itu. Gadis itupun lari sambil menangis, kembali ke rumahnya.

Di bacok dengan golok itu, Ji Goat menghindar cepat. Namun penyerangnya terus mengejar dengan golok. Ji Goat lalu menggerakkan sepasang pedangnya yang kiri menangkis yang kanan menusuk dan orang itupun roboh mandi darah, sambil mengeluarkan teriakan keras.

Kini bermunculan banyak prajurit. Tidak kurang dari dua puluh orang banyaknya. Ada yang memondong tubuh seorang wanita, ada pula yang membawa barang atau menuntun hewan ternak. Akauw juga sudah mengamuk dan kini dia sudah dikeroyok banyak prajurit yang menggunakan golok. Akauw mengamuk dengan pedangnya dan sebentar saja sudah ada enam orang yang roboh oleh pedangnya.

Ji Goat juga membantunya dan lebih banyak lagi pengeroyok roboh. Akan tetapi yang di serang oleh Ji Goat hanya mereka yang memondong wanita dan setiap penculik wanita itu pasti di bunuhnya tanpa ampun lagi. Tiba-tiba terdengar jeritan dari rumah dimana mereka bermalam. Mendengar ini Ji Goat meninggalkan Akauw dan lari kearah rumah itu. Ketika masuk, ia mendengar pergumulan dikamar dan terdengar jeritan Giok Hwa. Cepat di tendangnya daun pintu kamar terbuka dan mukanya berubah merah saking marahnya melihat seorang prajurit tinggi besar bermuka hitam yang sedang berusaha memperkosa Giok Hwa.

“Jahanam busuk!” Ji Goat berseru dan karena tidak mau membunuh orang dalam kamar itu, ia menjambak rambut si prajurit dan menariknya keluar.

Prajurit itu kaget dan hendak meronta, akan tetapi dia tidak dapat melepaskan jambakan itu. Tubuhnya terseret keluar dan ketika tiba di luar rumah baru dia di lepaskan.

“Kurang ajar!” bentaknya sambil mencabut goloknya. Ternyata dia berpakaian opsir, mungkin dia pemimpin gerombolan itu. Goloknya menyambar-nyambar dengan cepatnya dan ilmu silatnya lebih baik daripada yang lain. Akan tetapi dia berhadapan dengan murid Toat-beng Giam-ong, Koksu dari Kerajaan Toba! Biarpun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga, tetap saja dalam waktu belasan jurus, dia roboh dengan leher hampir putus terbabat pedang di tangan Ji Goat yang sudah marah sekali!

Para prajurit yang melihat betapa opsirnya tewas, juga setengah jumlah mereka sudah roboh, segera melarikan diri di tengan malam itu, meninggalkan semua barang rampokannya.

Orang-orang dusun keluar dari rumah mereka dan semua orang menjadi ketakutan. Kepala dusun itu segera menjatuhkan diri berlutut di dapan Akauw dan Ji Goat.

"Taihiap, bagaimana dengan kami ini? Mereka tentu akan datang dengan jumlah lebih banyak dan kami yang akan menerima hukuman karena banyak tentara tewas di dusun kami“ katanya dengan suara hampir menangis. Orang-orang dusun lainnya juga menjatuhkan diri berlutut.

“Kalian bangkitlah dan jangan khawatir. Kami berdua akan tinggal di sini dan kami yang akan bertanggung jawab. Kami akan menanti sampai mereka datang dan sementara itu, kalian urus jenazah semua perampok ini, kuburkan baik-baik. Ini untuk biayanya“ Ji Goat mengeluarkan beberapa potong uang emas untuk biaya penguburan.

Setelah Ji Goat berkata demikian, barulah kepala dusun merasa agak lega dan beramai-ramai mereka mengurus mayat sembilan orang prajurit itu. Yang belum mati sudah lebih dulu melarikan diri sedapatnya dari tempat itu...