Social Items

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 02

MELIHAT ini, empat orang lainnya maju dan menyerang si buta dengan pukulan dan tendangan seperti yang mereka lakukan kepada Bun Houw tadi. Bukan tendangan dan pukulan ngawur melainkan gerakan silat yang teratur dan setiap serangan amat cepat dan kuat datangnya. Akan tetapi segera terdengar suara tak-tuk-tak-tuk dan empat orang itu semua terhuyung ke belakang sambil mengaduh aduh, ada yang memegangi kaki ada pula yang memegangi lengan yang tadi tertangkis oleh tongkat.

Sungguh aneh sekali orang itu jelas buta. akan tetapi mengapa setiap pukulan dan tendangan para pengeroyoknya itu dapat ditangkisnya dengan amat tepatnya, menggunakan tongkat yang digerakkan secara aneh dan cepat bukan main itu?

Bun Houw yang melihat peristiwa ini, melongo penuh keheranan. Kalau saja laki-laki itu tidak buta, tentu hal itu tidak mengherankan dan jelas bahwa orang itu merupakan seorang yang berilmu. Akan tetapi kalau kenyataannya dia buta, sungguh luar biasa sekali! Mungkinkah seorang buta memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sedemikian lihainya seolah olah pandai melihat saja?

Kini lima orang berkedok hitam itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu masing masing memegang sebatang pedang. Bun Houw terkejut bukan main. Baru bertangan kosong saja, lima orang itu sudah begitu ganas dan kuat, apalagi bersenjata pedang. Diapun khawatir sekali akan nasib orang buta itu. Akan matilah orang itu disayat-sayat pedang dan dia tidak rela membiarkan orang tak berdosa ini harus tewas karena membelanya. Maka, sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Bun Houw melompat dan memegang lengan orang buta itu.

"Lopek, engkau cepat pergilah dari sini, jangan mencampuri urusanku agar engkau tidak tertimpa celaka!" Berkata demikian, Bun Houw mendorong orang itu ke samping dengan sekuat tenaga. Namun. bukan orang buta itu yang terlempar, sebaliknya dia sendirilah yang roboh terpelanting seperti dilanda angin keras, disusul suara orang buta itu.

“Orang muda, engkau minggirlah dan biarkan aku menghadapi mereka yang jahat ini."

Kini Bun Houw merasa semakin yakin bahwa orang buta ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka biarpun jantungnya masih berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran, dia tidak bengerak lagi dan tetap mendekam di atas tanah di mana dia terpelanting dan melihat dengan mata terbelalak dan tidak berdaya.

Lima orang itu mengepung si buta dengan pedang di tangan. Seorang di antara mereka, yang buntung lengan kanannya itupun memegang pedang dengan tangan kiri, dan sikap mereka buas sekali karena mereka sudah marah bukan main. Orang buta itu berdiri di tengah, berdiri agak membungkuk, dengan muka tunduk dan tongkat ditangannya menyentuh tanah. Kepalanya agak miring dan nampaknya dia tidak berdaya sama sekali.

Lima orang sudah merasa pasti bahwa mereka akan dapat menyayat-nyayat tubuh si buta itu dalam waktu singkat, dan mereka sudah merasa penasaran dan sakit hati karena tadi dihajar sehingga menderita sakit sakit. Tiba-tiba si gendut yang menjadi pemimpin, melakukan gerakan pertama sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Mampuslah kau, orang buta!"

Dan mereka berlima sudah menggerakkan pedang dalam saat yang hampir berbareng. Lima sinar pedang menyambar dari lima jurusan dengan cepat sekali dan Bun Houw sudah hampir memejamkan matanya karena tidak tahan dia melihat betapa tubuh itu akan hancur dan darah akan bertebaran. Akan tetapi, dia terbelalak. Terdengar suara melengking tinggi dan tiba-tiba saja nampaklah sinar kilat yang menyilaukan mata. Sinar kilat itu keluar dari tongkat si orang buta, dan kilat itu menyambar dahsyat, membuat lingkaran sinar yang melindungi tubuh si buta dan membabat lima gulungan sinar pedang yang menyerang tadi.

Hanya terdengar suara berkerontangan nyaring disusul teriakan-teriakan kaget dan lima batang pedang itu telah patah patah dan lima orang penyerang itu sudah terhuyung ke belakang dengan muka pucat, memandang gagang pedang yang teranggat di tangan mereka, lalu terbelalak memandang si orang buta yang kini masih berdiri tegak dengan sebatang pedang yang berkilauan di tangan kanan! Kiranya tongkat tadi sudah dicabut dan di dalamnya terdapat pedang itu! Dari balik topeng hitam, lima orang itu saling pandang kemudian seperti menerima komando tanpa suara, mereka segera berloncatan melarikan diri dari tempat itu!

Kini baru Bun Houw yakin benar bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, walaupun kedua matanya buta. Maka, tanpa ragu lagi dia pun menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang buta itu. Dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menghambakan diri sebagai murid kepada orang itu dengan penuh hormat dan harapan, diapun memberi hormat dan membentur-benturkan dahinya di atas tanah depan kaki si orang buta.

"Siancai (damai)... apa yang kau lakukan ini, orang muda? Bangkitlah dan jangan berlutut seperti itu!” Dengan sekali menggerakkan tangan, nampak sinar terang berkilat lalu lenyap dan tahu-tahu pedang itu telah menyusup kembali ke dalam tongkat dan kini dia menggunakan tongkatnya mencokel tubuh Bun Houw.

Pemuda ini merasa tubuhnya terangkat yang memaksanya untuk bangkit berdiri, akan tetapi begitu tenaga yang dahsyat itu meninggalkannya, diapun cepat menjatuhkan diri berlutut lagi. "Lo-cian-pwe, harap sudi mengampuni dan mengasihani saya. Lo-cian-pwelah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menrhaturkan terima kasih, Akan tetapi juga kesaktian lo-cian-pwe membuat saya mengambil keputusan untuk mohon menjadi murid lo-cian-pwe. Saya sudah yatim piatu dan sedang putus harapan dan seakan-akan Tuhan yang mengirim lo-cian pwe kepada saya, untuk membimbing saya..."

"Hemmm, aku hanya seorang buta. Apakah yang dapat kuajarkan kepada seorang yang tidak buta? Apakah engkau hendak belajar berjalan dibantu tongkat dan meraba-raba ke kanan kiri?" Dia menarik napas panjang.

Bun Houw yang sudah berlutut lagi itu berkata sungguh-sungguh, "Lo-cian-pwe memiliki kesaktian dan dengan mudah telah mengalahkan lima orang penjahat itu. Lo-cian-pwe pandai memainkan pedang yang disembunyikan di dalam tongkat. Teecu (murid) mohon diberi pelajaran ilmu pedang itu."

Si buta kembali menarik napas panjang. “Aih, ilmu pedang? Apakah engkau ingin merajalela dengan pedang, membunuhi orang dan terutama sekali mencari lima orang itu untuk membalas dendam? Siai-cai... aku tidak mau mengajar orang menjadi pembunuh kejam dan menjadi hamba dari nafsu dendam kebenciannya sendiri, orang muda."

"Tidak sama sekali, lo-cian-pwe. Mengenai kematian ayah ibu, sudah teecu pikirkan dengan panjang lebar dan mendalam. Teecu tidak akan menaruh dendam karena sejak dahulu ayah melarang teecu dilanda dendam. Teecu maklum bahwa ayah dimusuhi banyak orang karena ayah selalu menentang perbuatan jahat, sudah menaklukkan banyak sekali penjahat yang mengganggu orang lain di sekitar Nan-ping, bahkan dalam perkelahian menentang para penjahat, entah sudah berapa banyak penjahat dibunuhnya. Tidak, teecu maklum bahwa memang ayah tewas sebagai seorang pendekar melaksanakan tugas. Teecu ingin mengikuti jejaknya, ingin menjadi pendekar pembasmi kejahatan dan untuk itu, teecu membutuhkan kepandaian tinggi yang kiranya bisa teecu dapatkan karena kemurahan lo-cian-pwe."

Kini si orang buta itu tersenyum lebar, tangan kirinya dijulurkan dan jari-jari tangan kirinya menyentuh kepala pemuda itu. Jari-jari tangan itu kini meraba-raba muka Bun Houw, menyentuh seluruh permukaan wajahnya dan dia merasa betapa kulit jari-jari tangan itu amat halusnya dan mengandung getaran halus. Kiranya si buta itu hendak "mengenalnya" dan mengetahui bentuk wajahnya dengan cara meraba-raba. Kemudian, sekali tangan kiri itu memegang pundaknya dan menarik, Bun Houw tidak mampu bertahan dan diapun tertarik berdiri. Kini tangan itu terus menggerayangi tubuhnya, pundak, dada, pinggang, paha dan terus ke kaki.

"Bagus, engkau seorang pemuda yang tegap dan kuat. Berapa usiamu?"

"Saya berusia lima belas tahun, lo-cian-pwe."

"Hemm, masih remaja. Dan siapa namamu? Ceritakan tantang keluargamu, dan tentang peristiwa terbunuhnya ayah bundamu."

"Nama saya Kwa Bun Houw dan orang tua saya bernama Kwa Tin, dikenal sebagai Kwa-enghiong di kota Nan-ping, berdagang dan memiliki sebuah toko kain. Ayah adalah seorang murid Siauw-lim-pai. Beberapa hari yang lalu, pada malam hari ketika saya tidak berada di rumah, agaknya rumah kami kedatangan lima orang penjahat itu yang menuntut balas. Mereka membakar rumah, mengeroyok dan membunuh ayah, kemudian menculik ibu dan akhirnya membunuh pula ibu setelah mereka menghinanya di sebuah hutan."

Dengan singkat namun jelas Bun Houw menceritakan betapa dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan dia menceritakan tentang sikap calon mertuanya yang begitu saja tanpa alasan memutuskan ikatan pertunangannya dengan Cia Ling Ay. Betapa kemudian dia pergi meninggalkan Nan-ping tanpa tujuan dan dengan hati merana sampai tiba di tempat itu dan dihadang lima orang penjahat itu.

Si buta mendengarkan penuh perhatian beberapa kali mengangguk-angguk. "Bagaimana engkau bisa mengetahui hahwa lima orang tadi adalah mereka yang telah membunuh orang tuamu dan membakar rumahmu?" tanyanya. "Bukankah ketika peristiwa itu terjadi engkau tidak berada di rumah?"

"Benar, lo-cian-pwe. Akan tetapi dari jauh teecu melihat kebakaran itu. Teecu cepat pulang dan masih sempat teecu menerima pesan terakhir dari ayah sebelum dia meninggal. Dia hanya sempat berkata bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah lima orang berkedok hitam dan seorang di antara mereka buntung tangan kanannya, agaknya buntung ketika berkelahi mengeroyok ayah. Kelima orang tadi tepat seperti yang dikatakan ayah, bahkan mereka tadi sudah mengaku bahwa merekalah pembunuhnya, dan mereka hendak membunuh saya untuk membasmi rumput berikut akar-akarnya."

Si buta itu kembali mengangguk. "Jadi kalau begitu, engkau sudah tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal lagi?"

"Begitulah, lo-cian-pwe. Oleh karena itu, mohon kemurahan hati lo-cian-pwe..."

"Hemm, sebetulnya aku tak pernah ingin mempunyai murid agar tidak harus mewariskan ilmu yang hanya dapat dipakai untuk membunuh orang. Akan tetapi agaknya memang sudah ditentukan oleh Tuhan bahwa aku, Tiauw Sun Ong, terpaksa harus meninggalkan Ilmu kepada seorang murid, yaitu engkau, Bun Houw."

Bun Houw segera menjatuhkan diri lagi berlutut dan mencium ujung sepatu orang buta itu. "Terima kasih, suhu! Teecu bersumpah bahwa teecu akan mempergunakan ilmu-ilmu dari suhu hanya untuk menentang kejahatan, seperti yang pernah dilakukan mendiang ayah teecu!”

"Hemmm? Menjadi pendekar? Ingat bahwa ayahmu yang menjadi pendekar itupun akhirnya tewas di tangan orang-orang jahat!”

"Lebih baik tewas sebagai pendekar dari pada mati sebagai seorang jahat, demikian ayah selalu memesan kepada teecu. Matinya seorang pendekar di tangan penjahat berarti mati dalam menunaikan tugas yang amat gagah dan mulia bagi seorang manusia."

Si buta yang bernama Tiauw Sun Ong itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Ayahmu memang hebat dan aku kagum padanya. Adapun aku... aku hanya seorang bangsawan yang terbuang..."

"Suhu! Ketika mendengar nama suhu, teecu mengira bahwa suhu memiliki nama seperti seorang bangsawan tinggi, seorang pangeran... jadi benarkah itu?"

Si buta itu kembali menarik napas panjang dan diapun berkata lembut, "Bawalah aku kepada batu-batu yang enak diduduki. Bun Houw, agar kita dapat bicara dengan santai."

Bun Houw cepat memegang tongkat gurunya dan menuntun gurunya menuju ke kiri di mana terdapat batu-batu yang halus dan rata. Di situ mereka duduk berhadapan.

"Sudah sepatutnya engkau mengenal siapa orang buta yang menjadi gurumu ini, Bun Houw. Dahulu sekali, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, aku adalah seorang pangeran yang hidup mewah dan mulia di istana kaisar. Kaisar adalah kakak tiriku, dia putera permaisuri sedangkan aku hanyalah putera selir. Akan tetapi kaisar amat sayang kepadaku, maka aku diberi kedudukan tinggi dan selalu dekat dengannya, membantu tugasnya di dalam Istana. Lalu godaan yang mendatangkan malapetaka itupun muncul dalam bentuk tubuh seorang selir kakakku, yaitu kaisar. Selir terkasih yang amat cantik jelita. Kami saling jatuh cinta dan terjadilah hubungan gelap yang mesra di antara kami. Aku seperti mabok, lupa bahwa wanita itu adalah selir terkasih dari kakakku. Kami berdua meneguk anggur larangan itu sepuasnya sampai mabok dan akhirnya akibat buruk itupun terjadilah. Kami tertangkap basah. Aku merasa menyesal dan malu. Kubutakan sendiri kedua mataku di depan kakakku, kemudian aku lolos dari istana. Entah apa yang terjadi dengan selir kakakku itu."

Bun Houw memandang wajah orang buta itu dengan hati penuh perasaan iba. Sungguh menyedihkan sekali riwayat gurunya ini. "Akan tetapi, suhu. Mengapa suhu melakukan penghukuman atas diri sendiri yang demikian hebatnya?”

Tiauw Sun Ong atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si Buta Dari Utara itu menarik napas panjang. "Begitulah orang muda seperti aku dahulu. Mudah tertarik, mudah jatuh cinta, mudah membenci, mudah gembira, mudah marah. Pendeknya mudah diombang-ambingkan perasaan dikemudikan napsu. Namun, penyesalan di belakang tiada gunanya. Aku hidup terlunta-lunta, bahkan ingin mati saja. Namun akhirnya aku bertemu dengan seorang tosu yang memberi banyak nasihat. Aku sadar, timbul pula gairah hidupku dan aku bahkan mempelajari ilmu silat sampai mendalam. Demikianlah riwayat gurumu ini, Bun Houw."

Kemudian, guru dan murid itu pergi meninggalkan tempat itu, dan mulai hari itu. Bun Houw menerima gemblengan ilmu-Ilmu silat yang amat hebat dari Si Buta, terutama sekali ilmu totok jalan darah. Ilmu tongkat dan Ilmu pedang yang amat dahsyat.

"Bun Houw, Ilmu pedangku ini memang merupakan ilmu pedang yang khas untuk orang buta. Oleh karena itu, untuk dapat menguasainya dengan sempurna, pada saat mempelajari dan melatih dirimu dalam ilmu silat pedang itu, engkau harus berlaku seperti orang buta, yaitu engkau sama sekali tidak mempengunakan daya penglihatanmu dan harus memejamkan kedua matamu!”

Biar pun di dalam hatinya Bun Houw merasa heran mengapa dia yang pandai melihat harus tidak mempengunakan penglihatannya, namun sebagai seorang murid yang patuh, dia selalu mentaati pesan gurunya itu. Setiap kali berlatih silat yang diajarkan gurunya, dia menutup kedua matanya, dan hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan indera lainnya. Bahkan di waktu tidak berlatih silatpun gurunya menganjurkan agar dia seringkali menutupkan kedua matanya dan mencoba untuk melakukan pekerjaan tanpa bantuan penglihatannya.

"Terutama untuk melatih ketajaman pendengaranmu," demikian gurunya memberi nasihat.

Dan akibatnya memang hebat. Hasilnya memang di luar dugaan. Setelah lewat beberapa tahun saja, panca indera yang lain dari pemuda itu menjadi tajam bukan main. Terutama sekali pendengarannya. Kalau dia berlatih bersama gurunya, dengan pendengarannya saja dia mampu mengikuti semua gerakan tubuh gurunya. Pendengarannya menjadi amat tajam, dan kepekaan tumbuh dengan amat suburnya di ujung Jari-jari tangan dan kakinya karena seringkah dipakainya untuk meraba-raba, penciumannya juga menjadi amat tajam. Bahkan perasaannya bertambah peka seolah-olah Indra ke tujuh bangkit dengan cepat karena kekurangan satu indera, yaitu mata.

Enam tahun lewat dengan cepatnya. Kini Bun Houw telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, dan biarpun usianya itu masih amat muda, namun berkat gemblengan kepahitan hidup dia telah menjadi seorang dewasa yang telah matang. Selama enam tahun, hampir tak henti-hentinya dia menggembleng diri dengan latihan-latihan berat sehingga suhunya merasa amat gembira dan kagum. Dan dalam waktu enam tahun, Bun Houw telah dapat menguasai ilmu-ilmu suhunya dengan baik, bahkan hampir sempurna dan hampir dia dapat menandingi tingkat gurunya. Dan dia mampu hidup dalam dua macam dunia. Dunia terang, yaitu dengan membuka mata seperti orang biasa, dan dunia gelap, dunianya orang buta.

Dia sanggup berhari hari lamanya terus menutupkan kedua matanya seperti orang yang benar-benar buta, tanpa merasa canggung ataupun sengsara karena inderanya yang lain sudah demikian tajam mampu menggantikan pekerjaan mata. Mungkin karena latihan tidak mempengunakan kedua matanya inilah maka Bun Houw kini memiliki mata yang seperti sayu dan dibuka sedikit saja, seperti mata orang yang menanggung duka nestapa, akan tetapi dari balik kelopak mata yang hanya dibuka sedikit itu nampak mata yang mencorong bagaikan kilat menyambar. Apalagi kalau sewaktu-waktu dia membuka kedua matanya agak lebar, nampaklah sepasang mata yang amat tajam!

Selain berlatih silat, setiap harinya Bun Houw bekerja di sawah ladang milik suhunya yang berada di belakang rumah. Mereka tinggal di lereng sebuah bukit. Bukit itu tanahnya subur sekali dan semua penghuni dusun-dusun di kaki bukit bersawah ladang di tereng bukit itu. Guru Bun Houw membeli sebidang tanah di lereng dan dengan bantuan muridnya mendirikan sebuah pondok untuk mereka berdua. Para penghuni dusun yang kesemuanya petani, mengenal mereka sebagai guru dan murid yang baik budi dan ramah, namun diliputi penuh rahasia.

Hasil sawah ladang yang dikerjakan Bun Houw dan gurunya sudah lebih dari cukup untuk keperluan hidup mereka berdua, untuk makan dan membeli pakaian. Bun Houw semakin kagum dan mencinta gurunya. Biarpun gurunya itu dahulunya seorang pangeran, hidup di istana indah dan dimuliakan orang, namun kini gurunya tak pernah mau ketinggalan menggarap sawah ladang, mencangkul, menanam bahkan memelihara dan ikut pula menuai hasilnya. Gurunya seperti seorang petani tulen!

Karena setiap hari bekerja di ladang, maka Bun Houw memiliki kebiasaan seperti para petani lainnya di daerah itu, iyalah memakai sebuah caping lebar dan ringan terbuat dari pada bambu yang amat tipis. Caping lebar seperti itu, dengan tali melibat bawah dagunya, dapat melindunginya dari panas dan hujan, semacam payung kecil. Dan dia selalu mengecat capingnya dengan warna hitam.

Pada pagi hari itu, ketika matahari mulai terbit, Bun Houw sudah memakai capingnya dan memanggul sebuah cangkul, bertelanjang kaki dan dada. Nampak dadanya yang bidang, dengan kulit yang kecoklatan karena sering terbakar sinar matahari. Dia baru saja mandi di air sumber tak jauh dari pondok setelah pagi tadi, pagi sekali, dia sudah bangun, berlatih silat, memikul air dari sumber kepondok memenuhi bak air, baru kemudian dia mandi. Kini dia sudah siap pergi ke ladang.

"Bun Houw...!" Gurunya sudah duduk di belakang pondok, di atas sebuah bangku lebar buatan Bun Houw yang menjadi tempat kesayangan gurunya untuk duduk menghirup udara segar.

Bun Houw terheran. Biasanya, pagi-pagi sekali suhunya sudah bangun akan tetapi duduk bersamadhi di dalam kamarnya, baru keluar setelah sinar matahari menerangi bumi. Akan tetapi kini gurunya sudah duduk di situ.

"Suhu!” Bun Houw menghampiri dan berlutut di depan gurunya. "Sepagi ini suhu sudah keluar?"

"Mulai pagi hari ini, aku yang akan bekerja di sawah ladang, Bun Houw."

"Akan tetapi, setiap hari suhu juga bekerja di sawah ladang!”

"Hanya membantumu. Akan tetapi mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengolah tanah karena engkau harus pergi dari sini."

"Akhh...?" Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan gurunya itu. "Apa... maksud suhu? Apakah suhu hendak mengutus teecu (murid) pergi turun bukit ke dusun?"

Orang buta itu menggeleng kepala. "Memang turun bukit, akan tetapi bukan ke dusun di kaki bukit itu, melainkan jauh dan tidak kembali lagi ke sini."

"Suhu...!” Baru dia tahu bahwa suhunya bermaksud mengusirnya! "Teecu ingin tinggal bersama suhu di sini!"

"Ha-ha-ha, orang muda! Apakah engkau ingin selamanya di sini dan menjadi karatan di bukit ini? Kalau begitu, apa artinya engkau bersusah payah mempelajari Ilmu selama enam tahun ini? Sebatang cangkul diasah setiap hari sampai menjadi tajam sekali, apa artinya kalau tidak dipengunakan? Lupakah engkau akan cita-citamu untuk melanjutkan perjuangan ayahmu sebagai seorang pendekar yang melindungi kaum lemah tertindas, menentang penjahat yang jahat?"

Bun Houw teringat dan wajahnya berubah merah. Memang, dia telah menjadi seorang yang berkepandaian cukup, akan tetapi bagaikan seekor jago, dia adalah seperti seekor jago yang selalu dikurung dan diberi makan enak-enak sehingga dia menjadi keenakan dan gemuk. Dan kini, suhunya mengingatkan dia akan cita-citanya yang seperti telah dilupakannya karena dia ingin hidup tenang dan tenteram, enak-enakan terus di tempat sunyi itu.

"Maaf, suhu. Teecu tidak bermaksud melupakan cita-cita itu, hanya saja... bagaimana teecu tega meninggalkan suhu hidup seorang diri saja di tempat ini? Siapa yang akan melayani suhu, siapa yang akan mengerjakan sawah ladang suhu?"

"Bun Houw, kau kira aku ingin menjadi seorang tua yang dimanjakan? Bukankah setiap hari aku juga bekerja? Apa sih sukarnya mencukupi kebutuhan badanku ini? Jangan khawatir, aku akan tetap dapat hidup di sini, biarpun tidak ada engkau. Aku mengambilmu sebagai murid bukan untuk mendapatkan seorang pembantu dan pelayan!”

"Maafkan kelancangan teecu, suhu!” Bun Houw berkata, terkejut karena suhunya seperti orang yang tersinggung.

Tiauw Sun Ong menghela napas dan mengelus jenggotnya. "Sudahlah, kini pelajaranmu sudah tamat dan sudah tiba saatnya engkau harus merantau dan mempengunakan segala Ilmu yang kau pelajari di sini. Bawalah semua pakaianmu dan aku tidak dapat memberi bekal apa-apa kecuali ini." Dia menyerahkan sebuah kantung kain kuning kepada Bun Houw.

Ketika pemuda itu menerimanya, dia terkejut melihat isi kantung itu karena ternyata berisi uang emas, sedikitnya ada sepuluh tail banyaknya! "Ah, untuk apa emas ini, suhu? Begini banyak..."

"Aku masih mempunyai yang lain. Bun Houw. itu milikku yang kubawa dari Istana dahulu. kau simpanlah, dapat kau pengunakan untuk biaya hidup. Ketahuilah, dalam perantauan engkau amat membutuhkan uang, tidak seperti di sini engkau dapat hidup dari hasil tanah. Dan engkau terimalah pusakaku ini, pergunakan sepatutnya karena selama berada di tanganku, Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) ini tak pernah kupengunakan untuk melakukan kejahatan, bahkan tidak pernah membunuh orang!” Dia menyerahkan tongkatnya yang kelihatan butut itu, akan tetapi yang di sebelah dalamnya tersembunyi sebatang pedang pusaka yang ampuh.

"Terima kasih, suhu!” Sekali ini Bun Houw girang bukan main. Tentu saja pedang itu tidak asing baginya. Ketika dia digembleng ilmu pedang oleh gurunya, pedang Lui-kong-kiam itulah yang dia pengunakan untuk berlatih.

Setelah menerima uang dan pedang dari suhunya, dan diberi wejangan agar dia berhati hati dalam perantauannya, dan juga diberi tahu tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang diketahui suaranya, maka Bun Houw berangkat meninggalkan tereng bukit itu, memanggul buntalan pakaian dan menyelipkan tongkat butut berisi pedang itu di pinggangnya. Caping lebar hitam itu tidak ketinggalan, akan tetapi karena hari masih pagi dan matahari belum panas, caping itu tengantung di punggung menutupi buntalannya.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Cia Kun Ti juga seorang pedagang yang cukup berhasil di kota Nan-ping. Akan tetapi dia bekerja terlalu keras. Hal ini mungkin karena dia merasa rendah diri terhadap isterinya. Cia Kun Ti dahulunya adalah seorang karyawan dari ayah isterinya dan dia diambil mantu oleh majikannya itu. Setelah dia membuka toko sendiri, tentu saja modalnya adalah milik isterinya dan dia hanya mengerjakannya saja.

Maka diapun bekerja keras sehingga makin lama tokonya menjadi semakin maju. Akan tetapi, tetap saja dia merasa rendah diri dan selalu tunduk di bawah kemauan isterinya yang menguasai segalanya. Urusan apapun yang timbul dalam rumah tangga dan keluarga mereka, selalu keputusan terakhir berada di tangan isterinya!

Mereka hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Cia Ling Ay, yang seperti kita ketahui, ketika terjadi malapetaka menimpa keluarga Kwa, usianya empa belas tahun, Isteri Cia Kun Ti pulalah yang memaksa suaminya agar pertunangan antara Ling Ay dan Bun Houw diputus, dibatalkan!

Hal ini amat menyedihkan hati Ling Ay yang merasa kasihan kepada Bun Houw, juga diam-diam Cia Kun Ti menderita tekanan batin karena dia merasa berdosa kepada mendiang Kwa Tin, sahabat baiknya. Mereka telah saling mengikat perjodohan antara anak mereka itu, dengan sumpah, akan tetapi ketika keluarga Kwa dilanda malapetaka dan Kwa Bun Houw menjadi yatim piatu dan kehilangan segalanya, dia tidak dapat mengulurkan tangan menolong calon mantu itu, bahkan memutuskan ikatan perjodohan!

Ketika datang pinangan dari Cun-taijin, kepala daerah yang meminang Ling Ay untuk dijodohkan seorang puteranya, isteri Cia Kun Ti pula yang mendesak agar suaminya menerima pinangan itu tanpa banyak pikir lagi,

"Perlu apa kita bersangsi lagi? Kita seolah-olah kejatuhan bulan purnama! Sungguh, Tuhan telah memberkahi kita, memberkahi anak kita. Cun Tai-jin (Pembesar Cun) adalah orang nomor satu di Nan-ping! Dia bagaikan seorang raja saja di kota ini, orang yang paling berkuasa. Bukan hanya itu. Juga keluarga Cun selain berpangkat tinggi, mereka kaya raya pula. Kalau kita menjadi besan mereka, berarti nama keluarga kita akan terangkat tinggi, kita dihormati orang, dan anak kita pun hidup dalam kemuliaan dan kemewahan!” demikian antara lain isteri Cia Kun Ti mendesak suaminya.

"Akan tetapi, yang akan menikah adalah Ling Ay. Sudah sepatutnya kalan kita mendengar dulu pendapatnya, ia adalah anak tunggal kita, senangkah hatimu kalau kelak melihat Ia hidup menderita?"

"Menderita? Menderita bagaimana maksudmu? Engkau tentu sudah mengenal siapa itu Cun Kongcu (Tuan Muda Cun). Dia masih muda, dia pun ganteng dan tampan, pandai, bangsawan, kaya raya. Mau Apalagi? Semua orang tua ingin mempunyai mantu dia, semua gadis ingin mempunyai suami seperti dia! Dan engkau masih banyak rewel? Kita harus bersembahyang ke semua kuil, mengucap syukur dan terima kasih kepada Thian bahwa anak kita yang dipilih oleh Cun Kongcu!”

Ucapan isteri Cia Kun Ti itu memang tidak keliru. Cun Kongcu, atau nama lengkapnya Cun Hok Seng, adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang tampan. Ayahnya, kepala daerah Cun yang menjadi orang paling berkuasa di kota Nan-ping dan yang mencalonkan putera dan anak tunggal itu menjadi pembesar kelak, telah memberinya pendidikan sastra sehingga Cun Hok Seng menjadi seorang terpelajar yang dikagumi banyak gadis dan orang tua mereka.

Pertemuan antara Cun Hok Seng dan Cia Ling Ay terjadi secara kebetulan saja. Ketika itu, Cia Ling Ay ikut dengan ayah dan ibunya pergi ke kuil untuk bersembahyang. Hal ini terjadi atas permintaan Ling Ay yang diam-diam bermaksud untuk sembahyang memintakan berkah dan perlindungan untuk Kwa Bun Houw yang telah pergi selama empat tahun lebih dan tidak ada beritanya. Biarpun ia tahu bahwa tidak mungkin tali perjodohan antara mereka disambung lagi, namun ia merasa kasihan kepada bekas tunangan itu dan akan merasa ikut gembira kalau pemuda itu berada dalam keadaan selamat.

Ling Ay telah berubah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis, berusia delapanbelas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak mengharum. Ketika ia dan ibunya memasuki kuil, banyak pasang mata memandangnya penuh kagum, terutama sekali mata pria muda yang kebetulan berada di tempat itu. Sudah menjadi kebiasaan buruk para pemuda, kalau mereka sedang bergerombol dan melihat seorang wanita cantik, tentu timbul keinginan mereka untuk menggoda.

Demikian pula dengan enam orang pemuda yang kebetulan berada di halaman kuil itu. Begitu melihat Ling Ay dan ibunya, mereka sejak tadi sudah memandangi gadis itu penuh kagum, saling bisik dan tersenyum-senyum. Kemudian, merekapun menghampiri Ling Ay dan ibunya, sengaja mereka menghadang.

"Nona, bolehkah kami menemani nona bersembahyang!”

"Apakan nona hendak bersembahyang mencari jodoh?”

"Tak usah mencari jauh-jauh, nona. Pilihlah seorang di antara kami!”

Mereka itu menggoda sambil menyeringai. Wajah Ling Ay berubah merah, kemudian pucat karena merasa jerih dan khawatir kalau kalau para pemuda itu akan mengganggunya, Nyonya Cia Kun Ti memandang dengan mata melotot dan wajah berubah merah padam. Ia marah sekali.

"Kalian ini orang-orang muda sungguh tidak sopan dan kurang ajar! Belum saling mengenal kalian sudah berani mengajak anakku bicara." bentaknya marah.

"Aduh, bibi! Galak amat kepada calon mantumu."

"Bibi, sekarangpun berkenalan kan belum terlambat,"

"Anak bibi sungguh manis sekali!”

Pada saat itu, muncullah Cun Hok Seng. Dengan alis berkerut pemuda yang juga hendak bersembahyang ini melihat dan mendengar sikap lima orang pemuda berandalan itu dan dia cepat menghampiri, lalu menegur dengan suara garang.

"Sungguh tidak tahu malu sekali! Kalian ini orang-orang tidak tahu susila, hendak mencemarkan kesucian kuil ini?"

Melihat seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan berani mencampuri lima orang berandalan itu hendak marah. Akan tetapi mereka melihat dua orang pengawal berpakaian perajurit yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, berwajah keren berada di belakang pemuda itu dan mereka melotot marah. Melihat ini, mereka menjadi jerih. Apalagi ketika seorang di antara mereka mengenal Cun Hok Seng. Dia cepat memberi hormat dan berkata dengan suara merendah.

"Kiranya Cun Kongcu! Maafkan kami, kami hanya ingin berkenalan dan bersendau gurau.”

"Bukan begitu caranya orang yang ingin berkenalan. Hayo kalian pergi dari sini, atau ingin kusuruh tangkap dan seret ke pengadilan?"

Lima orang itu kini ketakutan karena yang lain kini mengenal pula pemuda itu sebagai putera kepala daerah! Mereka cepat memberi hormat lalu pergi meninggalkan kuil tanpa berkata apapun.

Itulah awal perjumpaan Cun Hok Seng dan Ling Ay. Ibu Ling Ay cepat menghaturkan terima kasih dan bersama puterinya memasuki kuil untuk bersembahyang. Sedangkan Cun Hok Seng terpesona dan sampai lama dia berdiri bengong saja. Akhirnya, dua orang pengawalnya yang menyadarkannya dan dari pengawal itulah Hok Seng tahu bahwa gadis yang membetot sukmanya tadi adalah puteri dari Cia Ku Ti, seorang pedagang di Nan-ping. Dan kemudian, kepala daerah mengutus seorang perantara untuk mengajukan pinangan setelah beberapa kali puteranya minta agar dijodohkan dengan puleri Cía Kun Ti itu.

Ketika pinangan itu diajukan, Cia Kun Ti tidak segera menerimanya melainkan minta waktu untuk berpikir-pikir dan hal inilah yang membuat isterinya marah-marah setelah perantara itu pulang. Watak Cia Kun Ti berbeda dengan isterinya. Dia lama sekali tidak memikirkan kepentingan diri sendiri menghadapi perjodohan puterinya, melainkan dia mementingkan kebahagiaan puterinya.

Bagaimana dia dapat menerima pinangan begitu saja tanpa lebih dulu mengetahui bagaimana pendapat puterinya, orang yang akan melaksanakan atau menjalaninya? Namun, keraguannya ini membuat isterinya marah-marah sehingga ia mengomel dan memaksa agar suaminya menerima pinangan itu.

"Baiklah... aku segera akan memberi kabar kepada Cun Tai jin dan menerima pinangannya itu dengan hormat. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita harus memberitahu kepada anak kita." Tanpa menanti ucapan isterinya lebih lanjut, Cia Kun Ti lalu memanggil puterinya.

Cia Ling Ay yang sedang sibuk di dapur bersama seorang pembantu rumah tangga, segera keluar dan menuju ke ruangan duduk di mana ayahnya dan ibunya sudah duduk menantinya. Melihat wajah kedua orang tuanya; itu nampak bersungguh-sungguh, ia lalu duduk di dekat ubunya.

"Ada urusan apakah ayah memanggilku,” tanyanya.

"Ling Ay, kami memanggilmu untuk minta pertimbanganmu tentang..."

"Bukan minta pertimbangan, melainkan untuk menyampaikan berita yang amat membanggakan hati kepadamu, Ling Ay." isteri Cia Kun Ti memotong ucapan suaminya. "Kita telah kedatangan seorang utusan dari keluarga Cun Taijin, anakku. Engkau tahu, yang kumaksudkan dengan Cun Taijin adalah kepala daerah di kota ini. Orang nomor satu di sini, paling berkuasa, paling kaya, paling terhormat..."

"Ada urusan apakah dengan kita, ibu?" Ling Ay memotong Ibunya agar rangkaian kata ‘yang paling’ itu tidak berkepanjangan.

"Urusannya? Engkau tentu tidak pernah dapat menduganya, atau mungkin engkau sudah bermimpi kejatuhan bulan? Aih, anakku yang manis, sungguh hati ibumu penuh dengan kebanggaan dan suka cita. Tahukah engkau mengapa Cun Taijin mengirim utusan ke sini? Untuk meminangmu!" Ibu itu sambil tersenyum bangga memandang wajah puterinya.

Akan tetapi Ling Ay mengerutkan alisnya dan ia nampak kaget sekali. "Meminang aku...?”

"Ya, engkaulah yang dipilih, anakku! Dan engkau tentu masih ingat. Pemuda yang ganteng itu, yang sopan santun dan menolongmu, di kuil itu. Dialah yang akan menjadi suamimu. Dia itu Cun Kongcu, putera tunggal Cun Taijin. Wah, engkau akan menjadi wanita yang paling mulia di kota ini!”

Akan tetapi, wajah gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti ibunya. Bahkan ia mengerutkan alisnya karena pada saat itu terbayanglah wajah Kwa Bun Houw, terbayang ketika pemuda itu meninggalkan rumahnya dengan muka pucat dan kepala menunduk. Empat tahun yang lalu. ia masih seorang gadis remaja berusia empat-belas tahun. Sampai sekarang pun ia tidakk pernah dapat melupakan Bun Houw, pemuda yang pernah menjadi tunangannya itu. Ia tidak pernah tahu apakah ia mencinta Bun Houw, karena ketika mereka ditunangkan, ia masih kecil dan ia masih belum mengerti benar apa artinya cinta.

Akan tetapi buktinya, sampai sekarang ia tidak pernah dapat melupakan Bun Houw, walaupun setiap kali teringat, yang terasa olehnya hanyalah perasaan iba yang mendalam. Ia selalu membayangkan betapa sakit perasaan hati pemuda itu ketika meninggalkan rumahnya, dan ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pemuda itu yang telah kehilangan segala-galanya. Orang tuanya, harta miliknya bahkan tunangannya!

"Ling Ay, bagaimana pendapatmu dengan pinangan itu?" pertanyaan ayahnya ini menyadarkan Ling Ay dari lamunan.

Lenyaplah bayangan wajah Bun Houw dan kini samar-samar ia teringat kepada pemuda yang pernah menegur para pemuda berandalan di kuil itu. Seorang pemuda yang memang tampan dan sopan, pikirnya, akan tetapi sama sekali ia tidak pernah merasa tertarik. Bahkan kini berita bahwa pemuda itu adalah putera tunggal Cun Taijin, dan telah meminangnya, tidak membuat hatinya merasa tertarik sama sekali.

"Ling Ay, kami telah menerima pinangan itu dengan hati gembira dan bangga sekali. Kami yakin engkaupun temu akan menjadi gembira. Bayangkan saja. Engkau akan hidup di dalam gedung seperti istana, dilayani banyak pelayan, dijaga pasukan pengawal, dihormati orang seluruh kota, hidup bermewah-mewahan dan mulia, naik turun kereta, mengenakan perhiasan lengkap dari emas permata..."

"Sudahlah, ibu. Kalau memang ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, untuk apa ditanyakan lagi kepadaku?"

"Aih, anakku, jadi engkau setuju?" Ibunya merangkulnya dengan gembira.

Akan tetapi, Cia Kun Ti memandang puterinya dengan penuh perhatian. "Anakku, mengapa engkau tidak gembira mendengar bahwa engkau akan menjadi mantu kepala daerah? Apakah engkau tidak setuju? Nyalakanlah pendapatmu agar hati ayah ibumu menjadi lega."

"Aih, Ingin pernyataan Apalagi? Anak kita tidak menolak, itu berarti ia sudah setuju. Ia tidak begitu bodoh untuk menolaknya! Menolak pinangan kepala daerah? Wah, hanya orang-orang gila yang akan menolak keberuntungan seperti itu!" kata isterinya.

Ling Ay melepaskan dirinya dari rangkulan ibnnya, lalu ia mundur selangkah, memandang wajah ayah dan ibunya dan betapa heran rasa hati orang tua gadis itu melihat bahwa kedua mata gadis itu basah. Ayahnya makin ragu, mengira bahwa anaknya tidak setuju maka menangis, sebaliknya ibunya mengira gadisnya menangis saking bahagianya!

"Ayah dan ibu, apa yang harus kukatakan lagi? Apa artinya pendapat pribadiku dalam saat ini? Kalau ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, sudah menyetujui, dapatkah aku menolaknya? Maka, terserah saja kepada ayah! dan ibu..."

"Tapi kau... kau menangis? Ling Ay, mengapa engkau berduka?" tanya ayahnya.

"Engkau ini sungguh bodoh! Anak kita menangis saking gembiranya, bukan karena bersedih!”

Ling Ay memejamkan kedua matanya karena air matanya kini turun semakin deras. "Ayah dan ibu..." Ia mengusap air mata dengan saputangan. "Aku... aku... teringat! kepada koko Kwa Bun Houw dan merasa kasihan sekali kepadanya..." Dan iapun lari meninggalkan ruangan itu, memasuki kamar sendiri.

Suami isteri itu saling pandang. "Ah, kiranya ia masih teringat kepada anak yatim piatu miskin itu?" kata isteri Cia Kun Ti, lalu ia menyerang suaminya. "Ini semua salahmu! Engkau bertanya yang macam-macam saja!” Wanita itu lalu lari ke kamar anaknya dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu yang dikunci dari dalam. Akan tetapi ia mendengar suara Ling Ay.

"Ibu, biarkan aku sendiri. Aku sudah menerima kehendak ibu, jangan ganggu aku lagi. aku ingin beristirahat..."

Ibunya terpaksa pergi dan mematuki kamarnya sendiri sambil bersungut-sungut. Cia Kun Ti yang ditinggal seorang diri di ruangan duduk, lalu menghela napas panjang. Dia ikut merasa sedih kalau-kalau anaknya itu berduka dan hanya menerima perjodohan itu karena terpaksa saja. Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang bahwa puterinya itu ternyata seorang yang berbudi baik, tidak pernah melupakan bekas tunangan yang diperlakukan dengan tidak adil dan semena-mena itu.

Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat sesuatu dan pertunangan dengan Kwa Bun Houw itu sudah putus, pemuda itu sudah bertahun-tahun tidak pernah ada beritanya, Apalagi sekarang dia harus menerima pinangan putera kepala daerah. Teringat ini, diapun cepat berkemas untuk mengenakan pakaian yang pantas karena dia harus berkunjung ke rumah keluarga kepala daerah untuk menyampaikan persetujuannya atas pinangan itu.

********************

Tanah kuburan yang biasanya sunyi itu kini penuh orang. Sejak pagi banyak orang datang berkunjung karena hari itu adalah hari Ceng-beng, yaitu hari yang merupakan hari besar bagi para keluarga untuk mengunjungi tanah kuburan nenek moyang mereka. Para keluarga ini melakukan sembahyang di depan makam orang tua atau kakek nenek mereka, membersihkan makam-makam keluarga itu.

Makam-makam yang sunyi itu nampak biasa saja. Sukar dibayangkan bagaimana perataan para penghuni makam itu andaikata masih memiliki perasaan seperti ketika masih hidup. Mereka yang telah mati itu hanyi setahun sekali menerima kunjungan sanak saudara, anak cucu. Setahun sekali, dalam waktu sejam dua jam saja, para keluarga itu datang berkunjung dan bersembahyang. Setelah itu, anak cucu itu segera pergi lagi, dan makam kembali menjadi sunyi. Penghuni makam dibiarkan sunyi sendiri, menanti sampai kunjungan berikutnya yang akan mereka terima setahun kemudian!

Selama "menunggu" itu, tak seorangpun di antara para anak cucu yang ingat akan makam itu, dan makam dibiarkan terlantar, hanya menjadi tempat mainan para penggembala kambing. Akan tetapi pada hari Ceng-beng itu, para anak cucu datang dengan pakaian yang baru, membawa hidangan untuk sembahyang dan ramailah keadaan di tanah kuburan yang biasanya amat sunyi itu.

Serombongan keluarga yang memasuki tanah kuburan itu tentu merupakan keluarga yang penting dan terpandang. Buktinya, hampir semua pengunjung tanah kuburan yang berpapasan dengan keluarga ini, segera memberi hormat, dan yang berada agak jauh, segera saling bisik membicarakan keluarga itu. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami Isteri yang masih muda. Juga sepasang suami isteri setengah tua dan diiringkan oleh enam orang pelayan dan lima orang pengawal yang berpakaian seragam. Keluarga pembesar!

Memang demikianlah. Suami-isteri muda itu adalah Cun Hok Seng dan isterinya, yaitu Cia Ling Ay! Sudah setahun mereka menikah dan kini Cun Hok Seng berusia duapuluh enam tahun, sedangkan Cia Ling Ay berusia duapuluh tahun. Mereka menikah setelah setahun bertunangan. Adapun suami Isteri setengah tua itu adalah Cia Kun Ti dan isierinya. Jelaslah bahwa yang menerima penghormatan semua orang itu adalah Cun Hok Seng, putera kepala daerah itu. Akan tetapi, yang merasa amat bangga sekali adalah nyonya Cia Kun Ti, Ibu Ling Ay. Padahal ia hanya membonceng saja, membonceng kehormatan dan kemuliaan mantunya, akan tetapi karena semua orang itu menghormat ke arah rombongan mantunya, maka iapun merasa terhormat dan seolah-olah ialah yang dihormati mereka!

Semua orang mengejar kehormatan ini! Semua orang bertingkah dan berharap agar mereka mendapat penghormatan dari orang lain. Semakin dihormat, semakin banggalah rasa hati ini, semakin merasa betapa dirinya ini ‘besar’. Pengejaran kehormatan ini sesungguhnya bukan lain hanyalah ketinggian hati, keinginan nafsu yang hendak mengangkat diri sendiri setinggi mungkin, yang menilai diri sendiri yang paling besar dan paling tinggi, paling hebat. Karena itu setiap, kali rasa diri besar ini terlanggar, akan marahlah si-AKU.

Sama juga dengan pengejaran harta benda yang dianggap akan merdatangkan kebahagiaan, demikian pula pengejaran terhadap kehormatan di dasari anggapan bahwa kehormatan akan mendatangkan kebahagiaan melalui kebanggaan. Padahal, kebahagiaan tidak mungkin dicapai melalui kesenangan berharta besar atau melalui kebanggaan berkedudukan tinggi. Segala macam bentuk kesenangan bukanlah makanan jiwa. melainkan sekedar permainan nafsu belaka dan biasanya, nafsu selalu mengejar yang lebih sehingga kesenangan yang dinikmati itu dalam waktu singkat saja sudah terasa hambar karena keinginan mengejar yang lebih.

Dan akibatnya maka muncullah kekecewaan dan penyesalan kalau yang dikejar itu tidak tercapai, atau kebosanan kalaupun tercapai karena kenyataan tidaklah sesenang yang dibayangkan selagi dalam pengejaran. Kesenangan jelas bukan kebahagiaan. Dan semua orang mengejar kebahagitan. Apakah sesungguhnya kebahagiaan? Demikian timbul pertanyaan abadi sejak dahulu. Semua orang mengejar kebahagiaan! Dan makin dikejar semakin tak nampak! Maka penting sekali mempelajari apa sesungguhnya kebahagiaan yang dikejar oleh setiap orang manusia ini. Apakah hanya sebuah kata? Kata kosong belaka?

Kebahagiaan jelas bukan kedukaan karena justeru di dalam penderitaan dukalah manusia merindukan kebahagiaan kebahagian bukan pula kesenangan karena semua orang yang merasakan kesenangan akhirnya mengakui bahwa kesenangan hanyalah sekelumit dan sementara saja sifatnya. Kalau kedukaan bukan kebahagiaan, dan kesenangan juga bukan kebahagiaan, lalu apa? Apakah kebahagiaan yang didambakan seluruh manusia di dunia ini? Tidak mungkinkah dirasakan orang selagi dia masih hidup? Apakah kebahagiaan hanya bagian orang yang sudah mati dan hanya terdapat di akhirat?

Semua pertanyaan ini timbul dan tak seorangpun yang mampu menggambarkan bagaimana sesungguhnya kebahagiaan itu. Bagaimana rasanya dan bagaimana keadaan seseorang yang benar-benar berbahagia! Agaknya pertanyaan yang sudah diajukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu ini takkan pernah dapat dijawab. Bagaimana mungkin menjawabnya kalau bahagia merupakan suatu keadaan yang tak tergambarkan? Suatu keadaan tabir batin yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan? Sekali dibicarakan atau diceritakan, maka cerita atau penggambaran itu tidak mungkin sama dengan yang digambarkan!

Bahagia bukan duka bukan suka. Kalau ada duka, tidak ada bahagia, kalau ada suka tidak ada bahagia. Jelas bahwa bahagia berada di atas suka duka. Merupakan anugerah Tuhan, dan hanya Tuhan yang akan dapat menjadikan seseorang berbahagia. Tak mungkin dicapai melalui usaha akal pikiran karena kebagiaan berada di atas akal pikiran yang menjadi sumber suka dan duka. Dan karena itu merupakan ciptaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, maka manusia tak mungkin dapat mencampuri.

Seperti halnya kelahiran dan kematian. Kita hanya dapat PASRAH, menyerah kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Bijaksana, yang akan mengatur segalanya! Hanya pasrah, penuh keiklasan dan ketawakalan. Betapapun juga, manusia hanyalah ciptaan, dan kekuasaan berada di tangan Sang Pencipta!


Sebelum Cun Hok Seng dan isterinya, ayah dan ibu mertuanya, tiba di tanah kuburan itu, lebih dulu serombongan orang yang menjadi pembantu mereka telah datang dan mempersiapkan segala keperluan sembahyang untuk putra kepala daerah Nan-ping dan keluarganya itu. Dan tentu saja persiapan sembahyang itu yang termewah di antara peralatan sembahyang semua pengunjung tanah atau taman kuburan itu.

Mereka berkunjung ke taman kuburan itu untuk menyembahyangi kakek dan nenek, juga nenek moyang mereka. Nenek moyang kedua pihak, keluarga Cun dan keluarga Cia. Tentu saja yang didahulukan adalah kuburan keluarga Cun, dan peralatan sembahyangan telah diatur lengkap oleh para pembantu di tanah kuburan keluarga Cun. Makam makam keluarga ini paling besar dan megah, bukan hanya liong-pai (batu nisan) yang besar dengan ukiran ukiran indah, bahkan dibangun seperti kuil dengan atap bergenting tebal dan dihias ukiran-ukiran naga.

Sebagian besar orang berani mengorbankan harta benda mereka untuk pembuatan bong-pai dan bangunan makam yang seindahnya. Indah dan mewah. Tentu saja dengan dalih bahwa mereka menghormati dan mencinta nenek moyang dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Bahkan keroyalan mereka membuang uang untuk membuat makam yang megah ini jauh melebihi kerelaan mereka memberikan harta benda kepada orang tua mereka ketika orang tua itu masih hidup!

Sungguh sayang sekali, di balik perbuatan menghamburkan harta benda untuk membuat makam yang amat indah dan mewah ini tersembunyi pamrih rendah. Pertama, pamrih agar mereka dipuji orang lain dan dianggap sebagai anak-anak yang u-houw (berbakti) kepada orang tua dan nenek moyang, di samping pamrih menyombongkan dan memamerkan harta kekayaan mereka.

Ke dua, pamrih agar mereka itu, dengan cara "berkorban" seperti itu, akan memperoleh doa restu dari arwah orang tua dan nenek moyang sehingga rejeki yang mereka terima akan berlimpahan, jauh melampaui segala biaya yang mereka keluarkan untuk pembuatan makam yang megah itu.

Dan pamrih kedua ini mereka percaya benar. Bahkan mereka itu dalam ketahyulan mereka, mengirim bongkahan bongkahan emas, kereta, rumah gedung, yang mereka lakukan dengan cara membuat semua itu dari kertas dan bambu, kemudian membakar semua benda palsu ini dengan kepercayaan bahwa semua benda itu di akhirat akan benar benar menjadi benda-benda aseli dan dapat dipengunakan untuk kesejahteraan arwah nenek moyang.

Hal ini tentu saja akan membuat arwah nenek moyang merasa senang dan melimpahkan berkah kepada anak cucu atau buyut yang u-houw (berbakti) itu. Sungguh merupakan suatu ketahyulan yang bodoh sekali, karena yang jelas sekali, perbuatan itu hanya mendatangkan keuntungan besar kepada orang orang yang pekerjaannya membuat benda benda palsu dan kertas itu dan yang mengatur persembahyangan karena mereka akan menerima upah yang amat besar.

Padahal, houw atau kebaktian memang merupakan suatu kebajikan, suatu kewajiban dan keharusan bagi setiap orang manusia beradab. Bakti kepada orang tua merupakan kasih sayang yang besar, terdorong oleh budi yang telah kita terima dari orang tua, semenjak kita dilahirkan, dibesarkan oleh orang tua. Kasih sayang ini tentu saja hanya dapat dibuktikan dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang tua selagi mereka masih hidup dan sesudah mereka meninggal dunia.

Kebaktian itu masih dapat dilanjutkan dengan menjaga semua perbuatan kita agar jangan sampai kita mengotori atau menodai nama baik orang tua kita dengan perbuatan yang jahat. Inilah houw atau kebaktian dalam arti yang sedalam-dalamnya. Houw atau kebaktian sesungguhnya hanyalah pelaksanaan dari perasaan cinta atau kasih sayang terhadap orang tua!


Setelah persembahyangan terhadap makam-makam nenek moyang keluarga Cun selesai dilakukan, barulah rombongan Cun Hok Seng, isterinya dan kedua mertuanya itu melakukan sembahyang di depan kuburan nenek moyang keluarga Cia...

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 02

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 02

MELIHAT ini, empat orang lainnya maju dan menyerang si buta dengan pukulan dan tendangan seperti yang mereka lakukan kepada Bun Houw tadi. Bukan tendangan dan pukulan ngawur melainkan gerakan silat yang teratur dan setiap serangan amat cepat dan kuat datangnya. Akan tetapi segera terdengar suara tak-tuk-tak-tuk dan empat orang itu semua terhuyung ke belakang sambil mengaduh aduh, ada yang memegangi kaki ada pula yang memegangi lengan yang tadi tertangkis oleh tongkat.

Sungguh aneh sekali orang itu jelas buta. akan tetapi mengapa setiap pukulan dan tendangan para pengeroyoknya itu dapat ditangkisnya dengan amat tepatnya, menggunakan tongkat yang digerakkan secara aneh dan cepat bukan main itu?

Bun Houw yang melihat peristiwa ini, melongo penuh keheranan. Kalau saja laki-laki itu tidak buta, tentu hal itu tidak mengherankan dan jelas bahwa orang itu merupakan seorang yang berilmu. Akan tetapi kalau kenyataannya dia buta, sungguh luar biasa sekali! Mungkinkah seorang buta memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sedemikian lihainya seolah olah pandai melihat saja?

Kini lima orang berkedok hitam itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu masing masing memegang sebatang pedang. Bun Houw terkejut bukan main. Baru bertangan kosong saja, lima orang itu sudah begitu ganas dan kuat, apalagi bersenjata pedang. Diapun khawatir sekali akan nasib orang buta itu. Akan matilah orang itu disayat-sayat pedang dan dia tidak rela membiarkan orang tak berdosa ini harus tewas karena membelanya. Maka, sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Bun Houw melompat dan memegang lengan orang buta itu.

"Lopek, engkau cepat pergilah dari sini, jangan mencampuri urusanku agar engkau tidak tertimpa celaka!" Berkata demikian, Bun Houw mendorong orang itu ke samping dengan sekuat tenaga. Namun. bukan orang buta itu yang terlempar, sebaliknya dia sendirilah yang roboh terpelanting seperti dilanda angin keras, disusul suara orang buta itu.

“Orang muda, engkau minggirlah dan biarkan aku menghadapi mereka yang jahat ini."

Kini Bun Houw merasa semakin yakin bahwa orang buta ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka biarpun jantungnya masih berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran, dia tidak bengerak lagi dan tetap mendekam di atas tanah di mana dia terpelanting dan melihat dengan mata terbelalak dan tidak berdaya.

Lima orang itu mengepung si buta dengan pedang di tangan. Seorang di antara mereka, yang buntung lengan kanannya itupun memegang pedang dengan tangan kiri, dan sikap mereka buas sekali karena mereka sudah marah bukan main. Orang buta itu berdiri di tengah, berdiri agak membungkuk, dengan muka tunduk dan tongkat ditangannya menyentuh tanah. Kepalanya agak miring dan nampaknya dia tidak berdaya sama sekali.

Lima orang sudah merasa pasti bahwa mereka akan dapat menyayat-nyayat tubuh si buta itu dalam waktu singkat, dan mereka sudah merasa penasaran dan sakit hati karena tadi dihajar sehingga menderita sakit sakit. Tiba-tiba si gendut yang menjadi pemimpin, melakukan gerakan pertama sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Mampuslah kau, orang buta!"

Dan mereka berlima sudah menggerakkan pedang dalam saat yang hampir berbareng. Lima sinar pedang menyambar dari lima jurusan dengan cepat sekali dan Bun Houw sudah hampir memejamkan matanya karena tidak tahan dia melihat betapa tubuh itu akan hancur dan darah akan bertebaran. Akan tetapi, dia terbelalak. Terdengar suara melengking tinggi dan tiba-tiba saja nampaklah sinar kilat yang menyilaukan mata. Sinar kilat itu keluar dari tongkat si orang buta, dan kilat itu menyambar dahsyat, membuat lingkaran sinar yang melindungi tubuh si buta dan membabat lima gulungan sinar pedang yang menyerang tadi.

Hanya terdengar suara berkerontangan nyaring disusul teriakan-teriakan kaget dan lima batang pedang itu telah patah patah dan lima orang penyerang itu sudah terhuyung ke belakang dengan muka pucat, memandang gagang pedang yang teranggat di tangan mereka, lalu terbelalak memandang si orang buta yang kini masih berdiri tegak dengan sebatang pedang yang berkilauan di tangan kanan! Kiranya tongkat tadi sudah dicabut dan di dalamnya terdapat pedang itu! Dari balik topeng hitam, lima orang itu saling pandang kemudian seperti menerima komando tanpa suara, mereka segera berloncatan melarikan diri dari tempat itu!

Kini baru Bun Houw yakin benar bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, walaupun kedua matanya buta. Maka, tanpa ragu lagi dia pun menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang buta itu. Dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menghambakan diri sebagai murid kepada orang itu dengan penuh hormat dan harapan, diapun memberi hormat dan membentur-benturkan dahinya di atas tanah depan kaki si orang buta.

"Siancai (damai)... apa yang kau lakukan ini, orang muda? Bangkitlah dan jangan berlutut seperti itu!” Dengan sekali menggerakkan tangan, nampak sinar terang berkilat lalu lenyap dan tahu-tahu pedang itu telah menyusup kembali ke dalam tongkat dan kini dia menggunakan tongkatnya mencokel tubuh Bun Houw.

Pemuda ini merasa tubuhnya terangkat yang memaksanya untuk bangkit berdiri, akan tetapi begitu tenaga yang dahsyat itu meninggalkannya, diapun cepat menjatuhkan diri berlutut lagi. "Lo-cian-pwe, harap sudi mengampuni dan mengasihani saya. Lo-cian-pwelah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menrhaturkan terima kasih, Akan tetapi juga kesaktian lo-cian-pwe membuat saya mengambil keputusan untuk mohon menjadi murid lo-cian-pwe. Saya sudah yatim piatu dan sedang putus harapan dan seakan-akan Tuhan yang mengirim lo-cian pwe kepada saya, untuk membimbing saya..."

"Hemmm, aku hanya seorang buta. Apakah yang dapat kuajarkan kepada seorang yang tidak buta? Apakah engkau hendak belajar berjalan dibantu tongkat dan meraba-raba ke kanan kiri?" Dia menarik napas panjang.

Bun Houw yang sudah berlutut lagi itu berkata sungguh-sungguh, "Lo-cian-pwe memiliki kesaktian dan dengan mudah telah mengalahkan lima orang penjahat itu. Lo-cian-pwe pandai memainkan pedang yang disembunyikan di dalam tongkat. Teecu (murid) mohon diberi pelajaran ilmu pedang itu."

Si buta kembali menarik napas panjang. “Aih, ilmu pedang? Apakah engkau ingin merajalela dengan pedang, membunuhi orang dan terutama sekali mencari lima orang itu untuk membalas dendam? Siai-cai... aku tidak mau mengajar orang menjadi pembunuh kejam dan menjadi hamba dari nafsu dendam kebenciannya sendiri, orang muda."

"Tidak sama sekali, lo-cian-pwe. Mengenai kematian ayah ibu, sudah teecu pikirkan dengan panjang lebar dan mendalam. Teecu tidak akan menaruh dendam karena sejak dahulu ayah melarang teecu dilanda dendam. Teecu maklum bahwa ayah dimusuhi banyak orang karena ayah selalu menentang perbuatan jahat, sudah menaklukkan banyak sekali penjahat yang mengganggu orang lain di sekitar Nan-ping, bahkan dalam perkelahian menentang para penjahat, entah sudah berapa banyak penjahat dibunuhnya. Tidak, teecu maklum bahwa memang ayah tewas sebagai seorang pendekar melaksanakan tugas. Teecu ingin mengikuti jejaknya, ingin menjadi pendekar pembasmi kejahatan dan untuk itu, teecu membutuhkan kepandaian tinggi yang kiranya bisa teecu dapatkan karena kemurahan lo-cian-pwe."

Kini si orang buta itu tersenyum lebar, tangan kirinya dijulurkan dan jari-jari tangan kirinya menyentuh kepala pemuda itu. Jari-jari tangan itu kini meraba-raba muka Bun Houw, menyentuh seluruh permukaan wajahnya dan dia merasa betapa kulit jari-jari tangan itu amat halusnya dan mengandung getaran halus. Kiranya si buta itu hendak "mengenalnya" dan mengetahui bentuk wajahnya dengan cara meraba-raba. Kemudian, sekali tangan kiri itu memegang pundaknya dan menarik, Bun Houw tidak mampu bertahan dan diapun tertarik berdiri. Kini tangan itu terus menggerayangi tubuhnya, pundak, dada, pinggang, paha dan terus ke kaki.

"Bagus, engkau seorang pemuda yang tegap dan kuat. Berapa usiamu?"

"Saya berusia lima belas tahun, lo-cian-pwe."

"Hemm, masih remaja. Dan siapa namamu? Ceritakan tantang keluargamu, dan tentang peristiwa terbunuhnya ayah bundamu."

"Nama saya Kwa Bun Houw dan orang tua saya bernama Kwa Tin, dikenal sebagai Kwa-enghiong di kota Nan-ping, berdagang dan memiliki sebuah toko kain. Ayah adalah seorang murid Siauw-lim-pai. Beberapa hari yang lalu, pada malam hari ketika saya tidak berada di rumah, agaknya rumah kami kedatangan lima orang penjahat itu yang menuntut balas. Mereka membakar rumah, mengeroyok dan membunuh ayah, kemudian menculik ibu dan akhirnya membunuh pula ibu setelah mereka menghinanya di sebuah hutan."

Dengan singkat namun jelas Bun Houw menceritakan betapa dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan dia menceritakan tentang sikap calon mertuanya yang begitu saja tanpa alasan memutuskan ikatan pertunangannya dengan Cia Ling Ay. Betapa kemudian dia pergi meninggalkan Nan-ping tanpa tujuan dan dengan hati merana sampai tiba di tempat itu dan dihadang lima orang penjahat itu.

Si buta mendengarkan penuh perhatian beberapa kali mengangguk-angguk. "Bagaimana engkau bisa mengetahui hahwa lima orang tadi adalah mereka yang telah membunuh orang tuamu dan membakar rumahmu?" tanyanya. "Bukankah ketika peristiwa itu terjadi engkau tidak berada di rumah?"

"Benar, lo-cian-pwe. Akan tetapi dari jauh teecu melihat kebakaran itu. Teecu cepat pulang dan masih sempat teecu menerima pesan terakhir dari ayah sebelum dia meninggal. Dia hanya sempat berkata bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah lima orang berkedok hitam dan seorang di antara mereka buntung tangan kanannya, agaknya buntung ketika berkelahi mengeroyok ayah. Kelima orang tadi tepat seperti yang dikatakan ayah, bahkan mereka tadi sudah mengaku bahwa merekalah pembunuhnya, dan mereka hendak membunuh saya untuk membasmi rumput berikut akar-akarnya."

Si buta itu kembali mengangguk. "Jadi kalau begitu, engkau sudah tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal lagi?"

"Begitulah, lo-cian-pwe. Oleh karena itu, mohon kemurahan hati lo-cian-pwe..."

"Hemm, sebetulnya aku tak pernah ingin mempunyai murid agar tidak harus mewariskan ilmu yang hanya dapat dipakai untuk membunuh orang. Akan tetapi agaknya memang sudah ditentukan oleh Tuhan bahwa aku, Tiauw Sun Ong, terpaksa harus meninggalkan Ilmu kepada seorang murid, yaitu engkau, Bun Houw."

Bun Houw segera menjatuhkan diri lagi berlutut dan mencium ujung sepatu orang buta itu. "Terima kasih, suhu! Teecu bersumpah bahwa teecu akan mempergunakan ilmu-ilmu dari suhu hanya untuk menentang kejahatan, seperti yang pernah dilakukan mendiang ayah teecu!”

"Hemmm? Menjadi pendekar? Ingat bahwa ayahmu yang menjadi pendekar itupun akhirnya tewas di tangan orang-orang jahat!”

"Lebih baik tewas sebagai pendekar dari pada mati sebagai seorang jahat, demikian ayah selalu memesan kepada teecu. Matinya seorang pendekar di tangan penjahat berarti mati dalam menunaikan tugas yang amat gagah dan mulia bagi seorang manusia."

Si buta yang bernama Tiauw Sun Ong itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Ayahmu memang hebat dan aku kagum padanya. Adapun aku... aku hanya seorang bangsawan yang terbuang..."

"Suhu! Ketika mendengar nama suhu, teecu mengira bahwa suhu memiliki nama seperti seorang bangsawan tinggi, seorang pangeran... jadi benarkah itu?"

Si buta itu kembali menarik napas panjang dan diapun berkata lembut, "Bawalah aku kepada batu-batu yang enak diduduki. Bun Houw, agar kita dapat bicara dengan santai."

Bun Houw cepat memegang tongkat gurunya dan menuntun gurunya menuju ke kiri di mana terdapat batu-batu yang halus dan rata. Di situ mereka duduk berhadapan.

"Sudah sepatutnya engkau mengenal siapa orang buta yang menjadi gurumu ini, Bun Houw. Dahulu sekali, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, aku adalah seorang pangeran yang hidup mewah dan mulia di istana kaisar. Kaisar adalah kakak tiriku, dia putera permaisuri sedangkan aku hanyalah putera selir. Akan tetapi kaisar amat sayang kepadaku, maka aku diberi kedudukan tinggi dan selalu dekat dengannya, membantu tugasnya di dalam Istana. Lalu godaan yang mendatangkan malapetaka itupun muncul dalam bentuk tubuh seorang selir kakakku, yaitu kaisar. Selir terkasih yang amat cantik jelita. Kami saling jatuh cinta dan terjadilah hubungan gelap yang mesra di antara kami. Aku seperti mabok, lupa bahwa wanita itu adalah selir terkasih dari kakakku. Kami berdua meneguk anggur larangan itu sepuasnya sampai mabok dan akhirnya akibat buruk itupun terjadilah. Kami tertangkap basah. Aku merasa menyesal dan malu. Kubutakan sendiri kedua mataku di depan kakakku, kemudian aku lolos dari istana. Entah apa yang terjadi dengan selir kakakku itu."

Bun Houw memandang wajah orang buta itu dengan hati penuh perasaan iba. Sungguh menyedihkan sekali riwayat gurunya ini. "Akan tetapi, suhu. Mengapa suhu melakukan penghukuman atas diri sendiri yang demikian hebatnya?”

Tiauw Sun Ong atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si Buta Dari Utara itu menarik napas panjang. "Begitulah orang muda seperti aku dahulu. Mudah tertarik, mudah jatuh cinta, mudah membenci, mudah gembira, mudah marah. Pendeknya mudah diombang-ambingkan perasaan dikemudikan napsu. Namun, penyesalan di belakang tiada gunanya. Aku hidup terlunta-lunta, bahkan ingin mati saja. Namun akhirnya aku bertemu dengan seorang tosu yang memberi banyak nasihat. Aku sadar, timbul pula gairah hidupku dan aku bahkan mempelajari ilmu silat sampai mendalam. Demikianlah riwayat gurumu ini, Bun Houw."

Kemudian, guru dan murid itu pergi meninggalkan tempat itu, dan mulai hari itu. Bun Houw menerima gemblengan ilmu-Ilmu silat yang amat hebat dari Si Buta, terutama sekali ilmu totok jalan darah. Ilmu tongkat dan Ilmu pedang yang amat dahsyat.

"Bun Houw, Ilmu pedangku ini memang merupakan ilmu pedang yang khas untuk orang buta. Oleh karena itu, untuk dapat menguasainya dengan sempurna, pada saat mempelajari dan melatih dirimu dalam ilmu silat pedang itu, engkau harus berlaku seperti orang buta, yaitu engkau sama sekali tidak mempengunakan daya penglihatanmu dan harus memejamkan kedua matamu!”

Biar pun di dalam hatinya Bun Houw merasa heran mengapa dia yang pandai melihat harus tidak mempengunakan penglihatannya, namun sebagai seorang murid yang patuh, dia selalu mentaati pesan gurunya itu. Setiap kali berlatih silat yang diajarkan gurunya, dia menutup kedua matanya, dan hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan indera lainnya. Bahkan di waktu tidak berlatih silatpun gurunya menganjurkan agar dia seringkali menutupkan kedua matanya dan mencoba untuk melakukan pekerjaan tanpa bantuan penglihatannya.

"Terutama untuk melatih ketajaman pendengaranmu," demikian gurunya memberi nasihat.

Dan akibatnya memang hebat. Hasilnya memang di luar dugaan. Setelah lewat beberapa tahun saja, panca indera yang lain dari pemuda itu menjadi tajam bukan main. Terutama sekali pendengarannya. Kalau dia berlatih bersama gurunya, dengan pendengarannya saja dia mampu mengikuti semua gerakan tubuh gurunya. Pendengarannya menjadi amat tajam, dan kepekaan tumbuh dengan amat suburnya di ujung Jari-jari tangan dan kakinya karena seringkah dipakainya untuk meraba-raba, penciumannya juga menjadi amat tajam. Bahkan perasaannya bertambah peka seolah-olah Indra ke tujuh bangkit dengan cepat karena kekurangan satu indera, yaitu mata.

Enam tahun lewat dengan cepatnya. Kini Bun Houw telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, dan biarpun usianya itu masih amat muda, namun berkat gemblengan kepahitan hidup dia telah menjadi seorang dewasa yang telah matang. Selama enam tahun, hampir tak henti-hentinya dia menggembleng diri dengan latihan-latihan berat sehingga suhunya merasa amat gembira dan kagum. Dan dalam waktu enam tahun, Bun Houw telah dapat menguasai ilmu-ilmu suhunya dengan baik, bahkan hampir sempurna dan hampir dia dapat menandingi tingkat gurunya. Dan dia mampu hidup dalam dua macam dunia. Dunia terang, yaitu dengan membuka mata seperti orang biasa, dan dunia gelap, dunianya orang buta.

Dia sanggup berhari hari lamanya terus menutupkan kedua matanya seperti orang yang benar-benar buta, tanpa merasa canggung ataupun sengsara karena inderanya yang lain sudah demikian tajam mampu menggantikan pekerjaan mata. Mungkin karena latihan tidak mempengunakan kedua matanya inilah maka Bun Houw kini memiliki mata yang seperti sayu dan dibuka sedikit saja, seperti mata orang yang menanggung duka nestapa, akan tetapi dari balik kelopak mata yang hanya dibuka sedikit itu nampak mata yang mencorong bagaikan kilat menyambar. Apalagi kalau sewaktu-waktu dia membuka kedua matanya agak lebar, nampaklah sepasang mata yang amat tajam!

Selain berlatih silat, setiap harinya Bun Houw bekerja di sawah ladang milik suhunya yang berada di belakang rumah. Mereka tinggal di lereng sebuah bukit. Bukit itu tanahnya subur sekali dan semua penghuni dusun-dusun di kaki bukit bersawah ladang di tereng bukit itu. Guru Bun Houw membeli sebidang tanah di lereng dan dengan bantuan muridnya mendirikan sebuah pondok untuk mereka berdua. Para penghuni dusun yang kesemuanya petani, mengenal mereka sebagai guru dan murid yang baik budi dan ramah, namun diliputi penuh rahasia.

Hasil sawah ladang yang dikerjakan Bun Houw dan gurunya sudah lebih dari cukup untuk keperluan hidup mereka berdua, untuk makan dan membeli pakaian. Bun Houw semakin kagum dan mencinta gurunya. Biarpun gurunya itu dahulunya seorang pangeran, hidup di istana indah dan dimuliakan orang, namun kini gurunya tak pernah mau ketinggalan menggarap sawah ladang, mencangkul, menanam bahkan memelihara dan ikut pula menuai hasilnya. Gurunya seperti seorang petani tulen!

Karena setiap hari bekerja di ladang, maka Bun Houw memiliki kebiasaan seperti para petani lainnya di daerah itu, iyalah memakai sebuah caping lebar dan ringan terbuat dari pada bambu yang amat tipis. Caping lebar seperti itu, dengan tali melibat bawah dagunya, dapat melindunginya dari panas dan hujan, semacam payung kecil. Dan dia selalu mengecat capingnya dengan warna hitam.

Pada pagi hari itu, ketika matahari mulai terbit, Bun Houw sudah memakai capingnya dan memanggul sebuah cangkul, bertelanjang kaki dan dada. Nampak dadanya yang bidang, dengan kulit yang kecoklatan karena sering terbakar sinar matahari. Dia baru saja mandi di air sumber tak jauh dari pondok setelah pagi tadi, pagi sekali, dia sudah bangun, berlatih silat, memikul air dari sumber kepondok memenuhi bak air, baru kemudian dia mandi. Kini dia sudah siap pergi ke ladang.

"Bun Houw...!" Gurunya sudah duduk di belakang pondok, di atas sebuah bangku lebar buatan Bun Houw yang menjadi tempat kesayangan gurunya untuk duduk menghirup udara segar.

Bun Houw terheran. Biasanya, pagi-pagi sekali suhunya sudah bangun akan tetapi duduk bersamadhi di dalam kamarnya, baru keluar setelah sinar matahari menerangi bumi. Akan tetapi kini gurunya sudah duduk di situ.

"Suhu!” Bun Houw menghampiri dan berlutut di depan gurunya. "Sepagi ini suhu sudah keluar?"

"Mulai pagi hari ini, aku yang akan bekerja di sawah ladang, Bun Houw."

"Akan tetapi, setiap hari suhu juga bekerja di sawah ladang!”

"Hanya membantumu. Akan tetapi mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengolah tanah karena engkau harus pergi dari sini."

"Akhh...?" Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan gurunya itu. "Apa... maksud suhu? Apakah suhu hendak mengutus teecu (murid) pergi turun bukit ke dusun?"

Orang buta itu menggeleng kepala. "Memang turun bukit, akan tetapi bukan ke dusun di kaki bukit itu, melainkan jauh dan tidak kembali lagi ke sini."

"Suhu...!” Baru dia tahu bahwa suhunya bermaksud mengusirnya! "Teecu ingin tinggal bersama suhu di sini!"

"Ha-ha-ha, orang muda! Apakah engkau ingin selamanya di sini dan menjadi karatan di bukit ini? Kalau begitu, apa artinya engkau bersusah payah mempelajari Ilmu selama enam tahun ini? Sebatang cangkul diasah setiap hari sampai menjadi tajam sekali, apa artinya kalau tidak dipengunakan? Lupakah engkau akan cita-citamu untuk melanjutkan perjuangan ayahmu sebagai seorang pendekar yang melindungi kaum lemah tertindas, menentang penjahat yang jahat?"

Bun Houw teringat dan wajahnya berubah merah. Memang, dia telah menjadi seorang yang berkepandaian cukup, akan tetapi bagaikan seekor jago, dia adalah seperti seekor jago yang selalu dikurung dan diberi makan enak-enak sehingga dia menjadi keenakan dan gemuk. Dan kini, suhunya mengingatkan dia akan cita-citanya yang seperti telah dilupakannya karena dia ingin hidup tenang dan tenteram, enak-enakan terus di tempat sunyi itu.

"Maaf, suhu. Teecu tidak bermaksud melupakan cita-cita itu, hanya saja... bagaimana teecu tega meninggalkan suhu hidup seorang diri saja di tempat ini? Siapa yang akan melayani suhu, siapa yang akan mengerjakan sawah ladang suhu?"

"Bun Houw, kau kira aku ingin menjadi seorang tua yang dimanjakan? Bukankah setiap hari aku juga bekerja? Apa sih sukarnya mencukupi kebutuhan badanku ini? Jangan khawatir, aku akan tetap dapat hidup di sini, biarpun tidak ada engkau. Aku mengambilmu sebagai murid bukan untuk mendapatkan seorang pembantu dan pelayan!”

"Maafkan kelancangan teecu, suhu!” Bun Houw berkata, terkejut karena suhunya seperti orang yang tersinggung.

Tiauw Sun Ong menghela napas dan mengelus jenggotnya. "Sudahlah, kini pelajaranmu sudah tamat dan sudah tiba saatnya engkau harus merantau dan mempengunakan segala Ilmu yang kau pelajari di sini. Bawalah semua pakaianmu dan aku tidak dapat memberi bekal apa-apa kecuali ini." Dia menyerahkan sebuah kantung kain kuning kepada Bun Houw.

Ketika pemuda itu menerimanya, dia terkejut melihat isi kantung itu karena ternyata berisi uang emas, sedikitnya ada sepuluh tail banyaknya! "Ah, untuk apa emas ini, suhu? Begini banyak..."

"Aku masih mempunyai yang lain. Bun Houw. itu milikku yang kubawa dari Istana dahulu. kau simpanlah, dapat kau pengunakan untuk biaya hidup. Ketahuilah, dalam perantauan engkau amat membutuhkan uang, tidak seperti di sini engkau dapat hidup dari hasil tanah. Dan engkau terimalah pusakaku ini, pergunakan sepatutnya karena selama berada di tanganku, Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) ini tak pernah kupengunakan untuk melakukan kejahatan, bahkan tidak pernah membunuh orang!” Dia menyerahkan tongkatnya yang kelihatan butut itu, akan tetapi yang di sebelah dalamnya tersembunyi sebatang pedang pusaka yang ampuh.

"Terima kasih, suhu!” Sekali ini Bun Houw girang bukan main. Tentu saja pedang itu tidak asing baginya. Ketika dia digembleng ilmu pedang oleh gurunya, pedang Lui-kong-kiam itulah yang dia pengunakan untuk berlatih.

Setelah menerima uang dan pedang dari suhunya, dan diberi wejangan agar dia berhati hati dalam perantauannya, dan juga diberi tahu tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang diketahui suaranya, maka Bun Houw berangkat meninggalkan tereng bukit itu, memanggul buntalan pakaian dan menyelipkan tongkat butut berisi pedang itu di pinggangnya. Caping lebar hitam itu tidak ketinggalan, akan tetapi karena hari masih pagi dan matahari belum panas, caping itu tengantung di punggung menutupi buntalannya.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Cia Kun Ti juga seorang pedagang yang cukup berhasil di kota Nan-ping. Akan tetapi dia bekerja terlalu keras. Hal ini mungkin karena dia merasa rendah diri terhadap isterinya. Cia Kun Ti dahulunya adalah seorang karyawan dari ayah isterinya dan dia diambil mantu oleh majikannya itu. Setelah dia membuka toko sendiri, tentu saja modalnya adalah milik isterinya dan dia hanya mengerjakannya saja.

Maka diapun bekerja keras sehingga makin lama tokonya menjadi semakin maju. Akan tetapi, tetap saja dia merasa rendah diri dan selalu tunduk di bawah kemauan isterinya yang menguasai segalanya. Urusan apapun yang timbul dalam rumah tangga dan keluarga mereka, selalu keputusan terakhir berada di tangan isterinya!

Mereka hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Cia Ling Ay, yang seperti kita ketahui, ketika terjadi malapetaka menimpa keluarga Kwa, usianya empa belas tahun, Isteri Cia Kun Ti pulalah yang memaksa suaminya agar pertunangan antara Ling Ay dan Bun Houw diputus, dibatalkan!

Hal ini amat menyedihkan hati Ling Ay yang merasa kasihan kepada Bun Houw, juga diam-diam Cia Kun Ti menderita tekanan batin karena dia merasa berdosa kepada mendiang Kwa Tin, sahabat baiknya. Mereka telah saling mengikat perjodohan antara anak mereka itu, dengan sumpah, akan tetapi ketika keluarga Kwa dilanda malapetaka dan Kwa Bun Houw menjadi yatim piatu dan kehilangan segalanya, dia tidak dapat mengulurkan tangan menolong calon mantu itu, bahkan memutuskan ikatan perjodohan!

Ketika datang pinangan dari Cun-taijin, kepala daerah yang meminang Ling Ay untuk dijodohkan seorang puteranya, isteri Cia Kun Ti pula yang mendesak agar suaminya menerima pinangan itu tanpa banyak pikir lagi,

"Perlu apa kita bersangsi lagi? Kita seolah-olah kejatuhan bulan purnama! Sungguh, Tuhan telah memberkahi kita, memberkahi anak kita. Cun Tai-jin (Pembesar Cun) adalah orang nomor satu di Nan-ping! Dia bagaikan seorang raja saja di kota ini, orang yang paling berkuasa. Bukan hanya itu. Juga keluarga Cun selain berpangkat tinggi, mereka kaya raya pula. Kalau kita menjadi besan mereka, berarti nama keluarga kita akan terangkat tinggi, kita dihormati orang, dan anak kita pun hidup dalam kemuliaan dan kemewahan!” demikian antara lain isteri Cia Kun Ti mendesak suaminya.

"Akan tetapi, yang akan menikah adalah Ling Ay. Sudah sepatutnya kalan kita mendengar dulu pendapatnya, ia adalah anak tunggal kita, senangkah hatimu kalau kelak melihat Ia hidup menderita?"

"Menderita? Menderita bagaimana maksudmu? Engkau tentu sudah mengenal siapa itu Cun Kongcu (Tuan Muda Cun). Dia masih muda, dia pun ganteng dan tampan, pandai, bangsawan, kaya raya. Mau Apalagi? Semua orang tua ingin mempunyai mantu dia, semua gadis ingin mempunyai suami seperti dia! Dan engkau masih banyak rewel? Kita harus bersembahyang ke semua kuil, mengucap syukur dan terima kasih kepada Thian bahwa anak kita yang dipilih oleh Cun Kongcu!”

Ucapan isteri Cia Kun Ti itu memang tidak keliru. Cun Kongcu, atau nama lengkapnya Cun Hok Seng, adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang tampan. Ayahnya, kepala daerah Cun yang menjadi orang paling berkuasa di kota Nan-ping dan yang mencalonkan putera dan anak tunggal itu menjadi pembesar kelak, telah memberinya pendidikan sastra sehingga Cun Hok Seng menjadi seorang terpelajar yang dikagumi banyak gadis dan orang tua mereka.

Pertemuan antara Cun Hok Seng dan Cia Ling Ay terjadi secara kebetulan saja. Ketika itu, Cia Ling Ay ikut dengan ayah dan ibunya pergi ke kuil untuk bersembahyang. Hal ini terjadi atas permintaan Ling Ay yang diam-diam bermaksud untuk sembahyang memintakan berkah dan perlindungan untuk Kwa Bun Houw yang telah pergi selama empat tahun lebih dan tidak ada beritanya. Biarpun ia tahu bahwa tidak mungkin tali perjodohan antara mereka disambung lagi, namun ia merasa kasihan kepada bekas tunangan itu dan akan merasa ikut gembira kalau pemuda itu berada dalam keadaan selamat.

Ling Ay telah berubah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis, berusia delapanbelas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak mengharum. Ketika ia dan ibunya memasuki kuil, banyak pasang mata memandangnya penuh kagum, terutama sekali mata pria muda yang kebetulan berada di tempat itu. Sudah menjadi kebiasaan buruk para pemuda, kalau mereka sedang bergerombol dan melihat seorang wanita cantik, tentu timbul keinginan mereka untuk menggoda.

Demikian pula dengan enam orang pemuda yang kebetulan berada di halaman kuil itu. Begitu melihat Ling Ay dan ibunya, mereka sejak tadi sudah memandangi gadis itu penuh kagum, saling bisik dan tersenyum-senyum. Kemudian, merekapun menghampiri Ling Ay dan ibunya, sengaja mereka menghadang.

"Nona, bolehkah kami menemani nona bersembahyang!”

"Apakan nona hendak bersembahyang mencari jodoh?”

"Tak usah mencari jauh-jauh, nona. Pilihlah seorang di antara kami!”

Mereka itu menggoda sambil menyeringai. Wajah Ling Ay berubah merah, kemudian pucat karena merasa jerih dan khawatir kalau kalau para pemuda itu akan mengganggunya, Nyonya Cia Kun Ti memandang dengan mata melotot dan wajah berubah merah padam. Ia marah sekali.

"Kalian ini orang-orang muda sungguh tidak sopan dan kurang ajar! Belum saling mengenal kalian sudah berani mengajak anakku bicara." bentaknya marah.

"Aduh, bibi! Galak amat kepada calon mantumu."

"Bibi, sekarangpun berkenalan kan belum terlambat,"

"Anak bibi sungguh manis sekali!”

Pada saat itu, muncullah Cun Hok Seng. Dengan alis berkerut pemuda yang juga hendak bersembahyang ini melihat dan mendengar sikap lima orang pemuda berandalan itu dan dia cepat menghampiri, lalu menegur dengan suara garang.

"Sungguh tidak tahu malu sekali! Kalian ini orang-orang tidak tahu susila, hendak mencemarkan kesucian kuil ini?"

Melihat seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan berani mencampuri lima orang berandalan itu hendak marah. Akan tetapi mereka melihat dua orang pengawal berpakaian perajurit yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, berwajah keren berada di belakang pemuda itu dan mereka melotot marah. Melihat ini, mereka menjadi jerih. Apalagi ketika seorang di antara mereka mengenal Cun Hok Seng. Dia cepat memberi hormat dan berkata dengan suara merendah.

"Kiranya Cun Kongcu! Maafkan kami, kami hanya ingin berkenalan dan bersendau gurau.”

"Bukan begitu caranya orang yang ingin berkenalan. Hayo kalian pergi dari sini, atau ingin kusuruh tangkap dan seret ke pengadilan?"

Lima orang itu kini ketakutan karena yang lain kini mengenal pula pemuda itu sebagai putera kepala daerah! Mereka cepat memberi hormat lalu pergi meninggalkan kuil tanpa berkata apapun.

Itulah awal perjumpaan Cun Hok Seng dan Ling Ay. Ibu Ling Ay cepat menghaturkan terima kasih dan bersama puterinya memasuki kuil untuk bersembahyang. Sedangkan Cun Hok Seng terpesona dan sampai lama dia berdiri bengong saja. Akhirnya, dua orang pengawalnya yang menyadarkannya dan dari pengawal itulah Hok Seng tahu bahwa gadis yang membetot sukmanya tadi adalah puteri dari Cia Ku Ti, seorang pedagang di Nan-ping. Dan kemudian, kepala daerah mengutus seorang perantara untuk mengajukan pinangan setelah beberapa kali puteranya minta agar dijodohkan dengan puleri Cía Kun Ti itu.

Ketika pinangan itu diajukan, Cia Kun Ti tidak segera menerimanya melainkan minta waktu untuk berpikir-pikir dan hal inilah yang membuat isterinya marah-marah setelah perantara itu pulang. Watak Cia Kun Ti berbeda dengan isterinya. Dia lama sekali tidak memikirkan kepentingan diri sendiri menghadapi perjodohan puterinya, melainkan dia mementingkan kebahagiaan puterinya.

Bagaimana dia dapat menerima pinangan begitu saja tanpa lebih dulu mengetahui bagaimana pendapat puterinya, orang yang akan melaksanakan atau menjalaninya? Namun, keraguannya ini membuat isterinya marah-marah sehingga ia mengomel dan memaksa agar suaminya menerima pinangan itu.

"Baiklah... aku segera akan memberi kabar kepada Cun Tai jin dan menerima pinangannya itu dengan hormat. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita harus memberitahu kepada anak kita." Tanpa menanti ucapan isterinya lebih lanjut, Cia Kun Ti lalu memanggil puterinya.

Cia Ling Ay yang sedang sibuk di dapur bersama seorang pembantu rumah tangga, segera keluar dan menuju ke ruangan duduk di mana ayahnya dan ibunya sudah duduk menantinya. Melihat wajah kedua orang tuanya; itu nampak bersungguh-sungguh, ia lalu duduk di dekat ubunya.

"Ada urusan apakah ayah memanggilku,” tanyanya.

"Ling Ay, kami memanggilmu untuk minta pertimbanganmu tentang..."

"Bukan minta pertimbangan, melainkan untuk menyampaikan berita yang amat membanggakan hati kepadamu, Ling Ay." isteri Cia Kun Ti memotong ucapan suaminya. "Kita telah kedatangan seorang utusan dari keluarga Cun Taijin, anakku. Engkau tahu, yang kumaksudkan dengan Cun Taijin adalah kepala daerah di kota ini. Orang nomor satu di sini, paling berkuasa, paling kaya, paling terhormat..."

"Ada urusan apakah dengan kita, ibu?" Ling Ay memotong Ibunya agar rangkaian kata ‘yang paling’ itu tidak berkepanjangan.

"Urusannya? Engkau tentu tidak pernah dapat menduganya, atau mungkin engkau sudah bermimpi kejatuhan bulan? Aih, anakku yang manis, sungguh hati ibumu penuh dengan kebanggaan dan suka cita. Tahukah engkau mengapa Cun Taijin mengirim utusan ke sini? Untuk meminangmu!" Ibu itu sambil tersenyum bangga memandang wajah puterinya.

Akan tetapi Ling Ay mengerutkan alisnya dan ia nampak kaget sekali. "Meminang aku...?”

"Ya, engkaulah yang dipilih, anakku! Dan engkau tentu masih ingat. Pemuda yang ganteng itu, yang sopan santun dan menolongmu, di kuil itu. Dialah yang akan menjadi suamimu. Dia itu Cun Kongcu, putera tunggal Cun Taijin. Wah, engkau akan menjadi wanita yang paling mulia di kota ini!”

Akan tetapi, wajah gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti ibunya. Bahkan ia mengerutkan alisnya karena pada saat itu terbayanglah wajah Kwa Bun Houw, terbayang ketika pemuda itu meninggalkan rumahnya dengan muka pucat dan kepala menunduk. Empat tahun yang lalu. ia masih seorang gadis remaja berusia empat-belas tahun. Sampai sekarang pun ia tidakk pernah dapat melupakan Bun Houw, pemuda yang pernah menjadi tunangannya itu. Ia tidak pernah tahu apakah ia mencinta Bun Houw, karena ketika mereka ditunangkan, ia masih kecil dan ia masih belum mengerti benar apa artinya cinta.

Akan tetapi buktinya, sampai sekarang ia tidak pernah dapat melupakan Bun Houw, walaupun setiap kali teringat, yang terasa olehnya hanyalah perasaan iba yang mendalam. Ia selalu membayangkan betapa sakit perasaan hati pemuda itu ketika meninggalkan rumahnya, dan ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pemuda itu yang telah kehilangan segala-galanya. Orang tuanya, harta miliknya bahkan tunangannya!

"Ling Ay, bagaimana pendapatmu dengan pinangan itu?" pertanyaan ayahnya ini menyadarkan Ling Ay dari lamunan.

Lenyaplah bayangan wajah Bun Houw dan kini samar-samar ia teringat kepada pemuda yang pernah menegur para pemuda berandalan di kuil itu. Seorang pemuda yang memang tampan dan sopan, pikirnya, akan tetapi sama sekali ia tidak pernah merasa tertarik. Bahkan kini berita bahwa pemuda itu adalah putera tunggal Cun Taijin, dan telah meminangnya, tidak membuat hatinya merasa tertarik sama sekali.

"Ling Ay, kami telah menerima pinangan itu dengan hati gembira dan bangga sekali. Kami yakin engkaupun temu akan menjadi gembira. Bayangkan saja. Engkau akan hidup di dalam gedung seperti istana, dilayani banyak pelayan, dijaga pasukan pengawal, dihormati orang seluruh kota, hidup bermewah-mewahan dan mulia, naik turun kereta, mengenakan perhiasan lengkap dari emas permata..."

"Sudahlah, ibu. Kalau memang ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, untuk apa ditanyakan lagi kepadaku?"

"Aih, anakku, jadi engkau setuju?" Ibunya merangkulnya dengan gembira.

Akan tetapi, Cia Kun Ti memandang puterinya dengan penuh perhatian. "Anakku, mengapa engkau tidak gembira mendengar bahwa engkau akan menjadi mantu kepala daerah? Apakah engkau tidak setuju? Nyalakanlah pendapatmu agar hati ayah ibumu menjadi lega."

"Aih, Ingin pernyataan Apalagi? Anak kita tidak menolak, itu berarti ia sudah setuju. Ia tidak begitu bodoh untuk menolaknya! Menolak pinangan kepala daerah? Wah, hanya orang-orang gila yang akan menolak keberuntungan seperti itu!" kata isterinya.

Ling Ay melepaskan dirinya dari rangkulan ibnnya, lalu ia mundur selangkah, memandang wajah ayah dan ibunya dan betapa heran rasa hati orang tua gadis itu melihat bahwa kedua mata gadis itu basah. Ayahnya makin ragu, mengira bahwa anaknya tidak setuju maka menangis, sebaliknya ibunya mengira gadisnya menangis saking bahagianya!

"Ayah dan ibu, apa yang harus kukatakan lagi? Apa artinya pendapat pribadiku dalam saat ini? Kalau ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, sudah menyetujui, dapatkah aku menolaknya? Maka, terserah saja kepada ayah! dan ibu..."

"Tapi kau... kau menangis? Ling Ay, mengapa engkau berduka?" tanya ayahnya.

"Engkau ini sungguh bodoh! Anak kita menangis saking gembiranya, bukan karena bersedih!”

Ling Ay memejamkan kedua matanya karena air matanya kini turun semakin deras. "Ayah dan ibu..." Ia mengusap air mata dengan saputangan. "Aku... aku... teringat! kepada koko Kwa Bun Houw dan merasa kasihan sekali kepadanya..." Dan iapun lari meninggalkan ruangan itu, memasuki kamar sendiri.

Suami isteri itu saling pandang. "Ah, kiranya ia masih teringat kepada anak yatim piatu miskin itu?" kata isteri Cia Kun Ti, lalu ia menyerang suaminya. "Ini semua salahmu! Engkau bertanya yang macam-macam saja!” Wanita itu lalu lari ke kamar anaknya dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu yang dikunci dari dalam. Akan tetapi ia mendengar suara Ling Ay.

"Ibu, biarkan aku sendiri. Aku sudah menerima kehendak ibu, jangan ganggu aku lagi. aku ingin beristirahat..."

Ibunya terpaksa pergi dan mematuki kamarnya sendiri sambil bersungut-sungut. Cia Kun Ti yang ditinggal seorang diri di ruangan duduk, lalu menghela napas panjang. Dia ikut merasa sedih kalau-kalau anaknya itu berduka dan hanya menerima perjodohan itu karena terpaksa saja. Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang bahwa puterinya itu ternyata seorang yang berbudi baik, tidak pernah melupakan bekas tunangan yang diperlakukan dengan tidak adil dan semena-mena itu.

Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat sesuatu dan pertunangan dengan Kwa Bun Houw itu sudah putus, pemuda itu sudah bertahun-tahun tidak pernah ada beritanya, Apalagi sekarang dia harus menerima pinangan putera kepala daerah. Teringat ini, diapun cepat berkemas untuk mengenakan pakaian yang pantas karena dia harus berkunjung ke rumah keluarga kepala daerah untuk menyampaikan persetujuannya atas pinangan itu.

********************

Tanah kuburan yang biasanya sunyi itu kini penuh orang. Sejak pagi banyak orang datang berkunjung karena hari itu adalah hari Ceng-beng, yaitu hari yang merupakan hari besar bagi para keluarga untuk mengunjungi tanah kuburan nenek moyang mereka. Para keluarga ini melakukan sembahyang di depan makam orang tua atau kakek nenek mereka, membersihkan makam-makam keluarga itu.

Makam-makam yang sunyi itu nampak biasa saja. Sukar dibayangkan bagaimana perataan para penghuni makam itu andaikata masih memiliki perasaan seperti ketika masih hidup. Mereka yang telah mati itu hanyi setahun sekali menerima kunjungan sanak saudara, anak cucu. Setahun sekali, dalam waktu sejam dua jam saja, para keluarga itu datang berkunjung dan bersembahyang. Setelah itu, anak cucu itu segera pergi lagi, dan makam kembali menjadi sunyi. Penghuni makam dibiarkan sunyi sendiri, menanti sampai kunjungan berikutnya yang akan mereka terima setahun kemudian!

Selama "menunggu" itu, tak seorangpun di antara para anak cucu yang ingat akan makam itu, dan makam dibiarkan terlantar, hanya menjadi tempat mainan para penggembala kambing. Akan tetapi pada hari Ceng-beng itu, para anak cucu datang dengan pakaian yang baru, membawa hidangan untuk sembahyang dan ramailah keadaan di tanah kuburan yang biasanya amat sunyi itu.

Serombongan keluarga yang memasuki tanah kuburan itu tentu merupakan keluarga yang penting dan terpandang. Buktinya, hampir semua pengunjung tanah kuburan yang berpapasan dengan keluarga ini, segera memberi hormat, dan yang berada agak jauh, segera saling bisik membicarakan keluarga itu. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami Isteri yang masih muda. Juga sepasang suami isteri setengah tua dan diiringkan oleh enam orang pelayan dan lima orang pengawal yang berpakaian seragam. Keluarga pembesar!

Memang demikianlah. Suami-isteri muda itu adalah Cun Hok Seng dan isterinya, yaitu Cia Ling Ay! Sudah setahun mereka menikah dan kini Cun Hok Seng berusia duapuluh enam tahun, sedangkan Cia Ling Ay berusia duapuluh tahun. Mereka menikah setelah setahun bertunangan. Adapun suami Isteri setengah tua itu adalah Cia Kun Ti dan isierinya. Jelaslah bahwa yang menerima penghormatan semua orang itu adalah Cun Hok Seng, putera kepala daerah itu. Akan tetapi, yang merasa amat bangga sekali adalah nyonya Cia Kun Ti, Ibu Ling Ay. Padahal ia hanya membonceng saja, membonceng kehormatan dan kemuliaan mantunya, akan tetapi karena semua orang itu menghormat ke arah rombongan mantunya, maka iapun merasa terhormat dan seolah-olah ialah yang dihormati mereka!

Semua orang mengejar kehormatan ini! Semua orang bertingkah dan berharap agar mereka mendapat penghormatan dari orang lain. Semakin dihormat, semakin banggalah rasa hati ini, semakin merasa betapa dirinya ini ‘besar’. Pengejaran kehormatan ini sesungguhnya bukan lain hanyalah ketinggian hati, keinginan nafsu yang hendak mengangkat diri sendiri setinggi mungkin, yang menilai diri sendiri yang paling besar dan paling tinggi, paling hebat. Karena itu setiap, kali rasa diri besar ini terlanggar, akan marahlah si-AKU.

Sama juga dengan pengejaran harta benda yang dianggap akan merdatangkan kebahagiaan, demikian pula pengejaran terhadap kehormatan di dasari anggapan bahwa kehormatan akan mendatangkan kebahagiaan melalui kebanggaan. Padahal, kebahagiaan tidak mungkin dicapai melalui kesenangan berharta besar atau melalui kebanggaan berkedudukan tinggi. Segala macam bentuk kesenangan bukanlah makanan jiwa. melainkan sekedar permainan nafsu belaka dan biasanya, nafsu selalu mengejar yang lebih sehingga kesenangan yang dinikmati itu dalam waktu singkat saja sudah terasa hambar karena keinginan mengejar yang lebih.

Dan akibatnya maka muncullah kekecewaan dan penyesalan kalau yang dikejar itu tidak tercapai, atau kebosanan kalaupun tercapai karena kenyataan tidaklah sesenang yang dibayangkan selagi dalam pengejaran. Kesenangan jelas bukan kebahagiaan. Dan semua orang mengejar kebahagitan. Apakah sesungguhnya kebahagiaan? Demikian timbul pertanyaan abadi sejak dahulu. Semua orang mengejar kebahagiaan! Dan makin dikejar semakin tak nampak! Maka penting sekali mempelajari apa sesungguhnya kebahagiaan yang dikejar oleh setiap orang manusia ini. Apakah hanya sebuah kata? Kata kosong belaka?

Kebahagiaan jelas bukan kedukaan karena justeru di dalam penderitaan dukalah manusia merindukan kebahagiaan kebahagian bukan pula kesenangan karena semua orang yang merasakan kesenangan akhirnya mengakui bahwa kesenangan hanyalah sekelumit dan sementara saja sifatnya. Kalau kedukaan bukan kebahagiaan, dan kesenangan juga bukan kebahagiaan, lalu apa? Apakah kebahagiaan yang didambakan seluruh manusia di dunia ini? Tidak mungkinkah dirasakan orang selagi dia masih hidup? Apakah kebahagiaan hanya bagian orang yang sudah mati dan hanya terdapat di akhirat?

Semua pertanyaan ini timbul dan tak seorangpun yang mampu menggambarkan bagaimana sesungguhnya kebahagiaan itu. Bagaimana rasanya dan bagaimana keadaan seseorang yang benar-benar berbahagia! Agaknya pertanyaan yang sudah diajukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu ini takkan pernah dapat dijawab. Bagaimana mungkin menjawabnya kalau bahagia merupakan suatu keadaan yang tak tergambarkan? Suatu keadaan tabir batin yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan? Sekali dibicarakan atau diceritakan, maka cerita atau penggambaran itu tidak mungkin sama dengan yang digambarkan!

Bahagia bukan duka bukan suka. Kalau ada duka, tidak ada bahagia, kalau ada suka tidak ada bahagia. Jelas bahwa bahagia berada di atas suka duka. Merupakan anugerah Tuhan, dan hanya Tuhan yang akan dapat menjadikan seseorang berbahagia. Tak mungkin dicapai melalui usaha akal pikiran karena kebagiaan berada di atas akal pikiran yang menjadi sumber suka dan duka. Dan karena itu merupakan ciptaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, maka manusia tak mungkin dapat mencampuri.

Seperti halnya kelahiran dan kematian. Kita hanya dapat PASRAH, menyerah kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Bijaksana, yang akan mengatur segalanya! Hanya pasrah, penuh keiklasan dan ketawakalan. Betapapun juga, manusia hanyalah ciptaan, dan kekuasaan berada di tangan Sang Pencipta!


Sebelum Cun Hok Seng dan isterinya, ayah dan ibu mertuanya, tiba di tanah kuburan itu, lebih dulu serombongan orang yang menjadi pembantu mereka telah datang dan mempersiapkan segala keperluan sembahyang untuk putra kepala daerah Nan-ping dan keluarganya itu. Dan tentu saja persiapan sembahyang itu yang termewah di antara peralatan sembahyang semua pengunjung tanah atau taman kuburan itu.

Mereka berkunjung ke taman kuburan itu untuk menyembahyangi kakek dan nenek, juga nenek moyang mereka. Nenek moyang kedua pihak, keluarga Cun dan keluarga Cia. Tentu saja yang didahulukan adalah kuburan keluarga Cun, dan peralatan sembahyangan telah diatur lengkap oleh para pembantu di tanah kuburan keluarga Cun. Makam makam keluarga ini paling besar dan megah, bukan hanya liong-pai (batu nisan) yang besar dengan ukiran ukiran indah, bahkan dibangun seperti kuil dengan atap bergenting tebal dan dihias ukiran-ukiran naga.

Sebagian besar orang berani mengorbankan harta benda mereka untuk pembuatan bong-pai dan bangunan makam yang seindahnya. Indah dan mewah. Tentu saja dengan dalih bahwa mereka menghormati dan mencinta nenek moyang dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Bahkan keroyalan mereka membuang uang untuk membuat makam yang megah ini jauh melebihi kerelaan mereka memberikan harta benda kepada orang tua mereka ketika orang tua itu masih hidup!

Sungguh sayang sekali, di balik perbuatan menghamburkan harta benda untuk membuat makam yang amat indah dan mewah ini tersembunyi pamrih rendah. Pertama, pamrih agar mereka dipuji orang lain dan dianggap sebagai anak-anak yang u-houw (berbakti) kepada orang tua dan nenek moyang, di samping pamrih menyombongkan dan memamerkan harta kekayaan mereka.

Ke dua, pamrih agar mereka itu, dengan cara "berkorban" seperti itu, akan memperoleh doa restu dari arwah orang tua dan nenek moyang sehingga rejeki yang mereka terima akan berlimpahan, jauh melampaui segala biaya yang mereka keluarkan untuk pembuatan makam yang megah itu.

Dan pamrih kedua ini mereka percaya benar. Bahkan mereka itu dalam ketahyulan mereka, mengirim bongkahan bongkahan emas, kereta, rumah gedung, yang mereka lakukan dengan cara membuat semua itu dari kertas dan bambu, kemudian membakar semua benda palsu ini dengan kepercayaan bahwa semua benda itu di akhirat akan benar benar menjadi benda-benda aseli dan dapat dipengunakan untuk kesejahteraan arwah nenek moyang.

Hal ini tentu saja akan membuat arwah nenek moyang merasa senang dan melimpahkan berkah kepada anak cucu atau buyut yang u-houw (berbakti) itu. Sungguh merupakan suatu ketahyulan yang bodoh sekali, karena yang jelas sekali, perbuatan itu hanya mendatangkan keuntungan besar kepada orang orang yang pekerjaannya membuat benda benda palsu dan kertas itu dan yang mengatur persembahyangan karena mereka akan menerima upah yang amat besar.

Padahal, houw atau kebaktian memang merupakan suatu kebajikan, suatu kewajiban dan keharusan bagi setiap orang manusia beradab. Bakti kepada orang tua merupakan kasih sayang yang besar, terdorong oleh budi yang telah kita terima dari orang tua, semenjak kita dilahirkan, dibesarkan oleh orang tua. Kasih sayang ini tentu saja hanya dapat dibuktikan dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang tua selagi mereka masih hidup dan sesudah mereka meninggal dunia.

Kebaktian itu masih dapat dilanjutkan dengan menjaga semua perbuatan kita agar jangan sampai kita mengotori atau menodai nama baik orang tua kita dengan perbuatan yang jahat. Inilah houw atau kebaktian dalam arti yang sedalam-dalamnya. Houw atau kebaktian sesungguhnya hanyalah pelaksanaan dari perasaan cinta atau kasih sayang terhadap orang tua!


Setelah persembahyangan terhadap makam-makam nenek moyang keluarga Cun selesai dilakukan, barulah rombongan Cun Hok Seng, isterinya dan kedua mertuanya itu melakukan sembahyang di depan kuburan nenek moyang keluarga Cia...