Social Items

SRIBAGINDA Kaisar tertawa bergelak-gelak karena memang pemandangan itu lucu bukan main. Akan tetapi Ouwyang Toan dan anak buahnya terbelalak, hampir tidak percaya betapa pemuda yang agaknya tidak pandai silat itu karena tidak pernah mengeluarkan jurus silat, ternyata memiliki kaki tangan yang agaknya kebal dan kuat sekali.

Dua orang yang lain menjadi marah dan menyerang sekuat tenaga, hanya untuk meringis karena ketika lengan mereka ditangkis, mereka merasa lengan mereka semakin nyeri seperti patah-patah. Lengan mereka, kanan dan kiri, sudah matang biru dan bengkak-bengkak! Pada hal, lengan dan kaki mereka itu terlatih baik, sekali hantam saja lengan mereka dapat memecahkan bambu. Akan tetapi sekarang, lengan mereka seperti diadu dengan baja!

Biarpun mereka bertiga menahan nyeri, akhirnya lengan mereka yang tidak tahan. Kedua lengan mereka itu akhirnya tergantung lemah, terkulai dan tak dapat diangkat, juga kaki mereka hampir tak kuat untuk berdiri dan dengan sendirinya perlawanan merekapun terhenti!

"Ha-ha-ha, bagaimana ini? Mengapa kalian bertiga tidak menyerang lagi?" tanya Kaisar Siauw Bian Ong gembira, pada hal dia sebagai seorang ahli silat tahu bahwa tiga orang itu sudah kalah, walaupun Koan Ji belum pernah memukul mereka!

"Kenapa kalian bertiga? Hayo jawab pertanyaan Yang Mulia!" bentak Ouwyang Toan marah dan merasa malu, juga terheran-heran melihat ulah tiga orang anak buahnya itu.

Dua orang berlutut, dan si raksasa brewok akhirnya juga berlutut menghadap kaisar dan mewakili dua orang temannya. "Mohon paduka mengampuni hamba bertiga. Yang Mulia. Hamba bertiga tidak mampu melanjutkan pertandingan, agaknya lawan hamba itu memasang baja pada kaki tangannya..."

"Yang mulia, hamba mohon ijin untuk memeriksa kaki dan tangan calon perajurit pengawal ini." kata Ouwyang Toan dan kaisar mengangguk.

"Periksalah, apakah benar di dalam lengan baju dan kaki celananya terdapat potongan baja." kata kaisar sambil tersenyum geli.

Sebetulnya Ouwyang Toan bukanlah seorang yang demikian bodohnya. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, iapun maklum bahwa orang yang sin-kangnya sudah amat kuat, dapat saja membuat kaki tangannya keras seperti baja. Akan tetapi, dia tidak percaya Koan Ji memiliki sin-kang sedemikian kuatnya, maka mendengar keluhan tiga orang anak buahnya tadi, diapun merasa curiga.

Setelah mendapat ijin kaisar, Ouwyang Toan lalu menghampiri Bun Houw dan menyingkap lalu menggulung ke atas kedua lengan baju dan pipa celananya. Akan tetapi tentu saja dia tidak menemukan apa-apa kecuali kaki dan tangan biasa yang bertulang, berotot dan berkulit! Tentu saja Ouwyang Toan tidak dapat berkata apa-apalagi, lalu mundur sambil menundukkan mukanya.

Seorang tokoh pengawal pribadi kaisar yang sejak tadi hanya menjadi penonton bersama para pengawal pribadi lainnya, kini berkata dengan hormat, "ampun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, saudara Koan Ji ini cukup pantas untuk menjadi pengawal pribadi paduka, menambah kekuatan pasukan pengawal pribadi paduka."

Kaisar Siauw Bian Ong menoleh ke arah lima orang pengawal pribadinya dan mereka semua mengangguk menyetujui. Kaisar tersenyum girang. Dia menemukan seorang pengawal lain yang lihai dan tentu saja dapat dipercaya karena pemuda itu adalah keponakan Koan-thaikam, seorang yang sudah dipercayanya penuh sebagai seorang hamba yang setia.

Demikianlah, mulai saat itu, Bun Houw diterima sebagai seorang pengawal pribadi kaisar sehingga kini pengawal pribadi kaisar berjumlah sebelas orang yang melakukan penjagaan terhadap keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong pribadi, Bun Houw juga berjumpa dengan Kwan Hwe Li yang menjadi pengawal permaisuri, akan tetapi datuk wanita itu tidak mengenalnya.

Koan-thaikam yang cerdik tidak memberitahu kepada kaisar tentang siapa sebenarnya Koan Ji, akan tetapi, dia diam-diam mengumpulkan sepuluh orang pengawal pribadi kaisar yang lain. Dia percaya sepenuhnya kepada sepuluh orang itu sebagai orang-orang yang setia kepada kaisar dan merupakan pengawal lama, sejak Kaisar Siauw Bian Ong menduduki singasana kerajaan Chi yang baru.

Tentu saja sepuluh orang itu tidak dapat dia kumpulkan sekaligus, hal itu tidak mungkin karena setiap saat harus ada sedikitnya dua orang pengawal yang mengawal kaisar. Bahkan kalau kaisar sedang berada di dalam kamar tidurnya, dua atau tiga orang pengawal berjaga di luar kamar itu, walaupun sudah ada pasukan istana yang melakukan penjagaan di seluruh istana.

Koan-thaikam dengan cerdik dapat mengajak sepuluh orang pengawal pribadi kaisar itu untuk mengadakan pertemuan, setiap kali hanya dengan lima orang. Dalam dua kali pertemuan saja dia sudah dapat mengadakan perundingan dengan mereka. Sepuluh orang pengawal pribadi itu terkejut bukan main mendengar laporan Koan-thaikam yang telah mendengar rahasia Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan yang mengadakan persekutuan dengan kaki tangan kerajaan Wei untuk melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong.

"Koan-taijin, kalau begitu, kenapa kita tidak langsung saja menangkap para pengkhianat itu!" kata para pengawal atau jagoan istana itu dengan penasaran.

"Atau kita langsung laporkan kepada Sri-baginda biar mereka itu ditangkap?” kata yang lain.

Akan tetapi Koan Thai-kam menggeleng kepalanya. "Hal itu tidak mungkin kita lakukan, walaupun persekongkolan mereka sudah jelas karena aku telah mendengarnya sendiri. Akan tetapi apa buktinya? Tanpa bukti, apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Ingat, selain mereka itu merupakan dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mereka telah berhasil memperoleh kedudukan yang tinggi pula, dan mendapat kepercayaan Sribaginda, Kwan Hwe Li telah menjadi pengawal permaisuri, sedangkan Ouwyang Toan telah menjadi perwira pasukan pengawal istana. Tanpa bukti, kalau kita melaporkan kepada Sribaginda, kemudian mereka berbalik menuduh kita melakukan fitnah, kita tidak akan menang. Demikian pula, melakukan kekerasan tanpa bukti, tentu akan membuat Sribaginda marah kepada kita."

"Habis, bagaimana baiknya? Kalau kita melihat Sribaginda terancam keselamatannya, apakah kita harus tinggal diam saja?" mereka mencela.

"Tidak begitu," kata Koan-thaikam, "tentu saja kita harus bertindak dan karena itulah cu-wi (anda sekalian) saya undang untuk berunding. Kita sekarang, para pengawal pribadi Sribaginda, telah tahu akan rencana jahat mereka dan dapat melakukan penjagaan yang lebih ketat tanpa menimbulkan kecurigaan mereka. Selain itu, kita mengadakan hubungan rahasia dengan para panglima pasukan pengawal dan pasukan keamanan, agar mereka mempersiapkan pasukan untuk bergerak sewaktu-waktu diperlukan. Kita mau tidak mau harus membiarkan para pengkhianat itu bergerak, agar kita dapat menindak mereka dengan bukti."

"Akan tetapi, hal itu berarti membiarkan Sribaginda terancam bahaya! Bagaimana kalau mereka turun tangan secara tiba-tiba sehingga kita terlambat dan Sribaginda dan keluarganya tertimpa bencana?" kembali para pengawal pribadi itu membantah dan mencela dengan hati khawatir sekali, "Kami lebih condong melapor kepada Sribaginda!"

"Jangan! Cu-wi tentu telah mengenal watak Sribaginda. Beliau amat bijaksana menghargai kegagahan, juga beliau selalu bersikap adil. Kalau kita melapor, akan tetapi beliau tidak menemukan bukti, bagaimana mungkin beliau akan menangkap dan menghukum para pengkhianat itu? Kitalah yang akan mendapat kemarahan, atau bukan mustahil kita yang akan ditangkap dan dihukum karena dianggap malakukan fitnah dan membuat kekacauan. Tentang keselamatan Sribaginda dan keluarganya, kenapa khawatir? Bukankah ada cu-wi yang selalu menjaga dan mengawal Sribaginda? Dan hendaknya cu-wi tahu bahwa pemuda yang baru saja diterima sebagai pengawal pribadi itu..."

"Koan Ji, keponakan Koan-aijin itu?”

“Ya, dialah yang akan menjamin keselamatan Sribaginda!"

"Ah, maaf, taijin. Memang Koan Ji memiliki tubuh yang kebal dan kuat, akan tetapi apa artinya itu? Ingat, Ouwyang-ciangkun amat lihai dan Kwan Hwe Li jauh lebih lihai lagi. Kami semua sudah membuktikannya sendiri ketika mereka diuji. Bahkan kami akan kewalahan melawan mereka berdua. Biarpun ditambah Koan Ji itu... maaf. bukan kami hendak memandang rendah keponakan tai-jin,”

“Ketahuilah, Koan Ji itu bukan keponakanku! Saya memang sengaja mencari bantuan dari luar dan dia adalah orang yang dipilih oleh Hek-tung Lo-kai untuk tugas penting melindungi Sribaginda. Hanya dialah yang akan mampu menandingi Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan. Karena saya tidak ingin membuat persekutuan itu curiga, maka saya mengakuinya sebagai keponakan dan juga agar Sri baginda percaya kepadanya."

Sepuluh orang pengawal pribadi itu merasa kagum. Kalau benar pemuda itu pilihan Hek-tung Lo-kai yang mereka kenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan juga mendukung pemerintah baru, tentu pemuda itu bukan orang sembarangan.

"Akan tetapi, siapa dia sesungguhnya, taijin? Kami merasa tidak pernah mengenal seorang tokoh dunia persilatan yang wajahnya seperti dia itu."

"Tentu saja, karena itu adalah wajah penyamaran, bukan wajah aselinya. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan dia berjuluk Si Pedang Kilat! Bahkan oleh Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu dia dicalonkan menjadi beng-cu dunia persilatan.”

“Bukan main! Siapa namanya, taijin?”

“Namanya Kwa Bun Houw, memang belum begitu terkenal di dunia persilatan, akan tetapi dia merupakan seorang bintang baru yang hebat. Kalian tahu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan..."

"Datuk sesat majikan Bukit Bayangan Iblis itu?"

"Benar, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, dibantu oleh Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi kaki tangan kerajaan Wei, hendak memaksa Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang untuk bekerja sama. Ketika mereka hendak membunuh kedua pang-cu itu, muncullah Si Pedang Kilat ini dan dia yang mengalahkan para tokoh sesat itu.”

Tentu saja para pangawal pribadi kaisar itu terbelalak dan sukar dapat percaya berita ini. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu mengalahkan Kui-siauw Giam-ong Suma Koam yang mereka tahu amat sakti itu?

Para jagoan istana ini masih belum yakin benar kalau belum mengerti kepandaian Bun Houw. Mereka mempunyai sebuah tempat tersendiri untuk berlatih silat dan tidak ada orang lain yang boleh menonton mereka berlatih. Sebagai pengawal-pengawal pribadi kaisar, tentu saja mereka memiliki pengaruh dan wibawa.

Kesempatan inilah mereka pergunakan untuk menguji sendiri kepandaian Bun Houw. Kwa Bun Houw sudah mendengar dari Koan-thaikam bahwa keadaan dirinya sudah bukan rahasia lagi bagi sepuluh orang pengawal pribadi kaisar, maka diapun tidak berpura-pura terhadap mereka. Dalam kesempatan berlatih, dia membiarkan dirinya dikeroyok oleh lima orang pengawal yang paling tangguh dan tanpa banyak kesukaran dia dapat mengalahkan mereka semua, baik dalam pertandingan tangan kosong maupum mempergunakan pedang kilatnya.

Setelah sepuluh orang pengawal pribadi itu membuktikan sendiri kemampuan Bu Houw, barulah mereka merasa tenang dan kini Bun Houw merupakan pengawal pribadi kaisar yang paling depan, selalu paling dekat dengan kaisar, terutama kalau di ruangan terbuka di mana terdapat para anggauta pasukan pengawal istana yang dipimpin oleh Ouwyang Toan.

Sementara itu, Koan-thaikam juga sudah menghubungi para pimpinan pasukan pengawal, bahkan panglimanya dan merekapun mempersiapkan pasukan untuk turun tangan sewaktu-waktu para pengkhianat itu mengadakan gerakan.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan memang telah terbujuk dan mau mengadakan persekutuan dengan kerajan Wei. Hal ini terjadi ketika Ouwyang Toan bertemu dengan ayahnya, Ouwyang Sek di luar kota raja, ketika Ouwyang Sek sengaja datang untuk bertemu dengan puteranya. Datuk sesat ini mendengar bahwa puteranya kini menjadi seorang perwira pasukan pengawal di istana kerajaan Chi yang baru.

Hal ini membuat Ouwyang Sek marah sekali. Puteranya, putera majikan Lembah Bukit Siluman, yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan, kini merendahkan diri menjadi seorang perwira pasukan pengawal saja! Kalau menjadi pembesar yang tinggi kedudukannya, tentu akan lain pendapatnya.

Dalam keadaan marah dan murung ini, Ouwyang Sek menerima kunjungan Bu-tek Sam-kui yang telah dikenalnya. Dia mendapat uluran tangan utusan kerajaan Wei ini yang mengajak dia untuk bersekongkol membantu bekas kaisar Cang Bu untuk merebut kembali kerajaan dari tangan kaisar Chi, dan adanya Ouwyang Toan di istana kaisar Siauw Bian Ong sungguh merupakan keuntungan besar dan kesempatan yang baik sekali.

Ouwyang Sek mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu telah menghimpun pasukan, bahkan kini dibantu oleh Suma Koan dan Suma Hok yang telah menjadi adik iparnya, menikah dengan adik bekas kaisar itu, dan bahwa bekas Kaisar Cang Bu kini telah bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Dengan janji bahwa kalau gerakan itu berhasil.

Ouwyang Sek dan puteranya akan mendapatkan kedudukan tinggi sebagai menteri dan panglima. Ouwyang Sek menjadi bersemangat. Lenyaplah kemarahannya terhadap puteranya dan diapun mencari puteranya, mengirim orang untuk memanggil puteranya itu menemuinya di luar kota raja.

Ouwyang Sek yang menceritakan semua penawaran Bu-tek Sam-kui sebagai utusan ke puteranya, dan dia menuntut agar Ouwyang Toan dapat membujuk Bi-moli untuk bekerja sama.

Bi-moli Kwan Hwe Li adalah seorang wanita yang haus cinta. Setelah ia mengalami kekecewaan karena cintanya terhadap Tiauw Sun Ong putus, kemudian setelah mereka menjadi tua, Tiauw Sun Ong tetap tidak mau hidup bersamanya, maka kini bertemu dengan Ouwyang Toan yang muda dan pandai mengambil hati, tentu saja membuat ia takluk.

Ketika Ouwyang Toan membujuknya untuk menerima uluran tangan kerajaan Wei, iapun tanpa berpikir panjang lagi menerimanya. Ia rela hidup dan mati bersama kekasihnya yang masih muda itu.

Demikianlah, kedua orang yang mendapatkan kepercayaan Kaisar Siauw Bian Ong ini mulai siap-siap melaksanakan perintah dari persekutuan itu. Ouwyang Toan yang telah mendapat kepercayaan itu berhasil menyelundupkan beberapa orang anggauta Thian-te Kui-pang reka menanti saatnya yang matang, bukan hanya mempersiapkan para anggauta Thian-te Kui-pang yang diselundupkan sebagai anggauta pasukan pengawal, akan tetapi juga menyebar para anggauta perkumpulan Iblis itu di kota raja agar pada saat yang ditentukan.

Para anggauta itu, dipimpin oleh Bu-tek Sam-kui sendiri, dapat menyerbu ke istana. Kalau penyerbuan dan pembunuhan terhtdap kaisar dan keluarganya dilaksanakan, maka pasukan bekas Kaisar Cang Bu dan pasukan bantuan dari kerajaan Wei yang sudah mempersiapkan diri akan menyerbu masuk ke daerah kerajaan Chi, dimulai dari sarang pasukan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu.

Persiapan pertempuran! Persiapan perang! Persiapan bunuh membunuh. Kapankah keadaan seperti ini akan berakhir? Dunia dilanda perang, permusuhan, kebencian sejak sejarah tercatat sampai kini. Tak pernah ada henti-hentinya. Perang saling bunuh, demi kemenangan, demi kedudukan, demi keuntungan, demi nama baik, demi pemuasan dendam.. Perang senjata, perang ekonomi, perang sosiaL perang ideologi, bahkan ada perang agama dan yang disebut perang suci!

Ada yang menganggap perang satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian! Betapa palsunya omong kosong semua itu. Perang adalah pencetusan dari kebencian, dendam, permusuhan, perebutan kekuasaan atau harta. Perang antara bangsa hanya peluasan dari pada perang antara dua manusia yang juga menjadi akibat dari pada perang yang terjadi di dalam batin kita sendiri! Konflik batin berkembang menjadi konflik dengan manusia lain. Kemelut yang berkecamuk di dalam mencuat keluar.

Manusia yang sudah tidak memiliki lagi kasih sayang, menjadi mahluk yang lebih buas dari pada binatang yang paling buas. Kebuasan binatang hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya, dan kebuasan itu dituntut oleh kebutuhan untuk hidup. Akan tetapi manusia memiliki hati akal pikiran yang membuat dia menjadi lebih buas dan lebih berbahaya. Dalam perang, manusia menjadi haus darah yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh, cara menyelamatkan diri dengan jalan membunuh dan membunuh lagi.

Kalau sudah begini, segala kepalsuan manusiapun nampak . Bahkan Tuhan dibawa-bawa ke dalam perang saling bantai itu. Kedua pihak yang berperang memohon kepada Tuhan untuk diberi bantuan agar menang. Tuhan dimintai bantuan untuk membunuh manusia lain sebanyak-banyaknya!

Dan yang menyedihkan sekali, setiap peperangan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka yang tidak tahu apa-apa, yang tidak ikut berperang, bahkan yang paling parah menderita karena perang. Melarikan diri mengungsi ke sana ini, menjadi korban perampokan, pembunuhan, perkosaan dan penghinaan. Mereka yang sama sekali tidak berdosa kehilangan harta milik, kehilangan rumah tinggal, kehilangan kehormatan, bahkan kehilangan nyawa.


Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Melihat betapa ketatnya panjagaan terhadap istana dan seluruh penghuninya, Bi Moli dan Ouwyang Toan tidak berani melakukan gerakan dan mereka seringkali mengadakan perundingan rahasia di luar istana dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan Bu-tek Sam-kui.

"Lalu kapan rencana kita dapat dilaksanakan? Kami sudah mempersiapkan anak-buah di kota raja dan hal ini tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kalau sampai ketahuan, tentu sebelum kita bergerak, pasukan keamanan sudah akan melakukan penggerebekan dan, semua usaha akan gagal. Bahkan dari Kaisar Cang Bu kami sudah mendapat berita bahwa selain beliau sudah mampersiapkan pasukannya, juga Kui-siauw Giam-ong sudah berhasil mengerahkan para tokoh kang-ouw berikut anak buah mereka yang berhasil diajak bergabung, untuk membantu kalau terjadi keributan di kota raja." kata Pak-thian-kui yang sudah kehilangan kesabaran.

"Pak-thian-kui, semua pekerjaan harus dilaksanakan sebaik mungkin. Kalau tanya serampangan saja lalu gagal, apa artinya?" Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menegur orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi itu yang tadi nadanya menegur puterinya yang dianggap bekerja lambat dan belum juga siap.

Melihat Bu-eng-kiam marah, Bi Moli cepat berkata, "Sebaiknya kita tidak meributkan persoalan ini. Ouwyang Kongcu benar. Memang penjagaan di istana amatlah ketatnya sehingga menyulitkan kami untuk bergerak. Kalau kami nekat, tentu akan gagal. Akan tetapi, Pak-thian-kui juga benar. Persiapan sudah dilakukan, kalau tidak cepat cepat gerakan dilakukan dan ketahuan, tentu semua akan gagal. Sebaiknya kita mencari jalan terbaik bagaimana agar kita dapat cepat bergerak dan tidak sampai gagal."

Sejenak dalam ruangan itu menjadi hening. Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari jalan terbaik agar semua rencana mereka dapat dilaksanakan. Bu-tek Sam-kui bertanggung jawab terhadap kaisar mereka yang tentu saja menghendaki agar semua rencana berhasil baik, sedangkan bekas Kaisar Cang Bu juga tentu saja sudah menanti saat terbaik yang sudah lama dinanti-nanti itu.

"Ada satu jalan yang kurasa paling baik untuk dilaksanakan," kata Kwan Hwe Li dan semua orang memandang kepadanya penuh harap.

"Jalan apa itu, Mo-li? Cepat ceritakan!" kata Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.

"Sudah kuperhitungkan baik-baik, kalau kami yang bertugas di istana harus menyerang Kaisar sekeluarganya, hal itu amatlah sulitnya. Penjagaan amat ketat, bahkan kurasa, pengawal pribadi yang baru dan kelihatan tidak meyakinkan itu, bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan. Karena itu sulit rasanya kalau sekaligus kita harus menyerang seluruh keluarga."

"Akan tetapi, Mo-li. Menurut Kaisar kami, kalau hanya membunuh kaisar kerajaan Chi saja tidak ada gunanya, karena tentu akan segera diganti oleh seorang pangeran. itulah sebabnya mengapa kami ditugaskan untuk membasmi seluruh keluarga. Dengan demikian, tentu pemerintahannya akan menjadi kacau seolah ular tanpa kepala, dan dalam keadaan kacau tanpa adanya raja itulah pasukan akan mulai menyerbu masuk.”

Kwan Hwe Li mengangguk-angguk. "Aku mengerti, dan kiranya hanya ada satu jalan, yaitu menawan kaisar. Sebetulnya, menawan permaisuri jauh lebih mudah, akan tetapi kurang berguna. Sebaliknya, kalau kita dapat menawan kaisar, kita tentu dapat melumpuhkan semua kekuatan di istana. Dengan kaisar sebagai sandera, kita dapat memaksa semua menteri, panglima dan pangeran untuk menyerah. Sandera itu dapat kita pergunakan untuk menangkapi seluruh keluarga kaisar!”

“Hebat! Engkau memang lihai dan pintar sekali, Bi Moli. Akan kami laporkan jasamu ini kepada kaisar kami dan juga kepada Kaisar Cang Bu agar kelak mereka tidak melupakan jasamu, Nah, kita laksanakan saja seperti yang direncanakan Moli tadi."

Mereka lalu mangadakan perundingan, Bi Moli dan Ouwyang Toan akan melaksanakan penawanan terhadap kaisar itu, dengan bantuan enam orang anggauta Thian-te Kui-pang yang menjadi pengawal. Kalau mereka berdua telah berhasil menawan kaisar, maka mereka akan menggunakan kaisar sebagai sandera untuk memasukkan semua anggauta Thian-te Kui-pang yang sudah berada di kota raja untuk menguasai istana.

Kesempatan itu pula akan dipergunakan oleh Bu-tek Sam-kui dan Bu-eng-kiam untuk memasuki istana, memim pin pasukan Thian-te Kui-pang untuk menangkapi semua keluarga kaisar dan sekutunya. Bahkan mereka telah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi ketika Kaisar Siauw Bian Ong pergi ke kuil istana dan melakukan sembahyang bersama permaisuri.

Saat itu memang tepat karena kaisar dan permaisuri berada di satu tempat sehingga tentu saja Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan dapat pula berada di sana dan bersama-sama mereka dapat melaksanakan penawanan itu. Kalau mungkin, mereka bahkan dapat menawan kaisar dan permaisurinya, sedangkan anak buah Ouwyang Toan yang enam orang dapat membantu melumpuhkan para pengawal lain yang hendak menghalangi gerakan mereka.

Mereka sudah memperhitungkan bahwa paling banyak akan ada tiga atau empat orang pengawal pribadi kaisar dan Kwan Hwe Li yakin akan mampu mengatasi mereka, sedangkan Ouwyang Toan akan menawan kaisar dilindungi anak buahnya yang penting, asal kaisar sudah jatuh ke tangan mereka, tentu semua perlawanan akan dapat dihentikan dengan menjadikan kaisar itu seorang sandera yang amat penting dan berharga.

Kuil istana pagi itu nampak meriah dan sibuk sekali. Para hwesionya mengenakan jubah bersih dan wajah merekapun nampak segar berseri. Semua orang menyambut pagi itu dengan hati gembira karena hari itu Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisuri akan melakukan sembahyang leluhur di kuil istana. Jarang sekali kaisar sendiri melakukan sembahyang di kuil dan setiap kali hal ini terjadi, para hwesio di kuil itu merasa mendapat kehormatan besar.

Kaisar Siauw Bian Ong memang pandai sekali mengambil hati rakyat dari semua golongan. Dia bijaksana pula terhadap para hwesio di kuil ini sehingga para pendeta itu juga kagum dan memujinya, tak pernah melalaikan menyebut nama sribaginda dalam sembahyangan mereka mendoakan yang baik-baik bagi kaisar yang bijaksana itu.

Sejak pagi tadi, sebelum kaisar dan permaisuri pergi ke kuil itu, Ouwyang Toan telah sibuk bersama dua belas orang anak buahnya, melakukan pembersihan, di kuil itu. Hanya para hwesio saja yang diperkenankan berada di kuil. Para hwesio dipesan agar dalam sehari itu, tidak seorangpun boleh berkunjung ke kuil, demi keamanan kaisar dan permaisuri. Para hwesio menaati perintah perwira pasukan pengawal ini dan mereka sibuk mempersiapkan semua keperluan sembahyang itu.

Semua perlengkapan telah dipersiapkan, meja diberi tilam baru yang indah, bahkan seluruh ruangan sembahyang telah dibersihkan dan dicat baru sejak beberapa hari yang lalu. Lantainyapun mengkilap karena dipel sampai beberapa kali oleh para hwesio. Pendeknya, ruangan sembahyang itu menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Pot-pot bunga dengan yang mekar semerbak menghiasi semua sudut ruangan. Sejak pagi, dupa harum dibakar sehingga ruangan itu berbau harum dan terasa nyaman.

Ouwyang Toan sengaja mengatur agar penjagaan di sebelah dalam ruangan sembahyang dilakukan oleh enam orang anak buahnya sedangkan perajurit pasukan pengawal yang lain berjaga di ruangan depan dan belakang. Setelah semua persiapan selesai, dia lalu melapor kepada Kaisar Siauw Bian Ong yang sudah bersiap dengan permaisurinya.

Matahari sudah naik tinggi dan hawa udara tidak begitu dingin lagi katika Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisurinya berjalan melalui lorong di taman istana, menuju ke istana, yang berada di ujung taman, di atas sebuah bukit buatan yang kecil. Kaisar dan permaisuri tidak mau duduk di joli, hanya terjalan kaki karena pagi itu cerah dan sinar matahari hangat. Juga pemandangan di taman itu amat indahnya. Musim bunga membuat taman itu nampak indah bukan main, juga jarak ke kuil tua itu tidaklah terlalu jauh.

Karena kaisar dan permaisuri hanya pergi ke kuil istana, ke dalam lingkungan istana, maka penjagaan tidaklah luar biasa ketatnya. Rombongan itu hanya terdiri dari kaisar, permaisuri, dua orang selir terdekat dan tujuh orang gadis dayang saja. Tentu saja Bi Moli Kwan Hwe Li sebagai pengawal pribadi permaisuri, tidak ketinggalan dan wanita cantik ini berjalan di belakang rombongan.

Di belakang kaisar dan permaisuri berjalan tiga orang pengawal pribadi, yaitu Koan Ji atau Kwa Bun Houw dan dua orang pengawal lain. Koan Thai-kam sebagai kepala thai-kam, ikut pula dalam rombongan itu karena dia yang akan mengatur sembahyangan itu bersama para hwesio kuil. Di depan, kanan kiri dan belakang nampak pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang, dipimpin oleh Ouwyang Toan.

Baik Bi Moli Kwan Hwe Li maupun Ouwyang Toan sama sekali tidak pernah menduga sedikit pun juga bahwa semua rencana mereka dan yang mereka atur bersama Bu-tek Sam-kui, telah diketahui oleh Kwa Bun Houw! Bersama Koan-thaikam, Bun Houw sudah mengatur siasat untuk menghadapi usaha pemberontakan yang membahayakan keselamatan keluarga kaisar itu. Memang Bun Houw belum mengetahui dengan tepat, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan.

Akan tetapi dia dan Koan Thai-kam telah menduga bahwa hari itu, saat Kaisar dan permaisuri bersembahyang, merupakan saat yang amat gawat, dan mereka menduga bahwa tentu para pemberontak akan bergerak pada saat itu. Koan Thai-kam sudah mengadakan kontak dengan panglima pasukan pengawal dan keamanan, dan mata-mata telah disebar. Mata-mata ini yang melaporkan bahwa ada kurang lebih seratus orang asing bukan penduduk kota raja yang nampak bersembunyi di sekitar pintu gerbang istana, ada yang menyamar sebagai pedagang keliling, menjadi pengemis dan ada yang seperti pelancong biasa.

Keterangan tentang gerakan orang-orang asing ini didapatkan oleh komandan pasukan dari para anggauta Hek-tung Kai-pang yang seperti biasa berkeliaran di kota raja. Karena mereka adalah anggauta kai-pang, maka kehadiran mereka tidak mencurigakan orang, juga para anggauta Thian-te Kui-pang tak mencurigai mereka. Pada hal, para anggauta pengemis ini adalah orang-orang yang mengamati gerak-gerik mereka!

Juga Bun Houw telah dapat menduga bahwa di antara dua belas orang perajurit pengawal, termasuk yang pernah disuruh mengujinya, adalah kaki tangan komplotan itu, maka diapun sudah bersikap waspada. Agar jangan sampai mencurigakan Ouwyang Toan dan Bi Moli, maka penjagaan terhadap kaisar dan permaisuri hanya dilakukan oleh dia dan dua orang pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi, telah diatur dengan rapi agar banyak pengawal yang setia terhadap kaisar, mengatur barisan pendam di sekitar tempat sembahyang itu.

Setelah tiba di kuil, para hwesio menyambut kaisar dan permaisuri dengan sikap hormat. Semua berlangsung seperti biasa, tidak ada perubahan sedikitpun dan ini memang dikehendaki Koan-thaikam agar tidak mencurigakan komplotan pemberontak. Dia bersama lima orang hwesio melayani kaisar dan permaisuri, menemani mereka memasuki ruangan sembahyang, ditemani pula oleh dua orang selir dan tujuh orang gadis dayang yang setelah masuk ke ruangan sembahyang lalu duduk bersimpuh di pinggiran. Kwa Bun Houw dan dua orang rekannya ikut pula masuk, akan tetapi merekapun berdiri di pinggiran. Demikian pula Ouwyang Toan dan enam orang pengawal ikut masuk dan berjaga di pintu ruangan.

Bi Moli ikut pula masuk dan ia yang paling dekat dengan kaisar dan permaisuri dan dua orang selir yang kini sudah berlutut di depan meja sembahyang, dilayani oleh lima orang hwesio yang menyerahkan hio-swa (dupa biting) untuk sembahyang, dan menyerahkan alat penyulut lilin yang akan dinyalakan Kaisar.

Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Saat ini memang yang sudah ditentukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan untuk bertindak. Pada saat kaisar hendak menyalakan lilin dan permaisuri beserta dua orang selir berlutut dan menerima hio-swa dari para hwesio. Saat itu memang amat baik karena tiga orang pengawal pribadi kaisar tidak berani mendekat, dan juga para pengawal yang bukan kaki tangan mereka berada di luar.

Sudah mereka rencanakan bahwa Ouwyang Toan akan menangkap kaisar dan Bi Moli menangkap permaisuri, sedangkan enam orang kaki tangan mereka menjaga agar tidak ada yang berani menghalangi perbuatan kedua orang itu menawan kaisar dan permaisuri. Kalau kaisar dan permaisuri sudah ditawan, maka segalanya akan menjadi mudah!

Dan memang perhitungan itu tepat sekali. Ketika tiba-tiba sekali Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat ke depan sambil mencabut pedang, Bun Houw sempat dibuat tertegun. Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang itu akan bergerak pada saat yang khidmat itu, di mana kaisar dan permaisuri baru mulai melakukan sembahyang. Juga kedua orang rekannya terbelalak.

Ouwyang Toan dengan pedang di tangan meloncat ke dekat kaisar, dan Bi Moli juga meloncat ke dekat permaisuri sambil menendang seorang selir yang menghalang di samping sehingga selir itu terguling sambil menjerit.

"Semua diam! Kaisar dan Permasuri kami tawan!” kata Ouwyang Toan dengan suara nyaring. Enam orang pengawal yang menjadi kaki tangannya juga tiba-tiba mencabut pedang dan hendak melindungi dua orang itu.

Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar perhitungan Ouwyang Toan dan Bi Moli. Lima orang hwesio yang tadinya melayani kaisar, permaisuri dan dua orang selir, yang nampaknya adalah hwesio-hwesio yang lemah dan lembut, tiba-tiba saja mereka itu menerjang ke arah Bi Moli dan Ouwyang Toan!

Mereka yang lebih dekat dengan kaisar dan permaisuri sehingga mereka dapat menyerang sambil membelakangi kaisar dan permaisuri. Terkejutlah Ouwyang Toan ketika hwesio yang tadi menyerahkan alat penyulut lilin kepada kaisar tiba-tiba menyambutnya dengan serangan tusukan alat penyulut lilin itu.

Dan Bi Moli juga terkejut ketika dua orang hwesio sudah menyerangnya dari depan. Karena para hwesio itu menyerang Ouwyang Toan dan Bi Moli dari depan dan sekaligus menghalangi mereka menawan kaisar dan permaisuri, terpaksa kedua orang pengkhianat itu lalu menggerakkan pedang mereka menyerang para hwesio itu! Dan mereka semakin terkejut. Kiranya mereka bukanlah hwesio-hwesio lemah, karena mereka mampu melakukan perlawanan dengan gerakan yang cukup gesit dan tangkas.

Biarpun akhirnya lima orang hwesio itu roboh mandi darah oleh pedang Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li, namun telah memberi waktu yang cukup bagi Kwa Bun Houw untuk turun tangan. Dia dan dua orang rekannya berloncatan.

"Amankan Sribaginda!" teriak Bun Houw kepada dua orang rekannya.

Dua orang pengawal pribadi kaisar itu lalu menggandeng kaisar dan permaisuri, menarik mereka keluar dari ruangan sembahyang itu, sedangkan dua orang selir itu menangis dan lari ke sudut ruangan bersama para dayang. Kini tinggal Bun Houw seorang yang berdiri di pintu samping dari mana kaisar tadi menyelamatkan diri dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan.

"Si Pedang Kilat...!" Ouwyang Toan berseru kaget bukan main melihat pedang yang berkilauan di tangan Bun Houw itu.

Juga Bi Moli yang telah merobohkan tiga orang hwesio itu terkejut mendengar teriakan yang mengandung rasa gentar yang amat sangat dari kekasihnya itu. "Siapa...?!?" tanyanya.

"Kwa Bun Houw... murid Tiauw Sun Ong...!" kata Ouwyang Toan dan diapun sudah memberi isarat kepada enam orang anggauta Thian-te Kui-pang untuk menerjang dan mengeroyok Bun Houw. Enam orang itu-pun maklum bahwa usaha mereka gagal, maka dengan nekat mereka lalu menggerakkan senjata dan menerjang pemuda yang memegang sebatang pedang yang berkilauan itu.

"Moli, kita lari!" teriak Ouwyang Toan kepada kekasihnya dan mereka berloncatan keluar pintu ruangan sembahyang.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu telah terkepung ratusan orang pasukan keamanan istana yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ. Tahulah mereka bahwa kesemuanya telah gagal sama sekali. Kekecewaan membuat mereka menjadi marah, ditambah lagi dengan rasa takut. Mereka menumpahkan semua kesalahannya kepada Bun Houw dan seperti ada persetujuan tanpa kata, keduanya membalik dan meloncat masuk lagi untuk membuat perhitungan dengan Kwa Bun Houw! Ouwyang Toan memang membenci pemuda itu, dan Bi Moli mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Tiauw Sun Ong, maka iapun amat membencinya!

Sementara itu, melihat dia diserang oleh enam orang kaki tangan Ouwyang Toan, Bun Houw tidak mau membuang banyak waktu melayani mereka. Dia tahu bahwa kaisar dan permaisuri sudah selamat, dan dua orang pengkhianat itu tidak akan mungkin dapat lolos dari tempat itu, maka diapun menggerakkan pedang di tangannya. Enam orang itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka merupakan para anggauta pilihan dari Thian-tc Kui-pang. Akan tetapi, berhadapan dengan. Si Pedang Kilat, enam orang itu seperti berhadapan kakek guru mereka!

Nampak gulungan sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata dan satu demi satu, enam orang itu roboh dan tewas seketika. Nampaknya saja mereka tidak terluka, saking tajamnya pedang pusaka itu sehingga ketika menembus dada atau leher lawan, hampir tidak meninggalkan bekas dan hanya diketahui orang itu terluka setelah darah mengalir keluar dan orang itu tewas seketika!

Ketika Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat kembali memasuki ruangan sembahyang, mereka terbelalak. Di samping mayat lima orang hwesio yang sebenarnya merupakan pengawal-pengawal yang menyamar, nampak mayat enam orang anggauta Thian-te Kui-pang itu rebah malang melintang dalam keadaan tewas. Begitu cepatnya enam orang itu tewas dan hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda yang masih berdiri dengan pedang berkilauan di tangan itu.

"Kwa Bun Houw! Engkau selalu menjadi penghalang bagiku dan selalu memusuhiku!” bentak Ouwyang Toan marah.

"Engkau keliru, Ouwyang Toan. Engkau tentu tahu bahwa aku menentang siapa saja yang melakukan kejahatan, tak terkecuali engkau. Adalah engkau dan Bi Moli yang sungguh tidak tahu diri, tak mengenal budi. Sribaginda telah memberikan kedudukan yang baik bagi kalian, akan tetapi kalian bahkan mengkhianati dan bersekutu dengan pemberontak dan dengan kerajaan Wei."

"Bocah she Kwa, hari ini engkau harus menebus dosa gurumu kepadaku!" Bi Moli membentak dan ia sudah menggerakkan pedangnya.

Ouwyang Toan juga membantu kekasihnya itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya pula. Akan tetapi, Bun Houw memutar Lui-kong-kiam dan nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata dan dua orang itu terpaksa meloncat keluar dari ruangan itu karena tempat itu terlalu sempit dengan adanya sebelas sosok mayat yang bergelimpangan. Bun Houw juga menerjang keluar karena diapun menghendaki agar dapat melawan kedua orang musuhnya itu di tempat yang lebih luas.

Melihat dua orang pengkhianat itu berloncatan keluar, disusul oleh pengawal pribadi yang baru, para pengawal siap untuk mengepung dan mengeroyok.

"Tahan, jangan keroyok, biarkan Si Pedang Kilat sendiri menghadapi dua orang itu." kata Kaisar Siauw Bian Ong.

Kaisar ini tadi telah mendapat laporan yang singkat dan jelas dari Koan Thai-kam tentang diri Kwa Bun Houw yang dijuluki Si Pedang Kilat, mendengar pula bahwa dia dan Hek-tung Kai-pang mengatur agar pendekar itu melindungi kaisar, kemudian tentang persekutuan pemberontak dan betapa dia sudah mengadakan kontak dengan para panglima untuk menanggulangi pengkhianatan itu.

Juga dia beritahukan mengapa dia tidak melapor lebih dahulu kepada kaisar, yaitu karena kedua orang pengkhianat itu telah mendapatkan kedudukan, maka dia khawatir kalau-kalau kaisar tidak percaya begitu saja tanpa adanya bukti. Kaisar dapat memaklumi dan mendengar bahwa Kwan Bun Houw yang berjuluk Si Pedang Kilat adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi, maka melihat kedua orang pengkhianat itu kini bertanding melawan Si Pedang Kilat, kaisar ini yang juga suka ilmu silat ingin sekali menontonnya.

"Kalau dia terdesak, barulah kalian boleh membantunya," pesannya kepada para pengawal pribadi dan para pengawal yang mengerti apa yang dikehendaki junjungan mereka, mengangguk dan mereka siap dengan senjata di tangan untuk membantu kalau-kalau Si Pedang Kilat terdesak.

Kaisar lalu memberi isarat kepada panglima pasukan keamanan untuk mendesak, lalu berkata, "Panglima, cepat kerahkan pasukan dan tangkapi semua anggauta gerombolan Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di kota raja."

Panglima itu memberi hormat lalu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu, berkat latihan yang diterimanya dari Tiauw Sun Ong, gurunya yang buta, Kwa Bun Houw telah dapat melatih pendengarannya menjadi amat tajam, pengganti kedua mata bagi gurunya dan bagi dia, membantu pekerjaan mata, pendengarannya menjadi amat peka dan dengan kepekaan inilah dia dapat pula mendengar perintah kaisar kepada para pengawalnya tadi, walaupun dia menghadapi dua lawan yang tangguh.

Bun Houw maklum bahwa tentu kaisar telah mendengar dari Koan Thai-kam siapa dia, maka kini kaisar ingin menyaksikan pertandingan yang seru, maka dia-pun segera mengerahkan tenaganya dan memutar Lui-kong-kiam dengan dahsyat sekali.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan sudah maklum bahwa mereka telah terkepung ratusan orang pasukan pengawal. Dengan gagalnya mereka menawan kaisar dan permaisuri, mereka tidak dapat mengandalkan apapun untuk melindungi diri, maka mereka menjadi gelisah, kecewa dan akhirnya membuat mereka menjadi nekat. Semua kemarahan mereka tumpahkan kepada Kwa Bun Houw yang mereke anggap sebagai penghalang dan penghancur semua rencana mereka yang sudah tersusun rapi.

Bi Moli Kwan Hwe Li mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia menggerakkan pedangnya secara dahsyat karena selain didorong oleh tenaga sin-kang, juga ada kekuatan sihir dalam gerakannya itu. Karena maklum akan kelihaian murid bekas pacarnya ini, Bi Moli mengerahkan seluruh tenaga sin-kang dan sihirnya untuk membunuh lawan. Biarpun ia tahu bahwa ia tidak akan lolos dari hukuman, namun setidaknya ia harus dapat melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Kwa Bun Houw. Demikian pula dengan Ouwyang Toan. Pemuda inipun sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak akan mungkin bebas dari hukuman mati, maka dia ingin lebih dulu membunuh Bun Houw sebelum mengamuk sampai titik darah terakhir.

Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw juga maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang tangguh, tidak berani memandang ringan. Dia tahu bahwa Bi Moli Kwan Hwe Li adalah seorang datuk sesat yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, setingkat dengan kepandaian para datuk seperti Suma Koan, Ouwyang Sek, Kwan Im Sianli, bahkan tidak begitu jauh selisihnya dengan tingkat gurunya, Tiauw Sun Ong.

Kalau saja dia tidak secara kebetulan minum sari Akar Bunga Gurun Pasir sehingga tubuhnya menjadi kokoh kuat dan tenaga sin-kangnya meningkat secara luar biasa, dan kemudian tidak menemukan ilmu Im-yan Bu-tek Cin-keng secara kebetulan pula, kiranya akan sukar baginya untuk dapat menandingi Bi Moli. Apalagi di situ terdapat pula Ouwyang Toan yang mengeroyoknya dan putera datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan. Lembah Bukit Siluman inipun termasuk seorang yang tangguh.

Kwa Bun Houw mengandalkan pedang pemberian suhunya. Didorong oleh kekuatan sin-kangnya yang ampuh, diapun menyambut kedua orang lawannya dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan mata, membuat kagum Kaisar Siauw Bian Ong dan pari pengawal dan penonton lainnya.

"Roboh kau...!" Bi Moli Kwan Hwe Li menjerit dengan suara melengking dan di antara para perajuiit keamanan yang mendengar lengking suara yang mengandung tenaga sihir yang berpengaruh dan berwibawa itu. ada yang merasa kedua lutut mereka lemas dan kalau tidak saling berpegangan, tentu mereka itu akan roboh terguling!

Demikian hebatnya pengaruh yang terkandung dalam lengking itu. Apalagi terhadap Bun Houw yang dijadikan sasaran, dan bentakan itu diikuti pula oleh tusukan pedang yang meluncur bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Sungguh merupakan serangan dahsyat yang amat berbahaya, diperhebat oleh kecepatan gerakan, kekuatan sin-kang, dan kekuatan sihir!

Namun, kekuatan sihir itu tidak ada artinya bagi Bun Houw. Lewat begitu saja seperti angin kencang meniup batu karang. Pemuda ini maklum bahwa di antara kedua orang lawannya, yang paling tangguh adalah Bi Moli, maka kepada Iblis Wanita Cantik inilah dia harus mencurahkan perhatian dan perlawanannya. Pada saat itu, Ouwyang Toan juga sudah membacokkan pedangnya dari samping ke arah kepalanya. Dengan gerakan ringan dia memutar tubuh sehingga terlepas dari bacokan pedang, dan pedangnya sendiri dengan cepat menyambar ke arah pergelangan tangan Bi Moli yang menusuknya, gerakan itu memutar dari samping.

Bi Moli terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa tusukannya akan disambut oleh bacokan dari samping yang mengancam pergelangan tangannya. Kalau ia melanjutkan serangan, maka sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, lebih dulu pergelangan tangannya akan terbabat pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu. Terpaksa ia menarik kembali tusukannya. Ouwyang Toan yang serangannya mengenai tempat kosong, menjadi penasaran sekali karena serangan itu dapat dihindarkan sedemikian mudahnya. Dia menyerang lagi, diikuti oleh Bi Moli dan kedua orang ini agaknya hendak berlumba untuk dapat lebih dulu merobohkan Bun Houw.

Bun Houw memperlihatkan keringanan tubuhnya dan tubuh itu seperti dibungkus gulungan sinar kilat pedangnya dan menyusup di antara sambaran kedua pedang lawan, dan dari gulungan sinar pedangnya kadang mencuat sinar bagaikan kilat menyambar ke arah lawan. Terjadilah serang menyerang yang amat seru dan menyilaukan mata.

Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, mengangguk-angguk dan mengelus jengotnya. Diam-diam dia amat mengagumi Kwa Bun Houw, walapun ada pula perasaan menyesal mengapa dua orang seperti Ouwyang Toan dan Bi Moli, yang memiliki kepandaian demikian hebat pula, telah mengkhianatinya. Sungguh patut disayangkan ilmu kepandaian seperti itu dikuasai orang-orang yang menjadi hamba nafsu angkara murka.

Pertandingan itu memang amat hebat. Jarang mereka semua yang hadir di situ menyaksikan pertandingan sehebat itu, bukan sekedar pengujian ilmu seperti yang sering terjadi di istana, melainkan suatu pertandingan yang merupakan perkelahian sungguh-sungguh! Setiap kali sinar pedang menyambar berarti tangan maut yang haus darah mencari korban.

Diam-diam Kwa Bun Houw mengeluh. Sudah lewat dari tiga puluh jurus, belum juga dia mampu merobohkan dua orang lawannya walaupun mereka sendiri juga tidak pernah dapat mendesaknya. Dia maklum bahwa kalau mengadu ilmu pedang, akan sukarlah baginya untuk dapat merobohkan mereka. Dengan mengeroyok, mereka benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dirobohkan. Ilmu pedangnya hanyalah ilmu pedang Lui-kong-kiamsut (Ilmu Pedang Kilat) yang dia pelajari dari gurunya, dan hanya karena dia memiliki kelebihan sin-kang dari pengaruh Akar Bunga Gurun Pasir sajalah maka dia mampu mengimbangi kedua orang pengeroyoknya.

Akan tetapi dia merasa yakin bahwa kalau mereka mengadu ilmu tangan kosong, dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pasti akan lebih unggul. Dia sejak tadi tidak berani mengadu pedangnya secara langsung sambil mengerahkan sin-kang. Dengan cara itu, tentu pedang kedua orang pengeroyoknya akan patah-patah, seperti yang sudah sering dia lakukan dengan Lui-kong-kiam itu. Akan tetapi, sekali ini dia merasa khawatir kalau-kalau pedang pusaka pemberian gurunya itu akan menjadi rusak karena dia menduga bahwa kedua orang lawan ini tentu juga memegang pedang pusaka yang ampuh.

Kemudian dia teringat akan persiapan persekutuan pemberontak untuk menyerbu kota raja seperti yang didengarnya dari Koan Thai-kam. Hal ini membuat dia terpaksa harus cepat mengakhiri pertandingan itu agar perhatian dapat dialihkan untuk menghadapi persiapan para pemberontak di luar kota raja. Maka, secara tiba-tiba saja Bun Houw mengubah gerakannya. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan pedangnya untuk langsung menyambut pedang lawan, sengaja mengadukan pedangnya dengan pedang lawan.

Terdengar bunyi nyaring berdentang dua kali dan kedua orang lawannya itu mengeluarkan teriakan kaget. Bi Moli meloncat ke belakang, demikian pula Ouwyang Toan dan mereka memandang ke arah tangan kanan masing-masing yang kini hanya memegang sebatang pedang buntung! Ternyata pedang mereka telah patah oleh Lui-kong-kiam yang ampuh. Hal ini sesungguhnya bukan terjadi hanya karena keampuhan pedang di tangan Bun Houw karena sesungguhnya, pedang kedua orang lawan itupun terbuat dari bahan yang kuat dan ampuh.

Akan tetapi, pedang Bun Houw itu disaluri tenaga sin-kang yang jauh lebih kuat, maka getarannya tak tertahan oleh kedua pedang lawan sehingga menjadi patah. Bun Houw menyimpan pedangnya setelah dengan lega melihat bahwa pedang pusakanya tidak rusak dan kini dia menghadapi kedua orang lawan dengan tangan kosong. Mereka berdua juga melemparkan sisa pedang ke atas tanah dan mereka siap melanjutkan perkelahian itu dengan tangan kosong. Kembali Kaisar Siauw Bian Ong memandang kagum dan memberi isyarat kepada para pengawalnya agar jangan mencampuri. Dia sedang menikmati pertandingan yang jarang dilihatnya itu...

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 12

SRIBAGINDA Kaisar tertawa bergelak-gelak karena memang pemandangan itu lucu bukan main. Akan tetapi Ouwyang Toan dan anak buahnya terbelalak, hampir tidak percaya betapa pemuda yang agaknya tidak pandai silat itu karena tidak pernah mengeluarkan jurus silat, ternyata memiliki kaki tangan yang agaknya kebal dan kuat sekali.

Dua orang yang lain menjadi marah dan menyerang sekuat tenaga, hanya untuk meringis karena ketika lengan mereka ditangkis, mereka merasa lengan mereka semakin nyeri seperti patah-patah. Lengan mereka, kanan dan kiri, sudah matang biru dan bengkak-bengkak! Pada hal, lengan dan kaki mereka itu terlatih baik, sekali hantam saja lengan mereka dapat memecahkan bambu. Akan tetapi sekarang, lengan mereka seperti diadu dengan baja!

Biarpun mereka bertiga menahan nyeri, akhirnya lengan mereka yang tidak tahan. Kedua lengan mereka itu akhirnya tergantung lemah, terkulai dan tak dapat diangkat, juga kaki mereka hampir tak kuat untuk berdiri dan dengan sendirinya perlawanan merekapun terhenti!

"Ha-ha-ha, bagaimana ini? Mengapa kalian bertiga tidak menyerang lagi?" tanya Kaisar Siauw Bian Ong gembira, pada hal dia sebagai seorang ahli silat tahu bahwa tiga orang itu sudah kalah, walaupun Koan Ji belum pernah memukul mereka!

"Kenapa kalian bertiga? Hayo jawab pertanyaan Yang Mulia!" bentak Ouwyang Toan marah dan merasa malu, juga terheran-heran melihat ulah tiga orang anak buahnya itu.

Dua orang berlutut, dan si raksasa brewok akhirnya juga berlutut menghadap kaisar dan mewakili dua orang temannya. "Mohon paduka mengampuni hamba bertiga. Yang Mulia. Hamba bertiga tidak mampu melanjutkan pertandingan, agaknya lawan hamba itu memasang baja pada kaki tangannya..."

"Yang mulia, hamba mohon ijin untuk memeriksa kaki dan tangan calon perajurit pengawal ini." kata Ouwyang Toan dan kaisar mengangguk.

"Periksalah, apakah benar di dalam lengan baju dan kaki celananya terdapat potongan baja." kata kaisar sambil tersenyum geli.

Sebetulnya Ouwyang Toan bukanlah seorang yang demikian bodohnya. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, iapun maklum bahwa orang yang sin-kangnya sudah amat kuat, dapat saja membuat kaki tangannya keras seperti baja. Akan tetapi, dia tidak percaya Koan Ji memiliki sin-kang sedemikian kuatnya, maka mendengar keluhan tiga orang anak buahnya tadi, diapun merasa curiga.

Setelah mendapat ijin kaisar, Ouwyang Toan lalu menghampiri Bun Houw dan menyingkap lalu menggulung ke atas kedua lengan baju dan pipa celananya. Akan tetapi tentu saja dia tidak menemukan apa-apa kecuali kaki dan tangan biasa yang bertulang, berotot dan berkulit! Tentu saja Ouwyang Toan tidak dapat berkata apa-apalagi, lalu mundur sambil menundukkan mukanya.

Seorang tokoh pengawal pribadi kaisar yang sejak tadi hanya menjadi penonton bersama para pengawal pribadi lainnya, kini berkata dengan hormat, "ampun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, saudara Koan Ji ini cukup pantas untuk menjadi pengawal pribadi paduka, menambah kekuatan pasukan pengawal pribadi paduka."

Kaisar Siauw Bian Ong menoleh ke arah lima orang pengawal pribadinya dan mereka semua mengangguk menyetujui. Kaisar tersenyum girang. Dia menemukan seorang pengawal lain yang lihai dan tentu saja dapat dipercaya karena pemuda itu adalah keponakan Koan-thaikam, seorang yang sudah dipercayanya penuh sebagai seorang hamba yang setia.

Demikianlah, mulai saat itu, Bun Houw diterima sebagai seorang pengawal pribadi kaisar sehingga kini pengawal pribadi kaisar berjumlah sebelas orang yang melakukan penjagaan terhadap keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong pribadi, Bun Houw juga berjumpa dengan Kwan Hwe Li yang menjadi pengawal permaisuri, akan tetapi datuk wanita itu tidak mengenalnya.

Koan-thaikam yang cerdik tidak memberitahu kepada kaisar tentang siapa sebenarnya Koan Ji, akan tetapi, dia diam-diam mengumpulkan sepuluh orang pengawal pribadi kaisar yang lain. Dia percaya sepenuhnya kepada sepuluh orang itu sebagai orang-orang yang setia kepada kaisar dan merupakan pengawal lama, sejak Kaisar Siauw Bian Ong menduduki singasana kerajaan Chi yang baru.

Tentu saja sepuluh orang itu tidak dapat dia kumpulkan sekaligus, hal itu tidak mungkin karena setiap saat harus ada sedikitnya dua orang pengawal yang mengawal kaisar. Bahkan kalau kaisar sedang berada di dalam kamar tidurnya, dua atau tiga orang pengawal berjaga di luar kamar itu, walaupun sudah ada pasukan istana yang melakukan penjagaan di seluruh istana.

Koan-thaikam dengan cerdik dapat mengajak sepuluh orang pengawal pribadi kaisar itu untuk mengadakan pertemuan, setiap kali hanya dengan lima orang. Dalam dua kali pertemuan saja dia sudah dapat mengadakan perundingan dengan mereka. Sepuluh orang pengawal pribadi itu terkejut bukan main mendengar laporan Koan-thaikam yang telah mendengar rahasia Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan yang mengadakan persekutuan dengan kaki tangan kerajaan Wei untuk melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong.

"Koan-taijin, kalau begitu, kenapa kita tidak langsung saja menangkap para pengkhianat itu!" kata para pengawal atau jagoan istana itu dengan penasaran.

"Atau kita langsung laporkan kepada Sri-baginda biar mereka itu ditangkap?” kata yang lain.

Akan tetapi Koan Thai-kam menggeleng kepalanya. "Hal itu tidak mungkin kita lakukan, walaupun persekongkolan mereka sudah jelas karena aku telah mendengarnya sendiri. Akan tetapi apa buktinya? Tanpa bukti, apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Ingat, selain mereka itu merupakan dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mereka telah berhasil memperoleh kedudukan yang tinggi pula, dan mendapat kepercayaan Sribaginda, Kwan Hwe Li telah menjadi pengawal permaisuri, sedangkan Ouwyang Toan telah menjadi perwira pasukan pengawal istana. Tanpa bukti, kalau kita melaporkan kepada Sribaginda, kemudian mereka berbalik menuduh kita melakukan fitnah, kita tidak akan menang. Demikian pula, melakukan kekerasan tanpa bukti, tentu akan membuat Sribaginda marah kepada kita."

"Habis, bagaimana baiknya? Kalau kita melihat Sribaginda terancam keselamatannya, apakah kita harus tinggal diam saja?" mereka mencela.

"Tidak begitu," kata Koan-thaikam, "tentu saja kita harus bertindak dan karena itulah cu-wi (anda sekalian) saya undang untuk berunding. Kita sekarang, para pengawal pribadi Sribaginda, telah tahu akan rencana jahat mereka dan dapat melakukan penjagaan yang lebih ketat tanpa menimbulkan kecurigaan mereka. Selain itu, kita mengadakan hubungan rahasia dengan para panglima pasukan pengawal dan pasukan keamanan, agar mereka mempersiapkan pasukan untuk bergerak sewaktu-waktu diperlukan. Kita mau tidak mau harus membiarkan para pengkhianat itu bergerak, agar kita dapat menindak mereka dengan bukti."

"Akan tetapi, hal itu berarti membiarkan Sribaginda terancam bahaya! Bagaimana kalau mereka turun tangan secara tiba-tiba sehingga kita terlambat dan Sribaginda dan keluarganya tertimpa bencana?" kembali para pengawal pribadi itu membantah dan mencela dengan hati khawatir sekali, "Kami lebih condong melapor kepada Sribaginda!"

"Jangan! Cu-wi tentu telah mengenal watak Sribaginda. Beliau amat bijaksana menghargai kegagahan, juga beliau selalu bersikap adil. Kalau kita melapor, akan tetapi beliau tidak menemukan bukti, bagaimana mungkin beliau akan menangkap dan menghukum para pengkhianat itu? Kitalah yang akan mendapat kemarahan, atau bukan mustahil kita yang akan ditangkap dan dihukum karena dianggap malakukan fitnah dan membuat kekacauan. Tentang keselamatan Sribaginda dan keluarganya, kenapa khawatir? Bukankah ada cu-wi yang selalu menjaga dan mengawal Sribaginda? Dan hendaknya cu-wi tahu bahwa pemuda yang baru saja diterima sebagai pengawal pribadi itu..."

"Koan Ji, keponakan Koan-aijin itu?”

“Ya, dialah yang akan menjamin keselamatan Sribaginda!"

"Ah, maaf, taijin. Memang Koan Ji memiliki tubuh yang kebal dan kuat, akan tetapi apa artinya itu? Ingat, Ouwyang-ciangkun amat lihai dan Kwan Hwe Li jauh lebih lihai lagi. Kami semua sudah membuktikannya sendiri ketika mereka diuji. Bahkan kami akan kewalahan melawan mereka berdua. Biarpun ditambah Koan Ji itu... maaf. bukan kami hendak memandang rendah keponakan tai-jin,”

“Ketahuilah, Koan Ji itu bukan keponakanku! Saya memang sengaja mencari bantuan dari luar dan dia adalah orang yang dipilih oleh Hek-tung Lo-kai untuk tugas penting melindungi Sribaginda. Hanya dialah yang akan mampu menandingi Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan. Karena saya tidak ingin membuat persekutuan itu curiga, maka saya mengakuinya sebagai keponakan dan juga agar Sri baginda percaya kepadanya."

Sepuluh orang pengawal pribadi itu merasa kagum. Kalau benar pemuda itu pilihan Hek-tung Lo-kai yang mereka kenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan juga mendukung pemerintah baru, tentu pemuda itu bukan orang sembarangan.

"Akan tetapi, siapa dia sesungguhnya, taijin? Kami merasa tidak pernah mengenal seorang tokoh dunia persilatan yang wajahnya seperti dia itu."

"Tentu saja, karena itu adalah wajah penyamaran, bukan wajah aselinya. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan dia berjuluk Si Pedang Kilat! Bahkan oleh Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu dia dicalonkan menjadi beng-cu dunia persilatan.”

“Bukan main! Siapa namanya, taijin?”

“Namanya Kwa Bun Houw, memang belum begitu terkenal di dunia persilatan, akan tetapi dia merupakan seorang bintang baru yang hebat. Kalian tahu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan..."

"Datuk sesat majikan Bukit Bayangan Iblis itu?"

"Benar, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, dibantu oleh Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi kaki tangan kerajaan Wei, hendak memaksa Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang untuk bekerja sama. Ketika mereka hendak membunuh kedua pang-cu itu, muncullah Si Pedang Kilat ini dan dia yang mengalahkan para tokoh sesat itu.”

Tentu saja para pangawal pribadi kaisar itu terbelalak dan sukar dapat percaya berita ini. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu mengalahkan Kui-siauw Giam-ong Suma Koam yang mereka tahu amat sakti itu?

Para jagoan istana ini masih belum yakin benar kalau belum mengerti kepandaian Bun Houw. Mereka mempunyai sebuah tempat tersendiri untuk berlatih silat dan tidak ada orang lain yang boleh menonton mereka berlatih. Sebagai pengawal-pengawal pribadi kaisar, tentu saja mereka memiliki pengaruh dan wibawa.

Kesempatan inilah mereka pergunakan untuk menguji sendiri kepandaian Bun Houw. Kwa Bun Houw sudah mendengar dari Koan-thaikam bahwa keadaan dirinya sudah bukan rahasia lagi bagi sepuluh orang pengawal pribadi kaisar, maka diapun tidak berpura-pura terhadap mereka. Dalam kesempatan berlatih, dia membiarkan dirinya dikeroyok oleh lima orang pengawal yang paling tangguh dan tanpa banyak kesukaran dia dapat mengalahkan mereka semua, baik dalam pertandingan tangan kosong maupum mempergunakan pedang kilatnya.

Setelah sepuluh orang pengawal pribadi itu membuktikan sendiri kemampuan Bu Houw, barulah mereka merasa tenang dan kini Bun Houw merupakan pengawal pribadi kaisar yang paling depan, selalu paling dekat dengan kaisar, terutama kalau di ruangan terbuka di mana terdapat para anggauta pasukan pengawal istana yang dipimpin oleh Ouwyang Toan.

Sementara itu, Koan-thaikam juga sudah menghubungi para pimpinan pasukan pengawal, bahkan panglimanya dan merekapun mempersiapkan pasukan untuk turun tangan sewaktu-waktu para pengkhianat itu mengadakan gerakan.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan memang telah terbujuk dan mau mengadakan persekutuan dengan kerajan Wei. Hal ini terjadi ketika Ouwyang Toan bertemu dengan ayahnya, Ouwyang Sek di luar kota raja, ketika Ouwyang Sek sengaja datang untuk bertemu dengan puteranya. Datuk sesat ini mendengar bahwa puteranya kini menjadi seorang perwira pasukan pengawal di istana kerajaan Chi yang baru.

Hal ini membuat Ouwyang Sek marah sekali. Puteranya, putera majikan Lembah Bukit Siluman, yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan, kini merendahkan diri menjadi seorang perwira pasukan pengawal saja! Kalau menjadi pembesar yang tinggi kedudukannya, tentu akan lain pendapatnya.

Dalam keadaan marah dan murung ini, Ouwyang Sek menerima kunjungan Bu-tek Sam-kui yang telah dikenalnya. Dia mendapat uluran tangan utusan kerajaan Wei ini yang mengajak dia untuk bersekongkol membantu bekas kaisar Cang Bu untuk merebut kembali kerajaan dari tangan kaisar Chi, dan adanya Ouwyang Toan di istana kaisar Siauw Bian Ong sungguh merupakan keuntungan besar dan kesempatan yang baik sekali.

Ouwyang Sek mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu telah menghimpun pasukan, bahkan kini dibantu oleh Suma Koan dan Suma Hok yang telah menjadi adik iparnya, menikah dengan adik bekas kaisar itu, dan bahwa bekas Kaisar Cang Bu kini telah bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Dengan janji bahwa kalau gerakan itu berhasil.

Ouwyang Sek dan puteranya akan mendapatkan kedudukan tinggi sebagai menteri dan panglima. Ouwyang Sek menjadi bersemangat. Lenyaplah kemarahannya terhadap puteranya dan diapun mencari puteranya, mengirim orang untuk memanggil puteranya itu menemuinya di luar kota raja.

Ouwyang Sek yang menceritakan semua penawaran Bu-tek Sam-kui sebagai utusan ke puteranya, dan dia menuntut agar Ouwyang Toan dapat membujuk Bi-moli untuk bekerja sama.

Bi-moli Kwan Hwe Li adalah seorang wanita yang haus cinta. Setelah ia mengalami kekecewaan karena cintanya terhadap Tiauw Sun Ong putus, kemudian setelah mereka menjadi tua, Tiauw Sun Ong tetap tidak mau hidup bersamanya, maka kini bertemu dengan Ouwyang Toan yang muda dan pandai mengambil hati, tentu saja membuat ia takluk.

Ketika Ouwyang Toan membujuknya untuk menerima uluran tangan kerajaan Wei, iapun tanpa berpikir panjang lagi menerimanya. Ia rela hidup dan mati bersama kekasihnya yang masih muda itu.

Demikianlah, kedua orang yang mendapatkan kepercayaan Kaisar Siauw Bian Ong ini mulai siap-siap melaksanakan perintah dari persekutuan itu. Ouwyang Toan yang telah mendapat kepercayaan itu berhasil menyelundupkan beberapa orang anggauta Thian-te Kui-pang reka menanti saatnya yang matang, bukan hanya mempersiapkan para anggauta Thian-te Kui-pang yang diselundupkan sebagai anggauta pasukan pengawal, akan tetapi juga menyebar para anggauta perkumpulan Iblis itu di kota raja agar pada saat yang ditentukan.

Para anggauta itu, dipimpin oleh Bu-tek Sam-kui sendiri, dapat menyerbu ke istana. Kalau penyerbuan dan pembunuhan terhtdap kaisar dan keluarganya dilaksanakan, maka pasukan bekas Kaisar Cang Bu dan pasukan bantuan dari kerajaan Wei yang sudah mempersiapkan diri akan menyerbu masuk ke daerah kerajaan Chi, dimulai dari sarang pasukan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu.

Persiapan pertempuran! Persiapan perang! Persiapan bunuh membunuh. Kapankah keadaan seperti ini akan berakhir? Dunia dilanda perang, permusuhan, kebencian sejak sejarah tercatat sampai kini. Tak pernah ada henti-hentinya. Perang saling bunuh, demi kemenangan, demi kedudukan, demi keuntungan, demi nama baik, demi pemuasan dendam.. Perang senjata, perang ekonomi, perang sosiaL perang ideologi, bahkan ada perang agama dan yang disebut perang suci!

Ada yang menganggap perang satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian! Betapa palsunya omong kosong semua itu. Perang adalah pencetusan dari kebencian, dendam, permusuhan, perebutan kekuasaan atau harta. Perang antara bangsa hanya peluasan dari pada perang antara dua manusia yang juga menjadi akibat dari pada perang yang terjadi di dalam batin kita sendiri! Konflik batin berkembang menjadi konflik dengan manusia lain. Kemelut yang berkecamuk di dalam mencuat keluar.

Manusia yang sudah tidak memiliki lagi kasih sayang, menjadi mahluk yang lebih buas dari pada binatang yang paling buas. Kebuasan binatang hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya, dan kebuasan itu dituntut oleh kebutuhan untuk hidup. Akan tetapi manusia memiliki hati akal pikiran yang membuat dia menjadi lebih buas dan lebih berbahaya. Dalam perang, manusia menjadi haus darah yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh, cara menyelamatkan diri dengan jalan membunuh dan membunuh lagi.

Kalau sudah begini, segala kepalsuan manusiapun nampak . Bahkan Tuhan dibawa-bawa ke dalam perang saling bantai itu. Kedua pihak yang berperang memohon kepada Tuhan untuk diberi bantuan agar menang. Tuhan dimintai bantuan untuk membunuh manusia lain sebanyak-banyaknya!

Dan yang menyedihkan sekali, setiap peperangan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka yang tidak tahu apa-apa, yang tidak ikut berperang, bahkan yang paling parah menderita karena perang. Melarikan diri mengungsi ke sana ini, menjadi korban perampokan, pembunuhan, perkosaan dan penghinaan. Mereka yang sama sekali tidak berdosa kehilangan harta milik, kehilangan rumah tinggal, kehilangan kehormatan, bahkan kehilangan nyawa.


Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Melihat betapa ketatnya panjagaan terhadap istana dan seluruh penghuninya, Bi Moli dan Ouwyang Toan tidak berani melakukan gerakan dan mereka seringkali mengadakan perundingan rahasia di luar istana dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan Bu-tek Sam-kui.

"Lalu kapan rencana kita dapat dilaksanakan? Kami sudah mempersiapkan anak-buah di kota raja dan hal ini tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kalau sampai ketahuan, tentu sebelum kita bergerak, pasukan keamanan sudah akan melakukan penggerebekan dan, semua usaha akan gagal. Bahkan dari Kaisar Cang Bu kami sudah mendapat berita bahwa selain beliau sudah mampersiapkan pasukannya, juga Kui-siauw Giam-ong sudah berhasil mengerahkan para tokoh kang-ouw berikut anak buah mereka yang berhasil diajak bergabung, untuk membantu kalau terjadi keributan di kota raja." kata Pak-thian-kui yang sudah kehilangan kesabaran.

"Pak-thian-kui, semua pekerjaan harus dilaksanakan sebaik mungkin. Kalau tanya serampangan saja lalu gagal, apa artinya?" Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menegur orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi itu yang tadi nadanya menegur puterinya yang dianggap bekerja lambat dan belum juga siap.

Melihat Bu-eng-kiam marah, Bi Moli cepat berkata, "Sebaiknya kita tidak meributkan persoalan ini. Ouwyang Kongcu benar. Memang penjagaan di istana amatlah ketatnya sehingga menyulitkan kami untuk bergerak. Kalau kami nekat, tentu akan gagal. Akan tetapi, Pak-thian-kui juga benar. Persiapan sudah dilakukan, kalau tidak cepat cepat gerakan dilakukan dan ketahuan, tentu semua akan gagal. Sebaiknya kita mencari jalan terbaik bagaimana agar kita dapat cepat bergerak dan tidak sampai gagal."

Sejenak dalam ruangan itu menjadi hening. Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari jalan terbaik agar semua rencana mereka dapat dilaksanakan. Bu-tek Sam-kui bertanggung jawab terhadap kaisar mereka yang tentu saja menghendaki agar semua rencana berhasil baik, sedangkan bekas Kaisar Cang Bu juga tentu saja sudah menanti saat terbaik yang sudah lama dinanti-nanti itu.

"Ada satu jalan yang kurasa paling baik untuk dilaksanakan," kata Kwan Hwe Li dan semua orang memandang kepadanya penuh harap.

"Jalan apa itu, Mo-li? Cepat ceritakan!" kata Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.

"Sudah kuperhitungkan baik-baik, kalau kami yang bertugas di istana harus menyerang Kaisar sekeluarganya, hal itu amatlah sulitnya. Penjagaan amat ketat, bahkan kurasa, pengawal pribadi yang baru dan kelihatan tidak meyakinkan itu, bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan. Karena itu sulit rasanya kalau sekaligus kita harus menyerang seluruh keluarga."

"Akan tetapi, Mo-li. Menurut Kaisar kami, kalau hanya membunuh kaisar kerajaan Chi saja tidak ada gunanya, karena tentu akan segera diganti oleh seorang pangeran. itulah sebabnya mengapa kami ditugaskan untuk membasmi seluruh keluarga. Dengan demikian, tentu pemerintahannya akan menjadi kacau seolah ular tanpa kepala, dan dalam keadaan kacau tanpa adanya raja itulah pasukan akan mulai menyerbu masuk.”

Kwan Hwe Li mengangguk-angguk. "Aku mengerti, dan kiranya hanya ada satu jalan, yaitu menawan kaisar. Sebetulnya, menawan permaisuri jauh lebih mudah, akan tetapi kurang berguna. Sebaliknya, kalau kita dapat menawan kaisar, kita tentu dapat melumpuhkan semua kekuatan di istana. Dengan kaisar sebagai sandera, kita dapat memaksa semua menteri, panglima dan pangeran untuk menyerah. Sandera itu dapat kita pergunakan untuk menangkapi seluruh keluarga kaisar!”

“Hebat! Engkau memang lihai dan pintar sekali, Bi Moli. Akan kami laporkan jasamu ini kepada kaisar kami dan juga kepada Kaisar Cang Bu agar kelak mereka tidak melupakan jasamu, Nah, kita laksanakan saja seperti yang direncanakan Moli tadi."

Mereka lalu mangadakan perundingan, Bi Moli dan Ouwyang Toan akan melaksanakan penawanan terhadap kaisar itu, dengan bantuan enam orang anggauta Thian-te Kui-pang yang menjadi pengawal. Kalau mereka berdua telah berhasil menawan kaisar, maka mereka akan menggunakan kaisar sebagai sandera untuk memasukkan semua anggauta Thian-te Kui-pang yang sudah berada di kota raja untuk menguasai istana.

Kesempatan itu pula akan dipergunakan oleh Bu-tek Sam-kui dan Bu-eng-kiam untuk memasuki istana, memim pin pasukan Thian-te Kui-pang untuk menangkapi semua keluarga kaisar dan sekutunya. Bahkan mereka telah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi ketika Kaisar Siauw Bian Ong pergi ke kuil istana dan melakukan sembahyang bersama permaisuri.

Saat itu memang tepat karena kaisar dan permaisuri berada di satu tempat sehingga tentu saja Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan dapat pula berada di sana dan bersama-sama mereka dapat melaksanakan penawanan itu. Kalau mungkin, mereka bahkan dapat menawan kaisar dan permaisurinya, sedangkan anak buah Ouwyang Toan yang enam orang dapat membantu melumpuhkan para pengawal lain yang hendak menghalangi gerakan mereka.

Mereka sudah memperhitungkan bahwa paling banyak akan ada tiga atau empat orang pengawal pribadi kaisar dan Kwan Hwe Li yakin akan mampu mengatasi mereka, sedangkan Ouwyang Toan akan menawan kaisar dilindungi anak buahnya yang penting, asal kaisar sudah jatuh ke tangan mereka, tentu semua perlawanan akan dapat dihentikan dengan menjadikan kaisar itu seorang sandera yang amat penting dan berharga.

Kuil istana pagi itu nampak meriah dan sibuk sekali. Para hwesionya mengenakan jubah bersih dan wajah merekapun nampak segar berseri. Semua orang menyambut pagi itu dengan hati gembira karena hari itu Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisuri akan melakukan sembahyang leluhur di kuil istana. Jarang sekali kaisar sendiri melakukan sembahyang di kuil dan setiap kali hal ini terjadi, para hwesio di kuil itu merasa mendapat kehormatan besar.

Kaisar Siauw Bian Ong memang pandai sekali mengambil hati rakyat dari semua golongan. Dia bijaksana pula terhadap para hwesio di kuil ini sehingga para pendeta itu juga kagum dan memujinya, tak pernah melalaikan menyebut nama sribaginda dalam sembahyangan mereka mendoakan yang baik-baik bagi kaisar yang bijaksana itu.

Sejak pagi tadi, sebelum kaisar dan permaisuri pergi ke kuil itu, Ouwyang Toan telah sibuk bersama dua belas orang anak buahnya, melakukan pembersihan, di kuil itu. Hanya para hwesio saja yang diperkenankan berada di kuil. Para hwesio dipesan agar dalam sehari itu, tidak seorangpun boleh berkunjung ke kuil, demi keamanan kaisar dan permaisuri. Para hwesio menaati perintah perwira pasukan pengawal ini dan mereka sibuk mempersiapkan semua keperluan sembahyang itu.

Semua perlengkapan telah dipersiapkan, meja diberi tilam baru yang indah, bahkan seluruh ruangan sembahyang telah dibersihkan dan dicat baru sejak beberapa hari yang lalu. Lantainyapun mengkilap karena dipel sampai beberapa kali oleh para hwesio. Pendeknya, ruangan sembahyang itu menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Pot-pot bunga dengan yang mekar semerbak menghiasi semua sudut ruangan. Sejak pagi, dupa harum dibakar sehingga ruangan itu berbau harum dan terasa nyaman.

Ouwyang Toan sengaja mengatur agar penjagaan di sebelah dalam ruangan sembahyang dilakukan oleh enam orang anak buahnya sedangkan perajurit pasukan pengawal yang lain berjaga di ruangan depan dan belakang. Setelah semua persiapan selesai, dia lalu melapor kepada Kaisar Siauw Bian Ong yang sudah bersiap dengan permaisurinya.

Matahari sudah naik tinggi dan hawa udara tidak begitu dingin lagi katika Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisurinya berjalan melalui lorong di taman istana, menuju ke istana, yang berada di ujung taman, di atas sebuah bukit buatan yang kecil. Kaisar dan permaisuri tidak mau duduk di joli, hanya terjalan kaki karena pagi itu cerah dan sinar matahari hangat. Juga pemandangan di taman itu amat indahnya. Musim bunga membuat taman itu nampak indah bukan main, juga jarak ke kuil tua itu tidaklah terlalu jauh.

Karena kaisar dan permaisuri hanya pergi ke kuil istana, ke dalam lingkungan istana, maka penjagaan tidaklah luar biasa ketatnya. Rombongan itu hanya terdiri dari kaisar, permaisuri, dua orang selir terdekat dan tujuh orang gadis dayang saja. Tentu saja Bi Moli Kwan Hwe Li sebagai pengawal pribadi permaisuri, tidak ketinggalan dan wanita cantik ini berjalan di belakang rombongan.

Di belakang kaisar dan permaisuri berjalan tiga orang pengawal pribadi, yaitu Koan Ji atau Kwa Bun Houw dan dua orang pengawal lain. Koan Thai-kam sebagai kepala thai-kam, ikut pula dalam rombongan itu karena dia yang akan mengatur sembahyangan itu bersama para hwesio kuil. Di depan, kanan kiri dan belakang nampak pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang, dipimpin oleh Ouwyang Toan.

Baik Bi Moli Kwan Hwe Li maupun Ouwyang Toan sama sekali tidak pernah menduga sedikit pun juga bahwa semua rencana mereka dan yang mereka atur bersama Bu-tek Sam-kui, telah diketahui oleh Kwa Bun Houw! Bersama Koan-thaikam, Bun Houw sudah mengatur siasat untuk menghadapi usaha pemberontakan yang membahayakan keselamatan keluarga kaisar itu. Memang Bun Houw belum mengetahui dengan tepat, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan.

Akan tetapi dia dan Koan Thai-kam telah menduga bahwa hari itu, saat Kaisar dan permaisuri bersembahyang, merupakan saat yang amat gawat, dan mereka menduga bahwa tentu para pemberontak akan bergerak pada saat itu. Koan Thai-kam sudah mengadakan kontak dengan panglima pasukan pengawal dan keamanan, dan mata-mata telah disebar. Mata-mata ini yang melaporkan bahwa ada kurang lebih seratus orang asing bukan penduduk kota raja yang nampak bersembunyi di sekitar pintu gerbang istana, ada yang menyamar sebagai pedagang keliling, menjadi pengemis dan ada yang seperti pelancong biasa.

Keterangan tentang gerakan orang-orang asing ini didapatkan oleh komandan pasukan dari para anggauta Hek-tung Kai-pang yang seperti biasa berkeliaran di kota raja. Karena mereka adalah anggauta kai-pang, maka kehadiran mereka tidak mencurigakan orang, juga para anggauta Thian-te Kui-pang tak mencurigai mereka. Pada hal, para anggauta pengemis ini adalah orang-orang yang mengamati gerak-gerik mereka!

Juga Bun Houw telah dapat menduga bahwa di antara dua belas orang perajurit pengawal, termasuk yang pernah disuruh mengujinya, adalah kaki tangan komplotan itu, maka diapun sudah bersikap waspada. Agar jangan sampai mencurigakan Ouwyang Toan dan Bi Moli, maka penjagaan terhadap kaisar dan permaisuri hanya dilakukan oleh dia dan dua orang pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi, telah diatur dengan rapi agar banyak pengawal yang setia terhadap kaisar, mengatur barisan pendam di sekitar tempat sembahyang itu.

Setelah tiba di kuil, para hwesio menyambut kaisar dan permaisuri dengan sikap hormat. Semua berlangsung seperti biasa, tidak ada perubahan sedikitpun dan ini memang dikehendaki Koan-thaikam agar tidak mencurigakan komplotan pemberontak. Dia bersama lima orang hwesio melayani kaisar dan permaisuri, menemani mereka memasuki ruangan sembahyang, ditemani pula oleh dua orang selir dan tujuh orang gadis dayang yang setelah masuk ke ruangan sembahyang lalu duduk bersimpuh di pinggiran. Kwa Bun Houw dan dua orang rekannya ikut pula masuk, akan tetapi merekapun berdiri di pinggiran. Demikian pula Ouwyang Toan dan enam orang pengawal ikut masuk dan berjaga di pintu ruangan.

Bi Moli ikut pula masuk dan ia yang paling dekat dengan kaisar dan permaisuri dan dua orang selir yang kini sudah berlutut di depan meja sembahyang, dilayani oleh lima orang hwesio yang menyerahkan hio-swa (dupa biting) untuk sembahyang, dan menyerahkan alat penyulut lilin yang akan dinyalakan Kaisar.

Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Saat ini memang yang sudah ditentukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan untuk bertindak. Pada saat kaisar hendak menyalakan lilin dan permaisuri beserta dua orang selir berlutut dan menerima hio-swa dari para hwesio. Saat itu memang amat baik karena tiga orang pengawal pribadi kaisar tidak berani mendekat, dan juga para pengawal yang bukan kaki tangan mereka berada di luar.

Sudah mereka rencanakan bahwa Ouwyang Toan akan menangkap kaisar dan Bi Moli menangkap permaisuri, sedangkan enam orang kaki tangan mereka menjaga agar tidak ada yang berani menghalangi perbuatan kedua orang itu menawan kaisar dan permaisuri. Kalau kaisar dan permaisuri sudah ditawan, maka segalanya akan menjadi mudah!

Dan memang perhitungan itu tepat sekali. Ketika tiba-tiba sekali Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat ke depan sambil mencabut pedang, Bun Houw sempat dibuat tertegun. Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang itu akan bergerak pada saat yang khidmat itu, di mana kaisar dan permaisuri baru mulai melakukan sembahyang. Juga kedua orang rekannya terbelalak.

Ouwyang Toan dengan pedang di tangan meloncat ke dekat kaisar, dan Bi Moli juga meloncat ke dekat permaisuri sambil menendang seorang selir yang menghalang di samping sehingga selir itu terguling sambil menjerit.

"Semua diam! Kaisar dan Permasuri kami tawan!” kata Ouwyang Toan dengan suara nyaring. Enam orang pengawal yang menjadi kaki tangannya juga tiba-tiba mencabut pedang dan hendak melindungi dua orang itu.

Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar perhitungan Ouwyang Toan dan Bi Moli. Lima orang hwesio yang tadinya melayani kaisar, permaisuri dan dua orang selir, yang nampaknya adalah hwesio-hwesio yang lemah dan lembut, tiba-tiba saja mereka itu menerjang ke arah Bi Moli dan Ouwyang Toan!

Mereka yang lebih dekat dengan kaisar dan permaisuri sehingga mereka dapat menyerang sambil membelakangi kaisar dan permaisuri. Terkejutlah Ouwyang Toan ketika hwesio yang tadi menyerahkan alat penyulut lilin kepada kaisar tiba-tiba menyambutnya dengan serangan tusukan alat penyulut lilin itu.

Dan Bi Moli juga terkejut ketika dua orang hwesio sudah menyerangnya dari depan. Karena para hwesio itu menyerang Ouwyang Toan dan Bi Moli dari depan dan sekaligus menghalangi mereka menawan kaisar dan permaisuri, terpaksa kedua orang pengkhianat itu lalu menggerakkan pedang mereka menyerang para hwesio itu! Dan mereka semakin terkejut. Kiranya mereka bukanlah hwesio-hwesio lemah, karena mereka mampu melakukan perlawanan dengan gerakan yang cukup gesit dan tangkas.

Biarpun akhirnya lima orang hwesio itu roboh mandi darah oleh pedang Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li, namun telah memberi waktu yang cukup bagi Kwa Bun Houw untuk turun tangan. Dia dan dua orang rekannya berloncatan.

"Amankan Sribaginda!" teriak Bun Houw kepada dua orang rekannya.

Dua orang pengawal pribadi kaisar itu lalu menggandeng kaisar dan permaisuri, menarik mereka keluar dari ruangan sembahyang itu, sedangkan dua orang selir itu menangis dan lari ke sudut ruangan bersama para dayang. Kini tinggal Bun Houw seorang yang berdiri di pintu samping dari mana kaisar tadi menyelamatkan diri dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan.

"Si Pedang Kilat...!" Ouwyang Toan berseru kaget bukan main melihat pedang yang berkilauan di tangan Bun Houw itu.

Juga Bi Moli yang telah merobohkan tiga orang hwesio itu terkejut mendengar teriakan yang mengandung rasa gentar yang amat sangat dari kekasihnya itu. "Siapa...?!?" tanyanya.

"Kwa Bun Houw... murid Tiauw Sun Ong...!" kata Ouwyang Toan dan diapun sudah memberi isarat kepada enam orang anggauta Thian-te Kui-pang untuk menerjang dan mengeroyok Bun Houw. Enam orang itu-pun maklum bahwa usaha mereka gagal, maka dengan nekat mereka lalu menggerakkan senjata dan menerjang pemuda yang memegang sebatang pedang yang berkilauan itu.

"Moli, kita lari!" teriak Ouwyang Toan kepada kekasihnya dan mereka berloncatan keluar pintu ruangan sembahyang.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu telah terkepung ratusan orang pasukan keamanan istana yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ. Tahulah mereka bahwa kesemuanya telah gagal sama sekali. Kekecewaan membuat mereka menjadi marah, ditambah lagi dengan rasa takut. Mereka menumpahkan semua kesalahannya kepada Bun Houw dan seperti ada persetujuan tanpa kata, keduanya membalik dan meloncat masuk lagi untuk membuat perhitungan dengan Kwa Bun Houw! Ouwyang Toan memang membenci pemuda itu, dan Bi Moli mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Tiauw Sun Ong, maka iapun amat membencinya!

Sementara itu, melihat dia diserang oleh enam orang kaki tangan Ouwyang Toan, Bun Houw tidak mau membuang banyak waktu melayani mereka. Dia tahu bahwa kaisar dan permaisuri sudah selamat, dan dua orang pengkhianat itu tidak akan mungkin dapat lolos dari tempat itu, maka diapun menggerakkan pedang di tangannya. Enam orang itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka merupakan para anggauta pilihan dari Thian-tc Kui-pang. Akan tetapi, berhadapan dengan. Si Pedang Kilat, enam orang itu seperti berhadapan kakek guru mereka!

Nampak gulungan sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata dan satu demi satu, enam orang itu roboh dan tewas seketika. Nampaknya saja mereka tidak terluka, saking tajamnya pedang pusaka itu sehingga ketika menembus dada atau leher lawan, hampir tidak meninggalkan bekas dan hanya diketahui orang itu terluka setelah darah mengalir keluar dan orang itu tewas seketika!

Ketika Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat kembali memasuki ruangan sembahyang, mereka terbelalak. Di samping mayat lima orang hwesio yang sebenarnya merupakan pengawal-pengawal yang menyamar, nampak mayat enam orang anggauta Thian-te Kui-pang itu rebah malang melintang dalam keadaan tewas. Begitu cepatnya enam orang itu tewas dan hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda yang masih berdiri dengan pedang berkilauan di tangan itu.

"Kwa Bun Houw! Engkau selalu menjadi penghalang bagiku dan selalu memusuhiku!” bentak Ouwyang Toan marah.

"Engkau keliru, Ouwyang Toan. Engkau tentu tahu bahwa aku menentang siapa saja yang melakukan kejahatan, tak terkecuali engkau. Adalah engkau dan Bi Moli yang sungguh tidak tahu diri, tak mengenal budi. Sribaginda telah memberikan kedudukan yang baik bagi kalian, akan tetapi kalian bahkan mengkhianati dan bersekutu dengan pemberontak dan dengan kerajaan Wei."

"Bocah she Kwa, hari ini engkau harus menebus dosa gurumu kepadaku!" Bi Moli membentak dan ia sudah menggerakkan pedangnya.

Ouwyang Toan juga membantu kekasihnya itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya pula. Akan tetapi, Bun Houw memutar Lui-kong-kiam dan nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata dan dua orang itu terpaksa meloncat keluar dari ruangan itu karena tempat itu terlalu sempit dengan adanya sebelas sosok mayat yang bergelimpangan. Bun Houw juga menerjang keluar karena diapun menghendaki agar dapat melawan kedua orang musuhnya itu di tempat yang lebih luas.

Melihat dua orang pengkhianat itu berloncatan keluar, disusul oleh pengawal pribadi yang baru, para pengawal siap untuk mengepung dan mengeroyok.

"Tahan, jangan keroyok, biarkan Si Pedang Kilat sendiri menghadapi dua orang itu." kata Kaisar Siauw Bian Ong.

Kaisar ini tadi telah mendapat laporan yang singkat dan jelas dari Koan Thai-kam tentang diri Kwa Bun Houw yang dijuluki Si Pedang Kilat, mendengar pula bahwa dia dan Hek-tung Kai-pang mengatur agar pendekar itu melindungi kaisar, kemudian tentang persekutuan pemberontak dan betapa dia sudah mengadakan kontak dengan para panglima untuk menanggulangi pengkhianatan itu.

Juga dia beritahukan mengapa dia tidak melapor lebih dahulu kepada kaisar, yaitu karena kedua orang pengkhianat itu telah mendapatkan kedudukan, maka dia khawatir kalau-kalau kaisar tidak percaya begitu saja tanpa adanya bukti. Kaisar dapat memaklumi dan mendengar bahwa Kwan Bun Houw yang berjuluk Si Pedang Kilat adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi, maka melihat kedua orang pengkhianat itu kini bertanding melawan Si Pedang Kilat, kaisar ini yang juga suka ilmu silat ingin sekali menontonnya.

"Kalau dia terdesak, barulah kalian boleh membantunya," pesannya kepada para pengawal pribadi dan para pengawal yang mengerti apa yang dikehendaki junjungan mereka, mengangguk dan mereka siap dengan senjata di tangan untuk membantu kalau-kalau Si Pedang Kilat terdesak.

Kaisar lalu memberi isarat kepada panglima pasukan keamanan untuk mendesak, lalu berkata, "Panglima, cepat kerahkan pasukan dan tangkapi semua anggauta gerombolan Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di kota raja."

Panglima itu memberi hormat lalu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu, berkat latihan yang diterimanya dari Tiauw Sun Ong, gurunya yang buta, Kwa Bun Houw telah dapat melatih pendengarannya menjadi amat tajam, pengganti kedua mata bagi gurunya dan bagi dia, membantu pekerjaan mata, pendengarannya menjadi amat peka dan dengan kepekaan inilah dia dapat pula mendengar perintah kaisar kepada para pengawalnya tadi, walaupun dia menghadapi dua lawan yang tangguh.

Bun Houw maklum bahwa tentu kaisar telah mendengar dari Koan Thai-kam siapa dia, maka kini kaisar ingin menyaksikan pertandingan yang seru, maka dia-pun segera mengerahkan tenaganya dan memutar Lui-kong-kiam dengan dahsyat sekali.

Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan sudah maklum bahwa mereka telah terkepung ratusan orang pasukan pengawal. Dengan gagalnya mereka menawan kaisar dan permaisuri, mereka tidak dapat mengandalkan apapun untuk melindungi diri, maka mereka menjadi gelisah, kecewa dan akhirnya membuat mereka menjadi nekat. Semua kemarahan mereka tumpahkan kepada Kwa Bun Houw yang mereke anggap sebagai penghalang dan penghancur semua rencana mereka yang sudah tersusun rapi.

Bi Moli Kwan Hwe Li mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia menggerakkan pedangnya secara dahsyat karena selain didorong oleh tenaga sin-kang, juga ada kekuatan sihir dalam gerakannya itu. Karena maklum akan kelihaian murid bekas pacarnya ini, Bi Moli mengerahkan seluruh tenaga sin-kang dan sihirnya untuk membunuh lawan. Biarpun ia tahu bahwa ia tidak akan lolos dari hukuman, namun setidaknya ia harus dapat melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Kwa Bun Houw. Demikian pula dengan Ouwyang Toan. Pemuda inipun sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak akan mungkin bebas dari hukuman mati, maka dia ingin lebih dulu membunuh Bun Houw sebelum mengamuk sampai titik darah terakhir.

Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw juga maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang tangguh, tidak berani memandang ringan. Dia tahu bahwa Bi Moli Kwan Hwe Li adalah seorang datuk sesat yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, setingkat dengan kepandaian para datuk seperti Suma Koan, Ouwyang Sek, Kwan Im Sianli, bahkan tidak begitu jauh selisihnya dengan tingkat gurunya, Tiauw Sun Ong.

Kalau saja dia tidak secara kebetulan minum sari Akar Bunga Gurun Pasir sehingga tubuhnya menjadi kokoh kuat dan tenaga sin-kangnya meningkat secara luar biasa, dan kemudian tidak menemukan ilmu Im-yan Bu-tek Cin-keng secara kebetulan pula, kiranya akan sukar baginya untuk dapat menandingi Bi Moli. Apalagi di situ terdapat pula Ouwyang Toan yang mengeroyoknya dan putera datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan. Lembah Bukit Siluman inipun termasuk seorang yang tangguh.

Kwa Bun Houw mengandalkan pedang pemberian suhunya. Didorong oleh kekuatan sin-kangnya yang ampuh, diapun menyambut kedua orang lawannya dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan mata, membuat kagum Kaisar Siauw Bian Ong dan pari pengawal dan penonton lainnya.

"Roboh kau...!" Bi Moli Kwan Hwe Li menjerit dengan suara melengking dan di antara para perajuiit keamanan yang mendengar lengking suara yang mengandung tenaga sihir yang berpengaruh dan berwibawa itu. ada yang merasa kedua lutut mereka lemas dan kalau tidak saling berpegangan, tentu mereka itu akan roboh terguling!

Demikian hebatnya pengaruh yang terkandung dalam lengking itu. Apalagi terhadap Bun Houw yang dijadikan sasaran, dan bentakan itu diikuti pula oleh tusukan pedang yang meluncur bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Sungguh merupakan serangan dahsyat yang amat berbahaya, diperhebat oleh kecepatan gerakan, kekuatan sin-kang, dan kekuatan sihir!

Namun, kekuatan sihir itu tidak ada artinya bagi Bun Houw. Lewat begitu saja seperti angin kencang meniup batu karang. Pemuda ini maklum bahwa di antara kedua orang lawannya, yang paling tangguh adalah Bi Moli, maka kepada Iblis Wanita Cantik inilah dia harus mencurahkan perhatian dan perlawanannya. Pada saat itu, Ouwyang Toan juga sudah membacokkan pedangnya dari samping ke arah kepalanya. Dengan gerakan ringan dia memutar tubuh sehingga terlepas dari bacokan pedang, dan pedangnya sendiri dengan cepat menyambar ke arah pergelangan tangan Bi Moli yang menusuknya, gerakan itu memutar dari samping.

Bi Moli terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa tusukannya akan disambut oleh bacokan dari samping yang mengancam pergelangan tangannya. Kalau ia melanjutkan serangan, maka sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, lebih dulu pergelangan tangannya akan terbabat pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu. Terpaksa ia menarik kembali tusukannya. Ouwyang Toan yang serangannya mengenai tempat kosong, menjadi penasaran sekali karena serangan itu dapat dihindarkan sedemikian mudahnya. Dia menyerang lagi, diikuti oleh Bi Moli dan kedua orang ini agaknya hendak berlumba untuk dapat lebih dulu merobohkan Bun Houw.

Bun Houw memperlihatkan keringanan tubuhnya dan tubuh itu seperti dibungkus gulungan sinar kilat pedangnya dan menyusup di antara sambaran kedua pedang lawan, dan dari gulungan sinar pedangnya kadang mencuat sinar bagaikan kilat menyambar ke arah lawan. Terjadilah serang menyerang yang amat seru dan menyilaukan mata.

Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, mengangguk-angguk dan mengelus jengotnya. Diam-diam dia amat mengagumi Kwa Bun Houw, walapun ada pula perasaan menyesal mengapa dua orang seperti Ouwyang Toan dan Bi Moli, yang memiliki kepandaian demikian hebat pula, telah mengkhianatinya. Sungguh patut disayangkan ilmu kepandaian seperti itu dikuasai orang-orang yang menjadi hamba nafsu angkara murka.

Pertandingan itu memang amat hebat. Jarang mereka semua yang hadir di situ menyaksikan pertandingan sehebat itu, bukan sekedar pengujian ilmu seperti yang sering terjadi di istana, melainkan suatu pertandingan yang merupakan perkelahian sungguh-sungguh! Setiap kali sinar pedang menyambar berarti tangan maut yang haus darah mencari korban.

Diam-diam Kwa Bun Houw mengeluh. Sudah lewat dari tiga puluh jurus, belum juga dia mampu merobohkan dua orang lawannya walaupun mereka sendiri juga tidak pernah dapat mendesaknya. Dia maklum bahwa kalau mengadu ilmu pedang, akan sukarlah baginya untuk dapat merobohkan mereka. Dengan mengeroyok, mereka benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dirobohkan. Ilmu pedangnya hanyalah ilmu pedang Lui-kong-kiamsut (Ilmu Pedang Kilat) yang dia pelajari dari gurunya, dan hanya karena dia memiliki kelebihan sin-kang dari pengaruh Akar Bunga Gurun Pasir sajalah maka dia mampu mengimbangi kedua orang pengeroyoknya.

Akan tetapi dia merasa yakin bahwa kalau mereka mengadu ilmu tangan kosong, dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pasti akan lebih unggul. Dia sejak tadi tidak berani mengadu pedangnya secara langsung sambil mengerahkan sin-kang. Dengan cara itu, tentu pedang kedua orang pengeroyoknya akan patah-patah, seperti yang sudah sering dia lakukan dengan Lui-kong-kiam itu. Akan tetapi, sekali ini dia merasa khawatir kalau-kalau pedang pusaka pemberian gurunya itu akan menjadi rusak karena dia menduga bahwa kedua orang lawan ini tentu juga memegang pedang pusaka yang ampuh.

Kemudian dia teringat akan persiapan persekutuan pemberontak untuk menyerbu kota raja seperti yang didengarnya dari Koan Thai-kam. Hal ini membuat dia terpaksa harus cepat mengakhiri pertandingan itu agar perhatian dapat dialihkan untuk menghadapi persiapan para pemberontak di luar kota raja. Maka, secara tiba-tiba saja Bun Houw mengubah gerakannya. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan pedangnya untuk langsung menyambut pedang lawan, sengaja mengadukan pedangnya dengan pedang lawan.

Terdengar bunyi nyaring berdentang dua kali dan kedua orang lawannya itu mengeluarkan teriakan kaget. Bi Moli meloncat ke belakang, demikian pula Ouwyang Toan dan mereka memandang ke arah tangan kanan masing-masing yang kini hanya memegang sebatang pedang buntung! Ternyata pedang mereka telah patah oleh Lui-kong-kiam yang ampuh. Hal ini sesungguhnya bukan terjadi hanya karena keampuhan pedang di tangan Bun Houw karena sesungguhnya, pedang kedua orang lawan itupun terbuat dari bahan yang kuat dan ampuh.

Akan tetapi, pedang Bun Houw itu disaluri tenaga sin-kang yang jauh lebih kuat, maka getarannya tak tertahan oleh kedua pedang lawan sehingga menjadi patah. Bun Houw menyimpan pedangnya setelah dengan lega melihat bahwa pedang pusakanya tidak rusak dan kini dia menghadapi kedua orang lawan dengan tangan kosong. Mereka berdua juga melemparkan sisa pedang ke atas tanah dan mereka siap melanjutkan perkelahian itu dengan tangan kosong. Kembali Kaisar Siauw Bian Ong memandang kagum dan memberi isyarat kepada para pengawalnya agar jangan mencampuri. Dia sedang menikmati pertandingan yang jarang dilihatnya itu...