Social Items

Bi Moli dan Ouwyang Toan lega melihat Bun Houw menyimpan pedangnya yang ampuh itu, Hal itu mereka anggap sebagai suatu kesombongan dari Bun Houw, maka keduanya mempergunakan kesempatan setelah Bun Houw menyarungkan kembali pedangnya untuk cepat menerjang dengan pukulan-pukulan mereka.

Akan tetapi sekali ini Bun Houw sudah siap dengan ilmunya yang amat hebat yaitu Im-yang Bun-tek Cin-keng. Bahkan gurunya sendiri tidak mampu menandingi ilmu ini! Begitu melihat kedua orang lawan sudah menyerang, Bun Houw segera menggerakkan kaki tangannya secara aneh dan akibatnya hebat. Kedua orang lawan itu seperti terdorong badai yang amat kuat, membuat mereka terjengkang dan terguling-guling.

Keduanya tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi karena tidak melihat lain jalan, keduanya sudah mengeluarkan hentakan nyaring dan menerjang lagi. Untuk kedua kalinya, mereka seperti menyerang gelombang dahsyat yang membuat mereka kembali terjengkang dan terbanting. Mereka bangkit lagi, menyerang lagi roboh lagi dan hal ini berulang sampai liga kali dan Ouwyang Toan tidak mampu bangkit kembali karena kehabisan tenaga dan sudah terluka dalam. Bi Moli masih terus menyerang mati-matian akan tetepi dengan menggunakan It-sin-ci (Satu Jari Sakti) Bun Houw berhasil merobohkannya dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak lagi.

Sorak-sorai menyambut kemenangan Kwa Bun Houw, Kaisar Siauw Bian Ong kagum bukan main karena ternyata pemuda itu tidak membunuh kedua orang lawannya, hanya membuat mereka tak berdaya! Kini maklumlah kaisar itu bahwa kalau dia menghendaki agaknya pemuda itu sudah sejak tadi dapat membunuh kedua orang lawannya. Karena tidak ingin membunuh itulah yang membuat pertandingan berlangsung lebih lama. Kaisar itupun memerintahkan petugas untuk menangkap kedua orang itu dan menjebloskan mereka kepenjara untuk menanti diadili kelak.

Kwa Bun Houw kini menghadap kaisar dan berlutut. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, “Orang muda yang gagah, kami sungguh bersukur bahwa negara kita mempunyai seorang pendekar seperti engkau yang gagah perkasa dan bijaksana. Kami ingin melihat wajahmu yang aseli."

Bun Houw terpaksa melepaskan penyamarannya, mencabut alis palsu dan juga kedok tipis seperti kulit yang menutupi mukanya, monggosok-gosok cat dan nampaklah wajah aselinya. Oleh perintah kaisar, dia mengangkat mukanya dan kaisar beserta permaisurinya melihat wajah seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah.

"Kwa Bun Houw, kami berterima kasih kepadamu dan kami ingin memberi hadiah yang sesuai dengan kehendak hatimu. Katakanlah, apa yang kau kehendaki? Kedudukan? Atau harta benda?"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak mengharapkan hadiah dan imbalan, karena apa yang hamba lakukan ini hanya merupakan suatu kewajiban hamba menentang segala bentuk kejahatan. Hamba hanya dimintai bantuan oleh Hek-tung Lo-kai dan Koan Thai-kam." dan maklumlah dia bahwa pemuda itu memang seorang pendekar sejati yang tidak mempunyai keinginan demi kesenangan atau kepentingan diri sendiri. Apa yang diajukan oleh seorang pendekar sejati semata-mata membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, tanpa pamrih sedikitpun.

"Hemm, biarlah kita bicarakan lagi hal ini setelah segalanya selesai. Kita masih harus membasmi para pemberontak yang berkeliaran di kota raja, kaki tangan kerajaan Wei, dan juga memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh bekas kaisar Cang Bu."

Pada saat itu, komandan pasukan keamanan yang bertugas membasmi para anggauta Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di luar pintu gerbang istana, datang menghadap dan melapor kepada Kaisar bahwa usahanya gagal karena semua anggauta Thian-te Kui-pang telah melarikan diri dan pasukannya hanya berhasil menangkap tiga orang saja!

"Bawa mereka ke sini! Kami ingin mendengar keterangan mereka tentang ikut campurnya kerajaan Wei dalam pemberontakan ini!" perintah kaisar penasaran.

"Ampun, Yang Mulia. Begitu tertawan, tiga orang anggauta Thian-te Kui-pang itu membunuh diri dengan menelan sebutir racun.”

Kaisar mengepal tinju, "Kirim pasukan dan tundukkan pemberontak bekas kaisar yang tak tahu diri itu. Kami sengaja mengalah dan tidak mengejarnya, akan tetapi dia malah menghimpun pasukan dan hendak memberontak!"

"Yang Mulia, biar hamba yang melakukan pengejaran terhadap Bu-tek Sam-kui yang memimpin Thian-te Kui-pang." kata Bun Houw.

Setelah kaisar menyatakan persetujuannya, Bun Houw meninggalkan istana dan diapun melakukan pengejaran ke sarang Thia-te Kui-pang, di daerah tak bertuan, yaitu di dusun Tai-bun. Dia sudah mendengar tentang dusun ini yang dikuasai oleh Thian-te Kui-pang, sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dari Koan Thai-kam.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Setelah tiba di luar kota raja, Bun Houw bukan langsung pergi ke sarang Thian-te Kui-pang, melainkan menuju ke Kui-cu, ke lembah sungai untuk mengunjungi bekas kaisar Cang Bu! Bagaimanapun juga, kaisar itu adalah bekas kaisar yang kalah perang dan Bun Houw sama sekali tidak dapat menyalahkan kaisar ini kalau hendak berusaha merebut kembali tahta kerajaan yang telah direbut oleh Kaisar Siauw Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi. Dia tidak hendak mecampuri urusan perebutan kekuasaan itu.

Akan tetapi, dia merasa tidak enak mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu bersekutu dengan kerajaan Wei di utara. Ini berbahaya sekali karena mungkin saja kelak kerajaan Wei akan menguasai kerajaan di selatan. itulah sebabnya mengapa dia kini melakukan perjalanan cepat ke pusat gerakan yang dilakukan bekas kaisar itu, mendahului pasukan yang dikirim Kaisar Siauw Bian Ong untuk membasmi pemberontakan ini.

Kalau teringat kepada Liu Kiok Lan, puteri adik bekas kaisar itu, dia merasa kasihan karena kalau tempat itu diserbu, tentu gadis bangsawan itu akan menjadi korban pula. Dia ingin menyadarkan bekas Kaisar Cang Bu agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei, dan agar cepat melarikan diri sebelum terlambat.

Pada saat itu, bekas kaisar Cang Bu sudah mendengar laporan dari seorang mata-matanya yang ditugaskan mengamati keadaan di kota raja bahwa usaha membunuh atau menawan kaisar telah gagal! Bahkan mata-mata itu mengabarkan betapa orang-orang Thian-te Kui-pang yang tadinya siap di kota raja, telah pula melarikan diri setelah mendengar kegagalan itu.

Juga Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, yang tadinya memimpin orang orang kang-ouw dan anak buah mereka sendiri, bersiap-siap untuk membantu gerakan di kota raja kalau penawanan terhadap kaisar berhasil, terpaksa mengundurkan diri dan ayah beserta puteranya itu kini telah kembali ke Kui-cu. Melihat Suma Koan dan Suma Hok kembali dengan wajah lesu, bekas kaisar Cang Bu mengepal tinju dan membanting-banting kaki.

"Celaka, kenapa sampai gagal? Dan kenapa pula paman Suma pulang dengan tangan hampa? Semestinya paman membantu usaha di dalam istana itu sampai berhasil! Ah, aku telah mempercayakan urusan penting kepada orang-orang yang tak dapat diandalkan.”

Kaisar Cang Bu benar-benar merasa menyesal sekali karena kegagalan ini memusnakan harapannya untuk dapat menguasi kembali kerajaan yang telah dirampas oleh Siauw Bian Ong.

Kui-siauw Giam-ong mengerutkan alisnya. Dia memang tadinya tidak begitu ingin mencampuri urusan pemberontakan. Hanya karena puteranya telah menjadi adik ipar bekas kaisar itu maka dia mendapat semangat untuk ikut meraih kedudukan yang tinggi. Kini semua telah gagal dan dia kehilangan semangat. Dia menghela napas panjang.

"Sudahlah, Liu-kongcu. Saya tidak mempunyai semangat lagi dan akan pulang ke tempat tinggalku. Selamat tinggal!" Sebelum bekas kaisar itu sempat menjawab, kakek kurus itu telah berkelebat dan pergi dari tempat itu.

Puteranya, Suma Hok, maklum bahwa ayahnya tidak pulang karena mereka tadi telah bersepakat untuk bergabung dengan Bu-tek Sam-kui dan mencari kedudukan di kerajaan Wei, di utara sana! Suma Hok sendiri lalu memasuki perkemahan di mana isterinya, Liu Kiok Lan, telah menantinya.

Seolah tidak melihat isterinya yang cantik, Suma Hok langsung saja mengumpulkan pakaian dan barang berharga, berkemas seperti orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Melihat ini, Liu Kiok Lan mengerutkan alisnya dan menghampiri suaminya yang sedang berkemas.

"Aku mendengar bahwa usaha di kota raja itu gagal. Benarkah itu, suamiku?"

Tanpa menoleh Suma Hok menjawab, "Benar. Sialan! Hancurlah semua cita-citaku."

Hening sejenak. Suma Hok tetap saja mengumpulkan semua barang berharga, emas permata, sisa kekayaan yang dibawa dari istana oleh Liu Kiok Lan ketika lari mengungsi, memasukkan semua itu ke dalam buntalan pakaian.

"Engkau hendak mengajak aku pergi ke manakah?" tanya isterinya.

"Siapa yang hendak mengajak engkau pergi? Aku akan pergi sendiri!" jawab Suma Hok.

Liu Kiok Lan terkejut dan kerut di keningnya semakin dalam. "Apa maksudmu? Engkau mengemasi semua barang, termasuk perhiasan dan barang berharga milikku, dan engkau akan meninggalkan aku?"

Kini Suma Hok membalik dan isterinya terkejut melihat wajah yang tampan itu kini berubah seperti iblis, begitu bengis dan kasar. “Sialan! Setelah semua yang kulakukan, hanya barang-barang ini yang kudapatkan! Sungguh rugi besar selama berbulan-bulan ini aku memaksa diri tinggal di sini dan menghambakan diri kepada bekas kaisar yang ternyata kini gagal segala-galanya. Huh!"

Wajah Liu Kiok Lan menjadi pucat. "Kau... kau...! Bukankah engkau telah menjadi suamiku dan aku ini isterimu? Dan kau mengatakan semua cita-citamu sia-sia? Dan aku ini kau anggap apa? Kalau memang hendak pergi, tinggalkan semua barangku!"

"Ha-ha-ha, barang-barang ini untuk imbalan semua jasaku! Kalau bukan karena aku, engkau akan menjadi seorang gadis yang ternoda aib, gadis yang bukan perawan lagi. Tadinya, aku mengharapkan untuk menjadi seorang yang berkedudukan, akan tetapi melihat keadaannya sekarang, kakakmu sudah tidak ada harapan. Untuk apa aku harus merendahkan diri lebih lama lagi di sisimu?”

“Suma Hok!" Liu Kiok Lan membentak marah dan menudingkan telunjuknya ke arah muka suaminya. "Setelah semua apa yang kau lakukan terhadap diriku, dan semua itu kuterima dengan perasaan hancur namun terpaksa kudiamkan saja demi menjaga nama baik keluarga kami, dan engkau sekarang hendak meninggalkanku begitu saja? Setelah engkau membunuh Paman Pouw Cin yang setia, kemudian melakukan fitnah pula kepadanya, kemudian engkau membohongi kakakku dan aku, engkau kini tidak mau bertanggung jawab?"

Suma Hok terbelalak. "Apa...? Apa yang kau maksudkan...?"

Sebelum Kiok Lan menjawab, terdengar langkah kaki dan muncul seorang pengawal sehingga suami isteri yang sedang bertengkar itu menahan kemarahan mereka dan menghentikan pertengkaran. "Ada keperluan apa engkau datang ke sini tanpa dipanggil?" bentak Suma Hok marah.

"Maaf, tai-hiap. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemuda yang dulu pernah menjadi buronan, yang bernama Kwa Bun Houw itu sekarang datang dan bercakap-cakap dengan Sribaginda."

Diam-diam Suma Hok terkejut bukan main, sebaliknya Kiok Lan yang mendengar disebutnya nama pendekar itu, nampak girang.

"Pergilah kami tidak ingin diganggu!”' kata Suma Hok dan pengawal itu lalu pergi. Setelah dia pergi, Suma Hok menutupkan kembali daun pintu kamarnya dan menghadapi isterinya.

"Sekarang katakan, apa maksudmu dengan mengatakan semua tadi? Engkau bilang aku melakukan fitnah kepada Paman Pouw Cin? Apa maksudmu?"

"Kaukira aku dapat percaya begitu saja ketika dahulu itu engkau mengatakan bahwa engkau membunuh Paman Pouw Cin karena dia memperkosaku? Aku tidak pernah percaya seujung rambutpun! Paman Pouw Cin adalah orang yang paling setia kepada kakakku dan aku, sudah kukenal sejak aku kecil. Aku tahu dan mengenal betul orang macam apa dia. Bagaimana mungkin dia mendadak saja berubah menjadi demikian keji? Akan tetapi karena engkau bersedia mencuci aib pada diriku dengan menikahiku, akupun hanya menyimpan semua keraguan itu di dalam hatiku. Kemudian, setelah aku mengenal benar watakmu. aku semakin yakin bahwa dahulu engkaulah yang memperkosaku. Engkau membuat aku tidak sadar, kemudian engkau memperkosaku. Ketika Paman Pouw Cin memergoki perbuatanmu, dia kau bunuh, lalu engkau memutar balik kenyataan dan mengatakan bahwa engkau melihat Paman Pouw Cin memperkosaku dan engkau membunuhnya. Kemudian, engkau memperlihatkan kebaikanmu dengan bersedia mencuci aib dan menikahiku. Semua itu kaulakukan dengan pamrih mendapatkan kedudukan! Dan sekarang, setelah usaha kakakku gagal, engkau hendak meninggalkan aku begitu saja? Suma Hok, aku tidak akan tinggal diam, akan ku-laporkan perbuatanmu itu kepada kakakku!”

Wajah Suma Hok berubah pucat ketika dia mendengar kata-kata itu. Kalau bekas kaisar Cang Bu mendengar laporan adiknya ini, tentu dia akan ditangkap dan dihukum berat. Maka, dia lalu pura-pura terkejut setengah mati dan dengan muka dibuat sedih dia mendekati isterinya.

"Isteriku, bagaimana engkau dapat mengeluarkan kata-kata sekeji itu? Tidak kusangkal bahwa aku memang ingin mendapatkan kedudukan, akan tetapi siapakah orangnya yang tidak mempunyai cita-cita tinggi? Akan tetapi, aku sama sekali tidak memperkosamu aku bahkan menikahimu karena aku kasihan padamu, aku cinta padamu. Paman Pouw Cin yang melakukannya, aku berani bersumpah Isteriku, kalau engkau tidak ingin aku pergi akupun tidak akan pergi, akan tetapi jangan menuduhku yang bukan-bukan! Aku yang sudah mengorbankan segalanya untukmu, kini masih menerima tuduhan keji..." dan pemuda itu menangis sambil menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

Kiok Lan terkejut juga melihat suaminya menangis dan berlutut di depan kakinya. Bagaimanapun juga, pria ini telah menjadi suaminya dan iapun sudah pernah berusaha memaksa hatinya untuk mencintainya. Sikap suaminya yang menangis sedih dan berlutut di depan kakinya itu membuat ia sejenak meragukan dugaannya sendiri dan iapun membungkuk untuk membangunkan Suma Hok. Akan tetapi pada saat ia membungkuk untuk membangunkan suaminya, Suma Hok menggerakkan tangan memukul dada istrinya. Pukulan itu datangnya sama sekali tidak terduga-duga oleh Kiok Lan.

"Dukkk!!" Dadanya kena hantaman tangan Suma Hok dan seketika ia muntah darah. Akan tetapi matanya melotot dan wanita itu masih mampu melakukan serangan totokan dengan ilmu totok It-sin-ci, yaitu totokan satu jari. Namun, Suma Hok dapat menangkisnya sehingga jari tangan Kiok Lan hanya mengenai lengan baju dan lengan baju itu berlubang, akan tetapi tubuh wanita muda itu terkulai dan roboh, tewas seketika dengan mulut mengalirkan darah.

Suma Hok berteriak-teriak setelah mendorong jendela kamar itu terbuka dan diapun menangis. Beberapa orang pengawal datang dan melihat adik majikan mereka tewas ditangisi Suma Hok, mereka segera melapor kepada bekas kaisar Cang Bu. Pada saat itu, Liu Tek atau bekas kaisar Cang Bu sedang menerima kunjungan Kwa Bun Houw. Mula-mula, bekas kaisar itu terkejut bukan main melihat munculnya Kwa Bun Houw di depannya. Akan tetapi karena sikap Bun Houw baik, tidak seperti musuh, diapun mempersilakan tamu itu duduk dan diam-diam dia memberi isarat agar para pengawalnya melakukan penjagaan.

"Kwa Bun Houw, apakah maksud kedatanganmu sekarang ini? Sebagai kawan atau sebagai lawan?" tanya bekas kaisar itu sambil menatap tajam.

"Kongcu, saya datang bukan sebagai kawan maupun lawan karena sesungguhnya saya tidak mempunyai urusan pribadi apapun dengan kongcu. Akan tetapi mengingat akan kebaikan kongcu dan terutama sekali Nona Liu Kiok Lan, saya datang untuk memberi nasihat kepada kongcu. Pertama, sebaiknya kalau kongcu menghentikan hubungan kongcu dengan kerajaan Wei di utara. Dan ke dua sebaiknya kongcu cepat meningalkan tempat ini karena pasukan kerajaan Chi akan melakukan penyerbuan setelah usaha pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong dapat digagalkan."

Pada saat itulah pengawal datang berlari-larian dan melaporkan dengan napas memburu bahwa adik bekas kaisar itu telah tewas di kamarnya. Mendengar ini, Liu Tek terbelalak dan segera lari ke dalam, diikuti oleh Bun Houw yang juga terkejut bukan main mendengar laporan itu. Dia belum tahu bahwa adik bekas kaisar itu telah menikah dengan Suma Hok. Ketika mereka tiba di kamar itu, mereka melihat Kiok Lan telah diangkat ke pembaringan dan Suma Hok duduk di tepi pembaringan sambil menangisi kematian isterinya.

"Suma Hok, apa yang telah terjadi?" Liu Tek berteriak ketika memasuki kamar. Bun Houw juga berdiri tertegun memandang ke arah mayat Kiok Lan yang masih nampak mengalirkan darah dari mulutnya.

Suma Hok menoleh dan begitu melihat Kwa Bun Houw, diapun meloncat dan menyerang Bun Houw dengan marah sambil membentak, "Engkau pembunuh! Engkau telah membunuh isteriku!"

Bun Houw cepat mengelak ketika tangan Suma Hok menyambar ke arah mukanya. Suma Hok yang serangannya luput itu membalik dan sudah menyerang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya. Namun, Bun Houw menangkis dan Suma Hok terhuyung.

"Suma Hok, hentikan ini! Engkau menuduhku yang bukan-bukan!" kata Bun Houw.

Suma Hok sudah menyambar sulingnya yang tadinya terletak di atas meja. "Jahanam Kwa Bun Houw, engkau telah membunuh isteriku, aku harus membalas kematian isteriku!"

Mendengar ini, Liu Tek menengahi. "Nanti dulu, apa artinya ini, Suma Hok? Saudara Kwa Bun Houw ini baru saja datang dan menghadap padaku, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia telah membunuh Kiok Lan?"

"Ah, paduka tidak tahu. Jahanam ini memang licik sekali. Sebelum menghadap paduka dia telah menyelinap ke kamar ini dan membunuh dinda Kiok Lan. Saya melihat sendiri ketika saya memasuki kamar, jahanam ini melarikan diri melalui jendela!" Dia menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka.

Bekas kaisar ini kini menghadapi Bun Houw dan memandang penuh perhatian dan keraguan. Bun Houw segera berkata, "Kongcu, harap diteliti dulu peristiwa ini. Mungkinkah saya akan masih berada di sini, mengingatkan kongcu akan datangnya bahaya, kalau benar saya membunuh nona Kiok Lan? Kalau boleh, saya ingin memeriksa jenazah nona Kiok Lan untuk meneliti apa yang menyebabkan kematiannya."

Bekas kaisar itu mengangguk dan bersama Bun Houw dia mendekati jenazah adiknya. Bun Houw memeriksa dan membuka baju di bagian dada. Nampak tanda pukulan membiru di dada itu, pukulan yang amat kuat dan mengandung hawa panas! Akan tetapi bekas pangeran itu lebih tertarik melihat tangan kanan adiknya seperti menekan atau mencengkeram ke arah perut. Ketika dia menarik tangan itu, Bun Houw melihat betapa jari telunjuk tangan kanan itu bengkak dan ketika dirabanya, maka tulang telunjuk itu patah pada buku jarinya.

Bekas kaisar Cang Bu melihat ujung lipatan kertas menyembul dari balik baju di pinggang adiknya. Diambilnya benda itu yang ternyata sehelai kertas berlipat yang agaknya disembunyikan di ikat pinggang. Dia membuka dan merabanya. Wajahnya berubah pucat sekali, dan tanpa bicara dia menyerahkan kertas itu kepada komandan pengawalnya. Panglima itu membaca pula dan cepat dia berlari keluar entah apa yang dilakukannya, hanya dia dan bekas kaisar itu yang mengetahuinya.

Sementara itu, Bun Houw yang memeriksa telunjuk, kini memandang kepada Suma Hok yang masih berdiri tegak. Dan diapun menemukan apa yang dicarinya. Lengan baju Suma Hok berlubang dan tahulah dia bahwa agaknya tangkisan Suma Hok membuat jari telunjuk wanita itu patah buku jarinya dan lubang pada lengan baju itu akibat ilmu totokan It-sin-ci dari mendiang Liu Kiok Lan Suma Hok,

“Engkaulah yang telah membunuh Nona Liu Kiok Lan dengan pukulan Lui-kong-ciang (Tangan Halilintar), dan agaknya Nona Liu menyerangmu dengan totokan It-sin-ci yang mengenai lenganmu ketika kau tangkis. Buktinya, lengan bajumu itu berlubang. Dan engkau masih berani menuduh, aku yang membunuhnya!" kata Bun Houw.

"Ha-ha-ha, Kwa Bun Houw, engkau murid Tiauw Sun Ong, tentu tidak jauh berbeda dari gurunya! Tidak perlu menyangkal atau memutarbalikkan kenyataan. Kenapa aku membunuh isteriku sendiri yang tercinta? Engkaulah yang membunuhnya dan ketika aku memasuki kamar ini, aku masih melihat bayanganmu meloncat keluar melalui jendela!"

Pada saat itu, komandan pengawal tadi muncul lagi bersama tujuh orang perwira, termasuk pengawal yang tadi mengabarkan kepada Suma Hok tentang kedatangan Kwa Bun Houw.

"Yang Mulia." kata panglima itu kepada Liu Tek. "Pengawal ini menjadi saksi bahwa ketika dia melapor tentang kedatangan tamu, dia melihat Nona itu dan suaminya berada di kamar ini dan agaknya sedang bertengkar."

"Suma Hok, engkau hendak berkata apalagi?" bekas kaisar itu menegur marah. "Bukan itu saja, bukan hanya engkau membunuh adikku, juga dahulu engkaulah yang berbuat keji terhadap adikku, lalu mengatakan bahwa Jenderal Pouw Cin yang melakukannya!"

Wajah Suma Hok menjadi pucat. "Sribaginda, semua itu bohong!" katanya membantah.

"Hemm, bohongkah surat yang ditulis sendiri oleh adikku ini? Agaknya adikku telah mendapatkan firasat tidak enak dan membuat pengakuan ini di atas kertas. Sayang sebelum melapor kepadaku, engkau sudah membunuhnya. Engkau manusia iblis!"

"Sudahlah, kalau engkau tidak percaya lagi kepadaku, aku mau pergi!” Suma Hok mencabut sulingnya dan hendak menerjang keluar.

"Nanti dulu, engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!" kata Kwa Bun Houw dan diapun menghadang di pintu.

"Kwa Bun Houw, pengecut busuk. Engkau, hendak mengandalkan pengeroyokan?" teriak Suma Hok yang tidak melihat jalan keluar lagi dan bersikap gagah untuk menyembunyikan rasa takutnya.

"Siapa hendak mengeroyokmu? Hayo kita bertanding satu lawan satu di luar. Harap Kongcu tidak memerintahkan orang mengeroyoknya, biar saya sendiri melawanuya."

Mendengar ucapan Kwa Bun Houw itu, Li Tek mengangguk, hanya memerintahkan para perwiranya untuk mengatur pasukan mengepung agar Suma Hok tidak sampai lolos. Melihat bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk mololoskan diri, maka Suma Hok menjadi nekat. Semuanya sudah gagal dan tidak ada jalan lain kecuali menunjukkan kegagahannya. Maka, melihat Kwa Bun Houw sudah melangkah keluar, diapun dengan mengangkat dada, membawa sulingnya, mengikuti keluar.

Mereka saling berhadapan di ruangan terbuka sebelah luar kamar. Maklum bahwa lawannya adalah putera seorang datuk besar dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, Bun-Houw sudah mencabut pula senjatanya, yaitu Lui-kong-kiani (Pedang Kilat)! dan semua orang terkesiap karena pedang itu seperti mengeluarkan sinar kilat ketika dicabut.

"Kwa Bun Houw, sejak dahulu engkau menentangku dan menjadi penghalang bagiku! Sekali ini, engkau atau aku yang mati!" bentak Suma Hok.

"Yang kutentang kejahatanmu, bukan dirimu!" bentak pula Bun Houw akan tetapi dia sudah harus cepat menghindar karena selagi dia bicara, Suma Hok telah menyerang dengan suling mautnya. Suling digerakkan dan ada sinar hitam menyambar dari ujung suling Bun Houw miringkan tubuhnya dan menggerakkan pedang. Beberapa batang jarum beracun halus dapat dipukul runtuh oleh pedangnya dan diapun memutar pedang membalas serangan lawan.

Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok adalah seorang pemuda gemblengan yang sukar dicari tandingannya. Dia telah mewarisi sebagian besar ilmu dari ayahnya dan bahkan dia amat keji mempergunakan racun sehingga dijuluki Suling Beracun. Sulingnya yang disepuh perak itu bukan saja mampu mengeluarkan jarum beracun, juga permukaan suling itu mengandung racun yang amat jahat. Ketika dia mengamuk dan menerjang Bun Houw, bentuk suling itu lenyap dan yang nampak hanyalah gulungan sinar putih dibarengi suara mendengung-dengung.

Akan tetapi, yang dilawannya adalah Kwa Bun Houw, Si Pedang Kilat yang dalam segala hal jauh lebih tinggi tingkatnya. Bahkan ayahnya sendiri, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, tidak akan mampu menandingi Si Pedang Kilat, apalagi dia! Ketika Bun Houw memainkan pedangnya, nampak sinar kilat bergulung-gulung dan menggulung sinar perak dari suling di tangan Suma Hok.

Pemuda ini terkejut bukan main karena ke manapun sulingnya bergerak, selalu bertemu sinar pedang yang bagaikan benteng yang kokoh. Sebaliknya, dari gulungan sinar pedang itu kadang mencuat sinar yang menyambar bagaikan kilat, membuat Suma Hok berulang kali harus melempar tubuh ke belakang dengan muka pucat karena nyaris dia disambar sinar pedang kilat.

Mulailah rasa takut dan panik mencengkeram hati Suma Hok. Dia maklum bahwa dia tidak akan menang bertanding melawan Kwa Bun Houw, maka dari pada melanjutkan perkelahian yang tidak memberi harapan itu. lebih baik dia mencoba menerobos kepungan dan melarikan diri.

Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat ke sebelah kiri. Dia disambut todongan golok dan tombak pasukan, akan tetapi Suma Hok menggerakkan sulingnya dan sinar hitam dari jarum-jarum halusnya merobohkan lima orang! Dan diapun mengamuk dengan sulingnya dan berhasil merobohkan lagi lima orang! Dalam sekejap mata saja dia sudah merobohkan sepuluh orang lawan yang tidak mungkin dapat ditolong lagi karena keracunan. Melihat ini, sekali melompat Bun Houw sudah berada di depannya dan menggerakkan pedangnya.

"Trangg...!!” Nampak bunga api berpijar ketika suling di tangan Suma Hok menangkis dan patah menjadi dua potong! Iblis Suling Beracun ini terkejut dan marah, lalu dengan nekat dia menubruk ke depan dengan sulingnya yang buntung, akan tetapi kaki Bun Houw menyambutnya dengan tendangan.

"Desss...!!" Dada Suma Hok tertendang dan diapun terjengkang pingsan.

"Tangkap dia hidup-hidup!” bentak bekas kaisar Cang Bu yang sudah marah sekali terhadap bekas adik iparnya itu. Banyak tangan membelenggu Suma Hok yang sudah pingsan itu sehingga kaki tangannya terikat kuat-kuat, membuat dia setelah siuman tak mampu bergerak lagi.

Bun Houw segera menghadapi bekas kaisar itu dan berkata, "Kongcu, seperti pernah saya katakan dahulu, saya tidak ingin mencampuri urusan perebutan kekuasaan. Kedatangan saya ini hanya untuk memberi tahu agar kongcu suka cepat menyelamatkan diri. Saya ikut bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Nona Liu Kiok Lan. Sekarang, perkenankan saya untuk berpamit."

Bekas kaisar itu merasa kecewa sekali bahwa seorang yang lihai seperti Si Pedang Kilat itu tidak mau bekerja sama dengan dia. Biarpun dia berterima kasih dengan peringatan dan pemberitahuan bahwa pasukan kerajaan Chi akan menyerbu, namun dia tidak ingin mundur lagi. Dia sudah bersusah payah mengumpulkan tenaga untuk melakukan perang merebut kembali tahta kerajaan, maka dia tidak mau melarikan diri lagi.

"Terima kasih, Kwa-taihiap. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Aku merasa menyesal sekali telah terkena bujukan dan tipuan penjahat macam Suma Hok sehingga pernah memusuhimu."

Bun Houw meninggalkan tempat itu dan benar seperti yang dia peringatkan kepada bekas kaisar itu, dua hari kemudian, tempat itu diserbu pasukan yang amat besar jumlahnya. Terjadi perang karena bekas Kaisar Cang Bu melakukan perlawanan mati-matian. Namun semua usahanya itu sia-sia. Kerajaan Wei di utara juga tidak mengirim bantuan melihat sekutunya diserang itu, hanya memperkuat penjagaan di perbatasan. Pasukan dari bekas kaisar Cang Bu itu dapat dihancurkan setelah pertempuran selama sehari semalam. Kaisar Cang Bu sendiri tidak mau ditawan dan membunuh diri, setelah dia dengan pedangnya sendiri membunuh Suma Hok yang menjadi tawanan.

Perang merupakan puncak merajalelanya nafsu, karena perang memperebutkan kemenangan tanpa menghiraukan pengorbanan banyak nyawa manusia. Mengapa di seluruh dunia ini, kehidupan manusia tidak terbebas dari pada perang, baik perang antara bangsa, antara kelompok, antar keluarga, maupun antar perorangan?

Perang terjadi setiap hari, dimulai dari perang atau konflik dalam batin pribadi, mencetus keluar menjadi konflik antar perorangan, membengkak menjadi perang antar kelompok, sampai antar bangsa. Sumbernya terletak kepada si aku yang mengejar kesenangan dengan cara apapun juga. Si aku adalah pikiran yang bergelimang nafsu, dan nafsu selalu memang mengejar kesenangan dan kepuasan.

Memperebutkan kemenangan karena yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa tentu saja selalu benar, selalu berada di atas, karenanya menginjak yang di bawah dan tidak mungkin terinjak karena yang di bawah tidak mungkin dapat menginjak yang berada di atas. Menang, berkuasa, duduk di atas, selalu benar, selalu baik, selalu dapat menentukan apa saja, karenanya, tentu saja senang! Jadi, semua pencarian itu menuju ke arah satu, yaitu kesenangan!

Kedudukan diperebutkan karena kedudukan merupakan sarang kesenangan. Segala macam kebutuhan terpenuhi, segala macam keinginan tercapai, dan di dalam kekuasaan itu terdapat segalanya. Kekayaan, identitas, dan kemuliaan.

Betapa kita mudah melupakan kenyataan yang dapat kita lihat dari sejarah, bahwa makin besar kesenangan yang kita raih dan dapatkan, makin besar pula kesusahan menanti di ambang pintu. Seseorang yang disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai pendukungan, pada lain keadaan mungkin akan disambut dengan cemooh dan binaan, sebagai korban dari kedudukannya.

Seorang yang kaya raya dan menikmati kekayaannya di satu saat, di lain saat mangkin saja akan dicekam ketakutan hebat akan kehilangan kekayaannya, atau disiksa kedukaan besar karena kehilangan kekayaannya. Seorang yang berada di puncak kemashuran dan dipuja-puja, sekali waktu dapat saja jatuh ke bawah dan pujaan itu berubah menjadi ejekan dan kutukan. Bagaikan sebuah biduk kecil dipermainkan gelombang samudera. kitapun dipermainkan oleh hasil dan gagal, kepuasan dan kekecewaan, kesenangan, dan kesusahan, kebosanan, iri hati, iba diri, dan segala macam permainan pikiran yang dicengkeram nafsu daya rendah.


********************

Sekelompok orang yang berada di dalam ruangan besar itu nampak muram, bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang marah-marah. Mereka duduk mengelilingi meja besar dan yang duduk di kepala meja adalah tiga orang yang kelihatan berwibawa. Mereka merupakan pimpinan dari pasukan Kerajaan Wei yang kini menduduki dusun Thai-bun dan yang membentuk sebuah perkumpulan bernama Thian-te Kui-pang. Tiga orang pimpinan itu merupakan saudara-saudara seperguruan, yaitu yang pertama berjuluk Pek-thian-kui (Iblis Putih dari Utara) berusia lima puluh tahun dengan tubuh gendut bundar dan mukanya halus.

Orang ke dua berjuluk Huang-ho Kui (Iblis Sungai Ku ning) berusia empat puluh sembilan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot dan kumis jarang. Yang ke tiga berjuluk Toar beng-kui (Iblis Pencabut Nyawa) bertubuh sedang, berusia empat puluh tahun dan wajahnya tampan, matanya liar. Mereka inilah yang dikenal sebagai Bu-tek Sam kui (Tiga Iblis Tanpa Tanding) yang menjadi jagoan-jagoan istana kaisar kerajaan Wei dan nama mereka amat terkenal di utara.

Kini mereka menerima tugas dari kaisar mereka untuk membawa seratus orang anak buah, menyusup ke selatan untuk membikin kacau kerajaan baru Chi yang nampak semakin berkembang. Di dusun Thai-bun, pasukan itu membunuhi penduduk, menjadikan dusun itu sebagai markas mereka dan mereka tidak lagi memakai seragam pasukan kerajaan Wei, melainkan berpakaian hitam-hitam sebagai anggauta. Thian-te Kui-pang.

Di sisi lain dari meja panjang itu, menghadap tiga orang Bu-tek Sam-kui, duduk tokoh-tokoh persilatan yang dikenal sebaga datuk-datuk persilatan yang lihai. Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis) Suma Koan, datuk besar majikan bukit Bayangan Iblis berada di situ. Juga nampak Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek, datuk besar majikan Lembah Bukit Siluman yang berusia lima puluh tiga tahun, beberapa tahun lebih muda dibandingkan Suma Koan.

Di samping Ouwyang Sek duduk pula Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im) Bwe Si Ni yang biarpun sudah berusia hampir lima puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik manis seperti baru berusia tiga puluh tahun saja. Seperti kita ketahui, wanita yang dahulunya merupakan seorang dayang istana ini, yang pernah jatuh cinta dan tergila-gila kepada bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, dalam usahanya membalas dendam karena ditolak cintanya oleh bekas pangeran itu, kalah oleh Tiauw Sun Ong dan ia dibantu oleh Ouwyang Sek.

Semenjak waktu itu, ia bersahabat dengan Ouwyang Sek dan memang keduanya memiliki watak yang sama, apalagi Ouwyang Sek telah menjadi seorang duda, maka keduanya menjadi akrab. Oleh karena itu, ketika Ouwyang Sek dibujuk oleh Bu-tek Sam kui untuk bekerja sama, dia mengajak pula Kwan Im Sian-li sehingga keduanya sekarang berada di markas Thian-te Kui-pang itu.

Selain tiga pimpinan Thian-te Kui-pang dan tiga orang datuk ini, masih ada lagi lima orang pembantu Bu-tek Sam-kui yang merupakan perwira atau pimpinan pasukan Thian-te Kui-pang. Mereka agaknya nampak murung dan marah, membicarakan sesuatu yang penting dengan penuh semangat.

"Brakk!” Tangan kiri Kui-siauw Giam-ong menggebrak meja di depannya sehingga tergetar. "Puteraku Suma Hok mati terbunuh! Akan tetapi aku tidak mau melakukan balas dendam karena pembunuhnya, bekas Kaisar Cang Bu, juga sudah mampus. Sungguh membuat hati merasa penasaran sekali!”

Kakek yang kecil kurus namun amat lihai ini menyambar cawan araknya dan sekali tuang, arak dalam cawan sudah memasuki perutnya. Agaknya dia masih belum puas dan menyambar guci arak lalu menuangkan isinya, menggelogoknya, seolah arak itu akan dapat mengusir ke marahannya.

"Giam-ong, kenapa penasaran kepada bekas kaisar itu? Yang menjadi biang keladi kematian puteramu bukanlah dia, melainkan orang yang juga menjadi biang keladi puteraku Ouwyang Toan tertangkap dan dihukum mati. Orang itulah yang telah membunuh anakmu dan anakku!"

"Siapakah dia!” Suma Koan bertanya dan memandang kepada rekannya dengan mata merah.

"Siapalagi kalau bukan si jahanam Kwa Bun Houw? Menurut para penyelidik yang berhasil lolos ketika markas bekas Kaisar Cang Bu diserbu pasukan pemerintah, sebelum pasukan pemerintah menyerbu, Kwa Bun Houw datang berkunjung untuk memperingatkan bekas kaisar itu agar tidak bergabung dengan kerajaan Wei dan agar melarikan diri karena akan diserbu pasukan pemerintah. dan dalam pertemuan itulah Kwa Bun Houw menyerang dan merobohkan puteramu. Dia ditangkap dengan tuduhan membunuh isterinya serdiri, adik bekas Kaisar Cang Bu. Kemudian, setelah terjadi penyerbuan dan Kaisar Cang Bu kalah, dia membunuh anakmu yang telah tertawan sebelum membunuh diri. Nah. bukankah kematian anakmu itu gara-gara Kwa Bun Houw? Karena Kaisar Cang Bu sudah mati, engkau harus membalas kematian anakmu kepada Kwa Bun Houw, seperti juga aku akan menuntut balas atas kematian anakku."

"Bukankah Ouwyang Toan, anakmu itu mati karena dihukum mati oleh pemerintah kerajaan Chi?" tanya Suma Koan.

Bu-eng kiam Ouwyang Sek menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara sedih. “Memang benar, akan tetapi kegagalan Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li juga gara-gara campur tangannya Kwa Bun Houw yang menyamar dan menjadi pengawal pribadi kaisar. Karena dialah maka penyerangan itu gagal dan anakku bersama Bi Moli tertawan dan dijatuhi hukuman mati." Dia mengepal tinju dan berteriak. "Kwa Bun Houw, aku pasti akan menghancurkan kepalamu untuk membalas kematian anakku!"

Dua orang datuk yang biasanya tidak pernah saling mengacuhkan itu, kini bersatu hati untuk menentang dan membalaskan kematian putera mereka kepada Kwa Bun Houw. Melihat kedua orang datuk itu marah-marah, Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi, berkata,

"ji wi (kalian berdua) suka bersabar. Kami mengetahui akan dendam kemarahan hati ji-wi, akan tetapi kita harus mengingat bahwa selain Kwa Bun Houw itu memiliki ilmu silat yang amat tangguh, juga agaknya dia memiliki pula kawan-kawan dari golongan kang-ouw yang menentang kita, seperti terbukti ketika dia membantu Thian-beng-pai dan Hek-tung Kai-pang yang tidak mau tunduk kepada kita. Oleh karena itu, harap ji-wi suka bersabar dan bergabung dengan kami. Kalau kita bersatu, dengan kekuatan anak buah kita, kiranya tidak akan sukar untuk membalas dendam kita terhadap Kwa Bun Houw.”

"Akupun harus menghajar pemuda sombong itu!" Kwan Im Sian li Bwe Si Ni berkata. "Beberapa kali diapun berani menentangku!”

"Kalau begitu, bagus sekali! Pek-thian-kui, kami rasa, kami bertiga saja sudah cukup untuk menemukan Kwa Bun Houw dan memenggal lehernya! Tidak perlu kalian Bu-tek Sam-kui ikut-ikut!" kata Ouwyang Sek.

"Apa yang dikatakan Bu-eng-kiam itu benar, Bu-tek Sam-kui." kata pula Kui-siauw Giam-ong Suma Koan. "Setelah usaha kita bersama gagal, bahkan kami berdua telah mengorbankan putera kami, maka tidak ada gunanya lagi kerja sama ini. Kaisar Cang Bu telah tewas, pasukannya telah hancur, untuk apalagi kita bekerja sama? Kalian adalah petugas dari kerajaan Wei, akan tetapi kami bertiga tidak mempunyai urusan dengan perebutan kekuasaan antara kerajaan di utara dan kerajaan di selatan. Kami bertiga hendak mencari dan menghukum Kwa Bun Houw karena urusan pribadi, tidak ada lagi sangkut-pautnya dengan kerajaan Wei."

"Akupun setuju," kata Kwan Im Sian-li. “Yang jelas, kerja sama itu ternyata tidak menguntungkan, bahkan merugikan kami. Giam-ong dan Bu-eng-kiam, mari kita bertiga mencari Kwa Bun Houw dan kalau Tiauw Sun Ong membela muridnya, kita bunuh sekalian manusia sombong itu!"

Tiga orang datuk itu lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu tanpa ada yang berani mencegah. Bu-tek Sam-kui hanya dapat saling pandang saja. Mereka mendapat tugas memimpin anak buah mereka untuk mengacau dan melemahkan kerajaan Chi, dan untuk melaksanakan tugas itu mereka berhasil menarik banyak tokoh kang-ouw golongan sesat untuk membantu mereka dengan janji yang muluk. Bahkan mereka berhasil mengikat kerja sama dengan bekas Kaisar Cang Bu dan bersama-sama mengatur siasat untuk membunuh Kaisar kerajaan Chi dan menguasai dunia kang-ouw.

Akan tetapi, ternyata usaha membunuh Kaisar Siauw Bian Ong itu gagal, juga mereka tidak berhasil menguasai dunia kang-ouw sepenuhnya. Tadinya, mereka mengharapkan para datuk seperti Ouwyang Sek dan Suma Koan untuk mereka jadikan jago dan beng-cu dalam pemilihan beng-cu dunia kang-ouw. Hal inipun gagal karena sekarang, dua orang datuk itu bersama Kwan Im Sian-li meninggalkan mereka dalam usaha mereka untuk mencari musuh pribadi mereka.

"Tidak ada jalan lain, kita harus mulai dari pertama, yaitu mengadakan pengacauan di sepanjang tapal batas selatan sambil mengirim laporan tentang kegagalan itu kepada Sribaginda dan menanti perintah selanjutnya," kata Pek-thian-kui. Dua orang sutenya setuju dan segera mereka membuat laporan untuk dikirim kepada kaisar mereka di utara.

Mulailah para anggauta Thian-te Kui-pang itu mengganas lagi di perbatasan, mengganggu dusun-dusun, merampok dan membunuh dan mereka dikenal sebagai gerombolan iblis Hitam karena pakaian mereka serba hitam dan kebuasan mereka seperti iblis. Gegerlah perbatasan dan banyak penduduk mengungsi ke pedalaman. Kalau ada pendekar atau petugas keamanan berani menentang, mereka semua dibunuh.

Sementara itu, Ouwyang Sek, Bwe Si Ni dan Suma Koan melakukan perjalanan bersama menuju Hoa-san. Bwe Si Ni yang menjadi penunjuk jalan karena wanita itu pernah mendatangi tempat bekas pangeran itu mengasingkan diri, yaitu di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Hoa-san. Mereka bertiga sudah bertekad untuk mencari Bun Houw di sana dan kalau pemuda yang menjadi musuh besar mereka itu tidak berada di sana, mereka akan menawan Tiauw Sun Ong untuk memancing datangnya pemuda itu yang mereka yakin pasti akan membela gurunya.

"Si Buta itu lihai bukan main," Ouwyang Sek memperingatkan rekannya, Suma Koan. "Bahkan aku dan Sian-li pernah mengeroyoknya dan biarpun kami dapat melukainya, dia masih mampu memaksa kami pergi membawa luka."

"Akan tetapi aku yakin bahwa dengan adanya Giam-ong membantu, kita akan dapat menundukkan jahanam buta itu," kata Kwa Im Sian-li gemas karena kini ia amat membenci pria yang pernah dicintanya setengah mati itu.

Cintakah itu kalau dapat berubah menjadi benci? Cinta yang mengandung cemburu, ingin memiliki, kemudian berubah menjadi kebencian sesungguhnya hayalah gairah nafsu belaka Cinta seperti itu tentu saja menimbulkan berbagai masalah, mendatangkan konflik-konflik-Sudah menjadi sifat nafsu untuk selalu mengejar kesenangan. Aku cinta padamu, karena kamu mendatangkan kesenangan padaku, demikianlah isi cinta gairah nafsu itu, baik itu cinta antara pria dan wanita, kitara orang tua dan anaknya, antara sahabat, bah kan cinta seseorang terhadap apa saja.

Selama terkandung pamrih demi kesenangan diri pribadi, walaupun pamrih ini seringkali bersembunyi di balik siogan dan gagasan agung maka cinta seperti itu pasti menimbulkan konflik, dan dapat berubah meojadi benci, karena cinta gairah dan kebencian bersumber satu, yaitu nafsu. Aku cinta kamu selama kamu menyenangkan. Begitu kamu tidak menyenangkan, maka aku benci kamu! Karena itu, cinta seperti ini selalu memilih, yang paling menyenangkan, itulah yang dicinta.


Demikian pula "cinta" yang pernah mengusik hati Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni. Ia pernah jatuh cinta kepada seorang pangeran yang tampan dan menyenangkan, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Biarpun cintanya tidak mendapat balasan, namun ia tetap mencinta karena ia kagum dan suka kepada pangeran itu, bahkan setelah dia tidak lagi menjadi pangeran dan menjadi seorang buta, ia tetap mengharapkan menjadi pasangan hidupnya.

Namun, penolakan-penolakan Tiauw Sun Ong, bahkan yang mengakibatkan perkelahian, mengubah cintanya menjadi benci. Kalau ia masih mengharapkan diterima sebagai pasangan hidup, adalah karena biarpun sudah tua dan buta, Tiauw Sun Ong masih amat menarik hatinya sebagai seorang yang amat lihai ilmu silatnya. Penolakan itu menyakitkan hatinya dan sekaligus mengubah cintanya menjadi benci dan kini ia hanya mempunyai satu keinginan terhadap Tiauw Sun Ong, yaitu membunuhnya!

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 13

Bi Moli dan Ouwyang Toan lega melihat Bun Houw menyimpan pedangnya yang ampuh itu, Hal itu mereka anggap sebagai suatu kesombongan dari Bun Houw, maka keduanya mempergunakan kesempatan setelah Bun Houw menyarungkan kembali pedangnya untuk cepat menerjang dengan pukulan-pukulan mereka.

Akan tetapi sekali ini Bun Houw sudah siap dengan ilmunya yang amat hebat yaitu Im-yang Bun-tek Cin-keng. Bahkan gurunya sendiri tidak mampu menandingi ilmu ini! Begitu melihat kedua orang lawan sudah menyerang, Bun Houw segera menggerakkan kaki tangannya secara aneh dan akibatnya hebat. Kedua orang lawan itu seperti terdorong badai yang amat kuat, membuat mereka terjengkang dan terguling-guling.

Keduanya tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi karena tidak melihat lain jalan, keduanya sudah mengeluarkan hentakan nyaring dan menerjang lagi. Untuk kedua kalinya, mereka seperti menyerang gelombang dahsyat yang membuat mereka kembali terjengkang dan terbanting. Mereka bangkit lagi, menyerang lagi roboh lagi dan hal ini berulang sampai liga kali dan Ouwyang Toan tidak mampu bangkit kembali karena kehabisan tenaga dan sudah terluka dalam. Bi Moli masih terus menyerang mati-matian akan tetepi dengan menggunakan It-sin-ci (Satu Jari Sakti) Bun Houw berhasil merobohkannya dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak lagi.

Sorak-sorai menyambut kemenangan Kwa Bun Houw, Kaisar Siauw Bian Ong kagum bukan main karena ternyata pemuda itu tidak membunuh kedua orang lawannya, hanya membuat mereka tak berdaya! Kini maklumlah kaisar itu bahwa kalau dia menghendaki agaknya pemuda itu sudah sejak tadi dapat membunuh kedua orang lawannya. Karena tidak ingin membunuh itulah yang membuat pertandingan berlangsung lebih lama. Kaisar itupun memerintahkan petugas untuk menangkap kedua orang itu dan menjebloskan mereka kepenjara untuk menanti diadili kelak.

Kwa Bun Houw kini menghadap kaisar dan berlutut. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, “Orang muda yang gagah, kami sungguh bersukur bahwa negara kita mempunyai seorang pendekar seperti engkau yang gagah perkasa dan bijaksana. Kami ingin melihat wajahmu yang aseli."

Bun Houw terpaksa melepaskan penyamarannya, mencabut alis palsu dan juga kedok tipis seperti kulit yang menutupi mukanya, monggosok-gosok cat dan nampaklah wajah aselinya. Oleh perintah kaisar, dia mengangkat mukanya dan kaisar beserta permaisurinya melihat wajah seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah.

"Kwa Bun Houw, kami berterima kasih kepadamu dan kami ingin memberi hadiah yang sesuai dengan kehendak hatimu. Katakanlah, apa yang kau kehendaki? Kedudukan? Atau harta benda?"

"Ampun, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak mengharapkan hadiah dan imbalan, karena apa yang hamba lakukan ini hanya merupakan suatu kewajiban hamba menentang segala bentuk kejahatan. Hamba hanya dimintai bantuan oleh Hek-tung Lo-kai dan Koan Thai-kam." dan maklumlah dia bahwa pemuda itu memang seorang pendekar sejati yang tidak mempunyai keinginan demi kesenangan atau kepentingan diri sendiri. Apa yang diajukan oleh seorang pendekar sejati semata-mata membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, tanpa pamrih sedikitpun.

"Hemm, biarlah kita bicarakan lagi hal ini setelah segalanya selesai. Kita masih harus membasmi para pemberontak yang berkeliaran di kota raja, kaki tangan kerajaan Wei, dan juga memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh bekas kaisar Cang Bu."

Pada saat itu, komandan pasukan keamanan yang bertugas membasmi para anggauta Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di luar pintu gerbang istana, datang menghadap dan melapor kepada Kaisar bahwa usahanya gagal karena semua anggauta Thian-te Kui-pang telah melarikan diri dan pasukannya hanya berhasil menangkap tiga orang saja!

"Bawa mereka ke sini! Kami ingin mendengar keterangan mereka tentang ikut campurnya kerajaan Wei dalam pemberontakan ini!" perintah kaisar penasaran.

"Ampun, Yang Mulia. Begitu tertawan, tiga orang anggauta Thian-te Kui-pang itu membunuh diri dengan menelan sebutir racun.”

Kaisar mengepal tinju, "Kirim pasukan dan tundukkan pemberontak bekas kaisar yang tak tahu diri itu. Kami sengaja mengalah dan tidak mengejarnya, akan tetapi dia malah menghimpun pasukan dan hendak memberontak!"

"Yang Mulia, biar hamba yang melakukan pengejaran terhadap Bu-tek Sam-kui yang memimpin Thian-te Kui-pang." kata Bun Houw.

Setelah kaisar menyatakan persetujuannya, Bun Houw meninggalkan istana dan diapun melakukan pengejaran ke sarang Thia-te Kui-pang, di daerah tak bertuan, yaitu di dusun Tai-bun. Dia sudah mendengar tentang dusun ini yang dikuasai oleh Thian-te Kui-pang, sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dari Koan Thai-kam.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Setelah tiba di luar kota raja, Bun Houw bukan langsung pergi ke sarang Thian-te Kui-pang, melainkan menuju ke Kui-cu, ke lembah sungai untuk mengunjungi bekas kaisar Cang Bu! Bagaimanapun juga, kaisar itu adalah bekas kaisar yang kalah perang dan Bun Houw sama sekali tidak dapat menyalahkan kaisar ini kalau hendak berusaha merebut kembali tahta kerajaan yang telah direbut oleh Kaisar Siauw Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi. Dia tidak hendak mecampuri urusan perebutan kekuasaan itu.

Akan tetapi, dia merasa tidak enak mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu bersekutu dengan kerajaan Wei di utara. Ini berbahaya sekali karena mungkin saja kelak kerajaan Wei akan menguasai kerajaan di selatan. itulah sebabnya mengapa dia kini melakukan perjalanan cepat ke pusat gerakan yang dilakukan bekas kaisar itu, mendahului pasukan yang dikirim Kaisar Siauw Bian Ong untuk membasmi pemberontakan ini.

Kalau teringat kepada Liu Kiok Lan, puteri adik bekas kaisar itu, dia merasa kasihan karena kalau tempat itu diserbu, tentu gadis bangsawan itu akan menjadi korban pula. Dia ingin menyadarkan bekas Kaisar Cang Bu agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei, dan agar cepat melarikan diri sebelum terlambat.

Pada saat itu, bekas kaisar Cang Bu sudah mendengar laporan dari seorang mata-matanya yang ditugaskan mengamati keadaan di kota raja bahwa usaha membunuh atau menawan kaisar telah gagal! Bahkan mata-mata itu mengabarkan betapa orang-orang Thian-te Kui-pang yang tadinya siap di kota raja, telah pula melarikan diri setelah mendengar kegagalan itu.

Juga Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, yang tadinya memimpin orang orang kang-ouw dan anak buah mereka sendiri, bersiap-siap untuk membantu gerakan di kota raja kalau penawanan terhadap kaisar berhasil, terpaksa mengundurkan diri dan ayah beserta puteranya itu kini telah kembali ke Kui-cu. Melihat Suma Koan dan Suma Hok kembali dengan wajah lesu, bekas kaisar Cang Bu mengepal tinju dan membanting-banting kaki.

"Celaka, kenapa sampai gagal? Dan kenapa pula paman Suma pulang dengan tangan hampa? Semestinya paman membantu usaha di dalam istana itu sampai berhasil! Ah, aku telah mempercayakan urusan penting kepada orang-orang yang tak dapat diandalkan.”

Kaisar Cang Bu benar-benar merasa menyesal sekali karena kegagalan ini memusnakan harapannya untuk dapat menguasi kembali kerajaan yang telah dirampas oleh Siauw Bian Ong.

Kui-siauw Giam-ong mengerutkan alisnya. Dia memang tadinya tidak begitu ingin mencampuri urusan pemberontakan. Hanya karena puteranya telah menjadi adik ipar bekas kaisar itu maka dia mendapat semangat untuk ikut meraih kedudukan yang tinggi. Kini semua telah gagal dan dia kehilangan semangat. Dia menghela napas panjang.

"Sudahlah, Liu-kongcu. Saya tidak mempunyai semangat lagi dan akan pulang ke tempat tinggalku. Selamat tinggal!" Sebelum bekas kaisar itu sempat menjawab, kakek kurus itu telah berkelebat dan pergi dari tempat itu.

Puteranya, Suma Hok, maklum bahwa ayahnya tidak pulang karena mereka tadi telah bersepakat untuk bergabung dengan Bu-tek Sam-kui dan mencari kedudukan di kerajaan Wei, di utara sana! Suma Hok sendiri lalu memasuki perkemahan di mana isterinya, Liu Kiok Lan, telah menantinya.

Seolah tidak melihat isterinya yang cantik, Suma Hok langsung saja mengumpulkan pakaian dan barang berharga, berkemas seperti orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Melihat ini, Liu Kiok Lan mengerutkan alisnya dan menghampiri suaminya yang sedang berkemas.

"Aku mendengar bahwa usaha di kota raja itu gagal. Benarkah itu, suamiku?"

Tanpa menoleh Suma Hok menjawab, "Benar. Sialan! Hancurlah semua cita-citaku."

Hening sejenak. Suma Hok tetap saja mengumpulkan semua barang berharga, emas permata, sisa kekayaan yang dibawa dari istana oleh Liu Kiok Lan ketika lari mengungsi, memasukkan semua itu ke dalam buntalan pakaian.

"Engkau hendak mengajak aku pergi ke manakah?" tanya isterinya.

"Siapa yang hendak mengajak engkau pergi? Aku akan pergi sendiri!" jawab Suma Hok.

Liu Kiok Lan terkejut dan kerut di keningnya semakin dalam. "Apa maksudmu? Engkau mengemasi semua barang, termasuk perhiasan dan barang berharga milikku, dan engkau akan meninggalkan aku?"

Kini Suma Hok membalik dan isterinya terkejut melihat wajah yang tampan itu kini berubah seperti iblis, begitu bengis dan kasar. “Sialan! Setelah semua yang kulakukan, hanya barang-barang ini yang kudapatkan! Sungguh rugi besar selama berbulan-bulan ini aku memaksa diri tinggal di sini dan menghambakan diri kepada bekas kaisar yang ternyata kini gagal segala-galanya. Huh!"

Wajah Liu Kiok Lan menjadi pucat. "Kau... kau...! Bukankah engkau telah menjadi suamiku dan aku ini isterimu? Dan kau mengatakan semua cita-citamu sia-sia? Dan aku ini kau anggap apa? Kalau memang hendak pergi, tinggalkan semua barangku!"

"Ha-ha-ha, barang-barang ini untuk imbalan semua jasaku! Kalau bukan karena aku, engkau akan menjadi seorang gadis yang ternoda aib, gadis yang bukan perawan lagi. Tadinya, aku mengharapkan untuk menjadi seorang yang berkedudukan, akan tetapi melihat keadaannya sekarang, kakakmu sudah tidak ada harapan. Untuk apa aku harus merendahkan diri lebih lama lagi di sisimu?”

“Suma Hok!" Liu Kiok Lan membentak marah dan menudingkan telunjuknya ke arah muka suaminya. "Setelah semua apa yang kau lakukan terhadap diriku, dan semua itu kuterima dengan perasaan hancur namun terpaksa kudiamkan saja demi menjaga nama baik keluarga kami, dan engkau sekarang hendak meninggalkanku begitu saja? Setelah engkau membunuh Paman Pouw Cin yang setia, kemudian melakukan fitnah pula kepadanya, kemudian engkau membohongi kakakku dan aku, engkau kini tidak mau bertanggung jawab?"

Suma Hok terbelalak. "Apa...? Apa yang kau maksudkan...?"

Sebelum Kiok Lan menjawab, terdengar langkah kaki dan muncul seorang pengawal sehingga suami isteri yang sedang bertengkar itu menahan kemarahan mereka dan menghentikan pertengkaran. "Ada keperluan apa engkau datang ke sini tanpa dipanggil?" bentak Suma Hok marah.

"Maaf, tai-hiap. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemuda yang dulu pernah menjadi buronan, yang bernama Kwa Bun Houw itu sekarang datang dan bercakap-cakap dengan Sribaginda."

Diam-diam Suma Hok terkejut bukan main, sebaliknya Kiok Lan yang mendengar disebutnya nama pendekar itu, nampak girang.

"Pergilah kami tidak ingin diganggu!”' kata Suma Hok dan pengawal itu lalu pergi. Setelah dia pergi, Suma Hok menutupkan kembali daun pintu kamarnya dan menghadapi isterinya.

"Sekarang katakan, apa maksudmu dengan mengatakan semua tadi? Engkau bilang aku melakukan fitnah kepada Paman Pouw Cin? Apa maksudmu?"

"Kaukira aku dapat percaya begitu saja ketika dahulu itu engkau mengatakan bahwa engkau membunuh Paman Pouw Cin karena dia memperkosaku? Aku tidak pernah percaya seujung rambutpun! Paman Pouw Cin adalah orang yang paling setia kepada kakakku dan aku, sudah kukenal sejak aku kecil. Aku tahu dan mengenal betul orang macam apa dia. Bagaimana mungkin dia mendadak saja berubah menjadi demikian keji? Akan tetapi karena engkau bersedia mencuci aib pada diriku dengan menikahiku, akupun hanya menyimpan semua keraguan itu di dalam hatiku. Kemudian, setelah aku mengenal benar watakmu. aku semakin yakin bahwa dahulu engkaulah yang memperkosaku. Engkau membuat aku tidak sadar, kemudian engkau memperkosaku. Ketika Paman Pouw Cin memergoki perbuatanmu, dia kau bunuh, lalu engkau memutar balik kenyataan dan mengatakan bahwa engkau melihat Paman Pouw Cin memperkosaku dan engkau membunuhnya. Kemudian, engkau memperlihatkan kebaikanmu dengan bersedia mencuci aib dan menikahiku. Semua itu kaulakukan dengan pamrih mendapatkan kedudukan! Dan sekarang, setelah usaha kakakku gagal, engkau hendak meninggalkan aku begitu saja? Suma Hok, aku tidak akan tinggal diam, akan ku-laporkan perbuatanmu itu kepada kakakku!”

Wajah Suma Hok berubah pucat ketika dia mendengar kata-kata itu. Kalau bekas kaisar Cang Bu mendengar laporan adiknya ini, tentu dia akan ditangkap dan dihukum berat. Maka, dia lalu pura-pura terkejut setengah mati dan dengan muka dibuat sedih dia mendekati isterinya.

"Isteriku, bagaimana engkau dapat mengeluarkan kata-kata sekeji itu? Tidak kusangkal bahwa aku memang ingin mendapatkan kedudukan, akan tetapi siapakah orangnya yang tidak mempunyai cita-cita tinggi? Akan tetapi, aku sama sekali tidak memperkosamu aku bahkan menikahimu karena aku kasihan padamu, aku cinta padamu. Paman Pouw Cin yang melakukannya, aku berani bersumpah Isteriku, kalau engkau tidak ingin aku pergi akupun tidak akan pergi, akan tetapi jangan menuduhku yang bukan-bukan! Aku yang sudah mengorbankan segalanya untukmu, kini masih menerima tuduhan keji..." dan pemuda itu menangis sambil menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

Kiok Lan terkejut juga melihat suaminya menangis dan berlutut di depan kakinya. Bagaimanapun juga, pria ini telah menjadi suaminya dan iapun sudah pernah berusaha memaksa hatinya untuk mencintainya. Sikap suaminya yang menangis sedih dan berlutut di depan kakinya itu membuat ia sejenak meragukan dugaannya sendiri dan iapun membungkuk untuk membangunkan Suma Hok. Akan tetapi pada saat ia membungkuk untuk membangunkan suaminya, Suma Hok menggerakkan tangan memukul dada istrinya. Pukulan itu datangnya sama sekali tidak terduga-duga oleh Kiok Lan.

"Dukkk!!" Dadanya kena hantaman tangan Suma Hok dan seketika ia muntah darah. Akan tetapi matanya melotot dan wanita itu masih mampu melakukan serangan totokan dengan ilmu totok It-sin-ci, yaitu totokan satu jari. Namun, Suma Hok dapat menangkisnya sehingga jari tangan Kiok Lan hanya mengenai lengan baju dan lengan baju itu berlubang, akan tetapi tubuh wanita muda itu terkulai dan roboh, tewas seketika dengan mulut mengalirkan darah.

Suma Hok berteriak-teriak setelah mendorong jendela kamar itu terbuka dan diapun menangis. Beberapa orang pengawal datang dan melihat adik majikan mereka tewas ditangisi Suma Hok, mereka segera melapor kepada bekas kaisar Cang Bu. Pada saat itu, Liu Tek atau bekas kaisar Cang Bu sedang menerima kunjungan Kwa Bun Houw. Mula-mula, bekas kaisar itu terkejut bukan main melihat munculnya Kwa Bun Houw di depannya. Akan tetapi karena sikap Bun Houw baik, tidak seperti musuh, diapun mempersilakan tamu itu duduk dan diam-diam dia memberi isarat agar para pengawalnya melakukan penjagaan.

"Kwa Bun Houw, apakah maksud kedatanganmu sekarang ini? Sebagai kawan atau sebagai lawan?" tanya bekas kaisar itu sambil menatap tajam.

"Kongcu, saya datang bukan sebagai kawan maupun lawan karena sesungguhnya saya tidak mempunyai urusan pribadi apapun dengan kongcu. Akan tetapi mengingat akan kebaikan kongcu dan terutama sekali Nona Liu Kiok Lan, saya datang untuk memberi nasihat kepada kongcu. Pertama, sebaiknya kalau kongcu menghentikan hubungan kongcu dengan kerajaan Wei di utara. Dan ke dua sebaiknya kongcu cepat meningalkan tempat ini karena pasukan kerajaan Chi akan melakukan penyerbuan setelah usaha pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong dapat digagalkan."

Pada saat itulah pengawal datang berlari-larian dan melaporkan dengan napas memburu bahwa adik bekas kaisar itu telah tewas di kamarnya. Mendengar ini, Liu Tek terbelalak dan segera lari ke dalam, diikuti oleh Bun Houw yang juga terkejut bukan main mendengar laporan itu. Dia belum tahu bahwa adik bekas kaisar itu telah menikah dengan Suma Hok. Ketika mereka tiba di kamar itu, mereka melihat Kiok Lan telah diangkat ke pembaringan dan Suma Hok duduk di tepi pembaringan sambil menangisi kematian isterinya.

"Suma Hok, apa yang telah terjadi?" Liu Tek berteriak ketika memasuki kamar. Bun Houw juga berdiri tertegun memandang ke arah mayat Kiok Lan yang masih nampak mengalirkan darah dari mulutnya.

Suma Hok menoleh dan begitu melihat Kwa Bun Houw, diapun meloncat dan menyerang Bun Houw dengan marah sambil membentak, "Engkau pembunuh! Engkau telah membunuh isteriku!"

Bun Houw cepat mengelak ketika tangan Suma Hok menyambar ke arah mukanya. Suma Hok yang serangannya luput itu membalik dan sudah menyerang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya. Namun, Bun Houw menangkis dan Suma Hok terhuyung.

"Suma Hok, hentikan ini! Engkau menuduhku yang bukan-bukan!" kata Bun Houw.

Suma Hok sudah menyambar sulingnya yang tadinya terletak di atas meja. "Jahanam Kwa Bun Houw, engkau telah membunuh isteriku, aku harus membalas kematian isteriku!"

Mendengar ini, Liu Tek menengahi. "Nanti dulu, apa artinya ini, Suma Hok? Saudara Kwa Bun Houw ini baru saja datang dan menghadap padaku, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia telah membunuh Kiok Lan?"

"Ah, paduka tidak tahu. Jahanam ini memang licik sekali. Sebelum menghadap paduka dia telah menyelinap ke kamar ini dan membunuh dinda Kiok Lan. Saya melihat sendiri ketika saya memasuki kamar, jahanam ini melarikan diri melalui jendela!" Dia menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka.

Bekas kaisar ini kini menghadapi Bun Houw dan memandang penuh perhatian dan keraguan. Bun Houw segera berkata, "Kongcu, harap diteliti dulu peristiwa ini. Mungkinkah saya akan masih berada di sini, mengingatkan kongcu akan datangnya bahaya, kalau benar saya membunuh nona Kiok Lan? Kalau boleh, saya ingin memeriksa jenazah nona Kiok Lan untuk meneliti apa yang menyebabkan kematiannya."

Bekas kaisar itu mengangguk dan bersama Bun Houw dia mendekati jenazah adiknya. Bun Houw memeriksa dan membuka baju di bagian dada. Nampak tanda pukulan membiru di dada itu, pukulan yang amat kuat dan mengandung hawa panas! Akan tetapi bekas pangeran itu lebih tertarik melihat tangan kanan adiknya seperti menekan atau mencengkeram ke arah perut. Ketika dia menarik tangan itu, Bun Houw melihat betapa jari telunjuk tangan kanan itu bengkak dan ketika dirabanya, maka tulang telunjuk itu patah pada buku jarinya.

Bekas kaisar Cang Bu melihat ujung lipatan kertas menyembul dari balik baju di pinggang adiknya. Diambilnya benda itu yang ternyata sehelai kertas berlipat yang agaknya disembunyikan di ikat pinggang. Dia membuka dan merabanya. Wajahnya berubah pucat sekali, dan tanpa bicara dia menyerahkan kertas itu kepada komandan pengawalnya. Panglima itu membaca pula dan cepat dia berlari keluar entah apa yang dilakukannya, hanya dia dan bekas kaisar itu yang mengetahuinya.

Sementara itu, Bun Houw yang memeriksa telunjuk, kini memandang kepada Suma Hok yang masih berdiri tegak. Dan diapun menemukan apa yang dicarinya. Lengan baju Suma Hok berlubang dan tahulah dia bahwa agaknya tangkisan Suma Hok membuat jari telunjuk wanita itu patah buku jarinya dan lubang pada lengan baju itu akibat ilmu totokan It-sin-ci dari mendiang Liu Kiok Lan Suma Hok,

“Engkaulah yang telah membunuh Nona Liu Kiok Lan dengan pukulan Lui-kong-ciang (Tangan Halilintar), dan agaknya Nona Liu menyerangmu dengan totokan It-sin-ci yang mengenai lenganmu ketika kau tangkis. Buktinya, lengan bajumu itu berlubang. Dan engkau masih berani menuduh, aku yang membunuhnya!" kata Bun Houw.

"Ha-ha-ha, Kwa Bun Houw, engkau murid Tiauw Sun Ong, tentu tidak jauh berbeda dari gurunya! Tidak perlu menyangkal atau memutarbalikkan kenyataan. Kenapa aku membunuh isteriku sendiri yang tercinta? Engkaulah yang membunuhnya dan ketika aku memasuki kamar ini, aku masih melihat bayanganmu meloncat keluar melalui jendela!"

Pada saat itu, komandan pengawal tadi muncul lagi bersama tujuh orang perwira, termasuk pengawal yang tadi mengabarkan kepada Suma Hok tentang kedatangan Kwa Bun Houw.

"Yang Mulia." kata panglima itu kepada Liu Tek. "Pengawal ini menjadi saksi bahwa ketika dia melapor tentang kedatangan tamu, dia melihat Nona itu dan suaminya berada di kamar ini dan agaknya sedang bertengkar."

"Suma Hok, engkau hendak berkata apalagi?" bekas kaisar itu menegur marah. "Bukan itu saja, bukan hanya engkau membunuh adikku, juga dahulu engkaulah yang berbuat keji terhadap adikku, lalu mengatakan bahwa Jenderal Pouw Cin yang melakukannya!"

Wajah Suma Hok menjadi pucat. "Sribaginda, semua itu bohong!" katanya membantah.

"Hemm, bohongkah surat yang ditulis sendiri oleh adikku ini? Agaknya adikku telah mendapatkan firasat tidak enak dan membuat pengakuan ini di atas kertas. Sayang sebelum melapor kepadaku, engkau sudah membunuhnya. Engkau manusia iblis!"

"Sudahlah, kalau engkau tidak percaya lagi kepadaku, aku mau pergi!” Suma Hok mencabut sulingnya dan hendak menerjang keluar.

"Nanti dulu, engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!" kata Kwa Bun Houw dan diapun menghadang di pintu.

"Kwa Bun Houw, pengecut busuk. Engkau, hendak mengandalkan pengeroyokan?" teriak Suma Hok yang tidak melihat jalan keluar lagi dan bersikap gagah untuk menyembunyikan rasa takutnya.

"Siapa hendak mengeroyokmu? Hayo kita bertanding satu lawan satu di luar. Harap Kongcu tidak memerintahkan orang mengeroyoknya, biar saya sendiri melawanuya."

Mendengar ucapan Kwa Bun Houw itu, Li Tek mengangguk, hanya memerintahkan para perwiranya untuk mengatur pasukan mengepung agar Suma Hok tidak sampai lolos. Melihat bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk mololoskan diri, maka Suma Hok menjadi nekat. Semuanya sudah gagal dan tidak ada jalan lain kecuali menunjukkan kegagahannya. Maka, melihat Kwa Bun Houw sudah melangkah keluar, diapun dengan mengangkat dada, membawa sulingnya, mengikuti keluar.

Mereka saling berhadapan di ruangan terbuka sebelah luar kamar. Maklum bahwa lawannya adalah putera seorang datuk besar dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, Bun-Houw sudah mencabut pula senjatanya, yaitu Lui-kong-kiani (Pedang Kilat)! dan semua orang terkesiap karena pedang itu seperti mengeluarkan sinar kilat ketika dicabut.

"Kwa Bun Houw, sejak dahulu engkau menentangku dan menjadi penghalang bagiku! Sekali ini, engkau atau aku yang mati!" bentak Suma Hok.

"Yang kutentang kejahatanmu, bukan dirimu!" bentak pula Bun Houw akan tetapi dia sudah harus cepat menghindar karena selagi dia bicara, Suma Hok telah menyerang dengan suling mautnya. Suling digerakkan dan ada sinar hitam menyambar dari ujung suling Bun Houw miringkan tubuhnya dan menggerakkan pedang. Beberapa batang jarum beracun halus dapat dipukul runtuh oleh pedangnya dan diapun memutar pedang membalas serangan lawan.

Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok adalah seorang pemuda gemblengan yang sukar dicari tandingannya. Dia telah mewarisi sebagian besar ilmu dari ayahnya dan bahkan dia amat keji mempergunakan racun sehingga dijuluki Suling Beracun. Sulingnya yang disepuh perak itu bukan saja mampu mengeluarkan jarum beracun, juga permukaan suling itu mengandung racun yang amat jahat. Ketika dia mengamuk dan menerjang Bun Houw, bentuk suling itu lenyap dan yang nampak hanyalah gulungan sinar putih dibarengi suara mendengung-dengung.

Akan tetapi, yang dilawannya adalah Kwa Bun Houw, Si Pedang Kilat yang dalam segala hal jauh lebih tinggi tingkatnya. Bahkan ayahnya sendiri, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, tidak akan mampu menandingi Si Pedang Kilat, apalagi dia! Ketika Bun Houw memainkan pedangnya, nampak sinar kilat bergulung-gulung dan menggulung sinar perak dari suling di tangan Suma Hok.

Pemuda ini terkejut bukan main karena ke manapun sulingnya bergerak, selalu bertemu sinar pedang yang bagaikan benteng yang kokoh. Sebaliknya, dari gulungan sinar pedang itu kadang mencuat sinar yang menyambar bagaikan kilat, membuat Suma Hok berulang kali harus melempar tubuh ke belakang dengan muka pucat karena nyaris dia disambar sinar pedang kilat.

Mulailah rasa takut dan panik mencengkeram hati Suma Hok. Dia maklum bahwa dia tidak akan menang bertanding melawan Kwa Bun Houw, maka dari pada melanjutkan perkelahian yang tidak memberi harapan itu. lebih baik dia mencoba menerobos kepungan dan melarikan diri.

Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat ke sebelah kiri. Dia disambut todongan golok dan tombak pasukan, akan tetapi Suma Hok menggerakkan sulingnya dan sinar hitam dari jarum-jarum halusnya merobohkan lima orang! Dan diapun mengamuk dengan sulingnya dan berhasil merobohkan lagi lima orang! Dalam sekejap mata saja dia sudah merobohkan sepuluh orang lawan yang tidak mungkin dapat ditolong lagi karena keracunan. Melihat ini, sekali melompat Bun Houw sudah berada di depannya dan menggerakkan pedangnya.

"Trangg...!!” Nampak bunga api berpijar ketika suling di tangan Suma Hok menangkis dan patah menjadi dua potong! Iblis Suling Beracun ini terkejut dan marah, lalu dengan nekat dia menubruk ke depan dengan sulingnya yang buntung, akan tetapi kaki Bun Houw menyambutnya dengan tendangan.

"Desss...!!" Dada Suma Hok tertendang dan diapun terjengkang pingsan.

"Tangkap dia hidup-hidup!” bentak bekas kaisar Cang Bu yang sudah marah sekali terhadap bekas adik iparnya itu. Banyak tangan membelenggu Suma Hok yang sudah pingsan itu sehingga kaki tangannya terikat kuat-kuat, membuat dia setelah siuman tak mampu bergerak lagi.

Bun Houw segera menghadapi bekas kaisar itu dan berkata, "Kongcu, seperti pernah saya katakan dahulu, saya tidak ingin mencampuri urusan perebutan kekuasaan. Kedatangan saya ini hanya untuk memberi tahu agar kongcu suka cepat menyelamatkan diri. Saya ikut bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Nona Liu Kiok Lan. Sekarang, perkenankan saya untuk berpamit."

Bekas kaisar itu merasa kecewa sekali bahwa seorang yang lihai seperti Si Pedang Kilat itu tidak mau bekerja sama dengan dia. Biarpun dia berterima kasih dengan peringatan dan pemberitahuan bahwa pasukan kerajaan Chi akan menyerbu, namun dia tidak ingin mundur lagi. Dia sudah bersusah payah mengumpulkan tenaga untuk melakukan perang merebut kembali tahta kerajaan, maka dia tidak mau melarikan diri lagi.

"Terima kasih, Kwa-taihiap. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Aku merasa menyesal sekali telah terkena bujukan dan tipuan penjahat macam Suma Hok sehingga pernah memusuhimu."

Bun Houw meninggalkan tempat itu dan benar seperti yang dia peringatkan kepada bekas kaisar itu, dua hari kemudian, tempat itu diserbu pasukan yang amat besar jumlahnya. Terjadi perang karena bekas Kaisar Cang Bu melakukan perlawanan mati-matian. Namun semua usahanya itu sia-sia. Kerajaan Wei di utara juga tidak mengirim bantuan melihat sekutunya diserang itu, hanya memperkuat penjagaan di perbatasan. Pasukan dari bekas kaisar Cang Bu itu dapat dihancurkan setelah pertempuran selama sehari semalam. Kaisar Cang Bu sendiri tidak mau ditawan dan membunuh diri, setelah dia dengan pedangnya sendiri membunuh Suma Hok yang menjadi tawanan.

Perang merupakan puncak merajalelanya nafsu, karena perang memperebutkan kemenangan tanpa menghiraukan pengorbanan banyak nyawa manusia. Mengapa di seluruh dunia ini, kehidupan manusia tidak terbebas dari pada perang, baik perang antara bangsa, antara kelompok, antar keluarga, maupun antar perorangan?

Perang terjadi setiap hari, dimulai dari perang atau konflik dalam batin pribadi, mencetus keluar menjadi konflik antar perorangan, membengkak menjadi perang antar kelompok, sampai antar bangsa. Sumbernya terletak kepada si aku yang mengejar kesenangan dengan cara apapun juga. Si aku adalah pikiran yang bergelimang nafsu, dan nafsu selalu memang mengejar kesenangan dan kepuasan.

Memperebutkan kemenangan karena yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa tentu saja selalu benar, selalu berada di atas, karenanya menginjak yang di bawah dan tidak mungkin terinjak karena yang di bawah tidak mungkin dapat menginjak yang berada di atas. Menang, berkuasa, duduk di atas, selalu benar, selalu baik, selalu dapat menentukan apa saja, karenanya, tentu saja senang! Jadi, semua pencarian itu menuju ke arah satu, yaitu kesenangan!

Kedudukan diperebutkan karena kedudukan merupakan sarang kesenangan. Segala macam kebutuhan terpenuhi, segala macam keinginan tercapai, dan di dalam kekuasaan itu terdapat segalanya. Kekayaan, identitas, dan kemuliaan.

Betapa kita mudah melupakan kenyataan yang dapat kita lihat dari sejarah, bahwa makin besar kesenangan yang kita raih dan dapatkan, makin besar pula kesusahan menanti di ambang pintu. Seseorang yang disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai pendukungan, pada lain keadaan mungkin akan disambut dengan cemooh dan binaan, sebagai korban dari kedudukannya.

Seorang yang kaya raya dan menikmati kekayaannya di satu saat, di lain saat mangkin saja akan dicekam ketakutan hebat akan kehilangan kekayaannya, atau disiksa kedukaan besar karena kehilangan kekayaannya. Seorang yang berada di puncak kemashuran dan dipuja-puja, sekali waktu dapat saja jatuh ke bawah dan pujaan itu berubah menjadi ejekan dan kutukan. Bagaikan sebuah biduk kecil dipermainkan gelombang samudera. kitapun dipermainkan oleh hasil dan gagal, kepuasan dan kekecewaan, kesenangan, dan kesusahan, kebosanan, iri hati, iba diri, dan segala macam permainan pikiran yang dicengkeram nafsu daya rendah.


********************

Sekelompok orang yang berada di dalam ruangan besar itu nampak muram, bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang marah-marah. Mereka duduk mengelilingi meja besar dan yang duduk di kepala meja adalah tiga orang yang kelihatan berwibawa. Mereka merupakan pimpinan dari pasukan Kerajaan Wei yang kini menduduki dusun Thai-bun dan yang membentuk sebuah perkumpulan bernama Thian-te Kui-pang. Tiga orang pimpinan itu merupakan saudara-saudara seperguruan, yaitu yang pertama berjuluk Pek-thian-kui (Iblis Putih dari Utara) berusia lima puluh tahun dengan tubuh gendut bundar dan mukanya halus.

Orang ke dua berjuluk Huang-ho Kui (Iblis Sungai Ku ning) berusia empat puluh sembilan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot dan kumis jarang. Yang ke tiga berjuluk Toar beng-kui (Iblis Pencabut Nyawa) bertubuh sedang, berusia empat puluh tahun dan wajahnya tampan, matanya liar. Mereka inilah yang dikenal sebagai Bu-tek Sam kui (Tiga Iblis Tanpa Tanding) yang menjadi jagoan-jagoan istana kaisar kerajaan Wei dan nama mereka amat terkenal di utara.

Kini mereka menerima tugas dari kaisar mereka untuk membawa seratus orang anak buah, menyusup ke selatan untuk membikin kacau kerajaan baru Chi yang nampak semakin berkembang. Di dusun Thai-bun, pasukan itu membunuhi penduduk, menjadikan dusun itu sebagai markas mereka dan mereka tidak lagi memakai seragam pasukan kerajaan Wei, melainkan berpakaian hitam-hitam sebagai anggauta. Thian-te Kui-pang.

Di sisi lain dari meja panjang itu, menghadap tiga orang Bu-tek Sam-kui, duduk tokoh-tokoh persilatan yang dikenal sebaga datuk-datuk persilatan yang lihai. Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis) Suma Koan, datuk besar majikan bukit Bayangan Iblis berada di situ. Juga nampak Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek, datuk besar majikan Lembah Bukit Siluman yang berusia lima puluh tiga tahun, beberapa tahun lebih muda dibandingkan Suma Koan.

Di samping Ouwyang Sek duduk pula Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im) Bwe Si Ni yang biarpun sudah berusia hampir lima puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik manis seperti baru berusia tiga puluh tahun saja. Seperti kita ketahui, wanita yang dahulunya merupakan seorang dayang istana ini, yang pernah jatuh cinta dan tergila-gila kepada bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, dalam usahanya membalas dendam karena ditolak cintanya oleh bekas pangeran itu, kalah oleh Tiauw Sun Ong dan ia dibantu oleh Ouwyang Sek.

Semenjak waktu itu, ia bersahabat dengan Ouwyang Sek dan memang keduanya memiliki watak yang sama, apalagi Ouwyang Sek telah menjadi seorang duda, maka keduanya menjadi akrab. Oleh karena itu, ketika Ouwyang Sek dibujuk oleh Bu-tek Sam kui untuk bekerja sama, dia mengajak pula Kwan Im Sian-li sehingga keduanya sekarang berada di markas Thian-te Kui-pang itu.

Selain tiga pimpinan Thian-te Kui-pang dan tiga orang datuk ini, masih ada lagi lima orang pembantu Bu-tek Sam-kui yang merupakan perwira atau pimpinan pasukan Thian-te Kui-pang. Mereka agaknya nampak murung dan marah, membicarakan sesuatu yang penting dengan penuh semangat.

"Brakk!” Tangan kiri Kui-siauw Giam-ong menggebrak meja di depannya sehingga tergetar. "Puteraku Suma Hok mati terbunuh! Akan tetapi aku tidak mau melakukan balas dendam karena pembunuhnya, bekas Kaisar Cang Bu, juga sudah mampus. Sungguh membuat hati merasa penasaran sekali!”

Kakek yang kecil kurus namun amat lihai ini menyambar cawan araknya dan sekali tuang, arak dalam cawan sudah memasuki perutnya. Agaknya dia masih belum puas dan menyambar guci arak lalu menuangkan isinya, menggelogoknya, seolah arak itu akan dapat mengusir ke marahannya.

"Giam-ong, kenapa penasaran kepada bekas kaisar itu? Yang menjadi biang keladi kematian puteramu bukanlah dia, melainkan orang yang juga menjadi biang keladi puteraku Ouwyang Toan tertangkap dan dihukum mati. Orang itulah yang telah membunuh anakmu dan anakku!"

"Siapakah dia!” Suma Koan bertanya dan memandang kepada rekannya dengan mata merah.

"Siapalagi kalau bukan si jahanam Kwa Bun Houw? Menurut para penyelidik yang berhasil lolos ketika markas bekas Kaisar Cang Bu diserbu pasukan pemerintah, sebelum pasukan pemerintah menyerbu, Kwa Bun Houw datang berkunjung untuk memperingatkan bekas kaisar itu agar tidak bergabung dengan kerajaan Wei dan agar melarikan diri karena akan diserbu pasukan pemerintah. dan dalam pertemuan itulah Kwa Bun Houw menyerang dan merobohkan puteramu. Dia ditangkap dengan tuduhan membunuh isterinya serdiri, adik bekas Kaisar Cang Bu. Kemudian, setelah terjadi penyerbuan dan Kaisar Cang Bu kalah, dia membunuh anakmu yang telah tertawan sebelum membunuh diri. Nah. bukankah kematian anakmu itu gara-gara Kwa Bun Houw? Karena Kaisar Cang Bu sudah mati, engkau harus membalas kematian anakmu kepada Kwa Bun Houw, seperti juga aku akan menuntut balas atas kematian anakku."

"Bukankah Ouwyang Toan, anakmu itu mati karena dihukum mati oleh pemerintah kerajaan Chi?" tanya Suma Koan.

Bu-eng kiam Ouwyang Sek menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara sedih. “Memang benar, akan tetapi kegagalan Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li juga gara-gara campur tangannya Kwa Bun Houw yang menyamar dan menjadi pengawal pribadi kaisar. Karena dialah maka penyerangan itu gagal dan anakku bersama Bi Moli tertawan dan dijatuhi hukuman mati." Dia mengepal tinju dan berteriak. "Kwa Bun Houw, aku pasti akan menghancurkan kepalamu untuk membalas kematian anakku!"

Dua orang datuk yang biasanya tidak pernah saling mengacuhkan itu, kini bersatu hati untuk menentang dan membalaskan kematian putera mereka kepada Kwa Bun Houw. Melihat kedua orang datuk itu marah-marah, Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi, berkata,

"ji wi (kalian berdua) suka bersabar. Kami mengetahui akan dendam kemarahan hati ji-wi, akan tetapi kita harus mengingat bahwa selain Kwa Bun Houw itu memiliki ilmu silat yang amat tangguh, juga agaknya dia memiliki pula kawan-kawan dari golongan kang-ouw yang menentang kita, seperti terbukti ketika dia membantu Thian-beng-pai dan Hek-tung Kai-pang yang tidak mau tunduk kepada kita. Oleh karena itu, harap ji-wi suka bersabar dan bergabung dengan kami. Kalau kita bersatu, dengan kekuatan anak buah kita, kiranya tidak akan sukar untuk membalas dendam kita terhadap Kwa Bun Houw.”

"Akupun harus menghajar pemuda sombong itu!" Kwan Im Sian li Bwe Si Ni berkata. "Beberapa kali diapun berani menentangku!”

"Kalau begitu, bagus sekali! Pek-thian-kui, kami rasa, kami bertiga saja sudah cukup untuk menemukan Kwa Bun Houw dan memenggal lehernya! Tidak perlu kalian Bu-tek Sam-kui ikut-ikut!" kata Ouwyang Sek.

"Apa yang dikatakan Bu-eng-kiam itu benar, Bu-tek Sam-kui." kata pula Kui-siauw Giam-ong Suma Koan. "Setelah usaha kita bersama gagal, bahkan kami berdua telah mengorbankan putera kami, maka tidak ada gunanya lagi kerja sama ini. Kaisar Cang Bu telah tewas, pasukannya telah hancur, untuk apalagi kita bekerja sama? Kalian adalah petugas dari kerajaan Wei, akan tetapi kami bertiga tidak mempunyai urusan dengan perebutan kekuasaan antara kerajaan di utara dan kerajaan di selatan. Kami bertiga hendak mencari dan menghukum Kwa Bun Houw karena urusan pribadi, tidak ada lagi sangkut-pautnya dengan kerajaan Wei."

"Akupun setuju," kata Kwan Im Sian-li. “Yang jelas, kerja sama itu ternyata tidak menguntungkan, bahkan merugikan kami. Giam-ong dan Bu-eng-kiam, mari kita bertiga mencari Kwa Bun Houw dan kalau Tiauw Sun Ong membela muridnya, kita bunuh sekalian manusia sombong itu!"

Tiga orang datuk itu lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu tanpa ada yang berani mencegah. Bu-tek Sam-kui hanya dapat saling pandang saja. Mereka mendapat tugas memimpin anak buah mereka untuk mengacau dan melemahkan kerajaan Chi, dan untuk melaksanakan tugas itu mereka berhasil menarik banyak tokoh kang-ouw golongan sesat untuk membantu mereka dengan janji yang muluk. Bahkan mereka berhasil mengikat kerja sama dengan bekas Kaisar Cang Bu dan bersama-sama mengatur siasat untuk membunuh Kaisar kerajaan Chi dan menguasai dunia kang-ouw.

Akan tetapi, ternyata usaha membunuh Kaisar Siauw Bian Ong itu gagal, juga mereka tidak berhasil menguasai dunia kang-ouw sepenuhnya. Tadinya, mereka mengharapkan para datuk seperti Ouwyang Sek dan Suma Koan untuk mereka jadikan jago dan beng-cu dalam pemilihan beng-cu dunia kang-ouw. Hal inipun gagal karena sekarang, dua orang datuk itu bersama Kwan Im Sian-li meninggalkan mereka dalam usaha mereka untuk mencari musuh pribadi mereka.

"Tidak ada jalan lain, kita harus mulai dari pertama, yaitu mengadakan pengacauan di sepanjang tapal batas selatan sambil mengirim laporan tentang kegagalan itu kepada Sribaginda dan menanti perintah selanjutnya," kata Pek-thian-kui. Dua orang sutenya setuju dan segera mereka membuat laporan untuk dikirim kepada kaisar mereka di utara.

Mulailah para anggauta Thian-te Kui-pang itu mengganas lagi di perbatasan, mengganggu dusun-dusun, merampok dan membunuh dan mereka dikenal sebagai gerombolan iblis Hitam karena pakaian mereka serba hitam dan kebuasan mereka seperti iblis. Gegerlah perbatasan dan banyak penduduk mengungsi ke pedalaman. Kalau ada pendekar atau petugas keamanan berani menentang, mereka semua dibunuh.

Sementara itu, Ouwyang Sek, Bwe Si Ni dan Suma Koan melakukan perjalanan bersama menuju Hoa-san. Bwe Si Ni yang menjadi penunjuk jalan karena wanita itu pernah mendatangi tempat bekas pangeran itu mengasingkan diri, yaitu di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Hoa-san. Mereka bertiga sudah bertekad untuk mencari Bun Houw di sana dan kalau pemuda yang menjadi musuh besar mereka itu tidak berada di sana, mereka akan menawan Tiauw Sun Ong untuk memancing datangnya pemuda itu yang mereka yakin pasti akan membela gurunya.

"Si Buta itu lihai bukan main," Ouwyang Sek memperingatkan rekannya, Suma Koan. "Bahkan aku dan Sian-li pernah mengeroyoknya dan biarpun kami dapat melukainya, dia masih mampu memaksa kami pergi membawa luka."

"Akan tetapi aku yakin bahwa dengan adanya Giam-ong membantu, kita akan dapat menundukkan jahanam buta itu," kata Kwa Im Sian-li gemas karena kini ia amat membenci pria yang pernah dicintanya setengah mati itu.

Cintakah itu kalau dapat berubah menjadi benci? Cinta yang mengandung cemburu, ingin memiliki, kemudian berubah menjadi kebencian sesungguhnya hayalah gairah nafsu belaka Cinta seperti itu tentu saja menimbulkan berbagai masalah, mendatangkan konflik-konflik-Sudah menjadi sifat nafsu untuk selalu mengejar kesenangan. Aku cinta padamu, karena kamu mendatangkan kesenangan padaku, demikianlah isi cinta gairah nafsu itu, baik itu cinta antara pria dan wanita, kitara orang tua dan anaknya, antara sahabat, bah kan cinta seseorang terhadap apa saja.

Selama terkandung pamrih demi kesenangan diri pribadi, walaupun pamrih ini seringkali bersembunyi di balik siogan dan gagasan agung maka cinta seperti itu pasti menimbulkan konflik, dan dapat berubah meojadi benci, karena cinta gairah dan kebencian bersumber satu, yaitu nafsu. Aku cinta kamu selama kamu menyenangkan. Begitu kamu tidak menyenangkan, maka aku benci kamu! Karena itu, cinta seperti ini selalu memilih, yang paling menyenangkan, itulah yang dicinta.


Demikian pula "cinta" yang pernah mengusik hati Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni. Ia pernah jatuh cinta kepada seorang pangeran yang tampan dan menyenangkan, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Biarpun cintanya tidak mendapat balasan, namun ia tetap mencinta karena ia kagum dan suka kepada pangeran itu, bahkan setelah dia tidak lagi menjadi pangeran dan menjadi seorang buta, ia tetap mengharapkan menjadi pasangan hidupnya.

Namun, penolakan-penolakan Tiauw Sun Ong, bahkan yang mengakibatkan perkelahian, mengubah cintanya menjadi benci. Kalau ia masih mengharapkan diterima sebagai pasangan hidup, adalah karena biarpun sudah tua dan buta, Tiauw Sun Ong masih amat menarik hatinya sebagai seorang yang amat lihai ilmu silatnya. Penolakan itu menyakitkan hatinya dan sekaligus mengubah cintanya menjadi benci dan kini ia hanya mempunyai satu keinginan terhadap Tiauw Sun Ong, yaitu membunuhnya!