Social Items

Tangan Gledek Jilid 43

“BRAKK!" Dayung patah menjadi dua dan tubuh kakek itu terlempar, roboh tak sadarkan diri lagi karena hebatnya pukulan Tin-san-kang. Kong Ji tak memperdulikan lagi kakek itu, menyambar tubuh Wan Sun dan mengajak putera angkatnya cepat kembali ke sarang untuk membantu Lo-thian-tung Cun Gi Tosu menghadapi musuh.

Suitan tadi memang datangnya dari Lothian-tung Cun Gi Tosu yang sedang berhantam dengan Wan Sin Hong! Wan Sin Hong yang meninggalkan Huang-ho Sian-jin, dengan gerakan cepat sekali menghampiri kelompok rumah di tengah pulau itu dari arah kiri. Ia tidak berani bertindak secara sembrono. Ia tahu bahwa dengan beradanya Leng Leng di tangan musuh, ia menjadi tak berdaya. Musuh dapat mempergunakan anak itu untuk melawannya. Oleh karena itu, yang paling penting adalah merampas kembali anaknya, baru setelah anaknya ditemukan ia akan memberi hajaran kepada Lothian tung Cun Gi Tosu si kakek buntung.

Ia sudah merasa heran melihat tidak adanya penjagaan kuat di dalam pulau itu lebih -lebih herannya ketika ia melihat banyak wanita cantik berada di dalam rumah terbesar yang berada di tengah-tengah kelompok rumah-rumah itu. Tentu di sini tempat tinggal Cun Gi Tosu, pikirnya. Akan tetapi siapakah wanita-wanita muda cantik genit yang pakai annya mewah itu? Apakah kakek buntung seorang gila perempuan dan mempunyai banyak selir? Panas muka Sin Hong saking jemu dan marahnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi tak seorangpun di antara anak buah yang tinggal di rumah-rumah kecil itu mengetahui kedatangannya. Bagaikan bayangan setan Sin Hong berhasil memasuki rumah besar. Tidak terlihat laki-laki di situ, hanya sedikitnya ada tujuh orang wanita cantik dilayani oleh banyak sekali pelayan, lebih sepuluh orang. Ia tidak beran i bertindak sembrono. Kalau sampai ia terlihat dan wanita-wanita itu menjerit, tentu akan gagal uaahanya merampas kembali anaknya.

Dengan sabar Sin Hong me nanti sampai meli hat seorang di antara wanita-wanita cantik itu pergi ke taman belakang diikuti dua orang pelayannya, wanita ini cantik sekali, usianya paling banyak tiga puluhan tahun, pakaiannya mewah dan bi caranya halus. Ragu.ragu hati Sin Hong untuk menyerang seorang wanita, apa lagi sang wanita yang demikian cantik dan halus gerak-geriknya. Akan tetapi demi untuk menolong anaknya, ia menekan perasaannya dan secepat kilat ia muncul. Sebelum tiga orang wan ita itu sempat menjerit dua orang pelayan sudah tertotok pingsan dan wanita cantik itu berdiri ditotok urat gagunya.

"Jangan takut, aku hanya ingin bertanya. Kalau kau bicara terus terang, kau akan kubebaskan," bisik Sin Hong.

Wanita itu membelalakan matanya yang lebar dan mengangguk. Sin Hong membuka totokannya dan menarik wanita itu ke tempat gelap. Memang taman itu sudah mulai gelap dengan bayangan-bayangan pohon.

"Katakan, siapa tinggal di rumah besar ini?”

"Yang tinggal di sini suami kami, Liok- taihiap yang berjuluk Thian-te Bu-tek Tai-hiap," wanita itu balas beibisik dengan sikap menakut-nakuti Sin Hong dan dia sendiri agaknya tidak takut sama sekali, malah kini memandang ke wajah Sin Hong yang gagah itu dengan senyum-senyum genit.

Berdebar jantung Sin Hong. “Liok Kong Ji di sini...?”

Wanita itu mengangguk dengan sinar mata senang. Sin Hong menjadi bingung, girang dan cemas. Dengan adanya Kong Ji, berarti makin sukarlah untuk merampas kembali anaknya, tetapi juga memberi kesempatan kapadanya untuk mengadu nyawa dengan musuh besarnya itu.

"Siapa lagi?"

"Kau tanyakan selir-selirnya...?" wanita itu mengerling penuh gaya.

“Siapa perduli selir?” bentak Sin Hong, gemas melihat kegenitan wanita yang tadinya disangka halus dan sopan itu. “Siapa lagi selain Kong Ji?"

Melihat kegalakan Sin Hong, wanita itu agak takut. "Masih ada Liok-kongcu...”

"Cui Kong...?"

Wanita itu memandang heran. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Diam! Kau menjawab, aku yang bertanya. Masih ada lagikah? Kakek buntung Cun Gi Tosu itu di mana?"

"Dia juga ada. Nah, kau tahu di sini banyak terdapat orang pandai. Lebih baik kau bebaskan aku den lekas menyingkir...”

“Diam! Kau lihat seorang anak perempuan yang dibawa oleh Cun Gi Tosu...?”

"Ohhhh kaau datang untuk mencari Leng ji (anak Leng)?"

“Ya, Leng-ji, anakku... dimana sekarang?” Saking tegangnya Sin Hong sampai lupa diri dan mencengkeram pundak wanita itu.

Tiba- tiba wanita itu menjadi pucat dan tubuhnya menggigil, "Ampun... ampunkan aku. taihiap... aku tidak tahu apa-apa...!"

Sin Hong sadar bahwa wanita ini sekarang tahu siapa dia dan menjadi ketakutan. Tentu saja namanya diketahui oleh selir Kong Ji. "Aku takkan menggangggumu asal kau ceritakan di mana adanya Leng Leng dan di mana adanya Cun Gi Tosu." katanya perlahan dan tenang.

"Tadi setelah ada dua orang datang mendarat, siang-siang Cun Gi totiang telah membawa diri Leng-ji dibawa ke pantai timur untuk bersembunyi. Selalu apabila pulau kedatangan orang yang dicurigainya, ia segera menyembunyikan Leng-ji."

"Ke pantai timur katamu? Betulkah?"

"Untuk apa aku membohong?”

Sin Hong menyangsikan ucapan wanita ini maka sekali menotok wanira itu roboh pingsan. Kemudian dengan mudah ia mengempit tubuh tiga orang wanita itu dan membawa melompat keluar dari tempat itu. ia meninggalkan tiga orang wanita yang pingsan itu di tempat sepi. Ia perlu melakukan hal ini agar perbuatannya jangan diketahui orang sebelum ia berhasil merampas kembali anaknya.

Setelah meninggalkan tiga orang wanita pingsan itu, Sin Hong cepat berlari ke timur, menuju ke pantai sebelah timur pulau itu. Akan tetapi di tengah jalan ia berhenti, berpikir berfikir sebentar lalu berlari kembali ke tempat ia meninggalkan tiga orang wanita tadi. Disambamya tubuh sorang pelayan dan ditotoknya hingga siuman kembali. Pelayan ini ketakutan, akan tetapi Sin Hong berkata perlahan.

"Kau akan kubawa ke tempat persembunyian Cun Gi Tosu dan di sana nanti kau harus berteriak memanggil namanya, bilang bahwa Cun Gi Tosu dipanggil oleh Liok Kong Ji. Awas, kalau kau tidak menuruti aku akan memukul remuk kepalamu dari belakang!”

Dengan tubuh menggigil pelayan itu mengangguk. Sin Hong lalu mengempitnya dan membawanya lari ke pantai timur. Pulau itu tidak berapa besar maka sebentar saja Sin Hong sudah tiba di pantai timur yang ternyata marupakan daerah batu karang yang banyak terdapat gua-gua besarnya. Ia merasa puas telah membawa pelayan itu karena kalau tidak demikian, kiranya tidak mudah mencari tempat persembunyian kakek buntung itu. Sin Hong bersembunyi di balik batu karang dan pelayan itu mulai berteriak-teriak.

"Totiang...! Liok-taihiap... menyuruh totiang datang segera! Ada musuh menyerbu…” pelayan itu berteriak memanggil, tiba-tiba sebuah di antara gua-gua itu terdengar suara nyaring, “Mengapa kau pelayan wanita disuruhnya? Ke mana para penjaga dan pelayan laki-laki?”

Pertanyaan ini memang sudah diduga dulu oleh Sin Hong, maka tadipun dia sudah menyiapkan jawaban. Pelayan itu menjawab cepat. “Semua penjaga dan pelayan sudah bertempur. Bantuan totiang amat diharapkan. Lekaslah, musuh kuat sekali!”

Akhirnya tosu kaki buntung itu muncul juga dan berdebar hati Sin Hong melihat Leng Leng berada dalam pondongan tangan kiri kakek itu! Sekali melompat kakek itu sudah berada, di depan pelayan tadi.

"Aku tidak mendengar suara apa-apa, siapa yang bertempur?”

Pada saat itu Sin Hong muncul cepat. "Cun Gi totiang, serahkan kembali puteriku. Kalau kau hendak mengadu kepandaian, kulayani secara laki-laki, jangan mengganggu bocah yang tidak tahu apa-apa!”

Alangkah kagetnya hati tosu buntung itu melihat tiba-tiba Sin Hong berdiri di depannya. Sekali tongkatnya bergerak, tubuh pelayan wanita itu terlempar jauh ke dalam jurang, meninggalkan pekik mengerikan.

“Kalau pinto berniat mengganggu bocah ini, kau kira dia masih hidup." jawabnya.

Sementara itu, ketika Leng Leng melihat Sin Hong, segera mengenalnya dan berteriak nyaring, "Ayah...!" Akan tetapi anak itu tidak menangis, agaknya merasa senang dalam pondongan kakek itu!

Mata Sin Hong yang tajam dapat meli hat hal itu dan ia merasa lega. Tak dapat disangsi pula, Leng Leng kelihatan sehat montok dan kel ihatan tidak takut kepada kakek itu. Ini hanya menandakan bahwa Leng Lang mendapat perawatan baik, dan kakek itu sayang kepadanya, agaknya hendak dijadikan muridnya!

"Cun Gi tosu, kau telah menculik anakku. Apakah kau tidak malu dengan perbuatan rendah itu? Anak kecil jangan dibawa-bawa, kita sama-sama tua kalau hendak bertempur mengadu nyawa, sampai seribu jurus kulayani. Lepaskn Leng Leng!"

"Tidak, lebih baik kau pergilah dari sini, Wan Sin Hong. Bocab ini akan menjadi muridku, kelak kalau sudah jadi tentu akan pulang sendiri."

Muka Sin Hong nulai merah, tanda kemarahan hatinya. “Cun Gi Tosu, apa benar-benar kau menghendaki aku menggunakan kekerasan?”

Tosu kaki buntung itu tertawa terkekeh- kekeh "Heh-heh-heh heh, orang lain takut kepadamu, akan tetapi pinto tidak. Ada berapa sih kepandaianmu maka berani bersikap sombong selama ini? Mengangkat diri sebagai benbcu, menjagoi dunia kang-ouw! Hemm, ketahuilah, Wan Sin Hong. Justeru untuk memberi rasa kepadamu agar kau jangan sombong, maka aku mengambil Leng Leng sebagai murid.”

"Pendeta berhati kotor! Siapa tidak tahu bahwa kau pembantu musuh negara dan pembantu penjahat iblis Liok Kong Ji? Kau menghendaki kekerasan, baiklah. Lihat seranganku.”

Wan Sin Hong sudah mulai melangkah maju dan menggerakkan tangan memukul pundak kanan kakek yang tangan kanannya membawa tongkat itu. Lihai sekali kakek ini, biarpun, kakinya hanya sebelah, menghadapi pukulan Sin Hong yang luar biasa lihainya itu ia melompat ke atas dan tertawa mengejek, tongkatnya menyambar dalam serangan yang tak kurang dahsyatnya!

Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian kakek buntung ini memang tinggi sekali. Ia memiliki permainan tongkat yang tiada tara sehingga mendapat julukan Lo thian tung (Tongkat Pengacau Langit). Apa lagi setelah berhasil mendapatkan kitab dari Omei-san yaitu Soan-hong-kiam-si, ilmunya bertambah dan ia merupakan orang lihai yang setingkat dengan Liok Kong Ji.

Akan tetapi, menghadapi Wan Sin Hong kiranya ia takkan dapat banyak berlagak atau paling-paling ia hanya bisa mengimbangi kelihaian pendekar itu, kalau saja ia tidak mempunyai “jimat” berupa Leng Leng dalam pondongannya. Dengan adanya bocah ini di gendongannya, memang Sin Hong tak dapat berbuat banyak. Ini pula sebabnya maka ia tidak mencabut Pak-kek sin-kiam, melainkan dua tangan kosong untuk menghadapi kakek buntung itu. Jika ia menggunakan pedang, tentu ada bahayanya ia melukai puterinya sendiri.

Betapapun juga, dengan kepandaian yang ia terima dari Pak Kek Siansu. kedua lengan tangannya cukup hebat untuk mendesak lawannya. apa lagi Sin Hong sekarang telah menjadi seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Ia tidak jerih menghadapi tongkat Cun Gi Tosu, bahkan dapat membalas dengan angin pakulan yang selalu menyambar ke arah kaki lawan yang tinggal sebelah. Memang Sin Hong seorang cerdik. Setelah lawannya memondong Leng Leng, maka satu satunya bagian yang lemah dan mudah diserang adalah kakinya yang tinggal satu itu. Sekali saja ia berhasil memukul kaki itu dan membuat Iawannya terguling tidak begitu sukar kiranya untuk merampas anaknya.

Diserang terus-menerus bagian kakinya, Cun GI Tosu menjadi marah sekali, biarpun kakinya tinggal sebelah, namun ia dapat melompat tinggi dan jauh. Ia melompat ke belakang. berdiri dengan satu kaki dan tongkatn ya diputar bagaikan kitiran cepatnya. Sayang bahwa tangannya memondong Leng Leng, kalau tidak tentu ia dapat menambah susulan dengan tangan kirinya. Ternyata bahwa adanya "jimat” berupa bocah itu dalam gendongannya, tidak hanya mendatangkan keuntungan baginya karena Sin Hong tidak berani menggunakan pedang, akan tetapi juga mendatangkan kerugian yaitu pergerakannya jadi terhalang.

Pertempuran dilanjutkan dengan hebat. Kalau dua orang pandai bertempur, hanya angin pukulan mereka saja yang menyambar-nyambar dan biarpun jarak diantara merasa kadang kadang jauh, masih mereka saling pukul untuk menyerang lawan dengan angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya dari pada tusukan pedang atau hantaman golok.

Melihat kelihaian lawannya, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu mulai khawatir. Jangan-jangan masih ada kawan-kawannya, pikirnya. Maka ia lalu bersuit untuk memberi tahu kepada Liok Kong Ji dan yang lain-lainnya. Kalau mereka datang dan membawa dulu Leng Leng. tentu ia akan mencoba lagi menghadapi Sin Hong dengan mati-matian, dapat menggunakan seluruh perhatian dan kepandaiannya. Kakek ini masih belum mau tunduk dan tidak merasa kalah.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mendengar suitan ini Liok Kong Ji dan Cui Kpng segera lari meninggalkan Huang-ho Sian-jin yang pingsan dan membawa pergi, Wan Sun yang tertawan. Liok Kong Ji lebih dulu melempar Wan Sun pada seorang penjaga, menyuruh penjaga memasukkan orang muda itu dalam kamar tawanan bersama Coa Lee Goat yang sudah tertawan lebih dulu dan supaya dijaga kuat-kuat. Kemudian bersama Cui Kong ia lari ke timur untuk membantu Cun Gi Tosu.

Ketika Kong Ji melihat siapa yang bertempur melawan Cun Gi Tosu, ia terkejut sekali. Tak disangka-sangka bahwa Sin Hong yang penyerang kakek itu. “Aha, kiranya kau mengantar nyawamu ke sini? Ha-ha-ha!” Kong Ji menutupi kekagetannya dan tertawa bergelak sambil mencabut pedangnya.

“Cui Kong, kau bawa pulang dulu Leng Leng!” kata Cun Gi Tosu kepada muridnya, Cui Kong menerima Leng Leng yang tetap tidak menangis biarpun sejak tadi melihat ayahnya bertempur melawan “suhunya”. Bocah masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan itu. Gurunya, juga "paman Liok" baik sekali terhadap dia, tentu saja dia tidak bisa membenci mereka. Akan tetapi sekarang mereka ini bertempur dengan ayahnya. Hal yang lalu ruwet dan sulit dimengerti oleh anak sekecil dia.

Melihat datangnya Liok Kong Ji dan Cui Kong, kemarahan Sin Hong memuncak. Juga ia gelisah sekali. Harapan untuk dapat menolong puterinya makin menipis. Tentu saja ia tidak takut menghadapi Kong Ji dan Cun Gi Tosu, akan tetapi sekarang anaknya berada di tangan Cui Kong dan Kong Ji yang jahat. Ia cukup mengenal siasat Kong Ji yang tentu takkan ragu-ragu untuk mempergunakan anaknya sebagai perisai apabila kalah.

Memikirkan hal ini ia menjadi bingung. Kalau tidak ada urusan Leng Leng, tentu tanpa ragu-ragu tentu ia akan menyerang dua orang ini dan akan mengajak Kong Ji musuh besar itu bertempur mati-matian menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Akan tetapi pada saat itu, semua urusan pribadinya ia lupakan dan yang ia pentingkan lebih dulu adalah keselamatan Leng Leng. Oleh karena itulah Sin Hong pendekar sakti itu menjadi bingung dan ragu ragu. Tadipun ia menyerang Cun Gi Tosu hanya dengan maksud merampas Leng Leng.

Pada saat itu terdengar pekik burung dari arah darat. Orang-orang yang lain tidak tahu bahwa itulah tanda rahasia dari Huang-ho Tian-jin, hanya Sin Hong yang tahu bahwa kalau kakek itu memanggilnya. Tentu ada urusan penting. Lebih baik ia pergi dulu dan kelak datang lagi. Dia toh sudah tahu di mana letak Pek-houw to dan tahu pula bahwa Leng Leng puterinya berada dalam keadaan selamat. Ini saja sudah melegakan hatinya dan sudah berarti bahwa kedatangannya kali ini tidak sia-sia.

"Kong Ji, biar lain kali kita bertemu!” katanya dan tanpa menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap di antara batu-batu karang dan puhon-pohon.

"Kejar...!” Cui Kong berseru.

Akan tetapi Kong Ji mengangkat tangannya mencegah. "Ha ha-ha, selama hidupku baru aku ini melihat Wan Sin Hong melarikan diri terbirit-birit seperti anjing dirukul!” katanya keras-keras dengan sengaja mengerahkan lweekang supaya didengar oleh Sin Hong. “Untuk apa mendesak anjing yang sudah lari? Biarlah, kelak kalau dia berani datang lagi, baru aku sediakan pedang untuk memenggal lehernya!"

Memang disamping kelihaian dan kelicikannya, Kong Ji berwatak sombong. Tadi sudah disaksikannya bahwa biarpun menggendong Leng Leng, Cun Gi Tosu sanggup menghadapi Sin Hong. Dengan adanya Cun Gi Tosu yang lihai, juga Cui Kong yang sudah maju dan ditambah dia sendiri yang sekarang sudah mulai melatih ilmu-ilmu kesaktian dari kitab-kitab Omei-san, siapa yang ia takuti lagi?

Pekik burung tadi memang tanda rarsia dari Huang-ho Sian-jin ditujukan kepada Sin Hong. Ketika ditinggalkan oleh Kong Ji dan Cui Kong, kakek ini sudah siuman. Ia hanya sebentar saja pingsan terkena sambaran an gin pukulan Tin-san-kang yang hebat dari Kong Ji. Orang lain tentu akan remuk remuk isi dadanya, dan demikian pula disangka Liok Kong Ji maka tanpa curiga lagi Kong Ji meninggalkan tubuh kakek itu.

Namun Huang-ho Sian-jin bukanlah orang biasa. Tubuhnya sudah memiliki keke balan, dan pukulan ini biarpun mengguncang isi perut dan dada membuatnya pingsan sebentar, namun tidak mendatangkan luka maut. Kalau saja Ko Ji tidak begitu sombong dan mau memeriksa, tentu akan membunuh Huang ho Sian-jin lebih dulu sebelum meninggalkannya.

Melihat Kong Ji dan Cui Kong pergi membawa Wan Sun, Huang-ho Sian-jin merayap bangun dan di dalam gelap ia menyelinap mengikuti dari belakang. Ia mendengar betapa Wan Sun diserahkan kepada seorang penjaga. Biarpun tadi sudah terpukul, Huang ho Sian-jin masih memiliki keberanian besar. Ia mengikuti sampai Kong Ji dan Cui Kong yang tergesa- gesa itu pergi lari ke timur, kemudian ia muncul dan sekali ketok saja pada kepala penjaga itu, ia telah dapat membuat orang roboh.

Cepat ia membebaskan totokan Wan Sun bersama orang muda ini ia maju terus mencari tempat ditahannya Coa Lee Goat. Hal ini tidak sukar dilakukan. Berbeda dengan Ui tiok-lim, pulau ini tidak sukar dimasuki rumah-tumah di situ tidak berapa banyak. Sebentar saja dua orang gagah ini dapat menemukan tempat tahanan di mana Lee Goat ditawan, yaitu sebuah rumah kecil dan enam orang penjaga menjaga rumah itu dengan tombak di tangan.

Akan tetapi apa artinya enam orang penjaga yang hanya kuat tubuhnya dan memiliki ilmu silat biasa saja bagi Wan Sun dan Huang-ho Tian-jin? Sekali serbu enam orang itu sudah roboh malang melintang dan Wan Sun mendobrak pintu, menyerbu ke dalam. Lee Goat berada di dalam kamar, tangan kakinya terikat kuat-kuat sehingga ia tidak berdaya lagi. Wan Sun cepat menolong isterinya, kemudian bersama isterinya ia lari mengikuti Huang-ho Sian-jin ke pantai barat di mana tadi kakek itu meninggalkan perahu.

Tahu bahwa keadann pulau itu kuat sekali dengan adanya orang-orang seperti Liok Kong Ji, Liok Cui Kong, dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, maka Huang-ho Sian-jin lalu mengeluarkan pekik burung untuk memanggil Sin Hong. Ia sudah merasa khawatir akan keselamatan Sin Hong yang begitu lama meninggalkannya belum juga kembali. Akan tetapi dengan girang mereka melihat berkelebatnya bayangan dan Sin Hong telah berdiri di depan mereka.

"Cepat, kita pargi dulu dari sini!" bisik Sin Hong sambil mengajak mereka melompat dalam perahu. Sin Hong merasa girang sekali melihat Wan Sun dan Lee Goat di situ.

"Bagaimana kalian bisa berada di Pek-houw to?" tanya Sin Hong setelah perahu bargerak cepat meninggalkan pulau itu.

Sebelum ada yang menjawab, Lee Goat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu, tak dapat bicara apa-apa. Sin Hong kaget sekali dan mengelus-elus kepala muridnya. "Lee Goat, tenangkan hatimu. Apakah yang telah terjadi?”

Dengan air mata bercucuran Wan Sun yang juga berlutut di sebelah isterinya lalu bercerita bagaimana dia dan isterinya menyerbu pek-houw-to dan tentu mengalami bencana kalau tidak ditolong oleh Huang-ho Sian-jin, kemudian dengan suara terputus-putus ia menceritakan betapa Cui Kong telah menyerang Kim-bun-to dan mebewaskan banyak orang, diantaranya ayah bunda Lee Goat dan melukai Li Hwa.

Kalau ada geledek menyambarnya, belum tentu Sin Hong begitu terkejut seperti ketika mendengar penuturan ini. Ia mengepal-ngepal tinjunya, wajahnya pucat dan matanya memancarkan sinar yang menakutkan, giginya mengeluarkan bunyi karena saling beradu.

"Kong Ji, sampai sekarang kau masih menyebar kejahatan," kutanya dengan suara mendesis. "Cui Kong si keparat itu adalah bentukanmu. Aku hersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi kalian..."

Huang-ho Sian-jin menarik napas panjang. “Bagi manusia yang rendah budinya melakukan kejahatan merupakan kesenangan. Berbuat keji terhadap sesama manuais ia anggap perbuatan gagah perkasa, membuat matanya buta dan mengira bahwa dengan merajalela itu, ia menjadi seorang yang tidak terlawan. Kong Ji seorang manusia iblis yang bertindak hanya menurutkan nafsu iblis tanpa mengingat akan perikemanusian. Memang iblis-iblis berwajah manusia macam dia dan Cui Kong harus dibasmi dari muka bumi. Sukarnya, mereka mereka memiliki kepandaian tinggi, apa lagi di sana masih ada Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang lihai sekali..." Kembali kakek itu menghela napas.

Sin Hong menjadi panas mendengar itu. "Lo-enghiong, sungguhpun mereka itu lihai, sekali-kali aku tidak takut menghadapi mereka. Sayangnya Leng-ji berada di tangan mereka dan inilah yang menghalangi sepak terjangku. Kalau aku memaksa dan menyerbu, aku takut kalau-kalau mereka menggunakan Leng-ji untuk malawanku dan sebelum aku turun tangan mereka dapat mengganggu anakku. Orang macam Kong Ji takkan segan-segan melakukan perbuatan keji itu untuk mencapai maksud hatinya." Tiba tiba Sin Hong menghentikan kata-katanya karena kebetulan sekali sinar bulan yang sudah mulai keluar itu menerangi muka Huang-ho Sian-jin!

"Lo-enghiong, kau terluka dalam!"

Datuk bajak itu tersenyum. "Pukulan Kong Ji betul hebat, sekali pukul saja hawa pukulannya telah mematahkan dayungku dan melukai dadaku."

Sin Hong adalah seorang ahli pengobatan. Cepat ia mengeluarkan sebuah pil putih dan memberikan obat itu kepada Huang-ho Sian-jin. Ia memeriksa nadi tangan kakek itu, lalu berkata, "Untung kau cukup kuat sehingga tidak menderita luka hebat." Betul saja, setelah menelan pil itu, rasa sakit pada dadanya lenyap.

"Habis sekarang bagaimana baiknya, suhu?" akhirnya Lee Goat dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara sayu. "Apakah kematian ayah ibuku takkan dapat terbalas?"

"Sabar, Lee Goat. Aku sudah bersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi Liok Kong Ji dan kaki tangannya. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan siasat karena adikmu Leng Leng berada di tangan mereka. Akan kucari kawan-kawan sehingga keadaan kita cukup kuat. Selagi kawan-kawan menyerbu, diam diam aku akan berusaha merampas Leng-ji lebih dulu dari tangan mereka."

Demikianlah, dengan hati kecewa tak dapat menolong puterinya, akan tetapi juga girang dapat menolong Lee Goat dan Wan Sun, Sin Hong mengajak mereka kembali ke daratan Tiongkok untuk mempersiapkan penyerbuan besar-besaran.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Setelah mengalami serbuan Sin Hong, sedikit banyak timbul kekhawatiran dalam hati Kong Ji, sungguhpun Lo thian-tung Con Gi Tosu dengan sombong menyatakan bahwa sanggup mengusir Sin Hong kalau berani muncul lagi.

"Kalau saja Leng Leng tidak menghalangi pergerakanku, pada waktu itu juga orang she Wan itu tentu sudah kuhancurkan kepalanya,” ia menyombong.

Pada lahirnya Liok Kong Ji tertawa memuji kelihaian si kakek buntung, akan tetapi dalam hatinya ia tersenyum dan tidak percaya. Ia tahu bahwa kepandaian Sin Hong amat tinggi dan kiranya dia dan kakek buntung itu baru dapat mengimbangi saja, untuk menang masih merupakan pertanyaan yang harus dibuktikan kebenarannya. Apa lagi kalau ia teringat Tiang Bu, bulu tengkuk Liok Kong Ji yang terkenal pemberani itu bisa berdiri meremang.

Lima orang pembantu pembantunya yang amat diandalkan ketika ia tinagal di Ui-tiok-lim telah ditewaskan semua oleh Tiang Bu. Maka setelah Sin Hong pergi, Liok Kong Ji segera keluar dari pulau dan mendarat, mencari kawan-kawan untuk dijadikan pembantu-bantunya. Kong Ji pernah menjelajah menjelajah daerah selatan, maka orang orang dari kalangan liok-lim hampir semua mengenalnya. Dengan mudah ia dapat mencari orang-orang yang berilmu tinggi untuk jadi pembantunya.

Siapakah yang tidak suka hidup mewah di Pulau Pek-houw-to? Akan tetapi Kong Ji tidak sembarangan memilih orang, setelah mencari-cari, akhirnya pilihan jatuh pada tujuh orang saudara seperguruan yang terkenal di daerah selatan. Mereka disebut Lam-thiam-chit-ong (Tujuh Raja Dunia Selatan)! Sebutan raja sudah lajim diberikan kepada kepala perampok dan memang mereka ini adalah kepala-kepala perampok yang amat terkenal di daerah Kwang-tung dan Kwang-si.

Mereka selalu melakukan operasi bersama dan yang amat hebat adalah ilmu bertempur mereka yang disebut Chit-seng-tin (Barisan Tujuh Bintang). Kalau hanya maju serong demi seorang, kepandaian mereka biarpun tinggi tidak akan menggegerkan daerah selatan. Akan tetapi ketika dicoba, Liok Kong Ji sendiri tak dapat membobolkan barisan Chip-seng-tin dari tujuh orang raja hutan ini!

Dengan adanya Lam thian-chit-ong di Pulau Pek-houw-to, kedudukan Liok Kong Ji semakin kuat, akan tetapi daerah pantai timur menjadi makin rusak dan kacau! Dasar kepala rampok, tujuh orang ini selalu mangadakan pengacauan, pembunuhan dan penculikan.

Sementara itu, Cui Kong sudah berterus terang di depan ayah angkatnya tentang hubungannya dengan Ceng Ceng. "Ayah, diantara semua dara yang pernah kujumpai, tidak ada yang sehebat Lie Ceng, puteri Pak- thouw-tiauw ong Lie Kong,” ia menuturkan pertemuannya dengan Cong dan betapa ia sudah mengajukan lamaran. Kemudian ia mengemukakan syarat diajukan oleh Lie Kong.

"Calon ayah mertuaku itu mengajukan syarat supaya aku dapat mengembalikan Pat-siau-jut-bun yang dulu diambil dari tangan Ceng Ceng oleh Cui Lin dan Cui Kim. Oleh karena itu, aku mohon ayah suka berikan kitab itu untuk kukembalikan kepada mereka sehingga aku dengan mudah dapat menikah dengan Ceng Ceng."

Diam-diam Kong Ji terkejut mendengar nama Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong disebut sebagai calon besannya. Ia mengerutkan alis dan meraba-raba jenggotnya ketika menjawab. “Anak bodoh. Di antara jutaan anak dara di dunia ini, mengapa justeru kau memilih anak raja burung tiauw itu?”

"Ayah, anak rasa hal itu malah lebih baik lagi," kata Cui Kong membujuk karena memang takut sekali kepada Kong Ji dan tak pernah membantah. "Kalau Ceng Ceng menjadi isteriku, berarti ia menjadi sekutu yang kuat bagi kita. Selain kepandaiannya sendiri lumayan, juga di sana masih ada ayah bundanya, andaikata kita diserang orang dan Ceng Ceng sampai tertimpa bencana, bukankah itu berarti kita menarik Pek-thouw-tiauw-ong sebagai kawan untuk menghadapi musuh? Ayah, Ceng Ceng akan merupakan sumber bantuan yang kuat untuk kita semua!"

Sepasang mata Kong Ji berkilat-kilat dan bergerak ke kanan kiri cepat sekali, tanda bahwa di balik sepasang mata itu, otaknya sedang berpikir-pikir, kemudian ia berkata. “Bagus sekali! Kiranya kau tidak sobodoh yang kusangka. Kau boleh bawa kitab Pet-sian jut-bun ke tempat Pek thouw-tiauw ong Lie Kong untuk menyambut isteritmu, akan tetapi tetap kau sembunyikan keadaan dirimu sebenarnya. Kalau kau sudah kawin, bawa isterimu dan kitab Pat-sian-jut-bun itu ke sini di luar tahu mertuamu. Dengan demikian, selain istrrimu bisa membantu memperkuat kedudukan kita, mertuamu tidak tahu ke mana anaknya pergi. Andaikata dia kelak mengetahui juga, ia bisa berbuat apa? Malah kita bisa menariknya sekalian memperkuat kedudukan Pulau Pek houw-to."

Cui Kong girang bukan main. Setelah menerima kitab itu dari Kong Ji, ia cepat melakukan perjalanan ke Telaga Po-yang di mana Pek-thouw.tiauw-ong Lie Kong seanak isteri tinggal untuk sementara waktu. Memang seperti sudah dijanjikan, Lie Kong dan anak isterinya perpanjang tinggalnya di Telaga Po-yang untuk menanti Cui Kong selama satu bulan. Tentu saja bagi Lie Kong, syarat mengambil kembali kitab Pat-sian jut-bun hanya untuk alasan saja agar puterinya jangan menikah dengan pemuda tampan yang ia tidak suka itu. Ia tidak percaya bahwa dalam waktu sebulan pemuda itu akan sanggup mengambil kembali kitab Pat-sian-jut-bun. Kitab itu sudah jarub ke dalam tangan Liok Kong Ji yang lihai, mana bocah ini dapat merampasnva kembali?

Akan tetapi alangkah herannya ketika dua puluh lima hari kemudian Cui Kong muncul di situ dengan wajah tampan berseri-seri. “Apa kau berhasil?" tanya Lie Kong dengan suara ingin tahu dan tidak percaya, sedangkan Ceng Ceng dan ibunya memandang penuh harapan.

“Berkat doa restu dari gakhu (ayah mertua), anak berhasil merampas kembali kitab Pat-Si an-jut-bun,” kata Cui Kong dengan suara merendah dan mengeluarkan kitab itu dari bajunya.

"Itu kitabnya...!" tak terasa pula Ceng-Ceng berseru girang mengenal kitab yang pernah dipelajarinya itu.

Lie Kong diam-diam terkejut karena juga mengenal kitab itu. Tak salah lagi. Itulah kitab pelajaran Ilmu Silat Pat-sian jut-bun dari Omei-san. “Hemmm, bagus sekali. Bagaimana kau bisa mendapatkannya!" tanyanya sambil memandang tajam.

Untuk pertanyaan ini, siang-siang Cui Kong sudah mempersiapkan jawabannya, maklum bahwa orang seperti Pek-thouw-tiauw-ong ini tidak mudah dibohongi begitu saja. Tentu Lie Kong sudah tahu akan kelihaian Liok Kong Ji, maka kalau ia dapat merampasnya dari Liok Kong Ji, tentu tentu akan kentara kebohongannya.

"Sesungguhnya tidak mudah anak mendapatkan kitab ini. Anak menyelidiki dulu dan mendengar bahwa Liok Kong Ji yang mencuri kitab ini memiliki kepandaian amat tinggi, juga di sana masih ada Lo-thian to Cun Gi Tosu yang lihai ilmu silatnya. Dan orang itu sama sekali bukan lawan anak yang masih bodoh. Mereka tinggal di sebuah pulau di selatan dan hanya dengan jalan mencuri, anak akhirnya berhasil mendapatkan kitab ini. Anak menyamar sebagai pedagang ikan, bekerja sama dengan seorang nelayan. Akhirnya anak berhasil menjual ikan ke pulau itu dan anak pada malam hari memasuki pulau, menangkap seorang penjaga dan mamaksa mengaku disimpannya kitab-kitab pusaka. Demikianlah, memang sudah masib anak yang sedang baik dan sudah jodoh anak dengan Ceng-moi, akhirnya dengan susah payah anak dapat mengambilnya. Hampir anak tewas ketika dikejar oleh Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu.”

Mendengar penuturan ini, Lie Kong timbul kepercayaannya. Memang iapun sudah mendengar bahwa Liok Kong Ji sudah pindah dari Ui tiok-lim ke sebuah pulau di selatan. Karena sudah berjanji dan memang ia mulai suka melihat kecerdikan Cui Kong yang berhasil mendapatkan kembali kitab itu, Lie Kong menetapkan perjodohan puterinya dengan Cui Kong dan dirayakan pada waktu itu juga secara sederhana. Inipun atas pamintaan Cui Kong sendiri yang menyatakan bahwa tentu Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu mengejarnya.

Kalau pernikahan itu diadakan secara besar-besaran dan dua orang itu datang, tentu akan jadi keributan hebat. Maka hanya penduduk di sekitar Telaga Po-yang yang menjadi tamu untuk menyaksikan perayaan pernikahan itu. Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Cui Kong mendapatkan dara pujaannya. Juga Ceng Ceng meras a bahagia karena ia mengira mendapatkan seorang suami yang selain tampan, juga berkepandaian tinggi dan dapat memegang janji. Tidak seperti Tiang Bu yang baruk rupa, pikirnya puas...

Tangan Gledek Jilid 43

Tangan Gledek Jilid 43

“BRAKK!" Dayung patah menjadi dua dan tubuh kakek itu terlempar, roboh tak sadarkan diri lagi karena hebatnya pukulan Tin-san-kang. Kong Ji tak memperdulikan lagi kakek itu, menyambar tubuh Wan Sun dan mengajak putera angkatnya cepat kembali ke sarang untuk membantu Lo-thian-tung Cun Gi Tosu menghadapi musuh.

Suitan tadi memang datangnya dari Lothian-tung Cun Gi Tosu yang sedang berhantam dengan Wan Sin Hong! Wan Sin Hong yang meninggalkan Huang-ho Sian-jin, dengan gerakan cepat sekali menghampiri kelompok rumah di tengah pulau itu dari arah kiri. Ia tidak berani bertindak secara sembrono. Ia tahu bahwa dengan beradanya Leng Leng di tangan musuh, ia menjadi tak berdaya. Musuh dapat mempergunakan anak itu untuk melawannya. Oleh karena itu, yang paling penting adalah merampas kembali anaknya, baru setelah anaknya ditemukan ia akan memberi hajaran kepada Lothian tung Cun Gi Tosu si kakek buntung.

Ia sudah merasa heran melihat tidak adanya penjagaan kuat di dalam pulau itu lebih -lebih herannya ketika ia melihat banyak wanita cantik berada di dalam rumah terbesar yang berada di tengah-tengah kelompok rumah-rumah itu. Tentu di sini tempat tinggal Cun Gi Tosu, pikirnya. Akan tetapi siapakah wanita-wanita muda cantik genit yang pakai annya mewah itu? Apakah kakek buntung seorang gila perempuan dan mempunyai banyak selir? Panas muka Sin Hong saking jemu dan marahnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi tak seorangpun di antara anak buah yang tinggal di rumah-rumah kecil itu mengetahui kedatangannya. Bagaikan bayangan setan Sin Hong berhasil memasuki rumah besar. Tidak terlihat laki-laki di situ, hanya sedikitnya ada tujuh orang wanita cantik dilayani oleh banyak sekali pelayan, lebih sepuluh orang. Ia tidak beran i bertindak sembrono. Kalau sampai ia terlihat dan wanita-wanita itu menjerit, tentu akan gagal uaahanya merampas kembali anaknya.

Dengan sabar Sin Hong me nanti sampai meli hat seorang di antara wanita-wanita cantik itu pergi ke taman belakang diikuti dua orang pelayannya, wanita ini cantik sekali, usianya paling banyak tiga puluhan tahun, pakaiannya mewah dan bi caranya halus. Ragu.ragu hati Sin Hong untuk menyerang seorang wanita, apa lagi sang wanita yang demikian cantik dan halus gerak-geriknya. Akan tetapi demi untuk menolong anaknya, ia menekan perasaannya dan secepat kilat ia muncul. Sebelum tiga orang wan ita itu sempat menjerit dua orang pelayan sudah tertotok pingsan dan wanita cantik itu berdiri ditotok urat gagunya.

"Jangan takut, aku hanya ingin bertanya. Kalau kau bicara terus terang, kau akan kubebaskan," bisik Sin Hong.

Wanita itu membelalakan matanya yang lebar dan mengangguk. Sin Hong membuka totokannya dan menarik wanita itu ke tempat gelap. Memang taman itu sudah mulai gelap dengan bayangan-bayangan pohon.

"Katakan, siapa tinggal di rumah besar ini?”

"Yang tinggal di sini suami kami, Liok- taihiap yang berjuluk Thian-te Bu-tek Tai-hiap," wanita itu balas beibisik dengan sikap menakut-nakuti Sin Hong dan dia sendiri agaknya tidak takut sama sekali, malah kini memandang ke wajah Sin Hong yang gagah itu dengan senyum-senyum genit.

Berdebar jantung Sin Hong. “Liok Kong Ji di sini...?”

Wanita itu mengangguk dengan sinar mata senang. Sin Hong menjadi bingung, girang dan cemas. Dengan adanya Kong Ji, berarti makin sukarlah untuk merampas kembali anaknya, tetapi juga memberi kesempatan kapadanya untuk mengadu nyawa dengan musuh besarnya itu.

"Siapa lagi?"

"Kau tanyakan selir-selirnya...?" wanita itu mengerling penuh gaya.

“Siapa perduli selir?” bentak Sin Hong, gemas melihat kegenitan wanita yang tadinya disangka halus dan sopan itu. “Siapa lagi selain Kong Ji?"

Melihat kegalakan Sin Hong, wanita itu agak takut. "Masih ada Liok-kongcu...”

"Cui Kong...?"

Wanita itu memandang heran. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Diam! Kau menjawab, aku yang bertanya. Masih ada lagikah? Kakek buntung Cun Gi Tosu itu di mana?"

"Dia juga ada. Nah, kau tahu di sini banyak terdapat orang pandai. Lebih baik kau bebaskan aku den lekas menyingkir...”

“Diam! Kau lihat seorang anak perempuan yang dibawa oleh Cun Gi Tosu...?”

"Ohhhh kaau datang untuk mencari Leng ji (anak Leng)?"

“Ya, Leng-ji, anakku... dimana sekarang?” Saking tegangnya Sin Hong sampai lupa diri dan mencengkeram pundak wanita itu.

Tiba- tiba wanita itu menjadi pucat dan tubuhnya menggigil, "Ampun... ampunkan aku. taihiap... aku tidak tahu apa-apa...!"

Sin Hong sadar bahwa wanita ini sekarang tahu siapa dia dan menjadi ketakutan. Tentu saja namanya diketahui oleh selir Kong Ji. "Aku takkan menggangggumu asal kau ceritakan di mana adanya Leng Leng dan di mana adanya Cun Gi Tosu." katanya perlahan dan tenang.

"Tadi setelah ada dua orang datang mendarat, siang-siang Cun Gi totiang telah membawa diri Leng-ji dibawa ke pantai timur untuk bersembunyi. Selalu apabila pulau kedatangan orang yang dicurigainya, ia segera menyembunyikan Leng-ji."

"Ke pantai timur katamu? Betulkah?"

"Untuk apa aku membohong?”

Sin Hong menyangsikan ucapan wanita ini maka sekali menotok wanira itu roboh pingsan. Kemudian dengan mudah ia mengempit tubuh tiga orang wanita itu dan membawa melompat keluar dari tempat itu. ia meninggalkan tiga orang wanita yang pingsan itu di tempat sepi. Ia perlu melakukan hal ini agar perbuatannya jangan diketahui orang sebelum ia berhasil merampas kembali anaknya.

Setelah meninggalkan tiga orang wanita pingsan itu, Sin Hong cepat berlari ke timur, menuju ke pantai sebelah timur pulau itu. Akan tetapi di tengah jalan ia berhenti, berpikir berfikir sebentar lalu berlari kembali ke tempat ia meninggalkan tiga orang wanita tadi. Disambamya tubuh sorang pelayan dan ditotoknya hingga siuman kembali. Pelayan ini ketakutan, akan tetapi Sin Hong berkata perlahan.

"Kau akan kubawa ke tempat persembunyian Cun Gi Tosu dan di sana nanti kau harus berteriak memanggil namanya, bilang bahwa Cun Gi Tosu dipanggil oleh Liok Kong Ji. Awas, kalau kau tidak menuruti aku akan memukul remuk kepalamu dari belakang!”

Dengan tubuh menggigil pelayan itu mengangguk. Sin Hong lalu mengempitnya dan membawanya lari ke pantai timur. Pulau itu tidak berapa besar maka sebentar saja Sin Hong sudah tiba di pantai timur yang ternyata marupakan daerah batu karang yang banyak terdapat gua-gua besarnya. Ia merasa puas telah membawa pelayan itu karena kalau tidak demikian, kiranya tidak mudah mencari tempat persembunyian kakek buntung itu. Sin Hong bersembunyi di balik batu karang dan pelayan itu mulai berteriak-teriak.

"Totiang...! Liok-taihiap... menyuruh totiang datang segera! Ada musuh menyerbu…” pelayan itu berteriak memanggil, tiba-tiba sebuah di antara gua-gua itu terdengar suara nyaring, “Mengapa kau pelayan wanita disuruhnya? Ke mana para penjaga dan pelayan laki-laki?”

Pertanyaan ini memang sudah diduga dulu oleh Sin Hong, maka tadipun dia sudah menyiapkan jawaban. Pelayan itu menjawab cepat. “Semua penjaga dan pelayan sudah bertempur. Bantuan totiang amat diharapkan. Lekaslah, musuh kuat sekali!”

Akhirnya tosu kaki buntung itu muncul juga dan berdebar hati Sin Hong melihat Leng Leng berada dalam pondongan tangan kiri kakek itu! Sekali melompat kakek itu sudah berada, di depan pelayan tadi.

"Aku tidak mendengar suara apa-apa, siapa yang bertempur?”

Pada saat itu Sin Hong muncul cepat. "Cun Gi totiang, serahkan kembali puteriku. Kalau kau hendak mengadu kepandaian, kulayani secara laki-laki, jangan mengganggu bocah yang tidak tahu apa-apa!”

Alangkah kagetnya hati tosu buntung itu melihat tiba-tiba Sin Hong berdiri di depannya. Sekali tongkatnya bergerak, tubuh pelayan wanita itu terlempar jauh ke dalam jurang, meninggalkan pekik mengerikan.

“Kalau pinto berniat mengganggu bocah ini, kau kira dia masih hidup." jawabnya.

Sementara itu, ketika Leng Leng melihat Sin Hong, segera mengenalnya dan berteriak nyaring, "Ayah...!" Akan tetapi anak itu tidak menangis, agaknya merasa senang dalam pondongan kakek itu!

Mata Sin Hong yang tajam dapat meli hat hal itu dan ia merasa lega. Tak dapat disangsi pula, Leng Leng kelihatan sehat montok dan kel ihatan tidak takut kepada kakek itu. Ini hanya menandakan bahwa Leng Lang mendapat perawatan baik, dan kakek itu sayang kepadanya, agaknya hendak dijadikan muridnya!

"Cun Gi tosu, kau telah menculik anakku. Apakah kau tidak malu dengan perbuatan rendah itu? Anak kecil jangan dibawa-bawa, kita sama-sama tua kalau hendak bertempur mengadu nyawa, sampai seribu jurus kulayani. Lepaskn Leng Leng!"

"Tidak, lebih baik kau pergilah dari sini, Wan Sin Hong. Bocab ini akan menjadi muridku, kelak kalau sudah jadi tentu akan pulang sendiri."

Muka Sin Hong nulai merah, tanda kemarahan hatinya. “Cun Gi Tosu, apa benar-benar kau menghendaki aku menggunakan kekerasan?”

Tosu kaki buntung itu tertawa terkekeh- kekeh "Heh-heh-heh heh, orang lain takut kepadamu, akan tetapi pinto tidak. Ada berapa sih kepandaianmu maka berani bersikap sombong selama ini? Mengangkat diri sebagai benbcu, menjagoi dunia kang-ouw! Hemm, ketahuilah, Wan Sin Hong. Justeru untuk memberi rasa kepadamu agar kau jangan sombong, maka aku mengambil Leng Leng sebagai murid.”

"Pendeta berhati kotor! Siapa tidak tahu bahwa kau pembantu musuh negara dan pembantu penjahat iblis Liok Kong Ji? Kau menghendaki kekerasan, baiklah. Lihat seranganku.”

Wan Sin Hong sudah mulai melangkah maju dan menggerakkan tangan memukul pundak kanan kakek yang tangan kanannya membawa tongkat itu. Lihai sekali kakek ini, biarpun, kakinya hanya sebelah, menghadapi pukulan Sin Hong yang luar biasa lihainya itu ia melompat ke atas dan tertawa mengejek, tongkatnya menyambar dalam serangan yang tak kurang dahsyatnya!

Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian kakek buntung ini memang tinggi sekali. Ia memiliki permainan tongkat yang tiada tara sehingga mendapat julukan Lo thian tung (Tongkat Pengacau Langit). Apa lagi setelah berhasil mendapatkan kitab dari Omei-san yaitu Soan-hong-kiam-si, ilmunya bertambah dan ia merupakan orang lihai yang setingkat dengan Liok Kong Ji.

Akan tetapi, menghadapi Wan Sin Hong kiranya ia takkan dapat banyak berlagak atau paling-paling ia hanya bisa mengimbangi kelihaian pendekar itu, kalau saja ia tidak mempunyai “jimat” berupa Leng Leng dalam pondongannya. Dengan adanya bocah ini di gendongannya, memang Sin Hong tak dapat berbuat banyak. Ini pula sebabnya maka ia tidak mencabut Pak-kek sin-kiam, melainkan dua tangan kosong untuk menghadapi kakek buntung itu. Jika ia menggunakan pedang, tentu ada bahayanya ia melukai puterinya sendiri.

Betapapun juga, dengan kepandaian yang ia terima dari Pak Kek Siansu. kedua lengan tangannya cukup hebat untuk mendesak lawannya. apa lagi Sin Hong sekarang telah menjadi seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Ia tidak jerih menghadapi tongkat Cun Gi Tosu, bahkan dapat membalas dengan angin pakulan yang selalu menyambar ke arah kaki lawan yang tinggal sebelah. Memang Sin Hong seorang cerdik. Setelah lawannya memondong Leng Leng, maka satu satunya bagian yang lemah dan mudah diserang adalah kakinya yang tinggal satu itu. Sekali saja ia berhasil memukul kaki itu dan membuat Iawannya terguling tidak begitu sukar kiranya untuk merampas anaknya.

Diserang terus-menerus bagian kakinya, Cun GI Tosu menjadi marah sekali, biarpun kakinya tinggal sebelah, namun ia dapat melompat tinggi dan jauh. Ia melompat ke belakang. berdiri dengan satu kaki dan tongkatn ya diputar bagaikan kitiran cepatnya. Sayang bahwa tangannya memondong Leng Leng, kalau tidak tentu ia dapat menambah susulan dengan tangan kirinya. Ternyata bahwa adanya "jimat” berupa bocah itu dalam gendongannya, tidak hanya mendatangkan keuntungan baginya karena Sin Hong tidak berani menggunakan pedang, akan tetapi juga mendatangkan kerugian yaitu pergerakannya jadi terhalang.

Pertempuran dilanjutkan dengan hebat. Kalau dua orang pandai bertempur, hanya angin pukulan mereka saja yang menyambar-nyambar dan biarpun jarak diantara merasa kadang kadang jauh, masih mereka saling pukul untuk menyerang lawan dengan angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya dari pada tusukan pedang atau hantaman golok.

Melihat kelihaian lawannya, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu mulai khawatir. Jangan-jangan masih ada kawan-kawannya, pikirnya. Maka ia lalu bersuit untuk memberi tahu kepada Liok Kong Ji dan yang lain-lainnya. Kalau mereka datang dan membawa dulu Leng Leng. tentu ia akan mencoba lagi menghadapi Sin Hong dengan mati-matian, dapat menggunakan seluruh perhatian dan kepandaiannya. Kakek ini masih belum mau tunduk dan tidak merasa kalah.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mendengar suitan ini Liok Kong Ji dan Cui Kpng segera lari meninggalkan Huang-ho Sian-jin yang pingsan dan membawa pergi, Wan Sun yang tertawan. Liok Kong Ji lebih dulu melempar Wan Sun pada seorang penjaga, menyuruh penjaga memasukkan orang muda itu dalam kamar tawanan bersama Coa Lee Goat yang sudah tertawan lebih dulu dan supaya dijaga kuat-kuat. Kemudian bersama Cui Kong ia lari ke timur untuk membantu Cun Gi Tosu.

Ketika Kong Ji melihat siapa yang bertempur melawan Cun Gi Tosu, ia terkejut sekali. Tak disangka-sangka bahwa Sin Hong yang penyerang kakek itu. “Aha, kiranya kau mengantar nyawamu ke sini? Ha-ha-ha!” Kong Ji menutupi kekagetannya dan tertawa bergelak sambil mencabut pedangnya.

“Cui Kong, kau bawa pulang dulu Leng Leng!” kata Cun Gi Tosu kepada muridnya, Cui Kong menerima Leng Leng yang tetap tidak menangis biarpun sejak tadi melihat ayahnya bertempur melawan “suhunya”. Bocah masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan itu. Gurunya, juga "paman Liok" baik sekali terhadap dia, tentu saja dia tidak bisa membenci mereka. Akan tetapi sekarang mereka ini bertempur dengan ayahnya. Hal yang lalu ruwet dan sulit dimengerti oleh anak sekecil dia.

Melihat datangnya Liok Kong Ji dan Cui Kong, kemarahan Sin Hong memuncak. Juga ia gelisah sekali. Harapan untuk dapat menolong puterinya makin menipis. Tentu saja ia tidak takut menghadapi Kong Ji dan Cun Gi Tosu, akan tetapi sekarang anaknya berada di tangan Cui Kong dan Kong Ji yang jahat. Ia cukup mengenal siasat Kong Ji yang tentu takkan ragu-ragu untuk mempergunakan anaknya sebagai perisai apabila kalah.

Memikirkan hal ini ia menjadi bingung. Kalau tidak ada urusan Leng Leng, tentu tanpa ragu-ragu tentu ia akan menyerang dua orang ini dan akan mengajak Kong Ji musuh besar itu bertempur mati-matian menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Akan tetapi pada saat itu, semua urusan pribadinya ia lupakan dan yang ia pentingkan lebih dulu adalah keselamatan Leng Leng. Oleh karena itulah Sin Hong pendekar sakti itu menjadi bingung dan ragu ragu. Tadipun ia menyerang Cun Gi Tosu hanya dengan maksud merampas Leng Leng.

Pada saat itu terdengar pekik burung dari arah darat. Orang-orang yang lain tidak tahu bahwa itulah tanda rahasia dari Huang-ho Tian-jin, hanya Sin Hong yang tahu bahwa kalau kakek itu memanggilnya. Tentu ada urusan penting. Lebih baik ia pergi dulu dan kelak datang lagi. Dia toh sudah tahu di mana letak Pek-houw to dan tahu pula bahwa Leng Leng puterinya berada dalam keadaan selamat. Ini saja sudah melegakan hatinya dan sudah berarti bahwa kedatangannya kali ini tidak sia-sia.

"Kong Ji, biar lain kali kita bertemu!” katanya dan tanpa menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap di antara batu-batu karang dan puhon-pohon.

"Kejar...!” Cui Kong berseru.

Akan tetapi Kong Ji mengangkat tangannya mencegah. "Ha ha-ha, selama hidupku baru aku ini melihat Wan Sin Hong melarikan diri terbirit-birit seperti anjing dirukul!” katanya keras-keras dengan sengaja mengerahkan lweekang supaya didengar oleh Sin Hong. “Untuk apa mendesak anjing yang sudah lari? Biarlah, kelak kalau dia berani datang lagi, baru aku sediakan pedang untuk memenggal lehernya!"

Memang disamping kelihaian dan kelicikannya, Kong Ji berwatak sombong. Tadi sudah disaksikannya bahwa biarpun menggendong Leng Leng, Cun Gi Tosu sanggup menghadapi Sin Hong. Dengan adanya Cun Gi Tosu yang lihai, juga Cui Kong yang sudah maju dan ditambah dia sendiri yang sekarang sudah mulai melatih ilmu-ilmu kesaktian dari kitab-kitab Omei-san, siapa yang ia takuti lagi?

Pekik burung tadi memang tanda rarsia dari Huang-ho Sian-jin ditujukan kepada Sin Hong. Ketika ditinggalkan oleh Kong Ji dan Cui Kong, kakek ini sudah siuman. Ia hanya sebentar saja pingsan terkena sambaran an gin pukulan Tin-san-kang yang hebat dari Kong Ji. Orang lain tentu akan remuk remuk isi dadanya, dan demikian pula disangka Liok Kong Ji maka tanpa curiga lagi Kong Ji meninggalkan tubuh kakek itu.

Namun Huang-ho Sian-jin bukanlah orang biasa. Tubuhnya sudah memiliki keke balan, dan pukulan ini biarpun mengguncang isi perut dan dada membuatnya pingsan sebentar, namun tidak mendatangkan luka maut. Kalau saja Ko Ji tidak begitu sombong dan mau memeriksa, tentu akan membunuh Huang ho Sian-jin lebih dulu sebelum meninggalkannya.

Melihat Kong Ji dan Cui Kong pergi membawa Wan Sun, Huang-ho Sian-jin merayap bangun dan di dalam gelap ia menyelinap mengikuti dari belakang. Ia mendengar betapa Wan Sun diserahkan kepada seorang penjaga. Biarpun tadi sudah terpukul, Huang ho Sian-jin masih memiliki keberanian besar. Ia mengikuti sampai Kong Ji dan Cui Kong yang tergesa- gesa itu pergi lari ke timur, kemudian ia muncul dan sekali ketok saja pada kepala penjaga itu, ia telah dapat membuat orang roboh.

Cepat ia membebaskan totokan Wan Sun bersama orang muda ini ia maju terus mencari tempat ditahannya Coa Lee Goat. Hal ini tidak sukar dilakukan. Berbeda dengan Ui tiok-lim, pulau ini tidak sukar dimasuki rumah-tumah di situ tidak berapa banyak. Sebentar saja dua orang gagah ini dapat menemukan tempat tahanan di mana Lee Goat ditawan, yaitu sebuah rumah kecil dan enam orang penjaga menjaga rumah itu dengan tombak di tangan.

Akan tetapi apa artinya enam orang penjaga yang hanya kuat tubuhnya dan memiliki ilmu silat biasa saja bagi Wan Sun dan Huang-ho Tian-jin? Sekali serbu enam orang itu sudah roboh malang melintang dan Wan Sun mendobrak pintu, menyerbu ke dalam. Lee Goat berada di dalam kamar, tangan kakinya terikat kuat-kuat sehingga ia tidak berdaya lagi. Wan Sun cepat menolong isterinya, kemudian bersama isterinya ia lari mengikuti Huang-ho Sian-jin ke pantai barat di mana tadi kakek itu meninggalkan perahu.

Tahu bahwa keadann pulau itu kuat sekali dengan adanya orang-orang seperti Liok Kong Ji, Liok Cui Kong, dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, maka Huang-ho Sian-jin lalu mengeluarkan pekik burung untuk memanggil Sin Hong. Ia sudah merasa khawatir akan keselamatan Sin Hong yang begitu lama meninggalkannya belum juga kembali. Akan tetapi dengan girang mereka melihat berkelebatnya bayangan dan Sin Hong telah berdiri di depan mereka.

"Cepat, kita pargi dulu dari sini!" bisik Sin Hong sambil mengajak mereka melompat dalam perahu. Sin Hong merasa girang sekali melihat Wan Sun dan Lee Goat di situ.

"Bagaimana kalian bisa berada di Pek-houw to?" tanya Sin Hong setelah perahu bargerak cepat meninggalkan pulau itu.

Sebelum ada yang menjawab, Lee Goat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu, tak dapat bicara apa-apa. Sin Hong kaget sekali dan mengelus-elus kepala muridnya. "Lee Goat, tenangkan hatimu. Apakah yang telah terjadi?”

Dengan air mata bercucuran Wan Sun yang juga berlutut di sebelah isterinya lalu bercerita bagaimana dia dan isterinya menyerbu pek-houw-to dan tentu mengalami bencana kalau tidak ditolong oleh Huang-ho Sian-jin, kemudian dengan suara terputus-putus ia menceritakan betapa Cui Kong telah menyerang Kim-bun-to dan mebewaskan banyak orang, diantaranya ayah bunda Lee Goat dan melukai Li Hwa.

Kalau ada geledek menyambarnya, belum tentu Sin Hong begitu terkejut seperti ketika mendengar penuturan ini. Ia mengepal-ngepal tinjunya, wajahnya pucat dan matanya memancarkan sinar yang menakutkan, giginya mengeluarkan bunyi karena saling beradu.

"Kong Ji, sampai sekarang kau masih menyebar kejahatan," kutanya dengan suara mendesis. "Cui Kong si keparat itu adalah bentukanmu. Aku hersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi kalian..."

Huang-ho Sian-jin menarik napas panjang. “Bagi manusia yang rendah budinya melakukan kejahatan merupakan kesenangan. Berbuat keji terhadap sesama manuais ia anggap perbuatan gagah perkasa, membuat matanya buta dan mengira bahwa dengan merajalela itu, ia menjadi seorang yang tidak terlawan. Kong Ji seorang manusia iblis yang bertindak hanya menurutkan nafsu iblis tanpa mengingat akan perikemanusian. Memang iblis-iblis berwajah manusia macam dia dan Cui Kong harus dibasmi dari muka bumi. Sukarnya, mereka mereka memiliki kepandaian tinggi, apa lagi di sana masih ada Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang lihai sekali..." Kembali kakek itu menghela napas.

Sin Hong menjadi panas mendengar itu. "Lo-enghiong, sungguhpun mereka itu lihai, sekali-kali aku tidak takut menghadapi mereka. Sayangnya Leng-ji berada di tangan mereka dan inilah yang menghalangi sepak terjangku. Kalau aku memaksa dan menyerbu, aku takut kalau-kalau mereka menggunakan Leng-ji untuk malawanku dan sebelum aku turun tangan mereka dapat mengganggu anakku. Orang macam Kong Ji takkan segan-segan melakukan perbuatan keji itu untuk mencapai maksud hatinya." Tiba tiba Sin Hong menghentikan kata-katanya karena kebetulan sekali sinar bulan yang sudah mulai keluar itu menerangi muka Huang-ho Sian-jin!

"Lo-enghiong, kau terluka dalam!"

Datuk bajak itu tersenyum. "Pukulan Kong Ji betul hebat, sekali pukul saja hawa pukulannya telah mematahkan dayungku dan melukai dadaku."

Sin Hong adalah seorang ahli pengobatan. Cepat ia mengeluarkan sebuah pil putih dan memberikan obat itu kepada Huang-ho Sian-jin. Ia memeriksa nadi tangan kakek itu, lalu berkata, "Untung kau cukup kuat sehingga tidak menderita luka hebat." Betul saja, setelah menelan pil itu, rasa sakit pada dadanya lenyap.

"Habis sekarang bagaimana baiknya, suhu?" akhirnya Lee Goat dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara sayu. "Apakah kematian ayah ibuku takkan dapat terbalas?"

"Sabar, Lee Goat. Aku sudah bersumpah takkan berhenti sebelum dapat membasmi Liok Kong Ji dan kaki tangannya. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan siasat karena adikmu Leng Leng berada di tangan mereka. Akan kucari kawan-kawan sehingga keadaan kita cukup kuat. Selagi kawan-kawan menyerbu, diam diam aku akan berusaha merampas Leng-ji lebih dulu dari tangan mereka."

Demikianlah, dengan hati kecewa tak dapat menolong puterinya, akan tetapi juga girang dapat menolong Lee Goat dan Wan Sun, Sin Hong mengajak mereka kembali ke daratan Tiongkok untuk mempersiapkan penyerbuan besar-besaran.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Setelah mengalami serbuan Sin Hong, sedikit banyak timbul kekhawatiran dalam hati Kong Ji, sungguhpun Lo thian-tung Con Gi Tosu dengan sombong menyatakan bahwa sanggup mengusir Sin Hong kalau berani muncul lagi.

"Kalau saja Leng Leng tidak menghalangi pergerakanku, pada waktu itu juga orang she Wan itu tentu sudah kuhancurkan kepalanya,” ia menyombong.

Pada lahirnya Liok Kong Ji tertawa memuji kelihaian si kakek buntung, akan tetapi dalam hatinya ia tersenyum dan tidak percaya. Ia tahu bahwa kepandaian Sin Hong amat tinggi dan kiranya dia dan kakek buntung itu baru dapat mengimbangi saja, untuk menang masih merupakan pertanyaan yang harus dibuktikan kebenarannya. Apa lagi kalau ia teringat Tiang Bu, bulu tengkuk Liok Kong Ji yang terkenal pemberani itu bisa berdiri meremang.

Lima orang pembantu pembantunya yang amat diandalkan ketika ia tinagal di Ui-tiok-lim telah ditewaskan semua oleh Tiang Bu. Maka setelah Sin Hong pergi, Liok Kong Ji segera keluar dari pulau dan mendarat, mencari kawan-kawan untuk dijadikan pembantu-bantunya. Kong Ji pernah menjelajah menjelajah daerah selatan, maka orang orang dari kalangan liok-lim hampir semua mengenalnya. Dengan mudah ia dapat mencari orang-orang yang berilmu tinggi untuk jadi pembantunya.

Siapakah yang tidak suka hidup mewah di Pulau Pek-houw-to? Akan tetapi Kong Ji tidak sembarangan memilih orang, setelah mencari-cari, akhirnya pilihan jatuh pada tujuh orang saudara seperguruan yang terkenal di daerah selatan. Mereka disebut Lam-thiam-chit-ong (Tujuh Raja Dunia Selatan)! Sebutan raja sudah lajim diberikan kepada kepala perampok dan memang mereka ini adalah kepala-kepala perampok yang amat terkenal di daerah Kwang-tung dan Kwang-si.

Mereka selalu melakukan operasi bersama dan yang amat hebat adalah ilmu bertempur mereka yang disebut Chit-seng-tin (Barisan Tujuh Bintang). Kalau hanya maju serong demi seorang, kepandaian mereka biarpun tinggi tidak akan menggegerkan daerah selatan. Akan tetapi ketika dicoba, Liok Kong Ji sendiri tak dapat membobolkan barisan Chip-seng-tin dari tujuh orang raja hutan ini!

Dengan adanya Lam thian-chit-ong di Pulau Pek-houw-to, kedudukan Liok Kong Ji semakin kuat, akan tetapi daerah pantai timur menjadi makin rusak dan kacau! Dasar kepala rampok, tujuh orang ini selalu mangadakan pengacauan, pembunuhan dan penculikan.

Sementara itu, Cui Kong sudah berterus terang di depan ayah angkatnya tentang hubungannya dengan Ceng Ceng. "Ayah, diantara semua dara yang pernah kujumpai, tidak ada yang sehebat Lie Ceng, puteri Pak- thouw-tiauw ong Lie Kong,” ia menuturkan pertemuannya dengan Cong dan betapa ia sudah mengajukan lamaran. Kemudian ia mengemukakan syarat diajukan oleh Lie Kong.

"Calon ayah mertuaku itu mengajukan syarat supaya aku dapat mengembalikan Pat-siau-jut-bun yang dulu diambil dari tangan Ceng Ceng oleh Cui Lin dan Cui Kim. Oleh karena itu, aku mohon ayah suka berikan kitab itu untuk kukembalikan kepada mereka sehingga aku dengan mudah dapat menikah dengan Ceng Ceng."

Diam-diam Kong Ji terkejut mendengar nama Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong disebut sebagai calon besannya. Ia mengerutkan alis dan meraba-raba jenggotnya ketika menjawab. “Anak bodoh. Di antara jutaan anak dara di dunia ini, mengapa justeru kau memilih anak raja burung tiauw itu?”

"Ayah, anak rasa hal itu malah lebih baik lagi," kata Cui Kong membujuk karena memang takut sekali kepada Kong Ji dan tak pernah membantah. "Kalau Ceng Ceng menjadi isteriku, berarti ia menjadi sekutu yang kuat bagi kita. Selain kepandaiannya sendiri lumayan, juga di sana masih ada ayah bundanya, andaikata kita diserang orang dan Ceng Ceng sampai tertimpa bencana, bukankah itu berarti kita menarik Pek-thouw-tiauw-ong sebagai kawan untuk menghadapi musuh? Ayah, Ceng Ceng akan merupakan sumber bantuan yang kuat untuk kita semua!"

Sepasang mata Kong Ji berkilat-kilat dan bergerak ke kanan kiri cepat sekali, tanda bahwa di balik sepasang mata itu, otaknya sedang berpikir-pikir, kemudian ia berkata. “Bagus sekali! Kiranya kau tidak sobodoh yang kusangka. Kau boleh bawa kitab Pet-sian jut-bun ke tempat Pek thouw-tiauw ong Lie Kong untuk menyambut isteritmu, akan tetapi tetap kau sembunyikan keadaan dirimu sebenarnya. Kalau kau sudah kawin, bawa isterimu dan kitab Pat-sian-jut-bun itu ke sini di luar tahu mertuamu. Dengan demikian, selain istrrimu bisa membantu memperkuat kedudukan kita, mertuamu tidak tahu ke mana anaknya pergi. Andaikata dia kelak mengetahui juga, ia bisa berbuat apa? Malah kita bisa menariknya sekalian memperkuat kedudukan Pulau Pek houw-to."

Cui Kong girang bukan main. Setelah menerima kitab itu dari Kong Ji, ia cepat melakukan perjalanan ke Telaga Po-yang di mana Pek-thouw.tiauw-ong Lie Kong seanak isteri tinggal untuk sementara waktu. Memang seperti sudah dijanjikan, Lie Kong dan anak isterinya perpanjang tinggalnya di Telaga Po-yang untuk menanti Cui Kong selama satu bulan. Tentu saja bagi Lie Kong, syarat mengambil kembali kitab Pat-sian jut-bun hanya untuk alasan saja agar puterinya jangan menikah dengan pemuda tampan yang ia tidak suka itu. Ia tidak percaya bahwa dalam waktu sebulan pemuda itu akan sanggup mengambil kembali kitab Pat-sian-jut-bun. Kitab itu sudah jarub ke dalam tangan Liok Kong Ji yang lihai, mana bocah ini dapat merampasnva kembali?

Akan tetapi alangkah herannya ketika dua puluh lima hari kemudian Cui Kong muncul di situ dengan wajah tampan berseri-seri. “Apa kau berhasil?" tanya Lie Kong dengan suara ingin tahu dan tidak percaya, sedangkan Ceng Ceng dan ibunya memandang penuh harapan.

“Berkat doa restu dari gakhu (ayah mertua), anak berhasil merampas kembali kitab Pat-Si an-jut-bun,” kata Cui Kong dengan suara merendah dan mengeluarkan kitab itu dari bajunya.

"Itu kitabnya...!" tak terasa pula Ceng-Ceng berseru girang mengenal kitab yang pernah dipelajarinya itu.

Lie Kong diam-diam terkejut karena juga mengenal kitab itu. Tak salah lagi. Itulah kitab pelajaran Ilmu Silat Pat-sian jut-bun dari Omei-san. “Hemmm, bagus sekali. Bagaimana kau bisa mendapatkannya!" tanyanya sambil memandang tajam.

Untuk pertanyaan ini, siang-siang Cui Kong sudah mempersiapkan jawabannya, maklum bahwa orang seperti Pek-thouw-tiauw-ong ini tidak mudah dibohongi begitu saja. Tentu Lie Kong sudah tahu akan kelihaian Liok Kong Ji, maka kalau ia dapat merampasnya dari Liok Kong Ji, tentu tentu akan kentara kebohongannya.

"Sesungguhnya tidak mudah anak mendapatkan kitab ini. Anak menyelidiki dulu dan mendengar bahwa Liok Kong Ji yang mencuri kitab ini memiliki kepandaian amat tinggi, juga di sana masih ada Lo-thian to Cun Gi Tosu yang lihai ilmu silatnya. Dan orang itu sama sekali bukan lawan anak yang masih bodoh. Mereka tinggal di sebuah pulau di selatan dan hanya dengan jalan mencuri, anak akhirnya berhasil mendapatkan kitab ini. Anak menyamar sebagai pedagang ikan, bekerja sama dengan seorang nelayan. Akhirnya anak berhasil menjual ikan ke pulau itu dan anak pada malam hari memasuki pulau, menangkap seorang penjaga dan mamaksa mengaku disimpannya kitab-kitab pusaka. Demikianlah, memang sudah masib anak yang sedang baik dan sudah jodoh anak dengan Ceng-moi, akhirnya dengan susah payah anak dapat mengambilnya. Hampir anak tewas ketika dikejar oleh Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu.”

Mendengar penuturan ini, Lie Kong timbul kepercayaannya. Memang iapun sudah mendengar bahwa Liok Kong Ji sudah pindah dari Ui tiok-lim ke sebuah pulau di selatan. Karena sudah berjanji dan memang ia mulai suka melihat kecerdikan Cui Kong yang berhasil mendapatkan kembali kitab itu, Lie Kong menetapkan perjodohan puterinya dengan Cui Kong dan dirayakan pada waktu itu juga secara sederhana. Inipun atas pamintaan Cui Kong sendiri yang menyatakan bahwa tentu Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu mengejarnya.

Kalau pernikahan itu diadakan secara besar-besaran dan dua orang itu datang, tentu akan jadi keributan hebat. Maka hanya penduduk di sekitar Telaga Po-yang yang menjadi tamu untuk menyaksikan perayaan pernikahan itu. Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Cui Kong mendapatkan dara pujaannya. Juga Ceng Ceng meras a bahagia karena ia mengira mendapatkan seorang suami yang selain tampan, juga berkepandaian tinggi dan dapat memegang janji. Tidak seperti Tiang Bu yang baruk rupa, pikirnya puas...