Social Items

SETELAH berada di benteng, mulailah mereka bertanya-tanya tentang maksud dikumpulkannya banyak tentara suka rela itu. Akan tetapi semua rekan mereka juga tidak tahu. Mereka semua tertarik untuk masuk tentara karena dengan demikian akan terjamin makan dan pakaian mereka, juga mereka memperoleh gaji. Sedangkan kehidupan di luar sedemikian sukarnya. Rakyat kecil di himpit pajak, lintah darat dan tuan tanah, di tambah lagi dengan kerja paksa membangun tembok besar. Hidup di luar membuat mereka sukar sekali mengisi perut dengan teratur, sedangkan di benteng itu mereka dapat makan kenyang dan pakaian mereka tidak robek dan butut.

Pada suatu malam, selagi Bi Soan dan Akauw bersama rekan-rekan lain melakukan penjagaan mereka melihat gubernur datang ke benteng langsung masuk ke bangunan yang besar yang menjadi tempat tinggal panglimanya. Gubernur Yen berusian lima puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar gagah. Panglima menyambutnya di luar rumah dan mengiringkannya masuk ke dalam rumah besar itu.

Yang menarik perhatian Akauw dan Bi Soan adalah munculnya beberapa orang tamu aneh. Tamu-tamu ini, yang jumlahnya ada tujuh orang, mengenakan pakaian pengemis dan ternyata mereka di terima dengan hormat pula oleh panglima-panglima yang keluar untuk menyambut dalam suasana yang bersahabat. Tentu saja melihat ini Akauw dan Bi Soan tertarik sekali. Akan tetapi mereka sedang bertugas jaga.

“Kauw-ko, dengar baik-baik. Engkau menyelinap pergi dari sini dan menyelidik mereka itu, kalau ada yang bertanya akan ku katakana bahwa engkau sakit perut dan pergi ke belakang. Aku yang akan melakukan penjagaan di sini“

“Baik, Soan-te“

“Berhati-hatilah, Kauw-ko“

“Engkau juga, Bi Soan. Tunggu aku kembali membawa berita“

Setelah keadaan memungkinkan, yaitu para penjaga lain sedang meronda, Akauw lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam kegelapan malam. Dengan kepandaiannya yang tinggi dan nalurinya yang peka mudah saja baginya untuk menyusup-nyusup menghampiri bangunan induk itu, kemudian dia meloncat ke atas genteng dan berhasil masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia sudah mengintai mereka yang berada di ruangan itu. Gubernur Yen, beberapa orang panglima dan tujuh orang berpakaian pengemis itu.

“Benarkah para pimpinan Hek I Kaipang dari seluruh penjuru di panggil ke kota raja dan banyak di antara mereka yang hilang tidak kembali?” Tanya Gubernur Yen.

“Benar, taijin. Kami semua mencurigai bahwa ini adalah perbuatan Koksu Lui yang hendak memperlemah Hek I Kaipang karena dia tahu bahwa kami adalah perkumpulan yang menentang pemerintah Mongol“

“Ah, dan kita belum dapat bergerak. Kita sedang menghimpun tenaga dan tenaga bantuan itu belum terlatih baik, belum dapat di andalkan dalam pertempuran. Bersabarlah, saudara-saudara Kaipang, kalau sudah tiba saatnya, kita mempersatukan tenaga yang ada dan menggempur kota raja!”

“Kami sudah tidak sabar lagi, taijin. Yang kami prihatinkan bukan para anggota kami karena hanyalah pengemis-pengemis yang hidup dari belas kasihan orang. Yang kami prihatinkan adalah kehidupan rakyat jelata di pedusunan. Mereka terhimpit oleh para pejabat daerah yang memeras mereka dengan kerja paksa, dengan pajak. Kalau pemerintah Mongol yang kejam ini tidak segera di robohkan, rakyat akan hidup sengsara“

“Kami mengerti, saudara. Akan tetapi harus di ketahui bahwa kekuatan pasukan pemerintah besar sekali. Apalagi di sana terdapat Koksu yang licik dan lihai, juga Perdana Menteri Ji amat pandai mengatur siasat. Kalau tergesa-gesa, dapat gagal seluruhnya. Jangan khawatir, kami sedang memperkuat diri dan kalau saatnya tiba, pasti kami akan mengajak kalian semua dan para pendukung lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tangan penjajah Toba“

Akauw sudah merasa cukup mendengarkan percakapan itu. Jelas sudah, bahwa Gubernur Yen memang ingin memberontak dan sedang mengumpulkan kekuatan, bahkan bersekutu dengan perkumpulan pengemis Hek I Kaipang. Dia harus cepat memberitahu Bi Soan. Maka dengan hati-hati diapun meninggalkan tempat itu. Selagi dia berjalan di atas genteng, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar bentakan seorang perwira yang kebetulan mengadakan perondaan di atas atap.

“Siapa di situ!”

Akauw terkejut sekali, akan tetapi dengan cekatan tubuhnya sudah melompat dan melayang ke atas pohon besar, kemudian dari pohon di taman itu dia melompat ke pohon lain dan sebentar saja tubuhnya sudah lenyap di telan kegelapan malam. Sang perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi segera kehilangan jejak sehingga perwira itu meragu apakah benar dia melihat ada orang, ataukah hanya bayangan burung atau pohon saja. Kalau memang orang, tidak mungkin bergerak sedemikian cepatnya dan menghilang.

Akauw sudah kembali kepada Bi Soan yang sudah khawatir kenapa kawannya lama benar. Dia sudah tiga kali di tanya penjaga lain tentang Akauw yang dikatakannya sakit mencret dan berulang kali pergi ke belakang.

“Bagaimana, Kauw-ko?” bisiknya ketika pemuda itu berada di dekatnya.

“Wah, gawat, Soan-te. Memang benar akan terjadi pemberontakan“ Dengan berbisik-bisik, Akauw lalu menceritakan semua yang di lihat dan di dengarnya, di dengarkan penuh perhatian oleh Bi Soan.

“Hemmm, gubernur tak tahu diri itu hendak memberontak ya? Kita harus menghalanginya, Kauw-ko. Pemberontakan sama sekali tidak akan membebaskan rakyat dari pada kesengsaraan, bahkan menambahnya. Perang hanya akan mencelakakan rakyat“

“Soan-te, jadi menurut engkau, lebih baik kalau tanah air ini di perintah oleh Bangsa Mongol?”

“Bukan begitu maksudku. Akan tetapi, sudah menjadi kenyataan bahwa setelah di pegang bangsa Toba, barulah Negara ini menjadi kuat. Kalau memang ingin membahagiakan rakyat, banyak jalannya. Jadilah pejabat yang adil dan bijaksana, dan rakyat akan berbahagia. Biarpun Kaisarnya bangsa Toba, akan tetapi kalau para pejabatnya berbangsa Han dan bertindak adil dan bijaksana bukankah rakyat juga dapat hidup Makmur? Biarpun kaisarnya bangsa Han sendiri, akan tetapi kalau para pejabatnya brengsek, kaisarnya lalim, rakyat juga menderita“

Akaw sendiri merasa asing dengan urusan pemerintahan. Baginya pegangannya hanya satu, yaitu yang ditekankan oleh kakek Yang Kok It dan suhengnya, jangan melakukan kejahatan dan harus selalu membela keadilan dan kebenaran. Dia tidak mengerti tentang pemberontakan, dan dia mau membantu Koksu asal jangan di suruh melakukan perbuatan jahat. Kini mendengar ucapan Bi Soan, die mengangguk-angguk dan menganggap ucapan Bi Soan itu benar.

Pada keesokan harinya, karena tugasnya sudah selesai, Akauw dan Bi Soan menggunakan kesempatan selagi mendapat waktu luang, mereka keluar dari benteng dan melarikan diri kembali ke kota raja. Dalam perjalanan itu, Bi Soan memancing pendapat Akauw tentang ayahnya yaitu tentang Perdana Menteri Ji Sun Cai.

“Kauw-ko, pernahkan engkau bertemu dengan Perdana Menteri Ji Sun Cai yang ku tahu adalah seorang sahabat baik Lui Koksu?”

“Ah, pernah aku sekali di ajak ke sana oleh Lui-Koksu, bersama suhuku“

“Hemm, bagaimana pendapatmu tentang dia?”

“Dia? Biasa saja. Karena aku tidak mengenalnya dengan baik. Hanya puterinya...“

“Puterinya? Ah, ya, puterinya? Siapa nama puterinya itu“

“Namanya Ji Goat“

“Bagaimana pendapatmu tentang ia?”

“Ia seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi…“

“Bagaimana engkau tahu bahwa ia memiliki ilmu silat yang tinggi?”

“Ia mengajakku latihan silat dan ternyata ia memang lihai sekali, dan selain itu… Hemmm, ia cantik jelita“

Akauw tidak tahu betapa senangnya hati Bi Soan mendengar pujian itu. Gadis mana yang tidak akan senang hatinya mendengar dirinya di puji pandai dan cantik, apalagi pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang menarik hatinya?

“Ah, masa? Aku mendengar puteri Perdana Menteri Ji itu orangnya buruk, galak dan tidak menyenangkan hati“

“Siapa bilang? Yang berkata demikian itu belum pernah melihatnya atau matanya buta, atau memang sinting. Ji-siocia itu seorang gadis yang luar biasa cantik menariknya dan ilmu silatnya juga lihai sekali. Ia tidak galak dan amat menyenangkan hati“

“Senangkah engkau kepadanya, Kauw-ko?”

“Senang? Tentu saja senang!”

“Hemmm, engkau tentu mencintanya, ya?”

“Wahh, mana aku berani? Aku memang senang melihatnya, akan tetapi aku ini siapa berani mencinta puteri Perdana Menteri?”

“Kenapa? Apa salahnya? Engkau seorang pemuda dan ia seorang gadis, apa salahnya kalau engkau mencintanya?”

“Aku tidak berani. Tentu ia akan merasa terhina sekali kalau mendengar bahwa aku mencintanya. Sudahlah, Soan-te, jangan bicarakan hal itu, hal yang tidak akan mungkin terjadi. Soan-te, apa jadinya kalau kita lapor kepada Kok-su tentang Gubernur Yen itu?”

“Engkau yang lapor, bukan aku“

“Oya, aku sampai lupa. Aku akan melapor apa yang telah ku lihat dan ku dengar, lalu apa akibatnya?”

“Mungkin Koksu akan mengirim pasukan untuk menangkap gubernur itu. Dan mungkin saja engkau pula yang di utus untuk memimpin pasukan dan menangkapnya. Tentu akan terjadi sedikit pertempuran, akan tetapi karena gubernur itu belum siap dengan pasukannya tentu dia dapat di hancurkan“

Setelah tiba di kota raja, Bi Soan berkata “Nah engkau pergilah menghadap Koksu, Kauw-ko. Aku harus pergi“

“Nanti dulu, Soan-te. Bagaimana kalau aku ingin berjumpa denganmu? kemana aku harus mencarimu?”

“Kau tahu kuil tua di luar kota itu? Nah, ke sanalah kau cari aku“

“kalau engkau tidak berada di sana?”

“Pergilah di waktu malam hari kalau bulan sedang purnama, aku pasti berada di sana. Nah, selamat berpisah Kauw-ko. Perjalanan ke Lok-yang itu sungguh menyenangkan“

“Selamat berpisah, Soan-te. Banyak terima kasih atas bantuan-bantuanmu“

Mereka berpisah dan Akauw segera pergi ke rumah Kok-su. Kok-su Lui dan gurunya, Thian-te Ciu-kwi, merasa gembira sekali mendengar laporannya.

*******************
“Sudah ku duga memang benar gubernur itu hendak memberontak. Dan bersekutu dengan Hek I Kaipang, memang perkumpulan itu sudah lama ku incar, bahkan banyak pemimpin mereka sudah ku jebloskan dalam tahanan, tinggal menanti pelaksanaan hukuman saja“ kata Toat-beng Giam-ong Lui Tat.

“Sekarang juga aku akan menghadap kaisar dan mari kalian ikut. Akauw harus melapor sendiri kepada Kaisar agar kaisar yakin benar dan dapat memberi perkenan kalau kita mengirim pasukan untuk menangkap Gubernur Yen“

Mereka bertiga lalu bergegas pergi ke istana menghadap kaisar Julan Khan. Kaisar merasa girang mendengar laporan Akauw, lalu berkata kepada Koksu. “Koksu, kalau begitu sudah jelas bahwa Gubernur Yen hendak memberontak, bagaimana baiknya sekarang menurutmu?”

“Yang Mulia, usaha pemberontakan harus cepat di tindas sebelum mereka menjadi kuat. Sebaiknya kalau paduka memberi ijin kepada hamba untuk mengerahkan pasukan dan mengutus panglima untuk menyerbu ke Lok-yang dan menangkap gubernur pemberontak itu“

Perdana menteri Ji yang sudah diberitahu dan hadir pula dalam persidangan itu lalu berkata, “Yang Mulia, karena belum dapat dibuktikan bahwa Gubernur Yen memberontak, maka tidak baik kiranya kalau secara mendadak kita menyerbu. Sebaiknya paduka mengirim panggilan kepadanya, baru kalau dia tidak mau datang, itu sudah berarti pemberontakan dan dapat segera di atur untuk menangkapnya. Sebaliknya, kalau dia mau datang, maka segalanya dapat di atur secara halus. Ini semua untuk menghindarkan pertempuran dan pertumpahan darah yang akan mengorbankan banyak prajurit dan rakyat“

Kaisar Julan Khan mengangguk-angguk. “Bagaimana, Kok-su menurut pendapatmu, tepatkah apa yang di usulkan Perdana Menteri Ji itu?”

“Hamba setuju sekali, Yang Mulia. Akan tetapi sebaiknya kepergian utusan itu di sertai pasukan yang kuat sehingga begitu Gubernur Yen menolak panggilan paduka, segera dapat dilakukan penyergapan. Dengan membawa leng-ki (bendera utusan) tentu tidak ada yang berani membangkang, kecuali kalau dia memang berusaha memberontak“

“Dan menurutmu, panglima manakah yang sepatutnya melaksanakan tugas sebagai utusan itu?”

“Hamba usulkan agar mengangkat Cian Kauw Cu sebagai panglima yang menjadi utusan dan di belakangya di kawal oleh Thian-te Ciu-kwi. Dengan demikian, maka tidak akan gagal perintah paduka“

Kaisar setuju dan seketika mengangkat Kauw Cu sebagai panglima yang akan membawa pasukan memanggil Gubernur Yen dan kalau panggilan itu di tolak, dia diberi kuasa untuk menggempur dan menangkap gubernur itu sekeluarganya.

“Kita lakukan itu lebih dulu terhadap Gubernur Yen sebagai percobaan. Kalau berhasil, maka harus dilakukan siasat demikian pula terhadap Gak di Nam-kiang, juga terhadap Coa-ciangkun“ demikian kata Koksu kepada Perdana Menteri Ji setelah mereka mengundurkan diri.

Yang merasa sibuk adalah kauw Cu. Dia merasa betapa tugasnya itu berat sekali. Sebagai utusan untuk memanggil gubernur tidaklah berat karena hanya menyampaikan perintah dan surat perintah, akan tetapi kalau sampai gubernur itu menolak, maka tugasnya menjadi berat. Dia harus menyerbu Lok-yang dan menangkap gubernurnya! Akan tetapi hatinya lega ketika gurunya membawa pasukan kecil mengawalnya dari belakang.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Dengan pakaian sebagai seorang panglima muda, Akauw yang menunggang seekor kuda nampak gagah bukan main. Tubuhnya yang tinggi besar itu memang pantas sekali mengenakan pakaian panglima perang yang gemerlapan. Sebatang pedang yang kini di beri sarung amat indah, tergantung di pinggangnya dan itulah Hek-liong Po-kiam yang ampuh itu.

Dia memimpin pasukan yang seribu orang besarnya, di bantu oleh beberapa orang perwira tua yang berpengalaman. Dan agak jauh membayangi pasukan ini adalah Thian-te Ciu-kwi yang memimpin tiga losin orang prajurit pengawal!

Tentu saja pasukan ini menjadi tontonan orang di sepanjang jalan dan ketika keluar dari kota raja, dan terutama sekali orang-orang memandang kagum kepada panglimanya yang demikian gagah perkasa, menunggang seekor kuda putih. Dekat pintu gerbang kota raja, tiba-tiba Akauw melihat Bi Soan melintas di depan. Cepat dia menghentikan kudanya dan mengangkat tangan untuk menghentikan pasukannya, lalu dia melompat turun dari atas kudanya dan memanggil.

“Soan-te…!” Tentu saja semua perwira dan prajurit yang berada di bagian depan terheran-heran melihat panglima mereka menghentikan pasukan dan turun dari atas kuda hanya untuk berbicara dengan seorang pemuda remaja yang berpakaian sebagai seorang gelandangan! Akan tetapi, Bi Soan tidak berani lama-lama bicara. Setelah menghampiri dia lalu berkata, dengan suara lirih pula.

“Kauw-ko, jagalah dirimu baik-baik dan berhati-hatilah melaksanakan tugas“ Setelah berkata demikian Bi Soan lalu berlari meninggalkan panglima itu menyelinap di antara banyak orang yang menonton pasukan itu.

Akauw menghela napas panjang. Dia sendiri merasa aneh mengapa dia amat tertarik dan sayang kepada Bi Soan, sahabat yang sudah di anggap sebagai adiknya sendiri itu. dia lalu melompat lagi ke atas kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar pasukannya bergerak kembali.

Sebelum pasukan itu tiba di Lok-yang, lebih dahulu Gubernur Yen di Lok-yang telah mendengar dari mata-mata yang bertugas di kota raja bahwa kaisar mengirim pasukan untuk memanggil dia ke kota raja. Tentu saja Gubernur Yen terkejut dan segera mengadakan rapat kilat dengan para rekannya. Gubernur Yen adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tinggi besar dan gagah. Dari isteri-isterinya yang tiga orang jumlahnya dia mempunyai hanya dua orang anak saja, seorang laki-laki yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun bernama Yen Gun dan seorang anak perempuan berusian sembilan belas tahun bernama Yen Sian.

Kedua orang anaknya itu merupakan pendekar-pendekar gagah yang berkepandaian silat tinggi karena mereka berdua menerima gemblengan dari ayahnya sendiri. Gubernur Yen sebelum menjadi Gubernur adalah seorang ahli silat aliran Gobi-pai yang tangguh. Keluarga Yen ini berjiwa patriot dan biarpun Yen Kan menjadi seorang gubernur yang tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Toba, namun dia memimpin daerahnya dengan bijaksana bahkan seringkali berani mengebiri perintah dari kota raja.

Dia amat prihatin melihat kekuasaan Kaisar Toba dan ingin sekali membebaskan tanah airnya dari kekuasaan penjajah, maka diam-diam dia bersekutu dengan para panglima yang bertugas di Lok-yang, bahkan mengadakan hubungan pula dengan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw untuk memperoleh dukungan dan menghimpun tenaga untuk kelak kalau waktunya tiba dipergunakan untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Dengan rencana yang di rahasiakan ini, Gubernur Yen sudah berlaku hati-hati sekali dan pada luarnya, dia merupakan seorang pejabat yang patuh kepada kaisar dan menjaga jangan sampai dia melakukan kesalahan sedikitpun. Maka, ketika para mata-matanya melaporkan kepadanya bahwa ada pasukan seribu orang dari kota raja menuju ke Lok-yang membawa perintah kaisar untuk memanggilnya, dia terkejut dan mengumpulkan semua rekannya dan keluarganya untuk berunding.

“Saya khawatir ini merupakan panggilan yang mengandung kekerasan, taijin“ kata seorang panglima yang paling tua, yaitu Panglima Kwee. “Kalau hanya mengundang taijin, kenapa harus membawa pasukan seribu orang jumlahnya?”

“Ayah, aku khawatir undangan inipun merupakan jebakan atau perangkap, kalau ayah menaati dan datang ke kota raja mungkin saja ayah akan di tangkap!” kata Yen Gun, puteranya.

“Sebaiknya tolak saja panggilan itu, ayah, dan kita melawan kalau di gempur. Bukankah ayah memang bermaksud pada suatu hari akan menggempur Kerajaan Toba itu? Nah, sekaranglah saatnya!“ kata puterinya, Yen Sian.

“Kami setuju dengan pendapat nona Yen“ kata seorang tokoh Hek I Kaipang yang juga hadir. “Kalau perlu kita hancurkan seribu orang pasukan itu dan berarti suatu kemenangan pertama bagi kita“

Gubernur Yen Kan mengangkat kedua tangan minta kepada semua orang untuk diam mendengarkan, lalu dia berkata, “Semua yang kalian ucapkan itu memang baik, akan tetapi bodoh. Kalau aku bertindak menuruti kehendak kalian, berarti cita-cita kita akan hancur dan kandas di tengah jalan, atau roboh sebelum jadi. Aku tahu bahwa Toat-beng Giam-ong, Koksu Lui itu adalah seorang yang amat cerdik. Kalau kerajaan sudah tahu bahwa kita bermaksud memberontak dan tinggal tunggu waktu saja, tentu mereka sudah mengirim pasukan besar untuk menyerang kita. Akan tetapi mereka tidak melakukan itu dan hanya memanggilku dengan pasukan yang sebesar hanya seribu orang. Mengapa begitu? Kurasa mereka tidak mempunyai bukti bahwa kita hendak memberontak dan bagaimana menghukum orang yang belum terbukti kesalahannya. Karena itu mereka mengirim pasukan itu. Kalau aku menolak panggilan Kaisar dan melakukan perlawanan, maka akan jelaslah bahwa aku memberontak dan mereka mempunyai bukti untuk menindak kita, menyerang Lok-yang. Nah, mengertikah kalian? Mereka itu sengaja memancing agar aku menolak sehingga ada buktinya“

“Lalu bagaimana baiknya, ayah?” Tanya Yen Sian gelisah

“Tidak ada jalan lain. Aku akan memenuhi panggilan itu, menghadap kaisar“

“Tapi ayah, itu berbahaya sekali!” seru Yen Gun. “Kalau ayah tiba di kota raja lalu di tahan, kami dapat berbuat apa?”

“Mereka tidak mempunyai alasan untuk menahanku, tidak ada bukti apapun, kalian tidak usah khawatir“

“Akan tetapi, ayah. Koksu amat licik dan curang, dapat saja dia melakukan fitnah dan ayah tetap akan di tangkap. Dan kaisar selalu mendengarkan apa yang dikemukakan Koksu“ kata pula Yen Sian.

“Nona Yen berkata benar“ kata Panglima Kwee. “Saya kira panggilan itu merupakan jebakan, selain untuk melihat apakah taijin berani membangkang, juga kalau taijin mematuhi dan pergi, maka di kota raja taijin tentu akan di tangkap dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Sebaiknya kalau taijin tidak pergi dan kita melakukan perlawanan mati-matian!”

“Dan kita dihancurkan, sehingga semua cita-cita kita kandas di tengah jalan. Kedudukan kita belum kuat, pasukan kita pun jauh kalah dibandingkan pasukan Kerajaan. Kalau sampai aku di tangkap dan di fitnah sekalipun, bahkan sampai mati, hal itu tidak mengapa asalkan perjuangan ini dapat dilanjutkan. Aku rela mati demi perjuangan ini bersama Kwee-ciangkun, di bantu oleh kawan-kawan dari Hek I Kaipang!”

Ketika mengeluarkan ucapan itu, Gubernur Yen Kan berdiri dengan gagah dan ucapannya tidak dapat dibantah pula. Semua orang berdiam diri dan kedua orang anaknya menjadi pucat wajahnya ketika mereka memandang kepada ayah mereka dengan gelisah.

“Nah, masih ada lagi yang meragukan kebenaran apa yang telah kuputuskan?” Tanya Gubernur Yen sambil memandang kepada semua orang yang hadir.

“Kami tidak dapat membantah ayah, akan tetapi kalau ayah nanti hendak menghadap kaisar, perkenankan saya ikut untuk membantu dan menjaga keselamatan ayah“

“Perkenankan saya yang mengawal taijin!” kata Kwee-ciangkun.

Gubernur Yen mengankat tangannya. “Tidak cukup jelaskah apa yang ku katakana tadi? Kalau memang aku harus berkorban, biarlah aku saja. Yang lain harus tinggal di sini untuk melanjutkan perjuangan. Kalian boleh mati demi perjuangan, tidak boleh hancur karena kekoyolan kalian. Mengertikah semua? Aku tidak memerlukan pengawal atau pengantar. Biarkan aku pergi sendiri!”

Tidak ada orang yang berani membantahnya lagi. Bahkan cucuran air mata tiga orang istrinya ketika mendengar akan tekad gubernur ini tidak dapat mencegah keputusannya.

Pada keesokan harinya, pasukan yang di pimpin Akauw atau menurut laporan di sebut sebagai Cian-ciangkun itu telah tiba di Lok-yang dan langsung menghadap Gubernur. Pasukan itu berhenti diluar pintu gerbang dan hanya Akauw dan dua orang pembantunya yang memasuki kota Lok-yang membawa leng-ki (bendera utusan kaisar) sehingga di sepanjang jalan Akauw dan dua orang pembantunya dihormati orang.

“Utusan Kaisar telah tiba!” terdengar teriakan ke dalam ketika mereka telah tiba di pintu depan gedung tempat tinggal gubernur. nampak Gubernur Yen tergopoh keluar lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Akauw. Memang setiap orang yang menerima utusan kaisar harus bersikap hormat seolah yang datang itu kaisar sendiri.

Akauw lalu mengeluarkan gulungan surat perintah dan menyerahkan kepada pembantunya. Dia sendiri tidak pandai membaca, maka dia menyerahkan kepada pembantunya yang segera membacanya dengan suara nyaring.

“Sribaginda Kaisar yang mulia memanggil dan memerintahkan Gubernur Yen Kan untuk segera datang menghadap istana kerajaan!”

Setelah membacanya, pembantu itu menyerahkan gulungan kertas itu kepada Akauw dan Akauw juga menyerahkannya kepada Gubernur Yen. Gubernur menerima gulungan perintah itu dengan sikap hormat, setelah itu barulah dia bangkit berdiri dan kini yang dihadapinya adalah seorang panglima biasa.

“Cian-ciangkun telah melakukan perjalanan jauh, tentu lelah. Silahkan masuk dan melepas lelah sambil makan minum yang akan kami hidangkan“ kata Gubernur Yen dengan ramah sambil memandang tajam panglima yang tinggi besar dan gagah itu.

Cian Kauw Cu memberi hormat dengan mengangkat tangan di depan dada. “Banyak terima kasih, taijin. Akan tetapi tugas kami hanyalah menyampaikan surat perintah, kemudian mengawal taijin sekarang juga untuk berangkat ke kota raja“

Gubernur Yen dapat merasakan bahwa dalam ucapan itu terkandung kepastian yang tak dapat dibantah lagi dan tahu bahwa panglima seperti ini amat tegas dan jujur, tidak akan mudah untuk di sogok.

“Baiklah, ciangkun. Akan tetapi setidaknya berilah waktu kepada saya untuk berpamit dari keluarga saya“

“Silahkan, taijin. Kami bertiga akan menanti diluar pintu gerbang“ Akauw dan dua orang pembantunya lalu meninggalkan gedung itu, menunggu bersama pasukannya diluar pintu gerbang sebelah barat.

Ketika gubernur memasuki ruangan dalam, dia di sambut oleh tangisan tiga orang istrinya. Bahkan Yen Sian yang biasanya gagah perkasa dan tabah, kini merangkul pundak ayahnya sambil menangis sedangkan Yen Gun berdiri mondar mandir dengan wajah keruh. Semua orang tenggelam ke dalam kedukaan dan kekhawatiran...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 11

SETELAH berada di benteng, mulailah mereka bertanya-tanya tentang maksud dikumpulkannya banyak tentara suka rela itu. Akan tetapi semua rekan mereka juga tidak tahu. Mereka semua tertarik untuk masuk tentara karena dengan demikian akan terjamin makan dan pakaian mereka, juga mereka memperoleh gaji. Sedangkan kehidupan di luar sedemikian sukarnya. Rakyat kecil di himpit pajak, lintah darat dan tuan tanah, di tambah lagi dengan kerja paksa membangun tembok besar. Hidup di luar membuat mereka sukar sekali mengisi perut dengan teratur, sedangkan di benteng itu mereka dapat makan kenyang dan pakaian mereka tidak robek dan butut.

Pada suatu malam, selagi Bi Soan dan Akauw bersama rekan-rekan lain melakukan penjagaan mereka melihat gubernur datang ke benteng langsung masuk ke bangunan yang besar yang menjadi tempat tinggal panglimanya. Gubernur Yen berusian lima puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar gagah. Panglima menyambutnya di luar rumah dan mengiringkannya masuk ke dalam rumah besar itu.

Yang menarik perhatian Akauw dan Bi Soan adalah munculnya beberapa orang tamu aneh. Tamu-tamu ini, yang jumlahnya ada tujuh orang, mengenakan pakaian pengemis dan ternyata mereka di terima dengan hormat pula oleh panglima-panglima yang keluar untuk menyambut dalam suasana yang bersahabat. Tentu saja melihat ini Akauw dan Bi Soan tertarik sekali. Akan tetapi mereka sedang bertugas jaga.

“Kauw-ko, dengar baik-baik. Engkau menyelinap pergi dari sini dan menyelidik mereka itu, kalau ada yang bertanya akan ku katakana bahwa engkau sakit perut dan pergi ke belakang. Aku yang akan melakukan penjagaan di sini“

“Baik, Soan-te“

“Berhati-hatilah, Kauw-ko“

“Engkau juga, Bi Soan. Tunggu aku kembali membawa berita“

Setelah keadaan memungkinkan, yaitu para penjaga lain sedang meronda, Akauw lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam kegelapan malam. Dengan kepandaiannya yang tinggi dan nalurinya yang peka mudah saja baginya untuk menyusup-nyusup menghampiri bangunan induk itu, kemudian dia meloncat ke atas genteng dan berhasil masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia sudah mengintai mereka yang berada di ruangan itu. Gubernur Yen, beberapa orang panglima dan tujuh orang berpakaian pengemis itu.

“Benarkah para pimpinan Hek I Kaipang dari seluruh penjuru di panggil ke kota raja dan banyak di antara mereka yang hilang tidak kembali?” Tanya Gubernur Yen.

“Benar, taijin. Kami semua mencurigai bahwa ini adalah perbuatan Koksu Lui yang hendak memperlemah Hek I Kaipang karena dia tahu bahwa kami adalah perkumpulan yang menentang pemerintah Mongol“

“Ah, dan kita belum dapat bergerak. Kita sedang menghimpun tenaga dan tenaga bantuan itu belum terlatih baik, belum dapat di andalkan dalam pertempuran. Bersabarlah, saudara-saudara Kaipang, kalau sudah tiba saatnya, kita mempersatukan tenaga yang ada dan menggempur kota raja!”

“Kami sudah tidak sabar lagi, taijin. Yang kami prihatinkan bukan para anggota kami karena hanyalah pengemis-pengemis yang hidup dari belas kasihan orang. Yang kami prihatinkan adalah kehidupan rakyat jelata di pedusunan. Mereka terhimpit oleh para pejabat daerah yang memeras mereka dengan kerja paksa, dengan pajak. Kalau pemerintah Mongol yang kejam ini tidak segera di robohkan, rakyat akan hidup sengsara“

“Kami mengerti, saudara. Akan tetapi harus di ketahui bahwa kekuatan pasukan pemerintah besar sekali. Apalagi di sana terdapat Koksu yang licik dan lihai, juga Perdana Menteri Ji amat pandai mengatur siasat. Kalau tergesa-gesa, dapat gagal seluruhnya. Jangan khawatir, kami sedang memperkuat diri dan kalau saatnya tiba, pasti kami akan mengajak kalian semua dan para pendukung lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tangan penjajah Toba“

Akauw sudah merasa cukup mendengarkan percakapan itu. Jelas sudah, bahwa Gubernur Yen memang ingin memberontak dan sedang mengumpulkan kekuatan, bahkan bersekutu dengan perkumpulan pengemis Hek I Kaipang. Dia harus cepat memberitahu Bi Soan. Maka dengan hati-hati diapun meninggalkan tempat itu. Selagi dia berjalan di atas genteng, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar bentakan seorang perwira yang kebetulan mengadakan perondaan di atas atap.

“Siapa di situ!”

Akauw terkejut sekali, akan tetapi dengan cekatan tubuhnya sudah melompat dan melayang ke atas pohon besar, kemudian dari pohon di taman itu dia melompat ke pohon lain dan sebentar saja tubuhnya sudah lenyap di telan kegelapan malam. Sang perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi segera kehilangan jejak sehingga perwira itu meragu apakah benar dia melihat ada orang, ataukah hanya bayangan burung atau pohon saja. Kalau memang orang, tidak mungkin bergerak sedemikian cepatnya dan menghilang.

Akauw sudah kembali kepada Bi Soan yang sudah khawatir kenapa kawannya lama benar. Dia sudah tiga kali di tanya penjaga lain tentang Akauw yang dikatakannya sakit mencret dan berulang kali pergi ke belakang.

“Bagaimana, Kauw-ko?” bisiknya ketika pemuda itu berada di dekatnya.

“Wah, gawat, Soan-te. Memang benar akan terjadi pemberontakan“ Dengan berbisik-bisik, Akauw lalu menceritakan semua yang di lihat dan di dengarnya, di dengarkan penuh perhatian oleh Bi Soan.

“Hemmm, gubernur tak tahu diri itu hendak memberontak ya? Kita harus menghalanginya, Kauw-ko. Pemberontakan sama sekali tidak akan membebaskan rakyat dari pada kesengsaraan, bahkan menambahnya. Perang hanya akan mencelakakan rakyat“

“Soan-te, jadi menurut engkau, lebih baik kalau tanah air ini di perintah oleh Bangsa Mongol?”

“Bukan begitu maksudku. Akan tetapi, sudah menjadi kenyataan bahwa setelah di pegang bangsa Toba, barulah Negara ini menjadi kuat. Kalau memang ingin membahagiakan rakyat, banyak jalannya. Jadilah pejabat yang adil dan bijaksana, dan rakyat akan berbahagia. Biarpun Kaisarnya bangsa Toba, akan tetapi kalau para pejabatnya berbangsa Han dan bertindak adil dan bijaksana bukankah rakyat juga dapat hidup Makmur? Biarpun kaisarnya bangsa Han sendiri, akan tetapi kalau para pejabatnya brengsek, kaisarnya lalim, rakyat juga menderita“

Akaw sendiri merasa asing dengan urusan pemerintahan. Baginya pegangannya hanya satu, yaitu yang ditekankan oleh kakek Yang Kok It dan suhengnya, jangan melakukan kejahatan dan harus selalu membela keadilan dan kebenaran. Dia tidak mengerti tentang pemberontakan, dan dia mau membantu Koksu asal jangan di suruh melakukan perbuatan jahat. Kini mendengar ucapan Bi Soan, die mengangguk-angguk dan menganggap ucapan Bi Soan itu benar.

Pada keesokan harinya, karena tugasnya sudah selesai, Akauw dan Bi Soan menggunakan kesempatan selagi mendapat waktu luang, mereka keluar dari benteng dan melarikan diri kembali ke kota raja. Dalam perjalanan itu, Bi Soan memancing pendapat Akauw tentang ayahnya yaitu tentang Perdana Menteri Ji Sun Cai.

“Kauw-ko, pernahkan engkau bertemu dengan Perdana Menteri Ji Sun Cai yang ku tahu adalah seorang sahabat baik Lui Koksu?”

“Ah, pernah aku sekali di ajak ke sana oleh Lui-Koksu, bersama suhuku“

“Hemm, bagaimana pendapatmu tentang dia?”

“Dia? Biasa saja. Karena aku tidak mengenalnya dengan baik. Hanya puterinya...“

“Puterinya? Ah, ya, puterinya? Siapa nama puterinya itu“

“Namanya Ji Goat“

“Bagaimana pendapatmu tentang ia?”

“Ia seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi…“

“Bagaimana engkau tahu bahwa ia memiliki ilmu silat yang tinggi?”

“Ia mengajakku latihan silat dan ternyata ia memang lihai sekali, dan selain itu… Hemmm, ia cantik jelita“

Akauw tidak tahu betapa senangnya hati Bi Soan mendengar pujian itu. Gadis mana yang tidak akan senang hatinya mendengar dirinya di puji pandai dan cantik, apalagi pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang menarik hatinya?

“Ah, masa? Aku mendengar puteri Perdana Menteri Ji itu orangnya buruk, galak dan tidak menyenangkan hati“

“Siapa bilang? Yang berkata demikian itu belum pernah melihatnya atau matanya buta, atau memang sinting. Ji-siocia itu seorang gadis yang luar biasa cantik menariknya dan ilmu silatnya juga lihai sekali. Ia tidak galak dan amat menyenangkan hati“

“Senangkah engkau kepadanya, Kauw-ko?”

“Senang? Tentu saja senang!”

“Hemmm, engkau tentu mencintanya, ya?”

“Wahh, mana aku berani? Aku memang senang melihatnya, akan tetapi aku ini siapa berani mencinta puteri Perdana Menteri?”

“Kenapa? Apa salahnya? Engkau seorang pemuda dan ia seorang gadis, apa salahnya kalau engkau mencintanya?”

“Aku tidak berani. Tentu ia akan merasa terhina sekali kalau mendengar bahwa aku mencintanya. Sudahlah, Soan-te, jangan bicarakan hal itu, hal yang tidak akan mungkin terjadi. Soan-te, apa jadinya kalau kita lapor kepada Kok-su tentang Gubernur Yen itu?”

“Engkau yang lapor, bukan aku“

“Oya, aku sampai lupa. Aku akan melapor apa yang telah ku lihat dan ku dengar, lalu apa akibatnya?”

“Mungkin Koksu akan mengirim pasukan untuk menangkap gubernur itu. Dan mungkin saja engkau pula yang di utus untuk memimpin pasukan dan menangkapnya. Tentu akan terjadi sedikit pertempuran, akan tetapi karena gubernur itu belum siap dengan pasukannya tentu dia dapat di hancurkan“

Setelah tiba di kota raja, Bi Soan berkata “Nah engkau pergilah menghadap Koksu, Kauw-ko. Aku harus pergi“

“Nanti dulu, Soan-te. Bagaimana kalau aku ingin berjumpa denganmu? kemana aku harus mencarimu?”

“Kau tahu kuil tua di luar kota itu? Nah, ke sanalah kau cari aku“

“kalau engkau tidak berada di sana?”

“Pergilah di waktu malam hari kalau bulan sedang purnama, aku pasti berada di sana. Nah, selamat berpisah Kauw-ko. Perjalanan ke Lok-yang itu sungguh menyenangkan“

“Selamat berpisah, Soan-te. Banyak terima kasih atas bantuan-bantuanmu“

Mereka berpisah dan Akauw segera pergi ke rumah Kok-su. Kok-su Lui dan gurunya, Thian-te Ciu-kwi, merasa gembira sekali mendengar laporannya.

*******************
“Sudah ku duga memang benar gubernur itu hendak memberontak. Dan bersekutu dengan Hek I Kaipang, memang perkumpulan itu sudah lama ku incar, bahkan banyak pemimpin mereka sudah ku jebloskan dalam tahanan, tinggal menanti pelaksanaan hukuman saja“ kata Toat-beng Giam-ong Lui Tat.

“Sekarang juga aku akan menghadap kaisar dan mari kalian ikut. Akauw harus melapor sendiri kepada Kaisar agar kaisar yakin benar dan dapat memberi perkenan kalau kita mengirim pasukan untuk menangkap Gubernur Yen“

Mereka bertiga lalu bergegas pergi ke istana menghadap kaisar Julan Khan. Kaisar merasa girang mendengar laporan Akauw, lalu berkata kepada Koksu. “Koksu, kalau begitu sudah jelas bahwa Gubernur Yen hendak memberontak, bagaimana baiknya sekarang menurutmu?”

“Yang Mulia, usaha pemberontakan harus cepat di tindas sebelum mereka menjadi kuat. Sebaiknya kalau paduka memberi ijin kepada hamba untuk mengerahkan pasukan dan mengutus panglima untuk menyerbu ke Lok-yang dan menangkap gubernur pemberontak itu“

Perdana menteri Ji yang sudah diberitahu dan hadir pula dalam persidangan itu lalu berkata, “Yang Mulia, karena belum dapat dibuktikan bahwa Gubernur Yen memberontak, maka tidak baik kiranya kalau secara mendadak kita menyerbu. Sebaiknya paduka mengirim panggilan kepadanya, baru kalau dia tidak mau datang, itu sudah berarti pemberontakan dan dapat segera di atur untuk menangkapnya. Sebaliknya, kalau dia mau datang, maka segalanya dapat di atur secara halus. Ini semua untuk menghindarkan pertempuran dan pertumpahan darah yang akan mengorbankan banyak prajurit dan rakyat“

Kaisar Julan Khan mengangguk-angguk. “Bagaimana, Kok-su menurut pendapatmu, tepatkah apa yang di usulkan Perdana Menteri Ji itu?”

“Hamba setuju sekali, Yang Mulia. Akan tetapi sebaiknya kepergian utusan itu di sertai pasukan yang kuat sehingga begitu Gubernur Yen menolak panggilan paduka, segera dapat dilakukan penyergapan. Dengan membawa leng-ki (bendera utusan) tentu tidak ada yang berani membangkang, kecuali kalau dia memang berusaha memberontak“

“Dan menurutmu, panglima manakah yang sepatutnya melaksanakan tugas sebagai utusan itu?”

“Hamba usulkan agar mengangkat Cian Kauw Cu sebagai panglima yang menjadi utusan dan di belakangya di kawal oleh Thian-te Ciu-kwi. Dengan demikian, maka tidak akan gagal perintah paduka“

Kaisar setuju dan seketika mengangkat Kauw Cu sebagai panglima yang akan membawa pasukan memanggil Gubernur Yen dan kalau panggilan itu di tolak, dia diberi kuasa untuk menggempur dan menangkap gubernur itu sekeluarganya.

“Kita lakukan itu lebih dulu terhadap Gubernur Yen sebagai percobaan. Kalau berhasil, maka harus dilakukan siasat demikian pula terhadap Gak di Nam-kiang, juga terhadap Coa-ciangkun“ demikian kata Koksu kepada Perdana Menteri Ji setelah mereka mengundurkan diri.

Yang merasa sibuk adalah kauw Cu. Dia merasa betapa tugasnya itu berat sekali. Sebagai utusan untuk memanggil gubernur tidaklah berat karena hanya menyampaikan perintah dan surat perintah, akan tetapi kalau sampai gubernur itu menolak, maka tugasnya menjadi berat. Dia harus menyerbu Lok-yang dan menangkap gubernurnya! Akan tetapi hatinya lega ketika gurunya membawa pasukan kecil mengawalnya dari belakang.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Dengan pakaian sebagai seorang panglima muda, Akauw yang menunggang seekor kuda nampak gagah bukan main. Tubuhnya yang tinggi besar itu memang pantas sekali mengenakan pakaian panglima perang yang gemerlapan. Sebatang pedang yang kini di beri sarung amat indah, tergantung di pinggangnya dan itulah Hek-liong Po-kiam yang ampuh itu.

Dia memimpin pasukan yang seribu orang besarnya, di bantu oleh beberapa orang perwira tua yang berpengalaman. Dan agak jauh membayangi pasukan ini adalah Thian-te Ciu-kwi yang memimpin tiga losin orang prajurit pengawal!

Tentu saja pasukan ini menjadi tontonan orang di sepanjang jalan dan ketika keluar dari kota raja, dan terutama sekali orang-orang memandang kagum kepada panglimanya yang demikian gagah perkasa, menunggang seekor kuda putih. Dekat pintu gerbang kota raja, tiba-tiba Akauw melihat Bi Soan melintas di depan. Cepat dia menghentikan kudanya dan mengangkat tangan untuk menghentikan pasukannya, lalu dia melompat turun dari atas kudanya dan memanggil.

“Soan-te…!” Tentu saja semua perwira dan prajurit yang berada di bagian depan terheran-heran melihat panglima mereka menghentikan pasukan dan turun dari atas kuda hanya untuk berbicara dengan seorang pemuda remaja yang berpakaian sebagai seorang gelandangan! Akan tetapi, Bi Soan tidak berani lama-lama bicara. Setelah menghampiri dia lalu berkata, dengan suara lirih pula.

“Kauw-ko, jagalah dirimu baik-baik dan berhati-hatilah melaksanakan tugas“ Setelah berkata demikian Bi Soan lalu berlari meninggalkan panglima itu menyelinap di antara banyak orang yang menonton pasukan itu.

Akauw menghela napas panjang. Dia sendiri merasa aneh mengapa dia amat tertarik dan sayang kepada Bi Soan, sahabat yang sudah di anggap sebagai adiknya sendiri itu. dia lalu melompat lagi ke atas kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar pasukannya bergerak kembali.

Sebelum pasukan itu tiba di Lok-yang, lebih dahulu Gubernur Yen di Lok-yang telah mendengar dari mata-mata yang bertugas di kota raja bahwa kaisar mengirim pasukan untuk memanggil dia ke kota raja. Tentu saja Gubernur Yen terkejut dan segera mengadakan rapat kilat dengan para rekannya. Gubernur Yen adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tinggi besar dan gagah. Dari isteri-isterinya yang tiga orang jumlahnya dia mempunyai hanya dua orang anak saja, seorang laki-laki yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun bernama Yen Gun dan seorang anak perempuan berusian sembilan belas tahun bernama Yen Sian.

Kedua orang anaknya itu merupakan pendekar-pendekar gagah yang berkepandaian silat tinggi karena mereka berdua menerima gemblengan dari ayahnya sendiri. Gubernur Yen sebelum menjadi Gubernur adalah seorang ahli silat aliran Gobi-pai yang tangguh. Keluarga Yen ini berjiwa patriot dan biarpun Yen Kan menjadi seorang gubernur yang tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Toba, namun dia memimpin daerahnya dengan bijaksana bahkan seringkali berani mengebiri perintah dari kota raja.

Dia amat prihatin melihat kekuasaan Kaisar Toba dan ingin sekali membebaskan tanah airnya dari kekuasaan penjajah, maka diam-diam dia bersekutu dengan para panglima yang bertugas di Lok-yang, bahkan mengadakan hubungan pula dengan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw untuk memperoleh dukungan dan menghimpun tenaga untuk kelak kalau waktunya tiba dipergunakan untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Dengan rencana yang di rahasiakan ini, Gubernur Yen sudah berlaku hati-hati sekali dan pada luarnya, dia merupakan seorang pejabat yang patuh kepada kaisar dan menjaga jangan sampai dia melakukan kesalahan sedikitpun. Maka, ketika para mata-matanya melaporkan kepadanya bahwa ada pasukan seribu orang dari kota raja menuju ke Lok-yang membawa perintah kaisar untuk memanggilnya, dia terkejut dan mengumpulkan semua rekannya dan keluarganya untuk berunding.

“Saya khawatir ini merupakan panggilan yang mengandung kekerasan, taijin“ kata seorang panglima yang paling tua, yaitu Panglima Kwee. “Kalau hanya mengundang taijin, kenapa harus membawa pasukan seribu orang jumlahnya?”

“Ayah, aku khawatir undangan inipun merupakan jebakan atau perangkap, kalau ayah menaati dan datang ke kota raja mungkin saja ayah akan di tangkap!” kata Yen Gun, puteranya.

“Sebaiknya tolak saja panggilan itu, ayah, dan kita melawan kalau di gempur. Bukankah ayah memang bermaksud pada suatu hari akan menggempur Kerajaan Toba itu? Nah, sekaranglah saatnya!“ kata puterinya, Yen Sian.

“Kami setuju dengan pendapat nona Yen“ kata seorang tokoh Hek I Kaipang yang juga hadir. “Kalau perlu kita hancurkan seribu orang pasukan itu dan berarti suatu kemenangan pertama bagi kita“

Gubernur Yen Kan mengangkat kedua tangan minta kepada semua orang untuk diam mendengarkan, lalu dia berkata, “Semua yang kalian ucapkan itu memang baik, akan tetapi bodoh. Kalau aku bertindak menuruti kehendak kalian, berarti cita-cita kita akan hancur dan kandas di tengah jalan, atau roboh sebelum jadi. Aku tahu bahwa Toat-beng Giam-ong, Koksu Lui itu adalah seorang yang amat cerdik. Kalau kerajaan sudah tahu bahwa kita bermaksud memberontak dan tinggal tunggu waktu saja, tentu mereka sudah mengirim pasukan besar untuk menyerang kita. Akan tetapi mereka tidak melakukan itu dan hanya memanggilku dengan pasukan yang sebesar hanya seribu orang. Mengapa begitu? Kurasa mereka tidak mempunyai bukti bahwa kita hendak memberontak dan bagaimana menghukum orang yang belum terbukti kesalahannya. Karena itu mereka mengirim pasukan itu. Kalau aku menolak panggilan Kaisar dan melakukan perlawanan, maka akan jelaslah bahwa aku memberontak dan mereka mempunyai bukti untuk menindak kita, menyerang Lok-yang. Nah, mengertikah kalian? Mereka itu sengaja memancing agar aku menolak sehingga ada buktinya“

“Lalu bagaimana baiknya, ayah?” Tanya Yen Sian gelisah

“Tidak ada jalan lain. Aku akan memenuhi panggilan itu, menghadap kaisar“

“Tapi ayah, itu berbahaya sekali!” seru Yen Gun. “Kalau ayah tiba di kota raja lalu di tahan, kami dapat berbuat apa?”

“Mereka tidak mempunyai alasan untuk menahanku, tidak ada bukti apapun, kalian tidak usah khawatir“

“Akan tetapi, ayah. Koksu amat licik dan curang, dapat saja dia melakukan fitnah dan ayah tetap akan di tangkap. Dan kaisar selalu mendengarkan apa yang dikemukakan Koksu“ kata pula Yen Sian.

“Nona Yen berkata benar“ kata Panglima Kwee. “Saya kira panggilan itu merupakan jebakan, selain untuk melihat apakah taijin berani membangkang, juga kalau taijin mematuhi dan pergi, maka di kota raja taijin tentu akan di tangkap dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Sebaiknya kalau taijin tidak pergi dan kita melakukan perlawanan mati-matian!”

“Dan kita dihancurkan, sehingga semua cita-cita kita kandas di tengah jalan. Kedudukan kita belum kuat, pasukan kita pun jauh kalah dibandingkan pasukan Kerajaan. Kalau sampai aku di tangkap dan di fitnah sekalipun, bahkan sampai mati, hal itu tidak mengapa asalkan perjuangan ini dapat dilanjutkan. Aku rela mati demi perjuangan ini bersama Kwee-ciangkun, di bantu oleh kawan-kawan dari Hek I Kaipang!”

Ketika mengeluarkan ucapan itu, Gubernur Yen Kan berdiri dengan gagah dan ucapannya tidak dapat dibantah pula. Semua orang berdiam diri dan kedua orang anaknya menjadi pucat wajahnya ketika mereka memandang kepada ayah mereka dengan gelisah.

“Nah, masih ada lagi yang meragukan kebenaran apa yang telah kuputuskan?” Tanya Gubernur Yen sambil memandang kepada semua orang yang hadir.

“Kami tidak dapat membantah ayah, akan tetapi kalau ayah nanti hendak menghadap kaisar, perkenankan saya ikut untuk membantu dan menjaga keselamatan ayah“

“Perkenankan saya yang mengawal taijin!” kata Kwee-ciangkun.

Gubernur Yen mengankat tangannya. “Tidak cukup jelaskah apa yang ku katakana tadi? Kalau memang aku harus berkorban, biarlah aku saja. Yang lain harus tinggal di sini untuk melanjutkan perjuangan. Kalian boleh mati demi perjuangan, tidak boleh hancur karena kekoyolan kalian. Mengertikah semua? Aku tidak memerlukan pengawal atau pengantar. Biarkan aku pergi sendiri!”

Tidak ada orang yang berani membantahnya lagi. Bahkan cucuran air mata tiga orang istrinya ketika mendengar akan tekad gubernur ini tidak dapat mencegah keputusannya.

Pada keesokan harinya, pasukan yang di pimpin Akauw atau menurut laporan di sebut sebagai Cian-ciangkun itu telah tiba di Lok-yang dan langsung menghadap Gubernur. Pasukan itu berhenti diluar pintu gerbang dan hanya Akauw dan dua orang pembantunya yang memasuki kota Lok-yang membawa leng-ki (bendera utusan kaisar) sehingga di sepanjang jalan Akauw dan dua orang pembantunya dihormati orang.

“Utusan Kaisar telah tiba!” terdengar teriakan ke dalam ketika mereka telah tiba di pintu depan gedung tempat tinggal gubernur. nampak Gubernur Yen tergopoh keluar lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Akauw. Memang setiap orang yang menerima utusan kaisar harus bersikap hormat seolah yang datang itu kaisar sendiri.

Akauw lalu mengeluarkan gulungan surat perintah dan menyerahkan kepada pembantunya. Dia sendiri tidak pandai membaca, maka dia menyerahkan kepada pembantunya yang segera membacanya dengan suara nyaring.

“Sribaginda Kaisar yang mulia memanggil dan memerintahkan Gubernur Yen Kan untuk segera datang menghadap istana kerajaan!”

Setelah membacanya, pembantu itu menyerahkan gulungan kertas itu kepada Akauw dan Akauw juga menyerahkannya kepada Gubernur Yen. Gubernur menerima gulungan perintah itu dengan sikap hormat, setelah itu barulah dia bangkit berdiri dan kini yang dihadapinya adalah seorang panglima biasa.

“Cian-ciangkun telah melakukan perjalanan jauh, tentu lelah. Silahkan masuk dan melepas lelah sambil makan minum yang akan kami hidangkan“ kata Gubernur Yen dengan ramah sambil memandang tajam panglima yang tinggi besar dan gagah itu.

Cian Kauw Cu memberi hormat dengan mengangkat tangan di depan dada. “Banyak terima kasih, taijin. Akan tetapi tugas kami hanyalah menyampaikan surat perintah, kemudian mengawal taijin sekarang juga untuk berangkat ke kota raja“

Gubernur Yen dapat merasakan bahwa dalam ucapan itu terkandung kepastian yang tak dapat dibantah lagi dan tahu bahwa panglima seperti ini amat tegas dan jujur, tidak akan mudah untuk di sogok.

“Baiklah, ciangkun. Akan tetapi setidaknya berilah waktu kepada saya untuk berpamit dari keluarga saya“

“Silahkan, taijin. Kami bertiga akan menanti diluar pintu gerbang“ Akauw dan dua orang pembantunya lalu meninggalkan gedung itu, menunggu bersama pasukannya diluar pintu gerbang sebelah barat.

Ketika gubernur memasuki ruangan dalam, dia di sambut oleh tangisan tiga orang istrinya. Bahkan Yen Sian yang biasanya gagah perkasa dan tabah, kini merangkul pundak ayahnya sambil menangis sedangkan Yen Gun berdiri mondar mandir dengan wajah keruh. Semua orang tenggelam ke dalam kedukaan dan kekhawatiran...