Tangan Gledek Jilid 11

Tangan Gledek Jilid 11

Li Hwa yang biasanya paling berani bicara terus terang seperti ini dan yang biasanya dia menjadi pihak penyerang dalam percakapan seperti ini, sekarang mendengar kata-kata Sin Hong mukanya menjadi merah sekali sampai ke telinganya dan ia hanya menundukkan muka seperti seorang gadis dusun yang malu-malu!

"Untuk dirimu tidak ada yang perlu ditinjau lagi. Kau sudah jelas seorang gadis yang berhati murni dan cinta kasih mu tulus ikhlas dan suci. Sekarang marilah kau perhatikan diriku."

Suara Sin Hong yang bersungguh-sungguh itu menarik perhatian Li Hwa sepenuhnya sehingga gadis ini mengangkat mukanya dan menatap wajah pria yang menjadi pilihan hatinya ini. "Dahulu aku pemah merasa jatuh cinta. Akan tetapi oleh karena aku masih hijau sekali, aku sendiri tidak tahu pasti siapakah yang kucintai itu."

"Kau mencinta Go Hui Lian." Li Hwa memotong, suaranya tenang saja tanpa rasa cemburu.

Sin Hong menggelengkan kepalanya. "Belum tentu, Li Hwa. Pertama-tama bertemu dengan Gak Soan Li hatiku tertarik, kemudian bertemu Go Hui Lian aku pun merasa tertarik. Kalau mau dikata bahwa aku mata keranjang, buktinya melihat lain-lain wanita aku tidak tertarik. Karena itu aku merasa bahwa hatiku tidak tetap terhadap wanita dan bahwa cinta kasihku kepada dua orang yang kusebutkan itu mungkin sekali palsu. Aku merasa menyesal sekali mengapa hatiku mudah berubah dan merasa betapa cinta kasihku terlalu murah. Oleh karena inilah, maka menghadapi kau yang sepenuh jiwa mencintaku, aku menjadi bingung dan ragu-ragu. Ragu-ragu terhadap hatiku sendiri. Aku tidak mau main-main dengan cinta lagi sebelum aku yakin betul apakah benar-benar aku mencinta orang. Li Hwa, aku tak dapat menolak permintaanmu untuk ikut dengan aku. Bukan hanya karena aku takut kau betul-betul akan membunuh diri, bukan hanya karena aku merasa bahwa cinta kasih sebesar cinta kasihmu itu sungguh keji kalau ditolak. Akan tetapi terutama sekali, setelah aku berkumpul dengan kau selama beberapa bulan ini, aku pun... merasa berat untuk berpisah."

Li Hwa tersenyum manis sekali, mukanya ditundukkan dan matanya mengerling ke wajah Sin Hong. Hatinya girang bukan main, hanya dia sendiri yang tahu!

"Akan tetapi," Sin Hong buru-buru menyambung kata-katanya. "Aku tidak berani sembrono dan sembarangan saja menyatakan bahwa aku pun cinta kepadamu, Li. Hwa. Aku tidak mau membuat kesalahan lagi dalam hal ini. Aku tidak akan berani menyatakan cintaku sebelum aku yakin betul karena aku tidak sudi menipumu dengan cinta palsu yang kelak akan luntur! Biarlah kita melakukan perjalanan bersama. Biarlah orang lain menganggap bagaimanapun juga. Paling perlu kita menjaga diri, menjauhkan segala perbuatan yang tidak patut. Biar kita menguji hati kita sendiri. Kalau kelak ternyata bahwa aku betul-betul mencintamu, Li Hwa, aku takkan ragu- ragu lagi meminangmu sebagai isteriku. Kalau bukan demikian halnya hatiku terhadapmu, biarlah kelak kita menjadi saudara saja. Bagaimana pendapatmu?"

"Sin Hong aku menurut saja segala kehendak hatimu, asal saja aku kau bolehkan berada di sampingmu. Kau sudah bicara secara jujur, aku girang mendengar ini, sungguhpun aku sudah tahu bahwa kau memang seorang yang amat menjaga kebersihan hati dan perbuatan dan memang kau amat jujur. Baiklah dan sekarang kau dengar pengakuanku tentang cintaku padamu. Tentu saja aku mencintamu seperti seorang wanita mencinta pria kekasihnya dan ingin menjadi isterimu, ingin menjadi ibu daripada anak-anakmu. Akan tetapi jangan kira bahwa cintaku kepadamu hanya karena nafsu muda semata, Sin Hong. Aku tidak punya orang tua, maka aku pun mencintamu seperti seorang anak mencinta orang tuanya. Aku sudah ingin sekali menjadi ibu maka aku pun mencintamu seperti seorang ibu mencinta puteranya. Aku tidak punya saudara maka aku pun mencintamu seperti seorang saudara kandung. Tentu saja kebahagiaan hidupku akan sempurna andaikata kau sudi mengambilku sebagai isterimu, menjadikan aku ibu dari anak-anakmu. Akan tetapi, tanpa itu pun aku dapat hidup asal aku selalu berada di sampingmu, Sin Hong. Tentu saja aku akan berterima kasih sekali kalau kau pun membalas cinta kasihku, akan tetapi andaikata tidak, aku cukup puas asal kau tidak membenciku!"

Bukan main terharunya hati Sin Hong mendengar kata-kata yang panjang lebar, kata-kata yang sesungguhnya setiap hari telah berpancaran keluar dari kerling mata gadis itu, membayang melalui senyum-senyumnya. Sampai basah kedua mata Sin Hong ketika ia menatap wajah gadis itu dan tak terasa pula kedua tangannya bergerak maju, ditaruh di atas pundak gadis itu. Sampai lama mereka berpandangan.

"Setidaknya kau... kau tentu suka kepadaku, bukan?" tanya Li Hwa, suaranya sayu, mengibakan.

"Tentu saja, Li Hwa. Kaulah satu-satunya orang yang paling kusuka di dunia ini."

Tiba-tiba Li Hwa bangkit berdiri dan tertawa geli, menutupi mulutnya. "Kau bohong!" Setelah percakapan serius itu selesai timbul kembali sifatnya yang jenaka dan suka menggoda.

"Tidak, Li Hwa, demi kehormatanku, aku tidak berbohong! Memang aku suka kepadamu."

Li Hwa mengangkat muka, menegakkan kepala, membusungkan dada dan melangkah maju menantang sampai dekat sekali dengan Sin Hong. Pandang matanya penuh ejekan ketika ia berkata, nada suaranya menantang.

"Betulkah kau suka kepadaku? Aku tidak percaya sebelum kau buktikan kata-katamu"

Sewaktu-waktu kalau Li Hwa sudah menggodanya dengan kebinalan macam ini, hampir saja pertahanan hati Sin Hong roboh. Masih teringat ia akan godaan-godaan Li Hwa ketika kakinya belum sembuh. Tentang jerit di telaga ketika gadis itu "tenggelam" padahal ia tahu hanya pura-pura saja! Menggodanya dengan segala macam kata-kata jenaka dan sikap menantang.

Kini menghadapi sikap Li Hwa seperti itu, diam-diam Sin Hong mengerahkan hawa dan menekan debar jantungnya, kemudian kedua tangannya memegang kepala gadis itu, kedua tangan di bawah telinga kanan kiri, mengangkat muka yan g manis itu lalu... diciumnya kening Li Hwa seperti seorang ayah mencium anakn ya atau seorang kakak mencium adiknya!

Namun perbuatan ini sudah membuat seluruh muka Sin Hong dan Li Hwa menjadi merah seperti udang direbus dan kedua kaki Sin Hong menggigil seakan-akan ia terserang demam!

"Nah, itulah tandanya bahwa aku suka kepadamu, Li Hwa." Biarpun sudah mengerahkan tenaga, tetap saja suara Sin Hong terdengar gemetar.

Li Hwa tidak menjawab, melainkan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas ke depan, menyandarkan kepala di dada kekasihnya lalu menangis tersedu-sedu!

Sin Hong mendekap kepala itu sambil melongo, melihat ke kanan kiri seperti monyet disumpit, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Baru kali ini ia melihat Li Hwa menangis tersedu-sedu. Air matanya membanjir seakan-akan air mata itu sudah lama dibendung dan kini pecah bendungannya, membanjir membasahi baju Sin Hong. Tidak kepalang Li Hwa menangis, suaranya sampai hampir menggerung-gerung seperti anak kecil ditinggal pergi ibunya.

"Eh, eh... kau kenapa...? Li Hwa, kau mengapakah...?"

Baru kali ini selama hidupnya Sin Hong mengalami hal yang membuatnya terheran-heran dan juga kebingungan. Karena Li Hwa tidak menjawab, akhirnya Sin Hong membiarkannya saja menangis sepuasnya sampai air mata yang keluar dari mata gadis itu menembusi bajunya dan membasahi dada dan perutnya.

Akhirnya habis juga air mata yang "dikuras" oleh Li Hwa dan gadis itu menegakkan kepalanya kembali. Matanya menjadi agak kemerahan, juga seluruh mukanya kemerahan, dan dadanya masih terisak-isak. Akan tetapi ketika. Sin Hong menatapnya penuh kekhawatiran, ia menggaruk-garuk kepalanya dan mata serta mulutnya terbuka heran. Gadis yang terisak-isak itu tersenyum! Mukanya berseri-seri gembira!

"Li Hwa...!" seru Sin Hong setelah akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata. "Kau atau akukah yang sudah berubah menjadi gila??"

Senyum Li Hwa melebar sehingga nampak giginya yang putih mengkilap. "Apa maksudmu, Sin Hong?"

"Kau tadi menangis seakan-akan aku telah mampus, dan sekarang kau tertawa! Apa artinya ini?"

"Aku menangis karena... bahagia dan senang hatiku, Sin Hong." jawab gadis itu sambil menyusuti air mata yang membasahi mukanya. Kemudian ia melihat ke dada dan perut Sin Hong di mana bajunya sudah basah kuyup. Meledaklah ketawanya dan Li Hwa menuding-nuding ke arah perut Sin Hong.

Sin Hong menggeleng-geleng kepala dan akhirnya ikut tertawa juga. "Li Hwa, lain kali- kalau bersenang hati, jangan membikin kaget orang. Kalau senang hati kau menangis seperti itu, apakah kalau bersusah hati lalu tertawa-tawa?"

Li Hwa menghentikan tawanya, lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh, "Sin Hong, kau marahkah? Maafkan aku kalau aku tadi membikin kaget kau. Biar-lah lain kali aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku tadi."

Melihat sikap Li Hwa, Sin Hong menjadi menyesal mengapa tadi ia mencela. Ia lebih suka melihat gadis itu bersikap sewajarnya. Ia menyukai keadaan Li Hwa yang aseli seperti tadi, tidak dibuat-buat bersungguh-sungguh seperti sekarang ini.

"Tidak, tidak sekali-kali aku marah. Aku malah ikut gembira. Jangan kau mengubah perangai dan kebiasaanmu setiap kali aku menegurmu, Li Hwa. Kalau kau ingin menangis, menangislah seperti tadi. Aku... tidak apa-apa hanya tadi kaget dan... dan basah semua dada dan perutku..."

Li Hwa tertawa lagi melihat sikap Sin Hong yang kelihatan tidak karuan, gagap gugup dan lucu ini. Akhirnya mereka berkemas. Lalu Li Hwa pergi seorang diri ke Hui-eng-pai, menjumpai tokoh-tokoh Hui-eng-pai untuk berpamit.

"Maafkan, terpaksa aku meninggalkan Hui-eng-pai oleh karena aku mempergunakan hak hidupku untuk mengejar kebahagiaan. Terserah kepada kalian untuk membubarkan Hui-eng-pai ataukah untuk melanjutkannya. Akan tetapi, kalau diteruskan, hendaknya ingat bahwa aku selalu takkan mendiamkannya saja apabila Hui-eng-pai dibawa ke jalan sesat. Biarpun aku bukan menjadi ketua Hui-eng-pai lagi, namun namaku akan terbawa kalau Hui-eng-pai menyeleweng, dan akulah yang akan menghukum dengan kedua tanganku sendiri!"

Dengan kata-kata pesanan ini, Li Hwa lalu berangkat setelah mengambil barang-barangn ya yang berharga untuk dibawa sebagai bekal. Banyak anggauta Hui-eng-pai menangis ketika Li Hwa pergi meninggalkan mereka. Akan tetapi, Li Hwa sudah melupakan mereka lagi setelah ia menuruni bukit dengan Sin Hong di sampingnya. Hatinya gembira sekali. Betapa tidak? Menjadi isteri Sin Hong atau pun tidak kelak, ia akan tetap selalu berada di dekat Sin Hong dan ini berarti bahwa idam-idaman hatinya telah terpenuhi.

Selama Sin Hong berkumpul dengan Siok Li Hwa di dalam goa dan mengobati kaki gadis itu, ia telah menceritakan kepada Li Hwa bahwa bocah yang diculiknya dari Kim-bun-to itu sesungguhnya bukan putera Go Hui Lian dan Coa Hong Kin. Tadinya Sin Hong tidak hendak menceritakan atau membuka rahasia ini, akan tetapi Li Hwa selalu menyatakan penyesalannya bahwa putera Hui Lian yang diculiknya hanya untuk memancing Sin Hong datang dan untuk membalas dendamnya karena Hui Lian telah "merebut" hati Sin Hong, kini telah lenyap dibawa oleh Pak-kek Sam-kui. Melihat betapa Li Hwa benar-benar merasa menyesal, dan tahu pula akan sifat-sifat gadis itu, akhirnya Sin Hong membuka rahasia Tiang Bu.

"Bocah itu," katanya, "diberi nama Coa Tiang Bu dan semenjak masih bayi dipelihara oleh Hui Lian. Dia bukan anak Hui Lian dan Hong Kin."

"Pantas saja kalau begitu! Aku sering. kali merasa heran mengapa bocah ini mukanya buruk, padahal Hui Lian cantik dan Hong Kin tidak buruk rupa," kata Li Hwa. "Kalau begitu, dia itu anak siapakah? Sungguh pun rupanya tidak tampan akan tetapi harus kuakui bahwa anak itu mempunyai tulang dan bakat yang baik sekali. Aku tidak main-main ketika hendak mengambilnya sebagai murid, karena kulihat dia memang berbakat sekali."

"Memang demikian dan sayang sekali dia bukan anak dari Hui Lian dan Hong Kin. Akan tetapi kiraku bagi mereka sama saja karena diambil anak sejak kecil."

"Dia itu anak siapakah?"

Sin Hong menarik napas panjang, "Kasihan sekali anak itu. Ia terlahir dari perbuatan yang sejahat-jahatnya, berayah seorang manusia siluman. Li Hwa, sebetulnya rahasia ini hanya diketahui oleh aku, Hui Lian, dan Hong Kin saja dan belum pernah diceritakan kepada orang lain."

"Hemm, kalau begitu janganlah di-ceritakan kepadaku, karena tak baik membuka rahasia orang. Bagiku sih sama saja, karena aku sudah tahu dia itu anak siapa."

"Kau tahu...?"

"Tentu saja! Bukankah dia itu anak Liok Kong Ji dan Gak Soan Li?"

"Eeeeh... bagaimana kau bisa tahu, Li Hwa?"

"Sin Hong, apa kaukira aku ini orang sebodoh-bodohnya? Dahulu di puncak N goheng-san sudah kudengar tentang Soan Li mempunyai anak yang tidak ada ayahn ya. Kemudian kau tadi menyebut-nyebut manusia siluman, siapa lagi kalau bukan Liok Kong Ji? Mudah saja menghubung-hubun gkan semua itu bukan?"

"Memang tepat sekali dugaanmu, Li Hwa. Tiang Bu adalah anak Liok Kong Ji dan Gak Soan Li. Akan tetapi, bocah itu semenjak kecil dipelihara oleh Hui Lian, dan dia bersama Hong Kin amat mencinta Tiang Bu. Oleh karena bocah itu hilang dari rumah mereka karena perbuatanmu, kita harus mencarinya dan membawanya kembali ke Kim-bun-to."

"Baiklah kalau kau menghendaki demikian." hanya ini jawaban Li Hwa ketika itu dengan hati mengkal karena ia belum yakin apakah kelak Sin Hong mau membawanya.

Setelah kemudian ternyata bahwa Sin Hong mau menerimanya merantau berdua. Li Hwa mengingatkan soal Tiang Bu ini. "Sin Hong, ke manakah tujuan perjalanan kita? Apakah kita akan langsung mencari Tiang Bu di utara? Pak-kek Sam-kui adalah pembantu-pembantu setia dari Raja Mongol, maka kalau benar-benar mereka terus membawa Tiang Bu, bocah itu tentu dibawa ke utara dan sebaiknya ke sanalah kita menyusul."

Akan tetapi Sin Hong tidak menyetujui dan menjawab. "Tidak sekarang Li Hwa. Aku pun menduga demikian, akan tetapi memasuki daerah Mongol pada waktu sekarang bukanlah hal yang mudah. Bahaya besar mengancam kalau kita memasuki daerah Temu Cin itu. Bukan sekali-kali aku takut menghadapi bahaya, akan tetapi kalau sampai aku tewas dalam perjalanan berbahaya itu, bukankah aku akan mati sebagai seorang bengcu yang mengecewakan? Aku hendak ke Lu-liang-san lebih dulu, hendak kukumpulkan para tokoh besar yang dulu mengangkatku sebagai bengcu dan kukembalikan kedudukan ini. Setelah aku terlepas daripada ikatan tugas sebagai bengcu, barulah aku akan pergi mencari Tiang Bu."

Maka berangkatlah Sin Hong dan Li Hwa menuruni Gunung Go-bi-san, melakukan perjalanan yang cepat ke selatan. Sin Hong kelihatan tenang-tenang saja akan tetapi Li Hwa nampak gembira, wajahnya berseri-seri dan alam yang terbentang luas di depannya kelihatan baru dalam pandangannya, baru dan serba indah menyenangkan. Larinya cepat sekali dan agaknya kakinya sudah tak sakit sama sekali. Diam-diam Sin Hong tersenyum di dalam hatinya kalau ia teringat betapa baru kemarin gadis ini masih berpura-pura sakit kakinya dan berjalan perlahan agak pincang!

"Gadis bengal...!" di dalam hatinya ia mengomel, akan tetapi ia merasa senang.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

"Bocah setan... kau telah berani menipuku...! Kurang ajar kau, sepatutnya dipecahkan kepalamu!"

Sambil berlari dengan langkah lebar Thai Gu Cinjin memaki-maki Tiang Bu yan g di kempit di bawah lengan tangan kirinya sedangkan tongkat kepala naga itu dipukul-pukulkan ke kanan kiri sehingga pohon-pohon tumbang dan batu-batu pecah. Ngeri hati Tiang Bu menyaksikan amukan kakek gundul yan g tinggi besar seperti raksasa ini. Tenaga pukulan tongkat itu benar-benar dahsyat dan mengerikan.

"Berani kau membakar kitab peninggalan Hoat Hian Couwsu dan menghafal isinya. Hah, kau berani mendahuluiku? Setan alas! Kiranya dalam penjelmaan dulu rohku pernah berhutang kepada rohmu sehingga dalam penjelmaan sekarang ini kau membalasku, menagih janji." Hwesio Lama dari Tibet itu terus-terusan mengomel panjang pendek tentang hubungan roh-roh dan tentang hukum karma.

Tiang Bu hanya mendengarkan saja penuh perhatian dan ia mendapat kenyataan bahwa pendeta Lama ini benar-benar seorang pemuja hukum karma, yakni hukum yang menyatakan bahwa roh manusia setelah meninggal akan menjelma pula dalam tubuh lain akan tetapi hubungan-hubungan dengan roh lain di waktu hidup yan g lalu akan terulang kembali. Tagih-menagih hutang, balas-membalas dendam!

"Apa yang harus kulakukan ? Apa? Membunuh mu, aku kehilangan isi kitab. Membiarkan kau hidup juga tak mungkin karena kau telah menipuku!" demikian omelan terakhir pendeta Lama itu.

”Losuhu, mengapa bingung? Dalam penjelmaan yang dulu teecu adalah muridmu, sekarang pun demikian pula."

Kaget hati Thai Gu Cinjin mendengar ini sampai-sampai ia menghentikan langkahnya dan melepaskan Tiang Bu dari kempitannya. Bocah itu terguling di atas tanah, tubuhnya sakit-sakit akah tetapi ia merasa lega telah terlepas dari himpitan lengan yang berbulu dan kuat itu.

"Apa maksud kata-katamu tadi?" bentaknya dengan mata merah.

"Teecu merasa yakin bahwa dalam penjelmaan yang dahulu, teecu adalah murid Losuhu. Buktinya begitu bertemu dengan Suhu, tanpa disengaja Suhu telah menurunkan sebuah pelajaran ilmu silat kepada teecu dan takut kitab itu terjatuh ke dalam tangan orang lain, teecu telah menghafalkan di luar kepala semua isinya lalu membakar kitabnya. Bukanlah itu namanya jodoh? Kemudian, tak tersangka-sangka pula, Suhu telah menolong nyawa teecu dari ancaman Pak-kek San-kui! Bukankah ini bukti ke dua dari adanya jodoh? Sekarang mengapa Losuhu menjadi bingung seorang diri? Bagi teecu tidak ada bedanya, mau dibunuh atau tidak apa sih perbedaannya?"

"Eh, Setan Cilik. Bagaimana kau bilang tidak ada bedanya?"

"Kalau Losuhu membunuh teecu, tentu Losuhu akan terbunuh pula oleh teecu. Dalam penjelmaan mendatang, mungkin teecu menjadi orang yang lebih kuat untuk membalas kematian teecu di tangan Suhu. Dengan demikian, teecu berhutanglah dan pada penjelmaan berikutnya Suhu yang membunuh teecu lagi dan Suhu yang berhutang. Kalau Suhu menghendaki permusuhan yang tiada habisnya antara dua roh kita, sekarang Suhu mau bunuh teecu, bunuhlah!"

Thai Gu Cinjin terkenal sebagai seorang tokoh besar yang selain pandai juga senang menipu orang. Banyak sekali muslihatnya sehingga ia disegani dan ditakuti orang. Akan tetapi ia mempunyai satu cacad besar, cacad yang ada hubungannya dengan kedudukannya sebagai seorang pendeta Lama. Sebagaimana telah menjadi tradisi dan kepercayaan mutlak para Lama, ia amat percaya akan hukum fumimbal lahir(?) (re-incarnation). Oleh karena itu, kata-kata yang diucapkan Tiang Bu tadi termakan benar-benar oleh hatinya.

"Sebaliknya kalau Suhu tidak menghendaki balas-membalas selama roh kita belum musnah apa salahnya kalau Suhu mengambil teecu sebagai murid dan pelayan?"

Thai Gu Cinjin meraba-raba kepalanya yang gundul pelontos. Keningnya berkerut. Ia berpikir keras. "Hemm, kau tentu keturunan roh yan g sudah maju sehingga masih kecil sudah bisa bicara seperti itu...! Kau betul juga, kalau kau menjadi muridku berarti kau selalu berada di sampingku dan tidak akan dapat menggunakan Pat-hong-hong-i sewenang-wenang dan sesuka-sukamu sendiri. Di samping itu kau harus tahu bahwa kitab itu bukan milikku, melainkan milik Tiong Jin Hwesio, seorang di antara dua kakek sakti di Omei-san. Kalau kau sudah tahu akan hal ini, kau pun tentu tahu bahwa kalau kakek itu tahu kitabnya hilang ia tentu akan mencari kita."

"Dan Suhu tidak kuat menghadapi Tiong Jin Hwesio?" tanya Tiang Bu.

"Apa kau sudah gila? Tiong Sio Hwesio dan Tiong Jin Hwesio adalah orang-orang sakti di masa ini. Merekalah pewaris-pewaris dari kitab-kitab peninggalan Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu. Siapa bisa melebihi mereka? Barangkali hanya orang-orang yan g telah mewarisi kitab-kitab lain dari Tat Mo Couw-su, seperti mendiang guruku dan guru An g-jiu Mo-li, orang-orang seperti itulah yang bisa menandingi dewa-dewa Omei-san"

Mendengar ini, hati Tiang Bu tertarik sekali. Telah berkali-kali ia bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi. I a sudah bertemu dengan Hui-eng Niocu yang lebih lihai, lalu Pak-kek Sam-kui yang lebih lihai lagi. Sekarang ini ia menjadi murid Thai Gu Cinjin yang malah lebih lihai daripada Pak-kek Sam-kui. Akan tetapi pendeta Lama ini merasa dirinya tidak berarti ketika ia bicara tentang dua orang hwe-sio yang ia sebut "Dewa" Omeisan!

Alangkah banyaknya orang pandai di dunia ini, pikir Tiang Bu dan diam-diam ia rnerasa amat girang bahwa ia telah menghafal sebuah kitab dari Omei-san. Memikirkan ini kegirangan hatinya karena diterima menjadi murid Thai Gu Cinjin menjadi berkurang dan ia ingin sekali bisa menjadi murid 'Omei-san itu. Akan tetapi ia tidak dapat melamun lebih lanjut oleh karena Thai Gu Cinjin sudah melepaskan buntalan itu kepadanya sambil berkata.

"Mulai sekarang kau ikut aku. Bawalah buntalan ini."

Tiang Bu tidak berani membantah. Ia baru saja terlepas dari bahaya maut lagi. Pendeta Lama ini tidak jadi membunuhnya bahkan mengambunya sebagai murid. Akan tetapi Tiang Bu adalah seorang anak yang cerdik. Ia maklunn bahwa belum tentu pendeta ini mengampuninya. Siapa tahu kalau Thai Gu Cinjin hanya ingin menguras isi kitab itu daripadanya, kemudian setelah dapat mempelajari Pat-honghong-i lalu membunuhnya. Hal ini mungkin sekali bagi seorang seperti Thai Gu Cinjin. Tidak ada penjahat yang hatinya lebih kejam daripada seorang pendeta yang jahat! Oleh karena itu, ia berlaku amat hati-hati dan waspada. Benar saja seperti yang ia duga, Thai Gu Cinjin mulai menyuruh ia setiap hari berlatih Pat-hong-hong-i.

"Ilmu silat yang tinggi dan tidak ada Orang lain mengetahuinya itu bukan ilmu sembarangan, Tiang Bu. Maka harus kau latih sampai sempurna betul. Biar aku yang mengawasi kalau-kalau ada yang keliru."

Tiang Bu di dalam hatinya berpikir. Bagaimana dia bisa mengetahui mana yang keliru kalau selamanya dia sendiri belum mempelajari Pat-hong-hong-i? Aku tak boleh terkena bujukannya. Dengan cerdik sekali Tiang Bu lalu mengubah-ubah gerakan Pat-hong-hong-i.

Tentu saja di depan seorang ahli silat tinggi seperti Thai Gu Cinjin ia tidak berani mengawur saja dan bersilat dengan tidak karuan. Ia masih mainkan Pat-hong-hong-i, akan tetapi selain dengan gerakan tangan kaku tak karuan, juga ia sengaja mencampur-campur Pat-hong-hong-i dengan Sam-hoan Sam-bu dan Hui-houwtong-te dalam gerak kakinya.

"Heran sekali, mengapa Pat-hong-hong-i hanya ilmu silat picisan," kata Thai Gu Cinjin terheran-heran. "Masa Hoat Hian Couwsu meninggalkan ilmu silat macam begini?" Akan tetapi ia masih mengandung harapan lain. Pikirnya, barangkali bukan salah Ilmu Silat Pat-hong-hong-i, melainkan bocah ini yang tidak becus. Kemudian ia teringat bahwa Tiang Bu hanya menghafal di luar kepala dan tentu saja berlatih sendiri tanpa pimpinan jadinya tidak karuan. Aku harus sabar, pikirnya perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit ilmu ini tentu pindah kepada aku dan dapat kusaring serta aku ambil aselinya.

Demikianlah, dengan pikiran seperti ini, sampai berbulan-bulan Tiang Bu ikut kakek itu merantau, sama sekali ia tidak tahu bahwa kakek itu mengajaknya ke daerah selatan. Diam-diam Tiang Bu merasa girang dan juga geli karena akal bulusnya berhasil menipu Thai Gu Cinjin. Pada suatu sore Thai Gu Cinjin mengajak Tiang Bu beristirahat di pinggir sebuah kelompok pohon setelah mereka keluar dari padang tandus yang tanahnya mengandung pasir. Mereka telah melakukan perjalanan setengah hari lebih diterik panas.

Bagi Thai Gu Cinjin hal ini bukan apa-apa. Kakek ini dapat bertahan untuk berjalan terus tiga hari tiga malam. Akan tetapi Tiang Bu yang belum tinggi kepandaiannya, telah kehabisan tenaga dan napas. Ia amat berterima kasih ketika kakek itu mengajaknya mengaso. Apalagi tempat itu amat teduh dan nyaman sekali kalau dibandingkan dengan daerah 'yang dilaluinya setengah hari tadi. Thai Gu Cinjin sebentar saja mendengkur dan melenggut di bawah pohon, bersila seperti patung Buddha.

Tiang Bu termenung dan pikirannya melayang-layang. Sudah empat tahun lebih ia meninggalkan rumah orang tuanya di Kim-bun-to. Ia teringat akan semua keluarganya dan diam-diam ia menahan tangisnya. Bukan kepalang rindunya kepada ayah bundanya, terutama sekali kepada Lee Goat. Tentu sekarang sudah besar, sudah enam tujuh tahun usianya, pandai bermain-main dan pandai bicara.

Ketika ia pergi, Lee Goat baru berusia dua tahun. Ia tentu lupa kepadaku, pikir Tiang Bu sedih. Bilakah ia akan dapat pulang? Kalau saja aku bisa lari dari Thai Gu Cinjin ini, pikirnya. Akan tetapi lari dari kakek sakti ini tak mungkin. Biarpun kakek ini melenggut dan mendengkur, tak berani Tiang Bu meninggalkannya. Bocah ini sudah banyak berkumpul dengan orang-orang pandai sehingga ia tahu bahwa mereka ini lihai sekali.

Pula, andaikata ia dapat melarikan diri dari Thai Gu Cinjin, ia harus pergi ke mana? Jalan menuju ke Kim-bun-to ia tak tahu. Andaikata ia ketahui dari bertanya-tanya, kalau jauh sekali dan tidak membekal uang bagaimana?

"Aku harus bersabar," pikirnya, "aku harus giat belajar. Kalau sudah memiliki kepandaian apa sih sukarnya pulang ke Kim-bun-to? Pula ayah dan ibu yang kabarnya pandai sekali ilmu silat mengapa tak pernah mengajarku? Aku suka ilmu silat dan kalau aku pulang tidak boleh belajar bagaimana?"

Tiang Bu membolak-balik pikiranya demikian asyik ia termenung sehingga ia tidak melihat adanya dua orang yang datang ke tempat itu. Mereka ini adalah seorang laki-laki dan seorang wanita. Tadinya mereka hendak melewati saja kakek yang melenggut dan bocah jembel yang melamun di bawah pohon itu, akan tetapi ketika mereka melihat wajah Tiang Bu, tiba-tiba mereka menahan kaki dan laki-iaki itu bertanya ragu.

"Bukankah bocah itu yang kita cari...?

Wanita itu menoleh, memandang penuh perhatian kemudian berseru girang sekali, "Betul dia Tiang Bu...!"

Mendengar namanya disebut orang, baru Tiang Bu mengangkat kepala dan memandang. Ketika ia melihat dua orang itu dan mengenal wanita yang menyebut namanya, kagetnya bukan main. Wanita itu bukah lain adalah Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang ia takuti dan benci! Dan laki-laki itu adalah laki-laki gagah yang dulu pernah merampasnya dari Li Hwa di Go-bi-san. Laki-laki gagah dan tampan yang agaknya bermaksud baik menolongnya, akan tetapi yang tidak dikenalnya sama sekali. Mengapa mereka sekarang datang bersama?

Melihat Li Hwa, Tiang Bu merasa khawatir sekali. Ia takut kalau diculik lagi oleh wanita cantik itu. Ia pernah merasai kegalakan Li Hwia di waktu dulu, maka ia merasa lebih senarig ikut Thai Gu Cinjin daripada, ikut Li Hwa. Karena pikiran ini ia lalu menggoyang-goyang lengan pendeta Lama itu sambil berkata,

"Suhu... Suhu... bangunlah. Ada orang-orang datang...!"

Tentu saja Thai Gu Cinjin tadi sudah mendengar kedatangan dua orang itu akan tetapi karena tidak menyangka buruk, ia tidak peduli dan meramkan terus matanya. Kini setelah Tiang Bu menarik-nariknya, ia membuka rnata, mengangkat muka memandang. Melihat dua orang muda yang datang, pendeta Lama ini kembali menundukkan muka dan memejamkan matanya, sama sekali ia tidak mau peduli. Pendeta Lama yang berilmu tinggi ini memang agak sombong. Ia tidak mau berurusan dengan segala orang muda tak berarti. Orang-orang muda seperti itu bisa apakah? Biar mereka bicara dengan Tiang Bu kalau mereka butuh, tak perlu ia melayani mereka!

Melihat sikap gurunya ini, Tiang Bu menjadi gelisah. Apalagi sekarang dua orang itu bertindak menghampiri. Dari jauh Li Hwa sudah menegur. "Tiang Bu, selama ini kau ke mana sajakah? Kami mencari-carimu sampai payah!" Kedua tangan wanita itu dijulurkan ke depan seakan-akan hendak menangkap. Tiang Bu makin ketakutan.

"Suhu...! Suhu...! Mereka datang hendak menculik aku!" teriaknya kepada Thai Gu Cinjin sambil mengguncang-guncang lengan kakek ini.

Thai Gu Cinjin membuka lagi matanya dan wajahnya kelihatan mendongkol ketika ia mengomeli muridnya. "Kau ini kenapakah ribut-ribut tidak karuan mengganggu orang mengaso? Ke mana nyalimu? Kau memalukan orang yang menjadi guru saja. Siapa sih berani menculikmu? Kalau orang tidak memiliki nyawa cadangan mana berani mengganggu!" Setelah melempar lirikan memandang rendah kepada Li Hwa dan Sin Hong, pendeta Lama ini menutupkari matanya kembali!

"Tiang Bu, mengapa kau berada disini dengan ba..." Li Hwa menghentikan kata-katanya, karena tiba-tiba Sin Hong memegang pun daknya. Ketika ia menengok ia melihat Sin Hong mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepaia menegurnya dan mencegahnya, mengeluarkan kata-kata kasar. Memang Li Hwa tidak sesabar Sin Hong.

Mendengar ucapan dan melihat sikap pendeta gundul itu, ia merasa dipadang rendah dan dipandang hina sekali, maka serta merta darahnya naik. Tadi ia tentu akan melanjutkan makiannya dengan kata-kata "bangsat tua bangka" atau "bajul" atau badut gundul". Akan tetapi oleh cegahan Sin Hong, ia cepat membelokkan makiannya ketika disambungnya lagi, "dengan bajut ini?" Makian "bajut" memang tidak begitu kotor dan menghina.

Tiang Bu mengandalkan Thian Gu Cinjin maka kekhawatirannya berkurang. Ia menjawab dengan lantang. "Ini adalah Suhuku, harap Jiwi jangan ganggu teecu lagi. Teecu suka menjadi muridnya."

Li Hwa memandang kepada Sin Hong yang juga ternyata sedang memandangnya sambil tersenyum. "Nah, itulah! Seperti juga nasib suka atau tidak disuka orang tergantung sepenuhnya atas sikap kita. Kau dulu kiranya tidak bersikap terlalu manis terhadap Tiang Bu maka dia sekarang begitu ketakutan melihatmu. Li Hwa, insyaflah kau sekarang akan pentingnya sikap manis budi, apalagi terhadap seorang bocah?"

Li Hwa menggigit bibirnya yang merah sambil mengangguk-angguk. Memang selama melakukan perjalanan dengan kekasihnya ini, ia sering kali diperlakukan seperti seorang murid dan harus mendengarkan "kuliah" dari Sin Hong bukan hanya tentang perangainya, juga tentang ilmu silat, ilmu berlari cepat dan lain-lain. Mendengar ucapan Sin Hong ini, tiba-tiba Thai Gu Cinjin berkata tanpa membuka matanya.

"Orang muda seperti gentong kosong, nyaring bunyinya, hanya angin isinya. Sudah tahu nasib tergantung kepada sikap, mengapa tidak lekas-lekas pergi dan jangan mengganggu orang mengaso?"

Sin Hong dan Li Hwa menjadi serba salah. Menurut patut memang mereka harus segera pergi dari situ. Tiang Bu sudah menjadi murid orang ini dan tidak suka mereka bawa dan kakek ini tidak sudi diajak bicara, mau apa lagi. Sebagai seorang gagah Sin Hong merasa malu untuk melakukan hal tidak pantas. Kalau Tiang Bu berada di tangan Pak-kek Samkui, ia boleh menerjang dan merampas kembali anak ini. Akan tetapi bocah ini kini telah menjadi murid seorang pendeta Lama yang nampaknya tak boleh dipandahg ringan.

"Tiang Bu, Ibumu di rumah bersedih, menanti kembalimu!" Tiba-tiba Li Hwa berkata. Memang Hui-eng Niocu amat cerdik dan banyak akal. Ia maklum akan kehalusan budi Sin Hong yang pasti tidak mau melakukan kekerasan terhadap pendeta Lama itu seperti yang ia hendak lakukan, maka satu-satunya jalan ialah membujuk Tiang Bu. "Kami datang untuk mengantarkan kau pulang ke rumah Ibumu, Tiang Bu."

Hati Tiang Bu tergerak. Akan tetapi ia berlaku hati-hati dan tidak mudah dibujuk. "Kalau Niocu begitu baik hendak mengantarkan aku pulang mengapa dahulu menculikku dari rumah?"

Bantahnya yang membuat Li Hwa terpukul dan tercengang. Akan tetapi Li Hwa seorang yang cerdik dan banyak akal. Cepat ia dapat menguasai kebingungannya dan tersenyum manis. Sayang Tiang Bu masih kanak-kanak, andaikata ia sudah dewasa kiranya segala kemarahan akan banyak ber-kurang menghadapi senyum semanis itu!

"Anak yang baik, kau tidak tahu. Dahulu memang ada pertikaian antara orang tuamu dan aku, pula aku ingin mengambilmu sebagai murid. Sekarang aku dan orang tuamu sudah berbaik kembali. Marilah Nak, kau ikut kami pulang ke Kimbun-to. Ibumu menanti-nanti!"

Tiang Bu menggeleng kepala. "Tak mungkin Ibu berduka karena aku hilang. Buktinya dia tidak mencari aku sampai bertahun-tahun!" Dalam kata ini terkandung rasa sedih dan sakit hati. Memang kadang-kadang timbul penasaran dan sakit hati dalam dada Tiang Bu kalau ia terkenang betapa ayah bundanya yang berkepandaian tinggi seperti yang sering ia dengar dibicarakan dan dipuji-puji oleh para pelayan, sama sekali tidak pernah menyusul dan mencarinya!

Jawaban itu kembali membuat Li Hwa melengak. Lalu ia mengira bahwa anak ini tidak begitu sayang atau tidak begitu disayang oleh ibunya. Mungkin Coa Hong Kin lebih menyayanginya. Cepat ia berkata, "Tiang Bu, selain Ibumu bersedih menanti-nantimu, juga Ayahmu amat mengharapkan kedatanganmu. Marilah ikut kami pulang!"

Kembali Tiang Bu menggeleng kepala. "Kelak kalau aku sudah kuat, aku dapat pulang sendiri."

Sin Hong yang maklum akan maksud akal yang diperguriakan oleh Li Hwa, lalu membantu dengan kata-kata yang ramah. "Tiang Bu, anak baik. Kami cukup mengerti betapa kau telah menderita bertahun-tahun. Ayah bundamu tiada hentinya memikirkan kau dan sudah mencari-cari tanpa hasil, juga adikmu amat mengharapkan dan merindukan pulangnya kakaknya."

Kata-kata ini seperti pisau menancap di jantung Tiang Bu. Diingatkan akan adiknya yang katanya rindu kepadan ya, tak tahan pula matanya menjadi basah dan merah. Entah bohong atau tidak, orang ini, akan tetapi tak dapat diragukan lagi bahwa adiknya pasti amat merindukannya, pikirnya.

"Siapakah kau...?" tanyanya kepada Sin Hong.

"Aku sahabat baik ayah ibumu. Percayalah kepada kami. Kami betul-betul datang untuk mengajak kau pulang."

"Lee Goat..." Tiang Bu menyebut nama adiknya perlahan, wajah adiknya yang mungil terbayang di depan matanya. "Sudah besarkah dia? Sudah pandai bicarakah? Apakah dia nanti masih mengenal aku...?"

Melihat bahwa disebutnya adiknya membuat bocah itu terpikat, Sin Hong lalu berkata, "Adikmu sudah besar. Marilah kaulihat sendiri di rumah. Dia tentu akan girang sekali kalau kau pulang."

"Pulang...?" Tiang Bu menoleh kepada Thai Gu Cinjin dan pada muka anak ini terbayang kekhawatiran. Sin Hong dan Li Hwa yang bermata awas dan cerdik maklum bahwa tentu Tiang Bu takut kepada pendeta itu, maka berkatalah Sin Hong cepat-cepat.

"Ya, pulang ke Kim-bun-to, Tiang Bu. Suhumu tentu akan memberi ijin kepadamu."

Tiba-tiba Thai Gu Cinjin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu tongkatnya yang panjang sudah disodorkan ke depan, melintang di depan Sin Hong dan Li Hwa, merupakan palang menghalangi mereka maju.

"Tidak, Tiang Bu. Kau muridku dan harus taat kepada perintahku. Kau takkan ke Kim-bun-to, melainkan ikut ke mana pun juga aku pergi. Kelak kau akan ikut dengan aku ke Tibet!" Setelah menyemprot muridnya dengan kata-kata ini ia lalu menoleh kepada Sin Hong dan Li Hwa, memutar kedua matanya dengan marah lalu berkata,

"Orang-orang muda tak tahu gelagat! Apa kalian mau mencari penyakit atau kalian sudah bosan hidup? Tadi sudah kukatakan jangan mengganggu aku dan lekas pergi!"

"Maafkan kami, Losuhu," kata Sin Hong sambil menjura. "Sesungguhnya kami datang untuk mengajak pulang anak ini yang dulu dirampas oleh Pak-kek Sam-kui dari tangan kami."

Mendengar ini, Thai Gu Cinjin makin memandang rendah. Kalau terhadap Pak-kek Sam-kui saja mereka ini kalah, berarti kepandaian mereka ini kalau adapun amat tidak berarti. Ia tersenyum mengejek.

"Kalian ini sudah terpukul oleh Pak-kek Sam-kui masih bandel. Apa kaukira mudah saja merebut muridku ini? Lihat tongkatku ini. Kalau kalian bisa melewati tongkatku, baru aku bicara."

Setelah berkata demikian, tongkat kepala naga itu dilonjorkan ke depan dengan tangan kanan, melintang setinggi dua kaki dari tanah...

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »