Tangan Gledek Jilid 09

Tangan Gledek Jilid 09

"Karena dulu Suhu sekalian berlari cepat ke tempat orang-orang bertempur, teecu tertinggal di belakang. Selagi teecu kebingungan mencari jalan yang amat sukar itu, tiba-tiba muncul seorang hwesio besar yang aneh, jubahnya merah-merah dan ia memegang sebuah tongkat panjang. Tiba-tiba saja munculnya entah dari mana, dan hwesio galak itu begitu bertemu dengan teecu, lalu mendorong teecu masuk ke dalam jurang di pinggir lorong kecil itu."

Pak-kek Sam-kui saling pandang dan tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Tiang Bu tentulah Thai Gu Cinjin, pendeta Lama dari Tibet yang lihai itu. Mereka juga percaya atas keterangan Tiang Bu karena dengan menyebut pendeta Lama itu kiranya bocah ini tidak bohong.

"Kenapa dia mendorongmu masuk jurang?" tanya Liok-te Mo-ko Ang Bouw mata burungnya memandang penuh selidik.

"Mana teecu bisa tahu? Dia seperti orang gila sedang marah-marah, begitu bertemu di jalan kecil itu, ia berkata, "Minggir, setan cilik! dan teecu didorongnya sampai terjungkal ke dalam jurang."

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Ci Kui tertarik.

"Teecu tidak ingat apa-apa lagi, ketika teecu sadar ternyata teecu telah dipondong oleh seorang pengemis tua yang kakinya pincang. Kemudian menurut jembel itu, teecu terjatuh di dalam jurang dan pingsan. Pengemis itulah yang menolong teecu dari bahaya maut. Kemudian pengemis itu membawa teecu merantau sampai ke kota raja. Tadinya teecu hendak menolak ajakannya merantau dan mengemis, akan tetapi teecu tidak berdaya karena teecu masih lemah dan tidak bisa berjalan akibat jatuh itu. Terpaksa teecu ikut dengan pengemis tua itu dan sampai akhirnya bertemu dengan Suhu bertiga di kota raja."

"Mengapa kau berada di sana dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sekeluarganya, dan apa yang dikatakan oleh pangeran itu padamu?"

"Setibanya di kota raja, kakek jembel itu terserang penyakit aneh dan meninggal dunia di pinggir jalan. Teecu yang tinggal seorang diri menjadi kebingungan. Lalu muncul kereta pangeran itu dan pangeran itu sendiri berjanji hendak mengurus jenazah kakek jembel. Dia tidak berkata apa-apa, hanya bertanya apa yang terjadi di situ."

Tiang Bu yang melihat peristiwa di kota raja, maklum bahwa tiga orang kakek ini tidak suka kepada Pangeran Wanyen Ci Lun maka ia pun tidak mau memuji-mujinya walaupun di dalam hatinya Tiang Bu amat kagum dan berterima kasih kepada keluarga Pangeran Wanyen Ci Lun itu.

"Selama kau ikut jembel busuk itu, apakah kau tidak belajar silat?"

"Jembel tua begitu mana mengerti silat? Teecu hanya belajar mengemis dan sedikit membaca menulis." Bocah ini memang cerdik. Ia tahu bahwa Bu Hok Lokai bukanlah orang tidak ternama. Kalau kelak tiga orang gurunya ini tahu bahwa kakek jembel itu Bu Hok Lokai adanya, tentu mereka akan menaruh curiga apabila ia bilang tidak belajar apa-apa. Bu Hok Lokai adalah seorang bun-bu-coan-jai, maka orang seperti itu kalau tidak mengajar ilmu silat, tentu mengajar ilmu surat. Dan ia mengaku belajar ilmu surat ini agar jangan membangkitkan amarah tiga orang kakek yang galak-galak itu.

"Bocah bodoh! Lain kali biar dipukul sampai mampus jangan kau mau secara sembarangan saja dibawa pergi orang. Kau sudah belajar dari kami, mengapa kau tidak mau membunuh mati saja jembel tua itu lalu pergi mencari kami?" kata Sinsaikong. Ang Louw.

"Tangan dan kaki teecu sakit-sakit semua, salah urat ketika teecu terjatuh, juga kepala amat pening. Bagaimana teecu bisa melawannya? Apalagi ketika teecu siuman, teecu telah dipondongnya. Jembel tua itu ternyata hatinya baik sekali maka teecu tidak tega untuk membunuhnya. Pula, teecu tidak tahu kemana harus mencari Sam-wi Suhu, maka teecu mau saja ikut dengan dia sambil mencari Suhu dalam perantauan."

"Sudahlah, lain kali kalau kau lari dari kami dan ikut orang lain, akan kami bunuh. Kau menyia-nyiakan waktu. Apa kau masih ingat semua pelajaran yang kau terima dari kami?"

Tiang Bu terkejut. Selama ini ia hanya menghafal kitab dan melatih ilmu silat Sam-hoan Sam-bu. Ia tidak pernah melatih dasar-dasar ilmu silat yang ia dulu terima dari Pak-kek Sam-kui. Cepat otak dan ingatannya bekerja, diperasnya untuk mengingat-ingat, lalu berkata,

"Teecu masih ingat, Suhu hanya selama ini tidak ada yang memberi petunjuk, tentu saja teecu tidak mendapat kemajuan."

"Hayo kau perlihatkan padaku!" kata Ci Kui. "Malu aku kalau orang lain melihat muridku tidak becus apa-apa"

Diam-diam Tiang Bu gembira karena dari kata-katanya ini, Giam-Lo-ong Ci Kui sudah memaafkannya. Dengan muka riang bocah ini lalu bersilat seperti yang dulu pernah ia latih ketika masih ikut dengan tiga kakek ini.

"Waah... waaah... celaka! Buruk sekali!" seru Sin-saikong Ang Louw. "Hah, memalukan punya murid semacam ini"

Giam-lo-ong Ci Kui melangkah maju dan berkata dengan suara sungguh-sungguh kepada Tiang Bu. "Tiang Bu, ingatlah bahwa kau adalah murid Pak-kek Sam-kui dan bahwa kau sekarang sudah besar. Sungguh memalukan hati kami kalau ilmu silatmu seburuk itu. Hayo kau perhatikan baik-baik dan mulai latihan. Ikuti gerakan-gerakanku ini dan jangan salah."

Setelah berkata demlkian, Giam-lo-ong Ci Kui lalu bersilat tangan kosong, sepuluh jari tangannya dengan kuku panjang-panjang itu berbentuk cakar harimau dan ia bersilat secara menyeramkan sekali. Dulu pernah Tiang Bu menerima pelajaran ini akan tetapi belum berlatih, maka ia tahu bahwa ia harus belajar ilmu silat yang oleh gurunya disebut Ilmu Silat Hu-houw-tong-tee (Harimau Terbang Menggetarkan Bumi). Ia memperhatikan gerakan-gerakan suhunya secara sungguh-sungguh dan penuh perhatian, kemudian ia mulai meniru gerakan-gerakan suhunya itu. Tiang Bu bersilat penuh semangat meniru gerakan Giam-lo-ong Ci Kui.

Ang Bouw dan Ang Louw menonton dan kadang-kadang mereka memberi petunjuk kalau gerakan bocah itu ada yang keliru. Sampai tiga jam lebih Ci Kui memberi pelajaran kepada muridnya tanpa mengenal lelah sampai akhirnya Tiang Bu dapat menguasai gerakan-gerakan yang sukar dan hati Si Jangkung Gundul ini puas.

"Mulai besok kau harus latihan memukul pasir dan batu agar kedua tanganmu dapat cepat menjadi tok-ciang (tangan beracun) seperti kami," kata Glaro-lo-ong dengan puas sambil menghapus peluh yang memenuhi kepala gundulnya.

Tiang Bu mengucapkan terima kasih sungguhpun di dalam hati ia tidak suka akan ilmu-ilmu silat yang aneh dan menyeramkan ini. Ia lebih suka mempelajari Samhoan Sam-bu atau Pat-hong-hong-i dari kitab yang isinya sudah ia hafalkan itu. Akan tetapi ia tidak dapat memilih dan terpaksa harus me nerima pelajaran yang diberikan oleh tiga orang kakek dari utara ini. Tiang Bu yang sudah tahu betul akan watak aneh dari Pak-kek Sam-kui, sama sekali tidak berani mencoba melatih Sam- hoan Sim-bu atau Pat-hong-hong-i dihadapan mereka. Hanya sewaktn ia berada seorang diri saja, sambil mengingat-ingat tangannya bergerak-gerak melakukan gerakan-gerakan Pat-hong-hong-i yang s udah ia hafal di luar kepala.

Dari kota raja Pak-kek Sam-kui mengajak Tiang Bu melakukan perjalanan yang jauh dan lama sekal i tidak tahu bahwa ia diajak oleh tiga orang kakek itu ke Mongol, di pusat bangsa Mongol yang mulai berkembang, ke tempat di mana Raja Besar Temu Cin sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan penyerbuan besar-besaran sesuai dengan cita-citanya, yaitu menguasai dunia dan memperlihatkan kekuatan bangsa Mongolia!"

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan dan makin lama makin jarang bertemu dengan kota, bahkan mulai mendaki gunung dan menyeberang laut pasir yang luas dan ganas, Tiang Bu baru berani bertanya kepada guru-gurun ya.

Suhu, mengapa makin lama makin sunyi, dan makin jarang kita bertemu manusia? Kita sedang menuju ke mana-kah?"

Giam-lo-ong Ci Kui tertawa bergelak "Kita menuju pulang"

"Pulang ke rumah Sam-wi Suhu?" tanya Tiang Bu, yang cerdik.

"Betul, kau akan ikut dengan kami ke sebuah negara yang besar, sebuah negara yang sebentar lagi akan menjagoi di dunia ini. Kau akan belajar ilmu kepada kami dan kelak kau pun akan membantu negara itu menjadi suatu negara yang jaya dan kuat, ditakuti oleh semua negara lain."

"Suhu, melihat munculnya matahari dari sebelah kanan kita, teecu tahu bahwa kita sedang menuju ke utara. Akan tetapi, teecu belum pernah mendengar dari negara manakah asal Sam-wi, dan negara besar itu negara apakah?"

Ketiga orang kakek itu tertawa bergelak. "Bocah bodoh, masa kau tidak mendengar tentang Mongol yang jaya dan kuat, dan tentang raja besar kami yang tiada taranya. Raja Temu Cin?"

Tentu saja Tiang Bu tidak pernah mendengar nama negara atau raja itu, bahkan ia tidak tahu yang bagaimanakah bangsa Mongol itu. Melihat wajah ketiga orang suhunya, bangsa Mongol tentu jelek.

"Jadi di Negara Mongol itu kita akan menjumpai bangsa Mongol semua, seperti Samwi Suhu?" tanyanya dengan hati kecewa akan tetapi wajahnya tetap tidak berubah.

"Tentu saja di Negara Mongol kau akan bertemu dengan bangsa Mongol," jawab Ang Louw gemas melihat kebodohan muridnya.

Mendengar suara Ang Louw dan tahu bahwa guru ke tiga ini gemas, Tiang Bu berkata sambil tertawa, "Bukan demikian maksud teecu. Tentu saja betul seperti kata Sam-wi Suhu bahwa di Negara Mongol tentu kita akan bertemu dengan bangsa Mongol. Maksud teecu, apakah di sana tidak terdapat bangsa lain dan apakah disana tidak ada pula bangsa Han?"

"Kau tidak tahu, bangsa kami sudah menjadi bangsa besar. Hanya ada beberapa suku bangsa saja yang belum menakluk dan menyatukan diri di daerah utara, akan tetapi sebagian besar sudah bersatu di bawah pimpinan Khan kami yang besar dan semua suku bangsa itu kini menjadi bangsa Mongol. Tentu saja masih ada bangsabangsa lain seperti orang-orang Tibet dan suku-suku bangsa di pedalaman yang berada di Mongol. Mereka ini termasuk orang-orang yang membantu perjuangan kami. Bahkan yang menjadi kepala dari semua orang gagah pembantu kaisar kami adalah seorang Han yang berilmu tinggi. Dia itu bernama Liok Kong Ji dan berjuluk Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tiada Bandingan di Kolong Langit). Kepandaiannya hebat dan dia menjadi tangan kanan raja besar kami."

Agak terhibur hati Tiang Bu mendengar bahwa di utara sana terdapat bangsa Han dan yang lain-lain, karena ia dapat membayangkan bahwa ia akan merasa tidak kerasan kalau harus tinggal di sebuah negara yang orang-orangnya macam Pak-kek Sam-kui ini buruknya!

Akan tetapi segera kekhawatirannya ini lenyap. Setelah ia bertemu dengan beberapa kelompok suku bangsa di antara pegunungan dan padang pasir, ia melihat suku bangsa yang orang-orangnya terdiri dari orang-orang yang sempurna baik bentuk muka maupun bentuk badann ya. Ada kelompok terdiri dari orang-orang berkulit agak coklat kemerahan, akan tetapi wanita-wanitanya manis-manis dan yang laki-laki gagah tinggi besar tubuh mereka kokoh kekar.

Ada kelompok yang orang-orangnya mempun yai kulit putih kuning seperti orang-orang Han biasa, bahkan wanita-wanitanya memiliki kecantikan yang menyendiri dan para prianya juga tampan-tampan, dengan tulang pipi menonjol, hidung mancung dan dagu meruncing kadang-kadang ada belahan di tengahnya. Ada pula kelompok yang prianya memelihara kumis panjang semua baik yang tua maupun yang baru remaja hingga kelihatan lucu sekali. Bahasa mereka juga bermacam-macam, akan tetapi pada umumnya para wanitanya tidak berwatak malu-malu seperti wanita Han, pandang mata dan senyum pada wajah yang manis-manis itu terbuka dan ramah.

Yang nnenyenangkan hati Tiang Bu, setiap kelompok yang bertemu dengan tiga orang gurunya, bersikap menghormat. Di mana-mana Pak-kek Sam-kui disambut seperti rakyat menyambut pembesar tinggi, dijamu dengan hidangan-hidangan pilihan dan diadakan pesta-pesta tarian untuk menyenangkan hati Pak-kek Sam-kui. Ketika para kelompok suku bangsa taklukan itu mendengar bahwa Tiang Bu menjadi murid Pak-kek Sam-kui, mereka juga menghormati anak ini sehingga Tiang Bu yang dipuja- puja merasa sungkan dan malu, akan tetapi perutnya lalu kenyang.

Akhirnya mereka tiba dikaki Gunung Kangai, di mana pada waktu itu Raja Besar Temu Cin dan bala tentaranya tinggal. Markas besar ini dikelilingi pagar tembok dan dijaga amat kuat. Di sekeliling markas ini terdapat dusun-dusun yang ramai. Markas besar itu sendiri merupakan sebuah kota tentara yang megah dan di dalamnya dilengkapi dengan tempat-tempat hiburan bagi anggauta pasukan yang bebas tugas dan beristirahat. Di mana-mana nampak kelompok pasukan yang amat berdisiplin dan bersikap gagah perkasa sehingga diam-diam Tiang Bu merasa gentar juga.

Pak-kek Sam-kui di tempat ini pun selalu disambut dengan hormat oleh para penjaga. Tiga orang kakek itu membawa Tiang Bu masuk ke dalam markas dan langsung menuju ke sebuah bangunan besar di mana berkumpul banyak oran g yan g aneh-aneh sikapnya. Tiang Bu melihat orang-orang yang berpakaian seperti hwesio, ada yang seperti pendeta tosu, ada pula yang compang-camping pakaiannya seperti pengemis. Bahkan banyak pula terdapat wanita-wanita tua yang sikapnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Serdadu-serdadu Mongol dengan sikap menghormat sekali melayani orang-orang ini makan minum.

Ketika Pak-kek Sam-kui tiba di tempat itu, mereka semua menyambut dan menyalam dengan gembira. Ketika Pak-kek Sam-kui yang bercakap-cakap dengan mereka dengan sikap seperti sahabat-sahabat lama memberi tahu atau memperkenalkan Tiang Bu sebagai muridnya, orang-orang itu segera merubung Tiang Bu dan dari sana sini terdengar pujian-pujian. Sayangnya Tiang Bu tidak mengerti bahasa mereka karena mereka bicara dalam bahasa Mongol. Akan tetapi banyak di antara mereka yang pandai bicara dalam bahasa Han dan segera bocah ini dihujani pertanyaan tentang nama dan sebagainya.

"Tiang Bu, mereka semua ini adalah sahabat-sahabat baik kami yang membantu pergerakan ban gsa Mongol yang besar, Mereka ini adalah orang-orang berilmu yang datang dari segala pelosok, kepala-kepala suku bangsa yang menyatukan diri dengan pasukan kami. Kalau kau dapat menyenangkan hati mereka, dan dapat memetik pelajaran-pelajaran dari mereka, kau akan beruntung sekali. Sekarang kau tinggal dulu di sini, kami hendak menghadap raja," kata Ci Kui kepada muridnya.

Tiang Bu mengangguk dan menelan ludah. Ia merasa gelisah juga ditinggalkan seorang diri di antara orang-orang asing yang rata-rata aneh dan menyeramkan itu. Jumlah mereka kurang lebih dua puluh orang dan ruangan yan g amat luas itu masih terus kedatangan orang baru. Juga ada yang menihggalkan ruangan itu. Agakn ya tempat ini menjadi tempat istirahat bagi mereka, beristirahat sambil bercakap-cakap dengan kawan yang dijumpainya dan minum-minum arak.

Benar-benar mereka kelihatan hidup senang. Dari percakapan beberapa orang di antara mereka yang dilakukan dalam bahasa Han, Tiang Bu mendapat kenyataan bahwa mereka ini adalah orang-orang gagah yan g membantu Raja Temu Cin. Mereka ini bercerita betapa mereka sudah berhasil memimpin pasukan menaklukan suku bangsa ini atau itu sehingga kedudukan ban gsa Mongol bertambah lagi.

Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang politik dan tentang keadaan pemerintahan di masa itu. Akan tetapi karena sudah banyak mendengar dari Pak-kek Sam-kui, ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah. orang-orang berilmu yang datang ke tempat itu untuk membantu Temu Cin karena berbagai alasan. Ada yang memang ditaklukkan, ada yang memang suka membantu secara suka rela, ada pula yang karena mengharapkan hadiah yang secara royal dikeluarkan oleh Temu Cin. Melihat cara mereka menyambut Pak-kek Sam-kui seperti sahabat yang setingkat, diam-diam Tiang Bu kagum sekali.

Kepandaian mereka tentu tinggi seperti kepandaian Pak-kek Sam-kui maka mereka berani bersikap seperti itu. Dan dugaan ini memang betul. Pergerakan bangsa Mongol yang dipimpin Temu Cin dapat berkembang dengan cepat dan berhasil, bukan saja karena pandainya Temu Cin memimpin bala tentaranya yang berdisiplin dan gagah, akan tetapi juga terutama sekali karena di belakang raja ini terdapat banyak sekali orang pandai yang membantunya.

Pak-kek Sam-kui memasuki bangunan terbesar yang berada di dalam lingkungan benteng itu. Bangunan ini selain besar juga terjaga kuat sekali. Di sebelah dalamnya indah dan megah. Inilah tempat tinggal Raja Besar Temu Cin! Raja yang berhasil memimpin bangsa yang tadinya awut-awutan dan terpisah-pisah menjadi satu bangsa kesatuan yang amat hebat.

Pak-kek Sam-kui diterima oleh lapisan penjaga yang tujuh lapis banyaknya dan diantar dari penjaga pertama ke pos penjaga ke dua dan selanjutnya sampai ia tiba di pos penjagaan terakhir. Semua penjaga mengenal mereka maka mereka dapat langsung ke dalam tanpa banyak halangan. Dari para penjaga Pak-kek Sam-kui mendapat tahu bahwa raja sedang berundlng dengan dua orang panglima besarnya.

"Kebetulan sekali, bahwa kami meng-hadap," kata Giam-lo-ong Ci Kui.

Setelah seorang penjaga melapor dan mendapat perkenan dari raja, tiga orang kakek aneh itu lalu diperkenankan masuk. Ruangan sidang yang mereka masuki besar dan berlantai mengkilap. Di sudut-sudut delapan penjuru terlihat pengawal-pengawal berdiri tegak dengan tombak dan pedang di tangan. Mereka itu tidak bergerak seperti patung, pandang mata tak pernah terlepas dari raja mereka dan sekelilingnya.

"Pak-kek Sam-kui Suhu datang! Selamat datang, silakan duduk dan mari minum dulu menghilangkan dahaga!" sambutan meriah ini adalah kebiasaan dari Raja Temu Cin setiap kali ia menyambut panglima-panglima atau utusan-utusannya dari sebuah tugas yang berat. Dan dengan ramahnya, tangan raja besar ini sendiri yang menuangkan arak wangi ke dalam cawan untuk tiga orang kakek itu. Pak-kek Samkui yang tadinya berlutut memberi hormat, lalu bangkit membungkuk-bungkuk, menghampiri meja besar, memberi hormat lagi sebelum menerima cawan arak dan menghaturkan terima kasihnya. Kemudian mereka dipersilakan duduk di bangku agak bawah.

Temu Cin adalah seorang raja muda berusia tiga puluh lima atau empat puluh tahun. Tubuhnya tegap dengan dada bidang, mukanya berbentuk segi empat dengan daun telinga lebar panjang, alisnya kecil cocok dengan matanya yang kecil sipit. Kumisnya dipelihara pendek dan di bawah bibir bawah juga terdapat rambut pendek, akan tetapi jenggotnya di bawah dagu dibiarkan panjang. Sinar matanya yang kelihatan ramah dan lembut itu membayangkan kekerasan hati yang tiada bandingannya, hati membaja yang tak dapat dilipat. Inilah Raja Muda Temu Cin calon raja besar di Mongol, pendiri bangsa Mongol yang kuat sekali. Nama besarnya kelak sebagai Raja Jengis Khan akan terkenal di seluruh jagad!

Di dekat kaisar ini duduk dua orang laki-laki yan g berpakaian sebagai panglima perang. Yang sebelah kanan adalah seorang laki-laki tampan dan gagah se-kali, kulit dan bentuk mukanya jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang Han. Inilah dia Thian-te Bu-tek Taihiap Liok Kong Ji, kenalan lama dari para pembaca cerita Pedang Penakluk Iblis.

Liok Kong Ji yang berjuluk Pendekar Besar Tiada Bandingan di Kolong Langit ini sekarang telah berhasil menduduki tempat terhormat di sebelah Raja Muda Temu Cin. Bagi para pembaca yang tidak mendapat kesempatan membaca cerita Pedang Penakluk Iblis, baiklah kita terangkan secara singkat siapa adanya Liok Kong Ji ini.

Liok Kong Ji adalah seorang laki-laki yang sekarang berusia hampir empat puluh tahun. Semenjak kecilnya, Liok Kong Ji memiliki kecerdikan yang amat luar biasa. Dia amat jahat dan berbahaya. Kecerdikannya membuat ia lebih berbahaya lagi sampai-sampai ia berhasil menipu tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, diantaranya Hwa l Enghiong Go Ciang Le, See-thian Tok-ong, Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu dan yang lain-lain sehingga tokoh-tokoh besar ini telah tertipu oleh, Liok Kong Ji di waktu dia masih kecil dan menurunkan ilmu-ilmu mereka yang tinggi kepada bocah setan ini!

Dengan kecerdikannya yang luar biasa itu akhirnya Liok Kong Ji berhasil membuat dirinya pandai dan lihai sekali ilmu silatnya. Bahkan dengan kepandaiannya dan kecerdikannya ia telah berhasil mencuri hati semua tokoh besar di selatan dan timur sehingga ia pernah diangkat oleh mereka ini sebagai Tung-nam-bengcu (Ketua Persilatan Daerah Selatan dan Timur). Kejahatannya melebihi iblis. Banyak orang menderita oleh kejahatannya, dan akhirnya karena tidak dapat menahan kejaran Wan Sin Hong yang ternyata lebih pandai daripadanya, Liok Kong Ji melarikan diri ke utara.

Sebelum melarikan diri, ia melakukan penipuan yang hebat pula dan yang hanya diketahui oleh Wan Sin Hong seorang. Hal ini terjadi ketika N yonya Pangeran Wanyen Ci Lun, yaitu Gak Soan Li yang di waktu masih gadis pernah menjadi korban kekejian Liok Kong Ji sehingga melahirkan anak diluar kehendaknya, berhasil membunuh Liok Kong Ji! Bagi semua orang, terutama sekali Gak Soan Li sendiri, yang dibunuh itu tentu Liok Kong Ji si manusia jahanam.

Akan tetapi pada hakekatnya, dan ini hanya diketahui oleh Wan Sin Hong, Liok Kong Ji masih hidup dan yang terbunuh itu hanya orang lain, yaitu orang yang dipergunakan oleh Liok Kong Ji untuk melindungi dirinya karena orang itu kebetulan sekali memiliki bentuk muka dan tubuh yang serupa dengan dia. Semua ini dapat anda baca dalam cerita Pedang Penakluk Iblis yang amat menarik.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Demikianlah perkenalan secara singkat dengan tokoh besar ini, yang sekarang memakai nama julukan Thian-te Bu-tek Taihiap. Hanya kecerdikannya semata yang dapat membuat ia diterima dan diangkat sebagai komandan oleh Raja Temu Cin. Raja orang-orang Mongol ini memang seorang pemimpin yang amat pandai. Raja Temu Cin-maklum betul bahwa Liok Kong Ji bukan manusia baik, berhati palsu, berwatak keji dan dengki dan kalau menjadi musuh, merupakan lawan yang amat berbahaya.

Akan tetapi Temu Cin tidak membutuhkan wataknya, tidak peduli apakah orang jahat atau baik, yang penting baginya adalah tenaga orang itu. Asalkan dapat membantu perjuangannya, memperkuat bala tentaranya, ia akan menutup mata terhadap kejahatan orang itu dan akan mengangkatnya sebagai pembantu. Justeru orang semacam Liok Kong Ji ini amat dibutuhkan oleh Temu Cin. Ilmu silatnya tinggi, orangnya kejam, dan memiliki kecerdikan luar biasa dan tipu muslihat yang hebat-hebat!

Oleh karena itu, ia menerima Liok Kong Ji dengan senang hati, memberi hadiah dan pangkat tinggi, dan menyenangkan hati orang she Liok ini. Raja orang Mongol ini maklum akan watak Kong Ji yang mata keranjang, maka untuk menyenangkan hatinya, sengaja Temu Cin memberi hadiah puteriputeri dan dara-dara cantik hasil rampasan dari berbagai suku bangsa yang ditalukkan. Makmur dan senanglah penghidupan Liok Kong Ji dengan belasan orang selirnya yang cantik-cantik!

Namun kebahagiaan hidup seseorang tak mungkin dapat diukur dengan keadaan lahir saja, dan biasanya kebahagiaan hanyalah khayal pandangan orang-orang luar berdasarkan harta benda dan kedudukan. Akan tetapi, sesungguhnya bahagiakah hidup Liok Kong Ji? Tidak! I a sudah terlalu biasa dengan kemewahan dan kecukupan sehingga pangkat tinggi dan harta benda serta belasan orang selir itu tidak mendatangkan kebahagiaan, dan semua itu tidak terasa lagi kesenangannya. Sering kali ia duduk termenung memikirkan kekecewaan hatinya yang kadang-kadang mengganjal isi dadanya.

Ia sering kali murung kalau sedang demikian dan apabila selir-selirnya datang hendak menghlburnya, ia mengusir mereka pergi seperti orang mengusir ayam. Kadang-kadang ia memaki-maki belasan orang selirnya ini, dimakinya mereka itu bodoh, tidak sehat, tidak setia dan lain-lain makian kotor. Semua selirnya tahu belaka mengapa Liok Kong Ji bersikap seperti ini dan di belakang mereka mengomel dan berkata.

"Dia sendiri yang tidak becus, mengapa marah-marah kepada orang lain? Kalau hanya seorang isteri saja yang tidak bisa punya anak, bolehlah dipersalahkan isteri itu, akan tetapi kalau lima belas orang selir tak seorang pun yang bisa punya anak, sudah jelas letak kesalahannya bukan pada selir-selir itu melainkan kepada suaminya! ” Demikian mereka mengomel.

"Memang, ganjalan hati Liok Kong Ji yang sering membuat ia termenung dan marah-marah adalah karena ia tidak mempunyai keturunan. Inilah sebabnya mengapa ia sampai mempunyai demikian banyak selir, di samping lain sebab bahwa ia memang seorang mata keranjang. Makin tua ia merasa makin gelisah kalau mengingat bahwa ia tidak mempunyai keturunan seorang pun! Akhirnya atas nasihat Temu Cin, Liok Kong Ji memungut dua orang anak, keduanya adalah anak-anak perempuan yang manis-manis berusia lima dan enam tahun. Mengapa ia memungut anak perempuan dan bukan laki-laki? Ini tentu ada sebabnya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan. Kong Ji adalah seorang yang memiliki watak rendah dan jahat. Tak mungkin ia dapat sayang kepada orang, lain yang bukan anaknya sendiri, kalau orang itu laki-laki. Kalau perempuan lain lagi karena ia mengandung harapan bah wa kalau kelak anak-anak itu menyenangkan hatinya, ia bisa mengambilnya sebagai ....... bukan sebagai anak, melainkan sebagai selir muda! Memang dalam batin bejat seperti ini selalu terkandung maksud-maksud yang kotor dan tidak suci.

Karena maksud hati kotor ini, maka pengangkatan dua orang anak itu tidak memuaskan hatinya dan sering kali kalau sedang termenung seorang diri, ia teringat kepada Gak Soan Li. Sama sekali bukan teringat karena ia amat mencinca wanita ini, bukan. Orang macam Kong Ji ini mana mempunyai perasaan cinta kasih yang suci? Ia bersifat mata keranjang dan suka akan wanita hanya berdasarkan nafsu-nafsu kotor semata. Ia sering kali termenung kepada Soan Li oleh karena hanya wanita inilah yang telah melahirkan seorang anak keturunannya! Ingin sekali ia tahu di mana adanya anaknya itu, laki-laki atau perempuan?

Lima belas orang selirnya selain muda-muda dan cantik-cantik, juga kelihatan amat sayang dan cinta kepadanya. Hal ini tidak aneh oleh karena Kong Ji pernah membunuh seorang selir yang berani memperlihatkan sikap membenci kepadanya. I a mencekik selir itu begitu saja sampai mati di depan semua selirnya sehingga mereka menjadi takut sekali kalau-kalau mengalami nasib mengerikan seperti itu.

Oleh karena ini maka mereka berlumba mengambil hati Kong Ji. Hanya seorang saja di antara lima belas orang selir itu yang bersikap sewajarnya dan tidak mengambil-ambil hati. N amun Kong Ji pun tidak mengganggunya, oleh karena selir ini memang paling cantik dan paling disayangi, selain itu Kong Ji pun tidak berani menyiksanya apalagi membunuhnya.

Selir ini adalah bekas isteri seorang panglima besar Mongol yang masih muda. melihat kecantikan isteri panglima muda itu, Kong Ji tak dapat menahan nafsunya dan dengan kepandaiannya yang tinggi ia mendatangi kamar panglima itu untuk mengganggu isterinya. Panglima itu melihatnya dan terjadi pertempuran, akan tetapi dia bukan lawan Kong Ji. Dalam belasan jurus saja panglima itu tewas dan Kong Ji menculik isteri panglima itu ke rumahnya.

Temu Cin mendengar tentang hal ini. Akan tetapi dia tidak menghukum Kong Ji, bahkan dengan sah memberikan wanita itu kepada Kong Ji sebagai selirnya dengan pesan supaya Kong Ji memperlakukan janda muda itu baik-baik, kemudian menyuruh orang mengubur jenazah panglima mudanya. Habis perkara!

Temu Cin bukan seorang hakim, melainkan seorang raja yang sedang membangun kerajaannya. Oleh karena itu segala keputusannya bukan berdasarkan keadilan melainkan berdasarkan rugi untung bagi kemajuan kerajaannya. Kong Ji adalah orang panglima yang boleh diandalkan, apakah artinya seorang panglima muda seperti yang telah terbunuh itu? Dan lagi, soalnya adalah perebutan perempuan. Perkara yang tidak ada artmya bagi Temu Cin.

Cukuplah kiranya tentang Liok Kong Ji panglima besar yang usianya hampir empat puluh tahun, berwajah tampan, bersikap halus terpelajar, dan berkepandaian tinggi serta memilikl kecerdikan luar biasa ini. Kita kembali ke ruangan sidang di mana Raja Temu Cin sedang menyambut kedatangan Pak-kek Sam-kui.

Di sebelah kiri Temu Cin duduk seorang berpakaian panglima pula. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa. Mukanya penuh brewok dan hampir menutupi hidung dan mulutnya. Hanya matanya saja yang kelihatan nyata, sepasang matanya setengah keluar, menakutkan. Inilah panglima besar yang usianya sudah Lima puluh tahun, bernama Bouw Gun dengan julukan Bu-tek Sin-ciang (Tangan Sakti Tiada Bandingan).

Oleh karena julukan inilah kiranya maka Liok Kong Ji mengambil julukan yang lebih unggul, yaitu Thian-te Bu-tek Taihiap (Pendekar Besar Tanpa Ban dingan di Kolong Langit). Dan ia memang berhak memakai julukan yang lebih hebat dan tinggi daripada Bouw Gun karena dalam sebuah pertandingan ketika hendak diterima oleh Temu Cin, ia telah mengalahkan Bouw Gun ini. Dua orang ini, Liok Kong Ji dan Bouw Gun, pada waktu itu merupakan pembantupembantu lihai.

Setelah Pak-kek Sam-kui minum arak yang disuguhkan oleh Temu Cin sendin, mereka lalu membuat laporan tentang perjalanan mereka melakukan tugas. Mereka melaporkan bahwa Wan Sin Hong menolak undangan Temu Cin dan menceritakan pula tentang peristiwa yang mereka alami di puncak Luliang-san, di mana Sin-saikong Ang Louw telah mencoba kepandaian Hui-eng N iocu Siok Li Hwa.

"Sayang," kata Liok Kong Ji. "Kepandaian Wan Sin Hong benar-benar tinggi dan kalau kita berhasil menariknya, tentu ia akan dapat menghadapi orang-orang seperti Ang-jiu Mo-li."

Kemudian Pak-kek Sam-kui melanjutkan pelaporan mereka. Dengan menarik hati mereka menceritakan bahwa mereka telah berhasil merebut simpati dari para tokoh kang-ouw di daerah selatan. Temu Cin girang sekali mendengar ini, sambil tertawa bergelak ia kembali menuang-kan arak ke dalam tiga cawan dan mempersilakan Pak-kek Sam-kui minum. Inilah penghormatan besar sekali bagi tiga orang utusan ini!

"Bagus-bagus! Dan bagaimana penye-lidikan kalian tentang sikap suku bangsa Shia-shia yang berkepala batu itu?" tanya Temu Cin kepada Pak-kek Sam-kui.

"Mereka masih tetap hendak berdiri sendiri, merdeka dan terlepas dari kita maupun dari kerajaan-kerajaan di selatan. Bangsa Shia-shia itu biarpun hanya sekelompok saja namun merupakan rintangan yang besar dalam cita-cita kita menyerbu ke selatan. Akan tetapi, hamba bertiga berani memastikan bahwa mereka pun takkan sudi bersekutu dengan Kerajaan Cin," kata Giam-lo-ong Ci Kui.

"Biarlah, jumlah mereka besar. Kelak dalam pergerakan kita, kalau mereka suka membantu syukur, kalau tidak kita harus mempergunakan kekerasan."

Kemudian Giam-lo-ong Ci Kui menceritakan pengalamannya di Go-bi-san, ketika ia dan dua orang sutenya membawa pasukan menyerbu Hui-eng-pai. "Karena hamba mendengar bahwa Hui-eng-pai di bawah pimpinan Hui-eng Niocu merupakan perkumpulan wanita yang kuat, maka hamba bermaksud menaklukan mereka dan menarik mereka membantu kita."

"Bagus sekali! Selain tenaga mereka kita butuhkan, juga mereka terdiri dari banyak wanita-wanita cantik yang dapat menggembirakan hati anak buah kita!" kata Liok Kong Ji gembira mendengar penuturan Ci Kui.

"Liok-taihiap tak pernah ketinggalan kalau mendengar wanita-wanita cantik,” kata Bu-tek Sin-ciang Bouw Gun sambil tersenyum. Juga Temu Cin tertawa lebar.

"Tentu saja, kalau kita dapat menggembirakan hati para pemimpm pasukan bukankah mereka akan makin bersemangat?" jawab Kong Ji.

“Tentu saja diberikan kepada mereka setelah dipilih dan diambil yang paling baik untuk pengisi taman bungamu sendiri. Bukankah begitu, Saudara Liok?” kata Temu Cin menggoda.

Liok Kong Ji tersenyum dan mengangguk. "Dengan seijin Paduka tentu saja akan terjadi demikian, karena bukankah panglima mendapat hak lebih dulu dari anak buahnya, bukan?"

Temu Cin tidak menjawab hanya tertawa bergelak lalu menyuruh Giam-lo-ong Ci Kui melanjutkan penuturannya.

"Sayangnya hamba tidak berhasil karena di luar dugaan hamba bertiga di sana sudah muncul Wan Sin Hong!"

Temu Cin dan Liok Kong Ji tertarik sekali dan mendesak supaya Ci Kui segera melanjutkan laporannya. "Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Hamba sudah mengerahkan kawan-kawan dan bertempur mati-matian, akan tetapi Wan Sin Hong benar-benar lihai sekali. Akhirnya karena anak buah hamba semuanya binasa terpaksa hamba melari-lkan diri."

Terdengar Temu Cin menggebrak meja. Raja ini marah sekali. mendengar sepasukan orang-orangnya telah binasa oleh Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa. Juga Liok Kong Ji menjadi kecewa sekali.

"Bawa pasukan yang lebih besar dan tangkap anjing Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa itu!" seru Kong Ji lupa diri saking marahnya. Ia benci sekali kepada Sin Hong dan ini sudah sewajarnya karena ia sampai lari dari pedalaman dan tinggal di Mongol hanya karena takut menghadapi kejaran Sin Hong.

Akan tetapi Temu Cin mengangkat tangan dan memandang kepadanya dengan mata tajam. "Saudara Liok, tenanglah. Seorang yang dapat melawan Pak-kek Sam-kui dan tidak saja mengalahkan mereka bahkan membinasakan sepasukan tentara pilihan, tidak seharusnya dibunuh. Pak-kek Sam-kui, sekarang kalian kuberi tugas, usahakan sedapat mungkin agar supaya Wan Sin Hong bisa menghadap ke sini dan membantu aku. Persidangan selesai!"

Dengan hati masih panas Liok Kong Ji terpaksa menjura dengan hormat bersama yang lain-lain, lalu mengundurkan diri keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar, Kong Ji minta kepada Pak-kek Sain-kui supaya menceritakan lagi sejelas-jelasnya tentang pertempuran di Go-bi-san itu. Ci Kui menuturkan dengan jelas, bahkan menceritakan pula betapa nama Liok Kong Ji masih dihormati dl selatan. Hal ini menggirangkan hciti Kong Ji dan diam-diam ia merasa rindu untuk pulang ke pedalaman hanya ia masih gentar menghadapi Wan Sin Hong.

Ketika mereka tiba di tempat peristirahatan dan melihat seorang bocah dikerumuni para perwira, Kong Ji laki bertanya. "Siapakah bocah ini?" Ia merasa heran melihat seorang bocah bangsa Han berada di tempat itu.

"Taihiap, dia ini murid Pak-kek. Sam-kui, apa kau belum tahu?"

Kong Ji menatap wajah bocah itu, wajah yang buruk dan tidak menyenangkan hatinya, kemudian ia berpaling kepada Ci Kui, "Apakah kau mendapatkan murid ini di selatan?"

Ci Kui tertawa. "Bocah ini bukan sembarangan bocah, karena dia sudah diperebutkan antara Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa!" Kemudian ia menuturkan tentang keadaan Hui-eng-pai ketika Tiang Bu diperebutkan oleh Sin Hong dan Siok Li Hwa. Kong Ji merasa heran sekali mendengar ini. Kalau sampai Sin Hong dan Li Hwa memperebutkan bocah ini, tentu ada hal yang luar biasa pada anak ini. Ia menjadi tertarik dan memanggil bocah itu mendekat.

Melihat seorang panglima gagah memanggilnya dengan suara dan bahasa Han, Tiang Bu segera maju menghadap dan berdiri di depan Liok Kong Ji. Setelah dekat, Kong Ji melihat bahwa di balik kulit muka yang kotor dan pakaian yang compang camping itu ia melihat sinar mata yang tajam sekali, wajah yang tidak tampan namun membayangkan ketabahan luar biasa dan gerakan bocah itu ketika berjalan membayangkan bakat ilmu silat yang besar.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Nama saya Tiang Bu," jawab anak itu tegas, dan sedikit pun tidak kikuk atau takut-takut.

"Siapa ayah bundamu?" tanya pula Kong Ji yang tertarik hatinya bukan karena bocah ini sendiri, melainkan oleh kenyataan bahwa bocah itu diperebutkan oleh Sin Hong dan Li Hwa.

"Saya tidak punya ayah bunda, entah siapa mereka saya tidak tahu."

"Kau yatim piatu dan sebatangkara?"

Tiang Bu mengangguk dan membalas tatapan sinar mata Kong Ji tanpa takut. "Mengapa kau diperebutkan oleh Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa?"

"Hui-eng Niocu ingin mengambil murid padaku, lalu datang laki-laki itu yang hendak merampasku. Entah apa sebabnya saya sendiri pun tidak tahu."

Jawaban-jawaban ini tidak menarik hati Kong Ji dan ia beranggapan bahwa tentu dua orang itu melihat bakat baik dalam diri anak ini dan berebutan hendak menjadi gurunya. Tidak aneh dan tidak menarik. Ia menoleh kepada Ci Kui.

Giam-lo-ong Ci Kui tersenyum. "Tadinya kami merampasnya hanya untuk membalas dendam kepada Wan Sin Hong dan Hui-eng Niocu. Kemudian kami tertarik melihat bakat pada bocah ini dan melihat ketabahannya. Oleh karena itulah maka kami lalu mengambil keputusan untuk mengambilnya sebagai murid."

Kong Ji tidak berkata apa-apa lagi dan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke gedungnya sendiri. Mendengar penuturan Pak-kek Sam-kui tentang pedalaman Tiongkok, ia menjadi rindu sekali akan tanah airnya. Ini bukan berarti bahwa dalam dada Liok Kong Ji ada sedikit semangat patriotik, melainkan ia ingin menikmati segala kesenangan yang bisa didapatkan di selatan dan yang sukar dicari di daerah utara yang dingin itu.

Adapun Pak-kek Sam-kui lalu mengajak Tiang Bu ke sebuah dusun tak jauh dari benteng itu di mana memang biasanya Pak-kek Sam-kui tinggal kalau mereka tak sedang menjalankan tugas. Dusun ini merupakan dusun istimewa yang boleh dibilang paling baik keadaannya di antara semua dusun di sekitar pegunungan itu, di sinilah sebagian besar perwira tinggal bersama anak isteri mereka. Juga didusun ini berdiri gedung tempat tinggal Liok Kong Ji bersama lima belas orang selir, dua orang anak angkat dan sejumlah besar pelayan, Di gedung yang terbuat dari kayu ini Liok Kong Ji tinggal seperti seorang raja muda...

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 09 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »