Tangan Gledek Jilid 37

Tangan Gledek Jilid 37

DILIHATNYA wajah Bi Li pucat sekali seperti mayat. Tiang Bu makin bingung. Inilah tanda bahwa gadis itu telah kehilangan banyak sekali darah maka perlu cepat-cepat diberi obat dan makanan penambah darah. Ia perlu cepat-cepat pergi dari tempat ini. Segera ia memondong lagi tubuh Bi Li dan berlari ke luar. Akan tetapi, manakah jalan ke luar? Tadi ketika ia memasuki gedung ini, jalan masuk mudah saja, dari pekarangan depan melalui ruangan depan dan gang kecil panjang sampai di ruangan belakang di mana Liok Kong Ji dan kawan-kawannya berada.

Akan tetapi sekarang keadaannya lain sekali. Setelah mecari-cari, akhirnya dengan hati lega Tiang Bu mendapatkan lorong atau ruang kecil tadi yang cepat dimasukinya. Akan tetapi, setelah lari beberapa lama. ia menjadi makin bingung. Lorong kecil ini ternyata bercabang-cabang banyak sekali dan sudah lebih dari sepuluh cabang ia masuki akan tetapi selain tiba di jalan buntu.

Celaka, pikirnya, ini tentu bukan yang tadi. Ia lari kembali akan tetapi anehnya, ia sudah tidak bisa sampai ke tempat semula. Lorong ini mati di sebuah, kamar buntu, lorong itupun demikian, benar-benar membingungkan sekali. Setelah lebih dari tiga jam ia berputar di lorong-lorong yang tidak ada jalan keluarnya dan ruwet seperti benang ini, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa. suara ketawa Liok Kong Ji yang tidak kelihatan orangnya.

"Ha ha-ha, Tiang Bu. Baru mengenal kelihaian ayahmu! Inilah yang disebut Gua Seribu Lorong. Menyesatkan. Kau takkan bisa ke luar dari sini. Kau menakluklah, anakku. Aku takkan mencelakaimu, aku... aku ayahmu dan sayang kepadamu. Lihat, gadis itu sudah amat payah, banyak kehilangan darah dia akan mati lemas. Kau menaluklah dan akan menyuruh orang merawatnya sampai sembuh. Kau terimalah menjadi anakku yang terkasih dan kalau perlu, gadis itu boleh menjadi mantuku."

"Liok Kong Ji manusia Iblis. Siapa percaya omonganmu yang berbisa? Kau sendiri baru saja membuntungkan lengannya!"

"Karena terpaksa, puteraku. Karena terpaksa, kalau tidak kulakukan siasat itu, bagaimana dapat mengundurkan kau yang begitu gagah perkasa? Oo anakku, aku bangga bukan main melihat puteraku demikian sakti! Tiang Bu, sebetulnya permusuhan apakah yang ada antara anak dan ayah, antara kau dan aku? Bisa jadi banyak orang yang merasa menjadi musuhku, akan tetapi mengapa kau? Aku tak pernah mengganggumu...”

"Kau, setan! Kau telah menghina ibuku, kau telah mencelakai banyak orang baik-baik!”

"Tiang Bu, kau keliru. Kapankah aku menghina ibumu?”

"Jahanam, kau masih hendak menyangkal?" Tiang Bu membentak ke arah suara yang bersembunyi di balik dinding itu. ”Kau telah mempermainkan ibuku, menghinanya ketika dia masih gadis."

Liok Kong Ji yang bicara dari balik pintu rahasia itu tertawa bergelak. ”Ha ha ha, Tiang Bu, kau bicara apa ini? Ingatkah kau kalau tidak ada aku yang kau bilang menghina Soan Li, bagaimana bisa terlahir kau? Kau adalah putera Soan Li dan aku, bagaimana kau bisa bilang begitu?"

Tiang Bu merasa sepeti ditampar mukanya. Ia menjadi pucat sekali ketika ia meletakkan tubuh Bi Li di atas lantai dan ia berlari mengepal tinju ke arah suara itu. "Memang, aku memang anak haram! Aku anak hina dina yang terlahir dari perbuatanmu yang keji terkutuk! Akulah bukti hidup tentang kejahatanmu yang tak berampun. Dan bukan orang lain, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Hampir ia menangis saking sakit hatinya kalau teringat akan keadaan dirinya yang berayah sedmikian jahat dan hinanya.

"Hemmm, kau terlalu terpengaruh oleh hasutan manusia macam Wan Sin Hong. Mana ada anak bijaksana melawan ayah sendiri. Kau belum insyaf Tiang Bu belum insyaf...” Setelah mengeluarkan ucapan dengan nada sedih ini, Liok Kong Ji menghilang.

Tiang Bu kembali memperhatikan Bi Li. Gadis itu mengeluh dan bergerak perlahan. Ia cepat berlutut dan menyangga leher Bi Li. "Uuhhh. lenganku... ah, Tiang Bu... aduuuhhh...”

Setelah membuka mata sebentar, Bi Li pingsan lagi, lemas dalam pelukan Tiang Bu. Tentu saja pemuda ini menjadi makin bingung. Ia mencoba lagi untuk mencari jalan ke luar, berlari-larian di sepanjang lorong yang panjang berputar-putar itu. Se lagi ia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara perlahan dari jauh, suara wanita.

"Dari Gu-seng (Bintang Kerbau) membelok ujung tanduk melalui Liu-seng (Bintang Pohon Cemara) ada pintu ke luar!”

Tiang Bu girang sekali. Tidak perduli itu suara siapa ia lalu berlari terus, membelok menurutkan gambar Bintang Kerbau. Pantas saja tadi ia berputaran tak dapat ke luar. Tidak tahunya yang dimaksudkan dengan ujung tanduk kanan itu bukanlah lorong, hanya sebuah lobang yang hanya dapat dilalui dengan merangkak. Sambil memeluk tubuh Bi Li, ia memasuki lubang ini, merangkak ke depan dan tak lama kemudian betul saja ia tiba di sebuah lorong lain, dari sini ia berlari terus mengambil tikungan sesuai dengan kedudukan bintang Liu-seng. Di dalam ilmu silat memang terdapat langkah-langkah kaki menurutkan bentuk bintang yang dua puluh tujuh buah banyaknya.

Setiap bintang mempunyai bentuk-bentuk tertentu, dari dua titik sampai tujuh titik banyaknya. Ini merupakan bentuk langkah-langkah ilmu silat tinggi yang tentu saja dikenal oleh setiap orang ahli silat kelas tinggi. Tiang Bu juga sudah mempelajari titik ini, maka begitu mendengar seruan dari luar tadi. ia dapat menurut dan membuat belokan sesuai dengan gambar atau titik Gu-seng dan Liu-seng.

Alangkah girangnya ketika ia mendapatkan lorong terakhir itu membawanya ke luar ke sebuah hutan bambu kuning. Akan tetapi baru saja ia berlari belasan langkah, kaki kirinya, sudah terjeblos ke dalam lumpur yang tertutup pasir dan rumput! Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan cepat ia dapat menahan keseimbangan tubuhnya sehingga yang terjeblos hanya kaki kirinya, sedangkan kaki kanan masih di atas tanah keras. Dengan mencabut kaki kirinya yang sudah melesak ke dalam lumpur selutut lebih dalamnya.

Ia bergidik. Kalau kaki kanannya tadi juga terjeblos, kiranya sukar baginya untuk menyelamatkan diri. Pengalaman mendebarkan ini membuat pe muda itu ragu ragu untuk berlari terus. Tempat ini benar-benar luar biasa sekali, penuh bahaya yang tak disangka-sangka. Baru keluar dari gedung saja tadi sudah sukar bukan main, sekarang masih harus keluar dari Ui tiok-lim, hutan Bambu Kuning yan agaknya bah kan lebih sukar dari pada jalan rahasia di gedung besar itu. Padahal Bi Li perlu cepat-cepat dibawa ke luar untuk diobati.

"Tiang Bu... kau di situ... Lekas ke sini... turutkan jalan itu, akan tetapi jangan menginjak jalan, ambil jalan di sebelah kiri deretan bambu di atas rumput!" Kembali terdengar suara wanita yang tadi memberitahukan rahasia lorong, kini suara itu terdengar lemah dan Tiang Bu mengenal suara Cui Lin!

Tiang Bu menurut petunjuk ini. Segera ia melangkah dari jalan itu ke sebelah kiri di mana tumbuh rumput liar. Kemudian ia melangkah maju menurut sepanjang lorong yang pinggirnya ditumbuhi bambu-bambu kuning. Benar saja, di bawah rumput itu terdapat tanah keras dan sama sekali tidak dipasangi perangkap. Memang siapakah orangnya akan mengambil jalan ini kalau di sampingnya terdapat jalan yang bersih rata dan baik? Setelah berjalan hati-hati beberapa puluh tindak, jalanan terhalang serumpun bambu kuning muda yang tumbuh di tanah yang bundar.

”Hati-hati, jangan terlalu dekat rumpun bambu muda!” kembali terdengar suara Cui Lin di depan, tak jauh lagi. Tiang Bu kaget dan cepat melompat ke kiri menjauhi. Akan tetapi karena ingin tahu ia mengambil batu dan melemparkannya ke dekat rumpun bambu dan

”...sssshhh... ssssttt...!” Tujuh ekor ular berbisa yang mokrok lehernya menyambar ke sekeliling rumpun. Ular-ular ini ternyata ekornya diikat pada rumpun dan selalu bersembunyi. Hanya pada saat ada korban melewat dekat, ular-ular kelaparan ini tentu serentak menyerangnya. Tentu saja Tiang Bu tidak takut menghadapi serangan binatang-binatang ini, akan tetapi kalau dia tadi amat dekat tentu ia akan kaget dan mungkin melompat ke kanan di mana dipasangi macam-macam alat rahasia jebakan.

Tergesa-gesa Tiang Bu maju terus ke arah suara tadi. Tak lama kemudian ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdet ak! Ia melihal Cui Lin dan Cui Kim terbenam di lumpur maut, terhisap lumpur sampai ke Ieher. Bahkan Cui Kim sudah tak bergerak lagi, hanya matanya yang besar dan indah itu terbelalak ketakutan, tidak bersinar lagi seperti mata orang yang kehilangan ingatannya. Agaknya saking takutnya menghadapi kematian mengerikan ini, Cui Kim telah hilang ingatannya. Cui Lin dengan air mata bercucuran memandang ke arah Tiang Bu.

Pemuda ini bingung bukan main. Dua orang gadis itu berada di tengah-tengah kolam lumpur jauhnya ada empat tombak dari tempat ia berdiri. Tanpa membuang waktu lagi, Tiang Bu meletakkan tubuh Bi Li di atas rumput dengan cekatan menggunakan kekuatan tangannya mencabut dua batang bambu kuning.

"Jangan, Tiang Bu... tak ada gunanya... kami... kami...”

Akan tetapi mana Tiang Bu mau mendengarkannya? Seorang berjiwa kesatria seperti dia tentu saja tidak bisa tinggal berpeluk tangan melihat dua orang gadis terancam bahaya maut seperti itu. Cepat ia memasang dua batang bambu itu sampai dekat mereka, lalu berjalan di atas bambu-bambu yang melintang mendekati Cui Lin dan Cui Kim. Dengan cepat ia menyambar tangan Cui Lin dan menariknya. Akan tetapi ia melepaskan kembali karena Cui Lin menjerit kesakitan.

"Jangan, Tiang Bu... kau hanya akan menyiksaku... ketahuilah, tadi kami berusaha menolongmu ketahuan oleh... oleh si keji Liok Kong Ji dan Cui Kong... kedua kaki kami dihancurkan tulang-tulangnya, kami diloloh racun... kemudian dilempar ke sini. Tempat ini akan menjadi kuburan kami... aduuh... percuma saja kau menolong kami, tak mungkin lagi, mana bisa kau menolong nyawa kami?! Lihat... aduh, adikku dia sudah... sudah..." Cui Lin menangis dan gerakannya ini membuat tubuhnya makin melesak ke bawah. Hanya dagu yang bertahi lalat keeil itu kelihatan.

Tiang Bu terharu bukan main. Dalam keadaan hampir mati gadis ini masih berusaha menolongnya. Teringat ia akan ke nang-kenangan lama, dahulu ia menganggap tahi lalat di dagu ini manis bukan main.

"Cui Lin..." katanya bingung. "Apa yang harus kulakukan untuk menolong kalian. Lekas katakan!"

Cui Lin tersenyum di antara tangisan "Kau harus ke luar dari sini dengan selamat. Dengar baik-baik, dari sini kau mengambil jalan di antara rumpun-rumpun bambu itu dengan hati-hati menurutkan letak titik bintang Pin-seng (Bintang Purnama). lalu Ni-seng (Bintang Wanita), selanjutnya Bi-seng (Bintang Ekor) kemudian yang terakhir Sin-seng (Bintang Hati). Nah, dengan demikian kau akan tiba di bukit batu-batu karang di mana kau bertemu dengan aku... aduuhh... Tiang Bu, kalau kau mau menolong aku dan adikku... kelak balaskan sakit hati kami kepada mereka berdua... aaahh, pergilah..."

"Tidak, aku harus menankmu ke luar dari sini!" Tiang Bu berseru, marah dan penuh keharuan. Marah kepada Kong Ji dan Cui Kong, terharu melihat keadaan dua gadis yang mengenaskan ini.

"Aduuhhh, jangan! Aku akan mati karena nyeri! Kakiku sudah patah patah, rusak sakit sekali. Enak begini, hangat-hangat d dalam lumpur... selamat jalan, Tiang Bu... Pergilah, kalau mereka datang mengejar, sukar bagimu untuk ke luar.”

Tiang Bu ragu-ragu, akan tetapi tiba-tiba terdengar keluhan Bi Li, "Tiang Bu... kau dimana...? Apakah aku sudah mati...?” ternyata Bi Li siuman dan mendapatkan dirinya rebah di atas rumput, ia segera memangil-manggil Tiang Bu. Untuk bangun berdiri tidak ada tenaga lagi.

Terpaksa Tiang Bu berdiri. Sekali lagi ia memandang kepada Cui Lin den Cui Kim. ”Selamat tinggal...” katanya, suaranya tersendat di tenggorokan.

”Pergilah... eh, nanti dulu... Tiang Bu, coba kau... kau peluk kepalaku untuk penghabisan kali... kaulah orang termulia... bayanganmu hendak kubawa ke sana..."

Dengan isak tertahan Tiang Bu berlutut di atas batang-batang bambu, mendekap kepala yang hampir terbenam itu lalu mencium jidat Cui Lin. Juga ia mencium jidat Cui Kim yang segera menangis meraung-raung,

”Aku harus menolong kalian... harus...!” kata Tiang Bau setengah berteriak.

”Tiang Bu...!” terdengar pula suara Bi Li memanggil lemah.

”Terima kasih, Tiang Bu, selamat berpisah..." kata Cui Lin ketika Tiang Bu menoleh ke belakang untuk melihat Bi Li. Ketika pemuda ini memandang lagi ke lumpur, ia hanya melihat hawa keluar dari dua tempat menerbitkan suara perlahan. Dua kepala gadis itu sudah tidak kelihatan lagi, ternyata Cui Lin telah menggerakkan tubuhnya sekerasnya agar kepalanya lekas terbenam dan kematian lekas menyambut nyawanya. Cui Kim yang menangis menggerung-gerung juga segera terhisap oleh lumpur karena tubuhnya bergerak-gerak. Sunyi di situ...sunyi mengerikan.

Tiang Bu memutar tubuh, memandang arah hutan bambu kuning yang ditinggalkan di belakang. Gunung itu tidak kelihatan lagi. Ia mengepal tinju dan terdengar giginya kerot-kerotan. Memang tadinya ia membenci dua orang gadis ini yang sudah pernah memperdayainya. Akan tetapi melihat betapa dua orang gadis ini tersiksa sedemikian hebat apa pula dua orang gadis itu akhir-akhir ini berdaya menolongnya, ia menjadi sakit hati sekali terhadap Kong Ji dan Cui Kong.

Akan tetapi ketika Bi Li memanggil lagi ia tersadar dan cepat lari menghampiri Bi Li. Melihat pemuda ini, gadis yang rebah terlentang itu tersenyum lembut.

“Tiang Bu, apakah kita sudah berada sorga...?"

Tiang Bu membungkuk, mengangkat dan memondong tubuh Bi Li dengan hati hati. Bisiknya di dekat telinga gadis itu. "Belum, Bi Li. Kita sedang berusaha keluar dari neraka ini...!”

Cepat Tiang Bu maju ke depan, mengambil jalan menurut petunjuk Cui Lin. Setelah berbelok-belok menurutkan titik empat bintang yang kesemuanya ada dua puluh satu titik atau dua puluh tikungan, benar saja tiba di bukit batu-batu karang di mana ia pernah bertemu dengan dua orang gadis yang sekarang telah tewas itu. Makin terharu hati Tiang Bu. Sampai dekat kematiannya, Cui Lin masih menolongnya. Lunaslah sudah kedosaan gadis itu terhadapnya.

Akan tetapi, ketika hendak melanjutkan perjalanannya, ia menjadi bingung sekali. ketika dulu di tempat ini, ia mengikuti Cong Lung yang menjadi petunjuk jalan. Kini ia tidak tahu lagi mana jalan itu dan maklum bahwa tempat ini amat berbahaya, sekali keliru melangkah kaki... terjeblos ke dalam perangkap.

Bi Li yang masih setengah pingsan itu berbisik, "Tiang Bu, mengapa berhenti?”

"Aku... lupa lagi jalannya, Bi Li."

"Kau cari saja... dulu aku sudah memberi tanda... ketika mengikuti Cong Lung kupotong-potong sabuk merah, kusebar di sepanjang jalan..."

Bi Li terlalu banyak bicara, napasnya memburu dan ia memejamkan lagi matanya untuk mengaso. Ia merasa tubuhnya lemas bukan main, demikian lemasnya sampai-sampai ia lupa agaknya bahwa lengannya sudah buntung.

Tiang Bu girang mendengar ucapan gadis itu. Ketika matanya mencari-cari, benar saja melihat sepotong kain merah di sebelah sana. Ia menghampiri kain merah itu dan selanjutnya ia mencari jalan dengan bantuan potongan-potongan kain merah yang disebar di atas tanah setiap sepuluh langkah. Diam-diam Tiang Bu memuji kecerdikan Bi Li, gadisya dikasihinya itu. Akan tetapi kalau ia teringat akan lengan Bi Li, ia menjadi berduka sekali. Cepat ia lari lagi ke luar dari bukit batu karang dan akhirnya terlepaslah mereka dari daerah Ui-tiok-lim yang amat berbahaya. Akan tetapi sekarang Tiang Bu sudah mengingat baik- baik semua jalan yang dilaluinya tadi, baik jalan masuk maupun jalan keluarnya.

Hari telah menjelang senja, Bi Li rebah telentang di atas rumput, Mukan ya pucat, matanya yang seperti mata burung Hong itu menatap wajah Tiang Bu yang duduk di sisinya. Tiang Bu sudah merawat Bi Li, memberi pencegah keracunan juga obat penambab darah. Sekarang keadaan gadis itu tidak menghawatirkan lagi. Juga pundak yang sudah tak berlengan lagi itu telah dibalutnya baik-baik.

"Tidurlah, Bi Li, agar enak badanmu. Biar aku menjagamu di sini. Kubuatkan api unggun, ya?” kata Tiang Bu sengaja bersikap gembira karena pandang mata Bi Li tadi seperti pandang menikam hatinya karena ia tak tahan menyembunyikan rasa iba dan harunya.

Bi Li tidak menjawab, menggigit bibir menahan tangis, lalu menggerakkan kepala mengangguk. Setelah itu membuang muka ke sisi agar jangan melihat lagi pemuda itu, karena sekali saja ia beradu pandang dengan Tiang Bu yang sinar matanya penuh haru dan iba itu, ia dapat menangis menjerit-jerit.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Tiang Bu mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun agar hawa malam yang dingin dan nyamuk dapat terusir pergi dan Bi Li dapat tidur nyenyak. Setelah selesai membuat api unggun, ia mendengar isak tangis dan ketika ditengoknya ternyata Bi Li telah bangkit duduk dan menangis sedih. Tangan kanannya menutupi muka, air mata menetes turun melalui celah-celah jari tangan, pundak yang buntung sebelah kiri itu bergoyang.goyang.

Tiang Bu maklum akan kesedihan hati gadis itu. Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan duduk di dekatnya, menyentuh lengannya sambil berkata lembut. "Bi Li, mengapa kau menangis. Kita sudah terlepas dari bahaya maut...”

”Tiang Bu... ah... lenganku...” Bi Li tak dapat melanjutkan kata-kata karena tangisnya makin sedih.

Tiang Bu memegang erat-erat tangan kanan gadis itu IaIu berkata menggigit gigi. “Aku tahu, Bi Li aku tahu... aku bersumpah untuk membalas dendam ini, tunggulah saja...!”

Akan tetapi Bi Li rupanya tidak memikir tentang sakit hati, yang lebih dipikir adalah keadaan pundak kirinya yang buntung. “Aku menjadi orang... buntung... aduh Tiang Bu... aku menjadi seorang jelek penderita cacat selama hidup... menjadi buah tertawaan orang... aku akan terhina selama-lamanya...”

Tiang Bu maklum apa yang dipikirkan gadis ini. Sebagai seorang gadis muda, cantik jelita, tentu saja cacat ini amat menghancurkan hati. "Tidak, Bi Li. Siapa yang berani mentertawakanmu akan kutampar mulutnya sampai copot-copot giginya, siapa berani menghina akan kubuntungi lengannya. Tidak! Dalam pandanganku kau tidak menjadi buruk, aku... tetap sayang kepadamu, Bi Li. Jangankan baru hilang sebelah lengamu yang tidak ada artinya karena kau masih tetap cantik dan baik bagiku, andaikata kau menjadi bercacad lebih hebat lagi, pada mukamu atau di mana saja aku tetap akan... akan... mencintaimu seperti biasa, bahkan lebih lagi. Bi Li, kaulah satu-satunya wanita yang telah merampas hatiku..."

Rupanya terkejut Bi Li mendengar ini. Jari tangan yang menutupi mukanya diturunan dan muka yang pucat dan basah air mata ini menghadapi muka Tiang Bu, sepasang mata yang gelap indah tetapi penuh linangan air mata itu menatap mata Tiang Bu. Sejenak mereka berpandangan tak bergerak. Kemudian Bi Li menundukkan mukanya, menangis makin sedih. Sambil terisak ia berkata terputus.

“Tak mungkin... tak mungkin, aku orang cacat... kau akan ditertawai orang... ah, lebih baik aku mati saja, Tiang Bu...”

Tiang Bu merangkul pundaknya, menghiburnya sedapat mungkin, bahkan menjanjikan untuk kelak memberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga biarpun lengannya buntung sebelah tidak akan kalah menghadapi musuh bagaimana tangguhpun. Akhirnya Bi Li terhibur dan sambil merebahkan tubuhnya yang lemas itu terlentang di atas rumput ia mendengarkan kata-kata hiburan Tiang Bu yang muluk-muluk. Pemuda ini berusaha sedapat mungkin menghibur hati Bi Li, bahkan bersumpah dengan kesungguhan hati. Bi Li mendengarkan sambil meramkan mata, akhirnya gadis itu jatuh pulas.

Baru legalah hati Tiang Bu. Tadinya amat berkhawatir Bi Li tak dapat menahan kesedihannya dan melakukan perbuatan nekad membunuh diri. Baru setelah melihat gadis itu tertidur dan pipinya menjadi agak kemerahan, pemuda ini merasa betapa tubuhnya lelah bukan main. Ia telah melakukan pertempuran hebat, dan menderita goncangan batin yang berat, baru sekarang terasa tubuhnya seakan-akan tidak bertenaga lagi. Ia menyadarkan tubuh di batang pohon dekat api unggun dan tak lama kemudian iapun tertidur.

Menjelang pagi Tiang Bu terkejut mendengar suara ayam hutan berkokok nyaring. melompat bangun dan baru ia tahu bahwa tanpa terasa ia telah jatuh pulas di luar ke hendaknya. Bagaimana ia bisa jatuh pulas selagi menjaga Bi Li. Cepat ia menengok dan jantungnya berhenti berdetak ketika ia melihat tempat yang tadinya ditiduri Bi Li sekarang telah kosong. Ia menengok ke sana ke mari, sinar matanya cemas mencari-cari, namun orang yang dicari tidak kelihatan lagi. Bi Li telah pergi dari situ tanpa memberi tahu padanya.

"Bi Li...!” Tiang Bu berseru memanggil mengerahkan tenaga lweekangnya sehingga suaranya bergema di hutan itu dan terdengar sampai jauh sekali...” Bi Li! Kau di mana?"

Namun tidak ada jawaban kecuali kokok ayam hutan yang terkejut ketakutan dan gema suaranya sendiri. Tiang Bu menjadi gelisah sekali. Sekali melompat ia telah berada di bekas tanah berumput yang tadinya ditiduri Bi Li untuk melihat kalau-kalau di situ terdapat tanda-tanda mencurigakan. Benar saja, di atas tanah yang rumputnya sudah dicabuti, ia melihat huruf-huruf yang halus bentuknya tanda tertulis seorang wanita terpelajar. Memang Bi Li semenjak kecil hidup di istana pangeran, tentu saja ia mahir sekali menulis huruf-huruf indah. Huruf-huruf itu berbunyi demikian.

"Ada waktu suka, ada waktu duka. Sekali bertemu pasti akan berpisah, Badan cacat, tidak patut menerima cinta. Tak perlu menyeret enghiong (orang gagah) ke lembah hina)."

"Bi Li kau terlalu merendahkan diri..." Tiang Bu mengeluh setelah membaca "surat" di atas tanah itu berkali-kali dengan hati terharu. "Biarpun lengan kirimu buntung, Kau masih seratus kali lebih berharga dari pada aku."

Ia bangkit bardiri, teringat akan keadaan Bi Li yang masih belum sembuh lukanya dan badannya masih lemah, teringat betapa akan sengsaranya gadis itu merantau seorang diri dalam keadaan bercacat tanpa kawan yang menghibur dan melindunginya, ia memekik "Bi Li...! Jangan tinggalkan aku...!”

Seperti orang gila Tiang Bu memanggil- manggil nama gadis itu sambil berlari cepat sekali keluar masuk hutan. Namun jangan orangnya, bayangannya sekalipun tidak nampak seakan-akan Bi Li sudah lenyap ditelan bumi. Akhirnya setelah setengah hari berlari-larian ke sana ke mari tanpa tujuan, kembali ke tempat semula dan pemuda menjatuhkan dirinya di atas rumput bekas tempat tidur Bi Li.

”Bi Li... Bi Li... aku cinta padamu. Walaupun lenganmu buntung...”

Tiba-tiba ia bangkit berdiri, wajahnya menyeramkan. kedua tangannya terkepal dan ia memandang ke arah Ui-tiok-lim lalu mengacung-acungkan tinju sambil berseru keras. "Liok Kong Ji, jahanam besar! Akan kubunuh kau... kubunuh kau dan kaki tanganmu...!”

Larilah pemuda ini ke arah sarang ayahnya itu dengan hati panas. Sekarang ia telah tahu jalan ke Ui-tiok-lim didorongnya batu karang basar dan ia melompat ke bawah ketika tanah tiba-tiba terbuka, melompat ke dalam sumur di mana ia pada kemarin harinya terjerumus bersama Bi Li. Melalui terowongan yang kemarin, ia terus merayap sampai ditempat tahanan Cui Lin dan Cui Kim. Dari sini ia sampai di sumur dangkal, di tengah-tengah hutan bambu.

Dengan hati-hati Tiang Bu melompat naik dan duduk di pinggir sumur, matanya memandang ke sekelilingnya, penuh selidik. Kedatangannya kali ini berbeda dengan kemarin. Selain ia telah tahu betul akan jalan rahasia di sini, juga ia datang dengan nafsu membunuh terbayang pada matanya yang tajam slnarnya, pada mulutnya yang cemberut, pada gerak tangannya yang tangkas dan kuat. Tiang Bu datang ke Ui-tiok-lim untuk mengamuk, untuk membunuh. Kebenciannya terhadap ayahnya yang ganas itu meluap-luap.

Berkat petunjuk Cui Lin tentang rahasia memasuki Ui-tiok lim, dan karena kepandaianya yang tinggi, tanpa banyak susah Tiang Bu berhasil memasuki gedung besar Liok Kong Ji, ayahnya yang amat dibencin ya. terutama sekali karena orang itu ayahnya!

Memang ke bencian Tiang Bu te rhadap Liok Kong Ji adalah terutama sekali karena orang itu ayahnya yang sejati. Sekiranva Liok Kong Ji bukan ayahnya, kebencian Tiang Bu takkan demikian hebat. Dalam hati pemuda ini timbul penasaran dan kekecewaan besar sekali. Alangkah akan bahagia hatinya bertemu dengan ayahnya kalau saja ayahnya bukan seorang demikian jahat dan keji. Sebagai protes mengapa berayah sedemikian jahat maka Tiang Bu membenci ayahnya.

Liok Kong Ji sedang berkumpul dengan saudara-saudara angkatnya. Sebagian pada mereka telah merasai kelihaian Tiang Bu dan bekas tangan pemuda lihai ini masih terasa. Biarpun dengan kepandaian mereka yang tinggi mereka sudah dapat menguasai diri dan menyembuhtan luka-lukanya, namun masih terasa sakit, terutama sekali It-ci-san Kwa Lo yang telunjuknya patah-patah masih nampak pucat. Telunjuk kanannya dibalut dan membengkak, akan tetapi tulang-tulangnya sudah disambung kembali.

"Sungguh tidak mengira dua setan betina itu mengkhianatiku!"

Demikian ucapan terakhir Liok Kong Ji yang nampak bersungut-sungut. Mere ka baru saja membicarakan tentang Cui Lin dan Cui Kim yang di hukum secara keji. Ketika mengetahui bahwa dua orang gadis itu yang membawa datang Tiang Bu kemudian bahkan menolongnya keluar dari Ui ti ok-lim, Kong Ji marah bukan main. Bersama Cui Kong ia menangkap dua orang gadis itu menyiksa mereka, memukul hancur tulang-tulang kaki mereka dan melemparkan mereka ke dalam rawa lumpur maut.

Kini mereka membicarakan kehebatan sepak terjang Tiang Bu. Di dalam hatinya Kong Ji merasa keperihan hebat. Sebetulnya ia amat bangga bahwa putera satu-satunya ternyata demikian lihai. lebih pandai dari pada Wan Sin Hong yang ditakutinya. Ah, kalau saja Tiang Bu puteranya itu mau berbaik dengan dia, mau mengakuinya sebagai ayah dan berada di sampingnya, ia takkan takut kepada Wan Sin Hong, takkan takut kepada siapapun juga dan tidak perlu bersembunyi di tempat seperti Ui tiok-lim. Ia akan dapat merajai dunia!

Ia merasa kecewa sekali. Putera tunggalnya bahkan memusuhinya, agaknya amat membencinya. Sekarang tentu akan makin benci lagi setelah ia membuntungi lengan gadis cantik itu. Sayang! Ia terpaksa membuntungi lengan gadis itu, kalau tidak, kiranya tidak ada jalan lain untuk menahan amukan Tiang Bu kemarin. Apa boleh buat, keadaan sudah demikian dan terpaksa ia harus menghadapi permusuhan dengan puteranya sendiri.

"Kita harus memperkuat penjagaan. Siapa tahu kalau-kalau anak bengal itu datang mengacau lagi. Kalau perlu, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu akan kupanggil untuk memperkuat kedudukan kita,” katanya dengan muka murung. ”Benar-benar aku tidak mengerti bagaimana ia memperoleh kepandaian sehebat itu dan...”

Kata-katanya terhenti oleh pekik mengerikan. Kong Ji dan kawan-kawannya tersentak kaget. Memang hati mereka selalu dag-dig dug, sekarang mendengar pekik ini tentu saja wajah mereka menjadi pucat. Apa lagi ketika pekik itu disusul oleh melayangnya tubuh seorang penjaga pintu yang dilemparkan orang ke arah Kong Ji. Cepat Kong Ji menggunakan tangan kiri menyampok dan... penjaga pintu itu terlempar ke atas lantai di pojok ruangan. Telah tewas tanpa kelihatan terluka.

Menyusul ini, tubuh Tiang Bu berkelebat dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan pintu ruangan. Dengan langkah tenang perlahan berjalan masuk, matanya menyapu orang-orang di dalam ruangan itu bagaikan petir menyambar-nyambar. Kong Ji menjadi muka pucat, akan tetapi karena ia bersama banyak kawan, ia memberanikan hati dan berkata lantang,

“Tiang Bu, anakku yang baik. Bagus sekali kau datang kembali. Akhirnya seorang anak pasti akan kembali kepada ayahnya."

Berkata demiktan. Kong Ji melangkah maju dengan kedua tangan terjulur ke depan, seakan-akan seorang ayah hendak memeluk puteranya. Melihat sambutan seperti ini, biarpun hatinya amat panas dan marah, ingin hatinya segera menyerang orang ini, namun Tiang Bu merasa tidak enak kalau terus menyerang tanpa bicara dulu. Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba ia merasa betapa dari dua tangan Liok Kong Ji yang diulur ke depan itu, menyambar tenaga pukulan yang amat dahsyat. Sekali lirik melihat kedudukan tubuh Kong Ji agak merendah, terkejutlah Tiang Bu. Itulah pukulan Tin san-kang yang maha hebat.

Memang bukan Liok Kong Ji si manusia iblis kalau tidak securang dan selicik itu. Kong Ji pandai membaca sinar mata dan wajah orang. Begitu melihat Tiang Bu, ia maklum bahwa permuda ini datang untuk membalas dendam, bahkan tak ada gunanya berunding secara damai dengan pemuda yang sedang marah. Oleh karena itu, pada luarnya ia kelihatan ramah tamah dan baik, namun diam-diam ia telah mengerahkan tenaga, bersiap untuk menyerang secara tiba-tiba dengan ilmu pukulan Tin-san-kang yang lihai. Inilah serangan gelap yang sama sekali tidak diduga oleh Tiang Bu, biarpun pemuda ini sudah maklum akan kejahatan orang yang mengaku menjadi ayahnya.

Cepat Tiang Bu mengerahkan tenaga sinkang pada dadanya karena untuk mengelak sudah tidak mungkin. Semacam tenaga dorong yang luar biasa kuatnya menyambarnya dan dadanya tentu akan remuk kalau saja tenaga sinkangnya tidak hebat. Dada itu sekarang terisi hawa, menjadi seperti bola karet padat dengan angin, pukulan itu terpental dan membuat tubuhnya terlempar ke belakang namun tidak terluka. Bagaikan dilempar oleh tenaga raksasa, Tiang Bu terlempar membentur dinding. Baiknya ia sudah bersiap-siap sehingga cepat dapat mengerahkaa ginkagnya dan tubuhnya tertahan dinding lalu jatuh dalam keadaan berdiri. Orang lain tentu akan membuat tembok itu bobol dan menderita luka-luka.

Bagaikan harimau terluka Tiang Bu membalikkan tubuh, akan tetapi lagi-lagi ia dihadapi serangan gelap dari Kong Ji. Beberapa sinar menyambar ke arah jalan darahnya, tidak kurang dari tujuh bagian! Sinar hitam itu adalah Hek-tok ciam (Jarum Racun Hitam) yang amat lembut dan datangnya tanpa mengeluarkan suara. Tiang Bu tidak menjadi gugup. Ia telah menggerak-gerakkan kedua tangannya memancing ke luar tenaga lwee-kangnya dan begitu kedua tangannya menyambar ke depan, tanpa mengelak ia telah dapat menghindarkan serangan gelap ini.

Semua jarum hitam tersampok runtuh oleh angin pukulannya. Tiang Bu marah sekali dan hendak memaki akan kecurangan orang. akan tetapi lagi-lagi Kong Ji sudah mendesaknya dengan pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), semacam pukulan warisan See-thian Tok-ong yang luar biasa jahatnya. Jangankan terkena tangan yang melakukan pukulan ini baru terkena hawa pukulan saja lawan akan roboh dengan tubuh menghitam dan nyawa melayang!

"Setan, kau curang!” bentak Tiang Bu sambil menggerakkan kedua tangan memukul ke depan. Akibat dari adu tenaga dari jauh ini, Liok Kong Ji mundur tiga tindak dengan muka pucat, sedangkan Tiang Bu hanya menahan napas saja.

"Bagus. kepandaianmu memang hebat, dan kau cukup berharga untuk bicara. Kau datang kalau bukan hendak berbakti kepada ayahmu, habis mau apakah...?” tanya Kong Ji, biarpun ia juga marah, tak dapat ia menyembunyikan kekagumannya terhadap pemuda lihai ini.

"Kau masih hendak bertanya lagi? Aku datang untuk menamatkan riwayatmu, untuk membunuhmu!" jawab Tiang Bu sambil melangkah maju, tidak perduli betapa Cui Kong, Ban kin-liong Cong Lung, Twa-to Ma-It Su, It-ci-san Kwa Lo, Koai-jiu Sin-touw Lee BokWi dan Hok Lun Hosiang sudah bangkit dan mengeluarkan senjata masing-masing, mengambil tempat untuk mengeroyoknya.

Liok Kong Ji menyeringai. "Tiang Bu, Tiang Bu! Di manakah ada di dunia ini ada seorang anak membunuh bapaknya? Apa kau tidak takut akan terkutuk oleh Langit Bumi?"

"Banyak cerewet yang tidak ada gunanya. Aku datang bukan untuk membunuh ayah ku melainkan untuk membunuh seorang penjahat sekeji-kejinya di dunia ini!"

“Lho, aku ini ayahmu, Tiang Bu! Aku Li ok Kong Ji ayahmu, dan ibumu Gak Soan Li...!”

"Cukup! Ibuku sudah mati, demikian ayahku sudah mati dalam hati dan ingatanku. Kau bukan ayahku, kau seorang iblis yang harus dibasmi dari muka bumi. Kau... kau... jahanam besar!" Tiang Bu melangkah maju, sinar matanya mengandung penuh ancaman sehingga Liok Kong Ji yang biasanya amat pemberani dan keji itu bergidik.

”Ayah, mengapa banyak mengalah terhadap orang kurang ajar semacam ini? Hantam saja!” kata Cui Kong mempersiapkan huncwenya.

"Saudara-saudara, sekarang aku tidak sayang lagi, keroyok dan bunuh bedebah ini!”

Kong Ji kini marah betul-betul dan semua kasih sayangnya sebagai ayah terhadap anak lenyap, terganti oleh kebencian besar. Tiang Bu bukan dianggap anaknya lagi, melainkan musuh besar yang berbahaya dan yang harus dilenyapkan dari muka bumi kalau dia mau hidup aman. Cepat Kong Ji mencabut pedangnya dan menyerang Tiang Bu. Pedangnya berputar secara luar biasa, berkembang ke depan sampai lebar membundar, mengeluarkan sinar putih berkilau dan mendatangkan hawa dingin menyusup tulang kepada yang diserangnya.

Tiang Bu mengeluarkan teriakan kaget menghadapi serangan ini. Pernah ia melihat Tiong Jin Hwesio memainkan ilmu pedang ini maka tahulah ia bahwa yang dimainkan oleh Liok Kong Ji secara hebat untuk menyerangnya adalah ilmu pedang warisan Hoat Hian Couwsu yang lihainya bukan ke palang.

“Setan! Kau sudah mencuri pula Ilmu Pedang Swat-Tian-kiam-sut (Ilmu Pedang Teratai Salju) dari Omei-san," teriaknya sambil cepat mengelak dan mengibaskan tangannya dengan pengerahan tenaga lweekang untuk melawan hawa dingin yang keluar dari serangan pedang itu...

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 37 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »