Social Items

Tangan Gledek Jilid 44

MALAM harinya diam-diam Cui Kong menyatakan ke khawatirannya kepada isterinya. "Liok Kong Ji itu lihai bukan main." ia ngarang cerita, “ketika ia mengejarku, dalam sepuluh jurus saja aku sudah hampir celaka. Apa lagi Cun Gi Tosu, kabarnya lebih lihai dari Liok Kong Ji. Kiranya gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) sendiri belum dapat menangkan mereka. Aku khawatir mereka itu segera dapat menyusul ke sini. Lebih baik kita malam ini pergi saja secara diam-diam, selain menyembunyikan diri sekalian berbulan madu. Bukankah akan senang sekali kita pergi berdua saja?"

Dirayu oleh bujukan-bujukan halus ini hati Ceng Ceng tertarik. Akan tetapi dia adalah puteri seorang pendekar besar, keberaniannya luar biasa. Mendengar suaminya hendak melarikan diri, ia merasa tak puas. “Mengapa kita begitu takut-takut? Apakah tidak lebih baik bertanya dulu ke pada ayah bagaimana baiknya? Mustahil kita berempat tak dapat menghadapi mereka."

“Ssst, jangan. Tentu saja gakhu dan gakbo tidak setuju dan mereka tentu tidak gentar menghadapi Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu. Akan tetapi aku yang sudah menyaksikan kelihaian mereka, lebih tahu. Pula, Liok Kong Ji mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang lihai dan kalau mereka datang dengan membawa kawan-kawannya, bukankah kebabagiaan kita sebagai pengantin baru akan terganggu dan ada kemungkinan aku tewas. Apa kau suka menjadi janda?”

“Tidak... tidak! Habis, bagaimana baiknya?” Ceng Ceng bingung juga, terpengaruh oleh ucapan suaminya yang sedang menjalankan siasatnya.

"Kau percayalah kepadaku, isteriku sayang. Aku suamimu masa hendak mencelakakan kau dan mertuaku? Aku sudah mempunyai rencana baik sekali. Mereka itu kalau datang takkan mengganggu ayah ibumu, karena yang mencuri kitab adalah aku dan mereka hanya mencari aku seorang. Oleh karena itu, agar jangan sampai ayah ibumu tertimpa dakwa, lebih baik kita diam-diam pergi dan kitab itu kita bawa serta. Kelak kalau sudah aman keadaannya, kita kembali. Tentu ayah bundamu akan memaafkan perbuatanku yang hanya kita lakukan demi menjaga keselamatan dan menjauhi keributan. Sungguh menyedihkan kalau sepasang pengantin baru seperti kita yang seharusnya bersenang-senang, sudah harus menghadapi ancaman musuh-musuh berat.”

Dengan bujukan-bujukan halus dan alasan-alasan kuat, akhirnya Ceng Ceng tunduk menuruti kehendak suaminya, biarpun air matanya bercucuran ketika pada tengah malam ia pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk mengikuti suaminya!

Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong timbul kembali kecurigaannya ketika pada keesokan harinya ia mendapatkan puterinya minggat bersama suaminya, membawa serta kitab Pat-Sian-jut-bun. "Hemm, memang aku selalu masih menaruh hati curiga kepada Cui Kong itu...” omelnya.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah menjadi mantu kita dan Ceng Ceng juga mencintainya. Kalau mereka pergi tanpa pamit, tentu ada alasan mereka yang kuat. Aku dapat menyelami perasaan mantu kita itu. Bukankah dia selalu kelihatan ketakutan karena sudah mencuri kitab dari tangan Liok Kong Ji? Tentu kepergiannya ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin sekali dia tak mau kebahagiaannya sebagai pengantin terganggu oleh kejaran Liok Kong Ji dan kawan-kawannya maka ia pergi bersama isterinya manyembunyikan diri.”

"Mengapa kitab itu dibawa dan tidak minta ijin dulu dari kita?” Lie Kong tetap penasaran.

"Ceng Ceng cerdik dan tentu dia tahu bahwa kalau minta ijin, kau takkan menyetujui kepergian mereka, maka mereka terpaksa pergi diam-diam. Adapun tentang kitab itu, bukan kah itu kitab Ceng Ceng karena kau sudah memberikannya kepada Ceng Ceng?"

"Aku harus mengembalikannya kepada Tiang Bu..."

"Ala, kau masih teringat terus kepada bocah itu,” isterinya mengomel, kemudian ibu yang selalu melindungi anaknya ini berkata, "Kukira mantu kita sengaja membawa kitab agar Liok Kong Ji tidak tahu bahwa ia mencuri kitab itu atas parintahmu."

Betapapun juga Lie Kong berkeras mengajak isterinya mencari jejak anak dan mantunya. Isterinya setuju karena mereka amat sayang kepada Ceng Ceng dan takut kalau anak tunggal mereka itu menghadapi bahaya.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Ceng Ceng melakukan perjalanan penuh kebahagiaan dengan Cui Kong. Memang Cui Kong seorang yang pandai sekali merayu hati wanita sehingga Ceng Ceng merasa bahwa ia telah mendapatkan seorang suami yang betul-betul tepat dan menyenangkan hati. Selama dua bulan lebih, Cui Kong mengajak isterinya berpesiar dan sepasang suami iste ri ini kelihatan rukun dan saling mencinta. Hari-hari di lewati penuh madu oleh Ceng Ceng yang tidak tahu sama sekali bahwa ia sedang dituntun oleh suaminya ke Pulau Pek-houw-to.

Ia hanya merasa heran ketika suaminya men gajaknya ke pantai selatan dan kemudian membawanya ke pantai yang sunyi. Di sana telah menanti dua orang dengan perahu yang siap hendak membawa suami isteri ini ke Pek-houw-to.

“Kita hendak pergi ke manakah? Dan siapa mereka itu yang sudah menyediakan perahu untuk kita?” tanyanya terheran-heran.

"Bergembiralah, niocu. Kau akan kuajak menghadap ayah angkatku.”

“Ayah angkatmu…? Jadi kau mempunyai ayah angkat? Siapa dia dan mengapa dulu tidak menguruskan pernikahanmu?”

Akan tetapi Cui Kong tidak menjawab karena mereka sudah tiba di dekat dua orang yang menanti dengan perahu.

“Kongcu sudah pulang dengan isterinya. Selamt datang, selamat datang!” dua orang itu menyambut. Mata mereka memandang pada Ceng Ceng dengan cara yang membuat Cang Ceng mendongkol.

Cui Kong tersenyum kepada dua orang itu lalu berkata, "Kalian pergilah, kami hendak menggunakan perahu ini berdua.”

Dua orang itu tersenyum maklum dan pergi sambil tertawa-tawa. Ceng Ceng makin heran melihat sikap Cui Kong ini. Orang macam apakah ayah angkatnya? Mengapa sikap Cui Kong seperti seorang pangeran saja dan dua orang tadi lagaknya lebih pantas kalau menjadi anak buah... perampok!

"Kita ke manakah? Siapa itu ayah angkatmu?”tanyanya, hatinya tak enak.

Cui Kong menggandeng tangan isterinya diajak melompat ke dalam perahu, lalu mendayung perabu itu ke tengah dan memasang layar. Setelah perahu melaju ke arah timur barulah ia berkata sambil tersenyum dan memegang kedua tangan isterinya, “Niocu. belum lama aku mendapatkan ayah angkat ini, kerenanya dulu belum kuceritakan padamu. Baru ketika aku mencuri kitab itu aku bertemu dengan dia, bahkan hanya karena pertolongan ayah angkatku maka kita dapat menikah.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya dengan pertolongannya maka kitab itu bisa terjatuh ke dalam tanganku.”

"Siapakah dia? Apakah dia tiaggi sekali ilmu kepandaiannya?”

"Sangat tinggi, kiranya tidak kalah oleh gakhu dan gakbo. Kau tunggulah saja sebentar lagi kau tentu akan berhadapan dengan ayah agkatku."

Diam-diam Ceng Ceng menduga-duga tidak mau mendesak karena takut dianggap tidak sabaran oleh suaminya. Ia hanya menduga bahwa ayah angkat suaminya ini tentu seorang kepala bajak seperti Huang-ho Sian-jin. Akan tetapi kalau lihainya tidak kalah ayah bundanya. siapakah gerangan orang itu? Kiranya di antara para bajak, Huang-ho Sian-jin yang paling lihai dan orang inipun tidak dapat menangkan ayahnya. Apakah ada bajak laut yang tidak terkenal di dunia liok-lim dan yang kepandaiannya sangat tinggi? Mungkin sekali karena ayahnya sen diri sering berkata bahwa dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai”.

Lebih tebal lagi dugaannya bahwa ayah angkat itu tentu seorang kepala bajak ketika perahu itu mendarat di pulau. Belasan orang anak buah yang kelihatannya kasar-kasar tertawa-tawa menyambut kedatangan “kongcu” mereka. Yang mengepalai pasukan penyambut ini adalah tujuh orang setengah tua yang pakaiannya aneh sekali. Pakaian mereka itu menyolok sekali warnanya, barbeda-beda pula. Ada pula yang seluruhnya merah, ada yang putih, hitam, hijau, dan coklat!

Tujuh orang dengan tujuh macam warna pakaian, benar-benar seperti badut-badut hendak main di panggung. Diam-diam Ceng Ceng yang berwatak riang itu menahan geli hatinya agar jangan me le dak ketawanya. Dia sama se kali tIdak tahu bahwa tujuh orang badut itu bukan orang orang biasa, melainkan jago-jago yang belum lama ini ditarik oleh Liok Kong Ji ke Pulau Pek-houw-to. Mereka itulah Lam-thian-cit-ong (Tujuh Raja Dunia Selatan ) yang amat terkenal dengan barisan Chit-seng- tin (Barsan Bintang) mereka!

“Ha ha ha, kionghi (selamat) Liok-kongcu! Isterimu benar-benar cantik jelita dan langkahnya ringan seperti seekor burung, tentu memiliki ginkang yang luar biasa.” Terdengar si baju merah berkata sambil bergelak. Yang lain juga ikut tertawa dan mata mereka memandang kepada Ceng Ceng penuh selidik se peti mata penaksir-penaksir yang kurang ajar.

Bukan main mendongkol dan marahnya hati Ceng Ceng mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar itu. Akan tetapi keheranan dan kekagetannya mendengar si baju merah menyebut Liok-kongcu kepada suaminya, mengatasi kemarahannya dan ia menoleh memandang kepada suaminya dengan muka berubah.

Akan tetapi sambil tersenyum lebar Cui Ko ng menggandeng tangannya dan memberi isyarat untuk menghadap dua orang yang mendatangi dengan langkah lebar. Mau tak mau Ceng Ceng memandang ke arah mereka. Ia melihat seorang tosu buntung sebelah kaki dan seorang setengah tua bertubuh jangkung kurus dan berpakaian mewah, pada muka dan dan danannya menandakan bahwa dia seorang pesolek mata keranjang. Dua orang sedang memandang kepadanya dengan penuh selidik pula.

"Niocu, itulah ayah angkatku dan yang seorang adalah guruku," kata Cui Kong perlahan. "Lekas memberi hormat kepada mereka." Sedangkan dia sendiri sudah berkata sambil memberi hormat, "Ayah dan suhu."

Akan tetapi Ceng Ceng berdiri seperti patung, mukanya pucat sekali, direnggutnya tangannya terlepas dari gandengan suaminya dan ia memandang kepada Liok Kong Ji sambil bertanya, suaranya gemetar, “Siapa... siapa kau...?”

"Cui Kong, mengapa isterimu begini tidak tahu aturan?" Kong Ji mecela sambil menge rutkan kening.

Cui Kong membujuk isterinya, "Niocu, ayah adalah Liok Kong Ji yang dikenal sebagai Thian-te Bu tek Taihiap! Dan suhu adalah Lo-thian Tung Cuu Gi Tosu. Hayo lekas beri hormat!”

Penjelasan ini memasuki telinga Ceng Ceng seperti geledek menyambar. Ia menoleh kepada Cui Kong, matanya terbelalak lebar. “Kau... kau...!"

“Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganasnya! Cui Kong mengelak dan berkata, suaranya mengandung penyesalan besar, "Niocu, jangan begitu... kau kan isteriku...?"

Akan tetapi Ceng Ceag tidak perduli, melihat suaminya melompat jauh, ia membalik dan kini menyerang Liok Kong Ji yang berada paling dekat! Bahkan ia memukul sambil mencabut pedangnya, lain menyerang kalang-kabut dengan nekat sekali.

"Niocu. jangan... ah, isteriku kau sabarlah...!” Cui Kong membujuk, suaranya betul betul bersedih. Untuk pertama kali dalam hidupnya Cui Kong jatuh cinta dan ia betul-betul merasa berduka melihat isterinya memusuhi dia dan ayahnya.

Liok Kong Ji tentu saja merasa malu dan rendah kalau harus melawan wanita muda yang menjadi mantunya. Ia melompat mundur dan berkata kepada Lam thiab chit ong, "Chit-ong, kalian cobalah anak mantu ini. Dia perlu dibuka matanya, bahwa kita tak boleh dipandang rendah, akan tetapi jangan ganggu dia!"

Sambil tertawa-tawa tujuh orang yang berpakaian tujuh macam warna itu sagera bergerak maju mengurung Ceng Ceng dalam bentuk sena (Bintang Purnama). Ceng Ceng semenjak kecilnya memang seorang yang berjiwa gagah dan tidak mengenal takut, maka melihat tujuh orang aneh telah mengepungnya, ia lalu memutar pedangnya dan menyerang dengan jurus jurus yang paling berbahaya. Ia memang cerdas dan maklum bahwa menghadapi sebuah (barisan), ia harus mencoba untuk membobolkan satu bagian agar dapat keluar dari kepungan.

Oleh karena itu ia sengaja menyerang baju marah untuk membuat Iawan ini terluka atau keluar dari barisan. Akan tetapi, ia tidak sangka bahwu tin itu memang luar biasa sekali. Begitu melihat Ceng Ceng mendesak si baju merah, tin berubah dengan cara yang tak disangka-sangka, dan kini menjadi bentuk Bi-se (Bintang Buntut)!

Si baju merah sudah hilang dan yang menghadapinya kini si baju hijau. Juga tujuh orang itu sudah melolos senjata mereka, yaitu sebatang cambuk panjang dengan warna yang berbeda dari pakaian mereka. Si baju marah memegang cambuk hijau, si baju hijau memegaug cambuk hitam, dan begitu seterusnya. Benar-benar warna yang belang-be ntong itu membuat orang yang terkepung menjadi silau dan bingung.

Berkelebatnya cambuk dan pakaian mendatangkan warna-warna yang bertentangan dan amat sukar bagi Ceng Ceng untuk mengetahui lawan seorang demi seorang dan akhirnya terpaksa ia menghapi tujuh orang itu sekaligus. Tentu saja ia payah baginya. Menghadapi seorang-seorang saja kiranya baru berimbang, sekarang menghadapi tujuh orang sekaligus yang bergerak menurut pergerakan bintang, aneh dan kadang-kadang ajaib perubahan perubahannya.

Ceng Ceng betul-betul dipermainkan. Sejurus menghadapi baju merah. jurus berikutnya sudah bertemu baju hitam. Menangkis cambuk hijau. di lain saat cambuk kuning sudah menyambar! Pandang matanya sudah berkunang-kunang dan belum lewat tiga puluh jurus tenaganya sudah habis. Akhirnya Ceng Ceng menjadi makin pening ketika barisan itu tiba-tiba berpular-putar, membuat warna aneka macam berputaran di depan matanya, Sambil mengeluh yang merupakan isak dari hancurnya hati dan perasaannya, pedang Ceng Ceng terlepas dan ia sendiri jatuh mendeprok tak bertenaga lagi, mendekam di dalam lingkaran dan menangis!

“Cukup! " Cui Kong berseru dan melompat menghampiri isterinya. Sambil tertawa-tawa Lam thian m-chit-ong mengundurkan diri dengan bangga. Untuk kesekian kalinya Chit seng-tin mereka mengalahkan lawan dengan amat mudah.

Cui Kong memeluk lalu memondong tubuh isterinya yang sudah lemah tak bertenaga dibawanya lari memasuki pulau menuju pondoknya. Ceng Ceng masih terus menangis sedih. Setelah oleh suaminya di turunkan di atas pembaringan dalam pondok Cui Kong yang indah dan mewah, baru Ceng Ceng mengeluarkan suara, mengeluh dan menangis.

"Kau... kau orang jahat... kiranya kau anak manusia iblis she Liok itu... aku lebih baik aku mati saja…”

Cui Kong memeluk isterinya dan membujuk dengan kata-kata menghibur. "Niocu, isteriku sayang, jangan kau terbuai nafsu. Dengar dulu kata kataku, kau salah sangka...“

Ceng Ceng membuka matanya, memandang benci dan air matanya bercucuran.b“Salah sangka apa lagi. Sudah lama mendengar ayah menyebut-nyebut adanya manusia iblis Liok Kong Ji dan kaki tanganya. Bahkan kitabku yang mancuri juga kaki tangannya Liok Kong Ji. Kemudian kau datang... kau membohong, kau bilang berhasil rampas kitab, tidak tahunya... ya Thian Yang Maha Kuasa... tak tahunya kau... malah anaknya...!” Kembali Ceng Ceng menangis.

“Ceng Ceng isteriku. Dengarlah dulu. Tak kusangkal bahwa aku sekarang menjadi putera Liok Kong Ji, akan tetapi tadinya aku benar orang she Kwee. Aku hanya anak angkatnya apa kau kira aku dengan mudah dapat mencuri kitab itu dari tangannya kalau dia tidak mengambil anak padaku. Dia suka kepadaku dan mengaku anak, kau lihat dia seorang gagah perkasa dan seorang ayah amat baik.”

“Ayah bilang Liok Kong Ji adalah penjahat yang paling keji di kolong langit!" Ceng Ceng membantah.

“Memang banyak orang yang salah sangka. Gakhu juga belum melihat sendiri maka menyangka demikian. Orang baik selalu dikabarkan buruk, itu sudah jamak. Kau lihat sendiri, begitu bertemu dia mengaku anak padaku, dan memberikan kitab supaya aku dapat berjodoh dengan kau. Sekarang kau datang-datang menghina dan menyerangnya, namun ia tidak mau turun tangan sendiri, hanya menyuruh Lam-thian-chit ong melayanimu, itupun dengan pesan supaya kau tidak diganggunya. Bukankah semua itu menunjukkan bahwa ayah seorang yang berhati baik?"

Biarpun puteri seorang pendekar sakti, namun Ceng Ceng sebetulnya masih anak-anak, masih hijau. Mana bisa ia dapat menghadapi Cui Kong yang cerdik dan licin? Bujukan-bujukan suaminya ini mulai termakan olehnya dan membuat ia agak terhibur, berkurang kecewa dan sesalnya.

“Akan tetapi mengapa kau mengajakku ke sini? Ini tempat apa dan apakah ayah angkatmu itu menjadi bajak laut?” tanyanya dengan mata merah dan pipinya masih basah.

Sambil tersenyum Cui Kong mengusap isterinya, membersihkan air mata dan mengelus-elus rambut yang kusut. "Sama sekali tidak, isteriku. Ayah angkatku bukan penjahat, juga bukan bajak atau perampok. Kau tahu, banyak sekali orang jahat di dunia yang memusuhi ayahku. Oleh karena sudah bosan dengan segala macam pertempuran, lalu pindah ke pulau ini dan tidak mau memusingkan diri dengan urusan dunia lagi, dan menikmati kebahagiaan di tempat sunyi ini."

Memang sesungguhnya dalam pandangan Cui Kong, orang reperti Liok Kong Ji itu sama kali tidak jahat. Bagaimana dia akan menganggap jahat kalau Kong Ji bersikap baik terhadapnya? Pula, sudah lajim di dunia ini bahwa tidak ada manusia yang dapat melihat keburukannya sendiri. Jangankan melihat keburukan diri sendiri, baru melihat dan mencari kesalahan sendiri saja sudah sama sukarnya dengan jalan menuju sorga. Kalau semua orang di dunia ini dapat meli hat dan mengetahui kejahatan dan keburukan sendiri, kiranya dunia takkan sekacau ini!

Melihat sikap suaminya yang sungguh sungguh dan mendengar kata-kata manis dari Cui Kong yang memang pandai bicara, Ceng Ceng terpengaruh dan terhibur. Memang masih ada ganjalan kecewa dalam hatinya bahwa ia harus tinggal di satu pulau dengan "ayah mertua" seperti Liok Kong Ji yang amat dibenci ayahnya, akan tetapi asal Cui Kong orang baik-baik, yang lain ia tidak perduli.

Akan tetapi setelah beberapa bulan tinggal di situ, hati Ceng Ceng menjadi makin hancur menyaksikan hal-hal yang berlawanan dengan perasaan hati dan nuraninya. Apa lagi penculikan-penculikan terhadap gadis-gadis pantai, benar-benar membuat ia marah dan mendongkol sekali. Akan tetapi apa dayanya? Suaminya sendiri kelihatan amat takut terhadap Liok Kong Ji dan iapun tahu bahwa dia dan suaminya sama sekali bukan lawan mereka itu.

Penghibur satu satunya bagi Ceng Ceng adalah Leng Leng, bocah perempuan yang tinggal di situ. Apa lagi ketika ia tahu bahwa Leng Leng adalah puteri Wan Sin Hong. Ia makin sayang kepada anak itu dan boleh dibilang semenjak Ceng Ceng berada di situ, Leng Leng selalu berada di sampingnya. Karena tahu bahwa ini merupakan hiburan besar bagi si anak mantu, Liok Kong Ji membiarkannya saja. Andaikata Ceng Ceng hendak memberontak, nyonya muda itu bisa apakah? Hiburan ke dua bagi Ceng Ceng adalah betapapun juga, suaminya amat mencinta dan menuruti segala kehendaknya. Benar-benar terhadap Ceng Ceng, Cui Kong selalu bersikap halus dan lemah lembut, cintanya terhadap isteri ini sungguh-sungguh, tidak seperti terhadap wanita yang lain yang sudah-sudah.

Beberapa bulan kemudian, selagi Ceng Ceng bermain-main dengan Leng Leng di pantai utara yang sunyi, mengumpulkan bunga-bun ga liar yang amat banyak karena waktu itu musim bunga telah tiba, terdengar Leng Leng berseru girang.

"Burung bagus... burung bagus...!”

Ceng Ceng yang sedang duduk melamun melihat bocah itu bermain -main sambil memetik kembang, tersadar dari lamunannya dan sekarang, ia melihat seekor burung besar terbang di atasnya.

"Tiauw-ko (kakak burung rajawali)!" serunya kaget, heran dan girang.

Suaranya terdengar oleh burung itu dan sekaligus binatang ini mengenal suara majikan mudanya. Dengan gerakan indah sekali menukik lalu melayang turun.

“Burung bagus... bibi, tangkap dia, berikan padaku...!" kata Leng Leng sambil berlari rnendekat.

Ceng Ceng tersenyum dan kagum melihat keberanian bocah itu, tidak seperti bocah perempuan lain yang biasanya takut melihat burung besar. "Kau tidak takut, Leng-ji?”

"Tidak, burung bagus!" kata Leng Leng yang mendekati dan mengelus-elus bulu di dekat kaki burung itu. Ia kalah tinggi, hanya bisa me ngelus bulu di dekat paha.

“Tiauw-ko... bagaimana kau bisa ke sini? Mana ayah dan ibu...? tanya Ceng Ceng sambil memeluk leber burung itu, lupa bahwa tentu saja binatang itu tak dapat bicara. Pek-thouw-tiauw itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya yang putih dan mengeluarkan bunyi lirih, kadang-kadang melirik ke arah Leng Leng karena belum pernah ia mengenal bocah ini.

Tiba-tiba Ceng Ceng mendapat pikiran bagus. Kalau pek-thouw-tiauw berada di situ, tentu ayah ibunya juga tidak jauh. Cepat ia memetik sehelai daun yang lebar, menggurat-gurat dengan kukunya menulis beberapa huruf. Tulisan itu hanya berbunyi; "AKU BERADA DI PEK-HOUW T0."

"Tiauw-ko, bawa daun ini pada ayah ibu. Mengerti? Berangkatlah!” ia menepuk pun ggung burung itu yang segera menyambar dan mementang sayap terbang cepat sekali.

"Bibi, burungn ya mengapa terbang pergi…! teriak Leng Leng.

“Nanti dia kembali lagi, Leng-ji.”

Dugaan Ceng Ceng memang tepat sekali. Burung pek-thouw-tiouw yang dua ekor milik Lie Kong itu memang tak pernah jauh dari majikannya. Pada saat itu. Lie Kong dan Souw Cui Eng isterinya tengah berlayar dengan sebuah perahu kecil. Berhari-hari mereka lakukan penyelidikan dengan perahu ini untuk mencari Pek-houw-to.

Suami isteri pendekar ini mempunyai hubungan luas di kalangan kang-ouw. Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar pantai timur dan semua orang gagah, dari kalangan kang-ouw maupun liok-lim hampir semua kenal mereka. Ketika mereka mencari puteri mereka yang minggat di daerah selatan, mereka bertemu dengan orang-orang liok lim yang langsung memberi selamat kepada mereka yang sudah berbesan dengan Thian-te Bu tek Tai-hin Liok Kong Ji. Malah Seng-jiu-sin touw Si Malaikat Copet, seorang maling besar bernama Tang Liok, dengan wajah berseri memberi selamat sambil menegur,

“Tai-hiap mengawinkan puterinya mengapa lupa kepada Seng-jiu-sin touw?"

Hampir saja Lie Kong menampar muka orang ini kalau saja ia tidak menyabarkan diri, “Kalian ini bicara apa? Jangan main-main. Siapa yang berbesan dengan Liok Kong Ji?"

Orang-orang liok-lim itu saling pandang dengan heran. "Taihiap, bukankah puterimu berjodoh dengan Liok Cui Kong putera angkat Liok-taihiap? Aku melihat sendiri puterimu sekarang berada di Pek-hauw-to bersama suami dan mertuanya."

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati suami isteri itu mendengar keterangan ini. Tanpa memandang waktu lagi mereka lalu pergi ke pantai dan dengan sebuah perahu mereka men cari Pulau Pek-houw to. Karena marah dan malu mereka enggan bertanya kepada orang-orang liok-lim ini dan berusaha mencari sendiri pulau itu. Jarang suami isteri ini bicara, namun dari air mata yang selalu membasahi pipi Souw Cui Eng dan sinar mata suram dan kadang-kadang marah dari Lie Kong, dapat dibayangkan bahwa dua orang ini menderita kesedihan dan ke marahan besar. Mereka sadar sekarang bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh pemuda yang sekarang menjadi suami Ceng Ceng itu.

“Aku akan membunuhnya...“ berkali-kali Lie Kong berkata perlahan.

Isterinya bergidik mendengar suara yang mengandung ancaman pasti ini, “Akan tetapi dia anak kita...”

“Lebih baik Ceng Ceng tak bersuami atau mati dari pada menjadi menantu Liok Kong Ji manusia iblis!”

Souw Cut Eng tak berani membantah lagi, hanya sering kali menangisi nasib putri tunggalnya. Juga ia marasa menyesal mengapa dulu tidak sewaspada suaminya yang selalu menaruh hati curiga kepada pemuda tampan itu. Memang dalam menilai seorang pria, wanita kurang waspada dan hanya seorang laki-laki pula yang dapat mengetahui sifat baik buat seorang calon mantu laki-laki.

Burung-burung Pek-Inouw-tiauw peliharan Lie Kong adalah burung yang cerdik. Dalam mencari Pulau Pek-houw to, Lie Kong melepas burung jantannya dan berkata, "Tiauw-ji, terbanglah dan mencari Ceng Ceng!”

Pek-thouw-tiauw tentu saja tidak bisa bicara akan tetapi burung ini sudah sering kali mendengar perintah Lie Kong. Kini mendengar disebut nama Ceng Ceng yang dikenal baik, agaknya ia tahu bahwa ia harus mencari majikan mudanya itu, maka terbanglah ia tiggi di udara mengelilingi kepulauan yang berkelompok di deerah itu. Melihat sebuah pulau yang didiami manusia dan ada rumah-rumahnya, ia melayang turun dan terbang rendah di atas pulau sampai akhirnya ia terlihat oleh Leng Leng dan Ceng Ceng.

Dengan cepat sekali burung rajawali itu terbang tinggi kembali ke perahu majikannya dan menukik turun. Sambil mengeluarkan bunyi kegirangan ia melepaskan daun di depan kaki Lie Kong dan Souw Cui Eng yang sudah memburu keluar. Lie Kong menyambar daun itu dan membaca. Wajahnya bersinar girang setelah membaca huruf-huruf “AKU BERADA DI PEK-H0UW TO” itu.

"Dia benar berada di sana!” katanya girang dan juga gemas. Tadinya ia masih setengah mengharapkan bahwa keterangan orang-orang liok-lim itu keliru. Kini tak bisa salah lagi, Ceng Ceng benar benar telah menikab dengan putera angkat Liok Kong Ji. Tulisan di atas daun itu benar tulisan anaknya. Souw Cui Eng tak dapat berkata apa-apa, mukanya pucat.

"Tiauw-ji, antar kami ke tempat Ceng Ceng!”

Burung itu lalu terbang diikuti burung betina, Lie Kong memasang layar mengikuti kemana terbangnya kedua ekor burungnya. Tak lama kemudian ia sudah minggirkan perahunya di daratan Pulau Pek-houw-to! Dengan penuh perasaan marah suami isteri ini melompat ke darat dan berlari mengikuti arah thouw-tiauw terbang. Kedatangan burung rajawali yang besar sudah terlihat oleh Liok Kong Ji.

“Suruh isterimu dan Leng Leng berdiam dalam rumah saja dan mari kita menyambut mereka,” kata Liok Kong Ji tenang-tenang saja. “Sedapat mungkin kita bicara damai dan menarik mereka. Kalau mereka sayang anak tentu mereka suka berdamai."

Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri maklum bahwa memasuki pulau itu berarti menghadapi bahaya basar karena mereka sudah mengenal sifat jahat dan curang dari orang macam Liok Kong Ji. Namun dengan amat tenang Lie Kong dan isterinya berjalan mengikuti terbangnya rajawali di atas.

Bahkan ketika tiba tiba muncul Liok Kong Ji dengan Cui Kong di sebelah kiri dan Cun Gi Tosu di sebelah kanan, suami isteri pende kar itu masih nampak tenang saja, terus melangkah maju dengan tindakan kaki tenang. Melihat tiga orang ini muncul diikuti oleh tujuh orang di sebelah belakang dan belasan orang lain merupakan pasukan di bagian paling belakang, dua ekor burung pek-thouw-tiauw terbang berputaran di atas, nampaknya bingung dan gelisah.

Dengan air muka ramah tamah dan tersenyum-senyum, Liok Kong Ji melangkah maju menyambut kedatangan suami isteri itu dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Selamat datang saudara-saudara besan yang gagah perkasa! Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali bahwa jiwi sudi mengunjungi pulauku yang buruk. Memang setelah antara kita ada ikatan kekeluargaan, habungan perlu dipererat. Silakan beristirahat di pondokku yang butut."

Lie Kong tetap tenang, namun sepasang matanya meman carkan sinar kilat, yang menyambar ke arah Cui Kong dan membuat orang ini berdebar jantungnya. Melihat sikap tenang dan dingin dari mertuanya ini, diam-diam ia gentar juga.

“Liok Kong Ji, biarpun jalan hidup antara kita jauh berbeda, akan tetapi tidak pernah ada persoalan antara kita sampai kau menyuruh orang mencuri kitab dari tangan anakku kemudian…” Mata Lie Kong melirik ke arah Cui Kong penuh kebencian, "ke mudian kau membiarkan anakmu menipu kami, malah kau membantunya. Liok Kong Ji, setelah dosa dan penghinaan yang kaulakukan atas diri kami, masihkah kau harus berpura-pura berramah-tamah dan sopan-santun?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Lie Kong tetap dilakukan dengan tenang, akan tetapi seluruh perasaan dan urat di tubuh pendekar ini sudah siap untuk segera turun tangan. Juga Liok Kong Ji bersikap tenang begitu pula Cun Gi Tosu. Hanya Cui Kong yang tampak makin gelisah saja. Kong Ji tersenyum mendengar ucapan Lie Kong tadi, lalu menjawab.

"Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dua urusan yang kausebut-sebut itu adalah urusan anak-anak, sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan hubungan antara kau dan aku. Memang, betul kitab yang kaudapat dari Omei-San itu pernah diambil oleh puteri angkatku. Maklumlah anak-anak selalu ingin memiliki barang aneh orang lain, jangankan anak-anak, bahkan calon kakek-kakek macam kitapun masih ingin memiliki kitab kitab Omei-san, ha-ha! Akan tetapi harap kau maafkan dua orang puteri angkatku itu karena mereka sudah meninggal dunia dalam usia muda. sayang. Adapun tentang soal ke dua. Bagaimana kau menganggap itu penghinaan? Itupun urusan anak-anak urusan anakmu dan putera angkatku. Sudah lumrah dua orang muda saling mencinta kita orang orang tua mana bisa ikut-ikutan. Puterimu suka menjadi isteri puteraku yang mencintainya. Sekarang mereka sudah menjadi suami isteri yang hidup bahagia di sini, apa lagi urusannya?”

Sebagai jawaban, tiba-tiba Lie Kong mencabut pedangnya, diturut oleh isterinya. Dua ekor burung rajawali kepala putih mengeluarkan bunyi keras menantang ketika melihat majikan-majikan mereka telah siap dengan pedang di tangan. Dua ekor burung ini siap-siap membantu Lie Kong.

“Liok-Kong Ji, tak perlu kau memutar lidah. Siapa sudi mendengar omongan orang yang terkenal curang dan licik seperti kau?” bentak Lie Kong.

"Lie Kong, kau mau apakah?” Liok Kong habis sabarnya melihat tamu-tamunya mencabut pedang.

"Aku datang untuk mengajak pulang puteri kami dan menyeret anjing biadab ini!" Dengan pedangnya Lie Kong menuding ke arah Cui Kong yang menjadi pucat dan orang muda ini tanpa terasa lagi melangkahkan kaki berdiri di belakang ayah angkatnya.

"Oho-ho, mudah amat kau bicara!" Liok Kong Ji mengejek. "Puterimu itu sudah menjadi isteri anakku. Orang pertama yang berhak adalah Cui Kong, orang kedua adalah aku sendiri karena aku ayah mertuanya. Dengar jawabanku, Lie Kong. Ceng Ceng tidak bisa kau bawa dan tentang ancamanmu kepada puteraku, hemm, aku sabagai ayahnya tentu takkan berpeluk tangan kalau kau hendak mengganggunya."

"Bagus! Memang sudah lama aku menahan-nahan dorongan hati yang hendak memberi hajaran kepada manusia iblis Liok Kong Ji. Majulah, mari kita bertempur seribu jurus untuk inenentukan siapa yang lebih unggul.” Lie Kong menantang.

"Ha-ha, kau kira mudah saja mengadu ilmu kepandaian dengan aku? Orang yang tidak memiliki kepandaian berarti mana ada harga untuk bertanding dengan aku atau Cun Gi Totiang?" Liok Kong Ji memberi isyarat dan majulah Lam-thian-chit-ong. Dengan gerak cepat dan indah mereka telah membentuk barisan bintang menghadang di depan Lie Kong dan Souw Cui Eng.

Melihat tujuh orang berpakaian tujuh warna dan bentuk barisan mereka, Lie K ong tersenyum mengejek. "Eh, kiranya Lam thian chit-ong sekarang juga sudah menjadi begundal manusia iblis she Liok!"

Si baju merah mewakili saudara-saudaranya menjawab, “Sudah lama kami mendengar nama besar Pek thouw tiauw ong suami isteri. Kini bertemu ternyata yang besar adalah mulutnya, tidak tahu sampai dimana kepandaiannya atau tidak sebesar mulutnya, benar-benar amat menggelikaan!” Enam orang yang lain tertawa mengejek.

Merah muka Lie Kong mendengar hinaan ini. Ia memberi isyarat kepada isterinya dan suami isteri ini melangkah maju berdampingan dengan pedang di tangan, sikap mereka tenang akan tetapi gagah sekali. Adapun Lam-thian-chit-ong juga sudah bergerak membentuk lingkaran barisan bintang mengurung dua orang lawan itu. Mereka berlaku amat hati-hati dan sudah mempersiapkan senjata mereka yang lengkap, yaitu di tangan kiri sebuah pisau pendek dan di tangan kanan cambuk berwarna yang amat lihai. Mereka mulai bergerak, berjalan perlahan mengitari dua orang itu. Inilah pembukaan Chit-san-tin (Barisan Tujuh Bintang) dan gerakan berjalan mengelilingi lawan ini disebut Tujuh Bintang Mengitari Bulan.

Lie Kong mombisiki isierinya Souw Cui Eng, mereka berdiri saling membelakangi, dengan cara ini suami istri itu dapat saling melindungi serangan lawan dari belakang. Melihat kedudukan suami isteri ini yang bersikap tenang dan masih menanti gerakan barisan yang masih berlarian mengitari mereka, tujuh orang itu mempercepat larinya dan tiba-tiba si baju merah memberi tanda, cambuknya menyambar melakukan serangan pertama, disusul oleh saudara-saudaranya.

Namun Lie Kong dan Souw Cui Eng sudah siap dengan pedang mereka dan cepat ia men angkis sambil mengerahkan tenaga. Cambuk yang ditangkis oleh Suuw Cui Eng terpental saja, akan tetapi yang terkena tangkisan pedang Lie Kong, merasa telapak tangan mereka sakit dan tergetar! Tujuh orang itu masih melanjutkan serangan mereka dengan cara bergantian sambil bergerak memutar sehingga sepasang suami isteri merasa ada serangan dari sekeliling mereka juga cambuk-cambuk yang beraneka warna itu mendatangkan sinar menyilaukan dan membingungkan.

Namun Lie Kong cepat sekali gerakan pedangnya. Pedang di tangannya mematahkan serangan lima orang lawan sehingga isteri yang tingkat kepandaiannya jauh lebih rendah dari padanya hanya melayani dua batang cambuk lawan. Di samping semua serangan ini sinar pedang suami isteri ini masih mampu melakukan serangan balasan yang membuat para lawannya terkejut. Mereka bergerak memutar lebih cepat lagi sehingga Lie Kong maupun isterinya tidak mampu melakukan desakan pada seorang saja, melainkan harus melayani tujuh orang secara bergiliran.

Terpaksa Lie Kong dan Sauw Cui Eng memutar pedang melindungi diri sehingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar pedang saling melindungi dan merupakan benteng baja yang amat rapat. Untuk sementara, tujuh orang itu tak dapat mendesak jago pantai timur dengan isterinya ini.

Si baju merah memberi tanda lagi dan segera serangan dihentikan. Kini mereka berlari memutar dari kiri ke kanan, demikian cepat gerakan mereka sehingga kelihatan bayangan indah beraneka warna sambung-menyambung bagaikan pelangi melingkungi dua orang itu. Ini masih disambung dengan cambuk tujuh warna yang digerak-gerakkan dalam berlari sehingga pemandangan itu benar-benar indah menakjubkan.

Untuk sejenak Lie Kong dan isterinya tidak tahu apa makaudnya tujuh orang lawan yang hanya berlari-larian ini, akan tetapi lama kelamaan mata mereka menjadi silau dan kepala mereka pening. Memang maksud tujuh orang itu adalah untuk membikin dua orang lawannya pening. Siapa yang berada di dalam lingkungan "pelangi” ini mau tidak mau harus menggunakan mata memandang penuh perhatian agar jangan diserang secara gelap oleh lawan.

Karenanya mata menjadi pedas dan kepala menjadi pening menghadapi aneka warna yang bergerak memutari secara cepat itu. Untuk mengalihkan pandangan mata agar jangan silau adalah tak mungkin karena ini berarti membuka bahaya bagi mereka sendiri. Lie Kong adalah seorang pendekar yang banyak pengalamannya bertempur. Biarpun belum pernah ia menghadapi barisan sehebat ini sebagai lawan, namun taktik pertempurannya sudah amat masak dan sebentar saja memutar ot ak ia dapat menemukan cara untuk melawan aksi musuh ini.

“Ikuti aku lari!” katanya kepada isterinya yang sudah mulai pedas matanya dan tiba-tiba Lie Kong juga membuat gerakan berlari memutar, tidak dari kiri ke kanan melainkan sebaliknya, dari kanan ke kiri! Souw Cui Eng dengan taat mengikuti suaminya yang ia percaya penuh, tetap waspada dan siap dengan pedangnya.

Pemandangan menjadi makin indah dan aneh. Sekarang ada dua lingkaran yang be rgerak berlawanan, yang luar dengan aneka macam berputar ke kanan, yang sebelah dalam bergerak dari kanan ke kiri Dengan pergerakan ini Lie Kong dapat membuyarkan pe mandangan yang menyilaukan mata dan pedangnya mulai menyambar-nyamber menyerang apabila terdapat kesempatan dalam berlari berpapasan dengan lawan-lawan itu.

Gerakan tujuh orang itu menjadi kacau dan si baju merah kembali mengeluarkan aba-aba, segera mereka berhenti berlari dan de ngan teratur sekali barisan itu berubah me njadi baris an Liong-sang (Bintang Naga) Si baju merah menjadi kepala, baju hit am dan putih di kanan kirinya manjadi sepasang cakar, baju hijau menjadi perut, baju kuning dan baju biru menjadi kaki belakang. sedangkan baju coklat menjadi buntut. Bergeraklah barisan Bintang Naga ini menyerang, cambuk dan pisau bergerak dengan teratur sekali.

Lie Kong tertawa mengejek. Bersama isterinya ia menyambut serangan ini dan dalam gebrakan pertama saja hampir-hampir pundak si baju putih terbabat pedang Lie Kong. Akan tetapi tiba-tiba barisan itu bergerak dan tahu-tahu “naga" ini sudah menggerakkan buntutnya secara melingkar sehingga dua kaki belakang dan buntut yang terdiri dari tiga orang itu secara tidak terduga telah menyerang dari belakang Lie Kong dan isterinya. Kembali suami isteri ini terkurung dan kini kurungan tidak seperti tadi, melainkan berubah-ubah.

Kadang-kadang bagian kepala Bintang Naga itu yang menyerang dan buntutnya hanya melindungi kepala. dan demikian sebaliknya. Perut naga atau si baju hijau itu sewaktu-waktu melakukan serangan mendadak dengan menyambitkan pisau pendek sebagai senjata rahasia, dan agaknya mereka ini memang mempunyai bekal banyak sekali pisau-pisau pendek.

Lebih dari dua puluh jurus Lie Kong dan isterinya terdesak dan mereka ini hanya mampu mempertahankan diri, karena jika sewaktu-waktu mereka hendak melakukan serangan balasan, tentu muncul serangan yang tak terduga-duga dari fihak lawan. Baiknya ilmu pedang Lie Kong memang hebat luar biasa, maka biarpun amat terdesak, ia dan isterinya masih mampu membuat benteng pertahanan yang tak mudah dibobolkan...

Tangan Gledek Jilid 44

Tangan Gledek Jilid 44

MALAM harinya diam-diam Cui Kong menyatakan ke khawatirannya kepada isterinya. "Liok Kong Ji itu lihai bukan main." ia ngarang cerita, “ketika ia mengejarku, dalam sepuluh jurus saja aku sudah hampir celaka. Apa lagi Cun Gi Tosu, kabarnya lebih lihai dari Liok Kong Ji. Kiranya gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) sendiri belum dapat menangkan mereka. Aku khawatir mereka itu segera dapat menyusul ke sini. Lebih baik kita malam ini pergi saja secara diam-diam, selain menyembunyikan diri sekalian berbulan madu. Bukankah akan senang sekali kita pergi berdua saja?"

Dirayu oleh bujukan-bujukan halus ini hati Ceng Ceng tertarik. Akan tetapi dia adalah puteri seorang pendekar besar, keberaniannya luar biasa. Mendengar suaminya hendak melarikan diri, ia merasa tak puas. “Mengapa kita begitu takut-takut? Apakah tidak lebih baik bertanya dulu ke pada ayah bagaimana baiknya? Mustahil kita berempat tak dapat menghadapi mereka."

“Ssst, jangan. Tentu saja gakhu dan gakbo tidak setuju dan mereka tentu tidak gentar menghadapi Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu. Akan tetapi aku yang sudah menyaksikan kelihaian mereka, lebih tahu. Pula, Liok Kong Ji mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang lihai dan kalau mereka datang dengan membawa kawan-kawannya, bukankah kebabagiaan kita sebagai pengantin baru akan terganggu dan ada kemungkinan aku tewas. Apa kau suka menjadi janda?”

“Tidak... tidak! Habis, bagaimana baiknya?” Ceng Ceng bingung juga, terpengaruh oleh ucapan suaminya yang sedang menjalankan siasatnya.

"Kau percayalah kepadaku, isteriku sayang. Aku suamimu masa hendak mencelakakan kau dan mertuaku? Aku sudah mempunyai rencana baik sekali. Mereka itu kalau datang takkan mengganggu ayah ibumu, karena yang mencuri kitab adalah aku dan mereka hanya mencari aku seorang. Oleh karena itu, agar jangan sampai ayah ibumu tertimpa dakwa, lebih baik kita diam-diam pergi dan kitab itu kita bawa serta. Kelak kalau sudah aman keadaannya, kita kembali. Tentu ayah bundamu akan memaafkan perbuatanku yang hanya kita lakukan demi menjaga keselamatan dan menjauhi keributan. Sungguh menyedihkan kalau sepasang pengantin baru seperti kita yang seharusnya bersenang-senang, sudah harus menghadapi ancaman musuh-musuh berat.”

Dengan bujukan-bujukan halus dan alasan-alasan kuat, akhirnya Ceng Ceng tunduk menuruti kehendak suaminya, biarpun air matanya bercucuran ketika pada tengah malam ia pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk mengikuti suaminya!

Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong timbul kembali kecurigaannya ketika pada keesokan harinya ia mendapatkan puterinya minggat bersama suaminya, membawa serta kitab Pat-Sian-jut-bun. "Hemm, memang aku selalu masih menaruh hati curiga kepada Cui Kong itu...” omelnya.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah menjadi mantu kita dan Ceng Ceng juga mencintainya. Kalau mereka pergi tanpa pamit, tentu ada alasan mereka yang kuat. Aku dapat menyelami perasaan mantu kita itu. Bukankah dia selalu kelihatan ketakutan karena sudah mencuri kitab dari tangan Liok Kong Ji? Tentu kepergiannya ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin sekali dia tak mau kebahagiaannya sebagai pengantin terganggu oleh kejaran Liok Kong Ji dan kawan-kawannya maka ia pergi bersama isterinya manyembunyikan diri.”

"Mengapa kitab itu dibawa dan tidak minta ijin dulu dari kita?” Lie Kong tetap penasaran.

"Ceng Ceng cerdik dan tentu dia tahu bahwa kalau minta ijin, kau takkan menyetujui kepergian mereka, maka mereka terpaksa pergi diam-diam. Adapun tentang kitab itu, bukan kah itu kitab Ceng Ceng karena kau sudah memberikannya kepada Ceng Ceng?"

"Aku harus mengembalikannya kepada Tiang Bu..."

"Ala, kau masih teringat terus kepada bocah itu,” isterinya mengomel, kemudian ibu yang selalu melindungi anaknya ini berkata, "Kukira mantu kita sengaja membawa kitab agar Liok Kong Ji tidak tahu bahwa ia mencuri kitab itu atas parintahmu."

Betapapun juga Lie Kong berkeras mengajak isterinya mencari jejak anak dan mantunya. Isterinya setuju karena mereka amat sayang kepada Ceng Ceng dan takut kalau anak tunggal mereka itu menghadapi bahaya.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Ceng Ceng melakukan perjalanan penuh kebahagiaan dengan Cui Kong. Memang Cui Kong seorang yang pandai sekali merayu hati wanita sehingga Ceng Ceng merasa bahwa ia telah mendapatkan seorang suami yang betul-betul tepat dan menyenangkan hati. Selama dua bulan lebih, Cui Kong mengajak isterinya berpesiar dan sepasang suami iste ri ini kelihatan rukun dan saling mencinta. Hari-hari di lewati penuh madu oleh Ceng Ceng yang tidak tahu sama sekali bahwa ia sedang dituntun oleh suaminya ke Pulau Pek-houw-to.

Ia hanya merasa heran ketika suaminya men gajaknya ke pantai selatan dan kemudian membawanya ke pantai yang sunyi. Di sana telah menanti dua orang dengan perahu yang siap hendak membawa suami isteri ini ke Pek-houw-to.

“Kita hendak pergi ke manakah? Dan siapa mereka itu yang sudah menyediakan perahu untuk kita?” tanyanya terheran-heran.

"Bergembiralah, niocu. Kau akan kuajak menghadap ayah angkatku.”

“Ayah angkatmu…? Jadi kau mempunyai ayah angkat? Siapa dia dan mengapa dulu tidak menguruskan pernikahanmu?”

Akan tetapi Cui Kong tidak menjawab karena mereka sudah tiba di dekat dua orang yang menanti dengan perahu.

“Kongcu sudah pulang dengan isterinya. Selamt datang, selamat datang!” dua orang itu menyambut. Mata mereka memandang pada Ceng Ceng dengan cara yang membuat Cang Ceng mendongkol.

Cui Kong tersenyum kepada dua orang itu lalu berkata, "Kalian pergilah, kami hendak menggunakan perahu ini berdua.”

Dua orang itu tersenyum maklum dan pergi sambil tertawa-tawa. Ceng Ceng makin heran melihat sikap Cui Kong ini. Orang macam apakah ayah angkatnya? Mengapa sikap Cui Kong seperti seorang pangeran saja dan dua orang tadi lagaknya lebih pantas kalau menjadi anak buah... perampok!

"Kita ke manakah? Siapa itu ayah angkatmu?”tanyanya, hatinya tak enak.

Cui Kong menggandeng tangan isterinya diajak melompat ke dalam perahu, lalu mendayung perabu itu ke tengah dan memasang layar. Setelah perahu melaju ke arah timur barulah ia berkata sambil tersenyum dan memegang kedua tangan isterinya, “Niocu. belum lama aku mendapatkan ayah angkat ini, kerenanya dulu belum kuceritakan padamu. Baru ketika aku mencuri kitab itu aku bertemu dengan dia, bahkan hanya karena pertolongan ayah angkatku maka kita dapat menikah.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya dengan pertolongannya maka kitab itu bisa terjatuh ke dalam tanganku.”

"Siapakah dia? Apakah dia tiaggi sekali ilmu kepandaiannya?”

"Sangat tinggi, kiranya tidak kalah oleh gakhu dan gakbo. Kau tunggulah saja sebentar lagi kau tentu akan berhadapan dengan ayah agkatku."

Diam-diam Ceng Ceng menduga-duga tidak mau mendesak karena takut dianggap tidak sabaran oleh suaminya. Ia hanya menduga bahwa ayah angkat suaminya ini tentu seorang kepala bajak seperti Huang-ho Sian-jin. Akan tetapi kalau lihainya tidak kalah ayah bundanya. siapakah gerangan orang itu? Kiranya di antara para bajak, Huang-ho Sian-jin yang paling lihai dan orang inipun tidak dapat menangkan ayahnya. Apakah ada bajak laut yang tidak terkenal di dunia liok-lim dan yang kepandaiannya sangat tinggi? Mungkin sekali karena ayahnya sen diri sering berkata bahwa dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai”.

Lebih tebal lagi dugaannya bahwa ayah angkat itu tentu seorang kepala bajak ketika perahu itu mendarat di pulau. Belasan orang anak buah yang kelihatannya kasar-kasar tertawa-tawa menyambut kedatangan “kongcu” mereka. Yang mengepalai pasukan penyambut ini adalah tujuh orang setengah tua yang pakaiannya aneh sekali. Pakaian mereka itu menyolok sekali warnanya, barbeda-beda pula. Ada pula yang seluruhnya merah, ada yang putih, hitam, hijau, dan coklat!

Tujuh orang dengan tujuh macam warna pakaian, benar-benar seperti badut-badut hendak main di panggung. Diam-diam Ceng Ceng yang berwatak riang itu menahan geli hatinya agar jangan me le dak ketawanya. Dia sama se kali tIdak tahu bahwa tujuh orang badut itu bukan orang orang biasa, melainkan jago-jago yang belum lama ini ditarik oleh Liok Kong Ji ke Pulau Pek-houw-to. Mereka itulah Lam-thian-cit-ong (Tujuh Raja Dunia Selatan ) yang amat terkenal dengan barisan Chit-seng- tin (Barsan Bintang) mereka!

“Ha ha ha, kionghi (selamat) Liok-kongcu! Isterimu benar-benar cantik jelita dan langkahnya ringan seperti seekor burung, tentu memiliki ginkang yang luar biasa.” Terdengar si baju merah berkata sambil bergelak. Yang lain juga ikut tertawa dan mata mereka memandang kepada Ceng Ceng penuh selidik se peti mata penaksir-penaksir yang kurang ajar.

Bukan main mendongkol dan marahnya hati Ceng Ceng mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar itu. Akan tetapi keheranan dan kekagetannya mendengar si baju merah menyebut Liok-kongcu kepada suaminya, mengatasi kemarahannya dan ia menoleh memandang kepada suaminya dengan muka berubah.

Akan tetapi sambil tersenyum lebar Cui Ko ng menggandeng tangannya dan memberi isyarat untuk menghadap dua orang yang mendatangi dengan langkah lebar. Mau tak mau Ceng Ceng memandang ke arah mereka. Ia melihat seorang tosu buntung sebelah kaki dan seorang setengah tua bertubuh jangkung kurus dan berpakaian mewah, pada muka dan dan danannya menandakan bahwa dia seorang pesolek mata keranjang. Dua orang sedang memandang kepadanya dengan penuh selidik pula.

"Niocu, itulah ayah angkatku dan yang seorang adalah guruku," kata Cui Kong perlahan. "Lekas memberi hormat kepada mereka." Sedangkan dia sendiri sudah berkata sambil memberi hormat, "Ayah dan suhu."

Akan tetapi Ceng Ceng berdiri seperti patung, mukanya pucat sekali, direnggutnya tangannya terlepas dari gandengan suaminya dan ia memandang kepada Liok Kong Ji sambil bertanya, suaranya gemetar, “Siapa... siapa kau...?”

"Cui Kong, mengapa isterimu begini tidak tahu aturan?" Kong Ji mecela sambil menge rutkan kening.

Cui Kong membujuk isterinya, "Niocu, ayah adalah Liok Kong Ji yang dikenal sebagai Thian-te Bu tek Taihiap! Dan suhu adalah Lo-thian Tung Cuu Gi Tosu. Hayo lekas beri hormat!”

Penjelasan ini memasuki telinga Ceng Ceng seperti geledek menyambar. Ia menoleh kepada Cui Kong, matanya terbelalak lebar. “Kau... kau...!"

“Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganasnya! Cui Kong mengelak dan berkata, suaranya mengandung penyesalan besar, "Niocu, jangan begitu... kau kan isteriku...?"

Akan tetapi Ceng Ceag tidak perduli, melihat suaminya melompat jauh, ia membalik dan kini menyerang Liok Kong Ji yang berada paling dekat! Bahkan ia memukul sambil mencabut pedangnya, lain menyerang kalang-kabut dengan nekat sekali.

"Niocu. jangan... ah, isteriku kau sabarlah...!” Cui Kong membujuk, suaranya betul betul bersedih. Untuk pertama kali dalam hidupnya Cui Kong jatuh cinta dan ia betul-betul merasa berduka melihat isterinya memusuhi dia dan ayahnya.

Liok Kong Ji tentu saja merasa malu dan rendah kalau harus melawan wanita muda yang menjadi mantunya. Ia melompat mundur dan berkata kepada Lam thiab chit ong, "Chit-ong, kalian cobalah anak mantu ini. Dia perlu dibuka matanya, bahwa kita tak boleh dipandang rendah, akan tetapi jangan ganggu dia!"

Sambil tertawa-tawa tujuh orang yang berpakaian tujuh macam warna itu sagera bergerak maju mengurung Ceng Ceng dalam bentuk sena (Bintang Purnama). Ceng Ceng semenjak kecilnya memang seorang yang berjiwa gagah dan tidak mengenal takut, maka melihat tujuh orang aneh telah mengepungnya, ia lalu memutar pedangnya dan menyerang dengan jurus jurus yang paling berbahaya. Ia memang cerdas dan maklum bahwa menghadapi sebuah (barisan), ia harus mencoba untuk membobolkan satu bagian agar dapat keluar dari kepungan.

Oleh karena itu ia sengaja menyerang baju marah untuk membuat Iawan ini terluka atau keluar dari barisan. Akan tetapi, ia tidak sangka bahwu tin itu memang luar biasa sekali. Begitu melihat Ceng Ceng mendesak si baju merah, tin berubah dengan cara yang tak disangka-sangka, dan kini menjadi bentuk Bi-se (Bintang Buntut)!

Si baju merah sudah hilang dan yang menghadapinya kini si baju hijau. Juga tujuh orang itu sudah melolos senjata mereka, yaitu sebatang cambuk panjang dengan warna yang berbeda dari pakaian mereka. Si baju marah memegang cambuk hijau, si baju hijau memegaug cambuk hitam, dan begitu seterusnya. Benar-benar warna yang belang-be ntong itu membuat orang yang terkepung menjadi silau dan bingung.

Berkelebatnya cambuk dan pakaian mendatangkan warna-warna yang bertentangan dan amat sukar bagi Ceng Ceng untuk mengetahui lawan seorang demi seorang dan akhirnya terpaksa ia menghapi tujuh orang itu sekaligus. Tentu saja ia payah baginya. Menghadapi seorang-seorang saja kiranya baru berimbang, sekarang menghadapi tujuh orang sekaligus yang bergerak menurut pergerakan bintang, aneh dan kadang-kadang ajaib perubahan perubahannya.

Ceng Ceng betul-betul dipermainkan. Sejurus menghadapi baju merah. jurus berikutnya sudah bertemu baju hitam. Menangkis cambuk hijau. di lain saat cambuk kuning sudah menyambar! Pandang matanya sudah berkunang-kunang dan belum lewat tiga puluh jurus tenaganya sudah habis. Akhirnya Ceng Ceng menjadi makin pening ketika barisan itu tiba-tiba berpular-putar, membuat warna aneka macam berputaran di depan matanya, Sambil mengeluh yang merupakan isak dari hancurnya hati dan perasaannya, pedang Ceng Ceng terlepas dan ia sendiri jatuh mendeprok tak bertenaga lagi, mendekam di dalam lingkaran dan menangis!

“Cukup! " Cui Kong berseru dan melompat menghampiri isterinya. Sambil tertawa-tawa Lam thian m-chit-ong mengundurkan diri dengan bangga. Untuk kesekian kalinya Chit seng-tin mereka mengalahkan lawan dengan amat mudah.

Cui Kong memeluk lalu memondong tubuh isterinya yang sudah lemah tak bertenaga dibawanya lari memasuki pulau menuju pondoknya. Ceng Ceng masih terus menangis sedih. Setelah oleh suaminya di turunkan di atas pembaringan dalam pondok Cui Kong yang indah dan mewah, baru Ceng Ceng mengeluarkan suara, mengeluh dan menangis.

"Kau... kau orang jahat... kiranya kau anak manusia iblis she Liok itu... aku lebih baik aku mati saja…”

Cui Kong memeluk isterinya dan membujuk dengan kata-kata menghibur. "Niocu, isteriku sayang, jangan kau terbuai nafsu. Dengar dulu kata kataku, kau salah sangka...“

Ceng Ceng membuka matanya, memandang benci dan air matanya bercucuran.b“Salah sangka apa lagi. Sudah lama mendengar ayah menyebut-nyebut adanya manusia iblis Liok Kong Ji dan kaki tanganya. Bahkan kitabku yang mancuri juga kaki tangannya Liok Kong Ji. Kemudian kau datang... kau membohong, kau bilang berhasil rampas kitab, tidak tahunya... ya Thian Yang Maha Kuasa... tak tahunya kau... malah anaknya...!” Kembali Ceng Ceng menangis.

“Ceng Ceng isteriku. Dengarlah dulu. Tak kusangkal bahwa aku sekarang menjadi putera Liok Kong Ji, akan tetapi tadinya aku benar orang she Kwee. Aku hanya anak angkatnya apa kau kira aku dengan mudah dapat mencuri kitab itu dari tangannya kalau dia tidak mengambil anak padaku. Dia suka kepadaku dan mengaku anak, kau lihat dia seorang gagah perkasa dan seorang ayah amat baik.”

“Ayah bilang Liok Kong Ji adalah penjahat yang paling keji di kolong langit!" Ceng Ceng membantah.

“Memang banyak orang yang salah sangka. Gakhu juga belum melihat sendiri maka menyangka demikian. Orang baik selalu dikabarkan buruk, itu sudah jamak. Kau lihat sendiri, begitu bertemu dia mengaku anak padaku, dan memberikan kitab supaya aku dapat berjodoh dengan kau. Sekarang kau datang-datang menghina dan menyerangnya, namun ia tidak mau turun tangan sendiri, hanya menyuruh Lam-thian-chit ong melayanimu, itupun dengan pesan supaya kau tidak diganggunya. Bukankah semua itu menunjukkan bahwa ayah seorang yang berhati baik?"

Biarpun puteri seorang pendekar sakti, namun Ceng Ceng sebetulnya masih anak-anak, masih hijau. Mana bisa ia dapat menghadapi Cui Kong yang cerdik dan licin? Bujukan-bujukan suaminya ini mulai termakan olehnya dan membuat ia agak terhibur, berkurang kecewa dan sesalnya.

“Akan tetapi mengapa kau mengajakku ke sini? Ini tempat apa dan apakah ayah angkatmu itu menjadi bajak laut?” tanyanya dengan mata merah dan pipinya masih basah.

Sambil tersenyum Cui Kong mengusap isterinya, membersihkan air mata dan mengelus-elus rambut yang kusut. "Sama sekali tidak, isteriku. Ayah angkatku bukan penjahat, juga bukan bajak atau perampok. Kau tahu, banyak sekali orang jahat di dunia yang memusuhi ayahku. Oleh karena sudah bosan dengan segala macam pertempuran, lalu pindah ke pulau ini dan tidak mau memusingkan diri dengan urusan dunia lagi, dan menikmati kebahagiaan di tempat sunyi ini."

Memang sesungguhnya dalam pandangan Cui Kong, orang reperti Liok Kong Ji itu sama kali tidak jahat. Bagaimana dia akan menganggap jahat kalau Kong Ji bersikap baik terhadapnya? Pula, sudah lajim di dunia ini bahwa tidak ada manusia yang dapat melihat keburukannya sendiri. Jangankan melihat keburukan diri sendiri, baru melihat dan mencari kesalahan sendiri saja sudah sama sukarnya dengan jalan menuju sorga. Kalau semua orang di dunia ini dapat meli hat dan mengetahui kejahatan dan keburukan sendiri, kiranya dunia takkan sekacau ini!

Melihat sikap suaminya yang sungguh sungguh dan mendengar kata-kata manis dari Cui Kong yang memang pandai bicara, Ceng Ceng terpengaruh dan terhibur. Memang masih ada ganjalan kecewa dalam hatinya bahwa ia harus tinggal di satu pulau dengan "ayah mertua" seperti Liok Kong Ji yang amat dibenci ayahnya, akan tetapi asal Cui Kong orang baik-baik, yang lain ia tidak perduli.

Akan tetapi setelah beberapa bulan tinggal di situ, hati Ceng Ceng menjadi makin hancur menyaksikan hal-hal yang berlawanan dengan perasaan hati dan nuraninya. Apa lagi penculikan-penculikan terhadap gadis-gadis pantai, benar-benar membuat ia marah dan mendongkol sekali. Akan tetapi apa dayanya? Suaminya sendiri kelihatan amat takut terhadap Liok Kong Ji dan iapun tahu bahwa dia dan suaminya sama sekali bukan lawan mereka itu.

Penghibur satu satunya bagi Ceng Ceng adalah Leng Leng, bocah perempuan yang tinggal di situ. Apa lagi ketika ia tahu bahwa Leng Leng adalah puteri Wan Sin Hong. Ia makin sayang kepada anak itu dan boleh dibilang semenjak Ceng Ceng berada di situ, Leng Leng selalu berada di sampingnya. Karena tahu bahwa ini merupakan hiburan besar bagi si anak mantu, Liok Kong Ji membiarkannya saja. Andaikata Ceng Ceng hendak memberontak, nyonya muda itu bisa apakah? Hiburan ke dua bagi Ceng Ceng adalah betapapun juga, suaminya amat mencinta dan menuruti segala kehendaknya. Benar-benar terhadap Ceng Ceng, Cui Kong selalu bersikap halus dan lemah lembut, cintanya terhadap isteri ini sungguh-sungguh, tidak seperti terhadap wanita yang lain yang sudah-sudah.

Beberapa bulan kemudian, selagi Ceng Ceng bermain-main dengan Leng Leng di pantai utara yang sunyi, mengumpulkan bunga-bun ga liar yang amat banyak karena waktu itu musim bunga telah tiba, terdengar Leng Leng berseru girang.

"Burung bagus... burung bagus...!”

Ceng Ceng yang sedang duduk melamun melihat bocah itu bermain -main sambil memetik kembang, tersadar dari lamunannya dan sekarang, ia melihat seekor burung besar terbang di atasnya.

"Tiauw-ko (kakak burung rajawali)!" serunya kaget, heran dan girang.

Suaranya terdengar oleh burung itu dan sekaligus binatang ini mengenal suara majikan mudanya. Dengan gerakan indah sekali menukik lalu melayang turun.

“Burung bagus... bibi, tangkap dia, berikan padaku...!" kata Leng Leng sambil berlari rnendekat.

Ceng Ceng tersenyum dan kagum melihat keberanian bocah itu, tidak seperti bocah perempuan lain yang biasanya takut melihat burung besar. "Kau tidak takut, Leng-ji?”

"Tidak, burung bagus!" kata Leng Leng yang mendekati dan mengelus-elus bulu di dekat kaki burung itu. Ia kalah tinggi, hanya bisa me ngelus bulu di dekat paha.

“Tiauw-ko... bagaimana kau bisa ke sini? Mana ayah dan ibu...? tanya Ceng Ceng sambil memeluk leber burung itu, lupa bahwa tentu saja binatang itu tak dapat bicara. Pek-thouw-tiauw itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya yang putih dan mengeluarkan bunyi lirih, kadang-kadang melirik ke arah Leng Leng karena belum pernah ia mengenal bocah ini.

Tiba-tiba Ceng Ceng mendapat pikiran bagus. Kalau pek-thouw-tiauw berada di situ, tentu ayah ibunya juga tidak jauh. Cepat ia memetik sehelai daun yang lebar, menggurat-gurat dengan kukunya menulis beberapa huruf. Tulisan itu hanya berbunyi; "AKU BERADA DI PEK-HOUW T0."

"Tiauw-ko, bawa daun ini pada ayah ibu. Mengerti? Berangkatlah!” ia menepuk pun ggung burung itu yang segera menyambar dan mementang sayap terbang cepat sekali.

"Bibi, burungn ya mengapa terbang pergi…! teriak Leng Leng.

“Nanti dia kembali lagi, Leng-ji.”

Dugaan Ceng Ceng memang tepat sekali. Burung pek-thouw-tiouw yang dua ekor milik Lie Kong itu memang tak pernah jauh dari majikannya. Pada saat itu. Lie Kong dan Souw Cui Eng isterinya tengah berlayar dengan sebuah perahu kecil. Berhari-hari mereka lakukan penyelidikan dengan perahu ini untuk mencari Pek-houw-to.

Suami isteri pendekar ini mempunyai hubungan luas di kalangan kang-ouw. Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar pantai timur dan semua orang gagah, dari kalangan kang-ouw maupun liok-lim hampir semua kenal mereka. Ketika mereka mencari puteri mereka yang minggat di daerah selatan, mereka bertemu dengan orang-orang liok lim yang langsung memberi selamat kepada mereka yang sudah berbesan dengan Thian-te Bu tek Tai-hin Liok Kong Ji. Malah Seng-jiu-sin touw Si Malaikat Copet, seorang maling besar bernama Tang Liok, dengan wajah berseri memberi selamat sambil menegur,

“Tai-hiap mengawinkan puterinya mengapa lupa kepada Seng-jiu-sin touw?"

Hampir saja Lie Kong menampar muka orang ini kalau saja ia tidak menyabarkan diri, “Kalian ini bicara apa? Jangan main-main. Siapa yang berbesan dengan Liok Kong Ji?"

Orang-orang liok-lim itu saling pandang dengan heran. "Taihiap, bukankah puterimu berjodoh dengan Liok Cui Kong putera angkat Liok-taihiap? Aku melihat sendiri puterimu sekarang berada di Pek-hauw-to bersama suami dan mertuanya."

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati suami isteri itu mendengar keterangan ini. Tanpa memandang waktu lagi mereka lalu pergi ke pantai dan dengan sebuah perahu mereka men cari Pulau Pek-houw to. Karena marah dan malu mereka enggan bertanya kepada orang-orang liok-lim ini dan berusaha mencari sendiri pulau itu. Jarang suami isteri ini bicara, namun dari air mata yang selalu membasahi pipi Souw Cui Eng dan sinar mata suram dan kadang-kadang marah dari Lie Kong, dapat dibayangkan bahwa dua orang ini menderita kesedihan dan ke marahan besar. Mereka sadar sekarang bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh pemuda yang sekarang menjadi suami Ceng Ceng itu.

“Aku akan membunuhnya...“ berkali-kali Lie Kong berkata perlahan.

Isterinya bergidik mendengar suara yang mengandung ancaman pasti ini, “Akan tetapi dia anak kita...”

“Lebih baik Ceng Ceng tak bersuami atau mati dari pada menjadi menantu Liok Kong Ji manusia iblis!”

Souw Cut Eng tak berani membantah lagi, hanya sering kali menangisi nasib putri tunggalnya. Juga ia marasa menyesal mengapa dulu tidak sewaspada suaminya yang selalu menaruh hati curiga kepada pemuda tampan itu. Memang dalam menilai seorang pria, wanita kurang waspada dan hanya seorang laki-laki pula yang dapat mengetahui sifat baik buat seorang calon mantu laki-laki.

Burung-burung Pek-Inouw-tiauw peliharan Lie Kong adalah burung yang cerdik. Dalam mencari Pulau Pek-houw to, Lie Kong melepas burung jantannya dan berkata, "Tiauw-ji, terbanglah dan mencari Ceng Ceng!”

Pek-thouw-tiauw tentu saja tidak bisa bicara akan tetapi burung ini sudah sering kali mendengar perintah Lie Kong. Kini mendengar disebut nama Ceng Ceng yang dikenal baik, agaknya ia tahu bahwa ia harus mencari majikan mudanya itu, maka terbanglah ia tiggi di udara mengelilingi kepulauan yang berkelompok di deerah itu. Melihat sebuah pulau yang didiami manusia dan ada rumah-rumahnya, ia melayang turun dan terbang rendah di atas pulau sampai akhirnya ia terlihat oleh Leng Leng dan Ceng Ceng.

Dengan cepat sekali burung rajawali itu terbang tinggi kembali ke perahu majikannya dan menukik turun. Sambil mengeluarkan bunyi kegirangan ia melepaskan daun di depan kaki Lie Kong dan Souw Cui Eng yang sudah memburu keluar. Lie Kong menyambar daun itu dan membaca. Wajahnya bersinar girang setelah membaca huruf-huruf “AKU BERADA DI PEK-H0UW TO” itu.

"Dia benar berada di sana!” katanya girang dan juga gemas. Tadinya ia masih setengah mengharapkan bahwa keterangan orang-orang liok-lim itu keliru. Kini tak bisa salah lagi, Ceng Ceng benar benar telah menikab dengan putera angkat Liok Kong Ji. Tulisan di atas daun itu benar tulisan anaknya. Souw Cui Eng tak dapat berkata apa-apa, mukanya pucat.

"Tiauw-ji, antar kami ke tempat Ceng Ceng!”

Burung itu lalu terbang diikuti burung betina, Lie Kong memasang layar mengikuti kemana terbangnya kedua ekor burungnya. Tak lama kemudian ia sudah minggirkan perahunya di daratan Pulau Pek-houw-to! Dengan penuh perasaan marah suami isteri ini melompat ke darat dan berlari mengikuti arah thouw-tiauw terbang. Kedatangan burung rajawali yang besar sudah terlihat oleh Liok Kong Ji.

“Suruh isterimu dan Leng Leng berdiam dalam rumah saja dan mari kita menyambut mereka,” kata Liok Kong Ji tenang-tenang saja. “Sedapat mungkin kita bicara damai dan menarik mereka. Kalau mereka sayang anak tentu mereka suka berdamai."

Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri maklum bahwa memasuki pulau itu berarti menghadapi bahaya basar karena mereka sudah mengenal sifat jahat dan curang dari orang macam Liok Kong Ji. Namun dengan amat tenang Lie Kong dan isterinya berjalan mengikuti terbangnya rajawali di atas.

Bahkan ketika tiba tiba muncul Liok Kong Ji dengan Cui Kong di sebelah kiri dan Cun Gi Tosu di sebelah kanan, suami isteri pende kar itu masih nampak tenang saja, terus melangkah maju dengan tindakan kaki tenang. Melihat tiga orang ini muncul diikuti oleh tujuh orang di sebelah belakang dan belasan orang lain merupakan pasukan di bagian paling belakang, dua ekor burung pek-thouw-tiauw terbang berputaran di atas, nampaknya bingung dan gelisah.

Dengan air muka ramah tamah dan tersenyum-senyum, Liok Kong Ji melangkah maju menyambut kedatangan suami isteri itu dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Selamat datang saudara-saudara besan yang gagah perkasa! Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali bahwa jiwi sudi mengunjungi pulauku yang buruk. Memang setelah antara kita ada ikatan kekeluargaan, habungan perlu dipererat. Silakan beristirahat di pondokku yang butut."

Lie Kong tetap tenang, namun sepasang matanya meman carkan sinar kilat, yang menyambar ke arah Cui Kong dan membuat orang ini berdebar jantungnya. Melihat sikap tenang dan dingin dari mertuanya ini, diam-diam ia gentar juga.

“Liok Kong Ji, biarpun jalan hidup antara kita jauh berbeda, akan tetapi tidak pernah ada persoalan antara kita sampai kau menyuruh orang mencuri kitab dari tangan anakku kemudian…” Mata Lie Kong melirik ke arah Cui Kong penuh kebencian, "ke mudian kau membiarkan anakmu menipu kami, malah kau membantunya. Liok Kong Ji, setelah dosa dan penghinaan yang kaulakukan atas diri kami, masihkah kau harus berpura-pura berramah-tamah dan sopan-santun?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Lie Kong tetap dilakukan dengan tenang, akan tetapi seluruh perasaan dan urat di tubuh pendekar ini sudah siap untuk segera turun tangan. Juga Liok Kong Ji bersikap tenang begitu pula Cun Gi Tosu. Hanya Cui Kong yang tampak makin gelisah saja. Kong Ji tersenyum mendengar ucapan Lie Kong tadi, lalu menjawab.

"Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dua urusan yang kausebut-sebut itu adalah urusan anak-anak, sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan hubungan antara kau dan aku. Memang, betul kitab yang kaudapat dari Omei-San itu pernah diambil oleh puteri angkatku. Maklumlah anak-anak selalu ingin memiliki barang aneh orang lain, jangankan anak-anak, bahkan calon kakek-kakek macam kitapun masih ingin memiliki kitab kitab Omei-san, ha-ha! Akan tetapi harap kau maafkan dua orang puteri angkatku itu karena mereka sudah meninggal dunia dalam usia muda. sayang. Adapun tentang soal ke dua. Bagaimana kau menganggap itu penghinaan? Itupun urusan anak-anak urusan anakmu dan putera angkatku. Sudah lumrah dua orang muda saling mencinta kita orang orang tua mana bisa ikut-ikutan. Puterimu suka menjadi isteri puteraku yang mencintainya. Sekarang mereka sudah menjadi suami isteri yang hidup bahagia di sini, apa lagi urusannya?”

Sebagai jawaban, tiba-tiba Lie Kong mencabut pedangnya, diturut oleh isterinya. Dua ekor burung rajawali kepala putih mengeluarkan bunyi keras menantang ketika melihat majikan-majikan mereka telah siap dengan pedang di tangan. Dua ekor burung ini siap-siap membantu Lie Kong.

“Liok-Kong Ji, tak perlu kau memutar lidah. Siapa sudi mendengar omongan orang yang terkenal curang dan licik seperti kau?” bentak Lie Kong.

"Lie Kong, kau mau apakah?” Liok Kong habis sabarnya melihat tamu-tamunya mencabut pedang.

"Aku datang untuk mengajak pulang puteri kami dan menyeret anjing biadab ini!" Dengan pedangnya Lie Kong menuding ke arah Cui Kong yang menjadi pucat dan orang muda ini tanpa terasa lagi melangkahkan kaki berdiri di belakang ayah angkatnya.

"Oho-ho, mudah amat kau bicara!" Liok Kong Ji mengejek. "Puterimu itu sudah menjadi isteri anakku. Orang pertama yang berhak adalah Cui Kong, orang kedua adalah aku sendiri karena aku ayah mertuanya. Dengar jawabanku, Lie Kong. Ceng Ceng tidak bisa kau bawa dan tentang ancamanmu kepada puteraku, hemm, aku sabagai ayahnya tentu takkan berpeluk tangan kalau kau hendak mengganggunya."

"Bagus! Memang sudah lama aku menahan-nahan dorongan hati yang hendak memberi hajaran kepada manusia iblis Liok Kong Ji. Majulah, mari kita bertempur seribu jurus untuk inenentukan siapa yang lebih unggul.” Lie Kong menantang.

"Ha-ha, kau kira mudah saja mengadu ilmu kepandaian dengan aku? Orang yang tidak memiliki kepandaian berarti mana ada harga untuk bertanding dengan aku atau Cun Gi Totiang?" Liok Kong Ji memberi isyarat dan majulah Lam-thian-chit-ong. Dengan gerak cepat dan indah mereka telah membentuk barisan bintang menghadang di depan Lie Kong dan Souw Cui Eng.

Melihat tujuh orang berpakaian tujuh warna dan bentuk barisan mereka, Lie K ong tersenyum mengejek. "Eh, kiranya Lam thian chit-ong sekarang juga sudah menjadi begundal manusia iblis she Liok!"

Si baju merah mewakili saudara-saudaranya menjawab, “Sudah lama kami mendengar nama besar Pek thouw tiauw ong suami isteri. Kini bertemu ternyata yang besar adalah mulutnya, tidak tahu sampai dimana kepandaiannya atau tidak sebesar mulutnya, benar-benar amat menggelikaan!” Enam orang yang lain tertawa mengejek.

Merah muka Lie Kong mendengar hinaan ini. Ia memberi isyarat kepada isterinya dan suami isteri ini melangkah maju berdampingan dengan pedang di tangan, sikap mereka tenang akan tetapi gagah sekali. Adapun Lam-thian-chit-ong juga sudah bergerak membentuk lingkaran barisan bintang mengurung dua orang lawan itu. Mereka berlaku amat hati-hati dan sudah mempersiapkan senjata mereka yang lengkap, yaitu di tangan kiri sebuah pisau pendek dan di tangan kanan cambuk berwarna yang amat lihai. Mereka mulai bergerak, berjalan perlahan mengitari dua orang itu. Inilah pembukaan Chit-san-tin (Barisan Tujuh Bintang) dan gerakan berjalan mengelilingi lawan ini disebut Tujuh Bintang Mengitari Bulan.

Lie Kong mombisiki isierinya Souw Cui Eng, mereka berdiri saling membelakangi, dengan cara ini suami istri itu dapat saling melindungi serangan lawan dari belakang. Melihat kedudukan suami isteri ini yang bersikap tenang dan masih menanti gerakan barisan yang masih berlarian mengitari mereka, tujuh orang itu mempercepat larinya dan tiba-tiba si baju merah memberi tanda, cambuknya menyambar melakukan serangan pertama, disusul oleh saudara-saudaranya.

Namun Lie Kong dan Souw Cui Eng sudah siap dengan pedang mereka dan cepat ia men angkis sambil mengerahkan tenaga. Cambuk yang ditangkis oleh Suuw Cui Eng terpental saja, akan tetapi yang terkena tangkisan pedang Lie Kong, merasa telapak tangan mereka sakit dan tergetar! Tujuh orang itu masih melanjutkan serangan mereka dengan cara bergantian sambil bergerak memutar sehingga sepasang suami isteri merasa ada serangan dari sekeliling mereka juga cambuk-cambuk yang beraneka warna itu mendatangkan sinar menyilaukan dan membingungkan.

Namun Lie Kong cepat sekali gerakan pedangnya. Pedang di tangannya mematahkan serangan lima orang lawan sehingga isteri yang tingkat kepandaiannya jauh lebih rendah dari padanya hanya melayani dua batang cambuk lawan. Di samping semua serangan ini sinar pedang suami isteri ini masih mampu melakukan serangan balasan yang membuat para lawannya terkejut. Mereka bergerak memutar lebih cepat lagi sehingga Lie Kong maupun isterinya tidak mampu melakukan desakan pada seorang saja, melainkan harus melayani tujuh orang secara bergiliran.

Terpaksa Lie Kong dan Sauw Cui Eng memutar pedang melindungi diri sehingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar pedang saling melindungi dan merupakan benteng baja yang amat rapat. Untuk sementara, tujuh orang itu tak dapat mendesak jago pantai timur dengan isterinya ini.

Si baju merah memberi tanda lagi dan segera serangan dihentikan. Kini mereka berlari memutar dari kiri ke kanan, demikian cepat gerakan mereka sehingga kelihatan bayangan indah beraneka warna sambung-menyambung bagaikan pelangi melingkungi dua orang itu. Ini masih disambung dengan cambuk tujuh warna yang digerak-gerakkan dalam berlari sehingga pemandangan itu benar-benar indah menakjubkan.

Untuk sejenak Lie Kong dan isterinya tidak tahu apa makaudnya tujuh orang lawan yang hanya berlari-larian ini, akan tetapi lama kelamaan mata mereka menjadi silau dan kepala mereka pening. Memang maksud tujuh orang itu adalah untuk membikin dua orang lawannya pening. Siapa yang berada di dalam lingkungan "pelangi” ini mau tidak mau harus menggunakan mata memandang penuh perhatian agar jangan diserang secara gelap oleh lawan.

Karenanya mata menjadi pedas dan kepala menjadi pening menghadapi aneka warna yang bergerak memutari secara cepat itu. Untuk mengalihkan pandangan mata agar jangan silau adalah tak mungkin karena ini berarti membuka bahaya bagi mereka sendiri. Lie Kong adalah seorang pendekar yang banyak pengalamannya bertempur. Biarpun belum pernah ia menghadapi barisan sehebat ini sebagai lawan, namun taktik pertempurannya sudah amat masak dan sebentar saja memutar ot ak ia dapat menemukan cara untuk melawan aksi musuh ini.

“Ikuti aku lari!” katanya kepada isterinya yang sudah mulai pedas matanya dan tiba-tiba Lie Kong juga membuat gerakan berlari memutar, tidak dari kiri ke kanan melainkan sebaliknya, dari kanan ke kiri! Souw Cui Eng dengan taat mengikuti suaminya yang ia percaya penuh, tetap waspada dan siap dengan pedangnya.

Pemandangan menjadi makin indah dan aneh. Sekarang ada dua lingkaran yang be rgerak berlawanan, yang luar dengan aneka macam berputar ke kanan, yang sebelah dalam bergerak dari kanan ke kiri Dengan pergerakan ini Lie Kong dapat membuyarkan pe mandangan yang menyilaukan mata dan pedangnya mulai menyambar-nyamber menyerang apabila terdapat kesempatan dalam berlari berpapasan dengan lawan-lawan itu.

Gerakan tujuh orang itu menjadi kacau dan si baju merah kembali mengeluarkan aba-aba, segera mereka berhenti berlari dan de ngan teratur sekali barisan itu berubah me njadi baris an Liong-sang (Bintang Naga) Si baju merah menjadi kepala, baju hit am dan putih di kanan kirinya manjadi sepasang cakar, baju hijau menjadi perut, baju kuning dan baju biru menjadi kaki belakang. sedangkan baju coklat menjadi buntut. Bergeraklah barisan Bintang Naga ini menyerang, cambuk dan pisau bergerak dengan teratur sekali.

Lie Kong tertawa mengejek. Bersama isterinya ia menyambut serangan ini dan dalam gebrakan pertama saja hampir-hampir pundak si baju putih terbabat pedang Lie Kong. Akan tetapi tiba-tiba barisan itu bergerak dan tahu-tahu “naga" ini sudah menggerakkan buntutnya secara melingkar sehingga dua kaki belakang dan buntut yang terdiri dari tiga orang itu secara tidak terduga telah menyerang dari belakang Lie Kong dan isterinya. Kembali suami isteri ini terkurung dan kini kurungan tidak seperti tadi, melainkan berubah-ubah.

Kadang-kadang bagian kepala Bintang Naga itu yang menyerang dan buntutnya hanya melindungi kepala. dan demikian sebaliknya. Perut naga atau si baju hijau itu sewaktu-waktu melakukan serangan mendadak dengan menyambitkan pisau pendek sebagai senjata rahasia, dan agaknya mereka ini memang mempunyai bekal banyak sekali pisau-pisau pendek.

Lebih dari dua puluh jurus Lie Kong dan isterinya terdesak dan mereka ini hanya mampu mempertahankan diri, karena jika sewaktu-waktu mereka hendak melakukan serangan balasan, tentu muncul serangan yang tak terduga-duga dari fihak lawan. Baiknya ilmu pedang Lie Kong memang hebat luar biasa, maka biarpun amat terdesak, ia dan isterinya masih mampu membuat benteng pertahanan yang tak mudah dibobolkan...