Social Items

PAGI yang cerah dan indah sekali, apalagi di dalam taman yang terpelihara baik-baik dan penuh dengan bermacam bunga itu. Musim semi telah berumur sebulan lebih, telah memberi waktu cukup bagi para tanaman untuk mengembangkan bunga-bunga yang indah dan harum. Kupu-kupu ikut bergembira ria, beterbangan di antara bunga-bunga indah. Mereka hinggap dari satu ke lain bunga, dengan rajin mencari dan menghisap madu yang manis dan wangi.

Kiok Lan duduk termenung seorang diri di dalam taman, duduk di atas bangku panjang dekat kolam ikan emas. Ia baru saja memberi makan ikan emas dan kini ia melihat ikan yang berenang memperebutkan makanan, kemudian termenung, tenggelam dalam lamunan. Ia telah mengkhianati kakaknya sendiri! Ia telah membebaskan orang yang akan ditawan oleh kakaknya.

Lamunan membawanya kepada masa lampau, sejak lima tahun yang lalu ia ikut kakaknya melarikan diri dari kota raja Nan-king karena kerajaan kakaknya, yaitu dinasti Liu-sung, diserbu dan dikalahkan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi Kaisar Siauw Bian Ong dan mendirikan kerajaan baru, yaitu dinasti Chi. Ketika itu, ia baru berusia dua belas tahun. Kehancuran kekuasaan kakaknya yang membuat kakaknya menjadi pengembara ini membuat ia bertekad untuk menjadi seorang wanita tangguh dengan mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan gurunya yang terakhir adalah Paman Pouw, pembantu setia kakaknya.

Keluarga kerajaan Liu-sung cerai berai dan iapun selalu mengikuti kakaknya merantau dan akhirnya menetap di daerah Kui-cu, di mana kakaknya mencoba untuk menghimpun kekuatan dan membangun pasukan dengan bantuan Pouw Cin. Iapun dengan penuh semangat hendak membantu kakaknya dan bertekad bahwa kalau kelak terjadi perang dalam usaha kakaknya merebut kembali tahta kerajaan, ia akan membantu dan kalau perlu siap mengorbankan nyawa untuk kebangkitan kerajaan Liu-sung.

Akan tetapi, apa yang dilakukan kakaknya terhadap Kwa Bun Hou merupakan tamparan besar baginya, tamparan yang membuat hatinya terasa sakit, yang menghimpit perasaannya dan menghancurkan semua kebanggaan hatinya terhadap kakaknya, bekas kaisar yang sedang berusaha untuk merampas kembali tahta kerajaan yang sudah hilang itu. Kakaknya melakukan hal-hal yang amat rendah, yang tidak pantas dilakukan searang raja yang besar!

Menyuguhkan selir sendiri kepada tamu! Hanya untuk merayu dan membujuk tamu agar suka membantunya. Bahkan, kalau yang dibujuk menolak untuk membantu, akan ditangkap, dibunuh! Betapa keji dan curangnya. Ia sama sekali tidak setuju, dan kenyataan itu membuat ia merasa berduka sekali. Kakaknya telah berubah. Dalam usahanya mengejar cita-cita, kakaknya telah tidak segan mempergunakan segala macam cara, yang kotor dan hina sekalipun. Dan ia tahu bahwa Pouw Cin sudah pasti tidak menyetujui tindakan kakaknya itu. Ia tahu benar betapa gagah dan jantan pembantu utama kakaknya yang juga menjadi gurunya itu. Ia merasa bersedih sekali, dan juga khawatir.

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Duka dan takut timbul dari pikiran yang mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan. Kalau kita membayangkan apa yang telah terjadi, apa yang telah lewat atau peristiwa masa lalu, membanding-bandingkan dan merasa betapa kita kehilangan, bahwa kita dirugikan, akan timbul duka, baik dari iba diri, kecewa atau kesepian. Demikian pula dengan rasa khawatir atau takut, selalu timbul kalau kita membayangkan masa depan, yang dihubungkan dengan saat ini, lalu kita merasa bahwa keadaan kita akan tidak enak, tidak baik atau merugikan dan membahayakan kita.

Tidak akan timbul duka dan takut kalau kita hidup saat demi saat, menganggap yang sudah terjadi itu wajar saja dan sesuatu yang sudah dikehendaki Tuhan, membiarkannya lalu seperti hembusan angin tanpa bekas, sebagai sesuatu yang sudah lewat dan sudah mati, kalau kita tidak membayangkan hal yang belum terjadi, menganggap bahwa masa depan hanya kelanjutan dari saat ini, masa depan adalah saat ini juga kalau saatnya tiba, maka tidak perlu dibayangkan. Yang ada hanya berikhtiar sebaik mungkin dalam kehidupan ini, dalam bekerja, dalam berhubungan dengan manusia lain, hubungan dengan masyarakat, dengan pemerintah.

Berikhtiar sebaik mungkin berarti bekerja sebaik mungkin, dengan didasari penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Tugas kita hanyalah mengerjakan segala pemberian Tuhan berupa seluruh anggauta badan termasuk hati akal pikiran, memanfaatkannya untuk hidup sebaik mungkin, dan dengan dasar penyerahan kepada Tuhan berarti bahwa apapun yang kita lakukan adalah suatu persembahan kepadaNya. Kalau sudah begini, penyerahan itu seperti menggerakkan kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita sehingga nafsu kita sendiri tidak akan merajalela memperhamba kita, sehingga apapun yang kita lakukan tentu baik dan benar, tidak menyeleweng!


"Nona Liu, selamat pagi."

Kiok Lan terkejut, sadar dari lamunannya, dan menoleh. Dilihatnya Suma Hok sudah nampak rapi sekali pagi itu, wajahnya yang tampan segar karena habis mandi, pakaiannya juga indah dan rambutnya disisir mengkilap dan digelung ke atas dengan rapi, diikat kain sutera biru. Pemuda ini memang tampan dan pesolek, dan wajahnya kini nampak berseri dengan senyum yang memikat.

"Ah, Suma-toako, selamat pagi. Pagi-pagi engkau sudah nampak rapi, hendak ke manakah?" tanya Kiok Lan yang juga dapat bersikap lincah dan gembira.

"Ah, tidak kemana-mana, nona. Sehabis mandi, aku melihat betapa indahnya taman ini di pagi yang cerah, maka aku memasukinya, dengan maksud mencari tempat sunyi untuk berlatih silat. Tidak tahu bahwa engkau berada di sini, nona. Maafkanlah kalau aku mengganggu."

"Pemuda yang mengagumkan ini selalu bersikap sopan,” pikir Kiok Lan. Dan mendengar bahwa Suma Hok hendak berlatih silat. Kiok Lan segera menjadi tertarik sekali. "Toako, kebetulan sekali kalau engkau hendak berlatih silat. Aku ingin sekali belajar silat darimu toako!"

"Aih, nona. Engkau sudah cukup lihai dengan ilmu silat yang kau kuasai, bagaimana aku berani mengajarmu?"

Kiok Lan cemberut, mengambil sikap seperti orang kecewa. "Hemm, engkau tidak mau mengajarkan silat padaku, toako? Agaknya engkau menganggap aku terlalu bodoh dan tidak berharga untuk menerima pelajaran silat darimu, ya?"

"Ah, sama sekali tidak, nona!” kata Suma Hok dengan melebarkan matanya, "Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir bahwa engkau akan kecewa, karena ilmu kepandaianku masih rendah..."

"Nah-nah... sekarang engkau merendahkan diri. Kaukira aku belum tahu? Ketika engkau mengalahkan Ngo-liong Sin-kai, aku sudah melihat betapa lihainya engkau! Bahkan aku merasa yakin bahwa guruku terakhir, yaitu Paman Pouw seniiri tidak akan menang melawanmu. Bagaimana, toako, engkau, masih tidak mau mengajarkan silat kepadaku?"

"Baiklah, nona. Aku akan mengajarkan apa yang aku bisa, akan tetapi dengan satu syarat bahwa aku tidak mau kauanggap sebagai guru, apalagi kalau engkau menyebut suhu kepadaku, aku tidak mau menerimanya!”

Kiok Lan tertawa dan Suma Hok terpesona. Dia seorang pemuda yang memiliki watak mata keranjang dan gila kecantikan wanita, maka tentu saja Kiok Lan yang lincah dan cantik jelita, juga memiliki pembawaan agung ini membuat dia mengilar. Akan tetapi dia memang pandai membawa diri dan berpura-pura alim.

"Hi-hik, engkau lucu, toako! Bagaimana mungkin aku menyebut suhu kepadamu? Usiamu hanya beberapa tahun saja lebih tua dariku. Bahkan kepada guruku terakhir, yaitu Paman Pouw Cin, aku menyebut paman, tidak memanggilnya suhu. Akupun enggan kalau harus menyebut suhu kepadamu!”

Suma Hok tertawa pula, memperlihatkan giginya yang dia tahu berbaris rapi dan putih terpelihara. "Sungguh aku merasa berbahagia sekali memperoleh seorang murid yang pandai, cerdik, dan cantik jelita seperimu nona." Sebelum gadis itu terkesan oleh pujaan atau rayuannya, dia cepat menyambung.

“Nah, sebaiknya kita mulai sekarang, nona. Pagi ini cuaca baik sekali untuk berlatih."

Kegembiraan karena akan dilatih silat oleh pemuda itu membuat Kiok Lan tidak begitu memperhatikan lagi rayuan tadi, dan iapun cepat mengajak Suma Hok ke belakang pondok di taman. Belakang pondok itu, di tempat terbuka memang disediakan untuk berlatih silat. Lantainya dari ubin batu lebar yang rata dan cukup luas. Suma Hok yang cerdik ingin mengambil keuntungan sebanyaknya dari kesempatan ini. Dia memang sudah mengambil keputusan untuk merayu gadis bekas puteri ini.

Kalau gadis ini sudah jatuh ke tangannya dan menjadi isterinya atau setidaknya menjadi tunangannya, maka barulah dia akan membantu perjuangan bekas kaisar kerajaan Liu-sung dengan sepenuh tenaga, bahkan akan membujuk ayahnya untuk membantu pula. Dan untuk dapat mencapai cita-citanya memperisteri bekas puteri ini, terlebih dahulu dia harus dapat menjatuhkan hati Kiok Lan! Oleh karena dia telah memperhitungkan segalanya dengan cepat, pemuda yang cerdik dan licik ini lalu berkata sambil tersenyum.

"Nona, karena engkau telah mempelajari banyak ilmu yang cukup tinggi, maka kiranya tidak perlu mempelajari ilmu silat baru dariku. Sebaiknya kalau aku mencoba memberi petunjuk kepadamu dalam ilmu silat yang sudah kaukuasai, menunjukkan kelemahan dan kekurangannya, dan menambah daya serangannya sehingga engkau akan memperoleh kemajuan cepat. Caranya adalah engkau berlatih silat denganku, engkau keluarkan jurus-jurus ilmu silatmu dan kalau aku melihat jurus yang lemah, akan kuberi petunjuk. Dengan demikian maka engkau akan cepat maju."

Kiok Lan mengangguk. "Rencanamu itu baik sekali, toako. Nah, mari kita mulai. Aku akan menyerangmu dengan ilmu silat yang paling kuandalkan."

"Baik, aku sudah siap. nona." kata pemuda itu. Dengan cara yang diambilnya itu, selain dia tidak perlu mengajarkan ilmu-ilmunya kepada gadis ini, juga dalam latihan bersama, dia akan mendapat, kesempatan lebih banyak untuk beradu lengan, untuk menyentuh gadis itu, dan berdekatan, juga untuk memamerkan kepandaiannya membuat gadis itu tidak berdaya. Diapun memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kaki kiri ditekuk di depan, kaki kanan di belakang, tangan kiri diangkat ke atas dan tangan kanan ditekuk di pinggang, mukanya menoleh ke kanan menghadap ke arah Kiok Lan.

"Toako, lihat seranganku! Haiiittt...!!"

Kiok Lan yang kini merasa gembira karena mendapat kesempatan berlatih silat dengan pemuda yang ia tahu amat lihai itu segera mengerahkan tenaganya. Cepat sekali tubuhnya bergerak ke depan dan ia sudah menyerang dengan totokan-totokan kilat yang bertubi-tubi ke arah berbagai jalan darah di bagian depan tubuh lawan.

"Bagus!” Suma Hok mengelak ke sana-sini, berloncatan dan kadang menangkis sambil mengamati gerakan gadis itu. Ketika melihat kesempatan, pada saat jari tangan kanan gadis itu menotok ke arah pundaknya, dia memutar tubuh ke kiri dan menangkap dengan tangan kanan pada pergelangan tangan Kiok Lan yang kanan, lalu tangan kirinya menotok pundak kiri gadis itu sambil memuntir lengan kanan Kiok Lan ke belakang.

Gadis itu sama sekali tidak berdaya, lengan kanannya terbekuk ke belakang dan kini lengan kiri Suma Hok melingkari lehernya dengan jari-jari tangan mengancam tenggorokannya! Tentu saja hanya sebentar Suma Hok menelikung gadis itu, lalu melepaskannya lagi.

"Nah, di sini engkau melakukan gerakan yang lemah, nona, sehingga engkau mudah dapat tertekan," kata Suma Hok, dengan lembut dan sopan dia memberi penjelasan, minta kepada gadis itu mengulang lagi serangannya yang tadi dan menjelaskan bagian mana yang lemah dan harus diadakan perbaikan.

Demikianlah, dengan cerdiknya Suma Hok memberi petunjuk dan dia mendapat banyak kesempatan untuk meringkus, merangkul dan memeluk tubuh gadis itu ketika menundukkannya, namun tidak membuat Kiok Lan merasa rikuh karena semua itu dilakukan Suma Hok untuk memberi petunjuk kepadanya.

Kedua orang muda ini sama sekali tidak tahu betapa sepasang mata mengamati mereka dari jauh, sepasang mata yang berkilat dan sepasang alis yang berkerut tanda bahwa si pemilik mata tidak berkenan hatinya melihat apa yang mereka lakukan itu.

Sejak pagi hari itu, hubungan antara Suma Hok dan Liu Kiok Lan menjadi semakin akrab. Kiok Lan merasa senang dan puas karena harus ia akui bahwa sejak ia diberi petunjuk oleh Suma Hok, ia memperoleh kemajuan pesat sekali. Iapun menjadi semakin tertarik dan kagum saja kepada pemuda itu. Suma Hok nampaknya memberi petunjuk dengan sungguh hati dan sikap pemuda itupun selalu sopan dan ramah, membuat gadis itu terpikat dan senang sekali. Apalagi ketika Suma Hok berjanji akan mengajarkan suatu cara menghimpun tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang istimewa untuk memperkuat tubuh, Kiok Lan menjadi semakin bersemangat.

"Latihan itu merupakan cara bersamadhi yang harus dilakukan dalam tempat tertutup dan tidak boleh kelihatan orang lain! Kurasa latihan itu dapat dilakukan di dalam pondok taman, nona. Dan untuk dapat melakukan latihan itu dengan baik, engkau harus minum ramuan obat dari keluarga Suma yang sengaja dibuat untuk melengkapi latihan itu."

"Ah, aku senang sekali, toako. Mari kita lakukan latihan itu, aku telah siap. Kapan kita melakukannya, Suma-toako?" tanya Kiok Lan penuh semangat.

Mereka baru habis berlatih dan beristirahat di belakang pondok. Kiok Lan menghapus keringatnya dengan saputangan, wajahnya yang berkeringat nampak kemerahan dan segar seperti buah tomat yang sedang ranum, matanya bersinar-sinar dan bibirnya yang merah basah itu tersenyum manis.

Suma Hok menelan ludah. "Secepatnya lebih baik, nona, akan tetapi aku khawatir kalau-kalau engkau akan berkeberatan dan terutama kalau-kalau Kongcu akan tidak mengijinkan latihan itu kaulakukan..."

"Eh, kenapa, toako? Koko sudah tahu, bahwa engkau memberi petunjuk ilmu silat kepadaku dan dia sama sekali tidak berkeberatan, bahkan ikut bergembira melihat kemajuanku. Kalau latihan itu untuk memperkuat sin-kang dalam tubuhku, kenapa dia tidak akan mengijinkan?" Sepasang mata yang bening itu mengamati wajah Suma Hok dengan penuh selidik.

"Begini, nona. Latihan sin-kang dari keluarga kami itu merupakan latihan rahasia yang tidak boleh dilihat atau diketahui orang lain. Dan si pelatih tidak akan berhasil tanpa bantuan seorang di antara kami yang telah ahli, dan dalam hal ini, nona harus kubantu kalau ingin berhasil. Dan latihan ini baru dapat dilakukan kalau matahari sudah tenggelam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk. Inilah yang membuat aku ragu apakah nona tidak akan berkeberatan, dan apakah Kongcu akan memberi ijin kalau nona berlatih sin-kang dalam pondok dengan kutemani selama semalam suntuk. Karena itu, lebih baik kalau engkau tidak berlatih sin-kang keluarga kami itu, nona."

Sepasang alis itu berkerut. Memang agak aneh cara latihan itu, pikirnya. Memang tentu saja kakaknya tidak akan mengijinkan kalau ia berlatih sin-kang berdua saja semalam suntuk dengan Suma Hok dalam tempat tertutup. Hal itu memang tidak semestinya dan tidak pantas. Akan tetapi, ia melihat kesungguhan dalam cara Suma Hok mengajarkan ilmu kepadanya. Selama ini, Suma Hok mengajar dengan sungguh hati dan tidak pernah pemuda itu memperlihatkan sikap atau melakukan perbuatan yang tidak sopan kepadanya. Ia percaya sepenuhnya kepada Suma Hok dan ia merasa yakin bahwa biarpun mereka berdua akan berlatih dalam pordok tertutup selama semalam suntuk, pasti pemuda itu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ia melihat betapa lihainya Suma Hok dan ia ingin sekali mendapatkan kekuatan sin-kang yang hebat.

"Jangan khawatir, toako. Kalau latihan itu hanya dilakukan dalam waktu semalam suntuk, aku akan dapat mengaturnya agar kita melakukan latihan itu tanpa diketahui oleh kakakku atau oleh siapapun juga."

Diam-diam Suma Hok merasa girang bukan main. Dia sudah melihat tanda-tanda bahwa gadis itu mulai tertarik dan percaya kepadanya dan sekali gadis itu menyerahkan diri, maka sudah dapat dipastikan bahwa mau atau tidak mau, bekas puteri istana ini akan menjadi isterinya! Bagaikan seekor laba-laba yang memasang jerat, dia telah melihat betapa kupu-kupu yang indah dan berdaging lunak itu sudah mulai mendekati jeratnya!

"Akan tetapi, bagaimana caranya, nona? Dan aku... sungguh aku merasa takut kalau-kalau kelak mendapat marah dari Kongcu."

"Jangan takut, aku yang tanggung kalau sampai koko mengetahui dan memarahimu, akan kukatakan bahwa aku yang menghendaki latihan itu, bukan engkau! Dan caranya mudah saja. Kita tentukan waktunya, kemudian setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, kita ketemu di pondok dan melakukan latihan itu sampai pagi. Mudah saja, bukan?"

"Tapi... tapi... benarkah engkau yang akan bertanggung jawab kalau sampai kakakmu mengetahui dan marah?"

"Tentu saja. Dan pula, kita berdua hanya akan berlatih sin-kang, tidak melakukan hal-hal yang melanggar garis kesopanan, andaikata ada yang mengetahui sekalipun, apa salahnya?"

Hemm, dia harus berhati-hati, pikir Suma Hok. Gadis ini ternyata lebih sukar ditundukkan dari pada yang dia kira. Kalau menghadapi gadis lain, tentu tidak sesukar itu dia menundukkannya, Liu Kiok Lan ini seorang gadis yang tegas, berani, memiliki harga diri yang tinggi. Seorang gadis seperti ini, walau misalnya sudah tertarik dan jatuh cinta padanya sekalipun, belum tentu akan suka menyerahkan diri begitu saja karena ia selalu menjunjung tiaggi adat istiadat dan kesusilaan, amat menghargai kehormatannya sebagai seorang bekas puteri istana. Buktinya, gadis itu begitu benci kepada Tiauw Sun Ong karena Tiauw Sun Ong pernah berjina dengan selir ayahnya, pada hal Tiauw Sun Ong adalah pamannya sendiri. Dia harus berhati-hati dan dia harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin agar tidak sampai gagal. Gagal menundukkan gadis ini berarti akan gagal semua cita-citanya.

Mereka lalu menentukan waktu untuk melaksanakan latihan itu. Suma Hok memilih waktu tiga malam lagi. Dia memperhitungkan bahwa malam itu cuaca akan gelap tanpa adanya bulan sedikitpun sehingga tentu malam itu keadaan di luar akan sunyi sekali. Kiok Lan menyetujui dan mereka berjanji akan saling bertemu di pondok itu yang oleh Kiok Lan akan dibiarkan tidak terkunci daun pintunya.

Tiga malam kemudian. Malam itu memang gelap seperti sudah diperhitungkan Suma Hok. Agaknya keadaan malam itu membantu rencana siasatnya. Selain tidak ada bulan, langit pun tertutup mendung sehingga bintang-bintangpun tidak nampak. Malam gelap pekat dan udara dingin, membuat orang segan untuk keluar pintu. Taman rumah besar bekas kaisar itupun sunyi sekali. Yang terdengar hanya bunyi kerik jangkerik dan belalang malam.

Karena sunyinya, tidak ada yang tahu bahwa kerik jangkerik itu sempat terhenti sejenak dua kali karena adanya orang yang lewat memasuki taman menuju ke pondok dalam waktu yang sebentar saja selisihnya, kemudian sekali lagi kerik jangkerik terganggu dan terhenti.

"Selamat malam, nona." kata Suma Hok dengan sikap hormat ketika dia melihat Kiok Lan memasuki pintu pondok. Dia sudah berada di situ lebih dahulu. Ruangan pondok itu cukup luas, dengan sebuah meja dan delapan buah kursi, juga sebuah dipan di sudut. Tidak banyak peabot di ruangan itu karena memang pondok itu dibuat hanya untuk istirahat bagi Siauw Tek dan keluarganya kalau siang terlampau terik.

Melihat pemuda yang menjadi guru tidak resmi itu sudah siap dan berada di situ, Kiok Lan tersenyum manis dan legalah hatinya. Hadirnya Suma Hok lebih dahulu di situ berarti bahwa suasana aman dan tidak ada seorangpun mengetahui rahasia mereka malam itu!

"Selamat malam, toako. Syukurlah, engkau sudah berada di sini. Nah, kita dapat segera mulai dengan latihan kita, toako."

Bagaimanapun juga, berada berdua saja dengan pemuda itu di dalam pondok yang hanya diterangi lampu gantung dari luar sehingga keadaan ruangan itu remang-remang, pada malam hari pula, mendatangkan perasaan rikuh di hatinya, maka ia pun hendak menutupi perasaan itu dengan cepat-cepat melaksanakan latihan yang dijanjikan Suma Hok kepadanya.

"Nanti dulu, nona. Seperti telah kukatakan, ilmu ini merupakan ilmu keluarga Suma, ilmu rahasia atau simpanan yang biasanya hanya diajarkan kepada anggauta keluarga turun temurun, dan yang melatih ilmu ini haruslah minum ramuan obat untuk penguatnya, kalau tidak, dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, untuk memenuhi syarat-syaratnya, nona harus berjanji dan mengakui keluarga seperti lajimnya, lalu minum ramuan obat yang sudah kupersiapkan."

"Baik, toako, aku sudah siap."

Dengan tenang Suma Hok lalu mengeluarkan sebuah guci, sebuah cawan dan sebungkus obat bubuk. Dia menuangkan isi guci yang menyiarkan bau anggur yang harum ke dalam cawan, kemudian memasukkan bubuk putih dari bungkusan.

"Nona, mari kita berlutut untuk mengucapkan janji seperti yang diharuskan bagi anggauta keluarga yang melatih ilmu ini.” Katanya dan dia sendiripun berlutut menghadap ke utara, arah Bukit Bayangan Setan tempat tinggal keluarga Suma. Kiok Lan dengan patuh mengikutinya dan berlutut di sampingnya.

"Nah, peganglah cawan ini dan tirukan ucapanku, nona." katanya. Kiok Lan menerima cawan itu dan sambil berlutut, ia menirukan ucapan Suma Hok.

"Saya Liu Kiok Lan, mengaku sebagai anggauta keluarga Suma, berjanji akan merahasiakan ilmu Lui-kong ciang (Tangan Halilintar) dan tidak mengajarkan kepada orang lain kecuali anggauta keluarga Suma. Bumi dan Langit menjadi saksi dan saya memperkuat janji ini dengan minum obat penguat dari keluarga Suma!" Lalu Suma Hok memberi isyarat kepada Kiok Lan untuk minum isi cawan sampai habis.

Kiok Lan meminumnya dengan taat. Anggur itu manis dan berbau harum bercampur bau yang aneh dan keras, membuat ia tersedak, akan tetapi isi cawan itu sudah habis diminumnya. Suma Hok menerima kembali cawan kosong dan berkata lembut.

"Engkau akan merasa pening sedikit, akan tetapi hanya sebentar. Duduklah di atas dipan itu, nona. Kalau peningmu sudah lenyap, bersilalah di atas dipan, menghadap ke dalam. Aku akan berdiri di tepi dipan dan mambantumu menghimpun sin-kang dari belakang. Sikapmu dalam samadhi harus seperti ini, dan pernapasan harus begini." Pemuda itu memberi petunjuk dan penjelasan.

Kiok Lan memperhatikan petunjuk itu dengan seksama, kemudian benar saja, ia merasa agak pening maka cepat ia bangkit dan menghampiri dipan, lalu duduk bersila di atas dipan, menghadap ke dalam. Ia masih mendengar betapa Suma Hok juga bangkit dan pemuda itu agaknya duduk di kursi.

Tak lama kemudian, pemuda itu bertanya, "Apakah peningnya sudah hilang, nona?"

"Sudah... toako... " kata Kiok Lan dan mendengar suara gadis itu berbisik dan tersendat, dengan napas memburu, Suma Hok tersenyum.

Obat itu sudah mulai memperlihatkan pengaruhnya! Dia tahu benar bahwa tidak lama lagi, paling lama sejam lagi, obat itu sudah mempengaruhi seluruh tubuh dan juga hati dan pikiran gadis itu, membuatnya seperti dibakar gairah berahi, dan dia boleh berbuat apa saja terhadap gadis itu yang tentu akan disambut dengan penuh semangat tanpa penolakan sedikitpun!

"Bagus!" katanya sambil menghampiri dipan, kemudian dengan lembut dia lalu menjulurkan kedua lengannya, dan kedua telapak tangannya dia tempelkan punggung Kiok Lan sambil berkata, "Sekarang, tariklah napas perlahan-lahan seperti kuterangkan tadi, dan terima saja penyaluran hawa dari kedua tanganku, biarkan berkumpul di dalam tan-tian (titik tiga inci di bawah pusar), lalu gerakkan kedua tangan seperti yang kuajarkan tadi, mulailah menghimpun tenaga sakti Lui-kong-ciang!”

Kiok Lan yang sudah tidak merasa pening kini merasa seperti dalam mimpi. Mula-mula tubuhnya seperti terbang atau terapung tanpa bobot dan rasanya nikmat bukan main, seperti diayun-ayun, kemudian ia merasa betapa dua telapak tangan yang menempel di punggungnya, mengeluarkan hawa yang hangat dan mendatangkan getaran yang menggetarkan seluruh tubuhnya, membuat ia merasa seperti digelitik dan mula-mula bulu tengkuknya meremang, lalu seluruh tubuh dan pikirannya mulai tidak karuan, tidak dapat dikendalikan. Sedikit demi sedikit, bagaikan api yang mulai membakar, ia merasakan suatu rangsmgan yang luar biasa, yang membuat ia merasa tubuhnya panas, makin lama semakin panas seperti dibakar.

"Auhhh... panas... panas... gerah..." ia mulai mengeluh, napasnya memburu dan suaranya seperti merintih.

Dan suara yang halus lembut itu terdengar dekat sekali dengan telinganya, berbisik lembut. Ia tidak ingat lagi suara siapa itu akan tetapi suara itu terdengar jelas dan halus, "Kalau panas dan gerah mengganggumu engkau boleh membuka pakaianmu, agar terasa nyaman, agar tidak mengganggu latihanmu..."

Kiok Lan menggeleng-geleng kepala. Nalurinya membantah dan berkeras tidak mau memenuhi keinginan hatinya yang timbul oleh bujukan itu, diperkuat oleh kegerahan yang membuat ia berkeringat. Akan tetapi karena tubuhnya seperti dibakar, akhirnya ia tidak tahan dan mulailah ia merenggut dan melepaskan pakaiannya bagian atas. Pada saat yang amat gawat itu. tiba-tiba daun jendela ruangan dalam pondok itu terbuka dan sesosok tubuh manusia meloncat masuk ke dalam.

"Keparat jahanam!" terdengar teriakan, “Nona Kiok Lan...!" Bayangan itu bukan lain adalah Pouw Cin.

Tentu saja Suma Hok terkejut bukan main dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang dan berjungkir balik. Melihat keadaan Kiok Lan yang tubuh bagian atasnya hampir telanjang dan yang bergoyang-goyang dan merintih-rintih, Pouw Cin yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga. Gadis itu terbius dan terangsang!

Cepat dia meloncat dekat dan begitu tangannya menotok tengkuk Kiok Lan. gadis itu mengeluh dan terguling jatuh roboh miring di atas dipan. Kemudian Pouw Cin membalikkan tubuh karena dia mendengar angin menyambar dahsyat. Dia cepat membuat gerakan menangkis, namun terlambat. Ketika dia tadi menotok tubuh Kiok Lan, tentu saja keadaannya dari belakang terbuka dan perhatiannya masih tercurah kepada Kiok Lan sehingga tangkisannya agak terlambat.

"Dukkk!!" Suling di tangan Suma Hok telah menotok dadanya, tepat di ulu hatinya.

"Hukkk...!!" Pouw Cin terjengkang, napasnya terasa sesak dan dadanya nyeri bukan main karena suling itu memang mengandung racun yang amat hebat. Suling itu yang membuat Suma Hok di dunia kaug-ouw dijuluki Tok-siauw-kwi (Suling Setan Kecil). Pouw Cin mengerahkan tenaganya bergulingan, lalu melompat berdiri, matanya terbelalak, mukanya pucat, tangannya menuding ke arah Suma Hok.

"Kau... kau...!"

Akan tetapi Suma Hok sudah menerjangnya lagi, menyerang dengan suling mautnya. Pouw Cin mencoba untuk melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena totokan pertama tadi telah membuat dia terluka berat, membuat napasnya sesak dan dadanya sakit sekali, perlawanannya tidak berarti bagi Suma Hok. Berulang kali ujung sulingnya menemui sasaran dan tubuh Pouw Cin kembali terjengkang atau terpelanting beberapa kali.

Akhirnya, sebuah hantaman suling yang mengenai kepalanya membuat Pouw Cin roboh dan tidak mampu bangkit kembali. Mukanya berubah kehitaman karena keracunan, dari mata, telinga, mulut dan hidungnya keluar darah. Akan tetapi matanya masih melotot memandang kepada Suma Hok, dan bibirnya masih bergerak-gerak,

"kau... kau... terkutuk kau..." dan diapun terkulai, seorang jenderal atau panglima besar yang amat setia kepada rajanya, menemui kematian secara menyedihkan sekali.

Sejenak Suma Hok berdiri, bergantian memandang ke arah mayat Pouw Cin yang menggeletak telentang di atas lantai, ke arah tubuh Kiok Lan yang rebah miring di atas dipan. Dia lalu mengganguk-angguk dan mulutnya tersenyum. Senyum iblis! Dia masih tersenyum ketika menghampiri dipan sambil kedua tangannya membuka kancing bajunya, matanya berkilat dan senyum di mulutnya semakin keji!

Menjelang pagi, gegerlah seluruh penghuni rumah besar milik bekas kaisar itu ketika Suma Hok berteriak-teriak, "Ada pembunuh...! Ada penjahat keji...!!”

Semua orang berdatangan, dan tak lama kemudian Siauw Tek sendiri muncul bersama beberapa orang yang bertugas menjadi pengawalnya. Mereka melihat Suma Hok berdiri didepan pondok dengan suling di tangan dan muka babak belur, pakaian robek-robek dan pemuda ini kelihatan kebingungan. Begitu melihat Siauw Tek, pemuda itu cepat maju dan berlutut di depan bekas kaisar itu.

"Ahh... Kongcu, celaka... sungguh celaka...!"

Ketika melihat para pengikut Siauw Tek hendak memasuki pondok, dia meloncat dan menghalangi mereka. "Jangan masuk! Tak seorangpun boleh masuk kecuali Kongcu!”

Ketika semua orang mundur, kembali Suma Hok menghampiri Siauw Tek dan dengan suara bercampur tangis dia berkata, "Kongcu malapetaka telah menimpa orang yang paling Kongcu percaya..."

"Suma toako, tenanglah dan ceritakan apa yang telah terjadi?" Siauw Tek memegang pundaknya dan mengguncangnya tidak sabar.

Guncangan ini agaknya membuat Suma Hok menjadi tenang. "Kongcu, harap perintahkan semua orang mundur, dan marilah kongcu bersama saya saja yang masuk melihat..."

Biarpun merasa heran. Siauw Tek memberi isarat kepada semua pembantunya untuk menjauh, kemudian diapun memasuki pondok bersama Suma Hok. Dan apa yang dilihatnya di ruangan itu, yang kini nampak jelas karena Suma Hok membawa lampu penerangan dari luar masuk, membuat bekas kaisar itu terbelalak dan hampir saja dia terhuyung jatuh. Suma Hok cepat memegang lengannya.

"Kuatkan hati paduka, Kongcu ... " katanya hormat, "dan sebaiknya tidak membuat ribut agar tidak semua orang mengetahui terjadinya aib ini, biar kita berdua saja yang mengetahuinya..."

Dengan bergantung kepada lengan Suma Hok, bekas kaisar itu terbelalak melihat pemandangan mengerikan di kamar itu. Pouw Cin menggeletak di lantai, tewas dengan mata melotot, dari telinga, mata, hidung dan mulut keluar darah! Dan yang lebih mengejutkan hatinya lagi, pakaian bekas panglimanya itu tidak karuan, celana turun dan dia hampir telanjang. Kemudian, ketika dia mengarahkan pandang matanya ke arah dipan, dia mengeluh. Adiknya, Liu Kiok Lan, dengan pakaian setengah telanjang pula, telentang di atas dipan dan sekilas pandang saja tahulah dia bahwa adiknya telah diperkosa orang dan kini dalam keadaan mati, pingsan atau tidur.

"Apa... apa yang telah terjadi... teriaknya lirih karena dia masih ingat untuk tidak membuat ribut.

"Nanti kuceritakan, Kongcu. Sekarang yang terpenting menolong Nona Liu. Kita harus membereskan letak pakaiannya agar tidak kelihatan orang lain sebelum ia sadar dari pingsannya."

"Ia... ia tidak mati...?”

"Tidak, Kongcu. Hanya pingsan, tidak berbahaya." kata Suma Hok dan dibantu oleh Siauw Tek, dia lalu membereskan pakaian di tubuh Liu Kiok Lan yang setengah telanjang itu.

Setelah pakaian gadis itu beres, Siauw Tek mengguncang-guncang pundak adiknya dan memanggil-manggil namanya. Suma Hok berpura-pura ikut menggugah, akan tetapi diam-diam dia menotok pungggung gadis itu dan Kiok Lan bergerak, sadar dan membuka matanya. Begitu melihat dirinya rebah di atas dipan dan di situ nampak kakaknya, ia bangkit duduk dan terkejut, memandang kepada Suma Hok.

"Koko...!" serunya bingung karena seingatnya, tadi ia melakukan latihan Lui-kongciang, dipimpin dan dibantu oleh Suma Hok lalu tiba-tiba jendela terbuka, Pouw Cin masuk dan iapun tidak ingat apa-apalagi. Dan kini tahu-tahu kakaknya telah berada di situ bersama Suma Hok.

"Tenanglah, adikku, tenanglah, jangan ribut agar orang-orang di luar tidak tahu apa yang telah terjadi. Jahanam busuk itu ...!" Dia menuding ke arah tubuh Pouw Cin. Kiok Lan yang masih agak nanar itu memandang dan iapun terbelalak.

"Dia... dia kenapa...?" Ia menoleh kepada Suma Hok. "Toako, apa yang telah terjadi? Kuingat tadi dia meloncat memasuki kamar dan sekarang... dia... dia mati...?”

Kiok Lan meloncat turun, akan tetapi tiba-tiba ia menahan jeritnya dan wajahnya menyeringai kesakitan. Ia merasa nyeri dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya!

"Ihhh... aku... kenapa...? Toako, apa yang telah terjadi?" tanyanya, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

"Benar, ceritakan, Suma-toako, apa yang telah terjadi tadi?" tanya pula Siauw Tek.

"Kongcu, nona, sebaiknya kalau kita suruh angkat dulu jenazah ini dan kita ceritakan bahwa dia tewas karena perbuatan mata-mata. Semua orang tahu bahwa Kwa Bun Houw mempunyai ilmu silat tinggi dan bahkan telah mengalahkan Paman Pouw, maka mereka tentu akan percaya kalau dikabarkan bahwa yang membunuhnya adalah Kwa Bun Huow, mata-mata kerajaan Chi. Dengan demikian, tidak akan terjadi banyak dugaan dan kecurigaan."

Kakak beradik itu hanya dapat mengangguk setuju, karena mereka masih terkejut dan tegang, apalagi Kiok Lan yang kenyerian itu kini pucat sekali dan dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal mengerikan pada dirinya!

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik. Dia sendiri lalu mengajak Siauw Tek dan Kiok Lan kembali ke dalam rumah. Di dalam ruangan sebelah dalam yang tertutup, di mana tidak ada orang lain dapat mendengarkan percakapan mereka, mereka bertiga duduk dan kakak beradik itu mendesak agar Suma Hok menceritakan apa yang telah terjadi.

Suma Hok memandang kepada Siauw Tek, lalu berkata dengan suara tenang. "Kongcu, sebelumnya saya harap Kongcu suka memaafkan saya dan juga Nona Liu Kiok Lan. Malam tadi. Nona Liu sedang berlatih semacam ilmu menghimpun tenaga sakti dari saya. Karena ilmu itu harus dilatih di waktu malam dan, tidak boleh dilihat orang lain, terpaksa kami melakukan di dalam pondok di taman itu. Selagi kami berlatih, tiba-tiba Paman Pouw Cin menerobos masuk melalui jendela. Dia menotok roboh Nona Liu dan saya demikian terkejut sehingga tidak dapat menjaga diri dan sayapun roboh tertotok dan tidak mampu bergerak sama sekali." Dia memandang kepada Kiok Lan yang matanya terbelalak. "Ketika itu, saya sedang menyalurkan tenaga sin-kang untuk membantu Nona Liu, maka tenaga saya tersalur dan tidak mampu menahan ketika Pouw Cin menyerang dan merobohkan saya dengan totokan."

Melihat Suma Hok berhenti bercerita dan kelihatan sedih dan bingung Kiok Lan yang sudah menduga hal terburuk menimpa dirinya, segera mendesaknya, "Lalu bagaimana, toako? Teruskan...!!"

Kembali Suma Hok nampak kebingungan, sebentar memandang kepada gadis itu, lalu kepada Siauw Tek, dan agaknya amat sukar baginya untuk bicara.

"Toako, ceritakan, apa yang selanjutnya terjadi?" Siauw Tek mendesak pula.

"Saya roboh tertotok, berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, akan tetapi tidak berhasil karena saya tertotok ketika tenaga saya tersalur. Kemudian... kemudian... si jahanam itu... saya hanya dapat melihat saja, tidak berdaya sehingga akhirnya saya tidak kuasa melihatnya lagi, saya memejamkan mata..."

"Apa yang dia lakukan? Cepat, jawab!"

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik. Kiok Lan membentak, mukanya sebentar merah, sebentar pucat,

"Dia menggunakan kesempatan selagi saya tidak berdaya, dan selagi engkau juga ditotoknya pingsan... dia... binatang itu telah melakukan hal keji terhadap dirimu nona...“

Kiok Lan menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis. "... jahanam busuk, keparat terkutuk...?” ia memaki-miki dan merintih-rintih, hatinya hancur lebur.

Kakaknya cepat bangkit dan merangkulnya, mencoba untuk menghiburnya. Namun sia-sia, Kiok Lan terus menangis tersedu-sedu. Dua orang laki-laki itu membiarkannya melepas kedukaannya melalui tangisnya dan setelah agak mereda. Siauw Tek bertanya kepada Suma Hok yang sejak tadi hanya menundukkan mukanya.

"Suma-toako, lalu apa yang terjadi? Bagaimana jahanam terkutuk itu dapat mampus?”

Mendengar pertanyaan kakaknya ini, biarpun masih terisak-isak, Kiok Lan ikut mendengarkan.

"Saya berusaha keras untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, Kongcu. Akan tetapi memang totokan itu kuat sekali sehingga saya tidak mampu menolong Nona Liu. Kemudian, jahanam busuk itu mengakhiri perbuatannya yang terkutuk dan agaknya hendak membunuh saya agar rahasianya tidak sampai bocor. Akan tetapi, tepat pada saat dia hendak membunuh saya dengan totokan maut, saya dapat terbebas dari pengaruh totokan. Cepat saya lalu mencabut suling dan menyerangnya. Kami berkelahi dan akhirnya saya dapat merobohkan dan menewaskan manusia berwatak iblis itu."

Kiok Lan mengeluarkan suara mengeluh, dan gadis ini lalu bangkit dan sambil menutupi muka dengan kedua tangan, iapun berlari keluar dari ruangan itu.

"Siauw-moi...!!" kakaknya berseru memanggil dan mengejar.

Akan tetapi gadis itu memasuki kamarnya sendiri dan menutupkan, daun pintu, memalangnya dari dalam sehingga tidak ada orang lain dapat memasukinya.

"Kongcu, saya kira lebih baik kalau sementara ini kita biarkan saja Nona Liu melepaskan kedukaan dan kekagetannya seorang diri saja dalam kamarnya." kata Suma Hok yang ikut pula mengejar dan kini menyentuh lengan bekas kaisar itu.

Siauw Tek menarik napas panjang, lalu mengeluh. "Ahh, nasib... kenapa begini buruk nasib kami sekeluarga? Aih, aku dapat membayangkan betapa hancurnya hati adikku. Kini ia ternoda, lalu bagaimana nanti masa depannya? Aihhhh...!" Kembali bekas kaisar itu mengeluh panjang dan wajahnya nampak bersedih sekali.

"Semua itu telah terjadi, Kongcu, tidak cukup hanya untuk disedihkan saja." Suma Hok menghibur. Mereka berjalan kembali memasuki ruangan yang tadi. Siauw Tek menutupkan daun pintu dan kini mereka berdua bercakap-cakap tanpa diketahui orang lain.

"Aih, Suma-toako, bagaimana aku tidak akan bersedih? Tanpa kusangka, malapetaka hebat menimpa diri kami. Adikku menderita aib, diperkosa orang, dan pembantuku yang paling baik, ternyata seorang jahanam dan kini telah tewas! Adikku kehilangan kebahagiaan dan aku kehilangan pembantu yang setia.”

"Kongcu, memang sudah sepantasnya kalau Kongcu bersedih, akan tetapi terlalu bersedih tidak ada gunanya, bahkan kalau berlarut-larut amat tidak baik, merugikan diri sendiri. Kongcu kehilangan pembantu utama, akan tetapi saya siap untuk membantu Kongcu dengan kesetiaan yang tidak kalah besar, dan saya rela mengorbankan jiwa raga untuk membantu Kongcu sampai tercapai cita-cita Kongcu menumbangkan kerajaan Chi dan membangun kembali kerajaan Liu-sung!"

Wajah Siauw Tek yang tadinya muram itu kini agak berseri dan dia menatap tajam wajah Suma Hok. "Terima kasih, Suma-toako. Agak terhibur hatiku dengan kesediaanmu ini. Apalagi kalau kelak ayahmu suka pula untuk bekerja sama. Akan tetapi, ahhh... hatiku tak mungkin dapat melupakan nasib yang menimpa adikku! Bagaimana aku tidak akan bersedih?"

"Kongcu, kita sebagai laki-laki harus mampu bersikap tenang menghadapi segala peristiwa dan mencari jalan keluarnya, memang sudah menjadi kenyataan, walaupun hanya kita bertiga yang mengetahuinya, bahwa Nona Liu tertimpa aib yang akan menghancurkan masa depannya, akan tetapi hal itupun kiranya masih dapat ditemukan jalan keluarnya."

Bekas kaisar itu memandang Suma Hok dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. "Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat dicari jalan keluarnya, toako?"

"Kongcu, kalau Nona Liu menikah, tentu aib itu akan lenyap."

"Menikah? Toako, bagaimana kau dapat berkata demikian? Justeru di situlah letak persoalannya. Adikku, juga aku, tentu akan menderita malu besar kalau ia menikah kemudian suaminya tahu..."

"Toako, tidak akan ada keributan, tidak akan ada rasa malu kalau calon suami Nona Liu sudah mengetahui akan aib itu dan suka menerima kenyataan yang ada,"

"Hemm, siapa yang akan mau? pria mana. yang akan suka berkorban seperti itu, menikahi seorang gaiis yang sudah..."

"Saya mau, Kongcu."

"Engkau...?!” Bekas kaisar itu memandang heran, akan tetapi ada sinar harapan terkandung dalam pandang matanya. "Engkau, toako? Tapi... engkau sendiri tahu, bahkan menjadi saksi tunggal..."

"Toako, saya merasa kasihan sekali kepada Kongcu, juga kepada Nona Liu. Oleh karena itu, saya bersedia untuk menutupi aib itu, dengan segala kerendahan hati, dengan suka rela. tentu saja kalau Nona Liu sudi menerima saya dan kalau paduka menyetujui..."

"Aku? Tentu saja aku setuju sepenuhnya, bahkan aku akan berterima kasih sekali kepadamu, toako! Dan tentang adikku, bagaimana mungkin ia akan menolak? Pengorbananmu ini akan menolongnya, melepaskannya dari aib dan mendatangkan sinar terang yang baru bagi masa depannya. Aku akan segera menyampaikan kepadanya, toako, agar terhibur hatinya dan tidak menjadi putus asa."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekala Siauw Tek sudah menemui adiknya di dalam kamar adiknya. Karena sudah agak reda, tangisnya, Liu Kok Lian membukakan pintu kamarnya dan begitu kakaknya memasuki kamar. ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw Tek, merangkul kedua kaki bekas kaisar itu dan menangis...

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 07

PAGI yang cerah dan indah sekali, apalagi di dalam taman yang terpelihara baik-baik dan penuh dengan bermacam bunga itu. Musim semi telah berumur sebulan lebih, telah memberi waktu cukup bagi para tanaman untuk mengembangkan bunga-bunga yang indah dan harum. Kupu-kupu ikut bergembira ria, beterbangan di antara bunga-bunga indah. Mereka hinggap dari satu ke lain bunga, dengan rajin mencari dan menghisap madu yang manis dan wangi.

Kiok Lan duduk termenung seorang diri di dalam taman, duduk di atas bangku panjang dekat kolam ikan emas. Ia baru saja memberi makan ikan emas dan kini ia melihat ikan yang berenang memperebutkan makanan, kemudian termenung, tenggelam dalam lamunan. Ia telah mengkhianati kakaknya sendiri! Ia telah membebaskan orang yang akan ditawan oleh kakaknya.

Lamunan membawanya kepada masa lampau, sejak lima tahun yang lalu ia ikut kakaknya melarikan diri dari kota raja Nan-king karena kerajaan kakaknya, yaitu dinasti Liu-sung, diserbu dan dikalahkan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi Kaisar Siauw Bian Ong dan mendirikan kerajaan baru, yaitu dinasti Chi. Ketika itu, ia baru berusia dua belas tahun. Kehancuran kekuasaan kakaknya yang membuat kakaknya menjadi pengembara ini membuat ia bertekad untuk menjadi seorang wanita tangguh dengan mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan gurunya yang terakhir adalah Paman Pouw, pembantu setia kakaknya.

Keluarga kerajaan Liu-sung cerai berai dan iapun selalu mengikuti kakaknya merantau dan akhirnya menetap di daerah Kui-cu, di mana kakaknya mencoba untuk menghimpun kekuatan dan membangun pasukan dengan bantuan Pouw Cin. Iapun dengan penuh semangat hendak membantu kakaknya dan bertekad bahwa kalau kelak terjadi perang dalam usaha kakaknya merebut kembali tahta kerajaan, ia akan membantu dan kalau perlu siap mengorbankan nyawa untuk kebangkitan kerajaan Liu-sung.

Akan tetapi, apa yang dilakukan kakaknya terhadap Kwa Bun Hou merupakan tamparan besar baginya, tamparan yang membuat hatinya terasa sakit, yang menghimpit perasaannya dan menghancurkan semua kebanggaan hatinya terhadap kakaknya, bekas kaisar yang sedang berusaha untuk merampas kembali tahta kerajaan yang sudah hilang itu. Kakaknya melakukan hal-hal yang amat rendah, yang tidak pantas dilakukan searang raja yang besar!

Menyuguhkan selir sendiri kepada tamu! Hanya untuk merayu dan membujuk tamu agar suka membantunya. Bahkan, kalau yang dibujuk menolak untuk membantu, akan ditangkap, dibunuh! Betapa keji dan curangnya. Ia sama sekali tidak setuju, dan kenyataan itu membuat ia merasa berduka sekali. Kakaknya telah berubah. Dalam usahanya mengejar cita-cita, kakaknya telah tidak segan mempergunakan segala macam cara, yang kotor dan hina sekalipun. Dan ia tahu bahwa Pouw Cin sudah pasti tidak menyetujui tindakan kakaknya itu. Ia tahu benar betapa gagah dan jantan pembantu utama kakaknya yang juga menjadi gurunya itu. Ia merasa bersedih sekali, dan juga khawatir.

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Duka dan takut timbul dari pikiran yang mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan. Kalau kita membayangkan apa yang telah terjadi, apa yang telah lewat atau peristiwa masa lalu, membanding-bandingkan dan merasa betapa kita kehilangan, bahwa kita dirugikan, akan timbul duka, baik dari iba diri, kecewa atau kesepian. Demikian pula dengan rasa khawatir atau takut, selalu timbul kalau kita membayangkan masa depan, yang dihubungkan dengan saat ini, lalu kita merasa bahwa keadaan kita akan tidak enak, tidak baik atau merugikan dan membahayakan kita.

Tidak akan timbul duka dan takut kalau kita hidup saat demi saat, menganggap yang sudah terjadi itu wajar saja dan sesuatu yang sudah dikehendaki Tuhan, membiarkannya lalu seperti hembusan angin tanpa bekas, sebagai sesuatu yang sudah lewat dan sudah mati, kalau kita tidak membayangkan hal yang belum terjadi, menganggap bahwa masa depan hanya kelanjutan dari saat ini, masa depan adalah saat ini juga kalau saatnya tiba, maka tidak perlu dibayangkan. Yang ada hanya berikhtiar sebaik mungkin dalam kehidupan ini, dalam bekerja, dalam berhubungan dengan manusia lain, hubungan dengan masyarakat, dengan pemerintah.

Berikhtiar sebaik mungkin berarti bekerja sebaik mungkin, dengan didasari penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Tugas kita hanyalah mengerjakan segala pemberian Tuhan berupa seluruh anggauta badan termasuk hati akal pikiran, memanfaatkannya untuk hidup sebaik mungkin, dan dengan dasar penyerahan kepada Tuhan berarti bahwa apapun yang kita lakukan adalah suatu persembahan kepadaNya. Kalau sudah begini, penyerahan itu seperti menggerakkan kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita sehingga nafsu kita sendiri tidak akan merajalela memperhamba kita, sehingga apapun yang kita lakukan tentu baik dan benar, tidak menyeleweng!


"Nona Liu, selamat pagi."

Kiok Lan terkejut, sadar dari lamunannya, dan menoleh. Dilihatnya Suma Hok sudah nampak rapi sekali pagi itu, wajahnya yang tampan segar karena habis mandi, pakaiannya juga indah dan rambutnya disisir mengkilap dan digelung ke atas dengan rapi, diikat kain sutera biru. Pemuda ini memang tampan dan pesolek, dan wajahnya kini nampak berseri dengan senyum yang memikat.

"Ah, Suma-toako, selamat pagi. Pagi-pagi engkau sudah nampak rapi, hendak ke manakah?" tanya Kiok Lan yang juga dapat bersikap lincah dan gembira.

"Ah, tidak kemana-mana, nona. Sehabis mandi, aku melihat betapa indahnya taman ini di pagi yang cerah, maka aku memasukinya, dengan maksud mencari tempat sunyi untuk berlatih silat. Tidak tahu bahwa engkau berada di sini, nona. Maafkanlah kalau aku mengganggu."

"Pemuda yang mengagumkan ini selalu bersikap sopan,” pikir Kiok Lan. Dan mendengar bahwa Suma Hok hendak berlatih silat. Kiok Lan segera menjadi tertarik sekali. "Toako, kebetulan sekali kalau engkau hendak berlatih silat. Aku ingin sekali belajar silat darimu toako!"

"Aih, nona. Engkau sudah cukup lihai dengan ilmu silat yang kau kuasai, bagaimana aku berani mengajarmu?"

Kiok Lan cemberut, mengambil sikap seperti orang kecewa. "Hemm, engkau tidak mau mengajarkan silat padaku, toako? Agaknya engkau menganggap aku terlalu bodoh dan tidak berharga untuk menerima pelajaran silat darimu, ya?"

"Ah, sama sekali tidak, nona!” kata Suma Hok dengan melebarkan matanya, "Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir bahwa engkau akan kecewa, karena ilmu kepandaianku masih rendah..."

"Nah-nah... sekarang engkau merendahkan diri. Kaukira aku belum tahu? Ketika engkau mengalahkan Ngo-liong Sin-kai, aku sudah melihat betapa lihainya engkau! Bahkan aku merasa yakin bahwa guruku terakhir, yaitu Paman Pouw seniiri tidak akan menang melawanmu. Bagaimana, toako, engkau, masih tidak mau mengajarkan silat kepadaku?"

"Baiklah, nona. Aku akan mengajarkan apa yang aku bisa, akan tetapi dengan satu syarat bahwa aku tidak mau kauanggap sebagai guru, apalagi kalau engkau menyebut suhu kepadaku, aku tidak mau menerimanya!”

Kiok Lan tertawa dan Suma Hok terpesona. Dia seorang pemuda yang memiliki watak mata keranjang dan gila kecantikan wanita, maka tentu saja Kiok Lan yang lincah dan cantik jelita, juga memiliki pembawaan agung ini membuat dia mengilar. Akan tetapi dia memang pandai membawa diri dan berpura-pura alim.

"Hi-hik, engkau lucu, toako! Bagaimana mungkin aku menyebut suhu kepadamu? Usiamu hanya beberapa tahun saja lebih tua dariku. Bahkan kepada guruku terakhir, yaitu Paman Pouw Cin, aku menyebut paman, tidak memanggilnya suhu. Akupun enggan kalau harus menyebut suhu kepadamu!”

Suma Hok tertawa pula, memperlihatkan giginya yang dia tahu berbaris rapi dan putih terpelihara. "Sungguh aku merasa berbahagia sekali memperoleh seorang murid yang pandai, cerdik, dan cantik jelita seperimu nona." Sebelum gadis itu terkesan oleh pujaan atau rayuannya, dia cepat menyambung.

“Nah, sebaiknya kita mulai sekarang, nona. Pagi ini cuaca baik sekali untuk berlatih."

Kegembiraan karena akan dilatih silat oleh pemuda itu membuat Kiok Lan tidak begitu memperhatikan lagi rayuan tadi, dan iapun cepat mengajak Suma Hok ke belakang pondok di taman. Belakang pondok itu, di tempat terbuka memang disediakan untuk berlatih silat. Lantainya dari ubin batu lebar yang rata dan cukup luas. Suma Hok yang cerdik ingin mengambil keuntungan sebanyaknya dari kesempatan ini. Dia memang sudah mengambil keputusan untuk merayu gadis bekas puteri ini.

Kalau gadis ini sudah jatuh ke tangannya dan menjadi isterinya atau setidaknya menjadi tunangannya, maka barulah dia akan membantu perjuangan bekas kaisar kerajaan Liu-sung dengan sepenuh tenaga, bahkan akan membujuk ayahnya untuk membantu pula. Dan untuk dapat mencapai cita-citanya memperisteri bekas puteri ini, terlebih dahulu dia harus dapat menjatuhkan hati Kiok Lan! Oleh karena dia telah memperhitungkan segalanya dengan cepat, pemuda yang cerdik dan licik ini lalu berkata sambil tersenyum.

"Nona, karena engkau telah mempelajari banyak ilmu yang cukup tinggi, maka kiranya tidak perlu mempelajari ilmu silat baru dariku. Sebaiknya kalau aku mencoba memberi petunjuk kepadamu dalam ilmu silat yang sudah kaukuasai, menunjukkan kelemahan dan kekurangannya, dan menambah daya serangannya sehingga engkau akan memperoleh kemajuan cepat. Caranya adalah engkau berlatih silat denganku, engkau keluarkan jurus-jurus ilmu silatmu dan kalau aku melihat jurus yang lemah, akan kuberi petunjuk. Dengan demikian maka engkau akan cepat maju."

Kiok Lan mengangguk. "Rencanamu itu baik sekali, toako. Nah, mari kita mulai. Aku akan menyerangmu dengan ilmu silat yang paling kuandalkan."

"Baik, aku sudah siap. nona." kata pemuda itu. Dengan cara yang diambilnya itu, selain dia tidak perlu mengajarkan ilmu-ilmunya kepada gadis ini, juga dalam latihan bersama, dia akan mendapat, kesempatan lebih banyak untuk beradu lengan, untuk menyentuh gadis itu, dan berdekatan, juga untuk memamerkan kepandaiannya membuat gadis itu tidak berdaya. Diapun memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kaki kiri ditekuk di depan, kaki kanan di belakang, tangan kiri diangkat ke atas dan tangan kanan ditekuk di pinggang, mukanya menoleh ke kanan menghadap ke arah Kiok Lan.

"Toako, lihat seranganku! Haiiittt...!!"

Kiok Lan yang kini merasa gembira karena mendapat kesempatan berlatih silat dengan pemuda yang ia tahu amat lihai itu segera mengerahkan tenaganya. Cepat sekali tubuhnya bergerak ke depan dan ia sudah menyerang dengan totokan-totokan kilat yang bertubi-tubi ke arah berbagai jalan darah di bagian depan tubuh lawan.

"Bagus!” Suma Hok mengelak ke sana-sini, berloncatan dan kadang menangkis sambil mengamati gerakan gadis itu. Ketika melihat kesempatan, pada saat jari tangan kanan gadis itu menotok ke arah pundaknya, dia memutar tubuh ke kiri dan menangkap dengan tangan kanan pada pergelangan tangan Kiok Lan yang kanan, lalu tangan kirinya menotok pundak kiri gadis itu sambil memuntir lengan kanan Kiok Lan ke belakang.

Gadis itu sama sekali tidak berdaya, lengan kanannya terbekuk ke belakang dan kini lengan kiri Suma Hok melingkari lehernya dengan jari-jari tangan mengancam tenggorokannya! Tentu saja hanya sebentar Suma Hok menelikung gadis itu, lalu melepaskannya lagi.

"Nah, di sini engkau melakukan gerakan yang lemah, nona, sehingga engkau mudah dapat tertekan," kata Suma Hok, dengan lembut dan sopan dia memberi penjelasan, minta kepada gadis itu mengulang lagi serangannya yang tadi dan menjelaskan bagian mana yang lemah dan harus diadakan perbaikan.

Demikianlah, dengan cerdiknya Suma Hok memberi petunjuk dan dia mendapat banyak kesempatan untuk meringkus, merangkul dan memeluk tubuh gadis itu ketika menundukkannya, namun tidak membuat Kiok Lan merasa rikuh karena semua itu dilakukan Suma Hok untuk memberi petunjuk kepadanya.

Kedua orang muda ini sama sekali tidak tahu betapa sepasang mata mengamati mereka dari jauh, sepasang mata yang berkilat dan sepasang alis yang berkerut tanda bahwa si pemilik mata tidak berkenan hatinya melihat apa yang mereka lakukan itu.

Sejak pagi hari itu, hubungan antara Suma Hok dan Liu Kiok Lan menjadi semakin akrab. Kiok Lan merasa senang dan puas karena harus ia akui bahwa sejak ia diberi petunjuk oleh Suma Hok, ia memperoleh kemajuan pesat sekali. Iapun menjadi semakin tertarik dan kagum saja kepada pemuda itu. Suma Hok nampaknya memberi petunjuk dengan sungguh hati dan sikap pemuda itupun selalu sopan dan ramah, membuat gadis itu terpikat dan senang sekali. Apalagi ketika Suma Hok berjanji akan mengajarkan suatu cara menghimpun tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang istimewa untuk memperkuat tubuh, Kiok Lan menjadi semakin bersemangat.

"Latihan itu merupakan cara bersamadhi yang harus dilakukan dalam tempat tertutup dan tidak boleh kelihatan orang lain! Kurasa latihan itu dapat dilakukan di dalam pondok taman, nona. Dan untuk dapat melakukan latihan itu dengan baik, engkau harus minum ramuan obat dari keluarga Suma yang sengaja dibuat untuk melengkapi latihan itu."

"Ah, aku senang sekali, toako. Mari kita lakukan latihan itu, aku telah siap. Kapan kita melakukannya, Suma-toako?" tanya Kiok Lan penuh semangat.

Mereka baru habis berlatih dan beristirahat di belakang pondok. Kiok Lan menghapus keringatnya dengan saputangan, wajahnya yang berkeringat nampak kemerahan dan segar seperti buah tomat yang sedang ranum, matanya bersinar-sinar dan bibirnya yang merah basah itu tersenyum manis.

Suma Hok menelan ludah. "Secepatnya lebih baik, nona, akan tetapi aku khawatir kalau-kalau engkau akan berkeberatan dan terutama kalau-kalau Kongcu akan tidak mengijinkan latihan itu kaulakukan..."

"Eh, kenapa, toako? Koko sudah tahu, bahwa engkau memberi petunjuk ilmu silat kepadaku dan dia sama sekali tidak berkeberatan, bahkan ikut bergembira melihat kemajuanku. Kalau latihan itu untuk memperkuat sin-kang dalam tubuhku, kenapa dia tidak akan mengijinkan?" Sepasang mata yang bening itu mengamati wajah Suma Hok dengan penuh selidik.

"Begini, nona. Latihan sin-kang dari keluarga kami itu merupakan latihan rahasia yang tidak boleh dilihat atau diketahui orang lain. Dan si pelatih tidak akan berhasil tanpa bantuan seorang di antara kami yang telah ahli, dan dalam hal ini, nona harus kubantu kalau ingin berhasil. Dan latihan ini baru dapat dilakukan kalau matahari sudah tenggelam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk. Inilah yang membuat aku ragu apakah nona tidak akan berkeberatan, dan apakah Kongcu akan memberi ijin kalau nona berlatih sin-kang dalam pondok dengan kutemani selama semalam suntuk. Karena itu, lebih baik kalau engkau tidak berlatih sin-kang keluarga kami itu, nona."

Sepasang alis itu berkerut. Memang agak aneh cara latihan itu, pikirnya. Memang tentu saja kakaknya tidak akan mengijinkan kalau ia berlatih sin-kang berdua saja semalam suntuk dengan Suma Hok dalam tempat tertutup. Hal itu memang tidak semestinya dan tidak pantas. Akan tetapi, ia melihat kesungguhan dalam cara Suma Hok mengajarkan ilmu kepadanya. Selama ini, Suma Hok mengajar dengan sungguh hati dan tidak pernah pemuda itu memperlihatkan sikap atau melakukan perbuatan yang tidak sopan kepadanya. Ia percaya sepenuhnya kepada Suma Hok dan ia merasa yakin bahwa biarpun mereka berdua akan berlatih dalam pordok tertutup selama semalam suntuk, pasti pemuda itu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ia melihat betapa lihainya Suma Hok dan ia ingin sekali mendapatkan kekuatan sin-kang yang hebat.

"Jangan khawatir, toako. Kalau latihan itu hanya dilakukan dalam waktu semalam suntuk, aku akan dapat mengaturnya agar kita melakukan latihan itu tanpa diketahui oleh kakakku atau oleh siapapun juga."

Diam-diam Suma Hok merasa girang bukan main. Dia sudah melihat tanda-tanda bahwa gadis itu mulai tertarik dan percaya kepadanya dan sekali gadis itu menyerahkan diri, maka sudah dapat dipastikan bahwa mau atau tidak mau, bekas puteri istana ini akan menjadi isterinya! Bagaikan seekor laba-laba yang memasang jerat, dia telah melihat betapa kupu-kupu yang indah dan berdaging lunak itu sudah mulai mendekati jeratnya!

"Akan tetapi, bagaimana caranya, nona? Dan aku... sungguh aku merasa takut kalau-kalau kelak mendapat marah dari Kongcu."

"Jangan takut, aku yang tanggung kalau sampai koko mengetahui dan memarahimu, akan kukatakan bahwa aku yang menghendaki latihan itu, bukan engkau! Dan caranya mudah saja. Kita tentukan waktunya, kemudian setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, kita ketemu di pondok dan melakukan latihan itu sampai pagi. Mudah saja, bukan?"

"Tapi... tapi... benarkah engkau yang akan bertanggung jawab kalau sampai kakakmu mengetahui dan marah?"

"Tentu saja. Dan pula, kita berdua hanya akan berlatih sin-kang, tidak melakukan hal-hal yang melanggar garis kesopanan, andaikata ada yang mengetahui sekalipun, apa salahnya?"

Hemm, dia harus berhati-hati, pikir Suma Hok. Gadis ini ternyata lebih sukar ditundukkan dari pada yang dia kira. Kalau menghadapi gadis lain, tentu tidak sesukar itu dia menundukkannya, Liu Kiok Lan ini seorang gadis yang tegas, berani, memiliki harga diri yang tinggi. Seorang gadis seperti ini, walau misalnya sudah tertarik dan jatuh cinta padanya sekalipun, belum tentu akan suka menyerahkan diri begitu saja karena ia selalu menjunjung tiaggi adat istiadat dan kesusilaan, amat menghargai kehormatannya sebagai seorang bekas puteri istana. Buktinya, gadis itu begitu benci kepada Tiauw Sun Ong karena Tiauw Sun Ong pernah berjina dengan selir ayahnya, pada hal Tiauw Sun Ong adalah pamannya sendiri. Dia harus berhati-hati dan dia harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin agar tidak sampai gagal. Gagal menundukkan gadis ini berarti akan gagal semua cita-citanya.

Mereka lalu menentukan waktu untuk melaksanakan latihan itu. Suma Hok memilih waktu tiga malam lagi. Dia memperhitungkan bahwa malam itu cuaca akan gelap tanpa adanya bulan sedikitpun sehingga tentu malam itu keadaan di luar akan sunyi sekali. Kiok Lan menyetujui dan mereka berjanji akan saling bertemu di pondok itu yang oleh Kiok Lan akan dibiarkan tidak terkunci daun pintunya.

Tiga malam kemudian. Malam itu memang gelap seperti sudah diperhitungkan Suma Hok. Agaknya keadaan malam itu membantu rencana siasatnya. Selain tidak ada bulan, langit pun tertutup mendung sehingga bintang-bintangpun tidak nampak. Malam gelap pekat dan udara dingin, membuat orang segan untuk keluar pintu. Taman rumah besar bekas kaisar itupun sunyi sekali. Yang terdengar hanya bunyi kerik jangkerik dan belalang malam.

Karena sunyinya, tidak ada yang tahu bahwa kerik jangkerik itu sempat terhenti sejenak dua kali karena adanya orang yang lewat memasuki taman menuju ke pondok dalam waktu yang sebentar saja selisihnya, kemudian sekali lagi kerik jangkerik terganggu dan terhenti.

"Selamat malam, nona." kata Suma Hok dengan sikap hormat ketika dia melihat Kiok Lan memasuki pintu pondok. Dia sudah berada di situ lebih dahulu. Ruangan pondok itu cukup luas, dengan sebuah meja dan delapan buah kursi, juga sebuah dipan di sudut. Tidak banyak peabot di ruangan itu karena memang pondok itu dibuat hanya untuk istirahat bagi Siauw Tek dan keluarganya kalau siang terlampau terik.

Melihat pemuda yang menjadi guru tidak resmi itu sudah siap dan berada di situ, Kiok Lan tersenyum manis dan legalah hatinya. Hadirnya Suma Hok lebih dahulu di situ berarti bahwa suasana aman dan tidak ada seorangpun mengetahui rahasia mereka malam itu!

"Selamat malam, toako. Syukurlah, engkau sudah berada di sini. Nah, kita dapat segera mulai dengan latihan kita, toako."

Bagaimanapun juga, berada berdua saja dengan pemuda itu di dalam pondok yang hanya diterangi lampu gantung dari luar sehingga keadaan ruangan itu remang-remang, pada malam hari pula, mendatangkan perasaan rikuh di hatinya, maka ia pun hendak menutupi perasaan itu dengan cepat-cepat melaksanakan latihan yang dijanjikan Suma Hok kepadanya.

"Nanti dulu, nona. Seperti telah kukatakan, ilmu ini merupakan ilmu keluarga Suma, ilmu rahasia atau simpanan yang biasanya hanya diajarkan kepada anggauta keluarga turun temurun, dan yang melatih ilmu ini haruslah minum ramuan obat untuk penguatnya, kalau tidak, dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, untuk memenuhi syarat-syaratnya, nona harus berjanji dan mengakui keluarga seperti lajimnya, lalu minum ramuan obat yang sudah kupersiapkan."

"Baik, toako, aku sudah siap."

Dengan tenang Suma Hok lalu mengeluarkan sebuah guci, sebuah cawan dan sebungkus obat bubuk. Dia menuangkan isi guci yang menyiarkan bau anggur yang harum ke dalam cawan, kemudian memasukkan bubuk putih dari bungkusan.

"Nona, mari kita berlutut untuk mengucapkan janji seperti yang diharuskan bagi anggauta keluarga yang melatih ilmu ini.” Katanya dan dia sendiripun berlutut menghadap ke utara, arah Bukit Bayangan Setan tempat tinggal keluarga Suma. Kiok Lan dengan patuh mengikutinya dan berlutut di sampingnya.

"Nah, peganglah cawan ini dan tirukan ucapanku, nona." katanya. Kiok Lan menerima cawan itu dan sambil berlutut, ia menirukan ucapan Suma Hok.

"Saya Liu Kiok Lan, mengaku sebagai anggauta keluarga Suma, berjanji akan merahasiakan ilmu Lui-kong ciang (Tangan Halilintar) dan tidak mengajarkan kepada orang lain kecuali anggauta keluarga Suma. Bumi dan Langit menjadi saksi dan saya memperkuat janji ini dengan minum obat penguat dari keluarga Suma!" Lalu Suma Hok memberi isyarat kepada Kiok Lan untuk minum isi cawan sampai habis.

Kiok Lan meminumnya dengan taat. Anggur itu manis dan berbau harum bercampur bau yang aneh dan keras, membuat ia tersedak, akan tetapi isi cawan itu sudah habis diminumnya. Suma Hok menerima kembali cawan kosong dan berkata lembut.

"Engkau akan merasa pening sedikit, akan tetapi hanya sebentar. Duduklah di atas dipan itu, nona. Kalau peningmu sudah lenyap, bersilalah di atas dipan, menghadap ke dalam. Aku akan berdiri di tepi dipan dan mambantumu menghimpun sin-kang dari belakang. Sikapmu dalam samadhi harus seperti ini, dan pernapasan harus begini." Pemuda itu memberi petunjuk dan penjelasan.

Kiok Lan memperhatikan petunjuk itu dengan seksama, kemudian benar saja, ia merasa agak pening maka cepat ia bangkit dan menghampiri dipan, lalu duduk bersila di atas dipan, menghadap ke dalam. Ia masih mendengar betapa Suma Hok juga bangkit dan pemuda itu agaknya duduk di kursi.

Tak lama kemudian, pemuda itu bertanya, "Apakah peningnya sudah hilang, nona?"

"Sudah... toako... " kata Kiok Lan dan mendengar suara gadis itu berbisik dan tersendat, dengan napas memburu, Suma Hok tersenyum.

Obat itu sudah mulai memperlihatkan pengaruhnya! Dia tahu benar bahwa tidak lama lagi, paling lama sejam lagi, obat itu sudah mempengaruhi seluruh tubuh dan juga hati dan pikiran gadis itu, membuatnya seperti dibakar gairah berahi, dan dia boleh berbuat apa saja terhadap gadis itu yang tentu akan disambut dengan penuh semangat tanpa penolakan sedikitpun!

"Bagus!" katanya sambil menghampiri dipan, kemudian dengan lembut dia lalu menjulurkan kedua lengannya, dan kedua telapak tangannya dia tempelkan punggung Kiok Lan sambil berkata, "Sekarang, tariklah napas perlahan-lahan seperti kuterangkan tadi, dan terima saja penyaluran hawa dari kedua tanganku, biarkan berkumpul di dalam tan-tian (titik tiga inci di bawah pusar), lalu gerakkan kedua tangan seperti yang kuajarkan tadi, mulailah menghimpun tenaga sakti Lui-kong-ciang!”

Kiok Lan yang sudah tidak merasa pening kini merasa seperti dalam mimpi. Mula-mula tubuhnya seperti terbang atau terapung tanpa bobot dan rasanya nikmat bukan main, seperti diayun-ayun, kemudian ia merasa betapa dua telapak tangan yang menempel di punggungnya, mengeluarkan hawa yang hangat dan mendatangkan getaran yang menggetarkan seluruh tubuhnya, membuat ia merasa seperti digelitik dan mula-mula bulu tengkuknya meremang, lalu seluruh tubuh dan pikirannya mulai tidak karuan, tidak dapat dikendalikan. Sedikit demi sedikit, bagaikan api yang mulai membakar, ia merasakan suatu rangsmgan yang luar biasa, yang membuat ia merasa tubuhnya panas, makin lama semakin panas seperti dibakar.

"Auhhh... panas... panas... gerah..." ia mulai mengeluh, napasnya memburu dan suaranya seperti merintih.

Dan suara yang halus lembut itu terdengar dekat sekali dengan telinganya, berbisik lembut. Ia tidak ingat lagi suara siapa itu akan tetapi suara itu terdengar jelas dan halus, "Kalau panas dan gerah mengganggumu engkau boleh membuka pakaianmu, agar terasa nyaman, agar tidak mengganggu latihanmu..."

Kiok Lan menggeleng-geleng kepala. Nalurinya membantah dan berkeras tidak mau memenuhi keinginan hatinya yang timbul oleh bujukan itu, diperkuat oleh kegerahan yang membuat ia berkeringat. Akan tetapi karena tubuhnya seperti dibakar, akhirnya ia tidak tahan dan mulailah ia merenggut dan melepaskan pakaiannya bagian atas. Pada saat yang amat gawat itu. tiba-tiba daun jendela ruangan dalam pondok itu terbuka dan sesosok tubuh manusia meloncat masuk ke dalam.

"Keparat jahanam!" terdengar teriakan, “Nona Kiok Lan...!" Bayangan itu bukan lain adalah Pouw Cin.

Tentu saja Suma Hok terkejut bukan main dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang dan berjungkir balik. Melihat keadaan Kiok Lan yang tubuh bagian atasnya hampir telanjang dan yang bergoyang-goyang dan merintih-rintih, Pouw Cin yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga. Gadis itu terbius dan terangsang!

Cepat dia meloncat dekat dan begitu tangannya menotok tengkuk Kiok Lan. gadis itu mengeluh dan terguling jatuh roboh miring di atas dipan. Kemudian Pouw Cin membalikkan tubuh karena dia mendengar angin menyambar dahsyat. Dia cepat membuat gerakan menangkis, namun terlambat. Ketika dia tadi menotok tubuh Kiok Lan, tentu saja keadaannya dari belakang terbuka dan perhatiannya masih tercurah kepada Kiok Lan sehingga tangkisannya agak terlambat.

"Dukkk!!" Suling di tangan Suma Hok telah menotok dadanya, tepat di ulu hatinya.

"Hukkk...!!" Pouw Cin terjengkang, napasnya terasa sesak dan dadanya nyeri bukan main karena suling itu memang mengandung racun yang amat hebat. Suling itu yang membuat Suma Hok di dunia kaug-ouw dijuluki Tok-siauw-kwi (Suling Setan Kecil). Pouw Cin mengerahkan tenaganya bergulingan, lalu melompat berdiri, matanya terbelalak, mukanya pucat, tangannya menuding ke arah Suma Hok.

"Kau... kau...!"

Akan tetapi Suma Hok sudah menerjangnya lagi, menyerang dengan suling mautnya. Pouw Cin mencoba untuk melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena totokan pertama tadi telah membuat dia terluka berat, membuat napasnya sesak dan dadanya sakit sekali, perlawanannya tidak berarti bagi Suma Hok. Berulang kali ujung sulingnya menemui sasaran dan tubuh Pouw Cin kembali terjengkang atau terpelanting beberapa kali.

Akhirnya, sebuah hantaman suling yang mengenai kepalanya membuat Pouw Cin roboh dan tidak mampu bangkit kembali. Mukanya berubah kehitaman karena keracunan, dari mata, telinga, mulut dan hidungnya keluar darah. Akan tetapi matanya masih melotot memandang kepada Suma Hok, dan bibirnya masih bergerak-gerak,

"kau... kau... terkutuk kau..." dan diapun terkulai, seorang jenderal atau panglima besar yang amat setia kepada rajanya, menemui kematian secara menyedihkan sekali.

Sejenak Suma Hok berdiri, bergantian memandang ke arah mayat Pouw Cin yang menggeletak telentang di atas lantai, ke arah tubuh Kiok Lan yang rebah miring di atas dipan. Dia lalu mengganguk-angguk dan mulutnya tersenyum. Senyum iblis! Dia masih tersenyum ketika menghampiri dipan sambil kedua tangannya membuka kancing bajunya, matanya berkilat dan senyum di mulutnya semakin keji!

Menjelang pagi, gegerlah seluruh penghuni rumah besar milik bekas kaisar itu ketika Suma Hok berteriak-teriak, "Ada pembunuh...! Ada penjahat keji...!!”

Semua orang berdatangan, dan tak lama kemudian Siauw Tek sendiri muncul bersama beberapa orang yang bertugas menjadi pengawalnya. Mereka melihat Suma Hok berdiri didepan pondok dengan suling di tangan dan muka babak belur, pakaian robek-robek dan pemuda ini kelihatan kebingungan. Begitu melihat Siauw Tek, pemuda itu cepat maju dan berlutut di depan bekas kaisar itu.

"Ahh... Kongcu, celaka... sungguh celaka...!"

Ketika melihat para pengikut Siauw Tek hendak memasuki pondok, dia meloncat dan menghalangi mereka. "Jangan masuk! Tak seorangpun boleh masuk kecuali Kongcu!”

Ketika semua orang mundur, kembali Suma Hok menghampiri Siauw Tek dan dengan suara bercampur tangis dia berkata, "Kongcu malapetaka telah menimpa orang yang paling Kongcu percaya..."

"Suma toako, tenanglah dan ceritakan apa yang telah terjadi?" Siauw Tek memegang pundaknya dan mengguncangnya tidak sabar.

Guncangan ini agaknya membuat Suma Hok menjadi tenang. "Kongcu, harap perintahkan semua orang mundur, dan marilah kongcu bersama saya saja yang masuk melihat..."

Biarpun merasa heran. Siauw Tek memberi isarat kepada semua pembantunya untuk menjauh, kemudian diapun memasuki pondok bersama Suma Hok. Dan apa yang dilihatnya di ruangan itu, yang kini nampak jelas karena Suma Hok membawa lampu penerangan dari luar masuk, membuat bekas kaisar itu terbelalak dan hampir saja dia terhuyung jatuh. Suma Hok cepat memegang lengannya.

"Kuatkan hati paduka, Kongcu ... " katanya hormat, "dan sebaiknya tidak membuat ribut agar tidak semua orang mengetahui terjadinya aib ini, biar kita berdua saja yang mengetahuinya..."

Dengan bergantung kepada lengan Suma Hok, bekas kaisar itu terbelalak melihat pemandangan mengerikan di kamar itu. Pouw Cin menggeletak di lantai, tewas dengan mata melotot, dari telinga, mata, hidung dan mulut keluar darah! Dan yang lebih mengejutkan hatinya lagi, pakaian bekas panglimanya itu tidak karuan, celana turun dan dia hampir telanjang. Kemudian, ketika dia mengarahkan pandang matanya ke arah dipan, dia mengeluh. Adiknya, Liu Kiok Lan, dengan pakaian setengah telanjang pula, telentang di atas dipan dan sekilas pandang saja tahulah dia bahwa adiknya telah diperkosa orang dan kini dalam keadaan mati, pingsan atau tidur.

"Apa... apa yang telah terjadi... teriaknya lirih karena dia masih ingat untuk tidak membuat ribut.

"Nanti kuceritakan, Kongcu. Sekarang yang terpenting menolong Nona Liu. Kita harus membereskan letak pakaiannya agar tidak kelihatan orang lain sebelum ia sadar dari pingsannya."

"Ia... ia tidak mati...?”

"Tidak, Kongcu. Hanya pingsan, tidak berbahaya." kata Suma Hok dan dibantu oleh Siauw Tek, dia lalu membereskan pakaian di tubuh Liu Kiok Lan yang setengah telanjang itu.

Setelah pakaian gadis itu beres, Siauw Tek mengguncang-guncang pundak adiknya dan memanggil-manggil namanya. Suma Hok berpura-pura ikut menggugah, akan tetapi diam-diam dia menotok pungggung gadis itu dan Kiok Lan bergerak, sadar dan membuka matanya. Begitu melihat dirinya rebah di atas dipan dan di situ nampak kakaknya, ia bangkit duduk dan terkejut, memandang kepada Suma Hok.

"Koko...!" serunya bingung karena seingatnya, tadi ia melakukan latihan Lui-kongciang, dipimpin dan dibantu oleh Suma Hok lalu tiba-tiba jendela terbuka, Pouw Cin masuk dan iapun tidak ingat apa-apalagi. Dan kini tahu-tahu kakaknya telah berada di situ bersama Suma Hok.

"Tenanglah, adikku, tenanglah, jangan ribut agar orang-orang di luar tidak tahu apa yang telah terjadi. Jahanam busuk itu ...!" Dia menuding ke arah tubuh Pouw Cin. Kiok Lan yang masih agak nanar itu memandang dan iapun terbelalak.

"Dia... dia kenapa...?" Ia menoleh kepada Suma Hok. "Toako, apa yang telah terjadi? Kuingat tadi dia meloncat memasuki kamar dan sekarang... dia... dia mati...?”

Kiok Lan meloncat turun, akan tetapi tiba-tiba ia menahan jeritnya dan wajahnya menyeringai kesakitan. Ia merasa nyeri dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya!

"Ihhh... aku... kenapa...? Toako, apa yang telah terjadi?" tanyanya, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

"Benar, ceritakan, Suma-toako, apa yang telah terjadi tadi?" tanya pula Siauw Tek.

"Kongcu, nona, sebaiknya kalau kita suruh angkat dulu jenazah ini dan kita ceritakan bahwa dia tewas karena perbuatan mata-mata. Semua orang tahu bahwa Kwa Bun Houw mempunyai ilmu silat tinggi dan bahkan telah mengalahkan Paman Pouw, maka mereka tentu akan percaya kalau dikabarkan bahwa yang membunuhnya adalah Kwa Bun Huow, mata-mata kerajaan Chi. Dengan demikian, tidak akan terjadi banyak dugaan dan kecurigaan."

Kakak beradik itu hanya dapat mengangguk setuju, karena mereka masih terkejut dan tegang, apalagi Kiok Lan yang kenyerian itu kini pucat sekali dan dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal mengerikan pada dirinya!

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik. Dia sendiri lalu mengajak Siauw Tek dan Kiok Lan kembali ke dalam rumah. Di dalam ruangan sebelah dalam yang tertutup, di mana tidak ada orang lain dapat mendengarkan percakapan mereka, mereka bertiga duduk dan kakak beradik itu mendesak agar Suma Hok menceritakan apa yang telah terjadi.

Suma Hok memandang kepada Siauw Tek, lalu berkata dengan suara tenang. "Kongcu, sebelumnya saya harap Kongcu suka memaafkan saya dan juga Nona Liu Kiok Lan. Malam tadi. Nona Liu sedang berlatih semacam ilmu menghimpun tenaga sakti dari saya. Karena ilmu itu harus dilatih di waktu malam dan, tidak boleh dilihat orang lain, terpaksa kami melakukan di dalam pondok di taman itu. Selagi kami berlatih, tiba-tiba Paman Pouw Cin menerobos masuk melalui jendela. Dia menotok roboh Nona Liu dan saya demikian terkejut sehingga tidak dapat menjaga diri dan sayapun roboh tertotok dan tidak mampu bergerak sama sekali." Dia memandang kepada Kiok Lan yang matanya terbelalak. "Ketika itu, saya sedang menyalurkan tenaga sin-kang untuk membantu Nona Liu, maka tenaga saya tersalur dan tidak mampu menahan ketika Pouw Cin menyerang dan merobohkan saya dengan totokan."

Melihat Suma Hok berhenti bercerita dan kelihatan sedih dan bingung Kiok Lan yang sudah menduga hal terburuk menimpa dirinya, segera mendesaknya, "Lalu bagaimana, toako? Teruskan...!!"

Kembali Suma Hok nampak kebingungan, sebentar memandang kepada gadis itu, lalu kepada Siauw Tek, dan agaknya amat sukar baginya untuk bicara.

"Toako, ceritakan, apa yang selanjutnya terjadi?" Siauw Tek mendesak pula.

"Saya roboh tertotok, berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, akan tetapi tidak berhasil karena saya tertotok ketika tenaga saya tersalur. Kemudian... kemudian... si jahanam itu... saya hanya dapat melihat saja, tidak berdaya sehingga akhirnya saya tidak kuasa melihatnya lagi, saya memejamkan mata..."

"Apa yang dia lakukan? Cepat, jawab!"

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik. Kiok Lan membentak, mukanya sebentar merah, sebentar pucat,

"Dia menggunakan kesempatan selagi saya tidak berdaya, dan selagi engkau juga ditotoknya pingsan... dia... binatang itu telah melakukan hal keji terhadap dirimu nona...“

Kiok Lan menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis. "... jahanam busuk, keparat terkutuk...?” ia memaki-miki dan merintih-rintih, hatinya hancur lebur.

Kakaknya cepat bangkit dan merangkulnya, mencoba untuk menghiburnya. Namun sia-sia, Kiok Lan terus menangis tersedu-sedu. Dua orang laki-laki itu membiarkannya melepas kedukaannya melalui tangisnya dan setelah agak mereda. Siauw Tek bertanya kepada Suma Hok yang sejak tadi hanya menundukkan mukanya.

"Suma-toako, lalu apa yang terjadi? Bagaimana jahanam terkutuk itu dapat mampus?”

Mendengar pertanyaan kakaknya ini, biarpun masih terisak-isak, Kiok Lan ikut mendengarkan.

"Saya berusaha keras untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, Kongcu. Akan tetapi memang totokan itu kuat sekali sehingga saya tidak mampu menolong Nona Liu. Kemudian, jahanam busuk itu mengakhiri perbuatannya yang terkutuk dan agaknya hendak membunuh saya agar rahasianya tidak sampai bocor. Akan tetapi, tepat pada saat dia hendak membunuh saya dengan totokan maut, saya dapat terbebas dari pengaruh totokan. Cepat saya lalu mencabut suling dan menyerangnya. Kami berkelahi dan akhirnya saya dapat merobohkan dan menewaskan manusia berwatak iblis itu."

Kiok Lan mengeluarkan suara mengeluh, dan gadis ini lalu bangkit dan sambil menutupi muka dengan kedua tangan, iapun berlari keluar dari ruangan itu.

"Siauw-moi...!!" kakaknya berseru memanggil dan mengejar.

Akan tetapi gadis itu memasuki kamarnya sendiri dan menutupkan, daun pintu, memalangnya dari dalam sehingga tidak ada orang lain dapat memasukinya.

"Kongcu, saya kira lebih baik kalau sementara ini kita biarkan saja Nona Liu melepaskan kedukaan dan kekagetannya seorang diri saja dalam kamarnya." kata Suma Hok yang ikut pula mengejar dan kini menyentuh lengan bekas kaisar itu.

Siauw Tek menarik napas panjang, lalu mengeluh. "Ahh, nasib... kenapa begini buruk nasib kami sekeluarga? Aih, aku dapat membayangkan betapa hancurnya hati adikku. Kini ia ternoda, lalu bagaimana nanti masa depannya? Aihhhh...!" Kembali bekas kaisar itu mengeluh panjang dan wajahnya nampak bersedih sekali.

"Semua itu telah terjadi, Kongcu, tidak cukup hanya untuk disedihkan saja." Suma Hok menghibur. Mereka berjalan kembali memasuki ruangan yang tadi. Siauw Tek menutupkan daun pintu dan kini mereka berdua bercakap-cakap tanpa diketahui orang lain.

"Aih, Suma-toako, bagaimana aku tidak akan bersedih? Tanpa kusangka, malapetaka hebat menimpa diri kami. Adikku menderita aib, diperkosa orang, dan pembantuku yang paling baik, ternyata seorang jahanam dan kini telah tewas! Adikku kehilangan kebahagiaan dan aku kehilangan pembantu yang setia.”

"Kongcu, memang sudah sepantasnya kalau Kongcu bersedih, akan tetapi terlalu bersedih tidak ada gunanya, bahkan kalau berlarut-larut amat tidak baik, merugikan diri sendiri. Kongcu kehilangan pembantu utama, akan tetapi saya siap untuk membantu Kongcu dengan kesetiaan yang tidak kalah besar, dan saya rela mengorbankan jiwa raga untuk membantu Kongcu sampai tercapai cita-cita Kongcu menumbangkan kerajaan Chi dan membangun kembali kerajaan Liu-sung!"

Wajah Siauw Tek yang tadinya muram itu kini agak berseri dan dia menatap tajam wajah Suma Hok. "Terima kasih, Suma-toako. Agak terhibur hatiku dengan kesediaanmu ini. Apalagi kalau kelak ayahmu suka pula untuk bekerja sama. Akan tetapi, ahhh... hatiku tak mungkin dapat melupakan nasib yang menimpa adikku! Bagaimana aku tidak akan bersedih?"

"Kongcu, kita sebagai laki-laki harus mampu bersikap tenang menghadapi segala peristiwa dan mencari jalan keluarnya, memang sudah menjadi kenyataan, walaupun hanya kita bertiga yang mengetahuinya, bahwa Nona Liu tertimpa aib yang akan menghancurkan masa depannya, akan tetapi hal itupun kiranya masih dapat ditemukan jalan keluarnya."

Bekas kaisar itu memandang Suma Hok dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. "Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat dicari jalan keluarnya, toako?"

"Kongcu, kalau Nona Liu menikah, tentu aib itu akan lenyap."

"Menikah? Toako, bagaimana kau dapat berkata demikian? Justeru di situlah letak persoalannya. Adikku, juga aku, tentu akan menderita malu besar kalau ia menikah kemudian suaminya tahu..."

"Toako, tidak akan ada keributan, tidak akan ada rasa malu kalau calon suami Nona Liu sudah mengetahui akan aib itu dan suka menerima kenyataan yang ada,"

"Hemm, siapa yang akan mau? pria mana. yang akan suka berkorban seperti itu, menikahi seorang gaiis yang sudah..."

"Saya mau, Kongcu."

"Engkau...?!” Bekas kaisar itu memandang heran, akan tetapi ada sinar harapan terkandung dalam pandang matanya. "Engkau, toako? Tapi... engkau sendiri tahu, bahkan menjadi saksi tunggal..."

"Toako, saya merasa kasihan sekali kepada Kongcu, juga kepada Nona Liu. Oleh karena itu, saya bersedia untuk menutupi aib itu, dengan segala kerendahan hati, dengan suka rela. tentu saja kalau Nona Liu sudi menerima saya dan kalau paduka menyetujui..."

"Aku? Tentu saja aku setuju sepenuhnya, bahkan aku akan berterima kasih sekali kepadamu, toako! Dan tentang adikku, bagaimana mungkin ia akan menolak? Pengorbananmu ini akan menolongnya, melepaskannya dari aib dan mendatangkan sinar terang yang baru bagi masa depannya. Aku akan segera menyampaikan kepadanya, toako, agar terhibur hatinya dan tidak menjadi putus asa."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekala Siauw Tek sudah menemui adiknya di dalam kamar adiknya. Karena sudah agak reda, tangisnya, Liu Kok Lian membukakan pintu kamarnya dan begitu kakaknya memasuki kamar. ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw Tek, merangkul kedua kaki bekas kaisar itu dan menangis...