Social Items

Siauw Tek mengangkat bangun adiknya, menuntunnya untuk duduk di pembaringan dan dia duduk di tepi pembaringan. "Tenangkan hatimu, Kiok Lan, dan sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku telah menemukan jalan terbaik bagiku, yang akan menchindarkan engkau dari aib ini."

Gadis itu, dengan mata membengkak merah dan kedua pipi masih basah, memandang kakaknya. Ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata akan tetapi pandang matanya sudah mengajukan pertanyaan apa yang dimaksudkan kakaknya dengan ucapan itu.

"Adikku yang manis, hentikan tangismu dan dengarkan baik-baik. Kita telah mendapatkan bintang penolong, yaitu seorang pemuda yang dengan suka rela akan menutupi aib pada dirimu. Dia bersedia untuk menikah denganmu, menjadi suamimu yang sah."

"Koko! Bagaimana mungkin aku..."

"Ssttt... jangan khawatir. Dia sudah tahu akan keadaan dirimu, bahkan dia yang telah menyaksikan semua itu. Dia adalah Suma Hok..."

"Ahh...!” Wajah gadis itu berubah kemerahan, tentu saja ia merasa malu bukan main mengenangkan bagaimana pemuda itu telah menjadi saksi yang tak berdaya ketika, ia dalam keadaan pingsan, diperkosa oleh Pouw Cin!”

"Ingat, adikku. Dia kini menjadi pambantu utamaku, pengganti Paman Pouw Cin yang ternyata menjadi jahat seperti kemasukan iblis, dan Suma-toako memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dan selain dari itu, bukankah dia pula yang telah membalaskan sakit hatimu, telah membunuh jahanam yang berbuat keji terhadap dirimu?"

"Akan tetapi... koko, kenapa dia... dia mau mengorbankan diri untuk menolongku?" Ia meragu karena masih bimbang, tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana semua peristiwa ini terjadi demikian tiba-tiba dan mengejutkan. Tadinya, ia sebagai seorang gadis yang lincah gembira, yang masih remaja karena usianya baru tujuh belas tahun, tiba-tiba saja telah dipaksa untuk menjadi seorang gadis dewasa yang dihadapkan pada pernikahan!

"Dia merasa iba kepadaku, dan kepadamu, siauw-moi, dan dia menawarkan diri selain untuk menggantikan Pouw Cin menjadi, pembantuku yang setia, dia juga bersedia untuk menutupi aibmu dan menjadi suamimu. Bukankah itu hebat sekali, siauw-moi? Dengan pengorbanan orang gagah itu, semua menjadi beres, melapetaka ini bahkan menjadi berkah. Aku mendapatkan seorang pembantu yang amat baik. dan engkau mendapatkan seorang suami yang baik pula."

"Tapi... aku... aku sebetulnya belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga, koko, usiaku juga baru tujuh belas tahun..."

"Aku mengerti, adikku. Akan tetapi dalam keadaanmu seperti ini, kurasa... ah, kita terpaksa...! Bagaimana, Kiok Lan, engkau setuju, bukan? Aku harus memberi keputusan kepada Suma-toako sekarang juga agar dia tidak ragu-ragu dalam membantuku."

"Kiranya tidak ada jalan lain bagiku kecuali menyetujui jalan keluar yang satu-satunya ini, koko. Akan tetapi, biarlah aku bicara dulu dengan dia, baru aku akan memberi keputusan."

"Baiklah, adikku. Aku menunggu dengan sabar, dan engkau harus ingat juga keadaanku, karena aku amat membutuhkan bantuan Suma-toako dan kalau engkau menolak, mungkin dia akan merasa tersinggung. Dia menawarkan diri untuk menolong, kalau ditolak, seolah kita memandang rendah kepadanya."

"Aku mengerti. Biar aku yang bicara sendiri dengannya, koko."

Demikianlah, baru dua hari kemudian, setelah mata gadis itu tidak lagi membengkak dan merah, setelah lenyap bekas-bekas tangis dukanya, ia memberi kesempatan kepada Suma Hok untuk bertemu dengannya di ruangan tamu. Ia tidak mau mengadakan pertemuan dengan Suma Hok di taman. Semenjak terjadinya peristiwa itu, taman dan pondoknya seolah menjadi tempat yang mengerikan bagi Kiok Lan.

Mereka duduk berhadapan di dalam ruangan tamu itu. Hati Suma Hok merasa lega dan juga kagum melihat betapa gadis itu kini sudah pulih, tidak lagi terbenam dalam duka. Namun ada suatu perubahan terjadi, yaitu dalam sikapnya. Biasanya, Liu Kiok Lan adalah seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira, bahkan masih agak kekanak-kanakan. Akan tetapi kini sikapnya menjadi lain, begitu tenang pendiam dan gerak geriknya halus, seolah gadis remaja itu kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang dapat menguasai dan mengendalikan diri.

"Nona Liu..." kata Suma Hok setelah mereka berdua duduk berhadapan agak lama dan keduanya berdiam diri saja.

Liu Kiok Lan mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut dan akhirnya Kiok Lan lebih dahulu menundukkan mukanya, kedua pipinya agak kemerahan karena kembali ia teringat akan peristiwa, yang amat memalukan baginya itu dan betapa pemuda di depannya ini yang menjadi saksi tunggal. Ia masih menundukkan mukanya ketika dengan suara lirih.

"Suma-toako, aku telah mendengar dari kakakku tentang niatmu untuk menolong aku..." Ia berhenti, sukar agaknya untuk melanjutkan.

"Nona, maafkan kalau engkau menganggap aku lancang. Sesungguhnya, aku memang tidak cukup berharga dan pantas untuk menjadi teman hidupmu...“ Suma Hok dengan cerdik mengambil sikap rendah hati.

"Toako, aku mendengar dari kakakku bahwa engkau bersedia melakukan itu karena engkau merasa iba kepadaku dan karena engkau ingin membebaskan aku dari aib. Benarkah itu?"

"Benar sekali, nona!" kata Suma Hok cepat. "Aku merasa amat iba kepadamu, aku ingin membebaskan engkau dari kedukaan dan keputus-asaan, juga ingin melenyapkan aib yang kau derita."

Hening sebentar dan setelah menghela napas beberapa kali, Liu Kiok Lan mengangkat muka menatap wajah pemuda itu dan kini Sinar matanya tajam penuh selidik. "Hanya itu saja alasannya? Engkau hendak menikahiku hanya karena ingin menolongku, hanya karena engkau merasa iba kepadaku?" Sepasang mata itu memandang tanpa berkedip. “Tidak ada alasan lain?"

Suma Hok terkejut. Mata itu seolah dapat menjenguk hatinya. Tentu saja alasan utamanya bukan menutup aib, bukan pula iba, melainkan sama sekali berlainan. Dia ingin memperisteri gadis itu selain untuk mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita bekas puteri istana, juga hal itu akan mengangkat derajatnya dan akan memperbesar kemungkinan dia kelak menduduki jabatan tinggi!

Sama sekali dia tidak merasa iba, dan seujung rambutpun dia tidak perduli akan aib yang menimpa diri Kiok Lan atau gadis yang manapun juga di dunia ini. Dia seorang yang cerdik dan licik bukan main. Biarpun pertanyaan itu diam-diam mengejutkan hatinya, hanya sebentar saja dia tertegun. Segera dia tersenyum malu-malu dan berkata dengan suara lirih menggetar.

"Nona. sebetulnya aku tidak berani mengatakan hal yang sejak dulu menjadi bisikan hatiku ini, akan tetapi... karena sekarang engkau bertanya, terpaksa aku memberanikan diri untuk mengaku terus terang. Nona Liu Kiok Lan, sebelumnya maafkan aku, akan tetapi... sejak pertama kali kita berjumpa, sejak aku membantumu menghadapi Ngo-liong Sin-kai itu, aku... telah jatuh cinta kepadamu! Nah, lega hati ini telah mengeluarkan bisikan hatiku itu, nona. Sejak pertama kali bertemu, aku telah jatuh cinta padamu. Akan tetapi... siapakah aku ini? Nona adalah seorang bekas puteri istana, bahkan adik bekas kaisar, seorang puteri bangsawan, dan aku... aku hanya seorang pendekar petualang, maka sampai matipun aku tidak akan berani menyatakan cintaku kepadamu. Kemudian, sungguh jahanam Pouw Cin itu! Kemudian terjadilah malapetaka itu menimpa dirimu, nona. Karena tidak melihat jalan keluar lain untuk menolongmu, maka aku memberanikan diri untuk menyatakan kesediaanku menikahimu tentu saja kalau nona sudi menerimaku."

Terjadi perubahan sedikit demi sedikit pada wajah yang masih agak pucat itu. Kedua pipi itu kemerahan, mata itu bersinar dan wajahnya berseri, mulutnya dihias senyum yang ditahan-tahan. Pengakuan cinta Suma Hok sungguh merupakan obat amat mujarab yang dapat mengurangi rasa nyeri, pedih dan perih di hati gadis itu. Kalau pemuda itu hendak menikahinya hanya karena iba, hanya untuk menolongnya, maka dalam hubungan itu tentu tidak ada ikatan batin, akan hambar dan seperti permainan sandiwara belaka. Akan tetapi kalau ada cinta, itu lain lagi! Dan agaknya tidak akan sukar baginya untuk mencinta pemuda itu, yang memang sudah dikaguminya sejak semula, walaupun saat itu ia belum merasakan adanya kasih sayang itu.

Melihat gadis itu hanya menundukkan mukanya yang kini kemerahan, mata itu tadi bersinar-sinar, dan bibir itu kini agak merekah dengan senyum malu-malu, Suma Hok juga tersenyum senang dan bangga, penuh kemenangan. Dia menanti sampai beberapa saat lamanya, dan melihat gadis itu agaknya sukar untuk bicara, diapun benar ya lembut tanpa mendesak.

"Bagaimana jawabanmu, nona? Percayalah andaikata nona merasa terlalu tinggi untuk menjadi jodohku, katakan saja terus terang dan aku tidak akan menyalahkan mu, hanya aku bersumpah selamanya tidak akan menikah dengan wanita lain. Sebaliknya, kalau nona setuju, aku akan membahagiakanmu, nona, dan aku akan membantu kakakmu sampai tercapai cita-cita kita bersama, yaitu membangun kembali kerajaan Liu-sung..."

Betapa muluknya janji yang diucapkan pemuda itu. Kiok Lan sampai terbuai dan memejamkan mata sejenak, kemudian ketika ia membuka matanya dan mengangkat muka memandang, Suma Hok melihat betapa pandang mata kepadanya itu kini sudah berubah. Demikian indah, demikian mesra!

"Toako, aku menerima usulmu atau katakanlah pinanganmu dan aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, aku minta agar urusan perjodohan ini ditunda sampai setahun lagi. Setahun kemudian, barulah aku bersedia untuk melangsungkan pernikahan denganmu, toako."

Diam-diam Suma Hok terkejut dan kecewa. "Maaf, nona, akan tetapi mengapa kita harus menanti sampai satu tahun lagi? Apa yang menjadi halangannya?"

"Harap jangan salah paham, toako. Terus terang saja, sejak pertama akupun sudah kagum kepadamu, walaupun belum ada cinta kasih seperti yang terdapat dalam perasaan hatimu kepadaku. Maka, kalau aku sekarang menerima, hal itu kulakukan penuh kesadaran dan keikhlasan. Akan tetapi, aku pernah mengambil keputusan bahwa sebelum usiaku delapan belas tahun, aku tidak akan menikah. Kita masih mempunyai waktu setahun untuk saling bergaul sebagai tunangan, dan dalam waktu itu, aku juga ingin dapat jatuh cinta kepadamu, kepada orang yang akan menjadi suamiku selama hidupku."

Bukan main girangnya hati Suma Hok. Tidak apa menanti setahun, karena bukan gairah berahi yang mendorongnya memperisteri Kiok Lan. Biarpun belum menikah, kalau dia sudah menjadi tunangan gadis ini, berarti dia sudah menjadi calon adik ipar bekas kaisar, berarti dia sudah menjadi keluarga dekat. Apalagi kalau dia menjadi pembantu utama! Kedudukan tinggi sudah menanti di ambang pintu baginya!

"Baiklah, nona... atau bolehkah aku menyebutmu moi-moi (adinda?) Lan-moi?" Dia tersenyum.

Kiok Lan juga tersenyum, kini senyum wajar yang timbul karena kelegaan dan kegembiraan hati. "Tentu saja boleh, dan aku akan menyebutmu koko, Suma-koko. Dan kita akan lanjutkan latihan-latihan ilmu silat, ya, koko?”

“Tentu saja. Lan-moi. Aku akan mengajarkan seluruh apa saja yang kumiliki kepadamu. Bukankah engkau ini calon isteriku tersayang?"

Demikianlah, mulai hari itu, Suma Hok menjadi pembantu utama dari Siauw Tek, menggantikan kedudukan Pouw Cin. Semua perwira diperkenalkan kepadanya, bahkan seluruh pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari lima ribu orang besarnya itu kini mengetahui bahwa panglima Pouw Cin telah tewas oleh mata-mata musuh, dan kini yang menjadi panglima adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Tok-siauw-kui, pu-tera dari Kui-siauw Giam-ong Suma Koan yang terkenal sebagai datuk dari Kui-eng-san (Bukit Bayangan Setan).

Para perwia juga sudah diberitahu bahwa panglima atau komandan mereka adalah calon suami nona Liut Kiok Lan. Tentu saja kenyataan ini membuat mereka lebih tunduk dan hormat kepada Suma Hok. Pemuda yang amat cerdik inipun dapat bertahan, mengekang gairahnya. Dia tahu bahwa Kiok Lan adalah seorang gadis yang berbeda dari gadis biasa. Ia seorang bekas puteri yang mempunyai harga diri amat tinggi. Dia tidak berani main-main dan tidak pernah dia mencoba untuk membujuk calon isterinya itu menyerahkan diri kepadanya. Dia akan bersabar sampai waktu setahun lewat, sampai mereka dinikahkan secara resmi.

Dan Suma Hok juga tidak tinggal diam sebagai pengganti Pouw Cin. Dia bahkan mengajarkan ilmu silat tambahan kepada para perwira dan memerintahkan agar semua perajurit dilatih ilmu itu sehingga setiap orang perajurit merupakan tenaga yang tangguh. Selain itu, Suma Hok juga memberi kabar kepada ayahnya yang menjadi gembira sekali mendengar puteranya menjadi calon adik ipar bekas kaisar Cang Bu yang kini sedang berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh lima tahun yang lalu. Dengan senang hati diapun menyatakan siap untuk membentu, membuat Siauw Tek semakin gembira dan bersemangat.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Kota raja Nan-king menjadi semakin ramai dan besar setelah kini menjadi kota raja dari kerajaan baru, yaitu dinasti Chi (479-501) yang didirikan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi kaisar pertama kerajaan Chi dengan nama Kaisar Siauw Hian Ong. Berbeda dengan sikap kerajaan Liu-sung yang lebih condong memihak Agama To dari pada Agama Buddha sehingga kerajaan Liu-sung tidak mendapatkan dukungan dari Agama Buddha yang memiliki banyak pengikut, Kaisar Siauw Bian Ong membuka pintu lebar-lebar bagi kedua agama itu.

Apalagi pada masa itu, kerajaan Wei di utara, yaitu kerajaan Bangsa Toba atau Tartar yang dipimpin oleh Kaisar Wei Ta Ong, mengambil sikap memusuhi para hwesio (pendeta Buddha) yang dianggap sebagai orang-oran asing. Banyak sekali hwesio yang dibunuh di kerajaan Wei yang dipengaruhi oleh para pengikut agama To, dan banyak yang melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce dan mengungsi ke daerah kerajaan baru Chi.

Di selatan ini. Agama Buddha berkembang dengan pesat, dan kebijaksanaan Kaisar Siauw Bian Ong membuat permusuhan yang terjadi antara para pengikut Agama To dan pengikut Agama Buddha tidak terbawa ke selatan. DI kerajaan ini, kedua pengikut agama itu dihargai dan dihormati, penyebaran agama mereka diterima secara bebas oleh rakyat.

Karena inilah, maka kota raja Nan-king nampak semakin meriah dan ramai. Keamanan jauh lebih baik dari pada di utara, dan suasana aman ini tentu saja menumbuhkan perdagangan. Pedagang keluar masuk kota raja Nan-king. dan tentu saja akibatnya banyak dibangun rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan yang besar dan yang setiap hari penuh dengan tamu. Pasukan keamanan kota raja Nan-king juga, terkenal dengan jagoan-jagoan istana yang lihai, dan yang selalu melakukan perondaan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di kota raja itu.

Tidak ada penjahat berani banyak lagak di kota raja ini, dan suasana yang terjamin keamanannya itulah yang membuat para pedagang menjadi semakin bersemangat melakukan perdagangan dan suasana di kota ini nampak meriah dan gembira. Apalagi golongan penjahat kecil, bahkan para tokoh kang-ouw, baik golongan hitam atau putih, baik para penjahat maupun pendekar, tidak ada yang berani malakukan kejahatan secara berterang di kota raja Nanking.

Kaisar Siauw Bian Ong adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pandai, tidak seperti bekas Kaisar Cang Bu dari kerajaan Liu-sung yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi belaka, kurang memperhatikan nasib rakyat jelata sehingga pemerintahannya dicengkeram oleh para pembesar yang korup. Para pembesar seperti itu, bukan hanya tidak memperhatikan nasib rakyat, bahkan lebih celaka lagi, sebaliknya dari pada mengayomi rakyat, mereka bahkan menekan rakyat dengan berbagai cara untuk memenuhi gudang harta mereka sendiri.

Kalau bapaknya penjahat, bagaimana mengharapkan anaknya menjadi baik? Kalau para penjahat tinggi korup, bagaimana mungkin mengharapkan para penjahat rendahan akan bersikap jujur? Dan pembesar tinggi yang menjadi pengawas sendiri bertindak korup, bagaimana mungkin dia berani meindak bawahannya yang juga melakukan Korup seperti dia sendiri, dalam ukuran lebih kecil? Kalau yang di atasan jujur, sudah, pasti yang di bawahan tidak berani curang karena yang di atasnya tentu akan menghantamnya.

Kaisar Siuw Bian Ong yang mengaku sebagai keturunan keluarga Siauw yang besar yang terkenal sejak nenek moyang mereka yang bernama Siauw Ho menjadi perdana menteri kerajaan Han (tahun 206 SM - 8 AD), maklum bahwa sebuah kerajaan baru akan kokoh kuat kalau mendapatkan dukungan rakyat jelata. Biarpun memiliki kekuatan pasukan yang besar dan kuat. kalau tidak mendapat dukungan rakyat dan lebih lagi kalau sampai dibenci rakyat, maka kekuatan pasukan itu tidak akan banyak manfaatnya. Dan satu-satunya cara untuk memperoleh dukungan rakyat hanyalah kalau pemerintah dapat mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata.

Kalau rakyat merasa puas. dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, kalau rakyat dapat memetik buah dari pohon tanaman pemerintah, kalau rakyat dapat ditingkatkan taraf hidupnya, maka rakyat tentu akan mencintai pemerintah dan akan membela mati-matian kalau pemerintah yang mendatangkan kebahagiaan itu sampai terancam oleh kekuasaan lain. Dan satu-satunya cara untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat jelata hanyalah dengan pembangunan dalam segala bidang.

Memperluas lapangan pekerjaan, menjaga ketertiban dan keamanan sehingga rakyat dapat bekerja dengan gembira karena merasa aman dan tenteram, mengatur sedemikian rupa dengan segala kebijaksanaan agar setiap orang dari rakyat jelata terpenuhi semua kebutuhan pokok hidup mereka. Dan kalau para cerdik pandai, mereka yang memegang kemudi pemerintahan, terdiri dari orang-orang bijaksana yang tidak memetingkan diri sendiri, tidak melakukan korupsi, tidak menekan rakyat, maka cita-cita untuk memakmurkan kehidupan rakyat bukan sekedar menjadi slogan dan mimpi kosong belaka.


Kaisar Siauw Bian Ong berusaha ke arah itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kini, setelah lima tahun dia mendirikan dinasti Chi, kota raja Nan-king menjadi sebuah kota kerajaan yang besar, ramai dan perdagangan maju dalam segala bidang. Juga kaisar baru ini bersikap lunak terharap bekas para pejabat tinggi, para bangsawan, bahkan keluarga dari kerajaan Liu-sung yang telah dia jatuhkan. Dia tidak seperti penakluk-penakluk yang lain, yang sering kali melakukan pembersihan, membunuhi seluruh keluarga raja yang ditaklukkan, bahkan membunuhi para pejabat tinggi kerajaan yang kalah karena takut kalau-kalau mereka akan mengadakan pembalasan dan pemberontakan.

Hal ini mungkin karena memang masih ada hubungan keluarga antara keluarga Siauw dan keluarga Liu, yaitu keturunan raja-raja yang memerintah kerajaan Liu-sung. Akan tetapi terutama sekali karena Kaisar Siauw Bian Ong ingin agar para cerdik pandai bekas pembesar kerajaan Liu-sung, kini membantu pemerintahannya, dan melihat bahwa pemerintah yang baru jauh lebih baik dari pada pemerintah kerajaan yang telah jatuh itu. Satu di antara keluarga bangsawan yang tidak dibasmi, dihukum atau dibunuh oleh pemerintah yang baru adalah keluarga bangsawan Kwan yang telah turun temurun menjadi bangsawan yang memegang jabatan penting dalam kerajaan Liu-sung.

Yang terakhir, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, Kwan Jin Kun memegang kedudukan tinggi, yaitu sebagai Menteri Kebudayaan. Kwan-taijin (Pembesar Kwan) adalah seorang sasterawan dan seniman yang bijaksana dan lemah lembut. Karena dia seorang yang mencintai pekerjaannya, mencintai kebudayaan, maka dia sejak dahulu tidak pernah menjadi seorang pembesar yang korup dan sewenang-wenang seperti banyak pejabat lainnya. Dia tidak pernah menyalah-gunakan kekuasaannya, apalagi karena jabatannya mengurus kebudayaan, maka jabatannya sendiri tidak memberi banyak kesempatan kepadanya untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Biasanya, kesempatan yang membuat orang melakukan penyelewengan.

Ketika kerajaan Liu-sung jatuh. Kwan-taijin tidak mengajak keluarganya melarikan diri seperti banyak pembesar lainnya. Akan tetapi, diapun tidak lalu menyerah kepada penguasa baru. Dia bukan seorang pengkhianat, bukan pula penakut. Kalau dia tidak mengikuti kaisarnya yang melarikan diri mengungsi, hal itu bukan karena dia tidak setia kepada kerajaan Liu-sung, melainkan sudah hal suatu ketidakcocokan antara dia dan kaisar Cang Bu.

Pernah dia memprotes kaisar dan para pejabat tinggi yang hanya tenggelam dalam kesenangan tanpa memperdulikan keadaan rakyat, bahkan lengah terhadap gejala pemberontakan yang timbul di mana-mana, akan tetapi protes ini bahkan membuat kaisar marah-marah kepadanya. Oleh karena itu, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, diapun tinggal saja di rumah bersama keluarganya. Dia sama sekali tidak merasa takut, karena dia tidak pernah merasa bersalah. Kalau penguasa baru akan membunuhnya, diapun sudah siap.

Kwan Jin Kun mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang puteri bernama Kwan Hwe Li, akan tetapi keluarga itu telah kehilangan puteri ini sejak kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu! Sampai sekarang, keluarga itu belum pernah bertemu kembali dengan puteri itu yang meninggalkan rumah. Kwan-taijin dan isterinya merasa prihatin bukan main, apalagi ketika mereka mendengar bahwa puteri mereka itu kini telah menjadi seorang datuk di dunia kang-ouw!

Anak ke dua mereka seorang putera yang kini telah berusia empat puluh delapan tahun dan telah menjadi seorang hakim di kota Bi-ciu, dan setelah pergantian pemerintahan, di kerajaan Chi diapun masih tetap menjadi hakim, karena dia terkenal sebagai seorang hakim yang bijaksana dan adil sehingga pemerintah yang baru tetap mengangkat Kwan Hwe TJn ini menjadi hakim di Bi-ciu.

Kwan Jin Kun kini telah berusia tujuh puluh lima tahun, dan isterinya telah meninggal dunia lima tahun yang lalu ketika terjadi perang saudara. Ketika kerajaan Liu-sung jatuh, wanita inipun jatuh sakit karena kaget dan khawatir sehingga ia tidak sempat menyaksikan betapa semua kekhawatirannya bahwa keluarganya akan tertimpa malapetaka sebetulnya tidak terjadi. Suaminya tidak diganggu oleh penguasa baru.

Bahkan Kaisar Siauw Biang Ong tadinya menunjukkan untuk tetap memegang jabatan lamanya. Akan tetapi, Kwan Jin Kun dengan hormat dan halus menolak, dengan alasan bahwa dia sudah terlalu tua untuk bekerja, apalagi semenjak ematian isterinya, dia sudah tidak mempunyai semangat lagi, dan hanya ingin menghabiskan sisa usianya untuk bersamadhi dan melepaskan diri dari semua ikatan keduniawian.

Rumah gedung besar tempat tinggal Kwan Jin Kun kini nampak sepi. Yang tinggal di situ hanyalah kakek Kwan, ditemani dua orang selir yang kini sudah berusia enam puluhan tahun akan tetapi misih setia kepadanya, dan empat orang pembantu rumah tangga. Hanya kadang saja, beberapa bulan atau setidaknya setahun sekali, kalau Kwan Hwe Un dari Bi-ciu bersama isteri dan anak-anaknya datang berkunjung, rumah gedung itu menjadi ramai. Selebihnya, rumah itu selalu sunyi, hanya kadang terdengar bunyi yang-kim (kecapi) yang dimainkan oleh seorang di antara selirnya.

Pada suatu pagi yang cerah, dua orang wanita memasuki pekarangan rumah gedung tua yang sunyi itu. Mereka adalah dua orang wanita yang cantik, yang seorang berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya cantik jelita dengan mulut yang manis dan sikapnya penurut dan lembut. Adapun wanita yang ke dua nampaknya berusia beberapa tahun lebih tua akan tetapi belum ada tiga puluh tahun, wajahnya juga cantik, pesolek dengan pakaian indah, mulutnya selalu tersenyum mengejek dan sikapnya anggun dan angkuh. Mereka ini adalah Cia Ling Ay, janda muda yang cantik itu bersama gurunya. Bi Moli Kwan Hwe Li yang usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi masih nampak muda dan cantik.

Seorang wanita pelayan keluar dari pintu depan menyambut mereka. Suasana dalam rumah itu sudah jauh berbeda dengan ketika Kwan Hwe Li masih tinggal di situ sebagai seorang gadis. Tidak lagi seperti rumah bangsawan dengan pengawal dan pelayan yang berpakaian keren. Kini melihat suasana rumah itu, melihat pakaian pelayan wanita yang keluar menyambut, tiada bedanya dengan ramah orang biasa. Pelayan wanita itu membungkuk-bungkuk menanyakan keperluan kedua orang wanita cantik itu datang berkunjung.

"Ji-wi sio-cia (Nona berdua) hendak mencari siapakah?" tanyanya dengan sikap hormat.

Kwan Hwe Li tidak mengenal pelayan itu, tentu seorang pelayan baru. Dan memang, ketika ia meninggalkan rumah ini, hal itu telah lewat kurang lebih tiga puluh tahun, dan ketika kerajaan Liu-sung jatuh, semua pelayan dari keluarga Kwan ikut pula lari mengungsi bersama banyak penduduk Nan-king yang lain, meninggalkan keluarga majikan mereka.

"Aku ingin bertemu dengan Kwan-loya (tuan tua Kwan)," kata Hwe Li, menahan getaran hatinya. Biarpun selama ini ia telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan telah menjadi datuk kang-ouw yang terkenal sekali, keras hati dan berwibawa, tidak urung hatinya tergetar ketika ia berada di rumah keluarga orang tuanya di mana ia dibesarkan, dan akan bertemu dengan ayah kandungnya. Ia sudah mendengar bahwa ibu kandungnya meninggal dunia ketika terjadi perang saudara dan bahwa kini yang tinggal di rumah itu tinggal ayahnya seorang diri. Ia tahu pula dari keterangan anak buahnya bahwa kakak tunggalnya kini masih menjadi hakim di Bi-ciu.

"Maaf, nona. Saya tidak berani menggangu lo-ya, karena pada saat sepagi ini, lo-ya masih duduk bersamadhi dalam kamarnya dan tak seorangpun dari kami diperbolehkan mengganggunya."

Hwe Li teringat bahwa menurut keterangan para anak buahnya yang pernah ia utus melakukan penyelidikan, selain ayahnya, di situ masih tinggal dua orang selir ayahnya, atau ibu tirinya, akan tetapi seingatnya, ayahnya dahulu mempunyai empat orang selir dan ia tidak tahu, selir yang mana yang sekarang masih menemani ayahnya tinggal di situ.

"Kalau begitu, panggilkan saja nyonya besar, katakan bahwa aku ingin bicara." katanya tak sabar.

"Baik, nona. Silakan ji-wi (kalian) menunggu di ruangan tamu." pelayan itu mempersilakan dua orang tamunya duduk di ruangan tamu yang berada di samping kiri.

Bi Mo Li Kwan Hwe Li dan Cia Ling Ay memasuki ruangan tamu itu dan duduk di atas kursi-kursi yang bentuknya kran. Diam-diam Kwan Hwe Li terharu melihat keadaan kamar itu. Semua perabotnya adalah perabot lama yang kini sudah mulai nampak tua dan butut. Ruangan itu, yang dahulu nampak mewah, kini kehilangan kemewahannya dan bahkan membayangkan keadaan yang bangkrut. Perabot yang semestinya minta ganti yang baru dipertahankan, ruangan itu memberi kesan yang tua dan buruk.

Suara langkah kaki dengan sepatu diseret membuat kedua orang wanita itu menengok, memandang ke arah pintu sebelah dalam yang terbuka. Seorang wanita berusia enam puluhan tahun muncul di ambang pintu dan biarpun wanita itu sudah kelihatan tua sekali, namun Hwe Li segera mengenalnya. Inilah ibu tirinya yang ke tiga, yang dahulu ketika ia pergi, merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang selain cantik menarik, juga lincah dan genit! Namun, di antara para ibu tirinya, wanita inilah yang sikapnya paling ramah dan akrab dan merupakan ibu tiri yang dahulu seperti sahabatnya sendiri.

"Ibu ke tiga...!" kata Hwe Li sambil mengamati wajah itu dan seruannya merupakan bisikan penuh keraguan.

Akan tetapi, wanita tua itu terbelalak. Kwan Hwe Li sudah pergi selama tiga puluh tahun, akan tetapi seolah-olah wajah cantik itu sama sekali tidak berubah, masih tetap seperti dahulu, tiga puluh tahun yang lalu!

"Kau... kau... Hwe Li...!? Ah, tidak mungkin...! Hwe Li hanya lebih muda sepuluh tahun dariku, tentu sekarang telah menjadi seorang nenek. Ah, aku tahu! Engkau tentulah puterinya! Ya, engkau tentu anak dari Hwe Li! Bagaimana ibumu sekarang, nak? Kenapa ia tidak ikut datang?" Wanita itu dengan ramahnya menghampiri dan merangkul pundak Hwe Li. Wanita ini tersenyum dan diam-diam ia merasa terharu. Wanita ini, biarpun sekarang sudah tua dan keluarganya jatuh miskin, masih tetap ramah dan periang seperti dahulu. Pantas saja ayahnya masih mempertahankannya untuk menemanimu di situ.

"Ibu, akulah Hwe Li!" katanya sambil merangkul selir ayahnya yang ke tiga itu.

"Ehh...??" Wanita itu memegang kedua pundak Hwe Li, mendorongnya ke belakang dan mengamati wajah yang cantik itu. "Kau... kau memang tiada bedanya dengan Hwe Li. Akan tetapi tidak mungkin! Engkau tentu sudah berusia lima puluhan tahun, dan engkau kelihatan seperti seorang gadis. Bagaimana mungkin engkau Hwe Li?"

"Sungguh, ibu. Aku adalah Kwan Hwe Li dan aku datang untuk menengok ayah. Bagaimana dengan ayah? Aku ingin sekali bertemu dengannya."

"Hwe Li...! Engkau benar-benar Hwe Li? Kami sudah mendengar bahwa engkau menjadi seorang wanita sakti, akan tetapi... bagaimana mungkin engkau menjadi wanita yang selalu muda, tak pernah menjadi tua?"

Hwe Li tersenyum, merangkul pinggang ibu tiri yang dahulu menjadi amat akrab seperti sahabat baik dengannya. "Ibu, mari kita temui ayah. Kamarnya masih yang dahulu, bukan? Oh, aku sampai lupa, Ibu, ini adalah Cia Ling Ay, ia muridku. Ling Ay, ini ibuku yang ke tiga, engkau boleh memanggilnya Bibi ke Tiga."

Ling Ay cepat membungkuk dan memberi hormat. Wanita tua itu memandang, terheran-heran. "Kalau engkau benar-benar Hwe Li sungguh luar biasa sekali! Engkau masih secantik dan semuda dahulu, dan engkau bahkan seperti kakak beradik saja dengan muridmu ini."

“Sudahlah, ibu, mari kita temui ayah." kata Hwe Li dan ia menggandeng ibu tirinya keluar dari ruangan tamu dan masuk ke ruangan dalam. Ia masih ingat di mana letak kamar ayahnya, kamar besar yang tak jauh dari ruangan tengah. Setelah mereka berada di depan pintu kamar, ibu tirinya berbisik,

"Hwe Li, biasanya, pada saat seperti ini, ayahmu masih bersamadhi di dalam kamarnya. Aku tidak berani mengganggunya."

"Ibu, biarlah aku yang memangil ayah." kata Hwe Li dan ia mengetuk daun pintu, lalu mengerahkan khi-kang sehingga biar suaranya hanya lirih, namun suara itu menembus ke dalam kamar dan akan terdengar dengan jelas sekali oleh orang yang berada di dalam kamar. "Ayah, aku Kwan Hwe Li datang untuk menengok ayah!"

Hanya sekali Hwe Li bicara dan terdengar suara kaget dari dalam. Suara Hwe Li yang didorong kekuatan khi-kang itu terdengar jelas sekali oleh kakek Kwan yang bersamadhi di dalam kamar. Tentu saja dia tersentak kaget mendengar kalimat itu.

"Ahhh...“ Dan diapun turun dari atas pembaringan, menghampiri daun pintu kamar dan membukanya.

Sekeras-kerasnya hati Hwe Li, ia merasa seolah jantungnya diremas karena terharu melihat ayahnya kini telah menjadi seorang kakek tua renta! Biarpun dahulu, tiga puluh tahun yang lalu, ayahnya juga hanya seorang laki-laki yang lemah dan tidak pernah mempelajari ilmu silat, namun ayahnya yang lemah lembut itu memiliki gairah hidup yang timbul karena jiwa seninya. Kini, hanya sepasang mata itu yang masih nampak hidup bersemangat, akan tetapi tubuhnya sudah lemah dan gemetaran!

"Ayah...!!" Hwe Li menubruk dan merangkul ayahnya.

Ketika kedua lengannya merangkul, ia merasakan betapa kedua lengannya memeluk kerangka, seolah tubuh itu hanyalah tulang tulang terbungkus kulit saja. Namun, kedua tangan kurus itu masih membelainya.

"Hwe Li... kau Hwe Li...! Engkau masih seperti dulu...! Engkau masih Hwe Li yang dahulu!" Tiba-tiba tangannya memegang pundak Hwe Li dan seperti yang dilakukan isterinya yang ke tiga tadi, dia mendorong tubuh Hwe Li dan mengamati wajah dan seluruh tubuh wanita itu dengan penuh keheranan. "Akan tetapi, engkau masih begini muda! Padahal, usiamu tentu sudah ada lima puluh tahun sekarang!"

Sepasang mata yang masih indah itu basah air mata. Menangis merupakan kebiasaan kaum wanita. Biasanya, perasaan wanita amatlah halus dan peka, dan hal ini membuat mereka emosionil dan air mata mereka selalu siap untuk dicucurkan dalam tangis. Akan tetapi. Bi Moli Kwan Hwe Li bukan wanita biasa lagi. Hatinya sudah mengeras dalam gemblengan pengalaman hidup yang serba keras dan pahit. Hatinya tidak lagi mudah tergerak dalam keharuan, apalagi tangis. Namun kini, hampir ia tidak dapat menahan untuk tidak terisak menangis dan hanya air matanya saja yang membasahi pelupuk matanya dan ada sebutir dua air mata yang sempat meloncat keluar.

"Ayah, aku Hwe Li, ayah. Berkat ilmu yang kupelajari, aku dapat tetap awet muda seperti sekarang."

"Hwe Li, ahh... Hwe Li...!" Ayah itu merangkul.

Kemudian mereka keluar dari kamar itu, menuju ke ruangan tengah di mana mereka duduk dengan penuh kegembiraan. Kakek Kwan meneriaki para pembantunya dan memperkenalkan puterinya, lalu menyuruh mereka mempersiapkan pesta seadanya untuk merayakan pulangnya puteri itu.

"Ayah, ini adalah Cia Ling Ay, muridku. Ling Ay, inilah ayahku, sekarang telah tua sekali."

Ling Ay cepat memberi hormat kepada orang tua itu. Sejak tadi Kwan Jin Kun tiada hentinya mengamati wajah puterinya. kemudian dia berkata,

"Hwe Li, ketika kami mendengar berita bahwa engkau telah menjadi seorang tokoh dunia persilatan, dan kabar itu amat menggelisahkan hatiku karena engkau dikabarkan menjadi seorang datuk kang-ouw yang berwatak iblis. Aku membayangkan bahwa engkau tentu kini menjadi seorang wanita setengah tua yang menakutkan. Akan tetapi... ha-ha, kabar itu bohong semua! Mungkin disebar oleh mereka yang membenci keluarga kita. Engkau ternyata masih tetap Hwe Li yang dahulu, dan engkau tidak seperti iblis, bahkan seperti seorang dewi!"

Kwan Jin Kun lalu menceritakan apa yang dialaminya sejak puterinya pergi meninggalkan rumah itu. "Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi yang baru ini cukup bijaksana, balikan aku harus mengakui dia lebih bijaksana dibandingkan kaisar yang lalu. Beliau juga menawarkan kedudukan lama kepadaku, akan tetapi aku sudah merasa terlalu tua untuk bekerja, Hwe Li. Aku lebih suka menghabiskan sisa hidupku dengan mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi. Aku tidak bersemangat lagi untuk mencampuri urusan dunia yang penuh dengan pertentangan. Lalu sekarang ceritakan semua pengalamanmu setelah engkau pergi meninggalkan rumah ini, anakku."

Hening sejenak. Diam-diam Ling Ay juga ingin sekali mendengarkan karena selama ini, gurunya belum pernah menceritakan dengan jelas tentang latar belakang kehidupannya. Pada saat itu, selir ke dua dari kakek itu memasuki ruangan itu. Tadi ia pergi berbelanja berbagai keperluan keluarga itu dan seperti juga selir ke tiga, ia terheran-heran karena ia segera mengenali Hwe Li. Segera iapun ikut pula duduk di ruangan itu dan mereka semua kini menanti Hwe Li menceritakan pengalamannya yang tentu akan menarik sekali.

"Ayah tentu masih ingat mengapa aku pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit?" Setelah menghela napas panjang Hwe Li bertanya dan memandang kepada ayahnya dan kedua orang ibu tirinya.

Ayahnya mengangguk dan diapun menarik napas panjang. "Siapa yang akan dapat melupakan peristiwa itu? Gara-gara pangeran mata keranjang itu! Gara-gara tunanganmu. Pangeran Tiauw Sun Ong, melakukan perbuatan yang memalukan itu, engkau menjadi marah dan malu, dan engkau pergi meninggalkan keluargamu tanpa pamit!"

"Benar sekali, ayah. Gara-gara Tiauw Sun Ong maka aku menjadi seorang petualang, Hatiku sakit bukan main. Tadinya aku berniat untuk mencari Tiauw Sun Ong yang sudah lolos dari sebagai seorang buta. Tekadku untuk membunuhnya karena ia telah menghancurkan kebahagiaan hatiku, telah mengkhianatiku, dan kami saling mencinta sejak remaja. Siapa kira, dia melakukan perbuatan tak senonoh dengan selir kaisar. Dalam perantauanku, aku bertemu orang-orang pandai di dunia, kang-ouw, aku mempelajari ilmu silat dengan tekun karena ada satu tujuan, yaitu membunuh Tiauw Sun Ong!"

Ayahnya menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Eehhh, kenapa engkau menuruti nafsu amarah? Mengapa engkau meracuni hatimu sendiri dengan dendam sakit hati, anakku? Sekali kita membiarkan nafsu merajalela di hati, nama kita akan diperhamba dan nafsu akan menjadi pembimbing kita yang akan menyelewengkan jalan hidup kita.”

Kwan Hwe Li tersenyum simpul mendengar ucapan ayahnya, Ia sudah kenyang dengan segala macam petuah dan nasihat ayahnya, bahkan sejak kecil sampai dewasa kepala dan hatinya sudah dijejali segara macam pelajaran tentang kebatinan dan agama. Akan tetapi semua itu lenyap tanpa bekas sejak hatinya hancur oleh perbuatan Tiauw Sun Ong. ia tidak perduli lagi. Lebih-lebih setelah ia berguru kepada banyak datuk persilatan, tokoh-tokoh besar kaum sesat di dunia kang-ouw. Ia makin jauh meninggalkan segala yang berbau pelajaran kebatinan itu.

Kini ia mendengar lagi petuah ayahnya, dan betapa hambarnya semua itu. ia maklum bahwa ia telah terlalu jauh tersesat, telah terlalu banyak perbuatan dilakukan tanpa memperhitungkan baik buruknya. Kalau perbuatannya dianggap kotor, maka kotoran itu telah sedemikian tebalnya sehingga kalau hanya setitik air pencuci berupa petuah dan pengetahuan kebatinan, tidak akan dapat membersihkannya! Bukannya ia tidak tahu bahwa ia telah menjadi seorang datuk sesat, Ia tahu benar, tahu bahwa semua perbuatannya selama ini oleh umum dianggap jahat, berdosa dan sebagainya. Akan tetapi ia tidak mampu meninggalkannya, tidak dapat dan tidak mau.

"Hwe Li, apakah engkau lalu berhasil membalas dendam sakit hatimu kepada Pangeran Tiauw Sun Ong?" tanya ibu tirinya yang ke dua.

Wajah Hwe Li berubah muram dan iar menggeleng kepala. "Berkali-kali aku mencobanya, akan tetapi jahanam itu ternyata setelah menjadi buta, memiliki ilmu kepandaian yang hebat bukan main sehingga semua percobaanku gagal. Aku tidak pernah dapat menang dalam pertandingan melawannya. Dia memang lihai bukan main. Akan tetapi satu hal yang membuat hatiku bertambah sakit adalah kenyataan bahwa kalau aku menyerangnya dengan niat membunuh, sebaliknya dia yang selalu mengalahkan aku, tidak pernah mencoba untuk membunuhku, bahkan melukaikupun belum pernah!"

"Siancai...!” Kakek Kwan berseru dengan suara pujian. "Itu menandakan bahwa dia masih sayang kepadamu, atau setidaknya, dia telah menyesali perbuatannya sehingga tidak mau melukaimu, anakku. Engkau seharusnya berterima kasih karena ternyata pangeran yang telah kehilangan kedudukan dan telah menjadi buta matanya itu ternyata tidak buta hatinya."

"Aku tidak perduli, ayah! Dan aku yakin bahwa dia melakukan itu sama sekali bukan karena dia mencintaku, karena aku telah membujuknya untuk hidup bersama akan tetapi dia selalu menolak. Tidak, dia sengaja memamerkan kepandaiannya untuk mengejek aku, membuat hatiku makin perih lagi. Akan tetapi sekarang aku merasa puas, ayah. Aku telah menemukan jalan untuk membuat dia menderita seperti aku, tanpa aku harus menyerangnya satu juruspun!"

Wanita cantik itu tertawa dan biarpun suara tawanya merdu, namun ayahnya dan dua orang ibu tirinya bergidik karena dalam suara tawa itu terkandung sesuatu yang mengerikan.

"Siancai... semoga Tuhan akan menyadarkanmu, anakku. Dan setelah engkau pulang, kami harap engkau dan muridmu akan terus tinggal di sini. Engkau mau menemaniku ayahmu yang tidak akan lama lagi berada di dunia ini, bukan?”

Dalam suara itu terkandung permohonan. Kakek ini bukan mengeluarkan ucapan itu karena rasa iba diri, melainkan mempunyai maksud lain. Dia menghendaki agar puterinya itu selalu dekat dengannya sehingga lambat laun dia akan mampu membersihkan hati puterinya dan menyadarkannya bahwa cara hidupnya yang lalu adalah suatu penyelewengan dari pada kebenaran.

"Untuk sementara saja aku tinggal di sini, ayah. Aku pulang, pertama kali untuk menengok ayah dan terutama sekali aku ingin mencoba mengisi hidupku dengan keadaan yang baru. Aku ingin berdekatan lagi dengan istana. Mungkinkah itu, ayah? Mungkinkah aku dapat berdekatan dengan keluarga kaisar yang baru dan dapatkah ayah membantuku, seperti dahulu ketika aku masih gadis muda?"

"Aih, mana mungkin itu, anakku? Dahulu, ayahmu ini masih mempunyai kedudukan, apalagi ayahmu ini yang mengajarkan sastra kepada para pangeran dan putri istana. Sekarang aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan istana."

"Ayah tentu mempunyai kenalan pejabat di istana yang dapat membantu kami. Aku dan Ling Ay ingin bekerja di dalam istana Kaisar Siauw Bian Ong."

"Akan tetapi, apa yang dapat kau kerjakan di istana?"

Bi Moli Kwan Hwe Li menertawakan ayahnya. "Ayah, dengan kepandaianku sekarang, aku dapat menjadi pelatih ilmu silat dari para pengawal wanita, atau dapat menjadi pengawal permaisuri dan para puteri, sedangkan Ling Ay dapat menjadi dayang atau pelindung para puteri. Kalau perlu, kami bersedia diuji kepandaian kami untuk meyakinkan hati kaisar dan keluarganya."

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya kakek Kwan Jin Kun menyanggupi dan karena dia memang mempunyai banyak kenalan di istana, yaitu para pembesar yang membutuhkan nasihatnya sebagai seorang sasterawan yang berpengalaman dengan urusan istana, maka diapun berhasil. Kwan Hwe Li yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun masih nampak cantik itu diterima sebagai pelatih silat dan tugasnya melatih para pengawal istana, sedangkan Ling Ay diterima sebagai seorang pengawal permaisuri dan para puteri. Guru dan murid ini dengan mudah lulus dalam ujiaa yang dilakukan komandan pasukan pengawal istana.

********************

Biarpun usianya sudah lima puluh sembilan tahun, akan tetapi Tiauw Sun Ong masih tegap dan tubuhnya kokoh kuat. Andaikata kedua matanya tidak buta, tentu dia akan mampu melakukan perjalanan cepat sekali. Bekas pangeran ini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, sepandai-pandainya dia, karena kedua matanya tidak mampu melihat, terpaksa dia melakukan perjalanan sambil meraba-raba dengan tongkatnya dan perjalanan seperti ini tentu tidak dapat cepat.

Belum lama dia berpisah dari muridnya, Kwa Bun Houw yang dia tugaskan untuk mencari puterinya, Tiauw Hui Hong, dan melihat keadaan kerajaan Chi di Nan-king, baru kurang lebih dua li saja dia melakukan perjalanan, tiba-tiba dari depan datang dua orang wanita yang larinya cepat sekali dan mereka lewat dengan cepat seperti tidak memperdulikan orang buta yang berjalan dengan tongkat meraba-raba jalan itu.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diam-diam Tiauw Sun Ong terkejut karena dari gerakan lari dua orang itu, dia dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Akan tetapi karena mereka hanya berpapasan di jalan, diapun tidak memperdulikan lagi, tidak tahu bahwa dua orang wanita itu tiba-tiba berhenti berlari dan kini berdiri dan memandang kepadanya dari belakang.

Mereka adalah Kwan Im Sianli dan Hui Hong. "Bibi, kenapa berhenti?" tanya Hui Kong.

"Kau lihat dia? Itulah laki-laki yang kumaksudkan."

Hui Hong tertegun, mamandang pria itu dari belakang. Tadi ketika berpapasan, ia tidak memperhatikan dan baru sekarang ia melihat betapa pria itu berjalan selangkah demi selangkah mempergunakan tongkatnya untuh meraba jalan. "Seorang buta?"

"Sekarang dia buta, dahulu tidak dan biarpun buta, dia lihai bukan main. Aku akan menyerangnya dan aku tahu bahwa aku bukan tandingannya. Kau bantu aku membunuh keparat jahanam itu seperti yang telah kaujanjikan dan setelah itu, aku akan membawamu kepada ayahmu. Tempatnya tidak jauh lagi dari sini."

Biarpun masih ragu karena harus mengeroyok seorang laki-laki tua yang buta, namun karena dijanjikan akan dipertemukan dengan ayahnya, Hui Hong mengangguk. Akan tetapi ia akan melihat dulu apakah benar-benar Kwan Im Sianli tidak mampu mengalahkan laki-laki buta itu. Kalau ternyata wanita cantik itu mampu mengalahkan si buta sendiri, ia tidak akan mau membantunya.

Kwan Im Sianli segera meloncat dan mengejar laki-laki buta sambil mencabut pedangnya. "Laki-laki yang buta mata dan hatinya, saat ini engkau akan mati di tanganku!" bentak Kwan Im Sianli dan ia segera menyerang dengan pedangnya, menusuk dada pria itu dengan kuat dan cepat.

"Tranggg...!"

Tiauw Sun Ong menggerakkan tongkatnya dan tusukan pedang itu tertangkis. "Kwan Im Sianli...? Bwe Si Ni, aku mau bicara denganmu!"

"Tidak perlu bicara lagi, mampuslah!” bentak Kwan Im Sianli dan kini ia menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan jurus-jurus maut.

Terpaksa Tiauw Sun Ong melayaninya, karena dia maklum bahwa wanita bekas kekasihnya ketika masih menjadi dayang istana ini memiliki ilmu silat yang amat hebat. Dan dia tidak mungkin hanya menangkis saja karena hal itu amat berbahaya. Menghadapi seorang lawan sehebat Kwan Im Sianli yang menjadi seorang datuk persilatan harus balas menyerang, kalau tidak, mungkin sekali dia akan roboh dan tewas.

Tongkatnya bergerak cepat dan kini Kwan Im Sianli mulai terdesak. Dia ingin mengalahkan wanita itu tanpa membunuhnya atau melukai berat, karena kalau dia melukai berat, hal itu akan membuat ia menjadi semakin sakit hati kepadanya. Maka, Tiauw Sun Ong juga mengerahkan seluruh tenaganya dan terus menghimpit lawan, sinar tongkatnya bergulung-gulung dan tongkat itu bagaikan seekor naga yang bermain-main di angkasa, membuat sinar pedang Kwan Im Sianli semakin menyempit.

Melihat betapa wanita cantik itu benar-benar terdesak oleh si buta, barulah Hui Hong percaya betapa lihainya orang buta itu. Melihat jalannya pertandingan, ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, wanita itu akan kalah. Ia pun mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya dan meloncat, terjun ke dalam medan perkelahian. Sepasang pedang menyambar-nyambar ganas.

"Trang-tranggg...!!”

Tiauw Sun Ong menangkis sepasang pedang itu dan dia terkejut sekali karena maklum bahwa yang datang membantu Kwan Im Sianli ini memiliki ilmu pedang yang ganas dan tenaga yang cukup kuat.

"Kwan Hwe Li, kaukah ini?" seru Tiauw Sun Ong sambil memutar tongkatnya karena kini dua orang wanita itu menyerangnya dengan hebat. Akan tetapi karena tenaga kedua orang itu disatukan dalam suatu serangan yang berbareng, tangkisannya membuat dia terpaksa harus meloncat ke belakang.

"Tidak perlu bertanya, bersiaplah untuk mampus!" bentak pula Kwan Im Sianli. Ia memang sudah mengambil keputusan untuk membunuh pria yang pernah membuatnya tergila-gila ini. Lebih baik bekas pangeran ini mati di tangannya dari pada ia selalu merindukannya tanpa ada harapan sedikitpun. Pria yang dicintanya ini tidak mau menjadi teman hidupnya, maka lebih baik melihat dia mati! Kwan Im Sianli memperhebat serangannya dan Hui Hong juga mengerahkan tenaga karena ia tadi merasakan betapa kuatnya tangkisan tongkat itu yang membuat sepasang pedangnya terpental.

Maklum bahwa bicara tidak ada gunanya terhadap Kwan Im Sianli yang berhati keras, terpaksa Tiauw Sun Ong memutar tongkat membela diri. Dia maklum bahwa orang yang membantu Bwe Si Ni itu bukan Kwan Hwe Li. Pertama karena Kwan Hwe Li masih mencintanya dan ke dua karena Kwan Hwe Li pasti tidak mau bekerja sama dengan saingannya itu. Dahulupun ketika Bwe Si Ni datang menyerangnya, Kwan Hwe Li muncul dan bahkan mengusir Bwe Si Ni.

Hui Hong bersungguh-sungguh membantu Kwan Im Sianli Bwe Si Ni sehingga Thiauw Sun Ong mulai terdesak hebat. Dalam kemarahan dan sakit hatinya, Kwan Im Sianli sudah melukai Tiauw Sun Ong pada pundak kirinya. Bajunya robek dan pundak itu berdarah. Maklum bahwa akhirnya dia akan roboh dan tewas di tangan bekas kekasihnya itu, Thiauw Sun Ong melompat kebelakang, bukan untuk melarikan diri melainkan mencari kesempatan untuk bicara.

"Bwe Si Ni, engkau boleh mendendam kepadaku dan boleh membunuhku, akan tetapi sebelum aku mati, aku minta agar engkau tidak mengganggu Hui Hong anakku. Ia tidak bersalah apa-apa, jangan engkau mengganggunya dan bebaskan Hui Hong!"

Kwan Im Sianli terkejut mendengar ucapan itu, maka tanpa menjawab, ia sudah meloncat ke depan dan memutar pedangnya menyerang dahsyat! Thiauw Sun Ong menangkis, akan tetapi tangan kiri wanita itu menyambar dan mengenai dadanya.

"Plakk!" Tubuh bekas pangeran itu terjengkang, akan tetapi dia bergulingan menjauh, dikejar oleh Kwan Im Sianli. Ketika wanita ini menggerakkan pedangnya untuk mengirim tusukan maut, dan Thiauw Sun Ong yang belum bangkit itu terancam bahaya maut, tiba-tiba nampak sinar pedang berkelebat menangkis dari samping.

"Tranggg...!"

"Kwan Im Sianli, kau menipuku! Kau mengajakku membunuh ayahku sendiri!" bentak Hui Hong dan kini ia menyerang Kwan Im Sianli dengan marah.

Kwam Im Sianli menangkis dan melompat ke belakang, tertawa nyaring. "Heh-heh-heh, aku memang amat membencinya. Aku ingin anaknya sendiri yang membunuhnya, hi-hik!"

"Iblis betina jahat!" bentak Hui Hong dan kembali ia menyerang dengan dahsyat, disambut oleh Kwan Im Sianli dan begitu pedang mereka bertemu Hui Hong terhuyung ke belakang.

"Bwe Si Ni, kalau kau mengganggu anakku, demi Tuhan, kubunuh engkau!" Tiauw Sun Ong kini menerjang dengan tongkatnya!“ dan karena sekali ini bekas pangeran itu benar-benar marah dan mengerahkan tenaganya, Kwan Im Sianli terpental ke belakang!

Namun, wanita ini sudah nekat dan ia menyerang lagi sehingga terjadi perkelahian yang seru, Hui Hong tidak tinggal diam. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Perasaan girang karena ia bertemu ayahnya, juga rasa haru melihat ayahnya buta, dan bangga karena ternyata ayahnya seorang yang berilmu tinggi. Menghadapi Tiauw Sun Ong sendiri saja, Kwan Im Sianli sudah repot dan terdesak, apalagi setelah Hui Hong mengeroyoknya...

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 08

Siauw Tek mengangkat bangun adiknya, menuntunnya untuk duduk di pembaringan dan dia duduk di tepi pembaringan. "Tenangkan hatimu, Kiok Lan, dan sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku telah menemukan jalan terbaik bagiku, yang akan menchindarkan engkau dari aib ini."

Gadis itu, dengan mata membengkak merah dan kedua pipi masih basah, memandang kakaknya. Ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata akan tetapi pandang matanya sudah mengajukan pertanyaan apa yang dimaksudkan kakaknya dengan ucapan itu.

"Adikku yang manis, hentikan tangismu dan dengarkan baik-baik. Kita telah mendapatkan bintang penolong, yaitu seorang pemuda yang dengan suka rela akan menutupi aib pada dirimu. Dia bersedia untuk menikah denganmu, menjadi suamimu yang sah."

"Koko! Bagaimana mungkin aku..."

"Ssttt... jangan khawatir. Dia sudah tahu akan keadaan dirimu, bahkan dia yang telah menyaksikan semua itu. Dia adalah Suma Hok..."

"Ahh...!” Wajah gadis itu berubah kemerahan, tentu saja ia merasa malu bukan main mengenangkan bagaimana pemuda itu telah menjadi saksi yang tak berdaya ketika, ia dalam keadaan pingsan, diperkosa oleh Pouw Cin!”

"Ingat, adikku. Dia kini menjadi pambantu utamaku, pengganti Paman Pouw Cin yang ternyata menjadi jahat seperti kemasukan iblis, dan Suma-toako memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dan selain dari itu, bukankah dia pula yang telah membalaskan sakit hatimu, telah membunuh jahanam yang berbuat keji terhadap dirimu?"

"Akan tetapi... koko, kenapa dia... dia mau mengorbankan diri untuk menolongku?" Ia meragu karena masih bimbang, tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana semua peristiwa ini terjadi demikian tiba-tiba dan mengejutkan. Tadinya, ia sebagai seorang gadis yang lincah gembira, yang masih remaja karena usianya baru tujuh belas tahun, tiba-tiba saja telah dipaksa untuk menjadi seorang gadis dewasa yang dihadapkan pada pernikahan!

"Dia merasa iba kepadaku, dan kepadamu, siauw-moi, dan dia menawarkan diri selain untuk menggantikan Pouw Cin menjadi, pembantuku yang setia, dia juga bersedia untuk menutupi aibmu dan menjadi suamimu. Bukankah itu hebat sekali, siauw-moi? Dengan pengorbanan orang gagah itu, semua menjadi beres, melapetaka ini bahkan menjadi berkah. Aku mendapatkan seorang pembantu yang amat baik. dan engkau mendapatkan seorang suami yang baik pula."

"Tapi... aku... aku sebetulnya belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga, koko, usiaku juga baru tujuh belas tahun..."

"Aku mengerti, adikku. Akan tetapi dalam keadaanmu seperti ini, kurasa... ah, kita terpaksa...! Bagaimana, Kiok Lan, engkau setuju, bukan? Aku harus memberi keputusan kepada Suma-toako sekarang juga agar dia tidak ragu-ragu dalam membantuku."

"Kiranya tidak ada jalan lain bagiku kecuali menyetujui jalan keluar yang satu-satunya ini, koko. Akan tetapi, biarlah aku bicara dulu dengan dia, baru aku akan memberi keputusan."

"Baiklah, adikku. Aku menunggu dengan sabar, dan engkau harus ingat juga keadaanku, karena aku amat membutuhkan bantuan Suma-toako dan kalau engkau menolak, mungkin dia akan merasa tersinggung. Dia menawarkan diri untuk menolong, kalau ditolak, seolah kita memandang rendah kepadanya."

"Aku mengerti. Biar aku yang bicara sendiri dengannya, koko."

Demikianlah, baru dua hari kemudian, setelah mata gadis itu tidak lagi membengkak dan merah, setelah lenyap bekas-bekas tangis dukanya, ia memberi kesempatan kepada Suma Hok untuk bertemu dengannya di ruangan tamu. Ia tidak mau mengadakan pertemuan dengan Suma Hok di taman. Semenjak terjadinya peristiwa itu, taman dan pondoknya seolah menjadi tempat yang mengerikan bagi Kiok Lan.

Mereka duduk berhadapan di dalam ruangan tamu itu. Hati Suma Hok merasa lega dan juga kagum melihat betapa gadis itu kini sudah pulih, tidak lagi terbenam dalam duka. Namun ada suatu perubahan terjadi, yaitu dalam sikapnya. Biasanya, Liu Kiok Lan adalah seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira, bahkan masih agak kekanak-kanakan. Akan tetapi kini sikapnya menjadi lain, begitu tenang pendiam dan gerak geriknya halus, seolah gadis remaja itu kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang dapat menguasai dan mengendalikan diri.

"Nona Liu..." kata Suma Hok setelah mereka berdua duduk berhadapan agak lama dan keduanya berdiam diri saja.

Liu Kiok Lan mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut dan akhirnya Kiok Lan lebih dahulu menundukkan mukanya, kedua pipinya agak kemerahan karena kembali ia teringat akan peristiwa, yang amat memalukan baginya itu dan betapa pemuda di depannya ini yang menjadi saksi tunggal. Ia masih menundukkan mukanya ketika dengan suara lirih.

"Suma-toako, aku telah mendengar dari kakakku tentang niatmu untuk menolong aku..." Ia berhenti, sukar agaknya untuk melanjutkan.

"Nona, maafkan kalau engkau menganggap aku lancang. Sesungguhnya, aku memang tidak cukup berharga dan pantas untuk menjadi teman hidupmu...“ Suma Hok dengan cerdik mengambil sikap rendah hati.

"Toako, aku mendengar dari kakakku bahwa engkau bersedia melakukan itu karena engkau merasa iba kepadaku dan karena engkau ingin membebaskan aku dari aib. Benarkah itu?"

"Benar sekali, nona!" kata Suma Hok cepat. "Aku merasa amat iba kepadamu, aku ingin membebaskan engkau dari kedukaan dan keputus-asaan, juga ingin melenyapkan aib yang kau derita."

Hening sebentar dan setelah menghela napas beberapa kali, Liu Kiok Lan mengangkat muka menatap wajah pemuda itu dan kini Sinar matanya tajam penuh selidik. "Hanya itu saja alasannya? Engkau hendak menikahiku hanya karena ingin menolongku, hanya karena engkau merasa iba kepadaku?" Sepasang mata itu memandang tanpa berkedip. “Tidak ada alasan lain?"

Suma Hok terkejut. Mata itu seolah dapat menjenguk hatinya. Tentu saja alasan utamanya bukan menutup aib, bukan pula iba, melainkan sama sekali berlainan. Dia ingin memperisteri gadis itu selain untuk mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita bekas puteri istana, juga hal itu akan mengangkat derajatnya dan akan memperbesar kemungkinan dia kelak menduduki jabatan tinggi!

Sama sekali dia tidak merasa iba, dan seujung rambutpun dia tidak perduli akan aib yang menimpa diri Kiok Lan atau gadis yang manapun juga di dunia ini. Dia seorang yang cerdik dan licik bukan main. Biarpun pertanyaan itu diam-diam mengejutkan hatinya, hanya sebentar saja dia tertegun. Segera dia tersenyum malu-malu dan berkata dengan suara lirih menggetar.

"Nona. sebetulnya aku tidak berani mengatakan hal yang sejak dulu menjadi bisikan hatiku ini, akan tetapi... karena sekarang engkau bertanya, terpaksa aku memberanikan diri untuk mengaku terus terang. Nona Liu Kiok Lan, sebelumnya maafkan aku, akan tetapi... sejak pertama kali kita berjumpa, sejak aku membantumu menghadapi Ngo-liong Sin-kai itu, aku... telah jatuh cinta kepadamu! Nah, lega hati ini telah mengeluarkan bisikan hatiku itu, nona. Sejak pertama kali bertemu, aku telah jatuh cinta padamu. Akan tetapi... siapakah aku ini? Nona adalah seorang bekas puteri istana, bahkan adik bekas kaisar, seorang puteri bangsawan, dan aku... aku hanya seorang pendekar petualang, maka sampai matipun aku tidak akan berani menyatakan cintaku kepadamu. Kemudian, sungguh jahanam Pouw Cin itu! Kemudian terjadilah malapetaka itu menimpa dirimu, nona. Karena tidak melihat jalan keluar lain untuk menolongmu, maka aku memberanikan diri untuk menyatakan kesediaanku menikahimu tentu saja kalau nona sudi menerimaku."

Terjadi perubahan sedikit demi sedikit pada wajah yang masih agak pucat itu. Kedua pipi itu kemerahan, mata itu bersinar dan wajahnya berseri, mulutnya dihias senyum yang ditahan-tahan. Pengakuan cinta Suma Hok sungguh merupakan obat amat mujarab yang dapat mengurangi rasa nyeri, pedih dan perih di hati gadis itu. Kalau pemuda itu hendak menikahinya hanya karena iba, hanya untuk menolongnya, maka dalam hubungan itu tentu tidak ada ikatan batin, akan hambar dan seperti permainan sandiwara belaka. Akan tetapi kalau ada cinta, itu lain lagi! Dan agaknya tidak akan sukar baginya untuk mencinta pemuda itu, yang memang sudah dikaguminya sejak semula, walaupun saat itu ia belum merasakan adanya kasih sayang itu.

Melihat gadis itu hanya menundukkan mukanya yang kini kemerahan, mata itu tadi bersinar-sinar, dan bibir itu kini agak merekah dengan senyum malu-malu, Suma Hok juga tersenyum senang dan bangga, penuh kemenangan. Dia menanti sampai beberapa saat lamanya, dan melihat gadis itu agaknya sukar untuk bicara, diapun benar ya lembut tanpa mendesak.

"Bagaimana jawabanmu, nona? Percayalah andaikata nona merasa terlalu tinggi untuk menjadi jodohku, katakan saja terus terang dan aku tidak akan menyalahkan mu, hanya aku bersumpah selamanya tidak akan menikah dengan wanita lain. Sebaliknya, kalau nona setuju, aku akan membahagiakanmu, nona, dan aku akan membantu kakakmu sampai tercapai cita-cita kita bersama, yaitu membangun kembali kerajaan Liu-sung..."

Betapa muluknya janji yang diucapkan pemuda itu. Kiok Lan sampai terbuai dan memejamkan mata sejenak, kemudian ketika ia membuka matanya dan mengangkat muka memandang, Suma Hok melihat betapa pandang mata kepadanya itu kini sudah berubah. Demikian indah, demikian mesra!

"Toako, aku menerima usulmu atau katakanlah pinanganmu dan aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, aku minta agar urusan perjodohan ini ditunda sampai setahun lagi. Setahun kemudian, barulah aku bersedia untuk melangsungkan pernikahan denganmu, toako."

Diam-diam Suma Hok terkejut dan kecewa. "Maaf, nona, akan tetapi mengapa kita harus menanti sampai satu tahun lagi? Apa yang menjadi halangannya?"

"Harap jangan salah paham, toako. Terus terang saja, sejak pertama akupun sudah kagum kepadamu, walaupun belum ada cinta kasih seperti yang terdapat dalam perasaan hatimu kepadaku. Maka, kalau aku sekarang menerima, hal itu kulakukan penuh kesadaran dan keikhlasan. Akan tetapi, aku pernah mengambil keputusan bahwa sebelum usiaku delapan belas tahun, aku tidak akan menikah. Kita masih mempunyai waktu setahun untuk saling bergaul sebagai tunangan, dan dalam waktu itu, aku juga ingin dapat jatuh cinta kepadamu, kepada orang yang akan menjadi suamiku selama hidupku."

Bukan main girangnya hati Suma Hok. Tidak apa menanti setahun, karena bukan gairah berahi yang mendorongnya memperisteri Kiok Lan. Biarpun belum menikah, kalau dia sudah menjadi tunangan gadis ini, berarti dia sudah menjadi calon adik ipar bekas kaisar, berarti dia sudah menjadi keluarga dekat. Apalagi kalau dia menjadi pembantu utama! Kedudukan tinggi sudah menanti di ambang pintu baginya!

"Baiklah, nona... atau bolehkah aku menyebutmu moi-moi (adinda?) Lan-moi?" Dia tersenyum.

Kiok Lan juga tersenyum, kini senyum wajar yang timbul karena kelegaan dan kegembiraan hati. "Tentu saja boleh, dan aku akan menyebutmu koko, Suma-koko. Dan kita akan lanjutkan latihan-latihan ilmu silat, ya, koko?”

“Tentu saja. Lan-moi. Aku akan mengajarkan seluruh apa saja yang kumiliki kepadamu. Bukankah engkau ini calon isteriku tersayang?"

Demikianlah, mulai hari itu, Suma Hok menjadi pembantu utama dari Siauw Tek, menggantikan kedudukan Pouw Cin. Semua perwira diperkenalkan kepadanya, bahkan seluruh pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari lima ribu orang besarnya itu kini mengetahui bahwa panglima Pouw Cin telah tewas oleh mata-mata musuh, dan kini yang menjadi panglima adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Tok-siauw-kui, pu-tera dari Kui-siauw Giam-ong Suma Koan yang terkenal sebagai datuk dari Kui-eng-san (Bukit Bayangan Setan).

Para perwia juga sudah diberitahu bahwa panglima atau komandan mereka adalah calon suami nona Liut Kiok Lan. Tentu saja kenyataan ini membuat mereka lebih tunduk dan hormat kepada Suma Hok. Pemuda yang amat cerdik inipun dapat bertahan, mengekang gairahnya. Dia tahu bahwa Kiok Lan adalah seorang gadis yang berbeda dari gadis biasa. Ia seorang bekas puteri yang mempunyai harga diri amat tinggi. Dia tidak berani main-main dan tidak pernah dia mencoba untuk membujuk calon isterinya itu menyerahkan diri kepadanya. Dia akan bersabar sampai waktu setahun lewat, sampai mereka dinikahkan secara resmi.

Dan Suma Hok juga tidak tinggal diam sebagai pengganti Pouw Cin. Dia bahkan mengajarkan ilmu silat tambahan kepada para perwira dan memerintahkan agar semua perajurit dilatih ilmu itu sehingga setiap orang perajurit merupakan tenaga yang tangguh. Selain itu, Suma Hok juga memberi kabar kepada ayahnya yang menjadi gembira sekali mendengar puteranya menjadi calon adik ipar bekas kaisar Cang Bu yang kini sedang berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh lima tahun yang lalu. Dengan senang hati diapun menyatakan siap untuk membentu, membuat Siauw Tek semakin gembira dan bersemangat.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Kota raja Nan-king menjadi semakin ramai dan besar setelah kini menjadi kota raja dari kerajaan baru, yaitu dinasti Chi (479-501) yang didirikan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi kaisar pertama kerajaan Chi dengan nama Kaisar Siauw Hian Ong. Berbeda dengan sikap kerajaan Liu-sung yang lebih condong memihak Agama To dari pada Agama Buddha sehingga kerajaan Liu-sung tidak mendapatkan dukungan dari Agama Buddha yang memiliki banyak pengikut, Kaisar Siauw Bian Ong membuka pintu lebar-lebar bagi kedua agama itu.

Apalagi pada masa itu, kerajaan Wei di utara, yaitu kerajaan Bangsa Toba atau Tartar yang dipimpin oleh Kaisar Wei Ta Ong, mengambil sikap memusuhi para hwesio (pendeta Buddha) yang dianggap sebagai orang-oran asing. Banyak sekali hwesio yang dibunuh di kerajaan Wei yang dipengaruhi oleh para pengikut agama To, dan banyak yang melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce dan mengungsi ke daerah kerajaan baru Chi.

Di selatan ini. Agama Buddha berkembang dengan pesat, dan kebijaksanaan Kaisar Siauw Bian Ong membuat permusuhan yang terjadi antara para pengikut Agama To dan pengikut Agama Buddha tidak terbawa ke selatan. DI kerajaan ini, kedua pengikut agama itu dihargai dan dihormati, penyebaran agama mereka diterima secara bebas oleh rakyat.

Karena inilah, maka kota raja Nan-king nampak semakin meriah dan ramai. Keamanan jauh lebih baik dari pada di utara, dan suasana aman ini tentu saja menumbuhkan perdagangan. Pedagang keluar masuk kota raja Nan-king. dan tentu saja akibatnya banyak dibangun rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan yang besar dan yang setiap hari penuh dengan tamu. Pasukan keamanan kota raja Nan-king juga, terkenal dengan jagoan-jagoan istana yang lihai, dan yang selalu melakukan perondaan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di kota raja itu.

Tidak ada penjahat berani banyak lagak di kota raja ini, dan suasana yang terjamin keamanannya itulah yang membuat para pedagang menjadi semakin bersemangat melakukan perdagangan dan suasana di kota ini nampak meriah dan gembira. Apalagi golongan penjahat kecil, bahkan para tokoh kang-ouw, baik golongan hitam atau putih, baik para penjahat maupun pendekar, tidak ada yang berani malakukan kejahatan secara berterang di kota raja Nanking.

Kaisar Siauw Bian Ong adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pandai, tidak seperti bekas Kaisar Cang Bu dari kerajaan Liu-sung yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi belaka, kurang memperhatikan nasib rakyat jelata sehingga pemerintahannya dicengkeram oleh para pembesar yang korup. Para pembesar seperti itu, bukan hanya tidak memperhatikan nasib rakyat, bahkan lebih celaka lagi, sebaliknya dari pada mengayomi rakyat, mereka bahkan menekan rakyat dengan berbagai cara untuk memenuhi gudang harta mereka sendiri.

Kalau bapaknya penjahat, bagaimana mengharapkan anaknya menjadi baik? Kalau para penjahat tinggi korup, bagaimana mungkin mengharapkan para penjahat rendahan akan bersikap jujur? Dan pembesar tinggi yang menjadi pengawas sendiri bertindak korup, bagaimana mungkin dia berani meindak bawahannya yang juga melakukan Korup seperti dia sendiri, dalam ukuran lebih kecil? Kalau yang di atasan jujur, sudah, pasti yang di bawahan tidak berani curang karena yang di atasnya tentu akan menghantamnya.

Kaisar Siuw Bian Ong yang mengaku sebagai keturunan keluarga Siauw yang besar yang terkenal sejak nenek moyang mereka yang bernama Siauw Ho menjadi perdana menteri kerajaan Han (tahun 206 SM - 8 AD), maklum bahwa sebuah kerajaan baru akan kokoh kuat kalau mendapatkan dukungan rakyat jelata. Biarpun memiliki kekuatan pasukan yang besar dan kuat. kalau tidak mendapat dukungan rakyat dan lebih lagi kalau sampai dibenci rakyat, maka kekuatan pasukan itu tidak akan banyak manfaatnya. Dan satu-satunya cara untuk memperoleh dukungan rakyat hanyalah kalau pemerintah dapat mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata.

Kalau rakyat merasa puas. dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, kalau rakyat dapat memetik buah dari pohon tanaman pemerintah, kalau rakyat dapat ditingkatkan taraf hidupnya, maka rakyat tentu akan mencintai pemerintah dan akan membela mati-matian kalau pemerintah yang mendatangkan kebahagiaan itu sampai terancam oleh kekuasaan lain. Dan satu-satunya cara untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat jelata hanyalah dengan pembangunan dalam segala bidang.

Memperluas lapangan pekerjaan, menjaga ketertiban dan keamanan sehingga rakyat dapat bekerja dengan gembira karena merasa aman dan tenteram, mengatur sedemikian rupa dengan segala kebijaksanaan agar setiap orang dari rakyat jelata terpenuhi semua kebutuhan pokok hidup mereka. Dan kalau para cerdik pandai, mereka yang memegang kemudi pemerintahan, terdiri dari orang-orang bijaksana yang tidak memetingkan diri sendiri, tidak melakukan korupsi, tidak menekan rakyat, maka cita-cita untuk memakmurkan kehidupan rakyat bukan sekedar menjadi slogan dan mimpi kosong belaka.


Kaisar Siauw Bian Ong berusaha ke arah itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kini, setelah lima tahun dia mendirikan dinasti Chi, kota raja Nan-king menjadi sebuah kota kerajaan yang besar, ramai dan perdagangan maju dalam segala bidang. Juga kaisar baru ini bersikap lunak terharap bekas para pejabat tinggi, para bangsawan, bahkan keluarga dari kerajaan Liu-sung yang telah dia jatuhkan. Dia tidak seperti penakluk-penakluk yang lain, yang sering kali melakukan pembersihan, membunuhi seluruh keluarga raja yang ditaklukkan, bahkan membunuhi para pejabat tinggi kerajaan yang kalah karena takut kalau-kalau mereka akan mengadakan pembalasan dan pemberontakan.

Hal ini mungkin karena memang masih ada hubungan keluarga antara keluarga Siauw dan keluarga Liu, yaitu keturunan raja-raja yang memerintah kerajaan Liu-sung. Akan tetapi terutama sekali karena Kaisar Siauw Bian Ong ingin agar para cerdik pandai bekas pembesar kerajaan Liu-sung, kini membantu pemerintahannya, dan melihat bahwa pemerintah yang baru jauh lebih baik dari pada pemerintah kerajaan yang telah jatuh itu. Satu di antara keluarga bangsawan yang tidak dibasmi, dihukum atau dibunuh oleh pemerintah yang baru adalah keluarga bangsawan Kwan yang telah turun temurun menjadi bangsawan yang memegang jabatan penting dalam kerajaan Liu-sung.

Yang terakhir, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, Kwan Jin Kun memegang kedudukan tinggi, yaitu sebagai Menteri Kebudayaan. Kwan-taijin (Pembesar Kwan) adalah seorang sasterawan dan seniman yang bijaksana dan lemah lembut. Karena dia seorang yang mencintai pekerjaannya, mencintai kebudayaan, maka dia sejak dahulu tidak pernah menjadi seorang pembesar yang korup dan sewenang-wenang seperti banyak pejabat lainnya. Dia tidak pernah menyalah-gunakan kekuasaannya, apalagi karena jabatannya mengurus kebudayaan, maka jabatannya sendiri tidak memberi banyak kesempatan kepadanya untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Biasanya, kesempatan yang membuat orang melakukan penyelewengan.

Ketika kerajaan Liu-sung jatuh. Kwan-taijin tidak mengajak keluarganya melarikan diri seperti banyak pembesar lainnya. Akan tetapi, diapun tidak lalu menyerah kepada penguasa baru. Dia bukan seorang pengkhianat, bukan pula penakut. Kalau dia tidak mengikuti kaisarnya yang melarikan diri mengungsi, hal itu bukan karena dia tidak setia kepada kerajaan Liu-sung, melainkan sudah hal suatu ketidakcocokan antara dia dan kaisar Cang Bu.

Pernah dia memprotes kaisar dan para pejabat tinggi yang hanya tenggelam dalam kesenangan tanpa memperdulikan keadaan rakyat, bahkan lengah terhadap gejala pemberontakan yang timbul di mana-mana, akan tetapi protes ini bahkan membuat kaisar marah-marah kepadanya. Oleh karena itu, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, diapun tinggal saja di rumah bersama keluarganya. Dia sama sekali tidak merasa takut, karena dia tidak pernah merasa bersalah. Kalau penguasa baru akan membunuhnya, diapun sudah siap.

Kwan Jin Kun mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang puteri bernama Kwan Hwe Li, akan tetapi keluarga itu telah kehilangan puteri ini sejak kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu! Sampai sekarang, keluarga itu belum pernah bertemu kembali dengan puteri itu yang meninggalkan rumah. Kwan-taijin dan isterinya merasa prihatin bukan main, apalagi ketika mereka mendengar bahwa puteri mereka itu kini telah menjadi seorang datuk di dunia kang-ouw!

Anak ke dua mereka seorang putera yang kini telah berusia empat puluh delapan tahun dan telah menjadi seorang hakim di kota Bi-ciu, dan setelah pergantian pemerintahan, di kerajaan Chi diapun masih tetap menjadi hakim, karena dia terkenal sebagai seorang hakim yang bijaksana dan adil sehingga pemerintah yang baru tetap mengangkat Kwan Hwe TJn ini menjadi hakim di Bi-ciu.

Kwan Jin Kun kini telah berusia tujuh puluh lima tahun, dan isterinya telah meninggal dunia lima tahun yang lalu ketika terjadi perang saudara. Ketika kerajaan Liu-sung jatuh, wanita inipun jatuh sakit karena kaget dan khawatir sehingga ia tidak sempat menyaksikan betapa semua kekhawatirannya bahwa keluarganya akan tertimpa malapetaka sebetulnya tidak terjadi. Suaminya tidak diganggu oleh penguasa baru.

Bahkan Kaisar Siauw Biang Ong tadinya menunjukkan untuk tetap memegang jabatan lamanya. Akan tetapi, Kwan Jin Kun dengan hormat dan halus menolak, dengan alasan bahwa dia sudah terlalu tua untuk bekerja, apalagi semenjak ematian isterinya, dia sudah tidak mempunyai semangat lagi, dan hanya ingin menghabiskan sisa usianya untuk bersamadhi dan melepaskan diri dari semua ikatan keduniawian.

Rumah gedung besar tempat tinggal Kwan Jin Kun kini nampak sepi. Yang tinggal di situ hanyalah kakek Kwan, ditemani dua orang selir yang kini sudah berusia enam puluhan tahun akan tetapi misih setia kepadanya, dan empat orang pembantu rumah tangga. Hanya kadang saja, beberapa bulan atau setidaknya setahun sekali, kalau Kwan Hwe Un dari Bi-ciu bersama isteri dan anak-anaknya datang berkunjung, rumah gedung itu menjadi ramai. Selebihnya, rumah itu selalu sunyi, hanya kadang terdengar bunyi yang-kim (kecapi) yang dimainkan oleh seorang di antara selirnya.

Pada suatu pagi yang cerah, dua orang wanita memasuki pekarangan rumah gedung tua yang sunyi itu. Mereka adalah dua orang wanita yang cantik, yang seorang berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya cantik jelita dengan mulut yang manis dan sikapnya penurut dan lembut. Adapun wanita yang ke dua nampaknya berusia beberapa tahun lebih tua akan tetapi belum ada tiga puluh tahun, wajahnya juga cantik, pesolek dengan pakaian indah, mulutnya selalu tersenyum mengejek dan sikapnya anggun dan angkuh. Mereka ini adalah Cia Ling Ay, janda muda yang cantik itu bersama gurunya. Bi Moli Kwan Hwe Li yang usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi masih nampak muda dan cantik.

Seorang wanita pelayan keluar dari pintu depan menyambut mereka. Suasana dalam rumah itu sudah jauh berbeda dengan ketika Kwan Hwe Li masih tinggal di situ sebagai seorang gadis. Tidak lagi seperti rumah bangsawan dengan pengawal dan pelayan yang berpakaian keren. Kini melihat suasana rumah itu, melihat pakaian pelayan wanita yang keluar menyambut, tiada bedanya dengan ramah orang biasa. Pelayan wanita itu membungkuk-bungkuk menanyakan keperluan kedua orang wanita cantik itu datang berkunjung.

"Ji-wi sio-cia (Nona berdua) hendak mencari siapakah?" tanyanya dengan sikap hormat.

Kwan Hwe Li tidak mengenal pelayan itu, tentu seorang pelayan baru. Dan memang, ketika ia meninggalkan rumah ini, hal itu telah lewat kurang lebih tiga puluh tahun, dan ketika kerajaan Liu-sung jatuh, semua pelayan dari keluarga Kwan ikut pula lari mengungsi bersama banyak penduduk Nan-king yang lain, meninggalkan keluarga majikan mereka.

"Aku ingin bertemu dengan Kwan-loya (tuan tua Kwan)," kata Hwe Li, menahan getaran hatinya. Biarpun selama ini ia telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan telah menjadi datuk kang-ouw yang terkenal sekali, keras hati dan berwibawa, tidak urung hatinya tergetar ketika ia berada di rumah keluarga orang tuanya di mana ia dibesarkan, dan akan bertemu dengan ayah kandungnya. Ia sudah mendengar bahwa ibu kandungnya meninggal dunia ketika terjadi perang saudara dan bahwa kini yang tinggal di rumah itu tinggal ayahnya seorang diri. Ia tahu pula dari keterangan anak buahnya bahwa kakak tunggalnya kini masih menjadi hakim di Bi-ciu.

"Maaf, nona. Saya tidak berani menggangu lo-ya, karena pada saat sepagi ini, lo-ya masih duduk bersamadhi dalam kamarnya dan tak seorangpun dari kami diperbolehkan mengganggunya."

Hwe Li teringat bahwa menurut keterangan para anak buahnya yang pernah ia utus melakukan penyelidikan, selain ayahnya, di situ masih tinggal dua orang selir ayahnya, atau ibu tirinya, akan tetapi seingatnya, ayahnya dahulu mempunyai empat orang selir dan ia tidak tahu, selir yang mana yang sekarang masih menemani ayahnya tinggal di situ.

"Kalau begitu, panggilkan saja nyonya besar, katakan bahwa aku ingin bicara." katanya tak sabar.

"Baik, nona. Silakan ji-wi (kalian) menunggu di ruangan tamu." pelayan itu mempersilakan dua orang tamunya duduk di ruangan tamu yang berada di samping kiri.

Bi Mo Li Kwan Hwe Li dan Cia Ling Ay memasuki ruangan tamu itu dan duduk di atas kursi-kursi yang bentuknya kran. Diam-diam Kwan Hwe Li terharu melihat keadaan kamar itu. Semua perabotnya adalah perabot lama yang kini sudah mulai nampak tua dan butut. Ruangan itu, yang dahulu nampak mewah, kini kehilangan kemewahannya dan bahkan membayangkan keadaan yang bangkrut. Perabot yang semestinya minta ganti yang baru dipertahankan, ruangan itu memberi kesan yang tua dan buruk.

Suara langkah kaki dengan sepatu diseret membuat kedua orang wanita itu menengok, memandang ke arah pintu sebelah dalam yang terbuka. Seorang wanita berusia enam puluhan tahun muncul di ambang pintu dan biarpun wanita itu sudah kelihatan tua sekali, namun Hwe Li segera mengenalnya. Inilah ibu tirinya yang ke tiga, yang dahulu ketika ia pergi, merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang selain cantik menarik, juga lincah dan genit! Namun, di antara para ibu tirinya, wanita inilah yang sikapnya paling ramah dan akrab dan merupakan ibu tiri yang dahulu seperti sahabatnya sendiri.

"Ibu ke tiga...!" kata Hwe Li sambil mengamati wajah itu dan seruannya merupakan bisikan penuh keraguan.

Akan tetapi, wanita tua itu terbelalak. Kwan Hwe Li sudah pergi selama tiga puluh tahun, akan tetapi seolah-olah wajah cantik itu sama sekali tidak berubah, masih tetap seperti dahulu, tiga puluh tahun yang lalu!

"Kau... kau... Hwe Li...!? Ah, tidak mungkin...! Hwe Li hanya lebih muda sepuluh tahun dariku, tentu sekarang telah menjadi seorang nenek. Ah, aku tahu! Engkau tentulah puterinya! Ya, engkau tentu anak dari Hwe Li! Bagaimana ibumu sekarang, nak? Kenapa ia tidak ikut datang?" Wanita itu dengan ramahnya menghampiri dan merangkul pundak Hwe Li. Wanita ini tersenyum dan diam-diam ia merasa terharu. Wanita ini, biarpun sekarang sudah tua dan keluarganya jatuh miskin, masih tetap ramah dan periang seperti dahulu. Pantas saja ayahnya masih mempertahankannya untuk menemanimu di situ.

"Ibu, akulah Hwe Li!" katanya sambil merangkul selir ayahnya yang ke tiga itu.

"Ehh...??" Wanita itu memegang kedua pundak Hwe Li, mendorongnya ke belakang dan mengamati wajah yang cantik itu. "Kau... kau memang tiada bedanya dengan Hwe Li. Akan tetapi tidak mungkin! Engkau tentu sudah berusia lima puluhan tahun, dan engkau kelihatan seperti seorang gadis. Bagaimana mungkin engkau Hwe Li?"

"Sungguh, ibu. Aku adalah Kwan Hwe Li dan aku datang untuk menengok ayah. Bagaimana dengan ayah? Aku ingin sekali bertemu dengannya."

"Hwe Li...! Engkau benar-benar Hwe Li? Kami sudah mendengar bahwa engkau menjadi seorang wanita sakti, akan tetapi... bagaimana mungkin engkau menjadi wanita yang selalu muda, tak pernah menjadi tua?"

Hwe Li tersenyum, merangkul pinggang ibu tiri yang dahulu menjadi amat akrab seperti sahabat baik dengannya. "Ibu, mari kita temui ayah. Kamarnya masih yang dahulu, bukan? Oh, aku sampai lupa, Ibu, ini adalah Cia Ling Ay, ia muridku. Ling Ay, ini ibuku yang ke tiga, engkau boleh memanggilnya Bibi ke Tiga."

Ling Ay cepat membungkuk dan memberi hormat. Wanita tua itu memandang, terheran-heran. "Kalau engkau benar-benar Hwe Li sungguh luar biasa sekali! Engkau masih secantik dan semuda dahulu, dan engkau bahkan seperti kakak beradik saja dengan muridmu ini."

“Sudahlah, ibu, mari kita temui ayah." kata Hwe Li dan ia menggandeng ibu tirinya keluar dari ruangan tamu dan masuk ke ruangan dalam. Ia masih ingat di mana letak kamar ayahnya, kamar besar yang tak jauh dari ruangan tengah. Setelah mereka berada di depan pintu kamar, ibu tirinya berbisik,

"Hwe Li, biasanya, pada saat seperti ini, ayahmu masih bersamadhi di dalam kamarnya. Aku tidak berani mengganggunya."

"Ibu, biarlah aku yang memangil ayah." kata Hwe Li dan ia mengetuk daun pintu, lalu mengerahkan khi-kang sehingga biar suaranya hanya lirih, namun suara itu menembus ke dalam kamar dan akan terdengar dengan jelas sekali oleh orang yang berada di dalam kamar. "Ayah, aku Kwan Hwe Li datang untuk menengok ayah!"

Hanya sekali Hwe Li bicara dan terdengar suara kaget dari dalam. Suara Hwe Li yang didorong kekuatan khi-kang itu terdengar jelas sekali oleh kakek Kwan yang bersamadhi di dalam kamar. Tentu saja dia tersentak kaget mendengar kalimat itu.

"Ahhh...“ Dan diapun turun dari atas pembaringan, menghampiri daun pintu kamar dan membukanya.

Sekeras-kerasnya hati Hwe Li, ia merasa seolah jantungnya diremas karena terharu melihat ayahnya kini telah menjadi seorang kakek tua renta! Biarpun dahulu, tiga puluh tahun yang lalu, ayahnya juga hanya seorang laki-laki yang lemah dan tidak pernah mempelajari ilmu silat, namun ayahnya yang lemah lembut itu memiliki gairah hidup yang timbul karena jiwa seninya. Kini, hanya sepasang mata itu yang masih nampak hidup bersemangat, akan tetapi tubuhnya sudah lemah dan gemetaran!

"Ayah...!!" Hwe Li menubruk dan merangkul ayahnya.

Ketika kedua lengannya merangkul, ia merasakan betapa kedua lengannya memeluk kerangka, seolah tubuh itu hanyalah tulang tulang terbungkus kulit saja. Namun, kedua tangan kurus itu masih membelainya.

"Hwe Li... kau Hwe Li...! Engkau masih seperti dulu...! Engkau masih Hwe Li yang dahulu!" Tiba-tiba tangannya memegang pundak Hwe Li dan seperti yang dilakukan isterinya yang ke tiga tadi, dia mendorong tubuh Hwe Li dan mengamati wajah dan seluruh tubuh wanita itu dengan penuh keheranan. "Akan tetapi, engkau masih begini muda! Padahal, usiamu tentu sudah ada lima puluh tahun sekarang!"

Sepasang mata yang masih indah itu basah air mata. Menangis merupakan kebiasaan kaum wanita. Biasanya, perasaan wanita amatlah halus dan peka, dan hal ini membuat mereka emosionil dan air mata mereka selalu siap untuk dicucurkan dalam tangis. Akan tetapi. Bi Moli Kwan Hwe Li bukan wanita biasa lagi. Hatinya sudah mengeras dalam gemblengan pengalaman hidup yang serba keras dan pahit. Hatinya tidak lagi mudah tergerak dalam keharuan, apalagi tangis. Namun kini, hampir ia tidak dapat menahan untuk tidak terisak menangis dan hanya air matanya saja yang membasahi pelupuk matanya dan ada sebutir dua air mata yang sempat meloncat keluar.

"Ayah, aku Hwe Li, ayah. Berkat ilmu yang kupelajari, aku dapat tetap awet muda seperti sekarang."

"Hwe Li, ahh... Hwe Li...!" Ayah itu merangkul.

Kemudian mereka keluar dari kamar itu, menuju ke ruangan tengah di mana mereka duduk dengan penuh kegembiraan. Kakek Kwan meneriaki para pembantunya dan memperkenalkan puterinya, lalu menyuruh mereka mempersiapkan pesta seadanya untuk merayakan pulangnya puteri itu.

"Ayah, ini adalah Cia Ling Ay, muridku. Ling Ay, inilah ayahku, sekarang telah tua sekali."

Ling Ay cepat memberi hormat kepada orang tua itu. Sejak tadi Kwan Jin Kun tiada hentinya mengamati wajah puterinya. kemudian dia berkata,

"Hwe Li, ketika kami mendengar berita bahwa engkau telah menjadi seorang tokoh dunia persilatan, dan kabar itu amat menggelisahkan hatiku karena engkau dikabarkan menjadi seorang datuk kang-ouw yang berwatak iblis. Aku membayangkan bahwa engkau tentu kini menjadi seorang wanita setengah tua yang menakutkan. Akan tetapi... ha-ha, kabar itu bohong semua! Mungkin disebar oleh mereka yang membenci keluarga kita. Engkau ternyata masih tetap Hwe Li yang dahulu, dan engkau tidak seperti iblis, bahkan seperti seorang dewi!"

Kwan Jin Kun lalu menceritakan apa yang dialaminya sejak puterinya pergi meninggalkan rumah itu. "Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi yang baru ini cukup bijaksana, balikan aku harus mengakui dia lebih bijaksana dibandingkan kaisar yang lalu. Beliau juga menawarkan kedudukan lama kepadaku, akan tetapi aku sudah merasa terlalu tua untuk bekerja, Hwe Li. Aku lebih suka menghabiskan sisa hidupku dengan mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi. Aku tidak bersemangat lagi untuk mencampuri urusan dunia yang penuh dengan pertentangan. Lalu sekarang ceritakan semua pengalamanmu setelah engkau pergi meninggalkan rumah ini, anakku."

Hening sejenak. Diam-diam Ling Ay juga ingin sekali mendengarkan karena selama ini, gurunya belum pernah menceritakan dengan jelas tentang latar belakang kehidupannya. Pada saat itu, selir ke dua dari kakek itu memasuki ruangan itu. Tadi ia pergi berbelanja berbagai keperluan keluarga itu dan seperti juga selir ke tiga, ia terheran-heran karena ia segera mengenali Hwe Li. Segera iapun ikut pula duduk di ruangan itu dan mereka semua kini menanti Hwe Li menceritakan pengalamannya yang tentu akan menarik sekali.

"Ayah tentu masih ingat mengapa aku pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit?" Setelah menghela napas panjang Hwe Li bertanya dan memandang kepada ayahnya dan kedua orang ibu tirinya.

Ayahnya mengangguk dan diapun menarik napas panjang. "Siapa yang akan dapat melupakan peristiwa itu? Gara-gara pangeran mata keranjang itu! Gara-gara tunanganmu. Pangeran Tiauw Sun Ong, melakukan perbuatan yang memalukan itu, engkau menjadi marah dan malu, dan engkau pergi meninggalkan keluargamu tanpa pamit!"

"Benar sekali, ayah. Gara-gara Tiauw Sun Ong maka aku menjadi seorang petualang, Hatiku sakit bukan main. Tadinya aku berniat untuk mencari Tiauw Sun Ong yang sudah lolos dari sebagai seorang buta. Tekadku untuk membunuhnya karena ia telah menghancurkan kebahagiaan hatiku, telah mengkhianatiku, dan kami saling mencinta sejak remaja. Siapa kira, dia melakukan perbuatan tak senonoh dengan selir kaisar. Dalam perantauanku, aku bertemu orang-orang pandai di dunia, kang-ouw, aku mempelajari ilmu silat dengan tekun karena ada satu tujuan, yaitu membunuh Tiauw Sun Ong!"

Ayahnya menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Eehhh, kenapa engkau menuruti nafsu amarah? Mengapa engkau meracuni hatimu sendiri dengan dendam sakit hati, anakku? Sekali kita membiarkan nafsu merajalela di hati, nama kita akan diperhamba dan nafsu akan menjadi pembimbing kita yang akan menyelewengkan jalan hidup kita.”

Kwan Hwe Li tersenyum simpul mendengar ucapan ayahnya, Ia sudah kenyang dengan segala macam petuah dan nasihat ayahnya, bahkan sejak kecil sampai dewasa kepala dan hatinya sudah dijejali segara macam pelajaran tentang kebatinan dan agama. Akan tetapi semua itu lenyap tanpa bekas sejak hatinya hancur oleh perbuatan Tiauw Sun Ong. ia tidak perduli lagi. Lebih-lebih setelah ia berguru kepada banyak datuk persilatan, tokoh-tokoh besar kaum sesat di dunia kang-ouw. Ia makin jauh meninggalkan segala yang berbau pelajaran kebatinan itu.

Kini ia mendengar lagi petuah ayahnya, dan betapa hambarnya semua itu. ia maklum bahwa ia telah terlalu jauh tersesat, telah terlalu banyak perbuatan dilakukan tanpa memperhitungkan baik buruknya. Kalau perbuatannya dianggap kotor, maka kotoran itu telah sedemikian tebalnya sehingga kalau hanya setitik air pencuci berupa petuah dan pengetahuan kebatinan, tidak akan dapat membersihkannya! Bukannya ia tidak tahu bahwa ia telah menjadi seorang datuk sesat, Ia tahu benar, tahu bahwa semua perbuatannya selama ini oleh umum dianggap jahat, berdosa dan sebagainya. Akan tetapi ia tidak mampu meninggalkannya, tidak dapat dan tidak mau.

"Hwe Li, apakah engkau lalu berhasil membalas dendam sakit hatimu kepada Pangeran Tiauw Sun Ong?" tanya ibu tirinya yang ke dua.

Wajah Hwe Li berubah muram dan iar menggeleng kepala. "Berkali-kali aku mencobanya, akan tetapi jahanam itu ternyata setelah menjadi buta, memiliki ilmu kepandaian yang hebat bukan main sehingga semua percobaanku gagal. Aku tidak pernah dapat menang dalam pertandingan melawannya. Dia memang lihai bukan main. Akan tetapi satu hal yang membuat hatiku bertambah sakit adalah kenyataan bahwa kalau aku menyerangnya dengan niat membunuh, sebaliknya dia yang selalu mengalahkan aku, tidak pernah mencoba untuk membunuhku, bahkan melukaikupun belum pernah!"

"Siancai...!” Kakek Kwan berseru dengan suara pujian. "Itu menandakan bahwa dia masih sayang kepadamu, atau setidaknya, dia telah menyesali perbuatannya sehingga tidak mau melukaimu, anakku. Engkau seharusnya berterima kasih karena ternyata pangeran yang telah kehilangan kedudukan dan telah menjadi buta matanya itu ternyata tidak buta hatinya."

"Aku tidak perduli, ayah! Dan aku yakin bahwa dia melakukan itu sama sekali bukan karena dia mencintaku, karena aku telah membujuknya untuk hidup bersama akan tetapi dia selalu menolak. Tidak, dia sengaja memamerkan kepandaiannya untuk mengejek aku, membuat hatiku makin perih lagi. Akan tetapi sekarang aku merasa puas, ayah. Aku telah menemukan jalan untuk membuat dia menderita seperti aku, tanpa aku harus menyerangnya satu juruspun!"

Wanita cantik itu tertawa dan biarpun suara tawanya merdu, namun ayahnya dan dua orang ibu tirinya bergidik karena dalam suara tawa itu terkandung sesuatu yang mengerikan.

"Siancai... semoga Tuhan akan menyadarkanmu, anakku. Dan setelah engkau pulang, kami harap engkau dan muridmu akan terus tinggal di sini. Engkau mau menemaniku ayahmu yang tidak akan lama lagi berada di dunia ini, bukan?”

Dalam suara itu terkandung permohonan. Kakek ini bukan mengeluarkan ucapan itu karena rasa iba diri, melainkan mempunyai maksud lain. Dia menghendaki agar puterinya itu selalu dekat dengannya sehingga lambat laun dia akan mampu membersihkan hati puterinya dan menyadarkannya bahwa cara hidupnya yang lalu adalah suatu penyelewengan dari pada kebenaran.

"Untuk sementara saja aku tinggal di sini, ayah. Aku pulang, pertama kali untuk menengok ayah dan terutama sekali aku ingin mencoba mengisi hidupku dengan keadaan yang baru. Aku ingin berdekatan lagi dengan istana. Mungkinkah itu, ayah? Mungkinkah aku dapat berdekatan dengan keluarga kaisar yang baru dan dapatkah ayah membantuku, seperti dahulu ketika aku masih gadis muda?"

"Aih, mana mungkin itu, anakku? Dahulu, ayahmu ini masih mempunyai kedudukan, apalagi ayahmu ini yang mengajarkan sastra kepada para pangeran dan putri istana. Sekarang aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan istana."

"Ayah tentu mempunyai kenalan pejabat di istana yang dapat membantu kami. Aku dan Ling Ay ingin bekerja di dalam istana Kaisar Siauw Bian Ong."

"Akan tetapi, apa yang dapat kau kerjakan di istana?"

Bi Moli Kwan Hwe Li menertawakan ayahnya. "Ayah, dengan kepandaianku sekarang, aku dapat menjadi pelatih ilmu silat dari para pengawal wanita, atau dapat menjadi pengawal permaisuri dan para puteri, sedangkan Ling Ay dapat menjadi dayang atau pelindung para puteri. Kalau perlu, kami bersedia diuji kepandaian kami untuk meyakinkan hati kaisar dan keluarganya."

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya kakek Kwan Jin Kun menyanggupi dan karena dia memang mempunyai banyak kenalan di istana, yaitu para pembesar yang membutuhkan nasihatnya sebagai seorang sasterawan yang berpengalaman dengan urusan istana, maka diapun berhasil. Kwan Hwe Li yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun masih nampak cantik itu diterima sebagai pelatih silat dan tugasnya melatih para pengawal istana, sedangkan Ling Ay diterima sebagai seorang pengawal permaisuri dan para puteri. Guru dan murid ini dengan mudah lulus dalam ujiaa yang dilakukan komandan pasukan pengawal istana.

********************

Biarpun usianya sudah lima puluh sembilan tahun, akan tetapi Tiauw Sun Ong masih tegap dan tubuhnya kokoh kuat. Andaikata kedua matanya tidak buta, tentu dia akan mampu melakukan perjalanan cepat sekali. Bekas pangeran ini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, sepandai-pandainya dia, karena kedua matanya tidak mampu melihat, terpaksa dia melakukan perjalanan sambil meraba-raba dengan tongkatnya dan perjalanan seperti ini tentu tidak dapat cepat.

Belum lama dia berpisah dari muridnya, Kwa Bun Houw yang dia tugaskan untuk mencari puterinya, Tiauw Hui Hong, dan melihat keadaan kerajaan Chi di Nan-king, baru kurang lebih dua li saja dia melakukan perjalanan, tiba-tiba dari depan datang dua orang wanita yang larinya cepat sekali dan mereka lewat dengan cepat seperti tidak memperdulikan orang buta yang berjalan dengan tongkat meraba-raba jalan itu.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diam-diam Tiauw Sun Ong terkejut karena dari gerakan lari dua orang itu, dia dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Akan tetapi karena mereka hanya berpapasan di jalan, diapun tidak memperdulikan lagi, tidak tahu bahwa dua orang wanita itu tiba-tiba berhenti berlari dan kini berdiri dan memandang kepadanya dari belakang.

Mereka adalah Kwan Im Sianli dan Hui Hong. "Bibi, kenapa berhenti?" tanya Hui Kong.

"Kau lihat dia? Itulah laki-laki yang kumaksudkan."

Hui Hong tertegun, mamandang pria itu dari belakang. Tadi ketika berpapasan, ia tidak memperhatikan dan baru sekarang ia melihat betapa pria itu berjalan selangkah demi selangkah mempergunakan tongkatnya untuh meraba jalan. "Seorang buta?"

"Sekarang dia buta, dahulu tidak dan biarpun buta, dia lihai bukan main. Aku akan menyerangnya dan aku tahu bahwa aku bukan tandingannya. Kau bantu aku membunuh keparat jahanam itu seperti yang telah kaujanjikan dan setelah itu, aku akan membawamu kepada ayahmu. Tempatnya tidak jauh lagi dari sini."

Biarpun masih ragu karena harus mengeroyok seorang laki-laki tua yang buta, namun karena dijanjikan akan dipertemukan dengan ayahnya, Hui Hong mengangguk. Akan tetapi ia akan melihat dulu apakah benar-benar Kwan Im Sianli tidak mampu mengalahkan laki-laki buta itu. Kalau ternyata wanita cantik itu mampu mengalahkan si buta sendiri, ia tidak akan mau membantunya.

Kwan Im Sianli segera meloncat dan mengejar laki-laki buta sambil mencabut pedangnya. "Laki-laki yang buta mata dan hatinya, saat ini engkau akan mati di tanganku!" bentak Kwan Im Sianli dan ia segera menyerang dengan pedangnya, menusuk dada pria itu dengan kuat dan cepat.

"Tranggg...!"

Tiauw Sun Ong menggerakkan tongkatnya dan tusukan pedang itu tertangkis. "Kwan Im Sianli...? Bwe Si Ni, aku mau bicara denganmu!"

"Tidak perlu bicara lagi, mampuslah!” bentak Kwan Im Sianli dan kini ia menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan jurus-jurus maut.

Terpaksa Tiauw Sun Ong melayaninya, karena dia maklum bahwa wanita bekas kekasihnya ketika masih menjadi dayang istana ini memiliki ilmu silat yang amat hebat. Dan dia tidak mungkin hanya menangkis saja karena hal itu amat berbahaya. Menghadapi seorang lawan sehebat Kwan Im Sianli yang menjadi seorang datuk persilatan harus balas menyerang, kalau tidak, mungkin sekali dia akan roboh dan tewas.

Tongkatnya bergerak cepat dan kini Kwan Im Sianli mulai terdesak. Dia ingin mengalahkan wanita itu tanpa membunuhnya atau melukai berat, karena kalau dia melukai berat, hal itu akan membuat ia menjadi semakin sakit hati kepadanya. Maka, Tiauw Sun Ong juga mengerahkan seluruh tenaganya dan terus menghimpit lawan, sinar tongkatnya bergulung-gulung dan tongkat itu bagaikan seekor naga yang bermain-main di angkasa, membuat sinar pedang Kwan Im Sianli semakin menyempit.

Melihat betapa wanita cantik itu benar-benar terdesak oleh si buta, barulah Hui Hong percaya betapa lihainya orang buta itu. Melihat jalannya pertandingan, ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, wanita itu akan kalah. Ia pun mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya dan meloncat, terjun ke dalam medan perkelahian. Sepasang pedang menyambar-nyambar ganas.

"Trang-tranggg...!!”

Tiauw Sun Ong menangkis sepasang pedang itu dan dia terkejut sekali karena maklum bahwa yang datang membantu Kwan Im Sianli ini memiliki ilmu pedang yang ganas dan tenaga yang cukup kuat.

"Kwan Hwe Li, kaukah ini?" seru Tiauw Sun Ong sambil memutar tongkatnya karena kini dua orang wanita itu menyerangnya dengan hebat. Akan tetapi karena tenaga kedua orang itu disatukan dalam suatu serangan yang berbareng, tangkisannya membuat dia terpaksa harus meloncat ke belakang.

"Tidak perlu bertanya, bersiaplah untuk mampus!" bentak pula Kwan Im Sianli. Ia memang sudah mengambil keputusan untuk membunuh pria yang pernah membuatnya tergila-gila ini. Lebih baik bekas pangeran ini mati di tangannya dari pada ia selalu merindukannya tanpa ada harapan sedikitpun. Pria yang dicintanya ini tidak mau menjadi teman hidupnya, maka lebih baik melihat dia mati! Kwan Im Sianli memperhebat serangannya dan Hui Hong juga mengerahkan tenaga karena ia tadi merasakan betapa kuatnya tangkisan tongkat itu yang membuat sepasang pedangnya terpental.

Maklum bahwa bicara tidak ada gunanya terhadap Kwan Im Sianli yang berhati keras, terpaksa Tiauw Sun Ong memutar tongkat membela diri. Dia maklum bahwa orang yang membantu Bwe Si Ni itu bukan Kwan Hwe Li. Pertama karena Kwan Hwe Li masih mencintanya dan ke dua karena Kwan Hwe Li pasti tidak mau bekerja sama dengan saingannya itu. Dahulupun ketika Bwe Si Ni datang menyerangnya, Kwan Hwe Li muncul dan bahkan mengusir Bwe Si Ni.

Hui Hong bersungguh-sungguh membantu Kwan Im Sianli Bwe Si Ni sehingga Thiauw Sun Ong mulai terdesak hebat. Dalam kemarahan dan sakit hatinya, Kwan Im Sianli sudah melukai Tiauw Sun Ong pada pundak kirinya. Bajunya robek dan pundak itu berdarah. Maklum bahwa akhirnya dia akan roboh dan tewas di tangan bekas kekasihnya itu, Thiauw Sun Ong melompat kebelakang, bukan untuk melarikan diri melainkan mencari kesempatan untuk bicara.

"Bwe Si Ni, engkau boleh mendendam kepadaku dan boleh membunuhku, akan tetapi sebelum aku mati, aku minta agar engkau tidak mengganggu Hui Hong anakku. Ia tidak bersalah apa-apa, jangan engkau mengganggunya dan bebaskan Hui Hong!"

Kwan Im Sianli terkejut mendengar ucapan itu, maka tanpa menjawab, ia sudah meloncat ke depan dan memutar pedangnya menyerang dahsyat! Thiauw Sun Ong menangkis, akan tetapi tangan kiri wanita itu menyambar dan mengenai dadanya.

"Plakk!" Tubuh bekas pangeran itu terjengkang, akan tetapi dia bergulingan menjauh, dikejar oleh Kwan Im Sianli. Ketika wanita ini menggerakkan pedangnya untuk mengirim tusukan maut, dan Thiauw Sun Ong yang belum bangkit itu terancam bahaya maut, tiba-tiba nampak sinar pedang berkelebat menangkis dari samping.

"Tranggg...!"

"Kwan Im Sianli, kau menipuku! Kau mengajakku membunuh ayahku sendiri!" bentak Hui Hong dan kini ia menyerang Kwan Im Sianli dengan marah.

Kwam Im Sianli menangkis dan melompat ke belakang, tertawa nyaring. "Heh-heh-heh, aku memang amat membencinya. Aku ingin anaknya sendiri yang membunuhnya, hi-hik!"

"Iblis betina jahat!" bentak Hui Hong dan kembali ia menyerang dengan dahsyat, disambut oleh Kwan Im Sianli dan begitu pedang mereka bertemu Hui Hong terhuyung ke belakang.

"Bwe Si Ni, kalau kau mengganggu anakku, demi Tuhan, kubunuh engkau!" Tiauw Sun Ong kini menerjang dengan tongkatnya!“ dan karena sekali ini bekas pangeran itu benar-benar marah dan mengerahkan tenaganya, Kwan Im Sianli terpental ke belakang!

Namun, wanita ini sudah nekat dan ia menyerang lagi sehingga terjadi perkelahian yang seru, Hui Hong tidak tinggal diam. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Perasaan girang karena ia bertemu ayahnya, juga rasa haru melihat ayahnya buta, dan bangga karena ternyata ayahnya seorang yang berilmu tinggi. Menghadapi Tiauw Sun Ong sendiri saja, Kwan Im Sianli sudah repot dan terdesak, apalagi setelah Hui Hong mengeroyoknya...