Tangan Gledek Jilid 01

Tangan Gledek Jilid 01

LULIANG-SAN. Nama Pegunungan Luliang-san ini amat terkenal. Bagi rakyat jelata hanya terkenal sebagai pegunungan yang indah dan panjang, yang mempunyai banyak puncak tinggi menembus awan dan sukar didatangi orang. Akan tetapi bagi orang-orang di dunia kang-ouw, nama Pegunungan Luliang-san lebih terkenal lagi.

Di pegunungan ini terjadi banyak hal-hal hebat yang takkan dapat mudah terlupa oleh tokoh-tokoh dunia persilatan. Di sebuah puncak pegunungan ini pula terdapat makam dari dua orang datuk persilatan, dua orang kakak-beradik seperguruan yang tinggi ilmu silatnya, yang pada saat terakhir sebagai dua orang kakek tua renta saling bunuh.

Di pegunungan ini pula menjadi perebutan kaum rimba persilatan kitab dan pedang warisan kakek sakti itu. Akhir-akhir ini Luliang-san menjadi makin terkenal karena bengcu baru yang memimpin semua partai persilatan bertempat di puncak pegunungan itu. Bengcu itu adalah Wan Sin Hong, seorang pendekar gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya.

Pegunungan Luliang-san berderet-deret di sepanjang perbatasan Propisi Shensi sebelah timur, memisahkan Propinsi Shensi dari Propinsi Sansi. Terus ke utara sampai di perbatasan Mongol. Bukit-bukit indah berjajar disepanjang Sungai Huangho atau Sungai Kuning yang terkenal itu. Karena pegunungan ini berada di lembah Sungai Huangho, maka tanahnya amat subur penuh tetumbuhan dan pohon besar.

Diantara puncak-puncak yang tinggi terdapat sebuah puncak yang menjulang menembus awan, puncak inilah yang amat terkenal karena di situlah adanya dua buah makam yang terkenal itu, makam dari dua orang kakek sakti kakak beradik seperguruan yang bernama Pak Hong Siansu dan suhengnya Pak Kek Siansu. Di puncak ini pula dahulu menjadi tempat pertapaan kakek sakti Pak Kek Siansu dan di sini terdapat bagian puncak yang disebut Jeng-in-thia (Ruangan Awan Hijau). Indah sekali tempat ini dan jarang terinjak kaki manusia biasa.

Agak ke bawah terdapat tiga makam dari Luliang Sam-lojin (Tiga Orang Tua dari Luliang-san). Mereka ini adalah murid-murid Pak Kek Siansu yang tewas ketika orang-orang gagah memperebutkan kitab dan pedang wasiat peninggalan Pak Kek Siansu dan kesemuanya terjatuh ke dalam tangan Pendekar Besar Wan Sin Hong yang sekarang menjadi bengcu dan dipuja serta ditaati oleh seluruh dunia kangouw. (Baca PEDANG PENAKLUK IBLIS).

Waktu itu musim dingin telah tiba. Puncak Luliang-san diliputi hawa dingin yang luar biasa sekali. Orang-orang biasa takkan kuat menahan serangan hawa dingin ini dan awan dingin merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau mencari korban. Matahari tak dapat menembus halimun yang amat tebalnya, hanya setelah matahari naik tinggi kabut itu mulai menipis dan orang akan dapat melihat ke depan. Setelah matahari naik tinggi barulah burung-burung dan binatang hutan berani ke luar.

Tanpa lindungan matahari, biarpun tubuh para binatang ini diselimuti oleh bulu tebal, tetap saja kabut dingin akan menembus dan membunuh mereka. Apalagi di bagian puncak Jeng-in-thia itu! Dalam musim panas sekalipun puncak ini selalu diliputi awan kehijauan yang dingin. Dalam musim dingin seperti itu, tak tertahankan lagi, baik oleh orang-orang yang sudah terlatih dan memiliki hawa dalam tubuh yang kuat sekalipun.

Akan tetapi, pada saat sedingin itu, seorang laki-laki muda belum tiga puluh tahun usianya, duduk bersila di depan gua Jeng-in-thia begitu asyik dia dalam semadhinya dan hawa yang perlahan-lahan ke luar dari lubang hidungnya merupakan uap putih, menimbulkan pemandangan yang menyeramkan karena ia kelihatan seperti bukan manusia melainkan seorang penjaga gunung itu. Apalagi setelah dari ubun-ubun kepalanya juga mengepul uap putih ke atas!

Orang ini bukan lain adalah Wan Sin Hong, bengcu daripada sekalian partai persilatan, semuda ini sudah menjadi bencu dan dianggap sebagai pemimpin oleh tokoh-tokoh seluruh dunia persilatan benar-benar merupakan hal luar biasa sekali dan menjadi bukti betapa tingginya ilmu kepandaian laki-iaki muda ini. Pada saat seperti itu, bengcu ini ternyata sedang berlatih lweekang!

Semenjak pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam terjatuh di dalam tangannya dari seorang yang jahat seperti iblis bernama Liok Kong Ji (baca Pedang Penakluk Iblis), Wan Sin Hong memperdalam ilmu kepandaiannya berdasarkan pelajaran dalam kitab peninggalan Pak Kek Siansu yang telah dibakarnya namun yang isinya telah pindah dalam ingatannya.

Kitab wasiat itu memang mengandung sari pelajaran ilmu silat yang hebat. Juga di situ terdapat pelajaran ilmu Lweekang dan lain ilmu kesaktian tinggi. Wan Sin Hong sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang dan dalam hal ilmu pedang, kiranya sukar dicari keduanya yang memiliki tingkat setinggi tingkatnya pada masa itu.

Akan tetapi ia masih muda dan dalam hal ilmu lweekang dan kesaktian lainnya, memerlukan latihan yang tekun dan lama di samping pelajaran yang tepat dan baik. Pelajaran ilmu lweekang yang terdapat dalam kitab warisan Pak Kek Siansu bukan hanya luar biasa, bahkan ajaib sehingga dalam usia muda Sin Hong sudah memiliki sinkang (hawa sakti dalam tubuh) yang luar biasa.

Apalagi selama empat lima tahun ini Wan Sin Hong melatih diri di Jeng-in-thia, puncak dari Luliang-san. lweekang yang ia pelajari terdiri dari dua bagian, yaitu bagian Yang (panas/aktif). Melatihnya harus di bawah panas terik matahari, atau di dekat api unggun, di tempat yang sepanas-panasnya. Untuk melatih ini Sin Hong sengaja pergi ke daerah Mongol di utara dan berlatih di tengah gurun pasir yang panas luar biasa.

Dan sekarang bengcu ini tengah berlatih lweekang bagian ke dua, yaitu bagian Im (dingin/pasif) yang biasanya dilatih di tengah malam di puncak gunung pada saat hawa sedingin-dinginnya. Sekarang musim dingin telah tiba, maka puncak Jeng-in-thia itu merupakan tempat yang amat baik sekali untuk melatih Im-kang (tenaga Im).

Setelah matahari naik tinggi dan uap putih dari kepala dan hidungnya menipis tanda bahwa di luar tidak begitu dingin lagi, Sin Hong menyudahi latihannya. Selagi ia menggerakkan tubuh hendak bangkit, telinganya yang tajam itu mendengar sesuatu dan matanya berkilat ke arah suara. Dilihatnya bayangan, orang sedang mendatangi dari bawah puncak.

Setelah tiba di puncak, sekali menggerakkan kaki bayangan itu telah tiba di hadapannya. Jarak yan g dicapai oleh sekali lompatan ini tidak kurang dari lima tombak. Melihat betapa kaki dan tangan orang itu hampir tidak kelihatan bergerak, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu ginkang (meringankan tubuh) dari orang itu.

Sin Hong memandang tajam dan melihat seorang wanita muda dan cantik jelita berdiri di depannya. Wanita ini merias wajahnya secara sederhana sekali. Rambut yang hitam dan panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera kecil. Akan tetapi pakaiannya cukup indah dan mewah. Bajunya berkembang, di dadanya terdapat lukisan burung garuda. Celananya terbuat dari pada sutera halus berkembang pula. Pakaian yang ringkas ini mencetak tubuhnya dan membuat bentuk tubuhnya yang bagus nampak nyata.

Di pinggangnya tergantung pedang yang indah gagangnya, membuat ia kelihatan gagah sekali. Wajahnya yang cantik nampak kemerahan, bibirnya tersenyum akan tetapi sepasang alis di atas mata bintang itu terangkat tanda bahwa ia sedang tak senang hati.

"Wan Sin Hong, kau manusia sombong...!" inilah kata-kata pertama yang keluar dari bibir merah itu membuat Wan Sin Hong tersenyum.

"Hui-eng N iocu, kau masih belum berubah. Sama benar dengan beberapa tahun yang lalu!"

Wanita itu adalah Siok Li Hwa yang berjuluk Hui-eng Niocu (Nona Garuda Terbang) dan menjadi ketua dari Perkumpulan Hui-eng-pai yang berada di Go-bi-san. Dia masih gadis, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Li Hwa adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi karena dia adalah ahli waris tunggal dari Put-jiu Nio-nio, seorang nenek tokoh kang-ouw yang namanya pernah menggemparkan empat penjuru jagat.

Bibir yang merah dan indah bentuknya itu tersenyum mengejek. "Orang gagah memang tidak seharusnya berubah-ubah, tanda bahwa kulit sama dengan isi. Tidak seperti engkau, setelah menjadi bengcu, kau berubah sama sekali. Hai, Wan-bengcu (Ketua Wan), apa namanya orang yang tidak memegang teguh janjinya?"

Melihat gadis itu makin naik darah. Sin Hong memperlebar senyumnya. "Namanya tentu saja orang pelupa atau seorang yang tidak boleh dipercaya."

"Sin Hong, kau termasuk golongan pertama atau ke dua?" kata-kata gadis ini dikeluarkan dengan suara penuh penjelasan.

"Ini... hemmmm, entahlah, Niocu, Mungkin kedua-duanya."

"Kau memang berubah banyak sekali semenjak menjadi bengcu. Kau pertapa muda yang pikun, mengapa menyebut Niocu kepadaku? Apa kau sudah lupa lagi siapa namaku? Kalau lupa, kuingatkan. Namaku Siok Li Hwa dan dahulu kau menyebutku cukup memanggil namaku saja. Atau kau sengaja mengubah sikap!"

"Aaah, aku lupa. Maafkahlah, karena sudah lama, aku lupa dan tentu saja aku tadi tidak berani sembarangan menyebut namamu. Sekarang aku ingat, maafkan aku, Li Hwa."

"Sedikitnya kau masih mau mengubah kesalahan," Li Hwa mengomel dan tampak agak senang. "Kau tadi mengaku mungkin kau pelupa dan tak boleh dipercaya. Memang kau pelupa dan pikun ini sudah terang. Akan tetapi apakah kau tak boleh dipercaya?"

"Agaknya begitulah, Li Hwa. Orang pelupa mana boleh dipercaya?"

Li Hwa membanting-banting kakinya. "Sin Hong, apakah kau sengaja hendak mempermainkan aku? Lupakah akan janjimu dahulu bahwa kau pasti datang ke Go-bi-san mengunjungi aku? Mengapa sampai sekarang kau belum pernah datang? Dahulu aku memberi waktu setahun, dan aku telah menanti-nanti sampai bertahun-tahun. Sin Hong, kau benar-benar tak punya hati dan menyiksa aku secara kejam sekali..." Gadis ini tiba-tiba menjadi merah matanya, tanda bahwa air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.

Tentu saja Wan Sin Hong ingat akan semua itu, ingat bahwa dahulu memang ia berjanji hendak mengunjungi gadis itu di Go-bi-san. Masih ingat ia betapa empat lima tahun yang lalu berjumpa untuk pertama kalinya dengan Hui-eng N iocu Siok Li Hwa ini di puncak Ngo-heng-san di mana sedang diadakan perebutan bengcu (baca Pedang Penakluk Iblis).

Di puncak itu Li Hwa selain menyatakan hendak menanti kunjungannya dan hendak mencari kalau selama setahun dia tidak juga datang mengunjungi, juga gadis ini dengan terus terang menyatakan cinta kasihnya! Inilah sebetulnya yang memberatkan hatinya. Kalau dahulu Li Hwa tidak menyatakan cinta kasihnya, agaknya ia sudah mengunjungi gadis itu di Go-bi-san. Akan tetapi perasaan gadis itu terhadapnya membuat Sin Hong merasa bingung dan serba salah.

"Jangan kau marah, Li Hwa. Selama ini aku sibuk, banyak terjadi kekacauan di dunia kang-ouw dan aku sebagai bengcu tentu saja berkewajiban untuk membereskan semua ini."

"Aku pun tahu akan hal itu, Sin Hong, kau kira aku tidak tahu akan segala gerak-gerikmu selama ini? Kau telah meredakan pertikaian yang timbul antara Teng-san-pai dan Kong-thong-pai di An-wei, kau telah membantu Siauw-lim-pai menangkap muridnya yang murtad di daerah Shantung, kau telah memulihkan keamanan di sekitar Ta-pa-san, dan kau telah membantu membereskan keributan di Kun-lun-pai karena pemilihan Ketua. Akan tetapi aku juga tahu bahwa kau telah berjasa besar dalam menindih penyelewengan kaum liok-lim yang berpusat di kaki Go-bi-san. Kau sudah sampai di sana, sudah dekat tempat tinggalku, mengapa tidak juga berkunjung? Pendeknya, kau ini menjadi sombong, atau memang sudah lupa kepadaku, atau barang kali sengaja kau menjauhkan diri karena kau... benci kepadaku!" Sekarang air mata itu tak dapat ditahan lagi, menitik turun ke pipi bertitik-titik.

Sin Hong melongo. Bagaimana gadis ini benar-benar mengetahui segala sepak terjangnya selama ini? Behar-benar seorang gadis luar biasa sekali! "Bukan itu saja, Li Hwa. Terus terang saja, selebihnya waktu selama ini kupergunakan untuk melatih Lweekang dan..."

"Tak perlu menjual omongan seperti tukang obat! Kau kira aku pun tidak tahu? Kau pergi ke daerah Mongol, berjemur di tengah gurun pasir. Ah, kukira kau sudah gila, tidak tahunya kau melatih Yang-kang yang luar biasa. Kau ingat untuk melakukan hal-hal baik, akan tetapi lupa untuk mengunjungi aku. Sin Hong, kau tahu bahwa aku cinta kepadamu. Di dunia ini hanya kau seorang yang kucinta, dan hanya satu kali saja dalam hidupku aku mencinta orang. Akan tetapi kau betul-betul tidak mempunyai hati, kau kejam."

Kembali Sin Hong melengak. Kalau gadis itu mengetahui akan semua yang ia lakukan selama ini, tidak bisa lain tentu gadis ini melakukan pengintaian, atau mungkin juga anggauta-anggauta Hui-eng-pai yang melakukan. Demikian besar perhatian gadis ini terhadap dirinya sampai bertahun-tahun masih saja ingat dan mengejar-ngejar, membuktikan bahwa cinta kasihnya bukan main-main!

Selagi Sin Hong berpikir-pikir untuk mencari alasan dan untuk memberi jawaban yang tepat dan tidak menyakitkan hati, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki orang mendatangi dari bawah puncak. Biarpun yang berjalan itu memiliki kepandaian tinggi, namun Sin Hong yang sudah terlatih baik itu dapat mendengar datangnya tiga orang yang naik ke puncak, Sin Hong menjadi bingung. Biasanya yang datang mengunjungi tentu tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama. Kalau sampai mereka melihat dia sedang bercakap-cakap dengan Li Hwa, seorang gadis muda yang cantik, tentu mereka akan salah sangka dan mengira yang bukan-bukan.

"Li Hwa, ada orang datang. Harap kau masuk ke gua dulu."

"Aku tahu ada orang datang. Biar saja, aku tidak takut kepada mereka!" katanya gagah sambil meraba gagang pedangnya.

"Kalau yang datang orang jahat masih tidak mengapa, akan tetapi kalau mereka itu sahabat-sahabat kang-ouw, bukankah akan... akan tidak baik...?"

"Sin Hong, orang muda canggung seperti engkau ini masih menjadi bengcu? Hemm, sungguh lucu. Kau takut apakah? Seorang gagah tidak akan mundur setapak, tidak akan takut menghadapi apa pun juga asal dia berdiri di atas kebenaran, Kita berdua tidak melakukan pelanggaran apa-apa mengapa kau takut-takut dan malu-malu?"

Sin Hong terpukul. Memang ucapan gadis ini tepat sekali. Diam-diam ia pun merasa aneh. Kalau dia sudah tidak ambil pusing tentang gadis ini, tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap gadis ini, mengapa kehadirannya membikin dia merasa malu kepada orang lain?

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Sementara itu, dari bawah puncak berkelebat tiga bayangan orang dan di lain saat, tiga orang aneh telah berdiri menghadapi Sin Hong dan Li Hwa. Sin Hong kaget bukan main melihat orang-orang ini. Melihat cara mereka naik ke puncak membuktikan kelihaian mereka. Akan tetapi bukan ini yang mengejutkan Sin Hong, melainkan wajah dan keadaan tubuh mereka itu.

Orang pertama bertubuh jangkung kurus dengan jari-jari tangan panjang berkuku seperti cakar setan, nampaknya kuat bukan main. Kepalanya gundul pelontos tidak kelihatan akar rambut sehelai pun, agaknya kulit kepala itu sudah mati. Tidak saja gundul bahkan kepala itu potongannya lonjong ke atas pletat-pletot seperti buah waluh.

Orang ke kedua lebih lucu lagi. Tubuhnya kurus kering seperti cecak mati, apalagi sepasang lengannya hanya kulit, membungkus tulang seperti rangka jerangkong. Dilihat dari depan, kepalanya seperti gundul akan tetapi kalau orang melihat dari samping atau belakang, kepalanya ada rambutnya lurus ke belakang seperti duri binatang landak. Matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya lebar. Potongan mukanya tajam hingga kalau dilihat dari samping, persis kepala burung siluman!

Seperti juga si kepala gundul, si botak ini potongannya tidak karuan macamnya. Bedanya kalau si gundul itu memakai selendang pada dadanya yang mengalungi pundaknya, adalah si botak ini setengah telanjang karena bajunya terbuka dan awut-awutan!

Orang ke tiga paling menyeramkan. Tubuhnya besar dan kuat. Mukanya seperti singa dan rambutnya memenuhi kepala, kasar dan panjang riap-riapan, pakaiannya seperti yang biasa dipakai oleh pertapa, longgar dan sederhana.

"Iiihh, kalian ini manusia atau siluman?" Li Hwa bertanya sambil melangkah mundur dan mencabut pedangnya.

Akan tetapi Sin Hong menegurnya dengan pandangan mata, kemudian ia melangkah maju dan menjura dengan penuh hormat. "Kedatangan Sam-wi Locianpwe yang terhormat, di puncak Jeng-in-thia dari Luliang-san ini, aku yang muda mengucapkan selamat datang. Tidak tahu Sam-wi Locianpwe datang dari mana dan ada keperluan apakah?"

Tiga orang itu saling pandang, kemudian bagaikan mendapat komando, ketiganya tertawa terbahak-bahak. Suara ketawa mereka nyaring, aneh dan menyeramkan sehingga terdengar seperti ringkik kuda dan suara burung hantu. Mendengar suara ketawa ini, bulu tengkuk Li Hwa sampai meremang semua. Gadis ini maklum bahwa di dalam suara ketawa ini terkandung pengerahan khi-kang yang kuat, maka cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi bagian-bagian lemah dari tubuhnya agar jangan terpengaruh oleh suara ketawa itu.

Si Jangkung Gundul melangkan maju. "Apakah kau Wan-bengcu?" Suaranya serak dan kasar seperti burung gagak.

"Aku yang muda memang betul Wan Sin Hong yang mendapat kehormatan dipilih sebagai bengcu."

Kembali tiga orang itu saling pandang dan tertawa bergelak. Kakek ketiga yang rambutnya riap-riapan dan mukanya seperti Singa itu menoleh ke arah Li Hwa sambil menyeringai, kemudian tanyanya dengan suara yang besar dan dalam sekali, "Si manis itu binimu?"

Sebelum Sin Hong menjawab, Li Hwa sudah membentak marah. "Siluman busuk jangan asal buka mulut saja! Aku Hui-eng N iocu Siok Li Hwa kalau sudah merasa terhina, tidak akan menjamin kepalamu tinggal utuh lagi!"

"Aduh galaknya'" kata Si Jangkung Gundul yang menyambut kata-katanya dengan suaranya yang parau menyakitkan telinga. "Wan-bengcu, ketahuilah bahwa aku bernama Ci Kui, mereka berdua ini adalah sute-suteku."

"Aku Ang Bouw," kata Si Botak.

"Aku Ang Louw," kata Si Rambut Riap-riapan.

Li Hwa mengeluarkan suara menyindir lalu berkata nyaring. "Sudah lama aku mendengar bahwa raja besar di utara makin berkuasa dan pemerintahnya makin maju berkat bantuan orang-orang pandai dari barat dan dari utara. Di antara mereka itu ada yang disebut Pak-kek Sam-kui (Tiga Siluman dari Kutub Utara) tidak tahu apakah kalian ini yang disebut Pak-kek Sam-kui?"

Tiga orang kakek aneh itu saling pandang, kemudian tertawa besar. "Tidak kusangka N ona mengenal nama besar kami. Memang betul, kami bertiga yang dimaksudkan dengan sebutan Pak-kek Sam-kui itu. Aku berjuluk Giam-lo-ong (Raja Maut), Sute Ang Bouw ini Liok-te Mo -ko (Iblis Bumi), Sute Ang Louw disebut Sinsai-kong (Pendeta Singa Sakti)."

"Setelah kami mengenal Sam-wi, apakah selanjutnya yang Sam-wi kehendaki dengan kunjungan ini?" tanya Sin Hong yang merasa tidak senang mendengar bahwa mereka ini adalah pembantu-pembantu dari Temu Cin, raja baru di Mongol yang makin lama makin berkuasa dan merupakan ancaman bagi pedalaman Tiongkok.

Dengan mulut terkekeh Giam-lo-ong Ci Kui Si Kepala Gundul menjawab, "Wan-bengcu, kami datang bukan dengan maksud buruk. Kami adalah utusan raja besar kami, disuruh mencarimu mengundangmu ke Mongol. Khan (Raja) kami ingin berjumpa dengan Wan-bengcu, oleh karena itu Wan-bengcu diperintahkan untuk segera menghadap ke sana bersama kami."

Terang bahwa tiga orang kakek aneh yang menjadi utusan Raja Mongol itu memandang rendah kepada bengcu yang masih muda ini, buktinya undangan itu mereka ubah menjadi perintah menghadap. Akan tetapi Sin Hong masih bersikap sabar. Dengan senyum lebar ia berkata.

"Apakah Sam-wi tidak salah? Mungkin bukan aku yang diperintahkan menghadap oleh karena selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan rajamu. Aku dan dia tidak pernah berkenalan, bagaimana bisa tahu tentang diriku dan minta menghadap?"

"Wan-bengcu jangan salah mengerti. Sudah tentu Khan kami mendengar tentang diri bengcu maka bengcu dipanggil menghadap. Khan kami mengenal bengcu dari keterangan Thian-te Bu-tek Taihiap."

Sin Hong dan Li Hwa heran mendengar sebutan ini. Thian-te Bu-tek Tai-hiap berarti Pendekar Besar Tanpa Tandingan di Seluruh Dunia! Siapa orangnya yang sudah begitu nekad dan berani mati menggunakan julukan macam itu?

"Harap Sam-wi sampaikan terima kasihku kepada rajamu atas undangan itu, juga maafkan bahwa aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaannya. Aku pun tidak pernah kenal dengan orang yang mengaku sebagai Thian-te Bu-tek Taihiap itu. Kalau rajamu ada kepentingan sesuatu boleh disampaikan melalui utusan saja, tak usah. aku datang menghadap kesana.”

"Wan-bengcu, jangan sekali-kali kau berani memandang rendah kepada tai-hiap!" kata Sin-sai-kong Ang Louw dengan suaranya seperti singa mengaum.

"Wan-bengcu harap jangan menolak. Raja kami sudah berlaku sabar dan baik terhadapmu sehingga tahun lalu ketika bengcu melanggar wilayah Mongol di gurun pasir, kami tidak berbuat sesuatu " kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw.

Kaget hati Sin Hong mendengar ini. Jelas bahwa Temu Cin Raja Mongol itu benar-benar mempunyai pembantu-pembantu yang hebat sehingga ketika ia berlatih lweekang di gurun pasir, mereka juga mengetahui. "Maafkan, terpaksa aku membikin kecewa Sam-wi Locianpwe. Sungguh aku tidak dapat memenuhi kehendak rajamu untuk menghadap."

Tiga orang kakek itu nampak marah. Sayang," kata Liok-te Mo-ko Ang Bouw dengan suaranya yang tinggi kecil, "sayang sekali tai-hiap melarang kita turun tangan. Kalau tidak ingin aku mencoba-coba kelihaian bengcu yang muda ini. Hi hi hi...”

Kalau Wan Sin Hong mendengarkan dengan sabar dan tenang, adalah Li Hwa yang menjadi panas hatinya. Digerak-gerakkan pedangnya di depan dada dan ia membentak.b"Kalian ini tiga siluman macam apakah? Bukan begitu menjadi utusan raja. Kalian sudah menyampaikan undangan, yang diundang sudah menolaknya, kau tinggal melapor kepada yang mengutus. Habis perkara. Mengapa banyak cerewet dan ngoceh di sini? Mau coba-coba mengapa mesti ada perkenan dari segala macam taihiap? Kalau sudah bosan hidup dan mau coba-coba, majulah. Tak usah dengan bengcu, dengan aku pun kalian bertiga siluman-siluman jelek boleh maju terima binasa!"

"Li Hwa, jangan kasar terhadap tamu..." Sin Hong mencegah.

Sin-sai-kong Ang Louw yang wataknya mata keranjang, mendengar tantangan Li Hwa ini, segera melompat maju dan berkata kepada suhengnya. "Suheng, kita belum boleh mengganggu Wan-bengcu, akan tetapi tiada jeleknya main-main sebentar dengan Nona manis ini."

Sebelum Giam-lo-ong Ci Kui menjawab, Li Hwa dengan pedang hijaunya menyerang Ang Louw. Pedang di tangan nona ini lenyap berubah menjadi sinar hijau yang menyilaukan mata. Ini tidak mengherankan oleh karena yang dipegangnya itu adalah Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau), pedang pusaka peninggalan mendiang Pat-jiu Nio-nio gurunya. Apalagi yang memainkan adalah Li Hwa yang memiliki kiamsut (ilmu pedang) tinggi dan gerakannya cepat bagaikan kilat menyambar.

"Pedang bagus!" Pendeta bermuka singa itu menggeram. Suaranya menggetar seperti auman singa.

Kalau Li Hwa tidak memiliki sinkang yang tinggi tentu akan lumpuh mendengar geraman. Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga, tetap saja jantungnya berdebar dan kedua kakinya agak gemetar karena pengaruh geraman ini sehingga ia terkejut bukan main dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Pedangnya membuat gerakan memutar, lalu meluncur maju dengan gerakan berlenggok seperti ular merayap, mengarah tubuh lawan bagian dada, sukar diketahui lebih dulu ke mana pedang hendak menusuk, ke tenggorokan atau ke ulu hati. Inilah gerak tipu ilmu pedangnya yang disebut Hui-eng-tok-cia (Garuda Terbang Mematuk Ular), sebuah )urus lihai dari ilmu pedangnya Hui-eng-kiam-sut.

Akan tetapi, Sin-sai-kong Ang Louw ternyata bukan orang sembarangan. Melihat hebatnya tusukan pedang yang mengarah dua jurusan ini, ia berlaku tenang dan otomatis kedua lengannya diangkat, sepuluh jari tangannya yang berkuku singa menjaga di depan dada, yang kini menjaga ulu hati, yang kanan menjaga dekat leher. Pedang sinar hijau datang menusuk, secepat kilat menerobos hendak menusuk ulu hati.

"Cringgg...!" Pedang terpental akan tetapi terus meluncur agak ke atas, kini menusuk tenggorokan. Kembali Ang Louw menggerakkan tangan dan sekarang jari tangan kiri melakukan gerakan menyentil.

Sin Hong kagum sekali. Menangkis pedang setajam pedang pusaka Cheng-liongkiam hanya dengan sentilan kuku jari, benar-benar hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya. Ia maklum bahwa kakek bermuka singa ini merupakan lawan berbahaya dan tangguh sekali bagi Ll Hwa, maka ia segera berseru.

"Li Hwa, cukuplah main-main ini"

Akan tetapi gadis seperti Siok Li Hwa ini mana mau mengalah dan puas begitu saja? Ia memang berwatak aneh dan tidak pernah kenal apa artinya takut. "Aku harus memberi hajaran kepada singa kaki dua ini!" serunya dengan penasaran karena pedangnya ditangkis lawan dua kali hanya dengan sentilan kuku jari.

Cepat ia mengerahkan tenaga pada dua kakinya dan tahu-tahu tubuh yang langsing itu melesat ke atas bagaikan seekor burung garuda dan ketika lawannya memandang ke atas, secepat garuda menyarnbar Li Hwa melayang turun dengan pedang bergulung merupakan sinar hijau menyambar-nyambar ke arah lawannya dari atas. Serangan ini lebih hebat dari tadi dan inilah ilmu serangan yang disebut Hui-eng-lothian (Garuda Terbang Mengacau Langit).

"Lihai sekali....!" Sin-sai-kong Ang Louw berseru kaget. Ia tidak dapat menangkis seperti tadi karena kini pedang pusaka itu bukan menusuk, melainkan menyambar dengan bacokan hebat. Juga untuk mengelak sukar sekali karena serangan datang dari atas secara bertubi-tubi. Terpaksa Si Muka Singa ini menggulingkan dirinya ke atas tanah. Sambil bergulingan kedua tangannya bergerak- gerak ke atas melindungi tubuh sehingga ketika Li Hwa turun menusuknya berkali-kali, kembali terdengar suara nyaring

"Cring, cring, cring...!" dan kini pertemuan antara pedang pusaka dan kuku jari tangan itu bahkan menimbulkan bunga api berpijar!

"Hebat...!" Sin Hong berkata perlahan menahan napas menyaksikan kelihaian Si Muka Singa ini.

Li Hwa menjadi marah, dan ketika melihat kesempatan baik, kaki kirinya bergerak dan sebuah tendangan tepat mengenai pundak lawannya yang masih bergulingan sehingga tubuh lawannya itu terlempar tiga tombak lebih! Hebatnya begitu tiba di tanah, si Muka Singa melompat berdiri, sama sekali tidak kelihatan sakit atau terluka, padahal tendangan Li Hwa tadi dapat membunuh lawan lain dengan mudah.

"Hui-eng N iocu lihai sekali!" kata Sin-sai-kong Ang Louw sambil menyeringai dengan muka mengandung ejekan.

"Cukup, Sute. Jangan-jangan kita mendapat marah dari taihiap kalau sampai salah tangan," kata Giam-lo-ong Ci Kui.

"Kita sudah menguji kelihaian ilmu silat dari Hui-eng Niocu, juga kelihaian ilmu pengobatan dari Wan-bengcu. Nah, Wan-bengcu, sampai jumpa kembali dalam waktu dekat."

Setelah berkata demikian, Giam-lo-ong Ci Kui melompat sambil menyambar tangan Liok-te Mo-ko Ang Bouw, di lain fihak Ang Bouw juga menyambar tangan Sin-sai-Kong Ang Louw adiknya dan di lain saat tiga orang kakek itu sambil bergandengan tangan melayang turun dari puncak Jeng-in -thia.

"Sungguh mereka itu lihai..." kata Sin Hong sambil menghela napas. "Kalau orang-orang seperti itu datang memusuhi dunia kang-ouw, tugasku makin berat saja."

"Sin Hong, mengapa kau pusingkan semua itu? Lihat, jauh-jauh dari Mongol orang datang mencari kau yang menjadi bengcu. Mari kau tinggalkan tempat ini dan ikut aku ke Go-bi-san saja, di mana kita bisa hidup tenteram. Aku yang menjamin bahwa hidupmu akan bahagia dan tidak terganggu, Sin Hong." Kata-kata ini diucapkan penuh perasaan oleh Li Hwa sehingga suaranya menggetar. Tangan kanan yang memegang pedang tergantung di samping, ujung pedangnya menyentuh tanah.

Sin Hong tersenyum. "Terima kasih, Li Hwa. Kau baik sekali. Akan tetapi aku tak dapat memenuhi ajakanmu itu. Tak mungkin aku meninggalkan kawan-kawan, apalagi kalau keadaan mereka terancam oleh orang-orang Mongol itu."

"Sin Hong, mengapa kau begitu keras hati? Kau tahu aku mencintaimu, dan hasrat hidupku satu-satunya hanya ingin membahagiakan kau, ingin hidup di sampingmu menghabiskan usia yang tidak berapa banyak lagi ini. Sin Hong, kita sudah sama-sama bertambah tua, mau tunggu kapan lagi kalau kita tidak lekas-lekas berumah tangga? Sin Hong, apakah sedikit pun kau tidak dapat membalas cinta kasihku yang setulusnya?" Suara gadis itu kini merayu penuh keharuan.

Sin Hong merasa susah sekali. Dengan bingung ia menggosok-sosok dagunya dan kemudian ia mengeraskan hati mengambil keputusan untuk memberi jawaban yang sebenarnya. "Li Hwa, kau tadi bilang bahwa kau hanya dapat mencinta seorang saja di dunia ini. Demikian pun aku, Li Hwa. Aku pernah mencintai seorang gadis dan biarpun aku gagal dalam percintaan itu, akan tetap setia kepadanya dan tidak mungkin aku menerima cinta kasih gadis lain."

Muka Li Hwa menjadi pucat sekali kemudian berubah merah. Matanya memancarkan cahaya berapi penuh cemburu dan kecewa. "Kau mencinta Gak Soan Li?" tanyanya sambil melintangkan pedangnya di dada, tangan kirinya menuding ke dada Sin Hong.

Disebutnya nama Gak Soan Li mengingatkan Sin Hong akan semua pengalamannya yang dulu. Pengalaman yang menyedihkan. Gak Soan Li adalah seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa, murid Hwa I Enghiong yang masih terhitung suhengnya sendiri. Gak Soan Li mencinta kepadanya, cinta kasih yang murni dan suci, mencinta kepadanya dengan sepenuh jiwa biarpun gadis itu mengira dia seorang pemuda tani biasa saja, karena dalam pertemuannya dengan Gak Soan Li dia mengaku sebagai seorang pemuda dusun.

Sampai gadis itu menjadi gila oleh karena perbuatan keji dari manusia iblis Liok Kong Ji, gadis itu masih terus mencintanya sepenuh hati. Sekarang gadis itu telah menjadi isteri muda dari Pangeran Wanyen Ci Lun yang wajahnya sama benar dengan dia karena memang Wanyen Ci Lun itu masih terhitung saudara misannya dan dia sendiri adalah keturunan Pangeran Wanyen juga. Semua ini terbayang kembali di depan matanya membuat ia termenung (baca Pedang Penakluk Iblis).

"Sin Hong, kau betul-betul mencinta Gak Soan Li yang sudah menjadi isteri Pangeran Wanyen Ci Lun?" tanya lagi Li Hwa dengan suara sayu.

Sin Hong menggeleng kepalanya dengan ragu-ragu. Memang sejak dahulu ia pun ragu-ragu, entah Soan Li entah Hui Lian yang telah merampas hati dan cinta kasihnya. Terhadap dua orang wanita ini ia mempunyai kenangan mesra.

"Kalau begitu, tak salah lagi, kau tentu mencinta Go Hui Lian" kata pula Li Hwa yang mulai menangis. "Cih laki-laki tak tahu malu. Sin Hong, di manakah kegagahanmu? Kemana perginya semangatmu? Go Hui Lian sudah menjadi isteri orang, mungkin sekali sudah menjadi ibu, dan kau masih setia dan tetap mencinta kepadanya? Bukankah perasaan yang demikian itu rendah dan hina?"

Sin Hong hanya menundukkan kepala, keningnya berkerut, pandang matanya muram, nampaknya bersedih sekali. Melihat ini, Li Hwa menjadi kasihan lagi. la melangkah maju, ditariknya lengan Sin Hong.

"Sin Hong, lupakanlah kenangan lama. Marilah kau ikut aku ke Go-bi-san. Biarpun kau tidak menyintaku, biarlah. Aku cukup bahagia kalau melihat kau hidup tenteram dan aku dapat melayanimu, dapat selalu berada di sampingmu..."

Sin Hong memandang kepada gadis itu, hatinya terharu. Alangkah akan bahagianya hidup bersama seorang isteri seperti Li Hwa ini. Kalau saja ia dulu bertemu dengan Li Hwa sebelum ia berjumpa dengan Soan Li dan Hui Lian. Kini tak dapat ia berlaku rendah, tak mau ia menuruti maksud gadis itu hanya untuk menghibur hatinya. Tidak tega ia mempermainkan cinta kasih yang begitu mendalam dari gadis ini.

"Tidak, Li Hwa. Aku akan berbuat keliru dan berdosa kalau aku ikut dengan engkau. Aku tidak berharga untukmu. Pula, tugasku masih berat, dan aku harus memenuhi tugas dan kewajibanku sebagai bengcu yang sudah mendapat kepercayaan semua saudara di dunia kang-ouw."

Li Hwa menjadi lemas. "Kau... kau dulu berjanji hendak datang ke Go-bi san... aku selama ini menanti-nanti... ternyata sia-sia... Sin Hong, kau menyakiti hatiku. Kalau aku bersaing dalam cinta kasih dengan seorang gadis lain, aku akan mengalah. Akan tetapi, sainganku adalah isteri orang, mungkin ibu anak-anak. Kau terlalu... menghinaku!"

Li Hwa membanting-banting kakinya. Tiba-tiba ia menjerit dan roboh pingsan. Tubuhnya tentu akan terbanting di atas tanah kalau saja Sin Hong tidak cepat-cepat memeluknya. Wajah gadis itu menjadi kebiruan, matanya mendelik dan mulutnya berbusa. Sin Hong kaget sekali. Dia adalah ahli waris dari Tabib Dewa Kwa Siucai, sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis itu telah menjadi korban racun yan g amat berbahaya. Ia tidak melihat datangnya senjata gelap dan tidak melihat seekor pun binatang berbisa yang menggigit gadis itu.

Mengapa begitu membanting-banting kaki kirinya gadis itu lalu menjerit roboh pingsan? Sin Hong membaringkan Li Hwa di atas rumput, lalu ia cepat melepaskan sepatu kiri gadis itu dan memeriksa. Ternyata di dekat ibu jari di telapak kaki kiri itu terdapat sebuah bisul merah kecil sekali.

"Kurang ajar, ini tentulah perbuatan Sin-saikong Ang Louw." gerutunya dan tahulah ia kini apa artinya kata-kata Giam-lo-ong Ci Kui yang menyatakan bahwa mereka telah menguji ilmu pengobatan dari Wan-bengcu. Tidak ia sangka sama sekali bahwa di waktu Li Hwa menendang tubuh Sin-sai-ong Ang Louw sampai terguling-guling tadi, Si Muka Singa ini telah berhasil melukai kaki gadis itu, luka yang dilakukan dengan sebuah jarum halus berbisa!

"Benar-benar mereka lihai. Berbahaya sekali orang-orang seperti itu menjadi lawan," katanya sambil memeriksa luka di kaki Li Hwa yang membengkak.

Dengan jarum peraknya, Sin Hong menusuk beberapa jalan darah di kaki kiri, kemudian membelek sedikit kulit kaki dekat luka itu, mengeluarkan jarum yang halus berbisa, mengeluarkan pula darah kehijauan yang berada di sekitar luka. Setelah itu, ia menempelkan telapak tangannya di pinggang gadis itu, mengerahkan hawa sinkang untuk memunahkan racun di tubuh Li Hwa. Perlahan-lahan muka yang kebiruan itu mulai menjadi merah lagi.

Setelah yakin bahwa gadis ini telah terhindar dari pengaruh racun, Sin Hong menarik kembali tangannya, mengatur pernapasannya supaya pulih kembali, kemudian ia mengobati luka bekas belekan dengan obat tempel yang luar biasa manjurnya sehingga dalam sekejap saja, kulit yang dibelek telah rapat kembali.

Setelah bahaya lewat dan hati pemuda ini merasa tenteram, baru ternyata olehnya betapa mungil dan bagus bentuknya kaki kiri Li Hwa yang dipegang-pegan gnya itu. Teringatlah ia akan pengalamannya dahulu ketika ia menolong Gak Soan Li dan menyambung tulang tulang kedua paha gadis itu yang remuk dipukul oleh seorang penjahat keji bernama Giok Seng Cu (baca Pedang Penakluk Iblis). Wajahnya menjadi merah dan hatinya berdebar. Cepat-cepat ia mengenakan kembali kaus kaki dan sepatu di kaki gadis itu.

Li Hwa membuka matanya. Cepat ia meloncat berdiri dan menyambar pedang Cheng-liong-kiam yang tadi terletak di atas tanah. Ia memandang kepada Sin Hong dan mulutnya meringis sedikit menahan sakit ketika kaki kirinya dipakai berdiri. Ada rasa perih sedikit karena luka bekas belekan belum sembuh benar.

"Li Hwa, kau tadi pingsan karena pengaruh racun jarum gelap yang dilepaskan oleh Sin -sai-kong Ang Louw pada kakimu ketika kau menendangnya tadi. Aku telah melepaskannya dan mengobatinya, kau akan sembuh..."

Li Hwa nampak tercengang. Hal ini tidak pernah diduganya dan kini ia berkata dengan suara cemas. "Sin Hong, mereka begitu lihai...! Kalau mereka datang lagi dan mengeroyokmu. Marilah kau ikut aku saja ke Go-bi-san, di sana aman dan mereka tak mungkin dapat memasuki daerahku."

Sin Hong terharu. Gadis ini yang baru saja terlepas dari bahaya maut, tidak memikirkan keadaan diri sendiri, sebaliknya begitu siuman dan mendengar tentang kelihaian musuh, malah merasa cemas untuk keselamatannya. Dari sini saja dapat dilihat nyata betapa besar cinta kasih gadis ini terhadap dirinya.

"Aku akan melawan mereka, Li Hwa. Kau pulanglah dan rawat dirimu baik-baik."

Air mata bercucuran dari sepasang mata yang jelita itu. Dengan terisak-isak gadis ini berkata. "Merawat diri baik-baik? Untuk apakah? Kau... kau menolak dan mencinta seorang wanita yang sudah menjadi isteri orang lain. Kau terlalu menyakiti hatiku, kau terlalu menghinaku..." Dengan isak tertahan gadis ini melompat, tidak mempedulikan lagi telapak kaki kirinya yang sakit, lalu lari cepat turun dari puncak Jeng-in-thia.

Sin Wong menahan napas, menyilangkan lengan di depan dada dan menundukkan kepala, kedua matanya dipejamkan. Sampai lama ia berada dalam keadaan demikian, kemudian terdengar ia menarik napas panjang berkali-kali.

********************

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 01 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »