Tangan Gledek Jilid 31

Tangan Gledek Jilid 31

“KURANG ajar sekali, ini tentulah perbuatan Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil menarik bantuan nenek siluman ini untuk mengacau kita. Kita kehilangan banyak tenaga, di antaranya Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun sampai tewas. Kalau kita tidak membalas, benar-benar merendahkan nama besar kita semua,” kata Liok Kong Ji.

"Liok-sicu, biarlah pinto yang akan menyelinap ke kota raja dan mengantarkan kepala nenek ini,” kata Lo-thian-tung Cun Gi Tosu dengan suara tenang.

"Perkenankan aku ikut dengan Con Gi To-tiong, ayah," kata Cui Kong cepat cepat karena pemuda ini ingin sekali mengalami hal-hal baru. Di samping gurunya yang lihai, ia tidak usah merasa takut.

Liok Kong Ji cukup percaya akan kelihaian tosu itu dan tahu pula bahwa tingkat kepandaian Cui Kong sekarang sudah demikian tinggi sehingga tidak berselisih banyak dengan kepandaiannya sendiri. Dua orang ini tentu dengan mudah dapat melampaui penjaga dan pengawal. Ia memberi perkenan dan berangkatlah dua orang itu menjelang senja membawa kepala Toat-beng Kui-bo yang dibun gkus kain kuning.

Memang dugaan Lio k Kong Ji tepat. Tosu itu bersama muridnya dengan mudah dapat melampaui para penjaga dan berhasil memasuki lingkungan istana pada malam hari itu. Akan tetapi beda dengan sepak terjang Toat -bong Kui-bo yang masuk sambil mengamuk dan membuh musuh, dua orang ini berlaku hati-hati sekali dan masuk tanpa diketahui orang. Cun Gi Tosu maklum betul bahwa kalau sampai ketahuan, keadaan mereka amat berbahaya karena di istana banyak terdapat orang pandai. Bahkan ia memesan kepada Cui Kong agar supaya hati-hati dan tidak boleh membunuh orang secara sembarangan saja.

"Kita harus menghemat tenaga dan hanya turun tangan kalau bertemu dengan orang penting. Setidaknya harus keluarga Pangeran Wanyen yang kita bunuh atau culik. Membunuh penjaga-penjaga dari perwira biasa saja tidak akan menggemparkan dan tidak mengangkat nama kita,” demikian kata tosu itu kepada Cui Kong yang maklum akan maksud gurun ya.

“Demikianlah, menjelang tengah malam tosu ini bersama muridnya berhasil memasuki istana Pangeran Wanyen Ci Lun. akan tetapi mereka terkejut melihat penjagaan yang amat kuat. Apalagi tempat di mana pangeran itu berada, yaitu di kamarnya. terjaga kuat sekali sehingga mereka tidak mungkin menyerbu.

Tiba tiba terdengar suara anak kecil menangis dari kamar itu. Cun Gi Tosu dan Cui Kong yang mendekam di tempat mengintai. Terdengar suara Wanyen Ci Lun memberi perintah kepada para penjaga supaya menjaga lebih teliti, dan kepada seorang pelayan wanita setengah tua pangeran itu berkata. “Anak ini menangis saja, bawa keluar dan biar dia tidur denganmu!"

Tak lama kemudian, pelayan pengasuh itu keluar memondong seorang anak perempnan berusia dua tahun lebih yang menangis terus. Beberapi orang penjaga bergerak-gerak di tempat gelap dan nampak berkilaunya pedang dan golok terhunus dari para penjuga istana itu. Pintu kamar tertutup kembali. akan tetapi segera terdengar jerit wanita pemondong anak tadi yang roboh dan anak kecil itu kini sudah berada dalam pondongan seorang tosu yang berkaki buntung.

"Penjahat! Penculik!” teriak para penjaga menggema di malam gelap. Beberapa sosok bayangan para penjaga ini berkelebat mengejar, akan tetapi empat orang penjaga menjerit robo h terkena pukul an dari belakang yang ternyata dilakukan oleh Cui Kong dengan hun-cwe. Banyak penjaga datang berlari ke tempat itu, di antaranya banyak pan glima yang berkepandaian tinggi.

Teriakan "tangkap penjahat” makin gencar terdengar dari empat penjuru. Akan tetapi dengan gerakan kilat Cun Gi Tosu melemparkan bungkusan kuning ke arah para penjaga. Seorang panglima menyampok bungkusan itu yang jatuh menggelinding ke arah lantai. Bungkusan terbuka dan... para pengejar untuk sejenak terkesiap melihat kepala Toat beng Kui-bo yang nampak lebih menyeramkan dari pada ketika masih hidup.

"Celaka...!” teriak seorang panglima. "Kejar mata-mata Mongol itu!”

Akan tetapi Cun Gi Tosu dan Cui Kong sudah menghilang di dalam gelap, berlari cepat keluar dari lingkungan istana. Mereka menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara. Tanda bahaya dari istana itu dengan cepat sudah terdengar oleh seluruh penjaga di pintu-pintu gerbang kota raja dan semua orang menjaga dengan teliti. Oleh karena inilah maka tidak begitu mudah bagi Cun Gi Tosu dan Cui Kong untuk keluar, tidak seperti masuknya tadi.

"Kita harus menggunakan, kekerasan!” kata Cun Gi Tosu yang mengikat anak itu di pungungnya dan menyumpal mulut yang kecil itu dengan saputangan sehingga tidak dapat menangis lagi. Dengan hati-hati mereka berlari menuju pintu gerbang. Cun Gi Tosu menyeret tongkatnya, Cui Kong memegang huncwenya.

"Berhenti! Siapa itu?” bentak dua orang penjaga yang berdiri terdepan ketika melihat bayangan dua orang mendatangi. Akan tetapi jawaban pertanyaan ini adalah berkelebatnya sinar hitam dan di lain saat dua orang penjaga itu roboh dengan kepala pecah dan nyawa melayang!

“Mata-mata Mongol jangan lari!" terdengar bentakan dari belakang dan sebatang pedang sang digerakkan secara cepat bukan main menyambar ke arah leher Cui Kong.

Pemuda ini kaget sekali, cepat memutar tubuh sambil main kan huncwenya menangkis. Ternyata yang menyerang adalah seorang gadis cantik dan gagah yang datang bersama Wan Bi Li dan Wan Sun yang sudah pernah dijumpainya. Gadis gagah ini bukan lain adalah Coa Lee Goat. Usianya paling banyak baru enam belas tahun, akan tetapi dara remaja ini sudah mewarisi ilmu pedang dari Wan Sin Hong gurunya, maka ia lihai sekali. Sementara itu, Wan Bi Li dan Wan Sun juga menyerbu mengeroyok Cu Gi Tosu.

Setelah dekat dengan ayahnya yang mengaku sebagai ayah angkatnya, kepandaian Bi Li makin meningkat. Apalagi dalam hal memelihara ular, ia malah mendapat julukan atau cuma poyokan Dewi Ular karena jarang orang melihat dia tidak membawa ular. Dalam pertempuran inipun ia mempergunakan senjata aneh yaitu ular hidup yang dimainkannya sebagai orang bermain senjata joan-pian (cambuk).

Inilah permainan ilmu silat joanpian dengan ular hidup yang ia pelajari dari gihu (ayah angkatnya). Di sampingnya, Wan Sun mainkan pedangnya yang juga amat lihat karena pemuda ini sudah mewarisi kepandaian Ang-jiu Mo-li bahkan sudah mulai memperdalam ilmu Silat Kwan Im Cam-mo (Dewi Kwan Im Menaklukkan Iblis) yang terkandung dalam kttab Omei-san yang terjatuh ke dalam tangan Ang-jiu Mo-li.

Sebetulnya Cun Gi Tosu tidak usah takut menghadapi keroyokan putera dan puteri Pange ran Wanyen Ci Lun ini karena tingkat kepadaiannya masih jauh lebih tinggi, juga Cui Kong masih lebih lihai dari pada Lee Go at. Akan tetapi guru dan murid ini maklum bahwa mengalahkan tiga orang pengejar muda ini bukan hal yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, sedangkan di dalam kota raja masih banyak terdapat orang-orang pandai yang se tiap saat pasti akan datang mengeroyok.

"Cui Kong, mari kita pergi! Buka jalan darah!” seru Lo-thian tung Cun Gi Tosu kepada muridnya.

Cui Kong terpaksa mentaati perintah suhunya karena iapun maklum akan bahayan ya tempat itu. "Totiang, apa kita tidak bisa membawa Nona Ular itu bersama kita pulang?" tanyanya, karena melihat Bi Li kembali timbul gairah dan cintanya.

"Hush, jangan main-main. Lekas kita pergi...!” bentak tosu itu.

Keduanya memutar senjata lalu membalikkan tubuh dan menyerbu penjaga yang menghadan g di depan pintu gerban g yang tertutup. Sebentar saja lima-enam orang penjaga roboh terkena terjangan dua orang lihai ini dan sebelum Bi Li, Wan Sun dan Lee Goat sempat menghalangi, dua orang itu sudah melayang naik ke atas pagar tembok. Beberapa orang penjaga di atas pagar tembok melepas anak panah, akan tetapi hujan anak panah ini sia-sia saja. Runtuh semua ketika tiba di depan dua orang yang sedang melompat, kena disampok oleh putaran senjata mereka.

Ketika para penjaga itu bendak menyerang, kembali beberapa orang roboh dan terus terjungkal ke bawah benteng mengeluarkan pekik mengerikan. Bagaikan dua ekor ular, Cui Kong dan gurunya melayang turun keluar pagar tembok dan sebentar saja mereka sudah selamat tiba di barisan mereka sendiri. Tentu saja hal ini menggirangkan hati Jengis Khan yang tadinya marah sekali karena kehilangan beberapa orang penglima termasuk Bouw Gu yang se tia.

Kini hinaan dari fihak Kin sudah terbalas dan nama kehormatan orang Mongol sudah terangkat lagi olek sepak tcrjang Cu Gi Tosu dan Cui Kong. Dua orang ini diberi hadiah besar. Pesta gembira diadakan untuk menyambut mereka dan Kong Ji merasa puas melihat tosu itu berhasil menculik seorang anak dari Wanyen Ci Lun.

"Totiang, hendak diapakan anak perempuan dari Pangeran Wanyen Ci Lun ini?" tanyanya kepada Cun Gi Tosu.

Tosu kaki bunting itu tersenyum. "Tidak kusengaja dapat menculik puteri Pangeran Wanyen dan kebetulan sekali anak ini bertubuh baik. Sayang kalau dibiarkan tersia-sia.”

"Kita bawa saja ke Ui-tok-lim, totiang.” kata Cui Kong.

Tosu itu mengangguk.angguk. "Betul, memang dia patut menjadi panghuni Ui-tok-lim.”

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Sementara itu, di dalam istana Pangeran Wanyen Ci Lun menjadi gempar. Pangeran ini marah sekali, bukan saja melihat kepala Toat-beng Kui-bo yang berarti panghinaan besar bagi istana Kin, akan tetapi juga me rasa mendongkol sekali karena bocah itu kena diculik. Dia tidak tahu siapakah anak itu yang oleh Toat-beng Kui-bo dititipkan kepadanya, akan tetapi dia dan isterinya merasa suka sekali melihat bocah yang mungil itu.

Biarpun sekarang Toat-beng Kui bo sudah tewas dan tidak ada orang yang akan menuntutnya karena hilangnya bocah itu, namun di dalam hatinya pangeran ini merasa be rdosa dan bersalah. Masih baik kalau anak yang terculik itu mendapat perlakuan baik dari orang-orang Mongol, Kalau sebaliknya, bukankah itu kesalahannya?

Pada keeaokan harinva, Pangeran Wanyen Ci Lun duduk di dalam kebun belakang istananya bersama Gak Soan Li. Juga di situ hadir. Wan Bi Li dan Wan Sun yang menceritakan pengalamanoya malam tadi ketika mangejar penjahat.

"Pemuda yang me megang huncwe itu mengaku bernama Liok Cui Kong, putera Liok Kong Ji. Dia memang lihai dan jahat.” kata Wan Bi Li menutup penuturunnya.

Memang sudah terdengar berita oleh Pangeran Wanyen Ci Lun dan isterinya bahwa Liok Kong Ji masih hidup dan kini membantu pergerakan orang-orang Mongol. Kini Gak Soan Li yang menjadi agak pucat mendengar penuturan Bi Li, tak tertahan lagi mengutarakan keheranannya yang terpendam sekian lama.

“Tidak salahkah bahwa si jahat Liok Kong Ji masihb hidup? Pedang di tanganku sendiri yang mencabut nyawanya, kutusuk dadanya sampai tembus ke punggung. Bangkainya sudah di kubur, bagaimana sekarang dia bisa muncul diantara orang Mongol, Benar-benar aku masih belum percaya.”

"Banyak orang yang mehhat dia itu betul-betul Liok Kong Ji. Memang aku sendiri juga merasa heran seperi yang kaupiktrkan. Benar-benar manusia itu selalu membawa bencana. Kurasa hanya seorang di dunia ini dapat menerangkan rahasia aneh ini,” kata Pangera Wanyen Ci Lun perlahan.

“Wan Sin Hong...?” terdengar Gak Soan Li bertanya, suaranya lemah.

Wanyen Ci Lun mengangguk. Di antara suami isteri ini terdapat rahasia besar. Di dalam cerita indah PEDANG PENAKLUK IBLIS diceritakan betapa sebelum menjadi isteri Pangeran Wanyen Ci Lun, Gak Soan Li telah menjadi kurban kebiadaban Liok Kong Ji sehingga Gak Soan Li melahirkan seorang putera yang bukan lain adalah Tiang Bu.

Akan tetapi semua hal ini terjadi ketika Soan Li berada dalam keadaan kehilangan ingatan. Jauh sebelum itu, sebelum menjadi korban Liok Kong Ji, Soan Li telah berjumpa dengan seorang pemuda yang dianggapnya seorang pemuda bodoh sederhana bernama Gong Lam dan gadis yang gagah itu telah jatuh cinta kepada Gong Lam. Lalu oleh kekejian Kong Ji, Gak Soan Li kehilangan ingatannya. Setelah sadar, ia hanya ingat dua orang. Wan Sin Hong yang di bencinya karena ketika melakukan kekejiannya, Kong Ji mengaku bernama Wan Sin Hong. Dan orang ke dua adalah Gong Lam yang tetap dicintanya dan kembali Liok Kong Ji yang mengaku se bagai Gong Lam, crimper. mempergunakan kesempatan selagi Soan Li masih kehilangan ingatan. Padahal Gong Lam itu bukan lain adalah Wan Sin Hong.

Untuk mengetahui peristiwa ruwet dan menarik ini lebh jelas, silakan baca cerita PEDANG PENAKLUK lBLIS

Sampai sekarang Soan Li masih belum sadar betul akan duduknya perkara. Dia hanya mengira babwa Gong Lam itu sebetulnya tidak ada, yang ada ialah Pangeran Wanyen Ci Lun yang semenjak dahulu ia cinta, memang wajah Gong Lam alias Wan Sin Hong itu serupa benar dengan wajah Pangeran Wanyen Ci Lun, seperti pinang dibelah dua. Memang mereka ini sesungguhnya masih saudara misan. Perlahan-lahan Pangeran Wan yen Ci Lun suka menceritakan kepada isterinya tentang Wan Sin Hong yang dianggap saudaranya dan seorang ggah perkasa yang amat ia cinta dan hormati.

Setelah mendengarkan penuturan Wan Bi Li dan Wan Sun tentang penyerbuan dua orang mata-mata Mongol itu. Wanyen Ci Lun menarik napas panjang dan berkata kepada Soan Li. "Isreriku, bagi seorang panglima yang penuh tanggung jawab terhadap negaranya, aku sama sekali tidak tahut atau khawatir terhadap musuh. Kau tahu bahwa aku siap sedia mengurbankan nyawa demi membela negara. Akan tetapi kalau aku melihat engkau dan anak-anak kita, berat juga rasa hatiku. Memang akupun tahu bahwa kau cukup pan dai menjaga diri, demikian pula Bi Li dan Sun-ji. Akan tetapi. menghadapi balatentara Mongol yang begitu banyaknya. bagaimana kelak kita bisa saling membantu? Aku tetap akan merasa khawatir kalau kau dan anak-anak kita tidak mengungsi ke selalan. Ikutlah dengan Hong Kin dan isterinya ke Kim-bun to. Kelak kalau aku dapat lolos dengan selamat dari perang ini. pasti aku akan menyusul ke sana. Andaikata aku gugur, kau dan anak-anak pun, berada di tempat aman dan aku akan mati dengan mata meram.”

"Tidak, tempat kami di sini, di sampingmu. Dalam suka maupun duka," jawab Soan-Li dengan suara tetap. "Bukankah begitu, anak-anak?”

"Betul, ibu. Ayah, akupun harus membantn ayah berjuang melawan iblis-iblis Mongol!" kata Wan Sun.

"Kalau saja ayah tidak menghadapi musuh dan negara sedang aman, aku akan suka sekali pelesir ke Kim bun-to. Akan tetapi dalam kedaan seperti ini, bicara tentang pelesir sungguh bukan pada tempatnya. Ayah, kita masih belum kalah oleh tikus-tikus Mongol, mengapa ayah nampak berkhawatir?" kata Wan Bi Li sambil mendekati ayahnya dengan sikapnya yang manja.

“Kalian tidak tahu... balatentara Mongol luar biasa kuatnya, mereka beberapa kali lipat banyak dari pada kita. Kota raja sudah terkurung rapat, tidak ada ransum dapat di datangkan dari luar. Berpuluh-puluh gerobak ransum yang datang dari selatan juga sudah dirampas mereka. Bukan aku takut, akan tetapi benar-benar harapan kita tipis sekali, sekarang kiranya masih mungkin bagi kalian untuk menerobos keluar dari kepungan, mengungsi ke selatan seperti dilakukan oleh kaisar dan pembesar tinggi dan...“

“Akan tetapi mengapa kau sendiri tidak pergi mengungsi? Kau mendesak kami menyelamatkan diri, mengapa kau sendiri tidak ikut pergi?" Soan Li menegur suaminya.

"Aku lain lagi. Aku seorang pangeran kerajaan Kin, aku harus membela negara dan kerajaan sebagai seorang panglima yang setia. Akan tetapi lain lagi dengan kau dan anak-anak. lnilah sebab-sebabnya mengapa aku memberi she Wan kepada anak anak kita, aku ingin mereka tetap menjadi orang Han, bercampur dengan rakyat jelata di Tiongkok, jangan dicap bangsa penjajah."

Pada saat itu muncul Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Nyonya ini sambil tertawa berseru keras, "Coba lihat, siapa yang datang bersama kami?”

Pangeran Wanyen Ci Lun mengeluarkan suara girang, melompat dari kursinya, berlari maju dan di lain saat ia sudah berpelukan dengan Wan Sin Hong! Gak Soan Li duduk seperti patung di atas kursinya, wajahnya dan matanya terbelalak memandang ke Wan Sin Hong dan Pangeran Wanyen Ci Lun. Dua orang laki-laki setengah tua yang serupa benar wajahnya, tampan dan gagah, hanya pakaian saja yang berbeda. Pangeran Wanyen berpakaian seperti seorang panglima sedangkan Wan Sin Hong berpakaian sederhana.

"Aku pernah bertemu dengan dia... aku pernah bertemu dengan diaa...“ demikian kata hati nyonya ini dan dadanya berdebar aneh, keningnya yang masih halus itu berkerut-kerut seakan-akan ia sedang mengerahkan tenaga otaknya untuk mengingat-ingat.

Di belakang Sin Hong muncul Siok Li Hwa yang masih cantik gagah, akan tetapi kelihatan lesu dan berduka. Nyonya ini digandeng oleh Coa Lee Goat, murid suaminya juga muridnya.

"Saudaraku yang baik...! Tentu Thian yang menuntunmu mengunjungi kami yang sedang amat mengharap-harapkan kedatanganmu. Silakan duduk di dalam. kita bicara..."

Wan Sin Hong menjadi terharu dan matanya basah ketika ia memandang kepada pangeran itu dan kepada Gak Soan Li yang masih duduk mematung, kemudian ketika ia melirik dan melihat Wan Bi Li sudah bergandeng tangan dengan Lee Goat dan dua orang gadis itu berbis ik-bis ik agaknya membicarakan. mereka yang baru datang, wajahnya yang tadinya muram menjadi agak berseri

"Ah, sekarang kalian sudah menjadi sahabat baik, bukan? Memang semua adalah orang sendiri. Dulu di Omei-san kalian berkelahi!”

"Suhu, dulu teecu tidak tahu bahwa Bi Li adalah puteri dari bibi guru sendiri. Kalau tahu masa bertempur?" jawab Lee Goat tertawa.

Sin Hong memperkenalkan isterinya kepada Pangeran Wanyen Ci Lun dan mereka memberi hormat sebagaimana mestinya. Sin Hong menghadapi Soan Li dengan wajah tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, ia menjura sambil berkata sopan, “Harap hujin banyak baik... “

Soan Li hanya menjura kepada Sin Hong dan isterinya, bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi hatinya berbisik. “ Aku pernah mengenalnya, pernah mengenalnya...”

Pangeran Wanyen Ci Lun mengajak tamu-tamunya masuk ke ruangan dalam untuk bercakap-cakap dan tak lama kemudian Pangeran Wanyen Ci Lun duduk menghadapi Wan Sin Hong dan Coa Hong Kin, sedangkan di ruangan belakang Gak Soan Li bercakap-cakap gembira dengan Go Hui Lian dan Siok Li Hwa. Baik penuturan Li Hwa kepada Soan Li dan Hui Lian, maupun penuturan Sin Hong pada Pangeran Wanyen Ci Lun dan Hong Kin, amat mengejutkan para pendengarnya. Hati siapa yang takkan terkejut dan menyesal mendengar bahwa anak perempuan yang tadinya dibawa oleh Toat-beng Kui-bo dan yang baru kemarin siculik oleh mata-mata Mongol, bukan lain adalah onak tunggal dari Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa!

Pangeran Wanyen Ci Lun mengge brak meja. "Celaka! Kalau tahu demikian, tentu anak itu takkan pernah kubiarkan terpisah dari sampingku. Pantas saja kami amat suka kepadanya, kiranya dia Itu anakmu...?” Cepat ia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam tadi di mana anak itu telah terculik ole h seorang tosu buntung dan seorang pemuda putera Liok Kong Ji.

Wan Sin Hong menjadi pucat mendengar ini. “Putera Liok Kong Ji? Sampai sekarang iblis itu masih tetap menggangguku. Tunggu saja kau. Kong Ji. lain kali kita bikin perhitungan. Awas, kau kalau sampai anakku terganggu,” kata Sin Hong mendengar penuturan itu. Kemudian atas permintaan Pangeran Wanyen Ci Lun, ia lalu menuturkan pengalamannya secara singkat selama ini.

Seperti telah kita ketahui, kurang lebih tiga tahun yang lalu ketika Tiang Bu mengunjungi Toat-beng Kui-bo di Ban-mo- tong, Wan Sin Hong berada di sana bersama istertnya yang ketika itu sedang mengandung. Tadinya Wan Sin Hong mengejar Toat berg Kuibo yang membawa Siok Li Hwa, akan tetapi ketika tiba di Ban-mo-tong, ia mendengar hal yang amat mengherankan hasilnya, yaitu bahwa Toat beng Kui-bo sesungguhnya adalah ibu sendiri dari Li Hwa!

Li Hwa amat percaya kepada keterangan Toat-beng Kui-bo yang dapat menceritakan segala hal tentang Pat-jiu Nio-nio gurunya dahulu ketika ia masih berada di perkumpulan Hui-eng-pai. Juga Li Hwa amat kasihan melihat nenek itu, maka nyonya yang memang sejak kecil rindu sekali untuk bertemu dengan ibunya, menjadi tidak tega meninggalkan Toat-beng Kui-bo dan membujuk suaminya untuk mengawan "ibunya" di tempat yang menyeramkan itu.

Pada waktu itu Sin Hong sedang menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan terutama sekali karena sikap bermusuh dari tokoh-tokoh kang-ouw setelah mereka mendengar bahwa dia masih keturunan keluarg pangeran Kin. Inilah sebabnya me ngapa Sin Hong me nuruti permintaan isterinya dan suami isteri ini tinggal di tempat itu seperti mengasingkan diri sambil melayani keperluan Toat-beng Kui-bo dan mengawasi nenek itu. Betapapun juga, di dalam lubuk hatinya Sin Hong masih ragu-ragu dan curiga, belum sepenuh hati dapat menerima bahwa isterinya adalah anak kandung dari nenek yang mangerikan itu.

Waktu berjalan cepat sekali, Li Hwa melahirkan seorang anak perempuan, Toat-beag Kui-bo kelihatan sayang sekali kepada “cucunya" ini dan seringkali nenek itu datang menimang-nimang bayi itu. Sin Hong sudah mulai bosan tinggal di tempat itu, akan tetapi Li Hwa selalu membujuknya agar supaya mereka tinggal di situ dan mengawani ibunya sudah sangat tua.

"Ibu sudah berusia tua sekali, bagaimana kalau kita tinggalkan seorang diri lalu jatuh sakit? Siapa yang akan merawatnya? Kau harus tahu bahwa semenjak kecil aku tidak pernah dekat dengan dia, kalau tidak sekarang pada saat dia sudah sangat tua aku melakukan kewajiban dan baktiku sebagai anak, mau tunggu kapan lagi?” demikian isteri ini membantah dan terpaksa Sin Hong menahan sabar.

Memang kesabaran Sin Hong luar biasa sekali, hasil latihannya ketika ia berada di Luliangsan. Kembali dua tahun lebih lewat dan Wan Leng atau yang biasa mereka panggil Leng Leng anak itu sudah berusia dua tahun dan menjadi seorang anak yang mungil.

Pada suatu hari ketika Sin Hong sedang duduk di lereng memandang ke tempat jauh, agaknya rindu untuk berkelana turun dari tempat itu. bertemu dengan sahabat-sahabat baik dan orang-orang gagah di dunia kangouw, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, ia kaget sekali karena maklum bahwa orang yang dapat datang di dekatnya tanpa ia dengar, hanyalah orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi sekali. Ketika ia melompat berdiri dan memutar tubuh, ternyata yang berdiri di depannya adalah Ang-jiu Mo-li, masih tetap cantik seperti dulu biarpun usia sudah empat puluh tahun lebih, hampir lima puluh tahun.

“Ang-jiu Mo-li mengejutkan orang. Ada keperluan apakah kau sampai datang ke tempat ini?”

“Wan Sin Hong manusia pelamun! Makin tua kau makin tidak ada tidak ada guna!” Ang Jiu Mo-li mengejek.

"Hmmm, mungkin...” jawab Sin Hong sebal karena memang sudah sering kali ia merasa bahwa ia makin tiada guna, maka ejek orang amat mengenai hatinya. "Akan tetapi mengapa kau berkata demikian?”

"Di utara api peperangan sudah bernyala- nyala. Orang-orang gagah mempergunakan kesempatan untuk mengeluarkan kepandaian agar tidak sia-sia. Akan tetapi kau, yang katanya berdarah bangsawan Kin, yang terkenal sebagai pangeran bangsa Kin berpakaian Han. kau memeluk lutut melamun di sini bersenang-senang dan berbulan madu yang tiada berkesudahan dengan isterimu, menjadi kaki tangan dari siluman tua Toat-beng Kui-bo. Cihh, tak tahu malu dan betul betul seorang pengecut besar."

"Ang jiu Mo-li, kau datang-datang memaki aku apakah maksudmu? Mau apa kau datang ke sini?"

"Lupakah kau akan pertemuan kita yang lalu ketika aku menampar muka wanita yang sekarang menjadi isterimu? Aku datang untuk membuktikan sampai di mana ke pandaianmu, orang pemalas dan pelamun yang sudah pernah berani mengagulkan diri sebagai seorang bengcu! Bersiaplah kau!”

Sin Hong melihat betapa kedua tangan wanita itu perlahan-lahan berubah warnanya, menjadi merah muda menjadi merah tua. Ia makum apa artinya. Memang Ang-jiu Mo-li amat terkenal namanya oleh kedua tangan ini yang mengandung sinkang beracun luar biasa kuat dan berbahaya. Ia menarik napas panjang.

"Ang-jiu Mo-li, sebetulnya aku merasa enggan untuk bertempur dengan seorang wanita tan pa sebab-sebab yang kuat. Akan tetapi karena kau tadi sudah me maki aku seorang pengecut, terpaksa aku harus membe la diri dan membuktikan bahwa makianmu tidak berdasar. Aku sudah siap. Ang-jiu Mo-li.”

"Bagus, jaga seranganku!" seru wanita itu gembira. Sudah lama sekali ia rindu untuk mengukur kepandaian pendekar yang terkenal ini dan baru sekarang ia mendapat kesempatan. Selain itu, semenjak ia bertemu dengan Sin Hong dahulu, diam-diam Ang-jiu Mo-li sering kali duduk termenung dan melamun. Belum pernah selama hidupnya ia tertarik oleh laki-laki, akan tetapi bengcu muda ini benar-benar telah merebut hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa sakit hatinya dan betapa kecewanya ketika ia mendengar bahwa kini Wan Sin Hong s udah menjadi suami Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.

Wan Sin Hong berlaku hati-hati sekali dalam men ghadapi serangan Ang-jiu Mo-li. Ia maklum bahwa wantia ini bukanlah lawan biasa, sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena memiliki kepandaian yang tingkatnya sudah amat tinggi. De ngan penuh perhatian ia menghadapi serangan lawan, mengerahkan kepandaian dan tenaganya untuk mempertahankan diri dan balas menyerang. Kepandaian Ang-jiu Mo-li memang sudah setingkat dengan Sin Hong.

Wanita sakti ini ketika menjelajah di utara, sudah mengemparkan tokoh-tokoh utara, bahkan sudah menggegerkan tokoh-tokoh Mongol dengan kepandaiannya yang tinggi. Liok Kong Ji sendiri di utara hampir menjadi korban tangannya ketika Liok Kong Ji yang mata ke ranjang tertarik oleh kecantikannya dan mencoba mengganggunya. Kalau saja tidak dikeroyok oleh banyak tokoh Mongol yang tinggi kepandaiannya, tentu Ang-jiu Mo-li tidak akan melarikan diri dan Kong Ji dapat selamat terlepas dari tangannya.

Sebaliknya Wan Sin Hong yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertempur melawan orang-orang pandai, juga tidak merosot kepandaiannya, bahkan selama ini ilmu lweekangnya meningkat. Dalam pertempuran menghadapi lawan ini ia berlaku tenang sehingga biarpun Ang jiu Mo-li mengeluarkan semua ke pandaian dan menyerang dengan cepat dan gencar, Sin Hong dapat me ngimbanginya. Jarang ada pertempuran tangan kosong demikian ramainya, di mana tipu dilawan tipu dan kegesitan dilawan ketangkasan. Bayan gan dua orang ini sampai sukar dikenal lagi, sepeti sudah menjadi satu.

Kegagahan Sin Hong ini makin menggerakkan hati Ang jiu Mo-li yang mencinta Sin Hong. Dahulu ketika masih muda wanita ini selalu bersumpah bahwa ia takkan mau menikah dengan orang yang tidak dapat melawan kepandaiannya, dan benar saja. Tak pernah ia menemui laki-laki yang wajahnya mencocoki hatinya dan kepandaiannya dapat mengimbangi kepandaiannya. Kini menghadapi Sin Hong yang memang sudah menarik hatinya ia menjadi kagum bukan main sehingga wajahnya menjadi merah napasnya memburu dan matanya bersinar-sinar.

"Wan Sin Hong, tahan dulu!” katanya.

Sin Hong pun menghentikan serangannya dan memandang heran. "Kau mau bicara?" tanyanya tenang. Diam-diam ia harus mengakui bahwa kecuali Toat-beng Kui-bo, belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang wanita sehebat ini kepandaian silatnya.

“Sin Hong, kepandaian kita seimbang... tidak melihatkah kau betapa cocoknya kalau kita be rdampingan, kau dan aku berdua akan dapat menguasai dunia! Pek-thouw-tiauw-ong dan isterinya yang terkenal bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan kita berdua! Sin Hong, di dunia ini tidak ada jodoh yang lebih setimpal dari pada kita!"

Kalau pipinya ditampar, kiranya Sin Hong takkan semerah itu mukanya. "Ang-jiu Mo-li, bagaimana kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kau tah u aku sudah berisieri. Kau memang patut ditampar seperti yang diminta oleh isteriku!” bentak Sin Hong sambil melompat maju dan mengirim tamparan ke arah pipi Aug-jiu Mo-li. Memang Sin Hong tidak pernah lupa akan hinaan yang dilakukan oleh Ang-jiu Mo-li terhadap Siok Li Hwa ketika belum menjadi isterinya.

Pipi Li Hwa ditampar sampai merah oleh Ang jiu Mo-li dan Li Hwa menjadi sakit hati sekali, bahkan menuntut agar supaya Sin Hong berjanji untuk membalaskannya. Namun tadinya Sin Hong sama sekali tidak ingin menanam permusuhan dan tidak mau menghina Ang-ji Mo-li dengan menampar pipinya. Hanya setelah mengeluarkan kata-kata yang dianggapnya terlalu dan tak tahu malu, Sin Hong menjadi marah dan menamparnya. Ang-jiu Mo-li mana mau membiarkan dirinya ditampar? Dengan marah ia mengelak dan memaki.

"Manusia sombong! Aku akan membunuh binimu itu! Lebih dulu aku akan membunuhmu pelamun tiada guna!” Kembali Ang jiu Mo li menyerang.

Dan begitu ia bergerak, Sin Hong mengeluarkan seruan kaget. Serangan-seranyan Ang-jiu Mo-li sekarang ini benar-benar hebat dan sama sekali berbeda dengan tadi. Dalam gebrakan pertama saja sudah hampir saja lehernya terkena totokan, dan selanjutnya ia terdesak terus dan terpaksa hanya bisa menjaga diri dan main mundur menghadapi gclombang serangan yang dahsyat itu. Ia tidak tahu, bahwa inilah Ilmu Silat Kwan-im-cam-mo yang dipelajari oleh Ang jiu Mo li dari kitab Omei-san yang dulu te rjatuh ke dalam tan gannya. Tidak heran apabila Sin Hong sendiri tidak mengenal ilmu ini dan menjadi terdesak olehnya.

Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang berjiwa gagah perkasa. Biarpun sudah amat terdesak oleh pukulan-pukulan aneh dan sakti dari lawannya, tetap ia tidak sudi mengeluarkan Pak-kek sin-kiam untuk melawan seorang wanita yang bertangan kosong. Ang-jiu Mo-li tadi sudah menyatakan bahwa kedatangannya hendak menguji kepandaian. Setelah sekarang mereka bertempur dan wanita itu melawannya dengan tangan kosong, bagai mana ia ada muka untuk mempergunakan pe dangnya? Ia lebih suka kalah dan roboh dari pada menurunkan kehormatannya dengan bersikap curang atau licik.

Pada saat itu. muncul Siok Li Hwa yang berlari-lari sambil memondong anaknya, Leng Leng. Melihat bahwa suaminya sedang bertempur melawan Ang-jiu Mo-li, Li Hwa menjadi marah sekali dan berseru, "Suamiku, balaskan sakit hatiku. kau tampar pipinya biar bengkak-bengkak!"

Akan tetapi Ang-jiu Mo-li yang menjawab sambil mengejek dan mendesak Sin Hong. “Bagus. perempuan tiada guna kau sudah datang. Tunggu sebentar aku membereskan dulu lakimu ini, baru aku akan mencabut nyawamu berikut nyawa anakmu!”

Saking marahnya. Li Hwa menurunkan anaknya di bawah pohon dan siap membantu suaminya mengeroyok Wanita Tangan Merah yang lihai itu. Melihat gerakan isterinya, Sin Hong cepat berseru.

"Li Hwa, jangan...! Lebih baik kau bawa Leng Leng kepada gakbo (ibu mertua) agar terlindung dari ancamn perempuan ini."

"Kita robohkan dia bersama!” Li Hwa membantah.

"Jangan. Isteriku! Ini pertandingan pibu, tidak boleh main keroyokan!" kata pula Sin Hong yang tetap hendak menjaga namanya.

"Huh, terhadap seorang siluman tangan merah mana perlu menggunakan aturan lagi? Dia jahat dan sudah biasa tidak pakai aturan, perempuan hina macam itu saja meagapa kita harus sungkan-sungkan?”

Mendengar makian ini, kemarahan Ang-jiu Mo li tak dapat ditahan lagi. Sambil berteriak nyaring tubuhnya melayang meninggalkan Sin Hong, langsung ia menerjang Li Hwa!

"Ang-jiu Mo-li, jangan serang isteriku!” bentak Sin Hong mengejar, “Li Hwa, jangan lawan dia. Lari!”

Akan tetapi mana Li Hwa mau lari? Dia sendiri berilmu tinggi dan bukan menjadi wataknya untuk lari menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun. Melihat serangan Ang-jiu Mo-li, ia cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.

"Plak!" dua lengan tangan bertemu dan Li Hwa terlempar terus muntah darah.

"Hai, berani melukai anakku?" terdengar bentakan dan sekaligus sebatang tongkat melayang ke arah kepala Ang-jiu Mo-li dan dua ekor kelelawar menyerangnya dari kanan kiri. Ang-jiu Mo-li maklum siapa yang datang maka ia cepat melompat ke belakang menghin darkan diri dari serangan hebat itu.

“Gakbo, dia datang hendak berpibu dengan aku, biarkan aku melayaninya!" kata Sin Hong yang melihat isterinya menelan sebuah pil putih, ia lalu melompat lagi mendekati dua orang wanita sakti yang kini sudah bertempur.

“Anak mantu, kau diamlah, sudah tentu kau suka melayaninya karena dia ini masih cantik dan terkenal gila laki-laki. Biar aku mengambil jantungnya untuk makanan ke lelawar-kelelawarku. Hi-hi-hi!"

Tongkatnya mendesak terus dan diam-diam Ang-jiu Mo-li terkejut sekali. Tadinya ia tidak gentar terhadap nenek ini karena biarpun dulu kepandaiannya masih kalah setengah tingkat, namun bertambahnya kepandaiannya dengan ilmu Silat Kwan im-cam-mo dari Omei-san, ia kira akan cukup untuk menghadapi nenek itu. Akan tetapi kiranya melihat gerakan tongkat, kepandaian nenek itupun meningkat banyak! Dan Ang-jiu Mo-li ingat bahwa ketika terjadi keributan di Omei-san nenek inipun melarikan sebuah kitab.

Tentu nenek inipun sudah mendapatkan semacam ilmu silat yang lihai. Mengingat ini, Ang-jiu Mo-li menjadi gentar juga. Menghadapi Sin Hong andaikata ia kalah, ia masih bisa mengharapkan selamat. Akan tetapi nenek ini seperti bukan manusia lagi dan kekejamannya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw. Di samping ini, Ang-jiu Mo-li juga merasa gelisah mendengar sebutan-sebutan antara Sin Hong dan Toat-beng Kuibo. Mantu dan mertua? Gila ia tahu betul bahwa Toat -beng Kui-bo tak pernah punya anak! Otak di dalam kepala Ang-jiu Mo-li memang cerdik sekali. Ia melihat keuntungan dalam keganjilan itu. Tiba-tiba ia tertawa keras. dengan nada mengejek.

"Toat-beng Kui-bo, manusia tak tahu malu. Apa kau berani mendengarkan kata-kataku sebentar?”

"Bocah ingusan, mengapa aku takut? Cepat atau lambat, jantungmu pasti akan menjadi mangsa kelelawar-kelelawarku. Syyyyt. Anak-anak baik, nanti dulu, dia mau bicara." katanya kemudian pada dua ekor kelelawar yang anehnya seperti mengerti, menunda serangan dan hinggap di atas pundak itu.

Ang pu Mo-li bergidik, akan tetapi ia tetap tertawa. "Toat-beng Kui-bo, kau ini sudah tua bangka apakah masih mau membadut? Kau menyebut Wan Sin Hong anak mantumu apa-apaan sih ini? Siok Li Hwa adalah Hue-eng Niocu, bagaimana bisa menjadi anakmu Apakah kau mengangkat anak kepadanya? Ha ha, siluman macam engkau ini, yang sejak muda tidak ada laki-laki yang sudi mengerlingmu sebentarpun juga, bagaimana bisa punya anak dan mantu? Ha. Toat-beng Kui-bo, jangan bikin aku mati tertawa geli!"

“Iblis! Dia memang anakku. Li Hwa memang anakku...” bentak Toat-beng Kui bo dan tongkatnya bergerak pula.

"Nanti dulu, jangan kau menipuku. Ketika aku masih kecil sebelum orang-orang seperti Li Hwa ini lahir, aku sudah mendengar dari ayah bahwa kau adalah seorang wanita bermuka siluman yang amat buruk dan orang malah menyangsikan apakah kau ini laki-laki atau wanita. Mungkin kau banci! Sejak kapan kau menikah dan kapan pula kau punya anak? Menurut perhitunganku, ketika aku masih kecil kau sudah berusia lima puluh atau enam pulunan, jadi sekarang kau tidak kurang dari seratus tahun. Sedangkan Li Hwa ini paling banya berusia empat puluh tahun. Dalam usia berapakah kau melahirkan dia? Dalam usia tujuh puluh tahun, barangkali? Ha-ha.ha, Toat-beng Kui-bo, seorang anak kecilpun akan tahu bahwa kau membohong."

Terdengar jerit tertahan dari Li Hwa ketika mendengar kata-kata ini dan Toat-beng Kui-bo dengan marah sudah memutar tongkatnya pula menyerang Ang-jiu Mo-li Si Tangan Merah cepat mengelak lalu melarikan diri sambil tertawa.

"Mulut jahat, kau mau lari ke mana?" Toat beng Kui-bo mengejar, akan tetapi Ang-jiu Mo-li menyebar Pat-kwa-ci yang dipukul runtuh oleh tangan baju nenek itu yang terus mengejar.

Tiba-tiba Sin Hong melompat dan menghadang di depan Toat-beng Kui-bo. "Biarkan dia lari, tak perlu membunuh orang."

Dalam kemarahannya yang luar biasa, Toat-beng Kui-bo membentak." Kau... mau membela dia?” Dan tongkatnya menghantam Sin Hong. Sin Hong sudah siap sedia karena) memang selama ini ia merasa curiga terhadap nenek yang aneh itu. Dengan sigap ia melompat ke samping. Ketika Toat-beng Kui -bo memandang ke depan, ternyata Any-jiu Mo-li sudah menghilang. Marahlah dia, kemarahannya kini tertuju kepada Sin Hong dan tongkatnya melayang lagi menyerang Sin Hong. Kembali Sin Hong mengelak dan kali ini mencabut Pak-kek-sin kiam.

"Ibu mengapa kau hendak me mbunuh mantumu sendiri...?” tiba-tiba Li Hwa berseru sambil mendekati dengan Leng Leng dalam pondongannya.

Mendengar ini tiba-tiba Toat-bang Kui-bo menghentikan gerakannya. Matanya yang mengerikan itu menatap wajah Li Hwa penuh selidik, lalu ia berkata, “Kau tidak percaya akan obrolan siluman tadi, bukan? Kau masih percaya dan mengakui aku sebagai ibumu?"

Dengan air muka tidak berubah Li Hwa menjawab. "Tentu saja, tentu saja."

Toat-beng Kui-bo mengampit tongkatnya, "Kesinikan cucuku, aku ingin menggendongnya."

Sesungguhnya, didalam hatinya Li Hwa sudah terpengaruh oleh ucapan Ang-jiu Mo-li tadi dan kini iapun merasa yakin bahwa tidak mungkin kalau Toat-beng Kui-bo ini ibunya. Akan tetapi ia maklum betapa lihai adanya nenek ini dan kalau ia tidak mengambil hatinya lalu nenek ini mengamuk, berabe juga. Suaminya belum tentu sanggup mengalahkan nenek ini, apalagi dia sendiri masih terluka. Kini nenek itu minta Leng Leng untuk digendong. Sungguh berat ujian ini. Namun, dengan senyum penuh kepercayaan, ia menyerahkan Leng Leng yang segera dipondong oleh Toat-beng Kui-bo, Nenek ini lalu terhuyung-huyung pergi sambil memondong cucunya. Terdengar ia bersungut-sungut.

"Kalau kau tidak percaya lagi bahwa aku ibumu, hmm, kubunuh kalian semua, kubunuh...!”

Setelah Toat-beng Kui bo pergi jauh membawa Leng Leng, barulah Li Hwa memperlihatkan kecemasannya. Ia memandang kepada suaminya, mereka saling pandang penuh pengertian dan Li Hwa lalu menubruk Sin Hong sambil menangis.

"Kau betul... dia bukan ibuku..." katanya, "kalau saja aku percaya akan keraguanmu dahulu... sekarang dia membawa pergi Leng Leng, bagaimana baiknya...?”

"Tenanglah. Memang kau tadi bersikap tepat sekali. menghilangkan kecurigaannya dengan memperlihatkan kepercayaan. Kalau kau bersikap lain, aku khawatir kita takkan dapat menolong diri. Nenek itu lihai bukan main. Dalam keadaan biasa. kiranya aku masih akan dapat menahannya. Akan tetapi kulihat ilmu toogkatnya tadi luar biasa sekali ketika ia menghadapi Ang-jiu Mo-li. Tak salah lagi dugaanku bahwa kitab DELAPAN JALAN UTAMA itu mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi tentu betul adanya. Tiang Bu telah ditipunya. Aku sudah mengkhawatirkan hal itu. Tak mungkin orang-orang sakti di Omei-san menyimpan kitab pelajaran Agama Budha biasa saja, tentu di situ tersembunyi sari pelajaran Ilmu silat . Dan nenek itu agaknya sudah mulai mempelajarinya. Ilmu tongkat yang dimain kannya tadi benar-benar luar biasa dan aku takkan dapat melawannya, biarpun dengan Pak kek sin-kiamsut.”

"Sekarang bagaimana caranya untuk minta kembali Leng Leng...?"

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 31 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »