Tangan Gledek Jilid 02

Tangan Gledek Jilid 02

Kim-bun-to (Pulau Pintu Emas) adalah sebuah pulau kecil yang indah di dekat pantai timur. Pulau ini dekat saja dengan pantai, hanya terpisah oleh air laut sejauh dua li. Rumah-rumah di atas pulau itu kelihatan jelas dari pantai.

Oleh karena air laut yang memisahkan pulau dan daratan Tiongkok ini airnya selalu tenang, jernih, dan banyak ikannya, maka tempat ini menjadi tempat pesiar dan terkenal di seluruh Tiongkok. Selain menjadi tempat menghibur hati, juga pantainya menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Rumah di Kim-bun-to bagus-bagus dan kelihatan semua masih baru. Memang, lima tahun yang lalu, rumah-rumah di atas pulau ini telah dibakar habis oleh barisan Pemerintah Kin yang ditipu oleh penjahat siluman Liok Kong Ji. Akhirnya, berkat bantuan Pangeran Wanyen Ci Lun, kaisar insyaf akan kekeliruannya dan memerintahkan supaya semua rumah yang terbakar diganti dengan rumah baru!

Pulau ini menjadi makin tersohor semenjak terjadi peristiwa serbuan oleh tentara Pemerintah Kin itu. Di atas pulau itu terjadi geger besar yang mengguncangkan dunia kang-ouw. Terjadi pertempuran hebat antara tokoh-tokoh persilatan yang terkenal menjagoi dunia kang-ouw di masa itu. Dalam pertempuran inilah jago-jago silat berguguran, di antaranya Cam-kauw Sin-kai, sepasang suami isteri Pendekar Go Ciang Le yang berjuluk Hwa I Enghiong dan isterinya Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan, dan masih banyak orang-orang gagah lain yang kebetulan menjadi tamu di waktu serbuan terjadi.

Di pihak para penyerbu, tewas pula See-thian Tok-ong dan isterinya, Kwan Ji Nio. Sepasang suami isteri ini bukan orang-orang sembarang, melainkan tokoh-tokoh besar dari barat yang sudah menggoncangkan dunia persilatan di Tiongkok. Semua ini terjadi pada saat dilangsungkan pernikahan antara puteri Hwa I Eng-hiong Go Ciang Le yang bernama Go Hui Lian dengan Coa Hong Kin, pemuda tampan dan gagah murid dari Cam-kauw Sin-kai (baca Pedang Penakluk Iblis).

Di antara sekian banyak rumah-rumah baru di atas Pulau Kim-bun-to, terdapat sebuah rumah besar di tengah-tengah, yang menonjol karena paling tinggi di antara semua bangunan di situ. Inilah rumah yang menjadi tempat tinggal Coa Hong Kin dan isterinya. Pangeran Wan-yen Ci Lun yang membangun rumah ini untuk membalas budi Coa Hong Kin yang dulu menjadi tangan kanannya yang setia.

Keluarga Coa ini disegani dan dihormati oleh semua orang baik penduduk Pulau Kim-bun-to maupun orang-orang yang datang dari daratan Tiongkok. Siapakah yang berani mengganggu mereka dan bagaimana semua orang tidak menghormati keluarga ini? Coa Hong Kin terkenal gagah perkasa di samping sikapnya yang halus dan lemah lembut seperti seorang terpelajar yang ramah tamah.

Akan tetapi di dalam pertempuran ia akan berubah menjadi seorang yang lihai bukan main dengan sen jatanya yang istimewa, yaitu sebatang tongkat pendek berkepala ular yang disebut Coa-thouw-tung, ia dapat mainkan Ilmu Silat Cam-kauw-tung-hoat (Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing) dan kiranya tidak banyak orang yan g dapat mengalahkan dia dengan ilmu tongkatnya ini.

Di samping dia, masih ada isterinya yang tidak kalah lihainya, kalau tidak boleh dibilang lebih lihai malah! Isterinya ini Go Hui Lian, adalah anak tunggal dari mendiang Hwa I Enghiong Go Ciang Le yang kepandaiannya sudah dikenal oleh semua tokoh kang-ouw. Sudah tentu saja Go Hui Lian ini mewarisi kepandaian dari ayahnya dan juga dari ibunya yang memiliki kepandaian sangat tinggi pula. Kelihaian Hui Lian adalah permainan pedang, akan tetapi di samping ini, ia pandai pula memainkan delapan belas macam senjata dan ilmu silat tangan kosongnya juga sudah berada di tingkatan tinggi.

Suami isteri ini mempunyai dua orang anak, seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih, yang ke dua seorang anak berusia dua tahun. Sebetulnya, anak pertama yang laki-laki itu bukan anak mereka sendiri, melainkan anak angkat. Anak ini mereka pelihara semenjak kecilnya dan mereka beri nama Coa Tiang Bu. Rahasia bahwa anak laki-laki ini bukan anak mereka yang sesungguhnya, mereka simpan rapat sekali sehingga tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Hal in i adalah untuk menjaga nama baik ibu yang aseli daripada anak itu. Ibunya bukan lain adalah Gak Soan Li, suci dari Hui Lian.

Dalam cerita Pedang Penakluk Ibiis telah diceritakan betapa Gak Soan Li ketika masih gadis terjatuh ke dalam tangan penjahat siluman Liok Kong Ji dan dalam keadaan tidak sadar dan setengah gila, Soan Li menjadi korban kekejian Liok Kong Ji. Oleh karena itu, ketika Gak Soan Li mengandung dan melahirkan anak, anak ini dianggap sebagai anak yang tidak berayah. Diam-diam anak yang hendak dibunuh oleh Gak Soan Li ini, dipelihara baik-baik oleh Hui Lian yang mengaku sebagai puteranya sendiri.

Anak ke dua, yaitu puteri yang sesungguhnya dari Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, diberi nama Coa Lee Goat. Semenjak kecil Coa Tiang Bu nampak sayang sekali kepada Lee Goat. Setiap kali ia makan sesuatu tentu ia ingat kepada adiknya ini dan memberinya. Kalau Lee Goat yang baru dua tahun usianya itu menangis, Tiang Bu menghiburnya sedapat mungkin sehingga nampak lucu sekali. Bahkan kalau Lee Goat sedang rewel dan menangis tidak mau diam-diam, saking bingung dan ikut sedih Tiang Bu juga ikut-ikutan menangis!

Tiang Bu nampak cerdik sekali sejak ia masih kecil. Sayangnya, bocah ini tidak bisa dikatakan tampan. Mukanya berbentuk segi empat, kulit mukanya agak kemerahan tanda sehat, jidatnya lebar sekali sampai hampir setengah kepala seperti botak, rambutnya hitam kaku seperti bulu kuda, sepasang alisnya berbentuk golok tebal dan hitam, matanya tajam sekali kelihatan seperti mata penjahat kejam, hidungnya pesek dan bibirnya tebal sekali. Dari kecil sudah dapat dilihat bahwa bentuk tubuhnya padat dan kuat. Sering kali di waktu malam apabila anak itu sudah tidur, Hui Lian dan Hong Kin memandang muka Tiang Bu ini dan Hui Lian berkata menyatakan keheranannya.

"Benar-benar aneh sekali, Enci Soan Li cantik manis, juga Kong Ji orangnya tampan, mengapa dia ini begitu jelek?"

Suaminya menarik napas panjang. "Dapat dimengerti. Bocah ini tercipta dalam keadaan yang tidak sewajarnya, ibunya dalam keadaan sengsara lahir-batin, ayahnya dikuasai oleh iblis, tidak mengherankan apabila keturunan yang keluar bermuka buruk. Akan tetapi kita harap saja biarpun mukanya buruk, wataknya jangan seburuk rupanya, dan semoga iblis yang menguasai ayahnya jangan menurun kepadanya."

Hong Kin dan Hui Lian memang berhati mulia. Melihat keburukan Tiang Bu, mereka sama sekali tidak membenci, bahkan merasa kasihan kepada anak yang tidak diakui oleh ayah bundanya ini, yang kini telah menjadi putera mereka sendiri. Apalagi melihat Tiang Bu begitu sayang kepada Lee Goat, mereka makin suka kepada Tiang Bu.

"Kita jangan memberi pelajaran ilmu silat kepadanya siapa tahu kalau-kalau sifat keturunan ayahnya ada padanya. Tanpa memiliki kepandaian silat, ia tidak mempunyai andalan untuk menyeleweng di kemudian hari," kata Hong Kin.

Isterinya merasa setuju sekali sungguhpun agak kecewa mengapa Tiang Bu bukan putera mereka sendiri yang boleh diberi pelajaran ilmu silat mereka yang tinggi tanpa ragu-ragu lagi. Berbeda dengan sepasang suami isteri yang baik hati ini, anehnya hampir semua orang yang melihat Tiang Bu merasa tak senang kalau tak boleh dikatakan benci. Entah mengapa wajah anak ini segala gerak-geriknya menimbulkan kebencian dan kegemasan. Semua pelayan yang berada di dalam rumah besar itu, benci belaka kepada Tiang Bu.

Memang para pelayan inilah yang mengetahui bahwa Tiang Bu bukanlah putera aseli dari majikan mereka, bahkan mereka mendengar dari para pelayan tua yang semenjak dahulu telah menjadi pelayan dari keluarga Go dan sekarang ikut pula bekerja di rumah Go Hui Lian, bahwa bocah itu adalah putera suci dari nyonya majikan mereka dan tidak karuan ayahnya!

Inilah agaknya yang menimbulkan rasa tak senang dan benci. Baiknya Tiang Bu masih terlalu kecil untuk mengerti atau merasa akan hal ini. Di depan Hong Kin atau Hui Lian, tidak ada orang berani mengganggu Tiang Bu, akan tetapi di belakang dua orang ini, para pelayan suka menggodanya dan mentertawakannya.

Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tiang Bu yang berusia lima tahun itu sudah berada di dalam kebun bunga luas. Anak ini mencari-cari dengan pandang matanya, kemudian dengan girang ia melihat yang dicarinya, yaitu kembang berwarna merah yang mekar di dalam pohonnya yan g agak besar. Cepat anak ini menghampiri batang pohon itu dan tanpa ragu-ragu ia mulai memanjat ke atas.

"Eh, bocah bengal, pagi-pagi kau sudah mau main panjat-panjatan. Kalau kau jatuh dan kepalamu pecah, aku yang dimaki, tahu?" tiba-tiba terdengar bentakan dan tukang kebun menarik turun anak itu.

"Aku tidak mau turun!" Tiang Bu merengek dan kedua tangannya memeluk batang pohon erat-erat. "Jangan tarik-tarik kakiku."

"Tidak boleh naik, turun kau!" bentak tukang kebun gemas, ditambahnya makian perlahan. "Dasar anak haram!"

"Tidak, aku tidak mau turun. Aku hendak mencarikan bunga merah yang diminta Adik Lee Goat!"

Melihat tukang kebun itu masih saja menarik-narik kakinya, ia mengancam, "Lepaskan kalau tidak kau kukencingi!"

Tukang kebun itu sesungguhnya bukan takut melihat anak ini jatuh, karena memang sudah sering Tiang Bu main panjat-panjatan, melainkan ia lebih cepat disebut menggoda anak itu supaya kehilangan kegembiraannya. Maka ia membetot-betot terus sambil tertawa-tawa menggoda. Tiba-tiba ia melepaskan pegangannya dan melompat mundur sambil menyumpah-nyumpah. Mukanya menjadi basah oleh air kencing yang betul -betul dikeluarkan oleh anak itu.

"Bangsat kecil, bocah haram...” Makinya perlahan, karena biarpun ia merasa marah dan mendongkol, ia tidak berani memaki anak itu keras-keras.

"Apa kau bilang, Sam-lopek?" anak itu menunda panjatannya ketika mendengar sebutan terakhir yang tidak dimengertinya.

Akan tetapi tukang kebun itu tidak menjawab dan Tiang Bu melanjutkan usahanya memetik bunga merah yang hendak diberikan kepada Lee Goat. Tiba-tiba mata tukang kebun melihat seekor kumbang besar beterbangan di sekitar pohon kembang itu, agaknya hendak mencari madu kembang. Untuk melampiaskan marahnya, juga dengan hati setengah mengharap agar kumbang itu menyengat Tiang Bu, ia mengambil batu kecil dan melempari kumbang yang sedang menghisap madu.

Lemparan itu tepat sekali mengenai kumbang itu dan si kumbang terlempar, akan tetapi tidak mati. Kumbang menjadi marah sekali dan di lain saat, kumbang itu terbang menyambar ke arah pohon dan menyerang Tiang Bu. Tukang kebun menyeringai kegirangan.

Terdengar pekik kesakitan dan tubuh anak itu terguling jatuh dari atas pohon. Malang baginya, di bawah pohon terdapat batu besar. Jatuhnya menimpa batu dan anak itu tidak berkutik lagi, meringkuk pingsan. Barulah tukang kebun menjadi pucat dan panik.

"Bangsat keji!" Bentakan nyaring ini mengejutkan tukang kebun yang tidak jadi lari masuk. la menengok dan melihat seorang wanita cantik tahu-tahu telah berdiri di depannya.

”Kau memaki siapa?" tukang kebun yang berangasan ini bertanya marah.

"Siapa lagi kalau bukan kau! Kau yang menyebabkan anak itu jatuh, orang macam kau harus dipukul mampus”.

Tukang kebun itu menjadi marah, marah karena ia takut kalau-kalau dakwaan ini terdengar oleh majikannya. ”Apa kau gila? Dia itu putera majikanku, bagaimana aku berani membuatnya jatuh? Kau perempuan gila sembarangan memaki orang. Kutampar mukamu!"

Wanita itu tersenyum mengejek. "Kau? Macam engkau bisa memukul orang? Hah, seekor semut pun akan mentertawakanmu kalau mendengar obrolanmu ini!"

Diejek seperti itu, tukang kebun ini menerjang maju dan tangan kanannya diayun untuk menampar pipi wanita cantik itu. Akan tetapi, sungguh luar biasa. Sebelum tangan itu mengenai pipi yang halus kemerahan, tiba-tiba tukang kebun itu menjerit, tubuhnya terpental, jatuh dan napasnya empas-empis.

Dengan tenang wanita itu menghampiri bawah pohon, menyambar tubuh Tiang Bu yang masih pingsan. Ia memandang muka yang jelek itu, tersenyum mengejek dan berkata lirih, "Macam ini putera Hui Lian? Hah, menyebalkan!"

Pada saat itu, terdengar desiran angin dan dua orang berkelebat dari dalam rumah. Mereka ini bukan lain adalah Hui Lian dan Hong Kin. Melihat datangnya kedua orang majikannya itu, tukang kebun yang sudah siuman kembali menuding ke arah wanita itu sambil berkata, suaranya lemah terengah-engah.

"Dia... dia hendak menculik Kong-cu..." Dan ia roboh pingsan lagi karena dadanya sesak seperti dipukul oleh benda keras yang berat.

Hui Lian dan Hong Kin melompat kedepan wanita yang memondong Tiang Bu itu dan melihat wajah yang cantik itu tersenyum mengejek.

"Kau.... bukankah kau Hui-eng Niocu Siok Li Hwa...?" tanya Hui Lian kaget.

Li Hwa tersenyum. "Kalian tidak patut menjadi ayah bunda bocah ini. Aku hendak membawanya dan biarpun di sana ada Wan Sin Hong bengcu yang akan membela kalian mati-matian, aku tidak takut." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Li Hwa telah berada di atas tembok taman.

"Lepaskan anakku" Hui Lian membentak dan sekali berkelebat ia pun telah mengejar dan kembali dua orang wanita yang sama cantik dan sama gagahnya ini telah saling berhadapan di luar tembok taman, diikuti oleh Hong Kin yang hampir berbareng menyusul.

"Hui-eng Niocu, diantara kita tidak ada permusuhan, mengapa kau hendak menculik anakku?" bentak Hui Lian yang sudah mencabut pedangnya.

"Hei, Tiang Bu seperti pingsan dan tubuhnya berdarah...!" Hong Kin berseru kaget sambil menuding ke arah Tiang Bu yan g masih pingsan dalam pondongan Li Hwa.

"Memang dia jatuh dari pohon, kakinya patah... " kata Li Hwa seenaknya seakan-akan hal itu tidak berarti apa-apa.

”Kau hendak mencelakai anakku. Kembalikan!" Hui Lian sudah tak sabar lagi dan maju menusukkan pedangnya ke arah lambung Li Hwa dan tangan kirinya menyambar tubuh Tiang Bu yan g dipondong oleh Hui-eng N iocu.

"Galak seperti Ibunya...!" Li Hwa mengejek dan cepat melompat mundur. "Tentang jatuhnya, lebih baik kau siksa tukang kebunmu suruh dia mengaku!" Li Hwa terus melompat jauh dan melarikan diri.

"Penculik jangan lari!" Hong Kin berseru marah dan bersama isterinya ia pun mengejar cepat.

Li Hwa memutar tubuh dan berseru, "Awas senjata!" Tangannya yang kiri bergerak dan belasan sinar hijau menyambar ke arah dua orang pengejarnya. Inilah senjata rahasia Cheng-chouw-ciam (Jarum Rumput Hijau) yang amat lihai. Sampai tiga kali Li Hwa menggerakkan tangannya dan tiga kali belasan jarum hijau ini menyambar ke arah Hui Lian dan Hong Kin.

Suami isteri ini lihai ilmu Silatnya, tentu saja mereka dapat menghindarkan diri dari bahaya dengan mudah akan tetapi kejaran mereka tertunda dan sebentar saja Li Hwa sudah lenyap dari situ, mereka terus mengejar, bahkan mencari sampai ke pinggir laut. Akan tetapi karena tidak tahu arah mana yang diambil oleh Li Hwa untuk menyeberang ke daratan, mereka menjadi bingung. Hui Lian mengajak suaminya terus meyeberang dengan perahu akan tetapi Li Hwa seperti lenyap ditelan ombak laut dan tidak kelihatan bayangannya lagi.

Hui Lian membanting-banting kakinya dan menangis. Hong Kin menghiburnya. "Kita tidak ada permusuhan dengan Li Hwa. Bu-ji (anak Bu) tentu selamat di tangannya."

"Mari kita susul perempuan siluman itu ke Go-bi-san! Perbuatan ini sungguh merupakan penghinaan bagi kita." kata Hui Lian marah. "Kau tidak melihat Bu-ji tadi terluka dan pingsan? Siapa tahu kalau siluman itu mempunyai niat keji...”

"Sabar dan tenanglah, isteriku. Paling perlu mari kita pulang dulu dan bertanya kepada tukang kebun apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam taman bunga."

Kata-kata ini mengingatkan Hui Lian akan ucapan Li Hwa agar supaya mereka menyiksa tukang kebun dan menyuruhnya mengaku. Cepat-cepat mereka pulang dan alangkah kecewa dan menyesal mereka ketika melihat bahwa tukang kebun itu ternyata telah tewas! Hong Kin memeriksa dan mendapatkan beberapa batang jarum hijau menembus dadanya yang juga terkena pukulan tenaga lweekang. Agaknya Li Hwa marah sekali kepada tukang kebun ini dan mengirim serangan maut.

"Perempuan siluman aku harus mengejarnya dan mengadu nyawa dengan dia!" Hui Lian berteriak-teriak.

Kembali Hong Kin menyabarkannya. "Isteriku, pikirlah baik-baik. Selain belum ada kepastian bahwa di Go-bi-san kita akan dapat berjumpa dengan dia, juga perjalanan ke Go-bi-san bukanlah perjalanan dekat, akan memakan waktu berbulan-bulan. Bagaimana kau dapat meninggalkan Lee Goat untuk waktu selama itu? Ingat anak kita masih amat kecil, kalau kita berdua pergi mencari Hui-eng Niocu untuk merampas kembali Tiang Bu siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan anak kita, Lee Goat?"

Mendengar ini Hui Lian menjadi bingung dan ia menangis sambil bersandar di dada suaminya. Ia suka kepada Tiang Bu, akan tetapi ia sayang kepada Lee Goat. Terhadap Tiang Bu ia tidak mempunyai rasa sayang seorang ibu, hanya kasihan dan suka, pula disertai rasa tanggung jawab atas keselamatan putera sucinya itu.

"Habis bagaimana baiknya...?" tanyanya perlahan.

"Kau tunggu saja di rumah, biar aku yang pergi mencarinya. Memang tidak seharusnya didiamkan saja. Andaikata Li Hwa itu tidak bermaksud jahat dan ingin mengambil murid kepada Tiang Bu, tidak selayaknya ia menculik seperti seorang penjahat. Pula, kita bertanggung jawab atas keselamatan anak itu. Bagaimana kata orang-orang gagah di dunia kalau sampai anak itu celaka dalam tangan kita tanpa kita berusaha menolongnya? Biar aku besok berangkat pergi mencarinya."

Hu Lian memeluk suaminya, "Akan tetapi... dia amat lihai. Kukira kau atau aku bukan tandingannya. Kalau kita maju berdua kiran ya baru dapat mengimbanginya."

Hong Kin mengangguk-angguk. "Aku mengerti, oleh karena itu aku pun mempunyai maksud hendak singgah di Luliang-san bertemu dehgan Wan-bengcu. Kebetulan jalan menuju ke Go-bi-san melalui Luliang-san. Pula kalau aku tidak keliru sangka, agaknya Hui-eng N iocu mengharapkan supaya Wan-bengcu campur tangan dalam penculikan ini."

"Mengapa kau sangka demikian!" Hui Lian mengerutkan keningnya.

"Lupakah kau akan ucapannya ketika ia menculik Tiang Bu? Dia menyatakan bahwa biarpun kita akan dibela oleh Wan-bengcu, dia tidak takut. Ucapan ini agaknya sengaja ia keluarkan untuk menentang Wan-bengcu. Kalau tidak demikian mengapa ia membawa-bawa nama Wan-bengcu dalam urusan ini. Oleh karena itu aku hendak singgah di Luliang-san dan hendak minta nasihatnya.

Setelah mendapat kepastian bahwa suaminya akan minta pertolongan Wan Sin Hong, hati Hui Lian menjadi tenang. Ia merasa yakin bahwa kalau Sin Hong mendengar, tentu akan membantunya dan akan merebut kembali Tiang Bu dari tangan Hui-eng N iocu Siok Li Hwa. Tiba-ti ba Hui Lian mendapat pikiran yang baik sekali.

”Suamiku, amat tidak enak kalau begitu saja minta tolong kepada Wan-bengcu. Lebih baik kalau kita serahkan saja Tiang Bu untuk menjadi muridnya. Anak itu sudah cukup besar, pula kalau kita berkukuh tidak mau menurunkan ilmu silat kepadanya, tentu orang-orang akan bilang kita tidak suka kepada anak itu. Kalau Wan-bengcu mau menerimanya sebagai murid, kiraku ia akan menjadi orang baik-baik, dan biarlah kelak ia menjadi seorang gagah yang berbudi mulia untuk menebus kejahatan orang yang menurunkannya."

Seperti juga isterinya, Hong Kin suka kepada Tiang Bu akan tetapi tidak sayang, maka usul ini diterimanya dengan baik. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong Kin berangkat meninggalkan Kim-bun-to untuk memulai dengan perjalanannya yang jauh, mungkin sampai ke Go-bi-san, atau sedikitnya sampai ke Luliang-san. Setelah menyeberang ke daratan ia melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pada masa cerita ini terjadi, daratan Tiongkok terbagi dua antara Pemerintah Kaisar dari Kerajaan Cin dan Kaisar dari Kerajaan Sung selatan. Sudah lima enam puluh tahun daratan Tiongkok berada dalam keadaan seperti ini. Batas dari daerah atau wilayah kekuasaan dua kerajaan ini adalah Sungai Yangce. Di sebelah utara Sungai Yangce termasuk wilayah Kerajaan Cin, sedangkan di sebelah selatan termasuk wilayah Kerajaan Sung Selatan atau disingkat Kerajaan Sung saja.

Antara dua kekuasaan ini sering kali terjadi pertentangan dan pertempuran yang sengit. Akan tetapi pertentangan ini hanya terbatas pada kelompok kecil saja, tidak sampai merembet kepada kerajaan masing-masing. Apalagi setelah kedua fihak melihat adanya perkembangan pada bangsa Mongol yang selalu mengincar, maka sekali saja timbul perang di antara mereka, pasti bangsa utara yang berani mati itu akan menyerbu, menggunakan kesempatan selagi dua ekor anjing berebut tulang dan bertengkar, diam-diam mengambil tulangnya.

Yang payah adalah rakyat jelata. Untuk bagian sebelah utara Sungai Yang-ce, yaitu di wilayah Kerajaan Cin, kesengsaraan rakyat tidak mengherankan ini oleh karena memang Kerajaan Cin dianggap sebagai kerajaan penjajah yaitu terdiri dari bangsa Yu-cin yang kemudian mendirikan bangsa Cin. Akan tetapi ternyata bahwa di daerah selatan, di mana kerajaannya masih di tangan orang-orang "aseli", keadaannya pun sama saja, kalau tak boleh dikatakan lebih buruk.

Korupsi merajalela, hukum rimba berlaku, siapa berkuasa dia sewenang-wenang, siapa kuat dia menang atas yang lemah, siapa kaya dia dapat berbuat sekehendak hatinya. Tidak ada pembesar yaog tidak menerima sogokan. Pengadilan hanya namanya saja, pada hakekatnya adalah sarang sogokan dan pemerasan. Urusan putih bisa dikatakan hitam oleh hakim yang telah menerima sogokan sampai perutnya yang gendut hampir pecah.

Rakyat petani miskin jangan sekali-kali menghadapi urusan pengadilan, karena benar maupun salah tetap kalah. Perkara penasaran bertumpuk-tumpuk. Tuan-tuan tanah menjadi raja-raja kecil di dusun-dusun. Kerja sama yang kotor sekali terjadi setiap hari di kota antara para hartawan dan bangsawan berpangkat.

Bahkan, keadaan di selatan ini sesungguhnya lebih buruk daripada keadaan di utara. Oleh karena itu, kalau di selatan orang-orang gagah sama sekali tidak sudi membantu pemerintah Kerajaan Sung, adalah sebaliknya di utara terdapat kerja sama yang baik dalam arti kata tidak pernah ada pertentangan, sungguhpun orang-orang gagah tidak ada yang terang-terangan membantu Kerajaan Cin. Sebaliknya di selatan, sering kali orang-orang gagah membantu rakyat jelata yang tertindas, sering kali membasmi okpa-okpa yaitu orang-orang hartawan dan bangsawan yang memeras rakyat.

Tidak adanya pertentangan di utara, sebagian besar adalah karena di fihak kerajaan ada Pangeran Wanyen Ci Lun yang bijaksana dan dapat bersikap mulia terhadap orang-orang kang-ouw. Di lain fihak, yaitu di fihak dunia kang-ouw, yang menjadi bengcu adalah Wan Sin Hong, yang sebagaimana telah diceritakan di bagian depan adalah seorang keturunan darah bangsa Cin pula. Ayah Wan Sin Hong adalah seorang pangeran bernama keturunan Wanyen pula dan masih terhitung paman dari Pangeran Wanyen Ci Lun (baca Pedang Penakluk Iblis).

Cukup sekian sekedar mengetahui keadaan Tiongkok pada masa itu dan mari kita kembali mengikuti perjalanan Coa Hong Kin yang menuju ke Lulian g-san. la melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti untuk makan dan tidur saja. Oleh karena maklum dan sukarnya perjalanan mendaki puncak Jeng-in-thia di Luliang-san, maka setelah tiba di kaki Gunung Luliang-san pada senja hari, ia menunda perjalanan dan bermalam di sebuah dusun.

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia mendaki bukit dan langsung menuju ke puncak di mana Wan-bengcu tinggal. Perjalanan amat sukar dan melelahkan. Baiknya Hong Kin adalah seorang gagah yang telah memiliki kepandaian tinggi sehingga baginya tidak terlalu sukar untuk mencapai puncak.

Setelah ia tiba di dekat puncak Jeng-in-thia, tiba-tiba ia mendengar seruan-seruan seperti orang bersilat dan alangkah kagetnya ketika ia merasa sambaran-sambaran angin pukulan yan g dahsyat. Puncak itu masih terpisah jauh, akan tetapi dari tempat ia berdiri biarpun ia tidak melihat orang-orang yang bertempur, namun ia telah merasai sambaran angin pukulan. Benar-benar hebat sekali tenaga orang-orang yang sedang bertempur itu! la mempercepat jalannya naik ke puncak.

Setelah tiba di Jeng-in-thia, terlihatlah olehnya dua orang kakek sedang bertempur dengan gerakan lambat-lambat sekali, akan tetapi angin pukulan menyambar-nyambar dari dua orang kakek ini. Hong Kin cepat mengerahkan tenaga lweekangnya ketika angin pukulan menyambar hebat sekali. N amun tetap saja ia terhuyung ke belakang sampai tiga tindak terdorong oleh angin pukulan itu. Padahal dua orang kakek yang bertempur itu jauhnya ada sepuluh tombak dari tempat ia berdiri!

"Hebat..." katanya dalam hati dan cepat-cepat Hong Kin menyelinap dan berlindung di batu karang besar sekali yang takkan roboh oleh serbuan angin taufan sekalipun. Dari tempat berlindung yang kokoh kuat itu ia mengintai.

Dilihatnya Wan Sin Hong dengan sikap tenang, bibir tersenyum akan tetapi mata bersinar-sinar penuh ketegangan dan penuh perhatian memandang ke arah dua orang kakek yang sedang bertempur, duduk bersila di atas batu rendah. Di sebelah kanannya duduk pula tiga orang tosu tua yang sikapnya tenang akan tetapi jelas kelihatan betapa kagum dan juga tegang menonton pertempuran itu. Di sebelah kiri dari Sin Hong tampak pula tiga orang hwesio yang berdiri dengan lengan tangan bersilang di depan dada dan kaki lebar, juga penuh perhatian menonton pertempuran.

Tiga orang tosu dan tiga orang hwesio ini dapat tahan berada di dekat tempat pertempuran tanpa bergeming, ini saja sudah menandakan bahwa ilmu kepandaian mereka amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmu kepandaian Coa Hong Kin yang bersembunyi dan mengintai di balik batu karang. Kemudian Hong Kin mengalihkan pandangannya kepada dua orang yang asyik bertempur.

Mereka ini adalah seorang tosu yang sudah tua sekali dan seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian kasar serta beralis tebal dan hitam. Melihat tosu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang sekali ini, kenallah Hong Kin. Tosu itu adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, dan gemuk sekali dengan jenggot pendek itu tidak salah lagi tentulah Pang Soan Tojin ketua dari Teng-san-pai. Tosu ke tiga yang kurus bongkok memegang tongkat butut ia tidak kenal. juga tiga orang hwesio yang berdiri itu ia tidak kenal.

Kini pertempuran berjalan lebih cepat daripada tadi. Tadi mereka bertempur lambat-lambat, tidak mengandalkan kecepatan untuk mencari kemenangan, melainkan mengandalkan sepenuhnya kepada tenaga lweekang mereka. Ternyata mereka seimbang dalam kekuatan lweekang. Hawa pukulan masing-masing tidak dapat mempengaruhi lawan, apalagi merobohkan. Juga tiap kali tangan mereka beradu keduanya tergetar karena tenaga raksasa yang seimbang besarnya bertemu. Setelah pertempuran dilanjutkan dengan cepat, keduanya berputaran dan saking cepatnya mereka bergerak sampai bayangan mereka menjadi satu dan sukar membedakan mana tosu mana hwesio!

Coa Hong Kin memandang kagum menghadapi pertempuran yang jarang dapat disaksikan orang, pertempuran antara cabang-cabang atas, antara tokoh-tokoh besar persilatan. Bu Kek Siansu adalah ketua Bu-tong-pai, sebuah partai persilatan besar yang sudah amat tersohor, maka tidak mengherankan apabila ilmu silatnya tinggl sekali. Akan tetapi hwesio yang menjadi lawannya juga lihai bukan main. Tentu saja ia tidak tahu bahwa empat orang hwesio itu adalah tokoh-tokoh dari selatan yang menjagoi dunia kang-ouw di daerah selatan.

Sementara itu, ketika pertempuran terjadi makin hebat dan di puncak ketegangannya, Wan Sin Hong bangkit berdiri dan berseru. "Ji-wi Locianpwe harap membatasi diri dan jangan membahayakan lawan!"

Mendengar seruan ini, Bu Kek Siansu melompat mundur dan kakek ini menjadi merah. "Kepandaian Le Thong Hosiang benar-benar hebat, pinto merasa taktuk!" katanya sambil menjura.

"Mana bisa! Ketua Bu-tong-pai terlalu merendah. Kita masih seimbang, belum ada yang lebih tinggi atau rendah. Pinceng sudah lama mendengar tentang Bu-tong Kiam-sut yang sukar dicari tandingannya. Kalau toyu sudah membuka mata pinceng dengan sinar pedang, barulah pinceng akan merasa puas dan biar pinceng bawa sebagai oleh-oleh ke selatan. Ha-ha-ha!"

Bu Kek Siansu menjadi pucat karena menahan marah. Hwesio selatan ini benarbenar sombong sekali, pikirnya. Tanpa menjawab sesuatu, melihat Le Thong Hosiang telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang toya pendek yang kelihatan berat, Bu Kek Siansu lalu menggerakkan tangan kirinya dan...

"Srat...!" sebatang pedang tipis telah berada di tangannya. Gerakannya cepat sekali dan cara mencabut pedang ini saja sudah menunjukkan betapa tinggi kiam-sut dari ketua Bu-tong-pai ini.

Sin Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak sempat mencegah karena Le Thong Hosiang sambil tertawa-tawa telah memutar toyanya melakukan serangan-serangan hebat. Ilmu toya dari hwesio ini benar-benar tangguh sekali dan beberapa jurus kemudian Sin Hong sudah mengenal ilmu toya ini sebagai Ilmu Toya Siauw-lim-pai yang sudah banyak berubah.

Bu Kek Siansu juga maklum akan kelihaian toya lawan, maka ia pun tidak mau kalah, memutar pedangnya yang berubah menjadi segulungan sinar putih yang kuat. Di lain saat dua orang kakek ini sudah lenyap dari pandangan mata, bayangan mereka terbungkus oleh sinar pedang yang putih seperti perak dan sinar toya yang agak kehitaman. Apalagi bagi pandangan mata Hong Kin, ia seakan-akan melihat dua ekor naga, putih dan hitam, tengah bermain-main di tempat itu, melayang-layang dan menyambar-nyambar!

"Bukan main..." kembali ia memuji. Sin Hong yang melihat betapa dua orang kakek yang bertempur itu mulai "panas" sehingga sinar senjata mereka merupakan kuku maut, lalu menarik napas panjang, maju beberapa langkah, kemudian ia mengebut-ngebutkan kedua ujung lengan bajunya seakan-akan membuang kotoran dan debu yang menempel pada ujung lengan bajunya itu. Padahal sebetulnya pemuda sakti ini tengah mengerahkan tenaga sinkangnya sehingga beberapa gelintir tanah kering yang menempel di kedua ujung lengan baju itu melayang dengan luncuran cepat ke arah dua kakek yang sedang bertempur.

"Ayaaa...!" Le Thong Hosiang melompat ke belakang dan wajahnya berubah pucat. Ketika ia sedang bertempur tadi, ia melihat benda hitam kecil seperti capung menyambar mengenai tongkatnya dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan terus hawa panas menjalar ke lengannya membuat lengan itu seperti lumpuh.

Juga Bu Kek Siansu melompat mundur, menjura ke arah Sin Hong sambil berkata, "Baiknya bengcu datang melerai, kalau tidak mungkin pinto akan tewas di bawah toya Le Thong Hosiang."

Mendengar ini, barulah Le Thong Hosiang tahu bahwa tadi adalah perbuatan bengcu muda itu, diam-diam ia kaget sekali. "Masih begini muda sudah lihai bukan main..." pikirnya kagum dan gentar.

"Le Thong Hosiang, maafkan kalau aku campur tangan. Biarpun terpisah oleh Sungai Yangce dan bernaung di bawah kerajaan yang berbeda, namun pada hakekatnya, kita kedua fihak masih terhitung orang-orang segolongan, yakni orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, keadilan dan bertindak di atas jalan kebenaran dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, biarpun pada saat ini di antara kita terdapat perbedaan faham dan pendapat, namun tidak semestinya kalau perbedaan faham ini dikotori dan dibikin hebat oleh pertempuran yang hanya akan memperdalam salah mengerti, mungkin akan menimbulkan permusuhan. Oleh karena itu, aku harap kau dan kawan-kawanmu suka mempertimbangkan hal ini baik-baik."

Le Thong Hosiang mengempit toyanya dan berkata kepada tiga orang hwesio yang berdiri bagaikan patung. "Wan-bengcu telah memperlihatkan kelihaiannya dan terus terang saja, pinceng merasa kagum dan tunduk sekali. Lepas dari darah bangsawannya, memang dilihat dari kelihaiannya ia patut menjagoi. Hayo kita pergi."

Tiga orang itu lalu menjura ke arah Wan Sin Hong dan para tosu, setelah Sin Hong dan empat orang tosu membalas penghormatan mereka, Le Thong Hosiang dan tiga orang kawannya lalu berlari turun gunung dengan langkah lebar sekali. Ketika lewat di dekat batu karang di belakang mana Hong Kin bersembunyi, Le Thong Hosiang berkata sambil tertawa.

"Toyaku sudah tidak ada gunanya!" Dan dipukulnya batu karang itu. Terdengar suara keras dan permukaan batu karang itu remuk sambil mengeluarkan bunga api. Seluruh batu karang itu tergetar hebat.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hong Kin yang mengira batu karang itu akan roboh menimpanya, cepat melompat keluar. Empat orang hwesio itu tertawa-tawa sambil melanjutkan lari mereka...

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 02 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »